TEKS SULUH


Selasa, 08 Mei 2012

ANGKATAN 80-AN, ANGKATAN REFORMASI, ATAU ANGKATAN 2000-AN, SAH SAH AJA LAH……



PENYAIR DAERAH BOLEH NYATAKAN DIRINYA KEDALAM SASTRAWAN ANGKATAN 80-AN, ANGKATAN  REFORMASI, ATAU ANGKATAN 2000-AN, SAH SAH AJA LAH……
Oleh : Agus Warsono
     Agaknya kita terpaku oleh Paus Sastra Indonesia, HB Yasin, Majalah Sastra Horizon, dan omongan para penyair yang beruntung populair saja, padahal tak sedikit penyair yang berada di seluruh pelosok Tanah Air memiliki karya yang sangat baik di kurun 80-an hingga 2000-an.
(Dasawarsa 80-an).Oleh karena itu menjadi tugas penyair di angkatan ini (untuk menyebut angkatan 80-an, angkatan reformasi dan angkatan 2000-an)untuk berbuat mengokohkan pribadinya atas pilihan kemana ia tergolong status angkatan kepenyairannya.
dst…………….

Minggu, 06 Mei 2012

SAINI KM














Lahir di Sumedang 16 Juni 1938, memasuki sastra inggris IKIP Bandung
Karya-karya :Karya lain yang telah ditulis Saini K.M. adalah sebagai berikut: a. Kumpulan Puisi 1.Nyanyian Tanah Air (Mimbar Demokrasi Press, 1969) 2.Rumah Cermin (Sargani dan Co., 1979) 3.Sepuluh Orang Utusan (PT Granesia, 1989) 4.Mawar Merah (Aksara Indonesia, 2001) b. Prosa 1.Puragabaya (1976) 2.Cerita Rakyat Jawa Barat (Grasindo, 1993) 3.Berkas yang Hilang (Aksara Indonesia, 2001) c. Lakon 1.Pangeran Geusan Ulun (1963) 2.Pangeran Sunten Jaya (1973) 3.Ben Go Tun (1977) 4.Siapa Bilang Saya Godot (1977) 5.Restoran Anjing (1978) 6.Egon (1978) 7.Kerajaan Burung (1980) 8.Sebuah Rumah di Argentina (1980) 9.Serikat Kacamata Hitam (1981) 10. Sang Prabu (1981) 11. Pohon Kalpataru (1981) 12. Panji Koming (1984) 13. Madegel (1984) 14. Amat Jaga (1985) 15. Ken Arok (Balai Pustaka, 1985) 16. Syekh Siti Jenar (1986) 17. Dunia Orang-Orang Mati (1986) 18. Ciung Wanara (1992) 19. Damarwulan (1995) d. Karya Terjemahan 1.Percakapan dengan Stalin (karya Milovan Djilas) 2.Bulan di Luar Penjara (karya Ho Tji Minh) e. Karya Nonfiksi 1.Protes Sosial dalam Sastra (1983) 2.Beberapa Gagasan Teater (1981) 3.Dramawan dan Karyanya (1985) 4.Teater Modern dan Beberapa Masalahnya (1987) 5.Apresiasi Kesusastraan (bersama Jakob Sunardjo, 1986) 6.Antologi Apresiasi Kesusastraan (bersama Jakob Sumardjo, 1986) 7.Puisi dan Beberapa Masalahnya (Penerbit ITB, 1993) 8.Peristiwa Teater (Penerbit ITB, 1996) 9.Seni Teater 1—6 (bersama Ade Puspa dan Isdaryanto, 1989 dan 1990)
Penghargaan Khusus:Hadiah/Anugerah/Penghargaan 1. Hadiah Sayembara Penulisan Drama Anak-Anak Direktorat Kesenian, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1980 2. Hadiah Sayembara Penulisan Drama DKJ 1973, 1977, 1978, 1980, dan 1981 3. Hadiah Sayembara Bakom PKB DKI Jakarta Raya 1980 dan 1981 4. Anugerah Sastra dari Yayasan Forum Sastra Bandung, 1995 5. Penghargaan Penulisan Karya Sastra dari Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, 1991 6. Penerima Hadiah Sastra Asia Tenggara 2001 (SEA Writte Awards 2001)

