TEKS SULUH


Tampilkan postingan dengan label artikel sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel sastra. Tampilkan semua postingan

Kamis, 10 Maret 2022

Ikrar sastrawan Indonesia

 1). Berkarya untuk menjaga keutuhan NKRI

2). Berideologi Pancasila.

3). Menghormati budaya nusantara serta kearifan lokal.

4). Berkarya untuk Mencerdaskan Bangsa.

5). Menjalin Kebersamaan sesama Sastrawan.

6). Menghargai karya sesama sastrawan

7). Mengecam Plagiasi.

8). Menggelorakan Literasi di Masyarakat.

Kamis, 18 November 2021

Popularitas Penokohan Sastrawan Melekat dengan Produknya

 Pengarang cerpen novel akan lebih mudah membuat puisi, sedangkan penyair yang mengarang novel menemukan hambatan pengembangan cerita. Beberapa novelis Cerpenis ditemukan juga ia mengarang puisi, sedang sedikit penyair mengarang novel. Rendra selain berkarya puisi ia mengarang banyak naskah drama, tetapi lebih populair sebagai penyair. Bagi penulis seangkatanku membuat cerpen adalah target honorarium, teman lain juga membuat cerpen seperti Herry Lamong, Naim Emel Prahana, Gunoto Saparie, Arifin Brandan, Isbedy ZS Stiawan, Wawan Hamzah Arfan, Wadie Maharief, Arief Joko Wicaksono, Nanang R Supriyatin, Endang Supriadi, Budhi Setyawan, Micky Hidayat, Jamal T. Suryanata, Bambang Widi Yogyakarta, Kurniawan Junaedhie dll. Mereka di masyarakat atau kalangan pembaca lebih dikenal sebagai penyair. Penyair lain justru lebih kokoh disebut sebagai Cerpenis yaitu Yanusa Nugroho,  Beni Setia, dll. Agaknya rutinitas seorang Cerpenis atau penyair akan menokohkan diri melekat dengan produknya.


Sebagai seorang guru aku banyak ngobrol dengan guru bahasa  di tingkat sekolah lanjutan pertama dan atas. Obrolan bahkan di beberapa guru di kota kecil yang saya kunjungi. Aku bertanya pada mereka, "Penyair siapa sajakah yang bapak ibu guru kenal setelah Angkatan '66?". Kebanyakan mereka menggeleng kepala, tahunya mereka Yang hafal adalah angkatan '66 seperti Taufiq Ismail, WS Rendra, Abdul Hadi WM, sedangkan sedikit sekali mereka bisa menyebut nama-nama sastrawan setelah angkatan' 66 atau pasca '66. Beberapa nama yang sering disebut tetap Nama-nama yang terkenal sekarang seperti Gunoto Saparie, Isbedy ZS Stiawan, Tajuddin Noor Ganie, Kusprihyanto Nanma.


Popularitas sastrawan di kalangan pendidikan juga didapat dari media massa yg mempopulairkan nama sastrawan masa kini terutama segi keunikan yang melekat dengan pribadi sastrawan itu. Beberapa tokoh sering disebut seperti Sitok Srengenge, Sosiawan Leak, Wiji Tukul, Saut Situmorang, dan menyusul Wayan Jengki Sunarta dan Tan Lioe Ie.


Kurangnya perbendaharaan nama sastrawan-sastrawan di kalangan pendidikan adalah semakin hilangnya pengajaran sastra di sekolah-sekolah. Kenyataan ini disebabkan karena guru yang diangkat jarang yang menyukai sastra. Sebagian lain dikarenakan kurikulum yang diterapkan di sekolah sedikit disisipi muatan sastra.

(rg bagus warsono)

Rabu, 03 November 2021

Catatan #PERJALANAN PUISI (1) oleh Nanang R Supriyatin

 #PERJALANAN PUISI (1)

SAHABAT saya, sastrawan Humam S. Chudori hanya bisa berdoa agar Nanang R Supriyatin, Ade Novi, Eddy Pramduane & Omni Koesnadi sukses dalam perjalanan dari Jakarta menuju Pekalongan. Humam juga menyampaikan pesan 'salam' pada pegiat literasi yang berkumpul di salah satu lokasi budaya di Pekalongan, yang memang berlangsung semarak; tepatnya pada hari sabtu, 23 Oktober 2021.

Humam S. Chudori yang asli lahir di Pekalongan, sesungguhnya sangat ingin berkunjung ke kota yang membesarkannya itu. Di lain sisi, ia juga kangen ingin bersilaturahim dengan para penulis. Kenapa beliau tidak mau gabung? Pasalnya ternyata beliau hingga saat ini belum di 'vaksin' sebagaimana anjuran Pemerintah. Menurutnya, hanya orang-orang yang sudah di vaksin yang berhak untuk masuk ke mal, bioskop, hotel, tempat rekreasi -- juga sebagai persyaratan mutlak jika ingin memanfaatkan jasa KAI. Dugaan ini sama persis dengan dugaan saya. Makanya, alasan saya mau di vaksin di samping gratis, juga sertifikat vaksin dapat dipergunakan untuk bepergian jarak jauh serta untuk kegiatan lain yang kita inginkan.

Sejak bulan agustus, saya sudah di vaksin sinovac 2x. Artinya saya telah memegang 2 surat + hasil vaksin yang kemudian saya 'laminating' seperti KTP. Alhamdulillah, saya telah memiliki identitas lengkap sebagai warga negara.

Pada hari sabtu, 23 Oktober 2021, pukul 08.30 wib, kami (Nanang, Ade, Eddy, Omni) sudah tiba di stasiun SENEN. Saya sempat mengamati lokasi tunggu, pintu masuk stasiun hingga ke sebuah tempat kira-kira bertuliskan 'Lokasi Tes Antigen'. Setelah bayar jasa tes antigen sebesar 45.000/ orang, di tempat terpisah,  lobang hidung kami pun sedikit dimasuki alat. Dan, sekitar 10 menit hasilnya sudah keluar melalui panggilan mikrofon petugas. 

Yang jadi pertanyaan, kami kan sudah membayar tiket kereta api jauh-jauh hari sebesar 105.000, berarti kami hanya menyiapkan keberangkatan kereta pukul 10.20 wib. Ohh, sempat terbayang wajah Humam S. Chudori. Ternyata, o ternyata sertifikat vaksin sama sekali tak berguna. Jangankan di cek petugas KAI, di intip saja tidak. Karena untuk bisa naik kereta cuma ada syarat bayar tiket dan bayar tes antigen. Ohoi...

