adalah majalah sastra net bagi rakyat Indonesia yang memerlukan sastra sebagai bagian kehidupan indah di Indonesia. Untuk segala umur pecinta sastra di Tanah Air. Pendiri Agus Warsono (Rg Bagus Warsono/Masagus) didirikan 2 Januari 2011, Redaksi Alamanda Merah 6 Citra Dharma Ayu Margadadi, Redaktur sastra Agus Warsono, Koresponden Rusiano Oktoral Firmansyah (Jakarta), Abdurachman M(Yogyakarya).
TEKS SULUH
Tampilkan postingan dengan label SISI KARYA PENYAIR. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SISI KARYA PENYAIR. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 23 November 2019
Senin, 23 November 2015
Rg Bagus Warsono dalam Sekarepmu Kemeja Putih Lengan Panjang Mas Joko
Rg Bagus Warsono dalam Sekarepmu
Dipakai lagi setelah Bi Kuni mencuci sendiri
Lalu kotor lagi oleh keringat musim kemarau panas
Karena marah mengotori kemeja Mas Joko
Menyerap emosi menahan ejekan merk kemeja
Jadul dan bahan bekas kantong terigu
Kemeja Putih Lengan Panjang Mas Joko
Dipakai lagi setelah Bi Kuni mencuci sendiri
Tak perlu dikancing pergelangan tangan
Cukup digulung ala preman terminal
Tak usah dimasukan pinggang
Seperti anak SMA 80-an
Agar tak tahu siapa yang melawan
Kemeja Putih Lengan Panjang Mas Joko
Dipakai lagi setelah Bi Kuni mencuci sendiri
Ketika Bi Kuni pulang kampung
Kemeja penuh getah
Kancing lepas benang
Krah penuh daki
Kantong tersiram tinta
Terpaksa Kemeja Putih Lengan Panjang Mas Joko
Dibeli baru dari toko
Dan urusan binatu yang cuci kemeja
Disertika dengan minyak wangi pula.
Kemeja Putih Lengan Panjang Mas Joko
Dipakai lagi setelah Bi Kuni mencuci sendiri
Lalu kotor lagi oleh keringat musim kemarau panas
Karena marah mengotori kemeja Mas Joko
Menyerap emosi menahan ejekan merk kemeja
Jadul dan bahan bekas kantong terigu
Kemeja Putih Lengan Panjang Mas Joko
Dipakai lagi setelah Bi Kuni mencuci sendiri
Tak perlu dikancing pergelangan tangan
Cukup digulung ala preman terminal
Tak usah dimasukan pinggang
Seperti anak SMA 80-an
Agar tak tahu siapa yang melawan
Kemeja Putih Lengan Panjang Mas Joko
Dipakai lagi setelah Bi Kuni mencuci sendiri
Ketika Bi Kuni pulang kampung
Kemeja penuh getah
Kancing lepas benang
Krah penuh daki
Kantong tersiram tinta
Terpaksa Kemeja Putih Lengan Panjang Mas Joko
Dibeli baru dari toko
Dan urusan binatu yang cuci kemeja
Disertika dengan minyak wangi pula.
Indramayu, 24-11-2015
Sabtu, 25 April 2015
Rabu, 03 September 2014
Munadi Oke
Munadi Oke
Ku dengar laut bercerita,
Tentang karangnya yang terberai
Tentang anak ikannya yang di pukat harimau
Tentang pausnya yang tak bisa pulang ditelan dangkal
Ku dengar laut menangis,
Sambil sesekali melemparkan seguk pada ombak Sambil tersedu mengiringi desir angin
Sambil berayun memainkan sampan
Ku dengar laut memaki,
Mengapa semua busuk harus sampai padaku?
Mengapa
Manusia begitu kejam?
Mengapa juga aku yang disalahkan ketika semua ditampar ombak yang aku sendiri tak mampu menahannya?
"SH" PAINAN 28122012
Munadi Oke
Ku dengar laut bercerita,
Tentang karangnya yang terberai
Tentang anak ikannya yang di pukat harimau
Tentang pausnya yang tak bisa pulang ditelan dangkal
Ku dengar laut menangis,
Sambil sesekali melemparkan seguk pada ombak Sambil tersedu mengiringi desir angin
Sambil berayun memainkan sampan
Ku dengar laut memaki,
Mengapa semua busuk harus sampai padaku?
Mengapa
Manusia begitu kejam?
Mengapa juga aku yang disalahkan ketika semua ditampar ombak yang aku sendiri tak mampu menahannya?
