TEKS SULUH


Tampilkan postingan dengan label Gembok. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gembok. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 23 Januari 2021

Puisi A. Zainuddin Kr di Gembok 2021

 A. Zainuddin Kr


Hentikan Sejarah Peradaban Bedebah


Cukup sudah menyaksikan

luka sejarah

Dimana orang-orang disampahkan

Otak dan jiwa dipenjarakan

Kejujuran dan kebenaran

digadaikan

Cukup sudah menyaksikan

luka peradaban

Dimana kemanusian diperdagangkan

Dimana rumah-rumah ibadah

dikosongkan

Dimana kitab-kitab suci diobral

secara murahan

Dimana mana bicara kanan

Dan kiri

Tanpa basa basi

Demi memperluas ruang

Mengekalkan diri

Cukup sudah

Hentikan sejarah dan peradaban

bedebah

Tak ada kanan apalagi

kiri

Karena kita adalah rumpun

Serumpun

Maka

Bersatulah

Jangan saling menjarah

Kiranya rumpun serumpun

Merimbun

menjelma piramid yang kokoh

menjulang

Pekalongan, 25/09/2017.


A.Zainudin Kr.

Obituari Sepagi Ini


Sepagi ini masih saja berserak

di trotoar, di sudut-sudut gang, dan dilantai pos jaga malam

Warung-warung kopi berbisik

selain pandemi juga soal klepon yang unik

dan klasik

Aih, ada saja hiburan dimasa sulit

dangdutan, campursari dan karnaval koboi

di jalan-jalan raya

Entah siapa kuda

dimana pelana

Merangsek menuju situs-situs purba

mencari ceceran artefak

menginjak tapak menghapus jejak

Thiwul, cenil, apem, gebral dan segala jajan tradisional

menyesaki meja jamuan

di laman rumah-rumah virtual

Menyumpal nganga mulut para badut

di panggung pertunjukan

secara kolosal

Pekalongan, 26/07/2020.





A. Zainuddin Kr, terlahir di Pekalongan Jawa Tengah, pada 13 Agustus 1967. Belajar nyastra secara otodidak. Selain puisi, juga sebelumnya lebih suka bikin cerpen yang seringkali dimuat di koran-koran "kuning" sejak pertengahan ahir 80-an. Dan beberapa kali menulis kolom di SHU Rakyat Merdeka ( di tahun 2000 - 2001 ) sebelum ahirnya bersama kawan-kawan Yayasan Gaung rakyat Peduli  ( Bekasi ) mendirikan/menerbitkan Tabloid  Dwi Mingguan Gaung Rakyat. Beberapa Antologi Puisi yang memuat karyanya, diantaranya: Potret Pariwisata Indonesia Dalam Puisi( Yayasan Komunika Jakarta '91. Lazuardi Adi Sage ~ Editor ). Sahayun ( Yayasan Taraju Ekspresi Budaya, Padang '94 ). Serayu ( Taman Budaya Banyumas ), Nuansa Hijau  ( Forum Kebun Raya Bogor ), Trotoar ( Roda-roda Budaya Tangerang ) dll. Selain Work Shop dan sarasehan-sarasehan sastra dan kebudayaan, forum yang pernah di ikutinya adalah; Pertemuan Penyair Muda Se Indonesia di Padang tahun 1994, Pertemuan Sasterawan Nusantara IX dan Pertemuan sastrawan Indonesia  '97 di Sumatera Barat 1997. Sejak awal 2005, Ia tinggal di Kampung kelahiranya, Pekalongan. Tepatnya di Jalan Sorobocek Kampung Pendidikan Rt 07 Rw 03 Desa Karangsari Kecamatan Bojong Kabupaten Pekalongan 51156 Jawa Tengah. Dan kini mengelola Perpusdes dan Taman Baca Masyarakat ( TBM ) Pustaka Taman Pintar  yang menyatu dengan kediamanya.




Puisi Alifah NH di Gembok 2021

 Alifah NH

Dongeng Nusantara Dalam Puisi 2019:

Pulau Kapal

Dahulu kala di Desa

Seorang ayah temukan tongkat

Berhiaskan intan dan batu merah delima

Dengan harga yang sangat mahal

Sang ayah meminta si kulup menjual ke luar negeri

 

Si kulup begitu banyak mengantongi uang

Engganlah si kulup pulang dan menetap di luar negeri

Dia menikah dengan anak saudagar yang kaya raya

 

Suatu hari si kulup diminta sang mertua untuk berdagang

Bersama istrinya membawa kapal yang mewah

Ketika kapal sampai di sungai ceruruk ia teringat kampung halamannya

Kapalnya menepi di sungai itu

 

Saat orang tua si kulup dengar kapal itu milik anaknya

Ibu memasakkan masakan kesukaan si kulup

Di hantarkan masakan itu tapi si kulup merasa malu

Dia tidak mengakui orang tuanya dan di usirnya

Dengan hati yang hancur orang tua si kulup berucap

Kalau saudagar kaya itu benar si kulup karamkanlah

Kapal itu bersamanya

 

Badai besar muncul tiba-tiba

Tenggelamlah kapal si Kulup

Tewaslah seluruh awaknya

Muncullah pulau menyerupai kapal

Menjadi Pulau Kapal

Mojokerto, 18022019

Alifah NH


Jaka Budug


Rara Kemuning Putri semata wayang Prabu Aryo Seto

Tubuhnya sangat harum mewangi bunga Kemuning

Tiba-tiba terserang penyakit aneh

Tubuh berbau busuk tak lagi wangi.

