TEKS SULUH


Selasa, 31 Maret 2020

Geguritan Corona; Sarwo Darmono GAWE MIRIS MANUNGSA ( Puisi Bahasa Jawa )

58.Sarwo Darmono

GAWE MIRIS MANUNGSA
( Puisi Bahasa Jawa )

Wujudmu cilik
Ora katon nyata
Ora bisa di delok netra blaka
Mlakumu ginawa tirta
Tirta kang metu saka grana
Metumu wujud mala
Mala tumpraping manungsa
Mala kang nggegirisi wong sak Bawana
Sapa kena bisa seda
Sak wetara manungsa pada endha
Sumingkir saja kempaling para kanca
Meneng jroning wisma
Murih ora kena mala
Tan kendat tansah dedonga
Nyuwun marang Kang Maha Kawasa
Duh.. Gusti kang murbeng jagat
Sedaya kang gumelar ing Jagat punika
Sampun dados kodratipun Panjenengan
Kados dene sumebaring Mala Corona
Ingkang ndadosaken Miris para Manungsa
Pramila punika kawula tansah hanyenyuwun
Dateng ngarsa Paduka
Mala Corona enggal Panjenengan Jabel sakit Jagat padang punika
Mliginipun ing Bumi Nuswantara
Mala Corona ilang musna tanpa tilas
Saking kersaning Gusti Kang Maha Kuwasa.
Amin
Lumajang , Sabtu Pon 28 Maret 2020


Puisi-puisi Corona : Brigita Neny Anggraeni CORONA

57.Brigita Neny Anggraeni

CORONA

Ujian hidup dari corona
panik,menggila
tak berdaya,
meski takdir telah ditulisNya
sisanya kita merubah

Saat masker menghilang
antiseptik pun jarang
susul sembako yang berkurang
setan pedangang mengambil untung
di pusaran panik tak terbendung
berita hoax ikut nimbung

Oh manusia dengar pesan semesta
nasehat elemen udara
yang dibawa corona

Penyelamatan diri sendiri
menumpuk kebutuhan diri
lupa sekitar juga mencari
menekan yang tak berdaya ,tak berarti
sungguh tinggi ego diri!!

Mari intropeksi diri
dari ketakutan diri sendiri
akhlakmu dipertanyakan
keimananmu dipertaruhkan
masihkah peduli yang membutuhkan

Dunia sedang membersihkan
dari jiwa-jiwa kerakusan
ketamakan
berani katakan kebenaran
lepaskan kebimbangan, keresahan
bukan cari pembenaran

Brigita Neny Anggraeni, Tgl lahir: Semarang, 02 Februari 1979, Pendidikan terakhir: S1 Psikologi, Universitas Diponegoro Semarang


Puisi-puisi Corona : Abidi Al-Ba'arifi Al-Farlaqi : WABAH CORONA

56.Abidi Al-Ba'arifi Al-Farlaqi

WABAH CORONA

Wabah corona
mengembara di bawah qudrah dan iradah-Nya
menertawakan dosa-dosa manusia

Kuku Izrail mencengkeram di semesta sudut
mencekik leher waktu
menggali liang istirah

Mati
mati
mati
BIREUEN, 28 Maret 2020

PARA TAMU DAN ISI CAWAN TAKDIR

Izrail melayani para tamunya di wisma waktu
menyuguhkan beberapa cawan takdir
yang berisi wabah corona

Perlahan para tamu mengangkat cawan takdir itu
menyeruput isinya dan sambil bercerita tentang masa depan
namun tiba-tiba dadanya sesak
matanya nanar
nadinya membeku
usianya berhenti
mati

Akhirnya
debu memeluk para tamu
BIREUEN, 31 Maret 2020

AL-KHALIQ MENEGUR KITA


Al-Khaliq menegur kita
karena kita mencintai dunia sampai ke tulang sumsum
menggandakan cinta-Nya

Al-Khaliq menegur kita
karena kita begitu angkuh memanen dosa
mengkhianati cinta-Nya

Al-Khaliq murka
karena kita menggandakan dan mengkhianati cinta-Nya
lalu menegur kita melalui ayat-Nya yang bernama wabah corona

Fafirru ilallah
BIREUEN, 31 Maret 2020



Senin, 30 Maret 2020

Puisi-puisi Corona , Tjaha Kum DUNIA BISU

Tjaha Kum

DUNIA BISU


Dunia tak punya Ibu, tempat mengadu
Melampiaskan hawa nafsu, serakah menguasai tubuh
Manusia yang rapuh tata buku pengetahuan


Dunia tak punya Ayah, tempat melepas keluh
Ketika sesuatu menguasai alam dan akal budi
Keringat dan air mata dijadikan santapan
Singa yang berkeliaran pagi-pagi buta
Hingga malam menjelang
Terlelaplah tanpa kata-kata
Ayah tolong aku....

Yatim piatu dunia ini
Ketika Corona menghampiri
Gelap segalanya
Tak bernilai
Apakah dunia durhaka?


Hoelea, 28 Maret 2020



CORONA


Langit suram
Mata manusia tak melihat
Rupa-rupa gaya dan rasa
Penuhi kenikmatan alam
Tubuh dan segalanya


Kadang akal tak berdaya
Pelaku
Di antara yang berkecimpung
Di dalamnya
Tapi, hanya sedikit air yang basah di pagi buta
Menyirami setiap jejak
Yang hampir tertinggal


Of nafsu
Abu-abu aku memandangnya
Dari bilik orang buta
Pengetahuan

Adalah aku
Tak punya mata
Tak punya apa-apa


Hoelea, 28 Maret 2020



Ambigu


Wuhan Kota kecil negeri
Tirai bambu melerai
Lepas wabah terperangkap anak-anak
Orang tua, orang buta, orang miskin, orang terpinggirkan tanpa kemanusiaan
Tanpa kemurahan

Orang kaya, orang sombong, orang binasa harta dan jabatan menggoda lampiaskan naluri kepemimpinan
Demi kemajuan dan cara pandang
Lupa keselamatan teguran Maha Rahmah

Reproduksi manusia menggoda jiwa
Tumbuhkan setitik detik kuasa
Denyut nadi berlapis habis terkikis ambisi
Krisis moralitas
Istri-istri menjerit terbirit-birit ke kiri hingga pelipis tertindis arloji angkuh


Ideologi merah putih, hitam putih, putih biru warna beraneka
Bebas berkuasa antar benua
Siapa yang berdiri di atas singgasana

Agama dipertaruhkan akal gelagat, gerak pikiran
Condong kebiadaban
Murka-nya segera datang
Ketika sajadah enggan digunakan


Ekonomi marah
Masker melonjak
Penangkal dibungkam
Diam membatu
Seribu


Kapankah berakhir?


Hoelea, 29 Maret 2020



Nama : Tjaha Kum adalah seorang tabib yang menginspirasi, kemudian dijadikan  nama penanya. Nama aslinya adalah Ramadhan Abdullah. Dilahirkan di Hoelea, pada tanggal 10 bulan Februari.

Buku kumpulan puisi duetnya telah terbit pada tahun 2019 di Guepedia berjudul pecinta barisan kata. Kini ia hendak belajar berPusai (Puisi Bonsai). Sekarang ia berencana menerbitkan kumpulan puisi tunggalnya pada tahun 2020 ini

Puisi-puisi Corona : Teguh Ari Prianto: Poros Keberbalikan

55.Teguh Ari Prianto:

Poros Keberbalikan


Ketika dunia dalam pertentangan nilai karena paradok,
Virus Corona menunjukan keberbalikan

Bersatu ternyata hanya memupuk keburukan, tak lagi menyeru teguh karena memicu virus  semakin pandemi

Pulang mudik tak lagi membawa nikmat
Selebihnya hanya membawa wabah sampai ke kampung halaman

Apakah Virus Corona bak setan penolong atau malaikat pembawa bencana?

Corona memperdaya keyakinan-keyakinan absurd
yang menopang narasi-narasi dominan

Pertentangan telah menjadi masalah berkepanjangan
yang kau anggap baik pun maknanya kini  terpatahkan
karena corona

Tanda-tanda realitas semesta kembali kepada keselarasannya.
mengusung kebenaran entitas

Tuhan menyelaraskannya
bersama lahirnya pemuja-pemuja baru
Membunuh dikotomi
Bandung, 30 Maret 2020



Pusi-puisi Corona : Asro al Murthawy KOTAKU DALAM BINGKAI HANTU

53.Asro al Murthawy

KOTAKU  DALAM  BINGKAI  HANTU

biru lebam kotaku
maut mengintai dari atap-atap seng
dan udara yang berjerebu
menghitung nyawa sesiapa yang akan dijemput waktu
persimpangan, jalan dan trotoar mengelabu
orang-orang bergegas seperti ada yang memburu
susah payah memungut nafas
satu – satu
dalam seminggu kotaku menjelma lorong sunyi
pasar, mall dan toko-toko rata dalam pandang
datar gelap berbalut kabut
aku tak mengenali sesiapa
dileher tangan-tangan gaib mencekik-cekik
dari dalam dan luar raga
dari dalam dan luar jiwa
aku serasa dituba

Corona!  Corona!
entah siapa berteriak entah siapa yang merutuk
Nyanyikan lagu Tuhan!  Nyanyikan lagu Tuhan!...”
suara siapa pula memekik di lengang jalan
seperti biasa kita lantas sibuk mencari-cari
ayat-ayat pertobatan dan pintu ampunan
tapi, bukankah kita telah lama lupa cara mendoa?

Imaji 1441 H






Asro al Murthawy.  Lahir Temanggung, pada tanggal 6 November. Adalah Ketua Umum Dewan Kesenian Merangin dan Anggota Komite Sastra Dewan Kesenian Jambi. Karya-karyanya terhimpun dalam Syahadat Senggama (k.puisi, 2017) Equabilibrium Retak (2007), Lagu Bocah Kubu (puisi, tanpa tahun),  Kunun Kuda Lumping (k.Cerpen, 2016)  dan berbagai antologi bersama sastrawan Indonesia lainnya. Karyanya yang lain: Pangeran Sutan Galumat (2017), Pengedum Si Anak Rimba (2018), Mengenal Lima Sastrawan Jambi (2018), Katan dan Jubah Sang Raja Hutan (2019) Bujang Peniduk (2019) dan Ujung Tanjung Muara Masumai (2019) diterbitkan oleh Kantor Bahasa Jambi sebagai Pemenang Sayembara.. Hadir dalam Temu Sastra Indonesia I (2008), Pertemuan Penyair Nusantara VI (2012) Jambi,  MUNSI II (2017) Jakarta,  Pertemuan Penyair Asia Tenggara (2018) Padang Panjang,dan Borobudur Writter And Cultural Festival (BWCF) (2019)
Nomor HP/WA  081274837162   Email: almurthawy@gmail.com


Puisi-puisi Corona Nurinawati Kurnianingsih JUM’AT BERPUISI

54.Nurinawati Kurnianingsih

JUM’AT BERPUISI

Hari ini-bagi kami memujaNya dengan Puisi
Membawa do’a bersemayam dalam hati
Suaranya meminta kami datang memantaskan diri
Berseragam putih bersarung dan berpeci
Memulai wudhu untuk bersuci
Dan kami memulai percakapan dengan Ilahi
Terimalah sujud permohonan kami jum’at ini
Cilacap, 8 Maret 2020

MENJAGA RINDU

Dik, masihkah engkau menjaga rindu ini
Lama sekali waktu terus meminta begini
Aku juga ingin bertemu pagi dan berkisah malam hari
Ditempat bersama mencintai

Dik, namamu bahkan ku jadikan sebutan untuk memintaNya
Merindukan pertemuan ditempat abadi
Lalu ku bacakan sajak yang pernah kau berikan aku janji
Untuk tak pernah pergi
Dan kau tetap bersama rindu yang harus ku temui
Cilacap, 8 Maret 2020


BONSAI
Gelora silaturahim jabatan tangan di bangsa ini
Menumbuhkan daun-daun berbentuk pancasila sejati
Dipuja sila pertama kami berakhir sila terakhir
Hidup diantara keadilan duniawi
Kebumen, 9 Maret 2020

