TEKS SULUH


Tampilkan postingan dengan label bicara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bicara. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 28 Agustus 2021

KESABARAN MEMBUAHKAN KEBERHASILAN oleh Rg Bagus Warsonio

 KESABARAN MEMBUAHKAN KEBERHASILAN

Menjadi Penyair mengalami liku-liku perjalanannya tersendiri pada setiap jiwa-jiwa penyair. Menjadi penyair adalah panggilan hati, tetapi tak seindah yang dibayangkan, tak mudah yang diharapkan.

Khusus di Indonesia penyair dikebiri oleh hal pembaca, meski produk banyak tetapi pembaca belum maksimal sehingga harapan memetik diri sebagai penyair amatlah sulit.

Demikian penyair dengan kesabarannya dan ketekunannya (adalah proses panjang) akan dapat memetik keberhasilan. Karya lambat laun semakin bermutu dan apik sebagai seni. Nama pun kemudian terpahat dengan ukiran yang indah. Meski dalam hal vinansial provesi ini jauh dari harapoan namun berkat ketekunan dan kesabaran akan dipetik keberhasilan sebagai sastrawan Indonesia yang tercatat dalam sejarah karena karyanya yang bermutu dan banyak dibaca masyarakat. (rg Bagus Warsono 28-8-2021)

Mempertanggungjawabkan Bahwa Seseorang Adalah Sastrawan Sabut Mengenal Puisi Modern II

 Memberi pertanggungjawaban pada publik bahwa seseorang adalah Sastrawan tidak hanya membuat daftar, memuatnya dalam antologi bersama, atau keterlibatannya dalam suatu peristiwa, tetapi yg lebih penting adalah mempertanggungjawabkannya dengan menunjukan karya bermutu dengan kritik dan telaah sebagai dasar seseorang adalah penyair.

Penyair adalah penulis sastra dengan jiwa seni yang tersendiri. Masing-masing kadang tak wajar dipandang dari kebiasaan . Ada saja penampilan beda pada dirinya dengan orang lain. Hingga terdapat penyair yang tak muncul gambarnya tetapi karyanya berserakan. Jadi pertanggungjawaban menyatakan seseorang adalah penyair bukan grafik kemunculannya tetapi atas karya bermutu. Kurator yang baik tidak melihat seseorang itu telah dikenal atau dikenal dalam wilayah lokal, regional atau nasional. Pandangan kepopulairan nama penyair besar atau kecil, tak dikenal atau telah mancanegara tak menjadi pengaruh untuk sebuah pertanggungjawaban. Sebab saatnya Indonesia menampilkan kejujuran dan tidak asal tetapi sungguh-sungguh sesuatu yang dipertanggungjawabkan

(Rg Bagus Warsono, kurator di Lumbung Puisi)

Jumat, 27 Agustus 2021

T oleh Wawan Hamzah Arfan

 T oleh Wawan Hamzah Arfan 


Thema "T' untuk sebuah Antologi Puisi yang digagas oleh RgBagus Warsono merupakan gagasan yang belum pernah ada di dunia, kecuali di Lumbung Puisi. Sungguh luar biasa, di masa pandemi ini, seorang RgBagus Warsono mampu melahirkan ide gila yang benar-benar di luar dugaan, justru disambut gila-gilaan oleh para penyair Indonesia dari yang ABG sampai lansia. Gilanya lagi, ko bisa pas dengan situasi politik di Afganistan, yang kini dikuasi oleh kelompok berinisial "T" yaitu TALIBAN.

Dengan kata lain, kehadiran Antologi Puisi "T", sebuah gebrakan baru dalam sejarah perpuisian Indonesia, sekaligus perpuisian Dunia. Sebuah Antologi Puisi terunik dan tergila. Selamat buat sastrawan RgBagus Warsono, yang berani meluncurkan ide gilanya dan tidak takut orang menilainya apa. Salam kreatif dari Cirebon.