Daun Kemangi dan Beluntas  tak berfungsi

Berbagai tabib tak mampu menyembuhkan

Sepanjang hari merenung dalam kesedihan

Prabu Aryo Seto Maha Raja Ringin anom

Di tengah malam berharap mendapat petunjuk

Saat terlarut dalam doa isyarat itu semakin nyata

Di kaki gunung Arga Dumadi dalam gua tersembunyi

Daun Sirna Ganda tumbuh dan bersemi

Satu satunya daun yang bisa mengobati

Selalu dijaga oleh naga api sakti

Sayembara disebar untuk kesembuhan Putri Raja

Barang siapa berhasil memetik daun Sirna Ganda

Banjir peserta sayembara tergiur hadiah jadi anak raja

Tak satupun mampu mengalahkan naga api penjaga gua

Tinggallah Pemuda miskin berparas buruk berkulit budug

Jaka budug bertekat menyembuhkan Rara Ayu Kemuning

Hanya bermodal hati dan pedang sakti warisan sang ayah

Terlihat semburan api dari mulut naga sakti

Dengan gesit jaka budug menghunus pedang.

Darah segar memencar dari dada naga sakti

Menghambur pada kulit jaka Budug yang berbudug

Tanpa sengaja tiba tiba keajaiban terjadi

Kulit Jaka Buduk berubah halus dan berseri

Kulit buduk tak nampak lagi berbudug

Jaka Buduk semakin lincah beraksi

Menghunus pedang kesana kemari

Matilah naga dengan darah terhambur dimana-mana

Jaka Buduk mengusap seluruh tubuhnya dengan darah naga

Seketika berubah menjadi lelaki tampan berkulit cerah

Prabu Aryo Seto tak lagi mengenal Jaka Budug

Prabu Aryo Seto tepati janji untuk jadikan Jaka Budug menantu

Putri Ayu Rara Kemuning menelan daun Sirna Garda

Kembali semerbak mewangi harum bau tubuhnya

Jadilah mereka pasangan yang serasi Pewaris tahta Kerajaan sejati

Mojokerto. 09032019

 





Alifah NH. Seorang Pendidik dari Mojokerto ini telah menulis beberapa antologi. ‘Terima Kasih GURU’ catatan inspiratif 44 guru Indonesia bersama Media Guru. ‘Cerita Cerita dari Empunala’ kumpulan cerpen bersama Komunitas Penulis Sangkar Buku. 1000 Guru Menulis Puisi Asean’ rekor MURI bersama Rumah Seni Asnur. Beberapa kumpulan cerpen dan puisi bersama DJ center, juga menulis cergam. Membimbing siswa menulis buku hingga menerbitkan beberapa buku karya siswa. 


Puisi Ade Irman Saepul di gembok 2021

 Ade Irman Saepul,


Jakarta , Mengapa Engkau Menjadi Tuhan?


17 agustus tahun 45 itulah hari kemerdekaan kita

hari merdeka nusa dan bangsa

hari lahirnya bangsa indonesia (jakarta)

sekali jakarta tetap jakarta

selama segalanya serba jakarta

kita tetap setia

tetap setia

memandang unggul kota jakarta

walau ibu kota pindah juga

jakarta tetap jakarta


di mata turis mancanegara

indonesia adalah pulau dewata

di mata sindikat perampok internasional

indonesia adalah pulau papua

di mata orang orang seperti kita

indonesia adalah jakarta

menjadi indonesia berarti menjadi jakarta


jakarta oh jakarta

sebelum aku dilahirkan

orang mengadukan nasibnya pada tuhan

setelah aku dilahirkan

orang mengadukan nasibnya padamu jakarta


penguasa kotak suara

pembuka pintu dunia

pemilik pohon uang

penjual keindahan

pemandat kebenaran

pencari nafas cadangan

penjual romantisme kemiskinan

perempuan perempuan simpanan bapak dewan

pencipta kemacetan dan segala macam jenis pekerjaan

berharap keberkahan hidup darimu jakarta


jakarta

jakarta

jakarta


orang orang beribadah kepadamu

mereka bersujud ke arahmu

mereka berdzikir menyebut namamu

mereka berdoa berharap bantuan datang darimu


jakarta oh jakarta

berbeda beda tetapi tetap jakarta

tata bahasa

tata busana

tata budaya

adalah jakarta


jakarta oh jakarta

mengapa engkau menjadi otoriter

dan menjadi tuhan

jawablah jakarta


jakarta oh jakarta

jakarta oh jakarta


 


jakarta

separuh kota

separuh dewa

separuh derita


 jakarta oh jakarta

Bandung, 17 Agustus 2020


Ade Irman Saepul


Anakku Susah Tidur Memikirkanmu 


 cepat tidur anakku

malam makin menipis

sebentar lagi pagi akan menyambangi kita

jangan berlarut larut memikirkan hutang negara

negara saja tidak memikirkan hutang kita


 cepat tidur sayangku

berhentilah menulis puisi

puisi tidak akan mengubah rasa lapar menjadi kenyang

mentari tidak muncul di jam malam

tetapi jika kau merasa lebih tenang

menulislah anakku

tetapi jangan sekali kali kau menulis puisi

untuk pacarmu

sebab keringat ibu lebih puitis dari kata kata pacarmu

sebab lipatan lipatan di wajah ibu lebih berarti dari wajah putih pacarmu


 cepat tidur pangeranku

jangan biarkan tumpukan resah mengganggu tidurmu

nyamuk dan dingin saja sudah cukup bagi kita

tidurlah anakku

kita akan tetap menanak nasi

tanpa harus menunggu datangnya pesta demokrasi


cepat tidur jagoanku

bergadang tidak akan membuat negara ini memikirkanmu

jangan terlalu sibuk merangkai mimpi

terlalu banyak mengonsumsi mimpi tidak sehat bagi orang miskin

mimpi hanya akan membuat kebun luka kita lebih luas

dan mengundang tangis lebih deras

Bandung, 11 September 2020


Ade Irman Saepul, lahir di Cianjur 15 Februari 2001. Mulai belajar menulis puisi dari tahun 2016 sampai saat ini di rumah kolektif Individu Merdeka. Kini tinggal di Bandung. Pernah menjadi juara 1 lomba cipta puisi dan Jurnalistik yang di gelar oleh Politeknik Piksi Ganesha pada tahun 2018. Menerbitkan antologi puisi berjudul Pasar Tak Mampu Mengusir Kesunyian (2020) dan antologi bersama berjudul Endapan Rindu (2020).



