TEKS SULUH


Sabtu, 20 Januari 2018

Marlin Dinamikanto dalam Indonesia Lucu

Marlin Dinamikanto
Di Taman Sarinya Persenggamaan Dunia

meskipun malam telah bersekutu dengan gelap
bahkan sejak lama. Sebelum dunia dibuat ada
atau diadaadakan oleh cerita Bunda Eva yang silap
tentang buah terlarang yang katanya menggoda
seperti cerita yang tersurat di Kitabkitab Samawi
di sanalah kunangkunang menegaskan hadirnya

malam dan segala gelap yang menyertainya
telah membunuh Cahaya. Tapi bukan kunangkunang
yang tak pernah mati sebab ada pedang di dasar jiwa
mengarungi rasa takut yang menggenang
di loronglorong keterasingan manusia
selalu ada cara mengatasi keterbatasannya

Gurun Gobi dan dataran tinggi Himalaya
bukan halangan bagi manusia menyebarkan
air mani yang diolah dari hasrat ke vagina
kehidupan yang terbentang sejak Mesopotamia
melintas Tigris, Samarkhand, India
ada lagi dari Yunan dan Formosa
menjelajah laut luas dan hinggap
di kepulauan nusantara. Itulah kita

manusia kunangkunang Indonesia
membakar gelap dengan nyala kecil saja
sebelum akhirnya pungkas diterjang usia
tak begitu lama. Hanya 70 tahun saja
tapi tak pernah sepi sebab ada hiburan
bersenggama dengan berbagai ras
seperti halnya derkuku dan burung dara
melahirkan burung puter. Begitulah kita

tak lagi terlihat asli seperti Kaukasuid purba
tak terlihat pendek gemuk seperti Mongolid
atau hitam legam seperti Negroid. Itulah kita
bangsa yang tak begitu asli kepulauan nusantara
menetap di pegunungan, lembah dan pantaipantai
membawa adab yang tak selalu sama
di taman sarinya persenggamaan dunia

meskipun malam telah bersekutu dengan gelap
bahkan sejak lama. Sebelum dunia dibuat ada
atau diadaadakan oleh cerita Bunda Eva yang silap
hingga keserakahan yang melahirkan cuaca ekstrim
tapi percayalah. Selama Isrofil belum memegang sangkakala
kiamat masih lama. Paling tidak itulah cerita
dari kitabkitab Samawi purba

Martupat, 18 Januari 2018

MI Firdaus dalam Indonesia Lucu

PEMBANGUNAN

Karya : M I Firdaus

Aku mengira sawah membentang adalah surga
juga saung-saung dengan nyanyian seruling tua.
tapi apalah arti dari keabadian
jika segala yang ada dilumat uang dan beton-beton raksasa?
Sepoi anginpun berkata: 
tiadalah kita yang tenang, tinggal mengalun hiruk pikuk perut nusantara.
Padi lahir sebagai pembatas jalan
dan lumpur punya rupa bagai aspal.
Gedung dan hotel adalah saung
O! Hijauku pergi ke mana?
Pematang sawah menjadi gang-gang suram;
di dalamnya terdapat tangisan bayi dan kepulan rokok bapak tua.
Dan remangnya cahya kehidupan!
mereka bernyanyi, mereka berelegi
dengan bayangan-bayangan kekayaan.
O! Inikah jaminan yang lahir dari perjanjian jual tanah?
Inikah sejahtera?
Sawah-sawah mereka ditindih berton-ton semen!
Mereka menjual kerbaunya,
tetapi mengapa mereka menjadi kerbau orang kaya?
Ooh, Mengapa?
di gang yang lebarnya 1,5 meter
mereka terlelap dengan harapan yang menyelimuti tubuh dekilnya
tanpa kepastian akan datangnya.
Bulan menyinari kepalanya
bermahkota debu dan luka.
Aku mengira sawah membentang adalah surga,
dan memang benar adanya!
itulah surga pembangunan negeri kita!
Bogor, 17 Januari 2018

IBU PERTIWI SUDAH JARANG MANDI
Karya : M I Firdaus
Bau badanmu menyebar di darat dan laut
Bibirmu juga kering, pada langit kau memagut
Hey ibu pertiwi!
Kau sudah jarang mandi
Sampai kau berkutu yang buat gatal negeri.
Kau berdaki yang buat dekil ini negeri.
Kau jarang mandi!
Sampai jadi bau menyengat ini negeri.
Air diteguk habis tuan-tuan yang numpang
Sabun habis, tinggal busa yang meletup tiap gelombang.
Hey ibu pertiwi!
Tanah menggoda ciut hidungnya
Air membasahi langsung hilang jernihnya.
Hey ibu!
Pertiwimu hilang diambil tuan penghisap sabu.
Ibu pertiwi, kau jarang mandi!
Bogor, 20 Mei 2017




DUKA KITA

Karya : M I Firdaus

Sang surya terbit
Ubin-ubin bergetar
Mawar layu, enggan lagi mekar.
Terlihat bocah kehausan
menyedot embun fajar
dalam matanya terlihat samudera ketakutan,
ketiadaannya masa depan.
Lantas apa yang bisa ia bayangkan?
Bertanya pada kesedihan tanah air
mengapa dunia mengemut nisan?
Tetapi jawabannya terkubur dalam argumen orang pintar.
yang ada di atas mimbar
yang ada di meja bundar
yang ada di kamera tv orang kekar
yang ada di air comberan!
Di mana kita bisa tidur? Sedangkan kebohongan itu selalu ada: dimana-mana!
Di bawah atap-atap emas
Surat-surat keluhan dibaca sambil tertawa
sambil memakan daging-daging saudara.
Berduka kita kini di sini,
ketika bayangan mengikat kita di kelam sunyi
tanpa musik klasik dan sebuah dasi.
Berduka kita kini di sini,
saat lihat bocah compang-camping
main kejaran dengan trotoar.
Berduka kita kini di sini,
melihat politik-politik negeri dianggap remeh
bagai dongeng sebelum tidur orang-orang di kardus usang.
Dalam buku-buku pelajaran
terdengar sayup-sayup kata: Apa arti tut wuri handayani?
Jika guru hanya ingin menerima gaji
bukan mengabdi!
Di jalanan, orang miskin bergelantungan
di spanduk pemilu dan visi misi.
Berduka kita kini di sini,
dianggap ilegal di negeri sendiri.
Bogor, 24 Agustus 2017


Mohammad Ikhsan Firdaus
Nama Pena    : M I Firdaus
Tempat, Tanggal Lahir  : Bogor, 30 Oktober 2002
Alamat  : Jl. Cikopo Selatan Kp. Pasir Kaliki Rt 03/06 Ds. Sukamaju Kec. Megamendung Kab. Bogor 16770
Sekolah    : SMAN 1 MEGAMENDUNG
Karya     : Puisi, Anekdot, Dan Haiku

Jumat, 19 Januari 2018

Naafi’ Fitriani Sri Sundari dalam Indonesia Lucu

Naafi’ Fitriani Sri Sundari

SEKEDAR MIMPI

Indonesia …
Negaraku ya Negeriku
Subur tanahmu
Makmur harusnya rakyatmu
Adil semestinya pemerintahanmu
Sederhana wajibnya gaya hidupmu
Tanpa keluhan kemiskinan dimana-mana
Tiada perkelahian antar suku bangsa
Namun, kenapa semua menjadi lelucon
Seperti kompetisi stand up comedy
Sederhana tetapi menggelikan
Sungguh
Indonesia ….
Mau dibawa kemana negeriku ini?
Mau dibikin kayak apa negeriku ini?
Seperti dagelan yang mengundang tawa cekakan
Seperti cerita sinetron menarik di awal, hilang di tengah perjalanan
Drama apalagi yang sedang engkau mainkan
Sandiwara apalagi yang sedang engkau rencanakan
Indonesia bak zamrud khatulistiwa
Berangkai dari Sabang sampai Merauke
Indah menawan bila dipandang
Hijaunya hutanmu
Birunya lautmu
Namun semua hanya fatamorgana
Di antara ada dan tiada
Indonesia ….
Namamu harum bak harumnya bunga kesturi
Naafi’ Fitriani Sri Sundari
Namun sayang semua hanya sekedar mimpi




Naafi’ Fitriani Sri Sundari

SIAPA SIH INDONESIA NEGERIKU?