"SH" PAINAN 28122012
Munadi Oke
Lailatul Kiptiyah
Lailatul Kiptiyah
Ke Ladang Tebu
pagi-pagi sekali ia telah rapi
langkahnya cukup hati-hati
jalanan yang dilewatinya adalah
sebuah jembatan bambu di atas kali dangkal berbatu
ah, dilihatnya seekor ikan mengambang di permukaan bayangnya
seperti takjub
mengecupi lumut
yang membuatnya terus hidup
lumut itu seperti kekasih
membagi dalam perih
menurutnya cuaca kali ini sungguh tak terkira
sebentar hujan berpendar sebentar terik membakar segala yang kena
di tikungan ia lihat seekor kadal kecil
melesat ke bawah serimbun kemangi
dulu, ia selalu menunggu seseorang datang ke sini
membawa aroma jerami
angin terasa lembut merandai
langkah hati-hatinya telah sampai
--oh, hanya padang kelabu
hanya sisa-sisa bonggol yang mengabu
dangau itu juga sepi
nyata telah lama ditinggal penghuni
kemana tebu-tebu yang dulu berjajar rapi
seekor prenjak hinggap di sebatang ketela
selain itu tak ada siapa-siapa
benar seperti kata ayahnya
ketika semalam ia tiba:
“tak ada lagi siapa-siapa
orang-orang itu pergi
terbawa malaria yang meninggi”
dan orang tua itu selamat
kini ia hanya duduk menafakuri waktu
yang meninggalkannya bersama kerapuhan itu
Jakarta, 2011
Lailatul Kiptiyah, lahir dan besar di Blitar, Jawa Timur 20 Juli 1975. Puisi-puisinya banyak dimuat di media regional dan nasional serta banyak mengikuti berbagai antologi bersama nasional, Saat ini tinggal bersama suami di Mataram-NTB.
Ke Ladang Tebu
pagi-pagi sekali ia telah rapi
langkahnya cukup hati-hati
jalanan yang dilewatinya adalah
sebuah jembatan bambu di atas kali dangkal berbatu
ah, dilihatnya seekor ikan mengambang di permukaan bayangnya
seperti takjub
mengecupi lumut
yang membuatnya terus hidup
lumut itu seperti kekasih
membagi dalam perih
menurutnya cuaca kali ini sungguh tak terkira
sebentar hujan berpendar sebentar terik membakar segala yang kena
di tikungan ia lihat seekor kadal kecil
melesat ke bawah serimbun kemangi
dulu, ia selalu menunggu seseorang datang ke sini
membawa aroma jerami
angin terasa lembut merandai
langkah hati-hatinya telah sampai
--oh, hanya padang kelabu
hanya sisa-sisa bonggol yang mengabu
dangau itu juga sepi
nyata telah lama ditinggal penghuni
kemana tebu-tebu yang dulu berjajar rapi
seekor prenjak hinggap di sebatang ketela
selain itu tak ada siapa-siapa
benar seperti kata ayahnya
ketika semalam ia tiba:
“tak ada lagi siapa-siapa
orang-orang itu pergi
terbawa malaria yang meninggi”
dan orang tua itu selamat
kini ia hanya duduk menafakuri waktu
yang meninggalkannya bersama kerapuhan itu
Jakarta, 2011
Lailatul Kiptiyah, lahir dan besar di Blitar, Jawa Timur 20 Juli 1975. Puisi-puisinya banyak dimuat di media regional dan nasional serta banyak mengikuti berbagai antologi bersama nasional, Saat ini tinggal bersama suami di Mataram-NTB.
Ardi Susanti
Ardi Susanti
KEBUN TEH KOTAKU
sejauh mata
hamparan perdu teh
indah mengukir bebukitan
mentari tersenyum malu
kabut perlahan merangkak naik
wanita-wanita perkasa ke luar peraduan
berjalan kelilingi bukit kerangjang di bahu
jari-jamari lentik lincah menari di pucuk-pucuk daun teh
tanpa kenal lelah, tanpa hati patah
wanita-wanita perkasa
pipi merah merona tanpa polesan
bercanda sesame demi hilangkan penat
terasa sungguh tulus tiada terkira
langkah mereka bagi sebuah kehidupan
ada doa meluncur dari mulutku
semoga ladang teh meraka
tidak berbubah jadi vila
tidak berubah jadi hotel
tidak berubah jadi motel
kebun teh terus bertunas menghijau
jemari mereka terus menari di pucuknya
sehingga kejora-kejora kecil mereka
terus tersenyum menyambut kepulangan ibunya
berharap sedikit receh untuk membeli asa
Jamus (Ngawi) 2001
KEBUN TEH KOTAKU
sejauh mata
hamparan perdu teh
indah mengukir bebukitan
mentari tersenyum malu
kabut perlahan merangkak naik
wanita-wanita perkasa ke luar peraduan
berjalan kelilingi bukit kerangjang di bahu
jari-jamari lentik lincah menari di pucuk-pucuk daun teh
tanpa kenal lelah, tanpa hati patah
wanita-wanita perkasa
pipi merah merona tanpa polesan
bercanda sesame demi hilangkan penat
terasa sungguh tulus tiada terkira
langkah mereka bagi sebuah kehidupan
ada doa meluncur dari mulutku
semoga ladang teh meraka
tidak berbubah jadi vila
tidak berubah jadi hotel
tidak berubah jadi motel
kebun teh terus bertunas menghijau
jemari mereka terus menari di pucuknya
sehingga kejora-kejora kecil mereka
terus tersenyum menyambut kepulangan ibunya
berharap sedikit receh untuk membeli asa
Jamus (Ngawi) 2001
Ardi Susanti Lahir di Ngawi, 15 April 1975.. Ia adalah pendiri “Teater Petjel” SMAN 1 Boyolangu, Tulungangung. Puisi puisinya banyak mengisi berbagai antologi bersama bertaraf nasional. Penyair ini tinggal di Tulungagung.