Selasa, 20 Februari 2018

Tentang Mencipta Puisi,

Tentang Mencipta Puisi,
Kini mencipta puisi diantara jutaan manusia mencipta puisi. Anda jangan berfikir terlalu banyak orang mencipta puisi. Bisa-bisa puisi yang dicipta seperti daun daun-daun jati kering yang terbang di bawah pohon jati lain, di lahan lain, di hutan lain, dan terbakar hangus atau menjadi humus penyubur tanaman.
Sebetulnya apa pun bentuknya slalu ada manfaat. Hanya kita tidak atau belum menemukan cara, bagaimana agar apa yang kita buat itu bermanfaat.
Kadang berfikir bagaimana menjadi puisi pilihan yang dipilih dan dapat dibaca masyarakat? diantara jutaan-puisi itu. Agaknya disini membutuhkan kreatifitas untuk membidik sasaran pembaca.
Namun juga itu semua tergantung bagaimana si pencipta bertujuan dalam mencipta puisi itu. Hal yang lumrah apabila ada sebab akibat. Tentu yang diharapkan adalah karya itu dapat menuai apresiasi dari pembaca. Namun banyak orang mencipta puisi itu keliru dengan mengharap popularitas dan balasan jasa atau benda dari apa yang diperbuat itu. Kekeliruan ini patut dikikis sebab puisi kini menjadi bagian dari kehidupan yang tak lepas dari rasa seni. Sebab bukan penyair saja yang mencipta puisi, bahkan sejak doeloe, orang yang bukan berstatus peyair pun kini telah banyak mencipta puisi. Untuk apa? ya , untuk menoreh sedikit kalimat dalam kehidupannya.
(rg bagus warsono, 31-01-18)

Kini mencipta puisi diantara jutaan manusia mencipta puisi. Anda jangan berfikir terlalu banyak orang mencipta puisi. Bisa-bisa puisi yang dicipta seperti daun daun-daun jati kering yang terbang di bawah pohon jati lain, di lahan lain, di hutan lain, dan terbakar hangus atau menjadi humus penyubur tanaman.

Sebetulnya apa pun bentuknya slalu ada manfaat. Hanya kita tidak atau belum menemukan cara, bagaimana agar apa yang kita buat itu bermanfaat.

Kadang berfikir bagaimana menjadi puisi pilihan yang dipilih dan dapat dibaca masyarakat? diantara jutaan-puisi itu. Agaknya disini membutuhkan kreatifitas untuk membidik sasaran pembaca.

Namun juga itu semua tergantung bagaimana si pencipta bertujuan dalam mencipta puisi itu. Hal yang lumrah apabila ada sebab akibat. Tentu yang diharapkan adalah karya itu dapat menuai apresiasi dari pembaca. Namun banyak orang mencipta puisi itu keliru dengan mengharap popularitas dan balasan jasa atau benda dari apa yang diperbuat itu. Kekeliruan ini patut dikikis sebab puisi kini menjadi bagian dari kehidupan yang tak lepas dari rasa seni. Sebab bukan penyair saja yang mencipta puisi, bahkan sejak doeloe, orang yang bukan berstatus peyair pun kini telah banyak mencipta puisi. Untuk apa? ya , untuk menoreh sedikit kalimat dalam kehidupannya.
(rg bagus warsono, 31-01-18)

Menulis itu seperti membangun gedung.

Sarapan Pagi
Menulis itu seperti membangun gedung. Ada yang sekaligus langsung berdiri megah seperti monument. Ada yang kecil permanen. Ada yang kecil-kecil seperti perumahan burung. Ada yang semi permanen. Ada yang sekedar tenda bongkar pasang. Kemudian ada yang masih umpul-umpul material seperti batu, bata, kayu, pasir dan semen.

Untuk langsung megah seperti monumen tentu sangat jarang terjadi. Bagaimana mungkin hanya kau sendiri yang membangun itu. Ada baiknya betahap lebih dahulu sambil umpul-umpul material. Kelak akan menjadi kokoh dan kuat.

