TEKS SULUH


Minggu, 24 Oktober 2021

Membaca itu kebutuhan utama bagi pedamba ilmu pengetahuan.

 

(iklan membaca dibintangi mbak Denting Kemuning)

Mengawali Penganugerahan Setyasastra Nagari

 Mengawali Penganugerahan Setyasastra Nagari (30 th Kesetiaan Sastra Indonesia Lumbung Puisi) sengaja diberikan di Pekalongan untuk menyatakan bahwa buku Setyasastra Nagari itu betul-betul diterbitkan. Sebanyak lebih dari 115 Sastrawan Indonesia menerima Sebutan Anugerah ini, dan 10 sastrawan tersebut sengaja di berikan karena moment yg tepat dalam Malam Apresiasi Puisi Dalam Kotak Suara sebuah acara yang dinahkodai Penyair Hadi Lempe. Kesepuluh awal penerima Setyasastra Nagari dari lebih dari 115 penerima itu, pada 23 Oktober 2021 itu adalah :

27. Dharmadi,

37.Enthieh Mudakir,

79.Nurochman Dudibyo,

42.Hadi Lempe,

82.Omni Kusnandi,

78.Nanang R Supriyatin,

110.Wawan Hamzah Arfan,

65.Kasdi Kenali,

64.Jaenudin (Kang Zay), dan

108.Wardjito Soeharso.



(rg bagus warsono 24/10/21.)

Jumat, 22 Oktober 2021

Nyemplung Kali Banger

 oleh Rg Bagus Warsono


Nyemplung kali Banger


Musim ketiga kali asat isine endut

Iwak akeh kurang banyu ora dipangan

Kali Banger ora mili

Pancing pedot

Kecangkol baro

Lundu cilik arane keting

Sembilang gigire abang

Kali Banger nunggu udan

Jembatan tugel

Iwak blanak golong-golong

Kali banger marani laut

Rabu, 13 Oktober 2021

Rg Bagus Warsono : Gugurnya Patih Celeng

 Gugurnya Patih Celeng




Tersebutlah kerajaan Manikmantaka,

Kerajaann bangsa rotadenawa bangsa butho.

Raja Manikmantaka bernama Prabu Niwatakawaca ingin mempersunting Dewi Supraba.

Dewi Supraba tak kuasa menolak asal mendapat ijin ayahnya, Begawan Ciptaning, yang tengah bertapa di gua Mintaraga dalam hutan Kaliangsa yang maha buas di pegunungan Indrakila.

Sang Prabu Niwatakawaca sudah kasmaran ingin segera Dewi Supraba bersanding di kerajaan.

Diutuslah Mamangmurka, patih terbaik Niwatakawaca

Patih sakti putra Patih Sakipu keturunan Giliwangsa

yang sakti mandraguna.

Mamangmurka bertus meminta restu Begawan Ciptaning, pertapa di gua Mintaraga.

Begawan Ciptaning tak mau menemui Mamangmurka

hutan Kaliangsa menjadi gelap gulita pegunungan Indrakila membentang tak berujung.

Gua Mintaraga tak akan ditemukannya.

Mamangmurka mengamuk dihutan gelap

pohon dan batu diobrak abrik

hutan rusak hewan berpencaran mencari selamat

Begawan Ciptaning yang tengah bertapa menjadi marah

dikutuknya Mamangmurka menjadi butho celeng

Melihat tubuhnya berganti celeng

Mamang murka semakin mengamuk merusak hutan

Akhirnya Begawan Ciptaning menghentikan amuk Mamangmurka dengan panah kalitawarna

Menancab di tubuh Mamangmurka.

(Rg Bagus Warsono)

Minggu, 10 Oktober 2021

Auf widersehen puisi indah Kurniawan Junaedhie

 Karya puisi indah Kurniawan Junaedi adalah Auf widersehen , sebuah judul Berbahasa Jerman yang artinya Selamat Tinggal. Auf widersehen pada tahun 1994 adalah sebuah drama seri radio BBC London terkenal yang terkenal juga di Indonesia. Mungkin puisi ini diilhami drama itu atau memang Auf wisersehen ini sebuah puisi dari imajenasinya Kurniawan Junaedi  sendiri.

Berikut puisi Auf widersehen karya Kurniawan Junaedhie itu:

Auf widersehen

Itukah engkau yang 

berdiri di seberang jalan

dengan tas di pangkuan 

yang melambaikan tangan?

Betapa pedih jiwa di badan

Rasanya ingin pergi saja aku 

Ke lain benua 

Jadi itukah engkau?

Jadi itukah engkau yang 

melambaikan tangan 

Sementara aku sendiri di dunia 

Berdiri sepi seperti tiang lampu 

Dimalam hari Sunyi

Digoyang angin yang dingin?

Pernahkah kau rasakan 

Apa artinya orang kehilangan makna?

