TEKS SULUH


Kamis, 14 Maret 2019

Di Balik bayang-bayang Kasih Sayang , Novel Indonesia Terkini Karya Wardjito Soeharso



Baiklah kubuka novelmu Mas Wardjito Soeharso 480 halaman "Dibalik Bayang-bayang Kasih Sayang". Sebetulnya aku tak mau memujimu percuma saja memuji orang yang berbeda haluan. Namun itu berarti aku sentimen dengan keadaan, padahal sastra harus tak memandang apa itu beda haluan apalagi sampai seperti perbedaan pandangan, paham, atau bahkan politik. Kewajibanku sebagai penyair sekaligus kurator buku yang bahkan aku geluti sejak muda maka bagaimana berbuat seyogyanya kurator yang harus diakui independennya . Karena itu 480 halaman bukan barang mudah untuk sempat dibaca, tetapi sebagai orang yang terbiasa membaca puluhan ribu halaman maka santai juga membaca bukumu Mas Wardjito Soeharso yang aku juluki Penyair Priyayi sebagai sosok sastrawan yang bertipe akademik yang slalu berada di jajaran atas Penyair indonesia. dan kali ini aku tak akan menyebutmu seorang novelis, tetapi masih Dibalik Bayang-bayang Kasih sayang sebagai seorang untuk diberi gelar tambahan novelis. Alasan itu karena ini novel pertama kali yang ditulisnya, namun demikian kepiawaian dan keterbiasaannya bersastra sejak muda membuatnya novel ini seperti novelis yang sudah menulis berpuluh-puluh novel. Dibalik-bayang-bayang karya Wardjito Soeharso ini menceritakan sebuah drama dengan dengan aneka tragedi dimasa zaman modern dan perubahannya yang semakin modern yang ditangkap penulisnya sehingga menjadi novel yang sangat berarti tidak saja untuk dibaca masyarakat tetapi juga cebagai novel yang patut mendapat apresiasi tinggi dan dicatat dalam sejarah novel indonesia. Karena itu menurutku sempurnalah seorang Wardjito Soeharso menjadi sastrawan Indonesia. !(Rg Bagus Warsono, 14-03-19 membuka bukumu)

Kamis, 07 Maret 2019

Penyair Jenaka, Rg Bagus Warsono

Penyair Jenaka,
Buat : Aloysius Slamet Widodo,

Slamet memang penyair langka
Widodo namanya,
panjang usia gembira
lucu dan jenaka
ditulis
amalmu memberi senyum tawa,
tatkala puisi orang mengkritik
mengadukan kepedihan sengsara duka
sehingga malas dibaca
Slamet menulis lucu,
lalu Indonesia tertawa
monas tertawa
laut tertawa
tiang beton jembatan tertawa
gunung tertawa
mahasiswa tertawa
dokter tertawa
dan keluarga tertawa...

rg bagus warsono, 4 Maret 2019

Celana Pendek Leak karya Rg Bagus Warsono,

Celana Pendek Leak

karya Rg Bagus Warsono,

Celana pendek leak
memasuki gedung terhormat
lirik satpam guman tak sopan
dan wajah cewe cekikik-an
bukan karena kucir rambut kuda
itu celana pendek
memamerkan dengkul
dan sepatu kiker
agar bisa melompat cepat
berlari bebas
dari kejaran puisi-puisi penghujat
dari panggung-panggung pejabat
Celana pendek leak
tak pernah duduk
hanya dikursi kereta
Celana pendek leak
lama dikereta
Celana pendek leak
melekat berpuisi.

04-03-2019

Di Gerbong KRL,Rg Bagus Warsono

Di Gerbong KRL

Pagi padat
bergelantung tangan berbeban badan
karena capai
keringat ditelapak membasahi gelang pegangan tangan
satu persatu kutatap wajah bergelantung tangan
dan dari kaca kulihat gedung berlari
di gerbong KRL
yang kini cukup bersih
sampah
pengamen dan pengemis
senyum simpul wajah
tanpa beban
seakan kapan saja sampai tak merasa kesiangan
namun aku gelisah
sampai dimana stasiun dan halte terlewat
dan pintu terbuka sendiri
penumpang berganti
berebut gelang pegangan tangan
senyum simpul wajah
melompat mengiringi penumpang turun
Astaga aku terlewat turun
di stasiun KRl-ku.

Jumat, 01 Februari 2019

Antologi Mlekethek Tampil Mengesankan di Awal Tahun 2019

Menggebrak tahun 2019 Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia mengeluarkan antologi puisi terkini dan terdasyat. Antologi yang oleh penulisnya mngaku diri sebagai antologi terjelek dalam sejarah sastra Indonesia , bahkan penyairnya  yang terdiri dari 41 penyair Indonesia juga mengaku penyair yang terjelek dari semua penyair Indonesia. Dan antologi ini dinamai Mblekethek yang artinya sangat menjijikan.

Namun Anda akan berdecak kagum manakala membaca buku ini, penulisnya ternyata adalah penyair-penyair hebat yang justru mengutamakan mutu karya. Bahkan diantaranya terdapat penyair-penyauir ternama di Tanah Air. (lumbung puisi)


Selasa, 08 Januari 2019

Selamat Jalan Arwinto Syamsunu Aji


Selamat Jalan Arwinto Syamsunu Aji , penyair asal Kebumen Jateng.
. Arwinto Syamsunu Aji menulis di beberapa antologi bersama Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia. Pada Lumbung puisi IV yang bertema Margasatwa ia menulis cantik sekali. Buku ini pun diseminarkan secara internasional di Universitas Gajah Mada oleh Eka RS, yang dihadiri Thomas Haryanto Soekiran, dan Wartawan Senior Kedaulatan Rakyat Wadie Maharief, yg sengaja diutus oleh Lumbung Puisi menghadiri acara tersebut, hadir pula sahabat Sutarso. Almarhum menulis puisinya yang boleh dikatakan istimewa yakni :

Arwinto Syamsunu Ajie

Pintu Kupu-kupu

Aku tak sedang mencintai hujandan seluruh kata-kata yang basahdan memalam
Lorong tak sedang mencintai bulan
Kabut dan endapan debu-debu jalantak sedang mencintai lampu dankepura-puraan
Tubuhku kelaras daun pisang---
belum sepenuhnya lepas dari pelepahdan ikatan-ikatan.
“Bungkuslahdingin dan inginmu denganyang kumiliki dan kutawarkan
Bahkan seandainya api kau nyalakancuma membuatku riang terbakar
Sebab aku lebih tak mencintai lapardan kemiskinan

2015

selengkapnya di https:

//docplayer.info/71424500-Lumbung-puisi-jilid-iv.html



Arwinto Syamsunu Ajie,lahir di Kebumen, 3 Maret. Ia tergabung di DSJ (Dapur Sastra Jakarta). Puisi-puisinya dipublikasikan di media massa dan antologi bersama Lumpung Puisi . Buku puisi tunggalnya yang telah terbit berjudul  Langit Bersorban Awan (Teras Budaya, 2015). Meninggal 8 Januari 2019 di Kebumen Jateng. 

