TEKS SULUH


Rabu, 24 November 2021

Pangeran Selawe, Rg Bagus Warsono


 Pangeran Selawe


Sekapal duapuluh lima pangeran

Berkapal berlabuh di Karangsong

Laskar Sriwijaya mengemban tugas

Menaklukan kerajaan Dermayu,

Surat dibaca Wiralodra,

Negeri takluk atau perang

Takluk itu upeti

perang itu mati

Duapuluh lima pangeran

berdiri gagah berhadapan

ratusan prajurit Dermayu,

di Karangsong

pangeran Selawe pandai berpedang

Dermaga penuh darah prajurit Dermayu

Mudahnya mengalahkan

prajurit negeri kecil yang damai

Wiralodra Raja Dermayu,

Mencintai rakyatnya

Kibarkan bendera putih

Katakan Dermayu menjadi bahawan Sriwijaya.

Nyi Endang Dharma

petani desa

maju menghadap paduka

Ijinkan hamba menumpas pangeran Selawe

Wiralodra Tertawa

Nyi Endang Dharma melompat ke Pelabuhan Karangsong

disambutnya pedang Pangeran Selawe

Craka Udaksana Nyi Endang Dharma,

keluar dari busurnya

Dua puluh lima pangeran

Mati terkapar di pelabuhan.

Indramayu, Nofember 2021


Selasa, 23 November 2021

Sumur Warak Sumur Pendekar, Rg Bagus Warsono.

 Sumur Warak Sumur Pendekar,

Rg Bagus Warsono.



Tumenggung Warak Senopati Mataram,

laskar Bahureksa

yang kalah perang di Batavia.

Kabar akan dipenggal kepalanya

mengurungkan niat pulang ke Mataram.

terdampar di pelabuhan Dadap.

Utusan mataram mencari pasukan

hukuman mati jika kalah perang

Temenggung Warak separan-paran

mencari perlindungan

Sampailah di sebuah desa

Junti kademangan di Dermayu

Warak tergoda kecantiakan gadis Junti.

menjadi petani rajin

Raja Cirebon bersayembara

Siapa bisa sembuhkan putri kerajaan

Warak memberi air Sukaurip

putri sembuih seketika

Dari sumur Sukaurip.

Sumur Warak.



Jaka Dolog Penjaga Pantai Karangsong, Rg Bagus Warsono

 Jaka Dolog Penjaga Pantai Karangsong


Jaka Dolog bergelar Indra Jaya,

utusan Mataram di Pantura

menguasai Eretan sampai Gebang

Bermukim di Karangsong

pesisir Indramayu seribu nelayan seribu perahu

Reden Wilalodra pengusa kerajaan

Dermayu tepi sungai cimanuk

sawah kebun cocok tanam

terancam kekuasaan

Wilayah pesisir kerajaan

oleh gagahnya Indra jaya dari Mataram.

Pergilah engkau Indra Jaya atau kutenggelamkan

kapal-kapalmu

Lalu Indra Jaya tersenyum

Aku bukan raja sepertimu Wiralodra.

Wiralodra memaksa mengusir Indra Jaya,

utusan ketrajaan yang menjaga muara Dermayu

pertempuran dua pasukan

Indra Jaya tak terkalahkan

Lalu pasukan Indrajaya mengibarkan bendera

Wiralodra terpana melihat bendera

di atas perahu Indra Jaya.

berkibar Bendera Mataram

Panji yang sama di kerajaan Dermayu.

Dan Indra Jaya disebut Jaka dolog

Senopati Mataram menetap di Karangsong



Kibarkan Benderamu, Rg Bagus Warsono

 Kibarkan Benderamu, Rg Bagus Warsono


Dengan bekal beras, gas, Mie Instan, dan rokok seminggu

hidupkan mesin, dan menarik jangkar 

memegang kemudi

Kibarkan benderamu dalam 

laga yang luas 

Bebas penjuru memburu

bersaing rezeki 

Bebas pulang pergi atau singgah di pelabuhamu

Bersama teman seberangkatan kampung nelayan sama perahu 

Dan suara mesin tua beradu

dan kipas mulai berputar

mendorong nasib di tengah laut

dan kelebat bendera diatas tiang perahu

perlahan menyusuri kali menuju hamparan air laut.