Diana Roosetindaro
Diana Roosetindaro
Garuda Pada Sebuah Pintu
hanya lagu
juga gambar menempel dikaos
dan topi atau terpajang di dinding sekolah maupun kantor
masih adakah garuda didada?
Tak lagi tyerdengar kicau
Menggelegar
Bahkan sayap itu
Kini patah tak bisa terbang
Menembus langit
Tinggalah garuda pada sebuah pintu
adalah garudaku.
Depok, 26 juni 2014
Diana
Roosetindaro
Diana
Roosetindaro, lahir di Kartasura, 22 November 1969. Penyair ini tlah mengisi
berbagai antologi puisi bertaraf regional dan nasional, Tinggal di Kartasura.
akhmad
yani 56 kartasura.
Zen AR
Zen AR
Panggilan Adzan
bagaimana pun kami hanyalah pelacur yang selalu mengucapkan assalamu’alaikum kepada surau-surau yang tidak beragama namun takut menyimpan dosa. suara-suara yang berjalan di atas retakan kaca jendela, jatuh dalam khalwat kami.
jam pulang kerja dan lampu warna-warni, menyusun lagi anatomi maghrib. sembahyang mengajari kami bercinta dengan ketakutan. semisal nasib dinanti, hari-hari jadi penuh tegur sapa dengan orang-orang yang masih percaya akan kebahagiaan dan kesedihan.
tetapi dada kami menanggung ke mana saja cerita pahlawan dan kemerdekaan ‘45. air wudlu kami membekam nasionalisme yang cemas di antara sabun pembersih dan embrio kamar mandi. sejadah kami menggelar kebebasan atas kapal-kapal kolonial yang terbakar. hanya saja, kami tidak diberi kedaulatan, andai-andai menuntun Inul Daratista baca Qur’an atau membimbing Tukul Arwana mendengungkan adzan.
lalu kami bakal membangun kota ini kembali, dari body lotion, perlengkapan make-up, styling foam, dan pil strong of night. sungguhpun kami tahu, seperti mata mengintai, di belakang kami kuburan-kuburan berhantu dan sebuah surga yang tak lagi terletak di telapak kaki ibu.
2014
Zen AR
Lahir 1995, adalah seorang penyair dan santri PP. Annuqayah Lubangsa Selatan, Guluk-Guluk, Sumenep, Madura, puisinyatlah dimuat Antologi Penyair Lima Negara (Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, dan Thailand). Tinggal di sumenep.
Panggilan Adzan
bagaimana pun kami hanyalah pelacur yang selalu mengucapkan assalamu’alaikum kepada surau-surau yang tidak beragama namun takut menyimpan dosa. suara-suara yang berjalan di atas retakan kaca jendela, jatuh dalam khalwat kami.
jam pulang kerja dan lampu warna-warni, menyusun lagi anatomi maghrib. sembahyang mengajari kami bercinta dengan ketakutan. semisal nasib dinanti, hari-hari jadi penuh tegur sapa dengan orang-orang yang masih percaya akan kebahagiaan dan kesedihan.
tetapi dada kami menanggung ke mana saja cerita pahlawan dan kemerdekaan ‘45. air wudlu kami membekam nasionalisme yang cemas di antara sabun pembersih dan embrio kamar mandi. sejadah kami menggelar kebebasan atas kapal-kapal kolonial yang terbakar. hanya saja, kami tidak diberi kedaulatan, andai-andai menuntun Inul Daratista baca Qur’an atau membimbing Tukul Arwana mendengungkan adzan.
lalu kami bakal membangun kota ini kembali, dari body lotion, perlengkapan make-up, styling foam, dan pil strong of night. sungguhpun kami tahu, seperti mata mengintai, di belakang kami kuburan-kuburan berhantu dan sebuah surga yang tak lagi terletak di telapak kaki ibu.
2014
Zen AR
Lahir 1995, adalah seorang penyair dan santri PP. Annuqayah Lubangsa Selatan, Guluk-Guluk, Sumenep, Madura, puisinyatlah dimuat Antologi Penyair Lima Negara (Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, dan Thailand). Tinggal di sumenep.
Yusti Aprilina.
