TEKS SULUH


Tampilkan postingan dengan label puisi Gila. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi Gila. Tampilkan semua postingan

Minggu, 12 Januari 2020

Puisi Gila Hadi Lempe : Rindu Gila


Hadi Lempe

                                             RINDU GILA

Kamu terlalu jujur untuk di rindukan
Dan benar saja
Karena setiap kali ada rindu padamu
Tak terkira pula apa yang harus di suguhkan
Pertanyaan itu selalu terlontar
Ini gila-gilaan
Atau permainan gila
Aku selalu saja kau ajak gila
Ach.....
Rindu itu,
Rindu yang bikin gila

Pkl.08/01/020


Sabtu, 11 Januari 2020

Puisi Gila : Muhammad Lefand Bait-bait Kegilaan

Muhammad Lefand

Bait-bait Kegilaan
Atas nama apa kegilaan harus dijunjung
Bertanyalah kepada bait yang ditulis jagung
Mata menatap mata menjadi rindu dan rasa
Hujan turun di celah kata menjelma air mata
Bacalah bait kagilaan ini dengan tertawa
Agar mengerti hikmah patah hati dalam bercinta
Penyair bukan raja yang harus dijunjung tinggi
Tapi hati harus tabah menjalani kegilaan sepi
Tak ada kata yang harus ditanam seperti padi
Karena hidup hanya memerlukan cara untuk berdiri
Penyair mencipta puisi setiap hari tanpa bumbu
Kita membaca serius dengan segenap rindu
Tertawalah sebelum nasi kucing dimakan
Karena rasa sakit di hati bukan kenangan
Penyair begitu sumbringah di atas panggung
Kita cukup minum kopi sambil makan jagung
Jember, 2020

Jumat, 10 Januari 2020

Puisi Gila Ramadhan Abdullah Fitnah dunia

Puisi Gila

Ramadhan Abdullah
Fitnah dunia seksi, seks alkohol perampokan puisi kata-kata

Musnah rima amoral kecanduan

Pemerintah melahap harta jabatan politik, rakyat sengsara. Martir judi balapan lubang vagina penis

panjang berjatuhan karena ambisi

Tumbuh berkembang anak cucu

Air putih mengalir di urat nadi

Gunung-gunung pun hancur berkeping

Mengeluarkan lahar darah, di puncaknya

Ah, ah, ah, aku mimisan.

Celana bajuku sobek pengangguran

Kantongku ijazah tak berguna

Kolong jembatan aku berteduh

Meminta belas kasih para pelacur

Membuka lubangnya yang merah berbulu

Hijau tanaman padi petani yang gersang ladang kemarau

Tanpa kesejahteraan

Istana raja-raja menjulang megah

Birahi perawan tua tanpa kepedulian

Sesuap nasi ditiadakan cinta permata

Pergelangan tangan jahil

Pacuan kuda malam-malam

Terasa bumi adalah manusia

Surga dibelahan dada yang tersisa

Dua ribu rupiah untuk sabun pencuci

Noltalgia taman indah, remang rembulan

Menembum pori-pori dahaga

Kaum remaja hobinya gila dewasa

Besar kuat hitam legam

Tapi hayalan belaka tak terbalas

Aku

Kau

Kita

Mereka

Pemerintah

Berdagang

Menghitung jajan

Jadi tulang

Tanpa ke belakang

Candu, 29 Desember 2019

Page 2

Aku si gila dari negeri mantan jajahan.

Entah apa?. Mungkin belum punya senjata untuk membasmi musuh kemarin dahulu. Aku si gila



yang suka marah, kadangkala cintaku menembus cakrawala




Puisi Gila , Bunga Awanglong : Tragedi Oktober 2010

Mungkin seperti ini rasa nya
Hidup dalam kurungan

Bisa melihat tapi ta bisa berbuat
Walopun jiwa mampu bergerak ,, begitu hebat
Semua serba tersekat dengan batas yang di buat
Pada akhirnya semua hanya tinggal mimpi dan kenangan ,
Harus di lepas dengan begitu berat ..

