TEKS SULUH


Minggu, 23 Juli 2017

Rasa Sejati

Suatu saat kau akan temukan teman sejati. Teman yang mengerti dalam segala hal tentang dirimu. Untuk memperoleh teman sejati tidak semudah memfilter gabah gabug dalam ayakan. Kau harus mendalami karakter diri dan orang lain. Pada hakekatnya semua manusia normal adalah baik, yang kurang baik itu pandanganmu karena ketidak-cocokan diri dan teman kita sehingga ada perbedaan. Perbedaan itu dikarenakan kurangnya pemahaman lebih dalam. Pada pengenalan yang lebih dalam itu akan ditemukan kesamaan yang dapat membuat ikatan silaturahmi.
Sifat bawaan manusia tersendiri karena sudah kodratnya, dalam kodratnya itu itu saja Allah memberi sifat baik bada setiap hambanya. Permasalahannya sifat baik itu ada yang ditampakkan dan ada yang tak tampak oleh pandanganmu. Berfikir positif agaknya sangat bermanfaat, tetapi itu belum cukup untuk menemukan teman sejati, teman sejati harus memiliki rasa sejati. Dan rasa itu apabila disentuh. Seperti buku Lumbung Puisi Jilid V yang memiliki Rasa Sejati.

Rabu, 12 Juli 2017

Lewat Puisi Rg Bagus Warsono Memperkenalkan Penyair Puspo Endah si Kembang Kantil

Kembang Kantil

Kuncupnya rebutan dan mekarnya ditunggu
semerbak wangi
Semua memandang tak berkedip mata sipit
Kembang kantil di taman
Cempaka putih milik pangeran
kecil dicari menari
besar ditunggu menanti
wangi kantil wangi dirimu sejati
menutup sari kelopak putih
kau berada diatas puja
kuncup berguna mekar menawan
cantik nian kantin mekar
habis kata memujimu
kau memang menggoda mata capung
(rg bagus warsono)

Memperkenalkan Puspo Endah, penyair Kediri si Kembang Kantil


Senin, 10 Juli 2017

Baca Puisi Sebagai Intertainment

Musikalisasi

Musikalisasi puisi tidak digarap asal bunyi. Beberapa penyair terkenal justru menginginkan paduan musik yang relefan dengan isi syair puisi. Aransemen musik untuk musikalisasi puisi digarap dengan sungguh-sungguh sehingga mengahasilkan musikalisasi yang bagus dan memberi nuansa intertaint pada baca puisi. 


Di Semarang kita mengenal Agus Ayah Satria seorang musisi yang sering membawakan musikalisasi puisi untuk pembacaan puisi-puisi oleh penyair terkenal. Di Tegal kita juga mengenal Joshua Igho. Sedang di Bandung ada Dodo Lantang adalah juga seorang seniman panggung yang juga sering menampilkan musikalisasi puisi. 


(bersambung)

Minggu, 09 Juli 2017

Baca Puisi Sebagai Intertainment





Musikalisasi

Musikalisasi puisi menjadi daya terik tersendiri bagi penonton. Penonton disuguhkan penampilan yang tidak menjenuhkan. Musik memberi nuansa lain dalam baca puisi. Sedangkan pembaca puisi menempatkan musik sebagai pememperjelas isi puisi agar dapat diapresiasi dengan mudah.

Musikalisasi pun menggunakan berbagai jenis alat musik yang cocok dengan karakter puisi dan pembacanya. Diantara alat musik yang pernah digunakan itu seperti gitar klasik, organ, seperangkat alat musik band, seperangkat gamelan, tifa, bedug, seperangkat musik angklung, kecapi, dan suling.

Tokoh-tokoh penyair pun banyak yang membaca puisi dengan diiringi musik. Juga ada tokoh musik yang mengaransement musik untuk khusus mengiringi baca puisi. Solo, Jogyakarta dan Bali adalah tempat dimana sejak lama banyak ditampilkan musikalisasi puisi . Tokoh penyair Sosiawan Leak yang juga piawai memainkan alat musik juga dikenal dengan musikalisasi puisinya.

Penulis pun mencatat penyair-penyair muda berbakat yang kerap membaca puisi dengan musikalisasi. (bersambung)

Jumat, 07 Juli 2017

Baca Puisi Sebagai Intertainment

Musikalisasi

Musikalisasi pun akhirnya menjadi rancu pengertian, seperi musikalisasi yang dibawakan oleh Ari Reda (Ari Malibu dan Reda Gaudiamo) pasangan duet musikalisasi ternama saat ini. Ari Reda dalam musikalisasinya seperti menyanyi atau puisi yang dinyanyikan. Ari Reda dalam musikalisasinya sering membawakan puisi-puisi penyair terkenal seperti karya-karya Sapardi Djoko Damono, Toto Sudarto Bachtiar , Gunawan Muhammad dsb.
Ari Reda pun meluncurkan album musikalisasi. Musikalisasi berbirama ini mendukung puisi sebagai intertain Baca Puisi.

