TEKS SULUH


Tampilkan postingan dengan label esai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label esai. Tampilkan semua postingan

Jumat, 03 Januari 2020

Yuk ikut Antologi Bersama Gila : "Wong Kenthir"



Tahun demi tahun penyair Indonesia telah menyuarakan pesan lewat puisi demikian banyaknya yang disampaikannya bahkan dengan dibacakannya puisi itu. Pembacaan puisi tidak saja di depan Wakil Rakyat, pejabat atau generasi muda tetapi juga pada alam ini. Bagi seorang penyair karya yang ditulisnya dibaca atau didengar apa tidak bukan menjadi masalah yang penting penyaluran hasrat seni ini tetap tersalurkan.

Isi puisi atau pesan kadang menjemukan bahkan kadang monoton, tetapi dalam puisi gila ini mereka memberikan yang terbaik yang enak dibaca dan yang memiliki nilai 'greget dalam puisi. Yang tentu saja memenuhi selera pembaca pada saat ini (2020).

Wong Kenthir (:Kendi) = gila bukan Kentir (:Ken Dedes ) = hanyut antologi yang memuncak penyair Indonesia modern dalam pencarian pembelaan jati dirinya yang menyuarakan pesan-pesan lewat puisi sebelumnya yang belum menemukan titik sampai pada apa yang dikehendaki penyairnya. Sebuah pesan bahwa penyair memiliki caranya tersendiri dalam menyuarakan pesan untuk negerinya hanya lewat puisi. Kebebasan berkreativitas yang dimiliki sebagai hak mutlak seorang seniman agaknya digunakan sebagai cara yang paling sah dan paling terhormat bagi seorang penyair. Kemerdekaannya berpendapat hanya dapat disampaikannya dalam seni dalam puisi puisi yang kita sebut sebagai puisi gila dalam kegilaan penyair Indonesia dalam berkarya nyata.

Makna gila itu sendiri kini semakin absur, semakin kurang jelas. Dalam keseharian orang lebih baik disebut gila ketimbang disebut stres, Bahkan pujian pada seseorang kadang dilontarkan dengan menyenut kata gila!

Juga kini marak istilah gila yang positif seperti "gila kerja", "gila membaca", " gila meneliti", "gila seni" dan gila-gila yang lain yang menyatakan positif dalam kehidupan ini.

Perubahan pengertian gila ini tentu tidak akan merubah penyertian harfiah dalam KBBI sebab nanti membuat bahasa semakin kacau.

Sebutan "penyair gila" agaknya kini justru disukai oleh para penyair yang katanya memiliki arti kegilaan pada apa yang dikerjakan seorang penyair. Belum gila kalau belum memiliki antologi yang menandakan bahwa ia telah sungguh-sungguh menjadi seorang penyair yang memiliki karya.

Namun tentu kita berharap bahwa kegilaan dalam antologi ini adalah gila dalam arti dasyat ! Ya puisi yang dasyat. Apakah memang demikian puisi-puisi dalam antologi gila ini dasyat, mari kita simak puisi-puisi dalam antologi ini satu per-satu.



Senin, 15 Agustus 2016

Penumbuhan Sikap Anti Korupsi Pada Perilaku Korupsi yang Disorot Masyarakat Melalui Puisi Menolak Korupsi Oleh : Rg Bagus Warsono



   Penyair sebagai bagian dari anggota  masyarakat  turut  merasakan dampak yang ditimbulkan dari perbuatan korupsi yang merugikan rakyat. Semakin buruknya korupsi yang terjadi di Indonesia dikhawatirkan membahayakan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta ini.

   Pelajaran telah dipetik beberapa negara di dunia, bahkan negara besar, hancur begitu saja akibat perbuatan korupsi yang dilakukan oleh bangsa itu sendiri. Berangkat dari itulah penyair tergerak hatinya untuk ambil bagian memberikan upaya pencegahan korupsi agar tidak semakin luas dan menjadi budaya yang membahayakan. Melalui bidangnya sendiri dalam sastra yang digelutinya penyair memberikan sumbangsih untuk negeri ini berupa Puisi Menolak Korupsi (PMK).

   Lewat kesertaan para penyair dari berbagai kabupaten/kota dalam buku sekumpulan Puisi Anti Korupsi adalah bukti keterlibatan masyarakat dalam kepedulian menolak korupsi di Indonesia.

   Gerakan masyarakat itu terdengar dari pelosok Tanah Air melalui berbagai pemberitaan dengan aneka kegiatannya dari mulai peluncuran buku, bedah buku, lomba sampai roadshow PMK yang terakhir. Berbagai pemberitaan yang selalu hangat dibicarakan dikarenakan ada sesuatu yang aneh dirasa bangsa ini. Mengapa? Jawabnya adalah karena datang dari hati penyair. Mengapa bukan dari pemerintah atau penegak hukum. Inilah keistimewaan puisi para penyair PMK.

   Tidak hanya berhenti sampai menulis dan dibukukan saja tetapi penyair PMK telah mampu berbuat untuk mengadakan roadshow puisi menolak korupsi di sejumlah kota di nusantara ini. Dengung kegiatan roadshow menggema dimana-mana (kini telah 38 kali dilaksanakan di berbagai kota di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi , Madura sampai Kepelauan Riau)  dan mampu mengajak masyarakat di kota-kota yang disinggahi roadshow PMK untuk mengajak bersama memiliki jiwa anti korupsi. Terbukti pada setiap penyelenggaraan roadshow PMK selalu dibanjiri penonton dan menyita perhatian masyarakat di kota itu.  Kehadiran warga masyarakat di roadshow yang diselenggarakan di kota-kota yang tersebar di wilayah Indonesia ini  adalah bukti bahwa bangsa ini masih memiliki hati mencintai Tanah Airnya.   

   Di tempat lain puisi PMK juga dibedah di perguruan tinggi, di sekolah menengah sebagai pembelajaran sastra yang memiliki muatan pesan yang sangat berarti bagi masyarakat. Dan oleh komunitas profesional seperti dosen, guru, praktisi hukum juga turut memberi apresiasi positif akan buku Puisi Menolak Korupsi ini.

   Sesuatu yang tidak disangka puisi dapat menyatukan pandang kepada segenap penyair dari Sabang sampai Merauke. Sebuah bukti bahwa puisi itu menyimpan sesuatu yang dasyat. Ia mampu berbicara mengajak, berbuat dan mampu mempertemukan pandangan pemikiran. Bahkan puisi mampu mengumpulkan pandangan pandangan itu dalam satu kesatuan yang diikat dalam sebuah buku. Dan bukunya  mampu mengikat penulisnya dari seluruh Tanah Air. Seperti penyelenggaraan Rundown Konferensi Nasional ,Refleksi dan Evaluasi Gerakan Puisi Menolak Korupsi seperti sekarang ini.

Tak Sekadar Simbolis Keinginan Rakyat
   Dari contoh-contoh diatas gerakan PMK bukanlah sekadar simbolis rakyat yang disampaikan oleh penyair pengisi antologi PMK tetapi merupakan perwujudan nyata bahwa rakyat Indonesia telah jenuh atas perilaku korupsi yang dilakukan justru oleh bangsa sendiri. Dari berbagai sambutan roadshow PMK di berbagai daerah tampak jelas bahwa Gerakan PMK telah menjadi milik rakyat Indonesia.
Keterlibatan berbagai unsur atas gerakan PMK seperti dari kalangan pendidikan, pesantren, ulama,  profesional, aparat penegak hukum hingga kalangan militer memberikan gambaran pengakuan bahwa PMK merupakan gerakan yang telah menjadi Gerakan Anti Korupsi rakyat Indonesia.

Pendidikan Karakter Bangsa
   Puisi sebagai bacaan sastra juga sangat memberi arti bagi pendidikan karakter bangsa dimana saat ini ada kecenderungan miskinnya karakter bangsa dewasa ini. Hal demkian ketika perkembangan budaya serta masuknya pengaruh global  sangat terasa, seperti pemujaan terhadap produk luar negeri, sikap acuh terhadap keutuhan NKRI, serta sikap masa bodoh rakyat atas kebijakan pemerintah.

   Karakter bangsa bertambah buruk ketika jual beli suara dalam pemilihan Kepala Daerah seperti dihalakan.  Penyaluran pendapat dengan sendirinya dibatasi oleh siapa yang mampu membayar suara, dan ini terlihat pada saat pemilihan kepala daerah yang dipilih secara langsung. Bukti lainnya setelah terjadi pemilihan banyak menimba protes dan kritik atas jalannya pemilihan langsung kepala daerah yang berujung kasus terjadi dimana-mana.

   Melalui PMK dengan keterlibatan berbagai penyair dari seluruh tanah air jelas memberikan rasa persatuan dan kesatuan melalui etikad yang sama yakni menolak korupsi dimana-mana secara nasional. Sebuah kesamaan pandang luar biasa hebatnya yang ditarik dari jiwa penyair yang bersih, mengingat penyair-penyair tersebut berada tersebar di berbagai pelosok desa dan kota di nusantara ini.

   PMK juga memberi dampak nasional pendidikan budi pekerti dalam rangka penumbuhan budi pekerti sejak usia dini dan pelajar . Sentuhan puisi anti korupsi yang disampaikan oleh penyair yang  memberikan sentuhan budi pekerti terhadap  anak usia dini, pelajar merupakan penanaman sikap agar generasi selanjutnya tertanam jiwa anti korupsi. Sambutan peserta penulis puisi dari kalangan pelajar se Indonesia yang dibukukan  dalam puisi pelajar menolak korupsi adalah betapa generasi ini tidak menginginkan korupsi terjadi di negeri ini.

