TEKS SULUH


Tampilkan postingan dengan label Mengenal sastrawan Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mengenal sastrawan Indonesia. Tampilkan semua postingan

Jumat, 31 Januari 2020

Mengenal sastrawan Eddy D Iskandar

Eddy D Iskandar,

Cowok Komersil (1977)

Cowok Komersil adalah buku karya sastra merupakan novel yang terbit dan populer di kalangan para remaja tahun 1977. Novel karya Eddy D. Iskandaritu telah dicetak ulang hingga 3 kali, yakni bulan Mei, Juli, dan Agustus tahun 1977. Novel setebal 197 halaman itu diterbitkan oleh Cypress, Jakarta .

Mengenal sastrawan Sri Rahayu Prihatmi,

Sri Rahayu Prihatmi,

Di Atas Puing-Puing (1976) Di Atas Puing-Puing adalah buku karya sastra merupakan novel karya Th. Sri Rahayu Prihatmi yang mendapat rekomendasi dari Dewan Juri Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta tahun 1976 sebagai karangan yang layak diterbitkan. Novel itu pertama kali diterbitkan oleh Pustaka Jaya pada tahun 1978. Novel itu mengisahkan kehidupan rumah.

Mengenal sastrawan SM Ardan

SM Ardan,

Terang Bulan Terang di Kali (1955)

Terang Bulan Terang Di Kali adalah buku karya sastra merupakan kumpulan cerpen karya S.M.Ardan. Kumpulan cerpen itu terbit pertama kali pada tahun 1955 oleh Gunung Agung, Jakarta, setelah direkomendasikan oleh H.B. Jassin. Tahun 1974 Terang Bulan Terang di Kali dicetak ulang oleh Pustaka Jaya, Jakarta, dengan ilustrasi.

Mengenal sastrawan Sori Siregar,

Sori Siregar,

Awal Musim Gugur (1981)

Awal Musim Gugur adalah buku karya sastra merupakan salah satu novel karya Sori Siregar yang diterbitkan oleh penerbit Nusa Indah, Ende Flores, pada tahun 1981. Novel itu menceritakan salah satu pengalaman yang didapat Sori ketika ia bertugas di Radio BBC London. Dalam novelnya itu, Sori Siregar mengemukakan persoalan "demam".

Mengenal sastrawan ; Habiburrahman El Shirazy,

Habiburrahman El Shirazy,

Ayat-Ayat Cinta (2004)

Ayat-Ayat Cinta adalah buku karya sastra merupakan karya novel Habiburrahman El Shirazy. Novel ini pertama kali terbit sebagai cerita bersambung dalam harian Republika. Setelah diterbitkan secara bersama oleh dua penerbit, yaitu Penerbit Republika dan Pesantren Basmala Indonesia, sebagai satu novel utuh pada Desember 2004, karya ini menjadi judil film yang populair secara nasional

Mengengenal sastrawan : Rg Bagus warsono

 Si Bung adalah karya terbesar Rg Bagus Warsono, sastrawan kelahiran Tegal , bercerita tentang sosok Bung Karno dalam puisi-puisi imajener yang diterbitkan oleh Leutikaprio  Jogyakarta tahun 2014.

Mengenal Sastrawan Darman Munir,

Darman Munir,

Bako (1983)

Bako adalah buku karya sastra merupakan novel karya Darman Moenir, diterbitkan Balai Pustaka tahun 1983 dengan tebal 102 halaman. Cetakan ke-2 diterbitkan tahun 1984 dan cetakan ke-3 tahun 1988. Novel ini berhasil menjadi pemenang pertama Sayembara Penulisan Roman Dewan Kesenian Jakarta tahun 1980.

Mengenal Sastrawan Ahmad Tohari,

Ahmad Tohari,

Bekisar Merah (1993)

Bekisar Merah adalah buku karya sastra merupakan judul sebuah novel karya Ahmad Tohari yang pertama kali terbit sebagai cerita bersambung dalam surat kabar Kompas pada bulan Februari sampai dengan Mei 1993. Cerita bersambung itu kemudian diterbitkan Gramedia Pustaka Utama dalam bentuk buku pada tahun yang sama.

