TEKS SULUH


Minggu, 15 September 2013

Sastrawan TaufiQ Ismail juga menulis puisi Anti Korupsi


TaufiQ Ismail jauh sebelumnya sudah membuat puisi menolak korupsi.

Berikut cuplikannya.

"Tiga Kali Potong", "Dua Kali Mundur", dan "Satu Kali Membela 
(dialog anak muda yang demo)".

Tiga Kali Potong. "Di Republik Rakyat Tiongkok koruptor. Dipotong kepala. Di Arab Saudi koruptor. Dipotong tangan. Di Indonesia koruptor. Dipotong masa tahanan".

Dua Kali Mundur. "Di Jepang menteri merasa bersalah. Memang mundur. Di Indonesia menteri jelas salah. Pantang Mundur".

Satu Kali Membela (dialog anak muda yang demo). "Kalian membela yang bayar. Kami membela yang benar".




















(TaufiQ Ismail adalah salah satu tokoh sastrawan angkatan 66)

Jumat, 13 September 2013

Rg Bagus Warsono : sastrawan perlu generasi baru dan regenerasi

Sastra, demikian menjadi sesuatu yang sangat penting untuk kehidupan bernegara. Ia menjadi penjaga budi pekerti luhur bangsa. Masa lampau membuktikan, tertuang dalam sejarah bangsa, Keagungan kerajaan-kerajaan besar yang berjaya slalu ditopang dengan hidupnya sastra kala itu. Bodoh benar Indonesia sekarang. Sastra diabaikan.Orang tak lagi memiliki budi halus. Budaya luhur dikotori sendiri, korupsi, pelanggran HAM, dan lain-lain yang tiada "bersastra" lagi. Mari sastrawan Indonesia membuat generasi dan regenerasi sastrawan Indonesia tumbuh berkembang mengiringi kehidupan zaman. 

Rg Bagus Warsono menolak tentang batasan-batasan sastrawan

sebetulnya yang membuat batasan-batasan sastrawan dan berikut angkatannya itu adalah mereka yang merasa diri "paling" top, Begawan atau paus atau presiden penyair yang konyol. Di sini dengan bersastra akan kita temukan sastrawan dengan penilaian publik. Dan penilaian publik adalah karya dan berkarya. Dan ANDA sastrawan menurut penilaian dari karyanya.

Kamis, 12 September 2013

Rg Bagus Warsono tentang musik keroncong

"Keroncong musik dimasa perjuangan kemerdekaan. Keroncong juga berisi nilai-nilai budi pekerti, cinta Tanah Air, sosial, dan budaya bangsa kita. Menjadikan penggemarnya memiliki jiwa idealis dan nasionalis. Tetapi sebagai musik, keroncong sungguh sebuah seni yang tinggi dan perlu dipelajari generasi muda. " Rg Bagus Warsono, (masagus/ Agus Warsono, SPd.MSi)

Penyair Indonesia menolak korupsi melalui karya puisi yang diterbitkan dalam antologi Puisi Menolak Korupsi

Bandarlampung (ANTARA News) - Sebanyak 85 penyair di seluruh Indonesia, termasuk Lampung, bersepakat untuk menolak korupsi dengan menerbitkan antologi puisi yang telah diluncurkan di makam Bung Karno, Blitar, Jawa Timur, pada April 2013 lalu.

Menurut Isbedy Stiawan ZS, penyair asal Lampung di Bandarlampung, Rabu, Antologi Puisi Menolak Korupsi yang digagas penyair Sosiawan Leak (Solo) akan terus disosialasikan melalui "roadshow" ke sejumlah kota atau provinsi.

"Pada 1 dan 2 Juni ini akan digelar di Tegal, Jawa Tengah," kata Isbedy, meneruskan informasi rencana "roadshow" antologi puisi antikorupsi itu dari Sosiawan Leak, penyair yang selalu memukau jika berada di atas panggung membacakan puisi.

Isbedy Stiawan ZS yang turut dalam Antologi Puisi Menolak Korupsi itu menjelaskan, penerbitam buku ini dipikul bersama, tidak ada lembaga yang dilibatkan.

Dia menegaskan bahwa kegiatan ini memang murni kesadaran para penyair yang peduli pada pemberantasan korupsi, penolakan pada setiap praktik korupsi, ujar Isbedy yang dijuluki penyair maestro dari Lampung oleh Sutardji Calzoum Bachri itu pula.

"Untuk roadshow ini setiap penyair siap membiayai diri sendiri atau mencari donatur untuk keberangkatannya," kata Isbedy yang siap pula untuk berangkat ke Tegal.

Dia berharap, baik perseorangan atau lembaga yang peduli pada pemberantasan korupsi bisa ikut terlibat, seperti membantu penyair di kotanya masing-masing.

Seperti dikatakan Sosiawan Leak dalam rilisnya, kegiatan puisi menolak korupsi ini mendapat dukungan banyak pihak. 

Mereka membantu dana untuk penerbitan, dan di antaranya tidak meminta balasan atau imbal balik apapun. 
Buku itu dikirim ke lembaga pemerintah, NGO, dan pelajar.

