TEKS SULUH


Tampilkan postingan dengan label Antologi T. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Antologi T. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 Juli 2021

Wandi Julhandi Terima kasih untuk semuanya; Wawan Hamzah Arfan TANPA BATAS LOGIKA : buat RgBagus Warsono; Wardjito Soeharso T

 W

Wandi Julhandi


Terima kasih untuk semuanya


Yang engakau berikan kepadaku

Terima kasih atas segala-galanya

hingga diriku ini menjadi seperti sekaran

Terima kasih banyak wahai engkau yang berbaik hati

Terima kasih sekali lagi wahai engkau yang berhati malaikat

Terima kasih dan terima kasih pada kita akan bisa mempercayai diri yang gelap ini

Terima kasih wahai engkau yang mendatangkan kepadaku sinar cahaya itu Hingga diri ini bisa menjadi bersinar dari tempat yang gelap menjadi cahaya

Yang terang dari tempat kegelapan itu 

Makassar, 26062021














Wandi Julhandi


TAK KUDUGA


Tak kuduga ada dia, dalam diam aku bertanya kepadanya

Tidakka kau lihat disini aku lagi sibuk bekerja 

Tak bisakah engkau bersabar dirumah kita

Tiada kata yang harus disampaikan dan sampaikanlah kepadaku sekarang juga


Tetesan keringat yang keluar dariku adalah bukti baktiku untuk kita semua

Tiada rasakah dirimu disana

Terdiam aku terdiam semoga perjuanganku membawa berkah dan rahmad ilahi rabb

Tampa kendek-Nyalah semua bisa menjadi nyata

Makassar, 25062021



















Wardjito Soeharso


T

Tik tik tik rintik gerimis di tengah malam sepi gelap mata nyalang menunggu cahaya mesti cuma sekerjap kilat agar aku tahu bentuk dan rupa wajahmu sekian lama sembunyi dari teka teki tak pernah mampu kujawab memaknai konfigurasi bayangan di balik lembab kaca jendela terlimpas embun. 

Tok tok tok halus ketukan dari balik pintu terkunci rapat bagaimana aku membuka sementara kunci tergantung jadi bandul kalung tak pernah lepas dari lehermu begitu jenjang dan serasi dengan belah dada menggairahkan remaja lelaki baru kenal birahi sedang aku hanya lelaki tua rambut beruban punggung bungkuk tak berdaya penuhi segala ingin dan angan?

Tuk tuk tuk ketak ketuk harmoni irama entah maju mundur entah naik turun siapa peduli sedang merangkak naik ke puncak bukit mencari telaga pelepas dahaga menyelam ke dasar sentuh naluri purba janjikan lena di penghujung malam tinggal sepengunyah buah larangan sedang kaki berpijak batu-batu rompal berguguran memaksa harap menunda hasrat sejenak menjejak terbang melayang.

Tek tek tek jangan bangunkan ular tidur karena kenyang setelah melepas bisa merasuki nadi-nadi darah bekukan jantung merobek paru membunuh peselingkuh merayu anak tirinya sendiri sedang bapaknya di luar sana bermain api membakar hasrat wanita malam berkeliaran tanpa pakaian dalam ada ular melingkar pinggang ramping di balik gaunnya.

Tak tak tak hidup tak pernah mudah jalanan begitu terjal kerikil tajam menghadang kaki memberi luka nyeri menyengat dada membuta mata menuli telinga membebal rasa setiap langkah tinggalkan hanya aroma bunga kamboja jatuh tergolek tak berdaya di tanah basah. 

T...tutup mulutmu!

27.06.2021

Tatitutetot

Tat

Tatat

Tat tatat tat 

Tit

Titit

Tit titit tit

Tut

Tutut

Tut tutut tut

Tet

Tetet

Tet tetet tet

Tot

Totot

Tot totot tot

Tat tatat tat tak usah dicari maknanya

Tit titit tit tak mesti diintip isinya

Tut tutut tut tak perlu diburu maksudnya

Tet tetet tet tak remeh diseret arahnya

Tot totot tot tak elok disebut rasanya

Tatitutetot

Memang hanya harmoni bunyi!

27.06.2021





Wawan Hamzah Arfan


TANPA BATAS LOGIKA

: buat RgBagus Warsono


Tak tahu dari mana harus kumulai

Tentang tema yang kau tawarkan Tampak begitu mistis

Terlalu jauh dari jangkauan mimpi

Terlebih dalam menggali inspirasi

Tenggelam di kedalaman imaji


Tapi, kuakui sensasi gilamu

Telah menjadi kekhasan

Terunik dan nyeleneh

Terpatri dalam jiwamu

Tanpa batas logika

Tumpah dalam gairah kata-kata.

Cirebon, Juli 2021


















TANDA MATA SEBUAH KEMERDEKAAN DI MASA PANDEMI


Tujuh puluh enam tahun sudah

Tanah air merdeka

Tetap saja begini

Terjajah

Terbelenggu

Terpuruk

Tertimbun sampah

Tumpukan sisa bahan bekas hutang


Tapi gilanya


Tanah yang aku pijak ini

Tak ada beban

Tenang saja melangkahi derita

Terus tancap gas

Tangguh walau tak bisa bayar cicilan

Tumbuh kembang pengangguran

Terlalu asyik gali lubang

Tanpa pernah tutup lubang.

