TEKS SULUH


Sabtu, 13 Juli 2013

Sandra Palupi

Sandra Palupi sastrawati Semarang

























Berikut puisinya,


Di Ruang Tunggu

hari minim kabar
gadis baru datang
ke hatimu yang bulat
oleh cinta yang kekang
sebab bertekad tak lekang

bahasa tubuh, ya
bahasa tubuh basah
di gambar gambar tawa
merapatkan kau
rapatlah ia

hari hari aku berjuang
merapatkan bibir
mengatupkan rahang
melawan sakit
lagi

18Ags12

Berikut puisinya,

Di Ruang Tunggu

hari minim kabar
gadis baru datang
ke hatimu yang bulat
oleh cinta yang kekang
sebab bertekad tak lekang

bahasa tubuh, ya
bahasa tubuh basah
di gambar gambar tawa
merapatkan kau
rapatlah ia

hari hari aku berjuang
merapatkan bibir
mengatupkan rahang
melawan sakit
lagi

18Ags12

YADHI RUSMIADI JASHAR


YADHI RUSMIADI JASHAR 


Lahir di Banding Agung Ranau, 12 Maret 1973. Anak pasangan Jashar (alm.) dan Siti Aisyah ini menamatkan studi di Universitas Sriwijaya, Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, tahun 1998.

Pekerjaan yang ditekuni, antara lain dosen FKIP Universitas Baturaja (2003) dan guru Bahasa Indonesia di SMP Negeri 41 OKU (2010). Pengalaman organisasi, di antaranya Ketua Umum UKM Teater Unsri (1994-1996) dan Pimred Majalah PANTAU (1995–1997). Selain itu, turut membidani lahirnya Komunitas Pengarang dan Penyair Muda Palembang sebagai Koordinator I (1995–1997).

Aktif menulis sejak duduk di bangku SMA. Karya-karya berupa cerpen, puisi, esei, dan artikel pernah dimuat majalah Gelora Sriwijaya, harian Sumatera Ekspres, Sriwijaya Post, Lampung Post, dan media lainnya.

Marhalim Zaini sastrawan Riau 

Lahir di Teluk Pambang Bengkalis Riau, 15 Januari 1976. Alumnus Jurusan Teater Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Karya-karyanya berupa puisi, cerpen, esai budaya, resensi, naskah drama, juga cerbung dipublikasikan ke berbagai media massa lokal, nasional, dan internasional di antaranya Kompas, Majalah Sastra Horison, Media Indonesia, Republika, Koran Tempo, Jurnal Puisi, Jawa Pos, Bali Post, Surabaya Pos, Lampung Post, Riau Pos, Majalah Budaya Sagang, Pustakamaya (Malaysia), dan Prince Claus Fund Journal Netherlands, dll.

Buku-bukunya yang telah terbit Segantang Bintang Sepasang Bulan (Kumpulan Sajak, 2003), Di Bawah Payung Tragedi (Kumpulan Drama, 2003), Langgam Negeri Puisi (Kumpulan Sajak, 2004), Tubuh Teater (Kumpulan Esai, 2004), Getah Bunga Rimba (sebuah Novel yang menerima Penghargaan Utama Ganti Award dari Yayasan Bandar Serai, 2005). Sebuah Novel Hikayat Kampung Mati, di muat bersambung di Harian Riau Pos (2005).

Fanny J. Poyk




FANNY darah sastrawan itu mengalir 


Fanny J. Poyk adalah seorang penulis cerpen produktif. Karya perempuan kelahiran Bima 1960 dimuat di berbagai media cetak nasional seperti Sinar Harapan, Suara Karya, Jurnal Nasional, Suara Pembaruan, Bali Post, Kartini dan Sarinah. Buku-bukunya yang sudah terbit antara lain Pelangi Di Langit Bali, Istri-istri Orang Seberang (Esensi, 2008), Perjuangan para Ibu : Anakku Pecandu Narkoba (Erlangga), Narkoba Sayonara (Esensi, 2006).