Gema Nasional Gerakan Anti Korupsi
   Gema anti korupsi yang justru datangnya dari rakyat ini dan dipopulairkan oleh pelaku sastra itu sendiri sangat membantu menekan angka korupsi di Indonesia.       Sangat mustahil apa bila penyair yang kebanyakan berada diluar pemerintahan itu melakukan korupsi. Oleh karena itu semakin banyak yang terlibat dalam gerakan PMK ini maka gerakan anti korupsi pun semakin luas. Mereka yang bukan penulis PMK dan mau  terlibat dalam PMK pasti akan terlibat pula dalam Gerakan Anti Korupsi. Dan besar kemungkinan adalah pribadi pribadi yang memiliki sesamaan tujuan yakni menyuarakan Gerakan Anti Korupsi di masyarakat. Bahkan ada pula yang memberikan contoh sebagai pemimpin atau warga masyarakat yang bertingkah laku anti korupsi dalam kehidupan sehari-hari. Semakin banyak warga masyarakat  terlibat dalam gerakan PMK maka jelas semakin banyak rakyat Indonesia yang anti korupsi. Bahkan pernah dalam roadshow PMK, bertempat di Lembaga Pemasyarakatan Wirogunan Jogyakarta, terdapat warga binaan lapas yang turut membacakan puisi, ini berarti PMK telah menyentuh sampai pada pelaku korupsi, sebab mungkin diantara warga binaan itu terdapat ex pelaku korupsi.

   PMK ternyata memberikan dapak positif di masyarakat. Peran keterlibatan masyarakat melalui rekrutmen puisi PMK sedikitnya telah memberi ajakan kepada warga masyarakat dan disambut masyarakan dengan nyata menyuarakan anti korupsi melalui puisi. Seperti keterlibatan pelajar dalam menulis PMK (ada 286 pelajar se Indonesia) adalah penanaman karakteristik bangsa dan penumbuhan budi pekerti sebagai pribadi yang memiliki jiwa anti korupsi. Selanjutnyan  keterlibatan masyarakat dalam penyelenggaraan roadshow di sejumlah daerah di Indonesia baik sebagai coordinator , pemprakarsa kegiatan roadshow, atau partisipan serta mereka yang turut melihat dan menyaksikan jalannya roadshow sudah merupakan kepedulian masyarakat yang dipastikan memiliki hati yang sama yaitu anti korupsi.

   Dampak negative pun tak terhindarkan ketika puisi baik dibacakan melalui roadshow maupun disampaikan dalam buku tak menjadi sentuhan hati pada warga masyarakat yang terbiasa melakukan tindak korupsi. Mereka mengangap PMK sebagai hiburan semata, sebuah tontonan atau bacaan hiburan. Pesan-pesan yang disampaikan oleh puisi tak menyentuh hatinya yang telah tebal oleh kebohongan dan kebohongan. Ibarat ‘anjing mengonggong khalifah berlalu mereka malah menjadi-jadi melakukan korupsi dan berulang-ulang. Bahkan ada yang hantinya tak bisa membedakan mana ini yang disebut korupsi dan mana yang halal semua menjadi satu karena telah menjadi abu-abu . Apresiasi membaca PMK yang demikian itu perlu mendapat sentuhan lebih mendalam sehingga indicator yang diharapakan dapat tepat sasaran.

    Bahayanya manakala tindak korupsi menjadi pada tingkat yang dianggap wajar dan dimaklumi oleh masyarakat. Seperti suap ketika sesorang masuk sekolah , masuk perguruan tinggi, masuk kerja atau ketika pemborong  mendapatkan tender proyek. Suap semacam ini seperti hal biasa terjadi dan dianggap lumrah. Bahkan system ‘lelang jabatan diartikan lain yakni membeli jabatan pada penentu kebijakan, ini sudah luar biasa buruknya tetapi jarang disentuh ranah hukum.

   Korupsi ‘kecil-kecilan atau berjumlah besar dalam nominal rupiah sama saja adalah korupsi. Jumlah nominal rupiah yang dikorupsi memiliki relative pandangan masyarakat. Jumlah kecil bagi orang tertentu belum tentu dianggap kecil bagi masyarakat kecil yang dirugikan. Disinilah letak peran PMK untuk mendapatkan apresiasi dari perilaku korup yang dianggap wajar itu .

   Sorotan masyarakat pada tindak korupsi yang banyak dilakukan di lembaga-lembaga tertentu merupakan sasaran PMK dalam rangka membantu masyarakat yang dirugikan. Dengan ‘membaca PMK diharapkan memunculkan apresiasi positif yang diharapkan kita semua.

Harapan dan Strategi Masa Datang
   Begitu banyak masyarakat bersedia memfasilitasi kegiatan roadshow PMK di daerah. Dukungan ini tidak saja dari warga masyarakat perorangan yang peduli akan nasib bangsa ini tetapi banyak juga dari pejabat di daerah yang dengan sukarela membantu terlaksananya sebuah kegiatan dalam rangka gerakan anti korupsi melalui sastra yakni puisi.

   PMK juga diharapkan mendapat kepedulian dari berbagai stake holder pada keinginan anti korupsi di Indonesia ini. Lebih banyak terselenggaranya roadshow di berbagai daerah atas dukungan dan partisipasi masyarakat yang menginginkan kehidupan di Indonesia itu bersih dari korupsi.

Manfaat
   Sebuah gerakan memiliki tujuannya tersendiri bahwa ada sesuatu faedah yang dapat dipetik dari gerakan PMK ini. Beberapa manfaat dari gerakan PMK ini adalah:

-Pertama, puisi sebagai bagian kesusastraan Indonesia telah memiliki makna pengembangan sastra, pembelajaran, serta nilai apresiatif yang mampu menggerakan jiwa bangsa.

-Kedua, keterlibatan penyair dari berbagai daerah dengan warna budaya di tempat tinggal mereka yang berbeda-beda telah dapat disatukan pandang menjadi ‘corong pemersatu bangsa dalam rangka turut berpartisipasi dalam pencegahan perilaku korupsi dengan cara-cara lebih halus tetapi mengena sasaran.

-Ketiga, dengung kegiatan dari mulai penulisan, pembacaan, kegiatan ilmiah seperti bedah buku atau kritik sastra, dan roadshow PMK besar dan kecilnya memiliki pengaruh pencegahan perilaku korupsi di Indonesia.

-Keempat, bahwa bentuk partisipasi masyarakat dalam gerakan menolak korupsi telah memberi keuntungan terhadap negara Republik Indonesia lebih evisien dalam mengkampanyekan anti korupsi (bandingkan dengan negara lain yang menyisihkan untuk biaya kampanye anti korupsi pada setiap program pembangunan setiap tahunnya ).  Penyelenggaraan negara yang bersih dan berwibawa adalah amanat UUD 1945.

-Kelima, melalui antologi PMK di sekolah dan perguruan tinggi berarti penyair
telah turut berpartisipasi dalam gerakan literasi sekolah. Dimana perlu keterlibatan public (termasuk penyair/sastrawan) dalam peningkatan literasi di sekolah dan perguruan tinggi. Pada saat iniuji literasi membaca menunjukkan, kompetensi peserta didik Indonesia tergolong rendah. Dalam PIRLS 2011, Indonesia menduduki peringkat ke-45 dari 48 negara. Sementara itu, untuk uji literasi membaca dalam PISA2012, peserta didik Indonesia berada di peringkat ke-64 dari 65 negara.

Kesimpulan
  Gerakan PMK yang telah berjalan sejak tahun 2013 dan telah  mendapat apresiasi masyarakat sudah selayaknya dipertahankan dan menjadi gerakan masyarakat (Gema) Nasional melalui puisi sebagai sarana interaksi dan komunikasi dalam rangka menolak berbagai tindak korupsi apa pun jenis dan macamnya dalam perjalanan bangsa ini.

   Gema Nasional PMK selanjutnya sebagai konsekwensi mempertahankan gerakan ini maka harus memiliki penekanan-penekanan pada indicator sasaran gerakan ini. Jika pada kesempatan lalu dalam buku PKM jilid 1, jilid 2 dan Jilid 3 lebih mengetengahkan sasaran umum dan memberi warna aneka peristiwa korupsi dan kritik serta sindirnya melalui puisi yang beragam maka sudah saatnya gerakan PMK memberi focus sasaran yang urgen untuk membantu masyarakat dalam pencegahan korupsi.

   Fokus sasaran selanjutnya penyelengaraan antologi dengan tema puisi yang terfokus. Sasaran apresiasi yang terfokus serta keterlibatan kalangan penyair tidak hanya pelajar tetapi juga mahasiswa dan masyarakat umum.

Saran
   Untuk terwujudnya  apa yang kita cita-citakan bersama sangat perlu mendapat berbagai dukungan dan keterlibatan Pemerintah dalam hal ini Presiden dan DPR/DPRD serta esekutif di daerah. Juga dukungan dari mereka yang memiliki relevansi pencegahan korupsi dari aparat penegak hukum dan lembaga swadaya masyarakat. Serta tokoh masyarakat dan seluruh rakyat Indonesia yang memiliki kemampuan berpartisipasi secara materi maupun mental terhadap gerakan Puisi Menolak Korupsi.