Kamis, 18 November 2021

Popularitas Penokohan Sastrawan Melekat dengan Produknya

 Pengarang cerpen novel akan lebih mudah membuat puisi, sedangkan penyair yang mengarang novel menemukan hambatan pengembangan cerita. Beberapa novelis Cerpenis ditemukan juga ia mengarang puisi, sedang sedikit penyair mengarang novel. Rendra selain berkarya puisi ia mengarang banyak naskah drama, tetapi lebih populair sebagai penyair. Bagi penulis seangkatanku membuat cerpen adalah target honorarium, teman lain juga membuat cerpen seperti Herry Lamong, Naim Emel Prahana, Gunoto Saparie, Arifin Brandan, Isbedy ZS Stiawan, Wawan Hamzah Arfan, Wadie Maharief, Arief Joko Wicaksono, Nanang R Supriyatin, Endang Supriadi, Budhi Setyawan, Micky Hidayat, Jamal T. Suryanata, Bambang Widi Yogyakarta, Kurniawan Junaedhie dll. Mereka di masyarakat atau kalangan pembaca lebih dikenal sebagai penyair. Penyair lain justru lebih kokoh disebut sebagai Cerpenis yaitu Yanusa Nugroho,  Beni Setia, dll. Agaknya rutinitas seorang Cerpenis atau penyair akan menokohkan diri melekat dengan produknya.


Sebagai seorang guru aku banyak ngobrol dengan guru bahasa  di tingkat sekolah lanjutan pertama dan atas. Obrolan bahkan di beberapa guru di kota kecil yang saya kunjungi. Aku bertanya pada mereka, "Penyair siapa sajakah yang bapak ibu guru kenal setelah Angkatan '66?". Kebanyakan mereka menggeleng kepala, tahunya mereka Yang hafal adalah angkatan '66 seperti Taufiq Ismail, WS Rendra, Abdul Hadi WM, sedangkan sedikit sekali mereka bisa menyebut nama-nama sastrawan setelah angkatan' 66 atau pasca '66. Beberapa nama yang sering disebut tetap Nama-nama yang terkenal sekarang seperti Gunoto Saparie, Isbedy ZS Stiawan, Tajuddin Noor Ganie, Kusprihyanto Nanma.


Popularitas sastrawan di kalangan pendidikan juga didapat dari media massa yg mempopulairkan nama sastrawan masa kini terutama segi keunikan yang melekat dengan pribadi sastrawan itu. Beberapa tokoh sering disebut seperti Sitok Srengenge, Sosiawan Leak, Wiji Tukul, Saut Situmorang, dan menyusul Wayan Jengki Sunarta dan Tan Lioe Ie.


Kurangnya perbendaharaan nama sastrawan-sastrawan di kalangan pendidikan adalah semakin hilangnya pengajaran sastra di sekolah-sekolah. Kenyataan ini disebabkan karena guru yang diangkat jarang yang menyukai sastra. Sebagian lain dikarenakan kurikulum yang diterapkan di sekolah sedikit disisipi muatan sastra.

(rg bagus warsono)

Rabu, 03 November 2021

Catatan #PERJALANAN PUISI (1) oleh Nanang R Supriyatin

 #PERJALANAN PUISI (1)

SAHABAT saya, sastrawan Humam S. Chudori hanya bisa berdoa agar Nanang R Supriyatin, Ade Novi, Eddy Pramduane & Omni Koesnadi sukses dalam perjalanan dari Jakarta menuju Pekalongan. Humam juga menyampaikan pesan 'salam' pada pegiat literasi yang berkumpul di salah satu lokasi budaya di Pekalongan, yang memang berlangsung semarak; tepatnya pada hari sabtu, 23 Oktober 2021.

Humam S. Chudori yang asli lahir di Pekalongan, sesungguhnya sangat ingin berkunjung ke kota yang membesarkannya itu. Di lain sisi, ia juga kangen ingin bersilaturahim dengan para penulis. Kenapa beliau tidak mau gabung? Pasalnya ternyata beliau hingga saat ini belum di 'vaksin' sebagaimana anjuran Pemerintah. Menurutnya, hanya orang-orang yang sudah di vaksin yang berhak untuk masuk ke mal, bioskop, hotel, tempat rekreasi -- juga sebagai persyaratan mutlak jika ingin memanfaatkan jasa KAI. Dugaan ini sama persis dengan dugaan saya. Makanya, alasan saya mau di vaksin di samping gratis, juga sertifikat vaksin dapat dipergunakan untuk bepergian jarak jauh serta untuk kegiatan lain yang kita inginkan.

