TEKS SULUH


Kamis, 26 November 2020

Pasarkan dirimu Sastrawan Sebagai Narasumber di Sekolah/Perguruan Tinggi.

 Pasarkan dirimu Sastrawan Sebagai Narasumber di Sekolah/Perguruan Tinggi.

Sastrawan boleh promosi diri ke sekolah-sekolah atau perguruan tinggi, tak usah malu, pasang tarif yang sewajarnya. Menjadi nara sumber di sekolah disamping menyebar ilmu juga meningkatkan penghargaan pada sastrawan.

Bagaimana cara menawarkan diri? Sebagai nara sumber sastra di sekolah?

Yg pertama dan utama ikhlas.

Kedua , miliki satu saja keunggulan Anda misalnya Baca Puisi, drama atau mendongeng dll

Ketiga tunjukkan kepiawaian Anda, di depan siswa lingkungan sekolah

Keempat, miliki pesona agar siswa/mahasiswa/guru mengidolakanmu disaat tampil.

Kelima, pahami akan ilmu sastra seluas-luasnya.

Keenam tunjukan karyamu dan beri mereka buku sebagai cinderamata

Ketujuh, hargai yg memanggilmu, yakni disiplin waktu dan tedak membuat kecewa sekecil apa pun upah yang diterima.

(rg bagus w, 26-11-20)

Selasa, 24 November 2020

Bingkisan Puisi untuk Dudung Abdurachman

 Bingkisan Puisi untuk Dudung Abdurachman


Aku yang tak mengirim karangan bunga

Atau jabat tangan ungkapan hormat,

Dari orang yg mencintai damai

Dan bangga atas karya bangsa ini

Aku yang menanti pemadam

Atas ambisi dan mereka yang terjangkit virus kebencian

Kau datang tepat waktu

Disiplinnya prajurit kita

Yang melihat gejala pemecah belah bangsa

Dari mereka yg frustrasi akan rezeki dan tahta

Yang menginginkan singasana.

Dudung Abdurachman pemimpin perang dimasa tak ada perang

Kau senopati kebanggaan rakyat.

Aku bawakan bingkisan untukmu

Melalui angin dan hujan

Sebuah doa selamat untukmu jendral (rg bagus Warsono 24 November 2020)




.

Minggu, 15 November 2020

Mempertanggungjawabkan Bahwa Seseorang Adalah Sastrawan

 Mempertanggungjawabkan Bahwa Seseorang Adalah Sastrawan


Memberi pertanggungjawaban pada publik bahwa seseorang adalah Sastrawan tidak hanya membuat daftar, memuatnya dalam antologi bersama, atau keterlibatannya dalam suatu peristiwa, tetapi yg lebih penting adalah mempertanggungjawabkannya dengan menunjukan karya bermutu dengan kritik dan telaah sebagai dasar seseorang adalah penyair.

Penyair adalah penulis sastra dengan jiwa seni yang tersendiri. Masing-masing kadang tak wajar dipandang dari kebiasaan . Ada saja penampilan beda pada dirinya dengan orang lain. Hingga terdapat penyair yang tak muncul gambarnya  tetapi karyanya berserakan. Jadi pertanggungjawaban menyatakan seseorang adalah penyair bukan grafik kemunculannya tetapi atas karya bermutu. Kurator yang baik tidak melihat seseorang itu telah dikenal atau dikenal dalam wilayah lokal, regional atau nasional. Disinilah peran Gembok sebagai solusi pendokumentasian penyair bermutu di era th 2000-an. Pengiriman  Gembok seakan memberi angin segar bahwa setiap penyair berperan sama untuk negeri ini. Pandangan kepopulairan nama penyair besar atau kecil, tak dikenal atau telah mancanegara tak menjadi pengaruh dibuang atau di Gembok langsung. Sebab saatnya Indonesia menampilkan kejujuran dan tidak asal tetapi sungguh-sungguh sesuatu yang dipertanggungjawabkan 

(Rg Bagus Warsono, kurator utama di HMGM)








Selasa, 10 November 2020

Nasib Puisi Sampah, Antologi terunik di Indonesia

 

Nasib Puisi Sampah


   Mula gagasan antologi bersama puisi sampah menjadi tanda tanya sebagian insan penyair, namun logika-logika yang diketengahkan terhadap puisi-puisi sampah , maka diperoleh pemahaman dan bahkan didukung dan disambut meriah.

