TEKS SULUH


Kamis, 15 November 2018

Penyair Rg Bagus Warsono Tebarkan Literasi.

Penyair Rg Bagus Warsono, Kamis, 15 Nofember 2018 bertemu dengan Bpak H Ishak, di sekolah SDN Binajaya Subang. 

Penyair Rg Bagus Warsono Kunjungi Sekolah-sekolah di Subang

Penyair Rg Bagus Warsono dalam kesempatannya mengunjungi sebuah sekolah di Kecamatan Cioasem Kabupaten Subang. Bapak Edi Rohendi, Kepala SDN Ahmad Yani, Ciasem nenerima cinderamata buku literasi sastra dari Rg Bagus Warsono, 12-11-2018

Sastrawan Rg Bagus Warsono Gelorakan Literasi di Jawa Barat


Selasa, 30 Oktober 2018

Lambaian Pramugari (181 Penumpang Lion Air )


tersenyum menutup pintu badan pesawat
derai rambut dan dasi kecil
angin bandara hari itu
menahan jari lentikmu terbuka melambaikan salam
tangga pesawat mudur perlahan
pintu pesawat menutup diri
dengan 181 nyawa
terbang
menuju pulaumu bangka di bandara lain pangkal pinang.
Deru halus meninggalkan asap putih
lalu memudar menjadi awan kecil-kecil
181 dalam doa
memejamkan mata
sudahkah di bandara lain
Terbangmu sebentar padahal bandara masih jauh
Kau singgah di pelabuhanMu.

Rg Bagus warsono 29-Oktober 2018

Sabtu, 06 Oktober 2018

Yanti S Sastro Prayitno

Yanti S Sastro Prayitno adalah nama pena dari Sriyanti ( Sragen, 5 Februari 1969), menyelesaikan S1 dan S2 di Jurusan Kimia FMIPA UGM, sekarang mengajar di Departemen Kimia Fakultas Sains dan Matematika Universitas Diponegoro (1994-sekarang).



Antologi Puisi tunggal: Ketika Cinta Menunjukkan Wajahnya (2017)

Antologi Puisi bersama:

Sang Peneroka(2014), Cinta Magenta(2015), Untuk Jantung Perempuan(2015), 1000 Newhaiku Indonesia(2015), Kitab Karmina Indonesia(2015), Puisi Menolak Korupsi 5(2015) dan Negeri Laut, Dari Negeri Poci 6(2015), Memo Anti Terorisme (2015), Arus Puisi Sungai (2016), Puisi Hutan (2016), Negeri Awan, Dari Negeri Poci 7 (2017), Perempuan Mengasah Kata (2017), Perempuan-Perempuan (2017), Kumpulan Gurit Wanodya(2017), The First Drop of Rain (2017), Perempuan Di Ujung Senja(2017), Senja Bersastra di Malioboro I (2017), Wanodya (2018), Negeri Bahari, Dari Negeri Poci 8 (2018), Kepada Hujan di Bulan Purnama (2018), Rasa Tak Terkata (2018), Menjemput Rindu Di Taman Maluku (2018).

Rabu, 03 Oktober 2018

Antologi Tulisan Tangan Penyair Satrio Piningit Penyair Indonesia

Antologi
Tulisan Tangan Penyair
Satrio Piningit
Penyair Indonesia
Penebar Media Pustaka

Antologi Tulisan Tangan Penyair
Satrio Piningit
Penulis
: Penyair Indonesia
Editor
: Isa
Layout
: Arsi
Desain Cover : Edi
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Dilarang memperbanyak atau memindahkan sebagian atau seluruh
isi buku ini ke dalam bentuk apa pun, secara elektronis
maupun mekanis, tanpa izin tertulis dari penerbit atau penulis.
All Rights Reserved
Diterbitkan oleh:
Penebar Media Pustaka
Alamat : Jl. Samas km 1, Palbapang, Bantul, Bantul, Yogyakarta,
55713.
Hp.
: 085743999124
E-mail : penebarcom@gmail.com
Katalog Dalam Terbitan (KDT)
Penyair Indonesia, Antologi Tulisan Tangan Penyair: Satrio Piningit;
Editor: Isa—Cetakan 1—Yogyakarta: Penebar Media Pustaka, 2018
xii + 84; 14 x 20 cm
ISBN: 978-602-5888-43-4
Cetakan 1, 2018

Antologi Tulisan Tangan Penyair
Satrio Piningit
Penulis :
1. Andrie Bucek (Lombok)
2. Winar Ramelan (Jakarta)
3. Rg Bagus Warsono (Indramayu)
4. Wiwin Herna Ningsih (Bandung)
5. Didi Kaha (Brebes)
6. Leli Yuyantri (Indramayu)
7. Soetan Radjo Pamuntjak (Bukitinggi)
8. Ira Suyitno (Mojokerto)
9. Bambang Widiatmoko (Jogyakarta)
10. Ade Sri Hayati (Indramayu)
11. Dwi Wahyu Candra Dewi (Semarang)
12. Syahriannur Khaidir (Sampang, Madura)
13. Nani Tanjung (Jakarta)
14.Syaiful B. Harun (Palembang)
15.Heru Marwata (Yogyakarta)
16.Sri Budiyanti (Demak)
17. Raden Rita Maemunah (Padang)
18. Sarwo Darmono (Lumajang)
19. Salman Yoga S. (Takengon, Aceh)
20. Barokah Nawawi (Semarang)
21. Wardjito Soeharso (Semarang)
22. Gilang Teguh Pambudi (Bandung)
23. Wadie Maharief (Jogyakarta)
24. Sri Sunarti (Indramayu)
25. Muhammad Lefand, (Jember)
26. Heru Mugiarso (Semarang)
27. Samian Adib, (Jember)
28.Buanergis Muryono (Depok)
29. Mo Amrin (Cirebon)
30.Iwan Bonick (Bekasi)
31. Wanto Tirta (Banyumas)
32. Cuk Ardi (Lumbung Puisi)
33.Sukma Putra Permana, (Jogyakarta)
34. Sutarso (Sorong)
35.Arya Setra (Jakarta)
36. Muhammad Mukarom (Jombang)
37.Barlean Aji (Jember)
38. Yanti S Sastro Prayitno (Sragen)
39. Alek Brawijaya, (Musi Banyuasin)
40. Uyan Andud (Kediri)
41. Ahmad Setyo Bae (Slawi)
42. Mohamad Iskandar (Demak)

Minggu, 23 September 2018

Aloysius Slamet Widodo dalam Mbleketek

KENAPA .........
KORUPTOR,NARKOBATOR,KELAMINTOR
BOLEH JADI WAKILKU?