Sejak bulan agustus, saya sudah di vaksin sinovac 2x. Artinya saya telah memegang 2 surat + hasil vaksin yang kemudian saya 'laminating' seperti KTP. Alhamdulillah, saya telah memiliki identitas lengkap sebagai warga negara.

Pada hari sabtu, 23 Oktober 2021, pukul 08.30 wib, kami (Nanang, Ade, Eddy, Omni) sudah tiba di stasiun SENEN. Saya sempat mengamati lokasi tunggu, pintu masuk stasiun hingga ke sebuah tempat kira-kira bertuliskan 'Lokasi Tes Antigen'. Setelah bayar jasa tes antigen sebesar 45.000/ orang, di tempat terpisah,  lobang hidung kami pun sedikit dimasuki alat. Dan, sekitar 10 menit hasilnya sudah keluar melalui panggilan mikrofon petugas. 

Yang jadi pertanyaan, kami kan sudah membayar tiket kereta api jauh-jauh hari sebesar 105.000, berarti kami hanya menyiapkan keberangkatan kereta pukul 10.20 wib. Ohh, sempat terbayang wajah Humam S. Chudori. Ternyata, o ternyata sertifikat vaksin sama sekali tak berguna. Jangankan di cek petugas KAI, di intip saja tidak. Karena untuk bisa naik kereta cuma ada syarat bayar tiket dan bayar tes antigen. Ohoi...

Sepanjang perjalanan stasiun Senen-Pekalongan, dalam kereta, kami hanya bisa tersenyum dan tertawa. Idealisme kami terhadap keindahan puisi membuat sesuatu yang kami anggap janggal, hanya sebatas 'Puisi yang berjalan di ruang-ruang sunyi'.


Catatan #PERJALANAN PUISI (2) oleh Nanang R Supriyatin

 #PERJALANAN PUISI (2)

Sekitar pukul 16.10, kereta api tiba di stasiun Pekalongan. Stasiun yang cukup lengang dan tenang. Masih dalam lokasi, tampak deretan beberapa cafe/ rumah makan, musholla serta tempat parkir yang dilindungi pohon-pohon hijau. Di seberang jalan beberapa gedung penginapan. Inikah kota bernama Perkalongan? 

Grab mobil mengantarkan kami hingga di pelataran Gelanggang Olah Raga (GOR) Jatayu, kota Pekalongan. Di ujung jalan buntu terdapat 'Rumah Seni Pekalongan, dimana kumpul para seniman. Termasuk sang penggagas acara 'Puisi Dalam Kotak Suara', Hadi Lempe beserta panitia lainnya.

Setelah hampir dua tahun dibayang-bayangi covid-19, kini kami terasa bebas bertemu, bercengkerama, bereuforia. Layaknya seperti partai yang akan berkongres, siapapun tamu yang datang disambut, disalami hingga diajak foto selfi.

Tiga 'diva' yang hadir sejak sore hingga malam membuat suasana makin hangat. Awalnya hanya senyum-senyum, selanjutnya tertawa-tawa. Sesuatu yang manusiawi. Oya, yang saya maksud tiga 'diva' ialah Ade Novi (pembaca puisi), Denting Kemuning (pembaca puisi) & Indri Yuswandari (pembawa acara). Mereka sangat familiar. Bahkan ketika RgBagus Warsono mendaulatnya untuk berselfi di jok motor Vespa warna kuning -- mereka begitu enjoj.

Foto di jok motor Vespa sebenarnya hanya 'trik' Agus Warsono. Biar suasana perbincangan kesenian, khususnya puisi menjadi hidup. Terbukti memang. Hampir semua peserta yang hadir berfoto di atas motor, bergantian. Eddy Pramduane, Kasdi Kelanis, Omni Koesnadi, Wawan Hamzah Arfan + istri, dan sebagainya ikut ambil bagian. Dan, yang bikin fress saya ketika Agus Warsono dan Wawan Hamzah menyodorkan buku "T" & "Perjalanan Berkarat", masing-masing antologi puisi bersama dan antologi puisi tunggal.

