TEKS SULUH


Tampilkan postingan dengan label tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tokoh. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 06 Oktober 2018

Yanti S Sastro Prayitno

Yanti S Sastro Prayitno adalah nama pena dari Sriyanti ( Sragen, 5 Februari 1969), menyelesaikan S1 dan S2 di Jurusan Kimia FMIPA UGM, sekarang mengajar di Departemen Kimia Fakultas Sains dan Matematika Universitas Diponegoro (1994-sekarang).



Antologi Puisi tunggal: Ketika Cinta Menunjukkan Wajahnya (2017)

Antologi Puisi bersama:

Sang Peneroka(2014), Cinta Magenta(2015), Untuk Jantung Perempuan(2015), 1000 Newhaiku Indonesia(2015), Kitab Karmina Indonesia(2015), Puisi Menolak Korupsi 5(2015) dan Negeri Laut, Dari Negeri Poci 6(2015), Memo Anti Terorisme (2015), Arus Puisi Sungai (2016), Puisi Hutan (2016), Negeri Awan, Dari Negeri Poci 7 (2017), Perempuan Mengasah Kata (2017), Perempuan-Perempuan (2017), Kumpulan Gurit Wanodya(2017), The First Drop of Rain (2017), Perempuan Di Ujung Senja(2017), Senja Bersastra di Malioboro I (2017), Wanodya (2018), Negeri Bahari, Dari Negeri Poci 8 (2018), Kepada Hujan di Bulan Purnama (2018), Rasa Tak Terkata (2018), Menjemput Rindu Di Taman Maluku (2018).

Minggu, 26 Agustus 2018

Tokoh Penyair penulis antologi Tulisan Tangan Penyair, Satrio Piningit

 Sukma Putra Permana

 Sarwo Darmono
 Samian Adib

 Barlaen Aji

 Dwi Wahyu candra Dewi

 Arya Setra

Alex Brawijaya

Sabtu, 17 September 2016

Sutarso (Osratus)

Sutarso (Osratus) adalah penyair yang tak asing bagi para penyar Lumbung Puisi karena ia juga menulis di Lumbung Puisi. Dan Puisinya pernah mengisi Lumbung Puisi Jilid III. Penyair asal Sorong Papua ini adalah kelahiran kota Gethuk Purbalingga. Kami bangga memiliki tokoh yang begitu komitment terhadap sastra Indonesia dan menyempatkan jauh-jauh dari Papua untuk kegiatan Seminar Sastra Internasional di UGM. Beliau pernah juga turut membawakan misi Lumbung puisi di Pertemuan Penyair 5 Negara di Malaysia tahun 2014 lalu.

Jumat, 16 September 2016

Mengenal Prof. Dr. Faruk Tripoli




Prof. Dr. Faruk Tripoli,
Lahir di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, 10 Februari 1957. Beliau adalah pakar di bidang ilmu budaya serta guru besar Universitas Gadjah Mada (UGM). Ia merupakan pengajar Fakultas Ilmu Budaya yang secara resmi mendapatkan persetujuan dari Mendiknas sebagai profesor pada Jun 2008.
Pendidikan Prof. Faruk bermula di sekolah dasar sampai dengan sekolah menengah atas ia selesaikan di kota kelahirannnya. Setelah lulus SMA, ia ke Yogyakarta untuk melanjutkan kuliah di Fakultas Sastra dan Kebudayaan, UGM, dan lulus tahun 1981. Tahun 1985 ia melanjutkan program S-2 di Fakultas Pascasarjana Universitas Gadjah Mada dan lulus tahun 1988. Kemudian, melanjutkan program S-3 juga di Fakultas Pascasarjana UGM dan lulus tahun 1994.
Pengalamannya sebagai dosen dimulai dengan tugasnya sebagai asisten ahli madya di Fakultas Sastra/Ilmu Budaya, UGM, tahun 1983-1985. Pada tahun 1986 hingga sekarang, ia menjadi dosen di Fakultas Sastra/Ilmu Budaya, UGM. Ia diangkat menjadi Guru Besar di Fakultas Sastra/Ilmu Budaya, UGM, tahun 2009.
Selain menjadi dosen di Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra/Ilmu Budaya, UGM, Prof. Faruk juga pernah mengajar di Hankuk University of Foreign Studies, Seoul, Korena Selatan (2007-2009) serta aktif melakukan penelitian (1998-2009). Prof. Faruk juga sering tampil sebagai pemakalah, narasumber, dan penanggap dalam kegiatan ilmiah, baik bahasa, sastra, maupun budaya.
Jabatan yang pernah diembannya pejabat sementara Kepala Pusat Studi Kebudayaan, UGM (2000-2001), Kepala Pusat Studi Kebudayaan, UGM (2001-2003), pejabat sementara Kepala Pusat Studi Kebudayaan, UGM (2003-2005), dan Kepala Program Studi Ilmu Sastra, Fakultas Ilmu Budaya, UGM (2011-sekarang).

