TEKS SULUH


Rabu, 28 November 2018

Selamat Atas Terbitnya Kemeja Putih Lengan Panjang karya Rg Bagus Warsono



Sebuah Simbolik

Seperti halnya orang orang munafik dengan perkataannya. Ia tidak mengakui dasar negaranya sendiri, kemudian ia hidup di negeri orang, Di hati kecilnya ia merasakan keunggulan dasar negaranya sendiri yang memberi rasa aman dalam kebinnekaan, dibanding dasar negara lain yang ia rasakan di negri rantau.
Kemudian orang-rang munafik itu menggemborkan untuk memgingkari jasa-jasa para pejuangnya termasuk proklamator, namun tanpa sadar bajunya yang ia sukai adalah baju yang sudah melekat dengan sang proklamator yang ia gemborkan untuk diingkari.
Lalu pada sebagian pegawai negeri, mengingat otonomi daerah dipengaruhi oleh politik bupati atau walikota yang merupakan anggota partai, dengan lucunya di awal-awal presiden terpilih menjabat mereka mencibir dan bahkan menghina. Namun ketika presiden menerapakan kemeja putih lengan panjang sebagai salah saru baju seragam, mereka menyukainya.
Ada sebuah karakter negatif tanpa sadar terjadit di masyakarak kita. Dinamika orang yang tanpa berfikir tetapi mengikuti ajakan saja apa yang bersifat umum melalui sosial media, kemudian ia dalam prakteknya menjalani apa yang justru ditolaknya itu.
Kemunafikan itu diredam dengan sederhana yaitu  hanya baju putih lengan panjang. Ini makna simbolis, sebuah ajakan utuk perubahan mental. Walau kesucian yang diharapkan itu lahir bathin, namun setidaknya awal kecintaan dan penanaman itu dimulai dari hal-hal yang bersifat lahiriah.
Sejauh mana baju putih lengan panjang ini memiliki makna simbolis kejujuran bagi pemakainya, tergantung dari mental itu sendiri apakah didapat perubahan atau justru sebaliknya. Namun demikian Kemeja Putih Lengan Panjang ini sungguh sesuatu yang memiliki makna berarti termasuk antologi ini sebagai pencerah penyejuk hati semua pembaca budiman.

Rg Bagus Warsono, nama lainnya Agus Warsono lahir di Tegal 29 Agustus 1965. Ia dibesarkan dalam keluarga pendidik  yang  dekat dengan lingkungan buku dan membaca. Ayahnya bernama Rg Yoesoef Soegiono seorang guru di Tegal, Jawa Tengah. Rg Bagus Warsono menikah dengan Rofiah Ross pada bulan Desember 1993. Dari pernikahan itu ia dikaruniai 2 orang anak. Ia mulai sekolah dasarnya di SDN Sindang II  Indramayu dan tamat 1979, masuk SMP III Indramayu tamat tahun 1982,  melanjutkan di SPGN Indramayu dan tamat 1985. Lalu ia melanjutkan kuliah di D2 UT UPBBJJ Bandung dan tamat tahun 1998, Kemudian kuliah di STAI di Salahuddin Jakarta dan tamat 2004 , pada tahun 2011 tamat S2 di STIA Jakarta. Setelah tamat SPG, Rg Bagus Warsono menjadi guru sekolah dasar, kemudian pada tahun 2004 menjadi kepala sekolah dasar, dan kemudioan 2015 pengawas sekolah. Tahun 1992 menjadi koresponden di beberapa media pendidikan seperti Gentra Pramuka, Mingguan Pelajar dan rakyat Post. Pada 1999 mendirikan Himpunan Masyarakat Gemar Membaca di Indramayu. Menjadi anggota PWI Jawa Barat. Rg Bagus Warsomo juga menulis di berbagai surat kabar regional dan nasional seperti PR Edisi Cirebon, Pikiran rakyat, Suara karya dan berbagai majalah pendidikan regional maupun  nasional.
Karya : a. Puisi
1. Bunyikan Aksara Hatimu, Sibuku Media , Jogyakarta 2013
2. Jakarta Tak Mau Pindah, Idie Publising, Jakarta 2013
3. Jangan Jadi sastrawan, Indie Publising, Jakarta 2013
4. Si Bung , Leutikaprio, Jogyakarta , 2014
5. Mas Karebet, Sibuku Media, Jogyakarta, 2014
6. Satu Keranjang Ikan, Sibuku Media, Jogyakarta, 2015
7. Surau Kampung Gelatik, Sibuku Media, Jogyakarta, 2016
8. Mencari Ikan sampai Papua, 8 Penyair, Penebar Pustaka, Jogyakarta.,2018. b. Buku:
1. Bincang-bincang Penyair , Penebar Pustaka, 2018
2. Geliat Penyair Indonesia, Penerbar Pustaka, 2018
c. Cerita Anak : 1. Kopral Dali, Sibuku Media, Jogyakarta 2014
2. Meriam Beroda, Sibuku Media Jogyakarta 2015
3. Pertempuran Heroik di Ciwatu, Jogyakarta 2016
4. Kacung Ikut Gerilya, Jogyakarta 2016
Penghargaan: 
Penulis Cerita Anak, Depdikbud 2004


Senin, 26 November 2018

Pancen Zaman Mbleketek

Pancen Zaman Mbleketek

Mbleketek memang, tentu bukan benang ruwed. Mungkin alam ini menghendaki demikian, tak semata 'apa boleh buat, buktinya tetep ditelan juga. Bahkan ada yang menari seperti udang dalam bubur-udang. Dicari kemana daging udang itu dalam panci bubur-udang, tetep tidak ketemu. Ternyata penjualnya bilang, udangnya tak akan ketemu karena udangnya digerus dengan sambal ! Ah, bisa-bisa saja penjual bubur-udang itu berkelit. Tetapi ketika ahli kuminer mencicipi masakan itu, katanya, ada udang dalam bubur-udang.
Katanya, " Enak jamanku ya Bro?". Tentu bukan untuk yang sengsara di zaman ini, sebab yang sengsara jaman doeloe juga bukan main banyaknya. Anehnya yang kecukupan dan berkah di zaman ini bilang "Enak jamanku doeloe", kan aneh?
Ya sudah, wong maunya ngomong begitu biarin. Esok harinya kedapatan orang yang bilang enak dijaman doeloe itu membeli mobil baru (buktinya juga banyak, di jalan mobil baru banyak dipakai) , padahal di zaman doeloe boro-boro orang beli mobil, pit onthel saja gak kebeli. Lhoh? Macam mana pula ini orang?. Itulah Indonesia.
Lucunya lagi ada penyair yang dapat duit besar karena "disumpel cangkeme pakai segepok atusan ewu, dihujat teman-temannya. ada yang bilang munafik, 'gembel babu, 'carmuk, sampai kethek nemoni mulud. Suatu saat giliran dirinya dipanggil untuk disumpel bacotnya. Kemudian dia bilang katanya ini karena prestasi karya sastranya. Ndasmu "kunyuk pada karo aku jebule. Jangankan coca-cola, ubi mentah diiris-iris juga rebutan. seperti monyet di Plangon Cirebon.
Di dunia kepenyairan mblekethek juga terlihat. sampai-sampai orang lupa kritikus dan kurator. Tetapi tanpa dikritik juga penyairnya bisa terkenal. Doeloe untuk menjadi terkenal karyanya dihantam kritik dan dibicarakan banyak orang, sekarang lain. Untuk menjadi terkenal boleh dengan cara apa saja. Doeloe ada yang ngamen di mobil bus dengan baca puisi. Ada yang bilang, "belum masuk bui berarti belum terkenal"! ha ha ha ia sih.
Sekarang setiap kota punya penerbit, perkara buku laku apa tidak itu nomor dua. Bilang saja "best seller" padahal nyetaknyua cuma 10 eksemplar. Wah wak wah.
Pancen zaman blekethek sekarang ini!
(Rg. Bagus Warsono, Sastrawan tinggal di Indramayu)







Rg Bagus Warsono Dibawah Atap Puisi beralas Puisi

Rg Bagus Warsono

Dibawah Atap Puisi beralas Puisi

Dan penyair-penyair gelisah
berjalan seiring antrian kendaraan macet
sambil membawa buku antologi gila
sebentar-sebentar bukunya dibaca
untuk sekedar memalingkan muka
yang tak sudi melihat
yang berjalan dengan mata kakinya sendiri.
Tak malu lagi ia berteriak
dalam irama isi buku puisi
untuk kemudian ia berdiri di atas jembatan
dan orang-orang panik melihat penyair bunuh diri
Sinting!
frustasi!
Edan!
Tidak, ia tidak seperti dugaanmu gila.
Dia bosan dengan semuanya
akan Indonesia kita !
buarkan ia dibawah atap beralas puisi ,

(rg bagus warsono, 18-09-2-18)




Winar Ramelan Peluru Nyasar

Winar Ramelan

Peluru Nyasar

Peluru nyasar
Menembus ruang dewan
Menjadi berita utama
Bualan bahkan  cacian

Di surat kabar dan televisi
Lebih heboh lagi berita di media on line
Yang bisa dikomsumsi dengan gawai super mini
Ditelan oleh otak super mini
Menjadi pelintiran pelintiran yang susah diurai

Kepalaku telah padat
Oleh berita yang diumbar kepala dewan
Dari yang benar, sampai olok olokkan kepada pemerintahan
Sedang mereka adalah bagian dari pemerintahan itu sendiri
Para pejabat yang diperintah rakyat

Peluru nyasar
Seperti omongan para anggota dewan
Kesasar sasar 
"duh, peluru kok nyasar, lupa bawa peta ya, seperti om yang setingkat pengacara, bisa nyasar di jalanan kota"
Seperti itulah mereka


Winar Ramelan

Jamur Tai sapi

Bagai jamur yang tumbuh di kubangan kotoran sapi
Ditelan manusia, manusia sempoyongan
Dengan kepala kosong tanpa nalar
Mulut berbuih dengan omongan memabukkan

Begitulah berita berita yang sedang dimunculkan 
Dengan mengucilkan kebenaran 
Mengkerdilkan keadilan
Senyatanya kebenaran bagai pohon beringin
Dengan daun mencapai langit Sang maha
Akar akarnya kuat memeluk bumi

"Siapa yang menggoyahkan, angin besarkah yang diciptakan sebagai issu yang memojokkan lawan
Agar daun daun kebenaran berguguran?”

