TEKS SULUH


Kamis, 08 Desember 2016

Merenungi Korupsi di Hari Anti Korupsi

Merenungi Korupsi di Hari Anti Korupsi
Besok 9 Desember 2016 adalah hari Anti Korupsi. Bagi penyair yang getol mengkampanyekan anti korupsi seperti para penyair di buku antologi Puisi Menolak Korupsi (PMK) adalah hari dimana penyair 'merenung merenungi Indonesia ini. Meski tak berbuat praktis 'menangkap para koruptor seperti KPK , para penyair PMK telah berbuat untuk Indonesia lebih baik.
Upaya 'ngerem tindakan korupsi lewat sentuhan mental bangsa melalui sastra merupakan sumbangsih besar para penyair PMK terhadap negeri ini.
Roadshoownya yang dimana-mana memberitahukan kepada masyarakat bahwa ada 'perlawanan terhadap korupsi oleh masyarakat yang digelorakan para penyair.
Namun seakan anjing menggonggong kafilah berlalu, korupsi terus saja malah menjadi-jadi. Sebuah tantangan bagi bangsa ini.
Namun ada banyak manfaat dari apa yang digelorakan sahabat penyair PMK bahwa sentuhan mental sebetulnya sama 'tusukannya dengan borgol kepolisian, atau baju KPK atau cindera mata peti mati. Sentuhan mental Anti korupsi ini yang diprakarsai para penyair PMK justru sebuah cara ampuh untuk menolak apa itu korupsi agar mereka malu, dan anti pati terhadap korupsi.
Akhirnya kita berucap terima kasih kepada para penyair PMK dengan motor penggeraknya Leak Sosiawan Leak, Heru Mugiarso dan semua saja yang menyelenggarakan Roadshoow di banyak kabupaten kota di seluruh Indonesia. Semoga di hari Anti Korupsi 9 Desember ini para penyair PMK berbahagia , bahwa telah menoreh sesuatu yang besar untuk negeri. (rg bagus warsono, 8-12-16)


Rabu, 07 Desember 2016

Budaya, Pagirikan Desa Pengrajin Kapal Kayu










 Budaya, Pagirikan Desa Pengrajin Kapal Kayu. Nelayan tapi bukan, Petani juga bukan. Orang Pagirikan tukang membuat perahu.

Aku nahkodai sendiri kapalku

Rg Bagus Warsono

Aku nahkodai sendiri kapalku

Aku nahkodai sendiri kapalku
kapiten terakhir
terus ketengah biru sampai lambung penuh tuna
dan kapiten disambut istri dan anakku dipantai pelelangan
Dengan solar sebulan bercampur keringat bidak kapal
berganti ikan
tarik jaringmu yang sobek oleh sirip cucut
menggelepak digeladag
jangan pancung kepalanya
Mari pulang
aku jurumudi sekaligus kapiten
lepaskan layar
tambah kecepatan mesin
jangan sampai ikan tak segar lagi sampai pantai
Indramayu, 11 September 2015 rgbagus warsono


Time Friends With Nature , Temu Kecil Penyair Pertama di Indonesia


Temu kecil Penyair Nasional yang digagas penyair Rg Bagus Warsono akan digelar di Sanggar sastra Meronte Jaring Indramayu, Temu kecil dihadiri oleh penyair-penyair asal Semarang, Yogyakarta, Tegal, Bandung, Bekasi dan Jakarta. Petemuan yang dinamai Time Friends With Narure ( Sejenak Sahabat bersama Alam) ini merupakan temu kecil penyair pertama yang diadakan Sanggar Sastra Meronte jaring Indramayu asuhan Rg Bagus Warsono. Temu mengagendakan saresehan, baca puisi, dan mancing di sungai ini merupakan ujud nyata penyair dalam mempromosikan budaya daerah Indramayu kepada para penyair / Penulis Indonesia. Kegiatan ini dihadiri oleh belasan penyair nasional . Kegiatan sastra yang dilaksanakan pada 10-11 Desember 2016 adalah kegiatan penyair yang dipadukan dengan budaya setempat dalam hal ini di Indramayu adalah dengan budaya nelayan pantura yang letaknya di Desa karang Song Indramayu.