Cirebon, Juli 2021














TAK TAHU AKU


Tak tahu aku harus bagaimana

Tak ada yang bisa aku tawarkan

Tak ada yang bisa aku banggakan

Tak ada kata yang bisa aku rangkai

Tentang kerinduan yang tak bertepi

Tentang ketulusan yang tak berarti

Tentang mimpi yang tak kembali


Tapi aku masih punya nyali

Tenang dan penuh keyakinan

Tanpa ada goresan luka kata-kata

Tanpa ada nada sinis yang mengiris

Tak akan kubiarkan inspirasi

Tumbang diambang kebimbangan

Tak peduli suasana pandemi

Telah meluluhlantakkan nurani.

Cirebon, Juli 2021


Tarni Kasanpawiro T

 T

 Tarni Kasanpawiro


T

Telur tanpa tetas

Terinjak terompah 

Tak tercegah tersia

Terlupa tanpa tanda


Tangis tersedu 

Terpisah tiada temu

Tubuh terpanggang tungku

Tanpa tirai tanpa tandu


Terlanjur tunduk patuh

Tak tahu telah tertipu

Tergoda tatapan teduh

Ternyata tukang teluh


Tetaplah teguh 

Tolak tangkis tinju

Tangguhlah tangguh

Tunaikan tugasmu


Tertera tanda

Telapak tangan terbaca

Tabir telah terbuka 

Teruslah tabah

Tunggu T tiba

Cibitung, 22 Juni 2021




Tarni Kasanpawiro


BERMAIN KATA


ada yang asyik bermain kata

tak peduli hasrat terus meminta

ditepisnya segala rasa dengan tawa

hingga lupa hari semakin senja

isyarat tak mampu menyapa


ada yang asyik bermain kata

bocah-bocah setengah manula

turut memainkan semua aksara

menjadi imaji liar tanpa cegah

berlompatan dengan indahnya


ada yang asyik bermain kata

sampai tak melihat ada kecoa

habiskan sisa nasi di piringnya

sambil mencibir dasar manusia

suka mentertawakan dirinya


ada yang asyik bermain kata

sambil menggoyangkan kakinya

tak pusingkan dompet terbuka

dan angka-angka entah di mana

bodo amatlah katanya


ada yang asyik bermain kata

hingga tak mendengar suara

memanggil-manggil namanya

dari dalam perut anak-anaknya

cacing-cacing meminta jatah


ada yang asyik bermain kata

meski sadar yang dilakukannya

tak bisa membuatnya jadi kaya

ha ha hi hi yang penting bahagia

tak kesepian banyak temannya


ada yang asyik bermain kata

sambil menghisap angannya

agar tak terbang mengangkasa

karena hanya itu yang dia punya

teman yang paling setia


ada yang asyik bermain kata

sambil sesekali garuk kepala

sepertinya ada yang dia lupa

tungku di dapur tak lagi menyala

api pergi meninggalkannya


ada yang asyik bermain kata

dikumpulkannya semua aksara

berharap pasar mau menerima

bersaing dengan sembako murah

bawang cabe dan juga rempah


dari kamar sebelah ada suara

bukan tangisan ataupun tawa

sepertinya dia mengenalnya

tapi kini dia benar-benar lupa

mungkinkah itu anak-anaknya


tiba-tiba semuanya gelap gulita

malam telah tiba tapi dia terlupa

listrik di rumah kehabisan daya

aksara seakan menampar dirinya

banyak cinta yang mestinya dia jaga

Cibitung, 26 Juni 2021



Tarni Kasanpawiro




TITIK SETELAH KOMA


tiba-tiba semua berubah

yang dekat harus berjauhan

yang pergi tak lagi bisa pulang

hanya bisa lambaikan tangan

dengan airmata berlinangan


peraturan bukan lagi pedoman

yang dilarang malah dibolehkan

yang tadinya boleh jadi dilarang

banyak yang melanggar kewajiban

semata demi keselamatan

lalu hilanglah kebiasaan


ada yang patuh pada anjuran

ada yang bodo amat tak mendengar

dianggapnya sebuah kebohongan

sampai akhirnya datang teguran

dan menyesallah kemudian


datanglah kabar kepulangan

sebagaimana awan menjelma hujan

tak tercegah menderas berjatuhan

tanpa payung di genggaman

tangan kehilangan pegangan

menggigil gemetaran


menjebol dinding keangkuhan

melihat orang lain terbaring lemah

tak berdaya saat titik mulai berubah

menjadi garis panjang setelah koma

tanpa pendamping di sisinya

seakan tak memiliki cinta


semua menjauh palingkan muka

dalam hatinya merasakan derita

tak bisa ucapkan sepatah kata

selain tundukkan kepala pasrah

dalam keterbatasan dia berdo'a

segeralah membaik oh semesta


Cibitung, 05 Juli 2021

Tarni Kasanpawiro


Tarni Kasanpawiro

Lahir di Kebumen 01 Desember 1971

Beberapa puisinya tergabung dalam antologi bersama "Pinangan(Dapur Sastra Jakarta) , Mendekap Langit(Gempita Biostory) dan Puisi Menolak Korupsi jilid 2 dan jilid 8. Saat ini aktif di group Lumbung Puisi asuhan RgBagus Warsono dan beberapa kali ikut antologi bersama". Tinggal di Sebelah kanan SMPIT Daarussalam. Perumahan Cluster Permata Taman Wanasari Indah Blok B No 09 Rt 02 Rw 08 Kel. Wanasari Kec. Cibitung Bekasi Jawa Barat Kode Pos 17520




Setyo Widodo SURUT BERSAMA REDUP LENTERA; Sulistyo Sore Ini Masih Hujan

 S

Setyo Widodo


SURUT BERSAMA REDUP LENTERA

: DON

Aroma bubur kacang ijo di sudut Mahatani

kembali menyengat. Rasa yang manis menjadi hambar pada tegukan terakhir. Di punggung kimia

organik kita berbagi roti tawar

tidak setangkup tapi selembar,

pengganjal ketegangan yang akan menemani

praktikum titrasi

Don, setiap bercengkerama engkau

selalu menyanggah

aku marah

engkau mengalah

begitu yang berlaku. Katamu, sebaik itu

toh karmaku tak aku tahu.

