TEKS SULUH


Tampilkan postingan dengan label puisi mbeling. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi mbeling. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 November 2016

Salera , Rg Bagus Warsono


Salera 
 
Salera adalah namamu
sekarang tetap Salera
Kau tak pernah tua
Dengan pahamu yang tak pernah keriput
Dan payudaramu yang tak peot
Tubuhmu Salera mahal
Muda aku merindu
Aku tua kau tetap Salera
Hidup menelan ludah
Dunia cuma lamunan
Kau tak pernah tahu Salera
Ada laki-laki
diantara paha dan payudaramu
(rg bagus warsono)

Jumat, 18 November 2016

Lindungi Rupiah Oleh : Berandal Aksara Rief Effendi

Lindungi Rupiah
Oleh : Berandal Aksara

Dari nilai tukar yang menjajah
Memang ibarat semut melawan gajah
Tapi akhirnya siapa yang mampu menjadi pemenang dikesudah

Lindungi Rupiah
Dengan semangat nasionalis yang masih kita punya
Produk pribumi masih mewangi
Peluh negri masih bisa menyaingi
Lindungi Rupiah
Dengan memanjakan apa yang anak negri punya
Karya cipta produksi bangsa wajib kita bangga
Agar rupiah bertengger dan tak lagi lemah
Kopi, teh dan wedang jahe
Lebih wangi dan menghangatkan jiwa
Cerutu kudus dan kediri pun masih begitu mencecap lidah dibandingkan tembakau berlambang mobil balap dan kuda
Ketoprak, gado-gado, gudek atau rendang balado serta makanan khas bangsa masih lezat ternikmat di lidah negri
Dibanding mengkomsumsi roti daging yang tak jelas proses pemotongannya dengan merk luar negri
Mari kita singkirkan rasa sok inggris
Atau jadilah pribumi asli yang nasionalis
Hingga rupiah mampu tersenyum dengan kerenyit alis
Dan kita terlepas dari kesemua imperalis
Selamatkan rupiah
Stinkovic Laziale Effendi
30 Oktober 2015/2016

Sabtu, 29 Oktober 2016

BIROKRASI, Wardjiti Suharso

BIROKRASI
Yang bawah pungli
Yang atas gratifikasi
Yang tengah bermain fee
YUDIKATIF
Tajam ke bawah
Tumpul ke atas
Negosiasi di tengah
LEGISLATIF
Banyak bicara
Sedikit kerja
Suka main mata
EKSEKUTIF
Tebar pesona
Ingkar janji
Selalu pengin dua kali
PARTAI POLITIK
Sukasuka aku
Mau tunjuk siapa
Kau mau apa?
KONGLOMERAT
Kenyangkan tikus
Tidurkan kucing
Kuras seisi gudang
RAKYAT
Buah kecut simalakama
Dimakan perut mules
Tak dimakan perut lapar
12.10.2016 - 11:16

SEPULANG HARAP MENUJU MACAU, Algibrani Si Pujanggagila

SEPULANG HARAP MENUJU MACAU
Za, kita telah menyadari bahwa perpisahan itu adalah kebaikan atas takdir yang memang telah menjadi Hak-Nya.
Tentu takkan pernah ada yang tersakiti, baik yang ditinggalkan maupun yang meninggalkan.
Seperti dulu Pacitan, maka Macau jauh lebih sulit untuk dikenangkan.
Salam untuk malam yang selama itu takkan pernah ada lagi dalam keheningan kita.
Akan kupisahkan segera sahari pikir tanpa namamu, Za.
Sukabumi: 13/10/16

Gula Gula Kembang Jakarta Oleh : Berandal Aksara, Rief Effendi

Gula Gula Kembang Jakarta
Oleh : Berandal Aksara
Sebentar lagi pesta pora warna
Dengan kepentingan menapaki jejak kuasa
Siapa yang digdaya?
Siapa yang berkuasa

Politik bermain bola
Politik catur pun jua
Tak kulihat semanis tragis getir romusha
Tak kurasa sepedih rodi dijamannya
Ini politik gul gula
Manis di awalnya
Beraneka warna
Penuh pesona
Ini politik suka cita
Agung yang dijanjikannya
Mulia direncanakan di atas visi bicara
Oh dunia rekayasa
Ini politik dansa
Riang cengkrama
Santun menyapa
Jadi lumbung suara
Ini politik dasamuka
Topeng belaka
Mencipta durja
Bahkan merupa neraka
Awal indah sesuka
Tebar wangi aroma
Akhir mempola derita
Jelata menjadi kian busuk dengan luka dan tangisannya
Post : Stinkovic Laziale Effendi
30,Oktober 2016
Jakarta