Pementasan bertajuk "Puisi Dalam Kotak Suara" diisi dengan pembacaan puisi dan pertunjukkan drama. Dihadiri sekitar 90-an tamu undangan. Rg. Agus Warsono atas nama Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia memberikan penghargaan kepada 115 sastrawan yang berdedikasi di atas 30 tahun menulis sastra. Dan, malam itu penyematan Setya Lencana Sastra Nagari diberikan secara simbolis kepada 10 sastrawan yang hadir, diantaranya Dharmadi Penyair (72 tahun). Sebelumnya, Agus di atas panggung memberikan sambutan dan alasan pemberian penghargaan dimaksud.


Catatan #PERJALANAN PUISI (3) oleh Nanang R Supriyatin

 #PERJALANAN PUISI (3)

Tak pantas juga jika virus covid-19 yang nyaris membuat kehidupan menjadi stagnan selalu dijadikan alasan, dengan kata lain sebagai kambing hitam. Bagi sebagian orang, mungkin mempercayai bahwa pertemuan adalah sesuatu yang indah sekaligus emosional dalam arti positif.

Sempat menggeliat di kepala saya; seandainya malam 'Puisi Dalam Kotak Suara' ditambah dengan Launching Buku Puisi 'T', 'Perjalanan Berkarat' serta buku-buku lain, umpamanya karya Kasdi Kelanis. Sempat juga menunggu inspirasi panitia penyelenggara melalui pembawa acara untuk memberi kesempatan pada tamu yang dianggap senior, seperti Dharmadi Penyair maupun Wardjito Soeharso (apalagi pada siang hari sempat ada bincang antara Pengarang dan Para Guru, di lokasi yang sama) -- untuk sekadar memberi testimoni terhadap kegiatan sastra pasca level 2 pandemi covid-19. Ya, sempat juga saya berbisik pada beberapa teman mengenai lokasi kuliner khas Pekalongan maupun destinasi yang asik yang ada di kota batik ini. Meskipun tidak ujug-ujug mencari lokasi dimaksud, setidaknya sudah ada rekomendasi tersirat. Mengingat yang diundang adalah para Penulis/ Penyair Nusantara.

Bagi saya memang sempat agak lelah, agak ngantuk dan sejenisnya saat berada di tengah acara yang meriah tersebut. Namun, sempat melek mata dan membuka telinga lebar-lebar saat Ade Novi membaca puisi berjudul "Amarah".

pergi sayang

pergi jauh dariku

biarkan kabut itu

biarkan hujan itu

jika kau pergi

tinggalkan malam

sisakan pedih

aku tak ingin rindumu

aku tak ingin tangismu

biarkan hari-hari sepi

dan aku terjaga

di kota yang riuh

cukup sudah

kata-kata tak bermakna

menggumpal dalam kamar

bagai lukisan abstrak

bagai tubuh tanpa nyawa

jangan kau katakan makna dari ciuman

ungkapkan saja mimpi burukmu

jadilah kau dirimu

hidup dalam mimpi

dalam bayang liar

seperti ular hidup di hutan

mati di lautan

bunuh cintamu

bunuh kau punya rindu

jika kau pergi akan kugali tanah

ku kubur jiwa yang mati

pergilah nyanyian

hidup terlanjur asing

kau sayangku

dustai saja aku!

28/10/2017

Tawa dan senyum di pelataran mengiringi teh panas dan rebusan yang tersedia. Ahai!

PERJALANAN PUISI (4, Tamat) oleh Nanang R Supriyatin

 PERJALANAN PUISI (4, Tamat)

Seperti juga Rg. Bagus Warsono, penyair wanita Indri Yuswandari juga tak mau berlelah-lelah berjalan kaki hanya sekadar menemukan kuliner khas Pekalongan. Pagi (minggu, 24/10-2021), sebelum berangkat ke Jakarta; Ade Novi, Eddy Pramduane, Omni S. Koesnadi dan saya jalan-jalan ke sebuah lokasi kuliner. Kami seperti berada di MH Tamrin, Cijantung, Kampung Melayu (Jakarta), dimana setiap hari minggu kami temukan Car Free Day. Sempat juga mata melirik penjual tanaman hias, bubur spesial khas Pekalongan. Meskipun kaki kami lebih mendekati pedagang susu sapi murni. Terakhir kami mampir juga untuk sarapan, dimana tersedia ‘Nasi Megono’, ‘Tauto’, ‘Garang Asam’ dan ‘Lontong Sayur’, termasuk juga sayur sup dan tempe orek. Terasa nikmatnya pagi dengan cuaca yang agak mendung.