Mengenal sastrawan : Gerson Poyk,

Gerson Poyk,

Cumbuan Sabana (1979)

Cumbuan Sabana adalah buku karya sastra merupakan novel yang ditulis oleh Gerson Poyk dan diterbitkan pertama kali oleh Penerbit Nusa Indah, Ende, Flores tahun 1979. Novel itu bercerita tentang percintaan antara seorang pemuda Timor bernama Niko Benfinit dan seorang gadis, anak raja, yang bernama Irma Sonbait.

Mengenal Sastrawan Titis Basino PI

Titis Basino PI,

Dari Lembah ke Coolibah (1997)

Dari Lembah ke Coolibah adalah buku karya sastra merupakan novel karya Titis Basino P.I. Novel ini diterbitkan pertama kali oleh PT Grasindo, tahun 1997. Ilustrasi sampul dibuat oleh Ipe Ma'ruf dan desain sampul oleh Roland M. Sutrisno, dan dicetak oleh percetakan PT Gramedia, Jakarta.

Mengenal Sastrawan : Ras Siregar,

Ras Siregar,

Di Simpang Jalan (1988)

Di Simpang Jalan adalah buku karya sastra merupakan novel karya Ras Siregar. Di terbitkan oleh PT Pustaka Karya Grafika Utama, Jakarta pada tahun 1988 dengan ketebalan 161 halaman. Semula novel itu merupakan cerita bersambung yang dimuat harian Kompas edisi 4—29 September 1980. Setelah mengalami revisi seperlunya, novel.

Mengenal sastrawan : Muhammad Fudoli Zaini,

Muhammad Fudoli Zaini,

Lagu dari Jalanan (1982) adalah buku karya sastra

merupakan kumpulan cerita pendek karya Muhammad Fudoli Zaini yang diterbitkan tahun 1982 (cetakan pertama) oleh Balai Pustaka, Jakarta. Kumpulan cerita pendek tersebut memuat sepuluh cerita pendek, yaitu "Si Kakek dan Burung Dara", "Tanah Perjuangan", "Paman Saki", "Kuda Kepang", "Lagu dari Jalanan",

Mengenal sastrawan : Ahmad Tohari,

Ahmad Tohari,

Lintang Kemukus Dini Hari (1982)

Lintang Kemukus Dini Hari adalah buku karya sastra merupakan novel karya Ahmad Tohari yang diterbitkan oleh Penerbit Gramedia, Jakarta, pada tahun 1985 dengan tebal 211 halaman. Sebelum diterbitkan sebagai buku, Lintang Kemukus Dini Hari pernah dimuat dalam harian Kompas edisi 23 September sampai dengan 27 Oktober

Mengenal sastrawan : Suparto Brata,

Suparto Brata,

Mata-Mata (1979)

Mata-Mata adalah buku karya sastra merupakan sebuah novel detektif karya Suparto Brata yang diterbitkan oleh Pustaka Jaya, tahun 1979, karena memperoleh rekomendasi dari Dewan Juri Sayembara Penulisan Roman DKJ tahun 1976 sehingga layak terbit. Mata-Mata terdiri atas sembilan bagian. Setiap bagian ditandai dengan huruf Latin. Mata-Mata mengisahkan.

Mengenal sastrawan :Corie Layun Rampan,

Corie Layun Rampan,

Upacara (1976)

Upacara adalah buku karya sastra merupakan novel Korrie Layun Rampan ini memperoleh Hadiah Sayembara Mengarang Roman yang diselenggarakan Dewan Kesenian Jakarta tahun 1976. Novel itu—yang terdiri atas lima belahan—kemudian diterbitkan Pustaka Jaya, Jakarta, tahun 1978 dengan tebal 128 halaman (5 halaman di antaranya berupa keterangan istilah).

Mengenal sastrawan : Beni R Budiman

Di Pelabuhan Cirebon

“Mon beau navire O ma memoire

Avons-nous assez navigue”(Guillame Apollinaire)

Di pelabuhan Cirebon, laut dan hatiku beradu

Gemuruh, Kapal-kapal berlayar dan berlabuh

Dan aku diam berjaga menanti senja yang entah:

O hidup, pelayaran sebentar, sebentar saja sampai!