Mas2 hakim Mahkamah Agung terhormat
Rakyat memang tidak melek hukum
Tapi rakyat punya nurani dan akal sehat
Rakyat  sangat menghormati hukum
Tapi tak mengerti pikiran penegak hukum
Katanya daulat hukum ditangan rakyat
Kenapa hukum mengabulkan penjahat ?
Rakyat dikepleke sakarepe ... monggo !
Rapopo

Kalau dasarnya Hak azasi penjahat
Kenapa sampeyan tak mempertimbangkan
Hak azasi rakyat
Kenapa  keadilan pribadi lebih di didulukan dari rasa keadilan masyarakat
Lihat betapa banyak wakilrakyat ditangkap
Wakil rakyatku tidak jera
malah menantang ditangkap
Kalau dasarnya keadilan
Keadilan untuk siapa?

Sampeyan ini wakil Tuhan Bro
Apa Tuhan pembela koruptor ?
Jangan main2 bawa nama Tuhan
Jangan memberhalakan Tuhan
KarmaNya bisa datang seketika
Oh jagat keadilan ..
Jagat yang gelap
Sering sesat ...
sering menyesatkan diri!

Memang dengan menjalani hukuman
Maka hak terpidana dikembalikan
Tapi bukankah kejahatan korupsi
Narkoba dan kejahatan sexsual anak
Adalah kejahatan luar biasa?
Apapun alasanya kami tidak terima
Mereka mewakili rakyat
Tapi nasi telah menjadi tai
MA telah meng exsekusi ....Asu !
Harapan kami  KPU berani
mencantumkan nama bekas penjahat itu
di kertas pemilih agar tidak salah pilih

Celakanya Para partai politik di Pemilu
Walau membuat pakta integritas
Tak calonkan anggotanya yg koruptor
Tapi nyatanya masih meloloskan
Lagi lagi partai politik berbohong
Ah memang partai politik yang itu penipu
Janjinya mengajak kita bulan madu
Tapi dikasih datang bulan ! .... asuu

Partai politik itu
Di jalan benar yang sesat
Semoga rakyat memberi laknat
Suaranya kurang dari batas ambang
oleh karmanya partai politik itu hilang
Wassalam !


A Slamet Widodo
Jakarta 22 septembet 2018

Mas2 hakim Mahkamah Agung terhormat
Rakyat memang tidak melek hukum
Tapi rakyat punya nurani dan akal sehat
Rakyat  sangat menghormati hukum
Tapi tak mengerti pikiran penegak hukum
Katanya daulat hukum ditangan rakyat
Kenapa hukum mengabulkan penjahat ?
Rakyat dikepleke sakarepe ... monggo !
Rapopo

Kalau dasarnya Hak azasi penjahat
Kenapa sampeyan tak mempertimbangkan
Hak azasi rakyat
Kenapa  keadilan pribadi lebih di didulukan dari rasa keadilan masyarakat
Lihat betapa banyak wakilrakyat ditangkap
Wakil rakyatku tidak jera
malah menantang ditangkap
Kalau dasarnya keadilan
Keadilan untuk siapa?

Sampeyan ini wakil Tuhan Bro
Apa Tuhan pembela koruptor ?
Jangan main2 bawa nama Tuhan
Jangan memberhalakan Tuhan
KarmaNya bisa datang seketika
Oh jagat keadilan ..
Jagat yang gelap
Sering sesat ...
sering menyesatkan diri!

Memang dengan menjalani hukuman
Maka hak terpidana dikembalikan
Tapi bukankah kejahatan korupsi
Narkoba dan kejahatan sexsual anak
Adalah kejahatan luar biasa?
Apapun alasanya kami tidak terima
Mereka mewakili rakyat
Tapi nasi telah menjadi tai
MA telah meng exsekusi ....Asu !
Harapan kami  KPU berani
mencantumkan nama bekas penjahat itu
di kertas pemilih agar tidak salah pilih

Celakanya Para partai politik di Pemilu
Walau membuat pakta integritas
Tak calonkan anggotanya yg koruptor
Tapi nyatanya masih meloloskan
Lagi lagi partai politik berbohong
Ah memang partai politik yang itu penipu
Janjinya mengajak kita bulan madu
Tapi dikasih datang bulan ! .... asuu

Partai politik itu
Di jalan benar yang sesat
Semoga rakyat memberi laknat
Suaranya kurang dari batas ambang
oleh karmanya partai politik itu hilang
Wassalam !


A Slamet Widodo
Jakarta 22 septembet 2018

Rabu, 19 September 2018

Dibawah Atap Puisi beralas Puisi

Rg Bagus Warsono

Dibawah Atap Puisi beralas Puisi

Dan penyair-penyair gelisah
berjalan seiring antrian kendaraan macet
sambil membawa buku antologi gila
sebentar-sebentar bukunya dibaca
untuk sekedar memalingkan muka
yang tak sudi melihat
yang berjalan dengan mata kakinya sendiri.
Tak malu lagi ia berteriak
dalam irama isi buku puisi
untuk kemudian ia berdiri di atas jembatan
dan orang-orang panik melihat penyair bunuh diri
Sinting!
frustasi!
Edan!
Tidak, ia tidak seperti dugaanmu gila.
Dia bosan dengan semuanya
akan Indonesia kita !
buarkan ia dibawah atap beralas puisi ,

(rg bagus warsono, 18-09-2-18)


Segera Hadir di Penghujung Tahun 2018, Mbleketek, Antologi Puisi Penyair Indonesia