Time friends with nature


kearifan lokal

Ternyata kearifan lokal banyak sekali sebagai bahan tulisan yang tidak pernah habis untuk terus digali. Hanya terkadang kita tak peduli dengan tempat dimana kita tinggal. Lingkungan sekitar sebetulnya memberi tahu agar kita mampu beradaptasi. Orang terkadang memandang sebelah mata sisi kehidupan masyarakat yang keras karena memang harus mempertahankan hidup, kaena kita tidak menyadari andai seperti mereka masyarakat yang berpengharapan tidak pasti tapi mampu mempertahankan hidup.

Minggu, 04 Desember 2016

Sastra Net, Sebuah Perubahan Pandang



Sastra Net, Sebuah Perubahan Pandang
Melalui mbah google aku dapat membaca karya puisi yang diunggah dari penyair di seluruh pelosok tanah air. Sangat banyak pilihan baca untuk diapresiasi. Pertumbuhan penyair begitu cepat grafiknya dalam 20 tahun terakhir. Sebuah perkembangan yang sangat baik untuk dunia sastra kita. Mengungah karya puisi di internet juga merupakan bentuk pengenalan karya pada publik pembaca dunia maya yang cepat dan mencakup luas jelajah wilayah baca.
Banyak karya puisi bagus dijumpai di mbah google pada websait yang beraneka. Pilihan baca kemudian menjadi kesukaan dan pada gilirannya menjadi fand penyair tertentu . Akhirnya kesejajaran akan tubuh manakala tulisan siapa yang banyak dikunjungi. Kesetaraan penyair akhirnya dapat dikettahui melalui kemajuan teknologi media sosial. Pada saatnya dan kini sudah mulai tampak bahwa buku teah mendapat saingannya yakni media sosial.
Tentu saja masyarakat dalam memilih karya bagus dan penyair dengan karya bagus itu tidak akan meminta jasa lembaga survai. Apalagi sekarang banyak lembaga survai yang dibentuk untuk kepentingan tertentu dan ada juga yang siapa berani membayar tinggi. Masyarakat penguna inernet akan dapat memahami penilaian itu dengan tingkatan pengalaman bacanya.
Akhirnya penyair tak hanya menulis puisi semata, tetapi dituntut penguasaan teknologi internet serta aplikasinya. Sebuah tuntutan kemampuan diri penyair yang sangat penting di zaman teknologi ini. Jika doeloe Chairil Anwar menulis puisi dengan tulis tangan lalu dikirim ke penerbit media masa, maka itu bukan zamannya lagi dilakukan di masa ini.
Tahu tidak? Dari temanku yang ikut pembicaraan-pembicaraan tokoh penyair 'papan atas telah ada kelapangan dada untuk berbuat demokratis dalam pandangan dunia sastra dewasa ini. Mengapa? Mereka ternyata takut kalau sampai tidak disebut oleh penulis-penulis muda berbakat yang tulisannya berserakan di banyak media masa termasuk media sosial. (rg bagus warsono, 11 Nofember 2016)