Ismail Sofyan Sani PEMUDA NAMA KAMI DAN TUANLAH

Ismail Sofyan Sani
PEMUDA NAMA KAMI DAN TUANLAH
Puisi ini dibacakan oleh 250 teaterawan Jakarta Utara dalam acara GONG BUDAYA 2012 pada tanggal 23 Desember 2012 di Halaman Gelanggang Remaja Jakarta Utara.
pemuda nama kami
pembawa takdir masa depan bangsa
tuanlah penentu, penjaga takdir kami,
apakah kami akan berdiri gagah
menjaga perbatasan dan ibu pertiwi
atau hidup dalam khianat, terpental dari sejarah,
sirna dari ingatan, terlahir dan mati sia sia.
pemuda nama kami,
sehelai kanvas putih dan tuanlah pelukisnya.
kami merah kalau tuan torehkan merah
kami hitam kalau tuan coretkan hitam
kami berwarna karena tuan beri warna
pemuda nama kami,
sebidang tanah subur dan tuanlah petaninya
tumbuh padi kalau tuan tanami padi
jadi bunga kalau tuan tanami bunga
tumbuh liar karena tak tuan urus,
kerontang karena tak tuan sirami
maka kami akan tumbuh jadi benalu,
ilalang kering atau puteri malu.
pemuda nama kami,
sebongkah logam dan tuanlah pandai besinya
bisa jadi silet, jadi pisau, jadi sangkur
jadi bedil jaga negara, jadi segala yang tuan mau.
kalau tuan tak tanggap guna kami
membiarkan kami tersia sia.
kami akan teronggok dan berkarat
menyebar virus dan wabah titanus
melebar luka menebar celaka.
tuanlah pelukis, petani dan pandai besi itu,
kalau tuan tak peduli, tuan sia siakan harapan kami
kalau tuan korupsi, tuan miskinkan kesempatan kami
kalau tuan berbohong, tuan bunuh masa depan kami
kalau tuan ingkar janji, tuan gilas hidup mati kami
dengan bom waktu ditangan kami jadi seteru
atau jadi pewaris tuan punya prilaku
tuanlah,
tuan tak bisa bersikap pengecut mengaku tak berdosa
ketika kami terjebak dalam putus asa dan ketidak pastian,
tak tahu arah pergi dan kemana pulang,
ketika disergap polisi karena narkoba,
menjadi pengantin dalam barisan teroris
berkeliaran jadi anggota geng motor di jalan raya
atau saling bunuh di tengah tawuran sesama
atau tak jadi apa apa.
pemuda nama kami
dan tuan panutan bagi kami
karena tuan kami jadi segala
atau tak berarti apa apa
tuanlah.
tuan bisa jadi sekutu
bahkan seteru bagi kami.
Cimanggis 28102012.
Ismail Sofyan Sani

Kamis, 27 Oktober 2016

Iwan Dartha, Intermezzo

Intermejo

yang dekat menjauh
yang jauh mendekat
jauh dekat tarif sama
sesama sopir odong2
dilarang saling hujat
penyair oh penyaiiirrr
sihirlah kalimat kami
agar jadi sastrawan!!
ayoo tertawa sama2
tertawa itu sehaatt...
wkwkwk... huhaha..

bukan kiat sehat Sastrawan Senior dr Handrawan Nadesul
bukan Puisi Religi mas Irawan Massie
bukan tausyiah mas dr. Setyo Widodo
bukan tertawanya kang RgBagus Warsono
bukan juga sajak mas Thomas Haryanto Soekiran
bukan juga kidung cisadane teteh Rini Intama
bukan juga pentas teater Maya Azeezah
bukan juga dapur sastra mas Riri Satria
bukan juga kopi Bung Salman Yoga S
bukan juga puisi mbak Ay DhenKrist
Lalu apa ini....?? tanya saja pada sajak bijak
yg rajin bayar pajak...!!

