TEKS SULUH


Tampilkan postingan dengan label syair puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label syair puisi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 November 2020

Bingkisan Puisi untuk Dudung Abdurachman

 Bingkisan Puisi untuk Dudung Abdurachman


Aku yang tak mengirim karangan bunga

Atau jabat tangan ungkapan hormat,

Dari orang yg mencintai damai

Dan bangga atas karya bangsa ini

Aku yang menanti pemadam

Atas ambisi dan mereka yang terjangkit virus kebencian

Kau datang tepat waktu

Disiplinnya prajurit kita

Yang melihat gejala pemecah belah bangsa

Dari mereka yg frustrasi akan rezeki dan tahta

Yang menginginkan singasana.

Dudung Abdurachman pemimpin perang dimasa tak ada perang

Kau senopati kebanggaan rakyat.

Aku bawakan bingkisan untukmu

Melalui angin dan hujan

Sebuah doa selamat untukmu jendral (rg bagus Warsono 24 November 2020)




.

Selasa, 20 September 2016

AKU BERSAMA KUPU-KUPUKU, Salimi Ahmad

AKU BERSAMA KUPU-KUPUKU
aku suka bermain dengan kupu-kupu
karena ia tak berbohong dengan dirinya
diberinya aku keindahan sayap
dan dibawanya aku terbang,
dari bunga ke bunga ia mengantar
terkadang kusinggahi juga rumput
sebagaimana cara ia hinggap
aku terbang bersama kupu-kupuku
yang tampak lemah dan sering lelah
yang tak perlu merasa harus jauh pergi
kecuali kepada taman-taman yang melindungi
ada suara hening kudengar seolah napas kami
dibuat tertahan akan pesona pagi yang
menghadiahkan keindahan ceria burung-burung, embun berkilau, semut berdendang, dan semua yang membangun kerinduan atas nama kesukacitaan
ada suara gemilang dari kepak sayapnya,
dan aku mendengar tak ada pikiran yang disembunyikan, semua wajar seperti kodrat alam berjalan, tak ada yang ditutupi meski hanya setitik warna dalam jelaga
aku terbang bersama kupu-kupuku
lewat kibasan sayapnya aku lintasi uap air yang halus sekali berkibaran
serupa garis-garis awan yang membentang di langit
seolah cahaya cerlang di mata anak berbinar gamit
kupu-kupuku kerap mengajakku terbang
dengan bahasa yang sangat mungkin tak kukenal
namun kumengerti hakekat ucapan
ia jujur, apa yang dipercayai sayap dan tubuh
di mataku akan sama dengan gelak cerianya.
20 September 2016

Jumat, 11 April 2014

Kekecewaan , Penyesalan dan Keyakinan Penyair Jiwa Kebhinnekaan dari antologi Lumbung Puisi 2014

Kekecewaan , Penyesalan dan Keyakinan Penyair Jiwa Kebhinnekaan

Ali Syamsudin Arsi seorang penyair asal Barabai, Kab. Hulu Sungai Tengah, Prov. Kalimantan Selatan seakan mebuka antologi ini dengan kekhawatiran terhadap negeri dengan terlulis lewat  “Daun-daun di jendela Perpustakaan geriis”  //… -ada libasan bayang-bayang ketika orang-orang berduyun di belakang berebut saling mencengkeram denga jari-jari tajam – kami hilang catatan – negeri ini semakin menuju arah ke curam-curam ketika tebing dengan setia menelentangkan tubuhnya atas keluh dan semua macam resahnya retak-retak embun sampai pecah-pecah cuaca,..// (Daun-daun di jendela Perpustakaan geriis) bahwa perlunya dokumentasi sejarah di masa sekarang (dibuat januari 2014) dan perlunya pengokohan fundamental anak bangsa yang tidak saja menipis tetapi juga mengkhawatirkan dan bahkan mebahayakan keselamatan bangsa.