Jadi terus saja menulis, jangan hanya beberapa puisi kau menepuk dada, jangan hanya satu antologi kau memperlihatkan gedungmu. Sementara fisikmu belum permanen. Jadi kuatkan pondasimu dalam membangun namamu.

rasa berkecamuk dan kesabaran

Sarapan Pagi,
Ada yang berkecamuk dalam dada setiap insan dan ada AC pendingin untuk meredam. Keduanya bermanfaat. Namun tidak slalu keduanya bermanfaat bagi diri yang punya dada itu. Beda sekali dengan Jend. Soedirman dia menyimpan rasa berkecamuknya dengan AC pendingin tadi. Kesabarannyalah yang ia gunakan utuk berkecamuknya perasaan untuk menuju cita-citanya. Lain hanya dengan Chaerul Saleh pemuda yang bergelora untuk segera memerdekakan Indonesia sehingga ia menculik pemimpin besar Soekarno-Hatta. Apa yang berkecamuk dalam dadanya segera ia implementasikan, apa pun resikonya.
Agaknya keduanya itu (rasa berkecamuk dan kesabaran) sama-sama memiliki nilai plus dan minus. Jadi perlu saringan utuk keduanya itu. AC pendingin dalam dada kita bisa menjadi alat kontrol rasa berkecamuk itu, dan Rasa berkecamuk dapat menjadi pemacu untuk berani mencoba, berbuat. dan nyata.

Lumbung Puisi dan Sejarah Mataram

Lumbung Puisi dan Sejarah Mataram

Kenapa Lumbung Puisi di Indramayu? Seperti juga prajurit-prajurit Mataram yang tak berani pulang ke Metaram. Indramayu juga milik Mataram. Karena itu dari pada pulang dengan ketakutan hukuman karena kalah perang, atau karena Sultan tidak tahu medan perang. Lebih baik di Indramayu memelihara lumbung-lumbung padi dan bercocok tanam di Indramayu.
Rd. Aria Wiralodra putra Kepala Perdikan daerah Kedu Bagelen adalah utusan dan mandat langsung Sultan Agung Mataram untuk membabad alas muara Cimanuk dan sekitarnya sebagai daerah bawahan Mataram sekaligus pada saat Penyerangan Batavia daerah ini dijadikan Lumbung Padi.
Jadi Lumbung Puisi layak dan memiliki nilai sajarah berkaitan dengan sejarah Mataram. Kenapa? Karena Lumbung Puisi juga sebaian ikut menjadi nafas sejarah sastra Mataram (Indonesia pada saat itu) dimana kebudayaan Mataram dibawa ke daerah indramayu yang sampai saat ini masih digunakan. Seperti acara-acara adat Sedekah Bumi, Nadran, Mapag Sri dll.
Kok Lumbung Puisi dengan penyerbuan Mataram ke Batavia terkait. Ya jelas karena Lumbung puisi diinspirasi oleh Lumbung di daerah ini. (rg bagus warsono)

Rabu, 31 Januari 2018

Pikirkan lagi jika mau bersamaku

Pikirkan lagi jika mau bersamaku
tak ada target dalam berkreativitas, aku hanya mengisi hidup agar tidak percuma
aku akan menjajakan daganganku di tempat yang jarang dilewati orang sampai laku, dan pembeli pertamaku itu adalah orang yang tidak sekadar membeli karena kasihan padaku.
aku akan membuat ‘rumahku yang sederhana , dan tak ada ‘kamar untuk memisah ruang karena rumahku rumahmu juga
Lalu pembaca mecarimu di hutan penyair, karena tulisamu yang yentrik menggigit, kutemukan dirimu di sampul belakang dalam. Kau terseyum menertawai pembaca , “kenapa sudi membaca tulisahku yang norak” katanya. Sebetar kemudian buku itu pandang lalu dibuang dan diambil kembali.
Aku dan kamu berada di Penyair Pinggiran berarti ada dipinggir, dipinggir api belum terbakar, dipinggir sumur belum kecemplug, dipinggir laut berarti sudah kecipratan air, dipinggir hutan berarti sudah mejual kayu, dipinggir istana berarti macari putri/pangeran istana, dan dipinggir gedung dewan berarti sedang mejual kretek
pikirkan lagi jika mau bersamaku, aku takut masa depanmu yang cemerlang menjadi tak beruntung seperti aku(rg bagus warsono)

