Akankah antologi puisi Sepecuk Jambi Sejuta Puisi "Siginjai Kata-kata"
menjadi pustaka yang melegenda seperti Keris Siginjai?(Keris Siginjai
adalah senjata tradisional Jambi yang dikenal milik Raja Rangkayo Hitam,
seorang raja Jambi yang gagah berani. Disebut Siginjai karena keris ini
dahulu sering disimpan dirambut Rangkayo Hitam sebagai tusuk konde
(Ginjai). Sehingga kelamaan keris ini disebut keris siginjai).
Ada kesamaan proses antara antologi itu dengan keris Siginjai yaitu keragaman bahan. Antologi Siginjai Kata-kata merekrut berbagai puisi dari penyair segala umur dari seluruh Jambi. Sebuah kearifan penyelenggara akan penghargaan kepada insan sastra apa pun usianya dan popularitasnya, yang patut menjadi teladan bahwa penyelenggara membuang ego yang biasa terdapat pada diri penyair. Begitu pun keris Siginjai ini terbuat dari bahan-bahan berupa kayu, emas, besi, dan nikel. Bilah/Wilahan Keris Siginjai panjang lebih kurang 39 cm dan berlekuk (luk) 5. keris Siginjai tidak telah menjadi lambang mahkota kesultanan Jambi sebagai lambang pemersatu rakyat Jambi. Sultan terakhir yang memegang benda kerajaan itu adalah Sultan Achmad Zainuddin pada awal abad ke 20.
Asro Al Murthawy Pamenang agaknya tepat mengambil judul ini, sehingga buku puisi ini memiliki kekuatan nama yang melekat dengan tradisi daerahnya. Mudah-mudahan Siginjai dapat berlanjut agar sastra di Jambi terus hidup. Bahkan kekuatan antologi Siginjai seperti juga disebut Dimas Arika Miharja yang mengkata-pengantari antologi ini ada Rendezvous Candi Muara Jambi, sebuah puisi yang memunculkan 'ke-jambian -nya. Puisi yang juga ditulis Arso Asro Al Murthawy Pamenang tersebut memberi makna disamping puisi-puisi 43 penyair Jambi yang lain yang tak kalah hebatnya. (rg bagus warsono)
Ada kesamaan proses antara antologi itu dengan keris Siginjai yaitu keragaman bahan. Antologi Siginjai Kata-kata merekrut berbagai puisi dari penyair segala umur dari seluruh Jambi. Sebuah kearifan penyelenggara akan penghargaan kepada insan sastra apa pun usianya dan popularitasnya, yang patut menjadi teladan bahwa penyelenggara membuang ego yang biasa terdapat pada diri penyair. Begitu pun keris Siginjai ini terbuat dari bahan-bahan berupa kayu, emas, besi, dan nikel. Bilah/Wilahan Keris Siginjai panjang lebih kurang 39 cm dan berlekuk (luk) 5. keris Siginjai tidak telah menjadi lambang mahkota kesultanan Jambi sebagai lambang pemersatu rakyat Jambi. Sultan terakhir yang memegang benda kerajaan itu adalah Sultan Achmad Zainuddin pada awal abad ke 20.
Asro Al Murthawy Pamenang agaknya tepat mengambil judul ini, sehingga buku puisi ini memiliki kekuatan nama yang melekat dengan tradisi daerahnya. Mudah-mudahan Siginjai dapat berlanjut agar sastra di Jambi terus hidup. Bahkan kekuatan antologi Siginjai seperti juga disebut Dimas Arika Miharja yang mengkata-pengantari antologi ini ada Rendezvous Candi Muara Jambi, sebuah puisi yang memunculkan 'ke-jambian -nya. Puisi yang juga ditulis Arso Asro Al Murthawy Pamenang tersebut memberi makna disamping puisi-puisi 43 penyair Jambi yang lain yang tak kalah hebatnya. (rg bagus warsono)



Pengantar Sejarah Sastra Indonesia, sebuah buku yang sangat bermanfaat untuk memahami perkembangan sastra di Indonesia tetapi juga sangat bermanfaat bagi pendidikan sastra bagi generasi muda. Isi yang padat dan mutu yang terjamin dikarenakan reverensi yang diterima pembaca menjadikan buku ini dapat menjadi buku pegangan guru di semua jenjang bahkan dosen di fakultas sastra. Disamkping itu para penulis di Tanah Air juga dapat mempergunakan buku ini sebagai acuan untuk karya mendatang. Adalah Yudiono K.S. penulis buku ini. Sangat jarang penulis Indonesia menelaah sejarah sastra . Kedudukan penulis yang independen menjadikan isi begitu sempurna sehingga membedakan pelaku sastra dan karya yang disorotinya. Sebagai seorang guru tentu memerlukan bukuini sebagai pegangan. Buku Pengantar Sejarah Sastra Indonesia ( History of Indonesian literature of the 20th century) seakan memiliki buku dalam satu rak lemari sastra. Cukp tebal namun enak dibaca. (16-9-2014 oleh Rg Bagus Warsono)
Leksikon Susastra Indonesia , oleh Korrie Layun Rampan 2000, buku ini sangat membantu inventarisir sastrawan Indonesia masa kini. Korrie memasukan data sastrawan sengaja dengan pertimbangan karya bukan usia. Ini berarti usia bukan menjadi hal apa yang disebut dngan 'angkatan sastrawan itu. Buku dengan tebal 576 halaman sangat bermanfaat bagi generasi muda saat ini. Namun demikian patokan untuk nama sastrawan yang dimasukan belum terjelaskan apakah itu karya sastra media cetak atau akun sosial. Begitu pula media cetak apakah termuat di buku atau haya di koran-koran dan majalah . Sedang patokan koran juga apakah koran sastra atau umum, begitu juga derajat edar media apakah regional atau tidak. Agaknya Korrie memandanmg pada mutu seebuah sastra, jadi mutulah yang dijadikan seeorang sastrawan masuk dalam inventarisastrawan indonesia apapun angkatan dan dokumentasinya. Sungguhpun demikian buku ini menjadi rujukan yang sangat berarti dan patut dimiliki oleh kalangan pendidik dan pecinta sastra Tanah Air.(Rg Bagus warsono)