AMIR HAMZAH




Nama lengkap Amir Hamzah adalah Tengku Amir Hamzah Pangeran Indera Putera. sastrawan Indonesia angkatan Pujangga Baru, lahir di Tanjung Pura, Langkat, Sumatera Timur, 28 Februari 1911 – meninggal di Kuala Begumit, 20 Maret 1946 pada umur 35 tahun. Tengku Amir Hamzah merupakan sastrawan yang dijuluki Raja Penyair Pujangga Baru. Amir Hamzah yang juga bergelar Gelar Pangeran Indra Pura. Amir Hamzah tidak hanya menjadi penyair besar pada zaman Pujangga Baru, tetapi juga menjadi penyair yang diakui kemampuannya dalam bahasa Melayu-Indonesia hingga sekarang, Amir Hamzah terbunuh dalam Revolusi Sosial Sumatera Timur yang melanda pesisir Sumatra bagian timur di awal-awal tahun Indonesia merdeka. Selama hidupnya, Amir Hamzah telah menghasilkan sekitar 160 karya berupa 50 sajak asli, 77 sajak terjemahan, 18 prosa liris asli, 1 prosa liris terjemahan, 13 prosa asli, dan 1 prosa terjemahan. Karya-karyanya yang terkenal terkumpul dalam antologi Buah Rindu (1941) dan Nyanyi Sunyi (1937).

BENI SETIA



lahir di Bandung, 1954. Ia menyelesaikan pendidikannya di Sekolah Menengah Pertanian Atas, Soreang, Bandung pada 1974. Ia menulis cerpen, puisi, serta esai sosial-budaya baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Sunda. Bukunya yang telah terbit, Legiun Asing: Tiga Kumpulan Sajak (1987), Dinamika Gerak (1990), dan Harendong (1996). Kini ia tinggal bersama keluarganya di Caruban, Madiun, Jawa Timur. Beni memilih menulis sebagai profesi tunggalnya.

ACEP ZAMZAM NOOR



Lahir di Tasikmalaya Jawa Barat. 28 Februari 1960. Nama lengkapnya ialah Muhammad Zamzam Noor Ilyas anak sulung dari seorang kiyai. Selain menulis sajak, baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa sunda dia juga menulis esai sastra.

Beberapa Karya dan Kumpulan Sajaknya :
  • Ø  Aku Kini Doa (kumpulan sajak, 1986)
  • Ø  Di atas Umbria (kumpulan sajak, 1999)
  • Ø  Dari Kota Hujan (kumpulan sajak, 1996)
  • Ø  Jalan Menuju Rumahmu (kumpulan sajak, 2004)
  • Ø  Kasidah Sunyi (kumpulan sajak, 1989)
  • Ø  Tamparlah Mukaku! (kumpulan sajak, 1982)
  • Ø  The Poets Chant (antologi, 1996)
  • Ø  Aseano (antologi, 1995)
  • Ø  Diluar Kata (kumpulan Sajak, 1996)
  • Ø  Dongeng dari Negeri sembako (kumpulan puisi, 2001)
  • Ø  Menjadi Penyair lagi (antologi,2007)

JAMAL D RAHMAN


(Lahir di Lenteng Timur, Sumenep, Madura, 14 Desember 1967). Alumnus Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, Sumenep, Madura dan kemudian IAIN (kini UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Menyelesaikan S2 pada Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB-UI), dan kini mahasiswa S3 di FIB-UI.  Puisi-puisinya bnyak diterbitkan di media massa dan kumpulan cerpen. Sekarang bergiat di majalah Horison dan membentuk sanggar-sanggar sastra di sekolah.

Buku puisinya: Airmata Diam (1993), Reruntuhan Cahaya (2003), Garam-garam Hujan (2004), dan Burn Me with Your Letters (terjemahan Nikmah Sarjono, 2004). Di samping diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, puisi-puisinya diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman dan Portugal. Dimuat juga dalam beberapa antologi, di antaranya: Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia (2000), dari Fansuri ke Handayani: Sastra Indonesia dalam Program Sastrawan Bicara Siswa Bertanya (2001), Horison Sastra Indonesia 1: Kitab Puisi (2002) dan Hijan Kelon: Puisi Kompas 2002 (2002), Poetry on the Road (2004), Poetry and Sincerity (2006), 60 Puisi Indonesia Terbaik 2009 (2009).