Selasa, 10 September 2013

Apa kata Rg Bagus Warsono (Agus Warsono) tentang penerbitan buku antologi bersama Puisi Menolak Korupsi

 Penerbitan antologi bersama (PMK) merupakan sebuah karya buku bersama. Sejak Angkatan Pujangga Baru telah ada penyai-penyair yang menerbitakan antologi bersama. Isi bisa satu tema, namun juga bisa berbeda tema atau beraneka tema puisi. Ada berbagai tujuan untuk menbuat antologi bersama: 1. Memenuhi standar ketebalan buku, 2. mengetengahkan bahwa pemilik gagasan (tema) bukan oleh seorang penyair tetapi lebih dari seorang penyair dengan maksud pembaca untuk mengapresiasi lebih terhadap isi yang melekat dengan sosok penyairnya, 3. Memenuhi angkatan pujangga pada saat itu.4. Memberikan kekuatan pada buku bahwa buku itu kelak dapat dibaca oleh publik tidak saja fans seorang sastrawan tertentu, tetapi lebih dari satu sastrawan yang juga memiliki fans-nya.5. Semangat untuk sebuah gagasan dari isi sebuah pesan. Dan yang terakhir ini, pada buku PMK ini, saya melihat semangat para penyair untuk sebuah gagasan (menolak korupsi di Tanah Air) lewat sebuah pesan (isi puisi) lebih kuat tampaknya. Agaknya Leak Sosiawan tidak memandang siapa penyairnya, dari golongan apa penyairnya, atau dari mana asal penyairnya yang penting adalah sumbangsih karya puisi itu. Lebih dari itu Leak Sosiawan telah terima oleh setiap pengirim puisi untuk memilah dan menentukan kelayakan sebuah puisi laik terbit. Namun ia senantiasa menghargai bobot karya dari siapa pun karena memang pertimbangan no. 2 dan 4 di atas dari tujuan membuat puisi bersama. Yang terakhir adalah, bahwa semua orang bisa melakukan seperti meniru, tetapi orang pertama yang mencetuskan/menciptakan/menggagas/menelorkan ide itu harus dihargai. Sukses Buku PMK II/III.

Seniman bukan sastrawan

Sastra juga seni, dan seni 'bukan' sastra.
Sastrawan adalah seniman, dan seniman 'bukan. sastrawan.
Kata 'bukan' merupakan sebuah penegasan. Kita tidak menggunakan pengganti kata 'bukan' dengan 'belum tentu' atau 'tidak berarti' atau 'tidak selalu'.
Kata 'bukan' itu saya maksudkan karena sastrawan merupakan profesi tersendiri.
Walaupun banyak orang memiliki profesi ganda, menjadi pelukis juga sastrawan, guru juga sastrawan, atau ilmuwan juga sastrawan, dramawan juga sastrawan, atau penyanyi juga sastrawan.
Hal mengenai profesi ganda bukan barang baru di Indonesia. Di Amerika misalnya, seorang berprofesi tukang kayu juga adalah berprofesi sebagai wasit tinju.
Kenapa banyak orang Indonesia berprofesi ganda, sebagai dosen misalnya juga sebagai sastrawan. Jawabannya karena produk sastrawan di Indonesia belum sampai untuk dapat mencukupi sembako "empat sehat lima sempura", "sembilan bahan
pokok", atau kebutuhan primer dan sekunder orang Indonesia. Namun tidak sedikit sastrawan yang berhasil dan sukses karena ketekunannya. Belum lagi jika produknya dicetak, sastrawan berikut buah karyanya dikontrak penerbit, royaltinya berlaku sampai ahli waris. Sastrawan Indonesia Makmur.

(20-08-13)

Senin, 09 September 2013

Puisi Anny Djati, Puisi Cinta




Sebenarnya aku ingin menulis puisi cinta untukmu
Tapi aku tak tahu huruf apa yang akan kutuliskan di awal
Kupikir huruf C di awal kata cinta
Tapi ketika kutulis huruf C
Aku tak menemukan apa-apa

Huruf apa yang harus kutulis untuk puisi cintamu
Kucari... Kucari di lembaran-lembaran halaman Google
Mungkin terselip huruf awal kata cinta
Tapi aku tidak menemukan apa-apa

Kemana harus kucari huruf awal kata cinta
Halaman kertasku tetap putih kosong
Aku tak tahu huruf apa dari awal kata cinta
Aku tak menemukan apa-apa

Sebenarnya....
Sebenarnya aku tak ingin menulis puisi cinta untukmu






Puisi Puisi Shinta Miranda


     ANAK RAHIMNYA

Seorang perempuan lacur 
yang menyusui anak rahimnya
berlomba dengan malam, 
tak ingin membelah buah dadanya
melapis lipas helai berhelai 
dari lelaki-lelaki
menjajani dan menyantapnya 
untuk makanan selingan
dia tak menyimpan jalangnya binatang 
dari rimba lelaki-lelaki lapar
dia menyimpan roti-roti berdebu 
beroleskan keringat lelaki penidurnya
Seorang perempuan lacur 
yang menyusui anak rahimnya
berlomba dengan literan air susunya 
sebab tak ingin dituangkan
ke dalam mulut lelaki-lelaki 
yang tak pernah usai hausnya
dia menyimpan semua potongan hati, 
memecahnya bergetah-getih
dia memburai salju-salju membeku 
lelaki berserakan di tilamnya
dia mencairkannya sebagai noktah 
perjalanan tubuh
nyaIa mendengar suara..
setiap bisikan..
setiap desahan, 
setiap jerit dan tangis
dari potongan hati 
menggenta cinta menggemakan 
kesia-siaan
kepada setiap lelaki 
yang bukan manusianya


               MENUNGGU

engkau telah menggodam jeruji penjara
sebab kau ingin merdekaksu tidak 
pernah mengertiterlalu banyak rantai berkait
engkau telah saksikan
semburan darah menghitam
memancar dari rongga mulutku
mencekik nafasku
sesungguhnya aku darah dan daging
yang membusuk dalam penjara
berteriak jeritkan namanya
diakah yang menggenggam kuncinya
bukan engkau kuharap datang
sebab dirimu memenjarakan lagi
setuntas kemerdekaan 
yang telah kau rampas dulu
kau cuma penjaga berjubah peri
dimana engkau yang menggenggam 
mohon dan pinta
bersembunyi kucari ke pojok-pojok 
tembok
menadah tangan memilah debu
engkau hanya diam membisu