Lalu Aloeth Pathi dari Sekarjalak-Pati meberikan pembuka jalan agar sedikit optimisme melalui rasa (Tanah Tumpah Darahku II: Daun Kami)
//…bangga apa yang telah diperbuat,
Biarkan yang rontok bercerita
Bahwa kami pernah bersatu menciptakan hijau
Meski kini kering tak memberi sejuk
Tapi pernah menggores catatan
pada batangmu yang mulai rapuh
benih-benih yang aku sebarkan
mulai tumbuh menjadi tunas-tunas
siap menerjang pilar-pilar yang menghadang
biarkan akar itu menjalar
di sisi ruas-ruas jalan….// Aloet Pathi meyakinkan Ada suatu optimisme walau dalam keadaan dan bahkan rintangan, seakan kelak berjalan dengan sendirinya, seakan ia berkata nanti juga aka nada penyelesaian.
apapun itu nama dan jenisnya selalu berserakan.

 CecepNurbani penyair muda berbakat dar Garut memotret negreri dalam pandangan mudanya yang seakan kecewa,  demikian  syairnya:
//…ditrotoar..,
kaki lima mengadu nasib dengan
memasang badan takut takut petugas datang
seperti maling mengintip tuan rumah
gadis cilik bersaudara bernyanyi sambil menghirup udara segar dari kaleng Lem
pengamen jalanan bernyanyi bermuram durjana sambil melihatkan  taringnya berharap uang kertas yang diterima
suungguh konyol dan menyedihkan  negeri ini….//
(Apapun itu Nama dan Jenisnya Selalu Berserakan)
Ada suatu yang menarik untuk disimak sebagai renungan dalam mengapresiasi buku ini seperti

Melihat Tanah Air sendiri dari pandangan setiap orang Indonesia adalah warna-warni. Suka dan tak suka, puja dan cerca, senang dan bosan, sanjung dan kritik. Penyair  Dwi Klik Santosa memotret Indonesia dala kepahitannya, seperti tertuang dalam “Berita Para Pemabuk”
“Akukah tak layak hidup.
//…Di bumiku yang kaya
janji-janji seperti nyanyian iblis.
Tak benar aku hendak dibawa ke sana.
Tapi lihat aku kini.
Melulu mengais-ngais sampah
di negeri sendiri.”//
Dwi Klik Santosa ingin mengajak untuk enengok kepahitan itu. Kepahitan  hidup adalah pengalaman kegetiran seseorang agar ditempa menjadi kuat dan tak terulang.

Lalu penyair eL Trip Umiuki menuliskannya dala sebuah syair yang sangat mendalam bahwa keadaan – keadaan Indonesia dengan berbagai problema seperti
“Sumur Tanpa Dasar”, demikian syairnya penutupnya:
//…sarjono namanya
sarjana sains, ekonomi, sekaligus psikologi
sayang pengalaman kerja takpunya
bersimpan bara di kepala minta kerja ia kepada tetangganya
mandor bangunan di kota
mengaduk pasir dan semen ternyata bukan kerja sederhana
dengan dendam membara
mencangkul dia mencangkul
menggali lubang di kebunnya
takpeduli darah berlumur terus mencangkul
menggali sumur
senin selasa rabu kamis jumat sabtu
tak ada minggu dan hari libur ia
terus mencangkul terus//.
Demikian kebhinnekaan menjadi warna-wani dari sudut pandang sastrawan kita. Seperti Fahmi Wahid mencoba mengingatkan akan Indonesia sesungguhnya sebagai negeri maritime negeri bahari yang pernah Berjaya. Lewat “Tangis Keberagaman”, ia menuturkan :
//…di hunjur kuningnya ladang
pada tebaran kicau kepodang
semasa hembus sejuk angin gunung
melipur musim yang kian gamang
petuah dan petitih enggan dimengerti
dan kebersamaan kini tak punya arti
sebab semua manusia tak lagi punya nurani
menyelamatkan kearifan budaya bahari
yang hampir tak terjamah lagi….//

Penyair Gampang Prawoto juga menulis bahwa merasakan semua itu adalah rasa dan aroma setiap manusia yang kadang tak mengerti hitam dan putihnya apa yang terjadsi. Seua adalah rasa katanya seperti dituturkan dalam syair :
 “Secangkir Rasa”
//…jangan hanya manis di pantai bibir
pahit di pusara hati
lidahku belum kelu
pemanis tak biasa tersuguh di meja rasa
walau tanpa gula
aroma kopimu aku baca tanpa mengeja
panas – hangatnya warna.//.