Yusti Aprilina
Pantai Panjang
pantai itu sungguh landai memanjang sepanjang barat pulau sumatera
garis pantainya amat panjang dan pasir putih berkilau
seperti hidup ini terus memanjang hingga menemu titik nadir
berjalan di atas pepasiran yang basah, jejak-jejak cepat terhapus ombak
pepohonan cemara sebagai peneduh orang-orang yang datang
di bangku menghadap pantai duduk sepasang kekasih memadu cinta
sambil menikmati gemuruh suara ombak yang datang silih berganti
seperti juga sepasang burung camar terbang rendah di atas laut yang gundah
bermacam aneka panganan dijajakan oleh ibu-ibu
ada udang dan kepiting goreng tepung kriuk
di sepanjang pantai warung-warung menjajakan kelapa muda dan jagung bakar
asyik disantap kala sore menjelang menyaksikan sunset di ufuk barat
menikmati angin datang sepoi-sepoi
dan angan melayang nun jauh di seberang lautan
kenangan masih terus membayang, di tepi pantai ini
Bengkulu, 23 Juli 2013
Yusti Aprilina.
Lahir di Lais, Bengkulu Utara pada tanggal 01 April 1965. ibu dari dua orang anak menyukai menulis puisi dan cercen. Ada beberapa karyanya termuat dalam Antologi puisi dan cerpen bersama dan sebuah buku puisi tunggal. Penyair ini juga adalah seorang PNS yang tinggal di Bengkulu Utara.
Wulandari ( Nawang Wulan)
Wulandari ( Nawang Wulan)
Sepanjang Batanghari Rindumu Aku
Menakar kejauhan antara aku dan kau
Jarak meretas batas, sisanya ampas
Ditubuhmu kupatri janjiku
Kau meragu, dan aku antusias
Ditubuhmu saat aku lahir, darahku mengering
Melekat pekat
Karena aku kau!
Jadi jangan hanya bungkam
Biarkanlah langit menguning, sisakan saja susu basi untuknya
Duduklah diam disini, kita takar inginmu
Jangan coba sembunyi, aku tau
Sepanjang Batanghari rindumu aku
Aku yang beku, kau kata dirimu
Dari Bumi Langkah Serentak Limbai Seayun 2014
Wulandari ( Nawang Wulan) lahir di Kota Jambi, 10 Agustus 1990. Bergiat di Sanggar KUBU Bungo, puisi-puisinya turut dimuat dalam Antologi Puisi bersama regional dan nasional, Penyair ini juga adalagh seorang wartawati di media lokal Bungo
Sepanjang Batanghari Rindumu Aku
Menakar kejauhan antara aku dan kau
Jarak meretas batas, sisanya ampas
Ditubuhmu kupatri janjiku
Kau meragu, dan aku antusias
Ditubuhmu saat aku lahir, darahku mengering
Melekat pekat
Karena aku kau!
Jadi jangan hanya bungkam
Biarkanlah langit menguning, sisakan saja susu basi untuknya
Duduklah diam disini, kita takar inginmu
Jangan coba sembunyi, aku tau
Sepanjang Batanghari rindumu aku
Aku yang beku, kau kata dirimu
Dari Bumi Langkah Serentak Limbai Seayun 2014
Wulandari ( Nawang Wulan) lahir di Kota Jambi, 10 Agustus 1990. Bergiat di Sanggar KUBU Bungo, puisi-puisinya turut dimuat dalam Antologi Puisi bersama regional dan nasional, Penyair ini juga adalagh seorang wartawati di media lokal Bungo
Wong agung utomo
Wong agung utomo
Perempuan yang dikirimkan masalalu,
Apakah kedatanganmu
Hendak menagih rindu
Yang sempat dicegat waktu
Kala itu
Atau kamu hanya ingin mengiyakan
Penjelasan alasanku
Bahwa diperah tagih kebutuhan hidup
Jamuan nyaman dan bahagia kampung halaman saja
Tidaklah cukup
...h kampung halaman adalah perempuan kiriman masalalu yang menagih rindu dan air mata mudikku
Perempuan yang dikirimkan masalalu,
Apakah kedatanganmu
Hendak menagih rindu
Yang sempat dicegat waktu
Kala itu
Atau kamu hanya ingin mengiyakan
Penjelasan alasanku
Bahwa diperah tagih kebutuhan hidup
Jamuan nyaman dan bahagia kampung halaman saja
Tidaklah cukup
...h kampung halaman adalah perempuan kiriman masalalu yang menagih rindu dan air mata mudikku
Wintala Achmad
Wintala Achmad
PAYAU SUTAU MALAM
Pro: Kawan Lama
Malam ini tak ada bulan
Dimana kau selau memujanya
Selayak Tarub pada Nawangwulan
Malam ini tak ada angin
Dimana kau selalu menitipkan pesan
Harum dupa pada mendiang pacarmu
Malam ini tak ada cerecet bence
Dimana kau selalu mendambakannya
Sebagai tanda akan kembali tercuri hatimu
Malam ini tak ada puisi cinta
Sesudah kata-kata sekadar bualan
Dari seorang pemabuk pinggiran jalan
Cilacap, 2014
Wintala Achmad
, Lahir di Yogyakarta.. Karya-karya sastranya dipublikasikan baik media pusat dan local, Nama kesastrawanannya dicatat dalam Buku Pintar Sastra Indonesia (Pamusuk Eneste, Penerbit Kompas), Direktori Sastrawan, Seniman, dan Budayawan Yogyakarta (Taman Budaya Yogyakarta). Penyair ini tinggal di Cilacap Jawa Tengah.
