TEKS SULUH


Minggu, 20 Mei 2018

Che Aldo : Satu Bagi Semua

SATU BAGI SEMUA

Jika Tuhan
Memberiku satu
Aku akan
Bagi sepotong,
Jika Tuhan
Memberiku sepotong
Aku akan
Bagi secuil,
Jika Tuhan
Memberiku secuil
Aku akan
Bagi setitik,
Jika Tuhan
Memberiku setitik
Aku akan
Bagi semua.

Atambua,NTT, 2018

Muhammad Afip : Puasa Itu

PUASA ITU

Puasa itu, Kawan
Kau boleh minum dan makan siang
(tempe dan sayur asem di rumah,
atau ayam goreng kriuk di restoran)
Tapi kau tidak lakukan
Semua ditahan dengan senyuman

Puasa itu, Kawan
Kau bebas mengumpat—rerasan
(menggunjing tetangga sebelah,
mencela kerja pemerintah)
Tapi kau tidak lakukan
Kata-kata disepuh jadi cinta dan doa

Puasa itu Kawan !
Aku bisa bunuh dan lukai sesama
(meledakkan bom di keramaian,
merancang fitnah dan kerusuhan)
Tapi Aku tidak lakukan
Kebencianku ditutup kasih-sayang Tuhan

Puasa itu, Kawan
Kau dan Aku
Boleh, bebas dan bisa
Menikmati kedamaian

3 Romadlon 1439 H

Yanu Faoji : Pancaran Makrifat

PANCARAN MAKRIFAT

Dia akan melengkapi angka empat
Pada pilar-pilar yang nyaris tak utuh
Siasat keramat yang turun menuju telinga
Digambarkan pada runcing
Ujung tombak bercabang empat
Yang menyatu setelah kepergiannya
Pada tabligh yang di bisikan gusti
Dan menebar kepada semua gulita
Pada fathonah sebagai mukjizat
Yang melarungkan tuna waca
Merangkul shidiq
Pada setiap hembusan nafas
Dan meniupkan jilat yang melalap
Membasah kuyupkan seluruh tubuh
Dengan amanah yang sampai
Pada telinga dunia
Menjadi pawang tubuh utuh
Menahan nafsu, amarah, prasangka
Dan menjelmakan kebencian
Menjadi abu
Pada angka-angka kalender
Yang menyala hanya sesekali
Pada lingkaran penuh tahunan
Jakarta, 11 April 2018

(SEDEKAH PUISI)

Sinaga Nelson dalam Saksi

Saksi

Semuanya ada ceritanya
Ada dongeng tentang perjalanan
Semuanya tersurat dan tersirat
Suka duka perjalanan
Adalah langkah kaki yg
Sudah di tentukan oleh diri & alam

Apa hendak berkata
Kenyataan adalah saksi
Dan kita sebagai saksi
Semuanya adalah nyata dari Gusti

Apa yg harus terucapkan
Apa yg harus terungkapkan
Apa yg harus terjadi
Apa yg harus jadi pertanggungjawaban

Adalah berkah tersendiri bagi
Yang menjalankan dengan
Kesadaran diri
Bukan membohongi diri sendiri

Sabtu, 19 Mei 2018

Siti Khodijah Nasution : Raibnya Rakaat Sembahyang

Siti Khodijah Nasution



Raibnya Rakaat Sembahyang

Rakaat apa yang terlupakan
hingga kepulan sesaji doa mendahuluinya
'tuk mencecap kata surgawi
Rakaat apa yang termaknakan
pada lungkrah hati masa
Menampiknya
simpan kepakkan maut ragawi
Ah..ah..
Tak kutatap lagi rakaat sembahyang
Penyempurna bertemunya
Hablur!
Dilesap qoid' membuhul liat
Apatah lagi ini sembahyang?
Kususuri lengang jalan
Sendiri...
Jakarta-2018