Saat melihat mata ,, harus nya ku tau ..
Itu semua sangatlah sulit
Tapi .. kU tak perduli
Asalkan bisa ,, harap kU terpenuhi

Hari demi hari berlalu
Berjalan dengan kepedihan hati
Di temani dinding sepi

Ketika hari kU terhenti
Semua sudah terlambat
Apapun yang di lakukan
Tak kan mungkin bisa kembali
Tinggallah sesal di hati
Yang akan teringat sampai mati
( tragedi Okt 2010 )

Puisi Gila Osratus (Sutarso) : PROTES KETIKA GILAKU TERPASUNG

PROTES KETIKA GILAKU TERPASUNG


"dengar dulu:
 dari dunia nyata,
 aku pindah lokasi.
 bersama perahu imaji,
 menyeberang
 ke kampung khayali.
 lalu, sampai aku
 di tepi kali puisi.
 berkendara diksi,
 aku menuju bandara hati.
 dengan pesawat jiwa,
 aku kembali ke dunia nyata.
 dari ranah fiksi banyak manfaat yang bisa kita petik, diriku.
 gejolak nyali baikku
 yang  kau anggap gila itu,
 yang terpasung letupletup 
 egomu itu, telah bangkit
untuk mengubur rasa benci dan dendam
untuk memaafkanmu
sebenarbenar memaafkanmu."

Sausapor, 09-01-2020




Puisi Gila Diah Setyawati : KETIKA TEMBOK BICARA

KETIKA TEMBOK BICARA

melepas mata batin pada kekarmu
bertahun menjadi saksi bisu
tiba tiba kau angkat bicara
akh.bermunculah larik larik kata disana
sedang aku meraupnya
mencoba merangkainya
menjadi puisi yang tak henti
jangan katakan gila

ketika menghitung angka angka tagihan
ketika gosong bawang goreng
karena keasyikan
berkerut jidat,nahan malu
bagai bola pingpong menyerang bertubi
menghakimi
sembari berkata gilaaa

kutatap tembok untuk kesekian kali
sebelum kedip mata
saat bercinta
dibalut cemburu terus memburuku
sesungguhnya engkaulah ladang kata
dimalam gulita
sumur imaji yang tak pernah habis
meski lagi kempas kempis
kudapati wajahmu tak lagi manis
penuh retak
minta dipermak
Ketika tembok bicara
puisi tetap ada
setengah gila memilihmu
tak ada selingkuh
tetap kukuh
barangkali lantaran rasdan  ( waras edan)


Tegal' 10 Januari 2020.
jam 23.21.


Puisi Gila , Harkoni Madura, DAGELAN GILA NEGERI ANTAH BERANTAH

DAGELAN GILA NEGERI ANTAH BERANTAH



di negeri antah berantah kandidat wakil rakyat meraung-raung

berteriak serupa orang gila di panggung

mengatasnamakan rakyat tanpa ingin menangguk untung

panji warna-warni erat digenggam tangan

dikipas angin yang disunggi goyang daunan



tembok-tembok rumah serta pohonan disesaki banner dan stiker

berparam kalimat-kalimat bombas tanpa ruh

jadi konsumsi berita televisi juga headline koran- koran

membikin perut mules ingin muntah sebab tak tahan



program-program dan janji-janji diapungkan

begitu menang dan memangku amanah jabatan

acuh pada pendukung serta simpatisan

yang dulu menggila mengagung-agungkan



orang-orang bersorak-sorai berjingkrak kegirangan

begitu dia digiring ke hotel prodeo lantaran tertangkap tangan

sebab uang negara seenaknya dijadikan bancakan serta menumpuk kekayaan



di penjara dia depresi senyum-senyum sendiri

tanpa ditemani anak istri seraya berteriak mengangkasa:

“aku gila...aku gilaa....aku gilaaa...aku gilaaaa....aku gilaaaaa....”



Madura, 4 Januari 2020.





Harkoni Madura. Lahir di Sampang, 3 Desember 1969. Puisinya dimuat di Jawa Pos, Radar

Madura,  Media,  Tera,  Lensa Madura,  dan  Aschal.  Puisinya  juga  dimuat  dalam  antologi

bersama antara lain: Dzikir Pengantin Taman Sare (2010), Tikar  Pandan di  Stingghil (2011),

Memo  Untuk  Wakil Rakyat (2015),  Mengunyah  Geram (2017) dan lain-lain.

