TEKS SULUH


Tampilkan postingan dengan label sorotan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sorotan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 30 Juli 2016

Cerita itu Hidup Kembali



Cerita itu Hidup Kembali

Puisi mengisahkan kembali seolah cerita masa lalu yang melegenda menjadi kenyataan di masa sekarang. Kehidupan manusia yang seakan mengulang masa lalu. Betul banyak orang mengatakan bahwa 'sejarah akan terulang , puisi pun memberikan gambaran itu.

Kiranya sah-sah saja mengambil tokoh cerita masa lalu untuk memotret kehidupan masa kini. Perumpamaan itu dikemas apaik dalam puisi . Memang banyak penyair mengambil tokoh masa lalu menjadi puisi. Namun demikian apa yang akan dipesankan penyair.

Gunoto Saparie-lah penyairnya yang membuat puisi dengan meminjam tokoh cerita. Tetapi tidak menceritakan tokoh itu namun memberikan gambaran bahwa seolah hidup kembali dalam suasana yang berbeda.


BETIS
Gunoto Saparie
tak malam tak siang
ken arok hanya terbayang
betis, betis, dan betis
punya si jelita ken dedes
tak petang tak subuh
ken arok risau dan resah
bergolak nafsu keserakahan
bermula dari betis menawan
tak rindu tak dendam
ken arok abai sembahyang
di tangannya sebilah keris
darah menetes karena betis
tak malam, wahai, tak siang
ken arok hanya terbayang
betis penuh pesona bintang
terkapar gandring dan ametung

2009


Dalam puisi yang lain Gunoto Saparie juga meminjam nama Ranggawarsita, ia menggarisbawahi ramalan-ramalan Ranggawarsita itu dalam kemasan puisi yang apik, berikut cuplikannya:

RANGGAWARSITA

sebentar lagi mungkin maut tiba
tiada lagi masa kegelapan dunia
dan terhindar dari zaman edan
o, masa kelam penuh kekacauan
tapi mengapakah harus berduka?
sebentar lagi mungkin maut tiba
ke manakah kucari jalan keselamatan?
ketika raja terjebak di lembah kesesatan
yen ora ngedan ora keduman?
korupsi dari dulu memang merajalela
sebentar lagi mungkin maut tiba
kuramal hari dan tanggal kematianku
kutinggal raja kehilangan waskita
kutangisi rakyat peka sasmita
o, mengapakah alpa isyarat kalatida?


*) GUNOTO SAPARIE lahir di Kendal, 22 Desember 1955. Menulis puisi, cerita pendek, esai, artikel, dan novel. Aktif dalam berbagai organisasi, antara lain sebagai Sekretaris Dewan Kesenian Jawa Tengah.






Senin, 18 Juli 2016

Dialektika Cinta

Cinta adalah puja-puja , pria atau sebaliknya. Cerita-cerita cinta memang segudang buku dari seribu pujangga seakan tiada habisnya digali dari sumur yang kering sekalipun. Puja-puja adalah hal yang wajar dari pemilik cinta. Tetapi kadang nyaris tiada diabai karena tidak mendapat kesamaan pandang.
Puisi-puisi itu seakan warna dari sejenis yang diungkapkan berbeda namun tetap memiliki kekhasan dari penyair ini. Dia potret semua perilaku perempuan dengan kekaguman dari kodratnya yang lemah namun tangguh dan slalu menjadi pelajaran bagi perempuan dan cermin bagi laki-laki.

Puisi ini seperi rindu yang tercecer namun sangat apik kemasannya. Penyair yang memiliki kepiawaian olah pilihan kata. Sehingga rindu yang tercecer itu mampu dijadikan sebuah syair tersendiri yang mampu mengajak dialektika pada pembacanya.

Bicara cinta tanyalah pada Ratna Ayu Budhiarti, penyair yang dapat memberi rasa cinta dengan segala problema yang ada:
Berikut karya penyair cantik ini :

Ratna Ayu Budhiarti dalam :
MATILAH KAU DI DADAKU
matilah kau!
oleh kerinduan yang kuoleskan pada pisau
yang bersarang di dadamu
matilah kau!
oleh kehangatan yang terlambat kau tambat
tanpa sempat menuju dermaga
tempat kita bermain-main dan bertukar kisah
sambil mengulum manis kembang gula bersamaan
matilah kau!
di sudut kerling pecintamu yang kau sembunyikan
pada jarak yang berabad
matilah kau!
ditikam sepi dan rindu berkali-kali.
2012

Menuangkan Sejarah di atas Puisi

Puisi juga adalah penerang sejarah yang punah. Pengarangnya ingin agar generasi selanjutnya memahami sejarah masa lalu di negerinya, di daerahnya, atau di desanya. Ia angkat kembali sepanjang ia ketahui agar dapat abadi. Tentu saja dalam bahasa penyair yang dituangkan dalam puisi.