Pancen Zaman Mbleketek

Mbleketek memang, tentu bukan benang ruwed. Mungkin alam ini menghendaki demikian, tak semata 'apa boleh buat, buktinya tetep ditelan juga. Bahkan ada yang menari seperti udang dalam bubur-udang. Dicari kemana daging udang itu dalam panci bubur-udang, tetep tidak ketemu. Ternyata penjualnya bilang, udangnya tak akan ketemu karena udangnya digerus dengan sambal ! Ah, bisa-bisa saja penjual bubur-udang itu berkelit. Tetapi ketika ahli kuminer mencicipi masakan itu, katanya, ada udang dalam bubur-udang.
Katanya, " Enak jamanku ya Bro?". Tentu bukan untuk yang sengsara di zaman ini, sebab yang sengsara jaman doeloe juga bukan main banyaknya. Anehnya yang kecukupan dan berkah di zaman ini bilang "Enak jamanku doeloe", kan aneh?
Ya sudah, wong maunya ngomong begitu biarin. Esok harinya kedapatan orang yang bilang enak dijaman doeloe itu membeli mobil baru (buktinya juga banyak, di jalan mobil baru banyak dipakai) , padahal di zaman doeloe boro-boro orang beli mobil, pit onthel saja gak kebeli. Lhoh? Macam mana pula ini orang?. Itulah Indonesia.
Lucunya lagi ada penyair yang dapat duit besar karena "disumpel cangkeme pakai segepok atusan ewu, dihujat teman-temannya. ada yang bilang munafik, 'gembel babu, 'carmuk, sampai kethek nemoni mulud. Suatu saat giliran dirinya dipanggil untuk disumpel bacotnya. Kemudian dia bilang katanya ini karena prestasi karya sastranya. Ndasmu "kunyuk pada karo aku jebule. Jangankan coca-cola, ubi mentah diiris-iris juga rebutan. seperti monyet di Plangon Cirebon.
Di dunia kepenyairan mblekethek juga terlihat. sampai-sampai orang lupa kritikus dan kurator. Tetapi tanpa dikritik juga penyairnya bisa terkenal. Doeloe untuk menjadi terkenal karyanya dihantam kritik dan dibicarakan banyak orang, sekarang lain. Untuk menjadi terkenal boleh dengan cara apa saja. Doeloe ada yang ngamen di mobil bus dengan baca puisi. Ada yang bilang, "belum masuk bui berarti belum terkenal"! ha ha ha ia sih.
Sekarang setiap kota punya penerbit, perkara buku laku apa tidak itu nomor dua. Bilang saja "best seller" padahal nyetaknyua cuma 10 eksemplar. Wah wak wah.
Pancen zaman blekethek sekarang ini!
(Rg. Bagus Warsono, Sastrawan tinggal di Indramayu)

Sabtu, 15 September 2018

Wardina, Guru Teladan di Kab. Cirebon

Di Cirebon, penulis menjumpai Bpk Wardina, salah seorang guru teladan kabupaten Cirebon yang kini menjadi Kepala Sekolah di UPT SD3 Sidawangi. Bpk Wardinah ditempatkan di sekolah terpencil di kabupaten Cirebon yang berbatasan dengan kabupaten Kuningan. Meski berada di desa Pak Wardina berusaha membangun sekolah dan dusun sekirat sekolah untuk maju. Di bidang literasi pak Wardina giat menggelorakan minat baca siswa-siswinya yang masih tergolong dibawah di bidang literasi. Penulis mengapresiasi sosok Bpk Wardina yang juga penulis buku mata pelajaran bahasa Cirebon ini. Dalam kesempatan itu penulis memberi kenang-kenangan buku .

Minggu, 26 Agustus 2018

Sejarah Tulisan Tangan di indonesuia


 Si Bung itu, muslim yang taat. Kamu saja yang menghina proklamatormu sendiri.
 Si Bung orang yang rendah hati, Disebutnya Sudirman Sebagai Panglima Besar, padahal Presiden adalah panglima tertinggi (Si bung orang pertama menyebut Pak Sudirman Jendral Besar) Dikirimnya uniform, (seragam) untuk Pak Sudirman untuk dipakai di hari kemerdekaan.




Sejarah Tulisan Tangan tak lepas dari RA Kartini, Bayangkan kartini menulis surat surat itu, kemudian dibukukan oleh penerimanya Ny Abendanon hingga setebal 10 cm. Berapa lembarkah?

Tokoh Penyair penulis antologi Tulisan Tangan Penyair, Satrio Piningit

 Sukma Putra Permana

 Sarwo Darmono
 Samian Adib

 Barlaen Aji

 Dwi Wahyu candra Dewi

 Arya Setra

Alex Brawijaya

Rabu, 22 Agustus 2018

Tokoh Penyair Nasional dalam Antologi Bersama Tulisan Tangan Penyair





Biodata Penyair Nasional pengisi Antologi Tulisan Tangan Penyair :


1.Andrie Bucek, seorang penyair menyembunyikan diri, diketahui berasal dari Lombok Nusa Tenggara barat.

2.Winar Ramelan lahir 5 Juni di Malang, sekarang tinggal di Denpasar Bali. Narasi Sepasang Kaos Kaki (2016) adalah judul buku kumpulan puisi pertamanya.
Pada bulan November 2015, Winar bergabung dengan grup Dapur Sastra Jakarta (DSJ), dan sejak itu karya-karya Winar pun mulai muncul di grup DSJ di media sosial Facebook. Sebelumnya Winar sudah terlebih dahulu aktif di grup Kumandang Sastra Semarang (KuSaS) dan beberapa kali puisinya dibacakan oleh Didiek Soepardi (pengasuh KuSaS) di RRI Semarang dalam acara Kumandang Sastra. Beberapa karya puisinya pernah dimuat di harian Denpasar post dan Bali Post, konfrontasi.com, Sayap Kata, Dinding Aksara dan Detakpekanbaru.com. Saat ini menjadi penulis tetap pada majalah Wartam, sebuah majalah dengan konsep Hindu dan budaya Bali

3.Rg Bagus Warsono, penyair kelahiran Tegal 29 Agustus 1965n Selain sebagai penyair, dia mendirikan Himpunan Masyarakat Gemar Membaca (HMGM). Sebagai seorang sastrawan ia dikenal juga seorang pelukis yang tinggal di sanggar sastra dan lukis Meronte Jaring di Indramayu Jawa Barat Indonesia.