Sepanjang perjalanan stasiun Senen-Pekalongan, dalam kereta, kami hanya bisa tersenyum dan tertawa. Idealisme kami terhadap keindahan puisi membuat sesuatu yang kami anggap janggal, hanya sebatas 'Puisi yang berjalan di ruang-ruang sunyi'.


Catatan #PERJALANAN PUISI (2) oleh Nanang R Supriyatin

 #PERJALANAN PUISI (2)

Sekitar pukul 16.10, kereta api tiba di stasiun Pekalongan. Stasiun yang cukup lengang dan tenang. Masih dalam lokasi, tampak deretan beberapa cafe/ rumah makan, musholla serta tempat parkir yang dilindungi pohon-pohon hijau. Di seberang jalan beberapa gedung penginapan. Inikah kota bernama Perkalongan? 

Grab mobil mengantarkan kami hingga di pelataran Gelanggang Olah Raga (GOR) Jatayu, kota Pekalongan. Di ujung jalan buntu terdapat 'Rumah Seni Pekalongan, dimana kumpul para seniman. Termasuk sang penggagas acara 'Puisi Dalam Kotak Suara', Hadi Lempe beserta panitia lainnya.

Setelah hampir dua tahun dibayang-bayangi covid-19, kini kami terasa bebas bertemu, bercengkerama, bereuforia. Layaknya seperti partai yang akan berkongres, siapapun tamu yang datang disambut, disalami hingga diajak foto selfi.

Tiga 'diva' yang hadir sejak sore hingga malam membuat suasana makin hangat. Awalnya hanya senyum-senyum, selanjutnya tertawa-tawa. Sesuatu yang manusiawi. Oya, yang saya maksud tiga 'diva' ialah Ade Novi (pembaca puisi), Denting Kemuning (pembaca puisi) & Indri Yuswandari (pembawa acara). Mereka sangat familiar. Bahkan ketika RgBagus Warsono mendaulatnya untuk berselfi di jok motor Vespa warna kuning -- mereka begitu enjoj.

Foto di jok motor Vespa sebenarnya hanya 'trik' Agus Warsono. Biar suasana perbincangan kesenian, khususnya puisi menjadi hidup. Terbukti memang. Hampir semua peserta yang hadir berfoto di atas motor, bergantian. Eddy Pramduane, Kasdi Kelanis, Omni Koesnadi, Wawan Hamzah Arfan + istri, dan sebagainya ikut ambil bagian. Dan, yang bikin fress saya ketika Agus Warsono dan Wawan Hamzah menyodorkan buku "T" & "Perjalanan Berkarat", masing-masing antologi puisi bersama dan antologi puisi tunggal.

Pementasan bertajuk "Puisi Dalam Kotak Suara" diisi dengan pembacaan puisi dan pertunjukkan drama. Dihadiri sekitar 90-an tamu undangan. Rg. Agus Warsono atas nama Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia memberikan penghargaan kepada 115 sastrawan yang berdedikasi di atas 30 tahun menulis sastra. Dan, malam itu penyematan Setya Lencana Sastra Nagari diberikan secara simbolis kepada 10 sastrawan yang hadir, diantaranya Dharmadi Penyair (72 tahun). Sebelumnya, Agus di atas panggung memberikan sambutan dan alasan pemberian penghargaan dimaksud.


Catatan #PERJALANAN PUISI (3) oleh Nanang R Supriyatin

 #PERJALANAN PUISI (3)

Tak pantas juga jika virus covid-19 yang nyaris membuat kehidupan menjadi stagnan selalu dijadikan alasan, dengan kata lain sebagai kambing hitam. Bagi sebagian orang, mungkin mempercayai bahwa pertemuan adalah sesuatu yang indah sekaligus emosional dalam arti positif.

Sempat menggeliat di kepala saya; seandainya malam 'Puisi Dalam Kotak Suara' ditambah dengan Launching Buku Puisi 'T', 'Perjalanan Berkarat' serta buku-buku lain, umpamanya karya Kasdi Kelanis. Sempat juga menunggu inspirasi panitia penyelenggara melalui pembawa acara untuk memberi kesempatan pada tamu yang dianggap senior, seperti Dharmadi Penyair maupun Wardjito Soeharso (apalagi pada siang hari sempat ada bincang antara Pengarang dan Para Guru, di lokasi yang sama) -- untuk sekadar memberi testimoni terhadap kegiatan sastra pasca level 2 pandemi covid-19. Ya, sempat juga saya berbisik pada beberapa teman mengenai lokasi kuliner khas Pekalongan maupun destinasi yang asik yang ada di kota batik ini. Meskipun tidak ujug-ujug mencari lokasi dimaksud, setidaknya sudah ada rekomendasi tersirat. Mengingat yang diundang adalah para Penulis/ Penyair Nusantara.

Bagi saya memang sempat agak lelah, agak ngantuk dan sejenisnya saat berada di tengah acara yang meriah tersebut. Namun, sempat melek mata dan membuka telinga lebar-lebar saat Ade Novi membaca puisi berjudul "Amarah".

pergi sayang

pergi jauh dariku

biarkan kabut itu

biarkan hujan itu

jika kau pergi

tinggalkan malam

sisakan pedih

aku tak ingin rindumu

aku tak ingin tangismu

biarkan hari-hari sepi

dan aku terjaga

di kota yang riuh

cukup sudah

kata-kata tak bermakna

menggumpal dalam kamar

bagai lukisan abstrak

bagai tubuh tanpa nyawa

jangan kau katakan makna dari ciuman

ungkapkan saja mimpi burukmu

jadilah kau dirimu

hidup dalam mimpi

dalam bayang liar

seperti ular hidup di hutan

mati di lautan

bunuh cintamu

bunuh kau punya rindu

jika kau pergi akan kugali tanah

ku kubur jiwa yang mati

pergilah nyanyian

hidup terlanjur asing

kau sayangku

dustai saja aku!

28/10/2017

Tawa dan senyum di pelataran mengiringi teh panas dan rebusan yang tersedia. Ahai!

PERJALANAN PUISI (4, Tamat) oleh Nanang R Supriyatin

 PERJALANAN PUISI (4, Tamat)

Seperti juga Rg. Bagus Warsono, penyair wanita Indri Yuswandari juga tak mau berlelah-lelah berjalan kaki hanya sekadar menemukan kuliner khas Pekalongan. Pagi (minggu, 24/10-2021), sebelum berangkat ke Jakarta; Ade Novi, Eddy Pramduane, Omni S. Koesnadi dan saya jalan-jalan ke sebuah lokasi kuliner. Kami seperti berada di MH Tamrin, Cijantung, Kampung Melayu (Jakarta), dimana setiap hari minggu kami temukan Car Free Day. Sempat juga mata melirik penjual tanaman hias, bubur spesial khas Pekalongan. Meskipun kaki kami lebih mendekati pedagang susu sapi murni. Terakhir kami mampir juga untuk sarapan, dimana tersedia ‘Nasi Megono’, ‘Tauto’, ‘Garang Asam’ dan ‘Lontong Sayur’, termasuk juga sayur sup dan tempe orek. Terasa nikmatnya pagi dengan cuaca yang agak mendung.