   Sedang bagi pelaku sastra (penyair/penulis) pengisi Buku Sekumpulan Puisi Menolak Korupsi diharapkan untuk terus berkiprah dalam rangka memelihara gerakan anti korupsi melalui puisi dengan berbagai aktifitas yang sekecil apa pun dapat dilakukan.
(penulis seorang penyair tinggal di Indramayu, 25 Juli 2015)

Description: C:\Users\User\Pictures\pictur penyair\Rg Bagus Warsono.jpg
Rg Bagus Warsono (Agus warsono) Lahir di Tegal , 29 Agustus 1965, pengasuh sanggar sastra Meronte Jaring dan coordinator Himpunan Masyarakat Gemar Membaca di Indramayu. Tinggal di Jl. Alamanda Merah No. 6 Perumahan Citra Dharma Ayu Kelurahan Margadadi Kecamatan Indramayu, Kabupaten Indramayu-45211 HP : 082126776000

Minggu, 07 Februari 2016

Cinta, kecintaan, keturunan, kekaguman dan juga keagungan Allah maha Pencipta, sebuah esai Antologi AURA karya Dharmadi D


oleh : Rg Bagus Warsono
1)
SEGAN rasanya memberi kritik/esai antologi Mas Dharmadi DP, yang berjudul AURA apalagi telah diesai-i oleh sastrawan kenamaan Sides Sudyarto Penyair DS yang berjudul Sukma dalam Bahasa Penyair Dharmadi DP. Kita berada dalam bayang raga tanpa jiwa, dalam kondisi nol sebagai mahluk. Ainun Nadjib bilang urutan manusia itu , mahluk baru manusia kemudian muslim. Untuk tidak mau dikatakan sebagai muslim sebelum menjadi mahluk manusia yang mengakui ciptaannya.
Kita berada dalam keambang sadar ketika memulai membuka puisi 'kenabian (ungkapan terlalu tinggi) jika mau mengatakannya. Sebab ditiap lembar Aura antologi itu berkisah hidup, mati, dan hakekat kehidupan ini. Betapa orang tua kita mengatakan di dunia ini hanya 'andon ngombe atau mampir sebetar hanya untuk minum. Dharmadi DP pun memulai dengan "di kuburan" : //....//ruh siapa yang nyasar dikuburan ,/ tempurungnya tersampar//...// .
Tidak tidak, tidak kita tak akan membedah Aura Anda (Dharmadi), namun lembar berikut menggoda, seperti "ingin kulukis di sela kembar payudaramu". Kataku juga apa? ia bermain asmara. Namun Ia tidak bercinta dengan "penari topeng" dan bukan pula "mencari kosong" atau tak menentu "kembali pulang merapat bayang" tetapi sungguh menyimpan Aura. Sebagai aura yang memutih, memutih dalam api diri. Demikian Dharmadi DP selintas memberikan perumpamaan manusia hidup dalam jiwa rasa dunia. Ia menulis rasa , cinta, kecintaan, keturunan, kekaguman dan juga keagungan Allah maha Pencipta.

Sabtu, 19 Desember 2015

Dari Patpat Gulipat sampai Dagelan oleh Rg Bagus Warsono

   Menyorti puisi Sekarepmu bukan hal yang biasa seperti pada puisi-puisi dengan tema lain. Sakarepmu dalam antologi ini memiliki keragaman isi karena ‘sekarepnya itu. Beberapa puisi tampak menggoda karena ada beberapa puisi yang  diangkat dari tema yang lagi hangat di tahun 2015 tetapi ada beberapa puisi yang memiliki kekuatan yang tidak saja hangat pada tahun ini tetapi selalu ‘panas sepanjang masa. Kepiawaian penyair Sakarepmu akan ditemukan pada penyair-penyair yang tak asing bagi pecinta sastra khususnya puisi.

   Ada beberapa puisi yang sanggup mencegah  utuk tidak  berhenti mengapresiasi dalam buku ini, tetapi yang mengupas puisi akan terpana bila menemukan syair yang menawan dipandang. Puisi Sakarepmu telah memberikan warna tersendiri dalam belantara sastra Indonesia terkini. Mari kita buktikan keistimewaan itu dengan apresiasi ‘sakarepmu.

   Penyair  Aan Jasudra, Agustav Triono, Ali Syamsudin Arsi, Aloeth Pathi, Anggi Putri menyuguhkan beragam tema menarik, sedangkan penyair Anggoro Suprapto, Arif Khilwa dan Ary Sastra tampak memberikan warna penghangat puisi yang membuka buku ini semakin menarik. Anggoro Suprapto dalam puisi Pahlawan Gembus (1) dan (2)//............/Sampai akhirnya datang seorang rahib buta/Negerimu belum merdeka, katanya/Rakyat jatuh dari mulut singa masuk ke mulut buaya/Jika dulu dijajah orang-orang asing/Sekarang dijajah bangsa sendiri/...//. Pahlawan Gembus  (2)//..../Angin pun bertiup pelan/Udara mengabarkan/Di negeri ini atas nama rakyat/Muncullah para pahlawan/Mengaku membela kebenaran/Mengaku membela nusa bangsa/Tapi sesungguhnya mereka cidra/Hanya pahlawan gembus/Bicaranya nggedebus/Perilakunya ubas-ubus/Mlekethus//. Arif Khilwa  penyair kelahiran Pathi pada puisi Senayan Beronani//.../Biarkan kelaminmu dikebiri/Air mani akan terus mengalir/Rahim bumi akan mengandung/Lahirkan generasi baru/Yang mampu teruskan Aumanmu/Sebelum mereka ditikam berita.//Ary Sastra penyair Padang dalam Negeri Patpatgulipat//.../di negeri patpatgulipat/banyak yang mengaku bermartabat/pura pura pegang amanat/eh tak tahunya penjahat/.../di negeri patpatgulipat/semuanya mengaku atas nama rakyat/
bergaya seperti ustad/uang rakyatpun disikat/...//.

   Pada puisi-puisi Buana K.S, Budhi Setyawan tidak kalah menariknya, sedang Dasuki Kosim dengan  Ada Google Traslate di Gedung DPR memberi warna Sakarepmu kehangatan itu. Mari kita lihat puisi Dasuki Kosim : Ada Google Traslate di Gedung DPR//Merubah bahasa rakyat /pengamat politik atau pakar universitas/Oleh corong mikrofun/Dimeja dewan , sehingga A jadi B dan kemudian A lagi lalu C/Google Traslate di Gedung DPR bicara sendiri/Lalu diamieni/...// dan perempuan penyair Denis Hilmawati  juga bertutur tentang Perjalanan Panjang-nya.

   Diah Natalia, Eddie MNS Soemanto,  Eri  Syofratmin dan Fernanda Rochman Ardhana serta  Fitrah Anugerah memberikan judul-judul puisi yang menarik lagi.Berikut beberapa cuplikannya : Diah Natalia perempuan penyair  kelahiran Jakarta pada puisi Sederhana//....../Kepada pezina bangsa,/Haruskah lebih banyak darah yang mengalir agar kita tahu betapa merahnya bendera kita?/Haruskah lebih banyak kain kafan, agar kita tahu betapa putih bendera kita?/Sederhana saja,/Jagalah impian kemerdekaan/Jadikan bangsa ini mumpuni/Damai dalam ahlak kesantunan/
Sejahtera dalam kemandirian//.Eddie MNS Soemanto pada puisi berjudul Sakarepmu penyair kelahiran Padang ini mengungkap bagaimana kemunafikan manusia , berikut cuplikannya://......./maka teruslah kamu bicara/teruskan puja-pujimu kepada pekerjaanmu/kepada pimpinanmu/ sementara puja-pujimu kepada Tuhan/
hanya mungkin, diletakkan sebagai pemanis/ karena itu semua gak ngaruh/
dengan sikap dan omonganmu/...// Eri  Syofratmin penyair dari Muara Bungo pada puisi Ulat Bulu :puisi pendek yang sarat makna//Meraba satu/satu kena/kena semua/miyang/di garuk satu/satu kena/kena semua/gatal/dasar ulat bulu/menyebar di helai-helai/kebencian dan kedengkian//.Fernanda Rochman Ardhana kelahiran Jember pada puisi Sajak Penutup, berikut cuplikanya//../dari semok pantatmu kami kian mencumbui tanya://.........../“Inikah pemuas birahi yang Tuhan sajikan dari surga-Nya?”/hanya saja kami tak dapat nikmati, dari balik tudung/rambutmu berbiak di puncak alam pikir/lurus ataukah berkelok, hingga mampu mengumbar amal/bagi kami, lelaki penuh makrifat//.

Fitrah Anugerah penyair kelahiran Surabaya menulis Pada Celana Dalamku//..../Aku meluapkan kidung kegembiraan./ Aku menjerit pada ombak ganas.Tenggelam aku pada palung terdalam. /Agar ikan-ikan menemui tubuhku/Kau tahu akan kembali padamu pagi nanti di pinggir dermaga/Kau akan melihat ikan-ikan kecil terkumpul dalam celana dalam/Dari tubuhku kaku tak bernama//.Penyair  Fitriyanti , Gampang Prawoto, Gunta Wirawan menambah semaraknya Sakarepmu, berikut cuplikannya: Kesunyian  (Fitriyanti)//...../Walau hari-hariku tetap sendiri/Nan jauh dari ramainya perkotaan /Yang entah sampai kapan kan berakhir/ Tapi ku harus tetap tegar / Yah..tegar untuk jalani hidup /Sebagaimana yang sudah ditakdirkan Sang Pencipta//.
Sedang Gampang Prawoto penyair Bojonegoro menulis Sarijah Gadis Virtual
/...// batubatu beterbangan/membelah membutir kerikil/merias wajah semolek debu/
menghampiri celah dinding/dinding halus kuning langsat/Si cantik "Sarijah" gadis lugu/
lahir  di desa tanpa listrik, sumur dan wc/besar di metropolitan/berseliweran mobil mewah/berbaju tak berkutang, berkutang tak berbaju/menjulang tinggi apartemenmewah berkemul kaca/berpenghuni tanpa katepe dan surat nikah/...//.
Gunta Wirawan penyair kelahiran Singkawang Kalimantan Barat menulis Surat Terbuka Untuk Asap//...../Asap/Kamu itu ya/tempingal1 alias bengal/Sudah berapa kali aku bilang/Jangan cemari udara di negeriku ini/Jangan sesakkan napas anak-anak kami//......../ Di Kalimantan/Orang utan dan bekantan kena isap/Napasnya turun-naik, berbunyi sit sit/Sebagian asmanya kambuh, sebagian batuk darah/Sebagian mati/................/Bukan salah pengusaha, bukan salah penguasa/Bukan karena rakyat durhaka/Sebab tabiat maksiat, tabiat manusia:/Urusan hutan terbakar, terbakarlah saja/Jangan pula kau yang mengambil kesempatan/Menari-nari di atas penderitaan kami/Menyebarkan dirimu di seantero negeri/..........//.

