Memori pasar koran bundaran air mancur Banjarmasin tahun 1981. Foto dari kiri : Rusdi Aryadi, Subli Yani, Sukma F, Abd. Hamid, Tajuddin Noor Gani, Noor Aini Cahya Kairani (alm), yang jongkok : YS. Agus Suseno, Samsuni Sarman.Giat sastra Tahun 1981 di Bjm KalselDi depan RRI Nusantara III Bjm Kalimantan Selatan, Foto para penyair Kalsel sehabis dari Pasar Koran Bundaran Air Mancur menuju ke RRI Nusantara III jalan kaki, Foto dok Abdul Hamid di ambil Tahun 1981
adalah majalah sastra net bagi rakyat Indonesia yang memerlukan sastra sebagai bagian kehidupan indah di Indonesia. Untuk segala umur pecinta sastra di Tanah Air. Pendiri Agus Warsono (Rg Bagus Warsono/Masagus) didirikan 2 Januari 2011, Redaksi Alamanda Merah 6 Citra Dharma Ayu Margadadi, Redaktur sastra Agus Warsono, Koresponden Rusiano Oktoral Firmansyah (Jakarta), Abdurachman M(Yogyakarya).
TEKS SULUH
Tampilkan postingan dengan label peristiwa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label peristiwa. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 20 Februari 2021
Giat sastra Tahun 1981 di Bjm Kalsel dan Tahun 2021 giat sastra di Palangka Raya Kalimantan Tengah
Giat sastra dari Tahun 1981 sd 2011 di Banjarmasin Kalimantan Selatan, 2012 sd 2018 stagnan baru pada akhir Desember 2019 kembali bersastra sd 2021.
Rentang waktu stagnan cukup lama saya waktu itu kerja di lapangan di Muara Teweh Kab Barito Utara Kalteng, Martapura Kab Banjar Kalimantan Selatan dan Kuala Kapuas Kab Kapuas Kalimantan Tengah. Sesudah enggak kerja di lapangan saya merawat saudara yg sakit hingga beliau wafat nah kenapa baru Tahun 2019 baru saya bebas merdeka. Bagaimanapun saya merindukan kembali ke habitat lama sebagai penyair hanya tempatnya yg berbeda dulu di Banjarmasin, sekarang di Palangka Raya.
Panggilan jiwa seni tak bisa di tawar lagi ini sudah menjadi bagian dari perjalanan hidup selama beberapa dekade. Makanya kenapa saya sering ke Kindai Seni Kreatif Banjarbaru Kalimantan Selatan, ini sebagai adaptasi juga ke Akademi Bangku Panjang Mingguraya Banjarbaru Kalimantan Selatan
Palangka Raya 20/02 - 2021
Rabu, 18 September 2019
Perempuan Penyair Indonesia Hilda Winar Jiarahi sahabatnya Utuy Tatang Sontani di Moskow
Pada agustus 2019 Perempuan Penyair Indonesia Hilda Winar berkesempatan mendapat undangan di Rusia, Kesempatan ini ia gunakan untuk berjiarah sahabatnya penyair Indonesia Utuy Tatang Sontani di Moskow, berikut ceritanya.
Mitino
Ini pemakaman tak ada bandingannya di tanah air. Kalau kita tanya orang kampung berapa luasnya pasti dijawab segede alaihim!
Iya juga sih, dengkul saya rasa hampir copot berjalan sampai ke ujung jalan. Jauuuuuuh... mentok baru belok kanan menuju blok muslim.
A1 tempat dia berbaring, Utuy Tatang Sontani, seorang sastrawan eksil.
Utuy, karena perubahan iklim politik terpaksa jadi eksil dan terdampar di moskow.
Utuy kelahiran cianjur, seorang sastrawan ternama di masanya. Saya, yang orang minang tapi lama di bandung lalu merasa jadi orang sunda merasa punya hubungan khusus dengan Utuy maka berusaha menziarahinya. Kami sama sama orang Sunda.