Shah Ri Zan : KEJAM

Shah Ri Zan



KEJAM



Untuk apa dan atas asbab yang bagaimana?

perlu aku memberi laluan

demi kemustahilan cinta

sedangkan kautahu

takkan sesekali aku mengetuk gencar

pintu kota larangan

biarpun kausemaikan

seluruh keabadian rindumu terhadapku

Perlukah?

kaupetik dengan nama mungkar dan kufur perjanjian sumpahmu yang terdahulu

usah sengaja membuka ketertutupan hatiku yang terkunci beku

kurelakan diri menjadi bisu

walaupun aku sedar

kebersendirian dalam persunyian ini

yang dilimpahi getir hidup seusia hayat

merupakan lembah terasing yang lebih aman

berbanding dari mencuba sedaya asa

mendapatkan kebahagiaan

tiada punya restu

daripada Sang Penguasa di puncak langit

Pengharapanmu kepadaku

takkan kusambut di mercu singgahsana cinta

pengembaraan fikir akalmu

terhadap imaginasi kebersamaan kita

hanya akan memerangkap

ke suatu lembah yang paling hina

apa yang diciptakan

terbentuk dari dusta semata-mata

kemuliaan sepasang genggam tangan kekasih pasti akan berakhir

dengan penyesalan tidak bernoktah

Maka biarkan

semuanya berlalu menjadi simfoni

bersenandung dalam keterlukaan ini

bergumam sunyi

TONGKAT SAKTI

Belantara Konkrit

Semenanjung Tanah Melayu

19 Mei 2018







Chan Chan Parase Dalam Tadarus Puisi Ramadhan 1439 H , DENTING DARI LUBUK LUKA

Chan Chan Parase
DENTING DARI LUBUK LUKA

Lumut menumbuhi paradigmaku
Pada igau peluru hantu
Yang giat sekali memesan target pintu
Dengan menamakan perang terbuka
Hari ini dan hari itu
Benang laba laba membentuk,pada kampung kelahiran
Seperti apa hidup yang ingin dirimu rindu.
Duhai,belati kiriman serdadu kelabang
Aku hingga hari ini tidak mampu menyimak
Dari segala tafsir,gejalanya
Coba kita ambil simpuh,
Dan merenunginya,
Coba harus memakai sifat telaga
Bukan sifat udara di udara,Lihat...
Kedewasaanmu prematur saudaraku.
Kita hanya ikut menglariskan senjata mereka
Mereka kian tertawa
Gembira
Sukaria
Menikmati teater
Yang membuat mereka semakin betah menontonnya
Melihat tokoh ditayangan itu seru sekali
Dan dirimu akan diberi penghargaan sebagai aktor terbaik
Dengan berjanji,belilah senjata kami :
Apa begini yang memberimu berani mati!
Kita kembali sebelum masehi
Perang untuk kafir katamu
Sedang dirimu dalam permainan kafir
Tidak tau menahu
Tela'ah Nabi jadi alasan
Sedangkan yang kafir itu adalah yang menginkari agamanya(tanpa agama) kenapa banyak agama jadi pecundang
Apalagi agamamu agamaku
Yang diangkut kezaman kini
Sungguh naluri sudah merugi
Kenapa kami dijelaskan kebimbangan
Terbawa kebingungan
Keraguan tentang keyakinan diri
Menjadi meminta kematian,
Mata burung gagak mana yang telah memberimu petunjuk akan itu
Apakah memang diharuskan
Bulu bulu sesama burung gagak
Dilanjutkan penuh kepak
Hingga telur dan sarang
Serta pohon tempatmu bernaung dibencikan
Sehingga ditiap titik titik rumput kunimg
Dianggap taik
Aku tidak bisa menjalani puasa jiwa
Maupun taraweh rasa
Bahkan menahan haus dan lapar dada karenamu
Sebab Attahiyatulku sangat tidak wajar kepadamu saudaraku
Batam Island Indonesia 14052018