Rasanya ingin pergi saja aku 

Ke sebuah dunia yang tak seorang pun

Bertanya tentang kabut

Atau anna matovani

Karena memikirkan tentang umur 

Dan hari depan mungkin tersa lebih bermartabat.

Juni 1994

Selasa, 21 September 2021

2 buku puisi K Kasdi WA

 




2 buku puisi bagus : Mata Sepi Mata Duri dan Luka Pandemi Luka Abadi untuk  literanesia.com  . Keduanya karya Kasdi Kelanis (K Kasdi WA). Mata Sepi Mata Duri, kumpulan Puisi K Kasdi WA, fiksi, sastra: puisi, diterbitkan oleh Teras Budaya Jakarta, Jakarta, 2021 cetakan pertama, ISBN 9786236244173 dan Luka Pandemi Luka Abadi, fiksi, sastra:puisi, diterbitkan oleh Yayasan Hari Puisi, Jakarta, cetakan pertama 2021, ISBN 9786025050282

Senin, 20 September 2021

Informasi Sastra: Setiasastranagari 30 Th Kesetiaan

 Informasi Sastra:

Data Penyair/Sastrawan yang bukti-bukti portofolio cukup yaitu: berupa portofolio klipping koran karyanya dan datanya berupa asli atau file /foto kegiatan dari tahun 1966 hingga tahun 31 Desember 2000 adalah Penyair/Sastrawan yang dipandang memiliki kesetiaan pada dunia sastra dan memiliki Dharma Bakti minimal 30 tahun terhadap Sastra Indonesia disebut sebagai Sastrawan dengan Setiasastranagari 30 Tahun Kesetiaan.

Data Sastrawan dengan Setiasastra 30 Tahun bukan merupakan seleksi atau penilaian tim atau juri atau lomba atau usulan komunitas tertentu tetapi atas dasar temuan pribadi kurator Lumbung Puisi (Rg Bagus Warsono) yang didapat dari membaca, klipping puisi atau kiriman pembuktian yang dapat dipertanggungjawabkan.

Data Sastrawan dengan Setiasastra 30 Tahun adalah kesetian seseorang dalam pengabdiannya dalam dunia sastra yang diwujudkan dengan karya sastra baik perorangan maupun bersama-sama. Dan daftar dari data Setia sastra ini berkembang setiap tahunnya sesuai dengan apa yang ditemukan dan telah dilampaui oleh generasi setelah itu (generasi berikutnya).

Usulan penambahan nama penyair, setelah diumumkan dalam buku, untuk sebutan Penyair dengan Kesetiaan Sastra 30th, yang ditemukan setelah diumumkan dan di pertanggungjawabkan , setelah data diumumkan akan diberikan pada tahun berikutnya.

Sebutan Penyair Setiasastra Nagari kemudian disebutkan pada buku Setiasastranagari 30 Th Kesetiaan yang akan terbit Desember 2021. Pengumuman Setiasastra nagari I akan diumumkan setelah buku terbit.

Bahwa kegiatan pendataan Setiasastranagari 30 Tahun Kesetiaan bersifat Dokumentasi Sastra.

Demikian Info disampaikan , terus menulis sastra dan tetap bersahabat.

Lumbung Puisi 20 September 2021

Salam Sastra,

Kurator Lumbung Puisi : Rg Bagus Warsono,

Dokumentasi Klipping/foto : Wawan Hamzah Arfan

Minggu, 29 Agustus 2021

"Kirab" kumpulan puisi karya Mas Bambang Widi Yogyakarta

 "Kirab" kumpulan puisi karya Bambang Widi Yogyakarta. Buku sastra apik dengan puisi-puisi berbobot. Mas Bambang Widiatmoko memang penulis yang tak pernah berhenti sejak muda. Ia termasuk penyair Sastra Koran sejak tahun 80-an dan Lumbung Puisi menyimpan banyak klipping sastra koran itu. Kirab diterbitkan oleh penerbit Interlude Yogyakarta pada Agustus 2021 yg merupakan cetakan pertama, dengan ISBN 978-623-6470-02-2, terdiri dari 58 puisi terbaru karyanya menyusul beberapa antologi yang sudah diterbitkan. Kirab akan  ditampilkan di literanesia.com malam ini. Selamat buat Mas Bambang Widiatmoko.



Sabtu, 28 Agustus 2021

KESABARAN MEMBUAHKAN KEBERHASILAN oleh Rg Bagus Warsonio

 KESABARAN MEMBUAHKAN KEBERHASILAN

Menjadi Penyair mengalami liku-liku perjalanannya tersendiri pada setiap jiwa-jiwa penyair. Menjadi penyair adalah panggilan hati, tetapi tak seindah yang dibayangkan, tak mudah yang diharapkan.

Khusus di Indonesia penyair dikebiri oleh hal pembaca, meski produk banyak tetapi pembaca belum maksimal sehingga harapan memetik diri sebagai penyair amatlah sulit.

