(iklan membaca dibintangi mbak Denting Kemuning)
adalah majalah sastra net bagi rakyat Indonesia yang memerlukan sastra sebagai bagian kehidupan indah di Indonesia. Untuk segala umur pecinta sastra di Tanah Air. Pendiri Agus Warsono (Rg Bagus Warsono/Masagus) didirikan 2 Januari 2011, Redaksi Alamanda Merah 6 Citra Dharma Ayu Margadadi, Redaktur sastra Agus Warsono, Koresponden Rusiano Oktoral Firmansyah (Jakarta), Abdurachman M(Yogyakarya).
TEKS SULUH
Minggu, 24 Oktober 2021
Mengawali Penganugerahan Setyasastra Nagari
Mengawali Penganugerahan Setyasastra Nagari (30 th Kesetiaan Sastra Indonesia Lumbung Puisi) sengaja diberikan di Pekalongan untuk menyatakan bahwa buku Setyasastra Nagari itu betul-betul diterbitkan. Sebanyak lebih dari 115 Sastrawan Indonesia menerima Sebutan Anugerah ini, dan 10 sastrawan tersebut sengaja di berikan karena moment yg tepat dalam Malam Apresiasi Puisi Dalam Kotak Suara sebuah acara yang dinahkodai Penyair Hadi Lempe. Kesepuluh awal penerima Setyasastra Nagari dari lebih dari 115 penerima itu, pada 23 Oktober 2021 itu adalah :
27. Dharmadi,
37.Enthieh Mudakir,
79.Nurochman Dudibyo,
42.Hadi Lempe,
82.Omni Kusnandi,
78.Nanang R Supriyatin,
110.Wawan Hamzah Arfan,
65.Kasdi Kenali,
64.Jaenudin (Kang Zay), dan
108.Wardjito Soeharso.
(rg bagus warsono 24/10/21.)
Jumat, 22 Oktober 2021
Nyemplung Kali Banger
oleh Rg Bagus Warsono
Nyemplung kali Banger
Musim ketiga kali asat isine endut
Iwak akeh kurang banyu ora dipangan
Kali Banger ora mili
Pancing pedot
Kecangkol baro
Lundu cilik arane keting
Sembilang gigire abang
Kali Banger nunggu udan
Jembatan tugel
Iwak blanak golong-golong
Kali banger marani laut
Rabu, 13 Oktober 2021
Rg Bagus Warsono : Gugurnya Patih Celeng
Gugurnya Patih Celeng
Tersebutlah kerajaan Manikmantaka,
Kerajaann bangsa rotadenawa bangsa butho.
Raja Manikmantaka bernama Prabu Niwatakawaca ingin mempersunting Dewi Supraba.
Dewi Supraba tak kuasa menolak asal mendapat ijin ayahnya, Begawan Ciptaning, yang tengah bertapa di gua Mintaraga dalam hutan Kaliangsa yang maha buas di pegunungan Indrakila.
Sang Prabu Niwatakawaca sudah kasmaran ingin segera Dewi Supraba bersanding di kerajaan.
Diutuslah Mamangmurka, patih terbaik Niwatakawaca
Patih sakti putra Patih Sakipu keturunan Giliwangsa
yang sakti mandraguna.
Mamangmurka bertus meminta restu Begawan Ciptaning, pertapa di gua Mintaraga.
Begawan Ciptaning tak mau menemui Mamangmurka
hutan Kaliangsa menjadi gelap gulita pegunungan Indrakila membentang tak berujung.
Gua Mintaraga tak akan ditemukannya.
Mamangmurka mengamuk dihutan gelap
pohon dan batu diobrak abrik
hutan rusak hewan berpencaran mencari selamat
Begawan Ciptaning yang tengah bertapa menjadi marah
dikutuknya Mamangmurka menjadi butho celeng
Melihat tubuhnya berganti celeng
Mamang murka semakin mengamuk merusak hutan
Akhirnya Begawan Ciptaning menghentikan amuk Mamangmurka dengan panah kalitawarna
Menancab di tubuh Mamangmurka.
(Rg Bagus Warsono)
Minggu, 10 Oktober 2021
Auf widersehen puisi indah Kurniawan Junaedhie
Karya puisi indah Kurniawan Junaedi adalah Auf widersehen , sebuah judul Berbahasa Jerman yang artinya Selamat Tinggal. Auf widersehen pada tahun 1994 adalah sebuah drama seri radio BBC London terkenal yang terkenal juga di Indonesia. Mungkin puisi ini diilhami drama itu atau memang Auf wisersehen ini sebuah puisi dari imajenasinya Kurniawan Junaedi sendiri.
Berikut puisi Auf widersehen karya Kurniawan Junaedhie itu:
Auf widersehen
Itukah engkau yang
berdiri di seberang jalan
dengan tas di pangkuan
yang melambaikan tangan?