Minggu, 06 Januari 2019

Mengenal Muhammad Lefand


Muhammad Lefand, penulis yang lahir di Sumenep Madura dengan nama Muhammad, sekarang tinggal di Ledokombo Jember. Adalah seorang perantauan yang senang menulis puisi dan kata-kata indah. Muhammad Lefand  lahir dari pasangan suami istri Padatun-Munipa di Sumenep Madura pada tanggal 22 Februari 1989 dengan nama Muhammad, yang merupakan anak bungsu dari delapan bersaudara. Rinciannya empat perempuan dan empat laki-laki. Dari delapan saudara tersebut, yang meninggal tiga orang yaitu: satu perempuan dan dua laki-laki (Hamdiyah, Ahdan dan Abdul Basik). Sedangkan yang masih hidup lima orang, tiga perempuan dan dua laki-laki (Tibliyah, Helmatun Hasanah, Moh. Jamil, Hodaibiyah dan Muhammad).

         Mengenyam pendidikan dasar di SDN Serabarat I pada tahun 1995 dan lulus pada tahun 2001. Selepas dari sekolah dasar, melanjutkan ke jenjang pendidikan menengah pertama di Madrasah Tsanawiyah An-Nawari Seratengah Bluto Sumenep di bawah naungan Yayasan Pendidikan Pesantren An-Nawari, lulus pada tahun 2004. Pendidikan menengah atasnya satu lembaga dengan menengah pertamanya yaitu di Madrasah Aliyah An-Nawari, lulus pada tahun 2007. Setelah lulus dari pendidikan menengah, tidak langsung melanjutkan ke Perguruan Tinggi karena disebabkan oleh keterbatasan ekonomi. Baru pada tahun 2008, dengan modal nekat dan yakin kepada takdir yang bisa dirubah dengan ijin Tuhan, mencoba merasakan nikmatnya bangku kuliah meski sering berurusan dengan TU Kampus karena selalu telat membayar SPP dan lainnya. Karena berkat kuasa dan KemurahanNya akhirnya tahun 2012 bisa menyandang gelar sarjana dari Universitas Islam Jember Fakultas Agama Islam Jurusan Tarbiyah Program studi Pendidikan Agama Islam.

Aktif dalam beberapa komunitas sastra antara lain: sebagai salah satu pendiri dan pegiat Forum Sastra Pendhalungan Jember, pendiri dan pegiat Forum Sastra Jember, pegiat Forum Sastra Timur Jawa dan Malam Puisi Jember. Sering mengikuti pertemuan sastra baik tingkat nasional maupun Internasional antara lain: Temu Penyair Tifa Nusantara di Tangerang (2015) dan Marabahan Kalsel (2016), Temu Penyair Asia Tenggara di Cilegon (2014) dan Singapura (2017), Temu Penyair Negeri Poci di Tegal (2016). Road Show PMK 18 di Sumenep Madura, PMK 26 di Pasuruan dan PMK 28 di Surabaya, Temu Penyair Memo untuk Presiden di Blitar, Malang dan Surabaya dan pertemuan lainnya.

Naskah kumpulan puisinya yang berjudul ”Aku Anak Indonesia”(2013) mendapat juara 3 pada lomba “Sayembara Buku Pengayaan Pusat Kurikulum dan Perbukuan” tahun 2013 kategori puisi anak, Menerima penghargaan sebagai penulis puisi terbaik versi Warung Antologi Award tahun 2013, Penulis Puisi Terbaik Ayat-ayat Rindu tahun 2013, dan penghargaan lainnya . Biografinya dimuat di buku “Enseklopedi Penulis Indonesia” (FAM Publishing: 2014) dan “Apa dan Siapa Penyair Indonesia?” (Yayasan Hari Puisi: 2017). Karya-karyanya sudah banyak dimuat di berbagai media baik cetak baik lokal maupun nasional: Majalah Sastra Horison, Majalah Mimbar, Majalah Fajar, Sastra Mata Banua, Tabloid GAUL, Media Indonesia, Pikiran Rakyat, Rakyat Sumbar, Solo Pos, Radar Jember, Radar Bekasi dan juga di Media elektronik seperti www.haripuisi.com, www.negerikertas.com, www.jendelasastra.com, www.bengkelpuisi.net, www.kompasiana.com, www.puisi2koma7.net dan lainnya.

Selain itu banyak karyanya yang dimuat di buku antologi bersama, antara lain: : “Ayat-ayat Rindu: Kumpulan Puisi Cinta” (Star Publishing, 2013). “Karena Aku Wanita: Kumpulan Cerpen dan Puisi” (AE Publishing, 2013). “UCAP: Ungkapan Cinta Ala Panyair #2” (Meta Kata, 2013). “Buku Antologi Puisi: Semanggi Surabaya” (FAM Publishing, 2013). “Kumpulan Puisi Tempat Tinggal, Kenangan dan Aku: Sajak Tiga Warna” (AE Publishing, 2013). “Kidung Kekasih: Romantika Sajak Merah Muda” (Meta Kata, 2013). “Ramadan: Semesta Merindu” (Meta Kata, 2013). “Antologi 135 Puisi Romantis: Cinta dalam Empat Dimensi”(PEDAS Publishing, 2013). “Perjuangan Hidupmu Inspirasiku: Terinspirasi dari Wanita Hebat Seluruh Dunia” (GP Publishing, 2013). “Jelaga: Antologi Puisi Muhasabah” (Penerbit Asrifa, 2013). “Puisi 2koma7: Apresiasi dan Kolaborasi” (Bengkel Publisher, 2013). “Puisi Untuk Negeri” (Az-Zahra House Publisher, 2013). “Titian Rindu” (Az-Zahra House Publisher, 2013). “Darah di Bumi Syuhada: Antologi Puisi Pemenang Lomba Cipta Puisi Bertema Mesir, Palestina dan Rohingya” (FAM Publishing, 2013). “Phobia” (AE Publishing, 2013). “ Menggapai Impian: Dream Believe and Make it Happen” (Penerbit Asrifa, 2013). “A Season’s Journey: Aku, Kamu, Kita. Punya Cerita” (Pustaka Jingga, 2013). “Eca Moment 4: Kumpulan Flash True Story, Puisi dan Fiksi Mini” (AE Publishing, 2013). “Puisi buat Gusdur: Dari Dam Sengon ke Jembatan Panengel” (Dewan Kesenian Kudus, 2013) . “The Last Love #1(Kumpulan Puisi) (Pena House, 2014). “Motivasi Cinta: Ajari Aku Semangatmu” (Pena House, 2014). “Cinta di Balik Hujan: Puisi #2” (Pena House, 2014). “Rindu Rahasia #1” (Pena House, 2014). “Eca Moment 5: Kumpulan Puisi, FF, FTS dan Opini” (AE Publishing, 2014). “Menjadi Indonesia” (FAM Publishing, 2014). “Lentera Sastra II” (Lentera Internasional, 2014). “Mendaras Cahaya” (Bengkel Publiser, 2014). ”Nyanyian Kafilah” (Bengkel Publiser, 2014).“Sang Peneroka” (Gambang, 2014). “Memo untuk Presiden” (Forum Sastra Surakarta, 2014).   “Metamorfosis” (Teras Budaya, 2014). “Tifa Nusantara II” (Dewan Kesenian Kabupaten Tangerang, 2015). “Kitab Puisi Cinta Kota Batik Dunia” (Dewan Kesenian Pekalongan, 2015), “Siraman Cinta” (Penerbit Kail, 2015). “Pemantik Mimpi” (Negeri Kertas, 2015). “Melawan Kabut Asap”(Negeri Kertas, 2015). “Merupa Tanah di Ujung Timur Jawa” (Ombak, 2015).  “Puisi Menolak Korupsi 4” (Forum Sastra Surakarta, 2015). “Memo untuk Wakil Rakyat” (Forum Sastra Surakarta, 2015). “Dari Negeri Laut” (KKK, 2015). “Tifa Nusantara 3: Ije jela” ( Pustaka Senja, 2016). “Palagan” (Teras Budaya, 2016).  “Memo Anti Teroris” (Forum Sastra Surakarta, 2016). “Memo Anti Kekerasan terhadap Anak”( Forum Sastra Surakarta, 2016). “Aku Suka Syair Syiar” (2016). “Merenda Kasih, penyair 4 Negara” (KKK, 2016).“Pasie Karam” (Dewan Kesenian Aceh barat, 2016).“Perempuan yang Dipinang Malam” (Negeri Kertas, 2016). “Timur Jawa: Balada Tanah Takat” (Forum Sastra Timur jawa, 2017). “Dari Robot Sempurna Sampai Alea Ingin ke Surga“ (2017). “Puisi Menolak Korupsi 6” (Forum Sastra Surakarta, 2017). “Menghimbau Kenangan” (Mata Aksara, 2017). “Dari Negeri Awan” (KKK, 2017). “Tentang Masjid” (HSBI, 2017). “Negeri Bahari” (KKK, 2018) . “Papan Iklan di Pintu Depan” (Kampung Pentigraf Indonesia, 2018). “Antologi Puisi 1000 Guru Asean” (Taresi, 2018). Dan masih ada beberapa buku antologi puisi yang akan segera terbit.