          SURAT KEPADA BUMI

Kepadamu bumi tepatku berpijak
telah kutulis sepucuk surat
dan akan kusampaikan
lewat tangan-tangan tak nampak
yang telah membuatmu menangis luka
walau bumi tak pernah bersurat padaku
akan kuceritakan kayamu
sebuah cerita sederhana
yang tak pernah kau ceritakan
kepada kami penghuni bumi
biar mereka mendengar darimu
telah kau berikan semua
bagi putra-putrimu
cinta dan pengurbanan bumi
tempat ayah bunda manusia


     MEMORI KECIL DI OSDORP

bulan sabit cuma sepenggalan
terangnya romantisku
duduk bersamanya di taman umum
di muka sebuah restoran kota osdorp
musim panas adalah 
sore panjang di amsterdam
angsa-angsa coklat dan putih 
enggan pulang
berenang hilir mudik di sungai taman
sesekali perahu bermuatan sejoli
lewati sungai yang angsanya berciuman
seminggu lalu kami masih di leerdam
kota kecil tempat pengrajin kaca berseni
jumpa dia dalam sebuah galeri miliknya
dia bilang terpesona 
dan jatuh cinta padaku
kubilang, aku janda yang berduka
di esdoorn straat ia datang menemui
kusebuket tulip ia bawakan untuk
kumengajak kencan di sebuah cafe
lalu berdansa tra la la la lala
meneguk air kata-kata berseloki-seloki
siang kemudian dia meneleponku
dia bilang lupa menciumku tadi malam
mari kencan kembali sebentar malam
di sebuah tempat romantis 
bekas pelabuhan kecil
di pinggiran kota leerdam
kami berdua menikmati bulan sabit tertawa
sungai tenang dan berlalunya perahu
melihat lekat angsa putih dan cokelat
pulang ke rumahnya kembali
meninggalkan bulan sabit sepenggal
yang tertinggal di badan sungai
ketika jemarinya menyentuh jemariku
yang dingin oleh angin musim kemarau
aku menyentuh cincin melingkar dingin
pada jari manisnya
membuat kedua tanganku semakin 
dingin
kami tak sempat berciuman

                         * Osdorp-Amsterdam 10 Juni 2007


               SEMPURNA

malam menaiki subuh pada gema pencipta
adakah hari dan haru bakal singgah di sini
subuh mendaki petang pada gema pencipta
merakit raga di atas riak sungai berbatu
waktu menjadi masa dan tinggal cerita
waktu menjadi cerita tumpah menyerat
menderit mewirit mendesak ajal
semakin pipih bulir bulir doa
menyelinap perih mencari nadi
menjulur lidah ajal menjimpit
menyirna sakit membukit
usai sudah menjadi purna

*  persembahan bagi para penderita 

Buku Puisi Menolak Korupsi 2013 yang menggegerkan Tanah Air


Roadshow Puisi Menolak Korupsi 2013

Penyair Indonesia yang ikut menulis di buku antologi Puisi Menolak Korupsi (PMK) Jilid II (IIa dan IIb)