Bahasa penyair adalah bahasa khas penyair itu. Rangkaian kalimat adalah rangkaian hati penyair yang bersih. Sejarah ketengahkan dalam puisi agar mudah dipahami generasi. Sebuah penyelamatan cerita lewat syair.

Anda pernah membaca Syekh Siti Jenar karya Saini KM? Maka jangan lewatkan membaca karya Tajuddinnoor Ganie . Sebuah karya membagi cerita bagi generasi ini. Bentuk syair itu yang menjadi beda. Agar generasi muda menjadi suka. Tentu ini menjadi istimewa manakala putera memahami masa lalu.

Berikut puisi Tajuddinnoor Ganie itu

Perang Banjar

1596
Cornelis de Houtman
seorang nakhoda Belanda
tiba di Banten mencari lada di pasar bebas
Tapi, gulden Belanda tak laku di Banten
Tak ada pedagang lada
yang mau berdagang dengan mereka
Cornelis de Houtman menjadi murka karenanya.
Kalau begitu, kita rampok saja lada mereka!
Malam, ketika bulan sabit
menyipit di langit Banten
Anak buah Cornelis de Houtman
menyerbu masuk ke sebuah kapal besar
yang sarat dengan muatan lada
Pemiliknya, seorang saudagar Banjar
tak bisa berbuat apa-apa
kecuali mengelus dada
menerima nasib yang buruk.
7 Juni 1607
Koopman Cillis Michelszoon
nakhoda Belanda yang lain
tanpa singgah di Banten
langsung datang ke Banjarmasin.
Aku, Koopman Cillis Michelszoon
datang ke mari sebagai pedagang
Aku orang Belanda
tapi bukan Cornelis de Houtman
Aku bukan perampok
Aku datang ke Banjarmasin
ingin berdagang dengan semangat
saling menguntungkan
Anak saudagar Banjar yang dulu
menjadi korban perampokan
Cornelis de Houtman
juga datang ke pelabuhan
menyambut mesra kedatangan
Koopman Cillis Michelszoon.
Selamat datang di Tanah Banjar
Kisah lama yang kusam
sudah lama aku lupakan”
Tapi, entah bagaimana cerita persisnya
Setelah mereka bersukaria
semalam suntuk bercandaria
Besok pagi terbetik berita
Koopman Cillis Michelszoon
dan semua awak kapalnya
tewas terbunuh bergelimpangan
sebagai korban pembunuhan.
1612
Subuh ketika bulan sabit
mengintip di langit Tanah Banjar
kapal perang Belanda tiba-tiba merapat
ke pulau Kembang, Dari kejauhan mereka
menembaki para pedagang
di pasar terapung muara Kuin
Para pedagang kocar-kacir dibuatnya.
1626
Lada yang panas membuat Belanda tak kenal jera
Kali ini mereka datang dengan kapal Doon
Aneh tapi nyata, niaga lada
kali ini berlangsung mulus
tak ada pistol meletus
tak ada mandau terhunus.
1634
Siang, ketika matahari
mengelupas kulit ari.
Coysbert van Loudestega
datang membawa armada Belanda
Kali ini mereka datang bukan untuk berdagang
tapi untuk mendiktekan kehendak berkuasa
atas monopoli perdagangan lada.
1635
Suksesi yang ricuh di Kerajaan Banjar
memberi peluang bagi masuknya
pengaruh Belanda dalam kancah politik
antarbangsawan Banjar
Ketika yang menang adalah raja Banjar
yang dibantu Belanda, maka terbukalah jalan
untuk menjajah Tanah Banjar.
Diplomasi hutang budi yang mencuat
dalam kemelut yang disulut intrik politik
pecah belah dan hancurkan
membuat raja Banjar yang dibantu Belanda
tak kuasa menolak apapun kehendak
yang didiktekan Belanda.
Mula-mula monopoli perdagangan lada
lalu erakan kerja paksa membangun jalan raya
dan yang paling celaka Belanda
akhirnya juga bisa mendiktekan suksesi.
1 November 1857
Sultan Adam yang mangkat
meninggalkan wasiat keramat
bahwa cucunya Pangeran Hidayatullah
harus dirajakan
Tapi Belanda tak pernah peduli pada
wasiat keramat dan kehendak rakyat.
3 November 1857
Residen Belanda dengan paksa
menobatkan raja boneka Pangeran Tamjid Dillah.
Pangeran Antasari, seorang bangsawan Banjar
tubuhnya gemetar menahan marah.
Ini penghinaan yang tiada tara
bagi kedaulatan Kerajaan Banjar
Orang Belanda sudah terlalu jauh
ikut campur dalam urusan pribadi tanah air kita
Suka atau tidak suka,
masalah suksesi adalah hak
yang paling pribadi dari seorang Raja Banjar
Pangeran Hidayatullah harus dirajakan
barang siapa berani melanggar wasiat itu
terkutuklah dia tujuh turunan.
Hai, rakyat Banjar yang cinta
dan setia pada tanah air tercinta
Ikutlah bersamaku dalam
barisan perang melawan penjajah Belanda
Kita bentuk barisan jihad fii sabilillah
Kita usir Belanda dari Tanah Banjar tercinta.
28 April 1859
Pecahlah Perang Banjar yang dahsyad itu
Seruan jihad Pangeran Antasari
bergema ke mana-mana
disambut di mana-mana
Bergema di Banua Ampat
disambut Temenggung Jalil
Bergema di Margasari
disambut Aling dan Sambang
Dari Margasari mereka berjalan kaki
menyerbu Gunung Jabuk
perkebunan karet milik Belanda.
Bergema di Amandit
disambut Temenggung Antaluddin
dan Panglima Cakrawati
Dari Amandit mereka
berjalan kaki menuju Tambai
menggempur habis pasukan Belanda
yang berjaga di sana.
Bergema di Tanah Laut
disambut Haji Buyasin dan Pembekal Bungur
Di sini mereka menyerbu masuk ke Benteng Tabonio.
Bergema di Tanah Barito
disambut Temenggung Surapati
Di Lontotur mereka berjaya
mencegat kapal Onrust Belanda
Semua awak kapalnya dibantai
dan kapalnya ditenggelamkan
ke dasar sungai Barito.
Bergema di Tanah Kahayan
disambut Mangkusari
Bergema di Tanah Kapuas
disambut Singapati
Perang Banjar
Perang yang dahsyad
Haram manyarah
Pantang mundur
Waja sampai ka puting
Perang Banjar
Perang yang dahsyad
Haram manyarah
Kukuh teguh hingga merdeka
Waja sampai ka putting
Banjarmasin, 5 Agustus 1995