Don, kereta pasti berhenti terparkir di ujung jalan masing-masing, tanpa kusir

tak ada yang sanggup mengusir

namun yang kini terjadi, kereta itu

berlompatan dan zigzag menjemput yang tak terkira

Kau sering menjadi lentera. Sering tetiba menyala, lalu tak kaujaga

membiarkan yang ada membaca bait-baitNya

Seperti yang kali ini

aroma kacang ijo menari-nari di lorong

kimia. Lalu surut bersama redup lentera

dengan lenggang ringan kau menapaki

lorongnya menuju kereta

Bogor 05 Juli 2021/07.59AM


Sulistyo 


Ada Cerita Apa Pagi Ini?


ada cerita apa pagi ini?

hujan belum berhenti 

dan kau menungguku 

melanjutkan cerita yang terpenggal dini hari tadi 

kekasihmu pergi menitipkan satu sloki air mata untuk kau nikmati saat rindumu tak terbendung esok nanti 


tak ada cerita pagi ini

tak usah kuceritakan tentang puisiku yang lama hilang tersesat labirin pagi 

ia pergi dan tak ada kenangan yang perlu disesali 

biarkan ia menyudahi episode hari-hari tanpa harus berkemas menyiapkan alas kaki 


ya, cukup sampai di sini 

tak ada cerita pagi ini 

(19.06.2021)














Sulistyo 


Sore Ini Masih Hujan


aku tak bisa mengunjungimu, sayang 

sore ini hujan deras dan angin kencang 

tunggu sampai tengah malam 

mungkin tak ada lagi hujan 

aku akan datang diam-diam menyusup jendela kamar 

tunggu aku jangan pejamkan matamu dulu 

akan kuajak kau bertamasya mengelilingi bulan bundar dan bercilukba di kerlip bintang-bintang


(23.06.2021)




Sulistyo , Lahir dan besar di Kudus. Menyukai apapun tentang seni dan sastra. Puisi-puisinya tergabung di beberapa antologi bersama dan beberapa antologi tunggal.








Suyanik


T

 

Tanpamu

Tampan itu rupamu

Terhanyut aku dalam melodi cintamu

Terkekang dalam jaringan nadimu

Terkenang bagaimana kau

Tampakkak cakar-cakarmu menguasai

Terbabat habis menggelanggang jatuh

Tidakkah kau ingat

Tatkala kau lumatkan dinding-dinding pembatas dengan rayu dan cumbumu atas nama cinta

Terjatuh dalam pelukan asmara yang kau terabas pembatas tanpa mengenal pantas

Terasa hanya kau dan aku tiada lainnya

Tersadar apa yang kau lakukan?

Teriak!

Tidak!

Terbungkam rapi karena nama baik

Tidakkah kau ingat lagi itu, bagaimana perjuanganmu untuk.mendapatkanku hingga akhirnya aku ....

Terjatuh begitu dalam

Terperosok pada ikatan cinta terlarang

Tanpamu lagi

Gresik, 26 Juni 2021



Nanik Utarini TUHAN, TERIMALAH TAUBATKU

 N

Nanik Utarini


TUHAN, TERIMALAH TAUBATKU


Tuhan, Rabb penguasa nabastala raya

Takdir yang telah Engkau gariskan pada setiap makhlukMu adalah kebaikan bagi semua

Tetapi seringkali kami mengingkari atau bahkan menggugatnya

Terbentang luas bukti kasih dan sayangMu, tetap saja kami sering tak menyadarinya


Tuhan, Rabb penentu luas dan dalamnya samudera

Tergelincirnya matahari yang berganti malam, dengan hiasan gemintang dan rembulan adalah wujud nyata KuasaMu

Tetapi kami sering tenggelam dalam pekatnya noda, hingga lupa menyadiri beribu tanda keAgunganMu

Terjalnya harapan membuat kami sering terjerembab dalam kufur nikmat


Tuhan, Rabb semesta alam

Terimakasih atas segala nikmat dan karunia yang telah Engkau berikan pada kami

Taqwa kami tak seberapa, namun Engkau tetap melimpahkan segalanya bagi kami

Terimalah taubatku dan ampunilah dosaku yang menghitam





Nanik Utarini

Makna T


T adalah Tuhan penentu segalanya

Terbit dan tenggelanya matahari adalah bukti atas segala KuasaNya

Terlahir atau kematian manusia adalah bukti nyata keberadaanNya

Tercipta dan musnahnya Dunia ada dalam genggamanNya


T adalah Teman, yaitu seseorang yang selalu mengingatkan dan menguatkan bagaimanapun keadaan kita

Teman terbaik bukanlah teman yang selalu mendukung kita, tetapi ia juga harus mengkritik saat kita berlaku salah 

Tetap ada saat  kita tertawa bahagia atau saat kita menangis sedih

Tetaplah jadi teman terbaik dalam hidup kita


T adalah Tabah, berusah tabah dalam setiap ujian dan hambatan

Tantangan yang seringkali menghadang, hendaknya kita sikapi dengan lapang dada

Terus berusaha sekuat tenaga seolah-olah engkau hidup selamanya

Tak boleh menyerah dan pasrah pada keadaan, hingga kita raih kesuksesan


T adalah Tulus, berusaha bersikap tulus pada semua 

Tidak pernah tebang pilih dalam menolong dan peduli pada sesama

Terus mengasah kepekaan terhadap semua manusia

Terwujudnya masyarakat yang damai aman dan sejahtera


T adalah Terserah, Terserah mau diartikan apa?