Antologi PMK Jilid 2: 1. A. Ganjar Sudibyo (Semarang)2. A’yat Khalili (Sumenep)3. Aan Setiawan (Banjarbaru)4. Abah Yoyok (Tangerang)5. Abdul Aziz H. M. El Basyroh (Indramayu)6. Abdurrahman El Husaini (Martapura)7. Acep Zamzam Noor (Tasikmalaya)8. Ade Ubaidil (Cilegon)9. Adi Rosadi (Cianjur)10. Agus R. Subagyo (Nganjuk)11. Agus Sighro Budiono (Bojonegoro)12. Agus Sri Danardana (Pekanbaru)13. Agus Warsono (Indramayu)14. Agustav Triono (Purwokerto)15. Agustinus (Purbalingga)16. Ahlul Hukmi (Dumai)17. Ahmad Ardian (Pangkep)18. Ahmad Daladi (Magelang)19. Ahmad Samuel Jogawi (Pekalongan)20. Ahmadun Yosi Herfanda (Jakarta)21. Akaha Taufan Aminudin (Batu)22. Akhmad Nurhadi Moekri (Sumenep)23. Alex R. Nainggolan (Tangerang)24. Ali Syamsudin Arsi (Banjarbaru)25. Allief Zam Billah (Rembang)26. Aloeth Pathi (Pati)27. Alya Salaisha-Sinta (Cikarang)28. Aming Aminudin (Mojokerto)29. Andreas Kristoko (Yogjakarta)30. Andrias Edison (Blitar)31. Anggoro Suprapto (Semarang)32. Anna Mariyana (Banjarmasin)33. Ansar Basuki Balasikh (Cilacap)34. Arba’ Karomaini (Pati)35. Ardi Susanti (Tulungagung)36. Ardian Je (Serang)37. Arsyad Indradi (Banjarbaru)38. Asdar Muis R. M. S.(Makassar)39. Asmoro Al Fahrabi (Pasuruan)40. Asril Koto (Padang)41. Asyari Muhammad (Jepara)42. Autar Abdillah (Sidoarjo)43. Ayu Cipta (Tangerang)44. Badaruddin Amir (Barru)45. Bambang Eka Prasetya (Magelang)46. Bambang Karno (Wonogiri)47. Barlean Bagus S. A. (Jember)48. Bontot Sukandar (Tegal)49. Budhi Setyawan (Bekasi)50. Chafidh Nugroho (Kudus)51. D. G. Kumarsana (Lombok Barat)52. Darman D. Hoeri (Malang)53. Daryat Arya (Cilacap)54. Denni Melizon (Padang)55. Denny Mizhar (Malang)56. Diah Rofika (Berlin)57. Diah Setyawati (Tegal)58. Diana Roosetindaro (Solo)59. Didid Endro S. (Jepara)60. Dimas Arika Mihardja (Jambi)61. Dimas Indiana Senja (Brebes)62. Dini S. Setyowati (Amsterdam)63. Dinullah Rayes (Sumbawa Besar)64. Dulrohim (Purworejo)65. Dwi Ery Santoso (Tegal)66. Dwi Haryanta (Jakarta)67. Dyah Kencono Puspito Dewi (Bekasi)68. Dyah Narang Huth (Hamburg)69. Eddie MNS-Soemanto (Padang)70. Edy Saputra (Blitar)71. Efendi Saleh (Blitar)72. Eka Pradhaning (Magelang)73. Emha Jayabrata (Pekalongan)74. Endang Setiyaningsih (Bogor)75. Endang Supriyadi (Depok)76. Euis Herni Ismail (Subang)77. Fahrurraji Asmuni (Amuntai)78. Faizy Mahmoed Haly (Semarang)79. Fakrunnas M. A. Jabbar (Pekanbaru)80. Fatah Rastafara (Pekalongan)81. Felix Nesi (Nusa Tenggara Timur)82. Fendy A. Bura Raja (Sumenep)83. Ferdi Afrar (Sidoarjo)84. Fikar W. Eda (Aceh)85. Fransiska Ambar Kristyani (Semarang)86. Gia Setiawati Mokobela (Kotamobagu)87. Gol A Gong (Serang)88. Habibullah Hamim (Pasuruan)89. Hadikawa (Banjarbaru)90. Haidar Hafeez (Pasuruan)91. Hardho Sayoko Spb. (Ngawi)92. Haryono Soekiran (Purbalingga)93. Hasan B. Saidi (Batam)94. Hasan Bisri B. F. C. (Jakarta)95. Hasta Indriyana (Bandung)96. Heny Gunanto (Pemalang)97. Herman Syahara (Jakarta)98. Heru Mugiarso (Semarang)99. Hidayat Raharja (Sumenep)100. Husnu Abadi (Pekanbaru)101. Iberamsayah Barbary (Banjarbaru)102. Ibramsyah Amandit (Barito Kuala)103. Isbedy Stiawan Z.S. (Lampung)104. Jefri Widodo (Ngawi)105. Jhon F. Pane (Kotabaru)106. Johan Bhimo (Sragen)107. Joko Wahono (Sragen)108. Jose Rizal Manua (Jakarta)109. Joshua Igho (Tegal)110. Jumari H. S. (Kudus)111. Juperta Panji Utama (Lampung)112. Kalsum Belgis (Martapura)113. Ken Hanggara (Pasuruan)114. Kidung Purnama (Ciamis)115. Kusdaryoko (Banjarnegara)116. Lara Prasetya Rina (Denpasar)117. Linda Ramsita Nasir (Bekasi)118. Lukman Mahbubi (Sumenep)119. M. Amin Mustika Muda (Barito Kuala)120. M. Andi Virman (Purwokerto)121. M. Enthieh Mudakir (Tegal)122. M. Faizi (Sumenep, Madura)123. M. Syarifuddin (Jember)124. M. L. Budi Agung (Temanggung)125. Maria Roeslie (Samarinda)126. Marlin Dinamikanto (Jakarta)127. Melur Seruni (Singapura)128. Memed Gunawan (Jakarta)129. Micha Adiatma (Solo)130. Mubaqi Abdullah (Semarang)131. Muhammad Rain (Langsa)132. Muhammad Rois Rinaldi (Cilegon)133. Muhammad Zaini Ratuloli (Bekasi)134. Muhary Wahyu Nurba (Makassar)135. Muhtar S. Hidayat (Blora)136. Mustofa W. Hasyim (Yogjakarta)137. Nabilla Nailur Rohmah (Malang)138. Najibul Mahbub (Pekalongan)139. Nike Aditya Putri (Cilacap)140. Novy Noorhayati Syahfida (Tangerang)141. Nurochman Sudibyo Y. S. (Indramayu)142. Pekik Sat Siswonirmolo (Kebumen)143. Priyo Pambudi Utomo (Trenggalek)144. R. B. Edi Pramono (Yogyakarta)145. R. Giryadi (Sidoarjo)146. R. Valentina Sagala (Bandung)147. Rezqie Muhammad Al Fajar (Banjarmasin)148. Ribut Achwandi (Pekalongan)149. Ribut Basuki (Surabaya)150. Rini Ganefa (Semarang)151. Rivai Adi (Jakarta)152. Riyanto (Purwokerto)153. Rohseno Aji Affandi (Solo)154. Rosiana Putri (Banjarbaru)155. Rudi Yesus (Yogjakarta)156. S. A. Susilowati (Semarang)157. Sabahuddin Senin (Kinabalu)158. Saiful Bahri (Aceh)159. Saiful Hadjar (Surabaya)160. Samsuni Sarman (Banjarmasin)161. Sayyid Fahmi Alathas (Lampung)162. Serunie (Solo)163. Soekoso D. M. (Purworejo)164. Soetan Radjo Pamoentjak (Batusangkar)165. Sri Wahyuni (Gresik)166. Sulis Bambang (Semarang)167. Sumanang Tirtasujana (Purworejo)168. Sumasno Hadi (Banjarbaru)169. Sunaryo Broto (Kaltim)170. Suroto S. Toto (Purworejo)171. Surya Hardi (Riau)172. Sus S. Hardjono (Sragen)173. Sutardji Calzoum Bahcri (Jakarta)174. Suyitno Ethexs (Mojokerto)175. Syafrizal Sahrun (Medan)176. Tajuddin Noor Ganie (Banjarmasin)177. Tan Tjin Siong (Surabaya)178. Tarmizi Rumahitam (Batam)179. Tarni Kasanpawiro (Bekasi)180. Tengsoe Tjahjono (Surabaya)181. Thomas Haryanto Soekiran (Purworejo)182. Titik Kartitiani (Tangerang)183. Toto St. Radik (Serang)184. Turiyo Ragilputra (Kebumen)185. Udik Agus Dhewe (Jepara)186. Udo Z. Karzi (Lampung)187. Wahyu Prihantoro (Ngawi)188. Wahyu Subakdiono (Bojonegoro)189. Wanto Tirta (Ajibarang)190. Wardjito Soeharso (Semarang)191. Wawan Hamzah Arfan (Cirebon)192. Wawan Kurn (Makassar)193. Wijaya Heru Santosa (Kutoarjo)194. Wyaz Ibn Sinentang (Ketapang)195. Yanusa Nugroho (Tangerang)196. Yatim Ahmad (Kinabalu)197. Yogira Yogaswara (Bandung)198. Yudhie Yarcho (Jepara)199. Zubaidah Djohar (Aceh)