Manusia yang tertelap di atas meja kerja
Berkoar tentang dirinya yang putih
Mengkritisi pola kerja saudaranya
Yang terjaga dengan bekerja setulus jiwa
"kau mengigau bung, setelah menelan kudapan jamur dari kubang tai sapi
bangun bung, cuci mukamu, cuci otakmu
dan belajar membaca lalu berpikir dengan jernih!”




Winar Ramelan lahir di Malang 05 Juni, kini tinggal di Denpasar. Menulis kumpulan puisi tunggal dengan judul Narasi Sepasang Kaos Kaki.
Puisinya pernah di muat harian Denpost, Bali Post, majalah Wartam, Dinamikanews, Tribun Bali, Pos Bali, konfrontasi.com, Sayap Kata, Dinding Aksara, detakpekanbaru.com. Kompasiana, Flores Sastra, Antologi bersama Palagan, Untuk Jantung Perempuan, Melankolia Surat Kematian, Klungkung Tanah Tua Tanah Cinta, Tifa Nusantara 3, Puisi Kopi Penyair Dunia, Pengantin Langit 3, Seberkas Cinta, Madah Merdu Kamadhatu, Lebih Baik Putih Tulang Dari Pada Putih Mata, Progo Temanggung Dalam Puisi, Rasa Sejati Lumbung Puisi, Perempuan Pemburu Cahaya, Mengunyah Geram Seratus Puisi Melawan Korupsi, Jejak Air Mata Dari Sittwe ke Kuala Langsa, Senja Bersastra di Malioboro, Meratus Hutan Hujan Tropis, Ketika Kata Berlipat Makna,Tulisan Tangan Penyair Satrio Piningit.






Buanergis Muryono Kabeh

Buanergis Muryono

Kabeh

Kabeh
Mblekethek
Sapa sing cewok mau?
Klambiku mblekethek
Maklum
Wis patangpuluhtahun.
Untunge rambutku kinclong
Sanajan ora mblerengi.
Klambi
Celana
Kabeh
Samubarang
Pareng mblekethek
Hananging
Ati
Pikiran
Uripmu
Kudu tansah wening
Bening
Kadya tuking banyu Gunung Agung
Kang seger nguripi
Tumrap tanduran apa wae
Kang diilini.
Yuk
Ngeli
Ngeli mring kabecikan
Ning kahuripan iki
Kebak welas asih
Nuladani
Suwelasing tembang
Njih suwelas kidung macapat
Supaya weruh ing sarira
Uga weruh ing panuju.

Salam Renungan Zaman Buanergis Muryono
19 September 2018 09:20




Yoseph Yoneta Motong Wuwur Bibir tipis

Yoseph Yoneta Motong Wuwur

Bibir tipis

Polesan lipstik
Merah merona
Terbuai kata terucap

Bibir tipis
Lihai bersilat lidah
Sakit pendengaranku
Pada ucapan berbau busuk
Bagaikan kentut dan tinjah

Bibir tipis
Tak semolek wajahmu
Tak seindah tutur kata
Penuh kepalsuan

Kalikasa, 21 September 2018












Yoseph Yoneta Motong Wuwur

Maiu

Wajah merah padam
Aku redamkan amarah
Dalam kegamangan aku meronta

Malu
Berkubang dalam sampah
Bau menyengat hidung
Selokan penuh daki
Pergi menjauh dari bayangan buruk
Kebohongan yang kian pekat
Aku malu

Seperti inginmu
Ranting tempatmu bertengger
Layu berguguran
Terhempas
Dan hilang

     Kalikasa, 22 September 2018


Yoseph Yoneta Motong Wuwur, Lahir di Kalikasa, 17 Mei 1984 merupakan lumnus Fakultas Pertanian Universitas Flores, Ende – NTT. Menulis adalah aktivitasnya sebatas hobi dalam mengisi waktu senggang.

Wardjito Soeharso Indonesia Masa Depan

Wardjito Soeharso

Indonesia Masa Depan

Aku melihat ke depan
Indonesia yang makin gaya
Kota-kota tumbuh gedung menjulang
Metropolitan

Banyak manusia berseliweran
Berjas pantalon dasi sangat rapi
Sibuk mengejar kehidupan
Hedonisnik

Mereka sibuk dengan diri sendiri
Berjalan lurus tak tengok kanan kiri
Tanpa tegur sapa sekedar salam
Individualistik

Coba perhatikan!
Mereka berkulit putih bermata sipit
Berambut pirang bermata biru
Orang seberang

Yang berkulit gelap coklat
Yang berambut hitam ikal
Yang penduduk asli
Ke mana mereka?

Orang-orang asli negeri ini
Terseret arus kemiskinan
Masuk ke dalam got-got
Di bawah gedung tinggi

Indonesia masa depan
Indonesia tanpa kebanggaan
Bagi anak negeri sendiri
Yang kian tersisih dari peradaban

Orang-orang seberang
Menjadi tuan yang dimuliakan
Menguasai bumi langit kekayaan
Mengatur denyut gerak kehidupan

Orang-orang pribumi
Menjadi kacung yang disepelekan
Terpaksa melayani para pendatang
Sekedar hidup mampu bertahan

Indonesia masa depan
Bumi langitmu tetap bercahaya
Namun bangsamu makin tak berdaya
Tanpa kehormatan!

23.09.2018








Aloysius Slamet Widodo Kenapa …… Koruptor, Narkobator, Kelamintor, Boleh Jadi Wakilku?

Aloysius Slamet Widodo

Kenapa …… Koruptor, Narkobator,
Kelamintor, Boleh Jadi Wakilku?

Mas2 hakim Mahkamah Agung terhormat
Rakyat memang tidak melek hukum
Tapi rakyat punya nurani dan akal sehat
Rakyat sangat menghormati hukum
Tapi tak mengerti pikiran penegak hukum
Katanya daulat hukum ditangan rakyat
Kenapa hukum mengabulkan penjahat ?
Rakyat dikepleke sakarepe ... monggo !
Rapopo

Kalau dasarnya Hak azasi penjahat
Kenapa sampeyan tak mempertimbangkan
Hak azasi rakyat
Kenapa keadilan pribadi lebih di didulukan dari rasa keadilan masyarakat
Lihat betapa banyak wakilrakyat ditangkap
Wakil rakyatku tidak jera
malah menantang ditangkap
Kalau dasarnya keadilan
Keadilan untuk siapa?

Sampeyan ini wakil Tuhan Bro
Apa Tuhan pembela koruptor ?
Jangan main2 bawa nama Tuhan
Jangan memberhalakan Tuhan
KarmaNya bisa datang seketika
Oh jagat keadilan ..
Jagat yang gelap
Sering sesat ...
sering menyesatkan diri!

Memang dengan menjalani hukuman
Maka hak terpidana dikembalikan
Tapi bukankah kejahatan korupsi
Narkoba dan kejahatan sexsual anak
Adalah kejahatan luar biasa?
Apapun alasanya kami tidak terima
Mereka mewakili rakyat
Tapi nasi telah menjadi tai
MA telah meng exsekusi ....Asu !
Harapan kami KPU berani
mencantumkan nama bekas penjahat itu
di kertas pemilih agar tidak salah pilih

Celakanya Para partai politik di Pemilu
Walau membuat pakta integritas
Tak calonkan anggotanya yg koruptor
Tapi nyatanya masih meloloskan
Lagi lagi partai politik berbohong
Ah memang partai politik yang itu penipu
Janjinya mengajak kita bulan madu
Tapi dikasih datang bulan ! .... asuu

Partai politik itu
Di jalan benar yang sesat
Semoga rakyat memberi laknat
Suaranya kurang dari batas ambang
oleh karmanya partai politik itu hilang
Wassalam !
Jakarta 22 septembet 2018

Edy Priyatna Mengangkat Sajak Indah

Edy Priyatna


Mengangkat Sajak Indah

Tersembunyi sebuah negeri impian
sebentuk suksesi perputaran
tengah atasannya tertidur
untuk sepanjang hari
di atas tempat kursi hangat

Kepentingan bertemu akan datang
senantiasa tak bertuan
mengembara ke ujung negeri
mengejar semua bayangan
rindu nan terus menggelisahkan

Perbuatan kehidupan alam dunia
hanya sekejap saja
tanpa terasa usia
lebih bertambah senja
semakin tiba di penghujung tahun

Belakang ruang janji kematian
konon rasanya negeri ini
menjadi negeri para gembeng
berpenghuni jutaan kesedihan
dalam berita angin tragis

Urutan rindu nan panjang
kesenyapan malam tenang
hanya berkawan bunga tidur
mengelana tanpa arah
mengangkat sajak indah
 (Pondok Petir, 06 September 2018)
Edy Priyatna

Sampai Kapan akan Terus Terjadi?

Masih terus berkobar
sudah sampai sekian kasus
telah demikian saudaraku tewas
di samping lainnya terluka berat ringan
semuanya baru terungkap
dan baru sekian kasus
masih banyak belum terselesaikan
tertangkap demikian orang dan barang bukti
kemudian sekian senjata api
ada demikian granat
dan sekian butir peluru
hingga tadi malam telah terjadi penembakan
ada orang tewas dan orang kritis di langkah
sebelumnya ada beberapa orang tewas

Setelah jauh ku menjelajah
sekian orang luka berat
kota ini terus di hantui petrus
ada apa dengan pemerintah
ilmuku terasa ringan bila ku bawa
dalam perjalanan selalu bertanya
agar semua tahu itu apa
biar terjawab itu semua
semoga otak tak membeku
diriku senantiasa ingin mengerti
karena pengetahuan membuatku lugu
ada apa dengan aparat ini
mengapa ini di biarkan terjadi
sampai kapan akan terus terjadi
(Pondok Petir, 12 Juli 2018)
         Edy Priyatna, Lahir di Jakarta 27 Oktober 1960. Sangat suka menulis apalagi kalau banyak waktunya dan suka sekali memberikan komentar.
Menulis sejak tahun 1979 saat aktif di ‘Teater Bersama’ Bulungan Jakarta Selatan. Tulisannya, Cerpen dan Puisi pernah dimuat di beberapa surat kabar Ibukota pada tahun 1980. Pada tahun 2001 tulisannya masuk dalam buku kumpulan Cerpen dan Puisi karya sendiri “Gempa” cetakan pertama Pebruari 2012.
Dan buku “Buku Petama di Desa Rangkat” Januari 2015. Kini aktif di Kompasiana sejak 08 Maret 2011 kemudian hingga saat ini telah menulis sebanyak lebih kurang 1.700 tulisan.