Terserah mau dimaknai apa?

Terserah mau dirangkai menjadi apa?

Terserah alias karepmu dewe ya!

Jambi, 28 Juni 2021





Yuda Wira Jaya TAK TERTAHAN

 



J

Yuda Wira Jaya


TAK TERTAHAN

Tanganku tak tercegah

Tergerak menggoreskan beberapa larik tinta

Tersanjung tatkala tulisan tergopoh-gopoh minta dituang

Tinta terus saja mengalir tak tertahan


Tiba-tiba aku terlonjak, Tuyul! Tikus terjepit ternyata berhasil kabur dan menyenggol kakiku


Tinta ini terus saja terhuyung-huyung melalui tangan mungilku

Tidak


Tanya saja pada tetes embun yang membelai tanaman dengan malu-malu kucing

Ya, malu-malu kucing

Bukan Malu-malu tikus


 Mengapa tinta itu terus saja memaksa untuk dirangkai menjadi tulisan tertata?

Tidak bisakah menunggu sejenak?

Setidaknya hingga matahari terbit


Tidak

Tuntunan berisi inspirasi tak tertahan tinggal terlalu lama dalam imajinasi tiada bertepi


Karunia Tuhan tak terjangkau oleh akal sehat manusia

Terpujilah jika kita tak menyia-nyiakannya

Turutilah

Tak usah buru-buru kau torehkan titik

Tintamu yang setia hanya ingin sekadar mengucapkan kata "terima kasih"

Tuan selalu memperlakukan saya tanpa diskriminasi

Sleman, 25 Juni 2021


I. MADE SUANTHA: TITIAN : TITIK TEMU TAK TEMU; I Wayan Budiartawan Teman Sejati

 I

I. MADE SUANTHA:


TITIAN : TITIK TEMU TAK TEMU

( 54 tahun jalan tak menemu waktu)


/1/

Titian air  Jejak apa ditinggalkan saat pendakian

   Tangga mengerucut ke bawah. Batas pandangan

dan luas cakrawala

Tempaan langit  Mengudara. Ruang beraksara

Penenun bunga kemesraan

Maha cinta  Rembulan rindu kecupan malam

Terapung pula pada butir embun

Menera dingin. Tadahan bulan sabit

   Tempias air pancuran. Maha dahsyat

pecahkan keras pualam

Matahari menyangga cakrawala

   Di ubun ubun aksara mengakar!


Titian air. Tempuhan menuju relung sukma

Mensenyawa remang rembulan

dan menyempurna dalam segelas air mawar merah

   memyerupa zarah purnama


/2/

Titian udara  Mengapung ke mana jerajak langkah

Udara aksara. Aksara udara pada hembusan

nafas. Menemu di pompaan jantung


Pendakian hampa. Menemu dan tak menemu

adalah rasa. Menyingkap ruang rindu segi 9

   Serabut titian. Penyeberangan maha maut

   Senyawa udara pada susunan kelopak

   mawar, serupa nada nada jiwani

Gending kemesraan. Maha Kasih


   Titian menemu. Titian tak menemu

   di rongga dada menghampa

   Hampa jadi biru langit

adalah ketiadaan AdaMU

dalam pusat pejam: Serah Diri!


/3/

Titian tapak dara. Partitur  aksara  Putaran aksara

kelapangan senyapMu. Di batas mana mengakar

dan menumbuh. Mengembang mekarkan bungaMu

   Mawar merah penadah gerhana

   Putih melati memurnikan matahari

Nafas simpulkan sukma

Upacara sujud. PadaMu mewujud!


Bunga bunga halimun. Selimut kabut  Pelindung

jiwani. Jejak yang nampak menyamar adaNya

   Serupa sujud

   Ada - tak mengada. Menyimak pohon

besar adalah kesenyapan sujud akar

Tak terkira aku padaMu. Maha Sukma


Titian tapak dara setinggi itu menjulang

   Kupukupu biru tertangkap di lubuk waktu

Pengasingan senyap. Perwujud hampa.

Kesendirian tak bertepi!


/4/

Matahari adalah hening nafas. Masuk

   dan keluar tak terduga

Jantung dalam detak sanggaan lafadz

Aku urai Emgkau dalam sujud

Engkau urai aku dalam wujud!


Matahari. Maha Teduh. Jalinan dari pikiran

   dan penyerahan diri  Simpul dari terang

   di bahagian paling gelap pada

        gemerlap cahaya

Maha waktu. Keterasingan dan kesendirian

   menyusupi perjalanan pada mekar

   mahkota padma

Setegar mawar. Setenang melati

Pohon takwa tumbuh di setiap hirup

       hembusan nafas!


Rembulan memandang matahari

Di luas telapak tangan. Titian untuk menuju

   tidak ke mana dan di mana

   Mengada untuk mengawali sekaligus

   mengakhiri lintas lautan waktu

Jukung laju. Lajuan jukung berlayar di lubuk hati


/5/

Titian selimut kabut. Melebur dalam hampa

Pemdakian tertinggi adalah menyusuri

   dasar dasar perjalanan awalku memujuMu

   Tak berdasar mata angin

   Tak tersampai di telapak tangan beraksara

   Mewujud sujud!