.
PAYAU SUTAU MALAM
Pro: Kawan Lama
Malam ini tak ada bulan
Dimana kau selau memujanya
Selayak Tarub pada Nawangwulan
Malam ini tak ada angin
Dimana kau selalu menitipkan pesan
Harum dupa pada mendiang pacarmu
Malam ini tak ada cerecet bence
Dimana kau selalu mendambakannya
Sebagai tanda akan kembali tercuri hatimu
Malam ini tak ada puisi cinta
Sesudah kata-kata sekadar bualan
Dari seorang pemabuk pinggiran jalan
Cilacap, 2014
Wintala Achmad
, Lahir di Yogyakarta.. Karya-karya sastranya dipublikasikan baik media pusat dan local, Nama kesastrawanannya dicatat dalam Buku Pintar Sastra Indonesia (Pamusuk Eneste, Penerbit Kompas), Direktori Sastrawan, Seniman, dan Budayawan Yogyakarta (Taman Budaya Yogyakarta). Penyair ini tinggal di Cilacap Jawa Tengah.
.
Wayan Jengki Sunarta
Wayan Jengki Sunarta
Di Somba Opu
agak ragu
kugurat namamu
di pilar-pilar hitam kayu ulin
rumah panggung somba opu
bunga kamboja merah muda
menggoda daun telingamu
itu bunga dewata, gumamku
perlahan…
namun, benteng tua ini
telah kehilangan tuan
tanah rata, berdebu,
dan rumput enggan hijau
hanya pohon-pohon mahoni
berbagi teduh
di setapak jalan menuju hatimu
tapi masih kudengar tabuh rebana
dan lagu-lagu tua kerajaan gowa
yang didendangkan pengembara
saat kau buka jendela baruga
saat senyummu meluruhkan nada
kau lihat
pecinta yang tersesat
menyeret langkah lelah
di hari yang berkeringat
di somba opu
apa yang pilu
selain langkah
makin ragu
menjauh
dari istanamu
(november 2012)
Wayan Jengki Sunarta
, lahir di Denpasar, Bali, 22 Juni 1975. Lulusan Antropologi Budaya, Fakultas Sastra, Universitas Udayana. Mulai menulis puisi sejak awal 1990-an.
Tulisan-tulisannya dimuat di berbagai media massa lokal dan nasional, Buku kumpulan cerpennya yang telah terbit adalah Cakra Punarbhawa (Gramedia, 2005), Purnama di Atas Pura (Grasindo, 2005), Perempuan yang Mengawini Keris (Jalasutra, 2011). Buku kumpulan puisinya yang telah terbit adalah Pada Lingkar Putingmu (bukupop, 2005), Impian Usai (Kubu Sastra, 2007), Malam Cinta (bukupop, 2007), Pekarangan Tubuhku (Bejana Bandung, Juni 2010). Penjyair ini tinggal di Denpasar.
Di Somba Opu
agak ragu
kugurat namamu
di pilar-pilar hitam kayu ulin
rumah panggung somba opu
bunga kamboja merah muda
menggoda daun telingamu
itu bunga dewata, gumamku
perlahan…
namun, benteng tua ini
telah kehilangan tuan
tanah rata, berdebu,
dan rumput enggan hijau
hanya pohon-pohon mahoni
berbagi teduh
di setapak jalan menuju hatimu
tapi masih kudengar tabuh rebana
dan lagu-lagu tua kerajaan gowa
yang didendangkan pengembara
saat kau buka jendela baruga
saat senyummu meluruhkan nada
kau lihat
pecinta yang tersesat
menyeret langkah lelah
di hari yang berkeringat
di somba opu
apa yang pilu
selain langkah
makin ragu
menjauh
dari istanamu
(november 2012)
Wayan Jengki Sunarta
, lahir di Denpasar, Bali, 22 Juni 1975. Lulusan Antropologi Budaya, Fakultas Sastra, Universitas Udayana. Mulai menulis puisi sejak awal 1990-an.
Tulisan-tulisannya dimuat di berbagai media massa lokal dan nasional, Buku kumpulan cerpennya yang telah terbit adalah Cakra Punarbhawa (Gramedia, 2005), Purnama di Atas Pura (Grasindo, 2005), Perempuan yang Mengawini Keris (Jalasutra, 2011). Buku kumpulan puisinya yang telah terbit adalah Pada Lingkar Putingmu (bukupop, 2005), Impian Usai (Kubu Sastra, 2007), Malam Cinta (bukupop, 2007), Pekarangan Tubuhku (Bejana Bandung, Juni 2010). Penjyair ini tinggal di Denpasar.