Dalam penantian, aku jadi teringat dirimu, adikku

Kapal-kapal yang berlayar dan berlabuh, menjadi milik kita

Terbuat dari sobekan kertas buku-buku pelajaran sepulang

Sekolah. Dan kitapun melaju di parit dan selokan

Dengan senyuman. Dan kita selalu lupa pada ibu

Yang suka marah, bila memeriksa buku yang kita punyai

Di pelabuhan Cirebon, adikku sayang

Aku mengenangmu sambil menanti senja

Senja kematian yang menawan dan menyenangkan

1993

pada Kumpulan Sajak “Penunggu Makam” Beni R. Budiman.

KASMARAN

bersama Diwana Fikri Aghniya

Tiba-tiba saja kita seperti orang yang sedang

Belajar menjadi anak dan ayah. Di mesjid itu

Keharuan seperti sungai gunung mencari lembah

Dan kita hanyutkan harapan sampai ke ujung sepi

Muara bagi setiap doa dan ikan membuat janji

Kita pun menjelma puisi yang hidup di antara dua

Keabadian surga dan neraka. Kita berkhayal sebagai

Keluarga Lukman yang kekal sepanjang zaman. Tenang

Bersama wajah-wajah malaikat yang putih. Dan Tuhan

Kita terus kasmaran sepanjang kumandang azan. Dan

Lupa pada bumi yang selalu menyanyikan lagu pilu

Juga pada rumah yang penuh desah dan tumpukan

sampah

Kita terus berpelukan dalam irama Tuhan. Berlayar

Di antara pulau-pulau yang kemilau, mencari Lukman …

1996

pada Dua Kumpulan Sajak”Penunggu Makam” Beni R. Budiman.

MELANKOLIA

Seperti barisan mahoni di tepi jalan

Tubuhku tegak sepanjang ceruk subuh

Dan bayang hitamku terkapar di aspal

Menekuri arah kendaraan dan merkuri

Azan berkumandang mengajakku pulang

Tapi gema membuat banyak makna suara

Menggambar persimpangan bagi langkah

Dan cuaca menawarkan mimpi indah juga

Derita. Aku bimbang di antara bintang

Sisa. Dan sebuah tabrakan keras sulit

Terhindarkan. Aku berantakan dan luka

Hati belah dua dalam langit melankolia

1996

pada Dua Kumpulan Sajak”Penunggu Makam” Beni R. Budiman

KARNAVAL

Dengan pakaian berwarna kita bergaya.

Beriring Dalam barisan bebek. Kita kembali sebagai anak

Pada karnaval hari-hari besar. Wajah bercahaya

Mulut penuh gula-gula. Hari-hari tinggal canda

Siapa punya air mata ? Di sini tak ada kata bernama

Duka. Mimpi dan imaji mengalahkan luka

Derita ibarat bahasa karangan bunga. Kepedihan

Hanya milik pejuang di medan perang. Kesedihan

Melayang. Dunia dihiasi lampu dan umbul-umbul

Pesta terus dirayakan. Karnaval masih berjalan

Parade bergerak lamban. Penyair memilih diam:

Siapa punya air mata? Siapa lebih suka tangisan?

1995

pada Dua Kumpulan Sajak”Penunggu Makam” Beni R. Budiman.

Beni R Budiman, lahir di desa Dawuan, Kadipaten, Majalengka, 10 September 1965. Pendidikan formal terakhirnya ditempuh di jurusan Bahasa Asing, Program Bahasa dan Sastra Prancis, Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni IKIP (Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan) Bandung, hingga khatam. la menulis sejak masih duduk di bangku sekolah menengah. Semasa masih kuliah, ia aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler di bidang sastera, teater dan pers. Sajak-sajaknya hinggap di halaman “Pertemuan Kecil” Pikiran Rakyat. la pun mengumumkan sajak-sajaknya melalui surat kabar Bandung Pos, Surabaya Pos, Jawa Pos, Pelita, Suara Pembaruan, Media Indonesia, majalah sastera Horison, dan radio Deutsche Welle. Beberapa sajaknya turut dimuat dalam antologi Dua Wajah (1992), Mimbar PenyairAbad 21 (1996), Mafam Seribu Bulan, Cermin Alam, Tangan Besi, dan Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia (2000). Pada tahun 1996 ia turut diundang oleh Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) untuk membacakan sajak-sajaknya dan berbicara mengenai sajak-sajaknya di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. la pun banyak menulis esai mengenai sastera dan kebudayaan. la wafat di Malangbong, Garut, 3 Desember 2002, setelah menderita penyakit jantung, paru-paru dan ginjal. Penunggu Makam adalah kumpulan sajak tunggal Beni R. Budiman yang pertama dan terakhir.(rg bagus warsono)