Istimewanya Puisi

Istimewanya Puisi
Sahabat menanyakan apakah bisa dikategorikan makar? Langsung aku jawab kalau itu puisi : tidak. Karena itu tafsir puisi tidak persis artikel atau surat. Akan tetapi belakangan banyak muncul puisi yang transparan arti hingga membuat pembacanya geleng-geleng kepala. Tetapi pasti ada kecil atau besar arti yang disembunyikan penyairnya. Yaitu sesuatu maksud yang hanya dapat ditafsirkan oleh pencita puisi itu sendiri.
Puisi sindir-menyindir tidak bisa dikatakan makar, misalnya puisi itu menohok seseorang. Yang jadi permasalahan adalah yang membuat puisi itu penyair atau bukan? Kalau ia seorang penyair tentu ia gunakan dengan pilihan kata yang sesuai dengan puisi.
Hal mengenai tafsir puisi, penyair akan dapat lebih cepat memahami arti puisi itu dibanding profesi lain, tetapi hati kecil tak mau mengungkap arti sesunguhnya dikarenakan maksud mungkin penyair membuat puisi itu lain. Di sini letak kekuatan puisi itu.
Tak ada kasus penyair diperkarakan karena menulis puisi. Kecuali penyair itu sudah melakukan tindakan praktis. Sebab sulit puisi menjadi pembuktian. Puisi adalah puisi.
Begitu kuatnya sebuah puisi, sehingga banyak orang berminat berpuisi. Puisi begitu kuat terhadap hantaman atau diterjang tuduhan apa pun. Semua itu tentu saja harus puisi bukan karya tulis lain. Itulah keistimewaan puisi.
Jika puisi itu istimewa berarti puisi itu mahal. Ya, memang demikian, karena puisi sebetulnya melalui tahapan proses yang mahal juga. Mahal di sini apabila mereka mau mengakui bahwa seni itu memiliki proses kelahirannya.
 (rg bagus warsono, 3-12-16)


Rabu, 23 November 2016

MAMA, ADE MAU PERGI JAUH SEKALI KAPAN KITA BERTEMU KEMBALI

MAMA, ADE MAU PERGI JAUH SEKALI
KAPAN KITA BERTEMU KEMBALI

Mama yang sekarang jauh sekali
Tidak lagi Mama memegang tanganku
Ade berjalan seorang diri
Dingin sekali rasanya di sini
Lama tidak melihat Papa
Ade ingin bertemu
Masih lamakah di sini Ade menunggu
Mama datanglah menemani
Ingin seperti dulu
Tidur lagi bersama Mama
Memegang tangan Mama
Ade rindu.
(Membayangkan Aditya terpejam dalam tidur panjangnya seraya masih tersenyum)
HANDRAWAN NADESUL

 Puisi Tragedi, sebuah catatan penyair yang peka terhadap peristiwa / tragedi , yang dianggap peristiwa besar. Penciptanya ( Hans) sangan cepat mencatat/mendokumentasikan dinilai sangat penting bagi peringatan akan bahaya kekerasan dalam rumah tangga. Dalam dunia puisi jauh sebelumnya memang sudah ada seperti peristiwa Ade Irma Suryani yang tertembak juga dibuat puisi. Disinilah letak kepiawaian dan naluri penyair (Hans) yang tidak selalu dimiliki oleh semua penyair.

Minggu, 20 November 2016

Penyair Mancing 11 Desember 2016

Penyair Mancing 11 Desember 2016
Baca puisi Sekeranjang Ikan di perahu nelayan
dalam
Sehari Bersama Penyair Rg Bagus Warsono
Indramayu




Kalian akan diajak memahami makna hidup ini, bagaimana nelayan mengatasi permasalahannya sendiri dengan sabar membetulkan jaring yang sobek, menambal labung kayu yang bocor, menukar ikannya dengan nasi dan rokok, membayar hutangnya ketika memperoleh hasil , hutang tanpa agunan apa pun, dan solidaritas diantara mereka berbagi ikan.

 Hanya saja nelayan tidak dalam kemapuan industri. Kenyataan ikan mereka dibuat sarden, kulit ikan itu dibuat kerupuk dengan kemasan toko, tulang ikannya , sirip ikannya sampai jeroan lainnya dimanfaatkan orang lain menjadi bahan industri yang sangat menguntungkan. Sedang nelayan hanya gigit jari melihat semua itu.

