TEKS SULUH


Rabu, 18 September 2019

Perempuan Penyair Indonesia Hilda Winar Jiarahi sahabatnya Utuy Tatang Sontani di Moskow

Pada agustus 2019 Perempuan Penyair Indonesia Hilda Winar berkesempatan mendapat undangan di Rusia, Kesempatan ini ia gunakan untuk berjiarah sahabatnya penyair Indonesia Utuy Tatang Sontani di Moskow, berikut ceritanya.

Mitino

Ini pemakaman tak ada bandingannya di tanah air. Kalau kita tanya orang kampung berapa luasnya pasti dijawab segede alaihim!
Iya juga sih, dengkul saya rasa hampir copot berjalan sampai ke ujung jalan. Jauuuuuuh... mentok baru belok kanan menuju blok muslim.

A1 tempat dia berbaring, Utuy Tatang Sontani, seorang sastrawan eksil.
Utuy, karena perubahan iklim politik terpaksa jadi eksil dan terdampar di moskow.
Utuy kelahiran cianjur, seorang sastrawan ternama di masanya. Saya, yang orang minang tapi lama di bandung lalu merasa jadi orang sunda merasa punya hubungan khusus dengan Utuy maka berusaha menziarahinya. Kami sama sama orang Sunda.

Saya pergi ke Rusia di awal agustus, saat luka luka usai pilpres belum kering, hoax bertebar disana sini yang bisa saja menjadi abses dan pecah berdarah darah. Tentu ada rasa takut untuk pergi, takut tak bisa kembali.

Rg Bagus Warsono menyaksikan :

Nun jauh di sana Utuy Tatang Sontani berbaring. Tak ada satu sahabat apalagi rakyat Indonesia menjiarahinya. Jauh jarak jauh kemungkinan. Siapa peduli. Namun Allah Maha Bijaksana , batu nisan itu yg biasa dihinggapi serangga atas kemurahannya mengantarkan sahabatnya unt datang mengunjunginya. Aku lihat Kang Utuy Tatang Sontani tersenyum. Telah kedatangan orang tua Nyai sahabatnya, Hilda Winar, tertatih tatih menemukannya diantara ribuan yg berbaring. (rg bagus warsono)

Minggu, 15 September 2019

Brahmana Pamong Nagari

 Brahmana Pamong Nagari penyair yang menjadi pamong (abdi dalem) pada negara 

BRAHMANA SUSASTRA NAGARI

BRAHMANA SUSASTRA NAGARI Brahmana Susastra Nagari artinya penyair kerajaan yang terbaik. 

Minggu, 28 Juli 2019

SATRIASATRA-RIMBAWANNAGARI penyair pinggiran yg sengaja mengucilkan diri.

Sastrawan atau penyair dengan sebutan Satriasastrarimbawannagari adalah penyair yang bertama penyendiri dalam arti menguculkan diri tak tampak di khalayak umum. Contohnya spt Mas Yono Buanergis Muryono. Penyair ini layak mendapat sebutan Satriasastra Rimbawannagari. Orang yang slalu menyendiri di kesepian dan berusaha menjauh dari keramaian .

MAHASASTRA UTAMA penyair sepuh diatas 70 th yg masih hidup.

Penyair ini utamanya sudah sepuh artinya yang sudah berusia diatas 60 th. Penyair sepuh adalah penyair yang khawentar dengan kebijaksanaan yang cukup. Di Indonesia kita mengenal penyair-penyair sepuh dan terkenal sperti Sapardi Djoko Damono, Abdul Hadi WM, Taufiq Ismail dan lainnya angkatan 66 yang masih hidup. Di samping itu juga kelahiran th 50 kini sudah dianggap sepuh, kita mengenal penyair Wadie Maharief, yang kini menjelang 70 th , Sastrawan Eddy D Iskandar, Eka Budianta, dan sebagainya yang meski sudah sepuh masih terus bersastra.

SASTRAWATI- RATUPADMI perempuan penyair terhormat terpisah pergaulan karena ningrat.


JAKAUTAMASASTRA-PRATAMA penyair dibawah usia 40 th.