AGUS R SARJONO



Agus R. Sarjono
Agus R. Sarjono dikenal sebagai penyair, cerpenis, dan esais. Lahir di Bandung, Jawabarat, 27 juli 1962 dia adalah penyair dan penulis Indonesia. Agus adalah ketua Bidang Program Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) periode 2003-2006 sebelumnya ia adalah ketua komite sastra DKJ periode 1998-2001.

Karya Agus R. Sarjono
  • ·         Kenduri Airmata (1994,1996)
  • ·         A Story from the Country of the Wind (edisi Bahasa Inggris, 1999, 2001)
  • ·         Suatu Cerita dari Negeri Angin (2001, 2003)
  • ·         Frische Knochen
  • ·         Diterbangkan Kata-kata (2006)
  • ·         Tangan Besi, Antologi Puisi Reformasi (1998)

GOENAWAN SOESATYO MOHAMAD



Goenawan Soesatyo MohamadLahir di (Karangasem, Batang, Jawa Tengah, 29 Juli 1941)
Seorang Pujangga Indonesia yang terkemuka dan seorang pendiri majalah tempo.
Goenawan Mohamad adalah seorang intelektual yang punya wawasan yang begitu luas, mulai pemain sepak bola, politik, ekonomi, seni dan budaya, dunia perfilman, dan musik. Pandangannya sangat liberal dan terbuka. Seperti kata Romo Magniz-Suseno,salah seorang koleganya, lawan utama Goenawan Mohamad adalah pemikiran monodimensional.

CHAIRIL ANWAR 1922-1949








Chairil Anwar
Lahir (Medan, 26 Julai 1922). Dia dibesarkan dalam keluarga yang cukup berantakan. Kedua ibu bapanya bercerai, dan ayahnya berkahwin lagi. Selepas perceraian itu, saat habis SMA, Chairil mengikut ibunya ke Jakarta.
Chairil Anwar merupakan anak tunggal. Ayahnya bernama Toeloes, mantan bupati Kabupaten Indragiri Riau, berasal dari Taeh Baruah, Limapuluh Kota, Sumatra Barat. Sedangkan ibunya Saleha, berasal dari Situjuh, Limapuluh Kota. [1] Dia masih punya pertalian keluarga denganSutan Sjahrir, Perdana Menteri pertama Indonesia.[2] Chairil menguasai bahasa Inggris, bahasa Belanda dan bahasa Jerman, dan dia mengisi jam-jamnya dengan membaca karya-karya pengarang internasional ternama, seperti: Rainer M. Rilke, W.H. Auden, Archibald MacLeish,H. Marsman, J. Slaurhoff dan Edgar du Perron. Penulis-penulis ini sangat memengaruhi tulisannya dan secara tidak langsung memengaruhi puisi tatanan kesusasteraan Indonesia.
Semasa kecil di Medan, Chairil sangat rapat dengan neneknya. Keakraban ini begitu memberi kesan kepada hidup Chairil. Dalam hidupnya yang amat jarang berduka, salah satu kepedihan terhebat adalah saat neneknya meninggal dunia. Chairil melukiskan kedukaan itu dalam sajak yang luar biasa pedih:
Bukan kematian benar yang menusuk kalbu/ Keridlaanmu menerima segala tiba/ Tak kutahu setinggi itu atas debu/ Dan duka maha tuan bertahta

Nama Chairil mulai terkenal dalam dunia sastera setelah pemuatan tulisannya di "Majalah Nisan" pada tahun 1942, pada saat itu dia baru berusia dua puluh tahun. Hampir semua puisi-puisi yang dia tulis merujuk pada kematian.[3]. Chairil ketika menjadi penyiar radio Jepang di Jakarta jatuh cinta pada Sri Ayati tetapi hingga akhir hayatnya Chairil tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkannya.[4] Puisi-puisinya beredar di atas kertas murah selama masa pendudukan Jepang di Indonesia dan tidak diterbitkan hingga tahun 1945.[5][6]
Karya tulis yang diterbitkan
Kena Gempur (1951), terjemahan karya John Steinbeck
Terjemahan ke bahasa asing
Karya-karya Chairil juga banyak diterjemahkan ke dalam bahasa asing, antara lain bahasa Inggris, Jerman dan Spanyol. Terjemahan karya-karyanya di antaranya adalah:
  • "Sharp gravel, Indonesian poems", oleh Donna M. Dickinson (Berkeley, California, 1960)
  • "Cuatro poemas indonesios [por] Amir Hamzah, Chairil Anwar, Walujati" (Madrid: Palma de Mallorca, 1962)
  • Chairil Anwar: Selected Poems oleh Burton Raffel dan Nurdin Salam (New York, New Directions, 1963)
  • "Only Dust: Three Modern Indonesian Poets", oleh Ulli Beier (Port Moresby [New Guinea]: Papua Pocket Poets, 1969)
  • The Complete Poetry and Prose of Chairil Anwar, disunting dan diterjemahkan oleh Burton Raffel (Albany, State University of New York Press, 1970)
  • The Complete Poems of Chairil Anwar, disunting dan diterjemahkan oleh Liaw Yock Fang, dengan bantuan H. B. Jassin (Singapore: University Education Press, 1974)
  • Feuer und Asche: sämtliche Gedichte, Indonesisch/Deutsch oleh Walter Karwath (Wina: Octopus Verlag, 1978)
  • The Voice of the Night: Complete Poetry and Prose of Chairil Anwar, oleh Burton Raffel (Athens, Ohio: Ohio University, Center for International Studies, 1993)