Rg Bagus Warsono Menanti Tajilmu di Surau Al Ikhlas

Rg Bagus Warsono

Menanti Tajilmu di Surau Al Ikhlas

Dalam penantian anak-anak yatim Al Ikhlas
dengan kopiah yang putihnya memudar
sarung yang penuh jahitan tangan
baju kokomu tampak besar ukurannya
di surau Al Ikhlas menati
magrib menutup lapar
membayang ransum dan kue kotakan
seperti mereka pertontonkan di tv nasional
kapan giliran di surau kami
wajah-wajah manis semakin manis melihat matahari menghilang.
Anak-anak berebut pisang, ubi dan gelas air mineral
dari kemuliaan mereka yang datang
dengan tampah penuh makanan
untuk kiayai merea
untuk anak-anak yatim piatu
di surau itu
makanan disisa
untuk waktu kemudian
terima kasih ridlomu
tangan tangan Allah
dan kami tak mengharap hayal
kacang rebus atau buras
sekadar mengganjal perutnya yang bertulang.
Ramadhan 1439 H


Rabu, 16 Mei 2018

Penggagas L:umbung Puisi Sastrawan Indonesia





Dengan Antologi-antologi Menarik yang diselenggarakan khusus di Lumbung Puisi






Menggali Cerita Rakyat Indramayu






Geliat Penyair Indonesia dan Bincang-bincang Syair dan Penyair


   Sepeninggal HB Jassin, tokoh kurator sekaligus sastrawan kenamaan Indonesia, yang memiliki komitment dalam dunia sastra serta memiliki tanggung jawab yang tinggi akan kesusastraan Indonesia merupakan sosok yang belum ada gantinya. Idealisme yang dimiliki Ia patut menjadi contoh bagi generasi selanjutnya terutama pada bidang kurasinya yang luar biasa. Ia dapat mempertanggungjawabkan segala apa yang ditulis dalam catatan-catatan tulisannya sesuai dengan jiwanya yang kutu buku dan daya ingatnya yang luar biasa. Pantaslah Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin menjadi lembaga panutan dan corong pembenaran sastra Indonesia.

   Kini dunia sastra modern semakin pesat perkembangannya, wajarlah bila dilematika dinamika sastra slalu ada seiring perkembangan itu.

   Penulis mencoba untuk mengetengahkan perkembangan itu meski dalam tataran serendah-rendahnya. Menulis apa yang tahu dan apa yang dilihat dalam kaca mata yang jauh dari apa yang diharapkan. Namun perlu sebuah tulisan untuk diketengahkan dengan maksud berbagi informasi.
   

Kerikil dan Cita-cita, Puisi Rg Bagus Warsono


Rg Bagus Warsono


Kerikil dan Cita-cita

Ketika cita dalam kemuliaan
Dan angan sukses
Layu roda pedati dan liku jalan berlubang
Dan batuan menghadang
Atau reruntuhan cadas
Pedati dan sapi dalam siang malam berjalan
Meski perlahan
Menyingkirkan pohon penghalang, mengeraskan jalan dan membuang batu membahayakan gerobak
Ketika cita dalam kemuliaan
Sekecil lubang penghalang penghalang pedati
Ditutup untuk roda-roda berputar.

Gambar Petani dalam Kalender, puisi Rg Bagus Warsono


Rg Bagus Warsono

Gambar Petani dalam Kalender

Dan anak-anak petani yang rajin
Ingin merubah nasib
Menjadi tentara, guru dan presiden
Aku presidenmu anak seorang petani
Anak petani yang rajin
Sehingga aku mencintai petani
Petani jiwaku
Di sana
Di samping tempat duduk
Ada gambar pak tani dalam kalender
Berotot kuat dengan cangkul dan padi
Baju hitam komboran
Dan ikat kepala
Pilihan gambar kalendermu
Yang dipasang di ruang makan.
Jogyakarta,Maret 2018