Rumah gerhana. Titian matahari. Membiru

   kabut cakrawala

   Jalan seindah bianglala. Teduhan hujan

   Jalan seumur sujudku. Suara beraksara

Mengembara dalam pejam. Mengurai hampa


Rumah gerhana. Altar. Sujud dan persembahan

Penyusuran sukma. Paduka Maha Sukma

   Menyimpul kosong

   Simpul MahaMu


   Rumah sukma hening

   Rembulan semerah mawar merah

   Sebening melati Sang Maha Matahari

Matahati titian

Suluk titian. Pencapaian adalah penempuhan

   Maha Hening

   Jalan tak bernampak di kalbu


Jarak ubun ubun ke tinggi cakrawala

   Noktah sedekat sujud lafadz

   Selingkar zarah serah diri!

Sipta Umadika, 24 Juni 2021





















I Wayan Budiartawan


Teman Sejati


Seraut wajah manis bersahaja

Kukenal saat pemilihan pelajar teladan

Ni Nyoman Wangi sungguh mempesona

Remaja puteri yang tumbuh menjelang dewasa


Ni Nyoman Wangi aku kagumi

Dia memberi aku perhatian setulusnya

Aku dengan dia mulai saling mengenal

Masing-masing menyukai hal yang sama


Dia seorang gadis asal Desa Tista

Seorang bunga di mata diriku

Dia membuka perasaannya padaku

Getaran sukma pelan-pelan merambat


Teman sejati ketika dilanda kesusahan

Waktu bergulir tahun demi tahun

Persahabatanku dengan dia tetap abadi

Bulan malam bersinar syahdu menjadi saksi


I Wayan Budiartawan, Pegiat Hindu Bali. Pernah kursus wartawan  di Pura Cimahi, Bandung.Menulis di internet sejak 2011





Hasan Bisri BFC T; Heru Patria TOLOL; Hasani Hamzah TELOLET

 H

Hasan Bisri BFC


T

 

#T

#Tahukan engkau apakah itu T?

#T adalah awal mula ada sebelum lainnya

#tiada t selain T

#tempat bergantung segala di alam semesta

#terangnya ada pada bulan, pada matahari, pada bumi

#tenteram dan teduh dalam pangkuannya

#tambatkan kepalan hatimu, gumpalan benakmu, juga geraklangkahmu, sebab

#tujuan akhir keberadaan adalah memenuhi panggilannya

 

#Tahukan engkau siapa itu T? 

#T adalah Zat yang Maha Tahu

#tampungan segala kesah, rindu, takut dan harapan

 

#T adalah teka teki abadi dan pada hati segalanya terbuka

Bogor, 17 Juli 2021

 

 

 

 

 


Hasan Bisri BFC


T

 

ting!

terpelanting aku pada ketiadaan

tanpa kata kata

tersisih dari tubuh semesta

tak ada arti

tak ada bunyi

tak ada eksistensi

 

tiuuuung!

tergulung gulung

terguling guling

tanah!!

tempatnya

tak kena;l

temaran dan silam waktu!

Bogor, 17 Juli 2021

















Heru Patria


TOLOL


Tuan tolong tunjukkan

Tempat tujuan tuk temukan tambatan

Tarian tulus tambahkan terapis

Tanpa Tuhan tibalah tragis

Tapi tuan torehkan tulisan tipis

Tentang tanda tanya ternoda

Tangguhkan tuduhan tatkala tragedi tiba

Tebarkan tawa termanis tuk tepis tangis

Tolol

Tunjukkan taqwa tanpa tuntunan

Tiada teman titip taruhan

Topeng-topeng terlaknat terbahak

Tertawakan Tuhan tuangkan tuak

Tetes-tetes terhina tunduk

Tampilkan tingkah tolol

Tanggalkan tupoksi

Tipu toleransi

Tandas!

Blitar, 4 Juli 2021














Heru Patria


IT AT UT OT ET


Hamparan langit, hujan menjerit, penuhi parit

Kemarau berkelit, riuh terbelit, didera sakit

Hidup makin sulit, dunia serasa sempit

Pandemi covid, terus melilit


 Di mana tempat, temukan obat, tanpa dirawat

Jiwa-jiwa penat, nyaris sekarat, menjadi mayat

Tanpa istirahat, nakes berbuat, pasien selamat

Tanpa adat, orang menghujat, tak tahu akibat

Harusnya masyarakat, pada taubat, sebelum kiamat

Jadilah umat, pembawa manfaat, sebelum terjerat

Kondisi darurat, patuhi amanat, tanpa mendebat

Mari bermunajat, minta sehat


Sebab maut, bisa menjemput, sebelum larut

Bumi mengkerut, carut marut, penuh kabut

Matahari berselimut, makin keriput, manusia kalut

Enggan menurut, tanpa patut, saling rebut


Kesehatan merosot, banyak bacot, adu otot

Otak robot, tanpa bobot, lakukan boikot

Pemikiran reot, seperti tikus got, saling cokot

Bikin repot, layaknya nenek peot, minum dot


Kalau sudah kepepet, bisanya cuma melet

Langkah menyeret, seperti babi ngepet

Menahan mencret, nama tercoret

Jangan kudet, tiup saja terompet

Tet tet tet!