   Agaknya para penyair kita saat ini, yang begitu banyak tersebar di Nusantara, adalah seniman yang tumbuh akibat perubahan zaman pasca angkatan '66 hingga reformasi dan corona. Mereka tak mempedulikan banyaknya puisi bahkan jutaan puisi dari ribuan peyair yang tumbuh dari tragedi zaman. Memahami hal ini penyair sudah tahu bahwa puisi pada akhirnya adalah cacatan sejarah baik lokal maupun dalam kepopulairan nasional. Kalau tidak terapresiasi maka sampahlah puisi itu.

   Jangankan karya sastra yang tak sempat mendapat publikasi layak, sastra (puisi) yang memperoleh apresiasi tingi misalnya mendapat penghargaan atau pemenang lomba sastra pun sepi menuai apresiasi. Gejala ini dimaklumi karena perkembangan penyair yang luar biasa.

   Perkembangan penyair tentunya didasari tragedi sebagaimana sejarah masa lalu dengan angkatannya, dimana angkatan sastra dikelompokan dalam kaitan tragedi bangsa.

   Sampah adalah akibat ketidakpedulian yerhadap sastra yang tertunda. Ia terkubur dan tertindih atas produktifitas sang penyair yang gencar menyuarakan pesan hatinya.

   Puisi-puisi sampah terus menumpuk setiap hari. Seakan setiap penyair memiliki sampahnya sendiri-sendiri. Buah pemikiran yang sia-sia. Mereka menghabiskan bergelas-gelas kopi dan mrnyisakan ribuan puntung rokok. Asap dimana-mana. Hati yang terbakar, otak yang diperas dari jiwa seni dari idealisme penyair yang digambar-gemborkan. Namun karya puisi itu melayang-layang.

   Nasib penyair masa lalu hari ini atau masa mendatang tetap sama. Miskin meronta, Kaya tak puas, Sederhana namun apa yang dimakan? Puisi tinggal puisi bukan ayat suci bukan pasal undang-undang. Ia hanya gula untuk pemanis, garam untuk penyedap dan cabai untuk merasakan pedas. (Rg Bagus Warsono , bersambung) .

Puisi Sampah merupakan ungkapan kerendahan diri sang penyair bahkan hingga pada benda yang dianggap tidak berarti sama sekali.

   Bahkan oleh sebagian orang Antologi sampah dianggap ungkapan menyindir sebagai balasan akan perlakuan menyepelekan peran penyair yang justru datang dari kalangan penyair itu sendiri. Angkapan ini penulis bantah karena tidak ada permasalahan yang mendasar atas karya tulis, sebab karya tulis itu slalu seperti bayi dan tidak bersalah. Jng membedakan penyair daerah media daerah, penerbit daerah, bahkan diselenggarakan di daerah, karena Tidak ada yang tidak mungkin, bisa saja penyair, komunitas, sanggar di daerah pindah di Jakarta asal ada yang membiayainya.sastra tak mengenal domisili. Justru di daerah terpencil kadang menjadi tempat yang nyaman bagi seorang penyair untuk menggali inspirasi dasyat!

   Akhirnya semua memahami akan antologi sampah ini. Banyak pertanyaan tentang antologi sampah, Tetapi lambat laun menjadi trang benderang. Setelah terang benderang barulah semua dapat membaca. Itulah sebabnya Pak Harto dulu memprogramkan Listrik Masuk Desa, maksudnya adalah untuk melaksanakan amanat Undang-undang mencerdaskan bangsa diperlukan sarana membaca dan sarana yang mendasar sekali adalah Terang Benderang (Rg Bagus Warsono)



Penyair :

1.A. Zainuddin Kr, (Pekalongan)

2.Abidi Al-Ba'arifi Al-Farlaqi, (Bireuen.)

3.Muhammad Jayadi, (Balangan)

4.Zaeni Boli, (Flores)

5.I. Made  Suantha, (Denpasar)

6.Supianoor, (Tanah Bumbu)

7.Sulistyo, (Jakarta)

8.Pensil Kajoe, (Banyumas)

9.Agus Tarjono /Lebe Penyair, (Brebes)

10.Heru Mugiarso, (Semarang)

11.Aditya Majong, (Depok)

12.Septian Fajar A. T, (Jember)

13.Surasono Rashar, (Lahat)

14.Raden Rita Maimunah, (Padang)

15.Wyaz Ibn Sinentang, (Ketapang)

16.Gilang Teguh Pambudi, (Jakarta)

17.Mimi Marvill, (Temanggung)

18.Sudarmono. (Bekasi)

19.Mita Katoyo, (Jakarta)