SURAT TUHAN

Langkah-langkahku seakan berdansa ditempat berduri
Lalu diberi garis lengkung oleh Tuhan
Dan aku masih menikmati kesunyian duka surat kemarin
Bahwa tuhan telah membawa kekasihku di azali
Aku masih belum tahu mengapa Tuhan melakukanya
Belum cukup setahun rumah kita berdiri
Bersama ketawa bayi kecil ini
Menangis memintamu kembali
Tuhan bawa kami menemuinya
Selepas ini aku hanya ingin keabadian
Dari kekalahan hati untuk mencoba bertahan diri
Supaya nafasku dan bayi ini tak menangis malam hari
Tuhan engkau masih membawaku pada hati yang sendiri
Cilacap, 10 Maret 2020

KAMU TAK BERSAMAKU LAGI

Aku bisa tidur menikmati dekapan airmata
Yang aku tak bisa ketika menahan rindu kita telah tiada
Kemarin aku menemui senja
Bahwa, aku hanya tahu kau bukan miliku lagi
Tetapi kita pernah merajut waktu seindah ini

Membicarakan mimpi yang gagal
Dan janji yang telah diingkari
Kini kamu tak bersamaku lagi
Cilacap, 10 Maret 2020







JIWA BERGANTI

Menatap pada tatap dan menetap
Di tempat jiwa itu berganti atap
Kepada lelaki pengkhianat
Pergilah hati ini bukan sekat
Kepergianmu merajut bahagianya derajat
Cilacap, 11 Maret 2020

Minggu, 29 Maret 2020

Puisi-puisi Corona : .Agustav Triono : Dalam Cekam

37.Agustav Triono

Dalam Cekam

Dalam cekam
Derita mengancam
Lewat jendela
Kuintip masa
Berulang kejadian
Wabah duka
Ketakutan
Kecemasan
Kepanikan
Derita silih ganti
Bertubi-tubi
Orang-orang bingung
Orang-orang linglung
Orang-orang terkungkung
Dalam rumah sepi
Dalam cakap sunyi
Dalam dilema hari-hari
Virus tak terlihat
Menyebar senyap
Teror dunia
Sadarkan manusia
Dalam hening
Paling bening

Dalam cekam
Seluruh berserah
Pada Yang Maha
Wabah segeralah sirna.

Purbalingga, Maret 2020

Agustav Triono, lahir di Banyumas, 26 Agustus 1980, tinggal di Perum Puri Boja blok E 31 Bojanegara, kec. Padamara Purbalingga. Karya sastranya termuat di beberapa media massa dan buku antologi bersama.

Puisi-puisi Corona, Emby Bharezhy Boleng Metha : Apa Kabar Indonesia

38.Emby Bharezhy Boleng Metha

Apa Kabar Indonesia

ketika semua sistem dihentikan
sekolah diliburkan
pekerja dirumahkan
ibadah pun

lalu aku bertanya
kepada Ibu Pertiwi
apa kabar Indonesia
saat ini

sebab,
di media maya
di koran
di TV
dan radio
hanya ada berita Covid-19
yang menjadi momok menakutkan
bagi manusia-manusia

oh.... ternyata
Indonesia-ku sedang tidak baik-baik saja

sejatinya kita
lengah dalam mencegah
sehingga di antara kita
ada yang terkapar oleh wabah






O, Tuhan
sudahi saja penderitaan ini
sudahi saja kesedihan ini
terlalu banyak air mata yang jatuh

bukankah Engkau Maha Segalanya ?

@MataKata.MB







Puisi-puisi Corona, Beti Novianti : Tamu Tak Diundang

39.Beti Novianti

Tamu Tak Diundang

kau datang tiba-tiba
tanpa permisi
aku tak tau apa maksudmu
aku tak tau rupamu
tapi yang pasti kita sama-sama makhluk tuhan
di segala arah semesta menceritakan tentang mu
tentang duka lara
di timur,di barat, di utara, dan di selatan belahan dunia menyebutmu.
katanya namamu korona

semesta bertanya-tanya dari manakah kau wahai korona,
apakah asalmu memang dari Wuhan ataukah Tuhan?
apakah kesukaanmu tentang keresahan atau keangkuhan?
mungkin di jiwa kami tersimpan keangkuhan yang mengalir deras seperti hujan
sampai saat ini  aku tak tau apa yang kau inginkan,dan kau belum juga pulang

Mukomuko,17 Maret 2020








Puisi-puisi Corona , A. Zainuddin Kr : Dari Corona Kita Menmukan Tuhan

40. A. Zainuddin Kr

Dari Corona Kita Menmukan Tuhan

Maka kita kosongkan gereja, klenteng, vihara
Dan masjid-masjid
Kita kunci sekolah-sekolah, perkantoran, pabrik-pabrik
Dan pertokoan
Dari corona kita kembali pada ruang-ruang sepi
Mengisoali diri
Ditengah sunyi kita bangun gereja, klenteng, vihara, masjid
Dan segala tempat peribadatan
Di dalam hati
Menekuk tengkuk menuju tawadzuk
Bersujud pada kerendahan yang sungguh

Ya, dari corona kita berpulang
Setelah berabad terpenjara pada ruang keangkuhan
Simbol-simbol
Dimana banyak tuhan menyamar
Menjelma benda-benda dan aneka rasa
Dan sujud kita hanyalah
Sujud yang pura-pura

Maka, dari corona kita membangun hati dan jiwa
Yang berabad terlantar dalam gersang
Tandus di tengah gelap
Oleh sesak berjubelnya benda-benda
Penghalang cahaya
Dari maha cahaya

Dari corona, nalar-nalar kita dirontokkan
Keangkuhan ditumbangkan
Otak kita tercuci
Hati dan jiwa tergiring menuju hakekat diri:
Bukan gereja, klenteng, vihara dan masjid-masjid
Hanya padaMu, tempat kita bersimpuh
Pekalongan, 24 Maret 2020.


CORONA

Corona,
Ah engkau sungguh begitu seksi, sayang
Menggoda tiap anak anak negri
Menjajah ke segenap dataran bumi
Berjuta nyawa kau tikam dalam sebaran berita
Senyum tawamu menjadikan para para limbung
Pasar pasar dan toko lengang
Setelah sesaat diserbu pengunjung
Jalan jalan sepi
Sekolah dan tempat ibadah melompong
Sedang anak anak terkurung
Dalam kardus

Corona,
Ah, karenamu
Ya, karenamu, aku pun enggan kemana
Bersemadi dalam kamar isolasi
Menulis puisi tentangmu
Sebuah senyum yang melekat
Di kancing bajuku

Corona,
Darimu banyak hal yang kita ambil
Dan olehmu, kini kita lebih banyak tahu
Tentang bagaimana mencintai hidup



Maka cukuplah sudah
Dan pulanglah, Coronaku
Berhentilah untuk terus menjelajah
Biar aku simpan melangkorimu
Di dalam saku celana
Bersama bayang bayang lembut
Remasan jemarimu berpuluh tahun lalu
Pekalongan, 18 Maret 2020






















Puisi-puisi Corona , Ade Sri Hayati Keluar Mati Korona, Didalam Mati Jiwa

41.Ade Sri Hayati

Keluar Mati Korona, Didalam Mati Jiwa

Berdebu
Ia masih dalam tempat yang sama
Tak bergeser sedikitpun
Beroda dua
Membayang jauh pikir yang menahan rindu
Keluar mati
Didalam pun mati

Keluar jiwa melayang
Dalam bilik pun melayang
Ada apa dengan bumi
Tuhan marahkah?
Alhadist mengatakan ini pernah terjadi pada jamanya
Wabah wabah berdatangan pada negeri Syam lalu kini Indonesia
Corona, katanya

Sekeping doa mengahantarkan untuknya
Untuku? Tertelan jiwa yang terhempas rindu yang tak tahu kapan akan bertemu
Keluar mati
Didalam pun mati
Semoga corona segera usai
Agar rindu ini selesai

Indramayu, 27 Maret 2020


Puisi-puisi Corona, Omni Koesnadi : Tentang Corona

42.Omni Koesnadi

Tentang Corona

 “Dirumah aja “
Sang istri mengunci mulutku
Sang anak semata wayang
Memandang sayu
“Diluar tuhan dan hantu lagi bertengkar
Nanti bapak kena sasar”

Aku yang tinggal bertiga
Di sangkar empat kali lima meter
Tanpa jendela
Sehari duapuluhempat jam
Menikmati hidup baru dunia baru
Dikota yang kau banggakan
Ketika meninggalkan desa
Yang penuh kehijauan
Dan keramahan

 Corona telah mengajarkan aku
Ketakberdayaan manusia
Dan rahasia semesta


Omni Koesnadi penikmat dan pembaca sastra .Pernah belajar di Sekolah Tinggi Publisistik.Menulis dan mengirimkan tulisannya berupa puisi,cerpen dan essay di media massa Jakarta, Bandung,Jogja dan Bali sekitar 1980an. Buku puisi tunggalnya yang terakhir "Peradaban Dasi" (1999)Kini masih bermukim di Jakarta..

Puisi-puisi Corona, Eli Laraswati Muram senja


43. Eli Laraswati

Muram senja

Waktu datang menghampiri, tanpa bisa berkompromi juga tidak ada waktu untuk berbenah diri.
Yang benar saja, aku berada di negeri tercinta yang dipenuhi huru-hara.
Turunkan...!
Hempaskan...!
Lengserkan...!
Dengan semangat yang membara, mereka terlihat ganas dengan celoteh yang kian lama
semakin memanas. Yang keluar hanya kata-kata yang pedas tanpa tahu batas.
Kalian!... pergunakan otak kanan dan kiri, otak kalian tumpul sekali mengurus negeriku ini?
Petinggi-petinggi tikus yang berdasi, janganlah bangga karena bisa duduk di kursi yang empuk
dan baju yang wangi juga rapi.
Virus corona menghampiri, tapi kalian semua bungkam dan tetiba menjadi tuli. Atas dasar
rakhyat kecilmu aku mengutuk kehadiran kalian untuk sadar diri.
Djakarta
15, march 202







Puisi-puisi Corona, Supriyadi Bro : Kasih Tuhan Pada Hambanya

52.Karya : Supriyadi Bro

Kasih Tuhan Pada Hambanya

Kasih Tuhan pada hambanya?
Sebuah tanya, kesucian membimbing diri
Berlimpah nada Tuhan mengasihi hambanya, tapi tafsir mengaburkannya
Dunia berguncang, wabah virus corona merajalela
Masihkah ada kasih Tuhan untuk hambanya?
Mari kita merenung dalam keheningan hati
Mari kita menjernihkan jiwa, menjawab tanya
Sekelebat tafsir menyisir pikir
Tuhan, inikah pesan di akhir jaman
Putaran thawab di kiblat sejenak terhentikan
Kau jauhkan hambamu dari rumah-rumahmu
Sudah sehina itukah hambamu ini?
Kuterima pesanmu, teguranmu
Kuterima caramu mengasihi hambamu, agar kembali menghamba sepenuh jiwa
Ya Rab,
Hamba-hambamu ini terlalu bebal terima nasihatmu
Kemaksiatan, kepalsuan sumpah merajalela di mana-mana
Keduniaan telah melupakan akhiratnya
Ya Rab,
Atas kuasamu, kau hentikan tempat-tempat kemaksiatan
Atas kuasamu, kau hentikan prilaku kesia-siaan
Atas kuasamu, kau ingatkan kerinduan hadir di rumah yang kau muliakan
Ya Rab,
Takdirmu saat ini adalah kasihmu,
sucikan dunia atas ulah hambamu agar terhindar dari kehancuran akhir jaman
Kasih Tuhan pada hambanya, membumi sepanjang masa

Mojokerto, 29/3/2020

Sabtu, 28 Maret 2020

Puisi-puisi Corona , M. Muchdlorul Faroh : Dipaksa Libur

M. Muchdlorul Faroh

Dipaksa Libur

dilihat sekilas kau nampak garam
pemerintahpun kau buat
ketar ketir ketakutan
wabahmu sempat getarkan dunia
sekolah sekolahpun ikut jadi dampak
kau paksa kami berpisah dengan guru
kau buat jeda antara aku dan teman bertemu
dan harus menunggu selama 2 pekan
tuk melebur rindu
pagiku sekarang hanyalah antara aku, jalan sepi, dan kopi yang mulai mendingin
sudah tak ada lagi teman yang membuat riuh
tak ada lagi guru yang bersenandung lama
dan tak ada lagi papan tulis yang belepotan oleh tinta
darimu aku harus berpisah dengan sekolah
dan dipaksa libur tuk ngangsu kaweruh


Puisi-puisi Corona, I Made Suantha : Duka Itu Bernama Corona

I Made Suantha

Duka Itu Bernama Corona

Siapakah namamu? Terbang sangat rendah
Di udara. Kecil di luar tubuh
Namun kuasa dalam hidup
Menghantam seberat martir
Bagaimana bertahan!