4.Wiwin Herna Ningsih
Wiwin Herna Ningsih adalah seorang guru sekolah dasar di Cikalapa Cipatat Bandung Barat. Mandala cengkrong adalah bhumi perkemahan yang ada di Cipanas Jawa Barat

5.Didi Kaha, bernama lengkap Usman Didi Khamdani. Lahir di Jatibarang Lor, sebuah desa di wilayah Kabupaten Brebes, Propinsi Jawa Tengah, Indonesiapada tahun 1980. Mulai menulis sastra, terutama puisi sejak awal SLTA yang ditempuhnya di SMK Negeri 1 Brebes (dulu SMEA Negeri Brebes) pada departemen Akuntansi-2 (AKALORO) dengan menggabungkan diri di Aksi Puisi, sebuah forum studi sastra yang diselenggarakan oleh Radio Sindang Kasih Cirebon dan diasuh oleh penyair Wawan Hamzah Arfan didampingi penyiar Iwai Sumantri dan juga di Gelanggang Sastra Cirebon, sebuah forum serupa yang diselenggarakan oleh RRI Cirebon dan diasuh oleh Lukman Pribadi.

6.Leli Yuyantri, Lahir di Indramayu, 18 Mei 1995. Perempuan yang akrab dengan sebutan Lie ini adalah lulusan fakultas Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Wiralodra Indramayu. Tinggal di Indramayu.

7.Soetan Radjo Pamuntjak
Soetan Radjo Pamoentjak adalah nama pena dari Irman Adnan yang lahir di Batusangkar, Sumatera Barat, 18 Oktober 1970. Soetan belajar menulis secara otodidak. Layaknya sebagai orang Minangkabau atau Sumatera Barat yang berjiwa perantau, membuat Soetan berpindah-pindah tempat tinggal. Sejak tahun 2002 menjadi warga kota Bukittinggi dengan aktivitas sehari-hari sebagai pedagang. Pada tahun 2015, manuskrip puisinya Malagi  masuk sebagai nominator pada Siwa Nataraja Award 2015.

8.Ira Suyitno, Penyair asal Pacitan tinggal di  Mojokerto.

9.Bambang Widiatmoko, penyair kelahiran Yogyakarta ini memiliki kumpulan puisi tunggal antara lain Kota Tanpa Bunga (2008), Hikayat Kata (2011), Jalan Tak Berumah (2014), Paradoks (2016), Silsilah yang Gelisah (2017). Kumpulan esainya Kata Ruang (2015). Sajaknya terhimpun di berbagai antologi puisi bersama antara lain Deklarasi Puisi Indonesia (2012), Sauk Seloko (2012), Secangkir Kopi(2013), Lintang Panjer Wengi di Langit Yogyakarta (2014), Jula Juli Asem Jakarta (2014), Negeri Langit (2015), Negeri Laut (2016), Pasie Karam (2016), Ije Jela (2016), Matahari Cinta Samudra Kata(HPI., 2016), Sail Cimanuk (2016), Negeri Awan (2017), Kota Terbayang (2017), Hikayat Secangkir Robusta (2017). Pesona Ranah Bundo (2018), Negeri Bahari (2018). Ikut menulis esai di buku antara lain Jaket Kuning Sukirnanto (2014) Ngelmu Iku Kelakone Kanthi Laku (2016), Apresiasi Sastra dan Perbincangan Karya (2016), Isu Sosial dalam Puisi (2017).

10.Ade Sri Hayati, S.Pd. kelahiran 17 November 1994. alamat Juntikebon gang sukun rt/07/r01 kecamatan Juntinyuat, kabupaten Indramayu. kini tercatat sebagai salah satu mahasiswa pascasarjana Unswagati Cirebon

11.Dwi Wahyu Candra Dewi, lahir di Blora dan kerja di Banjarmasin. Sebagai penikmat sastra dalam hal ini puisi, saya berharap melalui sastra maka terbentuklah pola santun berbahasa baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Melalui sedekah puisi ini pula, saya mencoba meyakinkan diri bahwa sedekah tak lagi tentang uang. Menulis di Sedekah Puisi Tadarus Puisi 2 , Penebar Pustaka.

12.Syahriannur Khaidir, lahir di Sampit tanggal 26/09/1975 Provinsi Kalimantan Tengah, mengenyam pendidikan terakhir di Universitas Islam Malang, lulus 1999. Menulis puisi baginya merupakan proses pembelajaran secara kontinyu dalam upaya menuangkan ide kreatif dan imajinatif, Di samping menulis, aktivitas sehari-hari sebagai tenaga pengajar di SMKN 1. Karyanya dimuat dalam antologi bersama:- Antologi Puisi Membaca Kartini oleh : Komunitas Joebawi 2016,- Antologi Arus Puisi Sungai oleh : Tuas Media, April 2016,- Antologi Puisi Peduli Hutan oleh : Tuas Media, Agustus 2016,- Antologi Puisi Rasa Sejati oleh : Lumbung Puisi Jilid V 2017 Penebar Media Pustaka - Antologi Puisi Kita Dijajah Lagi oleh : Lumbung Puisi/HMGM/Penebar Media Pustaka 2017, - Antologi Puisi Tadarus Puisi oleh : Lumbung Puisi/ Penebar Media Pustaka 2017,- Antologi Puisi Indonesia Masih ada Bulan yang akan Menyinari oleh : D3M KAIL 2017, - Kumpulan Puisi Mencari Ikan Sampai Papua oleh : Penebar Media Pustaka 2018.

13.Nani Tanjung, adalah penyair angkatan 2000 dan aktif di Teater Kail Jakarta, tinggal di Jakarta.