Pukul 09.00 wib, kaki-kaki kami melangkah, setelah turun dari grab mobil, menuju terminal Pekalongan. Petugas (mungkin juga calo, karena pakaian tak berseragam) memberi kepastian, bus menuju Jakarta baru bisa berangkat sekitar pukul 14.00 wib atau ada juga pukul 17,00 wib. Wah!

Setelah tanya sana tanya sini, akhirnya kami dapat kepastian bus Nusantara siap berangkat pukul 10.20 menit dengan bus transit ke Terminal Tegal dan berakhir di Terminal Cirebon, padahal tujuan kami ke Terminal Kampung Rambutan. Tak apa.

Dalam bus ternyata sudah penuh penumpang. Sisa kursi 1 khusus untuk salah satu teman kami. Sisanya 3 orang cukup lesehan dan berdiri, sambil menunggu penumpang lain turun di jalan. Dalam percakapan saya dan supir. Supir memperingatkan untuk hati-hati dalam perjalanan, karena calo terminal akan selalu menguntit. Akhirnya sang supir memberi rekomendasi pada kami sebelum kami menaiki bus Cirebon-Jakarta. Beliau menelpon salah seorang temannya yang sudah menunggu di terminal Cirebon.

Sesampaikan di Cirebon, kami diturunkan di seberang jalan terminal. Tak berapa lama seorang lelaki melambaikan tangan kepada kami. O, mungkin rekomendasi ke beliau, ucap saya dalam hati. Ternyata benar. Setelah kami berempat turun dari bus. Menyeberang jalan. Yang diberi rekomendasi dan para calo terminal mendekati kami, menjual jasa. Orang yang dapat rekomendasi segera menyilahkan kami masuk bus jurusan Cirebon-Bekasi. Alamak! Lagi-lagi kami terkecoh. Terik matahari+hati yang tak keruan, membuat kami berempat kian panik, benci dan marah. Entah, ditujukan pada siapa. Hingga Ade Novi mencolek saya sambil berkata, “Bang, kok lenggang? Tas Abang mana?” Ohh… ya, ya, ya saya gelisah, juga Eddy Pram dan Omni. 

Akhirnya orang yang diberi rekomendasi sang supir, melalui hp yang di loud speaker, mengontak sang supir bus Nusantara. Terdengar jawaban dari sang supir. “Ya ada, ada tas warna biru kan?” Alhamdulillah. Hati saya agak tenang. Dan lebih tenang lagi hp, uang serta identitas lain ada di tas pinggang. Yang namanya kehilangan sesuatu, tentulah panik meskipun yang hilang hanya kaca mata, celana, pakaian, charger, masker. Yang berharga adalah buku “T” dan “Perjalanan Berkarat”. 

Singkat cerita, atas bantuan kawan Wawan Hamzah Arfan yang asli Cirebon, benda yang hilang sudah bisa dikondisikan. Ini juga karena jasa mantunya yang bekerja sebagai Reskrim di Polres Cirebon. “Tunggu saja di Jakarta, tas besok segera sampai ke agen bus Nusantara yang ada di Cikini!” Ahai, informasi yang sedap. Cikini memang dekat rumah.

Tapi, apakah permasalahan selesai sampai di situ? Tidak juga. Bus tumpangan kami terakhir, Cirebon-Kampung Rambutan ternyata tidak ber-AC. Nego dengan kondektur bus dan calo cukup alot. Dari harga 600K untuk berempat, turun menjadi 250K. dalam bus tanpa ac tersebut, terasa perut mual lantaran sang supir cukup kencang mengendarai mobil. Dari penumpang sekitar 6 orang, terus bertambah. Bus selalu berhenti di pinggir tol dimana ada calon penumpang melambai.