DARASASTRA- PRATAMI penyair remaja putri


EMPUTAMA- SASTRACAHYA-NAGARI penyair dengan karya menasional


BRAHMANA-SASTRA KAWI penyair penjaga tradisi nusantara.

Ciri-ciri Penyair ini menulis tentang tradisi budaya nusantara dan menulis dengan menggnakan bahasa daerah sebagai menjaga tradisi. Brahmanasastrakawi itu contohnya penyair Sarwo Darmono dan Riswo Mulyadi, Sarwo Darmono menulis geguritan dengan menggunakan bahasa jawa dan Riswo Mulyadi menulis geguritan bahasa banyumasan. Juga masih banyak yang lain Seperti Lanang Setiawan di Tegal, atau Dyah Setyawati yg sering membacakan puisi bahasa Tegalan. Pokoknya Brahmanasatrakawi itu menunjuk pada sastrawan atau penyakir yang menulis tentang kearifan lokal sebagai penjaga tradisi. Tentu saja masih banyak nama lain di pelosok nusantara ini.

Kamis, 25 Juli 2019

Ngiris Pulau Jawa karya Rg Bagus Warsono

Ngiris Pulau Jawa

                                                                                              Rg Bagus Warsono


Dan setiap kilometer melewati
aku disapa patok
masih jauhkan kotaku
sudah semakin jauh kota kutinggalkan
sawah menghijau
dan semilir angin lewat
jendela-jendela sepur
Aku benar-benar di Jawa
Dan gunung-gunung berhenti mengeluarkan air, dari mata airmu yang kering
Pohon-pohon jati berubah menjadi puing-puing tiang menyangga layang
daun-daunnya terhampar semen mengering
menjadi batu
dan batu menjadi akik
keras
mengeraskan hatimu
yang membutuhkan air
yang hanya menadahi hujan
setahun sekali
di Jawa,
di tanah yang diiris-iris
Esok tak lihat lagi petani,
Hamparan hanya beton bertulang
Esok tak lihat lagi hijau padi
Hanya burung-burung bermerk Jepang,
Angin tak lagi sepoy, tapi bau petralit terbakar
Sungai hanya mainan
pemborong bermata sipit
Dan danau hanya tipuan pemandangan
Jawa diiris-iris

Indramayu, 1 Maret 2018


Soeharto yamg di kenang.


Kamis, 11 Juli 2019

Jeruk limau jetuk sambal

Jeruk limau (sambal) itu tumbuh depan rumah daunnya mengering seolah akan mati. Buahnya pun berjatuhan . Ada yang masih hijau ada yg berwarna kuning kemerahan , spt alum. Aku kumpulkan yg jatuh dalam kantong kresesk. Kucoba pada anakku yang masih SD untuk menukarnya dengan bebek goreng (lamongan), kubonceng anakku untuk berani berkata pada pedagang bebek goreng itu menukar dengan nasi dan bebek goreng, kemudian aku sembunyi.
Anakku hanya diam , sambil mengulurkan kantong kresek berisi jeruk limau itu. Apa jadinya. ternyata pedagang itu mengulurkan uang lima puluhu ribu !
Anakku bingung, ingat apa yg diperintahkan olehku maka ia menunjuk bebek goreng !
Ternyata akulah yang salah menguji anak. Pedangan bebek goreng itu telah biasa membeli jeruk limau untuk pembersih tangan dari bau ikan/bebebk goreng. !
Dari pengalaman itu aku pelihara pohon jeruk yg mulai akan mati itu. (rg bagus warsono

Mobil dapat Kredit

Berikut dialog seorang ibu dan anak perempuannya dalam mobil bersama menantunya :

"Mobilmu baru, jan ibu seneng, lewat toll ya ndo?"
" Ya Bu, lewat toll, '
Kemudian anaknya menambahkan, "pengen punya mobil cara cepat ora nyelengi."
" Apa iku jenenge?"
"Krediiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit" , jawab menantunya.
'Oh . ngemil?"
"Bukan , Bu, tapi gantung diri"
"Ya wis ora popo , wong koe seneng toh".