Demikian penyair dengan kesabarannya dan ketekunannya (adalah proses panjang) akan dapat memetik keberhasilan. Karya lambat laun semakin bermutu dan apik sebagai seni. Nama pun kemudian terpahat dengan ukiran yang indah. Meski dalam hal vinansial provesi ini jauh dari harapoan namun berkat ketekunan dan kesabaran akan dipetik keberhasilan sebagai sastrawan Indonesia yang tercatat dalam sejarah karena karyanya yang bermutu dan banyak dibaca masyarakat. (rg Bagus Warsono 28-8-2021)

Mempertanggungjawabkan Bahwa Seseorang Adalah Sastrawan Sabut Mengenal Puisi Modern II

 Memberi pertanggungjawaban pada publik bahwa seseorang adalah Sastrawan tidak hanya membuat daftar, memuatnya dalam antologi bersama, atau keterlibatannya dalam suatu peristiwa, tetapi yg lebih penting adalah mempertanggungjawabkannya dengan menunjukan karya bermutu dengan kritik dan telaah sebagai dasar seseorang adalah penyair.

Penyair adalah penulis sastra dengan jiwa seni yang tersendiri. Masing-masing kadang tak wajar dipandang dari kebiasaan . Ada saja penampilan beda pada dirinya dengan orang lain. Hingga terdapat penyair yang tak muncul gambarnya tetapi karyanya berserakan. Jadi pertanggungjawaban menyatakan seseorang adalah penyair bukan grafik kemunculannya tetapi atas karya bermutu. Kurator yang baik tidak melihat seseorang itu telah dikenal atau dikenal dalam wilayah lokal, regional atau nasional. Pandangan kepopulairan nama penyair besar atau kecil, tak dikenal atau telah mancanegara tak menjadi pengaruh untuk sebuah pertanggungjawaban. Sebab saatnya Indonesia menampilkan kejujuran dan tidak asal tetapi sungguh-sungguh sesuatu yang dipertanggungjawabkan

(Rg Bagus Warsono, kurator di Lumbung Puisi)

Jumat, 27 Agustus 2021

T oleh Wawan Hamzah Arfan

 T oleh Wawan Hamzah Arfan 


Thema "T' untuk sebuah Antologi Puisi yang digagas oleh RgBagus Warsono merupakan gagasan yang belum pernah ada di dunia, kecuali di Lumbung Puisi. Sungguh luar biasa, di masa pandemi ini, seorang RgBagus Warsono mampu melahirkan ide gila yang benar-benar di luar dugaan, justru disambut gila-gilaan oleh para penyair Indonesia dari yang ABG sampai lansia. Gilanya lagi, ko bisa pas dengan situasi politik di Afganistan, yang kini dikuasi oleh kelompok berinisial "T" yaitu TALIBAN.

Dengan kata lain, kehadiran Antologi Puisi "T", sebuah gebrakan baru dalam sejarah perpuisian Indonesia, sekaligus perpuisian Dunia. Sebuah Antologi Puisi terunik dan tergila. Selamat buat sastrawan RgBagus Warsono, yang berani meluncurkan ide gilanya dan tidak takut orang menilainya apa. Salam kreatif dari Cirebon.


Puisi “T” di Ujung Pandemi oleh Rg Bagus warsono

 Puisi “T” di Ujung Pandemi


T itu juga angin Timur. Angin timur sejak doeloe adalah keberuntungan. Pada masa musim angin timur, wabah segala penyakit tersapu angin menuju samudra Hindia dan di sana akan tertelan ombak. Corona akan menjerit ketakutan manakala baru terbawa angin sampai laut Ujung Kulon. Dan akan masuk pusaran gelombang samudra Hindia yang ganas.

Corona tak mungkin bersemanyam di laut Kidul karena memang sudah diusir oleh penunggu Laut Kidul. Mereka juga tak mungkin tinggal di laut Jawa karena akan ditangkap nelayan. Corona takut kalau melihat jaring penangkap ikan.

Angin T (angin Timur) membuat cuaca malam hari dingin sejuk di daerah tropis. Bunga-bunga pepohonan pun mulai tumbuh menjadi pentil-pentil buah. Serangga penghantar serbuk sari menari setiap hari , sebuah kegembiraan alam.

Di ujung pandemi itu Corona akan membabi buta. Mengamuk sekan marah terusir. Ia akan meninggalkan bekas. Tak hanya nyawa-nyawa manusia tetapi juga sejarah yang mengenaskan.

Dan Penyair-penyair Indonesia mencatat peristiwa ini. Sebagai sebuat peristiwa sejarah alam Nusantara yang memiliki aneka dampak dari corona. Kesengsaraan rakyat, Kematian dan orang-orang yang mengambil kesempatan adanya corona.