Kami terasa asing di negeri sendiri, seperti juga puisi terasa asing bergerak di tengah hiruk-pikuk kehidupan. Saya hanya mengambil hikmahnya saja atas kejadian itu. Persisnya, keesokkan harinya tas sudah bisa saya ambil di agen bus Nusantara Cikini. Ucapan terima kasih pada Panitia acara di Pekalongan yang telah mengakomodir kami. Terima kasih juga pada teman-teman pegiat literasi yang membawa kami pada kebahagiaan saat silaturahim. Terima kasih juga pada Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia, pada penyair Wawan Hamzah Arfan. Terima kasih yang tak berkesudahan pada ‘Bang Ghanes’, mantunya WHA yang selalu meluangkan waktu untuk bicara via Hand Phone. Terima kasih khusus pada teman-teman seperjalanan. Susah senang kita berbagi. Salam. (NRS).

Selasa, 02 November 2021

Ulasan Puisi: "Pertemuan dengan Widji Thukul" karya Rg Bagus Warsono

 Komentar Ulasan Puisi 

Rg Bagus Warsono


"Pertemuan dengan Widji Thukul"


Dalam keremangan malam

Bulan redup sesekali tertutup mendung

Dalam teras pecinan

dengan pintu-pintu tergembok

Hai penyair katanya padaku

Dia menutup muka dengan jaketnya kumal dingin

Kretek dan kopi dingin

Menatap aku pada si kerempeng itu

akankah kopi belum terbayar

Lalu aku berjabat tangan

merdeka katanya lirih

ya aku dialam merdeka sekarang

aku juga bebas membuat puisi

lalu dia menunjuk tukang kopi

dan kami minum di kedinginan

Sajakku mahal katanya lirih

ah aku sangat murah bahkan tak laku dijual

kau salah katanya

juga yang lain bodoh

kenapa?

banyak penyair setengah penyair

Hah?

Tapi kau tidak , sambil menepuk pundak

lalu ia menutup wajahnya dengan jaketnya lagi dan kopi malam sisa ampasnya.

Jogyakarta, 5 Januari 2019.

1. Mawar Merah : Di mana keberadaan Widji Thukul dan bagaimana kelanjutan kasusnya masih merupakan misteri yang belum terpecahkan. Terasa masih ada kekuatan besar yang menghalangi pengungkapan raibnya raga sang penyair. Meski jiwanya telah ditukar dengan sebuah kebebasan, dua puluh tahun lebih merupakan waktu yang panjang untuk menyia-nyiakan kesempatan, termasuk dalam mengungkap misteri sang raga. Bangkitlah wahai kawan-kawan penyair, jangan bodoh, tunjukkan jiwa kepenyairanmu. Jangan jadi penyair yang tanggung, bangkit dan gaungkan terus semangat juangmu untuk menegakkan keadilan dan kebenaran, sebelum sang waktu benar-benar berlalu.

2.Muhammad Jayadi : Penyair sejati, tentunya yang tak bisa dikekang, menulis dengan nafas jati dirinya. Menuliskan hal yang terkandung dalam nuraninya, dan merdeka jiwanya dari segala perbudakan dan tekanan. Dan rela berkorban demi apa yang ia cita-citakan. Ia adalah gelombang yang besar, ia adalah api yang membakar, ia adalah nadi hidup yang berdegup.

3.Nurhayati : Dalam raga utuh rapuh, Tuhan tiupkan ruh, padanya dimampukan dua pilihanBak saudara kembar saling berkelakar bertengkarDarinya karya kan terciptaBebas merdeka, sah-sah sajaBukankah Tuhan sendiri yang telah menitipkan kepercayaanEntah nanti kan sampai pada rasa atau mandek menjadi segumpal sampah, semesta tetap merekamnya

4. Elly Azizah : Semua orang merasa penyair, cuma bunda yang menulis sesuai selera, senang mendayu menghibur diri lagi terpuruk, Alhamdulillah ada yg suka baca. Dulu bunda suka nulis sembarang tempat, kadang-kadang hanya di kepala saja, kalau sdh begitu bapak ambilkan buku dan tak pernah mau berkomentar buatlah sesuai dg hati nurani ibu, jangan dirobah menurut bapak itu kata bapak tidak asli ibu lagi.

