TEKS SULUH


Minggu, 09 Desember 2012

HAMBALANG , PROYEK NASIONAL YANG DIKORUPSI



                           ANAKKU HAMBALANG LAHIR DARI RAHIM REFORMASI 


Proyek trilyunan rupiah
mercu suar 
pamer 
dalih peningkatan prestasi olahraga
percuma diresmikan 
jika rakyat menangis 
karena taat  membayar pajak
setuju karena bangga terhadap negerinya 
karena kita tertinggal
namun tega-teganya manusia bermuka dua
tampak manis muka dan bicara
janji menjadi pemimpin budiman
mukanya yang kini aseli tampak 
kotor, bau busuk, menyeramkan, keji, dan raja tega
dia Dursasana Astina
penyayat daging rakyat
pemakan hati rakyat
peminum darah rakyat
Dulu janji jika dipilih mau jujur, benar, menuruti perundangan, mengemban amanat rakyat, dan menjadi patriot negara. Namun hati tujuan lain. Ingin kaya bak nabi Sulaiman, ingin berkuasa bak Fir'aon, ingin marajai dengan harta.
Dia pura-pura dungu
pura-pura bodoh
pura-pura buta.
Ia belut putih yang gampang lolos dari tangkapan, dan mungkin bisa menghilang.
Semoga doa rakyat Indonesia dikabul
mereka diberi amanah pada jalan yang benar
atau dilaknat Allah.

Kamis, 29 November 2012

PUISI : Raskin



BERAS MISKIN DIKORUPSI KECIL-KECILAN DI TIAP DAERAH

Agus Warsono


RASKIN ,
JANGAN........
KWALITASNYA DITURUNKAN
BELANJANYA DICARI DARI NEGARA PRODUSEN YANG MAU MURAH
SAMPAI GUDANG DITUKAR 
DI PERJALANAN DITURUNKAN 
DICEK, DISOGOK TESTER BERULANG-ULANG, 
SEHINGGA BERAT SEKARUNG BERKURANG
DIDESA TUJUAN DIJUAL
DITUKAR KEMBALI DENGAN YANG BURUK
LALU SI MISKIN ADALAH KERABAT APARAT DESA
KEMUDIAN ADA BAYAR UNTUK UPAH ANGKUT
ADA BAYAR UNTUK KARTU MISKIN
ADA BAYAR UNTUK KARTU PENGAMBILAN
LALU ADA PENADAH 
DAN LEBIH GILA DIMASUKAN LAGI KEGUDANG
JANGANLAH DEMIKIAN.............

TUAN 
BERI SAUDARA KITA KEBAHAGIAAN ..........

Senin, 26 November 2012

Pertemuan Pengarang Indonesia di Makasar 24 Nofember 2012



Dua seniman Kebanggaan Tegal diundang ke Pertemuan Pengarang Indonesia di Makasar. Pernyataan ini sebagaimana disampaikan Bapak Ketua DPRD Kabupaten Tegal H. Rojikin AH.SH. di kediamannya 23 Nopember kemarin. “Dyah Setyowati dan Nurochman eksistensinya memang tidak perlu diragukan. Dalam penilaian kami selama tiga tahun ini sangat jelas eksistensinya bahkan kiprah dan karyanya. 



Lebih lanjut Rojikin menuturkan perihal pasangan seniman budayawan kebanggan tegal itu seringkali terlihat tampil dalam berbagai acara baik saat menjadi juri lomba baca puisi, work shop teater, bahkan di acara hajatan teman sebagai seniman mereka selalu tampil tidak pandang ada dana maupun tidak. Di berbagai media pun mereka kerap nampak baik karya puisinya maupun pemberitaan pentas mereka di luar kota maupun di sekitar daerahnya sendiri. “mereka pasangan seniman yang produktif, hampir tidak pernah terdengar isyue negatifnya. Kami melihat sendiri di sanggar dan di beberapa even kesenian dan laporan rutinnya setiap memperoleh undangan lawatan ke berbagai kota di Indonesi. Bahkan saya yakin keduanya tahun depan berhasil merealisasikan harapannya untuk pentas keliling di berbagai kota seni budaya di tingkat internasional. Apalagi Mas Nurochman tidak Cuma pinter ndalang cerita dia piawai memanfaatkan Idenya Dyah Setyawati melukis ikan-ikan mahal pembawa berkah seperti kakap, arwana dan koi. Kiprah mereka sudah barang tentu ikut menopang pembangunanseni budaya di Tegal ,” ujarnya. 


