TEKS SULUH


Tampilkan postingan dengan label SISI KARYA PENYAIR. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SISI KARYA PENYAIR. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 November 2015

Rg Bagus Warsono dalam Sekarepmu Kemeja Putih Lengan Panjang Mas Joko

Rg Bagus Warsono dalam Sekarepmu

Kemeja Putih Lengan Panjang Mas Joko

Dipakai lagi setelah Bi Kuni mencuci sendiri
Lalu kotor lagi oleh keringat musim kemarau panas
Karena marah mengotori kemeja Mas Joko
Menyerap emosi menahan ejekan merk kemeja
Jadul dan bahan bekas kantong terigu
Kemeja Putih Lengan Panjang Mas Joko
Dipakai lagi setelah Bi Kuni mencuci sendiri
Tak perlu dikancing pergelangan tangan
Cukup digulung ala preman terminal
Tak usah dimasukan pinggang
Seperti anak SMA 80-an
Agar tak tahu siapa yang melawan
Kemeja Putih Lengan Panjang Mas Joko
Dipakai lagi setelah Bi Kuni mencuci sendiri
Ketika Bi Kuni pulang kampung
Kemeja penuh getah
Kancing lepas benang
Krah penuh daki
Kantong tersiram tinta
Terpaksa Kemeja Putih Lengan Panjang Mas Joko
Dibeli baru dari toko
Dan urusan binatu yang cuci kemeja
Disertika dengan minyak wangi pula.
Indramayu, 24-11-2015

Rabu, 03 September 2014

Munadi Oke

Munadi Oke

Ku dengar laut bercerita,
Tentang karangnya yang terberai
Tentang anak ikannya yang di pukat harimau
Tentang pausnya yang tak bisa pulang ditelan dangkal
Ku dengar laut menangis,
Sambil sesekali melemparkan seguk pada ombak Sambil tersedu mengiringi desir angin
Sambil berayun memainkan sampan
Ku dengar laut memaki,
Mengapa semua busuk harus sampai padaku?
Mengapa
Manusia begitu kejam?
Mengapa juga aku yang disalahkan ketika semua ditampar ombak yang aku sendiri tak mampu menahannya?

 "SH" PAINAN 28122012

Munadi Oke


Lailatul Kiptiyah

 Lailatul Kiptiyah

Ke Ladang Tebu
pagi-pagi sekali ia telah rapi
langkahnya cukup hati-hati
jalanan yang dilewatinya adalah
sebuah jembatan bambu di atas kali dangkal berbatu

ah, dilihatnya seekor ikan mengambang di permukaan bayangnya
seperti takjub
mengecupi lumut
yang membuatnya terus hidup
lumut itu seperti kekasih
membagi dalam perih

menurutnya cuaca kali ini sungguh tak terkira
sebentar hujan berpendar sebentar terik membakar segala yang kena

di tikungan ia lihat seekor kadal kecil
melesat ke bawah  serimbun kemangi
dulu,  ia selalu menunggu seseorang datang ke sini
membawa aroma jerami

angin terasa lembut merandai
langkah hati-hatinya telah sampai
--oh, hanya padang kelabu
hanya sisa-sisa bonggol yang mengabu
dangau itu juga sepi
nyata telah lama ditinggal penghuni
kemana tebu-tebu yang dulu berjajar rapi

seekor prenjak hinggap di sebatang ketela
selain itu tak ada siapa-siapa

benar seperti kata ayahnya
ketika semalam ia tiba:
“tak ada lagi siapa-siapa
orang-orang itu pergi
terbawa malaria yang meninggi”
dan orang tua itu selamat
kini ia hanya duduk menafakuri waktu
yang meninggalkannya bersama kerapuhan itu

Jakarta, 2011
Lailatul Kiptiyah, lahir dan besar di Blitar, Jawa Timur 20 Juli 1975. Puisi-puisinya banyak dimuat di media regional dan nasional serta banyak mengikuti berbagai antologi bersama nasional,  Saat ini tinggal bersama suami di Mataram-NTB.