Kamis, 29 Oktober 2015

Penyair Indramayu Bisa Putus Regenerasi Bila Pemeritah Tak Peduli

Tak ada yang mau menghidupi kesusastraan di Indramayu kecuali pelaku sastra itu sendiri.
dan Rg Bagus Warsonoo bersama Mas Acep Syahril, Mas Yohanto A Nugraha,Mas Dedi Apriadi, sepakat mengatakan tidak apa-apa.

Sabtu, 29 Agustus 2015

Mengenal Salimi Ahmad Penyair dan Pelukis Indonesia


Penyair dan pelukis Salimi Ahmad saat menghadiri Temu Sastrawan Indonesia, Samping kanan berpeci bersama penyair Wowok Hesti Prabowo.
(Fotho Rg Bagus Warsono)

Salimi Ahmad, lahir di jakarta, 22 mei 1956, adalah seorang penyair yang namanya tak asing lagi di dunia seni lukis Indonesia . Pelukis ini adalah juga seorang penyair yang diperhitungkan secara nasional. Baginya menulis puisi adalah keseimbangan profesinya, namun ia dapat memetik sekaligus predikat pelukis dan penyair yang berhasil. Menurutnya ia  tak pernah benar-benar bisa melepaskan diri dari menulis puisi, sebab karena menurutnya dengan menulis puisi ia dapat menyeimbangkan rasa gelisah dalam hati dan pikirannya. Demikian ketika berbincang dengan ayokesekolah.com di acara Tifa Nusantara 27-29 Agustus 2015 di Cikupa Tangerang.

Salimi Ahmad meniti pendidikan mulai  SD dan SMP diselesaikan di Jakarta. Dia pernah masuk sekolah seni rupa indonesia (SSRI) di Yogya pada tahun 1973. hanya kurang dari 1 tahun dia pindah kejakarta lagi untuk melanjutkan pendidikannya. ia menyelesaikan SMA pada tahun 1976.

Latar sebagai pelukis dan sekaligus penyair didapat dari ketika tinggal di  Yogyakarta, Bergabung di persada studi klub (PSK) dibawah asuhan Umbu Landu Paranggi, teater asuhan Niki Kosasih. Kemudian di  Jakarta, ia mendirikan Bengkel Sastra Ibukota.  Bersama  Mas Sulebar Sukarman, ia kerap mengikuti berbagai kegiatan pameran lukisan bersama.

Sabtu, 30 Mei 2015

Mengenal Bens Leo


Bens LeoNama Lengkap : Bens Leo


Profesi : -

Tempat Lahir : Pasuruan

Tanggal Lahir : Jumat, 8 Agustus 1952

Zodiac : Leo


BIOGRAFI
Bens Leo atau Benny Hadi Utomo adalah seorang wartawan serta pengamat musik dan entertainment Indonesia. Ia termasuk anggota awal tim sosialisasi Anugerah Musik Indonesia (AMI), sebuah penghargaan musik yang mengacu pada piala Grammy Award di Amerika Serikat.