        Selain menulis puisi, juga menulis artikel, essay dan pantun. Antologi buku pantunnya yaitu: Mutiara Pantun (2014) dan  Senandung Tanah Merah” (KKK, 2016).. Antologi puisi tunggalnya “Satu Kaca Dua Musim”(Pena House: 2014). “Jangan Panggil Aku Penyair” (Ganding Pustaka: 2015) Revolusi Mental dan Estetika (CV Erzatama: 2015). “Khotbah Reungan Tak Utuh Jarak dan Jagung” (Pena House: 2016). Dan Kronologi Imaji (FAM Publishing: 2017).

"Pertemuan dengan Widji Thukul" Rg Bagus Warsono,

"Pertemuan dengan Widji Thukul"

Rg Bagus Warsono,

Dalam keremangan malam
Bulan redup sesekali tertutup mendung
Dalam teras pecinan
dengan pintu-pintu tergembok
Hai penyair katanya padaku
Dia menutup muka dengan jaketnya kumal dingin
Kretek dan kopi dingin
Menatap aku pada si kerempeng itu
akankah kopi belum terbayar
Lalu aku berjabat tangan
merdeka katanya lirih
ya aku dialam merdeka sekarang
aku juga bebas membuat puisi
lalu dia menunjuk tukang kopi
dan kami minum di kedinginan
Sajakku mahal katanya lirih
ah aku sangat murah bahkan tak laku dijual
kau salah katanya
juga yang lain bodoh
kenapa?
banyak penyair setengah penyair
Hah?
Tapi kau tidak , sambil menepuk pundak
lalu ia menutup wajahnya dengan jaketnya lagi dan kopi malam sisa ampasnya.

Jogyakarta, 5 Januari 2019.

Minggu, 30 Desember 2018

Sindhunata,


Dr. Gabriel Possenti Sindhunata, S.J., atau lebih dikenal dengan nama pena Sindhunata (lahir di Kota Batu, Jawa Timur, Indonesia, 12 Mei 1952; umur 66 tahun) dan juga dikenal dengan panggilan populernya Rama Sindhu (atau dibaca "Romo Sindhu" dalam bahasa Jawa) adalah seorang imam Katolik,anggota Yesuit, redaktur majalah kebudayaan "BASIS". Sejak masa kecilnya hingga tamat SMA ia hidup di kampungnya di kaki Gunung Panderman. 

Anak Bajang Menggiring Angin

Anak Bajang Menggiring Angin

Anak Bajang Menggiring Angin adalah sebuah novel fantasi pewayangan berbahasa Indonesia karya Sindhunata (atau "Rama Sindhu") yang diterbitkan tahun 1983 oleh Gramedia Jakarta.Dengan beberapa perbaikan dan tambahan oleh Sindhunata, serial tersebut diterbitkan dalam bentuk buku ini.
Dengan gaya bahasa sastra Sindhunata yang khas, penuh diwarnai imajinasi simbolik, dan dengan penggalian makna-makna filosofis yang dalam, buku ini menyajikan versi Jawa kisah Ramayana, menjadi sebuah penciptaan kembali kisah tradisional Ramayana ke dalam bentuk sebuah kisah sastra. Cerita dalam buku ini menampilkan suatu kisah yang mengandung sesuatu kemustahilan dan asing bagi pengalaman biasa, sesuatu impian kosong bila dipandang dari kenyataan keseharian manusia. Dengan kekuatan tersendiri kisah ini menampilkan impian-impian itu menjadi suatu jalinan kisah insani, yang membuat impian-impian itu tampil sebagai cita-cita yang dirindukan manusia. Siapa dapat memastikan apakah sebuah kenyataan itu sesungguhnya impian dan sebuah impian itu justru sesungguhnya kenyataan? Dengan menggugah pembaca, buku ini merujuk pada harga yang mahal dan nilai yang tinggi yang dimiliki impian manusia.
Sekutip dari kisah buku: "Terimalah perhiasanku ini, Nak," kata Dewi Sukesi. Dan perempuan tua ini pun mengalungkan untaian kembang kenanga di dada Kumbakarna. Mendadak alam pun membalik ke masa lalu. Tanpa malu-malu. Jeritan kedukaan menjadi madah syukur sukacita. Bermain-main anak-anak bajang di tepi pantai, padahal kematian sedang berjalan mengintai-intai. Gelombang lautan hendak menelan anak-anak bajang, tapi dengan kapal kematian anak-anak bajang malah berenang-renang menyelami kehidupan. Hujan kembang kenanga di mana-mana, dan Dewi Sukesi pun tahu, penderitaan itu ternyata demikian indahnya. Di dunia macam ini, kebahagiaan seakan hanya keindahan yang menipu. Sukesi terbang ke masa lalunya, ke pelataran kembang kenanga. Ia tahu kegagalannya untuk memperoleh Sastra Jendra ternyata disebabkan oleh ketaksanggupannya untuk menderita. Ia rindu akan kebahagiaan yang belum dimilikinya, dan karena kerinduannya itu ia malah membuang miliknya sendiri yang paling berharga, penderitaannya sendiri. Dan pada Kumbakarnalah kini penderitaan itu menjadi raja." (Sumber Wikipedia) Buku ini merupakan penyempurnaan dari "Kakawin Ramayana" dari versi pewayangan Jawa. Versi ini ditulis oleh Sindhunata dan dimuat di harian KOMPAS setiap hari Minggu pada tahun 1981. Walaupun Sindhunata menulis buku ini dengan sumber dari kisah Ramayana yang populer di masyarakat budaya Jawa, kisah ini dapat dibilang baru karena yang digambarkan dalam buku ini adalah harapan-harapan dan kerinduan dari Sindhunata sendiri, yang diwarnai dan dilatarbelakangi kebudayaan Jawa di mana budaya wayang sangat berperan kuat dalam filsafat kehidupan sehari-hari. Sindhunata menggunakan tokoh-tokoh wayang "Ramayana" yang imajinatif tersebut untuk membantu menuangkan maksudnya tersebut.
Sindhunata menulis buku ini untuk menggugah dan membuat pembacanya berpikir tentang harga dan nilai sebuah cita-cita, di mana dia menampilkan sebuah kisah tentang impian yang seakan-akan tampil sebagai cita-cita dan sebaliknya. Bagi sebagian pengamat sastra, kisah buku ini adalah sebuah representasi perlawanan yang lemah dan tak berdaya menghadapi absurditas nasib dan kekuasaan.