Pada masa ini rakyat tak lagi mengindahkan adat. Orang Mati pun dikubur bagai bangkai binatang! Pada masa ini para ‘dukun (ahli kedokteran) menjadi dewa. Pada masa ini generasi muda menjadi T (tolol) karena tidak belajar , bahkan ketololan pun terlihat pada mereka yang tengah menempuh pendidikan tinggi.

Jika Pemerintah menghitung korban corona, jumlahnya akan slalu menunjukan perbedaan dengan keadaan sebenarnya. Karena hari ini ditulis jumlah korban hari ini juga ada orang menangis kehilangan orang tua, saudara dan sahabat. Saat ditulis jumlah kematian itu saat itu juga terjadi peristiwa kematian dimana-mana.

Data yang sebernya ada di tangan-tangan penyair Indonesia. Ia mencatat sejak wabah itu masuk ke negeri ini. Penyair di seluruh penjuru negeri mencatat peristiwa ini di daerahnya. Aneka peristiwa kesengsaaraan rakyat.

Namun hidup itu harus optimisme, sebab kakek kita mengajarkan bukan ‘hidup untuk makan tetapi ‘makan utuk hidup.

Dimasa pandemi tak ada nikmatnya minum kopi. Semua suasana adalah kecemasan. Bahkan makan enak pun selalu diiringi kabar duka. Sehingga lidah menjadi hampa rasa dan tetnggorokan menolak masukan, lalu lambung hanya berisi angin.

Obrolan di keluarga adalah kabar duka. Sedang manusia sehat terdapat dua golongan saat pandemi melanda. Yaitu golongan yang percaya adanya corona dan golongan yang tidak percaya adalanya corona.

Yang percaya corona hidup dengan waspada dan sebagian serba ketakutan. Sedang yang tidak percaya hidup seakan mumpung.

Beruntung kita hidup di negeri makmur, 2 tahun berjalan corona bersemayam, kita masih bertahan. Tak terdengar rakyat kelaparan justru yang semarak adalah demo dan demo aneka ragam. Sebuah T dalam masyarakat kita.

Begitu subuh tiba, betapa setiap hari terdengar pengumuman duka di setiap mushola. Seakan bersahut-sahutan antara mushola/masjid yang satu dengan mushola/masjid desa tetangga.

Akhirnya penyebab kematian corona dan bukan corona sama yaitu oleh corona. Karena memang di musim corona. Ibaratnya kecelakaan maut lalulintas saja boleh disebut corona.

Di sudut lain di rumah-rumah kecil terdengar doa. Rumah-rumah yang berdoa itu begitu banyak sehingga hapir seluruh Indonesia berdoa agar corona cepat pergi dari negeri ini. Allah maha mendengar, dan punya rencana. Maha pengasih dan punya kehendak. (03-07-21 Rg Bagus Warsono)


Rabu, 04 Agustus 2021

Ulasan Tentang Menulis Satu Puisi Ditulis Bersama/Bareng-bareng: Oleh : Wardjito Soeharso

 Ulasan Tentang Menulis Satu Puisi Ditulis Bersama/Bareng-bareng:

Oleh : Wardjito Soeharso


Menulis Satu Puisi Ditulis Bersama, Ide yang menarik. Tetapi melihat hasilnya, aku pikir kurang efektif. Puisi itu harus padat. Diksinya tajam. Mengundang multi interpretasi. Dari awal hingga akhir kata-katanya mengalir membangun image yang kuat makna tematik yang disampaikan penyairnya.

Dari praktik yang sudah dilakukan ini, setiap penyair menulis satu baris. Setiap penyair mencoba menyambung atau meneruskan bangunan imaginasi ke arah mana makna tematik yang diharapkan oleh penyair sejak baris pertama. Tentu ini pekerjaan yang tidak mudah, untuk mengatakan mungkin malah terlalu sulit. Dari sisi makna ternyata bisa nyambung. Tetapi dari sisi kepadatan puisi, aku melihat tidak berhasil. Banyak diksi yang sejenis terus diulang-ulang. Akhirnya, kesan yang muncul sejak baris pertama sampai terakhir makna tematik itu tidak makin meruncing menajam, tetapi terus saja sejajar seperti rel kereta yang tidak pernah bertemu sampai ke ujung batasnya. Bahkan, terbukti, puisi hasil kolaborasi ini sama sekali tidak bersentuhan dengan judul. Bersentuhan saja tidak. Apalagi nyambung.

Mungkin, membaca satu baris dan meneruskannya ke baris berikutnya memang belum cukup memberikan gambaran pada penyair berikutnya ke arah mana puisi ini sebaiknya menuju dan berakhir. Akibatnya, tak ada bait di sana. Penyair berikutnya tidak tahu, satu ide atau gagasan seperti apa yang harus dimunculkan dalam bentuk satu bait dari puisi itu.