Penyair Indonesia yang ikut menulis di buku Antologi Puisi Menolak Korupsi (PMK) Jilid I


Antologi PMK Jilid 1:1. Abdurrahman El Husaini (Martapura)2. Acep Syahril (Indramayu)3. Agus R Sardjono (Jakarta)4. Agus Sri Danardana (Pekanbaru)5. Ahmad Daladi (Magelang)6. Ahmadun Y Herfanda (Jakarta)7. Akaha Taufan Aminudin (Batu, Malang)8. Ali Syamsudin Arsi (Banjarbaru)9. Aloysius Slamet Widodo (Jakarta)10. Aming Aminudin (Surabaya)11. Andreas Kristoko (Yogja)12. Andrias Edison (Blitar)13. Andrik Purwasito (Solo)14. Anggoro Suprapto (Semarang)15. Ardi Susanti (Tulungagung)16. Arsyad Indradi (Banjarbaru)17. Asyari Muhammad (Jepara)18. Ayu Cipta (Tangerang)19. Bagus Putu Parto (Blitar)20. Bambang Eka Prasetya (Magelang)21. Bambang Supranoto (Cepu)22. Bambang Widiatmoko (Bekasi)23. Beni Setia (Caruban)24. Bontot Sukandar (Tegal)25. Brigita Neny Anggraeni (Semarang)26. Budhi Setyawan (Bekasi)27. Dedet Setiadi (Magelang)28. Denni Meilizon (Padang)29. Dharmadi (Purwokerto)30. Didid Endro S (Jepara)31. Dimas Arika Mihardja (Jambi)32. Dona Anovita (Surabaya)33. Dwi Ery Santosa (Tegal)34. Dyah Setyawati (Tegal)35. Eka Pradhaning (Magelang)36. Eko Widianto (Jepara)37. Ekohm Abiyasa (Solo)38. Endang Setiyaningsih (Bogor)39. Endang Supriyadi (Depok)40. Gunawan Tri Admojo (Solo)41. Handry Tm (Semarang)42. Hardho Sayoko Spb (Ngawi)43. Heru Mugiarso (Semarang)44. Hilda Rumambi (Palu)45. Irma Yuliana (Kudusan, Jawa Tengah)46. Isbedy Stiawan ZS (Lampung)47. Jamal D Rahman (Jakarta)48. Jhon F.S. Pane (Kotabaru)49. Jumari HS (Kudus)50. Kidung Purnama (Ciamis, Jawa Barat)51. Kun Cahyono Ps (Wonosobo)52. Kuspriyanto Namma (Ngawi)53. Lailatul Kiptiyah (Blitar)54. Lennon Machali (Gresik)55. Lukni Maulana (Semarang)56. M. Enthieh Mudakir (Tegal)57. Mubaqi Abdullah (Semarang)58. Najibul Mahbub (Pekalongan)59. Nurngudiono (Tegal)60. Oscar Amran (Bogor)61. Puji Pistols (Pati)62. Puput Amiranti (Blitar)63. Puspita Ann (Solo)64. Radar Panca Dahana (Jakarta)65. Ribut Achwandi (Pekalongan)66. Ribut Basuki (Surabaya)67. Rohmat Djoko Prakosa (Surabaya)68. Saiful Bahri (Aceh)69. Sosiawan Leak (Solo)70. Sudarmono (Bekasi)71. Sulis Bambang (Semarang)72. Sumasno Hadi (Banjarmasin)73. Surya Hardi (Pekanbaru)74. Sus S Hardjono (Sragen)75. Suyitna Ethex (Mojokerto)76. Syam Chandra (Yogyakarta)77. Syarifuddin Arifin (Padang)78. Thomas Budi Santoso (Kudus)79. Thomas Haryanto Soekiran (Purworejo)80. Tri Lara Prasetya Rina (Bali)81. Udik Agus Dw (Jepara)82. W. Haryanto (Blitar)83. Wardjito Soeharso (Semarang)84. Yudhie Yarco (Jepara)85. Zainul Walid (Situbondo) 