Pensil Kajoe Kumainkan Peranku dengan Improvisasi

Pensil Kajoe

Kumainkan Peranku dengan Improvisasi

kumainkan peranku
sesuai dengan skenario
bolehkah improvisasi
sebab aku, hamba yang mbeling
kadang eling
kadang linglung

ketika sujudku adalah bentuk tuntutan
pemenuhan segala inginku
bukan bukti kepasrahan padaMu

aku memang hamba mbeling
keimananku masih fluktuatif
naik turun seperti ombak
gelombang nafsu menghantam

aku, si manusia mbeling
yang bisa berperan manis
meski masih antagonis
sebab improvisasi kebablasen
tak eling menjadi hamba
yang lupa skenario awal
sebagai manusia.

22092018



Nila Kesuma Palu dan Arit

Nila Kesuma

Palu dan Arit

Ketika bernama palu bersama dengan arit, aku tidak berteman dan berusaha jauh dari jangkauan dan intimidasi semua pergerakan

Kepala palu selalu mengarah dan tertuju kepada para buruh yang tercekal suara dan pendapat

Sesungguhnya arit selalu bergejolak diantara kemarahan dengan atas namakan kemakmuran untuk para petani

Aku terlalu mencintai negriku
Tidak pula berusaha mengganti
PALU DAN PAHAT
Ketika pahat ingin berjalan mencapai tujuannya harus ku ketuk dengan palu

Begitupun aku menghapus pertemanan dengan palu dan pahat
Karena palu dan pahat harus ada sokongan dan tidak mandiri dalam berfikiran di era globalisasi dan canggih




H. Asril Setengah Abad

H. Asril

Setengah Abad

Lima puluh tahun yg lalu
Saat anak 2 mencium bau asap motor
Berderet di tepian jalan berdebu
Menanti harley,Norton lewat           
Girang mencium bau asap
Sambil berkata.........
 Mungkinkah aku dan kau
 Menaiki seperti tuan tanah.....
 Zamanpun berubah....
 Honda.....Yamaha...Suzuki
Berderet di rumah tak beratap     
Bisakah bersyukur....
Pada Tuhanmu........
Atau kau lupa NikmatNya.....
Tuhan aku takut murkaMu...
   




                               
H. Asril adalah seorang penyair kelahiran Indramayu, Tinggal di Indramayu, dan menulis puisinya dalam bentuk tulisan tangan. Kesehariannya adalah seorang ulama dan pendidik di Indramayu.


Heru Mugiarso Bukan Puisi Biasa

Heru Mugiarso


Bukan Puisi Biasa

Ini bukan puisi biasa
Kerna ditulis di balik kuitansi  mark up
Penggelembungan anggaran kantor
Maka bisa dimengerti
Jika puisi  jadi tertuduh dan ikut menanggung dosa
Dan dimintai pertaggung jawaban
Di depan petugas KPK

Atau puisi yang tersurat
Di sela kado ulang tahun selingkuhan
Maka bisa dipahami
Ia kena pasal perzinahan
Di akhirat nanti

Bahkan puisi yang dipesan oleh capres
Buat kampanye dan pencitraan
Pada tahun politik
Tahun depan
Maka bisa diketahui
Ia jadi saksi
Hidup mati
Bahwa
Puisi itu
Juga  masih mempan
Atas Uang sogok, gratifikasi dan  model amplopan

Puisi Ini bukan puisi biasa
Puisi yang diciptakan dengan cara memperkosa
Diksi, majas dan metafora
Dan segala hiasan  piranti bahasa  serta tetek bengek
Buat konsumsi zaman
Yang  makin mbleketek

Sebab puisi  biasa
Hanya laku buat merayu kamu
Agar tetap  cinta padaku
Atau hanya berlaku di  dunia maya
Yang kini  sudah kehilangan Luna..
2018

























Heru Mugiarso

Paradok Negeri Hoaks

Tak ada yang lebih sibuk dari negeriku
Yang pekerjaan warga negaranya cuma membikin dan membagi hoaks
Ada hoaks berlabel agama , ada bercap politik  atau yang murahan ala selebritis
Selayaknya pekerjaan  maka mendatangkan duit  dan tak gratis

Tak ada yang lebih riuh dari ini  bangsa
Pengguna  lima besar medsos di dunia
Selalu sibuk bikin status entah ujaran kebencian atau sindiran
Tapi inilah suara demokrasi yang mesti dimuliakan

Dan anehnya ketika suatu hari  di bagian lain negeri ada musibah
 Konon lautnya sampai tumpah  dan buminya pun merekah
Ada saja yang bikin lelucon hoaks memicu rasa marah
Konon dia mengaku dipukuli dan wajahnya berdarah-darah

Dan sungguh bodohnya  para jemaah hoakers  ikut-ikutan  melawak
Dengan kesumat dan marah yang bikin tergelak-gelak
Tapi begitulah saking mbleketeknya  itu lelucon
Akhirnya bikin mereka tampak bego dan kian bloon

Jangan kaget hidup di negeri mbleketek
Soal hukum  selalu memandang bulu ketek
Kalau rakyat jelata menyebar hoaks akan dibui
Maka  cukup dimaafkan lahir dan bathin bila pelakunya petinggi dan politisi.
2018







Heru Mugiarso, lahir di Purwodadi Grobogan, 2 Juni 1961. Menulis puisi sejak masih duduk di bangku SMP.  Karya-karya berupa puisi, esai dan cerpen serta artikel di muat di berbagai media lokal dan nasional. Sekitar enam puluhan judul buku  memuat karya-karyanya.Penghargaan yang diperoleh adalah Komunitas Sastra Indonesia Award 2003 sebagai penyair terbaik tahun 2003 Namanya tercantum dalam buku Apa dan Siapa Penyair Indonesia (2017.)Sebagai nara sumber acara sastra pada program BIANGLALA SASTRA SEMARANG TV. Juga, Pembina Komunitas Lentera Sastra mahasiswa jurusan Bimbingan Konseling Unnes.





Raeditya Andung Susanto Sibuk

Raeditya Andung Susanto

Sibuk

Orang kita sedang sibuk menyambut Pilpres
diagendakan banyak perayaan
menggandeng segala macam profesi
elemen masyarakat hingga organisasi

Padahal pilpres biasa-biasa saja
mereka terlalu membesar-besarkan
sebab siapapun pemenangnya
kita tetap bisa bekerja

Namun tidak saat Pileg
ditambah batuk bahkan demam
buat makan saja tidak enak
apalagi untuk bekerja

WkWKWK, 9 Oktober 2018












 Raeditya Andung Susanto

Curhat

Jadi sebenarnya, saya mau curhat
Ini bukan puisi, sajak atau semacamnya
Ini cuma keluh rakyat biasa
terhadap pemerintahnya

Heran saja sama petinggi yang duduk
manis di senayan atau ibu kota sana
mereka itu gajinya sudah nganu
tapi tetap banyak nganu

Prestasinya ; nganu
Rakyatnya ; tetep nganu
Negaranya ; makin nganu

Bagaimana kalau setelah pelantikan
Presiden tahun depan kita ganti
namanya jadi Dewan Perwakilan Nganu?
Bekasi, 9 Oktober 2018

Raeditya Andung Susanto penulis asal Bumiayu, sedang menempuh pendidikan S1 di Sekolah Tinggi Teknologi di Bekasi. Pernah menjadi Juara 2 LCP tingkat Nasional 2017, Penulis RUAS Indonesia-Malaysia 2017, Antologi Puisi Abu-abu Merah Jambu, Penulis Antologi Wangian Kembang Konferensi Penyair Dunia (KONPEN) 2018, Penulis Antologi Senyuman Lembah Ijen 2018, Indonesia Lucu 2018, Menjemput Rindu Taman Maluku dan masih banyak lagi. Sedang menyiapkan buku pertamanya.

Minggu, 25 November 2018

Sarwo Darmono Blekethek

Sarwo Darmono

Blekethek

Blekethek kuwi Reget
Blekethek kuwi Jijik
Blekethek kuwi Kotor
Blekethek kuwi elek
Blkethek kuwi sampah
Blekethek kuwi Comberan

Blekethek Ragane
Blekethek Pikire 
Blekethek Atine
Blekethek Jiwane
Blekethek Tingkah polahe

Blekethek Atine , Jiwane , Pikire
Rumangsa Bener dewe
Rumangsa Apik dewe
Rumangsa Suci dewe
Rumangsa Pinter dewe
Wong liya raneng bener lan Apike
Sak papan papan nyebar warta ora genah
Dadi sumbering Dredah
Ndadekna Congkrah para Titah
Nganti ora pirsa lan rumangsa
Blekethek e Jiwa priangga

Yen sing blekethek Ragane siniram Tirto bening sirna blekethek e
Yen sing blekethek Ragane tinutup Ageman ilang blekethek e
Ning yen sing blekethek Atine , Jiwane , Pikire
Kuwi watak angel tambane, kepara ginawa Pralaya
Wus pada pirsa bedane blekethek lan  apik tur resik
Mung kari milih nandur blekethek apa apik tur resik
Ing tembe tamtu ngunduh apa kang tinandur

Lali lali den elingna
Mumpung isih ana Rasa lan Mangsa
Urip mlaku suci bakal mukti
Urip mlaku Jujur bakal Makmur
Urip mlaku Blaka bakal Mulya
Urip mlaku prasaja bakal Raharja