   Harkoni Madura dalam Tilawah  Tanah  Air, Haryatiningsih dalam Rekaman Maling, Hasan Bisri BFC  dalam Nenek, Nikita, dan Permen Itu, berikut cuplikannya Harkoni Madura penyair asal Sampang Madura pada Tilawah  Tanah  Air : //....../menilawah tanah air/yang kumandang bukan kidung, bukan tembang/tapi erang sengangar umpatan/atas nama luka sayat kemanusiaan/yang sempoyongan, dan pingsan di hutan-hutan/ //menilawah tanah air/serasa dipupur,intrik,teror,persibakuan/dan sengkarut persekongkolan/,,,//. Haryatiningsih bicara Rekaman Maling//...../Ada maling bicara maling/Direkam oleh maling/Maling dan maling direkam/Karena kemalingan//. Sedang Hasan Bisri BFC menyuguhkan puisi yang sangat menarik
berudul :Jangan Salahkan Aku.

   Helmi Setyawan dengan Aku ini Guru, Heru Mugiarso pada Apa Agamamu menambah gairah pembaca //.../Meja kursi apa agamamu/kok setiap malam/tak pernah membaca kitab suci/Kelamin, apakah agamamu/mengapa tak berzikir/setiap kali bercinta/Apa agamamu/Mengapa tak sembahyang/jiwamu?//. Iis Sri Pebriyanti perempuan remaja penyair asal Indramayu   di judul Pagi Hari//....../Dengan perasaan bahagia/Dan berharap hari ini akan lebih baik/Dari hari-hari sebelumnya//. Jen Kelana penyair dari Nganjuk menulis , Kuteriakkan Hujat, Muhammad Lefand dari Sumenep menulis pada Matra Sang Presiden  Bukan Penyair. Marsetio Hariadi pada Cinta Melulu, juga bagus disimak kita lihat ://seperti kucing anggora saja/seperti hamster saja/seperti cihuahua saja/yang takut melihat banyak anjing lapar di jalanan/Cinta memang bangsat/.....//. Nanang Suryadi penyair dari Serang  menulis Dongeng, Penyair Kok Mendongeng?//......./“kasihan kau penyair, sibuk dengan imajimu sendiri.” katanya kepada cermin, selesai mandi/ia membeli yoyo, dari pasar malam. ...........//.

Kemudia kita lihat berikutnya, Navys Ahmad pada puisi Negeri Parahdoks
//di negeri ini/hutan-hutan kita paru-paru dunia/paru-parunya terbakar marahlah dunia/.../.../di negeri ini/orang bijak bayar pajak/sudah bayar malah dibajak/...//.
 Novia Rika dengan “Puncak Cinta”-nya. Berikut cuplikan Puncak Cinta itu //......./Buat apa kau bakar nafsumu/Pada ilusi secerah warna mentari/Paha-paha terbuka/Dada-dada menggoda/Bibir-bibir merona/Tak 'kan mengajarkanmu cinta/Cinta tertinggi ada pada wanita/Yang mengendapkan cintanya dalam hati/Membiarkannya perih/'Tuk membuka jiwa yang murni//.


Nunung Noor El Niel penyair kelahiran pada puisi berjudul “Sampah”
//.../seperti sampah yang membusuk /menjadi timbunan-timbunan menyengat /
hanya untuk penampungan hasrat /ingin tumbuh subur sebagai benalu /
yang dipupuk dengan hujatan-hujatan/....//. Nur Fajriyah peyair muda asal Indramayu pada puisi  Punggung yang Pergi (Ayah) menarik juga untuk direnungkan , sedang Osratus penyair Purbalingga yang tinggal di Sorong dalam puisi “Sebungkus Protes Rebus (untuk diriku)”/....// Halilintar, menyambar teko egoku/ Tutup telinga tutup hati, tidak mau aku/Mungkin, dia ingin mengatakan sesuatu/ Tapi usai berkoar, sembunyi di ketiak soreku/ Kapan kita duduk bersama, halilintarku?/...//. Rini Garini perempuan penyair ini menulis Dongeng Sebelum Tidur berikut cuplikannya ://.../Tikus-tikus beranak pinak /Layaknya gelombang pasang mereka berarak-arak /Mereka tak tahu lagi pijakan dan kehilangan pandangan/tikus berubah jadi buaya yang menakutkan / Jaring-jaring kata menjadi siloka yang tak bisa diterka/cicak-cicak selalu usil mengawasi gerak-gerik mereka/ perseteruan makin bergelora dan penuh prasangka/ Kedua belah pihak saling memasang perangkap./Kata-kata tak pernah senyap./Riuh suara-suara dalam udara pengap//.

   Riswo Mulyadi penyair dari Banyumas juga menulis tentang guru dalam puisi Doa Seorang Guru  di  Hari  Guru//.../Tuhan, karuniai aku ilmu yang dapat kuberikan di sisi amalku/sedikit saja, tak apa/asalkan mereka tercahayai/Tuhan, jangan tunjukan pada muridku, lauk yang kusantap/biarkan mereka melahap sarapan paginya dengan nikmat/agar di kelas mereka tetap semangat/...//. Riza Umami penyair muda belia dari Indramayu dalam  Anugerah Tuhan//.../Pahamilahh./Resapilahh.. /Tuhan begitu adil /dan pada akhirnya /Semua yang kita lakukan akan mendapat balasanNya / Balasan yang begitu bijak /bijak dari apa yg kita perbuat /dan Tuhan akan tunjukkan kasih sayangNya.//.Sahadewa penyair dari Kupang menulis puisinya berjudul “Apa itu yang berbeda” berikut petikannya://.../Apa itu yang berbeda/Aku berkulit legam eksotis/sedang kulitmu bagai dipernis/Mulutku merah karena sirih pinang/sedang bibirmu bergincu bersulam benang/...//.Samsuni Sarman Penyair dari Banjarmasin menulis puisinya yang apik berjudul Percakapan di  Runway//..../Maaf, saya ke Amrik bukan untuk selfi kok/cuma belajar bagaimana mengatur tambang emas di Papua/dan beberapa tambang minyak di lepas pantai/tentu untuk masa depan investasi yang lebih baik/dan saling menguntungkan, ya kan/...//.

Slamet Widodo penyair Solo yang bermukim di Jakarta  pun menulis “Republik Dagelan” untuk Sakarepmu ini //.../...//Yang Mulia ............hamba saluut keberanian Paduka/melanggar etika dengan santun didepan mata/ hamba saluud keberanian paduka/mempertontonkan opera sabun dengan telanjang/hamba saluud keberanian paduka/melecehkan rakyat dengan tegas lugas dan tega/Yang Mulia ......../hamba salud keberanian paduka/berani dimaki .... berani dikutuk / berani diludahi .... berani dibajing bajingkan/ tak semua orang punya mental seperti paduka/bisa ceria menutup mata /....//. Sokanindya Pratiwi Wening dari Aceh di puisi “Indonesia Sakit” berikut cuplikan syairnya ://..../kalau para yang mulia itu sakit/aku juga sakit/sakit jiwa!/dulu memilih para pencoleng itu/mencoleng harta ibunya sendiri...!//.
Sunaryo JW dari Padang Lawas Utara dalkam puisinya “Sajak  Tong Kosong”
//.../Ini adalah kaki yang lelah berjalan/Mendaki gunung, menyeberang lautan/
Mencari emas, menangkap ikan/Tapi kau kubur dan kau tenggelamkan./
Kau rekreasi ke luar negeri./Kami mati,/Kau menikmati selangkangan lagi!/.../
.../Begitulah kini Indonesia!//.

   Sus S . Hardjono penyair dari Sragen menuturkan tetang” Candi”, sedangkan Suyitno Ethex menulis “Telatah Mojopahit”
//.../orang-orang salah kaprah mau benar sendiri/tak ada yang mau merasah salah, bila membohongi/hanya karena ingin kepuasan cepat tersaji/kalau semua sakarepe, jangan keblablasan/hingga lupa sejarah peradaban/yang susah, yang ditinggalkan/
karena bukan jamannya yang edan/tapi manusianya yang kehilangan/olah pikir yang keblablasan//. Tonganni Mentia perempuan penyair ini menulis “Pedati Senin Pagi” sedang perempuan penyair lainnya Tutik Hariyati S  asal Sumedang menulis  puisi “Siapa Mau Bicara Pertama”//.../Ketika keluarga makan bersama/Siapa mau bicara pertama/Besok besok /Berjalan apa adanya saja/Bu kenapa menu tak seperti biasa.//.
Ustadji Pantja Wibiarsa dalam Pelangi Jatuh, seperti cuplikan tulisannya :
//..../di dalam rumah, di pringgitan, di pendapa, di pelataran
di gapura, di jalan, di hati nurani orang-orang bermata tajam
tahukah kau, pelangi itu sedang dalam perjalanan
mengemban tugas dari penciptanya dengan misi penyelamatan
menyebarkan pengetahuan tentang perawatan dan pelestarian/........//.
Wadie Maharief penyair dari Yogyakarta mengungkap “Guru” dalam puisinya berikut cuplikannya: //....../Aku telah lama jadi bekas murid/tapi kau mungkin sudah jadi pensiunan guru/Kau tidak diingat ketika bekas muridmu jadi orang hebat/
kaya raya dan terkenal,/ tentu ini yang kau inginkan pada setiap muridmu/
Kau tidak salah ketika bekas murid ada yang jadi maling,/copet atau koruptor dan bahkan teroris, /ini pasti tidak pernah kau inginkan pada setiap muridmu/...//.