5.Arya Arizona : ingat kopi...aku ingat sebuah malam di jogja bersama seorang seniman di sebuah angkringan di dekat jl janti jogja....sebuah malam yang dingin ngobrol,nyanyi bareng tanpa gitar....ah..sekarang engkau dimana....akupun dimana...jauh tak bersua

6.Sardan Sarjito : Saya setuju dengan pesan sublimnya. Memang uang dan harta tak bisa menginspirasi manusia. Syair bisa. Dan inspirasi dapat merubah dunia, termasuk harta.Duit tak bisa menghasilkan karya. Tapi karya mampu menghasilkan bukan saja harta, tapi juga peradaban.Revolusi adalah mencipta!..Dalam kamar sederhanaAku memetik gitarKupikir laguku merduDia duduk di hadapankuMeminjam gitar dan memainkannya dengan caranyaAku baru tahu jika punggung gitar bisa lebih mengusikku ketimbang getar dawaiDengan lidahnya yang kelu dia bernyanyi tentang tikar plastik dan tikar pandanYa Tuhan, ini zikir tentang penindasan.Syair laguku berontokan bagai sampah di hadapannya.Syair mahal itu setara dengan keamanan negara...

7Erndra Achaer:.Banyak penyair setengah penyair.Aah ... aku bahkan belum penyair. Tapi merasa merdeka menulis puisi, berangkat dari bisikan hati, yang entah apa juga sudah puisi. Meski racikanku tak senikmat kopi, berharap semoga tidaklah menyakiti.

8. Dyah Nkusumah : Apa hendak dikata? Keremangan malam, bulan enggan memberi penghiburan, benteng-benteng semakin tinggi, puisiku cuma pelega rasa, coretan tiada hadirkan berlian, ahhh halu kali, bayar kopi pun entahlah. Ceceran tinta yang terbeli dengan rupiah, adakah berharap bisa mendatangkan hepeng?Biarlah, sepanjang apa bila direntang berharga atau tidak, nyatanya banyak yang tetap berjalan dalam pilihan gila ini. Tengok, dari nama-nama besar, setengah jadi, hingga bayi-bayi penyair, hari-hari menghiasi layar biru? Lupa mandi, cukup ngopi, bangga jadi penyair setengah jadi, atau bahkan seperdelapan jadi.Daripada limbung turut zaman tiada juntrung, ahhh penyair setengah jadi, tak masalah, kucel kini, hampa arti jauh dari materi, siapa tahu, pilihan diri, kucel-kucel tapi dikangeni, karya yang setengah jadi, magel-magel bikin kemekel, kopi menyambangi, walau dalam mimpi.

9.Vika O : 'Aku juga bebas membuat puisi'Selain bebas membuat puisi, tapi dengan berpuisi juga aku dapat bebas. Mengekspresikan diri dengan jiwa-jiwa penuh kobaran api. Ah, entahlah, puisi benar-benar memabukkan.'Ah aku sangat murah bahkan tak laku dijual'Kalau aku akan terlebih dahulu menjual pada diriku sendiri, sebab aku lah orang yang akan terlebih dahulu mencicipi.'Kau salah katanyajuga yang lain bodoh'Betul, jangan selalu menghakimi diri sendiri, berpikir positif dan memiliki pandangan ke depan. Kita selalu memiliki sisi kelebihan dan kekurangan.Maafkan, Kak, kalau ada salah kata, saya bukan apa-apa.

10.Uyan Andud: Banyak penyair setengah penyair ' pengambaran seorang penyair tidak berani mengungkapkan kebenaran secara utuh sebagaimana masa Widji Thukul. Dampaknya tergambar dalam kopi yang terasa dingin kurang mantap '

11.Tarni Kasanprawiro : "Sajakku mahal" ya tentu karena sajakmu dibayar dengan nyawa sedangkan puisiku tak bernyawa  tak ada apa-apanya.

Tidak Sekedar Hoby Menulis Puisi

 Tidak Sekedar Hoby Menulis Puisi

Adalah Arya Setra, pelukis kopi terkenal Indonesia, mapan dan namanya kian tenar di luar negeri. Pelukis ganteng yang menjadi pujaan mahasiswi mahasiswi ini, memang masih single alias jomblo, ia di sela sela kegiatan event-event pameran dan seni serta budaya ini sempat sempatnya menulis puisi. Arya Setra kerap mengikuti antologi bersama yang diselenggarakan Lumbung Puisi. Puisi-puisinya tak kalah dengan penyair tenar lain. Mengapa ia slalu menulis puisi? Jawabnya adalah arti puisi itu sendiri. Ternyata melukis dan menyair/mencipta puisi sama saja dalam menuangkan imajinasi. Bedanya hanya kata dan goresan cat di canvas.