Dipikir juga gak bakal ketemu :

Dipikir juga gak bakal ketemu :

Seorang petani pisang ngobrol dengan seorang guru di pinggir jalan di samping kebun pisang.

Guru : "Pak, Apa yg Bapak katakan itu benar, yg jd menang itu Jokowi."

Petani: Nah sekarang Pak Guru baru sadar ya?

Guru itu tersenyum kecut, kemudian mengalihkan pembicaraan : " Wah! pisangnya lebat dan besar-besar , Pak ! Bagaimana Bapak menanam hingga buahnya lebat dan besar seperti ini? "

Petani : "Ha ha ha, ini juga berkat Jokowi, jadi buahnya lebat dan besar-besar !"

Guru : "Lho! apa hubungannya?"
(guru itu bingung dan berfikir tak masuk akal)

Petani itu tau apa yg ada di hati guru itu, lalu katanya sambil menepuk bahu Pak Guru:
"Pak Guru guru yang baik, dipikir juga gak bakal ketemu."

Guru : ?

Petani : " Ambil itu satu tandan untukmu !, Pak guru akan paham sampai di rumah.

Guru: Terima kasih Pak Jokowi.!
(sambil tersenyum guyon, mengangkat setandang pisang di sepeda-motornya .

(Rg Bagus warsono, 11-7-2019)

Tak masuk akal !

Tak masuk akal !

Karena berlayar mencari ikan tuna selama dua bulan maka seorang nelayan tak ikut memberikan suaranya dalam Pilpres:

Istri: "Pak, kali ini tidak seperti biasa, hanya cukup membayar utang. "

Nelayan: "Ya , Bu, syukuri saja, kan, masih bisa membayar utang.", kemudian, " Eh bu kabarnya pilpres yang menang siapa?"

Istri : "Katanya , Jokowi"

Nelayan: "Benar , Bu?"

Istri : "ya begitu berita di tv"

Nelayan: " Nanti sore anak-anak semua kita bawa ke pasar dan makan di restoran , Bu !"

Istri: "Lho, kan bapak tidak punya uang?"
(Ibu itu heran penuh tanya)

Nelayan : (Tersenyum sambil memandang sebuah gambar di dinding bilik)

Kemudian suami istri itu berpandangan dan tertawa :

Nelayan /Istri hampir berbareng : " Sip!!!"

Gendeng !

Gendeng !

Siang tanggal 28 Juni di Tegal, seorang tua menikmati tayangan tv di sebuah rumah makan sate. Hari yang panas membuat meja RM Sate Balibul itu penuh. Tentu saja tukang bakar sate membakar satenya sekaligus melayani 8 meja. Sangat banyak. Karena sate yang di hidangkan hampir bersamaan, maka wajar jika pembeli pulannya juga hampir bersamaan.

Satu persatu pembeli itu datang ke kasir tempat membayar.

"Maaf sudah dibayar, Bu", kata kasir itu, Ibu itu bingung.

Kepada pembeli lain juga kasir berkata:
"Maaf sudah dibayar, pak:" kata kasir pada pembeli berikutnya.

"Siapa yang membayar ini semua?" , tanya seorang Ibu.

Lalu kasir itu menjawab:
" Ya bu semua meja sudah dibayar oleh orang itu! " kata kasir sambil menunjuk seorang tua yang duduk di kursi depan tv.

" Oh kalau begitu Terima kasih. !!
" Terima kasih Mas ! Terima kasih " kata para pembeli RM sate Balibul Tegal.

Sabtu, 29 Juni 2019

Kedanan Bocah Demplon

Rotadenawa berkata :

"Ho ho ho.....

bocah ayu, denok demplon...

aja wedhi karo kakang.....

njauk apa? tak turuti bli wurung. "

" ho ho ho ....

Kwayang temen sedepe....Nok

putih, mulus, gembleng mayeng

bening temen nok sira Bocah Ayu ....

sira Nok calon premasuri

Aku Wiragora , Raja diraja segala jin mrekayangan

Rotadenawa sing sakti mandraguna,

aduh ....Bocah ayu

aja watir Nok karo kakang ......