Beralamat di   SDN    Banyuates 4,   Kec.   Banyuates,    Kab.  Sampang,   Madura   69263.

E-mail: harkoni..madura @gmail.com .Hp.081334213028.








Puisi Gila : Evita Erasari : Dunia Gila

Dunia Gila


Setiap orang berkata kata
Seperti denting gelas kaca
Nyaris pecah bergesekan
Entah apa yang diperebutkan
Dengan banyak kalimat itu

Aku
Kau
Ini
Itu
Ahh

Ini dunia hampir gila
Juga akan disebut gila
Jika kau tak ikut gila


Semarang ,
9 Jan 2020

Evita Erasari 

Puisi Gila, Asep Syahril Fajri Cinta

Puisi Asep Syahril Fajri



Cinta

 Jelangkung-jelangkung
Datang tak dijemput
Pulang tak diantar

Agar-agar dikunyah
Manis dan lembut terasa

Dalam kampanye
Aku butuh dukunganmu
Engkau butuh belas kasihku

Tertawa menang lotere
Jadi durja kemalingan





Asep Syahril Fajri, Lahir pada 22 Oktober 1985 dari kesucian rahim sang fajar,dibesarkan oleh belaian tangan kekar ketegaran.Tinggal di Serang – Banten, sehari-harinya ialah sebagai buruh di salah satu pabrik di Cilegon – Banten. Pemilik usaha Sirup Wedang JaMer MADE IN ASSYAFA ini sedang mempersiapkan kumpulan puisi tunggalnya ; Indonesia, kami kenang elok tubuhmu.

Puisi Gila , Sukma Putra Permana GUNA-GUNA BIBIR MERAH MEREKAH TIPU DAYA SI TUA BANGKA

Sukma Putra Permana

GUNA-GUNA BIBIR MERAH MEREKAH

TIPU DAYA SI TUA BANGKA



Kadang kau tersadar dan menyesali keputusanmu di masa lampau. Tapi manakala bibir bergincu merah tebal merona menyala itu mengecup pipimu, maka muncul lagi harapan-harapan yang membuatmu selalu terpana dan terpesona penuh asa. Walau usia si penggoda itu tak lagi dapat dibilang muda, tapi gairah menggelora yang dihembuskannya membangkitkan nafsu cinta purba. Harta benda, kendaraan, rumah, kesehatan, sekolah, bahkan melayang jiwamu pun tak perlu susah. Serahkan semua dalam tanggungannya pasrah. Panas, hujan, gempa, longsor, api membakar, ataupun air bah melanda, tak usah resah. Semua petaka dalam sekejap sirna musnah dengan rayuan menggoda bibir merah segar merekah.

Kadang jika tersadar, kau tak habis pikir, apa yang menyebabkan kau jatuh cinta pada si Tua Bangka. Tidaklah cantik wajahnya, tidak pula indah istimewa bentuk tubuhnya. Bertahun-tahun pelayanannya pun sering mengecewakan bahkan kadang menyakitkan hati mengacaukan perasaan. Tapi, sekali lagi, semua pikiran-pikiran itu lenyap dengan segera setelah kau lihat bibir merah bergairah itu di hadapanmu. Nikmatilah, hidup yang tampak indah penuh amora, serasa berbulan madu selamanya. Hembusan udara sejuk asmara menghela hasrat-hasrat tak tertahankan.

Tapi, berhati-hatilah! Akan ada masa, ketika si Tua Bangka mulai ingkar pada janji-janji indah yang pernah diucapkannya. Ia akan menghindar, berdalih dengan alasan-alasan yang tak masuk akal. Karena sesungguhnya, telah habis musnah semua yang pernah kau percayakan kepadanya. Ia telah GAGAL BAYAR TRILYUNAN RUPIAH. Ketika kau menuntut dan menumpahkan segala rasa kekecewaan, si Tua Bangka itu dengan santainya akan berkata:

Kau salah jika kecewa, berkeluh-kesah, atau menuntutku seperti itu. Dulu di awal, sebelum kau putuskan untuk hidup bersamaku, tentu tak kau baca dengan teliti dalam buku proposalku, semua SYARAT DAN KETENTUAN BERLAKU!!!