Dan Gunung-gunung Berjabat Tangan, Puisi Rg Bagus Warsono

Rg Bagus Warsono

Dan Gunung-gunung  Berjabat Tangan

Untuk apa
menjadi presidenmu kalau tak membangun
agar tak dibilang tertinggal
fisik yang diperlukan
saat dirimu  disebut miskin
Miskin oleh perasaan
Mingkiri dirimu sendiri
Untuk nusantaramu terang benderang
Agar terhubung pulau ke pulau
Agar terdengar bunyi
Geregaji dikikir
Karat di batu asahan
Dan suara gaung palu
Dan air dirindukan petani
Melalui parit meleleh di pematang sawah
Desa ke desa dan gunung-gunung  berjabat tangan
Jogyakarta,Maret 2018

Jumat, 20 April 2018

Geliat Penyair Indonesia, Menembus Cakrawala Pecinta Sastra Indonesia







Kau Menyadari Tapi Kau Melakukan

Demi bumi yang dipijak
Keagungan Tuhan
semakin tua abad
dan takut bumi ini tak memberi
air dan tumbuhan makan
Demi bumi yang dipijak
dengan nafsu yg Kau beri
aku haus ingin segala
mengotori
merusak
menggeragas
menghanguskan
panas.....
gersang bumiku
dalam siang dan malam
bumiku menangis
kau menyadari tapi kau melakukan
merusak bumi kita
(Rg bagus warson0, 20-04-2018)

Senin, 09 April 2018

Dari Antologi Si Bung : Hamangkubowono IX dan Aku


Hamangkubowono IX dan Aku

Hamangkubuwono IX dan Aku bertemu dalam waskita alam masa depan.
Menjadi sahabat dalam cita-cita pribumi
nusantara
raja yang tersisa
menyembunyikan waris tahta
berpakaian gerilya, tentara kita
atau ala perintis merdeka

Hamangkubuwono IX dan aku bertemu dalam bilik kamar markas gerilnya
Pistol kecil dipinggangnya
Tanpa keris nagarunting
Tampa tobak gagak rimang
Yang menggerigisi
Aku mendepa memberi salam
Waris Sutawijaya
Majapahit, Demak , Pajang lalu Mataram
Kau senopati perangku

Hamangkubuwono IX dan aku bertemu di meja tuan-tuan
Jangan memberi hormat padaku tuan
Anak desa putra awam jelata
Dan aku berebut salam
Katanya, Sejak zaman Demak, waris tak pernah sampai
Aku waris bukan pewaris.

Rg Bagus Warsono 1995

Puisi ini ditulis dalam imajener Rg Bagus Wasono: Menceritakan persahabatan Si Bung dan Hamangkubuwono IX. Raja itu sangat rendah hati, kedudukannya yang tinggi dalam budaya Jawa tak pernah ia hiraukan. Istananya ia persilahkan untuk kaum pergerakan, di militer ia berpangkat perwira sama halnya pribumi lain yang memasuki tentara Indonesi. Dan ia rela memberi dorongan kepada Si Bung untuk Nusantara, bukan hanya Yogjakarta tetapi Indonesia yang lebih besar.

Miliki bukunya di Leutika prio







Miliki bukunya di Leutika prio

Kamis, 29 Maret 2018

Ngiris Pilau Jawa karya rg Bagus Warsono


Ngiris Pulau Jawa,

Dan setiap kilometer melewati
aku disapa patok
masih jauhkan kotaku
sudah semakin jauh kota kutinggalkan
sawah menghijau
dan semilir angin lewat
jendela-jendela sepur
Aku benar-benar di Jawa
Dan gunung-gunung berhenti mengeluarkan air, dari mata airmu yang kering
Pohon-pohon jati berubah menjadi puing-puing tiang menyangga layang
daun-daunnya terhampar semen mengering
menjadi batu
dan batu menjadi akik
keras
mengeraskan hatimu
yang membutuhkan air
yang hanya menadahi hujan
setahun sekali
di Jawa,
di tanah yang diiris-iris
Esok tak lihat lagi petani,
Hamparan hanya beton bertulang
Esok tak lihat lagi hijau padi
Hanya burung-burung bermerk Jepang,
Angin tak lagi sepoy, tapi bau petralit terbakar
Sungai hanya mainan
pemborong bermata sipit
Dan danau hanya tipuan pemandangan