Pukul 09.00 wib, kaki-kaki kami melangkah, setelah turun dari grab mobil, menuju terminal Pekalongan. Petugas (mungkin juga calo, karena pakaian tak berseragam) memberi kepastian, bus menuju Jakarta baru bisa berangkat sekitar pukul 14.00 wib atau ada juga pukul 17,00 wib. Wah!

Setelah tanya sana tanya sini, akhirnya kami dapat kepastian bus Nusantara siap berangkat pukul 10.20 menit dengan bus transit ke Terminal Tegal dan berakhir di Terminal Cirebon, padahal tujuan kami ke Terminal Kampung Rambutan. Tak apa.

Dalam bus ternyata sudah penuh penumpang. Sisa kursi 1 khusus untuk salah satu teman kami. Sisanya 3 orang cukup lesehan dan berdiri, sambil menunggu penumpang lain turun di jalan. Dalam percakapan saya dan supir. Supir memperingatkan untuk hati-hati dalam perjalanan, karena calo terminal akan selalu menguntit. Akhirnya sang supir memberi rekomendasi pada kami sebelum kami menaiki bus Cirebon-Jakarta. Beliau menelpon salah seorang temannya yang sudah menunggu di terminal Cirebon.

Sesampaikan di Cirebon, kami diturunkan di seberang jalan terminal. Tak berapa lama seorang lelaki melambaikan tangan kepada kami. O, mungkin rekomendasi ke beliau, ucap saya dalam hati. Ternyata benar. Setelah kami berempat turun dari bus. Menyeberang jalan. Yang diberi rekomendasi dan para calo terminal mendekati kami, menjual jasa. Orang yang dapat rekomendasi segera menyilahkan kami masuk bus jurusan Cirebon-Bekasi. Alamak! Lagi-lagi kami terkecoh. Terik matahari+hati yang tak keruan, membuat kami berempat kian panik, benci dan marah. Entah, ditujukan pada siapa. Hingga Ade Novi mencolek saya sambil berkata, “Bang, kok lenggang? Tas Abang mana?” Ohh… ya, ya, ya saya gelisah, juga Eddy Pram dan Omni. 

Akhirnya orang yang diberi rekomendasi sang supir, melalui hp yang di loud speaker, mengontak sang supir bus Nusantara. Terdengar jawaban dari sang supir. “Ya ada, ada tas warna biru kan?” Alhamdulillah. Hati saya agak tenang. Dan lebih tenang lagi hp, uang serta identitas lain ada di tas pinggang. Yang namanya kehilangan sesuatu, tentulah panik meskipun yang hilang hanya kaca mata, celana, pakaian, charger, masker. Yang berharga adalah buku “T” dan “Perjalanan Berkarat”. 

Singkat cerita, atas bantuan kawan Wawan Hamzah Arfan yang asli Cirebon, benda yang hilang sudah bisa dikondisikan. Ini juga karena jasa mantunya yang bekerja sebagai Reskrim di Polres Cirebon. “Tunggu saja di Jakarta, tas besok segera sampai ke agen bus Nusantara yang ada di Cikini!” Ahai, informasi yang sedap. Cikini memang dekat rumah.

Tapi, apakah permasalahan selesai sampai di situ? Tidak juga. Bus tumpangan kami terakhir, Cirebon-Kampung Rambutan ternyata tidak ber-AC. Nego dengan kondektur bus dan calo cukup alot. Dari harga 600K untuk berempat, turun menjadi 250K. dalam bus tanpa ac tersebut, terasa perut mual lantaran sang supir cukup kencang mengendarai mobil. Dari penumpang sekitar 6 orang, terus bertambah. Bus selalu berhenti di pinggir tol dimana ada calon penumpang melambai.

Kami terasa asing di negeri sendiri, seperti juga puisi terasa asing bergerak di tengah hiruk-pikuk kehidupan. Saya hanya mengambil hikmahnya saja atas kejadian itu. Persisnya, keesokkan harinya tas sudah bisa saya ambil di agen bus Nusantara Cikini. Ucapan terima kasih pada Panitia acara di Pekalongan yang telah mengakomodir kami. Terima kasih juga pada teman-teman pegiat literasi yang membawa kami pada kebahagiaan saat silaturahim. Terima kasih juga pada Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia, pada penyair Wawan Hamzah Arfan. Terima kasih yang tak berkesudahan pada ‘Bang Ghanes’, mantunya WHA yang selalu meluangkan waktu untuk bicara via Hand Phone. Terima kasih khusus pada teman-teman seperjalanan. Susah senang kita berbagi. Salam. (NRS).

Selasa, 02 November 2021

Tidak Sekedar Hoby Menulis Puisi

 Tidak Sekedar Hoby Menulis Puisi

Adalah Arya Setra, pelukis kopi terkenal Indonesia, mapan dan namanya kian tenar di luar negeri. Pelukis ganteng yang menjadi pujaan mahasiswi mahasiswi ini, memang masih single alias jomblo, ia di sela sela kegiatan event-event pameran dan seni serta budaya ini sempat sempatnya menulis puisi. Arya Setra kerap mengikuti antologi bersama yang diselenggarakan Lumbung Puisi. Puisi-puisinya tak kalah dengan penyair tenar lain. Mengapa ia slalu menulis puisi? Jawabnya adalah arti puisi itu sendiri. Ternyata melukis dan menyair/mencipta puisi sama saja dalam menuangkan imajinasi. Bedanya hanya kata dan goresan cat di canvas.

Hubungan lukisan dan puisi diterjemahkan nya dalam puisi dan lukisan satu sama lain. Lukisan diterjemahkan dalam puisi puisi Arya Setra, dan puisi dapat menjadi lukisan oleh Srya Setra. (rg bagus warsono)

Puisi Yang Mana Yang Dibaca Keras Lantang dan Teriak

 Puisi Yang Mana Yang Dibaca Keras Lantang dan Teriak (1)

Rg Bagus Warsono

Mari kita membaca puisi dengan baik agar pemirsa menyimak sampai akhir puisi. Meski membaca adalah apresiasi si pembaca dalam arti terserah imajenasi pembaca namun banyak kesalahan tafsir puisi yang pahami si pembaca , apalagi membaca puisi itu baru sekilas , langsung maju ke panggung.