Dimanakah rumahmu? Beranakpinak dalam ruang tunggu
Untuk menjadi liar : Jabat tangan
Suara yang tidak berduka
Membentangkan jarak
Bagaimana cara menakar demam!

Bersenyawa di udara. Menetak hembusan nafas
Bumi serasa sempit untuk melangkah
Tidak ada cerita bagi tempat
Untuk basabasi
Tentang cinta dan kasih yang tulus.

Hidup di tera oleh zat yang lebih halus dari angin
Covid-19. Lemah di udara
Perkasa dalam tubuh
Menghantam tanpa mampu menangkis
Oi, bagaimana cara mempergunakan tameng?

Siapakah namamu? Menolong diri sendiri
Puputan untuk tidak keras kepala
Berkerumun, membentangkan tangan
Untuk membuat jarak
Iman untuk melawan. Setia untuk berjuang
Siapa bertugas untuk menolong?
Diri sendiri.
Awal dan akhir saling silang di udara
Menusuk diamdiam
( Bagi yang tidak setia
Yang berdusta)
Virus yang menebas tanpa berduka!
Maret’ 2020



Menanam Pedih di Bening Airmata

(Burung dengan paruh terluka
 Terbang rendah di telempap tangan
 Yang tak mampu menggenggam
 Dan menggelepar hanya karena desiran angin)

Duka itu dating. Sesenyap hembusan/ tarikan nafas
Dan langsung menghujam
Tanpa peralihan musim
Tibatiba saja tubuh menjadi limbung
Karena kau beranakpinak dengan sempurna.

Siapakah kau? Wujud kasat mata
Namun mampu menanam pedih di bening airmata
(Di airmata itu kau tanam jasad
Yang tak berdosa. Rintih yang telah kehilangan sedu
Demam yang tak tertera dalam temperature
Tinggal gigil yang menahun).
Kau, makhluk tanpa silsilah. Lahir premature

Tanpa ariary + nenk moyang
Kau, makhluk yang menjadi kuasa
Karena kelengahan & keacuhtakacuhan manusia
Kekurangwaspadaan. Barangkali sedingkih angkuh.
Makhluk yang begitu perkasa dalam tubuh.

Siapakah kau?
-Corona yang mampu menipu
Dan bersenyawa dengan sempurna
Dalam setiap tarikan nafas-

Pertanyaan yang tertahan pada rasa sedih itu.
Maka, jawabannya berpeluang pada asa
Diri sendiri. Kesetiaan untuk berjarak.
Kesadaran jasmani + rokhani
Kau yang mengajari untuk berperang dengan
Diri sendiri
Berdiam diri. ( Tata laku mengolah diri )
Maret 2020






I Made Suantha,  Lahir di Sanur, 24 Juni 1967
Kumpulan puisi tunggalnya : PENIUP ANGIN (1989), TOGOG YEH (2002) dan  PASTORAL KUPUKUPU (2008).Sajaksajak juga terhimpun dalam antologi puisi a.i. Jejak Tak Berpasar (2015), Tancep Kayon (2016), CINCIN API ( 2019), TUTUR BATUR (2019), NEGERI BAHARI(2018), BANDARA DAN LABA-LABA(2019)
Tahun 1987, diundang Dewan Kesenian Jakarta dalam Forum PUISI Indonesia 1987 di Taman Ismail Marzuki.
Tahun 2008, menerima penghargaan Widya Pataka dari Gu



Jumat, 27 Maret 2020

Puisi-puisi Corona : , Harkoni Madura : Orang-orang Jelata dan Corona

Harkoni Madura

ORANG-ORANG JELATA DAN KORONA

orang-orang jelata itu
masih saja menggegas lagu
padahal dia engah dan tahu
korona mengintai sewaktu-waktu
tanpa pemberitahuan lebih dahulu

orang-orang jelata itu ibarat menyantap simalakama
lantaran dia tulang punggung keluarga
yang menanggung degup sekian jiwa
dari balita hingga manula
sebab lewat asin keringatnya
dia menebar suluh matahari dengan cinta
berpengiring kayuhan doa dan nadham airmata

orang-orang jelata itu menabuh bahasa lembah
di hatinya yang menyampir sulur-sulur ibrah
tanpa gerutu,cemas dan gundah
karena kediriannya bercokol di palung tabah
dikawal silir rancak irama burdah

Banyuates, 26 Maret 2020

Puisi-puisi Corona : Anisah Effendi : Corona Virus

CORONA VIRUS



Sudahilah permainan ini

Berhentilah menakut-nakuti kami

Pergilah sejauh-jauhnya

Jangan dekati kami lagi



Kami tak sanggup

Kehilangan orang-orang yang kami cintai

Sungguh pilu kami rasa

Dan berat kami tanggung



Corona virus

Kami memintamu sepenuh hati sepenuh harap

Sudahilah tingkahmu yang mengesalkan itu

Enyahlah dari sini

Musnahkan saja dirimu sendiri

Tanpa membawa-bawa kami

Kau dengar itu Corona virus?



Karya: Anisah Effendi

Indramayu, 26 Maret 2020

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------



HANTU CORONA



Tak terbayangkan

Bencana kemanusiaan ini

Kupikir hanya ada

Dalam dongeng-dongeng

Dalam cerita-cerita



Entah itu..

Bencana banjir besar di masa Nuh

Bencana gempa di masa Luth

Bencana kekeringan di masa Yusuf

Ataupun bencana wabah penyakit di masa prabu Airlangga dalam dongeng Calon Arang



Bencana..

Kita alami juga

Hari-hari ini

Saat-saat ini



Corona mengintai kita

Corona menghantui langkah-langkah kita

Corona menyerang kehidupan kita



Karya: Anisah Effendi

Indramayu, 26 maret 2020

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------

TERSEBAB CORONA



Duka ini begitu keras

Bagai badai menghantam pepohonan

Lalu menimpa tubuh-tubuh di jalanan



Jerit tangis

Hiruk pikuk

Beradu pilu



Anak-anak tak tahu lagi kepada siapa memanggil ayah

Karena ayah mereka telah tiada

Anak-anak tak tahu lagi kepada siapa memanggil ibu

Karena ibu mereka telah pergi

Para pedagang di pinggir jalan tak tau lagi kepada siapa jajakan dagangan

Karena pembeli tak lagi datang

Sepi



Pesta pora bubar

Dari diskotik dan klub-klub malam

Dan di kuil-kuil doa-doa tak lagi terdengar

Wajah-wajah terlihat muram

Senyap



Di rumah, orang-orang kehilangan tangan dan hangat pelukan

Di mana-mana, mata menatap kosong tak mengerti

Kapankah prahara ini berakhir

Harapan sirna

Mimpi-mimpi lenyap



Cemas hinggapi siapa saja

Corona mengambil nyawa tanpa menyapa



Hening berbisik di telingaku

Diamlah di tempatmu

Dia akan datang tanpa kau tahu

Diamlah..

Jangan sampai dia menjamahmu



Karya: Anisah Effendi

Indramayu, 26 Maret 2020

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------



Biografi:

Anisah Effendi, menyukai puisi sejak duduk di bangku Sekolah Dasar. Beberapa kali mengikuti antologi puisi bersama. Dua di antaranya yaitu Puisi Menolak Korupsi 5 dan Antologi Puisi 1000 Guru. Bisa ditemui di alamat: blok Lor, desa Tugu, Sliyeg, Indramayu, atau blok Kajengan, desa Danawinangun, Klangenan, Cirebon.

Facebook: Anisah Effendi

Puisi-puisi Corona : Arya Setra : Dibalik Corona

DIBALIK CORONA

Jauh dari sebrang sana
kau membawa pesan kepada dunia...
mengabarkan bahwa kau lah yg berkuasa ...
bagai sang pencabut nyawa...
Kau sungguh luar biasa
namamu dalam sekejap
menjadi trending dunia
dan momok yang sangat menakutkan
memenggal siapa saja yang lengah...
Tua,,,muda,,, laki-laki ataupun wanita
tidak ada prioritas menjadi sasaran amarahmu yang membabi buta....
Corona oh corona....
dibalik amarahmu
kau mengajarkan beberapa hal pada dunia...
kau mengajarkan arti kesehatan..
kau mengajarkan arti kebersamaan..
kau mengajarkan arti keimanan...
sehingga kita semua harus bersih-bersih dan me-lockdown diri masing-masing..
agar tidak keluar dari maqom nya...
dan selalu diam di dalam....didalam....didalam...
diri yang selama ini selalu mengembara tiada batas...
Corona oh...corona
ketakutan yang kau ciptakan...
mendorong diriku mungkin juga kita semua..untuk kembali padaNYA......


Jakarta 26 maret 2020
Arya Setra

Puisi-puisi Corona, Wardjito Soeharso : Japa Mantra

Wardjito Soeharso

Japa Mantra

Bolading!
Klambi abang
Bendho gowang.
Jalitheng!
Jun jilijijethot
Wong Tapang asli
Cempe-cempe!
Undangna barat gede
Tak opahi duduh tape
Weerrr.....weeeerrrr....
Weeeeeerrrrrr....
Setan ora doyan
Penyakit ora ndulit
Wabah ora temah
Amung kersane Gusti Allah
Corona...
Minggaaaaaatttt!


Semarang, 27 Maret 2020




Puisi-puisi Corona , Sahaya Santayana : SURAT JARAK JAUH

Sahaya Santayana

SURAT JARAK JAUH

kalimat-kalimat peringatan menggema
melalui pengeras suara di perempatan jalan
terdengar saat pagi memandang lampu perhentian
di mana kelengangan singgah di kota waktu

menulis catatan yang dipaparkan jadi puisi
di sini peraturan kian dipertimbangkan perbuatan
akan marka-marka yang membuat kita jeda
di antara sejenak yang was-was dan ragu

begitupun kebiasaan yang tak dapat ditahan
penyesuaian-penyesuaian muncul di hadapan
diri yang mempunyai pintas-pintas penerimaan

kata-kataku dihadapkan bijak yang dalam
demi jaga yang diterjemahkan keselamatanmu
yang sengaja kueja bersama kesunyianku
Tasikmalaya, 2020.














DI STASIUN SEPI

tak biasanya pemberangkatan sukar akan keramaian
selimuti suasana yang semakin murung mendung
sejumlah pembatalan-pembatalan pertemuan terpaksa
harus diurungkan sejenak waktu yang berputar

lokomotif-lokomotif datang lalu pergi menarik
gerbong yang berisi kekosongan lain dari kemarin
yang disaksikan bersama penantian di persilangan
lebih dulu pamit menuju perhentianmu

telah kubongkar barang yang sudah terkemas rapi
menyepi di kediaman hatimu yang kembali menulis puisi
khawatir menggaris pada kertas hari bersama kejadian ini

pada jadwal yang telah termaktub dan menyanubari
di satu jalur yang tak dapat kembali pada badan
adalah kalimat perpisahanku yang berkabung berulangkali
Tasikmalaya, 2020.














DISINFEKTAN HUJAN

kupandang endapan rinai-rinai
pada tanah di musim baru yang bertamu
setelah menjalar dan diarak perjalanan angin
betapa mendung mengitari selimut langkah

angka-angka yang melonjak kian hari termaktub
di kepala hingga basah bercampur keringat
sudah hafal akan menanti kembali harapan
yang berteduh di bawah jantung doamu

di mana ketakutan dan keselamatan
adalah kabar yang melayang di sudut ketegangan
apa hendak dilaku selain arif dalam ketenangan

di sini aku tak bisa menghitung rintik yang pelan
dialirkan tuhan yang jatuh membasuh usap sepenuh
serap yang dekat mendekap lalu dirapalkan bumi
Tasikmalaya, 2020.