Saya pergi ke Rusia di awal agustus, saat luka luka usai pilpres belum kering, hoax bertebar disana sini yang bisa saja menjadi abses dan pecah berdarah darah. Tentu ada rasa takut untuk pergi, takut tak bisa kembali.
Rg Bagus Warsono menyaksikan :
Nun jauh di sana Utuy Tatang Sontani berbaring. Tak ada satu sahabat apalagi rakyat Indonesia menjiarahinya. Jauh jarak jauh kemungkinan. Siapa peduli. Namun Allah Maha Bijaksana , batu nisan itu yg biasa dihinggapi serangga atas kemurahannya mengantarkan sahabatnya unt datang mengunjunginya. Aku lihat Kang Utuy Tatang Sontani tersenyum. Telah kedatangan orang tua Nyai sahabatnya, Hilda Winar, tertatih tatih menemukannya diantara ribuan yg berbaring. (rg bagus warsono)
Mitino
Ini pemakaman tak ada bandingannya di tanah air. Kalau kita tanya orang kampung berapa luasnya pasti dijawab segede alaihim!
Iya juga sih, dengkul saya rasa hampir copot berjalan sampai ke ujung jalan. Jauuuuuuh... mentok baru belok kanan menuju blok muslim.
A1 tempat dia berbaring, Utuy Tatang Sontani, seorang sastrawan eksil.
Utuy, karena perubahan iklim politik terpaksa jadi eksil dan terdampar di moskow.
Utuy kelahiran cianjur, seorang sastrawan ternama di masanya. Saya, yang orang minang tapi lama di bandung lalu merasa jadi orang sunda merasa punya hubungan khusus dengan Utuy maka berusaha menziarahinya. Kami sama sama orang Sunda.
Saya pergi ke Rusia di awal agustus, saat luka luka usai pilpres belum kering, hoax bertebar disana sini yang bisa saja menjadi abses dan pecah berdarah darah. Tentu ada rasa takut untuk pergi, takut tak bisa kembali.
Rg Bagus Warsono menyaksikan :
Nun jauh di sana Utuy Tatang Sontani berbaring. Tak ada satu sahabat apalagi rakyat Indonesia menjiarahinya. Jauh jarak jauh kemungkinan. Siapa peduli. Namun Allah Maha Bijaksana , batu nisan itu yg biasa dihinggapi serangga atas kemurahannya mengantarkan sahabatnya unt datang mengunjunginya. Aku lihat Kang Utuy Tatang Sontani tersenyum. Telah kedatangan orang tua Nyai sahabatnya, Hilda Winar, tertatih tatih menemukannya diantara ribuan yg berbaring. (rg bagus warsono)
Minggu, 12 Oktober 2014
Sambut Antologi Nasional Memo untuk Presiden
Dunia sastra Indonesia kembali digebrak dengan segera diluncurkan Antologi Puisi yang diberinama Memo untuk Presiden. Siapa lagi kalau bukan Leak Sosiawan , sastrawan asal Solo yang pada 2013 sukses menggagas Puisi Menolak Korupsi. Memo untuk Presiden dimaksudkan untuk mencermati gonjang-ganjing dunia politik nasional serta suksesi kepemimpinan nasional yang banyak menyita perhatian. Leak tidak bermaksud untuk membawa sastrawan ke kancah politik, namun hanyalah mengajak sastrawan Indonesia memberi kontribusi dalam bidangnya (bersyair) sesuai dengan mementum tersebut. Lebih dari itu Memo untuk Presiden sebagai penyejuk masyarakat pembaca sastra di Tanah Air untuk mengapresiasi karya sastra dalam sorotan pada Presiden. Walau pun begitu tetap pada jati diri puisi itu yakni pembawaannya yang 'terselubung' makna disamping nilai seni.