Puisi Aditya Mahdi Farsya di Gembok 2021

 Aditya Mahdi Farsya


Mimpi Siang 


Mengejar bintang di siang hari

Akar dan batang menari, menertawakan tragedi

Momen berharga yang tidak bisa dibeli

Hilang tertelan bumi dan matahari

 

Manusia tertunduk, berfokus pada mesin kecil

Kakinya terpelatuk, tersandung kerikil

Raga, jiwa, dan otaknya terpisah

Sembari mempertahankan identitasnya yang sudah salah

 

Menyiram kepalanya dengan api yang basah

Lalu meminum air yang membakar amarah

Setelah berbicara dengan gayung

Ia tertidur tepat dibawah payung

 

Ia terbangun, sadar hidupnya dimiskinkan uang

ia tertegun, ia makan, membuang daging dan memakan tulang

pergi keluar, mengacuhkan manusia, berteman dengan mesin

tersadar, matanya menutup, dilekatkan dengan resin

Depok, 29 Agustus 2020








Aditya Mahdi Farsya


Mimpi Malam 

Gelap

Tanpa gemerlap

Ia mencoba mengendap

Namun tak bisa menetap

Tak ada suara kuda berderap

Terjebak sementara di dalam ruangan pengap

Mendengar banyak suara didalam walau diluar senyap

 

Mencari arti sebuah eksistensi

Namun hilang

Setelah tidak memiliki dan tidak dimiliki

Tak bermakna dan tak berarti

Tersisa satu pilihan

Yakni mati

 

Cintanya terlalu dalam

Bahkan tidak bisa dipisahkan oleh kematian

Masih mencintainya walau telah tiada

Cintanya terlalu nyata untuk dunia yang fana

 

Melihat keatas

Gelap dan dingin

Berharap tak pernah dilahirkan

Dan terbang diatas bersama para ruh manusia

 

Malam terlalu sedikit untuk cerita yang panjang

Namun setidaknya ini hanya mimpi yang wajar

Tetap berjalan, lupa caranya terbang

Mengejar mimpi yang tak terkejar

Depok, 29 Agustus 2020

Aditya Mahdi Farsya/ Aditya Majong

Tempat Tanggal Lahir : Jakarta, 1 Mei 1998

Hobi : Menulis, Membaca, Fotografi, Domisili : Kota Depok, Telah menyukai kesusastraan sejak sd di tahun 2005, dan mulai menulis puisi sejak smp tahun 2011, namun baru aktif saat kuliah karena pekerjaan dan kuliah itu sendiri di tahun 2017. Motif menulis hanya ingin menyuarakan hal hal yang tak biasa disuarakan dan jarang menjadi sorotan. Selain dari para sastrawan, juga mendapat inspirasi dari musik, terutama musik Hip-Hop. Sudah menulis Antologi Corona sekaligus menjadi Antologi pertama yang diikuti, dan Antologi Tadarus Ramadhan dan Antologi sampah 2020.






Puisi Agus Mursalin di Gembok 2021

 Agus Mursalin


Khaul Daring Gus Dur


Gus, entah tahu darimana tiba-tiba bibirmu mengatakan kau jadi presiden RI

Kemungkinan yang bagi Komandan Paspampres Istana sekalipun tidak mau menyiapkan latihan penyambutan presiden baru karena meyakini bukan kau yang masuk kesitu

Lalu terrbukti kau dilantik

Beban berat dilemparkan ke punggungmu sebagaimana dulu kroni Abu Jahal melempari tai unta ke punggung Muhammad

Bau busuk dibalik pakaian suci politisi

Carut marut negara sisa kemaruk koruptor

Anak bangsa yang nakal terhadap saudaranya di Aceh, Papua, Kuningan, Bali menyalakan kekacauan

Mereka tak mampu menerimamu demi membenahinya

Lalu para pengusung dalam Poros Tengah meminggirkanmu hingga keluar pagar Istana Presiden

Gus, entah datang darimana jiwa dermawanmu

Hingga semua harta milikmu tak pernah mengendap di laci lemari rumah

Tak peduli para penipu memalsukan ratusan proposal permohonan bantuan keuangan atas nama sosial

Secara pribadi kau berikan harta pada mereka, semuanya

Namun mengejutkan sekali, kau hapus Departemen

Sosial tempat negara mewujudkan sila ke lima Pancasila

Bertahun setelah itu terbukti tindakanmu benar

Bantuan Sosial masa pandemi Covid 19 nampak bagus di kemasannya saja

Isinya dikirim dari Jakarta sampai di Sungailiat, Selayar, Lembata hingga Manokwari sudah menipis

Nyaris habis digerogoti kutu yang berjatuhan dari dasi pejabat Dinas Sosial

Gus, entah kata kunci apa yang kau pakai untuk mencari sumber pengetahuanmu

Karena dunia literasimu tak kenal layar sentuh

Tempat referensi dan bekal instan menjadi ustadz kekinian supaya enteng berteriak lantang di media. Menyerang menjatuhkan membully dan merasa benar sendiri

Mengkudeta Tuhan

Membajak ayat-ayat Nya

Memadamkan neraka dengan menghalalkan darah tetangga, ayah ibu kakak adiknya

Memonopoli surga kemudian memindahkan Nevada, Artemis, Kabukicho dan Patpong ke dalamnya

Gus, entah siapa yang memberitahu hari datang ajalmu

Tiba-tiba dalam perjalanan menuju Jakarta kau minta ziarah ke makam eyangmu tanpa mampir ke rumah

Menurutmu lusa kau akan kembali.