Kamis, 24 Maret 2016

AHOK, A Slamet Widodo

AHOK
Ahok adalah anomali
politik mapan ia dekontruksi
diluar kelaziman seorang politisi
kalau politisi suka konsensus dan kompromi
ia jenis manusia yang tak menyukai
anehnya popolaritasnya naik elektabilitasnya tinggi
Ahok memang kasar
bicaranya tak enak didengar
meledak ledak menggelegar
ngomong tidak piawai
tapi maksudnya sampai
gampang bilang maling atau anjing
seakan mulutnya tak pernah sekolah
maka oleh musuh ia dicaci dan dibenci
Ahok bukan orang munafik
bicara dibumi kenyataan
ia pekerja keras dan nyata
keberanianya jangan ditanya
satunya kata dengan perbuatan
ia tegas menggusur
tapi siapkan rumah susun pengganti
ia memecat dan menggeser
bagi pejabat yang korup dan tak melayani
ia merubah wajah birokrasi
menjadi birokrasi yang mengayomi
Ia menghunus pedang anti korupsi
maka para koruptor tengkuknya berdiri
Ahok oleh rakyat dipuja dan disukai
Ahok memang sialan
tak mau disogok
tak mau bayar mahar
tak mau melamar
tak mau jadi petugas partai
tak mau bikin komitmen
tak mau dititipin ini itu
apalagi diminta ini itu
bikin ketua partai besar marah besar
Ahok tak mau dibebani
tak mau politik balas budi
tidak mau didekte partai
saatnya ia memberi bukti
gubernur tak harus lewat jalur partai
"Teman Ahok"jadi kendaraan tuk mengapai
Ahok orang yang cerdas
setiap masalah dihadapi dengan tangkas
ketika ditanya wakil rakyat
kenapa yang digusur Kalijodo bukan Alexis
" kalijodo itu jalur hijau harus kembali ke jalur hijau"
pelacuran itu ada sejak nabi adam tak bisa dihilangkan
ingat saya pendukung lokalisasi
semua yang tak ada izinya saya sikat
tapi ingat Alexis juga tempat wakil rakyat istirahat
surga sekarang tidak dibawah telapak kaki ibu
tapi surga ada dilantai ketujuh .....Alexis "
Ahok tak takut mati
mati baginya adalah keberuntungan
ketika ia perang membela kebenaran
ia ingin dimakamkan di Kalibata bukan di Kalijodo
Bila Ahok menang
bikin parpol kobol kobol
mesin partai ngadat
bensin nya habis
pelumasnya kering
maka mereka beramai ramai
dengan segala cara dipakai
menjegal Ahok bekompetisi
Save Ahok
Jakarta, 10 Maret 2016

Kamis, 18 Februari 2016

KAPAN NYUSUL, Aloysius Slamet Widodo

KAPAN NYUSUL

Aloysius Slamet Widodo
Tetangga saya pak Jalidi
orangnya kepo setengah mati
urusan orang lain suka dicampuri
saya termasuk orang yang dibuli

Saat saya kecil
ketika anak tetangga sunat ia bilang
" nak ... kapan kamu nyusul ?"
saya diam tak menjawab
Saat tetangga anaknya lulus sarjana ia bilang
" nak kapan kamu nyusul?"
saya diam tak menjawab
Saat tentangga menggawinkan anak ia bilang
"nak .... kapan kamu nyusul ?"
saya diam tak menyawab
Ketika tetangga sebelah mati
saya bilang duluan ke pak Jalidi
"pak ..:. kapan bapak nyusul ?"
Ia menjawab ...,." asuuu" !

Jakarta,28 januari 2016

NYOLONG LUKISAN PRESIDEN Rg Bagus Warsono

NYOLONG LUKISAN PRESIDEN
Rg Bagus Warsono

Dullah, Basuki, Raden Saleh, Sujojono, dan Henkngatung
dipigura jati ukir Jepara
kawan presiden sesama pelukis negeri
dengan kanvas tenda serdadu
melukis wajah perempuan
melukis payudara
gairah birahi kuda pejantan
memandang lama tak berkedip
dicengkeram tembok bata-malang
kapan kompi pasukan pengawal pesta
lengah oleh ciu , tayub, dan cerutu
nyolong lukisan presiden
Musik tetalu mengalun , tembang dandang gula lalu sinom
mabuk prajurit
lupa memeluk bedil
pigura lepas dinding istana
hanya nempel paku beton karatan
lukisan hilang digondol maling
sinden montok lunglai
susu ngalor ngidul
tembang ngawur semakin asyik
dini hari
maling melompat pagar
moncong bedil bingung siapa ditembak
umpat gamprat komandan jaga
lepas lencana istana!
Presiden tersenyum lalu tertawa
Kalian pengawal plagiat seperti lukisan plagiat
siap !
lalu tercium asap kanvas dibakar.


Jakarta, 9 Desember 2015