Rendra adalah pembaca puisi yang belum ada tandingan, sedang Taufiq Ismail pembaca puisi karya sendiri yang berhasil memikat pemirsa. Tetapi Gus Mus (Mustofa Bisri) kita tak perlu melihat wajah Gus Mus Membaca, mendengarnya saja seakan membayang wajah Gus Mus.

Agaknya banyak pembaca puisi setelah berada di panggung mengambil inisiatif untuk mencuri perhatian penonton dengan mengeraskan suara ketika membaca puisi, keras yang ,mengagetkan sehingga penonton langsung tertuju panggung dan si pembaca. Namun setelah baris dan bait puisi itu dibaca jarang pemirsa yang mengikutinya hingga akhir puisi . 

Pemirsa yang kaget kemudian menyimak itu kemudian tak menghiraukannya si pembaca puisi yang gagah di panggung itu. Pasalnya yang dibaca dan suara yang keluar dari mulut tak sesuai dengan pesan puisi yang dibaca. pemirsa yang menjadi tanda tanya ini semakin bingung ketika baris dalam bait yang dibaca yang merupakan satu kesatuan arti dalam bait puisi itu terpotong oleh kerasnya suara si pembaca puisi. Akhirnya si pembaca asyik membaca puisi di Panggung dan penonton asyik ngobrol dengan tetangga kursi.

Kekeliruan persepsi pesan puisi ditimbulkan dari kurangnya apresiasi pada puisi yang dibaca. Dan penulis juga maklum ketika dijumpainya puisi yang dibaca itu adalah puisi hasil karyanya sendiri. Jika demikian maka tidak semua penyair memahami isi puisi padahal puisi yang dibacanya itu puisi yang telah akrab dengan dirinya.

Jadi, puisi yang mana yang dibaca keras lantang atau berteriak harus memahami puisi itu sebelum dibaca. Nada baca puisi hendaklah sesuai dengan isi puisi. Sebagai contoh kita tampilkan sebuah puisi karya Taufiq Ismail, berikut puisinya :

“Malu Aku Jadi Orang Indonesia”. Berikut puisi tersebut ;

Di negeriku yang didirikan pejuang religius

Kini dikuasai pejabat rakus

Kejahatan bukan kelas maling sawit melainkan permainan lahan duit

Di Negeriku yang dulu agamis

Sekarang bercampur liberalis sedikit komunis

Ulama ulama diancam karena tak punya pistol

Yang mengancam tinggal dor

Hukum hukum keadilan tergadai kepentingan politis

Akidah akidah tergadai materialistis

Aku hidup di negara mayoritas beragama Islam

Tapi kami tersudut dan terancam

Telah habis sabarku

Telah habis sabar kami

Pada presiden yang tak solutif Pada dewan dan majelis yang tak bermufakat

Pada semua bullshit yang menggema saat pemilu

Pada nafsu yang didukung asing dan aseng

Rakyat kelas teri tak berdosa pun digoreng

Kusaksikan keindahan negara yang menegakkan “khilafah”

Diceritakan hidup mereka sejahtera

Lalu ditanyai dari mana asalku.

Kusembunyikan muka

Tak kujawab aku dari Indonesia

Negara yang kini tumbuh benih Islamophobia.

(bersambung)

Sabtu, 28 Agustus 2021

Mempertanggungjawabkan Bahwa Seseorang Adalah Sastrawan Sabut Mengenal Puisi Modern II

 Memberi pertanggungjawaban pada publik bahwa seseorang adalah Sastrawan tidak hanya membuat daftar, memuatnya dalam antologi bersama, atau keterlibatannya dalam suatu peristiwa, tetapi yg lebih penting adalah mempertanggungjawabkannya dengan menunjukan karya bermutu dengan kritik dan telaah sebagai dasar seseorang adalah penyair.

Penyair adalah penulis sastra dengan jiwa seni yang tersendiri. Masing-masing kadang tak wajar dipandang dari kebiasaan . Ada saja penampilan beda pada dirinya dengan orang lain. Hingga terdapat penyair yang tak muncul gambarnya tetapi karyanya berserakan. Jadi pertanggungjawaban menyatakan seseorang adalah penyair bukan grafik kemunculannya tetapi atas karya bermutu. Kurator yang baik tidak melihat seseorang itu telah dikenal atau dikenal dalam wilayah lokal, regional atau nasional. Pandangan kepopulairan nama penyair besar atau kecil, tak dikenal atau telah mancanegara tak menjadi pengaruh untuk sebuah pertanggungjawaban. Sebab saatnya Indonesia menampilkan kejujuran dan tidak asal tetapi sungguh-sungguh sesuatu yang dipertanggungjawabkan

(Rg Bagus Warsono, kurator di Lumbung Puisi)

Jumat, 27 Agustus 2021

Puisi “T” di Ujung Pandemi oleh Rg Bagus warsono

 Puisi “T” di Ujung Pandemi


T itu juga angin Timur. Angin timur sejak doeloe adalah keberuntungan. Pada masa musim angin timur, wabah segala penyakit tersapu angin menuju samudra Hindia dan di sana akan tertelan ombak. Corona akan menjerit ketakutan manakala baru terbawa angin sampai laut Ujung Kulon. Dan akan masuk pusaran gelombang samudra Hindia yang ganas.

Corona tak mungkin bersemanyam di laut Kidul karena memang sudah diusir oleh penunggu Laut Kidul. Mereka juga tak mungkin tinggal di laut Jawa karena akan ditangkap nelayan. Corona takut kalau melihat jaring penangkap ikan.

Angin T (angin Timur) membuat cuaca malam hari dingin sejuk di daerah tropis. Bunga-bunga pepohonan pun mulai tumbuh menjadi pentil-pentil buah. Serangga penghantar serbuk sari menari setiap hari , sebuah kegembiraan alam.

Di ujung pandemi itu Corona akan membabi buta. Mengamuk sekan marah terusir. Ia akan meninggalkan bekas. Tak hanya nyawa-nyawa manusia tetapi juga sejarah yang mengenaskan.

Dan Penyair-penyair Indonesia mencatat peristiwa ini. Sebagai sebuat peristiwa sejarah alam Nusantara yang memiliki aneka dampak dari corona. Kesengsaraan rakyat, Kematian dan orang-orang yang mengambil kesempatan adanya corona.