    Wahyu Hidayat peyair dari Telagasari, Kepada Mantan berikut cuplikannya.
//.../aku telah menjadi debar yang lain bagimu. /dan sesungguhnya hujan dan malam tak perlu lagi kaurindukan,/jika semata mereka adalah jembatan untukmu mengingat masa lalu. /...//. Wans Sabang penyair dari Jakarta menulis “Segeralah Ajal!”
"Ajal, apa orang mau mati masih perlu bantal dan guling?" Di temani bantal-bantal empuk beserta guling gemuk berisi bulu-bulu angsa. Selang inpus meringkuk di ranjang tidur. Sering kusebut sebuah nama. Entah nama siapa? Yang jelas bukan nama Tuhan. Sementara para iblis dan malaikat menunggu di ruang tamu, berebut untuk saling merenggut ruh yang telah lama ku simpan di palung tubuh./ ...//. Wardjito Soeharso, peyair dan Budayawan asal  Semarang memberi puisi berjudul ”Main Bermain” //.../Bermain tali/: terjerat/Bermain mata/: dusta/Bermain gila/: lupa keluarga/Bermain cinta/: duh, indahnya.//. Tampaknya Wardjito terinspirasi filosofi Jawa yang sering diungkapkan dalam keseharian yang kadang dilupakan, padahal jika direnungkan dapat sebagai pegangan dalam melangkah, keunggulan puisi ini adalah susunannya dimana baris-baris terakhir adalah sebuah klimak yang membuat penutup puisi tersenyum. Karakter Wardjito yang melekat adalah gemulainya puisi, meski pesan kadang 'mendobrak tetap memiliki keindahan puisi.

Wirol Haurissa penyair asal Ambon berjudul “Tamu” ciplikannya sebagai berikut ://.../aku turun bawakan oleh-oleh/sebuah lautan dan gunung dari sebarang/
jawabmu terserah /aku terima dengan kehangatan/seperti matahari tumbuh di atas pagi/kau berbisik, berikan padamu/aku jawab terserah/...//. Kemudian Yuditeha penyair asal Solo pada puisi “Reshuffle Kebelet” meulis ://.../suara klakson memantul di tembok ruang/dan sebagian serpihannya menancap ke daun telinga/membakar niat hingga menghanguskannya/barisan mata berlomba menonjolkan biji-bijinya/bernapsu memenangi sesuatu/yang sebenarnya bisa diurai damai/...//. Zaeni Boli peyair kelahira Flores yang bermukim di Bekasi ini pun turut dalam puisinya Tanggal yang Keliru, seperti cuplikaya: //Menjadi beling di matamu/Yang tajam dan indah adalah tatapan/Yang kanan dan kiri dalam ingatan adalah senyum/Dena/Bunga mekar/Kembang kuncup/Juga jamur di atas tai kebo/Adalah layang-layang putus dari imajinasi hari sabtu/...//.

   Keragaman puisi-puisi Sekarepmu memiliki kesan yang sama yakni sebuah kecintaan terhadap negeri ini , tetapi ada yang menyoroti tentag guru ,tentang alam, tentang kesendirian, tentang cinta, bahkan tentang gagasan antologi ini, yang diungkapkan dalam bahasa penyair tersendiri dengan berbagai sifat ungkapan yang dikemas pada frase-frase pilihan sehingga merupakan diksi yang membawa puisi itu menarik dibaca.
   Tiada adil jika mengupas beberapa puisi sakarepmu, dengan berbagai sudut pandang, apalagi satu –persatu , hanya sebuah pembuka sakarepmu agar menjadi kenangan indah. Apresiasi selanjutnya tentu pada pembaca, puisi-puisi Sakarepmu sangat menghibur dan makna yang luas.
   Akhirnya kita dapat menangkap bahwa sesungguhnya telah terjadi protes terhadap apa yang tidak selaras dalam kehidupan di republik ini yang diungkapkan bahasa penyair dalam bahasa puisi. Dan penyair hanya bisa berharap dan memberikan sumbangsih untuk penyelamatan ruh negeri ini.

 Rg Bagus Warsono, Kurator di HMGM tinggal di Indramayu.17-12-2015














Jumat, 14 Agustus 2015

Realitas Waktu dalam Buku Setengah Tiang dan Pesan-Pesan Puitiknya Oleh Sumasno Hadi

Realitas Waktu dalam Buku Setengah Tiang
dan Pesan-Pesan Puitiknya
Oleh Sumasno Hadi