Meski lahir di Bima, Fanny menikmati masa kecil hingga ramajanya di Bali. Ia lalu kuliah di Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta. Seusai menamatkan kuliah, ia bekerja sebagai editor di tabloid anak-anak Fantasi, lalu ke majalah Potensi. Selain menulis, ia juga aktif dalam organisasi Wanita Penulis Indonesia (WPI). [MIS]

Selasa, 09 Juli 2013

SASTRAWAN DAERAH MERUPAKAN ASET BUDAYA BANGSA

Budaya daerah dengan bahasa daerah di Tanah Air  adalah kekayaan bagi sastrawan Indonesia. Ia adalah sumber inspirasi bagi sastrawan daerah yang mau menggeluti budaya, bahasa dan sastra daerahnya. Era 2000-an adalah saatnya sastra kita mengetengahkan unsur budaya sekaligus bahasa sastra daerah di mana sastrawan itu mau menggali budaya daerahnya.
Keanekaragaman budaya Tanah Air dengan ratusan dielek bahasa merupakan kekayaan dan sumber bahan penulisan sastrawan daerah. Mengapa tidak, bukankan sastra daerah juga adalah sumber tulisan sekaligus sumber rezeki bagi sastrawan daerah.
Otonomi daerah dengan masing-masing kota/kabupaten menghendaki ciri dan keunikannya untuk berusaha mempopulairkan daerahnya serta nilai pariwisata daerah mememerlukan peran sastrawan untuk turut membantu kearah itu. Bererapa hal yang biasa diangkat dalam bentuk tulisan adalah budaya daerah, termasuk sastra dan bahasa daerah. Namun perlu juga diangkat berbagai badaya yang hampir punah atau pun yang telah lama ditinggalkan untuk diangkat kembali.
Banyak sudah yang telah dilakukan oleh sastrawan kita di berbagai daerah untuk mengangkat daerahnya masing-masing, meski kadang berbenturan dengan daerah tetangganya. Namun demikian tak menjadi persoalan dalam hal dunia tulis-menulis ini. Bila memang ada unsur kesamaan maka publik akan mencari kebenaran secara ilmiah.
Sebagai contoh di Jawa Tengah saja terdapat berbagai dialek bahasa dan mungkin mereka (di masing-masing kabupaten kota) mempertahankan pendapatnya sendiri-sendiri. Di Tegal umpamanya, ada bahasa dan budaya  Tegalan, Lalu di Banyumas ada Banyumasan, lalu bagaimana dengan kabupaten tetangganya? seperti Brebes dan Pemalang yang berdekatan dengan Tegal, atau Purbalingga, Cilacap dan Banjarnegara yang bertetangga dengan Banyumas? Bukan kah dikota/kabupaten ini juga ingin menunjukan ke-khas-an budayanya.
Lalu di daerah Magetan dan Pacitan, budayanya pun akan lain dengan di Malang atau Surabaya atau di Pasuruan dan Banyuwangi. Setiap daerah berusaha memiliki ciri dan ke-khas-an yang berbeda.
Adalah tugas sastrawan kita untuk mengetengahkan dan mempublikasikan khasanah budaya bangsa itu dan tentu saja mengembangkan sastra daerah.
Jika mahasiswa dari luar negeri melakukan penelitian budaya di suatu tempat di negara kita, bahkan mungkin bukan hanya mahasiswa tetapi peneliti dan didanai mahal oleh negaranya, mengapa kita keduluan langkah.
Padahal sastra daerah kini merupakan bahan bacaan yang menarik untuk minat baca dewasa ini.
Disinilah peran sastrawan daerah untuk dapat melakukan pelestarian budaya dan berusaha mengembangkannya menjadikan khasanah budaya bangsa semakin luas dan memiliki corak dan ragamnya masing-masing. Sastrawan berati telah berbuat penyelamatan aset budaya bangsa. Dan sastrawan yang di setiap daerah ada, perlu mendapat apresiasi dari pemerintah daerah karena juga merupakan aset sumber daya  pengembangan budaya bangsa.
(masagus/rg bagus warsono/agus warsono, juli 2013)

WAYAN SUNARTA SENIMAN SERBA BISA



WAYAN SUNARTA SENIMAN SERBA BISA


WAYAN SUNARTA alias Jengki, lahir di Denpasar, Bali, 22 Juni 1975. Belajar Antropologi Budaya di Fakultas Sastra Universitas Udayana. Sempat belajar seni lukis di ISI Denpasar. Mulai suka menulis puisi sejak awal 1990-an. Kemudian merambah ke penulisan prosa liris, cerpen, feature, esai/artikel seni budaya, kritik/ulasan seni rupa, dan novel.