Siapa sih yang tidak kenal dengan Indonesia negeriku?
Terkenal dari tempo dulu
Jajaran pulaunya membuat semua orang terpaku
Jutaan bahkan milyaran bahan baku
Tersimpan bersama batu beku

Siapa sih yang tidak kenal dengan Indonesia negeriku?
Pertama kali membayangkan rempah-rempahmu
Belanda, Inggris, Portugis bahkan Jepang tertarik untuk itu
Mereka merelakan uang bahkan nyawa tertukar dengan Indonesia negeriku
Mereka bersikeras dan bertempur saling mengadu

Siapa sih yang tidak kenal dengan Indonesia negeriku?
Negeri yang disetarakan dengan untaian zamrud
Terukir indah di setiap kalbu
Setiap orang ingin datang padamu
Meski hanya sekedar menghampirimu

Siapa sih yang tidak kenal dengan Indonesia negeriku?
Kekayaan lautmu tidak perlu diragu
Dari ikan teri sampai ikan hiu
Dari alga merah sampai alga biru
Tak satupun yang bisa menyamaimu

Siapa sih yang tidak kenal dengan Indonesia negeriku?
Gunung-gunungmu menjulang tinggi bagaikan tugu
Dari Leuser sampai Irau
Seharusnya aku mengenalmu wahai negeriku
Namun aku malah tidak tahu

Naafi’ Fitriani Sri Sundari dilahirkan pada tanggal 03 Oktober 2004 di Sintang, Kalimantan Barat. Putri pertama dari dua bersaudara. Merupakan putri dari pasangan bapak Sukino, S.Ag., M.Ag dan Ibu Saumi Setyaningrum, S.Pd., M.Si.
Latar belakang pendidikan : Sekolah Dasar diselesaikan di SDN 06 Kota Pontianak pada tahun 2016 dilanjutkan di MTs Negeri I Pontianak serta sekarang duduk di kelas VIII.
Buku kumpulan cerpen dengan judul: “Apa Itu Favourite?” merupakan buku pertama Naafi’ yang berhasil diselesaikan dan diterbitkan pada tahun 2017. Naafi’ aktif di kegiatan PMR di MTs Negeri I Pontianak Kalimantan Barat.
Hobby utama Naafi’ adalah membaca semua buku fiksi (komik anak-anak, buku cerita, puisi maupun pantun) dan menulis apa yang ingin Naafi’ tulis.
Alamat lengkap: Jl. H. Rais A.Rahman Gg. Keluarga No. 48 A Sei Jawi Dalam Pontianak Barat Kota Pontianak Kalimantan Barat. Hp yang bisa dihubungi: Sukino (085822189683) atau Saumi (085822039749).

Kamis, 18 Januari 2018

Tarni Kasanpawiro dalam Indonesia Lucu

Tarni Kasanpawiro, Lahir di Kebumen 01 Desember 1971, Suka menulis puisi dan cerpen sejak bangku SMP, hobby menari. Beberapa puisinya tergabung dalam antologi puisi bersama "Pinangan(Dapur Sastra Jakarta) , Mendekap Langit(Gempita Biostory) dan Puisi Menolak Korupsi jilid 2. Tinggal di Perumahan Taman Wanasari Indah Blok B 03 No 03 Rt 09 Rw 08 Kel. Wanasari Kec. Cibitung Bekasi Jawa Barat Kode Pos 17520

Tarni Kasanpawiro


Berebut Piring,

Jari saling tuding
Gigi menjelma taring
Semua terlihat miring
Saling berebut paling

Kaki dihentak-hentak
Injak-menginjak diinjak
Kecebong bukan lagi bayi katak
Terlahir dari kumpulan dahak

Bumi tak lagi bulat
Langit kehilangan atap
Tuhankulah yang paling kuat
Bukan, tuhankulah yang terkuat

Kamu salah, tidak
Kamu yang salah
Lihat tuhanku berwarna merah
Lihat tuhanku berwarna hijau
Lihat tuhanku berwarna kuning
Lihat tuhanku berwarna biru
Apakah tuhan kita beda
Entahlah

Lidah telah kehilangan rasa
Tuli telinga buta sebelah mata
Tapi tak satupun ada yang merasa
Seakan semuanya sempurna

Inilah dunia kita
Tempat yang terlihat indah
Namun penuh dengan sampah
Berebut gelas dan piring pecah
Dari sebab lapar dahaga
Yang tak pernah ada habisnya

Bekasi 14 September 2017
Tkp.


Tarni Kasanpawiro
DARI SUDUT BERANDA

Aku takut bicara walau tanpa suara
Karena dinding tak hanya bermata tapi juga bertelinga
Kini kata bisa menjelma apa saja
Bunga yang indah, pisau yang tajam bahkan binatang pemangsa
Aku terkurung di dapur dengan pisau di tangan
Apa yang bisa aku lakukan

Sementara di luar sana
Lembaga swadaya masyarakat tak lagi ramah
Para preman berlomba menjadi penguasa
Menang kalah adalah pesta, berebut jatah
Hukum telah berubah menjadi rimba
Jarah menjarah adalah biasa
Tangisku kering sudah air mata
Memikirkan nasib generasi selanjutnya
Jika kita saja tak mampu menghalau gelombang kata
Bagaimana nanti dengan anak cucu kita
Oh cinta tetaplah bersemayam dalam dada
Aku ingin sejenak mendinginkan rasa

Bekasi, 19 Januari 2017, Lahir di Kebumen 01 Desember 1971, Suka menulis puisi dan cerpen sejak bangku SMP, hobby menari. Beberapa puisinya tergabung dalam antologi puisi bersama "Pinangan(Dapur Sastra Jakarta) , Mendekap Langit(Gempita Biostory) dan Puisi Menolak Korupsi jilid 2. Tinggal di Perumahan Taman Wanasari Indah Blok B 03 No 03 Rt 09 Rw 08 Kel. Wanasari Kec. Cibitung Bekasi Jawa Barat Kode Pos 17520

Tarni Kasanpawiro


Berebut Piring,

Jari saling tuding
Gigi menjelma taring
Semua terlihat miring
Saling berebut paling

Kaki dihentak-hentak
Injak-menginjak diinjak
Kecebong bukan lagi bayi katak
Terlahir dari kumpulan dahak

Bumi tak lagi bulat
Langit kehilangan atap
Tuhankulah yang paling kuat
Bukan, tuhankulah yang terkuat

Kamu salah, tidak
Kamu yang salah
Lihat tuhanku berwarna merah
Lihat tuhanku berwarna hijau
Lihat tuhanku berwarna kuning
Lihat tuhanku berwarna biru
Apakah tuhan kita beda
Entahlah

Lidah telah kehilangan rasa
Tuli telinga buta sebelah mata
Tapi tak satupun ada yang merasa
Seakan semuanya sempurna

Inilah dunia kita
Tempat yang terlihat indah
Namun penuh dengan sampah
Berebut gelas dan piring pecah
Dari sebab lapar dahaga
Yang tak pernah ada habisnya

Bekasi 14 September 2017
Tkp.