Selain itu Bens juga berperan sebagai Penasehat SCTV Awards, sebuah program acara anugerah musik di Indonesia dan terlibat dalam sejumlah event musik di Indonesia.

Setelah lulus SMA, obsesi lamanya ingin menjadi wartawan, khususnya wartawan musik muncul kembali. Takala ia gugur ketika masuk pendidikan AKABRI, terlambat mendaftar masuk ke pendidikan penerbang di Curug, dan merasa berat untuk meminta uang kuliah dari Ibunya yang single parent (ayahnya yang seorang Pegawai Negeri wafat pada tahun 1968).

Lalu, dia mewawancarai pentolan musik Koes Plus, Tonny Koeswoyo. Ia nekat mendatangi kompleks Koes Bersaudara di Jl. Haji Nawi Jakarta, Selatan. Beruntung, Tonny  menyediakan waktunya untuk mengobrol dengannya. Dan menyuruhnya datang lagi untuk kemudian memberi pengetahuan tentang ilmu jurnalistik kepadanya, sekaligus menceritakan sejarah Koes Bersaudara yang katanya baru diceritakan kepadanya, sebagai wartawan pemula pada tahun 1971.

Hasil wawancara tersebut ia tulis dan dikirim ke mingguan Berita Yudha Sport & Film. Hasilnya, tulisan Bens menjadi headline. Sejak saat itu dia memulai karir sebagai wartawan. Kemudian dia juga kerap mengirim naskah ke media cetak AKTUIL.

Tahun 2000, Bens di ajak oleh Maxi Gunawan, seorang pencinta musik dan penggemar majalah pop, untuk membangun kerajaan bisnis media cetak musik, yang kemudian diberi nama NewsMusik. Namun, ia mengundurkan diri pada tahun 2003 dan majalah NewsMusik itu sendiri akhirnya bubar di usianya yang ke-3.

Bens juga di kenal sebagai seorang pencari bakat dan produser musik, di mana ia berhasil berhasil memproduseri album perdana Kahitna ‘Cerita Cinta’ pada 1993.

Riset dan analisis oleh Vizcardine Audinovic

KARIR
Wartawan
Pengamat Musik
Juri di berbagai kompetisi musik
sumber : Merdeka.com

Sabtu, 09 Mei 2015

Soebakdi Soemanto

Prof. Dr. C. Soebakdi Soemanto, S.U (lahir di Solo, Jawa Tengah, 29 Oktober 1941  – meninggal di Yogyakarta , 11 Oktober 2014 pada umur 72 tahun), adalah seorang penulis Indonesia, dosen Fakultas Ilmu Budaya UGM
Menyelesaikan pendidikan di Jurusan Sastra Inggris Fakultas Sastra UGM (1977), mengikuti "American Studies Program" di Universitas Indonesia (1982), dan menyelesaikan program pascasarjana di UGM (1985). Pernah mengajar di IKIP Sanata Darma (1971-1979), Akademi Kewanitaan Yogyakarta (1976-1979), Akademi Bahasa Asing Kumendaman Yogyakarta (1979-1982), Fakultas Sastra Universitas Sebelas Maret Solo (1979-1982), dan Oberlin College serta Northern Illinois University, AS (1986-1987). Selain itu, ia juga pernah menjadi redaktur Basis (1965-1967), Mahasiswa Indonesia edisi Jawa Tengah (1966-1969), Peraba (1971-1976), dan Semangat (1975-1979). Ia pun pernah menjadi Ketua Umum Dewan Kesenian Yogyakarta, pernah pula memperoleh award di bidang teater (Desember 2013). Terakhir, ia menjadi retired profesor di Fakultas Ilmu Budaya, UGM, Yogyakarta, sementara masih memberi bimbingan thesis dan disertasi di Pascasarjana UGM, ISI Sala, UMS Sala, dan KBI Sanata Darma.
Karya sastra :