(Rg Bagus Warsono)

Tere Liye


Tere Liye (lahir di Lahat, Indonesia, 21 Mei 1979; umur 39 tahun), dikenal sebagai penulis novel. Beberapa karyanya yang pernah diangkat ke layar kaca yaitu Hafalan Shalat Delisa dan Moga Bunda Disayang Allah. Meskipun dia bisa meraih keberhasilan dalam dunia literasi Indonesia, kegiatan menulis cerita sekedar menjadi hobi karena sehari-hari ia masih bekerja kantoran sebagai akuntan.Tere Liye meyelesaikan pendidikan dasar dan menengahnya di SDN 2 Kikim Timur dan SMPN 2 Kikim, Kabupaten Lahat, Provinsi Sumatera Selatan. Lalu melanjutkan sekolahnya ke SMAN 9 Bandar Lampung, Provinsi Lampung. Setelah lulus, ia meneruskan studinya ke Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Kegiatannya setelah selesai kuliah banyak diisi dengan menulis buku-buku fiksi.
 (Rg Bagus Warsono, 31 Desember 2018).

Hujan, Tere Liye

Hujan

Hujan adalah Kisah tentang melupakan. Tentang Hujan. Novel ini adalah naskah awal (asli) dari penulis; tanpa sentuhan editing, layout serta cover dari penerbit, dengan demikian, naskah ini berbeda dengan versi cetak, pun memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing. Buku ini mendapat apresiasi tinggi dari media social. Seorang  pengamat buku , Abdurrachman M memuji buku ini sebagai berikut dalam goodreads: Begitulah cinta, ketika kita mengasumsikan kemungkinan terburuk bahwa kita hanya terlalu berharap dan dia tidak mencintai kita ternyata dia sedang mempersiapkan hal istimewa untuk kita. Namun, ketika kita sedang berharap dan merasa dia sangat mencintai kita, ternyata dia biasa-biasa saja dan tidak ada sedikitpun kita di dalam hati nya. Hujan adalah novel menarik dengan plot di masa depan mengenai cinta seorang gadis sederhana .kepada seorang super jenius di zamannya. Lail, seorang gadis yang bagaimanapun dicobanya perjuangan cintanya tetap sabar dan akhirnya menerima apapun yang terjadi. 
Tere Liye pengarang buku ini memberi kejelasan tentang hujan sebagai Tentang persahabatan,
Tentang cinta,Tentang perpisahan
,Tentang melupakan, Tentang hujan.
Tentang kehilangan dan penerimaan akan kehilangan itu sendiri, tentang persahabatan dan ketulusan dalam ikatan tersebut, tentang perpisahan dan cara menemukan jalan keluar agar tidak melulu galau dalam mengisi penantian panjang. Tokoh Lail mengajarkan pada saya bahwa dengan menolong banyak oarng adalah salah satu cara terbaik untuk merelakan kehilangan. Dengan memberi, kita sadar bahwa kehilangn bukanlah kepahitan hidup yang harus terus diratapi. Tidak, bukan seperti itu. Lail mengajarkan saya banyak hal. Juga Maryam. Sosok sahabat yang humoris dan selalu sanggup mencairkan suasana, selalu berada di samping Lail baik susah maupun senang, gadis berambut kribo yang berpikir dewasa, salah satu orang yang menjadi alasan Lail bertahan dari lelahnya berlari dan terjatuh dengan jarak 50 kilometer dalam hujan badai.

"Barang siapa yang bisa menerima, maka dia akan bisa melupakan, hidup bahagia. Tapi jika dia tidak bisa menerima, dia tidak akan pernah bisa melupakan." - (Hujan, Epilog, hlm. 318)
“Hidup ini memang tentang menunggu. Menunggu kita untuk menyadari, kapan kita akan berhenti menunggu (hal.228)”
“Bagian terbaik dari jatuh cinta adalah perasaan itu sendiri, Kamu pernah merasakan rasa sukanya, sesuatu yang sulit dilukiskan kuas sang pelukis, sulit disulam menjadi puisi oleh pujangga, tidak bisa dijelaskan oleh mesin paling canggih sekalipun. Bagian terbaik dari jatuh cinta bukan tentang memiliki. Jadi, kenapa kamu sakit hati setelahnya? Kecewa? Marah? Benci? Cemburu? Jangan-jangan karena kamu tidak pernah paham betapa indahnya jatuh cinta.” 
“Jangan pernah jatuh cinta saat hujan. Karena ketika besok lusa kamu patah hati, setiap kali hujan turun, kamu akan terkenang dengan kejadian menyakitkan itu.”


Senin, 24 Desember 2018

Ikuti Lumbung Puisi VII 2019

Anak Cucu Pujangga (ACP) adalah tema luas Lumbung Puisi ke-7 tahun 2019 yang dimulai 22 Desember 2018 sampai 21 April 2019. Tema ini sengaja diberikan untuk memeilihara sastra Indonesia bahwa sastra memiliki generasi berkelanjutan yang tak terputus oleh bentuk tragedi apa pun di Indonesia.
Sebagaimana telah di singgung dalam berbagai buku dan pendapat serta teori-teori genetika. Maka anak cucu pujangga tidak saja memarisi terhadap keturunan langsung tetapi juga pada diluar keturunan terhadap murid langsung atau tidak langsung. Oleh karena itu penyair yang mengirim puisi di Lumbung Puisi VII 2019 dapat mencantumkan nama orang tua atau kakek sastrawannya baik keterunan langsung maupun tidak langsung.
Generasi dapat ditimbulkan melalui biologis maupun psikologi. Wajar bila orang menyebut 'anak biologis dan ' anak idiologis .
Nama besar kakek atau orang tua langsung dapat ditul;is di nama penyair agar nama orang tua kita ikut menjadi bagian karya kita. Disamping itu faedah lain yaitu mengangkat nama orang tua.
Demikian seorang penyair menunjukan kebesaran budi dan kerendahan hati serta senantiasa mengingat jasa orang tuanya.
Tentu saja nama embel-embel itu hanya terdapat di antologi ini dan tidak melekat untuk menjadi nama selanjutnya dalam situasi yang lain.
Anak Cucu Pujangga memberikan ruang kreativitas bahwa sastra itu sebetulnya adalah 'garis lurus geneteka dari'sononya. Semoga dengan Anak Cucu Pujangga ini duania sastra semakin semarak dengan kreativitas-kreativitas baru yang pantas untuk dibaca semuanya .
(Rg Bagus Warsono, 22-12-18)