Ardi Susanti

Ardi Susanti

KEBUN TEH KOTAKU

sejauh mata
hamparan perdu teh
indah mengukir bebukitan
mentari tersenyum malu
kabut perlahan merangkak naik
wanita-wanita perkasa ke luar peraduan
berjalan kelilingi bukit kerangjang di bahu
jari-jamari lentik lincah menari di pucuk-pucuk daun teh
tanpa kenal lelah, tanpa hati patah

wanita-wanita perkasa
pipi merah merona tanpa polesan
bercanda sesame demi hilangkan penat
terasa sungguh tulus tiada terkira
langkah mereka bagi sebuah kehidupan
ada doa meluncur dari mulutku
semoga ladang teh meraka
tidak berbubah jadi vila
tidak berubah jadi hotel
 tidak berubah jadi motel

kebun teh terus bertunas menghijau
jemari mereka terus menari di pucuknya
sehingga kejora-kejora kecil mereka
terus tersenyum menyambut kepulangan ibunya
berharap sedikit receh untuk membeli asa

Jamus (Ngawi) 2001

Ardi Susanti Lahir di Ngawi, 15 April 1975.. Ia adalah pendiri “Teater Petjel” SMAN 1 Boyolangu, Tulungangung. Puisi puisinya banyak mengisi berbagai antologi bersama bertaraf nasional. Penyair ini tinggal di Tulungagung.

Diana Roosetindaro

Diana Roosetindaro

Garuda Pada Sebuah Pintu

hanya lagu 
juga gambar menempel dikaos
dan topi atau terpajang di dinding sekolah maupun kantor 
masih adakah garuda didada?
Tak lagi tyerdengar kicau
Menggelegar
Bahkan sayap itu 
Kini patah tak bisa terbang
Menembus langit 
Tinggalah garuda pada sebuah pintu 
adalah garudaku.

Depok, 26 juni 2014












Diana Roosetindaro
Diana Roosetindaro, lahir di Kartasura, 22 November 1969. Penyair ini tlah mengisi berbagai antologi puisi bertaraf regional dan nasional, Tinggal di Kartasura.
akhmad yani 56 kartasura.




Zen AR

Zen AR
Panggilan Adzan

bagaimana pun kami hanyalah pelacur yang selalu mengucapkan assalamu’alaikum kepada surau-surau yang tidak beragama namun takut menyimpan dosa. suara-suara yang berjalan di atas retakan kaca jendela, jatuh dalam khalwat kami.

jam pulang kerja dan lampu warna-warni, menyusun lagi anatomi maghrib. sembahyang mengajari kami bercinta dengan ketakutan. semisal nasib dinanti, hari-hari jadi penuh tegur sapa dengan orang-orang yang masih percaya akan kebahagiaan dan kesedihan.

tetapi dada kami menanggung ke mana saja cerita pahlawan dan kemerdekaan ‘45. air wudlu kami membekam nasionalisme yang cemas di antara sabun pembersih dan embrio kamar mandi. sejadah kami menggelar kebebasan atas kapal-kapal kolonial yang terbakar. hanya saja, kami tidak diberi kedaulatan, andai-andai menuntun Inul Daratista baca Qur’an atau membimbing Tukul Arwana mendengungkan adzan.

lalu kami bakal membangun kota ini kembali, dari body lotion, perlengkapan make-up, styling foam, dan pil strong of night. sungguhpun kami tahu, seperti mata mengintai, di belakang kami kuburan-kuburan berhantu dan sebuah surga yang tak lagi terletak di telapak kaki ibu.

2014


Zen AR
Lahir 1995, adalah seorang penyair dan santri PP. Annuqayah Lubangsa Selatan, Guluk-Guluk, Sumenep, Madura,  puisinyatlah  dimuat Antologi Penyair Lima Negara (Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, dan Thailand).  Tinggal di sumenep.


Yusti Aprilina.


Yusti Aprilina

Pantai Panjang

pantai itu sungguh landai memanjang sepanjang barat pulau sumatera
 garis pantainya amat panjang dan pasir putih berkilau
seperti hidup ini terus  memanjang hingga menemu titik nadir
berjalan di atas pepasiran yang basah, jejak-jejak cepat terhapus ombak
pepohonan cemara sebagai peneduh orang-orang yang datang
di bangku menghadap pantai duduk sepasang kekasih memadu cinta
sambil menikmati gemuruh suara ombak yang datang silih berganti
seperti juga sepasang burung camar terbang  rendah di atas laut  yang  gundah
bermacam aneka panganan dijajakan oleh ibu-ibu
ada udang dan kepiting goreng tepung kriuk
di sepanjang pantai warung-warung  menjajakan kelapa muda dan jagung bakar
asyik disantap kala sore menjelang menyaksikan sunset di ufuk barat
menikmati angin datang sepoi-sepoi
dan angan melayang nun jauh di seberang lautan
kenangan masih terus membayang, di tepi pantai ini

Bengkulu, 23 Juli 2013


Yusti Aprilina.
Lahir di Lais, Bengkulu Utara pada tanggal 01 April 1965. ibu dari dua orang anak menyukai  menulis puisi dan cercen. Ada beberapa karyanya termuat dalam Antologi puisi dan cerpen bersama dan sebuah buku puisi tunggal. Penyair ini juga adalah seorang PNS yang tinggal di Bengkulu Utara.