Tulisan-tulisannya pernah dimuat di berbagai media massa lokal dan nasional, di antaranya Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, Republika, Suara Pembaruan, The Jakarta Post, Jawa Post, Pikiran Rakyat, Bali Post, Jurnal Kebudayaan Kalam, Jurnal Cerpen Indonesia, Majalah Sastra Horison, Majalah Gong, Majalah Visual Arts, Majalah Arti.


Buku kumpulan cerpennya yang telah terbit adalah Cakra Punarbhawa (Gramedia, 2005), Purnama di Atas Pura (Grasindo, 2005), Perempuan yang Mengawini Keris (Jalasutra, 2011). Buku kumpulan puisinya yang telah terbit adalah Pada Lingkar Putingmu (bukupop, 2005), Impian Usai (Kubu Sastra, 2007), Malam Cinta (bukupop, 2007), Pekarangan Tubuhku (Bejana Bandung, Juni 2010).

Minggu, 07 Juli 2013

HARTOYO ADANGJAYA, BERKISAH LEWAT PUISI "PEREMPUAN-PEREMPUAN PERKASA"



Puisi Hartoyo Andangjaya


PEREMPUAN-PEREMPUAN PERKASA


Perempuan-perempuan yang membawa bakul di pagi buta, dari manakah mereka

ke stasiun kereta mereka datang dari bukit-bukit desa
sebelum peluit kereta pagi terjaga
sebelum hari bermula dalam pesta kerja

Perempuan-perempuan yang membawa bakul dalam kereta, kemanakah mereka

di atas roda-roda baja mereka berkendara
mereka berlomba dengan surya menuju gerbang kota
merebut hidup di pasar-pasar kota

Perempuan-perempuan perkasa yang membawa bakul di pagi buta, siapakah mereka

mereka ialah ibu-ibu berhati baja, perempuan-perempuan perkasa
akar-akar yang melata dari tanah perbukitan turun ke kota
mereka : cinta kasih yang bergerak menghidupi desa demi desa

DARI SEORANG GURU KEPADA MURID-MURIDNYA


Apakah yang kupunya, anak-anakku

selain buku-buku dan sedikit ilmu
sumber pengabdian kepadamu

Kalau di hari Minggu engkau datang ke rumahku

aku takut, anak-anakku
kursi-kursi tua yang di sana
dan meja tulis sederhana
dan jendela-jendela yang tak pernah diganti kainnya
semua padamu akan bercerita
tentang hidup di rumah tangga

Ah, tentang ini aku tak pernah bercerita

depan kelas, sedang menatap wajah-wajahmu remaja
- horison yang selalu biru bagiku -
karena kutahu, anak-anakku
engkau terlalu muda
engkau terlalu bersih dari dosa
untuk mengenal ini semua

RAKYAT


hadiah di hari krida

buat siswa-siswa SMA Negeri
Simpang Empat, Pasaman

Rakyat ialah kita

jutaaan tangan yang mengayun dalam kerja
di bumi di tanah tercinta
jutaan tangan mengayun bersama
membuka hutan-hutan lalang jadi ladang-ladang berbunga
mengepulkan asap dari cerobong pabrik-pabrik di kota
menaikkan layar menebar jala
meraba kelam di tambang logam dan batubara
Rakyat ialah tangan yang bekerja

Rakyat ialah kita

otak yang menapak sepanjang jemaring angka-angka
yang selalu berkata dua adalah dua
yang bergerak di simpang siur garis niaga
Rakyat ialah otak yang menulis angka-angka

Rakyat ialah kita

beragam suara di langit tanah tercinta
suara bangsi di rumah berjenjang bertangga
suara kecapi di pegunungan jelita
suara bonang mengambang di pendapa
suara kecak di muka pura
suara tifa di hutan kebun pala
Rakyat ialah suara beraneka

Rakyat ialah kita

puisi kaya makna di wajah semesta
di darat
hari yang beringat
gunung batu berwarna coklat
di laut
angin yang menyapu kabut
awan menyimpan topan
Rakyat ialah puisi di wajah semesta

Rakyat ialah kita

darah di tubuh bangsa
debar sepanjang masa

Hartoyo Andangjaya

Hartoyo Andangjaya dilahirkan di Solo, Jawa Tengah, 4 Juli 1930, dan meninggal di kota kelahirannya, 30 Agustus 1991. Karya-karya aslinya: Simphoni Puisi (1954; bersama D.S. Moeljanto), Manifestasi (1963; bersama Goenawan Mohamad, et. al.), Buku Puisi (1973), Dari Sunyi ke Bunyi (1991; kumpulan esai peraih hadiah Yayasan Buku Utama Depdikbud 1993). Karya-karya terjemahannya: Tukang Kebun (1976; Rabindranath Tagore), Kubur Terhormat bagi Pelaut (1977; Slauerhoff), Rahasia Hati (1978; Natsume Soseki), Musyawarah Burung (1983; Farid al-Din Attar), Puisi Arab Modern (1984), Kasidah Cinta (tt.; Jalal al-Din Rumi).