Lumajang 10 Oktober 2018
pangripto Sarwo Darmono






Gilang Teguh Pambudi Sepotong Bangunan Masjid yang Masih Kokoh

Gilang Teguh Pambudi

Sepotong Bangunan Masjid yang Masih Kokoh

gempa dan tsunami mengecup pipiku dengan tega
katanya cuma soal perbatasan
antara cinta yang sempurna dan cobaan
tetapi siapa bisa membendung airmata
yang kau sebut juga
telah meluluhlantakkan sebagian kerajaanmu?
maaf, dalam tenang pun aku lupa membayangkan
kerajaan gempa
kerajaan tsunami
yang sekarang dipimpin oleh raja ke berapa?
apalagi dalam tertekan dan marah-marah
mendengar televisi menyebut 40 nyawa mati
aku tak bisa bergerak
nyatanya kau meralatnya dengan kabar yang membakar
ribuan yang mati
oooo, palung laut
di mana tongkat sakti untuk memukul kepala raja gempa dan raja tsunami?
tetapi sekali lagi kau malah menghiba,
airmataku telah meluluhlantakkan sebagian kerajaanmu
lalu apa yang harus aku katakan
tentang kota-kotaku yang hilang?
kau mengecup keningku lagi
dengan daftar korban jiwa,
orang-orang luka berat dan puluhan ribu pengungsi
sambil berkata, "Allah merahmati kita"
dan aku nyaris tidak dengar
--- untung masih menangkap maksudnya---
lalu terhuyung-huyung di pantai yang kacau aku berteriak,
"Berarti sepotong bangunan mesjid yang masih kokoh itu
mempertahankan hidup dengan nyawa-nyawa yang pulang
yang ditangisi ibu bapaknya
yang ditangisi kakek neneknya
yang ditangisi suami-suaminya
yang ditangisi istri-istrinya
yang ditangisi anak cucunya
yang ditangisi guru-gurunya
yang ditangisi murid-muridnya
yang ditangisi teman-temannya
yang ditangisi kekasihnya
ya Allah, kesombongan apakah yang telah kuperbuat
sehingga doaku tidak mengamankan mereka
untuk melanjutkan hidup bersama?
atau, kau ingin mengatakan
mereka yang selamat telah pulang dengan tenang
justru kepada yang masih hidup
telah dititipkan duka kelakuannya
yang biadab kepada sesama dan lingkungannya?
untuk dipecahkannya di seluas bumi
seluas lautan?
ooohhh, malangnya!
hinanya!
Kemayoran, 09102018




Gilang Teguh Pambudi.

BAU BANGKAI RUPA MELATI
aku tidak terlalu percaya demokrasi hari ini
mblekethek lebih buruk dari tai sapi dan lumpur kimia di lantai rumah
seberapa hebatpun gundulmu menyanjungnya
tetapi aku percaya apapun namanya
termasuk yang disebut demokrasi yang sempurna
aku tidak percaya pada akal-akalan kalian
mblekethek bau bangkai rupa melati
seberapa hebatpun kalian mengakaliku
tetapi aku percaya pada akal sehat
termasuk yang kau yakini, sesungguhnya itu yang paling menentramkan
mengapa gila buta kalian pada kekuasaan?
membunuh kemanusiaan dengan cerita lucu kesejahteraan?
bahkan orang-orang baik kalian tunggangi
sehingga nampak buruk rupa?
hidup nestapa fitnah belaka?
Kemayoran, 06102018

Gilang Teguh Pambudi. Penyair yang penyiar. Menulis puisi, cerpen dan artikel sejak kelas satu SMP dan mulai dimuat koran sejak kelas satu SMA/SPGN. Profesional sebagai Orang Radio Indonesia sekaligus narasumber acara Apresiasi Senibudaya di radio-radio, sambil terus menekuni dunia sastra, teater dan menjadi guru gambar anak-anak. Itu sebabnya sering dipanggil untuk menjadi pembicara senibudaya dan jadi juri teater, puisi dan menggambar.

Nur Komar, Negeri Wayang

Nur Komar,

Negeri Wayang

Wayang-wayang jadi dalang
Penontonnya jadi wayang
Cerita peperangan
Cerita dagelan
Sangat super
Bikin baper
Dalangnya di belakang panggung
Main catur dan berhitung

Isu-isu dibuat naskah
Aib-aib digelar sudah
Caci maki dan mengumpat
Saling tuding dan menghujat
Agama jadi baju perang
Majulah wayang, maju serang!
Dalang asli main catur
Dalang dadakan yang mengatur

Jiwa-jiwa dipenuhi kesumat
Ancam mengancam disemat
Di setiap beranda mereka berkata
; kepada tanah air, kami cinta

Jepara, 2018




Rasanya Sampean

Rasanya belum kering benar
Seperti baru kemarin kudengar
Di bawah kitab suci sampeyan disumpah
Dengan fasih sampeyan mengucap tak tersanggah

Rasanya belum deras benar
Kerja baru menggerimis sebentar
Tapi kantongmu tergenang mata uang
Itu hujan dari mana, sayang?

Rasanya masih hangat membekas
Tidak akan berbuat culas
Tapi tak ada senikmat uang
Hingga sampeyan jadi maling jalang

Rasanya semakin kumuh sudah
Penuh serakan sampah sumpah
Orang-orang macam sampeyan bikin sengsara
Di penjara pun tidak jera
Selagi sampeyan dapat membeli
Semua jadi buta tuli

Rasanya sampeyan itu intelek paling brengsek
Lebih menjijikkan dari muntahan dalam kresek

Jepara, 2018






Nur Komar, lahir di Jepara, 1 Agustus 1977, tinggal di Jobokuto, Jepara, Jawa Tengah. Telepon/WA 081326221919. Antologi bersama yang diikuti : Kitab Karmina Indonesia (2015), Klungkung; Tanah Tua, Tanah Cinta (2016), Membaca Jepara #2,3 dan 4 (2016-2018), Lumbung Puisi Sastrawan Nusantara V dan VI; Rasa Sejati dan Indonesia Lucu (2017, 2018), Sajak-sajak Anak Negeri; Bianglala (2017), Munajat Ramadhan (2017), Tentang Masjid (2017), Bersyiar dengan Syair (2017), Kita Dijajah Lagi (2017), Kunanti di Kampar Kiri (2018), Sidik Jari Kawan (2018).







Zaenni Bolli Cuaca Buruk

Zaenni Bolli

Cuaca Buruk

Saat cuaca buruk datang
Aku buru buru mendekati tuhan
Di rumah di dalam kamar
Berharap pohon pohon tumbang tidak menimpa rumah yang ku tempati
Sambil up date status
Berharap tuhan dan bupati membacanya
Entah siapa lebih dulu yang peka
Berpestalah dilan
Sementara diantara kabut negeri
Widji tukul belum ketemu
Orang kaya dengan sejuta alasan
Membeli suaramu
Untuk kejayaan
Aku ingin mati bersama orang orang kalah di negeri ini
Riston kejarlah cintamu sampai ke Boru
Di sana ada kebun kopi juga coklat
Aku menyebutnya Bandung van Flores
Selamat menikmati cuaca buruk Indonesia
Selamat berlibur para siswa di Larantuka
Bersoraklah bersama badai yang datang
Flores 2018






Di marahi istri
Minyak tanah habis
Lampu padam
Di luar hujan
Di rumah tinggal ubi
Jauh di luar sana sengketa masih berlanjut
Sengketa kata
Di padang kurusetra
Di sini angin kencang menumbangkan pohon pisang di jalan 3
Di sini angin ribut
Di sana engkau ribut
Jangan lupa bawa unti
Atau ku tumbuk perutmu bang
Hujan deras lampu padam
Realitas kita tak lagi sama
Ingin berdamai tapi di luar masih hujan
Berdamai dengan hatimu
Sajak
Flores 2018














Moh Zaini Ratuloli (Zaeni Boli), lahir di Flores,29 Agustus 1982. Belajar membaca puisi sejak 1989 ,belajar menulis puisi sejak 2002 biasa menulis dihalaman facebook ,tapi beberapa karyanya juga pernah ikut di Antologi Puisi menolak korupsi (Jilid 2b dan jilid 4),Memandang Bekasi 2015,Sakarepmu 2015,Capruk Soul jilid 2,Antologi Puisi Klukung 2016,Memo Anti  Kekerasan terhadap  anak,Lumbung Puisi jiid 5 “Rasa Sejati”(antologi) 2017 ,Negeri Bahari 2018 dan Koran maupun bulletin lokal di Bekasi .sejak 2013 –sekarang tergabung dalam komunitas Sastra Kalimalang(Bekasi) .Sempat beberapa kali tampil di Wapres Bulungan baik acara Sastra Reboan maupun yang lain .Juga aktif bergiat di literasi dan teater.Sekarang tinggal di Flores aktif di Nara Teater ,mendirikan TBM Lautan Ilmu dan mengajar di SMK SURA DEWA Flores Timur sekaligus mendirikan Bengkel Seni Milenial sebagai wadah eskul kesenian di sekolah tempat mengajar .




Arya Setra Mblekethek yang Mblekethek

Arya Setra

Mblekethek yang Mblekethek

Saat pagi setelah bangun tidur
Kulihat cuaca sangat cerah sekali
Kuhirup udara segar menghantar hayal akan indahnya hari
Kuteguk kopi sambil ku buka gadget
Namun hayalku sesaat berhenti dan buyar
Ketika para mbelekethek-mbelekethek
Hilir mudik memenuhi wall medsosku
Mereka berdebat tentang masalah mbeletekethek Yang posting si mbelekethek
Yang koment juga mbelekethek
Aku pun yg baca sambil ngelus dada
Jadi ikut mbelekethek
Emang situasi sekarang lagi mbeleketehek
Karena ulah para mbelekethek
Yang semakin hari semakin mbelekethek
Semoga saja negara kita tercinta ini
Tidak menjadi negara mbelekethek
Walau kenyataannya banyak orang-orang yang mbeleketek

 Jakarta 21 oktober 2018

Uyan Andud Lelah

Uyan Andud

Lelah

Aku telah ribuan tahun, bahkan lebih
Menggendongmu!
tapi  tak seberat bebanmu, kali ini
Wahai manusia modern.

Akhirnya aku sedikit gerak
untuk berak
Retak - retaklah tubuhku
Mengucur kotoran
tapi masih bleketek kotoranmu
Wahai, manusia modern

Dan kau kaget
Berlarian
tabrakan
Jatuhlah korban
Amis!
Bau jasadmu campur kotoranku
tapi masih mbleketek jasadmu

Tangislah sekencangmu

Aku telah ribuan tahun, bahkan lebih
Mengendongmu!
tapi tak seberat bebanmu, kali ini
Wahai manusia modern.

Kediri, 20 Oktober 2018

Uyan Andud, lahir bulan September 1971. Menempuh pendidikan di  daerah kabupatan Kediri; untuk SD - SPG. Sekarang tinggal di Kediri dan bekerja di daerah Kediri juga.