Pernyataan yang sama juga dituturkan Kapolres Tegal AKBP Nelson P. Purba, ia menyebut pasangan seniman yang bersanggar di Pangkah Sabrang itu seniman yang luar biasa. “Bayangkan saja oleh anda; mereka tanpa dukungan APBD siap bekerjasama dingan pihak lain termasuk dengan Polres Tegal. Contohnya saja sewaktu HUT Polri 1 Juli lalu, Saya sudah barangtentu memberikan penghargaan berupa Plakat “Pngabdian Terbaik” dari Resor Tegal atas inisiatifnya menggelar Sendratari “Tumandhange Sinatria Bhayangkara” di Lapangan Kali Bliruk yang disutradarai Mas Nurochmn dan Mbak Dyah Setyawati,” ujarnya.
Sementara itu secara terpisah Dyah Setyawati dan Nurochman membenarkan diundangnya mereka ke acara Pertemuan Pengarang Indonesia (PPI) di Makasar 25-227 November ini. Dari surat undangan yang ditunjukkan pad a Radar Tegal, mereka berdua terpilih dianatara 71 pengarang Indonesia yang diundang oleh Mendikbud dan dibuka oleh Wakil Presiden Budiono . “Kami bangga karena saat ini kan jumlah Pengarang di Indonesia sudah ribuan, tak disangka kami termasuk yang diundang sekaligus bisa tampil pentas di hadapan presiden dan mentrin Pendidikan dan kebudayaan Indonesia, apa nggak beruntung itu?” Ujarnya bangga. 


Berdasarkan randon di undangan pasangan seniman Tegal ini tidak hanya bakal ikut musyawarah masa depan kepengarangan Indonesia tetapi juga akan tampil di hadapan Presiden, Menteri dan 71 pengarang Indonesia di acara pembukaan. “Ciri khas pembacaan puisi kami disetiap pentas kan selalu mencari bentuk baru yang tidak lupa juga mengangkat akar tradisi masyarakat Pantura. Mas nur di kenal dengan dalang tutur dengan sulukan gaya panturanya memberi kekuatan baru pembacaan puisi kami yang bertajuk Pentas Sastra Kiseran atau pembacaan Puisi wayangan. Adapun wayang sebagai media pentas kami memang selalu berganti. Kadang wayang kulit, wayang golek hadiah dari mas Entus Susmono, wayang kertas, wayang tutus dan kini wayang Parsek, pari dan gesek” tutur Dyah Setyawati. 


Dijelaskan oleh Nurochman perihal wayang Parseknya dibuat sendiri dan itu merupakan simbol kebanggaan kekayaan masyarakat Agraris dan masyarakat Maritim atau berbaurnya masyarakat Tani dan Nelayan Tegal untuk Indonesia. Adapun gagasan pementasan pembacan puisi yang dibawakan secara berdua ini diakui telah dirintis sejak tahun 2010 lalu. Berikutnya nama kedua seniman ini semakin merembak setelah berkali diundang dalam berbagai acara baik di Surabaya, Bojonegoro, Pati, Ngawi, Taman Budaya Solo, Semarang, Taman Ismail Marjuki Jakarta, bahkan tahun kemarin 5 kali diundang pentas di Yogyakarta 3 diantaranya di Taman Budaya Yogyakarta, selain di kotanya sendiri Tegal, Pemalang, Brebes dan Slawi.
Yang patut dibanggakan pula jadwal pentas kedua seniman Tegal ini sepulang dari Makasar akan tampil di Galery Nasional Gambir Jakarta pada tanggal 1 Desember. Mereka akan menggelar Lakon “Sedulur Papat, Lima Pancer” cerita gambaring perjalanan manusia lahir, hingga hidup di masa kanak dan dewasa terus mencari jati diri dan kemudian mencapai puncak kesejatian hidup untuk masyarakat, diri dan tuhannya. Konon pentas di GARNAS nanti selain bakal ditata panggungnya dengan nuansa artistik khas pesisir Tegal, Tentu saja menampilkan pula beberapa lukisan khas Nurochman ikan-ikan laut “pembawa berkah” . Adapun musiknya akan digarap oleh Bintoro Agung seorang musisi muda yang dinilai piawai dalam menggarap musik pertunjukan di Kota Tegal.*** sumber teropong.com

Kamis, 08 November 2012

PAHLAWAN APA? KOK SEBUT PAHLAWAN?