Akhir hidup
Vitalitas puitis Chairil tidak pernah diimbangi kondisi fisiknya, yang bertambah lemah akibat gaya hidupnya yang semrawut. Sebelum dia bisa menginjak usia dua puluh tujuh tahun, dia sudah kena sejumlah penyakit. Chairil Anwar meninggal dalam usia muda karena penyakit TBC[7] Dia dikuburkan di Taman Pemakaman Umum Karet Bivak, Jakarta. Makamnya diziarahi oleh ribuan pengagumnya dari zaman ke zaman. Hari meninggalnya juga selalu diperingati sebagai Hari Chairil Anwar.

Kumpulan Puisi Chairil Anwar

AKU

Kalau sampai waktuku
'Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi

Maret 1943

SAJAK PUTIH

Bersandar pada tari warna pelangi
Kau depanku bertudung sutra senja
Di hitam matamu kembang mawar dan melati
Harum rambutmu mengalun bergelut senda

Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
Meriak muka air kolam jiwa
Dan dalam dadaku memerdu lagu
Menarik menari seluruh aku

Hidup dari hidupku, pintu terbuka
Selama matamu bagiku menengadah
Selama kau darah mengalir dari luka
Antara kita Mati datang tidak membelah...

SENJA DI PELABUHAN KECIL
buat: Sri Ajati

Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut

Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap

1946

CINTAKU JAUH DI PULAU

Cintaku jauh di pulau,
gadis manis, sekarang iseng sendiri

Perahu melancar, bulan memancar,
di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar.
angin membantu, laut terang, tapi terasa
aku tidak 'kan sampai padanya.

Di air yang tenang, di angin mendayu,
di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertakhta, sambil berkata:
"Tujukan perahu ke pangkuanku saja,"

Amboi! Jalan sudah bertahun ku tempuh!
Perahu yang bersama 'kan merapuh!
Mengapa Ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!

Manisku jauh di pulau,
kalau 'ku mati, dia mati iseng sendiri.

1946
DERAI DERAI CEMARA

cemara menderai sampai jauh
terasa hari akan jadi malam
ada beberapa dahan di tingkap merapuh
dipukul angin yang terpendam

aku sekarang orangnya bisa tahan
sudah berapa waktu bukan kanak lagi
tapi dulu memang ada suatu bahan
yang bukan dasar perhitungan kini

hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah

1949

KRAWANG-BEKASI

Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak "Merdeka" dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.

Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa

Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir

Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian

Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi

(1948)