Dan kau hanya dapat terhenyak terdiam lemas tanpa gairah…



Januari 2020

 


SUKMA PUTRA PERMANA lahir di Jakarta,     3 Februari 1971. Beberapa buku yang pernah memuat puisi-puisinya, antara lain: Yogya Dalam Nafasku (2016), Negeri Awan (2017), Negeri Bahari (2018), Satrio Piningit (2018), Anak Cucu Pujangga (2019), dan Segara Sakti Rantau Bertuah (2019). Buku puisi tunggalnya: Sebuah Pertanyaan Tentang Jiwa Yang Terluka (2015). Sekarang beralamat di: Ring Road Timur Mutihan No.362 RT.5, Wirokerten, Banguntapan/Kotagede, Bantul, D.I. Yogyakarta 55194.

Puisi Gila, Sarwo Darmono : Edan

EDAN

Melu edan
Edan dewekan
Kepingin dadi juragan
Melu edan
Edan mbelani juragan
Sing dibelai edan pisan
Melu edan ben keduman
Keduman jabatan
Keduman panganan
Keduman pakormatan
Keduman kesenengan

Supaya keturutan
Ngoceh sak papan papan
Ngoceh sak dhalan dhalan
Ngoceh neng koran koran
Ora lali njaluk bantuan para setan
Ocehane ora karuan
Ora perduli gawe gelane liyan
Ora perduli ragat duwit jutaan
Ora perduli direwangi gelutan
Sing penting melu edan


Karepe Kabeh keturutan
Kasunyatan dadi juragan
Dadi juragan tambah edan
Digawe kesempatan
Mumpung duwe kekuasaan
Ora wedhi Karo siksaan
Rumangsane nek edan
Ora ana hukuman
Dasar pancen edan
Ya... Tetep ae edan

Kanggo sing maca tulisan Iki
Aja katut edan
Sing penting sehat badan lan iso mangan
Sanajan Sega sak kepalan
Tansah antuk barokahe Tuhan
Slamet donya lan Akherat Kersane kang Maha Wikan           

Lumajang ,Rebo Pon 08012020
Pangripta Sarwo Darmono, 

Kamis, 09 Januari 2020

Puisi Gila, Rg Bagus Warsono : Hujan

Hujan,

Tik-tik bunyi hujan itu Ibu Sud

Tetes Hujan di Bulan April itu Mus Mulyadi,

Hujan di Bulan Juni itu Sapardi Djoko damono

Hujan itu Tere Liye,

Hujan itu anugerah Allah,

(diam)

Banjir itu "GARA-GARA RAIMU !"

Puisi Gila : Indra Yuswandari : RAJA

RAJA

Kau meminta kutulis puisi tentang raja
Aku bingung
Raja yang mana?
Raja minyak?
Raja kapal?
Raja dangdut?
Raja hutan?
Atau rajasinga?
Aku tidak mengenal semuanya

Tapi ini ada yang lagi viral
Raja bual
Ya, raja bual
Tiap hari omongannya mbual melulu
Gak nyadar kalau sebagian rakyat udah eneg nglihatnya
Pingin juga sih ikut demo nurunin dia
Atau ikut menandatangani semacam pakta menuntutnya mundur
Tapi kata pendukungnya yang seiman,rakyat wilayah lain tidak boleh ikut campur,tidak boleh ikutan demo

Udah tahu kerajaannya kelelep, eh kesana kesini cuma retorika aja,ya  enggak salah dong kalau mahadirajanya turun tangan langsung
Payah, raja cuma pandai berakrobat
naik sepeda lepas tangan, ada  persoalan enggak bisa menyelesaikan

Eh, ini raja beneran atau dolanan ya?
Jangan- jangan dia raja dolanan...