Jika tak ada yang berlalu, tak ada waktu lampau
Jika tak ada yang datang, tak ada waktu nanti
Jika tak ada yang ada, tak ada waktu kini
Dulu presiden “mamarika”  pernah bilang, jika politik bengkok maka puisi akan melu-ruskannya. Itu mendingan. Di kita, politik tak hanya bengkok tapi patah, remuk dan pecah. Bahkan tradisi politik kita telah menjadi adab menjijikkan, saling tikam dan memamah (puisi “Politik Kanibal”, hal. 77—78). Demikian politik di mata Ali Syamsudin Arsi (ASA), penyair yang “pengguman” ini. Tapi bagi saya tema politik juga lainnya di buku ini tak semenarik pada puisi kontemplatifnya. Utamanya tantang tema kesilaman. Dan tema sejarah ini pun menjadi ladang renungan filsafati yang ditawarkan buku puisi terbaru ASA ini. Mungkin be-gitu. Jadi di sini saya lebih mau melihat puisi-puisi ASA dalam Buku Setengah Tiang (Frame-publishing, 2015) yang saya anggap punya potensi tema sejarah, atau lebih tepatnya soal waktu.
Filsafat Waktu
Membicarakan waktu bisa sangat sederhana, sekaligus juga ruwet dan kompleks. Kalau disederhanakan, waktu kerap muncul di benak kita, misalnya dalam wujud konkret be-rupa jam, dengan segala satuan detik-menitnya. Pun juga penunjuk lainnya, alam, seperti siklus musim atau rentang edar matahari dan bulan. Tapi di tangan pikiran yang kompleks, pengertian waktu menjadi sulit, ruwet, berbusa-busa dirumuskan. Lalu tak berkesudahan saat diomongkan. Misalnya waktu yang difilsafatkan oleh Agustinus (354—430).  Setidaknya itu terasa pada kutipan kalimatnya di awal tulisan ini. Di tangan Agustinus, waktu adalah en-titas yang eksis, tapi sekaligus tak nyata.  Eksis karena waktu menjadi sumber penanda dari kebertubuhan materi beserta gerakan kosmos yang dapat diinderai. Dan kita pun mengerti bahwa tak akan ada konsep tentang gerakan jika tak ada waktu. Lalu eksistensi waktu itu di-perjelas Agustinus pada tiga realitasnya, ia menyebutnya “waktu yang berdimensi tiga”. Ya-itu waktu yang berdimensi lampau, kini dan nanti. Meski eksis namun waktu itu tak nyata, karena kenyataan waktu (yang bedimensi tiga) bisa (dan hanya bisa) dikonfirmasi ketika ia telah dijabat erat oleh pikiran. Artinya, waktu dalam konsep Agustinus ini adalah fenomena kesadaran subjek belaka. Lantaran kesadaran itu mengandaikan adanya kualitas yang rela-sional—kesadaran terhadap...—, maka kekinian sebagai landasan berdirinya kesadaran akan menuntut relasi kepada tiga dimensi waktu. Kalau diproposisikan, maka ketiga kesadaran akan realitas waktu itu jadi begini: (1) kekinian dari hal-hal lampau, (2) kekinian dari hal-hal kini, dan (3) kekinian dari hal-hal nanti. Dan ketiganya tak lain adalah ingatan (memory) ke-pada yang lampau, perhatian (attention) pada yang kini, dan pengharapan (expectation) ke-pada yang nanti.
Empat abad sepeninggal Agustinus, seorang pemikir muslim Arab, al-Kindi (801—873) meneruskan pembicaraan waktu yang ruwet itu dengan penegasan bahwa eksistensi waktu yang relasional dengan materi (kosmos). Katanya, waktu hanya eksis ketika ada ge-rakan, gerakan bisa eksis lantaran ada materi, dan sebaliknya. Artinya, waktu di tangan al-Kindi makin ditunjukkan nilai relatifnya. Ini kemudian dikembangkan Einstein di abad kita menjadi teori relativitas (waktu) yang makin ruwet pengertiannya. Lantas al-Kindi pun, juga Einstein, melihat antara ruang (materi) dan waktu (gerakan) itu tak hanya bernilai relatif ter-hadap satu sama lain, tapi juga terhadap subjek yang memantau, mengamati, dan menge-nyam waktu. Begitu, dan sebelum menjadi tambah ruwet, waktu yang saya jadikan teman puisi-puisi ASA ini digarisbawahi saja. Yaitu pada eksistensi tiga realitas waktu (kekinian dari hal-hal: lampau, kini, nanti) sebagai fenomena kesadaran subjek.
Puisi Ingatan, Puisi Perhatian, Puisi Pengharapan, dan Puisi Kontemplatif
Dari ketiga realitas waktu itu tadi, beberapa puisi ASA terasa mengarah pada yang pertama, yakni kekinian dari hal-hal lampau. Dalam pengertian ini, puisi-puisinya bisa dise-but puisi ingatan. Puisi yang menceburkan diri pada telaga kesilaman, mungkin malah sam-pai larut dalam romantika sejarahnya. Beberapa judul puisi yang termaksud ini tampak pada: “Pulang”, “Diskusi Para Datu”, “Kerajaan Nan Sarunai”, “Daun Jendela dari Akar Padi”. Semua puisi itu, menurut saya dijadikan wadah estetik ASA untuk menempatkan kekinian puitiknya. Namun kekinian yang menggelincirkan diri pada kenangan, pada kesilaman. Boleh kita rasakan, puisi ingatan ini ditandai oleh muatan makna diksi-diksinya yang berkonotasi kesilaman seperti diksi: “datu”, “jejak”, “kerajaan nan sarunai”, “catatan sejarah”, “nenek moyang”, “akar padi”, “kampung halaman”.
Pada puisi ingatan ini ada yang paling membekas di saya. Adalah puisi pendek ASA yang berjudul “Pulang”. Coba kita cermati isi puisi yang padat ini: bukan karena lambai itu yang membuat kita pulang satu/ demi satu (hal. 21). Fenomena “pulang” yang bisa dimak-nai secara materialistik (: ke rumah fisik), pun metafisik (: ke rumah spiritual), adalah suatu gerak kembali. Kepulangan atau kekembalian ini dihayati sang penyair ketika kekiniannya sadar akan suatu realitas yang menyusut, berkurang “satu demi satu”. Penyusutan yang di-hadapi penyair, tentu adalah produk kesadaran (: oleh karena aku sadarlah maka aku jadi tahu kalau satu demi satu berpulang. Kepulangan ini, baginya bukan tersebab oleh “lambai”. Lambai (: naik-turun, berayun-ayun yang lazim dimaknai pada gerakan tangan) adalah tanda dari kehangatan, kepercayaan, dan kerinduan. Lambaian tangan kita yang mengantar (ke-pergian) atau bertemu orang “dekat” misalnya, adalah bahasa tubuh atas kehangatan, ke-percayaan atau kerinduan itu. Jadi, kepulangan dimaknai oleh penyair bukan karena suatu ikatan atau relasi sebagaimana makna lambaian tangan. Mungkin, pulang bagi penyair ini adalah kenyataan ontologis yang niscaya.
Perihal puisi perhatian, sebagai refleksi kakinian penyair dari hal-hal kini, ini akan le-bih banyak nilai atualitasnya dan sangat terasa pada puisi-puisi sosial dalam buku ini. Maka tema-tema kritik sosial seperti pada kerusakan ekologi, kebusukan politik atau dinamika masyarakat kota menjadi bahan pokok atas puitika sang penyair. Ketika judul puisi ASA menggunakan ungkapan yang bernilai relasi antara yang kini dengan yang nanti, seperti pada diksi “belum” atau “sebelum”, ini bisa dialamatkan sebagai “puisi pengharapan” itu. Puisi yang bicara dari posisi kini, tapi melemparkan diri pada hal-hal nanti. Puisi yang me-nyatakan “kebeluman” realitas ini, menariknya, disajikan ASA dalam beberapa serial. Ada judul “Belum Hujan” dan “Belum Juga” yang dibingkai ASA dalam gaya gumamnya. Dan se-cara konseptual, makna kebeluman itu muncul lagi di 8 judul puisi lainnya, yang semuanya memakai diksi “sebelum” sebagai judul: “Sebelum Reruntuh Tebing” (hal. 53), “Sebelum Duri Menusuk Tebing” (hal. 54), Sebelum Angin Membadai” (hal. 55), Sebelum Ngarai Menuju Debu” (hal. 56), Sebelum Pupus Cerita di Lorong Goa” (hal. 57), “Sebelum Datang Berlinang” (hal. 59), Sebelum Sungai Meradang” (hal. 60), “Sebelum Debu Pelupuk Mata” (hal. 61). Puisi-puisi ini bernilai konseptual, setidaknya dari penyajian di dalam halaman buku yang tersusun berurutan. Dari hal. 53 sampai hal. 61. Nampaknya ini juga soal titi-mangsa puisi dari kedelapan puisi itu yang tertanda bulan Februari. Di situ akan terbaca juga suara-suara penyair yang bernada peringatan, sekaligus prediksi negatif (buruk). Puisi yang memeringatkan (perkiraan reflektif) bahwa realitas sosialnya mungkin mengarah pada ke-hancuran ekologis. Di situ ada peringatan akan runtuhnya gunung bertebing batu, bencana angin, sungai yang meradang, dan sakitnya mata yang berdebu.
Ada satu lagi “puisi kebeluman” yang berjudul “Sebelum dan Sesudah Kabut” (hal. 100). Ini menjadi puisi kebeluman ASA yang paling analitis. Maksudnya, sang penyair lebih detail saat memuisikan realitas “kabut” dengan menyertakan penjelas yang bernilai kausali-tas, penjelas yang juga bermakna rentangan waktu. Coba simak maksud kata “sebelum” dan “sesudah” pada puisinya (bait ketiga: sebelum kabut adalah hamparan luas tanah gambut/ setelah kabut adalah bau akar membakar asap meliuk-liuk). Apa yang dimaksud “kabut” di sini? Dan puisi ini sepertinya mengatakan, kabut adalah jeratan rasa rakus dan teknologi yang menghancurkan ekologi (bait keempat: sedang kabut itu sendiri/ tak akan lepas dari hiruk-pikuk dan saling berebut/ sangat merenggut/ ruang kata bertumpuk). Dari puisi ke-kinian ASA yang menyatakan aktualitas bencana “kabut” pada maraknya fenomena ter-bakarnya (atau dibakar?) hutan kita, ini makin memperjelas kalau puisi-puisi kekiniannya adalah puitika kritik sosial.
Meski puisi-puisi sosial sering dianggap mudah dipahami tinimbang puisi personal, namun di tangan ASA menjadi tak sesederhana itu. Gaya “gumam ASA”-nya ketika memuisi-kan tema sosial kerap menimbulkan tantangan (atau hambatan) kita untuk menerima pesan puitiknya secara mulus. Misalnya ketika saya membaca puisi gumam “Purnama Terkepung Mendung” (hal. 79) dan “Udara Laut Berkobar” (hal. 81) yang terlihat menjadi medianya dalam menyuarakan realitas-kekacauan sosialnya kepada penguasa (politik). Lantaran ben-tuk gumam yang enggan berpola, maka kita harus menemukan sendiri pola itu untuk meng-antarkan ke pesan dan makna puisi. Ini akan lain saat kita baca puisi “Politik Kanibal” (hal. 77—78) yang sudah menyediakan pola, setidaknya pada bentuknya yang berbait. Atau pada puisi “Rekening Gendut” (hal. 36) yang seluruh isi diksinya sama dengan judulnya. Ini akan langsung mudah kita tangkap maknanya, lebih-lebih kalau kita sering memantau Jakarta dan membayangkan seragam polisi. Lalu dari beberapa puisi perhatian ASA lainnya, yang cukup menarik adalah 5 serial puisi bertajuk “Dialog Budaya Kota”. Mungkin ini akan (sudah) diba-has pihak lain (Sainul Hermawan?). Demikian, secara tematik pesannya, puisi perhatian (puisi sosial) sebagai refleksi atau mungkin tepatnya kesaksian—karena sifat aktualitas dan kontekstualitas sosialnya—menjadi puisi ASA yang paling membuka diri kepada makna.
Mengenai puisi pengharapan atau puisi yang menghadirkan kekinian dari hal-hal nanti, sebenarnya ini mengandung kesatuan tiga kesadaran waktu sekaligus. Ketika kini kita sadar akan masa depan yang terasa begitu dekat, prediksi positif (baik) sebagai rasa peng-harapan kita ini mengandaikan kehadiran ingatan (lampau) serta perhatian (kini). Saya akan menyebut puisi-puisi yang punya muatan kesadaran tiga dimensi waktu ini sebagai puisi kontemplatif. Ketika memaknai “rindu” pada puisi “Setelah Engkau Rindu” (hal. 5), ini bisa menjadi contoh puisi kontemplatif ASA. Begitu karena pada puisi ini mampu mewakili ter-aduk-aduknya kesadaran akan ingatan, perhatian, dan pengharapan. Tiga kesadaran akan realitas waktu ini pun telah terpola dalam ketiga baitnya secara berurutan. Coba kita cerma-ti ketiga baitnya ini (bait pertama tentang ingatan-lampau, bait kedua tentang perhatian-kini, bait ketiga tentang pengharapan-nanti).
aku menjadi semakin suka pada wajahmu terpampang
di ruang tidur bahkan sampai ke dalam setiap mimpi
yang bercerita atas pertemuan dan sedihnya perpisahan
sedetik saja terkadang tak rela setelah engkau rindu segala
uncap rindu segala tatap rindu segala dekap rindu
jarak terbentang memang tapi rasa lekat pun masuk dala
bilik-bilik sekap terkungkung antara gapai angan dengan
nyatanya di udara lepas selepas terbang kepak burung
menepis debu, jarak bukan alasan
setelah engkau rindu aku terkulai tak mau lepas dari segala
rindu menawarkan hari-hari penuh sentuh jemari bahkan
di sini di bagian jantung berbunyi tak pernah mau berhenti
Selain itu, satu lagi puisi pendek di buku ini yang merangkum tiga kesadaran waktu, yaitu puisi “Membaca Sejarah dari Pintu Belakang”. Melalui satu diksi-ungkapnya saja, “bolong-bolong”, ternyata puisi ini bisa menawarkan medan reflektif atas tiga kesadaran waktu. Pertama, puisi ini memunculkan hal-hal lampau (romantika sejarah) yang bernilai ideal namun mungkin telah terkoyak. Kedua, puisi ini menunjukkan akan hal-hal kini (post-modern-kontemporer) yang anti-strukturalis sehingga melahirkan anomali tradisi (membaca sejarah dari belakang). Ketiga, puisi pendek ini secara imperatif mengajukan pesan sosial yang bernilai etis, yakni secara implisit menganjurkan generasi kemudian untuk melakukan tambal-sulam atau bahkan mengganti kain sejarah dari generasi pendahulunya yang koyak lagi bolong.
Menyaksikan Kesakitan, Menganjurkan Ketangguhan
Ketika menikmati buku puisi ASA yang multitematik, kemampuan pembacaan saya memang tertawan pada persoalan waktu. Pada sisi yang lain, ketika saya banyak mendapati diksi yang banyak muncul dalam puisinya, langsung tertanam benih pesan-pesan puitik dari penyairnya. Boleh kita resapi diksi yang bolak-balik hadir di puisinya itu: “luka”, “asap”, “gemuruh”, “debu”, “duri”, “tebing”, “batu”, “darah”, “sunyi”. Dibantu diksi-diksi macam itulah ASA menuliskan kesaksiannya atas suatu kesakitan. Juga sekaligus melemparkan spirit pada kita untuk selalu tangguh dalam kepungan luka yang menyakitkan. Demikian, ASA me-lalui buku puisi ini saya anggap telah berbagi semesta puitikanya dengan cara berdiri tegak di hadapan realitas sosialnya. Lalu saya pun mendengar ia bicara lantang begini.
Aku melihat dan sekaligus merasakan sakit. Sakit yang tersebab oleh perceraian ke-percayaan di antara kita sebagai manusia. Aku memang melihat sakit itu pada luka-luka yang ada di atas tanah kita, di kulit pohon hutan kita, di arus sungai-sungai kita. Pun luka yang menghujam di perut bumi kita, luka yang berserakan di atas hamparan pasir pantai kita. Ya, itulah luka kita yang harus segera kita apakan. Sudah aku katakan, dengan tulisan-ku yang tebing menjulang. Bahwa aku akan tatap bersaksi, berkata-kata, menulis puisi.
Banjarmasin, 12 Agustus 2015.