Sabtu, 06 Juli 2013

BUKU KESUSASTRAAN LAMA BANYAK DICARI ORANG



Buku-buku sastra / kesusastraan lama kini makin sedikit jumlahnya karena itu banyak para kolektor sekaligus intelektual mencari buku-buku lama. Banyak hal dengan buku lama, mereka menilai buku lama lebih asli apalagi dengan ejaan bahasa Indonesia sebelumnya. Kemudian ada sedikit kebanggan memilikinya. Bahkan perpustakaan-perpustakaan baik pribadi maupun lembaga akan dengan bangga jika memiliki bubu-buku koleksi sastra cetakan lama yang orisinil. Sebaliknya buku cetakan baru memang memudahkan pembaca karena menggunakan ejaan yang digunakan sekarang, berkertas dan tulisan yang baik dan jelas. Namun tetap saja buku-buku sastra/kesusastraan lama membuat bangga pemiliknya.

DARI AVE MARIA KE JALAN LAIN KE ROMA KARYA IDRUS

DARI AVE MARIA KE JALAN LAIN KE ROMA KARYA IDRUS 

KARYA PUJANGGA BARU YANG TERMASYHUR

 BELENGGU OLEH ARMINJ PANE
 BUAH RINDU OLEH AMIR HAMZAH
 ATHEIS OLEH ACHDIAT K MIHARDJA
 SALAH ASUHAN OLEH ABDUL MOEIS


Kamis, 04 Juli 2013

A. RAHIM QAHHAR


A. RAHIM QAHHAR

Kelahiran 29 Juni 1943 ini hanya memperdalam pendidikan secara otodidak, setelah tamat SMA dan Qismul Ali. Aktivitas menulis sejak tahun 60-an disurat kabar terbitan Medan, kemudian cerpen-cerpennya dimuat dalam koran �Indonesia Raya�pimpinan Mochtar Lubis, juga majalah �Sastra� HB Jassin.
Dekade tahun 70-an mulai menulis puisi, novel dan naskah drama serta skenario televisi. Karya-karyanya banyak dimuat di koran lokal maupun Ibukota ( antara lain: Sinar Harapan, Republika, Media Indonesia) dan juga majalah Horison, majalah Dewan Sastera (Malaysia). Selalu hadir dalam setiap pertemuan sastra dan budaya yang dilangsungkan di Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand dan acap tampil dalam pembacaan puisi maupun cerpen dengan gayanya yang khas.
Selain memenangkan sayembara penulisan karya sastra, berupa naskah drama serta skenario sinetron, sebagai wartawan ia berulangkali pula memenangkan lomba karya tulis jurnalistik untuk tingkat nasional. Kini sejumlah karya berupa kumpulan pusi �Munajat�, dua kumpulan cerpen dan empat buah novelnya masih menumpuk untuk mencari penerbit.

Karya-karyanya yang sudah terbit antara lain:

Cerpen : TERMINAL, Sastra Leo Medan (1971), ABRAHAM YA ABRAHAM, Medan
Puisi (1984), TITIAN LAUT, DBP Malaysia
(1984), TITIAN LAUT III, DBP
Malaysia (1991), CERPEN-CERPEN
NUSANTARA MUTAKHIR, DBP
Malaysia (1991), DARI FANSHURI KE
HANDAYANI, Horison (2001),
HORISON SASTRA INDONESIA, Horison
(2002)

Puisi : PUISI, temu sastrawan Sumut (1977), BLONG,
Medan Puisi (1979),
MABUKKU PADA BALI, Medan Puisi (1983),
RANTAU, Yaswira Medan
(1984), SELAGI OMBAK MENGEJAR PANTAI
4,Kemudi Selangor Malaysia
(1988), SAJAK BUAT SADDAM HUSSEIN,
Medan Puisi (1991), PERISA,
jurnal puisi Melayu DBP Malaysia (1995,
1996, 1998, 2000), ANTOLOGI
PUISI INDONESIA, Angkasa Bandung
(1997), JEJAK, Dewan Kesenian
Sumut (1998), THE HORIZON OF HOPE,
Sastra Leo Medan (2000).