Pada masa ini rakyat tak lagi mengindahkan adat. Orang Mati pun dikubur bagai bangkai binatang! Pada masa ini para ‘dukun (ahli kedokteran) menjadi dewa. Pada masa ini generasi muda menjadi T (tolol) karena tidak belajar , bahkan ketololan pun terlihat pada mereka yang tengah menempuh pendidikan tinggi.

Jika Pemerintah menghitung korban corona, jumlahnya akan slalu menunjukan perbedaan dengan keadaan sebenarnya. Karena hari ini ditulis jumlah korban hari ini juga ada orang menangis kehilangan orang tua, saudara dan sahabat. Saat ditulis jumlah kematian itu saat itu juga terjadi peristiwa kematian dimana-mana.

Data yang sebernya ada di tangan-tangan penyair Indonesia. Ia mencatat sejak wabah itu masuk ke negeri ini. Penyair di seluruh penjuru negeri mencatat peristiwa ini di daerahnya. Aneka peristiwa kesengsaaraan rakyat.

Namun hidup itu harus optimisme, sebab kakek kita mengajarkan bukan ‘hidup untuk makan tetapi ‘makan utuk hidup.

Dimasa pandemi tak ada nikmatnya minum kopi. Semua suasana adalah kecemasan. Bahkan makan enak pun selalu diiringi kabar duka. Sehingga lidah menjadi hampa rasa dan tetnggorokan menolak masukan, lalu lambung hanya berisi angin.

Obrolan di keluarga adalah kabar duka. Sedang manusia sehat terdapat dua golongan saat pandemi melanda. Yaitu golongan yang percaya adanya corona dan golongan yang tidak percaya adalanya corona.

Yang percaya corona hidup dengan waspada dan sebagian serba ketakutan. Sedang yang tidak percaya hidup seakan mumpung.

Beruntung kita hidup di negeri makmur, 2 tahun berjalan corona bersemayam, kita masih bertahan. Tak terdengar rakyat kelaparan justru yang semarak adalah demo dan demo aneka ragam. Sebuah T dalam masyarakat kita.

Begitu subuh tiba, betapa setiap hari terdengar pengumuman duka di setiap mushola. Seakan bersahut-sahutan antara mushola/masjid yang satu dengan mushola/masjid desa tetangga.

Akhirnya penyebab kematian corona dan bukan corona sama yaitu oleh corona. Karena memang di musim corona. Ibaratnya kecelakaan maut lalulintas saja boleh disebut corona.

Di sudut lain di rumah-rumah kecil terdengar doa. Rumah-rumah yang berdoa itu begitu banyak sehingga hapir seluruh Indonesia berdoa agar corona cepat pergi dari negeri ini. Allah maha mendengar, dan punya rencana. Maha pengasih dan punya kehendak. (03-07-21 Rg Bagus Warsono)


Senin, 31 Mei 2021

Apa Kata Mereka tentang Media Sosial

 Apa Kata Mereka tentang Media Sosial

Banyak orang berpendapat bahwa utuk merujuk pendapat biasanya dari pernyataan2 mereka yg telah kesohor, ternyata banyak juga dari yg muda2 justru lebih bagus berpendapat.

Dari ungkapan2 spontanitas terlihat betapa generasi muda sastrawan kita tak kalah dengan mereka2 yang telah kesohor.

Meski bermain, kami tidak asal, keterlibatan penyair dari seluruh nusantara adalah perbendaharaan kami sebagai Pusat Dokumentasi Sastra Modern.



Ide pendapat yang bermutu tak hanya bahasa tetapi juga terasa/dirasakan oleh orang lain.

Pastikan ide pendapatmu yang belum orang lain keluarkan sehingga dipercaya. Ide pendapatmu itu ungkapkan dengan pilihan kata yang menarik

Dari ungkapan atau statesment para sastrawan kita belajar untuk tidak meniru ungkapan orang lain

Tentang Sastra dan Medsos

Media social kini menjadi bagian kehidupan sastrawan. Seperti kata Dwi Wahyu Candra Dewi : sastra tak tertinggal di zaman medsos, sebab di media sosial pun tak lepas dari membaca. Buya Al – Banjari : Tak ada batas usia pelaku sastra tampil di medsos. Soekardi Wahyudi : Tergantung bagaimana memanfaatkan Media Sosial sebagai pendidikan, dan sastra salah-satunya. Nur Khofifah : Youtube sebagai ajang tampil baca puisi yang murah. Iniratu Kinan Nanik Utarini : Media sosial menjadi alur baru dalam membumikan karya sastra. Rg Bagus Warsono : Belajar di mana saja, media sosial juga sarana belajar, termasuk belajar menulis sastra. Wawan Hamzah Arfan : Media sosial seakan kita muda lagi. Budi Riyoko: Medsos ciri karya dan penampilan sastra/sastrawan modern. Arya Setra : Medsos adalah ruang kebebasan berekspresi baik sastra atau yang lainnya. Sugeng Joko Utomo : Di medsos merangkai kata menyulam diksi mengolah rasa menjadi puisi. Kang Zay : Media sosial merupakan alternatif penyebaran karya sastra. Tarni Kasanpawiro : Media Sosial segabai ajang silaturahmi sesama penyair. Muhammad Jayadi : Medsos , satu diantara ruang publik yang menyalurkan segala hal, termasuk sastra dan keindahannya. Wiwin Herna Ningsih : Melalui media sosial, karya sastraku terbaca semua kalangan. Andaningrum N : Media Sosial juga sarana persahabatan yang penuh motivasi dan inspirasi. Asih Minanti Rahayu : Medsos memasyarakatkan sastra. Sri Wijayati : Media sosial itu tempat berkarya sastra dengan kebebasan. Soetan Radjo Pamoentjak : Medsos adalah tempat membaca dan menulis seorang penulis. Rusdin Pohan : Wahana medsos merasuk sukma diseantero Nusantara menjadi hidup semakin indah. Hendra Sukmawan : Media Sosial perjalanan perkembangan dunia sastra saat ini. Syahryan Khamary: Media Sosial, Jembatan imajinasi dan kreasi sastrawan. Putri Bungsu : Medsos meneratas jalan, memperpendek jarak sedekat telunjuk dan ibu jari.

Demikian banyak pendapat tentang media social bagi sastra. Ternyata memang media sesial itu sebuah kebutuhan sehari-hari tidak saja masyarakat pada umumnya tetapi juga kalangan sastrawan. (Rg Bagus Warsono , curator sastra di Lumbung Puisi)

Rabu, 08 Januari 2020

Wong Kenthir dan Kegilaan yg Wajar , Rg Bagus Warsono

Menjadi seniman panggilan jiwa yang tak terkendalikan bahkan oleh dirinya. Seniman dengan personalnya yang melekat memiliki ciri-ciri pribadinya tersendiri bahkan tak dimiliki oleh orang lain. Inilah yang menjadi dasar di dalam berkesenian termasuk sastra di dalamnya juga sama dengan di berbagai jenis kesenian lain.