  Sebaliknya nelayan menjadi sasaran (konsumen) besar produk perusahaan industri benang nilon, tambang plastik, alat tangkap ikan (jaring), mesin perahu, sampai alat komunikasi yang nilainya tidak tanggung-tanggung hingga trilyunan rupiah!

Lalu apa hubungannya nelayan dengan penyair? Nelayan itu kuat dan sangat percaya kepada Yang Maha Kuasa, dalam kontek hidup yang tak pasti. Ikan atau pulang hampa. Dan penyair harus kuat seperti nelayan, yang sama-sama memiliki penghasilan yang tak pasti. Ironisnya justru baru saja karyanya dikritik sudah tidak enak badan. Justru kritik menyehatkan, seperti nelayan telanjang dada di terik matahari di tengah lautan.

Membaca puisi di area terbuka tanpa mikrofun, tanpa tenda, tanpa penonton yang undang, dan tanpa malu di depan lalu lalang orang kesibukan nelayan dan masyarakat memiliki kesan tersendiri. Sebuah pengalaman yang tak dapat dilupakan.

Dalam baca puisi di perahu kayu nanti akan dihadirkan Pembaca Puisi Terbaik yang dimiliki Indramayu O.K Hadini.

Penyair Mancing hanya diikuti 10 Penyair yang diundang. 10 Penyair Pinggiran yang memiliki jiwa sederhana karena kegiatannya sederhana.


Penyair Mancing, hanya kegiatan kecil yang tak berarti-apa-apa, namun demikian pasti sukses, karena aku yang menggarapnya sendiri.

Sabtu, 19 November 2016

Puisi Nanang Suryadi

Puisi Nanang Suryadi
sungguh darimu cinta berasal, kepadamu cinta akan kembali
aku terima cintamu seikhlas hatiku, sungguh engkau maha pendengar segala keluh
segala adalah milikmu, segala adalah cintamu, aku berada di dalam rengkuhmu
jika rinduku adalah rindu yang dusta, jika cintaku adalah cinta yang dusta, tapi mengapa debar di jantungku selalu menyebut namamu?
jika mencintaimu adalah ujian, beri aku kesempatan lulus mencintaimu
jika hatiku terus bergalau, adalah ruhmu dalam diriku yang terus menyeru, merindurindu cintamu
sungguh aku teramat lelah, beri diri ketulusan berserah, di dalam pelukmu aku istirah
cintaku teramat rumit, menerjemah cintamu yang sederhana
akulah debu, dan engkau keluasan tak terhingga, aku debu yang tak sanggup menerka rahasia cintamu
berulangkali aku meruntuh, tapi cintamu tetap utuh
aku galau yang meriuh, dan engkau keheningan yang menerima segala aduh
suara suara yang diterbangkan angin, menggema di relung-relung, suara suara yang memanggilimu, rindu
doa-doa yang memenuhi langit bumi, entah berbisik entah memekik, ingin menyibak tabir rahasia: cintamu utuh
wahai, para perindu berbondong-bondong memburu cahaya, dengan sepenuh harap, kau catat: rindu yang bercahaya
karena cinta bersedih jika tanpa balas, maka jangan kau pupus harap perjumpaan denganmu. hidupku fana, tapi cintamu kekal
jangan tolak rindu cintaku, karena tanpa cintamu hidupku akan hampa, tak berarti apa-apa
aku tak akan menyeka airmata tangisku, karena telah menjadi saksi cintamu memang pantas dirindu selalu
aku menulismu dengan huruf besar atau huruf kecil, aku tahu kau tahu seberapa besar rinduku
aku telah luluh, merindumu seluruh, sebagai daun yang luruh tulus mencium bumimu menerima isyarat cintamu penuh
aku dan engkau, perindu dan yang dirindu, saling merindu untuk bertemu, walau tiada jarak cintaku cintamu
jika mata lahirku tak mampu memandang cintamu, mata batinku silau oleh cahaya cintamu. tersungkur aku, gemetar dalam sujudku
duhai, jika puisiku adalah kebohongan, maka telah tersesat aku di lembah kata-kata, mencarimu
aku peminta-minta, mengemis cintamu senantiasa, dan engkau maha kaya
jika aku selalu saja lupa dan melupakan dalam khilaf alpa, maka sungguh engkau tak pernah lupa
sajak sajak berlepasan berhamburan ingin bicara padamu, duhai awal mula kata
kalimat kalimat berlepasan berhamburan ingin bicara padamu, wahai awal mula kata
kata-kata berlepasan berhamburan ingin bicara padamu, wahai asal mula kata
huruf-huruf berlepasan berhamburan, ingin bicara padamu, wahai engkau mula segala mula
dan kesenyapan menyapa, senyap yang melebur segala gaduh ramai dalam diri, hanya airmata duhai kekasih yang dirindu cintanya
sayapsayap cahaya menerang langit cintamu, membuka fajar, harap bertumbuhan sebagai tunas yang menyapa semesta penuh bahagia
sungguh darimu cinta berasal, kepadamu cinta akan kembali
Malang, 2011