Sabtu, 17 Juni 2017

Sastrawan itu Bumbu Masak

Segenap penyair/sastrawan Indonesia dimanapun berada, mohon maaf lahir bathin , sebetulnya kita semua hanya bumbu masak, yang punya ciri, khasiat, aroma, faedah, dan rasa yang membuat masakan Indonesia beraneka warna. Masing-masing memiliki keutamaannya sendiri tetapi juga rasa tersendiri. Kita hanya bagian dari sebuah masakan yang sedap. Apalah artinya sebuah kunir (aku ini) atau sebuah kemiri (aku ini) tanpa bumbu yang lain masakan menjadi tak sedap. Hanya karena jahe merasa lebih unggul saja, padahal di tempat lain bawang putih merasa lebih berkhasiat, atau kemiri merasa dibutuhkan, Akan tetapi temu ireng yang terkucil sewaktu-waktu pun dicari dimana berada. Itulah sastrawan Indonesia ibarat bumbu masak. (Rg Bagus Warsono)

Jumat, 18 November 2016

Tentang Sakarepmu (di grup fb sastra Sakarepmu)

Aku membaca banyak karya puisi yang sangat dasyat di grup sampah ini. Sayang sekali aku tak dapat berbuat banyak karena keterbatasanku. Di sinilah letak ironis sastra Indonesia. Dimana banyak karya apik justru tak tersentuh bahkan penciptanya pun tak disenggol-senggol oleh mereka yang memiliki 'kekuasaan dalam sastra Indonesia.

hanya dapat memberi puisi

Hanya karena kecintaan saja terhadap membaca. Puisi menjadi media yang asyik untuk dibaca, karena memiliki makna yang begitu banyak untuk diresapi, bahkan kadang menjadi kata semangat hidup yang dalam kata lain puisi itu hidup. Ia bisa menjadi 'kawan kemana pergi.
Demikian kami (Wadie Maharief, Heru Mugiarso, Thomas Haryanto Soekiran, Artvelo Sugiarto, Anggoro Suprapto, Wardjito Soeharso) hanya dapat memberi puisi sebagai dharma bakti kami pada Ibu Pertiwi.

Selasa, 15 November 2016

Dimana Sekolah Puisi?

Dimana Sekolah Puisi?
Jika Mas Thomas Haryanto Soekiran seniman Purworejo pernah belajar di Bagong Koessudiardjo koreografer kenamaan Indonesia karena Bagong Koessudiardjo mendirikan padepokan. Padepokan sama dengan tempat pendidikan atau sekolah. Sebuah pendidikan tempat menggebleng para cantriknya di bidang tari dan teater. Sayang WS Rendra hanya mendirikan Bengkel Puisi Rendra bukan sekolah. Bengkel ibarat tempat kerja, dalam hal ini tempat kerja seniman , termasuk penyair . Di Jogya pernah ada guru puisi (penyair) dengan alumnus penyair-penyair terkenal seperti Imam Budi Santosa, Emha Ainun Nadjib, Linus Suryadi AG, dan Korrie Layun Rampan guru itu adalah penyair sepuh Umbu Landu Paranggi. Dan mungkin juga banyak penyair Bali belajar pada beliau karena tahun 1975 Umbu Landu Paranggi menetap di Bali. Kemudian banyak pula penyair muda terkenal lain berguru pada "Gus" Zaenal Arifin Thoha seperti Joni Ariadinata dan Muhidin M. Sayang Gus Zaenal sebagai penerus guru Umbu Landu Paranggi malah lebih dahulu dipanggil Yang Maha Esa. Berangkat dari perjalanan ini ternyata tak ada sekolah puisi kecuali berguru. atau memberi pengakuan guru pada seseorang atas buah pikirannya baik tatap muka maupun membaca tulisannya. jadi dimana sekolah puisi? (rg bagus, 16-11-16)