Boleh jadi penghuni taman makam pahlawan kita bakal dihuni orang-orang yang bukan haknya sebagai pahlawan. Mengapa? Kategori siapa saja yang berhak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan tidak tertuang gdalam peraturan yang jelas dan memasyarakat. Tempat itu mungkin akan dihuni jasad orang-orang munafik, koruptor, bahkan penghianat negara.
   Meski di alam akherat Allah akan memilah mereka sesuai amal perbuatannya, namun salah memberikan gelar pahlawan nasional  menyesatkan sejarah anak  bangsa ini.
   Bagaimana  penetapan sebagai Pahlawan pada seseorang di era setelah kemerdekaan, atau era setelah proklamasi didengungkan, dan setelah Indonesia 50 tahun merdeka patut ditanyakan? sejauh mana kreteria penetapannya dan disebut pahlawan.
   Kemudian apa tataran apabila disebut pahlawan nasional. Maka apabila pemilihan pahlawan nasional atas dasar kepentingan berbagai macam, misalnya politis, keluarga penguasa, atau sekedar menghormati leluhur yang populair, maka bisa jadi akan meracuni masuarakat dan generasi mendatang. 

Selasa, 30 Oktober 2012

Rg Bagus Warsono profile

Rg Bagus Warsono (lahir di Tegal, Jawa Tengah, 29 Agustus 1965; umur 49 tahun) adalah sastrawan Indonesia. Menulis sejak bangku sekolah berupa puisi di Pikiran Rakyat edisi Cirebon, dan sejak tahun (1985) menulis puisi, cerita pendek, cerita anak, dan artikel di berbagai media massa di antara lain Majalah Gentra Pramuka, Bekal Pembina, Mingguan Pelajar, Pikiran Rakyat, Suara Karya, Binakop, Bhinneka Karya Winaya, Suara Guru, dan Suara Daerah. Buku puisinya antara lain Bunyikan Aksara Hatimu (1992), Jangan Jadi sastrawan , Indhi Publishing (2014), Jakarta Tak Mau Pindah (Indhie publishing, Jakarta 2014), Si Bung (Leutikaprio, Yogyakarta 2014), dan Mas Karebet (Sibuku Media, Yogyakarta, 2015). Selain sebagai menyair, dia mendirikan Himpunan Masyarakat Gemar Membaca.

Setamat SPG melanjutkan ke UTPGSD , kemudian ke STAI Salahudin di Jakarta, dan Mengambil Magister STIA Yappan Jakarta. Sambil menjadi Guru , dia menggeluti profesi sebagai jurnalis sejak tahun (1992), reporter Majalah Gentra Pramuka dan Hamdalah (1999), kegiatan reportasi di bawah organisasi profesi Persatuan Wartawan Indonesi (PWI) Cabang jawa Barat dan pengamat sinetron. Kini, Rg Bagus Warsono adalah pengasuh sanggar sastra Meronte Jarring di Indramayu yang didirikan 2011 dan coordinator Himpunan Masyarakat Gemar membaca (HMGM) sejak tahun 1992 yang berpusat di Indramayu. Sejak tahun 2014 dia adalah penggagas antologi Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia yang dikelolanya sejak 2013 untuk mendokumentasikan karya-karya penyair terkini dari seluruh Indonesi, kini telah menerbitkan jilid III yang diterbitkan oleh penerbit Sibuku Media, yogyakarta, tokoh lainnya dalam lumbung puisi adalah Sosiawan Leak, Wardjito Soeharso, Tomas Haryanto Soekiran, Hasan Bisri, BSC, Dyah Styawati, Ahmad RH zaid, dan Ali Arsy. Aktif sebagai penggagas, kurator, editor, sekaligus ikut membidani terbitnya buku Saksi Ibu Melihat Reformasi (2012). Rg Bagus Warsono tercatat kerap menyelenggarakan berbagai lomba baca/cipata puisi dan mengasuh remaja belajar sastra di sanggar Meronte Jaring