Jadi, menurutku, eksperimen pertama ini boleh disebut gagal. Hehehe...

Maka, boleh dicoba eksperimen berikutnya. Setiap penyair tidak menulis satu baris, tetapi menulis satu bait. Kayaknya dengan menulis satu bait, penyair berikutnya sudah punya gambaran cukup jelas makna tematik yang ditawarkan penyair sebelumnya.

berikut hasil uji coba pada 4 Agustus 2021:



Kisah Rafael Calon Bintara

//......../

23). Secepat kering tetesan air mata di Merah-putihmu.

24). Tak henti menangis dia meraup kain.

25). Dan Dwi-warna itu basah bercampur peluh.

26) peluh yang membersih tekad melarung semangat

27) semuanya kering di badan

28). Lalu di ciumnya sang merah putih dengan tetesan gerimis di gunung pipinya yang basah

29). Sang bunda menangis bahagia melihat sinar kehidupan di mata anaknya

30)ketika merah putih berkibar mengabarkan kemerdekaan ini

31) Langit pun gegap-gempita menyambut kibarannya

31) pada setiap perjalanan ada bianglala yang akan menjadikanmu pribadi yang tangguh

32) Ku lepas anak panah harapan, untuk negeri tercinta ini tetap terjaga.




Pendapat Mas Wardjito Soeharso ini harus dipertimbangkan beberapa permasalahan sbb:

1.Permasalahannya pesertanya bisa mencapai 100 penyair, yang menyatakan siap hampir 100 penyair, apakah tidak kepanjangan jika tiap penyair 1 bait atau baitnya dibatasi 2 baris?

2.Jika setiap penyair satu bait bisa saja tetapi harus ada bait-bait yang menjadi kepala bait untuk ditaruh di atas agar yang memberi masukan bait dalam komentar dapat lebih memahami kesatuan puisi.

3.Satu lagi permasalahan akan muncul yaitu pada penggalian ide dan tingkat berfikir penyair yg tidak sama yang kadang datang dari inspirasi. Tetapi bantuan Judul sebetulnya sudah dapat dipahami jika penyair itu telah profesional.

Silahkan yang lain berpendapat.


Kamis, 22 Juli 2021

Wandi Julhandi Terima kasih untuk semuanya; Wawan Hamzah Arfan TANPA BATAS LOGIKA : buat RgBagus Warsono; Wardjito Soeharso T

 W

Wandi Julhandi


Terima kasih untuk semuanya


Yang engakau berikan kepadaku

Terima kasih atas segala-galanya

hingga diriku ini menjadi seperti sekaran

Terima kasih banyak wahai engkau yang berbaik hati

Terima kasih sekali lagi wahai engkau yang berhati malaikat

Terima kasih dan terima kasih pada kita akan bisa mempercayai diri yang gelap ini

Terima kasih wahai engkau yang mendatangkan kepadaku sinar cahaya itu Hingga diri ini bisa menjadi bersinar dari tempat yang gelap menjadi cahaya

Yang terang dari tempat kegelapan itu 

Makassar, 26062021














Wandi Julhandi


TAK KUDUGA


Tak kuduga ada dia, dalam diam aku bertanya kepadanya

Tidakka kau lihat disini aku lagi sibuk bekerja 

Tak bisakah engkau bersabar dirumah kita

Tiada kata yang harus disampaikan dan sampaikanlah kepadaku sekarang juga


Tetesan keringat yang keluar dariku adalah bukti baktiku untuk kita semua

Tiada rasakah dirimu disana

Terdiam aku terdiam semoga perjuanganku membawa berkah dan rahmad ilahi rabb

Tampa kendek-Nyalah semua bisa menjadi nyata

Makassar, 25062021



















Wardjito Soeharso


T

Tik tik tik rintik gerimis di tengah malam sepi gelap mata nyalang menunggu cahaya mesti cuma sekerjap kilat agar aku tahu bentuk dan rupa wajahmu sekian lama sembunyi dari teka teki tak pernah mampu kujawab memaknai konfigurasi bayangan di balik lembab kaca jendela terlimpas embun. 

Tok tok tok halus ketukan dari balik pintu terkunci rapat bagaimana aku membuka sementara kunci tergantung jadi bandul kalung tak pernah lepas dari lehermu begitu jenjang dan serasi dengan belah dada menggairahkan remaja lelaki baru kenal birahi sedang aku hanya lelaki tua rambut beruban punggung bungkuk tak berdaya penuhi segala ingin dan angan?

Tuk tuk tuk ketak ketuk harmoni irama entah maju mundur entah naik turun siapa peduli sedang merangkak naik ke puncak bukit mencari telaga pelepas dahaga menyelam ke dasar sentuh naluri purba janjikan lena di penghujung malam tinggal sepengunyah buah larangan sedang kaki berpijak batu-batu rompal berguguran memaksa harap menunda hasrat sejenak menjejak terbang melayang.