Sahaya Santayana, Lahir di Pontianak, Kalimantan Barat, 12 Desember 1995. Menulis sejak Tahun 2014. Aktif Bergiat Satu Jam Sastra di Alun-alun Kota Tasikmalaya. Salahsatu puisinya masuk Antologi Bersama a.l : Jejak Cinta Di Bumi Raflesia, (2018), Jejak Hang Tuah Dalam Puisi, (2018), Bulu Waktu, (2018), Bulan-Bulan Dalam Sajak, (2018), Sajadah, (2019), Risalah Api, (2019), Dari Negeri Poci 9 : Pesisiran, (2019), Membaca Asap, (2019), Segara Sakti Rantau Bertuah, (2019), Antologi Sajak Juara KORSABARA, (2019), Suara dari Jiwa, (2019), Negeri Penyair, (2019), Puisi Sayur Mayur, (2020). Dan beberapa karyanya pernah dimuat Di H.U Kabar Priangan 2017, Radar Tasikmalaya 2017, H.U Rakyat Sultra 2018, Kuluwung.com 2018, Koran Merapi 2019, Magelang Ekspress 2019, Solopos 2019, Radar Banyuwangi 2019, sastra-indonesia.com 2019, tembi.net 2019, Radar Bekasi 2019, travesia.co.id 2019, kataberita.id 2020. Sekarang menetap di Kota Tasikmalaya.





Rabu, 25 Maret 2020

Puisi-puisi Corona : Sukma Putra Permana ,Karena Korona

Sukma Putra Permana

 HIMBAUAN PEMERINTAH UNTUK MENCEGAH CORONA MEWABAH

 “Sekarang musimnya virus mewabah. Sebisa mungkin sebaiknya berdiam diri di rumah. Jika terpaksa bepergian? Cuci tangan harus sering-sering dilakukan. Menjauhlah dari tempat-tempat umum. Apalagi yang banyak orang berkerumun. Hindari pula banyak orang dalam suatu acara pertemuan. Entah itu pertunjukan, resepsian, reunian, ataupun arisan. Ditunda dulu rencana kegiatan-kegiatan komunal. Apalagi kalau itu acara sunatan massal!”
“Nah, itulah maksudnya kita melakukan Social Distancing atau Renggang Sosial. Agar kita semua terhindar dari wabah virus global.”
“Tapi, tapi, tapi… Kok, itu masih ada kerumunan orang seperti di pasar? Katanya, acara gratisan bagi-bagi masker!”
“Lho, lho, lho… Kok, itu masih ada kumpul-kumpul orang banyak di aula? Alasannya, acara DEKLARASI LAWAN CORONA!”
“Hadeuh….., ni orang-orang ndableg banget, yak?!”

 Maret 2020


Sukma Putra Permana

 KARENA CORONA

 Karena Corona, jadi berjarak pergaulan bertetangga kami. Tapi tak kan tertutup pintu silaturrahim kami.
Karena Corona, jadi terbatas hubungan pertemanan kami. Tapi tak kan terputus tali persahabatan kami.
Karena Corona, jadi renggang jalinan persaudaraan kami. Tapi tak kan terlepas ikatan kekerabatan kami.
Karena Corona, jadi terganggu kesehatan raga kami. Tapi tak kan terlewatkan upaya kami menguatkan antibodi.
Karena Corona, jadi terhalang jalan nafkah kami. Tapi tak kan terkalahkan semangat kami menjemput rizki.
Karena Corona, jadi terkunci rumah ibadah kami. Tapi tak kan pernah terlupakan sujud dan doa kami.
Karena itulah, yaa Robbi…, tolong hilangkan wabah ini dari negeri kami…

 Maret 2020

Puisi-puisi Corona , Agus Sighro Budiono : PMK) Puisi Menolak Korona

Agus Sighro Budiono


1. PMK)
Puisi Menolak Korona

aku tulis puisi menolak korona
diantara rasa was was penuh tanda tanya
aku tulis puisi menolak korona
diantara pusaran rasa curiga
ini virus alami atau siasat perang buatan manusia
ada aroma Illuminati* dalam sebarannya
berkehendak kuasai dunia dengan tatanan baru sesuai keinginannya

korona mencipta adab tak biasa
negara negara menutup pintu kota
mengharamkan pendatang melarang keluar warga kota
menjaga jarak pada sesama
sepikan masjid, gereja, kuil, pura dan wihara
orang kaya tunjukan ketamakannya
memborong barang lambungkan harga

aku tulis puisi menolak korona
mengusir takut tajamkan waspada
bersiaga melawan sepenuh daya
bersihkan diri sucikan raga
tak henti lantunkan doa
berlindung pada Tuhan segala kuasa

Jonegoro, 19 Maret 2020

Note:
* Illuminati istilah yang banyak digunakan untuk menunjukkan organisasi persekongkolan yang dipercaya mendalangi dan mengendalikan berbagai peristiwa di dunia melalui pemerintah dan korporasi untuk mendirikan Tatanan Dunia Baru.


2. SAAT BUMI BERLUMUR TUBA

Malam membujur kaku
Daun daun kelu semacam beku
Sepi mengoyak rindu
Rasa was was berirama gerutu
Kapan pagebluk segera berlalu

Di beranda rumah berteman kopi dan cigaret murahan
Aku membaca malam dalam kesendirian
Ada jejak nostalgi dan riuh gurauan
Menghias malamku yang liar berkelindan

Tapi hari ini, saat bumi berlumur tuba
Ini malam menjadi tak biasa
Berkerumun dan bercanda bisa jadi celaka

Ini masa paling aneh sepanjang sejarah
Yang berjarak akan selamat terhindar wabah
Yang bersatu tercerai tumbang rebah


Bojonegoro, 220320

Puisi-puisi Corona , Sutarno Sk : Kesaksian


Sutarno Sk

Kesaksian

Setelah kau bajak udara
kau rampok tetangga
kau rompak samodra
dan pertama kau yang berwabah

Berdalih tak sengaja
memulai senjata biologis
sebagai pemusnah kehidupan
kau ambisius menjadi adidaya
kau rakus menjadi super power

Tidak mungkin kebocoran
padahal tahu akibat
sengaja kau produksi
sebagai pemusnah
agar semua mampus
dan kau menjadi tuhan dirimu sendiri

Kau musang berbulu tikus memang
setelah terkaman tak mampu menang
kau grogoti luar dalam rumah tetangga
sampai pisik dan jeroan pun kau obok-obok
hingga tak berdaya sekarat
hingga nyawa melayang
sementara boleh kau terbahak

Kau memang licik
kau sudah memulai perang
ala siluman bersenjata wabah
katamu beralas tak sengaja
sebagai kecelakaan
padahal kau sudah menggertak
kau sudah unjuk gigi punya pemusnah masal
tetangga sempat gagap tak siap

Kau memulai dengan untung rugi
satu wargamu kau angkat pahlawan
sebagai korban jibaku
seratus orang tetanggamu korban
kebohongan kebocoran
sepuluh orangmu mampus
seribu orang lain tak bernyawa
dan seterusnya
kau barbarian

Kalibata-Maret - 2020

Puisi-puisi Corona, Raden Rita Maimunah : Corona Datang Dunia Senyap

Raden Rita Maimunah

Corona Datang Dunia Senyap

Suasana mencekam, malam semakin kelam
Tanda tanda kehidupan seperti terhenti
Virus corona menjadi momok yang menakutkan
Gemuruhnya karaoke, kamar kamar birahi
Yang biasanya ramai, Kini senyap seperti kuburan
Covid 19, corona kau telah bunuh kemesuman malam,Itulah hikmahnya
Tapi kau bunuh juga jiwa jiwa tak berdosa
Kau bunuh perekonomian sehingga pasar pasar sepi
Jalan jalan sepi, tempat wisata sepi
Lantas kita bisa apa ? jika semua adalah kehendak ALLAH
Bumi ini telah kelewat tua, Bumi ini sudah berat dengan dosa
Bukan martil yang menghancurkannya, Bukan peluru yang memporak porandakannya
Tapi virus yang disebut dengan manis “ Corona “
Yang membuat ketakutan seluruh manusia di dunia
Ia merayap dengan diam tanpa kata,Membuat manusia menjadi gila di serang ketakutan
Apakah jabatanmu dapat melenyapkan virus corona
Apakah uangmu dapat menyuruh pergi virus corona,Agar ia tidak datang
Dapatkah manusia menghentikan semua
Tidak, kecuali yang Maha Kuasa menghentikannya
Kita  seperti kehilangan kendali diri
Saat harus menapak dari waktu ke waktu, Menunggu virus itu lenyap
Dunia semakin senyap saat corona datang
Padang 25 Maret 2020


Raden Rita Maimunah, dengan no HP: 082172619207, WA 081266135861, Alamat surat menyurat, Komplek Pemda Blok F2, Sungai lareh kelurahan Lubuk Minturun, Kecamatan Koto Tangah Padang Sumatera Barat . Email maimunahraden@yahoo.co.id, masuk dalam berbagai  antologi Puisi dan antologi cerpen,  menerbitkan 2 buku antalogi Puisi tunggal  dengan nama pena yang juga sering menggunakan  nama  Raden Rita Yusri

Puisi-puisi Corona : Kurliyadi Kepadamu Corona

Kurliyadi

 Kepadamu Corona

Kepadamu corona
Yang tidak terlahir berjenis kelamin jantan atau betina
Selamat datang, ucapkanlah salam
Di negeri kami yang ramai dan bahagia
Yang mengandung senyum paling ramah
Untuk pendatang dan tamu tak di undang

Di televisi, koran dan kabar dari penyihir hoax
Dirimu menyerupai segala bentuk rasa takut
Mengibarkan bendera tanda merdeka
Atau kau bangga pada dirimu sendiri
Sebab adamu yang semakin menjadi duri dan api

Di negeri seberang dan kerabat
Wajahmu menghias segala ruang kosong
Seakan melumat segala hak dan kekuasaan
Bahkan adamu semakin membuat kami terusir
Dari jabat tangan, berpelukan bahkan saling lempar senyum
Hanya untuk bertanya “apa kabar?”

Dari adamu pulalah kami rasanya haram
Untuk pergi ke tempat ibadah kami sendiri
Yang selalu suci dan tidak terdapat caci maki
Apalagi iri dan dengki
Kepadamu corona,
Kami sama sekali tidak takut mati







Atau menyerah untuk terakhir kali
Tapi kami terus membenahi diri, bersatu
Mencari jalan untuk melawanmu
Sebab pada diri ini masih tumbuh belati
Yang akan mengoyak tubuhmu menjadi mati
Atau mengusirmu dengan tanpa jejak kaki lagi
2020


Suara Corona

Dari kota wuhan
Lahir sebagai awal
Beranjak dewasa sampai sekarang
Berdiri tegak di negeri-negeri tuan

Suaramu menggema
Seperti menunjukkan tanda
Bahwa adamu adalah jalan musibah
Bagi kami yang hanya manusia sahaya

Wahai corona, dalam tubuh kami
Sudah tertanam jalan perang
Kalah atau menang adalah dua mata uang
Yang sama sekali tidak kami takutkan

Mari serang, kami tidak berdiam diri
Meski ruang kami hanya sebatas pagar rumah
Dan anak-anak kami belajar tanpa sosok guru
Kami tetap siap dan setia
Dengan pedang dan pena
Dengan doa dan mencari jalan keluar
Meski nyawa taruhannya
2020
Kurliyadi lahir di kepulauan kecil gili-genting madura, bekerja sebagai pedagang kelontong (sembako) dan alumni pondok pesantren mathali’ul anwar pangarangan sumenep, menulis cerita pendek dan puisi, karyanya tersiar di beberapa media massa dan beberapa antologi sekarang berdomisili di alamat Warung Madura Zayadi Jalan pamengkang raya ( masjid jami baiturrahman) blok pahing Rt. 03 Rw. 03 kecamatan mundu ciebon Email  : kurliyadi.khuzaimah@gmail.com  nomer Rekening BRI : 093501033013532   blog : https://istanapuisikurliyadi.blogspot.co.id contact : 082215788844



Puisi-puisi Corona, Zaeni Boli : Takut

Zaeni Boli


Takut

Orang orang dengan hati yang kacau
sedang mengintip dibalik jendela
suara anjing yang menggonggong
kini sahdu terdengar

seorang anak dan ibunya tertidur pulas
meski maut mungkin mengintai
Larantuka , 2020




Ajaib

Seperti biasa ia tak terlihat
bentuknya seperti durian
tapi bukan durian runtuh jika kita mendapatinya

engkau sedang mengecup maut
jika ia datang
Larantuka , 2020

Puisi-puisi Corona , Kurnia Kaha BILA KABAR ITU TIBA

Kurnia Kaha

BILA KABAR ITU TIBA

Kabar kematian itu akan tiba
Entah untukku
Atau untukmu
Tak perlu risau bila tak ada yang melayat
Sebab semua tinggal menunggu penghitungan
Antara kita dan diriNya
Doa-doa mungkin akan sampai atau
Bisa juga tak akan pernah sampai

Sebelum kabar itu tiba
Ada baiknya kita berkaca
Di ruang yang terang
Biar terlihat kedua mata,
hidung, dan mulut
Agar jelas jawabnya
Jika corona mejemput
Telah sejauh apa kita bergelut
Dan sekhusyuk apa dalam sujud-sujud
Pekalongan, 22 Maret 2020













DARURAT CORONA

Tak seperti biasanya
Pagi begitu tenang
Jalan-jalan lengang
Hanya sedikit yang melenggang

Salah satu penjual jajanan kesekolah
Belum sempat ia membuka lapaknya
Mengapa sesepi ini?
Bakulnya digendongnya lagi
Melangkah pulang
Dengan hati yang gamang
Menoleh ke pintu gerbang
“Darurat Corona Belajar Di Rumah”
Aku hilang kerja
Untuk beberapa hari yang belum pasti
Gumamnya dalam hati
Pekalongan, 18 Maret 2020


Kurnia Kaha, lahir di Batang, 30 April 1983. Penulis buku puisi “Debur-debur Rindu”  diterbitkan oleh meja tamu tahun 2019. Selain menulis puisi, Kurnia juga menulis artikel, cerpen, penelitian dan lainnya. Tulisannya telah dimuat di buku tunggal dan buku antologi bersama, surat kabar, majalah, dan jurnal penelitian. Selain menulis kegiatannya adalah mengajar di SMP N 5 Pekalongan, aktif di MGMP Bahasa Indonesia Kota Pekalongan dan penggerak Komunitas Guru Belajar. Untuk silaturahmi lebih lanjut bisa di fb: Kurnia Kaha, Instagram: @kurniakaha, dan HP 081 390 516 166.