BAYANG MIMPI

bayang kenangan menderu
memasuki ruang-ruang kosong dalam dada
sebagai kebahagiaan atau kesedihan
karena masing-masing kita mempunyai masa lalu
sebagai sejarah yang ditulis pada buku waktu
tak usahlah risau membacanya lagi
kenangan, kenyataan serta harapan
adalah milik kita
ia hadir sepanjang usia, rentangan waktu
"namun kau teramat larut pada masalalu,
sebagai kenangan yang memusar,
menenggelamkan dirimu pada kesedihan yang mendalam
sedang masa kini hadir sebagai kenyataan yang tak terelakan
dan masa depan membuka cakrawala harapan"
Malang, 19 Juli 1998

BIAR WAKTU BICARA
tak ada kepastian terucap dari bibir,
angin menerbangkan segala harapan,
juga kerinduan,
pada silam di jenguk kenangan,
dan katamu: biarlah waktu bicara kepada kita
tentang sesuatu itu
Penancangan, 24 Juli 1998


ADA YANG BERCERITA TENTANG MASA LALU
ada yang bercerita tentang masa lalu
dengan air mata
(mengapa lampau juga yang datang kini
mengetuk-ngetuk ingatan pada bayang-bayang?)
dan mata yang bulat itu,
menenggelamkanku
pada cerita
palung terdalam,
sebuah rahasia;
perempuan!
Penancangan, 24 Juli 1998

JANGAN LAGI DISIA
jangan lagi kan disia
sebagai tunas ia simpan harap
kan terus tumbuh
dengan sentuhan perhatian,
siraman kesejukan,
kehangatan kasih sayang
bersemilah hijau daun-daunan
bermekaranlah bunga-bunga
jangan lagi kan disia,
mengulang kesalahan yang sama,
dan sesal akan menikammu juga
Serang- Bandung, 25 Juli 1998


LAGU KENANGAN
lagu yang diputar berulang juga
menyeru-nyeru,
memanggil-manggil kenangan,
dengan jemarinya yang indah,
melambai-lambai,
ditunjuknya lorong-lorong masa lalu
dan kita tergoda untuk sekedar menjenguk
atau berdiam lama disitu,
menikmati kesendirian
lagu mendayu
lagu merayu
ada juga airmata di situ;
sayangku, seberapa rindu kau kepada masa lalu?
Serang-Bandung, 25-28 Juli 1998

SARANGAN
pada telaga yang tenang
terbayang bulan timbul tenggelam
sinarnya keemasan