Rabu malam itu kami semua tergagu mendengar kabar kau pulang

Ke Jombang dikawal ketat dalam peti jenazah

Gus, entah bagaimana cara kami menghormatimu

Sebagai Negarawan, Akademisi, Rohaniawan dan entah sebutan apalagi?

Yang pantas kami sandangkan di batu nisanmu

akhirnya hanya bisa kami tulis

"Disini Berbaring Seorang Pejuang Kemanusiaan"

Murtirejo 18 Desember 2020



Agus Mursalin


Pekik Merdeka Nalika Pandemi Corona


Pitulasane tanggal pira

Deneng plawangan umah sepi gendera

Pager lan gerdu urung disaponi

Paesan gapura taun kepungkur kesingkur

Nang ndi tulisan "Dirgahayu RI"?

Pitulasane tanggal pira

Lha kok durung ana prentah upacara

Murtirejo 17 Agustus 2020

Agus Mursalin, Lahir di Kebumen, bukan di bulan Agustus tahun 1971. Menyukai puisi sejak kelas 4 SD namun baru rajin menulis ketika sudah duduk di bangku SMP meskipun hanya ditulis di buku tulis tanpa pernah diterbitkan, Memasuki  jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam Fakultas Dakwah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada 1998. Tahun 2017 bersama beberapa sastrawan asal Kebumen dan Gombong dia menginisiasi berdirinya Lingkar Sastra Gombong (Lisong). Dalam komunitas pecinta sastra yang secara rutin menggelar tantangan menulis puisi berthema tertentu setiap minggunya dan di akhir bulan dipilih karya terbaik untuk dipentaskan inilah hobbi menulis dan membacakan puisinya tersalurkan secara maksimal sehingga dia mendapat julukan "Penyair Theatrikal"' dari kawan-kawannya di Lisong.

Sebagian karyanya tercatat dalam antologi berjudul Anak Cucu Pujangga (2019), Tadarus Ramadhan 1440H (2019) Perjalanan Merdeka (2020) dan Corona (2020) di Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia. Uhuk (Lisong 2020).


Puisi Agus Sighro Budiono di Gembok 2021

 Agus Sighro Budiono


Senandung


senandung ini adalah lagu cinta

             untaian kata

             yang ditoreh tanpa dusta

            

lengang dan sepi di setiap baitnya

                       ikrar janji tulus

                       bukan pemanis belaka


senandung ini adalah nyanyian hati

           tumbuh dari kuncup yang suci

           iramanya ngungun melena hari

           yang merangkak

           menuju mati


O ...senandung di hijau hari


walau kadang ada ragu 'tuk menyanyikannya

           akankah senandung ini

           lagu cinta

           riang gelisah mengalir

           dalam biramanya

           duka bahagia

           meresap dalam nadanya

          

atau senandung ini

tembang nestapa

nyanyian romeo juliet

di sela isaknya

             impian bahagia

             putus di cawan derita

            

senandung ini adalah

mantra semaradahana

             membakar jiwa

             lelehkan gembok hati

             abukan benci

Bojonegoro, 161220

Agus Sighro Budiono


Cerita di Sebuah Perjalanan


gerimis di tengah musim

deru angin di pohon kemuning

sepasang muda mudi mengayuh kisah

tentang derita dan peperangan

tak terjelaskan


di desember yang basah

sepasang muda mudi berpacu desah


"kita musti turun di sini," kata sang muda tiba tiba,

ketika sampai pada sebuah persimpangan.


sang mudi enggan tentukan pilihan

hatinya galau, otaknya kacau

hampa

senyap


angin berhenti berdesir

badai berkecamuk

di kedua matanya.


sepasang muda mudi mengayuh kisah

diam dan beku sepanjang perjalanan.


           gerimis melebat

           menjadi hujan

                           lebat

                          

angin merontokkan daun kemuning


sepasang muda mudi

mengayuh kisah

            bual

            tenang tanpa sesal.


Bojonegoro, 101220


Agus Sighro Budiono, lahir pada 26 Agustus, tetapi karena harus masuk sekolah lebih awal, maka di akte kelahiran tertulis  26 Januari 1973. menekuni dunia teater sejak di bangku SMA. Saat ini mengabdikan diri sebagai guru seni budaya di SMK Negeri 2 Bojonegoro. Selain mengajar juga membina di beberapa sanggar seni diantaranya sanggar seni rupa Pasuryan, sanggar teater AWU, dan beberspa kelompok teater sekolah di Bojonegoro. Tahun 1995  Pernah meraih sebagi sutradara terbaik dan Penata artistik terbaik pada lomba drama remaja se jatim di Unesa (dulu IKIP Surabaya) tahun 1999 mengikuti Pertemuan Teater Indonesia (PTI)  di Yogyakarta, tahun 2000 mendirikan teater Parkir di  IKIP PGRI  Bojonegoro dan memulai program pentas road to school  yang bertujuan memberikan apresiasi seni teater dan penulisan naskah lakon di sekolah sekolah tingkat SLTP dan SLTA.