14.Arie Png Adadua adalah nama pena dari Syaiful B. Harun. Kelahiran Palembang,16-06-1967. Berprofesi sebagai salah seorang guru di Ma'had Al Islamiy Aqulu-el Muqoffa. Semasa kuliah telah tertarik pada puisi terlebih sejak menjuarai "Lomba Cipta Puisi Provinsi Bengkulu" dalam rangka memperingati Penyair Chairil Anwar pada tahun 1996. Buku yang pernah diterbitkan berupa kumpulan puisi tunggal yaitu "Nyanyian Cerita Fajar" (Palembang, 2004) dan buku teks “Apresiasi dan Menulis Puisi” (Palembang, 2018), serta beberapa buku antologi puisi, yaitu Antologi "Gerhana" Memperingati Peristiwa Gerhana Matahari Total di Sebagian Wilayah Indonesia - Rabu, 9 Maret 2016 (Jakarta, 2016), Antologi Kebangsaan “Celoteh di Bawah Bendera” (2018), Antologi Puisi “Angin” (2018), dan Antologi “Kenangan Masa Lalu” (2018), Antologi Puisi 101 Penyair Nusantara “Marhaban ya Ramadhan” (2018), Antologi Lumbung Puisi VI “Indonesia Lucu” (2018), Antologi Puisi “Perempuan” (2018), Antologi Puisi Guru “Musafir Ilmu: (2018), Antologi Puisi “Sedekah Puisi” Sekumpulan Puisi Penyair Indonesia Modern dalam Tadarus Puisi-2 1439 H (2018), dan Antologi “Kata Mutiara Inspirasi Tema Pendidikan” (2018)

15.Heru Marwata (HM), bukan, dan tidak ingin, menjadi penyair. Dia hanya penggemar kata-kata biasa. HM yang “biasa” menyebut dirinya sebagai si Tahu Bulat karena hobinya menulis (apa saja) secara cepat dan dadakan ini lahir di Yogya, lebih dari setengah abad silam. Staf pengajar  FIB UGM Yogyakarta yang hobi berkelana ini pernah menjadi dosen tamu di Guangdong University of Foreign Studies (GDUFS: 2010—2011)  China, dan sekarang (2017—2019) menjadi Visiting Professor di Hankuk University of Foreign Studies (HUFS), Korea. Ia suka menulis apa pun, sebagai hobi, untuk menemudapatkan kesenangan pribadi dalam menjalani kehidupan dan sekaligus mensyukuri anugerah Sang Pencipta yang berupa kegemaran berkata-kata.  Menurutnya berkarya itu penting karena karyalah penanda keberadaan diri yang paling nyata dalam kehidupan.

16.Sri Budiyanti, lahir di Demak 21 Februari 1990. Sarjana Pendidikan Sekolah Dasar. Sehari-harinya mengajar di sebuah Sekolah Dasar yaitu SD Negeri Balerejo 2. Tinggal di Desa Sidomulyo Dukuh Krasak RT.10 Rw.01  Kecamatan Dempet Kabupaten Demak Jawa Tengah. Puisinya mengisi Lumbung Puisi Jilid VI, Penebar Pustaka 2018.

17.Raden Rita Maimunah, penyaiir ini tinggal di koto Tengah, Padang, Sumatera Barat. Sehari-harinya penyair ini sebagai pendidik di SMK di Padang. Puisinya mengisi Lumbung Puisi Jilid VI, Penebar Pustaka 2018, Sedekah puisi Tadarus Puisi, Penebar Pustaka 2018.

18.Sarwo Darmono, lahir , Magetan 27 Oktober 1963 Pekerjaan Penyiar Radio. Dikenal sebagai penyair yang menulis geguritan, Puisinya mengisi Lumbung Puisi Jilid VI, Penebar Pustaka 2018,Sedekah Puisi Tadarus Puisi 2, Penebar Pustaka.

19.Salman Yoga S. Lahir dan besar di dataran tinggi Gayo Aceh Tengah. Menulis semua jenis karya sastra dan jurnal, aktif di beberapa organisasi sosial, profesi, seni dan gerakan kebudayaan. Mengajar di Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh dan di beberapa perguruan tinggi lainnya. Pimpinan lembaga The Gayo Institute (TGI), Komunitas Teater Reje Linge (KomitreL) dan Komunitas Sastra Bukit Barisan Takengon. Tinggal dan menetap di Kampung Asir-Asir Atas No. 70 Takengon - Aceh Tengah sebagai petani kopi.
20.Barokah, lahir di Tremas Pacitan pada tgl 18 Agustus 1954. Pendidikan SD sampai dengan SMA di kota kecil Purworejo, kemudian melanjutkan ke IKIP Negeri Surabaya Jurusan Ilmu Kimia. Bekerja di PT Telkom sejak th 1974 dan mengajukan pensiun dini th 2002. Antologi puisi tunggalnya Bunga bunga Semak diterbitkan Pustaka Haikuku.Domisili terakhir di Semarang.