Sabtu, 19 September 2015

Penyair Muda Penuh Talenta

Kami mencatat penyair muda penuh talenta, mereka tidak saja mahir bersyair, tetapi juga piawai di panggung baca puisi. Ia menjadi buah bibir dan sering disebut dalam obrolan-obrolan / bincang-bincang mengenai puisi. Ia dalah Lukni Maulana, Dimas Indiana Senja,Nana Sastrawan, dan Muhammad Rois Rinaldi. Tentu saja banyak penyair muda lain yang piawai baca puisi terlewat disebut karena keterbatasan penulis dalam pemahaman dan penglihatan. Namun sosok keempat anak muda tersebut terkenal ulet dan memiliki bintang cemerlang!
 Lukni Maulana
 Dimas Indiana Senja
 Muhammad Rois Rinaldi
Nana sastrawan

Selasa, 16 September 2014

Sebelas Colen di Malam Lebaran , Chairil Gibran Ramadhan



CGR lahir & besar di Pondok Pinang, Jakarta Selatan. Cerpennya hadir di Suara Pembaruan, Kompas, Media Indonesia, Republika, Koran Tempo, The Jakarta Post, Horison, Nova & lainnya. Buku yang memuat cerpennya dalam nuansa Betawi: Sebelas Colen di Malam Lebaran (Masup Jakarta, 2008, tunggal), juga antologi bersama Ujung Laut Pulau Marwah (TSI III, Tj. Pinang, 2010), Si Murai dan Orang Gila (DKJ, 2010), Ibu Kota Keberaksaraan (The 2nd JIlfest, 2011) & Antologi Sastra Nusantara (MPU VII, Yogya, 2012). Buku lain memuat cerpennya dalam nuansa nasional: Perempuan di Kamar Sebelah: Indonesia, Woman & Violence (Kompas Gramedia, 2012, tunggal), serta antologi bersama The Lontar Foundation: Menagerie 5 (ed. Laora Arkeman, 2003) & I Am Woman (ed. John H. McGlynn, 2011). Pernah diminta khusus menulis untuk kumpulan esai bersama, mengantarkanya berpidato di hadapan 5 dubes: Libanon, Libya, Tunisia, Belgia & Amerika. Ia juga penyunting, juri sastra & pembicara pada ajang budaya & sastra, radio, televisi, FIB-UI, mewakili Jakarta pada ajang sastra dalam & luar Jakarta, serta diundang guru besar Univ. Riau. Kini redaktur Jurnal Sastra (Bandung) & pemred Stamboel Journal.

Belum Ada yang Mengalahkan Eddy D. Iskandar dalam Jumlah Mengarang Novel Sampai saat Ini