"pohon cemara di kejauhan serupa raksasa tidur", katamu

dingin hembus angin malam
pegunungan memeluk diriku

air yang tenang
malam yang tenang
purnama berulang terliput awan

"serupa perawan sedang kasmaran," katamu

telaga yang sunyi
hanya kecipak ikan
riak kecil

betapa damai di sini
seperti kurindu
menemu dalam matamu

6 September 1998

MENJUMPAIMU DI SUATU SORE
"tuliskan puisi untukku..."
aku tulis kata-kata. mengalirlah keheningan . mengisi ruang dalam dada.
menyusun mimpi-mimpi. melukis senyum. melukis tatapan.
melukis keramahan.melukis kasih sayang. melukis kebahagiaan.
melukis laut. melukis angin. melukis bianglala.
"tuliskan puisi untukku..."
Malang, 1996

PADA GEMERSIK DAUNAN DITABUH ANGIN
kucari engkau pada keramahan dan kecintaan yang menjelma dari senyuman
dan tatapan manja. pada keheningan semesta. pada gemersik daunan
ditabuh angin. pada embun kesejukan.
inilah jeda itu istirah dari hiruk pikuk yang menikam. kujemput engkau
pada keheningan. dengan senyum bagai embun. membasuh marah yang membakar
dalam dada.
kudirikan cerita di situ. pada padang rumput. pada kerimbunan pohonan
yang menaungi. pada telaga yang kutemukan dalam matamu
engkau yang dilulur angin laut. menari bersama gelombang. burung camar.
perahu-perahu bercadik. menarikan waktu. menuangkan garam pada
kehidupan.

Handrawan Nadesul TENTANG DNP

Handrawan Nadesul TENTANG DNP
Dari Negeri Poci adalah sebuah serial buku antologi puisi yang mencoba merekam jejak kepenyairan para penyair Indonesia dari tahun ke tahun secara lintas generasi, lintas gender dan lintas genre. Buku ini dirintis oleh Komunitas Negeri Poci
, yang terdiri dari; Adri Darmadji Woko, Handrawan Nadesul, Kurniawan Junaedhie, Prijono Tjiptoherijanto, Oei Sien Tjwan, Piek Ardijanto Soeprijadi, Widjati, Rahadi Zakaria, Rita Oetoro, Syarifuddin A.Ch, Dharnoto, B. Priyono Soediono, Eka Budianta, dan Rita Oetoro.
Yang menarik dari terbentuknya Komunitas Negeri Poci adalah sosok Piek Ardijanto Soeprijadi yang pada era 1970-an sudah dikenal luas sebagai penyair yang karyanya dimuat di berbagai media massa nasional. Selain menulis puisi, Piek juga mengulas puisi-puisi para penyair muda yang saat itu tengah semangat-semangatnya berkarya. Mendapatkan respon positif dari seniornya, semangat Adri Darmadji dan kawan-kawan semakin bertambah. Dari komunikasi lewat tulisan itulah, para penyair muda itu akhirnya berhasil menjalin komunikasi secara personal dengan mengadakan pertemuan-pertemuan secara intens dengan Piek Ardijanto. Dalam hubungan itu, Piek lebih diposisikan sebagai guru yang membimbing, memberikan pengarahan kepada para penyair pemula. Secara berkala, para penyair muda itu bertandang ke rumah Piek di Tegal, hanya untuk menjalin silaturahmi dan belajar puisi. Dari intensnya hubungan selama bertahun-tahun dengan Piek, itulah akhirnya muncul gagasan membentuk Komunitas Negeri Poci, dengan menerbitkan antologi puisi dengan judul Dari Negeri Poci, yang diikuti 12 penyair, tahun 1993.
Lahirnya Dari Negeri Poci disambut secara antusias oleh para sastrawan pada saat itu, dan menjadi buah bibir di media massa nasional. Tak pelak, pada tahun berikutnya, 1994, 45 penyair berhimpun dan menerbitkan seri dua dengan judul yang sama, Dari Negeri Poci II. Selanjutnya, jarak antara seri ke-dua dan ke-tiga hanya selisih dua tahun, yaitu 1996. Namun untuk seri ke-empat, rentang jaraknya cukup jauh, yakni 17 tahun, meskipun selama kurun waktu itu Komunitas Negeri Poci masih tetap menjaga komunikasi dengan Piek Ardijanto sampai meninggalnya, tahun 2001.
Peluncuran seri Antologi Penyair Indonesia Dari Negeri Poci dengan subjudul Negeri Abal-abal yang diselenggaraan pada 10 Maret 2013, di Ruang Adipura Kota Tegal menorehkan catatan penting, yaitu diikuti oleh 99 penyair dari berbagai kota di Indonesia, dengan kemasan lux , dengan ketebalan 718 halaman. Hal lain yang tidak mungkin terlupakan oleh para undangan terutama yang hadir dalam acara itu, adalah peristiwa meninggalnya penyair Boedi Ismanto. Dia jatuh kemudian meninggal dunia saat sedang bersiap-siap akan membacakan karya-karyanya di panggung pertunjukan. Acara ini sekaligus menjadi ajang reuni sebagian anggota Komunitas Negeri Poci.
Setahun berikutnya, pada tahun 2014, terbit Dari Negeri Poci 5 dengan subjudul: NEGERI LANGIT, memuat 153 penyair Indonesia.
Peluncurannya, seperti tahun-tahun sebelumnya, diadakan di Tegal, direncanakan berlangsung pada pertengahan Juni 2014. Dan seperti biasa, acara peluncuran akan dihadiri oleh para penyair yang hadir dari seluruh Indonesia.

