TEKS SULUH


Tampilkan postingan dengan label Biodata Sastrawan Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Biodata Sastrawan Indonesia. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 09 Mei 2015

Soebakdi Soemanto

Prof. Dr. C. Soebakdi Soemanto, S.U (lahir di Solo, Jawa Tengah, 29 Oktober 1941  – meninggal di Yogyakarta , 11 Oktober 2014 pada umur 72 tahun), adalah seorang penulis Indonesia, dosen Fakultas Ilmu Budaya UGM
Menyelesaikan pendidikan di Jurusan Sastra Inggris Fakultas Sastra UGM (1977), mengikuti "American Studies Program" di Universitas Indonesia (1982), dan menyelesaikan program pascasarjana di UGM (1985). Pernah mengajar di IKIP Sanata Darma (1971-1979), Akademi Kewanitaan Yogyakarta (1976-1979), Akademi Bahasa Asing Kumendaman Yogyakarta (1979-1982), Fakultas Sastra Universitas Sebelas Maret Solo (1979-1982), dan Oberlin College serta Northern Illinois University, AS (1986-1987). Selain itu, ia juga pernah menjadi redaktur Basis (1965-1967), Mahasiswa Indonesia edisi Jawa Tengah (1966-1969), Peraba (1971-1976), dan Semangat (1975-1979). Ia pun pernah menjadi Ketua Umum Dewan Kesenian Yogyakarta, pernah pula memperoleh award di bidang teater (Desember 2013). Terakhir, ia menjadi retired profesor di Fakultas Ilmu Budaya, UGM, Yogyakarta, sementara masih memberi bimbingan thesis dan disertasi di Pascasarjana UGM, ISI Sala, UMS Sala, dan KBI Sanata Darma.
Karya sastra :

Linus Suryadi AG (ed.)
Tugu (br, 1986)
Tonggak 3 (br,1987)


Dari Kartu Natal ke Doktor Plimin (kc,1979)
Angan-Angan Budaya Jawa: Analisis Semiotik Pengakuan Pariyem (1999)
Kalung Tanda Silang (cerber,belum dibukukan).
Cerita rakyat Yogyakarta 1 & 2 & 3 (1999)
Cerita rakyat Surakarta 1 & 2 (1999)
Jagat Teater – (2000)
The Magician – (2001)
Godot di Amerika dan Indonesia, (2002)
Doktor Plimin, kumpulan Cerpen, (2003)
Mincuk, Kumpulan cerpen (2004)
Rendra: Karyadan Dunianya, (2003)
Sapardi Djoko Damono: karya dan dunianya,(2006)
Majalah Dinding, kumpulan drama, ( 2006)
Kata, kumpulan puisi (2006)

Hasil gambar untuk profile Bakdi Soemanto


Bakdi Soemanto lahir di Solo tanggal 29 Oktober 1941. Sejak tahun 1979 ia aktif mengajar sampai sekarang di berbagai tempat, seperti IKIP Sanata Dharma, Akademi Kewanitaan Yogyakarta, Akademi Bahasa Asing Kumendaman, Fakultas Sastra Universitas Sebelas Maret Solo, dan Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Umum Dewan Kesenian Yogyakarta. Karya-karyanya yang diterbitkan oleh Gramedia adalah kumpulan cerpen Bibir dan Doktor Plimin.
Gur Besar FIB UGM, Prof. Bakdi Soemanto ketika hidup juga memperoleh beberapa piagam penghargaan, yaitu piagam mengabdi 25 tahun di UGM (2004) serta Satyalencana Karya Satya 25 tahun (2007). Sedangkan beberapa karya almarhum antara lain kumpulan cerpen Dari Kartu Natal ke Doktor Plimin (1979) dan Mincuk (2004), kumpulan puisi Bibir (2002) dan Kata (2006), serta kumpulan naskah drama Majalah Dinding (2006).

Sabtu, 18 Oktober 2014

Goenawan Mohamad

Biografi Goenawan Susatyo Mohamad

Goenawan Susatyo Mohamad merupakan seorang jurnalis dan sastrawan yang kritis dan berwawasan luas. Tanpa lelah, ia memperjuangkan kebebasan berbicara dan berpikir melalui berbagai tulisan dan organisasi yang didirikan-nya. Tulisannya banyak mengangkat tema HAM, agama, demokrasi, korupsi, dan sebagainya. Seminggu sekali menulis kolom "Catatan Pinggir" di Majalah Tempo.

Pendiri dan mantan Pemimpin Redaksi Majalah Berita Tempo kelahiran Karangasem Batang, Pekalongan, Jawa Tengah, 29 Juli 1941, ini  pada masa mudanya lebih dikenal sebagai seorang penyair.  Ia ikut menandatangani Manifesto Kebudayaan 1964 yang mengakibatkannya dilarang menulis di berbagai media umum.



Ia juga pernah menjadi Nieman fellow di Universitas Harvard dan menerima penghargaan Louis Lyons Award untuk kategori Consience in Journalism dari Nieman Foundation, 1997. Secara teratur, selain menulis kolom Catatan Pinggir, ia juga menulis kolom untuk harian Mainichi Shimbun (Tokyo).

Ia menulis sejak berusia 17 tahun, dan dua tahun kemudian menerjemahkan puisi penyair wanita Amerika, Emily Dickinson. Sejak di kelas VI SD, ia mengaku menyenangi acara puisi siaran RRI. Kemudian, kakaknya yang dokter (Kartono Mohamad, mantan Ketua Umum PB IDI) ketika itu berlangganan majalah Kisah, asuhan H.B. Jassin. "Mbakyu saya juga ada yang menulis, entah di harian apa, di zaman Jepang," tutur Goenawan.

Pada 1971, Goenawan bersama rekan-rekannya mendirikan Majalah Mingguan Tempo, sebuah majalah yang mengusung karakter jurnalisme majalah Time. Di sana ia banyak menulis kolom tentang agenda-agenda politik di Indonesia. Jiwa kritisnya membawanya untuk mengkritik rezim Soeharto yang pada waktu itu menekan pertumbuhan demokrasi di Indonesia. Tempo dianggap sebagai oposisi yang merugikan kepentingan pemerintah sehingga dihentikan penerbitannya pada 1994.

Goenawan Mohamad kemudian mendirikan Aliansi Jurnalis Independen (AJI), asosiasi jurnalis independen pertama di Indonesia. Ia juga turut mendirikan Institut Studi Arus Informasi (ISAI) yang bekerja mendokumentasikan kekerasan terhadap dunia pers Indonesia. ISAI juga memberikan pelatihan bagi para jurnalis tentang bagaimana membuat surat kabar yang profesional dan berbobot. Goenawan juga melakukan reorientasi terhadap majalah mingguan D&R, dari tabloid menjadi majalah politik.

Ketika Majalah Tempo kembali terbit setelah Pak Harto diturunkan pada 1998, berbagai perubahan dilakukan seperti perubahan jumlah halaman namun tetap mempertahankan mutunya. Tidak lama kemudian, Tempo memperluas usahanya dengan menerbitkan surat kabar harian bernama Koran Tempo.

Setelah terbit beberapa tahun, Koran Tempo menuai masalah. Pertengahan bulan Mei 2004, Pengadilan Negeri Jakarta Timur menghukum Goenawan Mohamad dan Koran Tempo untuk meminta maaf kepada Tomy Winata, (17/5/2004). Pernyataan Goenawan yang dimuat Koran Tempo pada 12-13 Maret 2003 dinilai telah melakukan pencemaran nama baik bos Arta Graha itu.

Goenawan yang biasa dipanggil Goen, mempelajari psikologi di Universitas Indonesia, mempelajari ilmu politik di Belgia dan menjadi Nieman Fellow di Harvard University, Amerika Serikat. Goenawan menikah dengan Widarti Djajadisastra dan memiliki dua anak.

Selama kurang lebih 30 tahun menekuni dunia pers, Goenawan menghasilkan berbagai karya yang sudah diterbitkan di antaranya kumpulan puisi dalam Parikesit (1969) dan Interlude (1971), yang diterjemahkan ke bahasa Belanda, Inggris, Jepang, dan Prancis. Sebagian eseinya terhimpun dalam Potret Seorang Penyair Muda Sebagai Si Malin Kundang (1972), Seks, Sastra, dan Kita (1980), dan Catatan Pinggir (1982).