Betapa pedih jiwa di badan
Rasanya ingin pergi saja aku
Ke lain benua
Jadi itukah engkau?
Jadi itukah engkau yang
melambaikan tangan
Sementara aku sendiri di dunia
Berdiri sepi seperti tiang lampu
Dimalam hari Sunyi
Digoyang angin yang dingin?
Pernahkah kau rasakan
Apa artinya orang kehilangan makna?
Rasanya ingin pergi saja aku
Ke sebuah dunia yang tak seorang pun
Bertanya tentang kabut
Atau anna matovani
Karena memikirkan tentang umur
Dan hari depan mungkin tersa lebih bermartabat.
Juni 1994
Selasa, 21 September 2021
2 buku puisi K Kasdi WA
2 buku puisi bagus : Mata Sepi Mata Duri dan Luka Pandemi Luka Abadi untuk literanesia.com . Keduanya karya Kasdi Kelanis (K Kasdi WA). Mata Sepi Mata Duri, kumpulan Puisi K Kasdi WA, fiksi, sastra: puisi, diterbitkan oleh Teras Budaya Jakarta, Jakarta, 2021 cetakan pertama, ISBN 9786236244173 dan Luka Pandemi Luka Abadi, fiksi, sastra:puisi, diterbitkan oleh Yayasan Hari Puisi, Jakarta, cetakan pertama 2021, ISBN 9786025050282
Senin, 20 September 2021
Informasi Sastra: Setiasastranagari 30 Th Kesetiaan
Informasi Sastra:
Data Penyair/Sastrawan yang bukti-bukti portofolio cukup yaitu: berupa portofolio klipping koran karyanya dan datanya berupa asli atau file /foto kegiatan dari tahun 1966 hingga tahun 31 Desember 2000 adalah Penyair/Sastrawan yang dipandang memiliki kesetiaan pada dunia sastra dan memiliki Dharma Bakti minimal 30 tahun terhadap Sastra Indonesia disebut sebagai Sastrawan dengan Setiasastranagari 30 Tahun Kesetiaan.
Data Sastrawan dengan Setiasastra 30 Tahun bukan merupakan seleksi atau penilaian tim atau juri atau lomba atau usulan komunitas tertentu tetapi atas dasar temuan pribadi kurator Lumbung Puisi (Rg Bagus Warsono) yang didapat dari membaca, klipping puisi atau kiriman pembuktian yang dapat dipertanggungjawabkan.
Data Sastrawan dengan Setiasastra 30 Tahun adalah kesetian seseorang dalam pengabdiannya dalam dunia sastra yang diwujudkan dengan karya sastra baik perorangan maupun bersama-sama. Dan daftar dari data Setia sastra ini berkembang setiap tahunnya sesuai dengan apa yang ditemukan dan telah dilampaui oleh generasi setelah itu (generasi berikutnya).
Usulan penambahan nama penyair, setelah diumumkan dalam buku, untuk sebutan Penyair dengan Kesetiaan Sastra 30th, yang ditemukan setelah diumumkan dan di pertanggungjawabkan , setelah data diumumkan akan diberikan pada tahun berikutnya.
Sebutan Penyair Setiasastra Nagari kemudian disebutkan pada buku Setiasastranagari 30 Th Kesetiaan yang akan terbit Desember 2021. Pengumuman Setiasastra nagari I akan diumumkan setelah buku terbit.
Bahwa kegiatan pendataan Setiasastranagari 30 Tahun Kesetiaan bersifat Dokumentasi Sastra.
Demikian Info disampaikan , terus menulis sastra dan tetap bersahabat.
Lumbung Puisi 20 September 2021
Salam Sastra,
Kurator Lumbung Puisi : Rg Bagus Warsono,
Dokumentasi Klipping/foto : Wawan Hamzah Arfan
Minggu, 29 Agustus 2021
"Kirab" kumpulan puisi karya Mas Bambang Widi Yogyakarta
"Kirab" kumpulan puisi karya Bambang Widi Yogyakarta. Buku sastra apik dengan puisi-puisi berbobot. Mas Bambang Widiatmoko memang penulis yang tak pernah berhenti sejak muda. Ia termasuk penyair Sastra Koran sejak tahun 80-an dan Lumbung Puisi menyimpan banyak klipping sastra koran itu. Kirab diterbitkan oleh penerbit Interlude Yogyakarta pada Agustus 2021 yg merupakan cetakan pertama, dengan ISBN 978-623-6470-02-2, terdiri dari 58 puisi terbaru karyanya menyusul beberapa antologi yang sudah diterbitkan. Kirab akan ditampilkan di literanesia.com malam ini. Selamat buat Mas Bambang Widiatmoko.
Sabtu, 28 Agustus 2021
KESABARAN MEMBUAHKAN KEBERHASILAN oleh Rg Bagus Warsonio
KESABARAN MEMBUAHKAN KEBERHASILAN
Menjadi Penyair mengalami liku-liku perjalanannya tersendiri pada setiap jiwa-jiwa penyair. Menjadi penyair adalah panggilan hati, tetapi tak seindah yang dibayangkan, tak mudah yang diharapkan.
