TEKS SULUH


Minggu, 25 November 2018

Rai Sri Artini Ayam Presto


Rai Sri Artini

Ayam Presto
Sesungguhnya  kau sudah mati
Ini hanya bayang-bayang
Harapan  mimpi yang lama mengendap
Raib
Telinga-telinga pekak
Mana keadilan
Ia misterius seperti  bumi yang dicungkup petang
Mungkin tersimpan di saku celana
Seorang nenek mencuri dua buah cokelat, menanti mati
Perempuan bergincu mencuri uang rakyat, melenggang tenang
Ah memang susah urusan perut apalagi mulut bersilat lidah
Suara-suara menyusut mengulum  ngilu ludah
Biar waktu yang rahasia membuka sayapnya
Wajah nenek tua tegang mengenang anak cucu
Hanya setetes lemak dari pagi memberi pelumas bagi tulang-tulangnya
Untuk tetap bisa berjalan
Bayang kegelapan di pelupuk mata telah menyeret
Dia remuk sempurna mencari sesosok tubuh yang bernama keadilan
Debu-debu purba mengental di setiap pori
Tubuh penuh keringat dilapisi timah aluminium
Pengap oleh pasal-pasal yang memvonisnya
Juga angka-angka yang turut menghitung umur
Ia menyerahkan diri pada panci presto
Untuk disantap kekuasaan
( Oktober, 2018 )

Dalang dan Sengkuni

Dalang yang kehilangan cahaya
Begitu sempurna melipat kuku di tilam emas
Ia fasih mengajarkan cara membetulkan duduk
Mencuci tangan dan meloloskan diri dari kepul asap dunia

Dari kilatan tubuhnya sengkuni-sengkuni lahir
Menerabas nurani mengepulkan bebuih nafsu
Dengan takaran yang tepat ia seduh teh dengan aroma paling harum
Hingga jejak dan sidik jari hilang
Dengan ukuran dan kalkulasi yang tepat pula ia melempar dadu
Memainkan segala lakon dengan legit

Dalang yang kehilangan cahaya
Begitu sempurna mengajarkan sengkuni berdoa
Bagi taring-taring yang diasah dan adu domba yang keji
Bagi anyir darah yang diisap dari derita jalanan, kolong jembatan
gerobak dan persimpangan

Sejarah bergulir lembar kalender berjalan
Sengkuni-sengkuni lahir membangun dinasti
Ia terus menyesap puting inang yang semakin keriput
Sepasang hujan tak mampu menyentuh jantungnya paling hawa

Dalang hidup di dalam sengkuni. Tangan kakinya serupa lintah
Geraknya serupa tikus. Mimikri adalah caranya bertahan dari segala cuaca
Lalu di mana letak nurani, kejujuran dan integritas?
Mereka rupanya menghuni kastil-kastil sunyi menghuni dongeng-dongeng sejarah
Kini saatnya pergi mengetuk pintu kastil

Melapangkan tubuh reformasi yang benar
Reformasi bukan hanya menu sejarah
Yang sibuk mencari bentuk tubuhnya sendiri
Tak perlu lagi sedu sedan. Tak perlu
Berikan saja tanda titik untuk mengubur sayapnya
Perang sudah dimulai dan akan terus bergulir
Reformasi bukan hanya menu sejarah
Namun sebuah kewajiban