Antologi puisi Memo untuk Presiden disamping Leak Sosiawan sebagai penggeraknya juga didukung banyak tokoh sastrawan Indonesia saat ini seperti, Akhmad Sekhu dari Jakarta, Eka Pradhaning dari Magelang, Rg. Bagus warsono dari Indramayu, Dyah Kencono Puspito Dewi dari Bekasi, Acep Syahril dari Jambi, Fransisca Ambar Kristiani dari Semarang, Syarifudin Arifin dari Padang, Nurochman Sudibyo dari Tegal, Rini Ganefa, dari Jakarta, Ali Syamsudin Arsi dari Banjarmasin, Hasan Bisri Bfc dari Bogor, dan penyair berbakat dari Cilegon, Muhamad Rois Rinaldi serta banyak lagi sastrawan dari berbagai daerah di Indonesia.
Lebih dari 200 puisi Memo untuk Presiden dari 196 penyair mengisi buku antologi tersebut. Kemungkinan banyak lagi 'memo' puisi yang akan mengisi buku selanjutnya mengingat banyak sastrawan ingin turut serta dalam kegiatan antologi bersama ini.
Peluncuran buku ini pertama kali akan dilaksanakan di Blitar di Taman Makam Pahlawan Proklamator Soekarno pada 1 Nofember 2014 yang akan datang.
Antologi puisi Memo untuk Presiden disamping Leak Sosiawan sebagai penggeraknya juga didukung banyak tokoh sastrawan Indonesia saat ini seperti, Akhmad Sekhu dari Jakarta, Eka Pradhaning dari Magelang, Rg. Bagus warsono dari Indramayu, Dyah Kencono Puspito Dewi dari Bekasi, Acep Syahril dari Jambi, Fransisca Ambar Kristiani dari Semarang, Syarifudin Arifin dari Padang, Nurochman Sudibyo dari Tegal, Rini Ganefa, dari Jakarta, Ali Syamsudin Arsi dari Banjarmasin, Hasan Bisri Bfc dari Bogor, dan penyair berbakat dari Cilegon, Muhamad Rois Rinaldi serta banyak lagi sastrawan dari berbagai daerah di Indonesia.
Lebih dari 200 puisi Memo untuk Presiden dari 196 penyair mengisi buku antologi tersebut. Kemungkinan banyak lagi 'memo' puisi yang akan mengisi buku selanjutnya mengingat banyak sastrawan ingin turut serta dalam kegiatan antologi bersama ini.
Peluncuran buku ini pertama kali akan dilaksanakan di Blitar di Taman Makam Pahlawan Proklamator Soekarno pada 1 Nofember 2014 yang akan datang.
Jumat, 07 Maret 2014
Kamis, 23 Januari 2014
Katrin Bandel
Katrin Bandel
Dr. phil., Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta (Java, Indonesien)
Promotion mit einer Arbeit über "Medizin und Magie in der modernen indonesischen Prosa" (Universität Hamburg 2004).
Publikationen zur indonesischen Literatur und Kultur.
Dozentin an der Universitas Sanata Dharma (Religions- und Kulturwissenschaften).
Übersetzungstätigkeit.
Nama-nama yang Hilang by Katrin Bandel
KBR68H, Jakarta - Kemunculan buku berjudul 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh menuai polemik. Buku itu mendaftar 33 sastrawan paling berpengaruh menurut Tim 8 Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin sejak tahun 1900.
Pusat Dokumentasi Sastra itu sebelumnya membentuk delapan juri untuk menentukan daftar sastrawan tersebut. Delapan juri itu adalah Jamal D Rahman, Acep Zamzam Noor, Agus R Sarjono, Ahmad Gaus, Berthold Damshäuser, Joni Ariadinata, Maman S Mahayana, dan Nenden Lilis Aisyah. Sumber polemik pengkanonan itu tidak hanya ada pada nama Denny JA. Kritikus sastra Indonesia asal Jerman Katrin Bandel memaparkan kejanggalan-kejanggalan 33 versi dan proses penjaringannya pada KBR68H.
Sasaran kritik paling keras dari 33 nama itu adalah Denny JA yang masuk karena karya Atas Nama Cintayang (2012). Tim Juri menilai Denny JA berpengaruh karena melahirkan genre puisi esai. Tim juri menilai puisi ini kini menjadi salah satu tren sastra mutakhir yang sudah direkam dalam kurang lebih sepuluh buku.