Rabu, 28 November 2018

Selamat Atas Terbitnya Kemeja Putih Lengan Panjang karya Rg Bagus Warsono



Sebuah Simbolik

Seperti halnya orang orang munafik dengan perkataannya. Ia tidak mengakui dasar negaranya sendiri, kemudian ia hidup di negeri orang, Di hati kecilnya ia merasakan keunggulan dasar negaranya sendiri yang memberi rasa aman dalam kebinnekaan, dibanding dasar negara lain yang ia rasakan di negri rantau.
Kemudian orang-rang munafik itu menggemborkan untuk memgingkari jasa-jasa para pejuangnya termasuk proklamator, namun tanpa sadar bajunya yang ia sukai adalah baju yang sudah melekat dengan sang proklamator yang ia gemborkan untuk diingkari.
Lalu pada sebagian pegawai negeri, mengingat otonomi daerah dipengaruhi oleh politik bupati atau walikota yang merupakan anggota partai, dengan lucunya di awal-awal presiden terpilih menjabat mereka mencibir dan bahkan menghina. Namun ketika presiden menerapakan kemeja putih lengan panjang sebagai salah saru baju seragam, mereka menyukainya.
Ada sebuah karakter negatif tanpa sadar terjadit di masyakarak kita. Dinamika orang yang tanpa berfikir tetapi mengikuti ajakan saja apa yang bersifat umum melalui sosial media, kemudian ia dalam prakteknya menjalani apa yang justru ditolaknya itu.
Kemunafikan itu diredam dengan sederhana yaitu  hanya baju putih lengan panjang. Ini makna simbolis, sebuah ajakan utuk perubahan mental. Walau kesucian yang diharapkan itu lahir bathin, namun setidaknya awal kecintaan dan penanaman itu dimulai dari hal-hal yang bersifat lahiriah.
Sejauh mana baju putih lengan panjang ini memiliki makna simbolis kejujuran bagi pemakainya, tergantung dari mental itu sendiri apakah didapat perubahan atau justru sebaliknya. Namun demikian Kemeja Putih Lengan Panjang ini sungguh sesuatu yang memiliki makna berarti termasuk antologi ini sebagai pencerah penyejuk hati semua pembaca budiman.

Rg Bagus Warsono, nama lainnya Agus Warsono lahir di Tegal 29 Agustus 1965. Ia dibesarkan dalam keluarga pendidik  yang  dekat dengan lingkungan buku dan membaca. Ayahnya bernama Rg Yoesoef Soegiono seorang guru di Tegal, Jawa Tengah. Rg Bagus Warsono menikah dengan Rofiah Ross pada bulan Desember 1993. Dari pernikahan itu ia dikaruniai 2 orang anak. Ia mulai sekolah dasarnya di SDN Sindang II  Indramayu dan tamat 1979, masuk SMP III Indramayu tamat tahun 1982,  melanjutkan di SPGN Indramayu dan tamat 1985. Lalu ia melanjutkan kuliah di D2 UT UPBBJJ Bandung dan tamat tahun 1998, Kemudian kuliah di STAI di Salahuddin Jakarta dan tamat 2004 , pada tahun 2011 tamat S2 di STIA Jakarta. Setelah tamat SPG, Rg Bagus Warsono menjadi guru sekolah dasar, kemudian pada tahun 2004 menjadi kepala sekolah dasar, dan kemudioan 2015 pengawas sekolah. Tahun 1992 menjadi koresponden di beberapa media pendidikan seperti Gentra Pramuka, Mingguan Pelajar dan rakyat Post. Pada 1999 mendirikan Himpunan Masyarakat Gemar Membaca di Indramayu. Menjadi anggota PWI Jawa Barat. Rg Bagus Warsomo juga menulis di berbagai surat kabar regional dan nasional seperti PR Edisi Cirebon, Pikiran rakyat, Suara karya dan berbagai majalah pendidikan regional maupun  nasional.
Karya : a. Puisi
1. Bunyikan Aksara Hatimu, Sibuku Media , Jogyakarta 2013
2. Jakarta Tak Mau Pindah, Idie Publising, Jakarta 2013
3. Jangan Jadi sastrawan, Indie Publising, Jakarta 2013
4. Si Bung , Leutikaprio, Jogyakarta , 2014
5. Mas Karebet, Sibuku Media, Jogyakarta, 2014
6. Satu Keranjang Ikan, Sibuku Media, Jogyakarta, 2015
7. Surau Kampung Gelatik, Sibuku Media, Jogyakarta, 2016
8. Mencari Ikan sampai Papua, 8 Penyair, Penebar Pustaka, Jogyakarta.,2018. b. Buku:
1. Bincang-bincang Penyair , Penebar Pustaka, 2018
2. Geliat Penyair Indonesia, Penerbar Pustaka, 2018
c. Cerita Anak : 1. Kopral Dali, Sibuku Media, Jogyakarta 2014
2. Meriam Beroda, Sibuku Media Jogyakarta 2015
3. Pertempuran Heroik di Ciwatu, Jogyakarta 2016
4. Kacung Ikut Gerilya, Jogyakarta 2016
Penghargaan: 
Penulis Cerita Anak, Depdikbud 2004


Senin, 26 November 2018

Antologie Mblekethek 2018

Penyair :

1.Rg Bagus Warsono, (Indramayu)
2.Winar Ramelan, (Denpasar)
3.Buanergis Muryono (Depok)
4.Yoseph Yoneta Motong Wuwur (Kupang)
5.Wardjito Soeharso (Semarang)
6.Aloysius Slamet Widodom (Jqkarta)
7.Edy Priyatna (Depok)
8.Pensil Kajoe
9.Nila Kesuma
10.H. Asril, (Indramayu)
11. Heru Mugiarso, (Semarang)
12. Raeditya Andung Susanto (Banyumas)
13.Sarwo Darmono (Lumajang)
14.Gilang Teguh Pambudi (Jakarta)
15.Sri Sunarti (Indramayu)
16.Nur Komar (Jepara)
17.Zaenni Bolli (Flores)
18.Arya Setra (Jakarta)
19.Uyan Andud (Kediri)
20.Sujudi Akbar Pamungkas (Tuban)
21. I Ketut Aryawan Kenceng (Klungkung)
22. Leli Luyantri (Indramayu)
23. Mohammad Mukarom.
24. Edi Kuswantono
25. Firman Wally (Ambon)
26. Alkalani Muchtar (Kalimantan Selatan)
27. Ade Sri Hayati (Indramayu)
28. Raden Rita Maimunah (Padang)
29. Roymon Lemosol (Ambon)
30.Sukma Putra Permana (Jogyakarta)
31.Heru Marwata (Jogyakarta)
32.Alhendra Dy (Bangko Maringin Jambi)
33.Sami’an Adib (Jember)
34.Jen Kelana (Bangko, Jambi)
35. RB. Edi Pramono (Jogyakarta)
36.Carmad (Indramayu)
37.Barokah Nawawi (Semarang)
38. Muhamad Iskandar
39.Syaiful B. Harun (Banyuasin)
40.Muhammad Lefand (Jember)
41.Iwan Bonick (Bekasi)
42.Meinar Safari Yani (Klaten)
43Rai Sri Artini (Badung)
44.Wanto Tirta (Jakarta)
45.Gregorius Andi (Jogyakarta)
46.Muhammad Affip
47. Sri Budiyanti
48. Suyitno Ethex.