Beberapakali meraih penghargaan sebagai penulis naskah terbaik, diantaranya  tahun 2000 Naskah Drama anak-anak "Prapto dan Gatot Kaca" (juara 3 sayembata penulisan naskah anak anak oleh pemerintah provinsi Jawa Timur), Senja di ujung Trotoar (Naskah terbaik Fragmen Budi Pekerti tahun 2012, 2017 menjadi sutradara terbaik pada event lomba teater tradisi yang dselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Provinsi Jatim) , tahin 2014 naskahnya yang berjudul "Tanah Adat" dinobatkan sebagai naskah terbaik tingkat nasional dalam festival pertunjukan tradisional di TMII  Jakarta. 2017 naskahnya yang berjudul berjudul "Sosrodilogo" menjadi nadkah terbaik dalam festival Seni Tradisi dalam rang HUT Propinsi Jawa Timur di Grand City Surabaya.

Puisi puisinya terhimpun dalam antologi bersama “Serat Daun Jati” (KSMB 2010), Puisi Menolak Korupsi 2 - 6 (2013 - 2016), Memo Untuk Presiden  (2014), Memo Untuk Wakil Rakyat (2015) Merangkai Damai (2015), kata Cookies Pada Musim (2015), Corona (Lumbung Puisi 2020) Pandemi Puisi(2020), Pulang (2020) dll.

Tinggal di Desa Ledok Kulon Bojonegoro - Jawa Timur.




Puisi Aisyah Rauf di gembok 2021

 Aisyah Rauf


Hati Dalam Pelukan Pena

Puisi adalah hati

Bersuara namun tak tampak

Menyelinap di selasela urat nadi berjejak

Jadi luapan rasa torehan pena tinta emas


Berawal ketika jiwa pecinta di gerai ruang persegi empat

Mencari jati diri meraih mimpi penuh hasrat

Kuajak hati bermain bersama benda kecil pengukir beribu diksi dalam bulatan puisi


Yah

Walau seribu cerca menghunjam

Tak hirau,

kubiarkan pena tetap menari, menyatu dengan tuturan sukma

Kelak,

kicauan sumbang akan dibungkam

Tersulap bak kidung merdu bersama bianglala berucap kagum

Bulukumba, 22 Agustus 2020


Aisyah Rauf

Sampah dan Tangis

Ke mana senyum alam yang indah dulu

Yang selalu hadir menyapa pagiku. 

Di saat sang surya mulai menampakkan wajah tersipu di balik kokohnya bukit hijau.

Hingga sinarnya memecah pagi dan pamit dari kelam malam


Kini, alam mulai muram,

ikan tak lagi lincah berenang bersama biota laut

Burung pun kehilangan tempat bertengger

Hanya kicauan sumbang berdesah lirih

Wajahnya telah tercoreng nafsu kebiadaban tangantangan jahil yang diperbudak keserakahan


Di mana nurani yang dulu terasah, bukankah hasrat menatap bunga merekah pada jalan yang terarah jadi idaman?


Tak pernahkah

Terketuk nurani untuk tak tega mengotori alam ini dengan sampah plastik

Tak segankah menebar bau busuk menusuk tajam seenak jidat?


Yakinlah

Keserakahan akan menghadirkan bom waktu setiap saat akan jadi bencana bagi anak cucu


Jangan biarkan keluguannya menyimpan luka dengan rapi

Jangan biarkan bulir air mata menggenang beranak sungai


Perlakukanlah alam dengan bijak

Sebijak bumi ini kau pijak

Bulukumba, 21 September 2020


Aisyah Rauf, S.Pd, adalah penyair yang tingal di Bulukumba .Namanya tercatat diLumbung Puisi Sastrawan Indonesia.


Puisi Alfiah S Putra di gembok 2021

 Alfiah S Putra


Sebab Kuyakin


Pandanganku tak menjala kau mendua                                              

Tapi hatiku merasakan

Telingaku tak menghidu kau berdua

Tapi batinku membisikkan


 Ingin rasanya naluri tak berencat

Nyatanya semakin menajam

Ingin rasanya firasat tak berusik

Nyatanya semakin merunjam


Dan...

Ketika nyatanya datang 

tetap saja mengejut jasad

Ketika waktunya sampai

tetap saja menikam ilham


 Hatiku perih seperihnya perih

Batinku sakit sesakitnya sakit

Jiwaku luka selukanya luka

Air mata menghujan bak puncak musim penghujan

terbiarkan deras tanpa dapat berpawang


 Biarlah habis tetesan hujan dimataku

Agar tak lagi bersisa kesedihan karnamu

Agar tak lagi tertinggal  keharusan padamu                                                                                                      Sebab kuyakin berlalunya hujan langitkan berhias pelangi

Bekasi, 15 November 2020



Alfiah S Putra


Cukuplah Dia bagiku

Aku terlempar di kebisingan dunia yang semakin terasa asing

Mata memandang seperti lemparan sampah

Senyum mengembang laksana kubangan hajat

Aku terjatuh di pusaran waktu yang semakin terasa menghimpit

Ruang terhampar hanyalah untuk menguliti

Jeda terumbar hanyalah untuk menghakimi


Tak berharap lebih dari yang bisa kalian beri

Tak meminta banyak dari sedikit yang kalian punya

Cukup makna ini kucerna sendiri

Cukup hikmah ini kurambah semua


Tak gentarku dengan semua ini

Meski kadang lemahkan raga

Tak surutku dengan semuai ini

Meski kadang lumatkan batin


Semua hilang dan lenyap

Tapi masih ada hati bersemayam pada jiwa sebagai panglima diri

Masih ada yakin mendogma pada hayat sebagai perisai budi


 Bilaku alfa

Tapi Dia tak pernah salah dalam memberi

Karena Dia selalu benar dalam mencinta

Dan cukuplah itu bagiku

Bekasi, 15 November 2020


Alfiah Sri Putra, lahir : Jakarta, 31 Mei 1973 tinggal di Bekasi .Pekerjaan  : Pendamping PKH di Kementerian Sosial RI Menyukai kepenulisan sejak SMA