Hingga kini, Goenawan Mohamad banyak menghadiri konferensi baik sebagai pembicara, narasumber maupun peserta. Salah satunya, ia mengikuti konferensi yang diadakan di Gedung Putih pada 2001 dimana Bill Clinton dan Madeleine Albright menjadi tuan rumah.

Biodata Lengkap Goenawan Susatyo Mohamad

Nama:Goenawan Susatyo Mohamad
Lahir:Karangasem Batang, Jawa Tengah, 29 Juli 1941
Agama:Islam

Istri:
Widarti Djajadisastra

Anak:
2 orang

Pendidikan:
- SR Negeri Parakan Batang, (1953)
- SMP Negeri II Pekalongan, (1956)
- SMA Negeri Pekalongan, (1959)
- Fakultas Psikologi UI Jakarta, (tidak selesai)

Karya Tulis:
- Parikesit, (kumpulan puisi, 1973)
- Potret Seorang Penyair Muda sebagai si Malin Kundang (esei), (Pustaka Jaya, 1974)
- Interlude, (puisi, 1976)
- Sex, Sastra, Kita (esei), (Sinar Kasih 1980)
- Catatan Pinggir, (Grafitipers, 1982)

Penghargaan:
- Internasional dalam Kebebasan Pers (International Press Freedom Award) oleh Komite Pelindung Jurnalis (Committee to Protect Journalists), (1998)
- Internasional Editor (International Editor of the Year Award) dari World Press Review, Amerika Serikat, (Mei 1999)
- Louis Lyons dari Harvard University Amerika Serikat, (1997)
- Penghargaan Professor Teeuw dari Leiden University Belanda, (1992)

Organisasi dan Karir:
- Redaktur Harian KAMI, (1969-1970)
- Redaktur Majalah Horison, (1969-1974)
- Pemimpin Redaksi Majalah Ekspres, (1970-1971)
- Pemimpin Redaksi Majalah Swasembada (1985)
- Pemimpin Redaksi Majalah TEMPO, (1971-sekarang)

Sumber: http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/g/goenawan-mohamad/index.shtml
- See more at: http://gudang-biografi.blogspot.com/2010/02/biografi-goenawan-susatyo-mohamad.html#sthash.bGCZL6zW.dpuf

Kamis, 12 Juni 2014

KITA PUNYA BANYAK SASTRAWAN :


Muchlis Darma Putra lahir di Wadung Pal, Banyuwangi, Jawa Timur.
Beberapa karya yang sudah dipublikasikan: KADO DARI RANTAU (2011), SATU SAJAK MERAH MUDA ( 2013) merupakan dwi antologi puisi tunggalnya. Puisi-puisinya juga bisa ditemui dalam antologi puisi bersama, diantaranya BANGGA AKU JADI RAKYAT INDONESIA ( 2012), CARTA FARFALLA (2012), MERINDU RAMADHAN (2013), MEMELUK LUKA (2013), DARI NEGERI LANGIT: DARI NEGERI POCI 5 (2014).

Nyi Mas Rd Ade Titin Saskia Darmawan, terlahir di Bandung 31 Oktober 1981.
Wanita yang kesehariannya disibukkan sebagai Konsultan Akutansi ini tak luput menulis di sela-sela waktu luangnya, menulis cerpen, puisi yang sudah menjadi kebiasaann sejak bersekolah dulu. Selain sebagai Konsultan Akutansi di Biro Konsultan dan Interior Designt Nusa C di Denpasar Bali. Pernah bekerja di Jepang sebagai Konsultan Akutansi di Kawamoto Kenshushei. Pernah menjadi penyiar di beberapa radio swasta di Bali, menjadi MC dan nyanyi di beberapa acara yang masih digelutinya hingga kini.
Kehidupan pewartaan yang pernah dijalaninya:
Mengasuh Sastra dan Budaya di Korann Bali, Koran Patroli Pos, Koran Patroli Nusantara, Majalah Amertha, Majalah Stamina, Redaktur Majalah Ekspresi, Majalah Mesra Jogjakarta.
Berkesenian masih digelutinya hingga kini dari bernyanyi hingga berteater.
Buku Yang Sudah Terbit :
Antologi Puisi Bersama 50 Penyair Nusantara “ Negeri Sembian Matahari” ,
Antologi Puisi Sendiri “ Aksara Jiwa “
Buku Yang Akan Diterbitkan :
Antologi Puisi Bersama 10 Penyair Bali “ Irama Tanah Air “
Antologi Puisi Bersama 20 Penyair Nusantara “ Karena Itu Engkau Kusebut Ibu “
Antologi Bersama 15 Penyair Nusantara “ Dialog Ruang “
Antologi Puisi Bersama Fanny Jonathan Poyks “ Dua Sisi “
Antologi Puisi Bersama David Darmawan Siswandi “ Rendezvouse “
Antologi Puisi Sendir “ Aku Dan Kehadiranmu “
Antologi Puisi Sendiri “ Bianglala Kehidupan “
Tahun 2006 Bersama Bapak Puspayoga, Tata Rama Production dan Koran Bali menggelar Acara Lomba Baca Puisi Piala Wali Kota Denpasar tingkat SD, SMP,SMA dan Umum yang diikuti oleh 900 peserta.

Aulia Nur Inayah lahir di Tegal, 06 Oktober 1992. Kini tercatat sebagai mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Purwokerto di Jurusan Syariah, Ekonomi Islam. Aktif di Sekolah Kepenulisan STAIN Purwokerto, dan Komunitas Sastra Santri “Pondok Pena”. Juara I Lomba Cipta Puisi Nasional (Komunitas Rumah Kata Medan, 2013), Juara II Lomba Cipta Puisi Nasional (Dewan Kesenian Balikpapan, 2013). Puisinya masuk dalam buku antologi Kosong = Ada (107 penyair Indonesia-Malaysia, Lesbumi NU, 2012), Bunga Rampai buku puisi Pilarisme (An najah Press, 2012), Ayat-Ayat Ramadhan (AG Publishing, 2012), Merawat Ingatan Rahim (KOMNAS PEREMPUAN dan Jejer Wadon, 2013), Creative Writing (StainPress, 2013), Dari Dam Sengon Ke Jembatan Panengel (Dewan Kesenian Kudus, 2013), Pilar Puisi (StainPress, 2013), Tifa Nusantara (Dewan Kesenian Kota Tangerang, 2013), Habituasi Wajah Semesta (Komunitas Rumah Kata, 2014), Mushaf Rindu (An Najah Press, 2014), Di Bawah Sadar, Di Atas Sadar (StainPress, 2014). Puisinya juga dimuat Di Majalah Horison, dan koran Satelit Post. Cerpennya di bukukan dalam Antologi Cerpen Nasional Sepucuk Surat Untuk Tuhan (An najah Press, 2012), Nominator Lomba Cerpen Nasional STAIN Purwokerto Cinta dan Sungai-sungai Kecil Sepanjang Usia (ObsesiPress, 2013), Ramadhan di Rantau (Harfeey, 2012), Cinta Pertama (Sahabat Kata, 2012), majalah Mayara dan Buletin Keris. Kini menjadi santri di Pesantren Mahasiswa Kepenulisan An-Najah Purwokerto. Alamat di Muncang Larang RT 01 RW 02 Kec. Bumijawa, Kab. Tegal, Jateng. Hp: 085747170134.
Email; aulia_sohibi@ymail.com dan
auliaayasohibi@gmail.com.