Hubungan lukisan dan puisi diterjemahkan nya dalam puisi dan lukisan satu sama lain. Lukisan diterjemahkan dalam puisi puisi Arya Setra, dan puisi dapat menjadi lukisan oleh Srya Setra. (rg bagus warsono)

Puisi Yang Mana Yang Dibaca Keras Lantang dan Teriak

 Puisi Yang Mana Yang Dibaca Keras Lantang dan Teriak (1)

Rg Bagus Warsono

Mari kita membaca puisi dengan baik agar pemirsa menyimak sampai akhir puisi. Meski membaca adalah apresiasi si pembaca dalam arti terserah imajenasi pembaca namun banyak kesalahan tafsir puisi yang pahami si pembaca , apalagi membaca puisi itu baru sekilas , langsung maju ke panggung.

Rendra adalah pembaca puisi yang belum ada tandingan, sedang Taufiq Ismail pembaca puisi karya sendiri yang berhasil memikat pemirsa. Tetapi Gus Mus (Mustofa Bisri) kita tak perlu melihat wajah Gus Mus Membaca, mendengarnya saja seakan membayang wajah Gus Mus.

Agaknya banyak pembaca puisi setelah berada di panggung mengambil inisiatif untuk mencuri perhatian penonton dengan mengeraskan suara ketika membaca puisi, keras yang ,mengagetkan sehingga penonton langsung tertuju panggung dan si pembaca. Namun setelah baris dan bait puisi itu dibaca jarang pemirsa yang mengikutinya hingga akhir puisi . 

Pemirsa yang kaget kemudian menyimak itu kemudian tak menghiraukannya si pembaca puisi yang gagah di panggung itu. Pasalnya yang dibaca dan suara yang keluar dari mulut tak sesuai dengan pesan puisi yang dibaca. pemirsa yang menjadi tanda tanya ini semakin bingung ketika baris dalam bait yang dibaca yang merupakan satu kesatuan arti dalam bait puisi itu terpotong oleh kerasnya suara si pembaca puisi. Akhirnya si pembaca asyik membaca puisi di Panggung dan penonton asyik ngobrol dengan tetangga kursi.

Kekeliruan persepsi pesan puisi ditimbulkan dari kurangnya apresiasi pada puisi yang dibaca. Dan penulis juga maklum ketika dijumpainya puisi yang dibaca itu adalah puisi hasil karyanya sendiri. Jika demikian maka tidak semua penyair memahami isi puisi padahal puisi yang dibacanya itu puisi yang telah akrab dengan dirinya.

Jadi, puisi yang mana yang dibaca keras lantang atau berteriak harus memahami puisi itu sebelum dibaca. Nada baca puisi hendaklah sesuai dengan isi puisi. Sebagai contoh kita tampilkan sebuah puisi karya Taufiq Ismail, berikut puisinya :

“Malu Aku Jadi Orang Indonesia”. Berikut puisi tersebut ;

Di negeriku yang didirikan pejuang religius

Kini dikuasai pejabat rakus

Kejahatan bukan kelas maling sawit melainkan permainan lahan duit

Di Negeriku yang dulu agamis

Sekarang bercampur liberalis sedikit komunis

Ulama ulama diancam karena tak punya pistol

Yang mengancam tinggal dor

Hukum hukum keadilan tergadai kepentingan politis

Akidah akidah tergadai materialistis

Aku hidup di negara mayoritas beragama Islam

Tapi kami tersudut dan terancam

Telah habis sabarku

Telah habis sabar kami

Pada presiden yang tak solutif Pada dewan dan majelis yang tak bermufakat

Pada semua bullshit yang menggema saat pemilu

Pada nafsu yang didukung asing dan aseng

Rakyat kelas teri tak berdosa pun digoreng

Kusaksikan keindahan negara yang menegakkan “khilafah”

Diceritakan hidup mereka sejahtera

Lalu ditanyai dari mana asalku.

Kusembunyikan muka

Tak kujawab aku dari Indonesia

Negara yang kini tumbuh benih Islamophobia.

(bersambung)