Blitar, 4-7-2021



HERU PATRIA. Adalah nama pena dari Heru Waluyo, seorang guru Sekolah Dasar di Kec. Wlingi Kab. Blitar Jawa Timur. Penulis yang beralamat di Bogangin RT.01 RW.06 Kel. Bajang Kec. Talun Kab. Blitar ini juga merupakan mentor menulis novel dan cerpen di FLP Blitar dan Grup Temu Penulis Blitar. Penyuka baca puisi ini juga sering mengisi materi literasi di berbagai grup kepenulisan grub FB dan WA. Untuk komunikasi silakan kontak di nomor 0857 8414 5106 atau FB : @Heru Patria, IG : heru.patria.54, Twitter : @HERUPATRIA3 bisa  juga via email di heruwaluyo538@yahoo.co.id atau herupatria9@gmail.com. Ia telah menghasilkan 28 novel, 2 buku kumpulan puisi, 14 buku kumpulan cerpen. Novel terbarunya berjudul DALBO Basa Basi Bumi sedang proses terbit di elexmedia. Beberapa puisinya dimuat dalam buku antologi, di antaranya : Antologi Tanah Air Puisi (Hari Puisi Indonesia), antologi Corona (Lumbung Puisi), antologi Wong Kenthir (Lumbung Puisi), antologi ASU (Lumbung Puisi), Tadarus Puisi V (Lumbung Puisi)









Hasani Hamzah


TELOLET


Setiap hari di tepi jalan itu

Anak-anak dengan wajah penuh haru

Leher memanjang seperti bangau

Tangan-tangan terjulur melambai


Bukan pengemis bukan jambret

Yang mereka pinta hanya telolet

Om telolet, om! Telolet! Telolet!

Serunya kepada setiap bus yang lewat


Om telolet, om! Telolet! Telolet! 

Telolet bukan uang. Bukan uang tapi telolet

Bunyi telolet merdu di telinga

Bagai suara seruling merasuk sukma


Bus-bus berlalu, telolet lenyap seketika

Ditelan gemuruh dan amuk prahara 

Hampa suara-suara dalam jeritan panjang

Jalanan lengang duka menghadang


Dunia kini bertambah sepi 

Berganti kabar orang-orang mati

Sejak pagebluk melanda negeri

Suara telolet lama tak terdengar lagi

Sumenep, 23 Juni 2021








Hasani Hamzah


TIK TOK


Aku mendengar suara, memukul-mukul jendela. Seperti suara angin dan hujan

Sedang di sudut lain bermunculan

Berjuta sumber suara yang entah dari mana

Merambat dan bergelombang

Waktu berdentang, hening ditikam denting

Memekik dalam sunyi. Juga bernyanyi

Gelak dan tawa, seperti orang bercanda

Cekakak cekikik, dalam diam mengusik

Bergema di kejauhan

Sedang di sini riuh dan gaduh bergemuruh

Suara ini suara itu selalu tak henti-henti

Bertalu-talu bagai tambur, seperti orang bertempur. Menghentak dan meledak-ledak

Bagai sambaran geledek

Nenek gaptek lelet terkaget-kaget

Mendengar bunyi gadget

Bunyi apa, suara siapa. Terkekeh-kekeh

Weleh! Weleh!


Tak peduli malam atau siang

Suara-suara bersenandung riang 

Bersemayam dalam diam

Membayang rupa yang tak kenal siapa

Dan entah dari mana

Hanya suara-suara dari berjuta sumber suara

Memenuhi jagat maya, merasuki jiwa-jiwa manusia

Sumenep, 19 Juli 2021





HASANI HAMZAH, lahir di Sumenep pada 16 Agustus 1974. Aktif di sastra cyber dan terlibat dalam beberap antologi bersama. Selain menulis, ayah dari Ega Novela Indah Nian ini juga menjadi penggiat sastra dan budaya di kampung halamannya. Bagi yang mau berkenalan dapat menghubungi nomor WatsApp (0812 4957 2614) atau Email hasanihamzah1@gmail.com



Ence Sumirat KERINDUAN T

 E

Ence Sumirat


KERINDUAN T


Bersama t kua jadi kuat

Bersama t

Bau berubah baut

Bersama t

Alo terus alot

Bersama t oto punya otot

Bersama t buru jadi burut

Bersama t

Barat terarah barat

Bersama t

Bobo lebih bobot

Bersama t

Bibi semakin bibit

Bersama t

Selama tetap selamat

Bersama t

Pena terasa penat

Bersama t

Ala berubah alat

Cianjur 1707021








Ence Sumirat


MISTER (I) T


Seperti pangeran di sebuah kerajaan puisi

Sabdanya sering dituruti

Layaknya perintah kitab suci

Karena ia mengaku punya banyak diksi yang cepat mempengaruhi hati

Dari belantara kata

Sepanjang usis semesta

Sementara kita

Hanya mengunyahnya

Dengan kepala beda-beda

Kota baru 1707021


Ence Sumirat


KESANGSIAN T

Jika t kebudayaan takutnya pembuayaan

Jika t mengajak takutnya mengejek

Jika t merangkul takutnya memukul

Jika t keramahan takutnya kemarahan

Jika t kesalehan takutnya kesalahan

Jika t keadaban takutnya kebiadaban

;jadi bagaimana ya agar t punya kepastian?

Cianjur 1707021






Ence Sumirat lahir di cianjur 29 November 1971. Belajar menulis puisi secara otodidak. Puisinyadimuat media cetak lokal dan nasional maupun media online. Puisinya terhimpun di antologi bersama.Antologi puisi tunggalnya “Berjalan Dalam Kenyerian akan Segera Terbit”. No wa : 085295317117.Email : emirgigih71@gmail.com. Kini menetap di Perum Kota baru blok c3 no 32 kec. Cilaku CianjurJabar 43285.