Linus Suryadi AG (ed.)
Tugu (br, 1986)
Tonggak 3 (br,1987)


Dari Kartu Natal ke Doktor Plimin (kc,1979)
Angan-Angan Budaya Jawa: Analisis Semiotik Pengakuan Pariyem (1999)
Kalung Tanda Silang (cerber,belum dibukukan).
Cerita rakyat Yogyakarta 1 & 2 & 3 (1999)
Cerita rakyat Surakarta 1 & 2 (1999)
Jagat Teater – (2000)
The Magician – (2001)
Godot di Amerika dan Indonesia, (2002)
Doktor Plimin, kumpulan Cerpen, (2003)
Mincuk, Kumpulan cerpen (2004)
Rendra: Karyadan Dunianya, (2003)
Sapardi Djoko Damono: karya dan dunianya,(2006)
Majalah Dinding, kumpulan drama, ( 2006)
Kata, kumpulan puisi (2006)

Hasil gambar untuk profile Bakdi Soemanto


Bakdi Soemanto lahir di Solo tanggal 29 Oktober 1941. Sejak tahun 1979 ia aktif mengajar sampai sekarang di berbagai tempat, seperti IKIP Sanata Dharma, Akademi Kewanitaan Yogyakarta, Akademi Bahasa Asing Kumendaman, Fakultas Sastra Universitas Sebelas Maret Solo, dan Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Umum Dewan Kesenian Yogyakarta. Karya-karyanya yang diterbitkan oleh Gramedia adalah kumpulan cerpen Bibir dan Doktor Plimin.
Gur Besar FIB UGM, Prof. Bakdi Soemanto ketika hidup juga memperoleh beberapa piagam penghargaan, yaitu piagam mengabdi 25 tahun di UGM (2004) serta Satyalencana Karya Satya 25 tahun (2007). Sedangkan beberapa karya almarhum antara lain kumpulan cerpen Dari Kartu Natal ke Doktor Plimin (1979) dan Mincuk (2004), kumpulan puisi Bibir (2002) dan Kata (2006), serta kumpulan naskah drama Majalah Dinding (2006).

Sabtu, 14 Maret 2015

Laksmi Pamuntjak


 Hasil gambar untuk picture laksmi pamuntjak

  


Laksmi Pamuntjak (lahir di Jakarta, 24 Desember 1971; umur 43 tahun) merupakan seorang koki dan penulis berkebangsaan Indonesia.
Laksmi yang berdarah Minangkabau, adalah putri Mustafa Pamuntjak, seorang arsitek. Bakat menulisnya berasal dari kakeknya Kasuma Sutan Pamuntjak seorang redaktur Balai pustaka,dan pendiri perusahaan penerbitan CV. Djambatan.
 Laksmi mengemas buku panduan memasak secara unik. Dia berburu makanan dari restoran kelas atas, sampai warung kaki lima di seputar Jakarta. Semuanya dilakukan secara independen, komprehensif dan deskriptif. Dia tak ingin dikenali si pemilik, dan mencatat temuannya diam-diam agar tak diketahui para pelayan.
Pengetahuannya luas. Laksmi menulis artikel seputar politik, biografi, film, musik klasik, hingga sastra Dia juga menerjemahkan kumpulan puisi Goenawan Mohamad, tokoh penyair dan pendiri majalah Tempo itu, ke bahasa Inggris.
Karya antara lain:
  • The Jakarta Good Food Guide 2008-2009
  • The Anagram
  • On God and Other Unfinished Things
  • Perang, Langit dan Dua Perempuan
  • The Diary of R.S.: Musings on Art
  • Ellipsis: Poems and Prose-Poems by Laksmi Pamuntjak
  • Goenawan Mohamad: Selected Poems
  • The Jakarta Good Food Guide 2002-2003
  • The Jakarta Good Food Guide 2001