Naskah Drama: TITIAN LAUT II, DBP Malaysia (1986).
TERALI (2003) dipentaskan
Di Kuala Lumpur pada Festival Teater
2003 Malaysia.

Novel : LANGIT KIRMIZI, Marwilis Publisher Malaysia
(1987), MELATI MERAH,
Marwilis Publisher Malaysia (1988).

BUR RASUANTO



Sastrawan
Bur Rasuanto
Dikenal sebagai sastrawan, ia pernah memenangkan Hadiah Sastra untuk ceritanyaBumi yang Berpeluh tahun 1962 dan Mereka Akan Bangkit tahun 1963. Keduanya diterbitkan oleh Mega Bookstore ditahun 1963. Pernah aktif dalam perjuangan pemuda mahasiswa dalam aksi Angkatan’ 66. Semasa demonstrasi lahir sajak-sajak stensilannya seperti Mereka Telah Bangkit tahun 1966 dan lain-lain. Diantara sajak dan cerpen-cerpennya antara lain Liwat Tengah HariTelah Gugur Beberapa NamaTirani dan Discharge. Ditahun 1964, Bur Rasuanto pernah memenangkan Hadiah Sastra Yayasan Mohammad Yamin, tapi ditarik kembali karena hasutan Lekra/PKI.
Cerita-ceritanya yang lain, Piket yang semuanya dibuat tahun 1961, oleh HB Jassin dinilai sangat baik, idenya menarik dan kejadiannya mencekam. Novelnya Tuyetpernah dimuat di harian Kompas yang kemudian dibukukan tahun 1979. NovelTuyet dibuatnya setelah ia mengunjungi pertempuran Vietnam ditahun 1967. Novel ini terpilih sebagai karya fiksi terbaik tahun 1979 dari Yayasan Buku Utama.
Selain sebagai sastrawan ia pernah dikenal sebagai wartawan harian Indonesia Raya dengan jabatan redaktur. Pernah menjadi wartawan perang harian KAMI, kemudian menjadi redaktur majalah Tempo. Menikah dengan Masnun Saleh, dikaruniai 4 orang anak, satu meninggal dunia. Berkulit kuning langsat oleh rekan-rekannya ia dikenal sebagai pemberani dan keras hati. Ia menggemari olahraga lari dan karate.
Pada tahun 1990 Bur Rasuanto ditunjuk menjadi Direktur PKJ-TIM menggantikan Drs. Soeparmo. Bur Rasuanto menata manajemen PKJ-TIM ke arah swastanisasi dengan gaya yang sangat berbeda dengan pendahulunya. Ia membebastugaskan kedua Wakil Kepala Badan Pengelola. Kemudian Ia mengembalikan 50 dari 72 orang karyawan PNS TIM ke induknya yaitu Dinas kebudayaan DKI Jakarta. Sebagai gantinya, ia memilih beberapa tenaga yang dianggap mampu untuk membantunya di bidang administrasi kantor, teknisi umum, dan operasional lapangan. Kesejahteraan karyawan ditanganinya dengan mendirikan kembali Koperasi Karyawan PKJ-TIM dan menambah modalnya. Tetapi, sebagai akibat dari kebijakan mengutamakan acara yang memasukan dana ke kantong TIM, Bur menyeleksi ketat program DKJ. Tindakan ini menimbulkan silang pikir dengan pimpinan DKJ dalam penyusunan program dan efisiensi pembiayaan. Pada tahun 1991 Bur Rasuanto akhirnya digantikan oleh Pramana Padmodarmaya.
(Berbagai Sumber)

