TEKS SULUH


Tampilkan postingan dengan label falsafah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label falsafah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 08 Agustus 2015

Sayap Angsa Hanya Hiasan

Sayap Angsa Hanya Hiasan
Sebuah falsafah yang artinya : "Jangan omdo (omong doank) "
Pipit kecil yang baru saja belajar terbang datang menemui Angsa besar dan tampan. "Paman Angsa", katanya, kemudian " Wah sayapmu besar dan panjang !" kata Pipit Kecil. Paman Angsa yang dipuji langsung membentangkan sayapnya tertawa bangga. " Ha ha ha tentu saja ini kebanggannku " katanya sambil memperlihatkan bulunya yang putih rapih tersusun dan besar. "Wah kalau begitu Paman banyak pengalaman terbang." Paman Angsa mendengar pujian itu langsung saja membual "Ha ha ha , aku sudah kunjungi Pulau Karimun yang Indah, Pulau Seribu , Pulau Karimata, Krakatau dan Banda dan pulau-pulau lainnya. Pipit kecil kagum bukan kepalang.
Pipit sendiri saja yang sayapnya kecil sudah bisa terbang jauh menyebrang sungai. Lalu Pipit Kecil berkata." Aku baru bisa menyebrang sungai, Ibuku mengajakku ke pulau Tanjung Mercusuar terdekat, tapi aku belum bisa ikut." Paman Angsa langsung menimpali. " Oh itu pulau Mercusuar , itu pulau terdekat dan tidak indah dan bangunan yang kau sebut Mersusuar itu rumah hantu ha ha ha." Pipit Kecil manggut manggut andai ia ikut ibunya pasti ketakutan hantu.
Suatu hari kemudian Pipit kecil semakin besar dan ia bersama kakak-kakanya terbang jauh hingga ke pulai Tanjung yang ada bangunan Mercusuar. Dijumpainya pulau Indah dengan bangunan Indah yang dirawat penghuni Mercusuar itu. Tak ada hantu di pulau ini malah bisa bermalam dengan aman.
Pipit Kecil masih penasaran didatanginya lagi Paman Angsa.
"Paman Angsa, aku sudah ke pulau Tanjung Mersusuar , tak ada hantu di sana!" Paman Angsa tertawa terbahak bahak, " Ha ha ha , ya jelas sekarang aman aku sudah tidak kesana lagi setelah 10 tahun." Paman Angsa pun kemudian berkata lagi , " Coba kau kunjungi Seram, Buru atau Tidore , sangat indah disana."
Percakapan antara Angsa dan Itik Kecil itu terhenti , tiba tiba seekor musang menghampiri mereka. Pipit Kecil dengan sigap terbang dan hinggap di dahan. Paman angsa berlari lari sampil mengkibas-kibaskan sayapnya terengah-engah. Dari dahan pohon pipit kecil berguman " OH hanya Omong Doang !" (rg bagus warsono, 7-8-15)

'Perahu kecil saja berani bertarung di samudra, kau masuk sungai kecil.'

'Perahu kecil saja berani bertarung di samudra, kau masuk sungai kecil.'
Sebuah falsafah agar hidup mengerti porsi masing-masing.
Karena yakin membaca arus air sungai demikian memberikan tanda-tada banyak ikannya Kapal Kursin (kapal kayu berukuran besar) urung melaut lepas. "Kita tak usah ketengah, masuk ke dalam sungai ini saja, ikannya lagi banya" kata Kapten Kapal Kursin"
" Jangan ! itu milik anak sungai (menyebut nelayan arad yaitu nelayan pencari ikan kecil)", kata jurumudi.
" Kan anak sungai juga bebas ke laut lepas?" jawab Kapten Kapal Kursin.
" ya , Kapten kita coba"
Akhirnya masuklah kapal Kursin itu ke dalam alur sungai. Ikan begitu banyak dimuara sungai. Sekali tebar jaring saja sudah terangkat ribuan ikan.
Setelah dirasa di muara sudah jarang ikan , Kapal Kursin masuk ke dalam lagi hingga mendekati perkampungan nelayan. Kemudian asyiklah Kapal Kursin mengambili ikan di sungai.
Ketika berpas-pasan dengan perahu kecil yang menuju ke laut, Kapal Kursin berkata , " He di sungai banyak ikan , kenapa kau ke Laut?"
Perahu kecil hanya tersenyum dan tertawa-tawa.
Kapal Kursin yang asyik mengimbil ikan di alur dalam sungai tak sdar waktu jelang sore hari di bulan tua. Air begitu cepat surut, Ia pun segera sdar bahaya karam. Namun perlu waktu menuju ke Laut. Sudah cukup jauh ke muara saja. Sedang beban Kapal semakin berat oleh ikan.
Walaupun dengan sekuat tenaga, Kapal Kursin tak dapat bergerak. Ia karam.
Penduduk nelayan di perkampungan itu hanya menonton. Sebuah atraksi gratis Kapal Kursin.
Kapten Kapal yang berpengalaman itu akhirnya memerintahkan agar menumpahkan seluruh ikan ke sungai lagi agar Kapal Terangkat air sungai. Sayang debet air hanya 1 meter, kapal tetap karam. Akhirnya Kapten kapal pun memerintahkan untuk mengeluarkan semua perbekalan termasuk perabot. Awak kapal melempar perbekalan ke penduduk nelayan yang menyaksikan di pinggir sungai. Penduduk nelayan tepi sungai itu pun bersorak sorai.
Setelah isi kapal itu habis, kapal mulai terangkat. terdengar mesin kapal perlahan bergerak dan kapal Kursin kembali kelaut tampa ikan dan habis perbekalan.