09.01.2020
Indri Yuswandari

Puisi Gila : Eri Syofratmin : GILA KURSI KURSI GILA

PUISI-PUISI  ERI  SYOFRATMIN

GILA  KURSI KURSI GILA



Pada,

: Sandaran empuk,

  Sebelum duduk.

Kau,

: Pancangkan baliho wajah

  Ditiap-tiap simpang;

  Ditiap-tiap lorong,

  Ditiap-tiap kampung,

  Ditiap-tiap bukit,

  Ditiap-tiap lurah,

  Ditiap-tiap tiang,

  Ditiap-tiap batang,

  Ditiap-tiap sudut kota,

  Menghambur kata,

  Menabur senyum manis

  Penuh harap dan kecemasan.



Pada,

: Sandaran empuk,

  Sebelum duduk.

Kau,

: Ikrarkan janji,

  Pada setiap orang;

  Pada tiap tiang,

  Pada tiap batang,

  Pada tiap perorangan;

  Dengan uang sogokkan,

  Dengan bisikkan, "cucuk aku sayang".



Pada,

: Sandaran empuk,

  Sebelum duduk.



Kau,

Memasang umpan,

Memasang iklan,

Memasang harapan.



Dan,

: Setelah kau duduk.

  Tak kau hiraukan lagi,

  Janji-janji manismu.

  Rakyat masih saja,

  Mengais derita.



Oooo...Jing gonjang-gonjing, gonjang-ganjing,

Oooo...Ning pening-pening-pening-pening ning,

Oooo...Di obok-obok,

Dinina bobok, digadai kapok,

Sudah pada begok-begok.

Pada sok tau,

Pada belagu,

Pada Asu,

Joget-joget sama pembantu.



Sudah semakin sesat,

Sudah semakin melarat,

Sudah semakin sekarat,

Sudah banyak di sunat.

Banyak yang gila pangkat,

Banyak yang patpatgulipat,

Biaya kehidupan semakin meningkat.

Tanah di gadaikan,

Hutang-piutang selilit pinggang,

Gawat !!!



Sarjana,

: Setengah gila,

  Menyandang ijazahnya,

  Komat kamit menyalahkan penguasa.





Muara Bungo, 2 Januari 2020.

















BIOGRAFI ERI SYOFRATMIN



ERI SYOFRATMIN lahir di Muara Bungo 07 September 1970. Mulai bergiat di dunia seni dan sastra ketika menempuh pendidikan di ASKI Padangpanjang pada tahun 1989 sampai tahun 1994 dan melanjutkan studi S1 di IKIP Padang jurusan Sendratasik selesai pada tahun 1998. Puisi puisinya banyak dimuat diterbitan Ganto, Harian Singgalang dll. Semasa kuliah banyak berkecimpung di Taman Budaya Padang bersama penyair-penyair dan seniman sumatera barat. Pendiri Forum Komunikasi dan Kreasi Pemuda di Kabupaten Bungo. Pernah aktif di Sanggar Pemda Kabupaten Bungo yang bergerak dibidang seni tari dan musik tradisi. Puisi-puisinya juga tergabung dalam antologi bersama seperti PRASASTI (1999) dan LACAK KENDURI (Dewan Kesenian Merangin, 2015) KITAB KARMINA INDONESIA (KKK, 2015). Aktif berkegiatan seni di Komunitas Seniman Bungo dan Sanggar Pisang Kayak. Saat ini menjadi tenaga pengajar Seni Budaya di SMPN 1 Muko Muko Bathin VII dan SMPN 1 Muara Bungo.

Senin, 06 Januari 2020

Puisi Gilanya Munadi Oke : Rintihan Kepala yang Terapung

Rintihan Kepala yang Terapung

Seonggok kepala terapung
Keruh air membawanya berkelana
"Tolong aku!! ",
Katanya kepada setiap mata...

"Sebentar, biar kuambil dulu bagianku, baru ku kasih kamu", kata cukong bejad sambil menghitung uang donasi.
" Pertahankan kepalamu di atas air, biar ku rekam untuk kujadikan berita utama" kata seorang reporter sambil membetulkan arah sorotan kameranya.