Karya antara lain:
1. Rumahku di Tepi Rel Kereta Api (Kumpulan cerpen anak 1992)

2. Menanti hari Esok (antologi puisi)
3. Mata Air (antologi puisi)

4. Bunyikan Aksara Hatimu (BAH) (antologi puisi) , Sibukumedia , Yogyakarta, 2014

5. Si Bung (Bung Karno) (antologi puisi), Leutikaprio, Yogyakarta 2013

6. Jangan Jadi Sastrawan , Indie Publising, Jakarta (2014)

7. Jakarta Tak Mau Pindah ,Indie Publising, Jakarta (2014)


8. Maskarebet , Sibukumedia, Yogyakarta 2014


9. Surau Kampung Gelatik, Sibukumedia , Yogyakarta 2015

10. Satu Keranjang Ikan , Sibuku Media Yogyakarta 2015

 Antologi bersama :

 .1.Puisi Menolak Korupsi (PMK II) (2013)

 2.Ensiklopedia Koruptor Puisi Menolak Korupsi (2014)

 3.Tifa Nusantara I (2013)

 4.Lumbung Puisi Jilid I (2014)

 5.Lumbung Puisi Jilid II (2014)


 6.Lumbung Puisi Jiloid III (2015)

 7.Surau Kampung Glatik (2015)



Cergam antara lain :

1. Laskar Wiradesa

2. Kopral dali

3. Pertempuran Heroik Di Ciwatu

4. Pertempuran Selawe

5. Si Jagur 

6. Panglima Indrajaya

7. Endang Dharma



Sabtu, 27 Oktober 2012

HARI SUMPAH PEMUDA DIPERINGATI, TAPI SEMANGAT PERUBAHAN TAK ADA, YANG SUDAH UJUR TETEP KEPINGIN DUDUK TERUS DI PUCUK PIMPINAN



MAKNA HARI SUMPAH PEMUDA 28 OKTOBER, PEMUDA KITA MASIH TERBELENGGU OLEH KESEMPATAN

masagus
Pada tahun 1928 Kongres Pemuda II di Jakarta berlangsung penuh semangat perubahan. Perubahan tentu dimulai dengan cita-cita, keinginan untuk merubah situasi yang kala itu masih terbelenggu penjajahan Belanda.
Di saat kongres Pemuda II yang menelorkan "Sumpah Pemuda " suatu keinginan "mimpi" para pemuda untuk menyatukan bahasa Nusantara, suku Nusantara, dan Budaya Nusantara menjadi Bangsa yang bersatu.
Ketika sumpah itu diucapkan pemuda saat itu, mereka tak tahu bahwa Indonesia merdeka 17 Agustus 1945.
Mereka tak juga meramalkan atau menentukan hari kapan Indonesia Merdeka. Namun cita-cita itu telah bersemayam di jiwa para pemuda. Suatu cita-cita yang sangat dasar sebagai kunci perubahan situasi saat itu.
Kini Setelah Indonesia 67 taun merdeka, justru makin terpuruk dengan apa yang dimaksud  Sumpah Pemuda itu.
Pemuda kita masih terbelenggu oleh kesempatan bahkan dibeberapa tempat dimana pemuda harus tampil. Seperti di berbagai organisasi kepemudaan, tampak yang tua-tua masih ingin saja menjadi pemimpin. Di organisasi politik apalagi, yang muda ditempatkan di barisan "cape" bukan di bagian pemimpin apalagi pemegang kendali. Kemudian pendapat pemuda kadang menjadi suara angin lalu seperti lagu kontemporer yang silih berganti,  dianggap hiburan semata, dan tak dihargai suaranya.
Jika yang tua-tua tetap masih "kemaruk" menjadi pemimpin maka bukan tidak mungkin negeri ini lamban atas  perubahan, lamban merubah tatanan pemerintahan , lamban merubah karakter korupsi , lamban merubah karakter partai politik dan sebagainya.
Bukan tidak mungkin karena masalah yang tua-tua ini tidak memberi kesempatan pada para pemuda, maka kita lambat reformasi. Bagaimana mungkin akan berubah jika para pemimpin partai politik tetap sampai dicabut nyawanya  tidak mau lengser memberikan kesempatan pada para pemuda. Bagaimana mungkin negara menjadi semakin baik, jika suara para pemuda tak didengar. Bagaimana munglkin menjadi negara yang menjadi produsen, jika yang tua-tua beranggapan bahwa daya cipta pemuda Indonesia lebih rendah dari produk luar.
Percuma kita memperingati hari sumpah pemuda kalau yang tua-tua tidak memberikan kesempatan pada yang muda.