Tidak pernah dimuat di media cetak maupun dibukukan

Publikasi lewat sosial media untuk sosialisasi dan aktualisasi diri





Puisi Amal Bin Mustofa di Gembok 2021

 Amal Bin Mustofa 


Pintu Besi


Coba kuketuk pintu besi rumahmu

Hening sunyi... semua sepi

Orang - orang lalu lalang menatap lurus

tanpa suara

Tak kenal wajah - wajahnya


ingatkah waktu kita di bawah purnama

Mendayung sampan berdua

Janji selalu jalan bersama dengan

rasa mengelora selalu membara  

Terbang ke langit ketujuh... bersama menikmati puncak cinta yang luar biasa


Kita adalah sepasang burung pengelana

Terbang melesat ke udara

jiwa-jiwa kita di manapun berada

Tak hanya dicakrawala.. melompat di bintang-bintang menapaki tangga tujuh lapisan langit-Nya


Hari itu ketika pintu -pintu rumah manusia selalu tertutup terkunci membisu

Pintu satu rumah terbuka menjamu membuka seluruh pintu

Semua terlihat... semua bersuara terdengar dari segala penjuru arah


Tiga kali pintu diketuk keras agar jelas

Sunyi dari empat arah tampak terasa

Langit mulai menangis meneteskan air mata 

Caci maki manusia melintas lewati memori mulai terasa


Pintu besi masih tergembok terkunci

Gelora jiwa masih hangat tetap suci

Siluet hitam asyik masyuk Menari erotis mereguk manis madu kasih hingga melenguh di ujung  ritmik

Sesosok diri dipintu besi Memandang menanti sepi Dalam hati yang tak pernah mati.

Bogor, 21 Agustus 2020


Amal Bin Mustofa 

Kunci Hati


Kuncilah rasa yang pernah ada diantara kita

Seperti terkuncinya mulutmu

ketika kau terkejut 

Tak menerima segala hal yang terjadi


Kuncilah pintu hatimu

Cukup rasa itu

Untuk satu orang yang setia

Diantara orang yang ingin setia tapi tak pernah jadi nyata


Kuncilah 

Kutitipkan anak kunci padamu

Kita buka bersama ketika kita lelah menempuh jarak yang jauh

Cukup hanya kita berdua dalam ruang penuh asa bahagia.

Bogor 30 Desember 2020

Amal Mustofa, penyair tinggal di Bogor. Namanya tercatat di Lumbung Puisi sastrawan Indonesia.


Puisi Anisah di Gembok 2021

 Anisah

Kisah Inspiratif 


Indonesia raya merdeka-merdeka, hiduplah Indonesia raya

 

Berkunjung ke dusun Girpasang, lereng Merapi

berjalan naik turun bukit

menapaki seribu anak tangga

ngos-ngosan dan sangat melelahkan

Bertemu Mbah Padmo Dersono berusia tujuh puluhan

Mengajak masuk rumah berdinding bambu

memasuki dapur yang menjadi ruang tamu

ada tungku, tumpukan kayu, perkakas masak yang hitam legam

ada jagung yang digantung

Mbah Padmo memberi wejangan

“Hidup itu, meski berat harus dijalani

Jangan mengeluh, jangan berhenti berkarya meski lutut gemetar”.

Itulah pedoman pria yang menjalani hidup tujuh puluh tahun

Kemerdekaan telah tujuh puluh lima tahun

Dalam kondisi apa pun, jangan mengeluh

Jalani hidup dengan ikhlas, sifat heroisme harus ada di dada

Tekad bulat terbebas dari penjajah harus ada di semua jiwa

Maka ketika pecah pertempuran di Surabaya, Semarang, Ambarawa, Bandung, Jakarta, Medan, bahkan Menado, semangat rakyat tidak luntur meraih kemerdekaan. Merdeka-merdeka-merdeka!

Magelang, 19 Agustus 2020


Anisah, lulusan D3 IKIP Yogyakarta, S1 Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta,Magister Universitas Islam Indonesia, Penulis Buku Antologi Puisi tunggal Tari Soreng tahun 2020, penulis buku antologi puisi bersama, Tadarus Puisi IV, tahun 2019, Anak Cucu Pujangga, tahun 2019, Indonesia Journey, tahun 2020, penulis artikel dan berita pada Majalah Rindang, tahun 2010 & 2020.


Puisi Annis Muchtarom di Gembok 2021

 Annis Muchtarom


Lusuh Berdarah-darah

Menengok sosok-sosok pejuang di masa perih

dari pelosok-pelosok nusa

puluhan ribu orang desa diangkut

diseret digelandang. Dipaksa kerja. Kerja

Membuka jalan. Pantai utara Jawa

menyibak belukar menembus hutan

Menggempur cadas, tanah, lereng pegunungan

memecah batu mengusung beban,

menguruk sungai merentang jembatan

Harus bekerja. Tiap hari makan gepukan-menelan bentakan

Melekat tasbih liku-liku sejarah

Jiwa melusuh berdarah-darah

Banyak pribumi hilang. Aroma suhada

Tak tahu di mana kuburnya. Tak ada baliho duka

Deret batu nisan tanpa nama. Tanpa karangan bunga

Yang masih dibudak, badan kurus penuh luka

anak isteri entah di mana. Entah bagaimana

Tak sedikit yang berani menentang

Mati di ujung pedang.Teraniaya

Dibelenggu. Disiksa. Digembok dipenjara.