(rg bagus warsono, 29-6-2019)


Kamis, 27 Juni 2019

MAMPUSNYA ROTADENAWA DIMALAM JUMAT oleh Rg Bagus Warsono

Rotadenawa pengganggu negeri pesisir itu berjalan sambil menari mengikuti gamelan obrog yang dibunyikan masyarakat dasa Pasekan dan Pabean Ilir.

Semakin ramamai berbagai alat dibunyikan semakin riang Rotadenawa menari. Gamelan itu dibunyikan sambil berjalan menuju suatu arah. para rotadenawa gembira menari mengikuti gamelan obrog yang berjalan semakin menjauhi desa Pasekan.

Sementara di desa Pasekan di malam Jumat yang agung itu suara surau dan masjid semua perempuan mengalunkan Yassin tiada henti, agar tak satu pun Rotadenawa masih berada di desa itu.

Iring-iringan obrok dengan diiringi ratusan rotadenawa meninggalkan desa Pasekan. Hari itu malam Jumat semua Rotadenawa pergi meninggalkan desa Pasekan mengikuti musik gamelan obrok menuju pantai Tiris.

Semakin malam semakin jauh iring-iringan musik obrog yang dibunyikan masyarakat yang diikuti ratusan bala rotadenawa dibelakangnya.

Rotadenawa yang tampak tinggi besar, gemuk dan menakutkan berda didepan sambil menari. Dia lah yang disebut Wiragora , raja butho rotadenawa pesisir Indramayu. Musik semakin keras , sementara tampak hitam rimbunan hutan bakau Pantai Tiris pertanda tempat pembuangan Rotadenawa itu. Wiragora dan para pengikutnya rotadenawa tak sadar dirinya hendak dibuang ke hutan Pantai Tiris.

Ternyata tak hanya para rotadenawa yang mengikuti musik gamelan obrog itu, diantaranya terdapat bangsa gendruwo, wewe gombel, kuntilanak, tuyul dedemit, tengkorak, jajanggitan, hantu patromak, sampai jaelangkung.

Memang butho ratadenawa Wira Gora raja segala raja syaitan penghuni pesisir Indramayu. Kini mereka mulai memasuki Pantai tiris. Pantai yang lebat tanaman mangruf. dengan segala macam hewan rawa yang buas.

Ketika telah sampai Pantai Tiris , gamelan obrog terus dibunyikan . Mereka membawa Rotadenawa ke dalam hutan mangruf itu. Begitu juga bangsa gendruwo, wewe gombel, kuntilanak, tuyul dedemit, tengkorak, jajanggitan, hantu patromak, sampai jaelangkung pengikutnya bersama masuk dalam hutan itu.

Terlihat pimpinan musik obrog mulai memberikan aba-aba agar alat musik sebagian tidak dibunyikan, musik semakin dikurangi perlahan dan akhirnya musik berganti suara bising serangga hutan Pantai tiris. Kiyai Sidum diam-diam membawa semua rakyat penabuh gamelan obrok itu meninggalkan Pantai Tiris melewati menuju desa Cantigu untuk menghilangkan jejak.

Malam makin pekat, bangsa rotadenawa itu berada di hutan Tiris. Musik obrog mulai menghilang. Rotadenawa bingung hendak kemana. Mereka terkurung di hutan Tiris.

Kiyai Sidum dan rombongannya telah menjauh dari Hutan Tiris. Mereka sengaja membuang bangsa rotadenawa ke hutan mangruf yang luas dan lebat itu.

bangsa Rotadenawa dam pimpinannya akhirnya tak dapat berbuat apa-apa kecuali menunggu fajar dimana matahari terbit dari timur. Dibalik desa nelayan Pasekan dan Pabean Ilir.
(bersambung)

Sabtu, 08 Juni 2019

Ada kreteria untuk seleksi khusus (awal) dalam tiap event penulisan.