Katrin menilai tidak ada pertanggungjawaban akademis terhadap pernyataan ini. Doktor kritik sastra itu menilai pemunculan genre sastra baru itu mengada-ada.
“Genre puisi esai. Itu kalau sejauh yang saya amati, puisi yang ditulis atas nama genre itu adalah puisi naratif; puisi yang agak panjang, bernarasi” paparnya. Puisi naratif Denny JA tidak beda jauh dalam bentuk dengan puisi serupa karya Rendra dan Linus Suryadi.
“Bedanya hanya diberi catatan kaki yang menurut pengamatan saya fungsinya tidak begitu jelas dan tidak benar-benar dibutuhkan. Jadi bagi saya itu nampak di situ ada usaha untuk sengaja membuat genre baru supaya nampak ada sesuatu yang heboh padahal tidak ada yang benar-benar baru di situ,” jelas perempuan yang tinggal di Yogyakarta tersebut.
Kemampuan Dewan Juri untuk memilih secara objektif dan beralasan juga memunculkan pertanyaan besar. Dari 8 nama dewan juri, Katrin tidak menemukan satupun yang mewakili unsur kritikus sastra. Padahal, Tim 8 mengklaim buku mengenai 33 sastrawan paling berpengaruh itu dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
“Saya tidak melihat ada banyak akademisi yang bisa membuat buku dengan kompetensi membuat buku semacam itu dengan penjelasan akademis yang konon ada di situ. Mayoritas (dewan juri.red) sastrawan,” ujar kritikus sastra yang mendapat gelas Doktor dari Universitas Hamburg, Jerman itu.
Meskipun ada nama Berthold Damshäuser, Katrin menilai Berthold tetap tidak memiliki kompetensi kritik sastra. “Berthold Damshäuser kan pengajar di sebuah jurusan yang khusus mengenai penerjemahan, jadi dia asli penerjemahan dan bukan kritikus sastra sebetulnya. Kelihatannya tidak ada satupun kritikus sastra di situ,” katanya.
Keterlibatan para sastrawan aktif dalam penilaian itu juga menimbulkan keraguan objektivitas penilaian. Pertama, Katrin beralasan para sastrawan tidak terdidik secara akademis untuk menjadi kritikus sastra.
“Biasanya ini sekedar kegiatan tambahan dan tidak mendalami benar-benar secara akademis bagaimana cara melakukan kritik sastra, mempelajari teori sastra dan sebagainya sehingga saya merasa ada kejanggalan di situ,” pungkasnya.
Kedua, status sebagai sastrawan aktif membuat mereka tidak bebas dari kepentingan-kepentingan. “Tentu saja sebagai sastrawan yang terlibat di dunia sastra Indonesia mereka punya kepentingan-kepentingan sendiri sehingga objektifitvasnya bisa diragukan, atas dasar apa mereka memilih sastrawan-sastrawan yang berpengaruh,” ujar Katrin.
Nama-nama yang Hilang
"Dalam daftar 33 nama sastrawan yang paling berpengaruh memang bertebaran sejumlah nama-nama sastrawan dari berbagai golongan mulai sastrawan buruh Wowok Hesti Prabowo hingga Taufiq Ismail yang begitu membenci sosialisme," Daftar nama itu juga memasukan sastrawan yang tidak mendapat pengakuan resmi sejarah sastra nasional seperti Kwee Tek Hoay. Banyak bermunculan pertanyaan-pertanyaan di media sosial soal kenapa nama-nama tertentu tidak dimasukan dalam daftar yang dianggap berpengaruh.
Katrin memberi catatan nama-nama sastrawan yang berpengaruh besar seperti hilang begitu saja. “Seperti misalnya Wiji Tukul yang jelas berpengaruh,” kata Katrin mempertanyakan nama penyair yang hilang diculik Orde Baru tersebut. Meskipun nama Wowok Hesti Prabowo masuk untuk mewakili sastra buruh, Katrin menilai pengaruh Wiji Tukul jauh lebih kuat dalam dunia sastra Indonesia.