Tarni Kasanpawiro
DARI SUDUT BERANDA

Aku takut bicara walau tanpa suara
Karena dinding tak hanya bermata tapi juga bertelinga
Kini kata bisa menjelma apa saja
Bunga yang indah, pisau yang tajam bahkan binatang pemangsa
Aku terkurung di dapur dengan pisau di tangan
Apa yang bisa aku lakukan

Sementara di luar sana
Lembaga swadaya masyarakat tak lagi ramah
Para preman berlomba menjadi penguasa
Menang kalah adalah pesta, berebut jatah
Hukum telah berubah menjadi rimba
Jarah menjarah adalah biasa
Tangisku kering sudah air mata
Memikirkan nasib generasi selanjutnya
Jika kita saja tak mampu menghalau gelombang kata
Bagaimana nanti dengan anak cucu kita
Oh cinta tetaplah bersemayam dalam dada
Aku ingin sejenak mendinginkan rasa

Bekasi, 19 Januari 2017

Siti Faridah dalam Indonesia Lucu

Siti Faridah, saya di lahirkan di kota kecil yaitu Tasikmalaya pada tanggal 08 Februari 1999 dikamar paling depan sebuah rumah sakit tua. Saya tinggal di Ciamis dan sekarang menetap di Semarang untuk melanjutkan studi S1-ku di Universitas Negeri Semarang jurusan Ilmu Hukum. Motto hidup saya adalah “merendahlah sebelum meroket” kata ini memiliki makna yang sangat luas dimata saya, berikut puisi di Indonesia Lucu :
Lucu, Tapi Bukan Untuk Jadi Bahan Tertawaan

Lucunya negeri ini
Hukum hidup seperti alang-alang liar
Bebas tak beraturan
Seakan akan berada ditangan penguasa
Para kuasa lah yang menciptakan hukum dan keadilan
Sungguh tidak adil bukan ?
Kaum lemah hanya bisa diam
Diam dalam seribu bungkam
Seakan jadi permainan para penguasa
Kenyataan ini berkembang dengan adagium
“hukum tumpul ke atas, runcing ke bawah”
Sadis terdengarnya
Namun itu faktanya
Kita tak bisa buat apa apa
Semua mengalir layaknya air yang ada disungai
Tak bisa dihentikan apalagi disendat
Karena itu akan membuatnya rusak
Berantakan
Layaknya negeri ini
Yang lucu
Tapi bukan untuk jadi bahan tertawaan

Denis Hilmawati dalam Indonesia Lucu

Denis Hilmawati Denis Hilmawati ,lahir di Solo 02 Februari 1969.berdomisili di Perumahan Griya Asri Dua Blok H8/ Nomor 25. RT.05/ RW .24. Ds. Sumbejaya. Tambun Selatan . Bekasi 17150 Jawa Barat
Mempunya Hobby yang beraneka,diantaranya adalah, Menulis sastra , travelling dan bernyanyi.
Bisa dihubungi di fb. Denis Hilmawati.
Juga di WA. 085640433546
Atau di Instagram @hilmawatidenis
Juga di email. denisahilsolo@gmail.com
Buku Antologi Bersama yangpernah diikuti Denis Hilmawati diantaranya adalah
Haiku Indonesia
Sonian
Kitab Karmina Indonesia
Seribu Wajah Ambarawa
Menyemai Ingat Menuai Hormat
Puisi SakkarepmuBersama Penyair Mbeling Indonesia
Untuk Jantung Perempuan bersama Ewith Bahar
Cemara Cinta
Memo Anti Teroris
Memo Anti Kekerasan Terhadap Anak

Berikut puisinya yg bagus di Indonesia Lucu

MARI BEKERJA DI LUAR NEGERI
Pesona bekerja di Manca Negara
Membuat mata lebar terbuka
Membayangkan tebalnya fulus semata
Untuk mewujudkan mimpi membangun Istana di Desa

Bagaimanapu caranya harus terlaksana
Tanpa bekal ilmu dan ketrampilan yang memadai
Menjadi Tenaga Kerja Gelap pun tiada peduli lagi
Yang penting bisa bekerja di Luar Negeri

Menumpang Perahu tanpa dilengkapi Dokumentasi
Para calon Tenaga Kerja mudah dikelabui
Bukan pekerjaan yang didapatkan
Perdagangan manusia illegal yang di transaksikan

Wahasil Kerja setengah mati bahkan sampai mati
Tidak menerima Upah seperti yang di harapkan
Bahkan siksaan dan hinaan menjadi sajian harian
Hilangnya organ tubuh vital dan pelecehan seksual pasti dilakukan

Mari Bekerja di Luar Negeri,Dipulangkan dengan paksa tanpa ada honornya
Jiwa raga pun telah sengsara, Apakah kamu akan menjadi korban berikutnya?
Bekasi , 01 Januari 2018. Denis Hilmawati

Sang Agni Bagaskoro dalam Indonesia Lucu

Sang Agni Bagaskoro ,Sang Agni Bagaskoro, Jenis Kelamin : Laki - Laki
Jl. C. Simanjuntak no. 193 GK/V,
Terban, Yogyakarta,Tempat Lahir : Medan,Tanggal Lahir : 10 Oktober 1995,
Berikut puisinya di Indonesia Lucu :

ORANG – ORANG YANG SEDANG KERACUNAN OMONG KOSONG
Memerintah tanpa akal,
diperintah paling pantang.
Menjadikan budi pekerti dalam bentuk fisik sebagai alat penghakiman,
Terhadap orang-orang tak berdosa.

Bakat berbohong sudah dilatih semenjak bibir pandai berbisik,
Bakat menghujat sudah diasah semenjak mulut pandai meludah.
Kami adalah orang-orang di luar lingkaran,
Menjadikan kemunafikkan sebagai santapan.

Tanpa ada maksud, merendahkan orang lain hanya atas dasar kebahagiaan.
Melacurkan fikiran sebagai cara hidup dalam kemewahan.
Lalu tanpa sadar... Hati-hati telah menjadi batu yang terbenam dalam lautan kepercayaan,
Sopan santun adalah cara satu satunya agar keberadaanmu dihargai.

Manusia telah hidup dalam lingkaran-lingkaran yang mereka buat sendiri.
Dan harus segera memutuskan apakah berada di dalam atau diluar lingkaran.
Membatasi diri yang seharusnya tidak perlu dibatasi.
Semua karena ketidakseimbangan antara akal dan hati.

F. Chaidir Qurrota A'yun dalam Indonesia Lucu

F. Chaidir Qurrota A'yun
Fajar Chaidir Qurrota A’yun, lahir di Jakarta tanggal 23 Agustus 1993, bertempat tinggal di Perumahan Graha Bakti Kodam Jaya, Cikarang Timur, Kabupaten Bekasi, memiliki background pendidikan, MI Bidayatussabiyl Cikarang Kota, MTS YAPINK Tambun Selatan, SMK Bina Karya 1 Karawang dan saat ini sedang melanjutkan studi di STAI Haji Agus Salim Cikarang jurusan Pendidikan Agama Islam. Penulis memiliki hobi: membuat Puisi (sejak masa SMK kelas dua), memainkan alat musik, dan membuat lagu. Alamat Facebook penulis bisa dicari dengan: Fajar Chaidir Qurrota A’yun,

Berikut puisinya di Indonesia Lucu

NEGERI CEKIKIKAN

Negeri kita tempat kuntilanak.
Tawanya bikin hati terbelalak.