Minggu, 25 Maret 2018

Kiat Sukses Menjadi Penyair

Jangan puas dengan prestasi hebatmu, sebab karya agung tak pernah berhenti muncul di dunia sastra.
Penyair harus memiliki jiwa "haus dari kepuasan sementara. Dunia sastra tak berhenti pada karya agung seseorang. Setiap saat karya-karya agung akan muncul dari tangan-tangan penyair/penulidi seluruh dunia. Kepuasan tentu boleh saja tetapi jangan berhenti pada karya itu. Terus menulis dan menulis. Sebab ketika kita menulis di tempat lain banyak orang menulis sama dengan kita. (rg bagus warsono,2018)
Tinggalkan persaingan yg tidak perlu.
Sahabat, seringkali kita hanyut dalam persaingan yang tidak perlu. Kita harus pahami bahwa setiap hati sama memiliki nafsu, apalagi jika pada bidang yang sama. Jika kau alami persaingan di lingkunganmu, atau di daerahmu, segeralah tinggalkan persaingan itu. Sebab didalam hati ada nafsu dan keihlasan, jika timbangannya berat kepada nafsu maka bukan persaingan sehat ujungnya tetapi telah dimasuki syaitan. Tinggalkan hal-hal yang tidak perlu itu. Tetap pada tujuanmu semula. Menulis untuk memberi penyejuk hati manusia dan menulis untuk beramal ilmu dan keindahan. Suatu ketika orang-orang yang menyakitimu akan malu dan kena batunya. Mereka akan kebakaran jenggot melihat prestasimu gemilang, cemerlang. Yakinkan itu.
(rg bagus warsono,2018)
Cemohan atau ejekan itu adalah apresiasi, dari pada tidak mendapat apresiasi.
Apresiasi sangat diharapkan bahkan seburuk apa pun, sebab apresiasi itu buah dari membaca sebua karya tulis. Bodoh saja orang mengapresiasi buruk terhadap karya Denny JA sebab yang dapat untung adalah Denny JA itu sendiri bukan yang mencemoh. Jadi apresiasi apa pun sebetulnya baik buat sebuah karya sastra, hukum di dunia sastrawan adalah siapa yang banyak diperbincangkan adalah siapa yang dikenal, siapa yang banyak disebut adalah siapa yang dikenal. Mungkin saja pada saat tahun 1945 ada penyair lain selain Chair Anwar yang memiliki karya bagus tetapi tidak dikenal banyak orang, karena tulisannya hanya di majalah kecil yang sedikit di baca orang. (rg bagus warsono,2018)

Kepedihan dan kesengsaraan adalah kekebalan fisik dan jiwa.
Pembentukan fisik dan jiwa penyair dibekali juga dengan pengalaman - pengalaman yang penuh tragedi. Meski tidak pada semua orang. Bersyukur aku menjadi guru sekolah dasar. Setidaknya ada buat makan meski pun tutup lubang gali bengawan. Hal pengalaman kesengsaraan bukan barang baru apalagi menghadapi hinaan atau cobaan baru. Sama sekali tidak berpengaruh pada orang -orang yang mengalami pahit getir kehidupan. Begitu pula dalam dunia tulis-menulis, bagiku semua yang terjadi adalah kehendakNya. Dan terbiasa dengan semua kesengsaraan kepedihan termasuk hinaan, aku kini kebal. (rg bagus warsono,2018)