Di puisi Moh. Ghufron Cholid memberi kekuatan utuk meyakinkan pandangan-pandangan itu bahwa Indonesia itu meiliki kekuatan yang tak akan goyah walau dalam kegetiran papa pun. Seperti tertuang dalam :
 ‘Sebab Indonesia Adalah Kita”
//…tumbuh di tiap mata
mata hari
mata jiwa
mata doa
yang tak kenal purba
Indonesia takkan musnah dalam peta
jika kita tak mengamini ramalan-ramalan asing
yang menanam benih-benih asing
dalam jiwa kerontang….//.

Senada dengan Moh. Ghufron Cholid, penyair Rezqie Muhammad AlFajar Atmanegara mengajak utuk saling menjaga keistimewaan Indonesia itu.
“Bhinneka Tunggal Ika adalah Aku”
//…di mana lagi kami tanam bulir harapan
bila seluruh kehijauan hutan bunda
telah habis digeser bangunan-bangunan
berbaju kawat, baja, semen dan beton
ke mana jua kami layarkan perahu kebersamaan
sebab semua kolam susu pertiwi
keruh sampah payau berbisa
bagaimana kami menegakkan tugu pertahanan
karena kini tiap jengkal tanah terbongkar
di keteragisan reruntuhan negeri inilah
mari, kita bergenggam dan saling gandeng bersama
mempertahankan hakikat dan keutuhan bangsa…//.


Roni Nugraha Syafroni dalam “Semboyan” di bait terakhir syairnya seakan mengambil keputusan tentang slogan kebangsaan kita agar menjadi semboyan yang tidak saja sebagai slogan tetapi dihayati, seperti dalam syair ini:
//…Semboyan ini tampak tak berguna dan usang,
tapi ada secercah keyakinan tak akan dibuang.
Terus dihayati diamalkan hingga usia petang,
agar berguna teruntuk generasi mendatang.//.

Ada sebab-sebab pemberian keputusan itu tentu dari pengalaman dan sejarah bangsa. Seakan tak terima juga jika bangsa ini mengalami keretakan dari rantai kebhinnekaan itu. Soekoso DM  menulisnya dalam syair “Sajak Trenyuh Kala Sayap Garuda Nyaris Runtuh”, demikianj bunyi cuplikannya:
//…biarkan beda adat jadi rahmat beda budaya jadi taman bunga                                                                                     sebab Tuhanlah yang telah menanam benihbenihnya
Orangorang bertegursapa                                                                                                                        saling menjabat saling cinta
(Di ruangruang kelas dan di tanah lapang anakanak bernyanyi                                                                                      lagu Satu Nusa Satu Bangsa dan Bagimu Negeri).//

Pujian pun diberikan penyair Syarif hidayatullah lewat
“Rangkaian ikatan huruf, Indonesiaku” seperti dalam cuplikan ini://…Alif yang tegak mampu jadi hutan esok hariNun tanpa titik menjadi danau yang melegenda. Baa nan mungil tempat transportasi membelah sungai negeriku. Gunung-gunung memperindah goresan Tuhan dalam ikatan satu Ika….//

Bahkan Wadie Maharief  meyakinkan akan kecintaan terhadap bangsa ini, Ia tuliskan lewat syair “Lima Ekor Merpati Menembus Mendung” demikian bunyi cuplikannya dalam bait terakhir :
//…Lima ekor merpati melesat
Lubang ozon mencairkan es di kutub
Tujuh lapis langit terluka
Lima ekor merpati kehilangan sayap
Jatuh di pulau-pulau terbakar
Api cintamu yang berkobar.//

