adalah majalah sastra net bagi rakyat Indonesia yang memerlukan sastra sebagai bagian kehidupan indah di Indonesia. Untuk segala umur pecinta sastra di Tanah Air. Pendiri Agus Warsono (Rg Bagus Warsono/Masagus) didirikan 2 Januari 2011, Redaksi Alamanda Merah 6 Citra Dharma Ayu Margadadi, Redaktur sastra Agus Warsono, Koresponden Rusiano Oktoral Firmansyah (Jakarta), Abdurachman M(Yogyakarya).
TEKS SULUH
Kamis, 10 Mei 2012
Daftar Penulis Indonesia, siapa menyusul ?
SENO GUMBIRA AJIDARMA
Seno Gumira Ajidarma (lahir di Boston, Amerika Serikat, 19 Juni 1958; umur 53 tahun) adalah penulis dari generasi baru di sastra Indonesia. Beberapa buku karyanya adalah Atas Nama Malam, Wisanggeni—Sang Buronan, Sepotong Senja untuk Pacarku, Biola tak berdawai, Kitab Omong Kosong, Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi, dan Negeri Senja.
Dia juga terkenal karena dia menulis tentang situasi di Timor Timur tempo dulu. Tulisannya tentang Timor-Timur dituangkan dalam trilogi buku Saksi Mata (kumpulan cerpen), Jazz, Parfum, dan Insiden (roman), dan Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara (kumpulan esai).
KORRIE LAYUN RAMPAN
Korrie Layun Rampan dilahirkan di Samarinda, Kalimantan Timur, 17 Agustus 1953. Ayahnya bernama Paulus Rampan dan ibunya bernama Martha Renihay- Edau Rampan. Dari pernikahannya itu Korrie dikarunia enam orang anak Semasa muda, Korrie lama tinggal di Yogyakarta. Di kota itu pula ia berkuliah. Sambil kuliah, ia aktif dalam kegiatan sastra. Ia bergabung dengan Persada Studi Klub-- sebuah klub sastra-- yang diasuh penyair Umbu Landu Paranggi. Di dalam grup ini telah lahir sejumlah sastrawan ternama, seperti Emha Ainun Nadjib, Linus Suryadi A.G., Achmad Munif, Arwan Tuti Artha, Suyono Achmad Suhadi, R.S.Pengalaman bekerja Korrie dimulai ketika pada 1978 ia bekerja di Jakarta sebagai wartawan dan editor buku untuk sejumlah penerbit. Kemudian, ia menjadi penyiar di RRI dan TVRI Studio Pusat, Jakarta, mengajar, dan menjabat Direktur Keuangan merangkap Redaktur Pelaksana Majalah Sarinah, Jakarta. Sejak Maret 2001 menjadi Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Koran Sentawar Pos yang terbit di Barong Tongkok, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur. Di samping itu, ia juga mengajar di Universitas Sendawar, Melak, Kutai Barat, Kalimantan Timur. Dalam Pemilu 2004 ia sempat duduk sebagai anggota Panwaslu Kabupaten Kutai Barat, tetapi kemudian mengundurkan diri karena mengikuti pencalegan. Oleh konstituen, ia dipercayakan mewakili rakyat di DPRD Kabupaten Kutai Barat periode 2004-2009.
Di legeslatif itu Korrie menjabat sebagai Ketua Komisi I. Meskipun telah menjadi angota DPRD, Korrie tetap aktif menulis karena tugasnya sebagai jurnalis dan duta budaya.Berbagai karya telah ditulisnya, seperti novel, cerpen, puisi, cerita anak, dan esai. Ia juga menerjemahkan sekitar seratus judul buku cerita anak dan puluhan judul cerita pendek dari para cerpenis dunia, seperti Leo Tolstoy, Knut Hamsun, Anton Chekov, O''Henry, dan Luigi Pirandello. Novelnya, anatara lain, Upacara dan Api Awan Asap meraih hadiah Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta, 1976 dan 1998. Beberapa cerpen, esai, resensi buku, cerita film, dan karya jurnalistiknya mendapat hadiah dari berbagai sayembara. Beberapa cerita anak yang ditulisnya ada yang mendapat hadiah Yayasan Buku Utama, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, yaitu Cuaca di Atas Gunung dan Lembah (1985) dan Manusia Langit (1997). Selain itu, sejumlah bukunya dijadikan bacaan utama dan referensi di tingkat SD, SLTP, SMU, dan perguruan tinggi. Berikut ini, antara lain, karya yang telah ditulis Korrie Layun Rampan.
Sumber: http://id.shvoong.com/social-sciences/1687074-korrie-layun-rampan/#ixzz1uSBizK8F
Sumber: http://id.shvoong.com/social-sciences/1687074-korrie-layun-rampan/#ixzz1uSBizK8F
Selasa, 08 Mei 2012
TAK ADA YANG MENJADI HAKIM PENENTU SASTRAWAN ANGKATAN 80-AN, ANGKATAN REFORMASI, ATAU ANGKATAN 2000-AN
TAK ADA YANG MENJADI HAKIM PENENTU SASTRAWAN ANGKATAN 80-AN,
ANGKATAN REFORMASI, ATAU ANGKATAN
2000-AN
Oleh : Agus Warsono
Beberapa penyair
yang beruntung kondang, karena memang telah banyak karyanya diterbitkan,
kemudian ia kerap diundang untuk beberapa kegiatan berkenaan dengan sastra, dan
juga secara kebetulan ia menjadi pengasuh majalah atau rubrik sastra di sebuah media, atau munkin juga karena
memiliki latar pendidikan yang baik sehingga menjadi dosen sastra di perguruan tinggi, dan atau juga karena telah
memiliki semuanya sehingga mendirikan dan mengetuai perkumpulan sastra, ia mengutak-atik
tentang angkatan dan lebih celaka lagi mendaftar nama-nama sastrawannya.Apa ini
sah? Jawabnya gampang, sah-sah aja lah sejauh referensinya
dipertanggiung-jawabkan. Bukankah kita juga bisa membuatnya juga?
…dst………………………
Langganan:
Postingan (Atom)