Khusus di Indonesia penyair dikebiri oleh hal pembaca, meski produk banyak tetapi pembaca belum maksimal sehingga harapan memetik diri sebagai penyair amatlah sulit.
Demikian penyair dengan kesabarannya dan ketekunannya (adalah proses panjang) akan dapat memetik keberhasilan. Karya lambat laun semakin bermutu dan apik sebagai seni. Nama pun kemudian terpahat dengan ukiran yang indah. Meski dalam hal vinansial provesi ini jauh dari harapoan namun berkat ketekunan dan kesabaran akan dipetik keberhasilan sebagai sastrawan Indonesia yang tercatat dalam sejarah karena karyanya yang bermutu dan banyak dibaca masyarakat. (rg Bagus Warsono 28-8-2021)
Mempertanggungjawabkan Bahwa Seseorang Adalah Sastrawan Sabut Mengenal Puisi Modern II
Memberi pertanggungjawaban pada publik bahwa seseorang adalah Sastrawan tidak hanya membuat daftar, memuatnya dalam antologi bersama, atau keterlibatannya dalam suatu peristiwa, tetapi yg lebih penting adalah mempertanggungjawabkannya dengan menunjukan karya bermutu dengan kritik dan telaah sebagai dasar seseorang adalah penyair.
Penyair adalah penulis sastra dengan jiwa seni yang tersendiri. Masing-masing kadang tak wajar dipandang dari kebiasaan . Ada saja penampilan beda pada dirinya dengan orang lain. Hingga terdapat penyair yang tak muncul gambarnya tetapi karyanya berserakan. Jadi pertanggungjawaban menyatakan seseorang adalah penyair bukan grafik kemunculannya tetapi atas karya bermutu. Kurator yang baik tidak melihat seseorang itu telah dikenal atau dikenal dalam wilayah lokal, regional atau nasional. Pandangan kepopulairan nama penyair besar atau kecil, tak dikenal atau telah mancanegara tak menjadi pengaruh untuk sebuah pertanggungjawaban. Sebab saatnya Indonesia menampilkan kejujuran dan tidak asal tetapi sungguh-sungguh sesuatu yang dipertanggungjawabkan
(Rg Bagus Warsono, kurator di Lumbung Puisi)
Jumat, 27 Agustus 2021
T oleh Wawan Hamzah Arfan
T oleh Wawan Hamzah Arfan
Thema "T' untuk sebuah Antologi Puisi yang digagas oleh RgBagus Warsono merupakan gagasan yang belum pernah ada di dunia, kecuali di Lumbung Puisi. Sungguh luar biasa, di masa pandemi ini, seorang RgBagus Warsono mampu melahirkan ide gila yang benar-benar di luar dugaan, justru disambut gila-gilaan oleh para penyair Indonesia dari yang ABG sampai lansia. Gilanya lagi, ko bisa pas dengan situasi politik di Afganistan, yang kini dikuasi oleh kelompok berinisial "T" yaitu TALIBAN.
Dengan kata lain, kehadiran Antologi Puisi "T", sebuah gebrakan baru dalam sejarah perpuisian Indonesia, sekaligus perpuisian Dunia. Sebuah Antologi Puisi terunik dan tergila. Selamat buat sastrawan RgBagus Warsono, yang berani meluncurkan ide gilanya dan tidak takut orang menilainya apa. Salam kreatif dari Cirebon.
Puisi “T” di Ujung Pandemi oleh Rg Bagus warsono
Puisi “T” di Ujung Pandemi
T itu juga angin Timur. Angin timur sejak doeloe adalah keberuntungan. Pada masa musim angin timur, wabah segala penyakit tersapu angin menuju samudra Hindia dan di sana akan tertelan ombak. Corona akan menjerit ketakutan manakala baru terbawa angin sampai laut Ujung Kulon. Dan akan masuk pusaran gelombang samudra Hindia yang ganas.
Corona tak mungkin bersemanyam di laut Kidul karena memang sudah diusir oleh penunggu Laut Kidul. Mereka juga tak mungkin tinggal di laut Jawa karena akan ditangkap nelayan. Corona takut kalau melihat jaring penangkap ikan.
Angin T (angin Timur) membuat cuaca malam hari dingin sejuk di daerah tropis. Bunga-bunga pepohonan pun mulai tumbuh menjadi pentil-pentil buah. Serangga penghantar serbuk sari menari setiap hari , sebuah kegembiraan alam.
Di ujung pandemi itu Corona akan membabi buta. Mengamuk sekan marah terusir. Ia akan meninggalkan bekas. Tak hanya nyawa-nyawa manusia tetapi juga sejarah yang mengenaskan.