Digelar pertunjukan tukang lawak.
Panggung megah para pelawak.
mereka aktor dan penonton,
Menertawai diri sendiri.

Sementara didekatku,
Orang lebih suka menangis daripada tertawa.
Lebih suka marah daripada bersantai-ria.

Aku mencium perbedaan:
Di depan istana pemerintahan.
Di dalam kota, sesak pembangunan.

Jika tuan dalam ruangan tertawa,
Mereka diluar berkeluh-kesah,
Jika tuan di dalam makan-makan,
Perut mereka keroncongan.
Bila tuan di dalam tertawa, hahaha,
Mereka keluar air mata.
Kalau tuan di dalam berdasi sutra,
Mereka pakai kaos yang tak pernah disetrika.
Bila tuan-tuan tidur nyenyak,
Mereka sesak di dalam kontrakan sepetak.
Dan apabila tuan kedinginam di AC
Mereka telanjang dada membuka jendela.
Jika tuan-tuan gajinya lancar, besar,
Mereka masih menggamit ijazah di kepal tangannya.
Jika tuan-tuan di dalam sehat,
Anak mereka tumornya kumat.
Jika tuan-tuan korupsi tak diadili,
Mereka hanya menonton di televisi sambil hati jadi sensi.
karena baru saja terdengar kabar,
Maling Ampli yang dibakar.

Tuan, terus tertawa.
Aku dan mereka takut kemiskinan juga.
Tuan ini Orang pintar,
Tapi sayang tidak benar.
Tuan ini orang terdidik,
Tapi tak suka hal yang bajik.

Bekasi, 21 Oktober 2017

Fian N dalam Indonesia Lucu

Fian N adalah nama lain dari Fian Nggoa. Lahir antara kabut dan tanah basah awal bulan terakhir 03 Desember 1995 pada sebuah desa yang bernama Olakile

Berikut puisinya di Indonesia Lucu

Ketika Ibu Tidak Pulang Semalam

di rumah sendiri merasa seperti tamu saat ibu belum pulang
adik menangis mencari air susu yang dibawa ibu
kakak gantikan saja dengan susu dancow
ternyata adik terus saja menangis sebab rasa tak sama
ibu belum juga pulang
adik masih saja menangis
beras belum jadi bubur
kakak gantikan saja dengan bubur sum
ternyata adik terus saja menangis sebab sudah ada bau mesin canggih
ibu belum juga pulang
adik masih saja menangis
kakak coba membuka hiburan di tivi
ternyata adik terus saja menangis sebab itu bukan suara ibu
ibu belum juga pulang
adik masih saja menangis

Flores, 2017

Gilang Teguh Pambudi dalam Indonesia Lucu

Gilang Teguh Pambudi lahir di Curug Sewu Kendal, Jawa Tengah. Tetapi menghabiskan masa remajanya di Sukabumi, Jawa Barat. Lalu setelah bekerja dan berkeluarga di Bandung sempat berdomisili di Bandung, Purwakarta, dan Jakarta. Terutama karena tugas sebagai penyiar dan manajer Radio. Menulis di koran sejak kelas 1 SMA. Puisinya terkumpul dalam beberapa buku antologi bersama, selain antologi sendiri.

Berikut puisinya di Indonesia Lucu

TERNYATA KITA BUTUH

ternyata kita butuh kecerdasan
dan kedewasaan sosial
kata tikus yang mencuri kelapa
dan ular yang meninggalkan bisa pada korbannya

ternyata kita butuh kecerdasan
dan kedewasaan ekonomi
kata beruang yang bertapa
depan perapian sampai mati kelaparan
kata harimau yang menghabiskan
sisa makan siangnya
di tengah kerabatnya
yang juga mati kelaparan
ternyata kita butuh kecerdasan
dan kedewasaan beragama
kata kadal gurun
yang memahami suhu panas
tetapi lupa pemangsa dan janji Tuhannya
kata srigala malam
yang melupakan kasih sayang bulan
ternyata kita butuh kecerdasan
dan kedewasaan berpendidikan
kata induk elang
yang menipu anak itik
sebelum memangsanya
ternyata kita butuh kecerdasan
dan kedewasaan bernegara dan berbangsa
kata sekelompok burung jalak
dalam suatu perjalanan cinta
yang melupakan nasib kelompok
dan nasib setiap perut anggotanya
sementara paruhnya bernyanyi-nyanyi saja
tentang keadilan hukum dalam berbangsa
ternyata kita butuh kecerdasan
dan kedewasaan hidup bersama alam
kata anjing lewat
yang mengencingi tembok-trmbok
menimbulkan bau tak sedap
kata seekor macan
yang merusak sarang pipit
dengan ujung cakarnya
kata sekawanan gajah
yang menginjak-injak kebun sayuran
kata gergaji besi
yang menumbangkan pohon-pohon
ternyata kita butuh kecerdasan dan kedewasan berbahasa
kata seekor kelinci yang sangat lucu
yang tidak mau mengerti
maksud setiap kalimat
dalam kitab suci
kata seekor ayam
yang bulunya dipakai
mencoret-coret sajak
kata kuntilanak
yang diatas pohon
entah menyanyi,
menangis atau menghina

Kemayoran, 07112017

Heru Muguarso dalam Indonesia Lucu

HERU MUGIARSO, lahir di Purwodadi Grobogan lima puluh enam tahun yang lalu. Berkiprah di dunia penulisan sastra sejak masih remaja sekitar tahun 1975. Tulisannya berupa puisi, esai, kritik dan cerita pendek pernah di muat di berbagai majalah dan surat kabar nasional dan daerah antara lain Horison, Republika, Media Indonesia, Jawa Pos , Suara Merdeka, Solo Pos, Littera, Hysteria, Radar Banjarmasin dan sebagainya . Prestasi yang pernah diraih adalah penghargaan Komunitas Sastra Indonesia Award 2003 dari yayasan Komunitas Sastra Indonesia sebagai penyair terbaik.Salah satu puisinya masuk dalam 100 Puisi Indonesia Terbaik dan masuk dalam nominasi penerima anugerah sastra Pena Kencana tahun 2008.Buku antologi puisi tunggalnya TILAS WAKTU (2011) yang diluncurkan pada temu sastra internasional NUMERA ( Padang, 2012) masuk dalam katalog perpustakaan YaleUniversity ,Cornell University serta University of Washington Amerika Serikat. Antologi bersama esai dan puisinya menjadi koleksi Universitas Hamburg Jerman. Namanya masuk dalam buku Apa dan Siapa Penyair Indonesia (Yayasan Hari Puisi , 2017). Antologi puisi tunggal keduanya telah terbit dengan judul LELAKI PEMANGGUL PUISI (2017). Di luar itu, ia adalah inisiator gerakan Puisi Menolak Korupsi yang didukung oleh ratusan penyair Indonesia. Sekarang aktif mengelola jurnal sastra dan budaya nasional KANAL yang diterbitkan oleh komunitas sastra Simpang 5 Semarang. Sehari hari bekerja sebagai pengajar pada Universitas Negeri Semarang.

Berikut puisinya di Indonesia Lucu

SURAT TERBUKA UNTUK PENGUASA
NEGARA SARAT LELUCON

Aku tulis surat terbuka
Agar tidak ada rahasia di antara kita
Bahwa tanpa kalian sembunyikan
Semua orang tahu bahwa birokrasi negeri ini
Sarat dengan kekuasaan maling

Jika kalian takut mengembat uang rakyat
Maka strateginya yang diubah agar kelihatan lebih sopan
Terapkan perdagangan jabatan
Jika kalian takut dikatakan korupsi
Maka gencarkanlah persembahan upeti

Mencuri kebenaran lewat berbagai kebohongan
Mencuri keadilan lewat berbagai akal-akalan
Menjadi modus yang beruratakar dan membudaya
Dalam sistem negara yang konon lebih dari tujuh puluh tahun merdeka.