Jika puisi dinyanyikan seperti oleh Ari Reda maka puisi itu menjadi syair lagu. Hal demikian ini, tentu untuk menjaga hak cipta birama itu puisi harus dinotasi irama-kan seperti apa yang dilakukan Ebiet G Ade, meskipun hak pencipta syairnya apa pada penyair yang mencipta puisi.



Sekali lagi penulis tidak memperdebatkan tentang musikalisasi, Tetapi upaya-upaya agar puisi menjadi industri kreatif ternyata mampu dijual di masyarakat. Contoh apa yang dilakukan oleh Ari Reda merupakan langkah maju untuk mempopulairkan puisi.Sayang, Ari Reda hanya membawakan puisi-puisi pernyair terkenal saja dalam setiap penampilannya.

( rg bagus warsono bersambung)

Kamis, 06 Juli 2017

Baca Puisi Sebagai Intertainment

Musikalisasi Puisi

Tak dapat dipungkiri pementasan musikalisasi puisi tak lepas dari Sastra Reboan di Waroeng Apresiasi, Bulungan Jakarta. Aloysius Slamet Widodo, Budhis Setyawan adalah penyair-penyair yang memberi nafas puisi dengan musikalisasi. Di warung Apresiasi ini sering ditampilkan musikalisasi puisi. Kemudian di Tembi, Bantul Yogyakarta oleh Norbertus Nuranto memberi nafas hidup puisi dengan musikalisasi puisi. Kemudian di Saung Sastra Kalimalang Bekasi oleh Ane Matahari. Musikalisasi puisi juga dihidupkan oleh Taman Ismail Marzuki yang sering mengadakan acara musikalisasi baca puisi.

Musikalisasi puisi banyak di tampilkan di kantong-kantong komunitas penyair di Indonesia seperti di Yogyakarta, Malang, Tegal, Lampung, sampai Aceh.




(Bersambung)

Rabu, 05 Juli 2017

Baca Puisi Sebagai Intertaintment

Baca Puisi Sebagai Intertaintment

Musikalisasi Puisi,

Terlepas batasan musikalisasi puisi yang banyak pendapat itu, baiklah kita mengacu pada badan bahasa Kemendikbud yakni Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud yang pernah dan hampir setiap tahun menyelenggarakan Festival Musikalisasi Puisi pada jenjang Pendidikan Menengah melalui Badan Bahasa di setiap propinsi. Baca Puisi yang dimaksud musikalisasi adalah Membaca Puisi dengan diiringi musik puisi dengan kreatifitasnya. Jadi Musikalisasi dalam hal ini adalah baca puisi dengan diiringi musik puisi yang bermacam-macam. Tentu saja musik yang menyesuaikan diri dengan isi puisi tergantung dari kreator dalam penampilan baca puisi itu.

(bersambung)


Sabtu, 01 Juli 2017

Baca Puisi Sebagai Intertainment

Baca Puisi Sebagai Intertainment

Baca puisi sebagai industri kreatif sebetulnya sudah dimulai sejak masa Rendra. Baca puisi telah dimulai dengan penampilan profesional. Peng-acara baca puisi pada saat itu telah memberi penghargaan tersendiri si pembaca puisi sebagai penampilan profesional. Kini Mereka yang dihargai baca puisi dengan penampilan profesional adalah mereka yang memiliki pengakuan nasional masyarakat luas. Kebanyakan mereka adalah tokoh-tokoh penyair yang telah memiliki nama besar dengan karya besar yang diakui masyarakat.

Menuju ke arah seperti itu tentu harus melalui tahapan-tahapan dengan berkarya sastra yang unggul yang pada gilirannya penciptanya mengenyam nama besar itu seiring karya mereka.
Namun demikian penulis melihat kesungguhan pembaca-pembaca puisi untuk tampil maksimal dan berhasil merebut hati pemirsa. Karena ada sesuatu yang baru dibawakannya, sesuatu yang menarik, sesuatu yang menji fokus perhatian dalam sebuah acara. Fokus panggung karena seseutu yang beda dari yang lain, seperti diutarakan pada awal-awal tulisan ini. Pembaca-pembaca puisi berhasil merebut hati penonton karena penampilannya yang khas baik khas dalam membaca puisi maupun ke khasan dalam penampilannya.




