Wulandari ( Nawang Wulan)

 Wulandari ( Nawang Wulan)

Sepanjang Batanghari Rindumu Aku

Menakar kejauhan antara aku dan kau
Jarak meretas batas, sisanya ampas
Ditubuhmu kupatri janjiku
Kau meragu, dan aku antusias
Ditubuhmu saat aku lahir, darahku mengering
Melekat pekat
Karena aku kau!

Jadi jangan hanya bungkam
Biarkanlah langit menguning, sisakan saja susu basi untuknya
Duduklah diam disini, kita takar inginmu
Jangan coba sembunyi, aku tau
Sepanjang Batanghari rindumu aku
Aku yang beku, kau kata dirimu

Dari Bumi Langkah Serentak Limbai Seayun 2014
Wulandari ( Nawang Wulan) lahir di Kota Jambi, 10 Agustus 1990.  Bergiat di Sanggar KUBU Bungo, puisi-puisinya turut dimuat dalam Antologi Puisi bersama regional dan nasional, Penyair ini juga adalagh seorang wartawati di media lokal Bungo



Wong agung utomo

Wong agung utomo

Perempuan yang dikirimkan masalalu,

Apakah kedatanganmu
Hendak menagih rindu
Yang sempat dicegat waktu
Kala itu
Atau kamu hanya ingin mengiyakan
Penjelasan alasanku
Bahwa  diperah tagih kebutuhan hidup
Jamuan nyaman dan bahagia kampung halaman saja
Tidaklah cukup

...h kampung halaman adalah perempuan kiriman masalalu yang menagih rindu dan air mata mudikku

Wintala Achmad

 Wintala Achmad

PAYAU SUTAU MALAM
Pro: Kawan Lama

Malam ini tak ada bulan
Dimana kau selau memujanya
Selayak Tarub pada Nawangwulan

Malam ini tak ada angin
Dimana kau selalu menitipkan pesan
Harum dupa pada mendiang pacarmu

Malam ini tak ada cerecet bence
Dimana kau selalu mendambakannya
Sebagai tanda akan kembali tercuri hatimu

Malam ini tak ada puisi cinta
Sesudah kata-kata sekadar bualan
Dari seorang pemabuk pinggiran jalan

Cilacap, 2014

Wintala Achmad
, Lahir di Yogyakarta.. Karya-karya sastranya dipublikasikan baik media pusat dan local, Nama kesastrawanannya dicatat dalam Buku Pintar Sastra Indonesia (Pamusuk Eneste, Penerbit Kompas), Direktori Sastrawan, Seniman, dan Budayawan Yogyakarta (Taman Budaya Yogyakarta). Penyair ini tinggal di Cilacap Jawa Tengah.
.

Wayan Jengki Sunarta

Wayan Jengki Sunarta

Di Somba Opu

agak ragu
kugurat namamu
di pilar-pilar hitam kayu ulin
rumah panggung somba opu

bunga kamboja merah muda
menggoda daun telingamu
itu bunga dewata, gumamku
perlahan…

namun, benteng tua ini
telah kehilangan tuan
tanah rata, berdebu,
dan rumput enggan hijau

hanya pohon-pohon mahoni
berbagi teduh
di setapak jalan menuju hatimu

tapi masih kudengar tabuh rebana
dan lagu-lagu tua kerajaan gowa
yang didendangkan pengembara
saat kau buka jendela baruga
saat senyummu meluruhkan nada

kau lihat
pecinta yang tersesat
menyeret langkah lelah
di hari yang berkeringat

di somba opu
apa yang pilu
selain langkah
makin ragu
menjauh
dari istanamu

(november 2012)