SRI WINTALA ACHMAD, Lahir di Yogyakarta. Pernah kuliah di Fak. Filsafat UGM Yogyakarta. Menulis dalam bahasa Inggris, Indonesia, dan Jawa. Karya-karya sastranya dipublikasikan baik media pusat dan lokal, al: Kompas, Republika, Suara Karya, Suara Pembaruan, Lampung Pos, Solo Pos, Surabaya Pos, Bangka Pos, Kedaulatan Rakyat, Minggu Pagi, Merapi, Bernas, Majalah Gong, Artista, Suara Muhammadiyah, Adiluhung, Jayabaya, Mekarsari, Jaka Lodhang, Sempulur, Kliwonan, dll. Antologi puisi kolektifnya yang telah terbit, al: Zamrud Katulistiwa (Balai Bahasa Yogyakarta 1997), Sastra Kepulauan (Dewan Kesenian Sulawesi Selatan 1999), Embun Tajali (FKY 2000), Malioboro (Balai Bahasa Yogyakarta 2008), Sauk Seloko (Dewan Kesenian Jambi 2012), Tifa Nusantara (Dewan Kesenian Tangerang, 2013), dll. Selain kumpulan puisi, cerpen, dan esai; banyak menerbitkan karya prosa dan novel. Nama kesastrawanannya dicatat dalam Buku Pintar Sastra Indonesia (Pamusuk Eneste, Penerbit Kompas), Direktori Sastrawan, Seniman, dan Budayawan Yogyakarta (Taman Budaya Yogyakarta). Sekarang tinggal di Cilacap, Jawa Tengah, Indonesia.

Minggu, 08 Juni 2014

KITA PUNYA BANYAK SASTRAWAN :

KITA PUNYA BANYAK SASTRAWAN :
Muchlis Darma Putra lahir di Wadung Pal, Banyuwangi, Jawa Timur.
Beberapa karya yang sudah dipublikasikan: KADO DARI RANTAU (2011), SATU SAJAK MERAH MUDA ( 2013) merupakan dwi antologi puisi tunggalnya. Puisi-puisinya juga bisa ditemui dalam antologi puisi bersama, diantaranya BANGGA AKU JADI RAKYAT INDONESIA ( 2012), CARTA FARFALLA (2012), MERINDU RAMADHAN (2013), MEMELUK LUKA (2013), DARI NEGERI LANGIT: DARI NEGERI POCI 5 (2014).
Ekohm Abiyasa, Lahir tahun 1987 di Karanganyar, Jawa Tengah. Penikmat seni dan sastra terutama puisi. Karya-karyanya dipublikasikan di Indopos, Solopos, Joglosemar, Suara Merdeka, Suara Karya, Kendari Pos, Minggu Pagi, Koran Merapi, Frasa, Pawon Sastra, Buletin JEJAK, dan lain-lain.Puisi-puisinya termaktub dalam antologi puisi bersama: Requiem Bagi Rocker (2012), Wuyung Ketundhung (2012), Satu Kata: Istimewa (2012), Dari Sragen Memandang Indonesia (2012), Indonesia dalam Titik 13 (2013), Bangkitlah Pejuang Mimpi (2013), Merawat Ingatan Rahim (2013), Puisi Menolak Korupsi (Jilid I) (2013), Dari Dam Sengon ke Jembatan Panengel (2013), Habis Gelap Terbitlah Sajak (2013), Lentera Sastra II (2014), Solo dalam Puisi (2014), Dari Negeri Poci 5: Negeri Langit (2014).
Antologi puisi tunggal, Malam Sekopi Sunyi (2013).

Budhi Setyawan, yang akrab dipanggil ’Buset’ dilahirkan di Dusun Kalongan, Desa Mudalrejo, Kecamatan Loano, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah pada 9 Agustus 1969. Sekarang bekerja di Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan di Jakarta, berkegiatan di Sastra Reboan di Jakarta dan sebagai Ketua Forum Sastra Bekasi (FSB). Tinggal di Bekasi, Jawa Barat. Beberapa tulisannya pernah dimuat media, antara lain di: Bali Post, Suara Merdeka, Republika, Jurnal Nasional, Majalah Horison, GONG, STORY, Jurnal The Sandour, Buletin Jejak, dll. Puisi dalam bahasa jawa (geguritan) dimuat di majalah Damarjati, Panjebar Semangat, Jayabaya. Puisi-puisinya ada dalam antologi bersama: Kemayaan dan Kenyataan (Fordisastra, 2007), Pedas Lada Pasir Kuarsa (TSI II Pangkalpinang, 2009), Akulah Musi (PPN V, 2011), Sekumpulan Sajak Matajaman (bersama Jumari Hs dan Sosiawan Leak, 2011), Meretas Karya Anak Bangsa (2012), Antologi Puisi Satu Kata Istimewa (2012), Sauk Seloko (PPN VI Jambi 2012), Kepada Bekasi (2013), dll. Buku antologi puisi tunggal: Kepak Sayap Jiwa (2006), Penyadaran (2006), Sukma Silam (2007).
Wong agung utomo, Namaku Kalah adalah antologi puisi pertamanya
Beberapa puisinya sempat singgah di beberapa antologi puisi
Tinggal di Jl.Garuda IV blok G no.263 rt/w 006/017 Pondok Timur Indah Bekasi Timur.

Thomas haryanto soekiran Lahir di Purbalingga 25 Desember 1961 Banyumas Jateng
Pendidikan Kesenian
1984 Padepokan Seni Bagong Kussudiardjo Yogyakarta
1988 Sanggar Gelak Suka nya Agus Melasz Jakarta
1988 antologi RIAK BOGOWONTO kopisisa purworejo
1996 antologi ISTIRAH padepokan seni matahariku purworejo
1998 antologi JENTERA TERKASA taman budaya jateng, forum sastra surakarta
2000 antologi KIDUNG BULAN TERTIKAM kopisisa purworejo
2010 antologi PENYAIR INDONESIA ANGKATAN KOSONGKOSONG dewan kesenian tegal
2011 antologi PENYAIR JAWA TENGAH dewan kesenian jawa tengah
2012 antologi DARI SRAGEN MEMANDANG INDONESIA dewan kesenian sragen
2013 antologi PUISI MENOLAK KORUPSI JILID 1+2 forum sastra surakarta
2013 antologi HABIS GELAP TERBITLAH SAJAK dewan kesenian sragen
2014 antologi FLY OVER MERAH PUTIH teater kail jakarta
2014 antologi NEGERI POCI LIMA tegal
Puisinya juga sempat termuat dimediamedia cetak indonesia

DR. ESTI ISMAWATI, M.Pd. lahir di Palembang, 18 Oktober 1961. Lulus S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP Negeri Yogyakarta Tahun 1986. Lulus S2 Pendidikan Bahasa IKIP Negeri Jakarta Tahun 1998. Lulus S3 Pendidikan Bahasa UNJ Tahun 2003. Sejak 1986 hingga sekarang bekerja sebagai dosen negeri dipekerjakan di Universitas Widya Dharma Klaten, berpangkat Lektor Kepala Golongan IV/C. Beberapa buku telah ditulisnya.
SRI WINTALA ACHMAD, Lahir di Yogyakarta. Pernah kuliah di Fak. Filsafat UGM Yogyakarta. Menulis dalam bahasa Inggris, Indonesia, dan Jawa. Karya-karya sastranya dipublikasikan baik media pusat dan lokal, al: Kompas, Republika, Suara Karya, Suara Pembaruan, Lampung Pos, Solo Pos, Surabaya Pos, Bangka Pos, Kedaulatan Rakyat, Minggu Pagi, Merapi, Bernas, Majalah Gong, Artista, Suara Muhammadiyah, Adiluhung, Jayabaya, Mekarsari, Jaka Lodhang, Sempulur, Kliwonan, dll. Antologi puisi kolektifnya yang telah terbit, al: Zamrud Katulistiwa (Balai Bahasa Yogyakarta 1997), Sastra Kepulauan (Dewan Kesenian Sulawesi Selatan 1999), Embun Tajali (FKY 2000), Malioboro (Balai Bahasa Yogyakarta 2008), Sauk Seloko (Dewan Kesenian Jambi 2012), Tifa Nusantara (Dewan Kesenian Tangerang, 2013), dll. Selain kumpulan puisi, cerpen, dan esai; banyak menerbitkan karya prosa dan novel. Nama kesastrawanannya dicatat dalam Buku Pintar Sastra Indonesia (Pamusuk Eneste, Penerbit Kompas), Direktori Sastrawan, Seniman, dan Budayawan Yogyakarta (Taman Budaya Yogyakarta). Sekarang tinggal di Cilacap, Jawa Tengah, Indonesia.