Lalu apa arti kemerdekaan
Jika hingga kini kita tak mampu merawat kejujuran
Apalagi mengasuh keadilan?

Di negara lelucon di mana para maling berkuasa
Duit telah jadi dewa dan tuhannya
Kebohongan satu dibungkus dengan kebohongan lain
Dengan rapinya.

Di negara lelucon di mana para maling berjaya
Suap dan upeti adalah jalan menuju kekuasaan
Dan membeli suara rakyat
Lalu setelah berkuasa
Mereka bernafsu untuk mencari gantinya
Karena tidak ada makan siang yang gratis
Semua telah terkalkulasi dengan rapi
Untung rugi dan balik modal

Omong kosong idealisme jika para penguasa adalah pedagang
Yang bernafaspun sudah bermuatan ekonomis
Maka jabatan dalam penguasaanyapun juga barang dagangan
Yang siap diperjualbelikan dan dilelang

Aku tulis surat terbuka
Agar semua membuka mata
Ada yang ganjil di sekitar kita
Namun kita semua memilih diam tak berkata-kata
Atau jangan-jangan, jika kita bukan penguasa
Kita juga adalah pelaku yang melancarkan
Tipu muslihat mereka
Dengan alasan terpepet keadaan
Untuk sebuah kepentingan

dan akankah kau tambah lagi
daftar kelucuan
di sebuah negeri sarat lelucon ini?

Khoerun Nisa dalam Indonesia Lucu

Khoerun Nisa
Nama : Khoerun Nisa
Tempat, Tanggal lahir : Tegal, 30 Juli 1999
Alamat : Jl.melati 01, No.15, Dukuh jati kidul, Pangkah, Tegal,

Berikut Puisinya di Indonesia Lucu :


Cinta zaman New
Perjalanan masa
Mengikuti perubahan
Berkembangnya cinta
Cinta dalam pegangan layar
Jadikan pendamping hati
Dalam sisi keadaan
Layar yang terfokuskan
Tersenyum geli
Rasa salahmengartikan
Cinta bertemu dalam layar
Pertemuan sebelah bagian
Hanya luar yang terpandang
Dengan rayuan gombal
Dijadikan sebuah percintaan
Cinta dimana-mana
Tinggal sentuh dan kata rayuan
Teknologi jadi perjodohan
Dalam dunia cinta

Panggilan bukan saatnya
Aku mencintaimu
Rayuan menggodaku
Panggilanmu merasuk tubuhku
Ayah bunda itulah yang kau inginkan
Kuberfikir sejenak ....
Kau sangat sayang padaku
Emang siapa dirimu
Kita belum menikah
Udah ayah bunda!

Tajuddin Noor Ganie dalam Indonesia Lucu

Tajuddin Noor Ganie
Tajuddin Noor Ganie (TNG), lahir di Banjarmasin, 1 Juli 1958. Sarjana S.1 PBSID STKIP PGRI Banjarmasin (2002) dan Sarjana S.2 FKIP Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin (2005). Pensiunan ASN Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Selatan (2016). Dosen PBSID STKIP PGRI Banjarmasin dengan banyak mata kuliah, antara lain Penulisan Kreatif Sastra, dan Penelitian Sastra dan Pengajarannya.
Mulai menulis puisi, cerpen, dan esei sastra sejak tahun 1980. Antologi puisi yang sudah terbit adalah Bulu Tangan (Tuas Media Publisher, Kertak Hanyar, Kabupaten Banjar, Kalsel, 2012), dan Perahu Ilalang (FAM Publisihing, Pare, Kediri, 2016). Sering diundang baca puisi dan sebagai pembicara untuk topik-topik menulis karya sastra, kajian sastra, sejarah sastra, sastra Banjar, budaya Banjar, dan folklor Banjar dalam pertemuan ilmiah di kampus-kampus dan di luar kampus di kota Banjarmasin, Surabaya, Solo, dan kota-kota besar lainnya di tanah air.
Penerima Anugerah Pemuda Pelopor Bidang Sastra dari Menteri Negera Pemuda dan Olahraga (Ir. H. Akbar Tanjung, 1991), Hadiah Seni Bidang Sastra dari Gubernur Kalsel (Ir. H. Gusti Hassan Aman, 1998), Anugerah Astraprana sebagai Sastrawan Banjar dari Kesultanan Banjar (Sultan Haji Khairul Salleh Al Mu’tashim Billah, 2014), Anugerah Budaya dari Gubernur Kalsel (Drs. H. Rudy Ariffin, MM, 2014), Sastrawan Kalsel Berprestasi dari Walikota Banjarbaru (Drs. H. Ruzaidin Noor, 2014), dan Penghargaan Seni Kota Banjarmasin untuk bidang Seni Sastra (H. Muhidin, 2015) .

Berikut puisinya di
INDONESIA LUCU:

KASUS KEBUN SAWIT

Di sebuah kabupaten di Indonesia
(Namanya sengaja disamarkan)
Kebun sawit terbentang
beratus ribu hektar luasnya
Atas nama sawit hutan rawa
dibabat dengan semena,
Pak Bupati pasti mengetahuinya

Tanahnya diolah pengusaha
dengan cara dibakar sesukanya
asap bakaran hutan rawa
membubung naik ke angkasa raya
bergumpal-gumpal jadi satu
membentuk kabut asap yang pekat
dan sangat sengak baunya
berhari-hari, berminggu-minggu
bahkan berbulan-bulan
kampung-kampung tertutup kabut pekat
kota-kota tertutup kabut pekat
jalan-jalan tertutup kabut pekat
bandara tertutup kabut pekat
pelabuhan tertutup kabut pekat
Tiap hari bernafas terasa berat.
Maklumlah yang dihirup adalah
udara bercampur asap pekat

Pak Bupati pasti tahu karena beliau juga
menghirup udara yang sama, udara yang
dihirup oleh segenap rakyatnya, tanpa kecuali
yang bermukim di wilayah pemerintahannya
dari hulu ke hilir


Pak Bupati pasti tahu
karena rumah dinasnya
juga dikurung kabut pekat
Selama berhari-hari,
berminggu-minggu,
bahkan berbulan-bulan

Tiap hari panen sawit
Tiap hari sawit diolah jadi minyak di pabrik
Tapi lucunya tak bermakna apa-apa
Tak membuat rakyat jadi makmur rupanya

Lihatlah, publikasi data Biro Pusat Statistik
yang dibacakan Bapak Presiden tadi pagi
Kabupaten dimaksud termasuk
dalam daftar daerah miskin di Indonesia

Namun, sangatlah mengherankan
(baca sangat lucunya)
Pak Bupati masih tetap “dicintai” rakyatnya
Terbukti beliau terpilih lagi untuk masa jabatan lima tahun kedua

Banjarmasin, 29 Oktober 2017

Minggu, 31 Desember 2017

Bibir Pantai Mulut Sungai, Rg Bagus Warsono

Bibir pantai mulut sungai

Bibir pantai mulut sungai
indah dalam lamunan
menerawang nun jauh lautmu
Luas seluas harapan
cita dan masa depan
hanya untuk pemilik citarasa
yang menyukai alam dan kenangan
peristiwa dan pengalaman
bersama kawanmu ini
yang berada di bibir pantai mulut sungai
yang menelan lautmu
garammu
dan ikanmu
bibir pantai mulut sungai disana aku bertemu

Kamis, 28 Desember 2017

Si Bung Menangis. Indramayu, 21 Maret 2001, Rg. Bagus Warsono - PDF

Si Bung Menangis. Indramayu, 21 Maret 2001, Rg. Bagus Warsono - PDF: Si Bung Menangis Mari buka buku sejarahmu dengan penggaris dan pena menekan kata Duhai kesuma haruskah belajar mengeja sedang umurmu tlah dewasa Tersenyum Si Bung memandang anak-anak bangsa Betanyalah!

