TEKS SULUH


Minggu, 25 Oktober 2015

Sambut hari Pahlawan Segera Terbit Karya Rg Bagus Warsono



    Cerita ini digali dari pitutur rakyat Indramayu untuk dapat dinikmati sebagai bacaan generasi selanjutnya agar memiliki ceritanya sendiri sebagai   perbendaharaan cerita-cerita khasanah daerah Indramayu  yang berserakan. 

    Indramayu banyak memiliki peninggalan sejarah yang nyaris hilang ditelan perjalanan kehidupan yang semakin tak peduli terhadap hal kecil yang tak tersentuh oleh pemikiran kita, padahal yang kecil ini justru peting untuk dapat dipelajari sebagai pengetahuan dan kadang filosofi hidup di zaman modern ini.

    Penulis kenalkan seorang pemuda yang patut menjadi contoh tauladan generasi kini pada semangatnya untuk mencapai cita-cita serta pengabdianya pada Tanah Air seorang yang telah kita kenal sebelunya yaitu Kopral Dali.



Kopral Dali lebih tenar ketimbang komandannya. Di masa perjuangan kemerdekaan Indonesia,  di Indramayu  dulu Dali demikian populair. Tidak saja dilingkungan TNI tetapi di masyarakat  kota kecil Indramayu pasti mengenalnya. Kopral cerdas dan pemberani ini pantas diketahui oleh kita semua ceritanya. Semoga buku ini menjadi teman generasi muda khususnya di kabupaten Indramayu dan Indonesia pada umumnya. Sehingga kita dapat  menghargai jasa dan pengorbanan para pahlawan , seperti Kopral Dali yang satu ini.

Jumat, 09 Oktober 2015

SOP BUNTUT

Dasyatnya pena penyair
Satu puisi cukup buat Sony Farid Maulana menggetarkan Indonesia puisinya yang dimuat dalam HU Pikiran Rakyat, Sabtu 28 Juli 2007
sastra koran yang paling top tahun itu.
SOP BUNTUT
“Tuan, di buncit perutmu apa ada padang rumput?”
sepasang sapi jantan dan betina bertanya demikian kepadaku.
Hujan kembali membaca akar tumbuhan yang kering digarang kemarau.
Kota disergap demam ribuan buruh pabrik gulung tikar.
Sepasang sapi jantan dan betina membayang di kuah sop buntut di restoran hotel bintang lima yang sering dipajak para pecundang.
Dan aku terkejut.
Mana mungkin di perutku yang buncit ada padang rumput selain hijau padang golf?
Begitulah.
Maut mengirim isyarat.
Dunia menggeliat dalam kobaran api hutan bakar kepala si mislkin dipenggal begal digelap malam raungnya lenyap ditelan lembut alun musik jazz di restoran hotel bintang lima.
“Tuan apa ada menu terakhir yang ingin anda santap?”
2006

Maka kemudian 'sahabatku itu pergi tak tahu rimbanya.

Dasyatnya pena penyair bisa merontokan nafsu dan juga melemah lembut hati keras. Sebuah tulisan yang bisa menghanyutkan perasaan siapa saja pembacanya. Namun juga bisa menggelorakan semangat. Dia (pembaca) lalu menepuk dada, dan berteriak kemudian merangsak menakutkan (termasuk menakutkan penguasa) karena itulah sebabnya mungkin Wiji Tukul bisa menghasut pemuda untuk menyerang Pemerintah kala itu. Maka kemudian 'sahabatku itu pergi tak tahu rimbanya.