Gampang Prawoto
Lahir Bojonegoro, 23 Oktober 1971. Sehari-harinya mengajar di sekolah terpencil tepatnya di SDN Napis 06 Tambakrejo Bojonegoro, Aktif di Sanggar Sastra ( PSJB ) Pamarsudi Sastra Jawi Bojonegoro. Puisi dan guritnya yang pernah diterbitakan diantaranya Antologi tunggal (stensil) ”Babat Windu,1997” . Antologi bersama ”Luka Waktu” (Taman Budaya Jatim,1998), Prosaliris ”Perempuan Adalah Perempuan” (Kostela,2003). Antologi bersama ”Bulan Merayap” (Dewan Kesenian Lamongan, 2004). Karya pinilih Lomba Crita Cekak Jaya Baya 2004. Antologi geguritan Bojonegoro Ing Gurit (PSJB,2006). Karya pinilih Lomba Gurit Yayasan Karmel Malang, th. 2008 dan th. 2010. Karya Pinilih Sayembara Penulisan Puisi FLP-UM,2010. Antologi Penyair Jonegoro ”Serat Daun Jati ” (KSMB,2010). Antologi ”Perempuan Dengan Belati di Betisnya” (Taman Budaya Jateng, 2010), Kumpulan Crita Cekak ”Tunggak Jarak Mrajak” (PSJB,2010). Antologi Puisi “Purnama Majapahit” (DKK Mojokerto, 2010), Antologi Puisi “Angkatan Kosong-kosong” (DK Kota Tegal 2010). Antologi Puisi Merapi Gugat 2011. “Antologi 105 Penyair “ (DK Pekalongan 2011).
Antologi Puisi PPN-4 “Akulah Musi” (DK Sumsel, 2011). Antologi “Setia Tanpa Jeda” (Unsa Award 2012). Antologi ”Gurit Pasewakan” (KSJ III, 2011). Antologi ”Puisi Jawa Modern Jawa Timur 1981-2008” (Balai Bahasa Jatim, 2012). Antologi Puisi ”Indonesia Dalam Titik 13” (Antologi Penyair Lintas Daerah Indonesia,2013). Antologi Geguritan Tunggal ”puser bumi” PSJB 2013. Antologi Puisi Religi “Ziarah Batin” (Sanggar Kembang Langit 2013). Antologi Puisi “Buat Gus Dur” (DK Kudus, 2013). Antologi Puisi “Wakil Rakyat” (Sanggar Kembang Langit 2013). Antologi Puisi TKSN “Tifa Nusantara” (DK Tangerang 2013). Antologi Geguritan “Mlesat Bareng Ukara” (PPJS Surabaya, 2014). Antologi Puisi “Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia 2014” (HMGM, 2014). Karya-karyanya juga pernah kapacak di Majalah Sastra Indhupati, Jaya Baya, Panjebar Semangat, Djaka Lodang, Damar Jati, Pujangga Anom, Radar Bojonegoro, Jurnal Tempe Bosok Solo, Tabloit Serapo dan seperangan media cetak lainnya.

Bambang Widiatmoko, penyair kelahiran Yogyakarta ini telah memiliki kumpulan puisi tunggal Pertempuran (1980), Anak Panah (1996), Agama Jam (2002), Kota Tanpa Bunga (2008), Hikayat Kata (2011), danJalan Tak Berumah (2014). Cerpennya terhimpun dalam antologi Bupati Pedro, Laki-laki Kota Rembulan (DKS, 2002), dan Elegi Gerimis Pagi (KSI, 2002). Sajak-sajaknya terhimpun dalam antologi bersama penyair lain Puisi Indonesia 1987 (DKJ, 1987), Tonggak IV (Gramedia, 1987), Antologi Puisi Indonesia (Angkasa, 1997), Antologi berbahasa Mandarin Penyair Kontemporer Indonesia (Yin Hua, 2008), Tanah Pilih (TSI I, 1998), Sajak Rindu Bagi Rasul (Pustaka Pelajar, 2010), Equator (edisi tiga bahasa, Indonesia, Inggris dan Jerman, 2011), Akulah Musi (PPN V, 2011), Tuah Tara No Ale (TSI IV, 2011), Deklarasi Puisi Indonesia (2012), Sauk Seloko (PPN VI, 2012), Penyair Menolak Korupsi (2013), Secangkir Kopi (antologi 6 negara, 2013), Lintang Panjer Wengi di Langit Yogyakarta (2014), Jula Juli Asem Jakarta(2014), dan di lebih 60 kumpulan puisi yang lain. Karya-karyanya dibahas dalam buku kritik sastra Puisi Indonesia Hari Ini: Sebuah Kritik (Korrie Layun Rampan, 1980), Bahasa Puisi Penyair Bambang Widiatmoko (Fakultas Sastra UGM, 1987), Berburu Kata Mencari Tuhan (Gama Media, 2008), Perjumpaan dengan Banten (Kumpulan Esai Wan Anwar, Kubah Budaya, 2011). Bianglala Perempuan dalam Sastra (Sugihastuti, Lembah Manah, 2012). Negeri Api Berlangit Puisi (KSI, 2013). Oktober 2013 diundang mengikuti 33rd World Congress Of Poets di Ipoh Malaysia. Memenangi lomba menulis puisi Nusantara Melayu Raya (Numera) di Malaysia, Maret 2014. Kini sebagai redaktur majalah Sastra Pusat (Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemdikbud RI), staf pengajar ilmu komunikasi pada beberapa universitas di Jakarta, dan Ketua Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Pusat.

Jumat, 07 Februari 2014

Mengenal sastyrawan asal Kota Malang Ratna Indraswari




Ratna Indraswari dikenal sebagai seorang sastrawan yang telah melahirkan lebih dari 400 karya sastra yang dengan semangat juangnya berusaha melawan segala keterbatasan yang ia miliki. Dengan kemampuan fisik yang nyaris tidak berfungsi, ia telah melahirkan ratusan karya sastra secara produktif sejak masih berusia muda hingga akhir hayatnya.

Kondisi fisiknya mulai bermasalah sejak usia 13 tahun ketika ia mengalami penyakit rachitis (radang tulang) yang mengakibatkan kedua kaki dan tangannya tidak berfungsi secara normal. Dalam menciptakan karyanya, ia selalu mendiktekan kepada para asistennya untuk mengetik dan kemudian merevisinya. Ia dikenal sebagai sosok yang tegas dan merupakan pemimpin yang benar-benar disegani.

Dibalik kursi rodanya, ia menciptakan berbagai karakter dalam cerpen dan novelnya yang pada umumnya mengisahkan perjuangan perempuan dalam menghadapi proses subordinasi yang sedang dialami. Bakat menulisnya didapat dari eyang buyutnya yang merupakan seorang narator cerita di daerah Minang.

Karya dari Ratna Indraswari antara lain : berupa kumpulan cerpen yang di muat dalam antologi Kado Istimewa (1992), Pelajaran Mengarang (1993), Lampor (1994), Laki-Laki yang Kawin dengan Peri (1995), Anjing-Anjing Menyerbu Kuburan (1997), Lakon Di Kota Senja (2002) dan Waktu Nayla (2003). Di samping aktivitasnya sebagai penulis, Ratna Indraswari juga aktif sebagai ketua Yayasan Bhakti Nurani Malang sejak 1977 dan Direktur I LSM Entropic Malang pada tahun 1991.

Ratna dikenal sebagai pribadi yang tegas, sama sekali bertolak belakang dengan kondisi difabel seluruh anggota badannya, tangan dan kaki. Dibalik kursi rodanya, Ratna secara faktual bertindak sebagai pemimpin dan benar-benar disegani.