Sabtu, 01 September 2012

TAUFIQ ISMAIL TAMPIL DI RIBUAN MAHASISWA UGM



Penyair Taufiq Ismail dihadapan 9.839 mahasiswa baru UGM, dalam acara penyambutan  mahasiswa baru tampil membacakan puisi. Dalam puisinya itu ia  mengingatkan kerusakan moral generasi saat ini. Melalui pesan puisi, ia kuatkan tekad mahasiswa baru UGM untuk tidak meniru kerusakan moral generasi sebelumnya. "Jangan sampai ditiru generasi bobrok saat ini. Itu pesan saya bagi generasi muda," ujar Taufiq.
Menurutnya kini generasi muda krisis keteladanan dari orang-orang dewasa. Bagaimana mungkin menjadi teladan, bila banyak orang dewasa saat ini justru merusak bangsa. Kejujuran tidak pernah dijaga karena banyak orang berlomba mencari keuntungan sendiri. Maraknya kasus korupsi menjadi bukti. Banyak pejabat yang seharusnya menjadi contoh kejujuran justru merusak nilai-nilai kejujuran itu sendiri. 
Dalam pembacaan puisi itu Taufiq mengharapkan agar generasi muda semestinya memiliki nilai kejujuran karena kehidupan berbangsa kedepan terletak dipundak generasi muda.




Senin, 27 Agustus 2012

Becak disekitar kita


Becak disekitar kita,                                           Karya : Agus Warsono


Becak berjajar menunggu penumpang, 

harap rezeki di hari ini, 
becak cemas hampa, 
dapur istri hanya air mendidih tanpa beras.

 Becak melayang, penumpang senang, 

keringat bercampur bayang sesuap nasi.

 Becak melaju kencang tanpa penumpang,

 gemerincing perut lapar , 
hanya sekilogram beras.

Becak menanti ,

 berrebut,
 dan kadang semrawut,
 becak digalang truk ,
 dibuang laut. 

Duhai teman bukankah sama dengan kita makan untuk hidup ,\

betapa susahnya mendapatkan makan. 

Beri kesempatan rezeki,

 teman.

Kamis, 16 Agustus 2012

TIGA TOKOH YANG DIJAGA CHAIRIL ANWAR (KRAWANG BEKASI SEBUAH KESAKSIAN PENYAIR)

KRAWANG-BEKASI

Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak "Merdeka" dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.

Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa

Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir

Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian

Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi

(1948)