Pancen Zaman Mbleketek

Pancen Zaman Mbleketek

Mbleketek memang, tentu bukan benang ruwed. Mungkin alam ini menghendaki demikian, tak semata 'apa boleh buat, buktinya tetep ditelan juga. Bahkan ada yang menari seperti udang dalam bubur-udang. Dicari kemana daging udang itu dalam panci bubur-udang, tetep tidak ketemu. Ternyata penjualnya bilang, udangnya tak akan ketemu karena udangnya digerus dengan sambal ! Ah, bisa-bisa saja penjual bubur-udang itu berkelit. Tetapi ketika ahli kuminer mencicipi masakan itu, katanya, ada udang dalam bubur-udang.
Katanya, " Enak jamanku ya Bro?". Tentu bukan untuk yang sengsara di zaman ini, sebab yang sengsara jaman doeloe juga bukan main banyaknya. Anehnya yang kecukupan dan berkah di zaman ini bilang "Enak jamanku doeloe", kan aneh?
Ya sudah, wong maunya ngomong begitu biarin. Esok harinya kedapatan orang yang bilang enak dijaman doeloe itu membeli mobil baru (buktinya juga banyak, di jalan mobil baru banyak dipakai) , padahal di zaman doeloe boro-boro orang beli mobil, pit onthel saja gak kebeli. Lhoh? Macam mana pula ini orang?. Itulah Indonesia.
Lucunya lagi ada penyair yang dapat duit besar karena "disumpel cangkeme pakai segepok atusan ewu, dihujat teman-temannya. ada yang bilang munafik, 'gembel babu, 'carmuk, sampai kethek nemoni mulud. Suatu saat giliran dirinya dipanggil untuk disumpel bacotnya. Kemudian dia bilang katanya ini karena prestasi karya sastranya. Ndasmu "kunyuk pada karo aku jebule. Jangankan coca-cola, ubi mentah diiris-iris juga rebutan. seperti monyet di Plangon Cirebon.
Di dunia kepenyairan mblekethek juga terlihat. sampai-sampai orang lupa kritikus dan kurator. Tetapi tanpa dikritik juga penyairnya bisa terkenal. Doeloe untuk menjadi terkenal karyanya dihantam kritik dan dibicarakan banyak orang, sekarang lain. Untuk menjadi terkenal boleh dengan cara apa saja. Doeloe ada yang ngamen di mobil bus dengan baca puisi. Ada yang bilang, "belum masuk bui berarti belum terkenal"! ha ha ha ia sih.
Sekarang setiap kota punya penerbit, perkara buku laku apa tidak itu nomor dua. Bilang saja "best seller" padahal nyetaknyua cuma 10 eksemplar. Wah wak wah.
Pancen zaman blekethek sekarang ini!
(Rg. Bagus Warsono, Sastrawan tinggal di Indramayu)







Rg Bagus Warsono Dibawah Atap Puisi beralas Puisi

Rg Bagus Warsono

Dibawah Atap Puisi beralas Puisi

Dan penyair-penyair gelisah
berjalan seiring antrian kendaraan macet
sambil membawa buku antologi gila
sebentar-sebentar bukunya dibaca
untuk sekedar memalingkan muka
yang tak sudi melihat
yang berjalan dengan mata kakinya sendiri.
Tak malu lagi ia berteriak
dalam irama isi buku puisi
untuk kemudian ia berdiri di atas jembatan
dan orang-orang panik melihat penyair bunuh diri
Sinting!
frustasi!
Edan!
Tidak, ia tidak seperti dugaanmu gila.
Dia bosan dengan semuanya
akan Indonesia kita !
buarkan ia dibawah atap beralas puisi ,

(rg bagus warsono, 18-09-2-18)




Winar Ramelan Peluru Nyasar

Winar Ramelan

Peluru Nyasar

Peluru nyasar
Menembus ruang dewan
Menjadi berita utama
Bualan bahkan  cacian

Di surat kabar dan televisi
Lebih heboh lagi berita di media on line
Yang bisa dikomsumsi dengan gawai super mini
Ditelan oleh otak super mini
Menjadi pelintiran pelintiran yang susah diurai

Kepalaku telah padat
Oleh berita yang diumbar kepala dewan
Dari yang benar, sampai olok olokkan kepada pemerintahan
Sedang mereka adalah bagian dari pemerintahan itu sendiri
Para pejabat yang diperintah rakyat

Peluru nyasar
Seperti omongan para anggota dewan
Kesasar sasar 
"duh, peluru kok nyasar, lupa bawa peta ya, seperti om yang setingkat pengacara, bisa nyasar di jalanan kota"
Seperti itulah mereka


Winar Ramelan

Jamur Tai sapi

Bagai jamur yang tumbuh di kubangan kotoran sapi
Ditelan manusia, manusia sempoyongan
Dengan kepala kosong tanpa nalar
Mulut berbuih dengan omongan memabukkan

Begitulah berita berita yang sedang dimunculkan 
Dengan mengucilkan kebenaran 
Mengkerdilkan keadilan
Senyatanya kebenaran bagai pohon beringin
Dengan daun mencapai langit Sang maha
Akar akarnya kuat memeluk bumi

"Siapa yang menggoyahkan, angin besarkah yang diciptakan sebagai issu yang memojokkan lawan
Agar daun daun kebenaran berguguran?”

Manusia yang tertelap di atas meja kerja
Berkoar tentang dirinya yang putih
Mengkritisi pola kerja saudaranya
Yang terjaga dengan bekerja setulus jiwa
"kau mengigau bung, setelah menelan kudapan jamur dari kubang tai sapi
bangun bung, cuci mukamu, cuci otakmu
dan belajar membaca lalu berpikir dengan jernih!”




Winar Ramelan lahir di Malang 05 Juni, kini tinggal di Denpasar. Menulis kumpulan puisi tunggal dengan judul Narasi Sepasang Kaos Kaki.
Puisinya pernah di muat harian Denpost, Bali Post, majalah Wartam, Dinamikanews, Tribun Bali, Pos Bali, konfrontasi.com, Sayap Kata, Dinding Aksara, detakpekanbaru.com. Kompasiana, Flores Sastra, Antologi bersama Palagan, Untuk Jantung Perempuan, Melankolia Surat Kematian, Klungkung Tanah Tua Tanah Cinta, Tifa Nusantara 3, Puisi Kopi Penyair Dunia, Pengantin Langit 3, Seberkas Cinta, Madah Merdu Kamadhatu, Lebih Baik Putih Tulang Dari Pada Putih Mata, Progo Temanggung Dalam Puisi, Rasa Sejati Lumbung Puisi, Perempuan Pemburu Cahaya, Mengunyah Geram Seratus Puisi Melawan Korupsi, Jejak Air Mata Dari Sittwe ke Kuala Langsa, Senja Bersastra di Malioboro, Meratus Hutan Hujan Tropis, Ketika Kata Berlipat Makna,Tulisan Tangan Penyair Satrio Piningit.






Buanergis Muryono Kabeh

Buanergis Muryono

Kabeh

Kabeh
Mblekethek
Sapa sing cewok mau?
Klambiku mblekethek
Maklum
Wis patangpuluhtahun.
Untunge rambutku kinclong
Sanajan ora mblerengi.
Klambi
Celana
Kabeh
Samubarang
Pareng mblekethek
Hananging
Ati
Pikiran
Uripmu
Kudu tansah wening
Bening
Kadya tuking banyu Gunung Agung
Kang seger nguripi
Tumrap tanduran apa wae
Kang diilini.
Yuk
Ngeli
Ngeli mring kabecikan
Ning kahuripan iki
Kebak welas asih
Nuladani
Suwelasing tembang
Njih suwelas kidung macapat
Supaya weruh ing sarira
Uga weruh ing panuju.

Salam Renungan Zaman Buanergis Muryono
19 September 2018 09:20




Yoseph Yoneta Motong Wuwur Bibir tipis

Yoseph Yoneta Motong Wuwur

Bibir tipis

Polesan lipstik
Merah merona
Terbuai kata terucap

Bibir tipis
Lihai bersilat lidah
Sakit pendengaranku
Pada ucapan berbau busuk
Bagaikan kentut dan tinjah

Bibir tipis
Tak semolek wajahmu
Tak seindah tutur kata
Penuh kepalsuan

Kalikasa, 21 September 2018












Yoseph Yoneta Motong Wuwur

Maiu

Wajah merah padam
Aku redamkan amarah
Dalam kegamangan aku meronta

Malu
Berkubang dalam sampah
Bau menyengat hidung
Selokan penuh daki
Pergi menjauh dari bayangan buruk
Kebohongan yang kian pekat
Aku malu

Seperti inginmu
Ranting tempatmu bertengger
Layu berguguran
Terhempas
Dan hilang

     Kalikasa, 22 September 2018


Yoseph Yoneta Motong Wuwur, Lahir di Kalikasa, 17 Mei 1984 merupakan lumnus Fakultas Pertanian Universitas Flores, Ende – NTT. Menulis adalah aktivitasnya sebatas hobi dalam mengisi waktu senggang.