Minggu, 17 Juli 2016

Pandai Menjadi Puisi


Mari kita lihat penyair dengan imajenasi tinggi. Ia bisa menjadi apa saja seperti apa yang dilakukan chairil Anwar. Ia menjadikan dirinya sosok tokoh yang dicipta. Imajenasi yang tinggi membuatnya mampu dirinya masuk kedalam jiwa puisi itu. Sebuah puisi imajener.

Sebelumnya mari kita cermati Kepiawaian Chairil dalam Mencipta puisi. Demikian hebatnya Chairil menjadi Prajurit Jaga Malam, Chairil tak bicara rokok atau kopi penahan kantuk, tak bicara nyamuk , kelelawar ddan embun dini hari. Chairil pandai menjadi puisi, menjadi dirinya seorang prajurit jaga malam, menusuk pikiran si penjaga malam, dan bersembunyi di hati dalam dada prajurit jaga malam. Chairil memang jempolan. (rg bagus warsono 23-8-15)

berikut puisinya:

Prajurit Jaga Malam.
Chairi Anwar.

Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu ?
Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras,
bermata tajam
Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya
kepastian ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini
Aku suka pada mereka yang berani hidup
Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam
Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu!

Apa yang dilakukan Chairil itu penyair kita mampu menjadi diri puisi itu. Berikut sebuah puisi karya penyair kita yang mampu menjadikan puisi imajener. Dia adalah tak lain Cok Sawitri yang menulis tentang Namaku Dirah.

Berikut Cok Sawitri:
. Namaku Dirah

ketika wanita menjadi janda
mulailah sudah prasangka
melucuti kemurnian rahim
rumah-rumah menanam pandan di pintu-pintu
anak-anak menutup lubang pusar
lelaki menggosok-gosok kumisnya
namaku dirah
aku cangkul tubuhku
hujan telah mengirim hati dan jantung ke tanah
sedang harapan ada di luar kenyataan hidup
pagi itu aku bertanya pada diri: raja mana itu!
Kematian suamiku menjadi aniaya
kesendirian ini menjadi kamar hukuman
tetapi apa kesalahan anakku
namaku dirah
aku hanya seorang janda
sia-sia bila kukirim pertanyaan: apa salahku?kekuasaan telah menasibkan kekhawatiran
tembok-tembok tingii
penjaga-penjaga yang tak lagi miliki mata
siang malam membisukan
Siapa saja yang hendak bicara
apa pun namanya yang dipagari
berlapis-lapis benteng
berbulan-bulan pesta upacara
disuburkan sumpah dan janji kesetiaan
terusik bisikku: namaku dirah
tanah yang telah berakar-buah
siapa diterjang seribu anak panah
tubuh ramping berbalut kain putih itu
luruh tersangga batang pohon kepah
matanya memancarkan hati yang bebas
ketika tubuhnya merosot ke bawah
rumput-rumput menegak menyediakan dirinya
menanti kedatangan tubuh ibunya
namaku dirah
dengan darah usus di leher aku menari sepuas hati
kepedihan ini
kemarin di tengah malam
aku sejenak merasa takut
kandung telurku diserang usikan dingin
menisik bayang ayahmu
andai dia masih
kecengengan senantiasa
menawarkan riwayat luka
aku cangkul tubuhku
kerna namaku dirah
ribuan prajurit terpuruk
membelalak menyambut kematian
seperti tak percaya
kekuasaan tidak melindungi nyawanya
selembar kain putih
leher berkalung usus
rambut gimbal bau amis darah
sampaikan:
semua benteng memiliki celah
begitupun keangkuhan
tak kecuali kekuasaan retak
oleh lirik mataku
kerna namaku dirah
hanya seorang janda
bukan tubuh di atas tahta
di mana senjata adalah kaumnya
1997