Puisi-puisi Corona, Caridah Hartati TAMU SENJAKU; CORONA

Caridah Hartati

TAMU SENJAKU; CORONA

Sekejap lalu dari langit kuterima kabar; Dihantar nanar angin getir penuh khawatir. Belum lagi kopi manis kunikmati lantis. Berpilin dengan dongeng Ibu meninabobokan kesibukan. Corona dengan pongah tengah berada di beranda. Mengetuk gerbang tanpa gamang. Tak ada jeda dan gencar. Bukan untuk masuk, namun memaksaku keluar. Menitipkan luka di kepala. Sebagai kandil agar suara Tuhan lebih lantang terdengar. "Tidak hanya pada sepertiga malam", bisiknya tartil.

Beranjak pagi menemukan sepi. Kota kehilangan matahari. Malam tanpa dentuman. Sebab hening berarak di jalanan. Kecuali, di balik pintu-pintu. Lirih menyeduh kecemasan. Mengaduk derita. Memamah luka. Melarutkan segala duka. Berebut mencari cahaya justru saat membawa lentera. Berjejal spekulasi suci sekadar melegalisasi gengsi.

Siapa yang dapat melihat salah di sini? Usah menunggu dijauhi mimpi. Jika nanti saat terjaga memilih tak mendapati dipara mata rusa.
Bekasi, 24 Maret 2020

Selasa, 24 Maret 2020

Penyair Mencatat Peristiwa wabah Virus Corona di Tanah Air

Puisi-puisi Antologi Corona, MUHAMMAD JAYADI DI MASA GENTING CORONA INI

MUHAMMAD JAYADI

DI MASA GENTING CORONA INI

Rupa-rupa sore menjelang malam
Sunyi masih mengaduk kampung kami, menepuk pundak kami
Kesadaran hidup sehat masih digalakkan
Demi keselamatan, karena hidup mesti berjalan

Wabah-wabah yang datang telah merubah wajah negeri menjadi muram, suram
Namun tak henti kita panjatkan doa dan berusaha keluar dari ngerinya keadaan
Meminta jalan terbaik di sisi Tuhan
Dan yakin, badai pasti berlalu, pasti berlalu.

Halong 24 Maret 2020
BISIKKU PADA SI CORONA

Tolonglah engkau pergi, hei Corona
Kami ingin hidup damai sejahtera melalui hari
karenamu
Risau kemarau hati menjadi lebih panas lagi
Tangis-tangis menghujani bumi, akibat ulahmu ini
Ayolah, pergi dari tempat kami di bumi ini, hei Corona

Waktu kami terbuang hanya mengurusimu saja
Sedang kehidupan kami mesti berjalan sebagaimana adanya
Mencari nafkah kehidupan
Tempat-tempat ibadah kami tertutup dari segala puja-puji kepada-Nya
Akibat ulahmu juga, hei Corona

Lama aku bermenung, memanjat doa pada Ilahi
Ampuni kami, ya Allah
Tolong jauhkan bala' yang menghantam penjuru bumi ini
Dengan kuat kuasa-Mu menjaga jiwa raga kami yang lemah ini. Aamiin.

Halong 24 Maret 2020



LALU MALAM DATANG

Menemui jejak bulan
yang lama mengendap di jiwa
seiring keadaan wabah-wabah datang membuat ribut dunia

Membuka jalan ini dengan semangat
keluar dari keterpurukan nan hitam yang menggerogoti keadaan
kita, manusia lemah ini berharap pada Tuhan
berusaha juga lepas bebas dari cengkeraman virus-virus mematikan
mengikuti saran-saran pemerintah, melawan Corona
hingga tumbang dari bumi ini, lenyap dalam riwayat tak hina.

Halong 24 Maret 2020
Muhammad Jayadi lahir di Galumbang kecamatan Juai, Kab. Balangan Kalsel pada 19 Juli 1986. Menyukai sastra dan puisi sejak SMP. Bermula dari ikut lomba baca puisi, kecintaan kepada sastra tumbuh begitu saja hingga kini. Kini menetap di Halong, kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan.



Puisi-puisi Antologi Corona, Suyitno Ethexs : Satu Depa

Suyitno Ethexs

SATU DEPA

jangan mendekat dulu
:ukur setidaknya satu depa
biar virus itu
tak meraja

:tapi
tak tapi tapian
kita harus mengikuti
anjuran

kalau kau nekat
kau sendiri kena akibat
jangan ngenyel merasa kuat
sebelum terlambat

2020

PAGEBLUK KORONA

kata orang-orang di warung
--sambil nyeruput kopi
negara kita kena baglebuk

apa itu bagebluk
mbah gono bercerita
yang pernah terjadi suatu masa
waktu dimana belum ada berita
yang cepat menyebar begitu saja

dulu sebelum ada listrik
apalagi internet segala
bila malam gelap gulita
bagebluk datang cari masa

warga resah gelisah
--ah cerita mbah gono menakutkan
kok hampir mirip dengan
virus corona

2020



Puisi-puisi Antologi Corona, Heru Mugiarso : Dewi Corona

DEWI CORONA



Dewi corona menari mengayunkan sampurnya

Siapa yang bakal terjerat dan kasmaran

Lalu menggigil memohon cinta

Dalam ampunan ajal juga kecemasan berkelindan



Di panggung orangorang menyeru

Sambil mengenakan topeng kepalsuan

Dosa masih saja dipilah dan dipilih dari rasa ragu

Tersumpal di sela gumam kematian



Dewi corona terus menari dengan pesona

Membidik lelaki yang jatuh hati dan terkesima

Orangorang terus menyimpan demam sambil menghiba

Tersaruk dan terpuruk ke sudut dunia paling lara.

2020



KOTA MATI

Pasca lockdown



Sebuah kota mendadak mati

Apakah detak jantungnya berhenti

Apakah rabunya enggan mengembang

Atau selsel otaknya malas menari?



Tapi kota hanyalah struktur paranoia

Ketika gerbangnya dijaga para hantu

Malam bertugur siang terjaga

Pada debar senarai kematian yang ditunggu.



2020









JANTUNG JOGYA

Pageblug Covid -19


Apakah Jantung Jogya berhenti berdenyut

Ketika debarnya kaubaca sebagai romansa percintaan

Antara para pelancong, penjaja nasib dan puisi elegi

Yang dinyanyikan para pengamen jalanan?



Senja adalah nostalgi

Tertulis pada ribuan tilas jejak kaki

Tapi tidak pada saat kini

Ketika udara bertuba tibatiba berubah jadi buruk mimpi



Apakah sesuatu yang viral ketika nafas mendadak tersengal?

Dan di jantung Jogya yang sibuk kau cari pada halaman peta itu



Seolah meramal ada yang harus hilang dan terpenggal

2020
TUBUH YANG TERKUNCI



Lockdown! lockdown!.Engkau berteriak sambil mengunci

dirimu ketika jam acuh tak acuh dan pintu diketuk dari luar.



Spada, seru seseorang dari luar pintu sebelum gegar

cahaya dan tingkap membujukmu agar membuang anak kunci

ke lubang closed itu



Entah pada kemiringan berapa derajat

otakmu mulai tak beres. Ia memaksa mulutmu untuk menyanyi lagu reliji

yang mengamanatkan pesan kiamat sudah dekat.



Lockdown matamu

          .lockdown hidungmu

                          .lockdown telingamu

                                         lockdown kelaminmu.

Biarlah semua terkunci. Biarlah semua kembali pulang

ke alamat cangkangnya sendiri

setelah sekian abad berkeliaran di jalanan

dan mengaku- ngaku sebagai tuhan.



“Bukankah orang lain adalah neraka, Tuan Sartre?”

.2020.

Heru Mugiarso, lahir di Purwodadi Grobogan, 2 Juni 1961. Menulis puisi sejak masih duduk di bangku SMP.  Karya-karya berupa puisi, esai dan cerpen serta artikel di muat di berbagai media lokal dan nasional.Antologi puisi tunggal yang telah terbit : Tilas Waktu  (2011) dan Lelaki Pemanggul Puisi (2017). Novelnya bertajuk  Menjemput Fatamorgana terbit  tahun 2018. Kumpulan esainya berjudul Wacana Sastra Paragraf Budaya  ( Leutikprio , 2019)Sekitar delapan  puluhan judul buku  memuat karya-karyanya.Penghargaan yang diperoleh adalah Komunitas Sastra Indonesia Award 2003 sebagai penyair terbaik tahun 2003 Namanya tercantum dalam buku Apa dan Siapa Penyair Indonesia (2017.)Sebagai nara sumber acara sastra pada program Bianglala sastra Semarang TV.  ,Sehari-hari bekerja sebagai dosen Universitas Negeri Semarang. Alamat rumah : Jl Bukit Kelapa Sawit IV/30-31 Perum Bukit Kencana Jaya Tembalang Semarang 50271 , email :  heruemge@gmail.com   no HP/WA 081325745254

Puisi-puisi Antologi Corona, Mim A Mursyid: CORONA, YA TUHAN..

Mim A Mursyid,

CORONA, YA TUHAN...



Heboh!

Corona tiba-tiba

Dunia geger seketika

Manusia menjalani takdir tergesa

Ratusan orang hilang nyawa,

Ribuan sisanya dada-dada kosong tanpa jiwa

Kepanikan maha perkasa.



Corona menyerang semuanya;

Kesehatan, kesadaran, hingga kewarasan

Orang-orang memborong kebutuhan pokok

Merayakan kepanikan

Harga masker naik, harga kemanusiaan jatuh

Hoax bertebaran, bau bangkai kedewasaan

Busuk menyengat hingga perasaan



Corona benar-benar menghantam karang-karang di dada

Yang bercokol, mengeras telah bertahun lamanya

Dada busung kita dihempasnya

Keras kepala kita dijambaknya

Tatap pongah kita diludahi

Bahkan kelamin dikebiri;

Tak ada kejantanan lagi

Ambruklah keangkuhan yang selama ini diusahakan.

Malu-malu aku menyapa-Mu



Tuhan,

Ya Tuhan...

Madura, 23 Maret 2020

Mim A Mursyid, santri pecinta seni asal pulau Sapudi, Sumenep. Hingga saat ini masih tinggal di Madura, kampung halamannya. Kesibukan sehari-hari selain mengajar sebagai guru honorer, ia menulis puisi dan merawat tanaman cabai di pekarangan belakang rumahnya sepenuh hati. Bisa disapa di FB: Mim A Mursyid.