agus warsono dalam menanti hari esok1984





5.
Resah
Sedang memasak
Ibu dirumah
Adikku menanti
Aku di sekolah dalam gusar
Menunggu bell pulang.
Januari 1984
Rg.(Ronggo) Bagus Warsono lebih dikenal dengan Agus Warsono, SPd.MSi, dikenal sebagai  sastrawan dan pelukis Indonesia  .Lahir Tegal 29 Agustus 1965.Tinggal di Indramayu. Bermula bercita-cita menjadi Insinyur teknik karena miskin menjadi guru sekolah dasar, mengunjungi SDN Sindang II, SMP III Indramau, SPGN Indramayu, (S1) STIA Jakarta , (S2) STIA YAPPANN Jakata , menulis secara otodidak, Kawin dengan Rofiah Ross hinga sekarang, anak-anak Abdurrachman M, Maulana Ragil Zakariyah. Menanti Hari Esok adalah salah satu karya antologi puisi. Mendirikan Himpunan Masyarakat Gemar Membaca. Aktif membaca dan menulis di berbagai media penerbitan,anggota PWI Jawa Barat.




Rabu, 03 Juli 2013

ANI iDRUS

Ani Idrus (lahir di Sawahlunto, Sumatera Barat, 25 November 1918 – meninggal di Medan, Sumatera Utara, 9 Januari 1999 pada umur 80 tahun) adalah seorang wartawati senior yang mendirikan Harian Waspada bersama suaminya H. Mohamad Said pada tahun 1947.
Ani Idrus dimakamkan di Pemakaman Umum Jalan Thamrin - Medan. Terakhir ia menjabat Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Harian Waspada dan Majalah Dunia Wanita di Medan.
Selain berkecimpung dalam dunia jurnalistik, ia juga mendirikan dan memimpin lembaga pendidikan yang bernaung dalam Yayasan Pendidikan Ani Idrus. Pada akhir hayatnya, ia juga menjabat Ketua Umum Sekolah Sepak Bola WASPADA, Medan, Direktur PT. Prakarsa Abadi Press, Medan, dan Ketua Yayasan Asma Cabang Sumatera Utara.

Dedy Tri Riyadi

Dedy Tri Riyadi
Rumah Kopi
Rahasia dari bibir kita sederhana: Aku menyeret waktu
yang beku, mirip kabar sendu dari jendela lebar, dari beranda
penuh kursi dan dari tiap daun meja. Sedang Kau menyaru
dalam bau yang kuhidu dari asap tipis rindu di bibir cangkir.
Dan mata kita diam-diam mulai menyimpan rahasia yang lain:
Hangat tubuhmu menghitam dan sedikit berbuih, seperti
pada sebuah pantai aku menemu bangkai ketam. Sementara
sebentar-sebentar ada kalut yang mengarah ke laut, jauh
dari aku dan sebuah sesal yang dipintal oleh kata-kata.
Aku bukan musafir, hanya perut petualang yang tak lapar
benar. Helai roti berselai nanas, bukan sesuatu yang pantas
untuk dihidangkan, sebab – sudah dikabarkan sebelumnya –
manusia bisa dipuaskan hanya dengan firman.
Maka rahasia-rahasia hanyalah percakapan biasa di tubuh
waktu. Diam-diam, di meja seberang ada yang mencuri tawa
kita. Menyembunyikannya pada pekat malam, pada dada laut
dalam, dan juga pada bangkai ketam.
Lalu, apakah sesal? Dingin merapat di ketat cangkir.
Dan kita hanya bisa saling memandang.
Dan kita merapikan bibir masing-masing.
Sementara meja dan kursi berderet-deret panjang
di beranda, menyebar keharuman sederhana.
Keharuman yang belum bisa diucapkan.
2012
Dedy Tri Riyadi
Di Kedai Bibit Tanaman
Yang dipinggirkan daunan adalah anyaman cahaya
menyintas lubang-lubang paranet lalu acuh melintasimu,
tak menyapa juga tak menyentuh rambutmu yang kini
mulai sering dikelabui kenangan.
Yang disajikan aneka bunga selain harum dan warna
adalah nama-nama dan peristiwa, berkelindan dari
aneka tandan dan buketan. Tanganmu rajin menyibak
dan menyimaknya, meski ada getar halus itu.
Getar serupa sayap serangga, kepik atau entah apa
tetapi jelas mendengung seolah bunyi dari seberang
gagang telepon begitu pembicaraan kita hentikan.
2012
Dedy Tri Riyadi
Tabah Dahan
Dia saksikan embun yang tadi pagi singgah
diam-diam menghilang ke mana entah.
Dia saksikan daun yang beberapa waktu
baru tumbuh, tahu-tahu sudah luruh.
Dia saksikan juga bunga belum lama kuntum
lalu mekar dan mahkotanya pun tersebar.
Adalah angin kerap menggodanya, agar
kelak, dia lebih tabah jadi kayu bakar.
2012
Dedy Tri Riyadi
Setelah Kau Mengunci Pagar
Malam makin marak,
senapan-senapan sepi
saling menyalak.
Dan dia – korban bulan bisu –
baru berwarna biru,
seperti habis ditahbiskan
oleh sepotong lagu,
merayu-rayu engkau.
Menyaru aku.
2012
Dedy Tri Riyadi lahir di Tegal, Jawa Tengah, dan kini tinggal di Jakarta. Ia bergiat di Paguyuban Sastra Rabu Malam (PaSaR Malam).
Sumber :
Kompas Cetak
Editor :
Jodhi Yudono