Tek tek tek jangan bangunkan ular tidur karena kenyang setelah melepas bisa merasuki nadi-nadi darah bekukan jantung merobek paru membunuh peselingkuh merayu anak tirinya sendiri sedang bapaknya di luar sana bermain api membakar hasrat wanita malam berkeliaran tanpa pakaian dalam ada ular melingkar pinggang ramping di balik gaunnya.

Tak tak tak hidup tak pernah mudah jalanan begitu terjal kerikil tajam menghadang kaki memberi luka nyeri menyengat dada membuta mata menuli telinga membebal rasa setiap langkah tinggalkan hanya aroma bunga kamboja jatuh tergolek tak berdaya di tanah basah. 

T...tutup mulutmu!

27.06.2021

Tatitutetot

Tat

Tatat

Tat tatat tat 

Tit

Titit

Tit titit tit

Tut

Tutut

Tut tutut tut

Tet

Tetet

Tet tetet tet

Tot

Totot

Tot totot tot

Tat tatat tat tak usah dicari maknanya

Tit titit tit tak mesti diintip isinya

Tut tutut tut tak perlu diburu maksudnya

Tet tetet tet tak remeh diseret arahnya

Tot totot tot tak elok disebut rasanya

Tatitutetot

Memang hanya harmoni bunyi!

27.06.2021





Wawan Hamzah Arfan


TANPA BATAS LOGIKA

: buat RgBagus Warsono


Tak tahu dari mana harus kumulai

Tentang tema yang kau tawarkan Tampak begitu mistis

Terlalu jauh dari jangkauan mimpi

Terlebih dalam menggali inspirasi

Tenggelam di kedalaman imaji


Tapi, kuakui sensasi gilamu

Telah menjadi kekhasan

Terunik dan nyeleneh

Terpatri dalam jiwamu

Tanpa batas logika

Tumpah dalam gairah kata-kata.

Cirebon, Juli 2021


















TANDA MATA SEBUAH KEMERDEKAAN DI MASA PANDEMI


Tujuh puluh enam tahun sudah

Tanah air merdeka

Tetap saja begini

Terjajah

Terbelenggu

Terpuruk

Tertimbun sampah

Tumpukan sisa bahan bekas hutang


Tapi gilanya


Tanah yang aku pijak ini

Tak ada beban

Tenang saja melangkahi derita

Terus tancap gas

Tangguh walau tak bisa bayar cicilan

Tumbuh kembang pengangguran

Terlalu asyik gali lubang

Tanpa pernah tutup lubang.

Cirebon, Juli 2021














TAK TAHU AKU


Tak tahu aku harus bagaimana

Tak ada yang bisa aku tawarkan

Tak ada yang bisa aku banggakan

Tak ada kata yang bisa aku rangkai

Tentang kerinduan yang tak bertepi

Tentang ketulusan yang tak berarti

Tentang mimpi yang tak kembali


Tapi aku masih punya nyali

Tenang dan penuh keyakinan

Tanpa ada goresan luka kata-kata

Tanpa ada nada sinis yang mengiris

Tak akan kubiarkan inspirasi

Tumbang diambang kebimbangan

Tak peduli suasana pandemi

Telah meluluhlantakkan nurani.