Dan Penyair-penyair Indonesia mencatat peristiwa ini. Sebagai sebuat peristiwa sejarah alam Nusantara yang memiliki aneka dampak dari corona. Kesengsaraan rakyat, Kematian dan orang-orang yang mengambil kesempatan adanya corona.
Pada masa ini rakyat tak lagi mengindahkan adat. Orang Mati pun dikubur bagai bangkai binatang! Pada masa ini para ‘dukun (ahli kedokteran) menjadi dewa. Pada masa ini generasi muda menjadi T (tolol) karena tidak belajar , bahkan ketololan pun terlihat pada mereka yang tengah menempuh pendidikan tinggi.
Jika Pemerintah menghitung korban corona, jumlahnya akan slalu menunjukan perbedaan dengan keadaan sebenarnya. Karena hari ini ditulis jumlah korban hari ini juga ada orang menangis kehilangan orang tua, saudara dan sahabat. Saat ditulis jumlah kematian itu saat itu juga terjadi peristiwa kematian dimana-mana.
Data yang sebernya ada di tangan-tangan penyair Indonesia. Ia mencatat sejak wabah itu masuk ke negeri ini. Penyair di seluruh penjuru negeri mencatat peristiwa ini di daerahnya. Aneka peristiwa kesengsaaraan rakyat.
Namun hidup itu harus optimisme, sebab kakek kita mengajarkan bukan ‘hidup untuk makan tetapi ‘makan utuk hidup.
Dimasa pandemi tak ada nikmatnya minum kopi. Semua suasana adalah kecemasan. Bahkan makan enak pun selalu diiringi kabar duka. Sehingga lidah menjadi hampa rasa dan tetnggorokan menolak masukan, lalu lambung hanya berisi angin.
Obrolan di keluarga adalah kabar duka. Sedang manusia sehat terdapat dua golongan saat pandemi melanda. Yaitu golongan yang percaya adanya corona dan golongan yang tidak percaya adalanya corona.
Yang percaya corona hidup dengan waspada dan sebagian serba ketakutan. Sedang yang tidak percaya hidup seakan mumpung.
Beruntung kita hidup di negeri makmur, 2 tahun berjalan corona bersemayam, kita masih bertahan. Tak terdengar rakyat kelaparan justru yang semarak adalah demo dan demo aneka ragam. Sebuah T dalam masyarakat kita.
Begitu subuh tiba, betapa setiap hari terdengar pengumuman duka di setiap mushola. Seakan bersahut-sahutan antara mushola/masjid yang satu dengan mushola/masjid desa tetangga.
Akhirnya penyebab kematian corona dan bukan corona sama yaitu oleh corona. Karena memang di musim corona. Ibaratnya kecelakaan maut lalulintas saja boleh disebut corona.
Di sudut lain di rumah-rumah kecil terdengar doa. Rumah-rumah yang berdoa itu begitu banyak sehingga hapir seluruh Indonesia berdoa agar corona cepat pergi dari negeri ini. Allah maha mendengar, dan punya rencana. Maha pengasih dan punya kehendak. (03-07-21 Rg Bagus Warsono)
Senin, 16 Agustus 2021
Selasa, 10 Agustus 2021
Rabu, 04 Agustus 2021
Ulasan Tentang Menulis Satu Puisi Ditulis Bersama/Bareng-bareng: Oleh : Wardjito Soeharso
Ulasan Tentang Menulis Satu Puisi Ditulis Bersama/Bareng-bareng:
Oleh : Wardjito Soeharso
Menulis Satu Puisi Ditulis Bersama, Ide yang menarik. Tetapi melihat hasilnya, aku pikir kurang efektif. Puisi itu harus padat. Diksinya tajam. Mengundang multi interpretasi. Dari awal hingga akhir kata-katanya mengalir membangun image yang kuat makna tematik yang disampaikan penyairnya.
Dari praktik yang sudah dilakukan ini, setiap penyair menulis satu baris. Setiap penyair mencoba menyambung atau meneruskan bangunan imaginasi ke arah mana makna tematik yang diharapkan oleh penyair sejak baris pertama. Tentu ini pekerjaan yang tidak mudah, untuk mengatakan mungkin malah terlalu sulit. Dari sisi makna ternyata bisa nyambung. Tetapi dari sisi kepadatan puisi, aku melihat tidak berhasil. Banyak diksi yang sejenis terus diulang-ulang. Akhirnya, kesan yang muncul sejak baris pertama sampai terakhir makna tematik itu tidak makin meruncing menajam, tetapi terus saja sejajar seperti rel kereta yang tidak pernah bertemu sampai ke ujung batasnya. Bahkan, terbukti, puisi hasil kolaborasi ini sama sekali tidak bersentuhan dengan judul. Bersentuhan saja tidak. Apalagi nyambung.