Saat itu. Larung denyut waktu

langit sedih melihat rumput menjerit

di sudut desa. Perempuan tua dan guru ngaji berdoa

Air mata beku: terhisap penguasa zalim

Penjajah angkara. Penghisap kekayaan bumi nusantara

Mojokerto, September 2020



Drs. Annis Muchtarom, MM, pena: Annis M. Tarom, lahir bulan Juni di Purwokerto; Sejak di bangku SMP sudah juara menggambar ; di SLTA sudah nulis puisi, juara karya tulis (pelestarian hutan) dan juara baca puisi. Ikut belajar di UNDAR Jombang  & STIE Stikubank Semarang. Karya : Kumpulan cerpen, “Cerita-cerita dari Empunala”; “Bupati Roaller-Coacher dan Sandal Jepit  Ayu”, “Lelaki Kupu-kupu Sahabat Sania;” (2017) Antologi Puisi Nusantara “Senyuman Lembah Ijen,“, “Kumpulan Puisi Sang Parawi Laut”; “Musafir Ilmu,” -”Doa Seribu Bulan,” (Asnur, 2018). Puisi “Telapak Kaki Kata-kata,” “Brantas,” “Merawat Jiwa yang Hilang,” -”Tamasya Warna; Cerpen “Pertemuan”;  “Talqin”, ikut puisi “Gerakan 1000 Guru Asean Menulis Puisi”- Asnur (Rekor MURI-) (2018). Puisi mandiri  “Kucing Kembang Asem” (2018),  “Dongeng Nusantara” (2019). “Kampung Esay”, “Festival Sonian”, kumpuisi “Benteng Pancasila 242”, “Rinai Rindu Hujan”, ”Pantun 1000 Guru,” “Situs”, “Pantun Nasihat Guru”(2020), “Gurindam Nusantara”. Pernah mengajar di SMK Kesehatan Bhakti Indonesia Medika Kota Mojokerto.


Puisi Ardhi Ridwansyah di Gembok 2021

 Ardhi Ridwansyah

 

Sajak untuk Mentari

Anakku mentari.

Bapak hari ini menyisir pagi,

Dengan hati tertatih,

Laksana embun,

Yang jatuh dari daun dan terserap,

Tanah nestapa.

Kau terlelap kala sendu,

Mengetuk jiwaku,

Tawamu ingatkan daku pada wajah,

Seterang rembulan, semanis madu,

Rupa yang kudekap erat,

Dalam doa dan rindu.

Anakku mentari,

Tiada lain risalah ibu,

Adalah lentera dalam gua legam nan kejam,

Mencabik raga dengan desis ular,

Yang siap menerkam.

Namun dia tahu bahwa ajal datang dengan gemilang,

Saat tarikan napas lahirkan tangis mentari,

Sedang jasadnya terbujur kaku,

Pandang wajahmu untuk terakhir kali

Anakku mentari,

Bilamana susu buatanku terasa hambar,

Maafkan aku sebab cinta ini tak mampu menantang,

Cintanya padamu; air susunya mengalir,

menyapa dengan kasih,

Belai bibir mungilmu dengan jemari,

Yang halus dan wangi.

Sekian sajak ini untukmu mentari,

Kuharap kau tumbuh sebagai pohon,

Yang kukuh meski derita mengguncang,

Meski namanya kini,

Hanya untuk dikenang.

Jakarta, 12 Desember 2020


Ardhi Ridwansyah


Gejolak dan Kata-kata 


Saat meraba dinding.

Ingar-bingar jemawa dan tawa,

Bikin bulu kuduk merinding.

Derap sepatu berkeliling,

Ruang-ruang hening tampak menjeling.

Ia merangkak lalu tulis sebuah cerita,

Hatinya terasa sempit sebab tema,

Membuat otaknya menjerit.

Ia layu sebelum tumbuh menjadi mawar,

Yang memikat sekaligus melukai kulit.

Kata-kata lekas berjatuhan,

Memagas makna yang rekat di tubuhnya,

Ia menikam diri dengan pena sang penulis,

Yang gairahnya kini tengah kritis.

Merapal mantra malam,

Rima saling bersua pada aksara,

Menari pada secarik kertas lusuh,

Ungkap nuansa kebebasan untuk merindu,

Pada mata yang sayu, lidah nan kelu.

Meneguk kisah masa lalu.

Jakarta, 12 Desember 2020




Ardhi Ridwansyah kelahiran Jakarta, 4 Juli 1998. Tulisan esainya dimuat di islami.co. terminalmojok.co, tatkala.co, nyimpang.com, nusantaranews.co, pucukmera.id, ibtimes.id., dan cerano.id. Puisinya “Memoar dari Takisung” dimuat di buku antologi puisi “Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival 2019”. Puisinya juga dimuat di media seperti kawaca.com, catatanpringadi.com, apajake.id, mbludus.com, kamianakpantai.com, literasikalbar, ruangtelisik, sudutkantin.com, cakradunia.co, marewai, Majalah Kuntum, Radar Cirebon, dan Harian Bhirawa. Penulis buku antologi puisi tunggal Lelaki yang Bersetubuh dengan Malam. Salah satu penyair terpilih dalam “Sayembara Manuskrip Puisi: Siapakah Jakarta”. 