Syukuri apa adanya, Tuhan lebih adil. Ucapkan saja selamat kepada kawanmu yang sukses.
Yakinkan Tuhan itu maha adil. Sebetulnya ketika kita berada dalam kebahagiaan di tempat lain banyak orang yang ditimpa kemalangan. Begitu juga sebaliknya, ketika kita kita dalam kemalangan, ada kesuksesan di tempat lain. Begitu juga ketika diberi anugerah pada masa lalu sebetulnya adalah giliran yang oleh Tuhan diberi lebih dahulu, suatu saat akan mendapat giliran lagi. Tak perlu cemburu atau berkecil hati , yang penting sehat dan kita suatu ketika akan memetik hasil tanaman kita. Tetap bersemangat. (rg bagus warsono, 2018)
Lakukan yang sungguh2 meski di daerah Terpencil.
Sahabat penulis, penyair semuanya, zaman sudah sangat berubah. Dunia seperti semakin terjangkau, Indonesia sendiri sudah semakin jelas terlihat di meja. Dunia informasi semakin canggih. Gambar rumahmu dengan google map dengan titik kordinat tertentu dapat dilihat dari mana saja. Tak perlu berkecil hati sebagai penulis desa. Karyamu dapat menjangkau semua pelosok yang menggunakan internet dan bahkan dunia. Tetap sungguh-sungguh membuat karya yang bagus. Berkarya sastra bukan menjual bakso yang bumbunya itu-itu saja tetapi boleh diolah memenuhi seleraa zaman. Siapa pun akan maju dan bermanfaat meski dari daerah terpencil.
(rg bagus warsono, 2018)

Jumat, 02 Maret 2018

Bintang Penyair Terang


Menentukan siapa Bintang penyair terang dalam arti memiliki karya cemerlang bersinar haruslah meneliti banyak bacaan sastra penyair. Tentu saja ribuan karya bagus setiap hari berseliweran di media net. Dan pasti tak semua terbaca. Metthoda karya bagus bukalah banyaknya klik suka atau komengar dan tanggapan berlimpah. Bintang penyair terang yang tetap bersinar bahkan menembus mendung kabut sastra Indonesia mencomot beberapa penyair yang memang kelihatan tak asing. Winar Ramelan pegiat sastra dari dapur sastra Jakarta, Salman Yoga S dari Aceh justru tak mengikuti pendahulunya LK Ara di sana. Sedang Katrin Bandel yang tak asing dengan keilmuannya tetang sastra Indonesia justru semakin mantap. Sedang Wayan Jengki Sunartapenyair sekaligus seniman Bali ini semakin terang benderang mengokohkan dirinya sebagai penyair kenamaan Indonesia yang mulai dikenal di manca negara.

Evaluasi atas karya bermutu sebetulnya sudah dapat dilakukan oleh anak sekolah menengah pertama. Pilihan-pilihan bacaan untuk kemudian diapresiasikan baik melalui tulisan maupun ungkapan-ungkapan. Terlebih mahasiswa dalam hal ini mahasiswa di jurusan sastra lebih pandai lagi mengapresiasi bahkan menunjukan mana yang yang layak dibaca atau layak dicampakan.
Sementara semakin geli juga jika penulis melihat banyak penyair terus-menerus meributkan genre puisi esai dan atau mengerjakan hal-hal yang justru tak perlu dilakukan seperti menghujat seseorang. Sementara roda semakin cepat berputar dalam cipta puisi modern ini.
Penyair-penyair senior yang mapan telah memiliki masanya tersendiri dalam pencarian jati dirinya sebagai penyair. Jati diri itu adalah kenikmatan yang tak terukur dengan benda maupun rupiah. Pencarian yang telah diketemukannya untuk menjadi penyair yang sebenarnya. Baginya dunia penyair itu seperti itu menurut pribadinya yang merupakan suatu yang telkah dicapai sebuah jati diri kepenyairan .
Karya-karya mereka memiliki grafiknya dalam standarisasi kemapanan yang kadang tak membutuhkan balasan atas karyanya itu, baik dalam ujud benda maupun pujian.

