TEKS SULUH


Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 25 Desember 2021

WENGI DESEMBER, Yanti S Sastro Prayitno

 WENGI DESEMBER

Sajake angin lagi sesingidan ing waliking gegodhongan

lintang-lintang uga lagi lumuh pilih kekudhung mega

lan wengi Desember nembangake lelagon sepa

nunggu gumrojoge udan kang kelangan mangsa

Sepi kang kuwawa ngrerujit ati

rikala liyeping mripat mung ngiwi-iwi

kabuncang pangangen nrajang wektu-wektu kang wus adoh lumaku

tansaya kepingin kabuwang

tansaya rosa angadhang

Apa pancen katresnan iku mung impen

sinelip ing antaraning panguripan

amarga kanyatan kerep  nyulayani pangarep

Apa urip iku mung isi panandhang

rikala kabeh gegayuhan mung ambyar ing tawang

nalika suku napak ing lemah

sanyatane tan bisa agawe bungah

Wengi Desember kadya swaraning nala kang krodha

nyoba nduwa kabeh kang gawe kuciwa

nanging sanyatane urip mung saktitahe

ora perlu mbebujung lintang

apa ngunggahi kluwung

Cukup jumangkah kanthi sumringah

nyisihake sakabehing rasa susah

amarga wektu terus lumaku

ora bakal maelu rasaning atimu

Semarang, 2 Desember 2020



Rabu, 24 November 2021

Pangeran Selawe, Rg Bagus Warsono


 Pangeran Selawe


Sekapal duapuluh lima pangeran

Berkapal berlabuh di Karangsong

Laskar Sriwijaya mengemban tugas

Menaklukan kerajaan Dermayu,

Surat dibaca Wiralodra,

Negeri takluk atau perang

Takluk itu upeti

perang itu mati

Duapuluh lima pangeran

berdiri gagah berhadapan

ratusan prajurit Dermayu,

di Karangsong

pangeran Selawe pandai berpedang

Dermaga penuh darah prajurit Dermayu

Mudahnya mengalahkan

prajurit negeri kecil yang damai

Wiralodra Raja Dermayu,

Mencintai rakyatnya

Kibarkan bendera putih

Katakan Dermayu menjadi bahawan Sriwijaya.

Nyi Endang Dharma

petani desa

maju menghadap paduka

Ijinkan hamba menumpas pangeran Selawe

Wiralodra Tertawa

Nyi Endang Dharma melompat ke Pelabuhan Karangsong

disambutnya pedang Pangeran Selawe

Craka Udaksana Nyi Endang Dharma,

keluar dari busurnya

Dua puluh lima pangeran

Mati terkapar di pelabuhan.

Indramayu, Nofember 2021


Selasa, 23 November 2021

Sumur Warak Sumur Pendekar, Rg Bagus Warsono.

 Sumur Warak Sumur Pendekar,

Rg Bagus Warsono.



Tumenggung Warak Senopati Mataram,

laskar Bahureksa

yang kalah perang di Batavia.

Kabar akan dipenggal kepalanya

mengurungkan niat pulang ke Mataram.

terdampar di pelabuhan Dadap.

Utusan mataram mencari pasukan

hukuman mati jika kalah perang

Temenggung Warak separan-paran

mencari perlindungan

Sampailah di sebuah desa

Junti kademangan di Dermayu

Warak tergoda kecantiakan gadis Junti.

menjadi petani rajin

Raja Cirebon bersayembara

Siapa bisa sembuhkan putri kerajaan

Warak memberi air Sukaurip

putri sembuih seketika

Dari sumur Sukaurip.

Sumur Warak.



Jaka Dolog Penjaga Pantai Karangsong, Rg Bagus Warsono

 Jaka Dolog Penjaga Pantai Karangsong


Jaka Dolog bergelar Indra Jaya,

utusan Mataram di Pantura

menguasai Eretan sampai Gebang

Bermukim di Karangsong

pesisir Indramayu seribu nelayan seribu perahu

Reden Wilalodra pengusa kerajaan

Dermayu tepi sungai cimanuk

sawah kebun cocok tanam

terancam kekuasaan

Wilayah pesisir kerajaan

oleh gagahnya Indra jaya dari Mataram.

Pergilah engkau Indra Jaya atau kutenggelamkan

kapal-kapalmu

Lalu Indra Jaya tersenyum

Aku bukan raja sepertimu Wiralodra.

Wiralodra memaksa mengusir Indra Jaya,

utusan ketrajaan yang menjaga muara Dermayu

pertempuran dua pasukan

Indra Jaya tak terkalahkan

Lalu pasukan Indrajaya mengibarkan bendera

Wiralodra terpana melihat bendera

di atas perahu Indra Jaya.

berkibar Bendera Mataram

Panji yang sama di kerajaan Dermayu.