Aruna dan Lidahnya, Laksmi Pamuncak

Hasil gambar untuk picture laksmi pamuntjak

 Hasil gambar untuk picture laksmi pamuntjak

 Hasil gambar untuk picture laksmi pamuntjak

 Hasil gambar untuk picture laksmi pamuntjak

Sicantik Novelis Kita, Laksmi Pamuntjak

Hasil gambar untuk picture laksmi pamuntjak

 Hasil gambar untuk picture laksmi pamuntjak

 Hasil gambar untuk picture laksmi pamuntjak

 Hasil gambar untuk picture laksmi pamuntjak

 Hasil gambar untuk picture laksmi pamuntjak

 Hasil gambar untuk picture laksmi pamuntjak

 Hasil gambar untuk picture laksmi pamuntjak

 Hasil gambar untuk picture laksmi pamuntjak

 Hasil gambar untuk picture laksmi pamuntjak

Jumat, 07 Februari 2014

Mengenal sastyrawan asal Kota Malang Ratna Indraswari




Ratna Indraswari dikenal sebagai seorang sastrawan yang telah melahirkan lebih dari 400 karya sastra yang dengan semangat juangnya berusaha melawan segala keterbatasan yang ia miliki. Dengan kemampuan fisik yang nyaris tidak berfungsi, ia telah melahirkan ratusan karya sastra secara produktif sejak masih berusia muda hingga akhir hayatnya.

Kondisi fisiknya mulai bermasalah sejak usia 13 tahun ketika ia mengalami penyakit rachitis (radang tulang) yang mengakibatkan kedua kaki dan tangannya tidak berfungsi secara normal. Dalam menciptakan karyanya, ia selalu mendiktekan kepada para asistennya untuk mengetik dan kemudian merevisinya. Ia dikenal sebagai sosok yang tegas dan merupakan pemimpin yang benar-benar disegani.

Dibalik kursi rodanya, ia menciptakan berbagai karakter dalam cerpen dan novelnya yang pada umumnya mengisahkan perjuangan perempuan dalam menghadapi proses subordinasi yang sedang dialami. Bakat menulisnya didapat dari eyang buyutnya yang merupakan seorang narator cerita di daerah Minang.

Karya dari Ratna Indraswari antara lain : berupa kumpulan cerpen yang di muat dalam antologi Kado Istimewa (1992), Pelajaran Mengarang (1993), Lampor (1994), Laki-Laki yang Kawin dengan Peri (1995), Anjing-Anjing Menyerbu Kuburan (1997), Lakon Di Kota Senja (2002) dan Waktu Nayla (2003). Di samping aktivitasnya sebagai penulis, Ratna Indraswari juga aktif sebagai ketua Yayasan Bhakti Nurani Malang sejak 1977 dan Direktur I LSM Entropic Malang pada tahun 1991.

Ratna dikenal sebagai pribadi yang tegas, sama sekali bertolak belakang dengan kondisi difabel seluruh anggota badannya, tangan dan kaki. Dibalik kursi rodanya, Ratna secara faktual bertindak sebagai pemimpin dan benar-benar disegani.

Dari aktivitas sosialnya ini, ia mendapat kesempatan untuk mengikuti berbagai seminar internasional, misalnya Disable People International di Sydney, Australia, (1993), Kongres Internasional Perempuan di Beijing, RRC (1995), Leadership Training MIUSA di Eugene Oregon, Amerika Serikat (1997), Kongres Perempuan Sedunia di Washington DC, Amerika Serikat (1997), serta pernah mendapat predikat Wanita Berprestasi dari Pemerintah RI (1994). Pada tahun 2001, ia membentuk Forum Kajian Ilmiah Pelangi yang bermarkas di rumahnya, Jl. Diponegoro 3A Malang, Jawa Timur.