Dari aktivitas sosialnya ini, ia mendapat kesempatan untuk mengikuti berbagai seminar internasional, misalnya Disable People International di Sydney, Australia, (1993), Kongres Internasional Perempuan di Beijing, RRC (1995), Leadership Training MIUSA di Eugene Oregon, Amerika Serikat (1997), Kongres Perempuan Sedunia di Washington DC, Amerika Serikat (1997), serta pernah mendapat predikat Wanita Berprestasi dari Pemerintah RI (1994). Pada tahun 2001, ia membentuk Forum Kajian Ilmiah Pelangi yang bermarkas di rumahnya, Jl. Diponegoro 3A Malang, Jawa Timur.

Kamis, 23 Januari 2014

Enes Suryadi



Enes Suryadi Lahir di Tangerang, Banten, pada 15 November dari seorang ibu asal Betawi dan ayah asal Sunda, Ciamis. Sejak kecil ia sudah menyukai kesenian, bisa jadi karena dalam kehidupan sehari-harinya, kedua orang tuanya pun dekat dengan kesenian, ibunya konon seorang biduan qasidahan atau orkes gambus yang pernah ada di kampungnya. Sewaktu kecil ia menyukai menonton pertunjukan bila ada orang hajatan, atau mendengarkan acara radio yang menyiarkan acara wayang golek. Ketika duduk di SD, ia sudah sangat mengidolai tokoh Arjuna..

Berbekal orongan minat alamiahnya tersebut, ia mulai masuk dunia kesenian secara aktif. aktivitas berteater, menulis puisi, menulis cerpen, dan membuat naskah drama kemudian ia jalani. Karirnya di dunia teater dimulai dengan membentuk grup teater sendiri dikampungnya yang dinamai Teater Kodrat. Dalam grup itu, ia menjadi ‘bos’ yang memborong semua pekerjaan kreatif dan mulai menulis naskah, menyutradarai dan menjadi aktor.

Setelah sempat mengajar dan melatih teater bagi para buruh di sebuah perusahaan alat alat saniter di Tangerang, Banten, ia kemudian pergi ke Jakarta mendatangi Arifin C. Noer (alm) untuk belajar tentang teater di Teater Ketjil yang dipimpinnya. Ia pernah ikut bermain ketika Teater Ketjil mementaskan lakon ‘Kunjungan Nyonya Tua’, sebuah repertoar terjamahan dari Der Besuch, karya seorang dramawan Swiss Friedrich Durentmatt, yang dipentaskan di Gedung Kesenian Jakarta pada 1990. Pada tahun yang sama, ia kembali ikut pentas dramatic reading ‘Telah Pergi la, Telah Kembali la’ dalam Festival Istiqlal. Dan ikut sebagai crew dalam produksi sinetron yang digarap Arifin C. Noer ‘Sebuah Dongeng Cinta’ yang di tayangkan dalam Pekan Sinerton TVRI.

Pada tahun 1997, ia mendatangi Ratna Sarumpaet dan menjadi asisten sutradaranya dalam pentas Teater Satu Merah Panggung ‘Terpasung’. Tahun 1998, ia kembali menjadi asisten sutradara dalam produksi ‘Pentas Terakhir’. Baru pada tahun 1999, ia ikut dalam pentas ‘Alia, Luka Serambi Mekkah’, sebagai aktor yang memerankan tokoh Komandan Militer. Setelah itu, ia kembali terlibat sebagai Asisten Sutradara, ketika Teater Satu Merah Panggung mementaskan lakon ‘Titik Terang, Sidang Rakyat Dimulai’ di Graha Bhakti Budaya, TIM, pada 3 -6 Juli 2012.

Diluar aktivitas berteaternya, Enes yang kini tinggal di Tangerang, Banten ini, dikenal sebagai seorang penyair.

Rabu, 04 Desember 2013

Suatu hari di Kantor Pos Besar

Tasinah

Suatu hari di Kantor Pos Besar 

Hari ini perangko habis 
Kilat dan tercatat
Atau khusus kiriman luar negeri
Ada juga paket 
Per ons 
Senyum pagi salam satpam dipintu
Dan gaya pak pos mengetok stempel tanggal 
Kilat dan tercatat
Ribuan orang berkumpul di halaman 
Menerjang masuk kantor pos besar
Lalu melompat pagar 
Satu-satu mereka dipanggil , senyum si miskin dalam desakan
Kilat dan tercatat
Terik mulai membakar keringat
Apalagi panggilan belum kurun tiba
Haus menelan air liur belaka
Nama tak ada dalam data
Nenek-nenek itu pingsan seketika
Kilat dan tercatat
Kakek melompat pagar antrian 
Menyerbu petugas dalam kepanikan 
Per ons akan ditimbang
Untuk kiriman paket khusus reformasi kita
Lalu pak pos pun mengetok palu stempel dengan irama rock 
Memang hari ini perangko habis.

                                                                                                       Indramayu , 2008


Tasinah lahir di Indramayu 7 Oktober 1966, menulis puisi juga puisi anak , ceren anak. Sambil menjadi guru sekolah dasar di Indramayu.

Sabtu, 30 November 2013

Nieranita

Nieranita nama pena dari Erni Rahmayunita. Lahir dan menghabiskan masa kecilnya di Lampung Barat. Menyukai filateli dan sastra. Semasa SMA ia sangat aktif di organisasi Karya Ilmiah Remaja dan pernah menjadi juari pertama Lomba KIR tingkat SLTA se Kab Lebak dengan tema "Peranan Pemuda Dalam Mencegah Disintregasi Bangsa" Kumpulan puisi-puisinya di dalam buku antologi tunggalnya "Diary Hujan" (Sembilan Mutiara Publishing, 2013) dan di buku antologi bersama "Wakil Rakyat" ( Javakarsa Media, 2013)

PutriSakinah

BIODATA
NAMA                  : PutriSakinah
ALAMAT              : GetasPejaten 19 Jati Kudus
TTL                         : Kudus, 09 Januari 1996
SEKOLAH             : SMA MUHAMMADIYAH KUDUS

EMAIL                   : akinap.utri@gmail.com

Jumat, 29 November 2013

Mariyana Hanafi profile

Mariyana,lahir di Marabahan,25 mei 1989.Tinggal di Jalan Anggrek No.22B kelurahan kebun bunga,Banjarmasin. Mulai menulis sejak masih remaja. Beberapa puisinya terangkum dalam antologi bersama diantaranya Balian Jazirah Anak Ladang,Puisi Menolak Korupsi jilid 2,Kepak Sayap satra Banua untuk Kemanusiaan(Aruh Sastra Kalimantan Selatan X,2013),dan Tadarus Rembulan (Aruh Sastra Kalimantan Selatan X,2013). Membaca,travelling dan mendengarkan musik adalah kesenangannya di waktu senggang. Sementara waktu sibuknya dihabiskan sebagai staff administrasi di salah satu perusahaan ekspedisi.