Sementara...
Di sudut lain...
Seseorang asyik menulis status di handphonenya, " Gubernur ga becus kerja, buktinya...masih banjir juga ", sambil kemudian mengambil gambar kepala yang terapung.

Lalu sepotong kayu menghantam kepala itu dan mendorongnya ke tepi liang kubur.
Masih ku dengar rintihannya, " Tuhan, tolong hancurkan juga manusia manusia tak beradab itu "
Hingga akhirnya aku tak mampu lagi menahan luapan air mata.

SH
Jakarta 02012020

Puisi Gila : Ali Syamsudin Arsi ORANG-ORANGAN DI TENGAH PASAR

 Ali Syamsudin Arsi

ORANG-ORANGAN DI TENGAH PASAR

SEDANG PASAR TAK PERNAH MAU TAHU
BAHWA ADA ORANG-ORANG DI TENGAH PASAR
KETIKA SEMUA SIBUK MEMAMAH BIAK
DENGAN BUIH SEMAKIN MEMBUNCAH,
TERDENGAR SUARA DARI LOS DAGING
DENGAN AROMA SAKRAL UPACARA PENGUBURAN IKAN YANG MULAI MEMBUSUK SEBAGAI DAMPAK DARI SEMPROTAN PEMBASMI HAMA TANAMAN,"

Adakah yang lebih parah dari sekedar merampas hak anak-anak bangsa  pelanjut estafet generasi yang tak lagi kenal warna bendera, teks Sumpah Pemuda juga susunan kata Proklamasi RI Tahun 1945 bahkan sangat tidak mengerti jenis apa wujud UUD 45 di mata mereka, semakin jauh semakin dijauhkan dari dari semua persoalan hidup dan kehidupan, sayap-sayap lepas dari kepak," sejarah peradaban orang teriak lantang.

Ali Syamsudin Arsi, lahir di kampung Tubau, Pantai Hambawang, Hulu Sungai Tengah, Prov.Kalsel. Memang suka menulis dan tampil baca puisi.

Puisi Gila : Marlin Dinamikanto : Tuna Asmara

#PuisiMarlin
TUNA ASMARA

Berjalan di antara hamparan rindu yang bergerak. Mengendap gagap. Seperti ranting kering belajar menumbuhkan daun di musim penghujan yang telat.

"Ini pertengahan Desember," katanya kepada rimba Kurusetra yang gelap.

Pertarungan el clasico Karna vs Arjuna gagal dimainkan. Sebab Ki Dalang bermuram durja. Digerogoti rindu yang bertunas di pikirannya

Mungkin saja Dewi Amba berpeluk malam di sana. Menanti Resi Bhisma yang tumben telat berlaga di Kurusetra.

Sedangkan hatinya gelisah ketika jiwa sudah di ujung anak panah Sri Kandi. Ingin terbang menancap ke dada kirinya tapi Bhisma sudah tidak ada.

Rindu semakin berserak seperti kawanan semut berjejal di lodhong gula yang lupa ditutup. Dewi Amba terkapar membawa hasrat yang perih dalam tidurnya.

Rindu yang suaranya parau beranak di pikirannya. Mungkin saja dia Karna yang lahir dari telinga Dewi Kunti. Dipaksa bertanding melawan Arjuna yang samasama piawai melesatkan anak panah.

Atau Dewi Amba yang menunggu kematian Bhisma di pintunya alam kelanggengan.

Tapi dalang bahlul merusak segala cerita tatkala Rindu tidak segera menemukan cinta.

di rumah hatinya yang tuna asmara

Bogor, 18 Desember 2019

Minggu, 05 Januari 2020

Puisi Gila Heru Patria : Jancuk

JANCUK!

Oleh : Heru Patria





Saat pejabat menjelma jadi kapal keruk

Segenap kekayaan negara disikat secara maruk

Hingga dalam waktu singkat kekayaan menumpuk

Rakyat yang melarat hanya bisa mengumpat, Jancuk!



Proyek besar disulap jadi ladang empuk

Tanda tangan dikomersilkan selaris kerupuk

Tak peduli kehidupan rakyat makin terpuruk

Sambil batuk-batuk rakyat misuh, Jancuk!