Seniman yang telah memiliki kelekatan dengan dirinya tak dapat dipisahkan bahkan merupakan figur yang menjadi pamor karya seninya.

Bukti melekatnya karya seni dan personal seniman itu telah ditunjukan seniman-seniman yang telah populair dan publik pun langsung mengatakan dalam hatinya ketika melihat wajah atau gambar seniman tersebut. Ketika gambar itu menampilkan wajah seseorang langsung pembaca atau yang melihat gambar itu menyebut dalam hatinya akan jenis seni yang digelutinya. Ketika ditampilkan Wajah Rio Febrian maka orang langsung yakin ia adalah seorang penyanyi. Ketika di rampilkan wajag Gesang orang langsung menyebut dalam hatinya ia adalah komponis lagu keroncong bahkan pada nama lagunya Bengawan Solo. Ketika ditampilan Wajah Chairil Anwar orang akan menyebut dalam hatinya dialah sastrawan Angkatan '45 dan pengarang puisi Kerawang Bekasi. Demikian melekatnya kegilaan itu pada personal seniman.

Jadi sangat beralasan jika antologi Gila ditampilkan untuk melihat sejauh mana kegilaan yang wajar yang dilakukan seniman sastra (penyair) pada tataran tertentu. Boleh jadi kelak suatu saat buku ini dicari banyak orang untuk memperkuan historia data seseorang (penyair). Bahwa yang bersangkutan betul memiliki kelekatan dengan jenis seninya yaitu puisi sang dibuktikannya dengan buku antologi Wong Kenthir. (8-1-20 bersambung) 

Minggu, 15 September 2019

Brahmana Pamong Nagari

 Brahmana Pamong Nagari penyair yang menjadi pamong (abdi dalem) pada negara 

BRAHMANA SUSASTRA NAGARI

BRAHMANA SUSASTRA NAGARI Brahmana Susastra Nagari artinya penyair kerajaan yang terbaik. 

Minggu, 28 Juli 2019

MAHASASTRA UTAMA penyair sepuh diatas 70 th yg masih hidup.

Penyair ini utamanya sudah sepuh artinya yang sudah berusia diatas 60 th. Penyair sepuh adalah penyair yang khawentar dengan kebijaksanaan yang cukup. Di Indonesia kita mengenal penyair-penyair sepuh dan terkenal sperti Sapardi Djoko Damono, Abdul Hadi WM, Taufiq Ismail dan lainnya angkatan 66 yang masih hidup. Di samping itu juga kelahiran th 50 kini sudah dianggap sepuh, kita mengenal penyair Wadie Maharief, yang kini menjelang 70 th , Sastrawan Eddy D Iskandar, Eka Budianta, dan sebagainya yang meski sudah sepuh masih terus bersastra.

BRAHMANA-SASTRA KAWI penyair penjaga tradisi nusantara.

Ciri-ciri Penyair ini menulis tentang tradisi budaya nusantara dan menulis dengan menggnakan bahasa daerah sebagai menjaga tradisi. Brahmanasastrakawi itu contohnya penyair Sarwo Darmono dan Riswo Mulyadi, Sarwo Darmono menulis geguritan dengan menggunakan bahasa jawa dan Riswo Mulyadi menulis geguritan bahasa banyumasan. Juga masih banyak yang lain Seperti Lanang Setiawan di Tegal, atau Dyah Setyawati yg sering membacakan puisi bahasa Tegalan. Pokoknya Brahmanasatrakawi itu menunjuk pada sastrawan atau penyakir yang menulis tentang kearifan lokal sebagai penjaga tradisi. Tentu saja masih banyak nama lain di pelosok nusantara ini.

Sabtu, 08 Juni 2019

Ada kreteria untuk seleksi khusus (awal) dalam tiap event penulisan.

Marilah kita kaji peran penyeleksi naskah baik itu lomba atau non lomba maupun antologi bersama. Yang pertama ditegaskan dalam rekrutmen antologi itu adalah persyaratan utama naskah apa yang dibutuhkan. Terkadang berbagai persyaratan itu diabaikan oleh peserta mengingat kapasitas peserta yang tidak diragukan lagi dalam dunia tulis-menulis (penulis/penyair/sastrawan). Padahal persyaratan utama merupakan acuan tingkat pertama untuk menyeleksi naskah.

Biasanya sebelum pada penyeleksian naskah, terlebih dahulu terdapat persyaratan peserta yaitu persyaratan masuk tidaknya sebagai peserta kegiatan itu, seperti batasan usia, jenjang pendidikan, profesi, gender, administrasi termasuk biaya pendaftaran bila ada, sapai sesuatu benda yang diminta dalam keikutsertaan itu.

Pada tahap selanjutnya adalah naskah. Pernyaratan naskah harus dibedakan dengan persyaratan peserta. Boleh jadi tak ada hubungannya dengan persyaratan peserta itu. Penyeleksian naskah sudah pada ahli penyeleksi naskah bukan pada persyaratan peserta yang dapat dikerjakan penyeleksiannya oleh seseorang tenaga administrasi. Persyaratan naskah sudah pada tahapan dirterima tidaknya naskah itu. dan tentunya si penyeleksi tidak melihat siapa penulis naskah yang diseleksinya itu.

Penyeleksian naskah adalah kewenangan mutlak yang diberikan oleh penyelenggra pada seseorang. Biasanya seorang penyeleksi naskah adalah seorang yang 'kutu buku dalam hal ini seorang yang rajin membaca pada bidang yang dibutuhkan, misalnya dalah hal ini puisi. Jika itu seorang kurator, tentunya kurator dalam hal buku dan sastra, jika seorang kritikus tentulah kritikus sesuai dengan bidang itu.

Sebetulnya sangat sederhana saja, andai penyeleksi tidak melihat personal peserta tetapi melihat mutu naskah yang dikehendaki. Persoalannya sangat berat beban seorang penyeleksi naskah untuk mempertahankan independensi yang dimilikinya. Sangat naif bila seorang personal penyair yang telah memiliki nama gagal seleksi. Penyeleksi bisa dituduh kurang independen bila menggagalkan naskah yang dinilai kurang sesuai dengan apa yang dikehendaki penyelenggara.