Selasa, 26 Desember 2017

Ambil Satu Untukmu, Rg Bagus Warsono

Ambil Satu Untukmu

Kuberi besar
karena kau yang pertama
mengapresiasi perahuku
ambil satu untukmu
untuk makan dirumah



Buang Saja Jasadku ke Laut, Rg Bagus Warsono

Buang Saja Jasadku ke Laut

untuk makanan ikan-ikan teri
agar dimakan sejuta teri
sampai bersisa tulang, tenggelam

Percuma dikubur di darat
Kuburan makin sempit
prosesi kematian mahal

Buang saja jasadku kelaut
tanpa patok nisan, prasasti marmer
agak ketengah biru

Buang saja jasadku kelaut

Rumah di Tepi Sungai, Rg Bagus Warsono

Rumah di Tepi Sungai

Seperti di Nederland
atau seperti di Venice Italy
Rumah di tepi sangai Cimanuk
menghadap Timur dan Barat
dari lalu lalang perahu
yang hilir-mudik desa dan laut
Kita telusuri sungai
dimana rumahmu
tak bersertivikat
seperti si kaya yang tamak

Jalan Kampung Nelayan, Rg Bagus Warsono

Jalan Kampung Nelayan

Diantara tambatan perahu tepi Cimanuk
Sampai kemuara hilir
seperti parkiran
dengan tambatan tali dan galangan bambu
semau dimana suka
karna sungai milik bersama
sebagai jalan kampung nelayan
ramai
dimusim ikan

Hari-harimu , Rg Bagus Warsono dipersembahkan untuk Mentri Susi Pudjiastuti

Hari-harimu

Ikan banyak
Hari-harimu
Hari-hari seperti biasa
dan hari-hari luar biasa
Sehingga perahu karap oleh sarat tuna
tak usah berebut hanya karena ikan
sebab ikan adalah hari-harimu
dan hari-hari kita
makan ikan

Dipersembahkan untuk Susi Pudjiastuti , 25 Desember 2017

Jumat, 22 Desember 2017

Tambatkan Semaumu, Rg Bagus Warsono

Tambatkan Semaumu

Tambatkan semaumu dengan tambang penuh sambungan
Biarkan alam mengadili perahumu
dengan mesin mati penuh jelaga
kayu yang penuh karat paku papan
bendera robek robek
untuk bermain anak-anak pantai
untuk menyambut musim hujan


                                           Rg Bagus Warsono

Ikan Ada Sepanjang Tahun, Rg Bagus Warsono

Ikan Ada Sepanjang Tahun

Kau saja yang bodoh
Lautmu menyediakan
Ikan sepanjang tahun
tak pedulikan musim
dan hari pantangan
ikan diambil kapan saja
Tetapi nelayan itu laut kita
bebas mengamil ikan kapan saja
tak melaut pun ikan ada di sana


Dan Awak-awak Kapal, Rg Bagus Warsono

Dan Awak-awak Kapal.

Dan awak-awak kapal yang gagah
Darwani, Tarmudi, Sukani, Narsiwan, Martaka
dengan otot kekar dan kulit legam
yang kebal
Panas, angin dan hujan
cerdas dan piawai
Selamat dan ikan penuh dilambungmu

                                    Rg Bagus Warsono

Tak Bercerita Pengalaman, Rg Bagus Warsono

Tak Bercerita Pengalaman

Sombong benar engkau didarat
Aku yang mengelilingi nusantara
menyusuri pulau tak berpenghuni
dan pulaumu yang kau injak
aku tak bercerita pengalaman
tentang sengsara dan bahagia
karna laut dan darat sama saja
Bedanya keringatku cercapur air saja


Dua Kapal Satu Nahkoda, Rg Bagus Warsono

Dua Kapal Satu Nahkoda

Tak Ada Berhenti Makan Ikan
Rusak perahu ditambat pinggir sungai
Dua kapal berangkat pagi ini
Dengan montir handal
juru radio, juru AC dan juru masak
Dinahkodai Mang Sukara
Dua kapal satu nahkoda


Kata Nelayan Juragan itu Bodoh, Rg Bagus Warsono

Kata Nelayan Juragan itu Bodoh

Silahkan kau kaya dengan sepuluh kapal
Rumah dan mobil kemewahan
Sementara aku hanya bergumul sarung
Rokok dan kopi hangat
Kau tidak tau ikan mendekat aku usir
Ikan ditangkap aku buang
Ikan datang menyerbu kapal aku biarkan
Ikan mahal aku bagi-bagikan
Ketika kau menanti ikan di dermaga
pelelangan yang kau harapkan
aku tertawa untukmu juragan
kau memuji itu biasa
kau marah aku pindah kapal !


Biarkan Perahu Kecil Lewat, Rg Bagus Warsono

Biarkan Perahu Kecil Lewat

Biarkan perahu Kecil Lewat
Memberi Kesempatan Ikan
Laut luas, sempit itu sungaimu
Biarkan perahu kecil menghitung ikan
Tak sebanyak lambung kapal
Laut itu kaya, miskin itu jiwamu
Biarkan perahu kecil lewat
atau mendahului laju kapalmu

Rg Bagus Warsono

Banyak Ruas Jalan di Laut, Rg Bagus Warsono

Banyak Ruas Jalan di Laut,

Badanmu besar tak membuat sempit lautmu
Tak ada monopoli area
karena ikan di pinggir pantau atau di laut lepas
menyusup di terumbu atau berkeliaran di samudra
Buat kapalmu yang maha besar
agar kau perkasa di nusantara
Tak perlu trayek
Tak perlu toll
dan tak perlu parkir
Ruas jalanmu banyak
Lautmu jalanmu yang bebas.

Jumat, 15 Desember 2017

Puisi Rg Bagus warsono: Sebait Puisi Hilang

Sebait Puisi Hilang

atas seleksi berlapis
memotong kata lalu kalimat
membuat puisi dari tegas menjadi pudar
dari berani menjadi sembunyi
dari lantang menjadi diam
dari menusuk menjadi tunduk
dari keras menjadi lemas
dan kini sebait hilang tanpa krana
induk mencari bait
yang tinggal sepotong
sepotong hati
sepotong kejujuran
sepotong niat baik
Sebait puisi yang hilang
terbang ataukah hinggap
atau dalam brankas terkunci
temukan bait itu
dimana disimpan

(indramayu, 14 Desember 2017)

Sabtu, 02 Desember 2017

Buku Tadarus Puisi Dibaca Masyarakat


Kilas Balik Sastra 2017 Masih Ada Pembodohan dari Pelaku.