Saat pejabat bersikap layaknya beruk

Bersikap acuh meski langit hendak ambruk

Orang orang kecil tak pernah tahu nikmatnya lauk

Makan nasi campur garam melontar geram, Jancuk!



Jika kau nanti sudah tak lagi duduk

Tiada seorang jua yang mau tunduk

Saat itulah sikap pongahmu mulai takhluk

Kau terdiam terima umpatan, Jancuk!



Cepat tinggalkan kursi empuk

Atau kau tunggu kami main timpuk

Kami terlalu bosan dengan segala akal busuk

Biarkan kami berteriak, Jancuuuk!





Blitar, 4 Januari 2020

BIODATA :

Heru Patria adalah penulis dari kota Blitar. Sampai saat ini telah menerbitkan 21 novel, 11 kumpulan cerpen, dan 1 kumpulan puisi. Novel terbarunya berjudul Jangan Mimpi Jadi Jokowi. Penulis dapat dihubungi di 0857 8414 5106

Puisi Gila : Asep Muhlis :KAMBINGKAH AKU

KAMBINGKAH AKU

Asep Muhlis



Seasyik kambing menjumput ruput

aku begitu fokus mengulum bening pipimu



Serenyah kambing mengunyah rumput

aku begitu gereget memandang ranum bibirmu

Serupa kambing yang kerap datang ke ladang yang sama

aku selalu berulang menghadirkanmu  pada ladang ingatan



Segirang kambing berlarian di padang

kala aku dapat sapaan di hamparan hatimu yang lapang



Tak peduli aku telah jadi gembala cintamu

yang penting  bisa berlarilari dan mengembik

memamahbiak tanpa mengikuti musim dan cuaca



Serang, 28 Januari 2019






Asep Muhlis

Lahir di Ciamis, 21 Januari 1963

Pernah belajar di SMAN Banjar - Ciamis

Pernah belajar di IKIP Bandung

Bekerja di Pemda Provinsi Banten

Tinggal di Kota Serang - Banten

Puisinya dimuat dalam ;

Antologi puisi bersama MENYERUAK ,penerbit D3M Kail, Jakarta, 2018
Antologi puisi bersama DARI NEGERI BAHARI, penerbit Kosa Kata Kita (KKK), Jakarta, 2018
Antologi puisi bersama CINTAMU KUJAGA, penerbit D3M Kail, Jakarta, 2018
Antologi puisi bersama REMAH RINDU,  penerbit D3M Kail, Jakarta, 2019
Antologi pentigraf bersama  WANITA GURU BANGSA , penerbit D3M Kail, Jakarta, 2019
Antologi puisi bersama KOMANDAN, penerbit D3M Kail, Jakarta, 2019
Antologi puisi bersama NEGERI PENYAIR, Forum Silaturahmi Penyaiur Lintas Daerah Nusantara, 2019


Puisi Gila: Wadie Maharief : Aku Ingin...



Aku Ingin...

aku ingin jadi pejabat
duduk di kursi empuk
dikelilingi anak buah tinggal perintah
yang berani bantah kupecat
yang pandai menjilat kuberi duit

pilih aku
aku ingin jadi pejabat kuat
bukan cuma berkuasa tapi juga kaya
biar pun mencuri uang negara
kuatur semua suka-suka

aku pejabat sahabat konglomerat
aku beri peluang menangguk uang
harga sembako dan bbm naik
rakyat terjepit ekonomi sulit
proteslah, akan kubiarkan saja
biarkan saja...

aku ingin jadi pejabat punya derajat
lidaku pandai bersilat, jidat berkilat
perempuan-perempuan terpikat
selalu mendekat biar cuma jadi simpanan syahwat

laknat...!

Yogya 04012020

Tentang penulis:
Wadie Maharief, lahir di Prabumulih, Sumsel 13 Mart 1955. Kini tinggal di Yogya, puluhan tahun sejak 1980-an menjadi penulis lepas dan wartawan pada beberapa media cetak, suratkabar.
Banyak menulis puisi, cerpen dan esai, namun belum sempat membukukan puisi-puisinya.