Wadie Maharief
Wadie Maharief
Kenangan tentang Emak
Perempuan cekatan itu
adalah emakku
Ngurus anak sepuluh hampir tak pernah mengeluh
Serba bisa meski tak pernah sekolah
tapi menjadi guru bagi anak-anaknya
Aku belajar segala dari emak
Mulai menampi beras, menanak dan menjerang air
Bikin gulai dan menyeduh kopi
Emakku perkasa, ratu yang agung
Rumah dan berandanya selalu bersih
Gemulai ia menyapu setiap pagi
Tangannya tak pernah berhenti
Seperti penari yang penuh energi
Aku rindu emak
Yang telah mengajari aku tentang hidup
dan kehidupan ini
Aku mengerti kenapa beras mesti ditampi
Sebelum ditanak, kenapa menyapu
Harus pelan tapi bersih....?
Jangan melakukan kesia-siaan dalam hidupmu, nak….
Begitu pesannya
Yogya, 25 Mei 2014
Wadie Maharief lahir di Prabumulih, Sumsel, 13 Maret 1955, mengabdikan hidup sebagai wartawan. Sejumlah tulisan banyak dimuat di suratkabarregional dan nasional, tinggal di Yogyakarta.
Kenangan tentang Emak
Perempuan cekatan itu
adalah emakku
Ngurus anak sepuluh hampir tak pernah mengeluh
Serba bisa meski tak pernah sekolah
tapi menjadi guru bagi anak-anaknya
Aku belajar segala dari emak
Mulai menampi beras, menanak dan menjerang air
Bikin gulai dan menyeduh kopi
Emakku perkasa, ratu yang agung
Rumah dan berandanya selalu bersih
Gemulai ia menyapu setiap pagi
Tangannya tak pernah berhenti
Seperti penari yang penuh energi
Aku rindu emak
Yang telah mengajari aku tentang hidup
dan kehidupan ini
Aku mengerti kenapa beras mesti ditampi
Sebelum ditanak, kenapa menyapu
Harus pelan tapi bersih....?
Jangan melakukan kesia-siaan dalam hidupmu, nak….
Begitu pesannya
Yogya, 25 Mei 2014
Wadie Maharief lahir di Prabumulih, Sumsel, 13 Maret 1955, mengabdikan hidup sebagai wartawan. Sejumlah tulisan banyak dimuat di suratkabarregional dan nasional, tinggal di Yogyakarta.
Vera Mutiarasani
Vera Mutiarasani
Lesap
Terkenang kekal segan dimakan jaman
Kala di sana kami beragam membangun kehidupan
Dahulu, indah nian kampung halamanku jadi loka jejak ini ditapakkan
Sampai akhirnya mereka datang, kampung halamanku digerus dalih persilihan
Tempo dulu, nyata kami berjalan di atas hampar rerumputan
Kini tak pelak, beton jadi landas kaki ini berjejalan
Lesap, mana kampung halamanku kekinian?
Tak beda, serupa menaung hidup di payung urban
Kembalikan! Sisihkan aku seransum kampung halaman!
Jangan biarkan kampung halaman jadi potret menggiurkan di masa depan
Biarlah alam dan kami jadi satu peraduan
Datanglah bila engkau inginkan, tapi ingatlah untuk lestarikan
Kampung halaman, lesap engkau dicampakkan ….
Kampung halaman, saksiku tempuh hidup kala masih kekanakkan ….
Vera Mutiarasani
Penyair tinggal di Karawang Timur, Kabupaten Karawang.
Lesap
Terkenang kekal segan dimakan jaman
Kala di sana kami beragam membangun kehidupan
Dahulu, indah nian kampung halamanku jadi loka jejak ini ditapakkan
Sampai akhirnya mereka datang, kampung halamanku digerus dalih persilihan
Tempo dulu, nyata kami berjalan di atas hampar rerumputan
Kini tak pelak, beton jadi landas kaki ini berjejalan
Lesap, mana kampung halamanku kekinian?
Tak beda, serupa menaung hidup di payung urban
Kembalikan! Sisihkan aku seransum kampung halaman!
Jangan biarkan kampung halaman jadi potret menggiurkan di masa depan
Biarlah alam dan kami jadi satu peraduan
Datanglah bila engkau inginkan, tapi ingatlah untuk lestarikan
Kampung halaman, lesap engkau dicampakkan ….
Kampung halaman, saksiku tempuh hidup kala masih kekanakkan ….
Vera Mutiarasani
Penyair tinggal di Karawang Timur, Kabupaten Karawang.
Thomas Haryanto Soekiran
Thomas Haryanto Soekiran
Jarankepang di Pelataran Borobudur
entah mantramantra darimana yang mendorong memaksa hingga sampailah
segala emaji terkuras untuk sekedar berlabuh dipelataran bercanda berdua
begitu mesra bercinta dengan musik, andai sempat ada yang terusik pasti
bukan karena sirik apalagi membenci secara membabibuta.