Rabu, 25 Juli 2012

KISAH SANG PELUKIS



Menjajakan lukisan di tahun 89-an Berangkat karena kebutuhan untuk makan keluarga Rg. Bagus Warsono membawa 6 buah lukisan yang belum dipigura. Sengaja agar dibawa lebih praktis cukup dengan digulung. Arahnya ke kota Cirebon. Di komplek-komplek rumah mewah tak satupun ada yang membeli lukisan. Sampai tiga hari di perjalanan menjual lukisan dengan tidur di emper masjid atau toko, sampailah hingga bekal habis. Maka diputuskan untuk pulang ke rumah sebelum putus asa. Distasiun kereta api menunggu kereta barang yang murah ongkosnya. Iseng aku membuka lembar lukisan-lukisanku sekedar meyakinkan apakah lukisanku layak jual.Namun Allah Maha Penyayang, seseorang tua mendekat dan melihat apa yan aku bawa. Ia bertanya apa aku seorang pedagang lukisan. Aku mengangguk tanpa suara. Ia kemudian menanyakan harga, dan aku pun menjawab seharga rencana penjualan saat itu , cuma 25 ribu rupiah! Orang yang baik hati itu merogoh sakunya dan membayar sebuah lukisan itu. Tanpa pikir panjang agar istriku tak bersedih aku membeli oleh oleh beberapa roti dan buah jeruk untuk anak-anak. Sampai dirumah aku bercerita dihadapan anak istriku dengan sedikit berbohong bahwa bapaknya tidak kesusahan di jalan. Ketika istriku meliat tas yang aku bawa sebagai tempat gulunan lukisan, tampaklah lukisan itu hanya laku selembar. Tampak titik air dimata istriku bahwa aku tidak membawa uang banyak. 

Jumat, 20 Juli 2012

aku senang


agus warsono



Aku senang dengan orang-orang cerdas, tapi tak senang jika  kecerdasan itu untuk membodohi orang.
Aku senang bila melihat orang cantik, tapi tak senang bila kecantikan dibandingkan dengan orang yang jelek.
Aku senang dengan keindahan, tapi tak senang dengan keindahan untuk menutupi keburukan.
Aku senang dengan dengan cinta, tapi tak senang bila cinta untuk mekultuskan seseorang.
Aku senang ...

tertipu sepintas pandang tentang diriku




agus warsono

Itulah aku, anda tertipu
bukan misteri bukan semu
itulah aku, anda tertipu
dan anda akan tau siapa aku
jika anda mulai tertipu pandang tentang diriku
itulah aku anda tertipu
tau siapa diriku adalah jika anda tertipu
mereka tahu ditiku :
cinta, pengertian , solidaritas, persaudaraan, satu faham, seperjuangan

























HIMPUNAN MASYARAKAT GEMAR MEMBACA INDONESIA

Adalah himpunan orang-orang yang gemar membaca dari sejak bisa membaca sampai mata tak bisa membaca. Siapa pun boleh menjadi anggota dengan mendaftar di Email agus.warsono@ymail.com . HMGM Indonesia berpusat di Indramayu.dengan alamat jl. Alamanda merah no. 6 perumahan Citra Dharma Ayu Margadadi Indramayu. HMGM didirikan pada 1 januari 1999 atas kecintaan pendiri terhadap membaca sebagai kunci pembuka pengetahuan manusia. HMGM bukan organisasi politik ,pemerintah, agama, atau aliran apa pun tetapi hanya wadah pecinta buku dan independen. HMGM didirikan oleh Agus Warsono seorang guru yang mencintai anak-anak yang gemar membaca. Semua yang menjadi Anggota HMGM tidak mengikat iuran atau hak apa pun, namun ia yang diterima diberikan sertifikat penghargaan nasional sebagai sosok intelektual yang gemar membaca. Anugerah Kutu Buku Emas adalah anugerah bagi masyarakat yang gemar membaca dengan kategori anugerah seperi pembaca buku terbanyak, koleksi perpustakaan pribadi terbanyak, pengarang buku terbanyak, dsb. adalah anugerah dari HMGM untuk masyarakat yang diberikan setiap lima tahun sekali. HMGM tidak melindungi anggotanya karena tidak mengikat. tanpa iuran dan menghargai karya orang lain. Ayo bergabung dengan HMGM.

Persaingan Karya Tulis



Persaingan Karya Tulis
oleh : Agus Warsono, SPd.,MSi.