ARSYAD INDRADI RAJA PUJANGGA KALIMANTAN, PAK TUA YANG RAJIN BERSYAIR

ARSYAD INDRADI RAJA PUJANGGA KALIMANTAN,
PAK TUA YANG RAJIN BERSYAIR
ARSYAD INDRADI RAJA PUJANGGA KALIMANTAN,
PAK TUA YANG RAJIN BERSYAIR
Arsyad Indradi lahir di Barabai, 31 Desember 1949. Arsyad Indradi termasuk penyair generasi 1970-an. Menulis puisi baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Banjar. Kumpulan puisi tunggalnya dalam bahasa Indonesia yang sudah terbit, antara lain, Nyanyian Seribu Burung ( 2006a ), Romansa Setangkai Bunga ( 2006b ), Narasi Musafir Gila ( 2006c ),Anggur Duka (2009). Kumpulan puisi tunggalnya dalam bahasa Banjar dan terjemahan dalam bahasa Indonesia yang sudah terbit, antara lain Kalalatu ( 2006 ) dan Burinik (2009).
Puisi Arsyad Indradi juga dimuat dalam beberapa antologi bersama, antara lain, Jejak Berlari (1970 ), Panorana (1972), Tamu Malam (1992), Jendela Tanah Air (1995), Rumah Hutan Pinus (1996), Gerbang Pemukiman (1997 ), Bentang Bianglala (1998), Cakrawala (2000 ), Bahana (2001 ), Tiga Kutub Senja (2001 ), Bulan Ditelan Kutu ( 2004 ), Bumi Menggerutu ( 2004 ), Baturai Sanja ( 2004 ), Anak Jaman ( 2004 ), Dimensi ( 2005 ), Puisi Penyair Nusantara : “ 142 Penyair Menuju Bulan (2006), Seribu Sungai Paris Barantai (2006),Penyair Kontemporer Indonesia dalam Bhs China (2007),Kenduri Puisi Buah Hati Untuk Diah Hadaning (2008),Tarian Cahaya Di Bumi Sanggam (2008),Bertahan Di Bukit Akhir (2008),Pedas Lada Pasir Kuarsa (2009),Konser Kecemasan (2010), Akulah Musi (2011), Doa Pelangi di Tahun Emas (2010), Kambang Rampai Puisi Anak Banua (2010), Kalimantan dalam Puisi Indonesia (2011), dan Seloka Bisu Batu Benawa (2011).
Dari empat kumpulan puisi Arsyad Indradi yang ditulisnya dalam bahasa Indonesia sejak 1970 hingga 2010 Nyanyian Seribu Burung ( 2006a ), Romansa Setangkai Bunga ( 2006b ), Narasi Musafir Gila ( 2006c ),Anggur Duka (2009), suatu hal menarik, melalui puisinya dapat diketahui rangkaian kehidupan yang barangkali memang dekat dengan kehidupan penyair,. Pertama, melalui puisinya dapat diketahui mengenai kota yang dipilih penyair sebagai tempat tinggalnya. Melalui puisi “Aku Suka Kota Ini (2006a:61) penyair mengatakan bahwa kota yang dipilihnya sebagai tempat tinggal yaitu kota Banjarbaru. Mengapa penyair memilih Banjarbaru sebagai tempat tinggal ? Menurut penyair “ tidak seperti kota lain/kota ini mungil/hutan karamunting di sanasini/waktu pagi aku berada di surga burungburung/kala malam sejuta kunangkunang bertebaran/banjarbaru sebuah kota lahir dari rahim gunung apam/di ranahnya kutanam bungabunga cinta”.
AKU SUKA KOTA INI
tidak seperti kota lain
kota ini mungil
hutan karamunting di sanasini
tak ada untung rugi
kubangun rumah di sini
dengan keringat sendiri
waktu pagi aku berada di surga burungburung
kala malam sejuta kunangkunang bertebaran
di wajahmu mengantarkan s’luruh mimpimimpiku
kusenandungkan lagulagu rindu buat sang kekasih
lewat derai dedaunan pinus
banjarbaru sebuah kota lahir dari rahim gunung apam
di ranahnya kutanam bungabunga cinta
banjarbaru, 1978
Melalui puisi “Banjarbaru Kotaku Sayang” (2006a.62) penyair juga mengemukakan beberapa pernyataan mengapa ia memilih Banjarbaru sebagai kota tempat tinggalnya. Penyair mengatakan “jika kau beri aku seribu kota”,katanya “kupilih banjarbaru”. Bahkan penyair mengatakan “jika kau beri aku surga”,katanya “kupilih banjarbaru”. Kemudian penyair mengemukakan alasannya mengapa ia memilih Banjarbaru sebagai kota tempat tinggalnya. Menurut penyair “banjarbaru kota idaman” dan penyair mengatakan “kupersembahkan bungabunga cinta/buat kotaku sayang”.
BANJARBARU KOTAKU SAYANG
jika kau beri aku seribu kota
kupilih banjarbaru
jika kau beri aku surga
kupilih banjarbaru
banjarbaru kota idaman
kupersembahkan bungabunga cinta
buat kotaku sayang
banjarbaru,1978
Khusus mengenai pernyataan seorang penyair mengenai sebuah kota, jauh sebelum puisi di atas ditulis. sebenarnya pernah juga dikemukakan oleh penyair Kalimantan Selatan lainnya. Misalnya D.Zauhidhi melalui puisi “ Kandangan Kotaku Manis” (2004:i).
KANDANGAN KOTAKU MANIS
Roma atau Paris
Indah Kandangan kotaku manis
Di Kandangan aku dilahirkan
Dibelai timang sang matahari
Dipeluk cium sang rembulan
Di Kandangan aku kenal diri dan cinta
Susah senang seluruh duka
Roma atau Paris
Indah Kandangan kotaku manis
1960
Kembali kepada puisi Arsyad Indradi, sehubungan dengan kota yang dipilihnya sebagai tempat tingggalnya, pada puisi “Taman di Tengah Kota” (2006a:112) penyair menghendaki bahwa pada kota tempat tinggalnya tersebut (Banjarbaru) ada sebuah taman. Melalui taman tersebut, antara lain anak-anak dapat bermain dan bersuka ria. Taman tersebut juga diharapkan sebagai tempat bagi anak-anak untuk mengasah kreativitasnya dan mengembangkan bakat serta minatnya, misalnya melalui melukis.
TAMAN DI TENGAH KOTA