Bagian A.
Tahun 2017 yang merupakan tahun pencarian bagi sastra Indonesia yang ditandai sebagai tahun Ayam Api oleh penanggalan Cina atau penulis sengaja menyebut tahun "tembelek" mencatat berbagai peristiwa penting sekaligus lucu dalam perjalanan sastra Indonesia.
Tetapi tidaklah separah tahun 2014 yang mencatat "peristiwa sastrawan berpengaruh" yang mencederai generasi sastra negeri ini. Di tahun 2017 peristiwa sastra kita diwarnai gejolak hasrat pelaku sastra dalam menyikapi dinamika kehidupan di Indonesia ini.
Tetapi tidaklah menjadi dikatakan pesimistis dikarenakan masih banyak pelaku-pelaku sastra kita yang tetap komitment terhadap dunianya. Sebagai sastrawan yang memiliki niat baik berkarya dan berkesenian.
Sastra 2017 tetap diwarnai oleh aktifitas-aktifitas komunitas sastra di berbagai daerah.yang tekun dan berkembang. Mereka masih tetap setia dengan 'sastra jujur , yaitu berkarya dan beraktifitas sebagaimana wajarnya berkreativitas sastra.
Di sisi lain aktifitas lembaga sastra pun turut bergairah dengan kegiatan-kegiatan yang mampu diterima khalayak sastra Indonesia di setiap propinsi oleh Badan Bahasa. Kemudian Perpustakaan Nasional turut memberi gairah baru dalam kegiatannya terutama dalam mendukung program literasi yang digalakan Kemendikbud dalam kabinet kerja Djoko Widodo. Tak kalah pentingnya juga Badan Bahasa setingkat diatas Balai Bahasa yang berkedudukan di Jakarta pun tak henti memberikan suport kegiatan sastra dan kepenulisan bagi masyarakat. Kegiatan lembaga lembaga tersebut tentu dikarenakan adanya anggaran pemerintah yang sengaja diporsikan untuk kegiatan bahasa.
Lembaga lain yang turut memberikan aktivitas sastra Indonesia di tahun 2017 adalah peran-peran lembaga sastra populair seperti Pusat Dokumentasi HB Jassin, Taman Mini Indonesia Indah serta Ubud Writer di Bali yang didukung kantor Dokumentasi budaya Bali.
Dinamika sastra dan pelaku sastra pada tahun ini padat dipengaruhi oleh aktivitas daerah dengan komunitas-komunitas sastra/pelaku sastra /penyair yang atif berpacu. Kehadiran mereka tidak dipandang enteng malah justru menentukan perjalanan sastra Indonesia.
Masih dalam wacana Puisi Menolak Korupsi (PMK) dengan motor-motor penggeraknya Sosiawan Leak dan mampu memunculkan tokoh penggerak lain di setiap daerah penyelenggara Roadshow PMK, gerakan ini telah hampir menginjak berbagai kota dan pelosok negeri ini membawa pengaruh yang kuat dalam gerakan sastra Indonesia khusus puisi. oleh karena itu layak apabila Sosiawan Leak disebut 'Duta Puisi Indonesia 2017' . PMK semakin menembus daerah-daerah terpencil dan otomatis melalui roadshownya membawa gairah baru sastra Indonesia yang berkembang dan menumbuhkan generasi muda sastra kita.
Kehadiran PMK sayang sekali tidak dibarengi dengan kehadiran karya terpopular yang ditulis laskar PMK, dikarenakan banyaknya karya bermutu dan kehadiran penyair-penyair populair sehingga terdapat kesan lebih mempopulairkan pelakunya ketimbang puisinya yang seperti sengaja 'dibenamkan.
Peta dan pemetaan sastra Indonesia 2017 Masih didominasi oleh kota-kota yang biasa aktif mengadakan kediatan sastra. Peta dan pemetaan baru kini mulai bermunculan di berbagai naerah nusantara. Tentu saja ini dikarenakan jasa-jasa oleh penggerak sastra yang ada di daerah tersebut sehingga tampaklah peta dan pemetaannya.
Peta kegiatan dan pemetaan pun tidak saja pada kota-kota kabupaten tetapi juga kini telah dilakukan di daerah terpencil kecamatan maupun desa yang mampu menyelenggarakan event sastra bertaraf nasional.
Di bagian lain penulis akan menyebut siapa-siapa mereka yang patus mendapat apresiasi dan bila perlu diperhitungkan karyanya untuk dapat diapresiasi oleh pencinta sastra secara nasional. Kehadirannya patut mendapat penghargaan dikarenakan sangat penting atinya bagi kelangsungan sastra Indonesia yang semakin berkembang. (Bersambung , Rg Bagus Warsono, 3-12-17)

Kamis, 16 November 2017

Penulis Puisi di Antologi Nasional di Penghujung tahun 2017 dalam The First Drop of Rain

 Antologi puisi The First Drop of Rain.