Wardjito Soeharso Indonesia Masa Depan

Wardjito Soeharso

Indonesia Masa Depan

Aku melihat ke depan
Indonesia yang makin gaya
Kota-kota tumbuh gedung menjulang
Metropolitan

Banyak manusia berseliweran
Berjas pantalon dasi sangat rapi
Sibuk mengejar kehidupan
Hedonisnik

Mereka sibuk dengan diri sendiri
Berjalan lurus tak tengok kanan kiri
Tanpa tegur sapa sekedar salam
Individualistik

Coba perhatikan!
Mereka berkulit putih bermata sipit
Berambut pirang bermata biru
Orang seberang

Yang berkulit gelap coklat
Yang berambut hitam ikal
Yang penduduk asli
Ke mana mereka?

Orang-orang asli negeri ini
Terseret arus kemiskinan
Masuk ke dalam got-got
Di bawah gedung tinggi

Indonesia masa depan
Indonesia tanpa kebanggaan
Bagi anak negeri sendiri
Yang kian tersisih dari peradaban

Orang-orang seberang
Menjadi tuan yang dimuliakan
Menguasai bumi langit kekayaan
Mengatur denyut gerak kehidupan

Orang-orang pribumi
Menjadi kacung yang disepelekan
Terpaksa melayani para pendatang
Sekedar hidup mampu bertahan

Indonesia masa depan
Bumi langitmu tetap bercahaya
Namun bangsamu makin tak berdaya
Tanpa kehormatan!

23.09.2018








Aloysius Slamet Widodo Kenapa …… Koruptor, Narkobator, Kelamintor, Boleh Jadi Wakilku?

Aloysius Slamet Widodo

Kenapa …… Koruptor, Narkobator,
Kelamintor, Boleh Jadi Wakilku?

Mas2 hakim Mahkamah Agung terhormat
Rakyat memang tidak melek hukum
Tapi rakyat punya nurani dan akal sehat
Rakyat sangat menghormati hukum
Tapi tak mengerti pikiran penegak hukum
Katanya daulat hukum ditangan rakyat
Kenapa hukum mengabulkan penjahat ?
Rakyat dikepleke sakarepe ... monggo !
Rapopo

Kalau dasarnya Hak azasi penjahat
Kenapa sampeyan tak mempertimbangkan
Hak azasi rakyat
Kenapa keadilan pribadi lebih di didulukan dari rasa keadilan masyarakat
Lihat betapa banyak wakilrakyat ditangkap
Wakil rakyatku tidak jera
malah menantang ditangkap
Kalau dasarnya keadilan
Keadilan untuk siapa?

Sampeyan ini wakil Tuhan Bro
Apa Tuhan pembela koruptor ?
Jangan main2 bawa nama Tuhan
Jangan memberhalakan Tuhan
KarmaNya bisa datang seketika
Oh jagat keadilan ..
Jagat yang gelap
Sering sesat ...
sering menyesatkan diri!

Memang dengan menjalani hukuman
Maka hak terpidana dikembalikan
Tapi bukankah kejahatan korupsi
Narkoba dan kejahatan sexsual anak
Adalah kejahatan luar biasa?
Apapun alasanya kami tidak terima
Mereka mewakili rakyat
Tapi nasi telah menjadi tai
MA telah meng exsekusi ....Asu !
Harapan kami KPU berani
mencantumkan nama bekas penjahat itu
di kertas pemilih agar tidak salah pilih

Celakanya Para partai politik di Pemilu
Walau membuat pakta integritas
Tak calonkan anggotanya yg koruptor
Tapi nyatanya masih meloloskan
Lagi lagi partai politik berbohong
Ah memang partai politik yang itu penipu
Janjinya mengajak kita bulan madu
Tapi dikasih datang bulan ! .... asuu

Partai politik itu
Di jalan benar yang sesat
Semoga rakyat memberi laknat
Suaranya kurang dari batas ambang
oleh karmanya partai politik itu hilang
Wassalam !
Jakarta 22 septembet 2018

Edy Priyatna Mengangkat Sajak Indah

Edy Priyatna


Mengangkat Sajak Indah

Tersembunyi sebuah negeri impian
sebentuk suksesi perputaran
tengah atasannya tertidur
untuk sepanjang hari
di atas tempat kursi hangat

Kepentingan bertemu akan datang
senantiasa tak bertuan
mengembara ke ujung negeri
mengejar semua bayangan
rindu nan terus menggelisahkan

Perbuatan kehidupan alam dunia
hanya sekejap saja
tanpa terasa usia
lebih bertambah senja
semakin tiba di penghujung tahun

Belakang ruang janji kematian
konon rasanya negeri ini
menjadi negeri para gembeng
berpenghuni jutaan kesedihan
dalam berita angin tragis

Urutan rindu nan panjang
kesenyapan malam tenang
hanya berkawan bunga tidur
mengelana tanpa arah
mengangkat sajak indah
 (Pondok Petir, 06 September 2018)
Edy Priyatna

Sampai Kapan akan Terus Terjadi?

Masih terus berkobar
sudah sampai sekian kasus
telah demikian saudaraku tewas
di samping lainnya terluka berat ringan
semuanya baru terungkap
dan baru sekian kasus
masih banyak belum terselesaikan
tertangkap demikian orang dan barang bukti
kemudian sekian senjata api
ada demikian granat
dan sekian butir peluru
hingga tadi malam telah terjadi penembakan
ada orang tewas dan orang kritis di langkah
sebelumnya ada beberapa orang tewas

Setelah jauh ku menjelajah
sekian orang luka berat
kota ini terus di hantui petrus
ada apa dengan pemerintah
ilmuku terasa ringan bila ku bawa
dalam perjalanan selalu bertanya
agar semua tahu itu apa
biar terjawab itu semua
semoga otak tak membeku
diriku senantiasa ingin mengerti
karena pengetahuan membuatku lugu
ada apa dengan aparat ini
mengapa ini di biarkan terjadi
sampai kapan akan terus terjadi
(Pondok Petir, 12 Juli 2018)
         Edy Priyatna, Lahir di Jakarta 27 Oktober 1960. Sangat suka menulis apalagi kalau banyak waktunya dan suka sekali memberikan komentar.
Menulis sejak tahun 1979 saat aktif di ‘Teater Bersama’ Bulungan Jakarta Selatan. Tulisannya, Cerpen dan Puisi pernah dimuat di beberapa surat kabar Ibukota pada tahun 1980. Pada tahun 2001 tulisannya masuk dalam buku kumpulan Cerpen dan Puisi karya sendiri “Gempa” cetakan pertama Pebruari 2012.
Dan buku “Buku Petama di Desa Rangkat” Januari 2015. Kini aktif di Kompasiana sejak 08 Maret 2011 kemudian hingga saat ini telah menulis sebanyak lebih kurang 1.700 tulisan.