Ada taman di tengah kota
Sejuta impian siapa
Yang tumbuh di sana
Kota tak pernah diam
Dari pesona
Kota melahirkan
Bocahbocahnya dahaga
Taman adalah ranah
Sejuta bunga
Pesta hari anak se dunia
Bocahbocah melukis
Kota idamannya
Di dinding menara
Ada bocah melukis menara
Yang kehilangan madu lebah
Dari bungabunga
Yang susahpayah ditanamnya
Ada taman di tengah kota
Ada sejumlah impian
Yang tumbuh di sana
Banjarbaru,1997
Selain mengemukakan mengenai kota tempat tinggalnya, melalui puisinya Arsyad Indradi juga mengemukakan mengenai rumah yang dihuninya. Hal tersebut dapat dibaca melalui puisi “Rumah Kecilku” (2006a:17) berikut :
RUMAH KECILKU
rumah kecil pohon bergoyang berlagu duka
pintu dan jendela menghadap matahari terbit
lampu berkedip pada dunia berpaut sempit
bulan kecil tiga beranak di dalamnya
angin menyerahkan diri di gorden jendela
segala berderak bila dibuka
bapa terkapar di kaki malambuta
peluh mengucur sepanjang senyum kota
rumah kecil, rumah kecilku
bila kita cerita tentang esok pagi
betapa kejangnya urat nadi
serta kecilnya langit biru di lorong buntu
segala melaju, segala berlagu
pelabuhan siul pelaut
bapa, ibu kita berpacu
biar kita dirajuk mimpi enggan berpaut
banjarmasin, 1970
Membaca puisi di atas, mengenai rumah kecil yang dihuni oleh beberapa jiwa, barangkali mengingatkan pembaca pada puisi Chairil Anwar (1996:50). Meskipun melalui puisinya tersebut Chairil Anwar mengemukakan mengenai sebuah kamar yang sempit yang dihuni oleh beberapa jiwa.
SEBUAH KAMAR
Sebuah jendela menyerahkan kamar ini
pada dunia. Bulan yang menyinar ke dalam
mau lebih banyak tahu
“Sudah lima anak bernyawa di sini,
Aku salah satu!”
Ibuku tertidur dalam tersedu
Keramaian penjara sepi selalu
Bapakku sendiri terbaring jemu
Matanya menatap orang tersalib di batu!
Sekeliling dunia bunuh diri!
Aku minta adik lagi pada
Ibu dan Bapakku, karena mereka berada
di luar hitungan :Kamar begini
3 x 4 m, terlalu sempit buat meniup nyawa!
1946
Terlepas dari “Rumah Kecil”. di kota idamannya dan di rumah yang dihuninya, selain melalukan aktivitas, Arsyad Indradi juga melaksanakan ibadah sekaligus mendekatkan kepada Tuhan terutama pada malam hari. Salah satu puisinya yang mengemukakan mengenai pendekatan dirinya kepada Tuhan, dapat diketahui melalui puisi “Malam Hening” (2006a:71). Bahkan melalui puisi tersebut, dalam beribadah sekaligus mendekatkan diri kepada Tuhan, penyair mengatakan “setiap untai zikir/sukma sejatiku/tak letih menunggu-Mu”.
MALAM HENING
lilin merah berkalikali dipadamkan angin
entah apa setiap kunyalakan
aku ingin dekat denganMu
dedaunan pinus berdesir
kusembunyikan degup jantungku
dalam hamparan sajadahMu
setiap untai zikir
sukma sejatiku
tak letih menungguMu
banjarbaru,1979
Melalui puisi di atas dapat diketahui bahwa waktu yang dipilih penyair dalam beribadat sekaligus mendekatkan diri. Mengapa penyair memilih waktu malam hari ?
Melalui puisi “Pintu Doa” (2009:35) penyair memberikan alasannya. Kata penyair”Mengapa aku memilih malam menemuimu/Agar aku leluasa mencurahkan isihatiku”. Penyair juga mengatakan “ Di tengah malam yang sunyi yang maha gulita/ Tapi maha bercahya di mataku/ Kurebahkan rinduku di pangkuanmu/ menumpahkan airmataduka/Yang terperangkap dalam dusta dunia”.
PINTU DOA
Mengapa aku memilih malam menemuimu
Agar aku leluasa mencurahkan isihatiku
Begitu ramah membuka pintu setiap aku mengetuk
Di tengah malam yang sunyi yang maha gulita
Tapi maha bercahya di mataku
Kurebahkan rinduku di pangkuanmu
Menumpahkan airmataduka
Yang terperangkap dalam dustadunia
Berkalikali aku datang padamu
Agar aku kaulahirkan kembali
Merindukan tangisan bayi
Yang tak pernah dusta menyerumu
Bbaru, 2008
Melalui puisi di atas, Arsyad Indradi juga mengemukakan mengenai harapannya kepada Tuhan. Sebagaimana ditulisnya pada bait terakhir, ”Berkalikali aku datang padamu/ Agar aku kaulahirkan kembali/ Merindukan tangisan bayi/ Yang tak pernah dusta menyerumu”. Secara tersirat penyair berharap agar ia kembali suci seperti ”bayi yang baru dilahirkan”. Sementara melalui puisi ”
AKU LARON YANG MENCARIMU
DALAM CAHAYA ITU
JANGAN KAU PADAMKAN LAMPU
gerimis semakin menebarkan sepi
semakin jauh ke perut bumi dan
impian yang digantungkan pada diri
bergetar dalam lindap bayangbayang
di sudutsudut ruang yang gelisah
dan memaya ujudnya tapi terasa
menyentaknyentak tak henti
membiarkan rinduku menggelepar
pada sayapsayap luka dalam perjalanan
yang teramat panjang dan betapa letih
dan beribu bisik yang teramat asing
lalu seketika terbaring dengan
kerongkongan kering
dan sampaikah menggapai kendi itu :
aku laron yang mencariMu
dalam cahaya itu
jangan Kau padamkan lampu
banjarbaru, 1999
Mengenai harapan penyair melalui doanya kepada Tuhan, juga dikemukakan penyair melalui puisi “Tuhan Jangan Kau Sembunyikan Doaku” (2009:8). Lewat puisi tersebut penyair mengatakan “Duhai jagat, aku tak pernah mau terajal sedikitpun/Pada sekalian dusta semesta/ Sebab aku pada diri sendiri/ Selamat tinggal pada Fatamorgana”. Kemudian, puisi tersebut ditutup penyair dengan suatu harapan, sebagaimana judul puisi tersebut, “Tuhan jangan kau sembunyikan doaku”.
TUHAN JANGAN KAU SEMBUNYIKAN DOAKU
Darahku seperti alapalap bersayapangin
Begitu isak kecil membuka pintu yang lama terkunci
Jemputlah anganmu yang terbengkalai
Aku tumpah dari perjalananmu yang panjang
Tumpah dari lukalukarindumu
Setiap jalan bersimpang kau bergumul dengan bimbang
Di batubatu kehidupan kau tulis riwayat impian
Sebelum matahari keburu terbenam
Duhai jagat,aku tak pernah mau terajal sedikitpun
Pada sekalian dusta semesta
Sebab aku lahir pada diriku sendiri
Selamat tinggal pada fatamorgana
Kubaca isak dis’luruh tapaktapakkakiku
Dan tak letihletih menulis aksaranamamu
Tuhan jangan kau sembunyikan doaku
Serpong – Tangerang, 2007

Minggu, 24 November 2013

Jamal D Rahman pengasuh majalah Horison

Jamal D Rahman pengasuh majalah HorisonJamal D Rahman adalah penyair kelahiran Lenteng Timur, Sumenep, Madura 14 Desember 1967. Dia adalah alumni Ponpes Al-Amien Prenduan, Sumenep, Madura dan kemudian IAIN (kini UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Munulis puisi, esai, keritik sastra, masalah kesenian dan kebudayaan di berbagai media massa, seperti; Kompas, Republika, Suara Pembaruan, Pikiran Rakyat, Jawa Pos, Media Indonesia, Horison, dan Jurnal Puisi. Seringkali diundang mengikuti acara-acara sastra di berbagai kota di Indonesia dan malaysia, antara lain Program Penulisan MASTERA Bidang Esai di Cisarua Bogor (1999), Seminar Keritikan Sastera Melayu Serantau, Kuala Lumpur (2001), dan Pertemuan Penulis Asia Tenggara di Kuala Lumpur (2001). Sekarang bergiat di majalah Horison dan membentuk sanggar-sanggar sastra di sekolah.
Karya-karyanya: Airmata Diam (1993). Garam-garam Hujan (2003). Termuat juga dalam antologi bersama, di antaranya: Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia (2002), dari fansuri ke handayani (2001), Horison Sastra Indonesia: Kitab Puisi 1 (2002). Tulisan-tulisannya di sejumlah buku; Islam dan Transformasi Sosial-Budaya (1993), Romo Mangun di Mata para Sahabat (1997), Tarekat Nurcholishy (2001), dan Ulama Perempuan Indonesia (2002).

Jamaluddin Kafie

Jamaluddin KafieJamaluddin Kafie, lahir di Sumenep, … . Beliau adalah orang pertama yang selalu meotovasi murid-muridnya untuk bergiat di bidang kesusastraan dan tulis menulis. Karya terjemahannya telah banyak diterbitkan oleh berbagai penerbit, seperti: Laila Majnun, Guru dan Muridnya, serta banyak lagi karya terjemahan dan tulisan-tulisannya yang telah diterbitkan. Beliau adalah salah seorang kiai yang ikut serta dalam perintisan Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan Sumenep Madura (Mohon bagi yang memiliki profil lengkap KH. Jamaluddin Kafie, dikirim ke email: ali_ibnuanwar@yahoo.com)

Moh.Hamzah Arsa

Moh.Hamzah ArsaMoh. Hamzah Arsa Lahir di Sumenep, 15 Maret 1979. Alumnus TMI Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan 1998. Mengabdikan dirinya di almamaternya tercinta sebagai guru pengajar Bahasa dan Sastra Indonesia sampai tahun 2005 sambil kuliah di Institut Dirasah Islamiyah Al-Amien (IDIA) hingga tamat tahun 2003. Aktif sebagai Pembina Sanggar Sastra Al-Amien (SSA), Koordinator Sanggar Sastra Remaja Indonesia (SSRI) Madura, Dewan Redaksi Majalah Santri “Qalam” dan Pemimpin Umum Buletin “Sastera”. Puisi-puisinya banyak dipublikasikan di berbagai media massa Puisi-puisinya juga terangkum dalam antologi bersama, yaitu “209 Bergerak” (1997) “Airmata Rindu” (1999) dan “Cahaya Kata” (2003).
Kini tercatat sebagai mahasiswa S2 di Program Pasca Sarjana Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Jurusan Pendidikan Bahasa. Calon master ne!