Dengan kejanggalan-kejanggalan tersebut, kritikus sastra Katrin Bandel mempertanyakan apakah ada motif politik dalam mengkanonkan sejumlah nama tersebut. Terlebih, pameran buku Frankfurt 2014 akan segera berlangsung. Katrin mempertanyakan apakah penerbitan ini akan menjadi alasan untuk menerjemahkan karya tertentu dan merepresentasikannya di dunia internasional sebagai perwakilan sastra Indonesia.
Selain itu, Katrin meminta masyarakat mewaspadai jika penerbitan buku ini menjadi dasar dalam pengajaran sastra Indonesia oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Menurutnya, gerakan menentang versi tersebut perlu mendapat dukungan jika ternyata penerbitan buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh menjadi dasar pembuatan kanon sastra baru.
Dr. phil., Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta (Java, Indonesien)
Promotion mit einer Arbeit über "Medizin und Magie in der modernen indonesischen Prosa" (Universität Hamburg 2004).
Publikationen zur indonesischen Literatur und Kultur.
Dozentin an der Universitas Sanata Dharma (Religions- und Kulturwissenschaften).
Übersetzungstätigkeit.
KBR68H, Jakarta - Kemunculan buku berjudul 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh menuai polemik. Buku itu mendaftar 33 sastrawan paling berpengaruh menurut Tim 8 Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin sejak tahun 1900.
Pusat Dokumentasi Sastra itu sebelumnya membentuk delapan juri untuk menentukan daftar sastrawan tersebut. Delapan juri itu adalah Jamal D Rahman, Acep Zamzam Noor, Agus R Sarjono, Ahmad Gaus, Berthold Damshäuser, Joni Ariadinata, Maman S Mahayana, dan Nenden Lilis Aisyah. Sumber polemik pengkanonan itu tidak hanya ada pada nama Denny JA. Kritikus sastra Indonesia asal Jerman Katrin Bandel memaparkan kejanggalan-kejanggalan 33 versi dan proses penjaringannya pada KBR68H.
Sasaran kritik paling keras dari 33 nama itu adalah Denny JA yang masuk karena karya Atas Nama Cintayang (2012). Tim Juri menilai Denny JA berpengaruh karena melahirkan genre puisi esai. Tim juri menilai puisi ini kini menjadi salah satu tren sastra mutakhir yang sudah direkam dalam kurang lebih sepuluh buku.
Katrin menilai tidak ada pertanggungjawaban akademis terhadap pernyataan ini. Doktor kritik sastra itu menilai pemunculan genre sastra baru itu mengada-ada.
“Genre puisi esai. Itu kalau sejauh yang saya amati, puisi yang ditulis atas nama genre itu adalah puisi naratif; puisi yang agak panjang, bernarasi” paparnya. Puisi naratif Denny JA tidak beda jauh dalam bentuk dengan puisi serupa karya Rendra dan Linus Suryadi.
“Bedanya hanya diberi catatan kaki yang menurut pengamatan saya fungsinya tidak begitu jelas dan tidak benar-benar dibutuhkan. Jadi bagi saya itu nampak di situ ada usaha untuk sengaja membuat genre baru supaya nampak ada sesuatu yang heboh padahal tidak ada yang benar-benar baru di situ,” jelas perempuan yang tinggal di Yogyakarta tersebut.
Kemampuan Dewan Juri untuk memilih secara objektif dan beralasan juga memunculkan pertanyaan besar. Dari 8 nama dewan juri, Katrin tidak menemukan satupun yang mewakili unsur kritikus sastra. Padahal, Tim 8 mengklaim buku mengenai 33 sastrawan paling berpengaruh itu dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
“Saya tidak melihat ada banyak akademisi yang bisa membuat buku dengan kompetensi membuat buku semacam itu dengan penjelasan akademis yang konon ada di situ. Mayoritas (dewan juri.red) sastrawan,” ujar kritikus sastra yang mendapat gelas Doktor dari Universitas Hamburg, Jerman itu.