20.Rosmita, (Jambi)

21.Yustinus Harris, (Jombang)

22.Selamat Said Sanib, (Samarinda)

23.Hasani Hamzah, (Sumenep)

24.Sami’an Adib  (Bangkalan)

25.Yanto Bule, (Merangin)

26.Elliyas Zulkifli, (Merangin)

27.Asro Al Murthawy, (Merangin)

28.Deno Charles, (Merangin)

29.Siti Nuriah, (Jember)

30.Barokah Nawawi, (Semarang)

31.Indri Yuswandari, (Kendal)

32.Yublina Fay, (Kupang)

33.Sutarso, (Sorong)

34.Erna Kasale, (Seram Bagian Barat)

35.Sukma Putra Permana, (Bantul)

36.Sugeng Joko Utomo, (Tasikmalaya)

37.Winar Ramelan, (Denpasar)

38.Azka Shadam, (Pati)

39.Sih Utami, (Sidoarjo)

40.Alifah NH, (Mojokerto)

41.Rg Bagus Warsono, (Indramayu)

42.Muhammad Tauhed Supratman, (Pamekasan)

43.Surahman, (Kuningan)

44.Arnita, (Bandung)

45.Silivester Kiik, (Atambua) 

46.Anisah Effendi, (Indramayu)

47.Muhammad Lefand, (Jember)

48.Asep Nur Syamsi, (Bandung)

49.Dwi Lio Saputra , (Belitang)

50.Yoe Irawan, (Sukabumi)

51.A Machyoedin Hamamsoeri, (Tangerang)

52.Emby Bharezhy Boleng Metha

53.Ignatius Sumirat, (Semarang)

54.Khoirul Mujib, (Mojokerto)

55.Dwi Wahyu Candra Dewi,(Blora)

56.Alhendra Dy, ((Bangko)

57.Gampang Prawoto, (Bojonegoro)

58.Naning Scheid, (Nrussel)

59.Denting Kemuning, (Surabaya)

60.ARP. Dean, (Jember)

61.Jack Lamurian, (Pati)

62.Uyan Andud, (Kediri)

63.Andi Jamaluddin, AR. AK , (Tanah Bumbu)

64.Randry Lanthang, (Semarang)

65.Hendra Sukma,(Garut)

66.Arya Setra,(Jakarta)

67.Mani Selesue, (Maluku Tengah)

68.Buana KS , (Bungo)

69.Rahayu Budiman, (Bandung)

70.Agus Sighro Budiono, (Bojonegoro)

71.Djemi Tomuka, (Manado)

72.Dicka Fitrian Dwi Putra, (Sleman)

73.Anisah, (Magelang)

74.Sukardi Wahyudi, (Kukar-Kaltim)

75.Suneni, (Indramayu)

76.Wadie Maharief (Jogyakarta)

77.Roro Sundari, (Semarang)

78.Yoman Making, (Lewoleba)

79.Evita Erasari (Semarang)

80.Nok Ir, (Sumenep)

81.Riswo Mulyadi, (Banyumas)

82.Adiska (Metro, Lampung)

83.Ely laraswati, (Purbalingga)

84.Uut Indria Riftyana, (Mojokerto)

85.Adhiet’s Ritonga, (Tanjungbalai)

86.Siti Subaida, (Sumenep)

87.Saiful Azri, 

88.Ayu Wandira,(Tanjungbalai)

89.Rahulia Khairil Hamdar Sinaga,(Tanjungbalai)

90.Wiwin Herna Ningsih,

91.Maya Ofifa, 

92.Brigita Neny Anggraeni, (Blora)

93.Ryan Aria Arizona, (Pekalongan)

94.Ahmad Zainuddin Ujung,(Dairi,Sumut)

95.Zuma Al’Azizy, (Pekalongan)

96.Putri Bungsu, (Solo)

97.Ence Sumirat, (Cianjur)

98.Annisa Maharani, (Lembang)

99.Ayu Asharai, (Medan)

100.Haryadi Simanjuntak, (Tanjungbalai)

101.Annis Muchtarom, (Mojokerto)

102.Amaludin, (Bogor)

103.Che Aldo Kelana (Atambua)

104.Wardjito Soeharso (Semarang)

105.Agus Salam (Tanjungbalai)

106.Dyah Setyawati, (Slawi)

107. Irtawanti, 

108.Iwan Bonic, (Bekasi)

109.Rasif Arisa, (Jambi)

110.Petrus Nandi, (Jakarta)

111. Roymon Lemosol, (Ambon)