Sabtu, 21 Maret 2020

Puisi-puisi Corona , Pensil Kajoe : Virus Genit

Virus Genit

 Pensil Kajoe

Namamu indah,

terbayang cantik rupawan wajah seorang perempuan

dengan tubuh gemulai bak gitar spanyol



kubayangkan senyum mengembang di depanku

kupanggili namamu, Corona sayang

ya sayang

oh sayang

duhai sayang

Ah sayang, sayang

bayanganku rancu

aku keliru

aku malu





Corona bukan nama perempuan berdada bola

meski namanya kini mendunia

di televisi

di radio

di koran

di warung kopi

di angkringan

di pematang sawah

semua membahas corona

lalu ada yang berseloroh

"Jenengku ana neng konora?"



Corona, si virus genit yang sangat menggoda

orang-orang terpedaya

satu persatu jatuh bertekuk lutut

di kerling mata dan senyum nakalmu.



Tumiyang, 15032020

Pensil Kajoe, lahir dan dibesarkan di Banyumas, 27 Januari. Puisi serta cerpennya sudah bertebaran di berbagai koran di tanah air. Tulisan pertamanya berupa resensi buku: Remaja Doyan Nonton, Why Not? dimuat di Suara Merdeka tahun 2003, rubrik opini: Remaja Tanpa Narkoba (Radar Banyumas, 2004). Selain itu, laki-laki berkacamata minus ini telah membukukan tulisannya ke dalam 16 buku tunggal dan lebih dari 20 buku antologi bersama. Saat ini, Kang Pensil begitu sapaan akrabnya menjadi penulis rubrik Banyumasan di Majalah Djaka Lodang, Yogyakarta.


Puisi-puisi Coroa, Mohammad Mukarom: Abjad Corona

Abjad Corona



Cinta

diliburkan - bahkan masih bersemi bunga kuncup.

Onani seperti bahasa kegagalan.

 Rumah sakit semakin sakit.

Orang-orang sakit. Cinta gagal.

Onani begitu membosankan dijadikan pelampiasan.

Napas tersengal mencari jalan pulang paling nyaman.

 Aduhai huru-hara wabah. Cinta yang sakit. Onani yang sakit. Napas yang sakit.

Ohhh....

 Wonosobo | 2020




Mohammad Mukarom, penulis asal Gresik-Jatim. Membuahkan karya puisi, cerpen, dan esai. Telah menekuni dunia kepenulisan sejak 2015 dibawah asuhan Pak A’yat Kholili-Madura. Aktif di COMPETER (Community Pena Terbang) dan Kelas Puisi Bekasi yang digagas oleh Pak Budi Setiawan. Buku perdananya berjudul RIHLATULILLAH (Sekumpulan Kisah Inspiratif Hafidz Qur’an) telah terbit dan cetak 2018 lalu.

Mari menjalin silaturrahim | WA : 085843131913. FB : Mohammad Mukarom

Puisi-puisi Cprona, Hasani Hamzah : Bangsaku Mencatat Tragedi Virus Corona

BANGSAKU MENCATAT TRAGEDI VIRUS CORONA

Aku tulis sajak ini, saat bangsaku mencatat tragedi
Di mana dunia membaca tentangnya
Tentang virus baru bernama corona yang mewabah
Dan membuat gundah

Sungguh tak pernah menduga sebelumnya
Dan kini orang - orang panik  dibuatnya
Sejak kali pertama di Wuhan
Lalu di negeriku sendiri
Pandemi ini tanpa kompromi membuat ngeri

Corona melejit dengan cepatnya
Corona bukan mobil mewah
Corona melaju tanpa roda

Di mana - mana
Dari kota - kota hingga desa - desa
Dari anak - anak hingga orang dewasa
Dari pejabat negara hingga rakyat jelata
Semua takut akan bahaya corona

Bagai hantu yang menjelma Tuhan------
Tuhan yang menjelma hantu
Corona merasuki jalan pikiran
Menggerogoti dan melumpuhkan sendi kehidupan
Orang - orang kalangkabutan
Saat bangsa ini diancam punah virus mematikan

Bagai keranda yang berjalan di atas pundak
Mengangkut satu persatu tanpa kehendak
Orang - orang berlari dan bersembunyi
Mengisolasi diri selama empat belas hari
Lalu merenung dalam kamar
Orang - orang tak berdaya
Sambil berdoa menurut keyakinan masing - masing
Berharap corona segera sirna
Dan kehidupan kembali berjalan normal

Saat bangsaku mencatat tragedi ini
Di mana dunia membaca tentangnya
Tentang virus yang mengancam seluruhnya
Corona menjadi pembelajaran sangat mahal
Bagi manusia untuk saling menjaga
Agar hidup tidak menjadi sia - sia

Sumenep, 16/03/2020

MASKER DAN WAJAH KITA HARI INI

Adalah wajah kita hari ini, dengan mulut yang terkatup Seperti kelopak pintu tertutup
Dengan mata sayu, senyum yang getir dan bibir yang berlibur tanpa pelipur
Tangan - tangan enggan berjabat
Tuhuh - tubuh tak lagi mau dipeluk

Sejak virus covid -19 kita menghitung mundur
Empat belas hari lamanya
Para pekerja dan pengangguran sama saja
Berdiam diri dan bertanya - tanya
Kapan corona akan berlalu?
Padahal, saat kita membuka jendela dengan senyuman
Di sana di halaman buku pelajaran yang terlipat
Tumbuh lahan - lahan baru
Yang memberi harapan dan semangat
Para pekerja dan pengangguran
Akan sama - sama bekerja:
Ya! Bekerja jualan masker
Namun kesedihan dan rasa bahagia
Sangatlah wajar dan sudah menjadi bakat manusia
Karenanya tak usah kabur tak juga takabbur
Segalanya Tuhan yang mengatur

Adalah wajah kita hari ini, yang terbungkus karena virus
Murung dan bingung
Mengunci diri dalam rumah berkabut
Menunggu hari - hari yang cerah dan terbebas dari corona

Sumenep, 17/03/2020

RINDU JALAN PULANG
(Saat Corona)

Telah lama mengelana
Jauh ke negeri sana

Tinggalkan sanak
Tinggalkan ternak

Saat dunia kini merana
Rindu pun merona

Kampungku membayang
Kususuri jalan pulang

Sumenep, 19/03/2020

Puisi-puisi Antologi Corona , Supianoor : Semua Siaga Semua Berjaga


Semua Siaga Semua Berjaga

Supianoor

Bermula di Wuhan negerinya tirai bambu

Ratusan bahkan ribuan orang tergelapar tak sadarkan diri

Suhu badan meningkat bahkan banyak  yang wafat

Kemudian menyebar dan beterbangan ke penuru dunia

Eropa,asia,aprika tak luput dari serangannya

Tak terkecuali nusantara kita Indonesia tercinta



Semua rakyat siaga

Dari Presiden hingga rakyat jelata

Mulai istana hingga emper rumahan

Mereka diskusi  tentang wabah yang satu ini

Dari Jakarta hingga pelosok negeri

Semua siaga semua beraga

Dengan peralatan dengan gaya kehidupan



Tanah Bumbu, Maret 2019





























BIODATA PENULIS










Supianoor dilahirkan di Kusan Hulu, sebuah kecamatan yang berada di pelosok Kalimantan Selatan pada tanggal 1 Juli 1969. Puisi-puisinya terdapat dalam antologi bersama Buitenzorg Bogor Dalam Puisi Penyair Nusantara (2017), Berbagi Kebahagiaan (2019), Surak Sumampai (2019)Sekarang bertugas sebagai Kepala SMPN 4 Kusan Hulu. Bisa dihubungi di no Hp/WA 081348562835 atau E-mail smpn2kusanHulu@yahoo.com



Puisi-puisi Antologi Corona , M. Muchdlorul Faroh : Dipaksa Libur

Dipaksa Libur

M. Muchdlorul Faroh

dilihat sekilas kau nampak garam
pemerintahpun kau buat
ketar ketir ketakutan
wabahmu sempat getarkan dunia
sekolah sekolahpun ikut jadi dampak
kau paksa kami berpisah dengan guru
kau buat jeda antara aku dan teman bertemu
dan harus menunggu selama 2 pekan
tuk melebur rindu
pagiku sekarang hanyalah antara aku, jalan sepi, dan kopi yang mulai mendingin
sudah tak ada lagi teman yang membuat riuh
tak ada lagi guru yang bersenandung lama
dan tak ada lagi papan tulis yang belepotan oleh tinta
darimu aku harus berpisah dengan sekolah
dan dipaksa libur tuk ngangsu kaweruh

M. Muchdlorul Faroh

Puisi-puisi Antologi Corona , Sutarso : Protes di Darurat Corona

Protes di Darurat Corona

Osratus

"Daripada panik,
 tidak lebih baik piknik 
 dengan
 bermungkinmungkin
 mesti kemungkinannya
 jauh dari mungkin?
 Bukankah mungkin
 dan tidak mungkin
 punya nasibnya
 masing masing, diriku?
 Mungkin juga, yang di
 bawah ini mungkin:
 Mungkin,
 kita pernah bilang, 'Dia
 tidak tidur' tapi kita 
 kucingkucingan di
 hadapan-Nya?
 Mungkin,
 kita pernah bersumpah
 'pantang ngadali teman
 padahal menipu teman jadi
 komoditi andalan?
 Mungkin,
 kita pandai teriakkan hidup
 bersih, kedodoran di
 perilaku bersih.
 Mungkin,
 kita ingin sehat tapi pola 
 hidup kita tidak sehat.
 Mungkin,  kita suka 
 menasehati
 tapi tidak suka dinasehati.
 Mungkin,
 kita pernah mengaku sakit
 tapi tidak berpenyakit.
 Mungkin,
 kita bilang 'enak
 tinggal di  rumah sendiri'
 nyatanya betah
 di penginapan mewah.
 Mungkin,
 anak kita belajarnya
 garuk kepala terus
 tapi harus
 nilai raportnya bagus.
 Mungkin,
 ada di antara kita
 yang bicara keras hubungan antar lawan jenis mesti ada batas
dia sendiri di luar batas?


Sausapor, 14 Maret 2020

Puisi-puisi Antologi Corona, Maya Ofifa Kristianti : Mestinya malam ini

Mestinya malam ini

Maya Ofifa

Mestinya malam ini
Aku mengunjungimu
Di bumi mina tani, bukit gunung wungkal, di rumahmu yang kini

Mestinya malam ini
Ku tabur mawar di peraduanmu
Ku lafadzkan ayat alquran
Ku senandungkan dzikir
Ku peluk nisanmu, sambil mengenang masa dulu

Papa, negeri kita sedang terkena bencana
Ada virus baru yang bernama corona, yang bisa menyerang siapa saja, tanpa pilih nama

Maafkan papa
Kami tak bisa ke mana
Bukan karena kami takut corona
Tetapi lebih karena waspada

Mestinya malam ini
Aku mengunjungimu, tidak lewat online seperti yang pemerintah mau.


Maya Ofifa
Ibu rumah tangga
Senang membaca puisi.
Dari semarang.



Puisi-puisi Antologi Corona, Arif Abdil Bar, : Aku , Kau & Corona

Aku , Kau & Corona

Oleh : Arif Abdil Bar

Jalani hari di dalam
Seakan selalu malam
Membuat hati terbenam
Sosokmu kian temaram
Akibat Corona yang mencekam

Namun aku menyadari itu hanya awan hitam
Namun aku menyadari kau terasa kelam
Akibat Corona yang mencekam

Tapi senyummu tetap tajam
Bersinar bak bohlam
Disana aku bersemayam
Kau usir Corona dan semacam
Ahirnya ku katakan pada Corona, wassalam,
Padamu welcome...

Probolinggo, 21/03/2020

Puisi-puisi Antologi Corona , Asep Muhlis : Dari Corona atawa Mahkota

Dari Corona Atawa Mahkota

Asep Muhlis



Andai suatu saat tak dapat berjabat tangan

ketahuilah, aku telah lebih dulu

menjabat lirikan dan senyummu



Dan kerlingmu menggelayut

kadang berkepak, kadang menukik

berkelindan di dada dan ingatan

aku bertahan dalam kepayahan

yang kusesap tak bersudah



Walau suatu saat tak dapat menggam tanganku

bukankah kita telah saling menggenggam rindu

dengan sangat hati-hati

agar tak retak selamanya



Maafkan aku,

dulu sering tak lekas cuci muka,

setiap usai bertandang ke rumahmu

lantaran takut bayang wajahmu

hanyut oleh air bermuatan nafsu

maka biarlah mengendap

bersama garam susah-payahku



Tak perlu aneh, kini orang-orang

memberi nama badai, jasad renik jahat,

atau penyakit dengan nama yang indah

lebih puitis dari penyair

mungkin karena kini

penyair kurang doyan bahasa bunga



Entahlah, mari kita rajin mencuci tangan

agar tak ada selera untuk mengutip

berkumur untuk tak terpapar kenyinyiran

membasuh muka dari memandang yang tak senonoh



Serupa mahkota bunga yang ditopang kelopak

kau adalah keindahan

dan aku harus sanggup melindungi



Serang, 13 Maret 2020



NINJA NGANTOR

Asep Muhlis



Senin dini hari, gigil menyergap

di depan meja penerima tamu, dua orang petugas

menyergap setiap pegawai yang datang

menodongkan alat pengukur suhu tubuh

sinar merah berkedip di jidat.