sosiawan leak

sosiawan leak
Sosiawan Leak (lahir di Surakarta, Jawa Tengah, 23 September 1967; umur 45 tahun) yang punya nama asli Sosiawan Budi Sulistyo adalah seorang aktor, penyair, penulis, dan pembicara. Menyelesaikan studi di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Sebelas Maret Solo tahun 1994. Aktif berkesenian sejak 1987 dalam bidang teater dan sastra meski belakangan juga melakukan kerja kreatif di bidang musik dan kolaborasi antarcabang kesenian. Menulis puisi dan naskah drama sejak 1987. Puisinya dipublikasikan di berbagai media massa, di samping diterbitkan oleh berbagai forum dan festival sastra bersama penyair lain. Diundang tampil membaca puisi dan menjadi narasumber di berbagai acara sastra seperti Konggres Sastra Indonesia di Kudus (2008), Temu Sastrawan Indonesia di Jambi (2008), Revitalisasi Budaya Melayu di Tanjung Pinang (2008), Festival Sastra Kepulauan di Makassar (2009]], Aceh International Literary Festival (2009), Ubud Wiriters and Readers Festival di Ubud, Bali (2010), Kedutaan Besar Indonesia di Berlin, Universitas Hamburg (Departemen Austronesistik), Deutsch Indonesische Gesellschaft Hamburg

AJIPROSIDI HIDUP TANPA IJAZAH




Ajip Rosidi
Ajip Rosidi dilahirkan di Jatiwangi, Jawa Barat, 31 Januari 1938. Karya-karya Profesor Gaidai University of Foreign Studies Jepang ini antara lain: Tahun-tahun Kematian (1955), Pesta (1956; bersama Sobron Aidit dan S.M. Ardan), Di Tengah Keluarga (1956), Sebuah Rumah Buat Hari Tua (1957; meraih Hadiah Sastra Nasional BMKN), Perjalanan Penganten (1958), Surat Cinta Enday Rasidin (1960), Jeram (1970), Jakarta dalam Puisi Indonesia (1972; [ed.]), Laut Biru Langit Biru (1977; [ed.]), Syafruddin Prawiranegara Lebih Takut kepada Allah Swt. (1986; [ed.]), Nama dan Makna (1988), Terkenang Topeng Cirebon (1992), Sastra dan Budaya Kedaerahan dalam Keindonesiaan (1995). Bersama Matsuoka Kunio, ia juga menerjemahkan novel-novel Kawabata Yasunari Penari-penari Jepang (1985; Izu no odoriko) dan Daerah Salju (1987; Yukiguni).

Selasa, 02 Juli 2013

BUKU-BUKU GERSON POYK















Gerson Poyk
Gerson Poyk dilahirkan di Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, 16 Juni 1931. Peserta angkatan pertama dari Indonesia pada International Writing Program di Iowa University Amerika Serikat ini, memenangkan Hadiah Adinegoro pada 1985 dan 1986, dan SEA Write Award pada 1989. Novel dan kumpulan cerita pendeknya, antara lain: Hari-hari Pertama (1968), Sang Guru (1971), Matias Ankari (1975), Oleng-kemoleng & Surat-surat Cinta Rajaguguk (1975), Nostalgia Nusatenggara (1976), Jerat (1978), Cumbuan Sabana (1979), Seutas Benang Cinta (1982), Giring-giring (1982), Di Bawah Matahari Bali (1982), Requiem untuk Seorang Perempuan (1983), Anak Karang (1985), Doa Perkabungan (1987), Impian Nyoman Sulastri dan Hanibal (1988), Poti Wolo (1988).