Cirebon, Juli 2021


Tarni Kasanpawiro T

 T

 Tarni Kasanpawiro


T

Telur tanpa tetas

Terinjak terompah 

Tak tercegah tersia

Terlupa tanpa tanda


Tangis tersedu 

Terpisah tiada temu

Tubuh terpanggang tungku

Tanpa tirai tanpa tandu


Terlanjur tunduk patuh

Tak tahu telah tertipu

Tergoda tatapan teduh

Ternyata tukang teluh


Tetaplah teguh 

Tolak tangkis tinju

Tangguhlah tangguh

Tunaikan tugasmu


Tertera tanda

Telapak tangan terbaca

Tabir telah terbuka 

Teruslah tabah

Tunggu T tiba

Cibitung, 22 Juni 2021




Tarni Kasanpawiro


BERMAIN KATA


ada yang asyik bermain kata

tak peduli hasrat terus meminta

ditepisnya segala rasa dengan tawa

hingga lupa hari semakin senja

isyarat tak mampu menyapa


ada yang asyik bermain kata

bocah-bocah setengah manula

turut memainkan semua aksara

menjadi imaji liar tanpa cegah

berlompatan dengan indahnya


ada yang asyik bermain kata

sampai tak melihat ada kecoa

habiskan sisa nasi di piringnya

sambil mencibir dasar manusia

suka mentertawakan dirinya


ada yang asyik bermain kata

sambil menggoyangkan kakinya

tak pusingkan dompet terbuka

dan angka-angka entah di mana

bodo amatlah katanya


ada yang asyik bermain kata

hingga tak mendengar suara

memanggil-manggil namanya

dari dalam perut anak-anaknya

cacing-cacing meminta jatah


ada yang asyik bermain kata

meski sadar yang dilakukannya

tak bisa membuatnya jadi kaya

ha ha hi hi yang penting bahagia

tak kesepian banyak temannya


ada yang asyik bermain kata

sambil menghisap angannya

agar tak terbang mengangkasa

karena hanya itu yang dia punya

teman yang paling setia


ada yang asyik bermain kata

sambil sesekali garuk kepala

sepertinya ada yang dia lupa

tungku di dapur tak lagi menyala

api pergi meninggalkannya


ada yang asyik bermain kata

dikumpulkannya semua aksara

berharap pasar mau menerima

bersaing dengan sembako murah

bawang cabe dan juga rempah


dari kamar sebelah ada suara

bukan tangisan ataupun tawa

sepertinya dia mengenalnya

tapi kini dia benar-benar lupa

mungkinkah itu anak-anaknya


tiba-tiba semuanya gelap gulita

malam telah tiba tapi dia terlupa

listrik di rumah kehabisan daya

aksara seakan menampar dirinya

banyak cinta yang mestinya dia jaga

Cibitung, 26 Juni 2021



Tarni Kasanpawiro




TITIK SETELAH KOMA


tiba-tiba semua berubah

yang dekat harus berjauhan

yang pergi tak lagi bisa pulang

hanya bisa lambaikan tangan

dengan airmata berlinangan


peraturan bukan lagi pedoman

yang dilarang malah dibolehkan

yang tadinya boleh jadi dilarang

banyak yang melanggar kewajiban

semata demi keselamatan

lalu hilanglah kebiasaan


ada yang patuh pada anjuran

ada yang bodo amat tak mendengar

dianggapnya sebuah kebohongan

sampai akhirnya datang teguran

dan menyesallah kemudian


datanglah kabar kepulangan

sebagaimana awan menjelma hujan

tak tercegah menderas berjatuhan

tanpa payung di genggaman

tangan kehilangan pegangan

menggigil gemetaran


menjebol dinding keangkuhan

melihat orang lain terbaring lemah

tak berdaya saat titik mulai berubah

menjadi garis panjang setelah koma

tanpa pendamping di sisinya

seakan tak memiliki cinta


semua menjauh palingkan muka

dalam hatinya merasakan derita

tak bisa ucapkan sepatah kata

selain tundukkan kepala pasrah

dalam keterbatasan dia berdo'a

segeralah membaik oh semesta


Cibitung, 05 Juli 2021

Tarni Kasanpawiro


Tarni Kasanpawiro

Lahir di Kebumen 01 Desember 1971

Beberapa puisinya tergabung dalam antologi bersama "Pinangan(Dapur Sastra Jakarta) , Mendekap Langit(Gempita Biostory) dan Puisi Menolak Korupsi jilid 2 dan jilid 8. Saat ini aktif di group Lumbung Puisi asuhan RgBagus Warsono dan beberapa kali ikut antologi bersama". Tinggal di Sebelah kanan SMPIT Daarussalam. Perumahan Cluster Permata Taman Wanasari Indah Blok B No 09 Rt 02 Rw 08 Kel. Wanasari Kec. Cibitung Bekasi Jawa Barat Kode Pos 17520




Setyo Widodo SURUT BERSAMA REDUP LENTERA; Sulistyo Sore Ini Masih Hujan

 S

Setyo Widodo


SURUT BERSAMA REDUP LENTERA

: DON

Aroma bubur kacang ijo di sudut Mahatani

kembali menyengat. Rasa yang manis menjadi hambar pada tegukan terakhir. Di punggung kimia

organik kita berbagi roti tawar

tidak setangkup tapi selembar,

pengganjal ketegangan yang akan menemani

praktikum titrasi

Don, setiap bercengkerama engkau

selalu menyanggah

aku marah

engkau mengalah

begitu yang berlaku. Katamu, sebaik itu

toh karmaku tak aku tahu.

Don, kereta pasti berhenti terparkir di ujung jalan masing-masing, tanpa kusir

tak ada yang sanggup mengusir

namun yang kini terjadi, kereta itu

berlompatan dan zigzag menjemput yang tak terkira

Kau sering menjadi lentera. Sering tetiba menyala, lalu tak kaujaga

membiarkan yang ada membaca bait-baitNya

Seperti yang kali ini

aroma kacang ijo menari-nari di lorong

kimia. Lalu surut bersama redup lentera

dengan lenggang ringan kau menapaki

lorongnya menuju kereta

Bogor 05 Juli 2021/07.59AM


Sulistyo 


Ada Cerita Apa Pagi Ini?


ada cerita apa pagi ini?