Pada tingkat event besar sebaiknya penyeleksi menggunakan orang-orang profesional. Yang tidak peduli dengan siapa penulis naskah yang diseleksinya. Namun ini tentu saja kendala buat panitia penyelenggra karena harus mengeluarkan honorarium yang lumayan. Orang-orang profesional tidak beresiko dengan penulis mana pun. Ia akan bekerja dengan sebaik-baiknhya.
Pada kasus lain terkadang walau sudah menggunakan orang yang profesional malah ada campur tangan penyelenggara. Nah disinilah profesional itu akan menurut dengan siapa yang membayar honorariumnya.
Intervensi penyelenggara pada penyeleksi naskah baik secara halus maupun terbuka adalah gangguan independensi penyeleksi naskah. Ini bisa berakibat turunnya standar mutu kegiatan dan bahkan cemohan masyarakat. Penyeleksi tak kuasa menolak lantaran mungkin berfikirt tentang tiket pesawat terbang.

Kesalahan lain apabila penyeleksi naskah itu adalah penyelenggara itu sendiri. Sehingga penyeleksian yang seharusnya menitik beratkan pada naskah menjadi pada siapa penulis naskah itu. Penyeleksian seperti ini umpamanya kegiatan yang diselenggarakan pemerintah. Dalam lomba itu tertulis untuk umum, namun panitia menghendaki apabila terdapat unsur guru (misalnya) maka diutamakan. Maksudnya untuk membuat atasan senang. Kalau begitu kenapa lomba itu tidak untuk guru pegawai negeri saja.? Pernah sastrawan terseleksi pd lomba menulis kemendikbud, dia clingak-clinguk karena yg lain ternyata guru penulis buku pelajaran. (rg bagus warsono) /bersambung...

Rabu, 27 Juni 2018

Antologi Bersama tulisan Tangan Penyair,


Dalam tahun 2018 sastra Indonesia khusus puisi dalam seperti halnya tahun-tahun sebelumnya dengan seputar kreatifitas baca tulis dan kumpulan puisi dari berbagai komunitas. Perhelatannya hampir sama meskipun di sisi lain tampak kegairahan yang setiap tahun terus bertambah, yakni tentang meningkatnya pecinta sastra khusus puisi dan semakin banyaknya pelaku-pelaku sastra dari generasi baru serta munculnya penyair-penyair muda potensial.

Aktifitas baca tulis puisi tampaknya semakin meningkat meski kelihatan tampilannya seperti monoton dan klasik. Beberapa peningkatan gebrakan baru tampak dilihat seperti dengan mengemas puisi dan kesehatan, puisi dan gerakan makan ikan, puisi dan anti kekerasan terhadap anak dan keluarga, atau tentang puisi dan gerakan anti korupsi.
Kegiatan sastra khusus puisi lain dari berbagai komunitas dan aktifitas melalui media elektronik pun banyak dilakukan dengan aneka rupa walau tampak hanya mengulang. Keadaan ini pun tampak terjadi seperi hal biasa saja.

Dari isi inilah Lumbung Puisi terdorong keinginan untuk memunculkan sesuatu yang baru yang dapat menjadi sebuah sejarah dalam hal tul;is menulis bidang sastra khusus puisi. Akhirnya kerinduan itu muncul ditengah rasa tampilan-tampilan puisi dan karya buku serta aktifitas penyair yang pada masa ini tampak berjalan seadanya.

Bahwa penyair perlu untuk dikenal dan mengenalkan kepada masyarakat tetang segala sesuatunya bahkan kehidupannya merupakan kesan tersendiri. Hal ini menginat penyair juga merupakan figur publik yang sering bahkan sering diperhatikan oleh masyarakat. Keinginan untuk melihat lebih jauh tetantang penyair itu bukan hal baru tetapi sebagai tuntutan ilmiah terhadap pengetahuan sastra bagi kita dan masyarakat.

Salah datu bentuk keingintahuan masyarakat itu tidak hanya pusi dan buku antologinya tetapi juga tulisan tangannya, untuk memberi keyakinan bahwa [enyair adalah pelaku sejaran dan pelaku sastra itu sendiri. Diantara untuk diketahui itu adalah bagaimana bentuk tulisan tangan m,ereka.

Dari kebutuhan itu tulisan tangan penyair perlu dibukukan agar menjadi keyakinan masyarakat dan pembuktian bahwa seorang penyair memiliki proses pembuatan puisi sehingga menjadi antologi. Tulisan tangan penyair dijadikan keyakinan bahwa keberadaan penyair betul sebagai penyair yang tidak hanya menulis di hp atau di komputer tetapi juga dalam kesehariannya juga menulis dari tulisan tangannya.

Antologi tulisan tangan penyair juga merupakan sebuah tantangan dan juga ketrampilan lain yang dimiliki penyair yang tidak saja mamopu menunjukan puisi-puisi tetapi juga mampu mrenunjukannya dengan tulisan aseli tangnnya dalam menulis puisi.
(Bersambung)

Minggu, 25 Maret 2018

Kiat Sukses Menjadi Penyair

Jangan puas dengan prestasi hebatmu, sebab karya agung tak pernah berhenti muncul di dunia sastra.
Penyair harus memiliki jiwa "haus dari kepuasan sementara. Dunia sastra tak berhenti pada karya agung seseorang. Setiap saat karya-karya agung akan muncul dari tangan-tangan penyair/penulidi seluruh dunia. Kepuasan tentu boleh saja tetapi jangan berhenti pada karya itu. Terus menulis dan menulis. Sebab ketika kita menulis di tempat lain banyak orang menulis sama dengan kita. (rg bagus warsono,2018)
Tinggalkan persaingan yg tidak perlu.
Sahabat, seringkali kita hanyut dalam persaingan yang tidak perlu. Kita harus pahami bahwa setiap hati sama memiliki nafsu, apalagi jika pada bidang yang sama. Jika kau alami persaingan di lingkunganmu, atau di daerahmu, segeralah tinggalkan persaingan itu. Sebab didalam hati ada nafsu dan keihlasan, jika timbangannya berat kepada nafsu maka bukan persaingan sehat ujungnya tetapi telah dimasuki syaitan. Tinggalkan hal-hal yang tidak perlu itu. Tetap pada tujuanmu semula. Menulis untuk memberi penyejuk hati manusia dan menulis untuk beramal ilmu dan keindahan. Suatu ketika orang-orang yang menyakitimu akan malu dan kena batunya. Mereka akan kebakaran jenggot melihat prestasimu gemilang, cemerlang. Yakinkan itu.
(rg bagus warsono,2018)
Cemohan atau ejekan itu adalah apresiasi, dari pada tidak mendapat apresiasi.
Apresiasi sangat diharapkan bahkan seburuk apa pun, sebab apresiasi itu buah dari membaca sebua karya tulis. Bodoh saja orang mengapresiasi buruk terhadap karya Denny JA sebab yang dapat untung adalah Denny JA itu sendiri bukan yang mencemoh. Jadi apresiasi apa pun sebetulnya baik buat sebuah karya sastra, hukum di dunia sastrawan adalah siapa yang banyak diperbincangkan adalah siapa yang dikenal, siapa yang banyak disebut adalah siapa yang dikenal. Mungkin saja pada saat tahun 1945 ada penyair lain selain Chair Anwar yang memiliki karya bagus tetapi tidak dikenal banyak orang, karena tulisannya hanya di majalah kecil yang sedikit di baca orang. (rg bagus warsono,2018)