Sabtu, 16 Juli 2016

Puisi dengan Magnet Baca


   Bagaimana memilih dan membaca puisi dibanyak pilihan buku atau bacaan adalah selera pembaca. Tetapi kenapa di perpustakaan terdapat buku dengan catatan terbanyak dibaca. Kemudian di toko buku didapati buku laris, di percetakan terdapat buku berulang-ulang dicetak. Jika demikian ada selera umum yang sama pada pembaca, atau memang buku atau puisi itu memiliki magnet baca.

Jika memang pilhan puisi terbanyak dibaca adalah selera, maka banyak faktor yang mempengaruhi selera itu, misalnya usia, kebiasaan, kemampuan intelektual dan daya seni seseorang. Di sini berarti kemungkinan sama seleranya mungkin ada namun tidaklah mungkin dalam satu kota memiliki selera yang sama apalagi banyak pilihan baca. Karena itu puisi dengan magnet baca lebih mampu memiliki pancaran baca tinggi ketimbang berkemungkinan 5 orang memiliki selera sama menyukai 1 puisi tertentu.

Lalu apakah puisi pendek atau panjang yang digemari, jawabnya adalah tidak mesti. Puisi pendek dengan dua bait misalnya atau puisi panjang bak paparan cerita dengan banyak bait yang tiap baitnya juga berisi baris lebih dari 4 baris sama-sama memiliki magnet baca. Kekuatan magnet baca itu tergantung dari kemasan sang penyair mengemas puisi itu. Dimulai dari judul, kalimat baris pertama atau bait pertama dan seterusnya yang memiliki kekuatan magnet baca unuk selanjutnya pembaca dapat mengapresiasi puisi itu.

Suguhan kata dan kalimat dengan rangkaian yang apik sebuah kemasan puisi yang dilahirkan dari tangan-tangan penyair apakah menggoda untuk dibaca atau tidak. Bukan pula dari kemunculan kata-kata baru yang kadang salah penempatan. Itulah kepiawaian seorang penyair dengan karya yang menggerigisi yang mampu menembus hati pembacanya. Bukti itu kita simak karya penyair Toto St Radik, judulnya Indonesia pada Sebuah Malam. Judul ini bukan kata baru pada saat puisi dibuat. Kata 'Indonesia, 'Sebuah, dan Malam adalah kata umum yang sering digunakan. Tetapi rangkaian kata itu menjadi kalimat baru ketika menjadi 'Indonesia pada Sbuah Malam. Orang pasti dengan cepat tahu seperti apa malam di Indonesia. Di kota apa di desa, di rumah apa di cafe. Tetapi ketika ini menjadi pusi maka daya magnet itu terpancar dan orang suka membacanya. Berikut puisi Toto St Radik itu :
Indonesia pada Sebuah Malam


Indonesia pada Sebuah Malam

Toto S Radik

indonesia — pada sebuah malam yang jauh
bulan separuh. burung alap-alap memekikkan seluruh
nyanyian kepedihan dan alamat-alamat kematian
sunyi pun tumbuh berkawan ketakutan
menjalar ke setiap rumah, mengetuk pintu-pintu
yang rapuh. dan angin seperti bersekutu
menghunjamkan dingin, tajam bagai tatapan
sepasang mata kucing hitam. kemudian hujan
jatuh, berputar-putar dalam tarian tanpa irama
menderas tak tertahan menuju jantung kegelapan
mengisyaratkan badai

indonesia — pada sebuah malam penuh hujan
bulan tersingkir seperti menegaskan kegelapan sihir
lolong anjing dari bukit-bukit jauh mengarungi
detik amarah yang bergelombang gaduh. bunga-bunga
berganti batu, dendang sayang berganti kibasan parang
semburan peluru dan kobaran api. darah pun tumpah
di setiap jengkal tanah. mengalir ribuan kilometer
bersama airmata yang diam-diam menyimpan kenangan
sejarah negeri hijau. sobekan bendera terbakar
di atas meja perjudian. mantera-mantera, doa-doa, kutukan
seribu kata saling tindih saling cakar di antara
percakapan-percakapan aneh penuh sandi

indonesia — pada sebuah malam huru-hara
aku menundukkan kepala di kamar berdebu
membaca baris demi baris sajak-sajakku yang berlepasan
dari penjara kertas: melangkah di jalan-jalan berbatu!