Wayan Jengki Sunarta
, lahir di Denpasar, Bali, 22 Juni 1975. Lulusan Antropologi Budaya, Fakultas Sastra, Universitas Udayana. Mulai  menulis puisi sejak awal 1990-an.
Tulisan-tulisannya dimuat di berbagai media massa lokal dan nasional, Buku kumpulan cerpennya yang telah terbit adalah Cakra Punarbhawa (Gramedia, 2005), Purnama di Atas Pura (Grasindo, 2005), Perempuan yang Mengawini Keris (Jalasutra, 2011). Buku kumpulan puisinya yang telah terbit adalah Pada Lingkar Putingmu (bukupop, 2005), Impian Usai (Kubu Sastra, 2007), Malam Cinta (bukupop, 2007), Pekarangan Tubuhku (Bejana Bandung, Juni 2010). Penjyair ini tinggal di Denpasar.


















Wadie Maharief

  Wadie Maharief

Kenangan tentang Emak

Perempuan cekatan itu
adalah emakku
Ngurus anak sepuluh hampir tak pernah mengeluh
Serba bisa meski tak pernah sekolah
tapi menjadi guru bagi anak-anaknya
Aku belajar segala dari emak
Mulai menampi beras, menanak dan menjerang air
Bikin gulai dan menyeduh kopi
Emakku perkasa, ratu yang agung
Rumah dan berandanya selalu bersih
Gemulai ia menyapu setiap pagi
Tangannya tak pernah berhenti
Seperti penari yang penuh energi
Aku rindu emak
Yang telah mengajari aku tentang hidup
dan kehidupan ini
Aku mengerti kenapa beras mesti ditampi
Sebelum ditanak, kenapa menyapu
Harus pelan tapi bersih....?
Jangan melakukan kesia-siaan dalam hidupmu, nak….
Begitu pesannya
Yogya, 25 Mei 2014



Wadie Maharief lahir di Prabumulih, Sumsel, 13 Maret 1955, mengabdikan hidup sebagai wartawan. Sejumlah tulisan banyak dimuat di suratkabarregional dan nasional, tinggal di Yogyakarta.

Vera Mutiarasani

Vera Mutiarasani

Lesap

Terkenang kekal segan dimakan jaman
Kala di sana kami beragam membangun kehidupan
Dahulu, indah nian kampung halamanku jadi loka jejak ini ditapakkan
Sampai akhirnya mereka datang, kampung halamanku digerus dalih persilihan

Tempo dulu, nyata kami berjalan di atas hampar rerumputan
Kini tak pelak, beton jadi landas kaki ini berjejalan
Lesap, mana kampung halamanku kekinian?
Tak beda, serupa menaung hidup di payung urban

Kembalikan! Sisihkan aku seransum kampung halaman!
Jangan biarkan kampung halaman jadi potret menggiurkan di masa depan
Biarlah alam dan kami jadi satu peraduan
Datanglah bila engkau inginkan, tapi ingatlah untuk lestarikan

Kampung halaman, lesap engkau dicampakkan ….
Kampung halaman, saksiku tempuh hidup kala masih kekanakkan ….

Vera Mutiarasani
Penyair tinggal di Karawang Timur, Kabupaten Karawang.





Thomas Haryanto Soekiran

Thomas Haryanto Soekiran

Jarankepang di Pelataran Borobudur

entah mantramantra darimana yang mendorong memaksa hingga sampailah
segala emaji terkuras untuk sekedar berlabuh dipelataran bercanda berdua
begitu mesra bercinta dengan musik, andai sempat ada yang terusik pasti
bukan karena sirik apalagi membenci secara membabibuta.
begitu agung terselubung dengan tarian yang apaadanya
musik yang melodinya dari itu ke itu menyatu disudut harmoni
bahasa tubuh berlabuh kesana kemari tanpa minta ditemani
usai tanggapan bubar dan peluang untuk membagibagi uang

2013


Thomas Haryanto Soekiran penyir ini
Lahir di Purbalingga 25 Desember 1961 Banyumas Jateng, Karyanya telah dimuat dalam antologi bersama regional dan nasional , aktif di berbagai organisasi kesenian di Jawa Tengah, serta mendirikan padepokan seni Matahariku purworejo. Penyair ini juga menggeluti dunia seni tari dan pernah mengenyam Pendidikan Kesenian di Padepokan Seni Bagong Kussudiardjo Yogyakarta1984, 1988 Sanggar Gelak Suka nya Agus Melasz Jakarta