Dan Indra Jaya disebut Jaka dolog

Senopati Mataram menetap di Karangsong



Kibarkan Benderamu, Rg Bagus Warsono

 Kibarkan Benderamu, Rg Bagus Warsono


Dengan bekal beras, gas, Mie Instan, dan rokok seminggu

hidupkan mesin, dan menarik jangkar 

memegang kemudi

Kibarkan benderamu dalam 

laga yang luas 

Bebas penjuru memburu

bersaing rezeki 

Bebas pulang pergi atau singgah di pelabuhamu

Bersama teman seberangkatan kampung nelayan sama perahu 

Dan suara mesin tua beradu

dan kipas mulai berputar

mendorong nasib di tengah laut

dan kelebat bendera diatas tiang perahu

perlahan menyusuri kali menuju hamparan air laut.



Minggu, 10 Oktober 2021

Auf widersehen puisi indah Kurniawan Junaedhie

 Karya puisi indah Kurniawan Junaedi adalah Auf widersehen , sebuah judul Berbahasa Jerman yang artinya Selamat Tinggal. Auf widersehen pada tahun 1994 adalah sebuah drama seri radio BBC London terkenal yang terkenal juga di Indonesia. Mungkin puisi ini diilhami drama itu atau memang Auf wisersehen ini sebuah puisi dari imajenasinya Kurniawan Junaedi  sendiri.

Berikut puisi Auf widersehen karya Kurniawan Junaedhie itu:

Auf widersehen

Itukah engkau yang 

berdiri di seberang jalan

dengan tas di pangkuan 

yang melambaikan tangan?

Betapa pedih jiwa di badan

Rasanya ingin pergi saja aku 

Ke lain benua 

Jadi itukah engkau?

Jadi itukah engkau yang 

melambaikan tangan 

Sementara aku sendiri di dunia 

Berdiri sepi seperti tiang lampu 

Dimalam hari Sunyi

Digoyang angin yang dingin?

Pernahkah kau rasakan 

Apa artinya orang kehilangan makna?

Rasanya ingin pergi saja aku 

Ke sebuah dunia yang tak seorang pun

Bertanya tentang kabut

Atau anna matovani

Karena memikirkan tentang umur 

Dan hari depan mungkin tersa lebih bermartabat.

Juni 1994

Rabu, 02 Desember 2020

Asyiknya Jadi Guru Desa


 Asyiknya Jadi Guru Desa

Rg Bagus Warsono


Ketika orang hiruk pikuk globalisasi

aku memandang hamparan lembah hijau

Ketika jari-jari tangan berduit sibuk mengetik hp

Aku melihat tangan terampil memainkan ani-ani

Anak-anak games dikota

kami berebut bola di kehujanan

lapangan berlumpur

Dengan mengajari berhitung dan membaca gedrig

tak usah terburu-buru pintar

katanya orang pintar banyak

dokter sudah ada, tentara sudah ada

guru mencari sekolah

insinyur mencari proyek

dan bidan mencari orang melahirkan

cukup bisa menjumlah receh rupiah dan dan membaca sajak

guru kota sibuk cari uang privat muridnya sendiri

katanya bermotor ketinggalan

Guru desa miskin serasa kaya raya

ilmu sedikit berharga

salam dan sapa desa ramah setiap hari

bila bertanya apa yang yang kau punya?

aku menjawab singkat

anak-anak adalah kekayaanku

dan masyarakat adalah bajuku

aku idola mereka sederhana

dikala hari baik

ada pengalaman mengesankan

bersama mereka.

(Indramayu, 06-01-19)