Serang, 31.12.1996







Bahasa Puisi.

Bahasa puisi tentu bahasa penyairnya gaya dan betuk pola dan ragamnya adalah selera sebebas apa itu puisi. Ini berarti puisi memberikan kebebasan seseorang untuk menulis. Pendek kata terserah mau dibentuk apa, demikian kata Puisi berujar. Dari itu akhirnya muncul kebebasan menulis puisi namun sadar meski tak ada pakem yang baku, penyair slalu menjaga agar karya puisi itu dapat dinikmati dan memberi rasa aprsiasi pada pembaca.

Bahasa penyair bahasa diri yang juga dibaca orang lain. Sejauhmana tepatnya apresiasi dengan maksud yang dikandung penyair sejauh si pengapresiasi itu mampu 'membaca. Mari kita lihat puisi karya Marlin Dinamikanto. Penyair yang memiliki gaya eksentrik dalam karyanya ini harus diakui sebagai karya besar dan menggerigisi yang mampu menggugah penikmat sastra yang membacanya.

Karya yang baik itu terkadang muncul tidak dalam bentuk buku, tetapi juga koran dan majalah dan kini di banyak situs situs di internet. Begitu banyak koran tabloid majalah terbit di daerah dan tentu saja puisi ada didalamnya. Karya-karya pengisi rubrik sastra dan budaya di media di seluruh Tanah Air itu ditemukan banyak karya bagus dengan mutu yang tinggi. Kandungan sastra yang terkadang tak kalah dengan karya penyair sebelumnya.

Berikut puisi penyair Marlin Dinamikanto yang berjudul Pok Ameame Ibu :


Marlin Dinamikanto

pok ameame, Ibu

pok ameame, ibu
hanya kata yang kupunya
menyiram pusaramu jauh di sana
di pekatnya angan yang dingin
selalu melihatku seperti debu
padahal anakmu ini adalah angin
selalu ingin menyayup di matamu
pok ameame, ibu
kini belalang kupukupu
terbang liar, tersipu mengingatmu
di bening matamu indah berbinar
membuatku yang berlari selalu ingin kembali
dari trotoar yang tenggelam oleh lalat liar
sebab hatiku hatimu saling bertali
engkaulah daunan rindang bagi ke-enam anakmu
memberi teduh dari sergapan debu jalanan
yang membatas beranda luar liar
kau telah membesarkan belalang kupu-kupu
sejak di gendongan merangkak dan berkeliaran
tapi tak pernah membiar kami telantar
tapi maafkan anakmu ini ibu
tak punya doa selain puisi
tak pula mahir membaca rambu
kehidupan yang telihat basi
maafkan aku ibu
bila selama ini melihatku
seperti debu, padahal aku angin
ingin menyayup di matamu yang dingin
Tetilam 34, 13 Desember 2013

Jumat, 15 Juli 2016

Karena Lahir dari Tangan Penyair


Mencipta Puisi itu untuk siapa. Sebuah pertanyaan menggelitik yang jawabannya adalah kata ganti orang. Untuk aku (sendiri) kau (seseorang) dan kalian ( semua) dan kami (semua termasuk penulisnya). Pada jawaban-jawaban pertanyaan itu melekat erat dengan maksud si penyairnya.
Jika puisi itu ditulis untuk sendiri , sekadar iseng misalnya , tetapi karya penyair tetap menjadi incaran publik jika penyair itu dibutuhkan sebagai figur publik. Jadi bahwa penyair menulis puisi untuk diri sendiri tetap saja menjadi incaran publik . Dengan kata lain puisi itu sebetulnya untuk diapresiasi semua.

Kemudian menulis puisi untuk seseorang, seolah istimewa, kekasih misalnya. Jika puisi itu lahir dari tangan penyair maka tetap saja puisi itu akan menjadi puisi untuk publik pembaca dimana saja.
Begitu juga mencipta puisi untuk orang banyak dan tidak untuk diri sendiri tetap saja menjadi untuk semuanya karena ketika penyair dalam posisi sebagai bagian anggota masyarakat ia akan merasa bahwa puisi yang sengaja diciptakan untuk orang lain juga memiliki makna bagi dirinya sendiri.

Demikian alangkah hebatnya puisi manfaat sebagai sebuah bacaan untuk siapa saja bahkan dirinya sendiri atau sebaliknya. Adalah Nia Samsihono seorang penyair yang mencatat sejarah hidupnya dalam bentuk puisi dengan sangat apik. Mula mungkin tak tahu nasib puisi itu. Juga diperuntukan untuk prasasti keluarganya. Namun puisi justru memiliki pancar luar biasa, puisi itu akhirnya menjadi terkenal dan orang ingin membacanya.