Demikian ke-khasan dalam membaca puisi menjadi daya tarik tersendiri. Ke-khas-an baik dalam membawakan baca puisi maupun penampilan panggungnya menjadi perhatian tersendiri bagi penontonnya. Apresiasi pun akhirnya begitu banyak dari penonton. Sebut saja mereka itu adalah Cok Sawitri, Zubaidah Djohar, Dhenok Kristianti, Sulis BambangNi Putu Putri Suastini, Djoko Pinurbo, Dee Lestari, Nurochman Sudibyo, Wage Tegoeh WijonoThomas Haryanto SoekiranTan Lioe Ie, Aming Aminudin, Timur Sinar Suprabana dll , adalah pembaca-pembaca puisi yang memiliki ke-khas-an dalam penampilannya.
(bersambung)

Baca Puisi Sebagai Intertainment

Baca Puisi Sebagai Intertainment

Bicara panggung adalah bicara seni dan seniman. Estetika yang luas tentang tanggapan terhadap seni itu dan keindahan. 'Panggung yang monoton menjadi bosan, penonton perlu suguhan yang baru, sebaliknya yang ditonton juga selalu memberi inovasi agar tidak membosankan. Baca puisi adalah juga seni, seni membaca, dan seni si pembaca. Penampilan yang menarik membuat ketertarikan penonton terhadap apa yang ditampilkan.

Mempersiapkan diri untuk tampil merupakan penghargaan terhadap panggung. Dalam hal membaca puisi, tidak semata-mata tidak berarti melulu membaca puisi dengan penghayatan isi tetapi juga bagaimana memberi 'kesan pada penonton yang akhirnya diharapkan mendapat apresiasi tinggi.
(bersambung)

Baca Puisi Sebagai Intertainment

Mengemas seni pertunjukan adalah mengemas 'panggung. Panggung dalam pengertian luas, yakni mengemas acara, mengemas panggung, mengemas diri, dan mengemas promosi panggung. Banyak yang terabaikan dalam baca puisi, sehingga daya tarik akhirnya tertuju pada personal si pembaca puisi. Namun demikian banyak tokoh-tokoh pembaca puisi yang hanya mengandalkan ketokohannya sehingga penampilannya meski tanpa dukungan 'panggung dalam arti luas dan tampil seadanya tetap mendapat apresiasi yang tinggi dari penonton sebut saja Sosiawan Leak, Ratna M Rochiman, Zaeni Boli, Fransiska Ambar Kristyani, Dyah Setyawati, Ahmadun Yosi Herfanda, Raudal Tanjung Banua, Radhar Panca Dahana, Toto St Radik, Chairil Gibran Ramadhan, Gola Gong, Sitok SrengengeFull, Isbedy ZS Stiawan, Dorethea Rosia Herliany, Leon Agusta, Saut Simorang, Eko Tunas, Abdul Hadi WM dan lain-lain , mereka baca puisi apa adanya dan tidak dibuat-buat tetapi selalu mendapat perhatian penonton dan apresiasi penuh. Hal demikian karena memang mereka telah profesional dalam membaca puisi.
(bersambung)

Jumat, 30 Juni 2017

Baca Puisi Sebagai Intertainment

Menghargai Orang Lain Tampil

Mengangkat baca puisi sebagai seni pertunjukan diperlukan evaluasi-evaluasi untuk melihat seberat apa baca puisi dapat diangkat sebagai industri kreatif.
Ketika sebuah event sastra dengan mengundang para penyair yang diselenggarakan sebuah komunitas atau acara tertentu
di agenda acaranya terdapat sesien setiap peserta membaca puisi. Membaca puisi seperti ini, penulis tidak dapat menyimpulkan siapa diantara mereka yang memiliki talenta panggung dengan memiliki nilai jual yang mengundang apresiasi tinggi dari penonton.

Kurangnya apresiasi tersebut dikarenakan peserta adalah pelaku baca puisi itu, sehingga dalam memberi apresiasi pada si pembaca puisi terganggu oleh persiapan dirinya tampil.
Kebiasaan buruk pun terjadi manakala kurang menghargaai apabila ada yang tampil, peserta atau penonton yang ada di ruang itu justru malah asyik ngobrol sendiri. Di luar negeri, Amerika misalnya, penonton itu menghargai siapa yang lagi bicara di panggung, siapa yang lagi tampil di panggung. Dan bukan hal aneh bila banyak acara yang dihadiri tetapi tidak memberi apresiasi pada yang mendapat giliran tampil. Bukti lain kebiasaan ini pada acara-acara seminar dimana pembicara asyik ngomong sendiri dan peserta asyik iseng sendiri. Dan dapat dibayangkan apabila yang tengah berbicara itu kurang menarik.

Pengecualian dalam event lomba baca puisi, penampilan baca puisi lebih dari 20 peserta dalam acara khusus baca puisi tentu tidak sepenuhnya dapat mengapresiasi semua penampilan. Kendalanya masih pada kurangnya menghargai orang lain tampil. Oleh karena itu perlu dievaluasi bagaimana agar khalayak pemirsa tertarik dengan baca puisi baik pembacanya, maupun puisi yang dibawakannya.


Pembaca puisi yang berhasil adalah mereka yang telah memahami dunia panggung. Tak sedikit pembaca puisi yang dinanti tampil karena kepiawaiannya membaca puisi. Apresiasi pun akhirnya banyak dioperoleh dari penonton. Sebut saja misalnya Wayan Jengki Sunarta dan Rusmini adalah pembaca puisi yang menjadikan dirinya bintang di setiap penampilannya.