Eddy D. Iskandar (lahir di Bandung, Jawa Barat, 11 Mei 1951; umur 63 tahun) adalah seorang sutradara dan penulis Indonesia. Ia juga mengelola Mingguan berbahasa Sunda "Galura".
Minat menulis Eddy diawali dari hobinya membaca buku. Sejak kecil ia terbiasa membaca buku yang di pinjam di perpustakaan umum untuk bacaan orang tuanya. Beberapa karya penulis besar, seperti Motinggo Busye, Toha Mohtar, Mochtar Lubis, Marah Roesli, Sutan Takdir Alisjahbana, Usmar Ismail hingga Pramoedya Ananta Toer kerap dibacanya.
Tulisan pertamanya yang berjudul Malam Neraka hadir secara tidak sengaja saat ia mengikuti orientasi mahasiswa baru di Akademi Industri Pariwisata (AKTRIPA) Bandung, pada tahun 1970. Tulisan tersebut di muat di Mingguan Mandala yang redaktur budayanya pada saat itu adalah sastrawan Muhammad Rustandi Kartakusumah. Sejak saat itu, ia mulai rajin menulis beragam tulisan, esai, dan puisi.
Pada tahun 1975, setelah menyelesaikan kuliahnya di Akademi Industri Pariwisata (AKTRIPA) Bandung, ia pergi ke Jakarta guna menekuni dunia film di Akademi Sinematografi Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta yang kini dikenal sebagai Fakultas Film dan TV Institut Kesenian Jakarta. Ia ingin menjadi sutradara. Film dianggapnya sebagai media yang paling mudah mempengaruhi dan melihat berbagai sisi kehidupan masyarakat.
Di Jakarta, ia kerap berada di Taman Ismail Marzuki yang dikenal sebagai gudangnya penulis dan seniman. Namun, bukan menjadi sutradara, ia justru semakin matang sebagai penulis serba bisa. Selain bergaul dengan seniman dari segala profesi, ia juga sering menyaksikan beragam pementasan di TIM. Eddy juga turut bergabung dalam grup wartawan Zan Zapha Grup yang beranggotakan para penulis muda sepertu El Manik dan Noorca M. Massardi. Tulisan-tulisannya kemudian di distribusikan ke berbagai media cetak, terutama majalah populer.
Eddy menikah dengan Evi Kusmiati, dikaruniai tiga orang putri Dini Handayani, Novelia Gitanurani, Asri Kembang kasih dan satu orang putra Andre Anugerah. Sampai saat ini ia tetap produktif menulis termasuk menulis sekian banyak skenario sinetron dan film.
Karya tulisnya yang fenomenal, berjudul Gita Cinta Dari SMA dimuat sebagai cerita bersambung di majalah GADIS pada tahun 1976. Karyanya ini banyak menuai pujian. Atas permintaan pembaca, ia membuatkan cerita sambungannya Puspa Indah Taman Hati. Novel Gita Cinta Dari SMA juga diangkat ke layar lebar yang mengorbitkan pasangan, Rano Karno dan Yessy Gusman. Novelnya yang lain, yang berkisah tentang cinta antara tokoh Galih dan Ratna itu juga pernah di reka ulang dalam bentuk sinetron bersambung yang di tayangkan oleh salah satu stasiun televisi swasta. Tahun 2004, ia kembali merilis novel Gita Cinta Dari SMA, Pada tahun 2010, Gita Cinta Dari SMA kembali di angkat sebagai drama musikal berjudul "Gita Cinta The Musical".
Novelnya yang lain, yang juga meraih sukses di pasaran antara lain Cowok Komersil, yang berhasil dicetak enam kali dalam setahun dengan rata-rata 5.000 buku percetak. Selanjutnya novel Semau Gue diminati sineas film dan menjadi film bertabur bintang, seperti Rano Karno, Yessy Gusman dan Yenny Rachman. Sementara novel dengan 100 halaman berjudul Sok Nyentrik yang di selesaikannya hanya dalam kurun waktu sehari, tercatat berhasil berkali-kali cetak ulang. Salah satu kekuatan novel karya Eddy D. Iskandar karena daya ungkap dan dialognya yang mengalir lancar dan tetap aktual, tidak berpengaruh oleh perubahan trend.
Atas dedikasinya yang besar dibidangnya, tercatat beberapa kali ia meraih penghargaan, diantaranya mendapat nominasi untuk skenario jenis komedi untuk Si Kabayan pada FSI 1997, Penghargaan Anugerah Budaya Kota Bandung 2010 dalam bidang Film dari pemerintah Kota Bandung dan Penghargaan Anugrah Seni Budaya Jawa Barat (2010).
Belum Ada yang Mengalahkan Eddy D. Iskandar dalam Jumlah Mengarang Novel  Sampai saat Ini