Sujudi Akbar Pamungkas Sarkofagus (3)

Sujudi Akbar Pamungkas

Sarkofagus  (3)

suara auman dan gaduhriuh kekuasaan
telah menjelma mandau ancaman bagi
setiap benak yang berceceran di samudra
kematian. bau amis dan aroma mblekethek
kebijakan yang sedemikian berbusabusuk
telah tajam menghujam tubuh, menyeret
ke dalam pusara arus yang menderadera
semakin bergolak semakin kentara jejak
urukan-urukan hidup yang telah kesekian
terbunuh dalam amuk pertarungan suntuk
betapa kejelataan hanyalah jasad yang
senantiasa merayap dan melata dalam
gemuruh badai sukacita sang penggembira
pun alibi-alibi kekuatan terus saja menebar
gelombang bualan pesona yang menjerat
ganas menggilas sisa-sisa harapan dengan
penuh keberpihakan serta keserakahan
di sini sederet papannama perlindungan
dan semboyan kemanusiaan yang begitu
heroik menggelora, justru telah menjadi
desahan-desahan manja manusia plastik
manusia yang terangsang ereksi kecantikan
palsu, kecantikan yang dimanja nafsu-nafsu
"yah, syantik-syantik manja mbleketheknya
yang syantik dan manja sepantasnya siapa?"
inilah wajah bopeng negeri kita, menebar
ancaman dan bertopeng diri. kegaduhan
ketimpangan dan kamuflase-kamuflase
adalah genderang sangkakala yang tiba
menjemput. sedemikian menyeramkan
bayangan hidup, kegelapan telah semakin
memperlebar galian kubur. segala bangkai
dan tulangbelulang saling tumpangtindih
merangsek dalam bimpitan sarkofagus!
(parit, oktober 2018)
















Sujudi Akbar Pamungkas, Lahir di Tuban 1971. Karya selain di media massa
terbit di puluhan buku Kebangkitan 1995, Getar
1996, Antologi Puisi Indonesia (API) 1997, Negeri
Bekantan 2003, Memo Presiden 2014, Kalimantan
Rinduku Abadi 2015, Burung Gagak di Palestina
2015, Jaket Kuning 2014, Puisi Menolak Korupsi-6
2017 dll. Biografinya masuk dalam buku Leksikon
Susastra Indonesia 2000 oleh Korrie Layun Rampan.
Saat ini tinggal di pedalaman Kalteng.

I Ketut Aryawan Kenceng Gaduh

I Ketut Aryawan Kenceng

Gaduh

Bahasa- bahasa runcing
Sumpah serapah
Sesak bertaburan
Menikam hamparan
Seringai dusta
Panjang menjulur
Sulur –sulur lidah bertuba
Menjilat pikuk laman
Tumpang tindih
Silang menyilang
Mendentumkan gelombang riuh
Bara membara
Memantik api seteru
Menderu- deru
Mematahkan telinga
Mengecutkan senyum
Gaduh merubung hari
Catatan Negeri Penyamun

Rempah berlimpah
Hasil alam meruah
Bertumpuk – tumpuk rupiah
Menjadi ladang target
Menumpuk kantung –kantung harta
Menjadi camilan empuk lezat
Sambil ngopi –ngopi berselonjor kaki
Para pemegang kendali
Kabupaten, kota dan propinsi
Berjuang sekuat tenaga
Menggaruk berjamaah
Bermuka badak
Senyum simpul
Cengar cengir
Berbaju oranye
Memenuhi layar kaca
Wara wiri
Seperti selebritis
Bergelombang mejeng
Petantang petenteng
o ,negeri yang indah
 Dijejali manusia-manusia tomat busuk
Otak soak
Penjarah ulung
Gerombolan penyamun


I Ketut Aryawan Kenceng , Klungkung Bali ,22 Desember 1959 Pekerjaan : Swasta
Karya karya sastra telah dimuat di Koran Bali Post ,Tribun Bali, Denpost , Pos Bali , Wartam
Antologi puisi : Klungkung Tanah Tua Tanah Cinta  Senyuman Lembah Ijen, Dari Sittwe ke Kuala Langsa, Haiku Melawan Korupsi ,Ketika Kata Berlipat Makna


Leli Luyantri Tuhan tertidur pulas

Leli Luyantri

Tuhan tertidur pulas

Tuhan tertidur pulas
Kau acungkan ibu jari sebatas pundak
Bergerilya memutari dunia
Berharap setiap pasang mata
Melihat lagi lakonmu
Yang ayu bijaksana

Tuhan tertidur pulas
Kau ciumi tangan-tangan basah
Kau tiduri kenangan lama
Hilangkan jejak buruk rupa
Kau sirami tanah surga
Dengan cinta kepura-puraan
Lakonmu yang kian mendrama
Butakan mata dunia
Mencintaimu penuh suka

Barangkali mereka lupa
Kau hanya menidurkan kenangan lama
Yang akan terbangun suatu ketika
Menghancurkan segala harap kita

Barangkali kau sungguh  lupa
Tuhan tertidur pulas
Ia tetap menatapmu was-was




Leli Luyantri atau akrab dengan nama pena Lie, perempuan lahir di Indramayu pada 18 Mei 1995. Kini tinggal di Indramayu juga.





Mohammad Mukarom. Nama Sebuah Wisata

Mohammad Mukarom.

Nama Sebuah Wisata

Adalah aku.
Kauingin suatu saat
kaudatang sesaat
“Sekali-kali” katamu untuk melepas penat.
Sekali atau berkali-kali itu tetaplah menyisakan luka sayat.
Aku terdiam, aku hanya nama sebuah wisata.

(2018)


 Mohammad Mukarom, Lahir di Gresik yang kini menekuni dunia kepenulisan, mulai dari Puisi, Cerpen, Esai. Dan akan terbit dua bukunya bergenre kumpulan sajak dan kisah inspiratif.
Penulis dapat dihubungi melalui WA 085843131913



Edi Kuswantono Mbleketek

 Edi Kuswantono

Mbleketek

Ageman saiki pating mbleketek
Anane angel diarani becik
Amarga manungsani dakik-dakik
Akhire murat marit ara mancik

Ajine diri saka lati
Awak dewe gudu wigati
Apa ae sing bakal dadi
Ajak angger ngucap anani

Aya kanca pada migatek ake
Arani sak iki wis pada ruwette
Angger ucat sak penake
Amarga tatanan wis ara digape


Jagla Jambangan, Sby, 261018

Firman Wally Mbeleketek I

Firman Wally


Mbeleketek I

Kata singkat
Memikat liur kian lekat
Menguarai leher
Mencekik bibir
Mengunyah lidah
Menelan ludah

Mbeleketek
Mbleleketek
Kata singkat
Tapi menjerat leher
Bagaikan disambar gledek

Ambon, 24 Oktober 2018














Mbeleketek  II

Apa itu mbeleketek?
Itu mantra-mantra
Atau kata mutiara
Entah lah

Atau sejenis
Nyanyian pengemis
Yang nyaris teriris
Akan senyuman sinis

Mbeleketek Itu
Ledekan
Atau gledek
Atau
Atau
Sekedar
Mengedar
Matra mencekik leher
Atau
Atau
Ah

Ya sudah

Untuk itu
Aku tidak tahu
Ambon, 24 Oktober 2018

Firman Wallylahir di Tahoku, 3 April 1995
Saat ini masih mahasiswa di sebuah unv di Ambon. Mahasiswa Tinggal di Ambon.

Alkalani Muchtar Yogyakarta

Alkalani Muchtar

Yogyakarta

Diantara lalu lintas yang padat
Dan udara dingin berdebu panas
Sepanjang jalan kehidupan
Diantara deretan toko toko batik
Dan pintu pintu yang kokoh
Sekali sekali terdengar musik jalanan
Tampa pamrih
Setiamu aku jadi rindu
Padamu Yogyakarta
Sajak dibawah bulan
Pohon pohon tanjung
Mengisahkan cerita masa lalu
Bersama usia
Yang setia menyampaikan rinduku
Yang panjang dan melelahkan.

Yogyakarta.03 Agustus 2018.











Pengembaraan

Ku coba berlari
Mengoyak ngoyak kepekaan hidup ini
Menuruni lembah
Mendaki gunung
Dengan sekecap yakin
Yang membara dalam diriku
Terbentur ditepian jurang
Dibatas yang tiada tara
Kuterjang buas keganasan ombak
Kemudi patah
Terpental pada suatu wajah
Kulukis dalam jiwaku
Dimana rantai emas itu kukalungkan
Dilehernya
Kini ku tak kenal diri
Tak tau waktu berapa lama
Telah berlalu
Tiada warna dunia bagiku

Alabio,16 Juli 2018.




Ade Sri Hayati Aku Bertanya Siapa Namamu

Ade Sri Hayati

Aku Bertanya Siapa Namamu

Lihat,  lihat,  ini sajak bebas yang ingin sekali aku bebaskan
Sekali ini,  dan itu menjadi keabstrakan dalam kontras warna yang  sekali lagi ingin aku lukiskan
Ya,  langit tidak akan selamanya gelap, 
Ia menjadi apapun yang khalik perintahkan
Itu kepastian

Bukan asumsi asumsi yang menjadi kalimat sumbang pada sebuah wacana,  atau
Tentang apapun yang menjadikannya sunyi

atau
Atau
Atau apapun yang menjadikan suka menjadi lirih
Kamu punya pengibaratan? 
Ini diksi diksi yang sengaja aku toreh pada sanubari yang sekarang bertanya
Pelan,  pelan, pelan

Dan tertawa,
Khodam yang menjadikan itu menjadi bisu
Kalimat itu yang mengutukkan
Dan aku kalah pada tangisan,
Ya bee
Bee
Bee
Indramayu 28 Oktober 2018

Raden Rita Maimunah Negeri Tak Bertuan


Raden Rita Maimunah

Negeri Tak Bertuan

Tuan aku ingin bertanya ,Negeri apakah negeri kita ini
Aku petualang di  negeri sendiri
Yang tak pernah dapat singgah di satu tempat
Yang dapat nyenyakkan tidurku
Negeri ini seperti berada dalam peradaban ku no
Ada suporter bola yang di keroyok sampai mati
Guru yang menyekap muridnya
Siswa pelayaran yang terbunuh
Bunuh membunuh sepertinya hal yang biasa
Sindikat narkoba makin bertebaran di mana-mana
Di Negeri ini sepertinya hukum rimba telah berjalan
Tuan, maling bertebaran
Aman kah negeri kita Tuan?
Bingung.... bingung memikirkannya, Mbleketek

Padang, 28 Oktober 2018











Raden Rita Maimunah

Ha ….ha …ha ….