Buku Setengah Tiang dan Penyair Setengah Sinting

Buku Setengah Tiang dan Penyair Setengah Sinting

Ketika disodori kumpulan puisi Buku Setengah Tiang, bukannya tertarik dengan puisinya, saya malah tertarik dengan penulisnya. Saya mau buat pengakuan, bahwa sebenarnya saya tak tahu apa-apa tentang puisi. Saya suka pusing membaca teori tentang puisi. Saya malah memikirkan hal lain, misalnya, kenapa lagi-lagi orang ini yang menerbitkan buku puisi? Kenapa yang lain tidak? Apakah tidak ada yang memberi tahu bahwa buku puisi itu tidak laku di pasaran. Penerbit mayor pada malas menerbitkan buku begituan. Kalau pun ada, cuma satu atau dua buku dalam setahun dan itu pun bagian dari proyek sosial. Lagi pula, orang mau beli buku puisi bukan karena puisinya, tapi lebih karena merasa tidak enak dengan penyairnya. Hehe. Nah, di tengah kondisi memprihatinkan itu, ternyata masih ada yang sangat produktif membiakkan puisi dan membukukannya pula. Apa itu tidak sinting? Tentu saja saya kepingin mencari penjelasan atas perilaku orang ini, dan salah satu pendekatan yang bisa gunakan adalah pendekatan dari Fritz Heider (1958) di lapangan psikologi sosial. Pendekatan ini dinamakan psikologi naif, semacam teori umum mengenai perilaku manusia yang dianut oleh setiap orang awam. Dan jika tidak keberatan, saya juga akan memberikan beberapa tes kepribadian populer kepada penyairnya. Dan tentu mempublikasikannya juga. Ini semacam upaya membuktikan hipotesis naif yang ada di kepala saya. Bahwa orang yang sangat produktif menghasilkan karya kreatif ternyata begini begini orangnya. Begitu.  
Pendekatan psikologi naif diawali dengan adanya motif kuat dalam diri semua manusia, yaitu kebutuhan untuk membentuk pengertian yang padu tentang jagat raya dan kebutuhan untuk mengendalikan lingkungan. Dan salah satu pokok untuk memenuhi kedua motif tersebut adalah kemampuan untuk meramalkan bagaimana manusia akan berperilaku. Seandainya kita tidak mampu meramalkan orang lain akan berperilaku, maka kita akan memandang dunia secara acak, memberi kejutan dan tidak padu. Bagi Heider, setiap orang, tidak hanya psikolog, berusaha mencari penjelasan atas perilaku orang lain. Inilah yang kemudian disebutnya sebagai teori psikologi naif. Ini semacam bagaimana cara orang menggambarkan dalam angan-angannya apa yang mengakibatkan sesuatu dalam kehidupan sehari-hari.
Kembali ke puisi. Saya beranggapan bahwa penulis dan puisi adalah satu hal yang padu. Saya tak terbiasa membaca puisi yang tidak “ditemani” oleh nama penulisnya. Kesatuan antara puisi dan penulis telah membentuk sebuah dunia yang penuh vitalitas. Cobalah untuk sekali-kali membaca puisi anonim. Pasti terasa hambarnya. Pun ketika menghadapi sebuah buku puisi, terasa ada yang kurang ketika tidak ditemukan biodata penyair di dalamnya. Saya suka mencermati biodata penyair di tiap buku puisi yang saya temukan. Bagian ini, secara bercanda, sering saya sebut sebagai selfie-nya penyair. Selfie dengan kata-kata. Penyair flamboyan sering menghabiskan waktu untuk memperhatikan hal ini. Inilah bagian, yang menurut saya, paling menarik. Penyair yang paling gaya, akan menghabiskan beberapa halaman untuk menggarap bagian ini.
Ketertarikan saya terhadap penulis tinimbang puisi, sebenarnya sesuatu yang sangat “Indonesia”. Kita, atau saya, sebenarnya cenderung untuk tidak memperhatikan “apa yang dikatakannya”, tapi “siapa yang mengatakannya?”. Atau dengan kata lain, sebenarnya kita tak terlalu peduli dengan “puisi”, tapi “siapa yang telah menuliskannya?” Jadi urutannya, “siapa”, baru kemudian “apa”. Bagi saya, mungkin inilah yang dimaksud dengan motif untuk membentuk pengertian yang padu tentang jagat raya. Kita sebenarnya ingin membentuk sebuah kepaduan antara siapa dan apa. Kita mungkin akan memandang berharga sebuah puisi berciri sufistik jika itu ditulis oleh mereka yang dikenal sebagai sufi, semisal Rumi, Hafiz, Attar, atau KHA. Mustofa Bisri untuk di Indonesia. Namun kepaduan itu akan tercerai-berai ketika sebuah puisi sufistik ditulis oleh seseorang yang “berantakan” gaya hidupnya. Jadi inilah pendapat saya: vitalitas sebuah puisi, dihidupkan oleh “siapa” yang menuliskannya!
Ya, “siapa”. Misal, kita akan terhanyut dengan kesan tertentu ketika berjumpa dengan sebuah puisi kritik sosial seandainya ditulis oleh Wiji Thukul atau Rendra. Protes-protesnya kelihatan bertenaga. Puisi memiliki ruh karena manunggal dengan kisah dramatis penulisnya. Pun seandainya puisi itu “terlihat” biasa-biasa saja. Dan ketika kita berjumpa dengan puisi yang kosong dari penulis atau katakanlah ditulis oleh penulis pemula, pasti akan terasa biasa saja dan mungkin akan terlewat. Ini dikecualikan untuk para guru, yang karena panggilan tugas, menyeleksi puisi para siswanya. Namun tetap saja, seorang pembaca puisi, kadang memiliki harapan-harapan tertentu dalam setiap pembacaannya. Saya hanya ingin menyebutnya sebagai keinginan untuk terkejut. Menemukan ide baru, inspirasi baru atau kesan baru, yang akan memandunya menemukan “aha” dalam kehidupan.
Kembali ke tindakan menulis puisi. Langkah pertama bagi seorang psikolog naif adalah menentukan apakah tindakan tersebut menurut anda disebabkan oleh keadaan intern atau kekuatan ekstern. Ini dinamakan dimensi kausalitas atau sebab akibat. Seseorang yang menulis puisi, apakah itu disebabkan adanya atribusi intern seperti keadaan hati (mood), ciri kepribadian, kesehatan, preferensi. Atau karena ada penyebab ekstern seperti tekanan orang lain, uang, situasi sosial dan seterusnya. Kemudian apa yang menjadi penyebab seseorang terus bertahan dalam menulis puisi. Maka dimensi kedua muncul, yaitu dimensi stabilitas-instabilitas. Artinya, bertahan tidaknya seseorang dalam menulis puisi tergantung dari stabilitas faktor-faktor intern atau ekstern tersebut.
Mari kita lihat. Kenapa ASA terus-menerus melahirkan karya? Apakah karena faktor intern atau ekstern atau kombinasi keduanya. Kita bisa mengabaikan adanya hadiah dan penghargaan sastra untuk kasus ini, tapi tentu tidak bisa mengabaikan profesinya sebagai seorang guru, wabil khusus, guru bahasa Indonesia. Kita akan menyangsikan atribusi ekstern jika ASA seorang guru matematika atau guru olahraga atau malah profesi bukan guru. Kekhususan profesi ini (guru bahasa Indonesia) akan membentuk publik sastra yang lebih nyata. Kestabilan membentuk publik sastra sebagai komunitas yang dibayangkan ini, sedikit banyak menopang ketahanan berkarya ketimbang hanya mengandalkan relasi pertemanan di media sosial. Keaktifan menjalin relasi di antara penyair juga mendapat porsi tersendiri. Ikut berdenyut dalam hiruk pikuk di Minggu Raya dan Balai Bahasa Kalimantan Selatan pastilah akan berpengaruh juga. Ini belum termasuk korespondensi dengan penyair-penyair di luar provinsi.
Untuk atribusi intern, saya tidak dapat tidak, harus mengarahkan pandangan kepada ciri kepribadian seseorang. Masalah kesehatan, mood, preferensi, adalah sesuatu yang tidak stabil, dan riskan untuk dinisbatkan. Kita tahu, ada penyair yang tetap aktif menulis walaupun sakit. Juga ada penyair, yang mood atau tidak mood, tetap memaksa diri untuk menulis. Saya anggap, ciri kepribadian itu sesuatu yang cenderung stabil untuk “memaksa” seseorang tetap menulis puisi.
Saya merencanakan menggunakan beberapa tes kepribadian. Di antaranya tes MBTI (Myers Briggs Type Indicator), disandingkan dengan Tes Enneagram yang dikembangkan oleh Oscar Ichazo (Psikolog kelahiran Bolivia) dan Claudio Naranjo (Psikiater kelahiran Chili), tes predominasi otak kiri-kanan yang saya ambil dari buku Ippho Santosa, kemudian ada tes gaya belajar untuk mengetahui gaya belajar mana yang lebih dominan: visual, auditorik, dan atau kinestetik.
Tes kepribadian berbeda dengan tes kesehatan jiwa. Tes kesehatan jiwa, tentu saja untuk mendeteksi ada tidaknya gangguan jiwa pada seseorang. Sedangkan tes kepribadian, lebih kepada upaya memetakan pola perilaku. Biasanya tes kepribadian dipakai di dunia kerja untuk penempatan, sehingga bisa ketahuan di profesi mana saja yang sesuai atau cocok dengan kepribadiannya.