21.Wardjito Soeharso lahir di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, namun mengenyam pendidikannya di Kota Salatiga. Sejak usia muda, Wardjito sudah mengakrabi dunia seni melalui bacaan komik, cerita silat, dan cerita anak-anak. Dia mulai menulis puisi dan prosa ketika masih duduk di bangku SMP dengan mengirimkan karyanya, baik di majalah remaja maupun di majalah dinding sekolahnya. Lantas dia memperdalam minat sastranya dengan melanjutkan kuliah di jurusan Sastra Inggris, Fakultas Sastra Universitas DiponegoroSemarang. Selama kuliah, dia aktif dalam kegiatan kelompok teater kampus. Dalam wadah inilah minat dan bakat menulisnya semakin terasah. Banyak puisi dan naskah drama telah ditulisnya. Begitu menyelesaikan kuliahnya, dia bekerja sebagai pegawai negeri sipil (PNS) di Kantor Wilayah Departemen Penerangan Provinsi Jawa Tengah. Kesibukannya sebagai PNS pun tak menyurutkan minatnya untuk tetap menjalani proses kreatif sebagai penyair. Bahkan, dari instansinya, dia memperoleh beasiswa melanjutkan pascasarjana di Universitas Boston, Massachusetts, Amerika Serikat dengan mengambil konsentrasi pada bidang International Coummunication. Kini dia menjabat sebagai widyaiswara Badan Diklat Provinsi Jawa Tengah sembari terus berkarya dan menggerakkan generasi muda untuk mencintai sastra. Karya: Mendung di Atas Kota Semarang (1983), Penerbitan Pers di Indonesia: Dari Undang Undang Sampai Kode Etik (Aneka Ilmu Semarang, 1993), Antologi Puisi Penulismuda (Media ESolusindo Semarang, 2007), Yuk, Nulis Puisi (Percetakan Negara RI Surabaya, 2008), Yuk, Nulis Artikel (Media E-Solusindo Semarang, 2009),  Phantasy Poetica-Imazonation (pmpublisher Semarang, 2010), Ide, Kritik, Kontemplasi (pm-publisher Semarang, 2010),  Puisi Menolak Korupsi 1 (Forum Sastra Surakarta, 2014), Puisi Menolak Korupsi 2 (Forum Sastra Surakarta, 2014) bekerja sebagai pegawai negeri sipil (PNS) di Kantor Wilayah Departemen Penerangan Provinsi Jawa Tengah. Kesibukannya sebagai PNS pun tak menyurutkan minatnya untuk tetap menjalani proses kreatif sebagai penyair. Bahkan, dari instansinya, dia memperoleh beasiswa melanjutkan pascasar jana di Universitas Boston , Massachusetts , Amerika Serikat dengan mengambil konsentrasi pada bidang International Coummunication. Kini dia menjabat sebagai widyaiswara Badan Diklat Provinsi Jawa Tengah sembari terus berkarya dan menggerakkan generasi muda untuk mencintai sastra. Karya:Mendung di Atas Kota Semarang (1983). Penerbitan Pers di Indonesia: Dari Undang Undang Sampai Kode Etik (Aneka Ilmu Semarang, 1993)
Antologi Puisi Penulismu da (Media E Solusindo Semarang, 2007), Yuk, Nulis Puisi (Percetakan Negara RI Surabaya, 2008), Yuk, Nulis Artikel (Media E Solusindo Semarang, 2009), Phantasy Poetica Imazonation (pm publisher Semarang, 2010), Ide, Kritik, Kontemplasi (pm publisher Semarang, 2 010), Puisi Menolak Korupsi 1 (Forum Sastra Surakarta, 2014)Puisi M enolak Korupsi 2 (Forum Sastra Surakarta, 2014)Memo Untuk Presiden (Forum Sastra Surakarta, 2014) Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia (HMGM Indramayu, 2014) Pengantin Langit (BNPT dan Komunitas sastra Indonesia Jakarta, 2014) Puisi: Medium Komunikasi dalam Pembelajaran (AzzaGrafika, 2014) Kumpulan Puisi: Sakkarepmu! (HMGM Indramayu, 2015)

22.Gilang Teguh Pambudi putra Wong Alas, pimpinan perkebunan, Soetoyo Madyo Saputro dan Ustj. Hj. Dra. Siti Djalaliyah, aktivis Dewan Dakwah Pusat. Lahir di Curug Sewu Kendal, Jawa Tengah. Tetapi sejak kelas 4 SD sudah domisili di Sukabumi, Jawa Barat. Lalu seiring aktivitasnya sebagai jurnalis radio, penyiar, narasumber senibudaya di radio, dan manajer radio, dari Sukabumi lanjut domisili di Bandung, lalu ke Purwakarta, dan terakhir ke Jakarta. Aktif juga sebagai pembina Yayasan Seni, komunitas seni, penyelenggara berbagai even seni, pelatih gambar dan teater (juga Kelompok Drama Radio).

23. Wadie Maharief, adalah wartawan senior KR Jogyakarta, dan di beberapa media di Jogyakarta. Dikenal sebagai budayawan. Menulis puisi di berbagai antologi bersama nasional.

24.Sri Sunarti,M.Pd.,Lahir di Indramayu, 24 Mei 1965, Alumni Pascasarjana UPI Bandung. Mengikuti antologi bersama : Antologi Puisi Resital dari Negeri Minyak , (Dewan Kesenian Indramayu DKI, 2001), Perempuan di Persimpangan,(DKI,2003),Romantisme Negeri Minyak (DKI-Formasi,2013}, Cimanuk,Ketika Burung-burung Kini Telah Pergi, Antologi Puisi 100 Penyair Nusantara,(Lovz Rinz Publishing, Cirebon,2016), Tadarus Puisi, Penyair Indonesia Modern, Antologi Bersama, (CV Media Pustaka,Yogyakarta,2017) ,Negeriku Terjajah (CV Media Pustaka,Yogyakarta,2017), Menebar Karakter Sampai Papua. Implementasi Penguatan Pendidikan Karakter (CV Mediaguru, Surabaya,2017).
Cerita pendeknya terdapat di Maaf Buku Ini Aku Simpan , Kumpulan Cerpen Guru Penulis Sagusabu (Ciayumajakuning,Yayasan Pelita Parahiyangan Goebok Senja Poestaka, Bandung,2018). Antologi Cerpen Matahari Retak di Atas Cimanuk (DKI,2010),
Menulis Karya ilmiah di Kumpulan Karya Ilmiah Riksa Bahasa II, Penyandingan Bangsa melalui Pengajaran Bahasa bagi Penutur Asing (Rizqi Press, Bandung,2010),

25. Muhammad Lefand, penulis yang lahir di Sumenep Madura dengan nama Muhammad, sekarang tinggal di Ledokombo Jember. Adalah seorang perantauan yang senang menulis puisi. Lulusan MA An-Nawari Seratengah Bluto Sumenep dan Universitas Islam Jember. Naskah puisinya pernah menjadi juara 3 pada Sayembara Penulisan Naskah Buku Pengayaan PUSKURBUK Kemendikbud. Biografinya dimuat di buku “Enseklopedi Penulis Indonesia” (FAM Publishing: 2014). Sering mengikuti pertemuan sastra baik tingkat nasional maupun Internasional di antaranya: Temu Penyair Asia Tenggara di Cilegon dan Singapura. Antologi puisi tunggalnya yang terbaru berjudul “Jangan Panggil Aku Penyair” (2015) “Khotbah Renungan tak Utuh Jarak dan Jagung”(2016).