Eddy D. Iskandar (lahir di Bandung, Jawa Barat, 11 Mei 1951; umur 63 tahun) adalah seorang sutradara dan penulis Indonesia. Ia juga mengelola Mingguan berbahasa Sunda "Galura".
Minat menulis Eddy diawali dari hobinya membaca buku. Sejak kecil ia terbiasa membaca buku yang di pinjam di perpustakaan umum untuk bacaan orang tuanya. Beberapa karya penulis besar, seperti Motinggo Busye, Toha Mohtar, Mochtar Lubis, Marah Roesli, Sutan Takdir Alisjahbana, Usmar Ismail hingga Pramoedya Ananta Toer kerap dibacanya.
Tulisan pertamanya yang berjudul Malam Neraka hadir secara tidak sengaja saat ia mengikuti orientasi mahasiswa baru di Akademi Industri Pariwisata (AKTRIPA) Bandung, pada tahun 1970. Tulisan tersebut di muat di Mingguan Mandala yang redaktur budayanya pada saat itu adalah sastrawan Muhammad Rustandi Kartakusumah. Sejak saat itu, ia mulai rajin menulis beragam tulisan, esai, dan puisi.
Pada tahun 1975, setelah menyelesaikan kuliahnya di Akademi Industri Pariwisata (AKTRIPA) Bandung, ia pergi ke Jakarta guna menekuni dunia film di Akademi Sinematografi Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta yang kini dikenal sebagai Fakultas Film dan TV Institut Kesenian Jakarta. Ia ingin menjadi sutradara. Film dianggapnya sebagai media yang paling mudah mempengaruhi dan melihat berbagai sisi kehidupan masyarakat.
Di Jakarta, ia kerap berada di Taman Ismail Marzuki yang dikenal sebagai gudangnya penulis dan seniman. Namun, bukan menjadi sutradara, ia justru semakin matang sebagai penulis serba bisa. Selain bergaul dengan seniman dari segala profesi, ia juga sering menyaksikan beragam pementasan di TIM. Eddy juga turut bergabung dalam grup wartawan Zan Zapha Grup yang beranggotakan para penulis muda sepertu El Manik dan Noorca M. Massardi. Tulisan-tulisannya kemudian di distribusikan ke berbagai media cetak, terutama majalah populer.
Eddy menikah dengan Evi Kusmiati, dikaruniai tiga orang putri Dini Handayani, Novelia Gitanurani, Asri Kembang kasih dan satu orang putra Andre Anugerah. Sampai saat ini ia tetap produktif menulis termasuk menulis sekian banyak skenario sinetron dan film.
Karya tulisnya yang fenomenal, berjudul Gita Cinta Dari SMA dimuat sebagai cerita bersambung di majalah GADIS pada tahun 1976. Karyanya ini banyak menuai pujian. Atas permintaan pembaca, ia membuatkan cerita sambungannya Puspa Indah Taman Hati. Novel Gita Cinta Dari SMA juga diangkat ke layar lebar yang mengorbitkan pasangan, Rano Karno dan Yessy Gusman. Novelnya yang lain, yang berkisah tentang cinta antara tokoh Galih dan Ratna itu juga pernah di reka ulang dalam bentuk sinetron bersambung yang di tayangkan oleh salah satu stasiun televisi swasta. Tahun 2004, ia kembali merilis novel Gita Cinta Dari SMA, Pada tahun 2010, Gita Cinta Dari SMA kembali di angkat sebagai drama musikal berjudul "Gita Cinta The Musical".
Novelnya yang lain, yang juga meraih sukses di pasaran antara lain Cowok Komersil, yang berhasil dicetak enam kali dalam setahun dengan rata-rata 5.000 buku percetak. Selanjutnya novel Semau Gue diminati sineas film dan menjadi film bertabur bintang, seperti Rano Karno, Yessy Gusman dan Yenny Rachman. Sementara novel dengan 100 halaman berjudul Sok Nyentrik yang di selesaikannya hanya dalam kurun waktu sehari, tercatat berhasil berkali-kali cetak ulang. Salah satu kekuatan novel karya Eddy D. Iskandar karena daya ungkap dan dialognya yang mengalir lancar dan tetap aktual, tidak berpengaruh oleh perubahan trend.
Atas dedikasinya yang besar dibidangnya, tercatat beberapa kali ia meraih penghargaan, diantaranya mendapat nominasi untuk skenario jenis komedi untuk Si Kabayan pada FSI 1997, Penghargaan Anugerah Budaya Kota Bandung 2010 dalam bidang Film dari pemerintah Kota Bandung dan Penghargaan Anugrah Seni Budaya Jawa Barat (2010).