Berikut Nia Samsihono dalam Selembar Daun yang mengisahkan kematian putrinya :


Selembar Daun*)

Selembar daun melayang-layang jatuh,
Bumi luruh memeluknya penuh
Ada bisikan yang disampaikan
Membuat nyaman
Daun itu menyerahkan seluruh keindahannya
Tanah merengkuhnya penuh ketulusan
Ada selembar daun
Tergeletak pasrah
Dalam dekapan persada
Yang telah menghidupinya
Penuh cinta dan kesetiaan
Abadi
Jakarta, 21 Feb 2015
*) Puisi di atas didedikasikan untuk Alm Putrinya yang meninggal dunia 8 tahun lalu, akibat serangan demam berbarah (DB) dalam usia 20 tahun.

Demikian apabila puisi yang dilahirkan oleh seorang penyair , karya itu slalu memiliki kandungan sastra tinggi dan menjadi sorotan publik. Itulah tangan penyair.
(Rg Bagus Warsono, 16-07-2016)

Rabu, 13 Juli 2016

Bobot karya puisi:

Kritikus/penulis untuk mengkritisi puisi sekaligus merekam jejak penyair adalah apabila ditemukannya karya yang ,menggerigisi . Sebuah karya yang memiliki salah satu atau lebih nilai bermutu tinggi yang monumental.Patokan mutu atas karya seseorang adalah alat untuk mengetengahkan seseorang penyair dimasukan dalam klasifikasi yang dikehendaki kritikus. Jadi karya banyak dan nama besar tidak menjadi jaminan melekat dengan klasifikasi yang digagas seorang kritikus karena pertanggungjawaban itu.

Kelahiran karya puisi bermutu yang 'menggerigisi dan monumental serta memiliki nilai sastra tinggi bukanlah peruntungan nasib penyair dari anggapan publik. Sesungguhnya kelahirian puisi yang bagus adalah olahan dari tingkatan seperti profesional, mahir, atau masih konvensional maupun tradisional. Ia (puisi) dilahirkan dari tangan-tangan itu dengan pengalaman, kreativitas, kebiasaan, dan sebagainya yang mempengaruhi diri penyair tersebut. Kemudian setelah puisi itu lahir kita boleh mengatakannya akan nasib peruntungan karya itu dan tentu terkait dengan penyairnya.

Dalam dunia cipta, ditemukan mirip, tiruan, jiplak, plagiat, sadur, terjemahan, atau 'ubah kata. Hal ini menjadi pemahaman mutlak seorang kritikus. Berbagai kasus bisa terjadi, tetapi juga bisa mungkin berbagai penemuan itu dikarenakan kebetulan atau saling tak mengenal. Tetapi perlu diketahui frase bahasa Indonesia dalam KBBI serta ditopang bahasa daerah dan bahasa asing sangatlah luas untuk pilihan kata puisi. Jadi wawasan baca pun tidak saja harus dimiliki kritikus sastra tetapi juga penyair harus rajin membaca.

Dalam tulisan ini penulis akan menyoroti berbagai karya terkini puisi- puisi penyair yang sempat terbaca dari berbagai situs baca. Juga silahkan Anda mengirimkan puisi 'terdasyat untuk dikritisi semampu penulis dalam wacana belajar ini. Resiko atas kritik puisi sebetulnya tahapan pacu positif bila dipahami secara positif. Tetapi seringkali banyak penyair menilai justru negatif. Sebaliknya gaya kritikus puisi juga menjadi alasan itu. Sebab banyak orang mengaku kritikus tanpa memahami etika penulisan sehingga sering terjadi perdebatan yang tak pantas dikalangan pelaku sastra.

Mari kita lihat karya Cecep Hari Cecep Hari Cecep Syamsul Hari dalam Perahu Berlayar Sampai Bintang yang berjudul :

Nawang Wulan

Dua puluh tahun kemudian
Nawang Wulan terlihat keluar dari keriuhan
Carrefour, mendorong kereta belanjaan
dan menuntun seorang anak umur sepuluh tahunan
Di depan kasa
dikeluarkannya kartu Visa
Rambutnya pendek sekali sekarang
dicat warna biru, hijau dan pirang
Tubuh yang dulu berhias sayap sepasang
telah berubah menjadi pertunjukan lemak 90 kilogram
Ia terlihat sangat riang dan dewasa
tambun dan mempesona
Seperti lukisan Lady Cajica
dalam kanvas Fernando Botero
Dulu aku Jaka Tarub lajang
si pencuri selendang
yang didera cinta
tak terampunkan
Nawang, kebahagiaan macam apa yang telah mengubahmu
dari dewi pencinta menjadi dewi kesuburan?
2005

Perhatikan diksi-diksi tersebut betapa penyair ini pandai memilih kata tepat dengan tema dan lokasi objek di sana-sini, tampak padat berisi, berhamburan reka apresiasi. Selamat buat Cecep Syasul Hari.