Seputar Syair dan Penyair

Seputar Syair dan Penyair juga akan mewarnai khasanah buku Indonesia. Kumpulan artikel yang semakit hari semakin tebal, sebetulnya telah siap cetak namun ada dirasa masih kurang mungkin belum seputar itu karena perjalanan masih jauh. Namun buku hendak memutari Syair dan Penyair dewasa ini. Sajian yang khusus untuk memperkaya pemahaman sebagai penyair. Sebuah profesi yang membutuhkan profesional tapi tak menguntungkan dalam segi ekonomi ini.

Penyair Ndeso yang Menasional mendekati tahap selesai.

Penyair Ndeso yang Menasional mendekati tahap selesai. Sebuah buku pengayaan sastra yang dapat memperkaya wawasan dunia sastra kita. Sengaja untuk diketengahkan kepada masyarakat bahwa sastra telah semakin berkembang dengan karya-karya bermutu. Dan kami mendokumentasikannya atas karya itu. Dia bukan orang populair dengan wajah yang dihafal masyarakat tetapi penekanan itu adalah karyanya. Ya karyanya yang berbicara bukan gambarnya. Dan dalam buku ini kami tampilkan perkembangan sastra itu yang justru berasal dari pelosok daerah. Namun demikian ia memberi sentuhan jiwa melalui dunia baca dengan karya bermutu yang layak di nikmati masyarakat Indonesia, karena karyanya yang mengagumkan . Dialah penyair ndeso yang menasional.Dan slalu terus berkembang dan berkembang.Ada sekitar 100 penyair disinggung dalam buku Penyair Ndeso yang Menasional karyaku ini.

Salera , Rg Bagus Warsono


Salera 
 
Salera adalah namamu
sekarang tetap Salera
Kau tak pernah tua
Dengan pahamu yang tak pernah keriput
Dan payudaramu yang tak peot
Tubuhmu Salera mahal
Muda aku merindu
Aku tua kau tetap Salera
Hidup menelan ludah
Dunia cuma lamunan
Kau tak pernah tahu Salera
Ada laki-laki
diantara paha dan payudaramu
(rg bagus warsono)

Jumat, 18 November 2016

Emano Subakto terkoyak mimpi oleh kepalsuanmu

Emano Subakto 
 terkoyak mimpi oleh kepalsuanmu
cermin cintakupun retak
terpaku didinding fatamorgana
lelah jiwaku merajut asa yg sia sia
kini langkahku gontai memulai
mencari harapan dionak berduri
mengapa kau berikan bara ini
disaat bahagia mulai teranyam
cermin cintaku pecah sudah
terhempas dustamu
...........###@galaudimakasar#
 