begitu agung terselubung dengan tarian yang apaadanya
musik yang melodinya dari itu ke itu menyatu disudut harmoni
bahasa tubuh berlabuh kesana kemari tanpa minta ditemani
usai tanggapan bubar dan peluang untuk membagibagi uang
2013
Thomas Haryanto Soekiran penyir ini
Lahir di Purbalingga 25 Desember 1961 Banyumas Jateng, Karyanya telah dimuat dalam antologi bersama regional dan nasional , aktif di berbagai organisasi kesenian di Jawa Tengah, serta mendirikan padepokan seni Matahariku purworejo. Penyair ini juga menggeluti dunia seni tari dan pernah mengenyam Pendidikan Kesenian di Padepokan Seni Bagong Kussudiardjo Yogyakarta1984, 1988 Sanggar Gelak Suka nya Agus Melasz Jakarta
Jarankepang di Pelataran Borobudur
entah mantramantra darimana yang mendorong memaksa hingga sampailah
segala emaji terkuras untuk sekedar berlabuh dipelataran bercanda berdua
begitu mesra bercinta dengan musik, andai sempat ada yang terusik pasti
bukan karena sirik apalagi membenci secara membabibuta.
begitu agung terselubung dengan tarian yang apaadanya
musik yang melodinya dari itu ke itu menyatu disudut harmoni
bahasa tubuh berlabuh kesana kemari tanpa minta ditemani
usai tanggapan bubar dan peluang untuk membagibagi uang
2013
Thomas Haryanto Soekiran penyir ini
Lahir di Purbalingga 25 Desember 1961 Banyumas Jateng, Karyanya telah dimuat dalam antologi bersama regional dan nasional , aktif di berbagai organisasi kesenian di Jawa Tengah, serta mendirikan padepokan seni Matahariku purworejo. Penyair ini juga menggeluti dunia seni tari dan pernah mengenyam Pendidikan Kesenian di Padepokan Seni Bagong Kussudiardjo Yogyakarta1984, 1988 Sanggar Gelak Suka nya Agus Melasz Jakarta
Tuti Anggraeni
Tuti Anggraeni
Rindu
dendang itu entah dari negeri mana
terkadang melembut, tinggi memekik
hingga sepi menghujam mencabik
rasa entah itu gelisah machluk apa
tetap menetap, merantai membantai
hingga mengoyak menyerpih
perjalanan itu entah kisah apa
panjang berulang, bergulung-gulung
sepi menikam tak selesai usai
ahh ...!
di antara ada dan tiada engkau bersimaharaja
pecahkan segala akal semua logika
telinga, hidung, mata
dan pancaindra mati merasa
ruang waktu jarak terkapar tergeletak
tersisa wajahmu penghilang seribu hasrat
sungguh ...
bila seandai-andai sepi terbunuh
sunyi malu dan pergi tinggalkan mimpi
rembulan matahari tanggalkan rotasi dan henti
barat, timur bertemu tanpa batasan
gurumu-guruku berpeluk di padang cinta
darah nanah matikan bunga-bunga kebencian
kekasih ...
enyahkan panji-panji penghalang semua
palestina adalah engkau-aku tanpa amerika
kitab-kitab terbuka dan nyanyikan seluruh
mazmur para perindu jiwa-jiwa surgawi
dan di sana, di sana bunga impian kita abadi berbunga
di taman yang sama saat adam dan hawa tergelincir cinta
pada tanah impian tempat kita di lahirkan
tak perlu menanti, tak usah bermimpi
enyahkan saja semua rasa segala asa
segera.. selekas aku hampiri engkau
abadi menjadi, kembali abadi.
Rindu
dendang itu entah dari negeri mana
terkadang melembut, tinggi memekik
hingga sepi menghujam mencabik
rasa entah itu gelisah machluk apa
tetap menetap, merantai membantai
hingga mengoyak menyerpih
perjalanan itu entah kisah apa
panjang berulang, bergulung-gulung
sepi menikam tak selesai usai
ahh ...!
di antara ada dan tiada engkau bersimaharaja
pecahkan segala akal semua logika
telinga, hidung, mata
dan pancaindra mati merasa
ruang waktu jarak terkapar tergeletak
tersisa wajahmu penghilang seribu hasrat
sungguh ...
bila seandai-andai sepi terbunuh
sunyi malu dan pergi tinggalkan mimpi
rembulan matahari tanggalkan rotasi dan henti
barat, timur bertemu tanpa batasan
gurumu-guruku berpeluk di padang cinta
darah nanah matikan bunga-bunga kebencian
kekasih ...
enyahkan panji-panji penghalang semua
palestina adalah engkau-aku tanpa amerika
kitab-kitab terbuka dan nyanyikan seluruh
mazmur para perindu jiwa-jiwa surgawi
dan di sana, di sana bunga impian kita abadi berbunga
di taman yang sama saat adam dan hawa tergelincir cinta
pada tanah impian tempat kita di lahirkan
tak perlu menanti, tak usah bermimpi
enyahkan saja semua rasa segala asa
segera.. selekas aku hampiri engkau
abadi menjadi, kembali abadi.
Tuti
Anggraeni
Ibu rumah tangga
berputra 3 (tiga) orang anak ini bernama asli Tuti Anggraeni. Lahir di
Jakarta,20 Agustus 1976. Penyair ini tinggal di Cikarang Barat. Bekasi .