Nilai nilai jati diri itu dan kemapanan dalam dunia kepenyairan telah tampak pada diri penyair Handrawan Nadesul dengan cirinya tersendiri sebagai pembawaannya dalam profesi lainnya sebagai seorang dokter. Kemudian pada Aloysius Slamet Widodo yang telah mantap dengan lekatnya namanya puisi glayengan yang selalu mengundang gemuyu. kemudian pada Eko Tunas dengan cirinya tersendiri, dan nama-nama lain.
Kaca mata penulis tentu yang satu dengan yang lain berbeda. tak usah dihiraukan jika tak berkenan. Seperi juga penyair mencipta, takaran bagus tidaknya tetap pada publik. Kaca mata penulis mungkin dapat ditarik sebagai pembelajaran, tetapi mungkin juga hanyalah oli kotor yang perlu diganti.(rg bagus Warsono 3-3-18)

DEDY DAMHUDI - JATUH CINTA



Nostalgia, Jatuh Cinta Dedy Damhudi

Sesekali lagu-lagu Dedy Damhudi dinyanyikan di RRI lagunya seperti Gubahanku, Merana, Peluklah daku dan lepaskan, di tepi kolam dan cinta di bulan Agustus. Meski radio transistor aku punya tetapi tergantung batu baterainya. Saat itu merk radionya grundik dan batu baterainya merk everedy. Lagu Jatuh Cinta adalah lagu favorietku.
Tentu saja yang pernah mendengarkan lagu Jatuh Cinta yang dibawakan Dedy Damhudi adalah keluarga mereka yang memiliki piringan hitam. Kala itu aku masih kecil, aku hanya mendengarkan di bawah jendela rumah tetangga.
Beruntunglah Pakdeku seorang perwira tentara di Indramayu dan pernah menjadi Dandim Indramayu, Keluaraga mereka punya piringan hitam. Namun koleksi piringan hitammnya kebanyakan lagu-lagu koes bersaudara. Sejak kecil aku suka mendengar musik itu.
Tentu saja aku mengenal berbagai penyanyi pop tahun 60-an seperti Ony Surjuno lewat lagu pesanku atau Sugiman Jahuri dengan bukan aku tak sayang. (rg bagus warsono, 3-3-18)

Sabtu, 24 Februari 2018

Bincang-bincang Syair dan Penyair

Dunia sastrawan sangat menarik untuk disimak sebagai bagian dari masyarakat kita dengan kekhususannya tersendiri yang juga beraneka warna kesan dan keadaan. Sebuah heteronomia diblantika sastra Indonesia. Yang menarik untuk dipelajari.
Buku ini sedikit memberikan gambaran aktifitas sastra di masa setelah apa yang disebut Angkatan 66 sebagai bahan kajian kita semua terlebih bagi generasi muda yang menginginkan melihat perkembangan sastra dewasa ini.
Berisi seluk beluk sastra dan kegiatannya masa kini untuk dapat dipelajari bersama.

BIncang-Bincang Syair dan Penyair
Penulis : Rg Bagus Warsono Editor : Isa Desain : Edi
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang Dilarang memperbanyak atau memindahkan sebagian atau seluruh isi buku ini ke dalam bentuk apa pun, secara elektronis maupun mekanis, tanpa izin tertulis dari penerbit atau penulis. All Rights Reserved
Diterbitkan oleh: Penebar Media Pustaka Alamat : Jl. Samas km 1, Palbapang, Bantul, Bantul, Yogyakarta, 55713. Hp. : 082327654950 E-mail : penebarcom@gmail.com
Katalog Dalam Terbitan (KDT) Rg Bagus Warsono, Bincang-Bincang Syair dan Penyair; Editor: Isa—Cetakan 1—Yogyakarta: Penebar Media Pustaka, 2018 144 hlm; 14 x 20 cm
ISBN: 978-602-5414-