Mungkin, membaca satu baris dan meneruskannya ke baris berikutnya memang belum cukup memberikan gambaran pada penyair berikutnya ke arah mana puisi ini sebaiknya menuju dan berakhir. Akibatnya, tak ada bait di sana. Penyair berikutnya tidak tahu, satu ide atau gagasan seperti apa yang harus dimunculkan dalam bentuk satu bait dari puisi itu.
Jadi, menurutku, eksperimen pertama ini boleh disebut gagal. Hehehe...
Maka, boleh dicoba eksperimen berikutnya. Setiap penyair tidak menulis satu baris, tetapi menulis satu bait. Kayaknya dengan menulis satu bait, penyair berikutnya sudah punya gambaran cukup jelas makna tematik yang ditawarkan penyair sebelumnya.
berikut hasil uji coba pada 4 Agustus 2021:
Kisah Rafael Calon Bintara
//......../
23). Secepat kering tetesan air mata di Merah-putihmu.
24). Tak henti menangis dia meraup kain.
25). Dan Dwi-warna itu basah bercampur peluh.
26) peluh yang membersih tekad melarung semangat
27) semuanya kering di badan
28). Lalu di ciumnya sang merah putih dengan tetesan gerimis di gunung pipinya yang basah
29). Sang bunda menangis bahagia melihat sinar kehidupan di mata anaknya
30)ketika merah putih berkibar mengabarkan kemerdekaan ini
31) Langit pun gegap-gempita menyambut kibarannya
31) pada setiap perjalanan ada bianglala yang akan menjadikanmu pribadi yang tangguh
32) Ku lepas anak panah harapan, untuk negeri tercinta ini tetap terjaga.
Pendapat Mas Wardjito Soeharso ini harus dipertimbangkan beberapa permasalahan sbb:
1.Permasalahannya pesertanya bisa mencapai 100 penyair, yang menyatakan siap hampir 100 penyair, apakah tidak kepanjangan jika tiap penyair 1 bait atau baitnya dibatasi 2 baris?
2.Jika setiap penyair satu bait bisa saja tetapi harus ada bait-bait yang menjadi kepala bait untuk ditaruh di atas agar yang memberi masukan bait dalam komentar dapat lebih memahami kesatuan puisi.
3.Satu lagi permasalahan akan muncul yaitu pada penggalian ide dan tingkat berfikir penyair yg tidak sama yang kadang datang dari inspirasi. Tetapi bantuan Judul sebetulnya sudah dapat dipahami jika penyair itu telah profesional.
Silahkan yang lain berpendapat.
Kamis, 29 Juli 2021
Kamis, 22 Juli 2021
Wandi Julhandi Terima kasih untuk semuanya; Wawan Hamzah Arfan TANPA BATAS LOGIKA : buat RgBagus Warsono; Wardjito Soeharso T
W
Wandi Julhandi
Terima kasih untuk semuanya
Yang engakau berikan kepadaku
Terima kasih atas segala-galanya
hingga diriku ini menjadi seperti sekaran
Terima kasih banyak wahai engkau yang berbaik hati
Terima kasih sekali lagi wahai engkau yang berhati malaikat
Terima kasih dan terima kasih pada kita akan bisa mempercayai diri yang gelap ini
Terima kasih wahai engkau yang mendatangkan kepadaku sinar cahaya itu Hingga diri ini bisa menjadi bersinar dari tempat yang gelap menjadi cahaya
Yang terang dari tempat kegelapan itu
Makassar, 26062021
Wandi Julhandi
TAK KUDUGA
Tak kuduga ada dia, dalam diam aku bertanya kepadanya
Tidakka kau lihat disini aku lagi sibuk bekerja
Tak bisakah engkau bersabar dirumah kita
Tiada kata yang harus disampaikan dan sampaikanlah kepadaku sekarang juga
Tetesan keringat yang keluar dariku adalah bukti baktiku untuk kita semua
Tiada rasakah dirimu disana
Terdiam aku terdiam semoga perjuanganku membawa berkah dan rahmad ilahi rabb
Tampa kendek-Nyalah semua bisa menjadi nyata
Makassar, 25062021
Wardjito Soeharso
T
Tik tik tik rintik gerimis di tengah malam sepi gelap mata nyalang menunggu cahaya mesti cuma sekerjap kilat agar aku tahu bentuk dan rupa wajahmu sekian lama sembunyi dari teka teki tak pernah mampu kujawab memaknai konfigurasi bayangan di balik lembab kaca jendela terlimpas embun.
Tok tok tok halus ketukan dari balik pintu terkunci rapat bagaimana aku membuka sementara kunci tergantung jadi bandul kalung tak pernah lepas dari lehermu begitu jenjang dan serasi dengan belah dada menggairahkan remaja lelaki baru kenal birahi sedang aku hanya lelaki tua rambut beruban punggung bungkuk tak berdaya penuhi segala ingin dan angan?