( November,2017
Dalang dan Sengkuni
Dalang yang kehilangan cahaya
Begitu sempurna melipat kuku di tilam emas
Ia fasih mengajarkan cara membetulkan duduk
Mencuci tangan dan meloloskan diri dari kepul asap dunia
Dari kilatan tubuhnya sengkuni-sengkuni lahir
Menerabas nurani mengepulkan bebuih nafsu
Dengan takaran yang tepat ia seduh teh dengan aroma paling harum
Hingga jejak dan sidik jari hilang
Dengan ukuran dan kalkulasi yang tepat pula ia melempar dadu
Memainkan segala lakon dengan legit
Dalang yang kehilangan cahaya
Begitu sempurna mengajarkan sengkuni berdoa
Bagi taring-taring yang diasah dan adu domba yang keji
Bagi anyir darah yang diisap dari derita jalanan, kolong jembatan
gerobak dan persimpangan
Sejarah bergulir lembar kalender berjalan
Sengkuni-sengkuni lahir membangun dinasti
Ia terus menyesap puting inang yang semakin keriput
Sepasang hujan tak mampu menyentuh jantungnya paling hawa
Dalang hidup di dalam sengkuni. Tangan kakinya serupa lintah
Geraknya serupa tikus. Mimikri adalah caranya bertahan dari segala cuaca
Lalu di mana letak nurani, kejujuran dan integritas?
Mereka rupanya menghuni kastil-kastil sunyi menghuni dongeng-dongeng sejarah
Kini saatnya pergi mengetuk pintu kastil
Melapangkan tubuh reformasi yang benar
Reformasi bukan hanya menu sejarah
Yang sibuk mencari bentuk tubuhnya sendiri
Tak perlu lagi sedu sedan. Tak perlu
Berikan saja tanda titik untuk mengubur sayapnya
Perang sudah dimulai dan akan terus bergulir
Reformasi bukan hanya menu sejarah
Namun sebuah kewajiban
(
Dalang dan Sengkuni
Dalang yang kehilangan cahaya
Begitu sempurna melipat kuku di tilam emas
Ia fasih mengajarkan cara membetulkan duduk
Mencuci tangan dan meloloskan diri dari kepul asap dunia
Dari kilatan tubuhnya sengkuni-sengkuni lahir
Menerabas nurani mengepulkan bebuih nafsu
Dengan takaran yang tepat ia seduh teh dengan aroma paling harum
Hingga jejak dan sidik jari hilang
Dengan ukuran dan kalkulasi yang tepat pula ia melempar dadu
Memainkan segala lakon dengan legit
Dalang yang kehilangan cahaya
Begitu sempurna mengajarkan sengkuni berdoa
Bagi taring-taring yang diasah dan adu domba yang keji
Bagi anyir darah yang diisap dari derita jalanan, kolong jembatan
gerobak dan persimpangan
Sejarah bergulir lembar kalender berjalan
Sengkuni-sengkuni lahir membangun dinasti
Ia terus menyesap puting inang yang semakin keriput
Sepasang hujan tak mampu menyentuh jantungnya paling hawa
Dalang hidup di dalam sengkuni. Tangan kakinya serupa lintah
Geraknya serupa tikus. Mimikri adalah caranya bertahan dari segala cuaca
Lalu di mana letak nurani, kejujuran dan integritas?
Mereka rupanya menghuni kastil-kastil sunyi menghuni dongeng-dongeng sejarah
Kini saatnya pergi mengetuk pintu kastil
Melapangkan tubuh reformasi yang benar
Reformasi bukan hanya menu sejarah
Yang sibuk mencari bentuk tubuhnya sendiri
Tak perlu lagi sedu sedan. Tak perlu
Berikan saja tanda titik untuk mengubur sayapnya
Perang sudah dimulai dan akan terus bergulir
Reformasi bukan hanya menu sejarah
Namun sebuah kewajiban
(
Dalang dan Sengkuni
Dalang yang kehilangan cahaya
Begitu sempurna melipat kuku di tilam emas
Ia fasih mengajarkan cara membetulkan duduk
Mencuci tangan dan meloloskan diri dari kepul asap dunia
Dari kilatan tubuhnya sengkuni-sengkuni lahir
Menerabas nurani mengepulkan bebuih nafsu
Dengan takaran yang tepat ia seduh teh dengan aroma paling harum
Hingga jejak dan sidik jari hilang
Dengan ukuran dan kalkulasi yang tepat pula ia melempar dadu
Memainkan segala lakon dengan legit
Dalang yang kehilangan cahaya
Begitu sempurna mengajarkan sengkuni berdoa
Bagi taring-taring yang diasah dan adu domba yang keji
Bagi anyir darah yang diisap dari derita jalanan, kolong jembatan
gerobak dan persimpangan
Sejarah bergulir lembar kalender berjalan
Sengkuni-sengkuni lahir membangun dinasti
Ia terus menyesap puting inang yang semakin keriput
Sepasang hujan tak mampu menyentuh jantungnya paling hawa
Dalang hidup di dalam sengkuni. Tangan kakinya serupa lintah
Geraknya serupa tikus. Mimikri adalah caranya bertahan dari segala cuaca
Lalu di mana letak nurani, kejujuran dan integritas?
Mereka rupanya menghuni kastil-kastil sunyi menghuni dongeng-dongeng sejarah
Kini saatnya pergi mengetuk pintu kastil
Melapangkan tubuh reformasi yang benar
Reformasi bukan hanya menu sejarah
Yang sibuk mencari bentuk tubuhnya sendiri
Tak perlu lagi sedu sedan. Tak perlu
Berikan saja tanda titik untuk mengubur sayapnya
Perang sudah dimulai dan akan terus bergulir
Reformasi bukan hanya menu sejarah
Namun sebuah kewajiban
(