Botor Trilambang Tidak tahu aku; Bayu Nindyoko Pesan Untuk Demonstran; BUDI RIYOKO AL KUBRO TAFSIR MIM TERHADAP T; Bem Harianto TALANG TANDANG

 B

Botor Trilambang


Tidak tahu aku

Mengapa sang bayu mengamuk,meluluh lantakan semuanya

Tak peduli rumah pejabat,pondok bambu reyot semuanya disapunya

Tak peduli rumah bordil,rumah tempat orang sucipun disapunya

Tidak tahu aku

Mengapa  Sang Khalik diam membisu,tangan Nya tidak terulur mengangkat semua derita

Tidak tahu aku

Kemana harus pergi berlindung

Setiap jengkal tanah ini berbau amis,bangkai kematian,bencana dan sakit penyakit tak henti hentinya

Tidak tahu aku

Mengapa bencana dan sakit penyakit tidak kunjung berhenti,merajai dan memagut nyawa manusia

Sungguh aku tak tahu

Sungguh aku tak tahu

Sungguh aku tak tahu

Genangan air mata dan darah bercucuran,dan hati yang hancur mungkin jadi jawabnya

          Batu,12-7-2021 angin mengamuk di masa pandemi




Botor Trilambang


Sudah kujelahi tanah ini

Kuaduk aduk airnya

Kubuat lobang dalam terowongan

Ku taklukan puncak puncak gunungnya

Semua sia sia belaka

Bahkan kubawa orang pintar

Ku teguk kebijakanya

Semua sia sia belaka

Jiwaku kering,tak tersirami

Lesu tunduk ,lemah tak berdaya

Menyapu bersih keangkuhanku

Hanya dalam Tangan Nya ada pertolongan

Hanya dalam tangan Nya ada kekuatan

Hanya dalam Tangan Nya ada perlindungan

Hanya dalam Tangan Nya ada penghiburan

Hanya dalam Tangan Nya ada kesembuhan

Kuacungkan tanganku biar dipegang erat oleh Tangan kasihNya

Kupasrahkan kemana aku akan dituntun Nya

Ke negeri penuh pengharapan suka cita.

               Batu,13 Juli 2021











Bayu Nindyoko


Pesan Untuk Demonstran


Tak usah tergesa menangkap angin yang lalu lalang di pematang. Biarkan embun mengambil saripatinya kemudian diteteskan pada tempoyak kurcaci-kurcaci yang sekian windu mengukir mimpi.

Mari kita simak aksara demi aksara yang tertata rapi di altar pewartaan.

Jangan. Tak usah kau katakan aku ini asu atau babu, karena sebenarnya aku tahu tentang diriku.


Tak perlu terburu menirukan lagu dengan suara emasmu bila belum tahu untuk siapa lagu itu.

Mari kita belajar bersenandung sebelum berteriak melambung menghempas gunung. 

Aku tahu kau pandai berlagu. Suara burung suara monyet bahkan suara anu pun bisa kau tiru, tapi untuk apa bila itu terdengar hampa dan sirna tertindih irama kentut seorang bayi.


Tahan. Tahanlah diri sembari menata kerikil di antara benang kusut yang kau urai. Dan percayalah aku akan bentangkan benang dari ujung sampai ujung yang mampu kau saksikan.


Tenang saja akan tiba waktunya seorang bocah meruntuhkan langit dengan ketapel mainnya. Tanpa banyak kata. Tanpa banyak tanya.

Luka dirinya telah dimulai dari nenek moyangnya.

Pracimantoro, 060721





Bayu Nindyoko


Tahan Diri


Setiap kali aku menyerumu selalu kau tebar pelangi warna warni dan para serdadu mengelilingiku lengkap denga bongkahan-bongkahan mesiu.


Aku tahu maksud semua itu, agar menunggu tidurmu hingga tak bermimpi lagi.


Entahlah, sanggup tidaknya aku menahan diri.


Pracimantoro, 060721













BUDI RIYOKO AL KUBRO 


TAFSIR T TERHADAP MIM


Tuhan  Tidak Tidur  Tidak berguna hidup Tanpa Mim

Terus dekati-Nya Taaruf  Tirakat Tingkatkan sampai Makrifat hingga Tiadanya menyatu

Terhilang ego Terbilang Terbuang Terbit  Nur berarti hudan

Tetap Tatap  Terus Taubatan Nasuha Tubrukan Sujud Lisajidin  Terima bersama malakut

Terbilang wahyu dalam sastra Terdengarkah olehmu Teriakan pemberi ingat

Tiap kata ditulis diminta jawab

Tergantang  Terus Tergantung  Terkalah Terakhir Terimalah Sujud Lisajidin

Tan Hanna Dharma Tunggal Titipan . Tetap bestari Tinggi di Mim

Tinggal Tutuk gatuk dadi mumet. Teori yang grogi Tertib ditinggalkan

Terberkatilah Sujud Lisajidin

Tuhan tinggal di hati .Tidak perlu kau sibuk cari Tinggal rangkul beri damai mereka Tiada ayah bunda. Tablet Telpon HP jadi Tuhan baru Terlalu. Tak peduli Tak juga kenal orang di sisi

Tak jua Mim dimakrifati Tanggap Turunnya sasmita  Tetapi hati nun jauh di sana. Terdorong rindu pada Mim .Terluka Terkuat  Terkuak Terkunci Tentunya hati Terbuka memaafkan Terhadap Insan

Tuhan Terus menunggumu Tobatmu sebab Tuhanmu Tidak meninggalkanmu Tidak juga membencimu. Tuhan  Telah Tunjukan Tinta Man pada Mim  Termasuk padamu Teori Sujud Lisajidin