Tuti Anggraeni

Tuti Anggraeni

Rindu

dendang itu entah dari negeri mana
terkadang melembut, tinggi memekik
hingga sepi menghujam mencabik

rasa entah itu gelisah machluk apa
tetap menetap, merantai membantai
hingga mengoyak menyerpih

perjalanan itu entah kisah apa
panjang berulang, bergulung-gulung
sepi menikam tak selesai usai

ahh ...!

di antara ada dan tiada engkau bersimaharaja
pecahkan segala akal semua logika
telinga, hidung, mata
dan pancaindra mati merasa
ruang waktu jarak terkapar tergeletak
tersisa wajahmu penghilang seribu hasrat

sungguh ...

bila seandai-andai sepi terbunuh
sunyi malu dan pergi tinggalkan mimpi
rembulan matahari tanggalkan rotasi dan henti
barat, timur bertemu tanpa batasan
gurumu-guruku berpeluk di padang cinta
darah nanah matikan bunga-bunga kebencian

kekasih ...

enyahkan panji-panji penghalang semua
palestina adalah engkau-aku tanpa amerika
kitab-kitab terbuka dan nyanyikan seluruh
mazmur para perindu jiwa-jiwa surgawi
dan di sana, di sana bunga impian kita abadi berbunga
di taman yang sama saat adam dan hawa tergelincir cinta
pada tanah impian tempat kita di lahirkan

tak perlu menanti, tak usah bermimpi
enyahkan saja semua rasa segala asa
segera.. selekas aku hampiri engkau
abadi menjadi, kembali abadi.

Tuti Anggraeni 
Ibu rumah tangga berputra 3 (tiga) orang anak ini bernama asli Tuti Anggraeni. Lahir di Jakarta,20 Agustus 1976. Penyair ini tinggal di Cikarang Barat. Bekasi .



Sindi Violinda

Sindi Violinda

Hilangnya Kampung Halaman

Emak, aku kembali dari tarung dan tempuh
yang hampir melepuhkanku
Di ujung lorong kutahu ,
Emak laungkan namaku

Aku tak sabar laksana gotong royong bersama pemukim
melihat-lihat serta menikmati jagabaya
Begitu banyak sejarah yang jika dirangkum,
ada sekilas lelucon hingga duka yang larah

Semesta alam, ingin kupeluk erat
Emak, Emak!
Engkaulah wanita rentan yang setia menunggu
Kulepaskan segala rindu padamu, Mak!
Namun samar-samar akhirnya kusadar juga
Kulirik sudut demi sudut kampungku berbeda
Gedung-gedung tinggi meledakkan amarahku
Kobaran semangatku meleleh
Jemariku mengepal alot

Emak, Emak!
Mana padi yang dulu tertanam?
Mana kampung halamanku, Mak?
Berapa lama?
Mak, katakan berapa lama aku pergi
Berpuluh-puluh tahun
Kini hilang
Medan, 27 Juli 2014

Sindi Violinda, penyair ini tingal di Medan sumatera Utara.

Suyitno Ethex

Suyitno Ethex
GEMBALA  BEBEK

sekampung halaman tercinta
di mana diri dilahirkan menyapa dunia
sebagaian besar warganya berternak bebek
malam hari wek….wek….wek….suara bebek menyeruak
mengisi sepi kesunyian malam yang jamak

tatkala panen padi musimnya tiba
bebek-bebek di keluarkan kandang di bawa sawah
di hamparan sawah padi setelah dipetik
bebek digembalakan mencari butir-butir padi
yang berjatuhan diantara beceknya tanah
dengan kebyok haluan terbuat dari bambu
gembala bebek mengendalikan bebek-bebeknya

gembala bebek penuh perjuangan
di dalam mengendalikan bebek mencari butir-butir padi
karena gembala bebek kayak mengendalikan rombangon
yang jumlahnya seratus ekor ke atas
yang harus selalu dalam satu kelombok
berangkat dihitung jumlahnya
pulang dihitung jumlahnya

mojokerto, 2014
kebyok : alat untuk menghalau bebek biar terkendali tebuat dari bilah bamboo dan pucuknya diberi perca palstik


Suyitno Ethex
Penyair kelahiran Mojokerto ini tlah banyak mengisi antologi bersama bertaraf regional dan nasional, adalah juga seorang dosen di STIT Uuwiyah Mojokerto. Tinggal di Mojosari Mojokero Jawa Tengah.