Rabu, 07 Oktober 2015

Puisi Menolak Korupsi Bacaan yang Tak Lekang oleh Waktu

Ternyata Puisi Menolak Korupsi (PMK) yang digagas Mas Heru Mugiarso dan Mas Sosiawan Leak adalah puisi yang selalu hangat sepanjang waktu dimana pun tempat. Hal demikian karena seiring dengan perbuatan korupsi yang menjadi permasalahan umat yang tak pernah berhenti melakukan korupsi di kehidupan dunia. Ibarat air es, PMK seakan memberi siraman nafsu panas korupsi manusia yang melakukannya. Ini berarti ada prosentase pencegahan korupsi dari puisi - puisi PMK. Karena itu PMK patut mendapat apresiasi di kalangan anak muda (pelajar/mahasiswa) agar mereka dibekali 'air es PMK sebagai pencegahan agar kelak menjadi manusia yang anti korupsi setelah mereka terjun di masyarakat.
Roadshow-nya yang telah mengunjungi puluhan kota di Tanah Air slalu ramai dan menjadi sorotan media. Hal ini dikarenakan adanya pro dan kontra keberpihakan pada anti korupsi yang dirasa sangat berat untuk menjadi bagian yang berada di pihak anti korupsi. Padahal puisi hanyalah ungkapan rasa seni dan berkesenian, tetapi banyak orang enggan untuk 'bicara menolak korupsi. Maka Wajar dan diterima apabila Sosiawan Leak sendiri mengatakan bahwa PMK adalah sebuah gerakan moral lewat puisi tentunya.
Aku menaruh hormat, apabila ada insan pendidik yang jeli melihat Puisi Menolak Korupsi (PMK) dijadikan sebagai sarana pembelajaran. Seperti dilakukan perempuan penyair Sus Setyawati dan Euis Herni Ismail mereka menerima lembaganya sebagai tempat roadshow PMK . Ada 2 hal penting yang didapat , disamping siswa mempelajari sastra secara lagsung juga menanamkan karakter anti korupsi pada generasi muda asuhannya.
Di sisi lain penyair PMK bagai sebuah komunitas besar yang jelas memiliki kesamaan visi, yakni 'untuk kehidupan yang lebih baik di Indonesia. Sebuah cita-cita luhur agar apa yang diamanatkan dalam UUD 1945 dapat terwujud. Dan komunitas (penyair PMK) ini adalah warga negara pelopor yang berjuang untuk mewujudkan cita-cita itu melalui caranya tersendiri yakni bersyair.
Mereka adalah penyair-penyair yang getol menyuarakan menolak Korupsi. Ini terbukti dengan menyempatkannya untuk hadir di acara Roadshow PMK ,walau jarak begitu jauh tak mejadi rintanga utuk datang. Sebut saja misalnya penyair Mas Wage Tegoeh Wijono, Mas Arsyad Indradi, Mas Bambang Eka Prasetya, Mas Bagus Putuparto, Mas Bontot Sukandar, Mas Heru Mugiarso, Mas Wardjito Soeharso, Mas Syarifuddin Arifin Dua dan lain lain , juga tentu saja Mas Sosiawan Leak sang motor penggeraknya. Mereka tak semata-mata hadir sebagai penyair PMK tetapi juga memberikan semangat untuk menolak korupsi pada masyarakat dimana roadshow diselenggarakan.
Jika ada buku sastra yang paling banyak dibaca orang saat ini tak diketemukan kecuali buku Puisi Menolak Korupsi (PMK) yang diprediksi telah menembus 2 juta orang itu pada tahun 2014 lalu. Dan jumlahnya selalu bertambah seiring penambahan jilid dan roadshow PMK.

Sejarah Angkatan 2000

Angkatan 2000 dan Karyanya Setelah wacana lahirnya sastra Angkatan Reformasi muncul, namun tidak berhasil dikukuhkan karena tidak memiliki “juru bicara“, dalam hal ini bisa disebut ikon atau hal/seseorang yang menjadi pencetus maupun tokoh sentral yang mewakili ciri khas dari angkatan tersebut, Korrie Layun Rampan pada tahun 2000 melempar wacana tentang lahirnya sastrawan Angkatan 2000. Sebuah buku tebal tentang Angkatan 2000 yang disusunnya diterbitkan oleh Gramedia Jakarta, tahun 2002. Seratus lebih penyair, cerpenis, novelis, esais, dan kritikus sastra dimasukan Korrie ke dalam Angkatan 2000, temasuk mereka yang sudah mulai menulis sejak 1980¬an seperi Afrizal Malna, Ahmadun Yosi Herfanda dan Seno Gumira Ajidarma, serta yang muncul pada akhir 1990¬an seperti Ayu Utami dan Dorothea Rosa Herliany. 