Daftar Penyair Indonesia


Kamis, 19 April 2012

IBU KARTINI MENANGIS, EMANSIPASI SALAH ARAH

oleh : Agus Warsono
TEMA OBROLAN KITA ADALAH PEREMPUAN, MEMENTUM HARLAH KARTINI: 
Ada satu kerendahan Kartini yakni ia menolak Beasiswa Belajar di Negeri Belanda.Ia merasa ada sesuatu ketidakmampuan dirinya. Beasiswa itu ia berikan pada seorang pemuda bernama Agus Salim. Namun Agus Salim (populair H. Agus Salim Menlu Pertama RI) menolak pemberian itu, keduanya sama-sama idealis, yang pada ukuran sekarang sulit dicari orang menolak pemberian itu.Kartini barangkali memiliki idealis itu yang sulit ditemukan perempuan Indonesia sekarang 
Ketika Kartini berkunjung Ke DPRD/DPR ada kesepakatan perempuan antara 30-40 % pada komposisi keanggotaan. Begitu pula pada rekutmen PNS ada digunakan komposisi demikian. Ini berarti Kartini merasa lega, namun begitu melihat proses pencapaian dan rekrutmen itu sungguh Kartini mengharap tidak asal melengkapi genap saja 
Kemajuan emansipasi disisi lain (misal kesandung perkara korupsi) perempuan tak kalah dengan pria. "Kartini -Karini" baru muncul sebut saja seperti Miranda Gultom, Melenda Dee, Engelina Sondak,adalah contoh emansipasi itu. Meki hukum tak mampu menunjukan kebenarannya, tetapi populairitas mereka sungguh membuat Kartini berdecak kagum 
Satu yang membuat Kartini tak mengerti, Kenapa Ibu Ani Yudoyono sebagai Ibu Nagara demikian adanya. Bukankah ia milik Indonesia, milik rakyat semua, ibunda rakyat Indonesia. dan tentu bukan hanya milik warga Demokrat saja 
Barangkali Kartini tersenyum sekarang, emansipasi mungkin terlaksana. Begitu banyak perempuan pemimpin eksekutif dan begitu banyak dari kalangan perempuan menjadi legeslatif. Namun Kartini merasa ragu karena tangga yang digunakan menuju puncak itu begitu sangat keroposnya.Tangga Ilmu Pengetahuan dan pendidikan begitu diabaikan. ( "habis terang terus gelap") begitu katanya dalam surat-surat kartini

Sabtu, 17 Maret 2012

CHAIRIL ANWAR




  Chairil Anwar
Chairil Anwar adalah penyair terkenal di Indonesia sampai saat ini. Dia merupakan tokoh legendaris penyair Indonesia . lahir di Medan, 26 Julai 1922 .
DERAI DERAI CEMARA
cemara menderai sampai jauh
terasa hari akan jadi malam
ada beberapa dahan di tingkap merapuh
dipukul angin yang terpendam
aku sekarang orangnya bisa tahan
sudah berapa waktu bukan kanak lagi
tapi dulu memang ada suatu bahan
yang bukan dasar perhitungan kini
hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah
PUISI KEHIDUPAN
Hari hari lewat, pelan tapi pasti
Hari ini aku menuju satu puncak tangga yang baru
Karena aku akan membuka lembaran baru
Untuk sisa jatah umurku yang baru
Daun gugur satu-satu
Semua terjadi karena ijin Allah
Umurku bertambah satu-satu
Semua terjadi karena ijin Allah
Tapi… coba aku tengok kebelakang
Ternyata aku masih banyak berhutang
Ya, berhutang pada diriku
Karena ibadahku masih pas-pasan
Kuraba dahiku
Astagfirullah, sujudku masih jauh dari khusyuk
Kutimbang keinginanku….
Hmm… masih lebih besar duniawiku
Ya Allah
Akankah aku masih bertemu tanggal dan bulan yang sama di tahun depan?
Akankah aku masih merasakan rasa ini pada tanggal dan bulan yang sama di tahun depan?
Masihkah aku diberi kesempatan?
Ya Allah….
Tetes airmataku adalah tanda kelemahanku
Rasa sedih yang mendalam adalah penyesalanku
Astagfirullah…
Jika Engkau ijinkan hamba bertemu tahun depan
Ijinkan hambaMU ini, mulai hari ini lebih khusyuk dalam ibadah…
Timbangan dunia dan akhirat hamba seimbang…
Sehingga hamba bisa sempurna sebagai khalifahMu…
Hamba sangat ingin melihat wajahMu di sana…
Hamba sangat ingin melihat senyumMu di sana…
Ya Allah,
Ijikanlah
AKU
Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
SAJAK PUTIH
Bersandar pada tari warna pelangi
Kau depanku bertudung sutra senja
Di hitam matamu kembang mawar dan melati
Harum rambutmu mengalun bergelut senda
Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
Meriak muka air kolam jiwa
Dan dalam dadaku memerdu lagu
Menarik menari seluruh aku
Hidup dari hidupku, pintu terbuka
Selama matamu bagiku menengadah
Selama kau darah mengalir dari luka
Antara kita Mati datang tidak membelah
YANG TERAMPAS DAN YANG PUTUS
kelam dan angin lalu mempesiang diriku,
menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin,
malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu
di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin
aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang
dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu;
tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang
tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku
1949