Siapa Berhak Menjadi Penyair ? : Handrawan Nadesul

SIAPA BERHAK MENJADI PENYAIR?
Kemarin saya mengirimkan dua kumpulan puisi saya: Sajak-sajak Pergi Berjalan Jauh, dan Forget Me Not kepada sahabat RgBagus Warsono di Indramayu sekadar silaturahmi, dan tahu kalau sahabat yang satu ini menaruh perhatian besar terhadap perpuisian, dan sastra umumnya, sekaligus juga penyair.
Terhadap sesama penyair seperti ada kerinduan untuk menyatukan diri, ada sikap yang sama terhadap keindahan bernama kebenaran. Punya kepekaan yang tajam membaca situasi kondisi alam dan lingkungan. Penyair merasakan, menemukan, mampu tersentuh lebih awal ihwal segala sesuatu yang menggelisahkan dalam hidup dan kehidupan yang orang lain belum menangkapnya.
Mas Bagus dalam ungkapan di postingnya mempertanyakan latar belakang penyair, dan penulis puisi kita yang beraneka, setelah membaca cover kumpulan puisi lawas saya Sajak-sajak Pergi Berjalan Jauh tertulis "Sekolahnya Dokter, Menulisnya Puisi"
Ya saya menyukai puisi sejak masih di sekolah menengah mula, dan berlanjut hingga hari ini setelah pensiunan jadi dokter, selama kurun waktu lebih 50 tahun. Tidak ada yang aneh, karena selama kita menyukai, dan hidup rasanya kurang basah tanpa sastra dan puisi, maka lanjutkanlah berpuisi, sekurangnya mengapresiasi. Kalau bisa hidup tanpa menulis puisi, tinggalkan saja menulis puisi. Namun bila terasa hidup serasa kering tanpa menulis puisi, teruslah menulis puisi. Saya merasakan yang terakhir ini. Ingin terus menulis puisi, entah seperti apa pun puisinya.
Kepada Mas Bagus, saya sudah lumayan lama melanglang dunia perpuisian bukan di papan atas, sekadar menjalani saja. Posisi, status, label tidak penting buat saya, lebih penting apakah puisi yang pernah saya tulis memberi arti, punya makna, dan membangkitkan keindahan bagi yang membacanya.
Salam puisi,
HANDRAWAN NADESUL

Rabu, 16 September 2015

Puisi tak pernah kemarau.

Puisi tak pernah kemarau.
Temanku di Semarang Wardjito Soeharso, penyair, berusaha terus menghidupi puisi , begitu juga penyair Heru Mugiarso, ia telah memberi gagasan (PMK) seakan menyebar benih puisi. Lain lagi dalam sebuah kesempatan penyair Syarifuddin Arifin Dua senantiasa mengajak yang muda-muda utuk terus memelihara budaya menulis puisi. Sedang penyair intelektual Bambang Widiatmoko ada saja slalu gagasannya setiap tahunnya. Begitu pula Mas Bambang Eka Prasetya begitu rajinnya ia membimbing dan menjalin persahabatan terhadap para pecinta puisi di Tanah Air. Sedangkan Sosiawan Leak terus berkiprah tak henti menginventaris puisi hingga 'PMK V sekarang. Di tempat lainnya di seberang pulau penyair Arsyad Indradi dan Ibramsyah Amandit adalah adalah orang tua yang patut mendapat tauladan karena kepeduliannya membina penyair muda. Sahabatku Wayan Jengki Sunarta, di Bali tak henti berkreatif. Teman-teman di Tangerang barusan selenggarakan silaturahmi penyair nusantara yang dimotori perempuan penyair Rini Intama, dan penyair Trip Umiuki. Nun jauh di sana di kupang penyair Dedari Rsia tengah rajin menghidupkan puisi dalam kemasan tersendiri. Banyak juga penyair yang membikin hujan puisi seperti pemyair Kurniawan Junaedhie. Di Serang Toto S Toto St Radik mungkin tengah akan membuat kejutan berikutnya. Sahabatku Ali Arsy adalah penyair produktif. Sedang sukses Mas Sofyan RH Zaid membuat semangat penyair lainnya. Tentu saja masih banyak penjaga puisi lain, Acep Syahril kini punya koran sendiri agar dapat menampung hujan puisi. Wah pendek kata puisi tak pernah kemarau. Salam sastra Indonesia.