Sabtu, 07 September 2013

Helvy Tiana Rosa


Karya-karya :
  1. Mata Ketiga Cinta (ANPH, 2012)
  2. Kartini 2012: Antologi Puisi Perempuan Penyair Indonesia Mutakhir (Kosakatakita, 2012)
  3. Ketika Mas Gagah Pergi...dan Kembali (ANPH,2011)
  4. Bukavu (LPPH, 2008)
  5. Catatan Pernikahan (LPPH, 2008)
  6. Tanah Perempuan, Naskah Drama (Lapena, 2007)
  7. Risalah Cinta (Lingkar Pena Publishing House, 2005)
  8. Menulis Bisa Bikin Kaya! (MVP, 2006)
  9. Perempuan Bermata Lembut ( Antologi Cerpen Bersama, FBA Press, 2005)
  10. Ketika Cinta Menemukanmu (Antologi Cerpen Bersama, Gema Insani Press, 2005)
  11. Dokumen Jibril (Antologi Cerpen Bersama, Republika, 2005)
  12. Jilbab Pertamaku (Kumpulan Tulisan Bersama, LPPH, 2005)
  13. 1001 Kisah Luar Biasa dari Orang-orang Biasa (Penerbit Anak Saleh 2004)
  14. Dari Pemburu ke Teurapeutik (Antologi Cerpen Bersama, Pusat Bahasa, 2004)
  15. Lelaki Semesta (Antologi Cerpen Bersama, LPPH, 2004)
  16. Matahari Tak Pernah Sendiri I (Kumpulan Tulisan Bersama, LPPH, 2004)
  17. Di Sini Ada Cinta! (Kumpulan Tulisan Bersama, LPPH, 2004)
  18. Leksikon Sastra Jakarta (DKJ dan Penerbit Bentang, 2003)
  19. Segenggam Gumam, Esai-esai Sastra dan Budaya, Syaamil, 2003)
  20. Bukan di Negeri Dongeng (Syaamil, 2003)
  21. Lelaki Kabut dan Boneka/ Dolls and The Man of Mist, Kumpulan Cerpen Dwi Bahasa (Syaamil, 2002)
  22. Wanita yang Mengalahkan Setan, Kritik Sastra (Tamboer Press/ Indonesia Tera, 2002)
  23. Pelangi Nurani (Syaamil, 2002)
  24. Sajadah Kata (Antologi Puisi Bersama, Syaamil, 2002)
  25. Kitab Cerpen: Horison Sastra Indonesia (Yayasan Indonesia & Ford Foundation, 2002)
  26. Dunia Perempuan (Antologi Cerpen Bersama, Bentang, 2002)
  27. Ini…Sirkus Senyum (Antologi Cerpen Bersama, Komunitas Bumi Manusia, 2002)
  28. Luka Telah Menyapa Cinta (Antologi Cerpen Bersama, FBA Press, 2002)
  29. Kado Pernikahan (Antologi Cerpen Bersama, Syaamil, 2002)
  30. Graffiti Gratitude (Antologi Puisi Bersama, Penerbit Angkasa, 2001)
  31. Dari Fansuri ke Handayani (Penerbit Horison dan Ford Foundation, 2001)
  32. Ketika Duka Tersenyum (Antologi Cerpen Bersama, FBA Press, 2001)
  33. Titian Pelangi, Kumpulan Cerpen (Mizan, 2000)
  34. Hari-Hari Cinta Tiara, Kumpulan Cerpen (Mizan, 2000)
  35. Akira no Seisen/ Akira: Muslim wa tashiwa, Novel (Syaamil, 2000)
  36. Pangeranku, Cerita Anak (Syaamil, 2000)
  37. Manusia-Manusia Langit, Kumpulan Cerpen (Syaamil, 2000)
  38. Nyanyian Perjalanan, Kumpulan Cerpen (Syaamil, 1999)
  39. Hingga Batu Bicara, Kumpulan Cerpen (Syaamil, 1999)
  40. Lentera (An Najah Press,1999)
  41. Kembara Kasih, Novel (Pustaka Annida, 1999)
  42. Sebab Sastra yang Merenggutku dari Pasrah, Kumpulan Cerpen (Gunung Jati, 1999)
  43. Ketika Mas Gagah Pergi, Kumpulan Cerpen (Pustaka Annida, 1997. Cet II dstnya Syaamil )
  44. Mc Alliester, Novel (Moslem Press, London, 1996)
  45. Angkatan 2000 Dalam Sastra Indonesia (Kumpulan Tulisan Bersama, Grasindo, 2000.)
  46. Kembang Mayang (Antologi Cerpen Bersama, Penerbit Kelompok Cinta Baca, 2000)
  47. Sembilan Mata Hati (Antologi Cerpen Bersama, Pustaka Annida, Jakarta, 1998), dll


  1. Jiroris (2012)
  2. Tanah Perempuan versi 3 Babak (2009)
  3. Tanah Perempuan versi 9 Babak (2005)
  4. Mataairmata Merdeka (bersama Rahmadiyanti, 2000).
  5. Pertemuan Perempuan (bersama Muthiah Syahidah, 1997)
  6. Mencari Senyuman (1998)
  7. Sebab Aku Cinta, Sebab Aku Angin (1999)
  8. Luka Bumi (1997)
  9. Fathiya dari Srebrenica (1994)
  10. Maut di Kamp Loka (1994)
  11. Negeri Para Pesulap (1993)
  12. Aminah & Palestina (1991)

Sabtu, 13 Juli 2013

Sandra Palupi

Sandra Palupi sastrawati Semarang

























Berikut puisinya,


Di Ruang Tunggu

hari minim kabar
gadis baru datang
ke hatimu yang bulat
oleh cinta yang kekang
sebab bertekad tak lekang

bahasa tubuh, ya
bahasa tubuh basah
di gambar gambar tawa
merapatkan kau
rapatlah ia

hari hari aku berjuang
merapatkan bibir
mengatupkan rahang
melawan sakit
lagi

18Ags12

Berikut puisinya,

Di Ruang Tunggu

hari minim kabar
gadis baru datang
ke hatimu yang bulat
oleh cinta yang kekang
sebab bertekad tak lekang

bahasa tubuh, ya
bahasa tubuh basah
di gambar gambar tawa
merapatkan kau
rapatlah ia

hari hari aku berjuang
merapatkan bibir
mengatupkan rahang
melawan sakit
lagi

18Ags12

YADHI RUSMIADI JASHAR


YADHI RUSMIADI JASHAR 


Lahir di Banding Agung Ranau, 12 Maret 1973. Anak pasangan Jashar (alm.) dan Siti Aisyah ini menamatkan studi di Universitas Sriwijaya, Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, tahun 1998.

Pekerjaan yang ditekuni, antara lain dosen FKIP Universitas Baturaja (2003) dan guru Bahasa Indonesia di SMP Negeri 41 OKU (2010). Pengalaman organisasi, di antaranya Ketua Umum UKM Teater Unsri (1994-1996) dan Pimred Majalah PANTAU (1995–1997). Selain itu, turut membidani lahirnya Komunitas Pengarang dan Penyair Muda Palembang sebagai Koordinator I (1995–1997).