26.Heru Mugiarso, lahir di Purwodadi Grobogan lima puluh enam tahun yang lalu. Berkiprah di dunia penulisan sastra sejak masih remaja sekitar tahun 1975. Tulisannya berupa puisi, esai, kritik dan cerita pendek pernah  di muat di berbagai majalah dan surat kabar nasional dan daerah antara lain Horison, Republika, Media Indonesia, Jawa Pos , Suara Merdeka, Solo Pos, Littera, Hysteria, Radar Banjarmasin dan sebagainya . Prestasi yang pernah diraih adalah penghargaan Komunitas Sastra Indonesia Award 2003 dari yayasan Komunitas Sastra Indonesia sebagai penyair terbaik.Salah satu puisinya masuk dalam 100 Puisi Indonesia Terbaik dan masuk dalam nominasi penerima anugerah sastra Pena Kencana tahun 2008.Buku antologi puisi tunggalnya Tilas waktu  (2011) yang diluncurkan pada temu sastra internasional  Numera ( Padang, 2012) masuk dalam katalog perpustakaan YaleUniversity ,Cornell University serta University of Washington Amerika Serikat. Antologi  bersama esai dan puisinya menjadi koleksi  Universitas Hamburg Jerman. Namanya  masuk dalam buku Apa dan Siapa Penyair Indonesia (Yayasan Hari Puisi , 2017). Antologi puisi tunggal keduanya telah terbit dengan judul Lelaki Pemanggul Puisi  (2017). Di luar itu, ia adalah inisiator gerakan Puisi Menolak Korupsi yang didukung oleh ratusan penyair Indonesia. Sekarang aktif mengelola jurnal sastra dan budaya nasional Kanal yang diterbitkan oleh komunitas sastra Simpang 5 Semarang.

27.Sami’an Adib, lahir di Bangkalan tanggal 15 Agustus 1971. Antologi puisi bersama antara lain: Requiem Buat Gaza (Gempita Biostory, Medan, 2013), Menuju Jalan Cahaya (Javakarsa Media, Jogjakarta, 2013), Ziarah Batin (Javakarsa Media, Jogjakarta, 2013), Cinta Rindu dan Kematian (Coretan Dinding Kita, Jakarta, 2013), Ensiklopegila Koruptor, Puisi Menolak Korupsi 4 (Forum Sastra Surakarta, 2015), Memo untuk Wakil Rakyat (Forum Sastra Surakarta, 2015), Kata Cookies pada Musim (Rumah Budaya Kalimasada Blitar, 2015), Merupa Tanah di Ujung Timur Jawa (Universitas Jember, Jember, 2015), Kalimantan Rinduku yang Abadi (Disbudparpora Kota Banjarbaru-Dewan Kesenian Kota Banjarbaru, 2015), Memo Anti Terorisme (Forum Sastra Surakarta, 2016), Arus Puisi Sungai (Tuas Media, 2016), dan lain-lain. Aktivitas sekarang selain sebagai tenaga pendidik di sebuah Madrasah di Jember, bergiat juga di Forum Sastra Pendalungan, Bungo.

28.Buanergis Muryono, Lahir di Gunung Muria Jepara 11101966. Hidup sebagai seniman
Terus berkarya sepanjang zaman. Menulis adalah jalan hidupnya hingga melahirkan aneka tulisan untuk koran, majalah, radio, tv, film, animasi.
Mendirikan Sanggar Mariska bersama Cindy Shirley
Guru Besar Javanologi
Konsultan Art and Culture

29. Mo Amrin, Lahir di Karangampel Indramayu Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UNWIR Indramayu. Puisi-puisi dimuat di Harian Radar Cirebon (Jawa Pos Group). Antologi Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia (2014), Antologi Pusi Penyair Indonesia Bertema Margasatwa (2016), Antologi Bersama Moratorium Senja (2016), Antologi Bersama Kolaborasi Karya (2016), Antologi Bersama Di Balik Tulisanku Aku Bercerita (2016), Antologi Bersama Di Balik Jendela Demokrasi (2016), Antologi Bersama Satu Nusa Satu bangsa (2016), Antologi Bersama Sajak Pujangga Negeri (2016), Antologi Negeri yang Terluka (2016). Antologi bersama Rasa Sejati (2017), Antologi Bersama Tadarus Puisi (2017). Tinggal di Desa Sampiran Kecamatan Talun Kabupaten Cirebon dan menjadi jurnalis media elektronik.

30.Iwan Bonick, Pedagang barang bekas di kampung Teluk Angsan Bekasi. Menulis di banyak Antologi Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia. Bersama 8 Penyair menulis antologi Mencari Ikan Sampai Papua 2018.

31. Wanto Tirta, Lahir dan besar di Desa Kracak Kecamatan Ajibarang Kabupaten Banyumas Jawa Tengah. Orang biasa saja, mengalir sampai jauh,...
Menulis puisi maupun geguritan.
Menerima penghargaan bidang sastra dari Pemkab Banyumas (2015). Penerima Nomine penghargaan Prasidatama Balai Bahasa Jawa Tengah, sebagai Tokoh Penggiat Bahasa dan Sastra Jawa (2017).
Bermain teater dan Kethoprak. Bergiat di Komunitas Orang Pinggiran Indonesia (KOPI), teater Gethek, Paguyuban Kethoprak Kusuma Laras.

32. Cuk Ardi, seorang penyair dalam Grup Fb Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia. Menulis di Tadarus Puisi Sedekah Puisi 2018.