1 A’YAT KHALILI
2 AAN SETIAWAN
3 ABDUL WACHID B.S
4 ABU MAMUR MF
5 ACEP ZAMZAM NOOR
6 ADE NOVI
7 ADHIMAS PRASETYO
8 ADRI DARMADJI WOKO
9 AGI SUPRAYOGI
10 AGUNG WICAKSANA
11 AGUS PRASETIYA
12 AGUSTINA THAMRIN
13 ALDY ISTANZIA WIGUNA
14 ALEXANDER AUR APELABY
15 ALI SATRI EFENDI
16 ALI SYAMSUDIN ARSI
17 ALOETH PATHI
18 AMANG UNTUNG
19 AMIEN WANGSITALAJA
20 AMRIN TAMBUSE
21 ANDI JAMALUDDIN, AR. AK
22 ANDI JUSIMAN
23 ANISA ISTI
24 ANNA DESLIANI
25 ARDI SUSANTI
26 ARDY SURYANTOKO
27 ARIADI RASIDI
28 ARIEF JOKO WICAKSONO TR
29 ARIEYOKO
30 ARIF HUKMI
31 ARIFFIN NOOR HASBY
32 ASRUL SANIE
33 ATASI AMIN
34 BABAN BANITA
35 BAMBANG EKA PRASETYA
36 BAMBANG WIDIATMOKO
37 BENI SATRI
38 BODE RISWANDI
39 BONTOT SUKANDAR
40 BUDHI SETYAWAN
41 BUDI AGUNG SUDARMANTO
42 CAHAYA BUAH HATI
43 CINTA DAMAYANTI
44 DALASARI PERA
45 DARU MAHELDASWARA
46 DARU SIMA S
47 DEDEH SUPANTINI
48 DEDET SETIADI
49 DEWANDARU IBRAHIM SENJAHAJI
50 DHENOK KRISTIANTI
51 DIAN HARTATI
52 DIDEK SOEPARDI MS
53 DINO UMAHUK
54 EDDIE MNS SOEMANTO
55 EDDY PRANATA PNP
56 EDI SANTOSA
57 EKO RAGIL AR-RAHMAN,
58 EKO SAPUTRA POCERATU
59 ELY WIDAYATI
60 EMI SUY
61 EMMELIA M. HARTAWAN
62 ENDANG SUPRIADI
63 ERNA WINARSIH W
64 ERSA SASMITA
65 EVAN YS
66 FAHMI WAHID
67 FAIZ ADITTIAN AHYAR
68 FANNY JONATHANS POYK
69 GHE DESAFTI
70 GILANG PERDANA
71 GIYANTO SUBAGIO
72 HADI WINATA
73 HAJRIANSYAH
74 HANDRY TM
75 HARDHO SAYOKO SPB
76 HASAN BISRI BFC
77 HENDRY KRISDIYANTO
78 HERI MAJA KELANA
79 HERMAN SAHARA
80 HUDAN NUR
81 IDHEY DETTY
82 IKA Y. SURYADI
83 IMAM BUDIMAN
84 IMAN SEMBADA
85 IRNA NOVIA DAMAYANTI
86 IRVAN MULYADIE
87 ISBEDY STIAWAN ZS
88 ITOV SAKHA
89 JAFAR FAKHRUROZI
90 JAMAL T. SURYANATA
91 JASMAN BANDUL
92 JAUZA,
93 JIMMY MEKO HAYONG
94 JO PRASETYO
95 JOSHUA IGHO
96 JULAIHA S
97 KHALISH ABNISWARIN
98 KIDUNG PURNAMA
99 KURNIA EFFENDI
100 KURNIAWAN JUNAEDHIE
101 LA ODE GUSMAN NASIRU
102 LARASATI SAHARA
103 LUCKY PURWANTINI
104 M. AMIN MUSTIKA MUDA
105 M. JOHANSYAH
106 MAMAT JALIL
107 MARTIN DA SILVA
108 MATDON
109 MICKY HIDAYAT
110 MOH MAHFUD
111 MUHAMMAD ASQALANI ENESTE
112 MUHAMMAD DAFFA
113 MUHAMMAD DE PUTRA
114 MUHAMMAD HUSEIN HEIKAL
115 MUHAMMAD IBRAHIM ILYAS
116 MUHAMMAD IQBAL
117 MULYADI RAZAK
118 MUNIR SHADIKIN
119 NA DHIEN
120 NANANG SURYADI
121 NATASYA ATMIM MAULIDA
122 NAWALRE NURSHAFA IFTIKHAR BUJANADI
123 NORHAM ABDUL WAHAB
124 NOVIA RIKA PERWITASARI
125 NOVIAN FITRI NURANI
126 NOVY NOORHAYATI SYAHFIDA
127 NUNUNG NOOR EL NIEL
128 NURHOLIS
129 NURMASYITHAH
130 P. CEISSAR S.
131 PANJI ASWAN
132 PIMEN D ARYJONA
133 PUDWIANTO ARISANTO
134 PUTRI AL FATIH
135 PUTU GEDE PRADIPTA
136 RAHMAT ALI
137 RD KEDUM.
138 REY
139 REZQIE ALFAJAR ATMANEGARA
140 RG. BAGUS WARSONO
141 RIDUAN HAMSYAH
142 RIDWAN ANDHIKA MARTIANTO
143 RIDWAN CH. MADRIS
144 RIFKY RAYA
145 RINI INTAMA
146 RIRI SATRIA
147 RIZA NUR AZI
148 RIZKI ANDIKA
149 ROYMON LEMOSOL
150 SADRUDIN
151 SAEFULLOH EL MASLUUL
152 SALIM MA’RUF
153 SALIMI AHMAD
154 SANTA MANTARI
155 SARAH MONICA
156 SARTIKA SARI
157 SAUT POLTAK TAMBUNAN
158 SAUT SITUMORANG
159 SELFINA MAULANY
160 SERUNI UNIE
161 SHAH KALANA AL-HAJI
162 SIAMIR MARULAFAU
163 SIGIT APRIYANTO
164 SONI FARID MAULANA
165 SRI ASTUTI
166 SRI REZEKI MARISWATY
167 SUHENDI
168 SULIS BAMBANG
169 SULTAN MUSA
170 SUNU WASONO
171 SUS S. HARDJONO
172 SYAHRIR BASO PAJALESANG
173 SYARKIAN NOOR HADIE
174 T.M. SUM
175 TAJUDDIN NOOR GANIE
176 TJAHJONO WIDARMANTO
177 TRI ASTOTO KODARIE
178 TRISA
179 TRISIA CHANDRA
180 UTHERA KALIMAYA
181 WAGE TEGOEH WIJONO
182 WAHYU BUDIANTORO
183 WAYAN JENGKI SUNARTA
184 WENI SURYANDARI
185 WIDODO ABIDARDA
186 WIEKERNA MALIBRA
187 WILLY ANA
188 WINDU MANDELA
189 WINDU SETYANINGSIH
190 WIRJA TAUFAN
191 WYAZ
192 YAHYA ANDI SAPUTRA
193 YANA RISDIANA
194 YANTI S SASTROPRAYITNO
195 YOGIRA YOGASWARA
196 ZAKI EF
197 ZHAM SASTERA
Sumber : Agustina Tamrin

Monyet Bertelor Pisang , dongeng Rg Bagus Warsono

Ternyata Monyet Banyak Akal

Monyet Bertelor Pisang.
Dongeng : Oleh Rg Bagus Warsono.


Suatu hari Monyet memasuki kebun pisang Pak Tani. Sudah sekian lama Monyet menanti pisang di kebun Pak tani ini masak-masak. Dilihatnya banyak pisang masak betapa gembiranya si Monyet melihat banyak pisang sudah masak dipohon, karena itu ia langsung memanjat pohon dan makan sekenyangnya.
Pak Tani yang tengah mempersiapkan untuk panen akan menebang beberapa pohon pisang yang sudah siap panen.
Betapa kagetnya ternyata banyak pisang yang rusak tandanannya. Pak Tani pun meneliti apakah pisang itu dimakan codot atau hewan lain. Kalau yang makan codot biasanya hanya beberapa buah saja tidak merusak tandanan dan banyak kulit pisang berserakan. Dilihatnya beberapa pohon mengalami serupa. Pak tani pun akhirnya sudah tahu tahu siapa biangkeroknya.
Karena sudah berkali-kali mengalami kejadian serupa, dan malingnya jelas Si Monyet, maka Pak tani memasang jebakan yang jitu. Dibuatnya perangkap kurungan di pagar-pagar yang bisa dimasuki Si Monyet.
Hari berikutnya seperti biasa Si onyet memasuki kebun Pak Tani. Tampak beberapa pohon pisang ada buah yang sudah matang. Si Monyet pun langsung naik pohon dan asyik makan.
Belum kenyang gemuruh air sungai, Monyet pun tahu untuk segera kembali ke hutan. Tetapi Jika sungai banjir ia tidak bisa ke kebun Pak tani. Terpikir olehnya untuk membawa satu sisir pisang yang matang. Dipetiknya satu sisir piosang matang dan kemudian lari keluar kebun sebelum sungai banjir.
Karena membawa pisang Si Monyet mencari pagar yang terbuka untuk menerobos keluar. Ternyata pagar yang terbuka itu telah dipasangi perangkap oleh Pak Tani. Ketika Si monyet menerobos pagar ternyata itu adalah pagar masuk perangkap. Jadilah Si Monyet terperangkap dalam kandang yang otomatis menutup pintunya sendiri apabila ada hewan masuk kandang.
Pak tani yang baru masuk Kebun terdengar suara Monyet memukul-mukul kandang perangkap. Pak tani tersenyum dan segera menuju kandang perangkap di pagar pinggir kebun.
Si monyet yang tahu kedatangan Pak tani bingung dan semakin takut. Tangannya masih memegang pisang masak satu sisir. Ini barang bukti , kata Si Monyet dalam hati. Dasar Si Monyet biasa mungkir, sisiran pisang masak itu didudukinya agar tak terlihat Pak tani. Ha
"Ha ha ha . Kamu ya yang mencuri dan bikin onar kebun petani?"Kata Pak Tani sambil mengacungkan parang.
Si Monyet itu mungkir sambil menggeser pantatnya menutupi pisang yang didudukinya. "Saya gak mencuri pisang Pak, saya takut sungai banjir jadi mencari tempat pindah"
Pak tani tersenyum kembali, "Itu yang kuning-kuning dipantatmu apa?"
"√Źni tahi kotoranku Pak, "berkata monyet sambil menutupi kotorannya.
Pak tani tertawa terbahak-bahak, karena tahi Si Monyet itu tidak bau , itu adalah pisang yang kepencet pantat si Monyet yang botak. Dengan tertawa Pak tani mengangkat kandang perangkap yang berisi maling pisang, untuk dibawa ke kampung. Ha ha ha ha tertawa pak Tani yang kali ini tidak bisa dikibuli Si Monyet.
Rg Bagus Warsono, 16-11-2017