Selasa, 28 April 2015

Apa kata Ki Tapa Kelana :



Sebagai Antplogi Puisi bersama, buku Lumbung Puisi ini dapat menjadi contoh yang baik dan layak untuk dimiliki dan dijadikan buku pelengkap perpustakaan di manapun. Selain disusun secara apik, buku ini terdaftar secara nasional dan internasional. Gagasan Himpunan Masyarakat Gemar Membaca (HMGM) yang berpusat di Indramayu ini tentu saja dapat menjadi potret perkembangan sastra di Indonesia dan kebanggaan masyarakat Indramayu.
Nurochman Sudibyo, Ys. 29-04-2015

Jumat, 10 April 2015

Apa kata Sofyan RH. Zaid tentang Lumbung Puisi Jilid III



Sofyan RH. Zaid
Melanjutkan Sejarah
   Rg Bagus Warsono adalah salah satu -dari sedikit orang- yang sadar pentingnya dokumentasi (sastra) untuk berlangsungnya sebuah sejarah, sebab –meminjam kalimat Maman S Mahayana- lupa dokumentasi, maka tuna sejarah.
Kesadaran tersebut diwujudkan dengan cara mengundang para penyair indonesia mengirimkan puisi dengan tema tertentu dan diseleksi, kemudian secara mandiri dikumpul-terbitkan dalam satu buku tiap tahunnya. Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia jilid I dan II adalah buku yang telah beredar di khalayak, selanjutnya jilid III ini.
   Terlepas dari buku tersebut sebagai dokumentasi sastra atau bukan, upayanya layak mendapat apresiasi yang tinggi. Sebagaimana lazimnya buku dokumentasi sastra yang lahir dan menjadi perdebatan yang hangat, pro dan kontra tidak bisa dihindari; siapa nama-nama yang masuk dan siapa yang melakukan dokumentasi. Namun hal itu merupakan sesuatu yang wajar sebagai sebuah dinamika, pertanda sastra masih ada.
    Hanya di antara riuh perdebatan dan kritik pedas itu, kita kadang lupa bahwa H.B Jassin sekalipun yang dikenal sebagai kritikus adalah sosok yang sabar melakukan kerja dokumentasi sepanjang hidupnya. Bayangkan jika H.B Jassin tidak pernah ada dalam sejarah sastra kita. Itulah kenapa A Teeuw sangat yakin bahwa; kerja pertama seorang kritikus sastra adalah dokumentasi karya.
   Secara jujur, saya ucapkan terima kasih kepada Rg Bagus Warsono atas perjuangan dan sumbangsinya bagi sejarah, selebihnya biarlah sastra sebagai benda hidup budaya yang menunjukkan siapa diri kita sebenarnya terus berjalan dan berubah, seperti perempuan dan cuaca. “Pendek kata, saya tidak perlu ambil pusing mengenai penilaian yang akan diberikan masa depan pada hasil karya saya, karena saya tidak dapat berbuat apapun terhadap penilain itu,” kata Jean-Paul Sartre.
11 April 2015