Kepedihan dan kesengsaraan adalah kekebalan fisik dan jiwa.
Pembentukan fisik dan jiwa penyair dibekali juga dengan pengalaman - pengalaman yang penuh tragedi. Meski tidak pada semua orang. Bersyukur aku menjadi guru sekolah dasar. Setidaknya ada buat makan meski pun tutup lubang gali bengawan. Hal pengalaman kesengsaraan bukan barang baru apalagi menghadapi hinaan atau cobaan baru. Sama sekali tidak berpengaruh pada orang -orang yang mengalami pahit getir kehidupan. Begitu pula dalam dunia tulis-menulis, bagiku semua yang terjadi adalah kehendakNya. Dan terbiasa dengan semua kesengsaraan kepedihan termasuk hinaan, aku kini kebal. (rg bagus warsono,2018)

Syukuri apa adanya, Tuhan lebih adil. Ucapkan saja selamat kepada kawanmu yang sukses.
Yakinkan Tuhan itu maha adil. Sebetulnya ketika kita berada dalam kebahagiaan di tempat lain banyak orang yang ditimpa kemalangan. Begitu juga sebaliknya, ketika kita kita dalam kemalangan, ada kesuksesan di tempat lain. Begitu juga ketika diberi anugerah pada masa lalu sebetulnya adalah giliran yang oleh Tuhan diberi lebih dahulu, suatu saat akan mendapat giliran lagi. Tak perlu cemburu atau berkecil hati , yang penting sehat dan kita suatu ketika akan memetik hasil tanaman kita. Tetap bersemangat. (rg bagus warsono, 2018)
Lakukan yang sungguh2 meski di daerah Terpencil.
Sahabat penulis, penyair semuanya, zaman sudah sangat berubah. Dunia seperti semakin terjangkau, Indonesia sendiri sudah semakin jelas terlihat di meja. Dunia informasi semakin canggih. Gambar rumahmu dengan google map dengan titik kordinat tertentu dapat dilihat dari mana saja. Tak perlu berkecil hati sebagai penulis desa. Karyamu dapat menjangkau semua pelosok yang menggunakan internet dan bahkan dunia. Tetap sungguh-sungguh membuat karya yang bagus. Berkarya sastra bukan menjual bakso yang bumbunya itu-itu saja tetapi boleh diolah memenuhi seleraa zaman. Siapa pun akan maju dan bermanfaat meski dari daerah terpencil.
(rg bagus warsono, 2018)

Jumat, 02 Maret 2018

Bintang Penyair Terang


Menentukan siapa Bintang penyair terang dalam arti memiliki karya cemerlang bersinar haruslah meneliti banyak bacaan sastra penyair. Tentu saja ribuan karya bagus setiap hari berseliweran di media net. Dan pasti tak semua terbaca. Metthoda karya bagus bukalah banyaknya klik suka atau komengar dan tanggapan berlimpah. Bintang penyair terang yang tetap bersinar bahkan menembus mendung kabut sastra Indonesia mencomot beberapa penyair yang memang kelihatan tak asing. Winar Ramelan pegiat sastra dari dapur sastra Jakarta, Salman Yoga S dari Aceh justru tak mengikuti pendahulunya LK Ara di sana. Sedang Katrin Bandel yang tak asing dengan keilmuannya tetang sastra Indonesia justru semakin mantap. Sedang Wayan Jengki Sunartapenyair sekaligus seniman Bali ini semakin terang benderang mengokohkan dirinya sebagai penyair kenamaan Indonesia yang mulai dikenal di manca negara.

Evaluasi atas karya bermutu sebetulnya sudah dapat dilakukan oleh anak sekolah menengah pertama. Pilihan-pilihan bacaan untuk kemudian diapresiasikan baik melalui tulisan maupun ungkapan-ungkapan. Terlebih mahasiswa dalam hal ini mahasiswa di jurusan sastra lebih pandai lagi mengapresiasi bahkan menunjukan mana yang yang layak dibaca atau layak dicampakan.
Sementara semakin geli juga jika penulis melihat banyak penyair terus-menerus meributkan genre puisi esai dan atau mengerjakan hal-hal yang justru tak perlu dilakukan seperti menghujat seseorang. Sementara roda semakin cepat berputar dalam cipta puisi modern ini.
Penyair-penyair senior yang mapan telah memiliki masanya tersendiri dalam pencarian jati dirinya sebagai penyair. Jati diri itu adalah kenikmatan yang tak terukur dengan benda maupun rupiah. Pencarian yang telah diketemukannya untuk menjadi penyair yang sebenarnya. Baginya dunia penyair itu seperti itu menurut pribadinya yang merupakan suatu yang telkah dicapai sebuah jati diri kepenyairan .
Karya-karya mereka memiliki grafiknya dalam standarisasi kemapanan yang kadang tak membutuhkan balasan atas karyanya itu, baik dalam ujud benda maupun pujian.

Nilai nilai jati diri itu dan kemapanan dalam dunia kepenyairan telah tampak pada diri penyair Handrawan Nadesul dengan cirinya tersendiri sebagai pembawaannya dalam profesi lainnya sebagai seorang dokter. Kemudian pada Aloysius Slamet Widodo yang telah mantap dengan lekatnya namanya puisi glayengan yang selalu mengundang gemuyu. kemudian pada Eko Tunas dengan cirinya tersendiri, dan nama-nama lain.
Kaca mata penulis tentu yang satu dengan yang lain berbeda. tak usah dihiraukan jika tak berkenan. Seperi juga penyair mencipta, takaran bagus tidaknya tetap pada publik. Kaca mata penulis mungkin dapat ditarik sebagai pembelajaran, tetapi mungkin juga hanyalah oli kotor yang perlu diganti.(rg bagus Warsono 3-3-18)