Pensil Kajoe Kumainkan Peranku dengan Improvisasi

Pensil Kajoe

Kumainkan Peranku dengan Improvisasi

kumainkan peranku
sesuai dengan skenario
bolehkah improvisasi
sebab aku, hamba yang mbeling
kadang eling
kadang linglung

ketika sujudku adalah bentuk tuntutan
pemenuhan segala inginku
bukan bukti kepasrahan padaMu

aku memang hamba mbeling
keimananku masih fluktuatif
naik turun seperti ombak
gelombang nafsu menghantam

aku, si manusia mbeling
yang bisa berperan manis
meski masih antagonis
sebab improvisasi kebablasen
tak eling menjadi hamba
yang lupa skenario awal
sebagai manusia.

22092018



Nila Kesuma Palu dan Arit

Nila Kesuma

Palu dan Arit

Ketika bernama palu bersama dengan arit, aku tidak berteman dan berusaha jauh dari jangkauan dan intimidasi semua pergerakan

Kepala palu selalu mengarah dan tertuju kepada para buruh yang tercekal suara dan pendapat

Sesungguhnya arit selalu bergejolak diantara kemarahan dengan atas namakan kemakmuran untuk para petani

Aku terlalu mencintai negriku
Tidak pula berusaha mengganti
PALU DAN PAHAT
Ketika pahat ingin berjalan mencapai tujuannya harus ku ketuk dengan palu

Begitupun aku menghapus pertemanan dengan palu dan pahat
Karena palu dan pahat harus ada sokongan dan tidak mandiri dalam berfikiran di era globalisasi dan canggih




H. Asril Setengah Abad

H. Asril

Setengah Abad

Lima puluh tahun yg lalu
Saat anak 2 mencium bau asap motor
Berderet di tepian jalan berdebu
Menanti harley,Norton lewat           
Girang mencium bau asap
Sambil berkata.........
 Mungkinkah aku dan kau
 Menaiki seperti tuan tanah.....
 Zamanpun berubah....
 Honda.....Yamaha...Suzuki
Berderet di rumah tak beratap     
Bisakah bersyukur....
Pada Tuhanmu........
Atau kau lupa NikmatNya.....
Tuhan aku takut murkaMu...
   




                               
H. Asril adalah seorang penyair kelahiran Indramayu, Tinggal di Indramayu, dan menulis puisinya dalam bentuk tulisan tangan. Kesehariannya adalah seorang ulama dan pendidik di Indramayu.


Heru Mugiarso Bukan Puisi Biasa

Heru Mugiarso


Bukan Puisi Biasa

Ini bukan puisi biasa
Kerna ditulis di balik kuitansi  mark up
Penggelembungan anggaran kantor
Maka bisa dimengerti
Jika puisi  jadi tertuduh dan ikut menanggung dosa
Dan dimintai pertaggung jawaban
Di depan petugas KPK

Atau puisi yang tersurat
Di sela kado ulang tahun selingkuhan
Maka bisa dipahami
Ia kena pasal perzinahan
Di akhirat nanti

Bahkan puisi yang dipesan oleh capres
Buat kampanye dan pencitraan
Pada tahun politik
Tahun depan
Maka bisa diketahui
Ia jadi saksi
Hidup mati
Bahwa
Puisi itu
Juga  masih mempan
Atas Uang sogok, gratifikasi dan  model amplopan

Puisi Ini bukan puisi biasa
Puisi yang diciptakan dengan cara memperkosa
Diksi, majas dan metafora
Dan segala hiasan  piranti bahasa  serta tetek bengek
Buat konsumsi zaman
Yang  makin mbleketek

Sebab puisi  biasa
Hanya laku buat merayu kamu
Agar tetap  cinta padaku
Atau hanya berlaku di  dunia maya
Yang kini  sudah kehilangan Luna..
2018

























Heru Mugiarso

Paradok Negeri Hoaks

Tak ada yang lebih sibuk dari negeriku
Yang pekerjaan warga negaranya cuma membikin dan membagi hoaks
Ada hoaks berlabel agama , ada bercap politik  atau yang murahan ala selebritis
Selayaknya pekerjaan  maka mendatangkan duit  dan tak gratis

Tak ada yang lebih riuh dari ini  bangsa
Pengguna  lima besar medsos di dunia
Selalu sibuk bikin status entah ujaran kebencian atau sindiran
Tapi inilah suara demokrasi yang mesti dimuliakan

Dan anehnya ketika suatu hari  di bagian lain negeri ada musibah
 Konon lautnya sampai tumpah  dan buminya pun merekah
Ada saja yang bikin lelucon hoaks memicu rasa marah
Konon dia mengaku dipukuli dan wajahnya berdarah-darah

Dan sungguh bodohnya  para jemaah hoakers  ikut-ikutan  melawak
Dengan kesumat dan marah yang bikin tergelak-gelak
Tapi begitulah saking mbleketeknya  itu lelucon
Akhirnya bikin mereka tampak bego dan kian bloon

Jangan kaget hidup di negeri mbleketek
Soal hukum  selalu memandang bulu ketek
Kalau rakyat jelata menyebar hoaks akan dibui
Maka  cukup dimaafkan lahir dan bathin bila pelakunya petinggi dan politisi.
2018







Heru Mugiarso, lahir di Purwodadi Grobogan, 2 Juni 1961. Menulis puisi sejak masih duduk di bangku SMP.  Karya-karya berupa puisi, esai dan cerpen serta artikel di muat di berbagai media lokal dan nasional. Sekitar enam puluhan judul buku  memuat karya-karyanya.Penghargaan yang diperoleh adalah Komunitas Sastra Indonesia Award 2003 sebagai penyair terbaik tahun 2003 Namanya tercantum dalam buku Apa dan Siapa Penyair Indonesia (2017.)Sebagai nara sumber acara sastra pada program BIANGLALA SASTRA SEMARANG TV. Juga, Pembina Komunitas Lentera Sastra mahasiswa jurusan Bimbingan Konseling Unnes.





Raeditya Andung Susanto Sibuk

Raeditya Andung Susanto

Sibuk

Orang kita sedang sibuk menyambut Pilpres
diagendakan banyak perayaan
menggandeng segala macam profesi
elemen masyarakat hingga organisasi

Padahal pilpres biasa-biasa saja
mereka terlalu membesar-besarkan
sebab siapapun pemenangnya
kita tetap bisa bekerja

Namun tidak saat Pileg
ditambah batuk bahkan demam
buat makan saja tidak enak
apalagi untuk bekerja

WkWKWK, 9 Oktober 2018












 Raeditya Andung Susanto

Curhat

Jadi sebenarnya, saya mau curhat
Ini bukan puisi, sajak atau semacamnya
Ini cuma keluh rakyat biasa
terhadap pemerintahnya

Heran saja sama petinggi yang duduk
manis di senayan atau ibu kota sana
mereka itu gajinya sudah nganu
tapi tetap banyak nganu

Prestasinya ; nganu
Rakyatnya ; tetep nganu
Negaranya ; makin nganu

Bagaimana kalau setelah pelantikan
Presiden tahun depan kita ganti
namanya jadi Dewan Perwakilan Nganu?
Bekasi, 9 Oktober 2018

Raeditya Andung Susanto penulis asal Bumiayu, sedang menempuh pendidikan S1 di Sekolah Tinggi Teknologi di Bekasi. Pernah menjadi Juara 2 LCP tingkat Nasional 2017, Penulis RUAS Indonesia-Malaysia 2017, Antologi Puisi Abu-abu Merah Jambu, Penulis Antologi Wangian Kembang Konferensi Penyair Dunia (KONPEN) 2018, Penulis Antologi Senyuman Lembah Ijen 2018, Indonesia Lucu 2018, Menjemput Rindu Taman Maluku dan masih banyak lagi. Sedang menyiapkan buku pertamanya.