Masih banyak puisi lain yang menarik dan enak dibaca dalam buku ini seperti karya-karya dari : Ridwan Ch. Madris, Sokanindya Pratiwi Wening, Sus S. Hardjono, Abdul Wahid, Andrian Eka Saputra, Dimas Indiana Senja, Eddie MNS Soemanto , Fasha Imani Febrianty, Iwan Kuswandi, Julia Hartini, Mohamad Amrin, Muhammad Hafeedz Amar Riskha, Nieranita, Novy Noorhayati Syahfida, Puji Astuti.

Akhirnya Wardjito Soeharso mengajak kita seua untuk merenungkan seperti judul puisinya “Ngudarasa” //Sadalan dalan
Anane mung gronjalan
Mergo akeh kedokan
Salurung lurung
Anane mung bingung
Mergo adoh gurung
Yen dalan wis kebak kedokan
Lurung wis akeh sing suwung
Gurung wis pedot sakdurunge diulur…// bahwa banyak tanda-tanda zaman ini untuk dapat tidak saja untuk direnungkan tetapi juga untuk disikapi generasi uda sekarang.
//…Tan ana asile kang mapan
Mula ta tansah elinga
Bebrayan iku tansah sangga sinangga
Abot enteng nora rinasa
Arepa awan panase sumelet
Bengine peteng ndedet lelimengan
Kabeh lumaku kanti rahayu.//.

Demikian jika sastrawan mengungkapkan apa yang dirasakan pancainderanya memberikan suguhan rasa tersendiri, semoga dapat memberikan penyejuk dan apresiasi mendalam terhadap buku ini.

                                                     Rg Bagus Warsono
Kurator sastra di HMGM














Senin, 31 Maret 2014

Puisi Karya Esther GNT

Mengenang 9 tahun bencana gempa Nias, 28 Maret 2005, saya membuka puisi lama yang saya tulis pasca bencana. Ini adalah kisah sejati seorang bapak yang selamat walau tertanam berhari-hari di reruntuhan bangunan bersama putrinya dalam posisi terpisahkan kayu dan batu. Sang bapak selamat dapat ditolong setelah sekian hari, namun sang putri berpulang didalam reruntuhan. Bukan hendak mengusik ketenanganmu dipangkuan Bapa di sorga, putri kecil. Sekedar mengingat peristiwa alam atas izin Sang Khalik, pencipta alam semesta. Terima kasih bila kita senantiasa menghargai tanah, air, dan alam lingkungan kita, terlebih hidup dan kehidupan kita yang mahal nilainya.
KISAH PILU DIRERUNTUHAN _
Hatiku remuk di reruntuhan
Tanpa ada yang mampu menyentuh
Bersama tertanam di gemuruh
Terjepit kayu dan bebatuan
“Pegang tanganku”, rintih kudengar
“Papa, haus”, hatiku menangis
Hari ketiga nafasnya habis
Tanpa doa dan peluk menghantar
Selamat jalan buah hatiku
Ampuni tak mampu memelukmu
Ah, bila ini waktu berpulang
Haruskah kejam, perih dijelang?
Bagaimana kan jalani hidup?
Hatiku hilang, hariku redup
(Esther GNT, Puisi Sonetaria, Nias, Mei 2005)

Sabtu, 22 Juni 2013

Syair Lagu Karya Gesang Sebelum Aku Mati ,

"sekali ku hidup sekali ku mati
aku dibesarkan di bumi pertiwi
akan ku tinggalkan warisan abadi
semasa hidupku sebelum aku mati
lambayan tanganku ku panggilan abadi
semasa hidupku sebelum aku mati"
....
Dia (Gesang) memberikan contoh pada kita sebagaimana si Bung mengatakan : "Jangan kau tanyakan apa yang diperoleh dari negaramu tetapi tanyakan apa yang kau berikan pada negaramu!"