Cecep Syamsul Hari (CSH) lahir di Bandung, Jawa Barat, pada 1 Mei, 1967. Buku-buku puisinya yang telah dipulikasikan: Kenang-kenangan/Remembrance (1996), Efrosina/Euphrosyne (2002, 2005), 21 Love Poems: Bilingual Edition (2006), Two Seasons: Korea in Poems Bilingual Edition (2007). Ia juga menulis novel Soska (), cerita pendek, dan esai. Karya-karya dipublikasikan pula pada sejumlah jurnal dan antologi, antara lain: Heat Literary International (Sydney, Australia, 1999), Beth E. Kolko’s Writing in an Electronic World: a Rhetoric with Readings (United States: Longman, 2000), Harry Aveling’s Secrets Need Words: Indonesian Poetry 1966-1998 (United States: Ohio University Press, 2001), Wasafiri (London, England, 2003), Orientierungen (Bonn, Germany, 2/2006). Ia menerjemahkan sejumlah buku, di antaranya: Para Pemabuk dan Putri Duyung (selected poems of Pablo Neruda, 1996); Hikayat Kamboja (selected poems of D.J. Enright, 1996); Ringkasan Sahih Bukhari (compilation of Bukhari’s hadis, 1997; 1100 pages); Rumah Seberang Jalan (selected short stories of R.K. Narayan, 2002). Ia menyunting Kisah-kisah Parsi/Persian Tales (C.A. Mees Santport and H.B. Jassin, 2000); Horison Sastra Indonesia/A Perspective of Indonesian Literature (with Taufiq Ismail, et.al; four volumes, 2003); Horison Esai Indonesia/A Perspective of Indonesian Essays (with Taufiq Ismail, et.al; two volumes, 2004). Saat ini, ia adalah redaktur majalah sastra Horison yang berdiri di Jakarta, Indonesia, sejak 1966.
(rg bagus warsono , 14-07-16)

Senin, 11 Juli 2016

Tak Sekadar Produktifitas Tapi Membuahkan Karya Bermutu

Memilih penyair yang betul betul penyair utuk bahan tulisan seperti yang dilakukan kritikus sebelumnya adalah tidak semata penyair itu produktif tetapi yang diutamakan adalah karya yang memberikan arti bagi pembacanya sebagai karya yang belum ada sebelumnya, memiliki masa baca yang tak terbatas kapan saja tetap enak dibaca, dan memiliki keunggulan nilai sastra, serta mampu memberikan aksi pembaca atau dampak apresiasi pembaca setelah membaca karya tersebut, disamping itu ada yang mengiyakan bahwa karya tersebut layak bacaan sastra yang istimewa.

Produktifitas penyair memang merupakan masa pencarian jati diri. Ia adalah asahan yang membuat tajam nya pena. Serigkali seseorang melupakan tantangan atas tulisan apa yang akan ditulis padahal itu proses berkarya yang telah menjadi perpaduan antar pengalaman diri, pengalaman baca, pengalaman tulisan sebelumnya dan pengalaman kegagalan masa lalu.

Akhirnya faktor kreativitas diri menentukan produk seseorang (penyair) kreativitas untuk melahirkan karya 'baru (belum ada sebelumnya) , memiliki cita rasa sebuah karya sastra bermutu, diiyakan oleh orang lain (diakui), mampu membangkitkan apresiasi pembaca, dan bila perlu bersifat universal.
Berikut sebuah karya Herlina Priyambodo

"Menjadikanmu Separuh Jiwaku."
Menatap barisan mega dari balik kaca jendela burung besi yang melintas batas antar negara, laksana hamparan permadani empuk tempat bersenda para dewa dewi di negeri kahyangan. Begitu lembut, selembut getar yang kurasa saat menatap sempurnanya wajah Arjuna, seindah senyuman yang selalu memporakporandakan imajiku, hingga menghunjam tepat dijantung hatiku, membiarkan aku luluh dalam dekapan asmara, selembut rasa yang menyapaku perlahan dan tak ingin kutinggalkan. Hanya lidah yang tak pernah kelu, mengalunkan mantra mantra pada sang hyang maha cinta, membisikkan suara suara hati yang melantunkan ayat ayat kerinduan pada sang Arjuna. Izinkan aku membelai halusnya garis wajahmu dan menjadikanmu separuh jiwaku, Arjuna.