Sekarang ini tumbuh bermunculan penulis penulis pemula dari berbagai daerah, Ini menandakan gairah menulis tumbuh berkembang seiring dengan sejauh mana pendidikan Bahasa Indonesia di ajarkan di sekolah sekolah 

dengan mutu yang baik atau tidak. Keberhasilan pendidikan Bahasa Indonesia adalah keberhasilan guru Bahasa Indonesia hingga tumbuh minat dan bakat pada murid-muridnya. Pada umumnya dalam setiap kelas, sekolah, atau angkatan memunculkan penulis yang berbakat. Kemudian mereka mengasah ketajaman penanya sehingga tumbuh berkembang kemandirian dalam hah kepenulisan. 
Penyaluran karya tulis tidak seiring dengan gairah membaca masyarakat. Penyaluran mereka sangat sempit untuk dapat tersalurkan baik melalui media cetak, internet, maupun visual lainnya.
Banyaknya penulis yang tak sebanding dengan banyaknya pembaca membuat ruang penampungan/penyaluran karya tulis terhambat. Bagaimana tidak mendia media cetak banyak yang tidak menggantungkan oplahnya pada masyarakat, tetapi lebih kepada donatur/sponsor, atau pemerintah yang mendanai penerbitan itu.
Tambak penurunan dratis adalah semakin sediknya media cetak sastra. Kalau punada di setiap daerah hanya dengan hitungan jari. Ketika mereka masih di bangku sekolahg/kuliah majalah dinding adalah bentuk pelampuasan penampungan para penulis. Kini media cetak umum yang bertahan hanya beberapa saja dan hanya terdapat di kota besar atau ibu kota. Media tersebut hanya membri kesempatan sedikit sekali kepada penulis. Redaktur lebih banyak mempertimbangkan segi pemerataan dengan pertimbangan penulis dadari daerah mana dengan jumlahoplah atau pembaca. Honorarium pun begitu rendah.
Persaingan di sini sangat kentara. Redaktur yang seletif memang lebih mementingkan mutu tulisan, sedang di luar itu pertimbangan kuota pembaca.
Untuk menghindari persaingan, harus diupayakan tumbuh berkembangnya gairah membaca masyarakat. di samping itu dasar kebutuhan akan konsummen, apa yang dibutuhkan pembaca sekarang ini.
Oleh karena itu Persaingan Karya Tulis dewasa ini harus diimbangi dengan kecakapan dalam hal menulis.
Pertama disarankan kepada para penulis untuk memiliki spesialis jenis kepenulisan, sehingga memiliki nilai jual yang tingg idan peluang diterbitkan oleh penerbit. Spesialis itu dapat diambil dari apa-apa yang dimiliki para penulis dengan kekhasannya.
Spesialis sangat penting untuk para pemulis menghhindari persaingan yang tak wajar. Spesialis dibutuhkan ketika redaktur akan menampilkan tulisan sesuatu, maka diberikan pada spesial hal menulili kepada penuloisd yangh memiliki spesialis jenis tulisan tertentu.

Kamis, 19 Juli 2012

Layang-layang cinta dari Layan-layang cinta 2012

Ini bukan puisi
wajahmu di fecebook , merasuk 
dindingmu lucu
profil dengan kekaguman
pujaan spanjang masa
layang-layang cintaku
aku diam seakan kau berlari di depanku

Agus Warsono

Rabu, 18 Juli 2012

PROFIL PENYAIR AGUS WARSONO



Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

AGUS WARSONO, lahir di Tegal 29 Austus 1965.menulis sejak bangku sekolah berupa puisi, cerpen, cerita anak, dongeng, dan artikel tersebar di berbagai media seperti Pikiran Rakyat, Suara Karya,Suara Daerah, Suara guru.Pernah menjadi wartawan Gentra Pramuka, dan tercatat sebagai anggota PWI Jabar. Aktifitas sehari-hari adalah guru sekolah dasar di Indramayu. Mengunjungi SPGN Indramayu, STAI Jakarta, dan Maister Administrasi (S2) di YAPPANN Jakarta. Kini aktif menulis di blog Mingguan Potlot, Kayuh Sepeda Ontel, dan Majalah Sastra Bulanan Suluh
Karya: Kumpulan puisi : Mata Air 1980
                Bunyikan Aksara Hatimu 1996
                Aku Bagai Kapas Terbang 2004
Kumpulan Cerpen anak : Rumahku di Tepi Rel Kereta Api 2006
AGUS WARSONO, memasuki SPGN Indramayu 1985, PGSD UT UPBJJB Bdg. 1989 (D II) ,STAI Jakarta (S1), YAPPAN Adm. Pendiddikan (S2. Megister Dengan Pujian). Menulis sejak bangku sekolah, tersebar di berbagai media di Indonesia. Pemenang Penghargaan Karya Tulis Ilmiah PGRI/Depdikbud 1996 tingkat Nasional). Kini Kepala SD di UPTD Pasekan Dinas Pendidikan Kab. Indramayu. Beliau adalah seorang penulis cerpen, kolumnus, wartawan, dan pengamat dan praktisi pendidikan. Banyak sekali tulisannya yang dimuat di majalah-majalah pendidikan sala satunya di majalah Suara Guru, sekarang tulisannya terindeks di Perpustakaan Digital Universitas Negeri Malang.