Apa Kata Penyair Hasan Bisri BFC tentang Lumbung Puisi Jilid III



Hasan Bisri BFC
Adakah yang lebih menarik dari lekuk dada perempuan sehabis mandi di sungai? Ataukah betis kaki yang menyerupai ranum batang padi yang menyembul dari kain batik? Ataukah bulir keringat yang mengalir dari pipi dan meleleh hingga ke jenjang  leher putih?
Adakah yang lebih mengundang simpati dari keramahan, ketekunan dan ketabahan perempuan yang menjaring matahari di sawah-ladang dan pasar setiap pagi? Atau yang menyunggi harapan dan cita-cita di kepalanya karena fitrah sebagai manusia yang tak bisa dielakinya? Atau perempuan yang kehilangan sebagian peran suami sehingga di lengannya bergayut beban kerja bagi buah hati?
Perempuan desa, ia sebagai personal ataupun makhluk sosial senantiasa menjadi sumber inspirasi dan obyek puisi yang tak habis-habisnya. Apalagi dalam perspektif kekinian: peran perempuan gampang bergeser, atau bahkan keluar dari jalur yang sudah berakar. Dari sektor domestik ke sektor publik. Adakah itu sebuah kesadaran ataukah hasil dari keterpaksaan? Maka  kita akan segera membaca: bondongan perempuan urban. Ramai-ramai menjadi tki. Tak malu-malu merambah dunia prostitusi. Tak heran menjadi perempuan di simpang jalan: perempuan desa yang berubah penampilan menjadi perempuan kota.
Maka, betapa penting dan mendesak, ketika panitia Himpunan Masyarakat Gemar Membaca Indonesiaa mengusung tema “Perempuan Desa”. Ia akan menjadi semacam deteksi atau bahkan peringatan dini, sejauh mana kiprah sosial perempuan desa kiwari. Fenomena yang patut disukuri ataukah justru harus diwaspadai! Wallaahu a’lam bishshowab
Jakarta, 10 April 2015

Apa Kata Penyair Dyah Setyowati tentang Lumbung Puisi Jilid III



 Dyah Setyowati
“Perempuan desa,dg rona pipi yg alami , santun dan sederhana pun mampu ikut menopang tiang keluarga , tangan trampilnya tangkas memangkas padi bunting, meronce jaring  ,membatik dlsb. Perempuan Desa jngn cuma ingin kerja ke manca. Semoga perempuan ,kartini kita tak mudah terkena budaya cosmo , mari wanitaku tetaplah jadi panutan ,sebab dari rahimmu nanti lahirlah tunas bangsa yg berkwalitas . Perempuan Desa miss u”

Apa Kata Budhi Setyawan tentang Lumbung Puisi Jilid III



Budhi Setyawan
Bertakzim pada Kesederhanaan
Perempuan desa. Dua kata ini dapat dikatakan punya hakikat yang sama terhadap kehidupan, yaitu menjadi ibu. Perempuan diharapkan akan menjadi ibu kehidupan, ibu bagi anak-anaknya. Demikian juga desa, sebuah wilayah hunian awal manusia yang dominan tergantung pada kegiatan dengan alam lingkungan primer seperti kebun, sawah, hutan, sungai, laut, dan lain-lain. Desa adalah ibu bagi kota-kota, yang terus bertumbuh dan kemudian banyak kota yang lupa pada desa.
Kenapa kesederhanaan dipertanyakan? Jelas ini harus lebih digaungkan ketika zaman mulai dirasuki berbagai wajah manis kemajuan teknologi. Tangan semampai teknologi yang gemulai, yang sebenarnya lahir dari kapitalisme, telah menyulap arus keseharian usia manusia ke jalan konsumerisme. Dengan berbagai iklan dan propaganda bergerak cepat ke setiap sudut kehidupan manusia. Perempuan yang kodratinya menyukai materi, maka dapat menjadi sasaran empuk tangan-tangan manis teknologi itu.
Kesederhanaan diharapkan masih ada pada perempuan yang ibu, yang mengolah putaran kehidupan. Apa jadinya jika makin banyak yang mengejar kemilau hal yang sesungguhnya sampingan dan melupakan sesuatu yang pokok dan utama. Maka diperlukan untuk melihat dan memupuk lagi rasa santun kepada alam, empati pada orang lain, kecintaan sosial dan kebersamaan, gigih, menyegerakan tugas pokok, dan lain-lain. Dengan terpeliharanya kesederhanaan sebagai manusia, diharapkan menjadi kesederhanaan yang akan menjaga masa depan bagi kemanusiaan.