Rabu, 29 Juli 2020

Bolehkah ijin sehari Pak Guru

Bolehkah ijin sehari Pak Guru



Ikut ayah ibu

mebabat batang padi

merontokkan padi dari batangnya

atau hanya memandang keringat ibu

dan keringat bapak yang hilang dihembus angin sore

lalu hingga bajumu hitam

Kuceritakan pengalaman

panen pun menguras tenaga

walau ada senyum bangga

aku menunggu bapak ibu

mengangkut padi bersama

sampai rumah

dan besok kembali kesekolah

jadi Bolehkah ijin sehari Pak Guru

Rg Bagus Warsono, 4-10-14

Sabtu, 13 Juni 2020

Dan Sampan Sampan itu

Dan Sampan Sampan itu


Rg Bagus Warsono,


Biar kami kepanasan dan mengering

mengelupas cat warna warni

menempuh susur tepian

melaju rintang tanaman air

Dan sampan sampan itu berjajar

seperti menjajakan diri

bolehlah kayu bakar

atau onggok

dari bekas luka luka ikan yang tertangkap

memamerkan pengalaman

Dan sampan sampan itu

diantara sawah sawah

oleh luka masa

hingga kami sobek

pecah merusak diri

Rawa pening menjadi saksi

lukisan diri indah di penderitaan

13 juni 2020

Basahi Kakimu di Rawa Pening Rg Bagus Warsono,

Basahi Kakimu di Rawa Pening


Rg Bagus Warsono,



Basahi kakimu di Rawa Pening

sebagai tanda kita penyair air

rawa luas tenang kemarau

dan tanaman padi sepanjang tepi

batas air dan bumi

Bilakah kaki kaki penyair berlumpur

biarkan menempel badan

tanda kita penyaitr bumi

di bukit luas menghijau langit

batas bumi dan langit

Dan sampan sampan menyusuri tepian

adakah ikan diantara kaki kaki yang tertanam

semakin banyak mengelepak

di lambungmu

Basahi kakimu di Rawa Pening

sebagai tanda kita di antara mereka

petani dan nelayan

bertukar ikan dan beras

menjadi satu

prasasti buku gunung gunung

13 Juni 2020

Sabtu, 16 Mei 2020

SURAT DARI RUMAH SAKIT Petrus Nandi

SURAT DARI RUMAH SAKIT

Petrus Nandi



Ada yang hendak kuutarakan padamu saat ini

Bahwa kau dan aku

Bagai dua mata pulau yang tak berkedip

Kita tak dapat beradu pandang

Sebab demi melangkaui kesendirian ini aku tak mampu



Sayang, betapa kuingin mengecup bibirmu yang ranum

Seperti yang pernah kugiati dengan manja

Di atas ranjang kita

Tapi, apalah daya

Tuk melisankan niatku saja

Aku tak dapat

Lagi pula aku tak mau maut ini menderamu

Cukup aku sendiri yang marasakan

Sunyi yang menusuk bilik nadi ruangan ini.



Sayang, betapa aku ingin mengelus

Wajahmu yang berlumuran rupa-rupa keresahan

Tapi, apalah daya

Mengangkat tangan tuk menggapaimu

Aku tak sampai

Lagi pula, dalam masa pelik ini

Adalah haram bila tubuh kita saling menyapa

Dan aku terlanjur terasing di rumah keramat.



Sayang, sebenarnya aku ingin sekali

Menyanyikan lagu Nina Bobo untuk buah hati kita

Seperti suaraku pernah dengan merdu

Mengiringi matanya menuju lelap setiap malam

Tapi, kata dokter

Malam ini aku tak dapat melawati kalian

Lagipula aku mau darahku tak berhenti mengalir

Dalam tubuhnya

Lagi pula, aku tak ingin membawa maut untuknya

Bila aku memaksakan niatku ini.



Sayang, aku mau engkau tenang bersama dia

Jagalah dirinya

Jangan biarkan ia terluka

Bawalah damai

Sepanjang engkau masih dapat memandangnya



Sayang, aku tidak keberatan

Bila pada hari mereka mengusung

Tubuhku yang kaku menuju alam yang kekal

Engkau dan dirinya tak berada di sana

Aku bakal menjadi sangat tenteram

Bila kau tak merintih pilu di samping nisanku



Ketahuilah sayangku, aku menulis surat ini

Saat aku merasa yakin

Bahwa aku benar-benar akan pergi

Meninggalkan kalian

Selamanya.

Selamat tinggal, kurangkai wajah kalian

Di keabadian doa.

Kamar Sunyi, 6 April 2020.

Petrus Nandi, penyair desa. Saat ini menetap di Maumere, Flores. Bergiat di komunitas sastra Djarum Scalabrini.

Kamis, 25 Juli 2019

Ngiris Pulau Jawa karya Rg Bagus Warsono

Ngiris Pulau Jawa

                                                                                              Rg Bagus Warsono


Dan setiap kilometer melewati
aku disapa patok
masih jauhkan kotaku
sudah semakin jauh kota kutinggalkan
sawah menghijau
dan semilir angin lewat
jendela-jendela sepur
Aku benar-benar di Jawa
Dan gunung-gunung berhenti mengeluarkan air, dari mata airmu yang kering
Pohon-pohon jati berubah menjadi puing-puing tiang menyangga layang
daun-daunnya terhampar semen mengering
menjadi batu
dan batu menjadi akik
keras
mengeraskan hatimu
yang membutuhkan air
yang hanya menadahi hujan
setahun sekali
di Jawa,
di tanah yang diiris-iris
Esok tak lihat lagi petani,
Hamparan hanya beton bertulang
Esok tak lihat lagi hijau padi
Hanya burung-burung bermerk Jepang,
Angin tak lagi sepoy, tapi bau petralit terbakar
Sungai hanya mainan
pemborong bermata sipit
Dan danau hanya tipuan pemandangan
Jawa diiris-iris

Indramayu, 1 Maret 2018


Sabtu, 29 Juni 2019

Kedanan Bocah Demplon

Rotadenawa berkata :

"Ho ho ho.....

bocah ayu, denok demplon...

aja wedhi karo kakang.....

njauk apa? tak turuti bli wurung. "

" ho ho ho ....