Senin, 21 Mei 2012

HARI KEBANGKITAN NASIONAL SEREMONIAL HARI BESAR



MEMAKNAI KEBANGKITAN NASIONAL 20 MEI 2012

oleh : Agus Warsono, SPd.MSi


   BICARA kebangkitan nasional berkaitan erat dengan bicara Pendidikan Karakter Bangsa yang konon oleh Kemendiknabud didengungkan dan bakan masuk dalam kurikulum sekolah. Demikian karena kebangkitan suatu bangsa terletak pada generasi mudanya. Dan generasi muda tentu terdapat pada generasi pelajar dan mahasiswa yang kelak akan merubah dalam meneruskan jalannya negara ini.

   Mungkin tak arif apabila menyalahkan kenapa, mengapa, bagaimana, kebangkitan   nasional yang telah berumur 104 tahun ini seakan para pemuda kita semenjak Kemerdekaan 1945 terlena dan hanya menikmati hasil pendalu kita. Walau tiap tahun diperingati yang tampak hanya slogan verbalis dan budaya peringatan ari besar yang diperingati tiap tahun.
     Demikian karakter bangsa ini secara umum  jika tak ada rasa senasib dalam kontek nasional, maka karakter bansa ini secara umum hanya mengikuti apa yang terjadi dan dialami dalam hidupnya. Mungkin kesadaran kebangkitan itu hanya terletak dalam diri dan keluarganya. Secara umum kebangkitan untuk negeri "apa kata nanti".
   Kemerdekaan yang diraih 17 Agustus 1945 sebenarnya adalah buah dari kebangkitan nasional pada 1908. Ini berarti baru setelah 37 tahun membuakan hasil dari cita-cita kebangkitan itu. Sedang kesadaran dari cita-cita kebangkitan itu muncul pada 28 Oktober 1928 (Sumpah Pemuda) setelah 20 tahun memupuk kesamaan pandangan dan kesamaan cita-cita.
    Kini kita hanya mengisi kemerdekan, yang dibutuhkan dalam nilai kebangkitan itu adalah mengisi kemerdekaan itu, mempertahankan kemerdekaan itu. Mengisi   kemerdekaan berarti pembangunan di segala bidang termasuk pembangunan karakter manusia. Dan mempertahankan kemerdekaan adalah menjaga keutuhan NKRI sebagai amanat pendahulu kita. Dua tugas ini yang jika diukur dengan perjuangan pahlawan kita dahulu masih belum ada apa-apanya. 

Jumat, 11 Mei 2012

KUMPULAN PUISI SIBUNG KARYA AGUS WARSONO



KENANGAN DI MASA MUDA, SI BUNG BENAR-BENAR SEORANG YANG MEMILIKI KESETIAAN

Kenangan manis Dr.Ir. H Akhmad Soekarno,Proklamator RI , bersama Fatmawati
Semasa muda, dikala cinta membara, dikala hasrat menyala, dikala api cita-cita bergelora merintis kemerdekaan nusantara, Dia punya selera yang tak kalah dengan pemuda sebaya, romantis, mempesona, gairah cinta, menuju gerbang cita-cita yang dipersembahkan untuk bangsa. Dia, Si Bung.(oleh Agus Warsono)

Daftar sastrawan Indonesia


PENYAIR
CERPENIS
NOVELIS
LAIN-LAIN (CERSIL/CERGAM/PENULIS BUDAYA/KOMIK/KOLUMNIS BUDAYA/PELESTARI SASTRA DAERAH/SEKENARIO,DLL)
ditulis 1 januari 2011