Meskipun ada nama Berthold Damshäuser, Katrin menilai Berthold tetap tidak memiliki kompetensi kritik sastra. “Berthold Damshäuser kan pengajar di sebuah jurusan yang khusus mengenai penerjemahan, jadi dia asli penerjemahan dan bukan kritikus sastra sebetulnya. Kelihatannya tidak ada satupun kritikus sastra di situ,” katanya.
Keterlibatan para sastrawan aktif dalam penilaian itu juga menimbulkan keraguan objektivitas penilaian. Pertama, Katrin beralasan para sastrawan tidak terdidik secara akademis untuk menjadi kritikus sastra.
“Biasanya ini sekedar kegiatan tambahan dan tidak mendalami benar-benar secara akademis bagaimana cara melakukan kritik sastra, mempelajari teori sastra dan sebagainya sehingga saya merasa ada kejanggalan di situ,” pungkasnya.
Kedua, status sebagai sastrawan aktif membuat mereka tidak bebas dari kepentingan-kepentingan. “Tentu saja sebagai sastrawan yang terlibat di dunia sastra Indonesia mereka punya kepentingan-kepentingan sendiri sehingga objektifitvasnya bisa diragukan, atas dasar apa mereka memilih sastrawan-sastrawan yang berpengaruh,” ujar Katrin.
Nama-nama yang Hilang
"Dalam daftar 33 nama sastrawan yang paling berpengaruh memang bertebaran sejumlah nama-nama sastrawan dari berbagai golongan mulai sastrawan buruh Wowok Hesti Prabowo hingga Taufiq Ismail yang begitu membenci sosialisme," Daftar nama itu juga memasukan sastrawan yang tidak mendapat pengakuan resmi sejarah sastra nasional seperti Kwee Tek Hoay. Banyak bermunculan pertanyaan-pertanyaan di media sosial soal kenapa nama-nama tertentu tidak dimasukan dalam daftar yang dianggap berpengaruh.
Katrin memberi catatan nama-nama sastrawan yang berpengaruh besar seperti hilang begitu saja. “Seperti misalnya Wiji Tukul yang jelas berpengaruh,” kata Katrin mempertanyakan nama penyair yang hilang diculik Orde Baru tersebut. Meskipun nama Wowok Hesti Prabowo masuk untuk mewakili sastra buruh, Katrin menilai pengaruh Wiji Tukul jauh lebih kuat dalam dunia sastra Indonesia.
Dengan kejanggalan-kejanggalan tersebut, kritikus sastra Katrin Bandel mempertanyakan apakah ada motif politik dalam mengkanonkan sejumlah nama tersebut. Terlebih, pameran buku Frankfurt 2014 akan segera berlangsung. Katrin mempertanyakan apakah penerbitan ini akan menjadi alasan untuk menerjemahkan karya tertentu dan merepresentasikannya di dunia internasional sebagai perwakilan sastra Indonesia.
Selain itu, Katrin meminta masyarakat mewaspadai jika penerbitan buku ini menjadi dasar dalam pengajaran sastra Indonesia oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Menurutnya, gerakan menentang versi tersebut perlu mendapat dukungan jika ternyata penerbitan buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh menjadi dasar pembuatan kanon sastra baru.
Selasa, 24 Desember 2013
DISKUSI NASIB SASTRAWAN 2014
foto Dwi Klik Santosa
Diskusi Sastrawan Indonesia tidak hanya tentang tulis menulis, namun juga memcahkan masalah nasib sastrawan Indonesia. Seperti yang diketengahkan sastrawan asal Indramayu , Rg Bagus Warsono, dalam Temu Karya Sastrawan Nusantara 21-23 Desember lalu di Tangerang. Nasib sastrawan sangat kurang diperhatikan pemerintah, padahal sastra merupakan sesuatu yang sangat penting dalam sebuah negara. Ia bukan hanya memberikan bacaan wacana semata namun sastra juga memberikan ruh jiwa bangsa ini sebab satra tidak pernah mengajarkan pada bangsa sesuatu yang kotor, justru sastra selalu memberikan suara kepribadian bangsa yang luhur, budaya luhur dan cinta Tanah Air.