Beruntung, alat pencatat kehadiran elektronik

dengan mendekatkan retina mata dan wajah,

andai harus menempelkan sidik jari

boleh jadi akan pada menghindar, menjauh,

layaknya bertemu orang berpenyakit kudis



Kesibukan menyergap, semua jadwal berubah

kegiatan baru lebih deras, lebih cepat

dengan resiko sulit diduga

blangko teknik tersaji, masih kosong

kerentanan bagai mengusir gerombolan lebah

ini hari pertama maklumat diberlakukan

kalender saat itu menunjukan 16 Maret 2020.

Entah hari beku, entah hari  mendidih, entah hari limbung

pase baru yang belum dialami sebelumnya



Dikeluarkan botol antiseptik

masker diwajah belum dibuka

hidup serupa bajingan

selalu siap senjata dan penutup wajah.



Batuk ditakuti, bersin ditakuti,

tombol lift dicurigai, tarikan pintu dicurigai,

kran air diwaspadai, pipa pegangan di selasar diprasagkai.

Layaknya pasangan yang telah tersakiti

semua prilaku dan bahasa tubuh dicurigai

bahkan semua benda diwaspadai.

hidup yang aneh telah dimulai

menjadi intelejen dadakan, tanpa analisa.



(Oh..bukan, bukan begitu,

kehati-hatian yang ketat memang begitu konsekwensinya)



Pikiran terus berlari, membayangkan keadaan di luar kantor

mungkin bangku taman akan dicurigai,

kursi tunggu diwaspadai,

peralatan makan di restoran ditakuti, kursi bioskop ditakuti

virus corona yang sangat kecil dan tak terlihat

lebih menakutkan dari gendoruwo yg konon raksasa



Kepanikan yang serius

membuat logika tak jalan,

keakraban rontok, keyakinan terlupakan.

Lantas, dilihat lagi botol hand sanitizer

diraba lagi masker di wajah

kalender di atas meja nampak lesu.



(Di sisi lain pikiran menjadi jinak dan lindap ;

"mari kita junjung kehati-hatian,

hanya pengorbanan kecil, berupa menahan diri" )



Sejurus kemudian, ada iri yang mendadak terbit

melihat seseorang  sering mendatangi kran air

berwudhu dengan seksama

mampu menyisihkan dua rakaat ke dua rakaat

sebelum kerja, pada jam kerja, bahkan pada hening malam

ia nampak begitu tenang, anteng

melakukan yang disukainya.

Ia selalu menyempurnakan wudhunya

memelihara wudhu dari waktu ke waktu

dari kegiatan ke kegiatan



Ternyata air tidak hanya memadamkan api

tapi mampu memadamkan kobaran gelisah

dan kecemasan

Ialah air ajaib yang diberkati



Serang, 17 Maret 2020



Keterangan ;
anteng=(Bahasa Daerah; Sunda) = tenang, asik
antiseptik=(Inggris ; antiseptic ) ; senyawa kimia yang digunakan untuyk membunuh atau menghambat pertumbuhan mikroorganisma pada jaringan yang hidup, seperti pada kulit, rongga mulut
hand sanitizer =pembersih tangan, cairan atau pasta yang umumnya untuk mengurangi zat/jasad renik penyebab penyakit







Asep Muhlis, lahir di Ciamis- Jawa Barat, 21 Januari 1963
Pernah belajar di IKIP Bandung
Tinggal di Kota Serang – Banten
Puisinya dimuat dalam ;
Antologi puisi bersama MENYERUAK, penerbit D3M Kail, Jakarta, 2018
Antologi puisi bersama DARI NEGERI BAHARI , penerbit Kosa Kata Kita (KKK), Jakarta, 2018
Antologi puisi bersama CINTAMU KUJAGA, penerbit D3M Kail, Jakarta, 2018
Antologi puisi bersama REMAH RINDU, penerbit D3M Kail, Jakarta, 2019
Kumpulan Pentigraf WANITA GURU BANGSA, penerbit D3M Kail, Jakarta 2019
Antologi puisi bersama KOMANDAN, penerbit D3M Kail, Jakarta, 2019
Antologi puisi bersama NEGERI PENYAIR, Forum Silaturahmi Penyair Lintas Daerah Nusantara, Jogjakarta, 2019
Antologi Puisi Gila Penyair Indonesia WONG KENTHIR, Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia Edisi Spesial, penerbit Penebar Media Utama, Yogyakarta, 2020

Puisi-puisi Antologi Corona, Roymon Lemosol , Ketika Corona Datang

Ketika Corona Datang

Roymon Lemosol

corona datang

kucuci tangan

segera sesudah makan

hal yang tak pernah kulakukan

sepanjang perjalanan kehidupan



corona datang

dipaksanya aku blusukan

ke sekolahan

kantor-kantor pemerintahan

dan rumah-rumah peribadahan



tak dapat kusangkal

betapa corona telah mengubah tatanan kehidupan

dari kebersaman jadi kesendirian

keramaian jadi kesunyian

persekutuan jadi perseteruan

dari berjabat tangan ketika salam-salaman

jadi sikut-sikutan

bahkan tak jarang sepak-sepakan



corona

agen pembawa perubahan

begitulah terpaksa aku menyebutnya



Ambon, 21 Maret 2020




Roymon Lemosol, kelahiran Lumoli, Kabupaten Seram Bagian Barat, Maluku, 24 Agustus 1971. Puisi-puisinya pernah terbuplikasi di halaman sejumlah media cetak lokal maupun nasional, antara lain Majalah Fuly, Asau, Lombok Post, Suara NTB, Banjarmasin Post, Riau Post, Koran Seputar Indonesia, Media Indonesia dll. Sebagian lagi termaktub dalam 45 buku antolgi bersama. Puisinya yang berjudul “Pulang” meraih Anugerah Puisi Pilihan, Gerakan Akbar 1000 Guru Asean Menulis Puisi 2018. Buku kumpulan puisinya, Sebilah Luka Dari Negeri Malam (Akar Hujan, 2015), Jejak Cinta Di Negeri Raja-raja (Teras Budaya, 2019). Roymon dapat dihubungi melali HP/WA: 085243130770 e-mail pazaluei@yahoo.co.id

Puisi-puisi Antologi Corona, Irna Ernawati : Ku Halang Kau Menghadang

Ku Halang Kau Menghadang

Irna Ernawati

Seperti abu tak tampak
Namun kala memdekat terperangkap
Bisakah menjauh sedikit saja
Agar dapat tenang walau sesingkat itu
Apalah daya ku halang kau tetap menghadang
Hingga lumpuh negriku karena kau
Kita sama sama ciptaan tuhan
Mengapa begitu kejam
Niatmu apa balas dendam
Lantas aku harus apa
Bersujud pada mu mohon ampun
Tapi kau makhluk tuhan
Liahtlah negriku
Membisu bahkan mati karenamu
Tapi kembali lagi pada diri ini
Yang lengah dan terlena
Tak pantas menyalahkan sesama ciptaannya
Anggap saja sapaan sang pencipta
Agar sama sama tak lupa akan dosa

Puisi-puisi Antologi Corona : Aditya Mahdi F: Hai

Hai

 Aditya Mahdi F



Kepada seluruh mahkluk

Izinkan aku mengenalkan diriku yang terkutuk

Dengan rasa hormat yang buruk

Inilah aku, sang penakluk yang teruk



Corona

Aku tercipta dari tangan-tangan manusia

Tanpa adanya sosok ayah dan bunda

Tapi memiliki banyak saudara senyawa



Ketika musibah menimpa di suatu kota

Lalu muruah mereka berubah menjadi wabah

Dari ujung langit hingga dasar lembah

Tanpa peduli apa yang mereka sembah



Aku mengalir bebas dengan seleksi alam

Menjadi pemisah takdir, keras dan kejam

Perjalananku menjadi kisah kelam

Dari pagi hingga datangnya malam



Hai, manusia

Sejatinya aku tercipta oleh mereka

Tanpa rasa dengan asa

Dengan masa hingga nanti binasa



Aku kecil, satukan semua yang ada !

Politik, ekonomi, sosial, dan budaya.

Kurasuki mereka semua !

Tanpa mengenal suku, ras, dan agama.



tanpa akal pun aku bisa mengguncang dunia dan sejatinya aku diciptakan oleh akal

Tidak kekal, apalagi mulia, ku berjalan hingga mereka semua kesal

Wihara, candi, katedral, maupun istiklal

Aku tak terbendung dengan hal mistikal



Atas kuasa tuhan dan seleksi alam

Perjalananku akan kulanjutkan

Eksistensi ku akan sedikit bertahan

Dan ini dimulai dari kota Wuhan



Sekali lagi, hai kawan-kawan

Covid-19 siap melayani nyonya dan tuan

Selama tuhan mengizinkan

Aku akan terus berjalan



Depok, 20 Maret 2020

Jumat, 20 Maret 2020

Puisi-puisi Antologi Corona : Muhammad Lefand : Guru dan Corona

GURU DAN CORONA

Musim masih penghujan
Libur belum waktunya
Masih menunggu lebaran
Dan ujian sekolah tiba
Namun tanggal 16 sampai
29 maret 2020 libur
Tak ada keramaian
Guru di sekolah kesepian
Katanya corona mengancam
Mencekam semua kota

Guru dan corona
Seperti pasangan mesra
Guru kadang disalahkan
Persis seperti corona
Bedanya, corona lebih
Didengarkan daripada
Seorang guru yang bicara
Sungguh aku iri pada corona
Karena tak ada yang berani
Kepadanya, meski ksatria perkasa

Jember, 2020

MASA DEPAN KORONA DI KOTA-KOTA

Masa depan korona di kota-kota
Sebagai artis virus yang naik daun
Seorang atau dua orang terkena
Heboh di mana-mana tanpa ampun

Akulah corona dari negeri Wuhan
Awalnya hanya virus pada kelelawar
Di pasar kumuh aku menularkan
Kepada manusia tanpa bisa ditawar

Sekarang tak ada kota yang tak tertekan
Aku sangat terkenal di seluruh dunia
Tiap negara saling melarang kunjungan
Aku tetap menular dengan semestinya

Jember, 2020

CORONA

Corona mengaum
Orang-orang besar ketakutan
Orang-orang kecil tetap bekerja
Yang mecak tetap mecak
Yang ngojek tetap ngojek
Yang ngamen tetap ngamen
Yang nyayur tetap nyayur
Yang nguli tetap nguli
Di pasar tetap riuh tapi tidak di pasar Wuhan
Di desa tetap santai tapi tidak di kota besar
Yang bertani tetap bertani
Yang membajak tetap membajak
Yang manen tetap manen
Yang ngarit tetap ngarit
Yang nyangkul tetap nyangkul

Corona mengaum
Penyair tetap menulis puisi
Cerpenis tetap menulis cerpen
Novelis tetap menulis novel
Esais tetap menulis esai
Penulis tetap menulis
Anak-anak rajin membaca dan menulis
Ibu-ibu mengantar anaknya ke sekolah
Para buruh tetap bekerja
Para guru tetap mengajar
Para nelayan tetap melaut
Para sopir tetap menarik
Para pejalan tetap berjalan
Orang-orang telah mendapat informasi
Orang-orang bisa menjaga dirinya sendiri

Jember, maret 2020

Puisi-puisi Antologi Corona, Rg Bagus Warsono: 14 Hari Bersama Corona

14 Hari Bersama Corona

Rg Bagus Warsono

14 hari bersama corona
dirumah sepi
serumah tapi bersembunyi
dalam siang
ketika malam tidur
corona menari

14 hari bersama corona
di rumah sepi
kaukah itu
memanggil mengajak
membuka pintu
gelas panas air berasap
corona menikmati

Dikesunyian hari hari di 14 hari
corona menemani
teman bukan kekasih
bukan kekasih tapi mau tidur bersama
telanjang dalam kesepian
corona
dalam hari yang menggila
siang dan malam sama saja
apa maumu?
sambil mengusung dada
besar
yang ditempelkan didadaku
jangan
jangan hari ini
14 hari masih ada waktu.

indramayu, 20 maret 2014

Puisi-puisi Antologi Corona : Yublina Fay : Siapakah Kamu?