Aktif menulis sejak duduk di bangku SMA. Karya-karya berupa cerpen, puisi, esei, dan artikel pernah dimuat majalah Gelora Sriwijaya, harian Sumatera Ekspres, Sriwijaya Post, Lampung Post, dan media lainnya.

Marhalim Zaini sastrawan Riau 

Lahir di Teluk Pambang Bengkalis Riau, 15 Januari 1976. Alumnus Jurusan Teater Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Karya-karyanya berupa puisi, cerpen, esai budaya, resensi, naskah drama, juga cerbung dipublikasikan ke berbagai media massa lokal, nasional, dan internasional di antaranya Kompas, Majalah Sastra Horison, Media Indonesia, Republika, Koran Tempo, Jurnal Puisi, Jawa Pos, Bali Post, Surabaya Pos, Lampung Post, Riau Pos, Majalah Budaya Sagang, Pustakamaya (Malaysia), dan Prince Claus Fund Journal Netherlands, dll.

Buku-bukunya yang telah terbit Segantang Bintang Sepasang Bulan (Kumpulan Sajak, 2003), Di Bawah Payung Tragedi (Kumpulan Drama, 2003), Langgam Negeri Puisi (Kumpulan Sajak, 2004), Tubuh Teater (Kumpulan Esai, 2004), Getah Bunga Rimba (sebuah Novel yang menerima Penghargaan Utama Ganti Award dari Yayasan Bandar Serai, 2005). Sebuah Novel Hikayat Kampung Mati, di muat bersambung di Harian Riau Pos (2005).

Fanny J. Poyk




FANNY darah sastrawan itu mengalir 


Fanny J. Poyk adalah seorang penulis cerpen produktif. Karya perempuan kelahiran Bima 1960 dimuat di berbagai media cetak nasional seperti Sinar Harapan, Suara Karya, Jurnal Nasional, Suara Pembaruan, Bali Post, Kartini dan Sarinah. Buku-bukunya yang sudah terbit antara lain Pelangi Di Langit Bali, Istri-istri Orang Seberang (Esensi, 2008), Perjuangan para Ibu : Anakku Pecandu Narkoba (Erlangga), Narkoba Sayonara (Esensi, 2006).

Meski lahir di Bima, Fanny menikmati masa kecil hingga ramajanya di Bali. Ia lalu kuliah di Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta. Seusai menamatkan kuliah, ia bekerja sebagai editor di tabloid anak-anak Fantasi, lalu ke majalah Potensi. Selain menulis, ia juga aktif dalam organisasi Wanita Penulis Indonesia (WPI). [MIS]

Selasa, 09 Juli 2013

SASTRAWAN DAERAH MERUPAKAN ASET BUDAYA BANGSA

Budaya daerah dengan bahasa daerah di Tanah Air  adalah kekayaan bagi sastrawan Indonesia. Ia adalah sumber inspirasi bagi sastrawan daerah yang mau menggeluti budaya, bahasa dan sastra daerahnya. Era 2000-an adalah saatnya sastra kita mengetengahkan unsur budaya sekaligus bahasa sastra daerah di mana sastrawan itu mau menggali budaya daerahnya.
Keanekaragaman budaya Tanah Air dengan ratusan dielek bahasa merupakan kekayaan dan sumber bahan penulisan sastrawan daerah. Mengapa tidak, bukankan sastra daerah juga adalah sumber tulisan sekaligus sumber rezeki bagi sastrawan daerah.
Otonomi daerah dengan masing-masing kota/kabupaten menghendaki ciri dan keunikannya untuk berusaha mempopulairkan daerahnya serta nilai pariwisata daerah mememerlukan peran sastrawan untuk turut membantu kearah itu. Bererapa hal yang biasa diangkat dalam bentuk tulisan adalah budaya daerah, termasuk sastra dan bahasa daerah. Namun perlu juga diangkat berbagai badaya yang hampir punah atau pun yang telah lama ditinggalkan untuk diangkat kembali.
Banyak sudah yang telah dilakukan oleh sastrawan kita di berbagai daerah untuk mengangkat daerahnya masing-masing, meski kadang berbenturan dengan daerah tetangganya. Namun demikian tak menjadi persoalan dalam hal dunia tulis-menulis ini. Bila memang ada unsur kesamaan maka publik akan mencari kebenaran secara ilmiah.
Sebagai contoh di Jawa Tengah saja terdapat berbagai dialek bahasa dan mungkin mereka (di masing-masing kabupaten kota) mempertahankan pendapatnya sendiri-sendiri. Di Tegal umpamanya, ada bahasa dan budaya  Tegalan, Lalu di Banyumas ada Banyumasan, lalu bagaimana dengan kabupaten tetangganya? seperti Brebes dan Pemalang yang berdekatan dengan Tegal, atau Purbalingga, Cilacap dan Banjarnegara yang bertetangga dengan Banyumas? Bukan kah dikota/kabupaten ini juga ingin menunjukan ke-khas-an budayanya.
Lalu di daerah Magetan dan Pacitan, budayanya pun akan lain dengan di Malang atau Surabaya atau di Pasuruan dan Banyuwangi. Setiap daerah berusaha memiliki ciri dan ke-khas-an yang berbeda.
Adalah tugas sastrawan kita untuk mengetengahkan dan mempublikasikan khasanah budaya bangsa itu dan tentu saja mengembangkan sastra daerah.
Jika mahasiswa dari luar negeri melakukan penelitian budaya di suatu tempat di negara kita, bahkan mungkin bukan hanya mahasiswa tetapi peneliti dan didanai mahal oleh negaranya, mengapa kita keduluan langkah.
Padahal sastra daerah kini merupakan bahan bacaan yang menarik untuk minat baca dewasa ini.
Disinilah peran sastrawan daerah untuk dapat melakukan pelestarian budaya dan berusaha mengembangkannya menjadikan khasanah budaya bangsa semakin luas dan memiliki corak dan ragamnya masing-masing. Sastrawan berati telah berbuat penyelamatan aset budaya bangsa. Dan sastrawan yang di setiap daerah ada, perlu mendapat apresiasi dari pemerintah daerah karena juga merupakan aset sumber daya  pengembangan budaya bangsa.
(masagus/rg bagus warsono/agus warsono, juli 2013)

WAYAN SUNARTA SENIMAN SERBA BISA



WAYAN SUNARTA SENIMAN SERBA BISA


WAYAN SUNARTA alias Jengki, lahir di Denpasar, Bali, 22 Juni 1975. Belajar Antropologi Budaya di Fakultas Sastra Universitas Udayana. Sempat belajar seni lukis di ISI Denpasar. Mulai suka menulis puisi sejak awal 1990-an. Kemudian merambah ke penulisan prosa liris, cerpen, feature, esai/artikel seni budaya, kritik/ulasan seni rupa, dan novel.