hujan belum berhenti 

dan kau menungguku 

melanjutkan cerita yang terpenggal dini hari tadi 

kekasihmu pergi menitipkan satu sloki air mata untuk kau nikmati saat rindumu tak terbendung esok nanti 


tak ada cerita pagi ini

tak usah kuceritakan tentang puisiku yang lama hilang tersesat labirin pagi 

ia pergi dan tak ada kenangan yang perlu disesali 

biarkan ia menyudahi episode hari-hari tanpa harus berkemas menyiapkan alas kaki 


ya, cukup sampai di sini 

tak ada cerita pagi ini 

(19.06.2021)














Sulistyo 


Sore Ini Masih Hujan


aku tak bisa mengunjungimu, sayang 

sore ini hujan deras dan angin kencang 

tunggu sampai tengah malam 

mungkin tak ada lagi hujan 

aku akan datang diam-diam menyusup jendela kamar 

tunggu aku jangan pejamkan matamu dulu 

akan kuajak kau bertamasya mengelilingi bulan bundar dan bercilukba di kerlip bintang-bintang


(23.06.2021)




Sulistyo , Lahir dan besar di Kudus. Menyukai apapun tentang seni dan sastra. Puisi-puisinya tergabung di beberapa antologi bersama dan beberapa antologi tunggal.








Suyanik


T

 

Tanpamu

Tampan itu rupamu

Terhanyut aku dalam melodi cintamu

Terkekang dalam jaringan nadimu

Terkenang bagaimana kau

Tampakkak cakar-cakarmu menguasai

Terbabat habis menggelanggang jatuh

Tidakkah kau ingat

Tatkala kau lumatkan dinding-dinding pembatas dengan rayu dan cumbumu atas nama cinta

Terjatuh dalam pelukan asmara yang kau terabas pembatas tanpa mengenal pantas

Terasa hanya kau dan aku tiada lainnya

Tersadar apa yang kau lakukan?

Teriak!

Tidak!

Terbungkam rapi karena nama baik

Tidakkah kau ingat lagi itu, bagaimana perjuanganmu untuk.mendapatkanku hingga akhirnya aku ....

Terjatuh begitu dalam

Terperosok pada ikatan cinta terlarang

Tanpamu lagi

Gresik, 26 Juni 2021



Nanik Utarini TUHAN, TERIMALAH TAUBATKU

 N

Nanik Utarini


TUHAN, TERIMALAH TAUBATKU


Tuhan, Rabb penguasa nabastala raya

Takdir yang telah Engkau gariskan pada setiap makhlukMu adalah kebaikan bagi semua

Tetapi seringkali kami mengingkari atau bahkan menggugatnya

Terbentang luas bukti kasih dan sayangMu, tetap saja kami sering tak menyadarinya


Tuhan, Rabb penentu luas dan dalamnya samudera

Tergelincirnya matahari yang berganti malam, dengan hiasan gemintang dan rembulan adalah wujud nyata KuasaMu

Tetapi kami sering tenggelam dalam pekatnya noda, hingga lupa menyadiri beribu tanda keAgunganMu

Terjalnya harapan membuat kami sering terjerembab dalam kufur nikmat


Tuhan, Rabb semesta alam

Terimakasih atas segala nikmat dan karunia yang telah Engkau berikan pada kami

Taqwa kami tak seberapa, namun Engkau tetap melimpahkan segalanya bagi kami

Terimalah taubatku dan ampunilah dosaku yang menghitam





Nanik Utarini

Makna T


T adalah Tuhan penentu segalanya

Terbit dan tenggelanya matahari adalah bukti atas segala KuasaNya

Terlahir atau kematian manusia adalah bukti nyata keberadaanNya

Tercipta dan musnahnya Dunia ada dalam genggamanNya


T adalah Teman, yaitu seseorang yang selalu mengingatkan dan menguatkan bagaimanapun keadaan kita

Teman terbaik bukanlah teman yang selalu mendukung kita, tetapi ia juga harus mengkritik saat kita berlaku salah 

Tetap ada saat  kita tertawa bahagia atau saat kita menangis sedih

Tetaplah jadi teman terbaik dalam hidup kita


T adalah Tabah, berusah tabah dalam setiap ujian dan hambatan

Tantangan yang seringkali menghadang, hendaknya kita sikapi dengan lapang dada

Terus berusaha sekuat tenaga seolah-olah engkau hidup selamanya

Tak boleh menyerah dan pasrah pada keadaan, hingga kita raih kesuksesan


T adalah Tulus, berusaha bersikap tulus pada semua 

Tidak pernah tebang pilih dalam menolong dan peduli pada sesama

Terus mengasah kepekaan terhadap semua manusia

Terwujudnya masyarakat yang damai aman dan sejahtera


T adalah Terserah, Terserah mau diartikan apa?

Terserah mau dimaknai apa?

Terserah mau dirangkai menjadi apa?

Terserah alias karepmu dewe ya!

Jambi, 28 Juni 2021