SIAPAKAH KAMU?



Caramu menyebar laksana

Ombak mnerjang karang

Runtuhkan iman di dada

Orang-orang beriman

Naluri keyakinan menghilang bagai

Angin lalu tak berjejak



Corona sapaanmu di telinga

Orang-orang gemetaran mendengar namamu

Resah dan gelisah mulai menafsirkan segala laku

Orang-orang yang takut pada kematian sebelum kematian datang

Nafas akan terasa sesak meski kau belum juga menyerang

Akankah kau terus menyeramkan dan menakutkan seperti sekarang ini?



Cobalah sudahi semua ini

Otoritasmu tak lagi bertujuan

Runtuhkan kepanikan yang sedang merajai

Oh… corona

Namamu saja menggetarkan seluruh negeri

Akankan kau terus menjajah tubuh-tubuh tak berdaya ini?



Corona

Otakmu sungguh tak lagi terjamah

Ruas jarakmu telah memisahkan raga meski berdekatan

Oh corona…

Nyatakan keakrabanmu pada lembaran usang kehidupan ini

Agar kekejamanmu usai sudah digiring waktu



Sebab Ceritamu telah merenggut rasa percaya diri aku, dia dan mereka

Ocehanmu telah memekakan telinga aku, dia dan mereka

Rayumu juga telah menjerumuskan aku, dia dan mereka

Oleh hadirmu aku, dia dan mereka menjadi paranoid

‘Nyahlah kau dari kebisingan dan hingar bingar kehidupan ini

Aku, dia dan mereka yakin, kau hanya hama di musim sepi ini





Karya; Yublina Fay

Rinhat, 15 Maret 2020

Puisi-puisi Antologi Corona : Aditya Mahdi F : 3-4-5

3-4-5

Aditya Mahdi F



Disuatu tempat yang tak dapat dijangkau oleh mata kasat

Selang beberapa waktu setelah tahun kabisat

Terdapat beberapa mikroorganisme sedang bercengkrama dalam senyap dan gelap

Membicarakan virus baru yang sedang melesat



Icd 10 A98 menyatakan perasaan dengki terhadap virus ini

Saudara nya A91 dan A90 mendengarkan secara hati-hati

A98 mengatakan ia lebih mematikan daripada pemain baru ini

Ia juga mengakui bahwa dirinyalah yang patut untuk ditakuti



A91 tak mau tunduk

Ia mengatakan bahwa dirinyalah yang paling terkutuk

Tak terhitung berapa homo sapiens yang nyawanya ia buat di ujung tanduk

Ia menyatakannya tanpa ada rasa takut



Saudara kembarnya, A90 juga tak mau kalah

Ia mendebat keduanya, akulah yang terparah

Sudah berapa nyawa yang ia buat menyerah

Dan ia hanya mengandalkan aliran darah tanpa mengenal daerah



Namun, ke 3 bersaudara ini menyatakan gagasan yang sama.

Virus baru covid-19 tak ubahnya dengan mereka.

Tak lebih baik dari mereka.

Tapi mengapa, namanya melanglang buana senatero dunia.



Covid-19 mendengarkan

Berkata dalam hati memelas bahwa itu tak perlu dipamerkan

Ia tak sanggup hidup walau hanya sepekan

Tapi ia juga sadar dirinya berteman dengan kematian



Mereka ber 4 sadar ada 1 virus lagi yang sangat mematikan

Ia menyebabkan hal yang lebih buruk ketimbang kematian

Ia meruntuhkan harmoni, cinta, dan kebersamaan

Mereka mengenalnya sebagai virus kebencian.



Depok, 14 Maret 2020: 3

Puisi-puisi Antologi Corona, Dhea Lingkar : Indahnya Kebesaran-Mu

Indahnya Kebesaran-MU

Kebesaran-MU membuat kami tersadar akan kekuasaan-MU
Corona mengaum....
Corona menjerit ke seluruh penjuru dunia
Wahai Pencipta Alam...
Kekaguman sulit untuk kami pendam
Dari pagi hingga malam
Pesonanya tak pernah padam
Corona bagaikan desiran angin yang menusuk jiwa raga kami...
Hanya sedikit...
Ya...Sedikit tergores kau hempaskan...
Dengan sekajap mata kau jadikan menghilang satu persatu
Hingga ribuan
Inilah...
Keserakahan manusia yang selalu menyombongkan dirinya..
Manusia licik berterbangan mencari hakikat dan keegoisan hidup...
Tapi sayang...
Mereka lupa
Engakaulah Sang Pencipta segala nya tanpa susah payah
Corona teguran kecil yang kau beri
Agar kami tsenantiasa bertaubat dan berserah diri
Hanya pada-MU
Pemilik semesta Alam



Surabaya,15 Maret 2020
Dhealingkar
#viruscorona
Lumbungpuisi
#penyairindonesia
#sastrawanindonesia
#bersamamelawancorona

Puisi-puisi Antologi Corona : Sudarmono : Jejak Mu Corona

JEJAK MU CORONA

Virus itu melegenda
menjadi kehampaan manusia
menabur dirinya sendiri
pada nafsu segala nafasnya
untuk menguasai duniawi
melupakan Sang Pencipta

Virus itu mewabah
pada lekuk hati yang gundah
goyangkan iman hingga resah
sebab perang negara adu kuasa
membayang di pelupuk mata
mengguncang perekonomian dunia

Hilanglah panik segala panik
kabur bersama mereka yang unik
corona covid 19 adalah belantara etnik
mengunggah viral di tubir media sosial
kesombongan manusia yang tak sesal
bercermin pada dirinya sendiri
dan mampus itu rahasia Illahi

Tambun Utara, 16 Maret 2020
Sudarmono.

Puisi-puisi Antologi Corona, Sulistyo : (1) Panic Buying, (2) Masker

CORONA

Dunia sekarat
Dihajar virus laknat!!

Jakarta,  07.03.2020

PANIC BUYING

Takut kelaparan
berebut memborong makanan
Takut mati karena perut tidak diisi nasi

Virus mematikan menjadi momok menakutkan
Mengusik manusia-manusia yang takut kelaparan
Memenuhi keranjang belanjaan dengan berbagai jenis makanan

Apakah kalau perutmu kenyang pasti dijamin aman dari kematian?
Apakah kalau semua jenis makanan memenuhi lemari penyimpanan kau tak akan luput dari ajal?

Corona mentertawakan kita
Menganggap nyawa ada di tangannya
Corona hilir mudik mencari mangsa
Menerkam siapapun tak perduli siapa
Tak juga kalian yang memborong berkarung makanan karena takut kelaparan

Corona bangga dan menepuk dada
Melihat kita ketakutan kehilangan nyawa

!

Jakarta,  03.03.2020

MASKER
    (kepada corona)

Aku tak habis pikir
Kenapa masker mendadak menyingkir
Padahal kemarin di etalase masih terparkir

Penjual masker mematok harga tinggi
Nurani mati terkubur materi

Corona datang masker menghilang

Corona makin Gelap mata
Menantang kepongahan manusia
Merobek dunia merenggut nyawa

Masker menjadi lebih berharga dari segenggam permata
Hingga tak lagi teronggok di etalase kaca
Dia tersembunyi menghuni brankas berlapis baja

Jakarta,  29.02.2020

Puisi-puisi Antologi Corona : Anisah (1) Virus Corona, (2) Pembelajaran Online (3) Cuci Tangan

Virus Corona

Karya: Ansah



Seorang wanita membawa suaminya

Dari rumah sakit satu ke remah sakit lain

Tapi

Semua menolaknya

Di rumah sakit banyak pasien bergelimpangan

Tak ada yang mengurus

Pedih melihat itu

Walau di negeri lain

Tapi

Imereka juga makhluk Allah

Jangan engkau makan kelelawar, tikus dan ular

Itu sumber virus corona

Hindari semaksimalmungkin

Makanlah gurami, tawes, ayam, sapi

Itul

lebih

menyehatkan

dan

halal



Magelang, Maret 2020



Pembelajaran Online

Karya: Anisah



Virus corona  menjadikan siswa diliburkan

Atau belajar di rumah

Guru di sekolah menyiapkan materi

yang akan diupload

Guru serentak menyiapkan materi

Aneka jenis materi disiapkan

Agar siswa paham dan mengerti

Di pagi ini

Masih ada 22 siswa dari 36 siswa yang belum membuka HP-nya

Itu menjadi PR buat guru tuk menindaklanjutinya

Semoga Corona segera reda

Dan siswa bisa ke sekolah lagi



Magelang, Maret 2020



















CUCI TANGAN

Karya: Anisah



Selesai fingerprint cuci tangan

Selesai belanja cuci tangan

Habis pegang uang cuci tangan

Sembarang pegang cuci tangan

Bersalaman?

Libur

Cukup

Sembah kalbu

Dag dag

Adu sikut

Itulah akibat corona

Semua serba takut

Tuk beracengkerama seperti biasa

Dekat-dekat takut



Magelang, Maret 2020

Puisi-puisi antologi Corona : Sugeng Joko Utomo : Pada Sunyi Kata

PADA SUNYI KATA

Tempat ibadah sepi
Sekolah sepi
Pasar sepi
Mall sepi
Terminal sepi
Kemana mereka
Takut corona?

Rapat kantor ditiadakan
Transaksi fisik bank ditiadakan
Pesiar dibatalkan
Kongkow-kongkow dibubarkan
Masker dikenakan
Sanitizer dihamburkan
Kenapa semua
Takut corona?

Mari tinggal di rumah
Seraya khusu' ibadah
Bertakdzim pada Allah
Sumber segala berkah
Corona itu isyarat
Agar kita lekas bertaubat
Memohon penuh khidmat
Agar Dia melimpahkan berkat

Tak perlu saling mengolok
Tak elok saling memojok
Kita hadapi bersama
Bergandeng tangan sepenuh jiwa
Mumpung masih diberi kesempatan
Bertemu jalan kebenaran

Demikian sabda Tuhan
Dalam jernih pikir kita sarikan
Lantas diwartakan
Menebar kebajikan
Lupakan hiruk-pikuk dunia
Dalam sunyi memadahkan puji-puja
Berpasrah diri pada Yang Kuasa


Tasikmalaya, 18 Maret 2020
Sugeng Joko Utomo


Puisi-puisi di Antologi Corona , Siswo Nurwahyudi : (1) RASA BERSALAH TAK BERSALAH (2) TAK APA, SUMPAH (3) CORONA, I LOVE U


(1)
RASA BERSALAH TAK BERSALAH

nun di sana, penyair maya lantang berteriak
: hei..., sajak-sajakmu merah bergincu
itu penghianatan pada dunia yang berduka

aku di sini
memandangnya sepi
hatiku padam
pikiranku hitam

lubang pantatku berpuisi
bersiul nyaring pada dunia
: corona, i love you so much

Bojonegoro, 16/03/2020


(2)
TAK APA, SUMPAH

tak apa
sementara tak ada pesta
bagiku bukan bencana

kalaupun corona merebut semua pesta
juga tak apa, sumpah
bagiku, Tuhan boleh apa-apa semau-Nya

Bojonegoro, 16/03/2020


(3)
CORONA, I LOVE U

sejantan apa dirimu?
sebetina kelelakianku kah?
sungguh, aku mericintaimu
andai saja Tuhan sudi ijinkan
sedia aku bertukar tempat denganmu
atau kita bercumbu berdua
lalu, lahir berjuta anak-anak kita
berbiak lagi, bermiliar-miliar lagi
menghujam bagai peluru para serdadu
melumat segala jiwa yang kotor
ya, yang kotor-kotor saja
seperti berpesta di istana para raja
kita berdansa di atas bangkai mereka
kemudian melaporkan kerja kita pada-Nya
tak peduli surga bukan lagi milik kita

Bojonegoro, 20/03/2020
Nama: Siswo Nurwahyudi

Lelaki

Lahir: Bojonegoro, 01 Agustus 1965

Tinggal di Bojonegoro

Alamat: Sinar Merah blogspot.com

E-mail: siswo.nurwahyudi@gmail.com