Emano Subakto , aku marah....

aku marah....
iya aku marah..
aku jenuh....
iya aku memang jenuh
marah pada keangkuhan egomu
yang sekeras batu
jenuh pada nuranimu yang beku
sampai kapan...
ragaku bertahan pada dinding kesabaran
atau kau ingin ragaku kaku terbujur
dingin.....
ahhh...
aku marah......
marah dalam diam.
#jiwa kosong dimakasar#

Arya Setra, Ingin rasanya aku terbang bebas seperti udara,,,,

Ingin rasanya aku terbang bebas seperti udara,,,,
mengalir mengisi sisi-sisi curam seperti air,,,,
bergejolak meletup-letup seperti api,,,
dan selalu merendah di bawah seperti tanah.....
aku sadar,,dan aku merasakan bahwa,,,
udara adalah nafasku
air adalah darahku
api adalah semangatku
dan tanah adalah jasadku
Namun aku merasa malu karena
aku belum bisa seperti udara yang selalu memberikan kehidupan di setiap hembusan nafas,,,,
belum bisa seperti air yang selalu menyejukan setiap dahaga
belum bisa seperti api menyemangati dan selalu berkobar dan tak pernah mati,,,,
belum bisa seperti tanah,,yang selalu merendah, jujur dan tidak pernah berbohong....
Pengakuan-pengakuan menjadikan kesombongan,,
keangkuhan,,,
sehingga lupa akan jati zat yang tersembunyi
tetapi sesungguhnya sangat tampak...
Wahai jati zat yang Maha Sempurna dan Sejati
aku tunduk atas DiriMU dan atas KehendakMU....
Renung Malam
8 oktober 2016

Kang Wildan Chopa Dukun itu tuli

Kang Wildan Chopa
Dukun itu tuli

Setelah menggandakan
Uang ia tidak mampu lagi
Datang kakek tua padanya
Minta di gandakan uang.
Dengan komat dan kamit
Si dukun segera menggandakan
Usia sang kakek menjadi 115 tahun

Lalu datang lagi sang murid
Minta di gandakan istri
Ternya dengan sigap
Dia membunuh sang murid
Karena pendengeranya
Mengatakan.
Tolong jandakan istri ku.
Jakarta 9 oktober 2016

Khaidir Syahriannur Atas nama langit

Khaidir Syahriannur
Atas nama langit
Kau dulang hujan kemasyuran
Musim keemasan megah mega bersemayam
Sedang aku terkapar di bumi
Meludah tak berliur
Pahit tercekik paceklik
Karena kemarau tenggorokan
Dan retak yang menganga
Sepanjang tapak kaki
Sepeninggal cacahan tawa
Disodor kematian
Tak lagi bertunas cula
Buta dan serba terbata
Malampun aku cemas melawatinya
Karena bulan tak ingin berpaling
Dari matahari menggauli siang

Budy Sastra Mata telanjang menyapu pandang melepas jauh hingga kesebrang

Mata telanjang menyapu pandang melepas jauh hingga kesebrang
Namun hanya nampak gelombang yang beriringan menghantam karang
Palingkan mata dalam gelap sekejap pandang
Biarkan pikirkan terbang mengenang
Menyusun tiap bait bayangan
Mengingat smua yang pernah ada sapaan
Kampungku…apa kau masih asri sepi,…sunyi yang slalu menghiasi gelap gulita jalan menatapi
Teman….apa kau masih bersama
Membagi smua seru crita tawa
Bahkan suka dan air mata
Tetangga…apa kau masih apa adanya
Berbagi hati untuk sesama hidup berdampingan
Dalam kerukunan
Orang tua…apa kau rindu diriku sembah bakti doa kupanjatkan smoga sehat dan hidup tenang..