Kwayang temen sedepe....Nok

putih, mulus, gembleng mayeng

bening temen nok sira Bocah Ayu ....

sira Nok calon premasuri

Aku Wiragora , Raja diraja segala jin mrekayangan

Rotadenawa sing sakti mandraguna,

aduh ....Bocah ayu

aja watir Nok karo kakang ......

(rg bagus warsono, 29-6-2019)


Kamis, 07 Maret 2019

Penyair Jenaka, Rg Bagus Warsono

Penyair Jenaka,
Buat : Aloysius Slamet Widodo,

Slamet memang penyair langka
Widodo namanya,
panjang usia gembira
lucu dan jenaka
ditulis
amalmu memberi senyum tawa,
tatkala puisi orang mengkritik
mengadukan kepedihan sengsara duka
sehingga malas dibaca
Slamet menulis lucu,
lalu Indonesia tertawa
monas tertawa
laut tertawa
tiang beton jembatan tertawa
gunung tertawa
mahasiswa tertawa
dokter tertawa
dan keluarga tertawa...

rg bagus warsono, 4 Maret 2019

Celana Pendek Leak karya Rg Bagus Warsono,

Celana Pendek Leak

karya Rg Bagus Warsono,

Celana pendek leak
memasuki gedung terhormat
lirik satpam guman tak sopan
dan wajah cewe cekikik-an
bukan karena kucir rambut kuda
itu celana pendek
memamerkan dengkul
dan sepatu kiker
agar bisa melompat cepat
berlari bebas
dari kejaran puisi-puisi penghujat
dari panggung-panggung pejabat
Celana pendek leak
tak pernah duduk
hanya dikursi kereta
Celana pendek leak
lama dikereta
Celana pendek leak
melekat berpuisi.

04-03-2019

Di Gerbong KRL,Rg Bagus Warsono

Di Gerbong KRL

Pagi padat
bergelantung tangan berbeban badan
karena capai
keringat ditelapak membasahi gelang pegangan tangan
satu persatu kutatap wajah bergelantung tangan
dan dari kaca kulihat gedung berlari
di gerbong KRL
yang kini cukup bersih
sampah
pengamen dan pengemis
senyum simpul wajah
tanpa beban
seakan kapan saja sampai tak merasa kesiangan
namun aku gelisah
sampai dimana stasiun dan halte terlewat
dan pintu terbuka sendiri
penumpang berganti
berebut gelang pegangan tangan
senyum simpul wajah
melompat mengiringi penumpang turun
Astaga aku terlewat turun
di stasiun KRl-ku.

Minggu, 06 Januari 2019

"Pertemuan dengan Widji Thukul" Rg Bagus Warsono,

"Pertemuan dengan Widji Thukul"

Rg Bagus Warsono,

Dalam keremangan malam
Bulan redup sesekali tertutup mendung
Dalam teras pecinan
dengan pintu-pintu tergembok
Hai penyair katanya padaku
Dia menutup muka dengan jaketnya kumal dingin
Kretek dan kopi dingin
Menatap aku pada si kerempeng itu
akankah kopi belum terbayar
Lalu aku berjabat tangan
merdeka katanya lirih
ya aku dialam merdeka sekarang
aku juga bebas membuat puisi
lalu dia menunjuk tukang kopi
dan kami minum di kedinginan
Sajakku mahal katanya lirih
ah aku sangat murah bahkan tak laku dijual
kau salah katanya
juga yang lain bodoh
kenapa?
banyak penyair setengah penyair
Hah?
Tapi kau tidak , sambil menepuk pundak
lalu ia menutup wajahnya dengan jaketnya lagi dan kopi malam sisa ampasnya.

Jogyakarta, 5 Januari 2019.

Selasa, 30 Oktober 2018

Lambaian Pramugari (181 Penumpang Lion Air )


tersenyum menutup pintu badan pesawat
derai rambut dan dasi kecil
angin bandara hari itu
menahan jari lentikmu terbuka melambaikan salam
tangga pesawat mudur perlahan
pintu pesawat menutup diri
dengan 181 nyawa
terbang
menuju pulaumu bangka di bandara lain pangkal pinang.
Deru halus meninggalkan asap putih
lalu memudar menjadi awan kecil-kecil
181 dalam doa
memejamkan mata
sudahkah di bandara lain
Terbangmu sebentar padahal bandara masih jauh
Kau singgah di pelabuhanMu.

Rg Bagus warsono 29-Oktober 2018