Terbakar  Tetapi Terawat Tanda Mim pada tanda sujutmu Tidak harus dahi menghitam

Takwa bukan Tawa Tetapi akhir  Takwa membuat Tertawa

Tetaplah kau Tinggal di Mim Tunggalnya sujud Lisajidin

Tercium kabar Terdengar berita Tabarukan  Teguh hati beristiqomah

Tiada tercerabut Mim dari hati

Tidakkah kau heran  Terhadap insan Tuhankan kefaaan

Tetap membatukah hatimu Tetap menulikan Telingamu

Tunggulah Tunggu Tinggal Terkunci mulut

Terbukti Mim menjadi saksi Terbuka berita dari kulitmu Tersedu seluruh anggota Tubuhmu Tertangkap Tangis Teringat  Tinggalkan Sujud Lisajidin

Banyuasin, 25 Juni 2021






























BUDI RIYOKO AL KUBRO 


TAFSIR MIM TERHADAP T


Tahukah kamu siapa pendusta agama?

Tahukah kamu siapa orang yang merugi?

Tahukah kamu siapa orang yang tidak berpikir?

Tahukah kamu siapa orang yang celaka?

Tahukah kamu siapa orang yang beruntung?

Tahukah kamu jalan yang benar?

Yang mendusta agama ya aku, yang merugi ya aku, yang tidak berpikir ya aku, yang celaka ya aku, lho kok Tahu?.

Tahulah kan aku Mas Iku si raja Tipu  yang jalannya selalu benar benar keliru

Tapi aku nasihatkan jangan Tiru nanti keluargamu jadi malu

Banyuasin 24 Juni 2021


Budi Riyoko Al Kubro . Pria berkacamata ini dipanggil  Kak Bodett, dilahirkan 41 Tahun lalu tepatnya 18 Agustus 1978 di Air Batu. Lajang sehari-harinya berprofesi guru di MA Darul Ulum Pulau Rimau Kabupaten Banyuasin. Kak Bodett senang nonton wayang kulit,  kuda lumping, kartun terutama film Toms and Jerry. . Email:budiriyoko.Whd@gmail.Com. FB: Budi Riyoko.   IG: budiwhd No Hp /WA :0821-7892-0445






Bem Harianto


TALANG TANDANG


Talang adalah rumah singgah penduduk musiman

Tempat berteduh kala panen itu datang

Tentang kebun dan pohon kopi

Tikar harapan terbentang lebar pada sebidang lahan


Tanah ini tanah warisan, di

timang pelihara bagai tubuh sendiri

Tumbuh asa petani kopi

Tepat bulan tiga, empat dan lima biji kopi berwarna merah


Tercipta cerita suka cita

Tentang gunung Dempo dan lerengnya

Tentang burung Kecici pulang dan pergi menyuapi anaknya pada ranting kopi


Talang dan kebun kopi

Tempat bertandang muara pengharapan kami

Tangis duka, suka bahagia

Tercermin tandus penghasilan tahun ini

Pagar Alam, 5 Juli 2021


 


 


 


 



Bem Harianto


VIRUS


Tegak

Tenggelam

Tumbang

Tindih


Tetes peluh

Tebal mengapak perih

Teruk tersungkur

Telah menuju kubur

Pagar Alam, 5 Juni 2021


Agoes Andika, Ask. TUKAD* TERLUPA

 A


Agoes Andika, Ask.


TUKAD* TERLUPA


Aku hanyalah pejalan salah arah

menguntit matahari di siang hari

hingga terlewat oleh keriuhan

tanpa traffic light jalan persimpangan

semua usai senyummu terhapus musim

dan aku tertinggal dari langkah yang lain


jalan itu jua mematri mataku

setiap kelokan pertama setelahnya

membangun rinduku pada wajahmu

terhempas atau masih tergenggam erat

dimana sekarang

akupun bertanya pada angin

yang terlewat kabar darimu


rumah tua, juli 2021.

* sungai (nama sebuah jalan)











Agoes Andika, Ask.


TEKA TEKI


Siapa mencipta hujan jika kemarau bermusim

langit tidaklah paham saat tercurah air

meredam debu debu berserakan


matahari tidaklah tahu mengeringkan

saatnya tiba  tanah dan jalanan tidak berair

semuanya terkendali olehnya

menjatuhkan dedaunan karma atas hidup

menjalani semua atas lukisan


siapa dan siapa lagi tempat bertanya

hidup ini penuhlah misteri

awal dan akhir juga ada dan tiada

ah

rumah tua, juli 2021.



Agoes Andika, Ask. Lahir di Br. Baleagung Singaraja Bali, 5 maret 1963, anak sulung dari tiga bersaudara. Menulis puisi sejak di bangku SLTP dan berlanjut saat menetap di Mataram tahun 1981, dibimbing oleh Putu Arya Tirtawirya dan Umbu Landu Paranggi. Tahun 1987 pernah diundang membaca puisi di TIM Jakarta bersama penyair tanah air lainnya. Sejak 2017 menetap di Singaraja Bali.







Ali Imron


TENTANG AKU DAN TUAK


Segelas tuak yang ku tenggak

Bukan untuk membuatku tegak

Sekedar lari dari rasa muak

Keadaan masih saja buatku penat


Jangan lekas marahTuhan

Ini minuman tak memabukkan

Apalagi menghilangkan iman 

Aku bukan hamba kacangan


Ijinkan aku untuk menikmati

Segelas tuak yang tak seberapa ini

Aku tidak akan mabuk terlebih dahulu

Tenang saja Tuhan, kau tetap di hati

(Pekalongan, 2 juli 2021)