TEKS SULUH


Jumat, 11 Februari 2022

Bangsa Indonesia adalah yang merasai Indonesia sampai pada sudut kecil budaya nusantara.

 Waktu aku masih kecil (1970-an) ibuku bernyanyi untuk aku kakak dan adik menjelang tidur, masih ingat dan sampai hafal sampai sekarang, ibuku menyanyi apose, cik-cik periuk, ayam den lapeh, kole-kole , injit-injit semut , potong bebek angsa, yamko rambe yamko dsb padahal ibuku suku Jawa. Betapa Bangsa Indonesia telah disatukan budaya bangsa. Bangsa Indonesia adalah yang merasai Indonesia sampai pada sudut kecil budaya nusantara.

Dulu rakyat kecil merasakan nikmatnya naik kereta api dengan murah

 Rasa nasionalisme itu mudah, sudah tertuang di UUD 1945. Salah-satunya yaitu tali antar suku. Yaitu merasakan apa-apa milik negara seperti BUMN yang harus dinikmati seluruh rakyat, meskipun hanya subsidi untuk rakyat semua dengan adil. Dulu rakyat kecil merasakan nikmatnya naik kereta api dengan murah, pemerintah memberikan PJKA dan PELNI sebagai BUMN untuk rakyat. Tak ada kata rugi. Kini naik KA seperti naik pesawat terbang, rakyat kecil mendekat stasiun saja seperti tidak boleh. Padahal itu milik rakyat, perusahaan yang direbut atas pengorbanan rakyat.

Agar antar Propinsi antar daerah suku bangsa itu ada tali kebanggaan. Alat pemersatu bangsa. (Rg Bagus Warsono, sastrawan)

Putra putri keturunan transmigran pasti nasionalis

 Contoh lainnya jiwa nasionalisme itu transmigrasi. Putra putri keturunan transmigran pasti nasionalis dan mencintai negara ini. Mereka yang dari Jawa menikmati tanah Sumatra  yang juga milik negara Indonesia. Orang Sumatera juga menyadari pulaunya milik Indonesia. Tak ada orang sumatra protes tanahnya diberikan pada orang jawa, karena masih satu saudara. Ratusan ribu transmigran datang dan menempati jutaan hektare tanah Sumatera tak menjadi masalah karena orang Sumatera memiliki jiwa nasionalisme. Begitu juga orang-orang transmigran itu memikili jiwa nasionalis bahwa Jawa dan Sumatera sama saja milik Indonesia. Maka mereka mau ikut program itu, utuk memperbaiki kesulitan ekonomi keluarga dan memiliki tanah tempat bernaung. (Rg Bagus Warsono, sastrawan)

Rasa nasionalis itu ditunjukan oleh Sepakbola

 Dulu ada Gelar Juara Perserikatan. Club-club sepakbola atas nama daerah itu dipelihara oleh Pemda. Setiap tahun diselenggarakan kompetisi untuk merebut juara Perserikatan. PSSI berperan sebagai alat pemersatu, dan perekat jiwa nasionalis. Tak ada keributan atau kasus besar antar suku bangsa justru bintang-bintang sepakbola itu menjadi idola suku lain. Meski club sepakbola daerah kami tersisih di turnamen,  tetapi mengidolakan juga pemain daerah lain. Meski penulis tak mengenal jauh tentang sepak bola, tetapi membanggakan pemain-pemain dari daerah lain. Meski orang Jawa masih ingat pemain-pemain daerah lain seperti Iwan Karo. Karo, Buyung Ismu, purnomo, Robi Darwis dll. 

Pendek kata Persatuan Sepak bola yg mencerminkan sebuah daerah di pelihara oleh pemda dan sponsor perusahaan yang terdapat di daerah itu. Kemudian pada saat final di Istora Senayan semua masyarakat tertuju pada final sepakbola itu. (Rg bagus warsono, sastrawan)