Dalang dan Sengkuni
Dalang yang kehilangan cahaya
Begitu sempurna melipat kuku di tilam emas
Ia fasih mengajarkan cara membetulkan duduk
Mencuci tangan dan meloloskan diri dari kepul asap dunia
Dari kilatan tubuhnya sengkuni-sengkuni lahir
Menerabas nurani mengepulkan bebuih nafsu
Dengan takaran yang tepat ia seduh teh dengan aroma paling harum
Hingga jejak dan sidik jari hilang
Dengan ukuran dan kalkulasi yang tepat pula ia melempar dadu
Memainkan segala lakon dengan legit
Dalang yang kehilangan cahaya
Begitu sempurna mengajarkan sengkuni berdoa
Bagi taring-taring yang diasah dan adu domba yang keji
Bagi anyir darah yang diisap dari derita jalanan, kolong jembatan
gerobak dan persimpangan
Sejarah bergulir lembar kalender berjalan
Sengkuni-sengkuni lahir membangun dinasti
Ia terus menyesap puting inang yang semakin keriput
Sepasang hujan tak mampu menyentuh jantungnya paling hawa
Dalang hidup di dalam sengkuni. Tangan kakinya serupa lintah
Geraknya serupa tikus. Mimikri adalah caranya bertahan dari segala cuaca
Lalu di mana letak nurani, kejujuran dan integritas?
Mereka rupanya menghuni kastil-kastil sunyi menghuni dongeng-dongeng sejarah
Kini saatnya pergi mengetuk pintu kastil
Melapangkan tubuh reformasi yang benar
Reformasi bukan hanya menu sejarah
Yang sibuk mencari bentuk tubuhnya sendiri
Tak perlu lagi sedu sedan. Tak perlu
Berikan saja tanda titik untuk mengubur sayapnya
Perang sudah dimulai dan akan terus bergulir
Reformasi bukan hanya menu sejarah
Namun sebuah kewajiban
(
Dalang dan Sengkuni
Dalang yang kehilangan cahaya
Begitu sempurna melipat kuku di tilam emas
Ia fasih mengajarkan cara membetulkan duduk
Mencuci tangan dan meloloskan diri dari kepul asap dunia
Dari kilatan tubuhnya sengkuni-sengkuni lahir
Menerabas nurani mengepulkan bebuih nafsu
Dengan takaran yang tepat ia seduh teh dengan aroma paling harum
Hingga jejak dan sidik jari hilang
Dengan ukuran dan kalkulasi yang tepat pula ia melempar dadu
Memainkan segala lakon dengan legit
Dalang yang kehilangan cahaya
Begitu sempurna mengajarkan sengkuni berdoa
Bagi taring-taring yang diasah dan adu domba yang keji
Bagi anyir darah yang diisap dari derita jalanan, kolong jembatan
gerobak dan persimpangan
Sejarah bergulir lembar kalender berjalan
Sengkuni-sengkuni lahir membangun dinasti
Ia terus menyesap puting inang yang semakin keriput
Sepasang hujan tak mampu menyentuh jantungnya paling hawa
Dalang hidup di dalam sengkuni. Tangan kakinya serupa lintah
Geraknya serupa tikus. Mimikri adalah caranya bertahan dari segala cuaca
Lalu di mana letak nurani, kejujuran dan integritas?
Mereka rupanya menghuni kastil-kastil sunyi menghuni dongeng-dongeng sejarah
Kini saatnya pergi mengetuk pintu kastil
Melapangkan tubuh reformasi yang benar
Reformasi bukan hanya menu sejarah
Yang sibuk mencari bentuk tubuhnya sendiri
Tak perlu lagi sedu sedan. Tak perlu
Berikan saja tanda titik untuk mengubur sayapnya
Perang sudah dimulai dan akan terus bergulir
Reformasi bukan hanya menu sejarah
Namun sebuah kewajiba













Rai Sri Artini.  Puis-puisinya tergabung dalam beberapa antologi : Klungkung,Tanah Tua Tanah Cinta, Mengunyah Geram Seratus Puisi Melawan Korupsi, Ketika Kata Berlipat Makna, Lumbung Puisi, Progo 4 Temanggung dalam puisi, Antologi Puisi Bogor, Ning, Seutas Tali Segelas Anggur,dll.Puisi-puisi pernah dimuat di Bali Post, Tribun Bali, Litera.co, Tatkala.Co, Jendela sastra,Riau Realita,Kompasiana, Linikini Linifiksi.