Sindi Violinda
Sindi Violinda
Hilangnya Kampung Halaman
Emak, aku kembali dari tarung dan tempuh
yang hampir melepuhkanku
Di ujung lorong kutahu ,
Emak laungkan namaku
Aku tak sabar laksana gotong royong bersama pemukim
melihat-lihat serta menikmati jagabaya
Begitu banyak sejarah yang jika dirangkum,
ada sekilas lelucon hingga duka yang larah
Semesta alam, ingin kupeluk erat
Emak, Emak!
Engkaulah wanita rentan yang setia menunggu
Kulepaskan segala rindu padamu, Mak!
Namun samar-samar akhirnya kusadar juga
Kulirik sudut demi sudut kampungku berbeda
Gedung-gedung tinggi meledakkan amarahku
Kobaran semangatku meleleh
Jemariku mengepal alot
Emak, Emak!
Mana padi yang dulu tertanam?
Mana kampung halamanku, Mak?
Berapa lama?
Mak, katakan berapa lama aku pergi
Berpuluh-puluh tahun
Kini hilang
Medan, 27 Juli 2014
Hilangnya Kampung Halaman
Emak, aku kembali dari tarung dan tempuh
yang hampir melepuhkanku
Di ujung lorong kutahu ,
Emak laungkan namaku
Aku tak sabar laksana gotong royong bersama pemukim
melihat-lihat serta menikmati jagabaya
Begitu banyak sejarah yang jika dirangkum,
ada sekilas lelucon hingga duka yang larah
Semesta alam, ingin kupeluk erat
Emak, Emak!
Engkaulah wanita rentan yang setia menunggu
Kulepaskan segala rindu padamu, Mak!
Namun samar-samar akhirnya kusadar juga
Kulirik sudut demi sudut kampungku berbeda
Gedung-gedung tinggi meledakkan amarahku
Kobaran semangatku meleleh
Jemariku mengepal alot
Emak, Emak!
Mana padi yang dulu tertanam?
Mana kampung halamanku, Mak?
Berapa lama?
Mak, katakan berapa lama aku pergi
Berpuluh-puluh tahun
Kini hilang
Medan, 27 Juli 2014
Sindi Violinda, penyair ini tingal di Medan sumatera Utara.
Suyitno Ethex
Suyitno Ethex
GEMBALA BEBEK
sekampung halaman tercinta
di mana diri dilahirkan menyapa dunia
sebagaian besar warganya berternak bebek
malam hari wek….wek….wek….suara bebek menyeruak
mengisi sepi kesunyian malam yang jamak
tatkala panen padi musimnya tiba
bebek-bebek di keluarkan kandang di bawa sawah
di hamparan sawah padi setelah dipetik
bebek digembalakan mencari butir-butir padi
yang berjatuhan diantara beceknya tanah
dengan kebyok haluan terbuat dari bambu
gembala bebek mengendalikan bebek-bebeknya
gembala bebek penuh perjuangan
di dalam mengendalikan bebek mencari butir-butir padi
karena gembala bebek kayak mengendalikan rombangon
yang jumlahnya seratus ekor ke atas
yang harus selalu dalam satu kelombok
berangkat dihitung jumlahnya
pulang dihitung jumlahnya
mojokerto, 2014
kebyok : alat untuk menghalau bebek biar terkendali tebuat dari bilah bamboo dan pucuknya diberi perca palstik
Suyitno Ethex
Penyair kelahiran Mojokerto ini tlah banyak mengisi antologi bersama bertaraf regional dan nasional, adalah juga seorang dosen di STIT Uuwiyah Mojokerto. Tinggal di Mojosari Mojokero Jawa Tengah.
GEMBALA BEBEK
sekampung halaman tercinta
di mana diri dilahirkan menyapa dunia
sebagaian besar warganya berternak bebek
malam hari wek….wek….wek….suara bebek menyeruak
mengisi sepi kesunyian malam yang jamak
tatkala panen padi musimnya tiba
bebek-bebek di keluarkan kandang di bawa sawah
di hamparan sawah padi setelah dipetik
bebek digembalakan mencari butir-butir padi
yang berjatuhan diantara beceknya tanah
dengan kebyok haluan terbuat dari bambu
gembala bebek mengendalikan bebek-bebeknya
gembala bebek penuh perjuangan
di dalam mengendalikan bebek mencari butir-butir padi
karena gembala bebek kayak mengendalikan rombangon
yang jumlahnya seratus ekor ke atas
yang harus selalu dalam satu kelombok
berangkat dihitung jumlahnya
pulang dihitung jumlahnya
mojokerto, 2014
kebyok : alat untuk menghalau bebek biar terkendali tebuat dari bilah bamboo dan pucuknya diberi perca palstik
Suyitno Ethex
Penyair kelahiran Mojokerto ini tlah banyak mengisi antologi bersama bertaraf regional dan nasional, adalah juga seorang dosen di STIT Uuwiyah Mojokerto. Tinggal di Mojosari Mojokero Jawa Tengah.
Langganan:
Postingan (Atom)