Baginda
Kehidupan ini begitu sulit
Aku masih punya nurani
Tak ingin mengemis, tak ingin maling
Honda bisa kredit, aku jadi tukang ojek
Wahai baginda penguasa
Aku telah salah parkir
Dan kalian langsung ambil hartaku
Harta satu-satunya baginda, dan suratnya lengkap
Kenapa harus motorku yang kau ambil
Kenapa tidak kau tilang saya pak polisi
Mbleketek... kehidupan  seriingkali terasa sulit dan rumit
Kita tinggal tertawa  ha...ha....ha....ha

Padang, 28 Oktober 2018



Raden Rita Maimunah, Negeri asal cianjur, profesinya  sebagai PNS tinggal di daerah lubuk minturun Padang, lahir tanggal 2 februari, bagi yang ingin kontak menambah persahabatan monggo ke “ 082172619207 atau ke WA juga boleh dengan no 081266135861, atau di FB dengan nama radenritamaimunah, beberapa karya pernah memakai nama pena Raden Rita Yusri. Sering ikut dalam Antalogi puisi, yang mau mampir ke email juga boleh maimunahraden@yahoo.co.id.


Roymon Lemosol Suksesi

Roymon Lemosol

Suksesi

menyambut sukseksi
politisi sibuk mencari kambing hitam
pada reruntuhan bangunan
dan barak-barak pengungsi tanpa memberi solusi

sedang bencana tiada menepi
hujan tak kunjung henti
mengguyur tanah tanah negeri
meski musim telah lama berganti

maka di laut,
perahu tenggelam
di darat,
rumah terendam

di udara nasib rakyat mengambang
Ambon, 28 Oktober 2018











Roymon Lemosol, kelahiran Lumoli Kabupaten SBB, Maluku 24 Agustus 1971. Karya-karyanya pernah dimuat di halaman sejumlah media lokal maupun nasional, antara lain majalah Fuly, Assau, Lombok Post, Suara NTB, Banjarmasin Post, Koran Seputar Indonesia, Media Indonesia,dll. Sebagian lagi terhimpun dalam puluhan buku antologi bersama  penyair nasional dan internasional. Buku kumpulan puisinya, Sebilah Luka Dari Negeri Malam (Akar Hujan Bojonegoro 2015). Puisinya yang berjudul “Pulang” meraih Anugerah Puisi Pilihan Gerakan 1000 Guru Asean Menulis Puisi Tahun 2018.




Sukma Putra Permana Di Alun-alun Brebes Mengobati Jemu

Sukma Putra Permana

Bbrebes Mencegah Pageblug di Masa Lalu

Lintang kemukus di malam sunyi. Membuat ciut nyali. Firasat akan datangnya wabah menjangkiti. Atau pertanda akan adanya rajapati. Segera siapkan Sega Kunar sebagai sesaji. Berupa kembang tiga rupa warna-warni. Melengkapi ayam kampung panggang dan telurnya dua-tiga biji. Dan satu tusukan brambang lombok abang di atas setangkup nasi kuwali.

Setelah didoakan agar jauh dari wabah yang sinting. Letakkanlah di salah satu sudut rumah yang dianggap penting. Esok harinya, adakanlah pertunjukan barongan dan kuda lumping. Dengan musik tradisional diarak berkeliling. Orang tua dan anak-anak kecil ikut ramai di belakang beriring. Keluar-masuk rumah-rumah penduduk menyambar bantal-guling. Tak peduli bau apek ataupun pesing. Semuanya langsung dilempar ke atap rumah di atas genting.

Setelah selesai, kuda lumping pun pusing tujuh keliling. Mungkin terlalu banyak terhirup aroma guling nan pesing.......

Oktober 2017/2018




Sukma Putra Permana

Di Alun-alun Brebes Mengobati Jemu

Pernah ada suatu saat
kita dipertemukan oleh waktu
malam hari di sebuah sudut alun-alun kota
sambil menyeruput teh poci bergula batu.
Terlarut dalam obrolan panjang
tapi tak pernah membuat lidah kelu
tentang penyair penulis sebuah puisi cinta
yang mati setelah membaca karyanya itu hingga jemu.

Mei 2016/ 2018


Sukma Putra Permana, lahir di Jakarta, 3 Februari 1971. Berproses kreatif di Komunitas Belajar Menulis (KBM) Yogyakarta. Puisi-puisinya pernah muncul dalam beberapa media cetak lokal di Surabaya, Surakarta, dan Yogyakarta. Kini, karya-karyanya lebih banyak dikurasi untuk dimuat dalam buku-buku antologi bersama. Buku puisi tunggalnya adalah: Sebuah Pertanyaan Tentang Jiwa Yang Terluka (2015, ISBN: 978-602-336-052-9).



Heru Marwata Dunia “Mblekethek”

Heru Marwata
Dunia “Mblekethek”

mblekethek begitu dekat dengan lethek
lethek bersaudara sepupu dengan yang bikin eneg
pembuat eneg juga slalu gak bisa mikir jejeg
lethek, bikin eneg, tidak jejeg, rasa mblekethek

dunia blekethek penuh mbelthut
ibarat kentut ampasnya katut
tak keluar sempurna karena nyangkut
omongane jian babar blas ora patut

mblekethek kaya banyu comberan
reget tur ambune gak karuan
sulit bedakan kritik dan umpatan
tergantung pada siapa yang mengatakan

mblekethek donyane lethek
akeh wong nyatur gak nganggo utek
kupinge loro nanging kabeh buntet kopoken lan budhek
upama sega kang wis wayu neng weteng marahi mbedhedheg

dunia mblekethek, dunia tanpa rasa
merekam waktu pada masa pancaroba
segala hal dikaitkan dengan selera
kesan sesaat berbalut nafsu berkuasa

dunia mblekethek, donyane blekethekan
akeh peceren duwe tutuk isa caturan
donya mblekethek, akeh pasulayan
rebutan bener apa wae gak kebeneran

Yongin-Korea, #pondokilusikatatanpaarti, 30102108









Heru Marwata (HM si Tahu Bulat), orang Yogya, asli Jawa, lahir dan besar di Ngayogyakarta Hadiningrat. Staf pengajar di Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya UGM yang sekarang menjadi Visiting Professor di Hankuk University of Foreign Studies (HUFS) Global Campus, Yongin, Korea Selatan ini ingin sekali berkeliling dunia dalam bingkai kata-kata. Ia hanya penggemar kata-kata sederhana yang selalu mencoba berkarya menandai eksistensinya di dunia sebagai rasa syukur atas anugerah-Nya.




Alhendra Dy Yang

Alhendra Dy

Yang
Yang buta itu aku,
Masih juga sanggup berkacak pinggang
Menantang kodrat
Seolah raja yang tak akan turun tahta,
Sombong !
Yang nista itu aku,
Enggan membungkus sangu
Bekal menapak masyar menuju telaga kautsar
Antara surga dan neraka
Beranggap dunia abadan akhirat hayalan
Songong !
Yang buta itu aku,
Tak jua jera merambah rimba dunia
Yang isinya itu ke itu juga
Sedangkan aku acap meluntasinya
Menancapkan rambu di setiap tegus ajar,
Zonk !
Yang kafir itu aku,
Terkatup rapat oleh fakta
Kubur berendam bangga dalam kubangnya
Menyuarakan suka duka sedang sedang cerita menjadi lain
Tak juga membuka mata hati lantas bangkit beranjak lalu pergi,
Plong !
Jangan gelapkan langitku Tuhan
Meskipun aku berjalan sendiri
Tak ada siapa yang salah
Hingga waktu mengakhiri.
Bangko, 291018

Alhendra Dy

Kado Tuhan

Kado ini aku bungkus rapi dalam rapuh
Tak akan aku buka sebelum datang waktu menjemput
Suka atau tidak begitulah adanya
Tak ada apa-apanya.

Kado ini adalah bingkisan kehidupan
Bekal menuju keabadian.

Tak Ada Ziarah Lagi

Lah semak jalan menuju ke pemakaman
Nisan-nisan tercabut
Kamboja berguguran
Rembulan mati,
Kelam.
Air kembang muai
Kembang tujuh warna melayu,
Hitam.

Tak ada ziarah lagi
Tak akan pernah ada.


Alhendra Dy, berusia 48 tahun, adalah penduduk kampung dari Bangko-Merangin-Jambi. Sejak tahun 1990 rela mendedikasikan usianya hanya untuk seni dan berkesenian.


Sami’an Adib Teatrikal

Sami’an Adib
Teatrikal

di sebuah jembatan dengan luap air yang membesar
sesaat setelah hujan menderai ribuan kabar
tentang air yang tak menemukan sulur akar-akar

orang-orang berdatangan saling berdesakan
menyaksikan air bah dari sisi jembatan
lupa kalau peristiwa ini sebuah peringatan

keriap air menampar tumpukan sampah yang tiba-tiba menjulang
melampaui permukaan sungai, meliuk-liuk menjelma kubang
dan dentum batu-batu yang saling beradu mencipta gaung

jerit kematian tiba-tiba melengking bersahutan
gelondong kayu menghantam tiang penyangga jembatan
yang beberapa waktu lalu diresmikan pejabat setempat

sebuah pertunjukan paling teatrikal
menyisakan tumpukan sampah peradaban:
batu-batu beton reruntuhan jembatan
bongkol kayu dengan akar kaku bekas pohon-pohon
hutan yang sengaja ditanduskan
plastik yang terus menerus dilarung
di sepanjang alur aliran sungai yang kian mengeruh

Semua membisu
semua membatu
tak ada yang peduli
pejabat yang dulunya berapi-api menebar janji
untuk membangun kampung, meretas desa, menata kota
tak kelihatan entah studi banding ke negara mana
konglomerat yang dengan lihainya merayu pejabat
lewat dalih eksplorasi hutan demi kemakmuran rakyat
menghilang bersama keping-keping muslihat
yang sejak mula disembunyikan di balik senyum seribu pikat
hanya lalat yang benar-benar peduli
menjadi penanda bagi mayat-mayat yang perlu dievakuasi
Jember, 2018