Ali ibnu Anwar

Ali Ibnu AnwarAli Ibnu Anwar, dilahirkan di Wonojati, Jenggawah, Jember 04 Mei 1986. Alumni Pond. Pest. Al-Amien Prenduan. Sempat mengajar (pengabdian) Bahasa dan Sastra Indonesia di Almamaternya. Selain juga tercatat sebagai Pembina Sanggar Sastra Al-Amien (SSA) dan Sanggar Sastra Remaja Indonesia (SSRI) yang bekerjasama dengan Horison, berserta teman-temannya dan penanggungjawab Majalah Santri QALAM. Karya-karyanya seringkali dipublikasikan di Majalah Sastra Horison, MPA, Jawapos, Media Pangesto dan beberapa media lokal lainnya. Karyanya juga terkumpul dalam antologi bersama cerpen At-he-is (Pustaka SSA, 2003) dan antologi puisi O.De (Pustaka SSA, 2003), Yasin (Balai Bahasa Surabaya, 2005), dan “Kepada Mereka yang Katanya Dekat Dengan Tuhan” (antologi puisi Sastrawan Mutahir Jawa Timur, DKJT dan Balai Bahasa, 2007) . Reuni (Pustaka Al-Amien, 2006) adalah salah satu antologi puisi tunggal perdananya.
Pernah meraih juara 3 Lomba Cipta Puisi se-Jawa Timur (2004) tingkat SMA/sederajat yang diselenggarakan oleh Dewan Kebudayaan dan Pariwisata Pamekasan. Juga sebagai Juara 1 Lomba Cipta Puisi se-Jawa Timur (2005) yang diadakan oleh Balai Bahasa Surabaya. Kini tinggal di Jakarta dan berstudi di Universitas Indraprasta Jakarta.
Mengikuti beberapa kegiatan sastra seperti: Jambore Sastra, Lombang, Sumenep (2004), Temu Sastra Nusantara dan Baca Puisi, Festifal Cak Durasim (2006), serta beberapa kegiatan lainnya.

Rabu, 06 November 2013

JAKARTA GELANGANG DEMONSTRASI


Sri Sunarti, penyair/cerpenis Indonesia lahir di Bogor 4 Juni 1966. Menulis Puisi, Cerpen dan Novel. Puisi cerpen dipublikasikan di media massa nasional. Mendirikan sanggar sastra Kembang Kantil di Bogor.
Berikut karya puisinya:





JAKARTA GELANGANG DEMONSTRASI

Karya : Sri Sunarti Jakarta, 2012

Jakarta Gelanggang Demonstrasi

Ibu kota wajah Indonesia
Demo wajah Jakarta
Ingat Jakarta ingat demonstrasi
Karena Jakarta Ibukota Wajah Indonesia
Hari ini gelanggang sepi tapi
besok Demontran ke gelanggang Jakarta
Hari ini polisi bisa minum kopi dan sarapan pagi
besok tak mungkin sikat gigi
karena langsung kegelanggang
Jakarta menjadi sarapan pagi
Jakarta wajah seribu wajah
Hari ini mungkin menonton tv bersama
besok tak ada tv
Jakarta menjadi tv siaran langsung
Gelanggang demonstran Indonesia
Jakarta kita milik demonstran.


Sri Sunarti, penyair/cerpenis Indonesia lahir di Bogor 4 Juni 1966. Menulis Puisi, Cerpen dan Novel. Puisi cerpen dipublikasikan di media massa nasional. Mendirikan sanggar sastra Kembang Kantil di Bogor.

Berikut karya puisinya:

Senin, 04 November 2013

RATNA AYU BUDHIARTI l



RATNA AYU BUDHIARTI lahir di Cianjur pada 9 Februari 1981. Menulis puisi sejak kelas 6 SD. Karyanya banyak dimuat di media cetak seperti Mingguan Pelajar, Majalah Sahabat Pena, Puitika, SK. Priangan, HU. Pikiran Rakyat,dan Suara Karya. Puisinya dimuat dalam antologi bersama Orasi Kue Serabi (SST, 2001), Enam Penyair Membentur Tembok (SST, 2002), Poligami (SST, 2003), Muktamar (SST, 2003), Bunga yang Berserak (KSDS, 2003), Antologi 9 Penyair Jawa Barat Aku akan Pergi ke Banyak Peristiwa (Taman Budaya Jawa Barat, 2005), kumpulan puisi penyair Bali-Jawa Barat “ROH” (Mnemonic, 2005), Di Atas Viaduct (Kiblat, 2009), dan antologi tunggal “Dusta Cinta” (Gaza Publishing, 2008).

Puput Amiranti N.

Puput Amiranti N.
Lahir di Jember, 24 April 1982. Mahasiswa Unair (S I) Jurusan Sastra Inggris. Dulu pernah aktif di teater kampus sebagai sutradara, tim musik, actor dan penulis naskah serta terlibat dalam beberapa forum diskusi sastra dan seni, selama 2001 hingga pertengahan 2005. Karya-karyanya berupa puisi pernah dimuat di : Surabaya News, Surabaya Post, Surya, Jawa Post, Media Indonesia, Aksara, Lampung Post, Pikiran Rakyat, Jurnal Perempuan Jurnal Dewan Kesenian Jawa Timur-Bende dan beberapa antologi puisi Permohonan Hijau (FSS 2003), Antologi Penyair Jawa (FSS 2004), Dian Sastro For President : Pesona Gemilang Musim dan antoligi sendiri Impian Bunuh Diri (Gapus,2004). Juga termuat di media online Indonesia Australia, AIAA News dan pernah dibacakan di radio Indonesia-Jerman, Deutsche-Welle (Jan,2004). Salah satu puisinya :

Menuju Bulan

I. malam merekam pucat bayangan
suara-suara ketakterhinggaan
timbul tenggelam, tubuhku menelikung
remuk
oleh keberadaan waktu
hanya mitos-mitos kelelawar

II. mungkin kita saling berciuman
di bawah bulan tak mengenal
tubuh kita perdu terbakar
cahaya-cahaya lalu lalang
menggambar bayangan sendiri
gedung-gedung ingatan pecah di arus matamu
penglihatan yang tak kita yakini

III. kita tak lagi hujan
kita tak lagi sunyi
selain merangkum kemarau bimbang
di patahan ranting, benak kita licin
lebih terjal dari impian bibir musim
sementara pantulan-pantulan gema
kita terbang
terbaring, seperti ular yang baru dijinakkan
tanpa gairah apa-apa
selain bukan keinginan tak berdosa

Surabaya, 2004
Lahir di Jember, 24 April 1982. Mahasiswa Unair (S I) Jurusan Sastra Inggris. Dulu pernah aktif di teater kampus sebagai sutradara, tim musik, actor dan penulis naskah serta terlibat dalam beberapa forum diskusi sastra dan seni, selama 2001 hingga pertengahan 2005. Karya-karyanya berupa puisi pernah dimuat di : Surabaya News, Surabaya Post, Surya, Jawa Post, Media Indonesia, Aksara, Lampung Post, Pikiran Rakyat, Jurnal Perempuan Jurnal Dewan Kesenian Jawa Timur-Bende dan beberapa antologi puisi Permohonan Hijau (FSS 2003), Antologi Penyair Jawa (FSS 2004), Dian Sastro For President : Pesona Gemilang Musim dan antoligi sendiri Impian Bunuh Diri (Gapus,2004). Juga termuat di media online Indonesia Australia, AIAA News dan pernah dibacakan di radio Indonesia-Jerman, Deutsche-Welle (Jan,2004). Salah satu puisinya :

Menuju Bulan

I. malam merekam pucat bayangan
suara-suara ketakterhinggaan
timbul tenggelam, tubuhku menelikung
remuk
oleh keberadaan waktu
hanya mitos-mitos kelelawar

II. mungkin kita saling berciuman
di bawah bulan tak mengenal
tubuh kita perdu terbakar
cahaya-cahaya lalu lalang
menggambar bayangan sendiri
gedung-gedung ingatan pecah di arus matamu
penglihatan yang tak kita yakini

III. kita tak lagi hujan
kita tak lagi sunyi
selain merangkum kemarau bimbang
di patahan ranting, benak kita licin
lebih terjal dari impian bibir musim
sementara pantulan-pantulan gema
kita terbang
terbaring, seperti ular yang baru dijinakkan
tanpa gairah apa-apa
selain bukan keinginan tak berdosa

Surabaya, 2004