Tuk tuk tuk ketak ketuk harmoni irama entah maju mundur entah naik turun siapa peduli sedang merangkak naik ke puncak bukit mencari telaga pelepas dahaga menyelam ke dasar sentuh naluri purba janjikan lena di penghujung malam tinggal sepengunyah buah larangan sedang kaki berpijak batu-batu rompal berguguran memaksa harap menunda hasrat sejenak menjejak terbang melayang.
Tek tek tek jangan bangunkan ular tidur karena kenyang setelah melepas bisa merasuki nadi-nadi darah bekukan jantung merobek paru membunuh peselingkuh merayu anak tirinya sendiri sedang bapaknya di luar sana bermain api membakar hasrat wanita malam berkeliaran tanpa pakaian dalam ada ular melingkar pinggang ramping di balik gaunnya.
Tak tak tak hidup tak pernah mudah jalanan begitu terjal kerikil tajam menghadang kaki memberi luka nyeri menyengat dada membuta mata menuli telinga membebal rasa setiap langkah tinggalkan hanya aroma bunga kamboja jatuh tergolek tak berdaya di tanah basah.
T...tutup mulutmu!
27.06.2021
Tatitutetot
Tat
Tatat
Tat tatat tat
Tit
Titit
Tit titit tit
Tut
Tutut
Tut tutut tut
Tet
Tetet
Tet tetet tet
Tot
Totot
Tot totot tot
Tat tatat tat tak usah dicari maknanya
Tit titit tit tak mesti diintip isinya
Tut tutut tut tak perlu diburu maksudnya
Tet tetet tet tak remeh diseret arahnya
Tot totot tot tak elok disebut rasanya
Tatitutetot
Memang hanya harmoni bunyi!
27.06.2021
Wawan Hamzah Arfan
TANPA BATAS LOGIKA
: buat RgBagus Warsono
Tak tahu dari mana harus kumulai
Tentang tema yang kau tawarkan Tampak begitu mistis
Terlalu jauh dari jangkauan mimpi
Terlebih dalam menggali inspirasi
Tenggelam di kedalaman imaji
Tapi, kuakui sensasi gilamu
Telah menjadi kekhasan
Terunik dan nyeleneh
Terpatri dalam jiwamu
Tanpa batas logika
Tumpah dalam gairah kata-kata.
Cirebon, Juli 2021
TANDA MATA SEBUAH KEMERDEKAAN DI MASA PANDEMI
Tujuh puluh enam tahun sudah
Tanah air merdeka
Tetap saja begini
Terjajah
Terbelenggu
Terpuruk
Tertimbun sampah
Tumpukan sisa bahan bekas hutang
Tapi gilanya
Tanah yang aku pijak ini
Tak ada beban
Tenang saja melangkahi derita
Terus tancap gas
Tangguh walau tak bisa bayar cicilan
Tumbuh kembang pengangguran
Terlalu asyik gali lubang
Tanpa pernah tutup lubang.
Cirebon, Juli 2021
TAK TAHU AKU
Tak tahu aku harus bagaimana
Tak ada yang bisa aku tawarkan
Tak ada yang bisa aku banggakan
Tak ada kata yang bisa aku rangkai
Tentang kerinduan yang tak bertepi
Tentang ketulusan yang tak berarti
Tentang mimpi yang tak kembali
Tapi aku masih punya nyali
Tenang dan penuh keyakinan
Tanpa ada goresan luka kata-kata
Tanpa ada nada sinis yang mengiris
Tak akan kubiarkan inspirasi
Tumbang diambang kebimbangan
Tak peduli suasana pandemi
Telah meluluhlantakkan nurani.