Dalam diskusi itu, nasib sastrawan diperlukan keberanian untuk dapat memperoleh jobnya yang khusus yakni menulis buku-buku sastra. Kesadaran ini diperlukan berkenaan dengan Kementrian Pendidikan Nasional telah menyediakan prosentasenya anggaran pembelian buku dari anggran pendidikan yang telah ditetapkan. Namun ada yang perlu diperjelas tentang anggran pembelian buku ini kepada masyarakat termasuk para sastrawan. Berapa prosen pada tiap jenis dan jenjangnya serta siapa pelaksana penguna anggran itu, apakah APBD kabupaten/kota, APBD propinsi, atau APBD Pusat. Dan mengharapkan pemerintah memberikan keterangan jelas berapa buku fiksi yang diperlukan sehingga sastrawan Indonesia bisa hidup.
(rg.bagus warsono 24-12-2013)
Diskusi Sastrawan Indonesia tidak hanya tentang tulis menulis, namun juga memcahkan masalah nasib sastrawan Indonesia. Seperti yang diketengahkan sastrawan asal Indramayu , Rg Bagus Warsono, dalam Temu Karya Sastrawan Nusantara 21-23 Desember lalu di Tangerang. Nasib sastrawan sangat kurang diperhatikan pemerintah, padahal sastra merupakan sesuatu yang sangat penting dalam sebuah negara. Ia bukan hanya memberikan bacaan wacana semata namun sastra juga memberikan ruh jiwa bangsa ini sebab satra tidak pernah mengajarkan pada bangsa sesuatu yang kotor, justru sastra selalu memberikan suara kepribadian bangsa yang luhur, budaya luhur dan cinta Tanah Air.
Dalam diskusi itu, nasib sastrawan diperlukan keberanian untuk dapat memperoleh jobnya yang khusus yakni menulis buku-buku sastra. Kesadaran ini diperlukan berkenaan dengan Kementrian Pendidikan Nasional telah menyediakan prosentasenya anggaran pembelian buku dari anggran pendidikan yang telah ditetapkan. Namun ada yang perlu diperjelas tentang anggran pembelian buku ini kepada masyarakat termasuk para sastrawan. Berapa prosen pada tiap jenis dan jenjangnya serta siapa pelaksana penguna anggran itu, apakah APBD kabupaten/kota, APBD propinsi, atau APBD Pusat. Dan mengharapkan pemerintah memberikan keterangan jelas berapa buku fiksi yang diperlukan sehingga sastrawan Indonesia bisa hidup.
(rg.bagus warsono 24-12-2013)
Minggu, 22 Desember 2013
RATNA M ROHIMAS BINTANG SASTRAWAN PADA TEMU KARYA SASTRAWAN NUSANTARA 2013 .
RATNA M ROHIMAS BINTANG SASTRAWAN PADA TEMU KARYA SASTRAWAN NUSANTARA 2013 . Ratna tampil paling memukau penonton, dengan 'Asmarandana'-nya.
Sastrawan langsing nan cantik ini bak menghipnotis penonton ketika tampil membacakan puisi. Ratna yang berasal dari kebun Sastra Bandung ini adalah penyair sekaligus seniman panggung yang telah menekuni bidangnya sejak tahun 1997. Ia dikenal sebagai perempuan multi talenta.
Minggu, 14 April 2013
DUA SASTRAWAN INDONESIA BERTEMU
Dua sastrawan Indonesia, Emha Ainun Najib dan Nurochman Sudibyo YS bertemu saat peluncuran buku
sahabatnya Eko Tunas di Tegal 6 April 2012.
Langganan:
Postingan (Atom)



.jpg)
.jpg)


.jpg)


.jpg)