Butet Kartaredjasa Anak kroegrafer yang Sastrawan

Butet Kartaredjasa (bahasa Jawa: Buthèt Kartaredjasa; lahir di Yogjakarta, 21 November 1961; umur 52 tahun) adalah seorang pemeran teater dan pelawak asal Indonesia. Pada tahun 1996, Butet mendirikan Galang Communication, sebuah institusi periklanan dan studio grafis, yang kemudian diikuti dengan mendirikan Yayasan Galang yang bergerak dalam pelayanan kampanye publik untuk masalah-masalah kesehatan reproduksi berperspektif gender. Butet adalah anak dari Bagong Kussudiardjo, koreografer dan pelukis senior Indonesia. Ia merupakan saudara kandung dari Djaduk Ferianto.
Butet pernah bergabung di Teater Kita-Kita (1977), Teater SSRI (1978-1981), Sanggarbambu (1978-1981), Teater Dinasti (1982-1985), Teater Gandrik (1985-sekarang), Komunitas Pak Kanjeng (1993-1994), Teater Paku (1994), Komunitas seni Kua Etnika (1995-sekarang). Selain itu, Butet merupakan aktor yang biasa memerankan pentas secara Monolog. Aksinya yang sangat terkenal adalah dengan menirukan suara mantan presiden RI, Soeharto dalam setiap pementasannya.
Ia pernah memerankan tokoh SBY (Si Butet Yogja) dalam Republik Mimpi di Metro TV dan pindah tayang di TV One yang merupakan pameo dari presiden RI, SBY. Selain itu ia juga memerankan beberapa film layar lebar seperti Maskot dan Banyu Biru. Selain itu ia juga tampil dalam beberapa iklan televisi, dan sinetron. Sejak 2010 bersama aktor Slamet Rahardjo, Butet bermain dalam program mingguan Sentilan-Sentilun di MetroTV.
karya Butet dalam pentas monolog adalah :
Racun Tembakau (1986)
Lidah Pingsan (1997)
Lidah (Masih) Pingsan (1998)
Benggol Maling (1998)
Raja Rimba Jadi Pawang (1999)
Iblis Nganggur (1999)
Guru Ngambeg (2000)
Mayat Terhormat (2003)
Matinya Toekang Kritik (2006)
Sarimin (2007)
Presiden Guyonan (2008)
Kucing (2010)
Butet Kartaredjasa (bahasa Jawa: Buthèt Kartaredjasa; lahir di Yogjakarta, 21 November 1961; umur 52 tahun) adalah seorang pemeran teater dan pelawak asal Indonesia. Pada tahun 1996, Butet mendirikan Galang Communication, sebuah institusi periklanan dan studio grafis, yang kemudian diikuti dengan mendirikan Yayasan Galang yang bergerak dalam pelayanan kampanye publik untuk masalah-masalah kesehatan reproduksi berperspektif gender. Butet adalah anak dari Bagong Kussudiardjo, koreografer dan pelukis senior Indonesia. Ia merupakan saudara kandung dari Djaduk Ferianto.
Butet pernah bergabung di Teater Kita-Kita (1977), Teater SSRI (1978-1981), Sanggarbambu (1978-1981), Teater Dinasti (1982-1985), Teater Gandrik (1985-sekarang), Komunitas Pak Kanjeng (1993-1994), Teater Paku (1994), Komunitas seni Kua Etnika (1995-sekarang). Selain itu, Butet merupakan aktor yang biasa memerankan pentas secara Monolog. Aksinya yang sangat terkenal adalah dengan menirukan suara mantan presiden RI, Soeharto dalam setiap pementasannya.
Ia pernah memerankan tokoh SBY (Si Butet Yogja) dalam Republik Mimpi di Metro TV dan pindah tayang di TV One yang merupakan pameo dari presiden RI, SBY. Selain itu ia juga memerankan beberapa film layar lebar seperti Maskot dan Banyu Biru. Selain itu ia juga tampil dalam beberapa iklan televisi, dan sinetron. Sejak 2010 bersama aktor Slamet Rahardjo, Butet bermain dalam program mingguan Sentilan-Sentilun di MetroTV.
karya Butet dalam pentas monolog adalah :
Racun Tembakau (1986)
Lidah Pingsan (1997)
Lidah (Masih) Pingsan (1998)
Benggol Maling (1998)
Raja Rimba Jadi Pawang (1999)
Iblis Nganggur (1999)
Guru Ngambeg (2000)
Mayat Terhormat (2003)
Matinya Toekang Kritik (2006)
Sarimin (2007)
Presiden Guyonan (2008)
Kucing (2010)