Cirebon, Juli 2021
Tarni Kasanpawiro T
T
Tarni Kasanpawiro
T
Telur tanpa tetas
Terinjak terompah
Tak tercegah tersia
Terlupa tanpa tanda
Tangis tersedu
Terpisah tiada temu
Tubuh terpanggang tungku
Tanpa tirai tanpa tandu
Terlanjur tunduk patuh
Tak tahu telah tertipu
Tergoda tatapan teduh
Ternyata tukang teluh
Tetaplah teguh
Tolak tangkis tinju
Tangguhlah tangguh
Tunaikan tugasmu
Tertera tanda
Telapak tangan terbaca
Tabir telah terbuka
Teruslah tabah
Tunggu T tiba
Cibitung, 22 Juni 2021
Tarni Kasanpawiro
BERMAIN KATA
ada yang asyik bermain kata
tak peduli hasrat terus meminta
ditepisnya segala rasa dengan tawa
hingga lupa hari semakin senja
isyarat tak mampu menyapa
ada yang asyik bermain kata
bocah-bocah setengah manula
turut memainkan semua aksara
menjadi imaji liar tanpa cegah
berlompatan dengan indahnya
ada yang asyik bermain kata
sampai tak melihat ada kecoa
habiskan sisa nasi di piringnya
sambil mencibir dasar manusia
suka mentertawakan dirinya
ada yang asyik bermain kata
sambil menggoyangkan kakinya
tak pusingkan dompet terbuka
dan angka-angka entah di mana
bodo amatlah katanya
ada yang asyik bermain kata
hingga tak mendengar suara
memanggil-manggil namanya
dari dalam perut anak-anaknya
cacing-cacing meminta jatah
ada yang asyik bermain kata
meski sadar yang dilakukannya
tak bisa membuatnya jadi kaya
ha ha hi hi yang penting bahagia
tak kesepian banyak temannya
ada yang asyik bermain kata
sambil menghisap angannya
agar tak terbang mengangkasa
karena hanya itu yang dia punya
teman yang paling setia
ada yang asyik bermain kata
sambil sesekali garuk kepala
sepertinya ada yang dia lupa
tungku di dapur tak lagi menyala
api pergi meninggalkannya
ada yang asyik bermain kata
dikumpulkannya semua aksara
berharap pasar mau menerima
bersaing dengan sembako murah
bawang cabe dan juga rempah
dari kamar sebelah ada suara
bukan tangisan ataupun tawa
sepertinya dia mengenalnya
tapi kini dia benar-benar lupa
mungkinkah itu anak-anaknya
tiba-tiba semuanya gelap gulita
malam telah tiba tapi dia terlupa
listrik di rumah kehabisan daya
aksara seakan menampar dirinya
banyak cinta yang mestinya dia jaga
Cibitung, 26 Juni 2021
Tarni Kasanpawiro
TITIK SETELAH KOMA
tiba-tiba semua berubah
yang dekat harus berjauhan
yang pergi tak lagi bisa pulang
hanya bisa lambaikan tangan
dengan airmata berlinangan
peraturan bukan lagi pedoman
yang dilarang malah dibolehkan
yang tadinya boleh jadi dilarang
banyak yang melanggar kewajiban
semata demi keselamatan
lalu hilanglah kebiasaan
ada yang patuh pada anjuran
ada yang bodo amat tak mendengar
dianggapnya sebuah kebohongan
sampai akhirnya datang teguran
dan menyesallah kemudian
datanglah kabar kepulangan
sebagaimana awan menjelma hujan
tak tercegah menderas berjatuhan
tanpa payung di genggaman
tangan kehilangan pegangan
menggigil gemetaran
menjebol dinding keangkuhan
melihat orang lain terbaring lemah
tak berdaya saat titik mulai berubah
menjadi garis panjang setelah koma
tanpa pendamping di sisinya
seakan tak memiliki cinta
semua menjauh palingkan muka
dalam hatinya merasakan derita
tak bisa ucapkan sepatah kata
selain tundukkan kepala pasrah
dalam keterbatasan dia berdo'a
segeralah membaik oh semesta
Cibitung, 05 Juli 2021
Tarni Kasanpawiro
Tarni Kasanpawiro
Lahir di Kebumen 01 Desember 1971
Beberapa puisinya tergabung dalam antologi bersama "Pinangan(Dapur Sastra Jakarta) , Mendekap Langit(Gempita Biostory) dan Puisi Menolak Korupsi jilid 2 dan jilid 8. Saat ini aktif di group Lumbung Puisi asuhan RgBagus Warsono dan beberapa kali ikut antologi bersama". Tinggal di Sebelah kanan SMPIT Daarussalam. Perumahan Cluster Permata Taman Wanasari Indah Blok B No 09 Rt 02 Rw 08 Kel. Wanasari Kec. Cibitung Bekasi Jawa Barat Kode Pos 17520
Setyo Widodo SURUT BERSAMA REDUP LENTERA; Sulistyo Sore Ini Masih Hujan
S
Setyo Widodo
SURUT BERSAMA REDUP LENTERA
: DON
Aroma bubur kacang ijo di sudut Mahatani
kembali menyengat. Rasa yang manis menjadi hambar pada tegukan terakhir. Di punggung kimia
organik kita berbagi roti tawar
tidak setangkup tapi selembar,
pengganjal ketegangan yang akan menemani
praktikum titrasi
Don, setiap bercengkerama engkau
selalu menyanggah
aku marah
engkau mengalah
begitu yang berlaku. Katamu, sebaik itu
toh karmaku tak aku tahu.
Don, kereta pasti berhenti terparkir di ujung jalan masing-masing, tanpa kusir
tak ada yang sanggup mengusir
namun yang kini terjadi, kereta itu
berlompatan dan zigzag menjemput yang tak terkira
Kau sering menjadi lentera. Sering tetiba menyala, lalu tak kaujaga
membiarkan yang ada membaca bait-baitNya
Seperti yang kali ini
aroma kacang ijo menari-nari di lorong
kimia. Lalu surut bersama redup lentera
dengan lenggang ringan kau menapaki
lorongnya menuju kereta
Bogor 05 Juli 2021/07.59AM
Sulistyo
Ada Cerita Apa Pagi Ini?
ada cerita apa pagi ini?