33.Sukma Putra Permana, lahir di Jakarta, 3 Februari 1971. Bergiat di Komunitas Belajar Menulis (KBM) Yogyakarta. Puisinya a.l. dimuat dlm: Semesta Wayang (2015), Klungkung: Tanah Tua, Tanah Cinta (2016), Antologi Puisi DNP 7: Negeri Awan (2017), dan Antologi Puisi DNP 8: Negeri Bahari (2018). Buku puisi tunggalnya: Sebuah Pertanyaan Tentang Jiwa Yang Terluka (2015).. 
               
34. Sutarso , nama lainnya Osratus, Lahir di Purba lingga (Jawa Tengah), 08 Maret 1965.Pindah ke Sorong (Papua Barat), tahun 1981.Menulis puisi sejak 1981. Puisinya dibukukukan dalam antologi bersama di dalam negeri maupun di luar negeri. Pernah menjadi staf pegajar di STKIP Muhammadiyah Sorong (2006 – 2010). Sekarang, menjabat sebagai Kepala Bidang Pencatatan Sipil pada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Tambrauw. Alamat: Jalan Basuki Rahmat Km. 7 (Kompleks Kantor Transmigrasi lama), Kota Sorong, Provinsi Papua Barat.

35.Arya Setra, penyair sekaliguis seniman ini telah menulis di beberapa antologi bersama nasional dan tingal di Pasar Seni Jakarta.

36. Muhammad Mukarom, berasal dari kota Gresik. Telah aktif di kepenulisan sejak 2016.

37.Barlean Aji, penyair asal Jember karyanya banyak mengisi antologi bersama nasional.

38.Yanti S Sastro Prayitno adalah nama pena dari Sriyanti, yang dilahirkan di Sragen, 5 Februari 1969). Ia menyelesaikan S1 dan S2 di Jurusan Kimia FMIPA UGM, sekarang mengajar di Departemen Kimia Fakultas Sains dan Matematika Universitas Diponegoro (1994-sekarang).

39. Alek Brawijaya, lahir 11 mei 1992 di Teluk Kijing, Musi Banyuasin. Tulisannya pernah dimuat diberbagai media lokal dan nasional, serta tergabung dalam beberapa antologi bersama

40. Uyan Andud (Kediri)
nama dalam facebook dengan nama asli Suyanto. Saya dilahirkan di sebuah kabupaten Kediri pada tgl 4 September 1971. Pendidikan dari SD sampai SPG di kabupaten Kediri dan melanjutkan pendidikan di Universitas Wisnu Wardana (Unida) Malang. Sekarang tinģgal di kab.Kediri.

41.Ahmad Setyo lahir dan besar di kota kecil Slawi - Tegal. Namun lebih dari 30 tahun ia hidup dsn tinggal di Jakarta. Komunitas seni Bulungan pernah dirambahnya dengan bergabung di Teater Aquila Jakarta tahun 1987 hingga 1993. Kesukaannya menulis selain dulu sebagai Wartawan, bapak dari 4 orang anak ini , bersama Rd Nanoe Anka seorang dedengkot seniman Bulungan, mendirikan kelompok Alinea Baru Jakarta. sebuah wadah kreatifitas bersastra. 3 buku antologi telah dihasilkan kelompok ini yakni Ketika Daun Jatuh, Daun Bersayap Awan dan Tanah Air Daun. Kini Ahmad Setyo selain berkesenian, menulis beberapa Cerpen dan rencana menerbitkan sketsa sketsa Kisah Cinta"Cinta Suci Sang Gayatri" yang kerangka ceritanya kerap muncul di akun FB nya Ahmad Setyo Bae.

42. Mohamad Iskandar Penulis puisi kelahiran Demak. Sedang bergiat di komunitas Competer Semarang. Puisinya termaktub di puluhan antologi bersama dalam dan luar negeri.

Tokoh Penyair Nasional di Antologi Tulisan Tangan Penyair.



















Minggu, 19 Agustus 2018

Butho Seni Sandiwara Semakin Merakyat

Butho di masyarakat Indramayu - Cirebon hingga daerah Subang-Karawang utara adalah perlambang keangkaramurkaan dan slalu dalam barisan wayang-abang (pihak yang jahat) dalam cerita-cerita Sandiwara , seni khas daerah ini, (Madres/Ludruk/Wayang orang). Biasanya keluar disaat saat pihak jahat mengalami keterancaman atau kepepet. Butho keluar di tengah malam sehingga menambah pertunjukan Sandiwara itu semakin seru.
Seiring dengan sepinya orang nanggap pertunjukan ini, para seniman beralih profresi dan sebagian seniman lain pindah ke seni pertunjukan lain. Peran butho semakin sepi di panggung. Alat (kedok) butho pun dimanfaatkan untuk hal lain. Salah satunya adalah sebagai cara meinta-minta. Semula hanya pada saat-saat tertentu seperti pada jelang dan saat lebaran, atau hari perayaan nasional. Kini butho sudah sering muncul sebagai alat untuk meminta-minta sedekah.

Kini butho pertunjukan itu sudah tidak menakutkan lagi anak-anak. Ia kerap hadir siang hari bahkan dikeramaian orang. Tampa malu-malu butho hadir di seni pertunjukan obrok , gotong singa , dan karnafal orang jhajatan.Wajah seram butho tidak lagi menakutkan, bahkan ia akrab dengan anak-anak. Doloe sekali butho sangat menakutkan bahkan di panggung sandiwara saja kehadirannya membuat anak-anak lari ketika menonton pertunjukan itu.
Certa-cerita yang menghadirkan butho sebetulnya hanya pada cerita-cerita tertentu. Kemudian dalam cerita carang lain butho selalu hadir untuk menarik minat penonton. Sandiwara pun semakin penuh sesak penonton. Cerita sandiwara yang sering menghadirkan butho adalah cerita-cerita kerajaan Cirebon. Tetapi grup Sandiwara Dharma Saputra yang sering membawakan cerita perjuangan tak luput menghadirkan butho sebagai pemanis cerita perjuangan itu, misalnya ketika sang ksatria tengah bertapa dan digoda oleh butho ijo ! (rg bagus warsono, 20-08-18)