Tes MBTI dikembangkan oleh Katharine Cook Briggs dan putrinya yang bernama Isabel Briggs Myers berdasarkan teori kepribadian dari Carl Gustav Jung. Tes ini memotret perbedaan pola perilaku seseorang saat melakukan pendekatan dalam bertindak. Dimulai dengan bagaimana ia memperoleh energi (introversion atau ekstroversion), bagaimana ia mengumpulkan informasi (sensing atau intuition), bagaimana ia mengolah informasi dan mengambil keputusan (thingking atau feeling) dan bagaimana ia mengatur hidup (judging atau perseption). Kombinasi dari empat hal tersebut menghasilkan 16 tipologi kepribadian,yaitu (1) The Teacher / The Giver;  (2) The Champion / The Inspirer; (3) The Commander / The Executive; (4) The Visionary / The Innovator; (5) The Protector / The Nurturer; (6) The Composer / The Artist; (7) The Inspector / The Duty Fulfiller; (8) The Craftsman / The Mechanic; (9) The Provider / The Caregiver; (10) The Performer / The Entertainer; (11) The Supervisor / The Overseer; (12) The Dynamo / The Doer; (13) The Councelor / The Protector; (14) The Healer / The Idealist; (15) The Mastermind / The Scientist; (16) The Architect / The Thinker.
Hipotesis awal kita, penyair tentu akan masuk ke golongan The Composer/The Artist (seniman). Tipologi ini memang mencirikan seseorang yang memiliki apresiasi yang baik terhadap keindahan dan estetika, tidak suka dibatasi oleh aturan, individualistik, setia dan loyal kepada orang atau ide yang penting bagi mereka, tidak menyukai perselisihan dan konflik. Di tipe ini, seseorang menonjol di introversion-sensing-feeling-perseption atau ISFP. Introversion: ia mengeluarkan energi dalam situasi sosial dan memperoleh energi saat menyendiri. Sensing: cenderung konkrit daripada abstrak, perhatian terhadap detil daripada gambaran besar, realitas langsung daripada kemungkinan masa depan. Feeling: cenderung subjektif, mengutamakan perasaan, menghargai hubungan antar manusia, menghargai proses. Perseption: spontan, mengalir, menikmati hidup.  Lalu bagaimana jika hasil tes berkata lain? Bagaimana menjelaskan jika penyair ini ternyata berada di kotak lain? Ya, memang tetap terbuka kemungkinan seorang penyair hidup di kotak lain, seperti di kotak (1) The Giver atau di kotak (2) The Inspirer atau di kotak (4) The Visionary atau di kotak (14) The idealist, dan beberapa yang lain. Saya pikir ini hanya masalah stereotif. Pandangan umum tentang kehidupan seniman. Tentang totalitas hidup dan originalitas.
Tes Enneagram dihadirkan sebagai pembanding. Jika MBTI menghasilkan 16 tipologi kepribadian, Enneagram hanya 9 (sembilan), dan di antaranya juga ada seniman/artist. Dalam enneagram, ini dicirikan sebagai orang yang memiliki perasaan yang peka, termotivasi untuk memahami perasaan diri sendiri serta dipahami orang lain, menemukan makna hidup, dan menghindari citra diri yang biasa-biasa saja.
Langsung melangkah ke tes predominasi otak kiri dan otak kanan. Sebagaimana yang diketahui bersama, pandangan umum seorang seniman, termasuk penyair, adalah orang yang lebih berorientasi ke otak kanan. Orang yang dominan otak kanan sering dikaitkan dengan sisi kreatif, afektif, intuitif, imajinatif, artistik, holistik, implisit, difus, impulsif, spontan, pemberontak, oposisi, acak, tak suka dibatasi waktu, konsentrasi rendah pada hal yang tidak disukai, cenderung sensitif dan emosional, gembira dan tanpa takut seperti anak-anak. Sedang orang yang cenderung kuat otak kirinya dikaitkan dengan kognitif, logis, analitik, realistik, eksplisit, fokus, segmental, runtut, sistematis, terorganisir, berpikir dewasa, membimbing dan mengarahkan, cenderung pendendam. Dalam hal ini, ada kemungkinan penyair lebih dominan otak kanan, namun tidak tertutup kemungkinan, seimbang antara otak kanan dan otak kiri. Dalam kenyataannya, memang otak kanan dan otak kiri tidak bekerja sendiri-sendiri. Mereka bekerja sama.  
“Sesuatu tercipta dua kali,” kata orang. Pertama, dalam imajinasi, dan kedua,  dalam kenyataan. Mencipta puisi, ketika ia berkelana sebagai rembesan imajinasi yang impulsif dan acak, barangkali itu kerjaan otak kanan. Namun saat menuliskannya, kita membutuhkan huruf, kata, bahasa, kelogisan, sistematika, maka otak kiri pun bermain. Menerbitkan buku puisi, butuh perencanaan, analisa, itu kerjaan otak kiri. Tapi bisa menjadi kanan, ketika tak ada hitung-hitungan dan dikerjakan penuh cinta. Persis perkataan Thomas Friedman, peraih penghargaan Pulitzer, bahwa untuk mengasah kemahiran khas otak kanan, cukup dengan mencintai apapun yang dilakukan.
Tes selanjutnya untuk mengetahui gaya belajar. Ini untuk memotret gaya seseorang dalam menyerap informasi. Ada orang yang bertipe visual, auditorik, atau kinestetik. Kadang ada satu bagian yang sangat menonjol, atau bisa terjadi ada 2 atau malah 3 bagian yang seimbang.
Tipe visual memiliki ciri antara lain: mengandalkan penglihatan dalam memahami materi, saat memahami informasi cenderung memvisualisasikan gambar atau imaje dalam pikirannya, mudah mengingat wajah. Kata yang kerap digunakan antara lain: lihat, bayangkan, gambar, perhatikan, jelaskan, kabur, tampaknya, fokuskan, pandangan, menyolok , selayang pandang, sekejap, dll.
Tipe auditorik antara lain memiliki ciri: seorang pendengar ulung, mudah menyerap informasi yang disampaikan secara lisan, senang berbicara, berdiskusi dan berkomunikasi dengan orang lain, cenderung perhatian terhadap pola dan irama, bisa masuk ke gelombang alpha dan theta dengan mendengarkan musik. Kata yang sering digunakan terkait dengan indera pendengaran, seperti: dengar, katakan, bicarakan, berbicara, bertanya, sayup-sayup, gemuruh, cerewet, dst.
Tipe kinestetik, antara lain memiliki ciri: kerjasama antara mata dan tangan sangat bagus, menyukai aktifitas fisik dan praktik langsung, bisa masuk ke gelombang alpha dengan aromatherapi, message, yoga. Kata yang sering digunakan kerap mengakses indera perasa, seperti: merasa, aman, damai, licin, keras, kasar, halus, erat, mempengaruhi, menangkap, bergerak, dst.
Dan entah kenapa, saya kemudian tergerak untuk menggolongkan karya-karya puisi berdasarkan modalitas penyairnya dalam menyerap informasi. Tipe visual, saya pikir, hadir dalam puisi-puisi penyair yang banyak menyerap teks dan literatur. Mereka-mereka yang kerap suntuk dengan banyak bacaan. Dalam kasus ini, muncul puisi Goenawan Mohamad, Subagio Sastrawardoyo, Sapardi Djoko Damono. Tipe auditorik, banyak muncul pada puisi-puisi yang ditulis oleh penyair yang suka kumpul-kumpul sesama penyair, demen dengan panggung baca puisi dan biasanya ia akan tampil secara ekspresif. Saya pikir, ASA termasuk ke dalam tipe ini. Tipe kinestetik, saya pikir muncul pada puisi penyair yang juga perhatian dengan olah tubuh dan terlibat dalam kehidupan praktis. Mereka yang intens dengan teater atau seorang aktivis di bidangnya masing-masing atau terlibat politik praktis, bisa digolongkan ke tipe ini. Rendra, Wiji Thukul, KHA Mustofa Bisri, saya pikir cenderung kinestetik.
Jika mengambil contoh satu puisi dalam Buku Setengah Tiang, misalkan “Sebelum Sungai Meradang” (h. 60). Maka yang visual hadir dalam kata: simak, baca. Yang auditorik muncul dalam kata: bicara, gemuruh, gelegar, ucap. Sedang yang kinestetik muncul dalam kata: meradang, lepaskan.
Namun sebenarnya, intensitas munculnya kata bernuansa visual, auditorik atau kinestetik tidak bisa dijadikan patokan. Saya merasa puisi-puisi yang ada di Buku Setengah Tiang, banyak mengeksploitasi irama kata. Dan sepertinya memang sengaja diciptakan dalam imajinasi pembacaan puisi. Dalam artinya, ia hadir untuk dilisankan di panggung baca puisi. Alias dapat dikategorikan ke dalam puisi panggung. Ia ditulis untuk diperdengarkan. Ia akan mudah diserap ketika diperdengarkan, bukan untuk tergeletak di dalam buku saja dan dibaca di kamar.  
............................    


Saat pun melangkah, tes urung dilaksanakan, dan hipotesis-hipotesis itu tetap menggantung di kepala saya. Selesai.  

Gambut, 11/9/2015