Marilah kita kaji peran penyeleksi naskah baik itu lomba atau non lomba maupun antologi bersama. Yang pertama ditegaskan dalam rekrutmen antologi itu adalah persyaratan utama naskah apa yang dibutuhkan. Terkadang berbagai persyaratan itu diabaikan oleh peserta mengingat kapasitas peserta yang tidak diragukan lagi dalam dunia tulis-menulis (penulis/penyair/sastrawan). Padahal persyaratan utama merupakan acuan tingkat pertama untuk menyeleksi naskah.

Biasanya sebelum pada penyeleksian naskah, terlebih dahulu terdapat persyaratan peserta yaitu persyaratan masuk tidaknya sebagai peserta kegiatan itu, seperti batasan usia, jenjang pendidikan, profesi, gender, administrasi termasuk biaya pendaftaran bila ada, sapai sesuatu benda yang diminta dalam keikutsertaan itu.

Pada tahap selanjutnya adalah naskah. Pernyaratan naskah harus dibedakan dengan persyaratan peserta. Boleh jadi tak ada hubungannya dengan persyaratan peserta itu. Penyeleksian naskah sudah pada ahli penyeleksi naskah bukan pada persyaratan peserta yang dapat dikerjakan penyeleksiannya oleh seseorang tenaga administrasi. Persyaratan naskah sudah pada tahapan dirterima tidaknya naskah itu. dan tentunya si penyeleksi tidak melihat siapa penulis naskah yang diseleksinya itu.

Penyeleksian naskah adalah kewenangan mutlak yang diberikan oleh penyelenggra pada seseorang. Biasanya seorang penyeleksi naskah adalah seorang yang 'kutu buku dalam hal ini seorang yang rajin membaca pada bidang yang dibutuhkan, misalnya dalah hal ini puisi. Jika itu seorang kurator, tentunya kurator dalam hal buku dan sastra, jika seorang kritikus tentulah kritikus sesuai dengan bidang itu.

Sebetulnya sangat sederhana saja, andai penyeleksi tidak melihat personal peserta tetapi melihat mutu naskah yang dikehendaki. Persoalannya sangat berat beban seorang penyeleksi naskah untuk mempertahankan independensi yang dimilikinya. Sangat naif bila seorang personal penyair yang telah memiliki nama gagal seleksi. Penyeleksi bisa dituduh kurang independen bila menggagalkan naskah yang dinilai kurang sesuai dengan apa yang dikehendaki penyelenggara.

Pada tingkat event besar sebaiknya penyeleksi menggunakan orang-orang profesional. Yang tidak peduli dengan siapa penulis naskah yang diseleksinya. Namun ini tentu saja kendala buat panitia penyelenggra karena harus mengeluarkan honorarium yang lumayan. Orang-orang profesional tidak beresiko dengan penulis mana pun. Ia akan bekerja dengan sebaik-baiknhya.
Pada kasus lain terkadang walau sudah menggunakan orang yang profesional malah ada campur tangan penyelenggara. Nah disinilah profesional itu akan menurut dengan siapa yang membayar honorariumnya.
Intervensi penyelenggara pada penyeleksi naskah baik secara halus maupun terbuka adalah gangguan independensi penyeleksi naskah. Ini bisa berakibat turunnya standar mutu kegiatan dan bahkan cemohan masyarakat. Penyeleksi tak kuasa menolak lantaran mungkin berfikirt tentang tiket pesawat terbang.

Kesalahan lain apabila penyeleksi naskah itu adalah penyelenggara itu sendiri. Sehingga penyeleksian yang seharusnya menitik beratkan pada naskah menjadi pada siapa penulis naskah itu. Penyeleksian seperti ini umpamanya kegiatan yang diselenggarakan pemerintah. Dalam lomba itu tertulis untuk umum, namun panitia menghendaki apabila terdapat unsur guru (misalnya) maka diutamakan. Maksudnya untuk membuat atasan senang. Kalau begitu kenapa lomba itu tidak untuk guru pegawai negeri saja.? Pernah sastrawan terseleksi pd lomba menulis kemendikbud, dia clingak-clinguk karena yg lain ternyata guru penulis buku pelajaran. (rg bagus warsono) /bersambung...