hujan belum berhenti
dan kau menungguku
melanjutkan cerita yang terpenggal dini hari tadi
kekasihmu pergi menitipkan satu sloki air mata untuk kau nikmati saat rindumu tak terbendung esok nanti
tak ada cerita pagi ini
tak usah kuceritakan tentang puisiku yang lama hilang tersesat labirin pagi
ia pergi dan tak ada kenangan yang perlu disesali
biarkan ia menyudahi episode hari-hari tanpa harus berkemas menyiapkan alas kaki
ya, cukup sampai di sini
tak ada cerita pagi ini
(19.06.2021)
Sulistyo
Sore Ini Masih Hujan
aku tak bisa mengunjungimu, sayang
sore ini hujan deras dan angin kencang
tunggu sampai tengah malam
mungkin tak ada lagi hujan
aku akan datang diam-diam menyusup jendela kamar
tunggu aku jangan pejamkan matamu dulu
akan kuajak kau bertamasya mengelilingi bulan bundar dan bercilukba di kerlip bintang-bintang
(23.06.2021)
Sulistyo , Lahir dan besar di Kudus. Menyukai apapun tentang seni dan sastra. Puisi-puisinya tergabung di beberapa antologi bersama dan beberapa antologi tunggal.
Suyanik
T
Tanpamu
Tampan itu rupamu
Terhanyut aku dalam melodi cintamu
Terkekang dalam jaringan nadimu
Terkenang bagaimana kau
Tampakkak cakar-cakarmu menguasai
Terbabat habis menggelanggang jatuh
Tidakkah kau ingat
Tatkala kau lumatkan dinding-dinding pembatas dengan rayu dan cumbumu atas nama cinta
Terjatuh dalam pelukan asmara yang kau terabas pembatas tanpa mengenal pantas
Terasa hanya kau dan aku tiada lainnya
Tersadar apa yang kau lakukan?
Teriak!
Tidak!
Terbungkam rapi karena nama baik
Tidakkah kau ingat lagi itu, bagaimana perjuanganmu untuk.mendapatkanku hingga akhirnya aku ....
Terjatuh begitu dalam
Terperosok pada ikatan cinta terlarang
Tanpamu lagi
Gresik, 26 Juni 2021
Nanik Utarini TUHAN, TERIMALAH TAUBATKU
N
Nanik Utarini
TUHAN, TERIMALAH TAUBATKU
Tuhan, Rabb penguasa nabastala raya
Takdir yang telah Engkau gariskan pada setiap makhlukMu adalah kebaikan bagi semua
Tetapi seringkali kami mengingkari atau bahkan menggugatnya
Terbentang luas bukti kasih dan sayangMu, tetap saja kami sering tak menyadarinya
Tuhan, Rabb penentu luas dan dalamnya samudera
Tergelincirnya matahari yang berganti malam, dengan hiasan gemintang dan rembulan adalah wujud nyata KuasaMu
Tetapi kami sering tenggelam dalam pekatnya noda, hingga lupa menyadiri beribu tanda keAgunganMu
Terjalnya harapan membuat kami sering terjerembab dalam kufur nikmat
Tuhan, Rabb semesta alam
Terimakasih atas segala nikmat dan karunia yang telah Engkau berikan pada kami
Taqwa kami tak seberapa, namun Engkau tetap melimpahkan segalanya bagi kami
Terimalah taubatku dan ampunilah dosaku yang menghitam
Nanik Utarini
Makna T
T adalah Tuhan penentu segalanya
Terbit dan tenggelanya matahari adalah bukti atas segala KuasaNya
Terlahir atau kematian manusia adalah bukti nyata keberadaanNya
Tercipta dan musnahnya Dunia ada dalam genggamanNya
T adalah Teman, yaitu seseorang yang selalu mengingatkan dan menguatkan bagaimanapun keadaan kita
Teman terbaik bukanlah teman yang selalu mendukung kita, tetapi ia juga harus mengkritik saat kita berlaku salah
Tetap ada saat kita tertawa bahagia atau saat kita menangis sedih
Tetaplah jadi teman terbaik dalam hidup kita
T adalah Tabah, berusah tabah dalam setiap ujian dan hambatan
Tantangan yang seringkali menghadang, hendaknya kita sikapi dengan lapang dada
Terus berusaha sekuat tenaga seolah-olah engkau hidup selamanya
Tak boleh menyerah dan pasrah pada keadaan, hingga kita raih kesuksesan
T adalah Tulus, berusaha bersikap tulus pada semua
Tidak pernah tebang pilih dalam menolong dan peduli pada sesama
Terus mengasah kepekaan terhadap semua manusia
Terwujudnya masyarakat yang damai aman dan sejahtera
T adalah Terserah, Terserah mau diartikan apa?
Terserah mau dimaknai apa?
Terserah mau dirangkai menjadi apa?
Terserah alias karepmu dewe ya!
Jambi, 28 Juni 2021