Dari judulnya saja seseorang langsung mengetahui maksudnya andai pembaca itu suka membaca. Puisi cinta ,puisi kekasih, puisi kisah cinta, puisi remaja, artinya banyak orang membuat seperti ini. Tetapi Herlina Priyambodo, tidaklah demikian seperti kebanyakan orang, ia membuat sesuatu yang baru yang belum pernah ditulis penyair sebelumnya. Sebuah asahan kreativitas pengalaman dan panduan karakter mumpuni dalam mengutarakan maksud. Selamat untuk Herlina Priyambodo (rg bagus warsono, 11-7-16)

Sabtu, 05 Juli 2014

Mencermati puisi penyir Jambi Dimas Arika Mihardja

Puisi 'Reformasi Mental ' karya Dimas Arika Mihardja seakan wujud sumbangsih penyair untuk negeri ini. Banyak orang berpendapat, puisi itu jujur, memang benar. Tetapi dibalik itu adalah cerminan hati sastrawan yang bersih. Penyair slalu menginginkan keindahan tidak hanya dalam karya-karyanya namun juga dalam kehidupan nyata ia menginginkan keindahan itu. Mungkin saja berpendapat puisi diperuntukan untuk hadiah seseorang, bingkisan moment tertentu, atau mencatat peristiwa sejarah. Seperi puisi 'Kerawang Bekasi' karya Chairil Anwar itu boleh jadi puisi dengan kandungan nilai sejarah bangsa ini. Namun jangan mengira puisi tanpa pesan. Sebagailayaknya puisi-puisi lainnya memiliki makna pesan yang dalam buat kita. Mari kita cermati puisi 'Reformasi Mental karya Dimas Arika Miharja ini:
Reformasi Mental
Sajak Dimas Arika Mihardja
setelah lelah ibadah, lidah rasa terbelah
dan sajadah menghitam basah
dibasuh resahresah waktu memburu
setelah reformasi api
kini kita masuk dan masak reformasi mental
bukan reformasi metal--merah total
tapi reformasi diri terus-menerus
reformasi jejaring birokrasi terus-menerus
reformasi mengubah kemalasan menjadi kilau emas
reformasi mengubah laknat jadi rahmat
reformasi niat jahat menjadi jihat
reformasi ciptakan harmoni
reformasi ciptakan jalan damai
reformasi menghargai keberagaman
dan perbedaan
Juli 2014
Demikian Dimas sengaja memberikan ketegasan ajakan itu. Meski pada bait awal memberikan bobotnya sebuah puisi ,...dibasuh resah-resah waktu memburu. // namun bait selanjutnya Dimas merubah gayanya sehingga tampak ketegasan itu.
oleh : Rg RgBagus Warsono

Jumat, 04 Juli 2014

fenomena alam pada puisi Risalah Api Elang Matahari Mas , karya Enka Arnasi.

Fenomena alam adalah pertanda kehidupan atau sebaliknya kehidupan dimirip-miripkan dengan alam, bisa ditandai dengan peristiwa alam dan perilaku hewan dan tumbuhan, Seperti dalam bait ketiga penyair Jambi , Eka Arnasi, ini adalah gambaran fenomena itu....// "Elang bukan pengejar musim
Bukan pemigrasi panjang Utara-Selatan
Atau pengeram tahunan
Searah bayangan elang pulang
Matari tak pernah sepakat, sebab dilihatnya ufuk tak berujung
Yang di depan mata cuma jarak
: jarak yang fana itu, tak pernah abadi"//...Tak sedikit penyair mengemukakan fenomena alam tetapi tak sedikit pula yang gagal dalam pencarian ini. Dari puisi ini , Risalah Api Elang Matahari Mas , Enka Arnasi  telah menunjukan kepiawaiannya sebagai seorang penyair handal saat ini. Bukan berarti memuji, namun sangat jarang runtut sair yang berhasil. Luar biasa Mas Enka Arnasi  salam sastra indonesia.
Berikut sajak Enka Arnasi itu :

RISALAH API - ELANG MATARI MAS

:

Matari mas di pucuk kemilang sedang berdamai dengan apinya sendiri
Berdamai pada letih menakar jarak
Setapak-tapak ia teriak selentang bayangan ia bujuk
Ke mana hendak memanjang jarak?

Nyala katamu nyala,
Padam bagiku sebuah kesepakatan damai
Lupakan dongeng api, kelak redup sejuk di kalbu, sebab satu perkara:
Bayangan tak lapuk di ufuk
Di sore yang sama pada perjalanan yang sama
Terbang pelan-pelan seekor elang di api massa
Tak diintai tak mengintai
Tak tergesa tak lelah tak hendak terbakar nyala

Elang bukan pengejar musim
Bukan pemigrasi panjang Utara-Selatan
Atau pengeram tahunan
Searah bayangan elang pulang
Matari tak pernah sepakat, sebab dilihatnya ufuk tak berujung
Yang di depan mata cuma jarak
: jarak yang fana itu, tak pernah abadi

Sebab api belum padam
Tak jadi paham
Yang fana takkan abadi, yang abadi takkan fana
Apa lagi yang hendak dicari
Diri tak butuh nyala api
Risalah elang matari mas,
Di pucuk panas di kuncup tunas membara melalap semua
Sedang hati sedang menanti, berdamai dengan diri sendiri

4 Juli 2014
Mengusap dada sendiri saat ternyata lingkungan kian kurang kondusif menciptakan harmoni
Dimas Arika Miharja