Sejarah Angkatan Reformasi

Sejarah Reformasi Angkatan Seiring terjadinya pergeseran kekuasaan politik dari tangan Soeharto ke B.J. Habibie lalu K.H. Abdurahman Wahid (Gus Dur) dan Megawati Soekarno Putri, muncul wacana tentang sastrawan reformasi. Munculnya angkatan ini ditandai dengan maraknya karya¬karya sastra puisi, cerpen maupun novel, yang bertemakan sosial¬politik, khususnya seputar reformasi. Di rubrik sastra Harian Republika misalnya, selama berbulan¬bulan dibuka rubrik sajak¬sajak peduli bangsa atau sajak¬sajak reformasi. Berbagai pentas pembacaaan sajak dan penerbitan buku antologi puisi juga didominasi sajak¬sajak bertema sosial¬politik. Sastrawan reformasi merefleksikan keadaan sosial dan politik yang terjadi pada akhir 1990¬an, seiring dengan jatuhnya Orde Baru. Peristiwa reformasi 1998 banyak melatar belakangi kelahiran karya¬karya sastra seperti puisi, cerpen, dan novel. Bahkan, penyair yang semula jauh dari tema sosial¬politik, seperti Sutardji Calzoum Bachri, Acep Zamzam Noer dan Ahmadun Yosi Herfanda, juga ikut meramaikan suasana itu dengan sajak¬sajak sosial¬politik mereka. 

Selasa, 06 Oktober 2015

Gerbong Penyair Tegal

Gerbong Penyair Tegal

1.Agus Noor
2.Aidha Boestam
3.Akhmas Sekhu(tinggal di Jakarta)
4.Apito Laire
5.Diah Setyowati
6.Dwi Ery Santoso
7.Eko Tunas
8.F Rahardi
9.Faozan Muhaimin
10.Hinto Fajari
11. Lanang Styawan
12.Nana Riskhi Susanti
13.Nurhidayat Poso
14.Nurochman Sudibyo YS(tinggal di Indramayu
15.Oeij Siauw Tjong
16.Piek Ardijanto Suprijadi
17.Rg Bagus Warsono (tinggal di Indramayu)
18.Sides Sudyarto DS(tinggal di Jakarta)
19.Suriali Andi Kustomo (tinggal di semarang)
20.Slamet Gundono (tinggal di Solo)
21.SN Ratmana
22.Syaque Hakaritokusaikizoko
23.Yaskur Parondina
24.Yono Daryono
25. Darmadi

Nana Riskhi Susanti

 Sajak-Sajak Nana Riskhi Susanti
http://www.republika.co.id/
MENGAJAKMU PULANG
Tak ada yang beda
pada hujan
dan kemarau
jeda diantaranya menguraikan doa
pada lengan sunyi
aku tak pernah lagi
mengirim rindu padamu
pada hujan
atau kemarau
sebab aku mau menidurkanmu
di atas semak perdu
aku ingin mengajakmu pulang
ke asal mula hatimu
: aku
Tegal,2008
KUTULIS PUISI DI PASIRMU
Hanya doa
sembunyi di batubatu
di mawar sunyi
di pagar rindu
di langit sengit
aku menyebut
membawa benang-benang baru
untuk hidupku
hidupmu
ia tertulis di telapak tangan
lihatlah garis-garisnya!
ia tak bisa diubah
bahkan oleh kenangan
kutulis puisi pada pasirmu
ingatkah kau pada lampu tua itu
bangku rotan coklat penuh rayap kayu
dinding putih penuh kaligrafimu
tirai hijau berderaiderai
mendengar rinduku yang tak sampai padamu
karna kupilih mawar sedang aku berduri
kusembah tiangtiang sedang aku bambu
kubaca zikir sedang aku sihir
kuhiba laut sedang aku lembah takut
kutulis puisi pada pasirmu
betapa sakit doaku yang menunggu sampai
di antara doa karang
ikan
ombak
nelayan
para pemabuk di laut itu
aku ingin mengurai cinta
seperti puisi pasir pejalan sunyi
meski terhapus gelombang
yang dikirimkan doa ikanikan
meski impian
tak cukup untuk dituliskan
anakanak surau
membaca hurufmu
di antara tiangtiang perahu
ketika matahari mulai sembunyi
dan aku masih
menulis puisi di pasirmu
Tegal, 2008