Tulisan-tulisannya pernah dimuat di berbagai media massa lokal dan nasional, di antaranya Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, Republika, Suara Pembaruan, The Jakarta Post, Jawa Post, Pikiran Rakyat, Bali Post, Jurnal Kebudayaan Kalam, Jurnal Cerpen Indonesia, Majalah Sastra Horison, Majalah Gong, Majalah Visual Arts, Majalah Arti.


Buku kumpulan cerpennya yang telah terbit adalah Cakra Punarbhawa (Gramedia, 2005), Purnama di Atas Pura (Grasindo, 2005), Perempuan yang Mengawini Keris (Jalasutra, 2011). Buku kumpulan puisinya yang telah terbit adalah Pada Lingkar Putingmu (bukupop, 2005), Impian Usai (Kubu Sastra, 2007), Malam Cinta (bukupop, 2007), Pekarangan Tubuhku (Bejana Bandung, Juni 2010).

Minggu, 07 Juli 2013

HARTOYO ADANGJAYA, BERKISAH LEWAT PUISI "PEREMPUAN-PEREMPUAN PERKASA"



Puisi Hartoyo Andangjaya


PEREMPUAN-PEREMPUAN PERKASA


Perempuan-perempuan yang membawa bakul di pagi buta, dari manakah mereka

ke stasiun kereta mereka datang dari bukit-bukit desa
sebelum peluit kereta pagi terjaga
sebelum hari bermula dalam pesta kerja

Perempuan-perempuan yang membawa bakul dalam kereta, kemanakah mereka

di atas roda-roda baja mereka berkendara
mereka berlomba dengan surya menuju gerbang kota
merebut hidup di pasar-pasar kota

Perempuan-perempuan perkasa yang membawa bakul di pagi buta, siapakah mereka

mereka ialah ibu-ibu berhati baja, perempuan-perempuan perkasa
akar-akar yang melata dari tanah perbukitan turun ke kota
mereka : cinta kasih yang bergerak menghidupi desa demi desa

DARI SEORANG GURU KEPADA MURID-MURIDNYA


Apakah yang kupunya, anak-anakku

selain buku-buku dan sedikit ilmu
sumber pengabdian kepadamu

Kalau di hari Minggu engkau datang ke rumahku

aku takut, anak-anakku
kursi-kursi tua yang di sana
dan meja tulis sederhana
dan jendela-jendela yang tak pernah diganti kainnya
semua padamu akan bercerita
tentang hidup di rumah tangga

Ah, tentang ini aku tak pernah bercerita

depan kelas, sedang menatap wajah-wajahmu remaja
- horison yang selalu biru bagiku -
karena kutahu, anak-anakku
engkau terlalu muda
engkau terlalu bersih dari dosa
untuk mengenal ini semua

RAKYAT


hadiah di hari krida

buat siswa-siswa SMA Negeri
Simpang Empat, Pasaman

Rakyat ialah kita

jutaaan tangan yang mengayun dalam kerja
di bumi di tanah tercinta
jutaan tangan mengayun bersama
membuka hutan-hutan lalang jadi ladang-ladang berbunga
mengepulkan asap dari cerobong pabrik-pabrik di kota
menaikkan layar menebar jala
meraba kelam di tambang logam dan batubara
Rakyat ialah tangan yang bekerja

Rakyat ialah kita

otak yang menapak sepanjang jemaring angka-angka
yang selalu berkata dua adalah dua
yang bergerak di simpang siur garis niaga
Rakyat ialah otak yang menulis angka-angka

Rakyat ialah kita

beragam suara di langit tanah tercinta
suara bangsi di rumah berjenjang bertangga
suara kecapi di pegunungan jelita
suara bonang mengambang di pendapa
suara kecak di muka pura
suara tifa di hutan kebun pala
Rakyat ialah suara beraneka

Rakyat ialah kita

puisi kaya makna di wajah semesta
di darat
hari yang beringat
gunung batu berwarna coklat
di laut
angin yang menyapu kabut
awan menyimpan topan
Rakyat ialah puisi di wajah semesta

Rakyat ialah kita

darah di tubuh bangsa
debar sepanjang masa

Hartoyo Andangjaya

Hartoyo Andangjaya dilahirkan di Solo, Jawa Tengah, 4 Juli 1930, dan meninggal di kota kelahirannya, 30 Agustus 1991. Karya-karya aslinya: Simphoni Puisi (1954; bersama D.S. Moeljanto), Manifestasi (1963; bersama Goenawan Mohamad, et. al.), Buku Puisi (1973), Dari Sunyi ke Bunyi (1991; kumpulan esai peraih hadiah Yayasan Buku Utama Depdikbud 1993). Karya-karya terjemahannya: Tukang Kebun (1976; Rabindranath Tagore), Kubur Terhormat bagi Pelaut (1977; Slauerhoff), Rahasia Hati (1978; Natsume Soseki), Musyawarah Burung (1983; Farid al-Din Attar), Puisi Arab Modern (1984), Kasidah Cinta (tt.; Jalal al-Din Rumi).