Sami’an Adib

Telanjang
1/
ditemani perempuan-perempuan genit yang mahir merapal mantera rayuan
kau, tuan penguasa, duduk bersila di tepi peti mati memulai ritual perburuan
bersulang anggur darah dari saudaranya yang sengaja dijadikan sapi perahan
2/
perempuan-perempuan berlidah api itu gemulai menjinjing seikat kembang
sedangkan kau mabuk di sampingnya, limbung menahan erang dan gelinjang
seketika cemar malam menebar nista di setiap  nganga lukamu yang meradang
3/
kau peram segenggam bara di balik sampir pelacur yang nyaris mati kelaparan
sebagai derma atas kuasa yang tahta rumuskan dalam butir-butir pelampiasan
lalu dengan dua-tiga hitungan kaumainkan orkestra jerit yang tak terumuskan
4/
diam-diam engkau menyelinap keluar dari kamar api yang kausangka penuh bidadari
sambil memanggul serpih kemenangan dalam buntelan selendang yang dulu kaucuri
entah apa yang tersisa, tapi dari caramu menyeringai pasti banyak orang tersakiti 
5/
seakan tanpa sesal, dari atas singgasana kau dongengkan kepongahan diri
juga tentang anak-bininya yang selalu sempurna mendapat asupan nutrisi
meski dari sehimpun jarahan dan ragam upeti
6/
entah pada simpang mana akan kautemukan gerbang kembali
pijakan awal menilasi ulang jalan ilahi yang sempat kauingkari
melepas semua kemewahan atribut: selubung bagi bening nurani
Jember, 2016









Sami’an Adib, lahir di Bangkalan tanggal 15 Agustus 1971. Alumni Fakultas Sastra Unej. Karya-karya tersebar di beberapa media massa. Antologi puisi bersama antara lain: Requiem Buat Gaza (Gempita Biostory, Medan, 2013), Ziarah Batin (Javakarsa Media, Jogjakarta, 2013), Cinta Rindu dan Kematian (Coretan Dinding Kita, Jakarta, 2013), Ensiklopegila Koruptor, Puisi Menolak Korupsi 4 (Forum Sastra Surakarta, 2015), Kata Cookies pada Musim (Rumah Budaya Kalimasada Blitar, 2015), Merupa Tanah di Ujung Timur Jawa (Universitas Jember, Jember, 2015), Kalimantan Rinduku yang Abadi(Disbudparpora Kota Banjarbaru-Dewan Kesenian Kota Banjarbaru, 2015), Lumbung Puisi IV: Margasatwa Indonesia (2016), Memo Anti Kekerasan terhadap Anak (Forum Sastra Surakarta, 2016), Ije Jela Tifa Nusantara 3 (2016), Requiem Tiada Henti (Dema IAIN Purwokerto, 2017),  Negeri Awan (DNP 7, 2017),  Lumbung Puisi V: Rasa Sejati (2017), PMK 6 (2017), Lebih Baik Putih Tulang daripada Putih Mata (2017),  Menderas Sampai Siak (2017), Timur Jawa: Balada Tanah Takat (2017), Hikayat Secangkir Robusta (Krakatau Awards 2017), Perjalanan Sunyi (Jurnal Poetry Prairie 2017), Negeri Bahari (DNP 8, 2018), Lumbung Puisi VI:Indonesia Lucu (2018), Kepada Toean Dekker (2018), dan lain-lain. Aktivitas sekarang sebagai tenaga pendidik di sebuah Madrasah di Jember.


Jen Kelana Ritual Senja Sunyi

Jen Kelana
Membingkai Riwayat Rinai
Ada yang memperdaya cuaca
pada sengkarut riwayat yang lara
memanipulasi duka

Ooo, siapa yang mengumbar kata?
tentang harga-harga dan segala rupa
bahan bakar naik lagi, naik lagi
tetapi tetap saja membeli

Ah, siapa yang menukar kata?
tentang luka dan segala nestapa
Lombok, Palu, Donggala, Sigi
tetapi tetap saja basa-basi

Lalu kemarau bergerigi rinai
doa luruh membingkai empati
pada kita semua anak negeri

Bangko, 12 Oktober 2018



 Jen Kelana
Ritual Senja Sunyi

hari tetaplah sunyi
api sibuk mengelabui mimpi
o, pulangkan rindu segera
usah kau semai lara yang fana
kisahkan ritual senja sedikit saja

ketika sepetak ruang mengikis waktu
aku diam menyisir takdir
repetisi sepi memantik resah
luka melumer gairah

hari masih juga sunyi
api setia menanak mimpi
RSUD, 25 Oktober 2018. 17:10
Jen Kelana,  Lahir di Nganjuk, besar di Sumatera Utara dan Jambi. Menulis puisi, cerpen, feature, esai, artikel, dan karya ilmiah. Pernah mengikuti berbagai pertemuan sastra. Puisi dan cerpennya terangkum dalam antologi tunggal dan bersama, selain itu sebagian karyanya juga dipublikasikan di media cetak dan media digital. Hobby elektronik, hardware, software, komputer dan web develover di samping menekuni bidang matematika, statistika, dan penelitian pendidikan.


RB. Edi Pramono Janji Kembang Api (Negri Mblekhetek)

RB. Edi Pramono

Janji Kembang Api
(Negri Mblekhetek)

dulu, prabu Kertanegara bersumpah cakrawala mandala dwipantara
tanah Jawa musti seluas Nusantara
ia tundukkan Sumatera, Melayu, Kalimantan
kecuali Sulawesi dan Papua
ia pun bergelar Maharajadhiraja
sumpah dan janji ia penuhi

dulu sang mahapatih Gajahmada amukti Palapa
manca negari di seberang lautan musti menghantarkan upeti
bersimpuh pada negri Majapahit yang sakti
amukti Palapa terbukti, janji yang mewujudkan diri

kucari jiwa ksatria mereka pada janji janji masa kini
pada Soekarno kutemui janji pada Aceh yang dilukai
pada pemimpin negri ini kutemui janji kembang api
sebentar berpendar menyenangkan mata
kemudian lenyap dibungkus lupa dan luka
maka jangan bertanya tentang jiwa ksatria

bacalah berita, lihatlah TV, dengarlah radio
akan kau temui beribu janji dari para pemimpin negri
janji janji kembang api

Yogyakarta, 30 Oktober 2018

RB. Edi Pramono

Apa Yang Musti Kuajarkan
(Negeri Mblekhetek 2)

apa lagi yang musti aku ajarkan di kelas
kecuali materi padat yang membuat jiwa penat
aku tak bisa bercerita tentang keteladanan
aku tak bisa berceloteh tentang jiwa ksatria
untuk mereka kelak memimpin bangsa

yang tersaji hanyalah para badut dengan sederet gelar:
kepala dinas, kepala departemen, direktur, menteri, Menko
bahkan hingga presiden
semua berkata-kata lucu penuh sembilu
semua bertingkah kocak yang bikin muak
betapa lidah sudah demikian murah

ajining raga amarga busana, ajining dhiri amarga lathi
pada busana keberadaan punya harga
pada kata-kata martabat dan kehormatan disangga
demikian jalan seorang ksatria
jangan kalian cari sekarang pada mereka di media massa
yang mengaku sebagai pengemban amanah bangsa

lihat, mereka tak malu menjilat ludahnya
lihat, mereka tak jijik menelan kembali taiknya
lihat, mereka berlomba menghias dusta
lihat, lihat, sebab mereka tak lebih dari sekedar boneka

apa yang musti kuajarkan tentang negri ini kepada mereka?
kututup buku saja
menyingkir mengosongkan kepala

Yogyakarta, 30 Oktober 2018




Carmad Sajakku Sirna

Carmad


Sajakku Sirna

Hatiku kalut otakku cemberut
Besok pintu syair kan ditutup
Sebulan penuh mengsis tajuk
Namun hampa yang ku peluk

Ku coba rayu embun pagi
Agar pucuk-pucuk rumput sudi berbagi
Namun basah jua yang tersisa
Sajak indah belum tercipta

Pada tabung kaca aku menyapa
Pada lembar-lembar cahaya
Cerita-cerita yang mereka warta
Hanya membuat baitku sirna

Detak waktu memburu nadiku
Tersisa beberapa jengkal saja
Belum juga sempurna diksi
Meski otak ku peras dan ku caci

Malaikat-malaikat kecilku bernyanyi
Minta suguhan sekerat nasi
Perutku makin mbelelethek saja
Puisiku belum jua sempurna
(indramayu, 30-10-18)





Merpati Senja

Kau datang saat mereka hendak lelap
Kicauan-kicauanmu pula jadi nyanyian tidur
Cerita tentang negeri seberang
Negeri kaya lagi periang

Senja itu kau menyapa
Suguhkan kisah duka rakyat di sana
Tentang lara bumi bergolak
Tentang laut yang amat galak

Sepuas hati kau tumpah kicau
Kaupun pergi ke lubuk khayal
Tinggalkan gaduh dan risau
Sirnakan damai yang semula terkawal

Senja ini kau siar warta
Tentang simbol Tuhan yang Esa
Tentang mereka yang membela bendera
Dan mereka yang menunggang kuda

Kapan kau kembali lagi
Kan ku buat kau jadi hidangan
Biar damai kembali bersemi
Dan malam menjadi berarti
(indramayu, 30-10-18)






CARMAD, pria kelahiran Indramayu 21-08-1986. Masih menjabat sebagai pimpinan perusahaan sekaligus koki dan marketing Batagor Keliling. Pernah lulus SMA N 1 Kandanghaur-Indramayu pada 2006, Gagal meraih gelar S1 karena faktor eko. Sekarang masih mondok di rumah mertua di KP. Karangturi RT. 01 RW. 07 Ds. Rajasinga Kex. Terisi Kab. Indramayu




Barokah Nawawi Kali Kedung Putri

Barokah Nawawi

Kali Kedung Putri

Kali Kedung Putri di masa kecilku
Jernih membelah menyusuri lorong-lorong kota
Gemercik lembut mengikuti nada indah angin sepoi
Menyihir ketenangan penghuni kota yang cinta damai.

Ibu ibu mencuci dipinggir kali
Dengan wajah sumringah dan senda gurau
Bercanda bersama angin sepoi pelangi dan matahari
Dengan sabun batang sunlight dan buah lerak
Tak ada mesin cuci, detergen dan sabun colek
Semuanya alami tanpa polusi.

Di sini pula aku suka berenang
Berkecipak di antara ikan-ikan
Tertawa bersama matahari dan awan.

Tapi kini suasana telah berganti
Semuanya serba praktis dan mudah
Tak perlu lagi susah payah mencuci di pinggir kali
Lelah dan letih berjemur matahari
Dengan mesin cuci semuanya selesai dalam sekejap
Sambil menonton acara televisi
Dan chating ria bersama sahabat maya.