 Nana Riskhi Susanti, atau Nana Eres, lahir di Tegal, 02 oktober 1990. Menulis puisi, cerpen, lakon dan esai, sejak SMA. Bergabung dalam sanggar Lare'S Dramatik Tegal. Puisinya dimuat dalam antologi Aku Ingin Mengirim Hujan(Dewan Kesenian Semarang, 2008) dan beberapa koran lokal. Kini tercacat sebagai mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UNNES.(-)

 Nana Riskhi Susanti gadis cerdas , ia menyelesaikan kesarjanaannya di Unnes pada tahun 2011, mengambil jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dengan predikat cum laude



Nana Riskhi Susanti penyair Tegal .Sejak sekolah rajin ikut lomba baca
Nana Riskhi Susanti (lahir di Tegal, Jawa Tengah, 2 Oktober 1990; umur 23 tahun) adalah salah seorang sastrawati Indonesia yang mengawali debutnya di usia muda. Sejak duduk di SMA Nana sudah menulis puisi, cerpen, dan artikel seni-budaya. Berbagai penghargaan juga pernah dia terima, dari tingkat daerah hingga tingkat Asia Tenggara. Nana menyelesaikan kesarjanaannya di Unnes pada tahun 2011, mengambil jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dengan predikat cum laude

Sabtu, 03 Oktober 2015

Puisi Batik Dihari Batik Karya Rg Bagus Warosono

 Terangi lampu Mbok tuamu
yang membidik gambar warisan leluhur
dan sediakan teh manis Mbok tuamu
Agar tak lelah oleh panas perapian malam
Lalu sediakan sepotong sirih
untuk Simbok tuamu yang pernah menyelimutimu



 tak ada salah menoreh
karna hati menjadi satu
Canting jari hatimu sendiri
menyatu lembar lembar mori
putih tertiup angin
kau mencetak cerita baru



menelusuri garis yang telah toreh sendiri
menebalkan jalan setapak yang dilaluimu
mewarai diri apa yang dijalani
dan menebalkan warna ciri seni
kau bebas melalui jalanmu
membatik diri





 Bilakah pencinta seni
menjalin hati batikmu sendiri
menambah cantik rupamu gadis
tampan wajahmu pemuda
menambah pesona penampilan Bapak hari ini
dan ibu terlihat merangsang Bapak



 Menunggu kering diangin
menunggu teman selesai
atau kau dahului menikah
padahah aku tak menyuruhmu menunggu
Simbokmu rela melepasmu pergi
asalkan esok kembali lagi
dengan baju batik yang lain



Biarkan malam meleleh kering
asalkan tlah menggores
Biarkan malam mengering dingin
asalkan selembar usai
Atau kau terlalu encer 
dan tiupan bisikan hati agar tak lagi tersumbat





 Kenapa menyuruh jatuh cinta
padahal sejak sekolah kau mencintaiku
dengan seragam yang kancingnya lepas
karena senda guraumu lucu
Kenapa kau menyuruh rindu
padahal sejak ku pergi
sms-ku terkirim pada namamu
yang slalu ada dihati
Duhai gadis berbaju batik



 Tlah lama ibu membatik
tapi tak selembar kain disimpan
kapan ibu buatkan baju batik
aku sudah gadis ibu
tinggalkan selembar kain saja
untuk kenang-kenangan




Foto RgBagus Warsono.
 Ajari aku membatik
agar aku bisa berdadan cantik
Ajari aku membatik
agar aku mewarisi ilmu
Ajari aku membatik
agar aku menjadi seperti ibu



Dia berjalan selebar lipatan kain
Sidomukti dan selendang liris
melangkah ke panggung keroncong simfoni
Putri Solo ataukah gadis Pekalongan
Bukankah gadis Trusmi
ah itu Ibu Indonesia.