Dengan kemajuan teknologi
Limbah limbah rumah tangga dan pabrik pabrik semakin banyak
Semuanya mengalir ke sungai sungai
Mengotori dan mencemari habitat sumber kehidupan.

Kini kali Kedung Putri berubah warna
Coklat mblekethek dan membuat kulit terasa gatal
Hingga tak ada lagi anak-anak yang berenang riang
Tak ada lagi orang-orang yang memancing ikan
Juga tak ada lagi warna kehidupan yang indah
Hanya sepi dan keburaman yang melintas.

Apakah kemajuan identik dengan mblekethek
Semakin mblekethek semakin ramai sebuah kota
Dan semakin maju penduduknya
Seperti sungai Ciliwung yang membelah Ibu kota negeri ini ?

Cuma tak kumengerti kenapa di negara lain yang lebih maju teknologinya
Seperti Jepang dengan sungai Sumida nya yang terkenal
Tempat wisata dengan kapal aneka warna
Bisa melintas diatas sungai yang jernih indah
Entahlah.
Kali Kedung Putri: nama sungai di Purworejo.

Barokah, lahir di Tremas Pacitan 18-08-1954.
Bekerja di PT Telkom sejak th 1974 dan mengajukan pensiun dini th 2002. Antologi puisi tunggalnya Bunga bunga Semak - Pustaka Haikuku 2017. Antologi puisi bersama : Sedekah Puisi - Lumbung Puisi 2018, Satrio Piningit - Lumbung Puisi 2018, Negeri di Atas Awan - Rose book 2018. Penyair ini tinggal di Semarang.


Muhamad Iskandar Perahu Retak

Muhamad Iskandar
Perahu Retak

-hampir ke ujung wajah-
di dadaku nusantara menyala
bagai cahaya fajar di tepi malam buta
menjelma ombak, samudera kata terpecah dalam bait
O, bangsaku cintaku
Indonesia dalam darahku

namun kini bangsaku menangis pilu
hukum diputarbalik sedemikian rupa
undang-undang dibuat asal jadi
kemakmuran jauh di awang-awang
cita-cita pendahulu, ditikam janji palsu
rakyat pontang-panting cari makan
pejabat enak saja mengembat harta bangsa
hahahaha

Indonesiaku cintaku
ibarat perahu besar
berlayar di samudera luas
menampung seluruh suku
toleransi dijunjung teguh
                  jangan retak!
       kudamba dalam doa

tanah air tanah airmata
teringat bait cita-cita
sang penjaga semesta
O, hiduplah negeriku
                        Indonesiaku
jangan retak!
Badau, Oktober 2018

Arie Png Adadua (Syaiful B. Harun). Kebun Mblekethek

Arie Png Adadua (Syaiful B. Harun).

Kebun Mblekethek

Sungai yang tua hanyutkan sampah
Lelah seberangi masa dan sejarah
Di sebuah kebun dia singgah
Penghuninya ramah-tamah

Namun sebagiannya mblekethek
Sampah dipungut dan diarak
Kebun ditata dalam tetek-bengek
Dikudeta lewat dunia maya
Kapan dan siapa saja dihina
Tak berani berhadap-hadapan
Meluap amarah dalam gerombolan
Bal-balan pada injak-injakan
Dapat kesempatan jarah-jarahan
Lantas di mana pembaca mantra?

Sungai tua hanyutkan kotoran
Kura-kura mengembosi sampan
Pakaiannya tak sejurus dan sepadan

Di kebun mblekethek
Sebagian penghuninya sopan-santun
Kancil kecil dipakaikan tiara
Harimau gagah siap merangsek
Garis punggungnya neraca dan nota-nota
Panda pemakan rebung bambu
Duduk di sudut sabar menunggu
Lantas di mana sang garuda?

Sungai tua hanyutkan luka
Pada kebun mblekethek
Sebagian penghuninya sangat cerdik
Kirim sinyal ke kiri namun belok kanan
Kirim isyarat ke atas ternyata ke bawah

Ada pohon rimbun ternyata tak terlindung cahaya matahari
Ada bintang-bintang bersinar ternyata hanya sebesar mata sapi
Ada burung gagah ternyata redup oleh sinar rembulan
Ada mobil mewah ternyata jagoan mogok di jalan


Mereka tak peka tanda-tanda alam
Dikiranya alam senantiasa bungkam
Tak membaca kejadian silam
Maunya menjadi kaum pendatang
Berhidung mancung berkulit terang
Lupa kalau semut suka mendatangi gula
Lupa kalau lalat suka mengerumuni luka

Setiap lima tahun teriak,“Pilih aku! Pilih aku!”
Katanya rajin bekerja nyatanya untuk pencitraan
Katanya berpihak nyatanya pandai merangkai hoax
Katanya merakyat nyatanya membuat melarat
Katanya berjuang nyatanya membuat ngap-ngapan

Kebun mblekethek itu pejuang pemberani
Namun sebagian penghuninya
Keberaniannya melewati batas
Katanya akan menghapus pelajaran agama
Katanya akan menjadikan firman sebagai nyanyian

Apa iya, wahyu sudah ketinggalan zaman?
Nyata, otaknya yang kecil memang lebih hebatan
Palembang, 27 Oktober 2018

Arie Png Adadua adalah nama pena dari Syaiful B. Harun. Kelahiran Palembang,16-06-1967. Berprofesi sebagai salah seorang guru di Ma'had Al Islamiy Aqulu-el Muqoffa. Semasa kuliah telah tertarik pada puisi terlebih sejak menjuarai "Lomba Cipta Puisi Provinsi Bengkulu" dalam rangka memperingati Penyair Chairil Anwar pada tahun 1996. Buku yang pernah diterbitkan berupa kumpulan puisi "Nyanyian Cerita Fajar" (Palembang, 2004) dan Apresiasi dan Menulis Puisi (Palembang, 2018), serta beberapa buku antologi puisi, yaitu Antologi "Gerhana" Memperingati Peristiwa Gerhana Matahari Total di Sebagian Wilayah Indonesia - Rabu, 9 Maret 2016 (Jakarta, 2016), Antologi “Kebangsaan” (Depok, 2018), Antologi Puisi “Angin” (2018), Antologi “Segenggam Kenangan Masa Lalu” (2018), dan Antologi Puisi Tulisan Tangan “Satria Piningit” (2018).




Muhammad Lefand Anggaran

Muhammad Lefand

Anggaran

setelah sidang dibuka palu diketuk
usulan demi usulan seperti pasir
ada yang usul anggaran masa lalu
ada yang usul anggaran perjalanan mati
ada yang usul anggaran percaloan
ada yang usul anggaran propaganda hoax
dan berbagai macam anggaran lainnya
semua anggota mengajukan usul anggaran
sesuai dengan hak menyampaikan aspirasi
tak ada yang tidur dalam sidang anggaran
dengan penuh semangat para peserta sidang
memperjuangkan anggaran yang diusulkannya
selesai sidang dibacakan hasil keputusan
semua anggaran yang diusulkan dibatalkan
karena tak ada pendapatan sama sekali
dengan bangga semua bertepuk tangan bahagia

Jember, 2018




Iwan Bonick Dua Ribu Delapan Belas

Iwan Bonick
Dua Ribu Delapan Belas
Menuju
Dua ribu sembilan belas

Hari hari ada berita
Setiap hari memberitakan
Setiap saat di beritakan

Hari hari ada kabar
Setiap hari mengabarkan
Setiap saat dikabarkan

Hari hari ada kisah
Setiap hari mengisahkan
Setiap saat dikisahkan

Berita blekethek
Kabar blekethek
Kisah blekethek

Aku menjadi blekethek
Kamu menjadi blekethek
Kita semua menjadi blekethek

Hidup blekethek
Hidup blekethek
Hidup blekethek

Kp Teluk Angsan Bekasi
Rabu Wage
31 Oktober 2018

Meinar Safari Yani Nun Jauh di Sana

Meinar Safari Yani

Nun Jauh di Sana

Nun jauh disana..
Tersebutlah kata-kata nan bijak ,terucap dari bibir penuh hikmat
Di sertai kutipan ayat ,yang menjanjikan nikmat
Meski kutahu itu hanyalah bungkus dari segumpal hasrat
Atas nama nafsu yang menggeliat
Nun jauh di sana
Juga terdengar lantang suara ,seakan membangun gelora muda
Dengan berjuta aksara, berhias kata-kata mutiara
Sembari tangan menepuk dada
Tak lupa sesekali jari telunjuk mengarah kemana-mana
Layaknya Baginda Raja  medar sabda
Meski kami tahu , itu semua hanyalah sebentuk kilah dari hati yang resah
Pada keinginan  yang tak terjamah
Nun jauh disana
Rupanya ada yang tengah merindu sanjung dari ujung relung hingga palung
Mencari-cari sympati ,mengharap puja –puji dari kanan serta kiri
Bahkan demi semua ini ,Nama Gustipun dibawa-bawa tanpa permisi
Sementara kami  menahan gelak takut tersedak
Memandang polah mblekethek anak manusia
Yang ingin lajukan asa semau-maunya .
Tinggal dan tanggalkan etika  pada Empunya Dunia .
Meinar Safari Yani

Nasihat Kecil

Kemarilah anakku
Akan kutunjukan padamu
Bunga mekar terluka  kumbang
Mengerang di sudut jalanan
Sembab dalam tumpahan linang
Hilang wangi hilang suci
Engggan sambut hangat mentari pagi
Juga pudar hasrat tuk meliuk-liuk
Menari ikuti desiran angin yang membumi
Anakku kini kau harus mengerti
Betapa sepenggal tragedi ini
Adalah episode ketidakpantasan
Menjelma sejumput kenang nan kelam
Dan terserak di zona anak zaman
Balikpapan, 31 Oktober 2018

Meinar Safari Yani ( Assa Kartika ) guru,lahir di Klaten,31 Mei 1967. .Puisinya pernah dimuat di surat kabar  berjudul “ Omongan Dua Bocah Desa” ,Potret I dan Potret II. Suka menyanyi dan melatih nasyid, sehingga beberapa puisinya digubah menjadi lagu “Tanam Sejuta Pohon “ lounching festival CGH Kaltim Pos.“Di Pangkuan Bunda “ lagu persembahan untuk Ibu Any SBY pada kunjungan Presiden RI dan Menteri ke Kaltim, “Subhanallah “dan “Pencarianku” di tampilkan pada Education Fair Yayasan Kartika