Jumat, 22 Januari 2021

Puisi Arnita di Gembok 2021

 Arnita 

Jalan Menuju-Mu


Kutemui banyak hal perjalanan menujuMU

Di antara wajah wajah cemas penuh dengan ketakutan

Mata nanar memandang sayup menangisi tanah kering kerontang

Kusaksikan mata keadilan yang mulai tertutup

Semua nampak gelap hingga salah dan benar terasa sama

Pada jalan menujuMU tulang tulang berserakan dan berakhir menjadi abu

Darah sebagai penghilang haus kerakusan

Lalu hukum rimba mulai berlaku siapa kuat dia yang berkuasa

Peradaban begitu melesat memecah tali persaudaraan demi kekuasaan

Anak kecil kehilangan ibunya

Para petani yang tak lagi mencangkul karena sawah sawah telah tergadaikan

Pada perjalanan menujuMU, ada ribuan kepala yang isinya hanya seonggok daging kerdil

Dan bangkai bangkai yang masih hidup

Tragis!.

Tarumajaya 2020.


Arnita 


Kebebasan Para Penyair


Ketika senjata menembus ujung jantung

Maka kematian bukanlah berdarah-darah

Kata-kata menjadi simbol pengharapan

Terpekur dalam menikmati sepi

Meski berjuta orang bicara nyaring

Para penyair bebas melawan arah

Menjulang cakrawala dengan mantra mantra

Penyair paling pandai sembunyi dari kesakitan

Maka gelak tawa digelar di bawah ranumnya mata berkaca

Puisi adalah ruhnya

Yang akan kekal berabad abad

Zaman berganti, gelombang hidup terus menghantam

Tetapi mimpi seorang penyair tetap tangguh

Kesepian kerap menjadi urat yang melingkari tulang belulang

Mengaliri denyut nadi

Menyeruak pada ceruk ceruk rongga tenggorokan

Penyair masih mampu berjalan dengan sepotong hati

Karena kata adalah cara penyampaikan pesan kepada dunia

Namun hidup tidak selalu berkutat pada puisi

Ada yang harus kita tata kembali melalui ribuan doa yang terpanjat

Untuk menuju jalan pulang.

Tarumajaya2020.


Arnita lahir di bandung 15 juli 1982, perempuan yang mulai suka menulis sejak SMP dan fokus menerbitkan buku dari tahun 2009, sudah tergabung di beberapa antologi puisi selain menulis juga aktiv mengikuti kegiatan sastra dan masuk komunitas sastra di bandung.



Puisi Arya Setra di gembok 2021

 Arya Setra


Aku Engkau , Engkau Aku


Setiap hembusan nafas,,KAU selalu hadir....

setiap detak jantungku,,,KAU selalu menunggu

setiap langkahku,,,KAU selalu ikuti

sungguh KAU kekasihku....

yang tak pernah jauh dan tak pernah lepas

dari jiwa dan ragaku...

KAU ada saat aku tiada..

dan aku ada saat KAU tiada....

namaMU satunya aku

namaku akbar nya namaMU...

ada ku,,,ada-MU jua

sifatku adalah sifat-MU jua

af'al ku adalah af'al-MU jua....

aku yakin dan percaya

bahwa " KAU ADALAH AKU,,,,AKU ADALAH ENGKAU"

jkt 23.09.2020


Arya Setra, lahir di Bandung 18 Juni 1972. Selain suka menulis puisi, kegiatan sehari-hari sebagai seniman lukis di Pasar Seni Ancol. Menyukai puisi sejak SMP. Penggemar puisi Taufik Ismail, Rendra dan Sutardji Calzoum Bachri. menulis di beberapa Antologi Puisi diantaranya : Antologi Tulisan tangan penyair Satrio Piningit,  Antologi Kita di jajah lagi 2017,  Antologi Corona 2020 Antologi Puisi Tadarus Ramadhan 1440 H Berbagi Kebahagiaan Lumbung Puisi 2019, Antologi Internasional Perjalanan Merdeka 2020 , Antologi Mbelekethek, Antologi Indonesia Lucu 2018 dan beberapa Antologi bersama lainnya.


Puisi Asro Al Murthawy di gembok 2021

 Asro Al Murthawy 


Sajak Untuk Sang Yatim yang Tak Pernah Bisa Kutulis


: Muhammad

Mungkin kaulah sajak yang tak pernah bisa kutulis

Sebersit wujud gaib terus meruang di dadaku

Sayup memanggil dari tahun nun

tapi tak dingin yang membuatku gigil

sehembus nafas meremangkan pori

sehangat kecup kekasih penuntas rindu

Mungkin kaulah puisi yang tak pernah bisa kubumbun

Sebentuk wajah samar menjelajah palung jiwa

Selintas kudengar uluk salam dari balik mim

Tapi tak takut yang membuatku gemetar

seserpih harum membelai bulu hidung

sehangat dekap kekasih perisai dingin.

Lihat, hari ini semesta membahanakan dzikir

dalam tiap sebentar kutuliskan bait sajakku

kau tak secuma sejarah

tapi risalah yang terus meruang mengangkasa

meruang di rerongga setiap sel darah merahku

Imaji -1438 H


Asro Al Murthawy 


Batu Nisan Bapak


Kusenandungkan kidung

serupa lebah berdengung

tak ada bunga tabur

sepucuk doa membungkus tanah membujur

tak ada dupa

tapi harum bau rindu terus mengepul

di reranting pohon-pohon makam

maghrib melambai ingatan

gerimis menjerat kenang

pada nisan masih saja dapat aku baca

gurat kukuh wajah bapak

akrab erat memeluk takdir

sepanjang jejak tapak di tanah

yang kini mesra menimbun jasadmu.

Kuamang, Imaji-1441H


Asro al Murthawy. Lahir Temanggung, pada tanggal 6 November. Adalah Ketua Umum Dewan Kesenian Merangin dan Anggota Komite Sastra Dewan Kesenian Jambi. Karya-karyanya terhimpun dalam Syahadat Senggama (k.puisi, 2017) Equabilibrium Retak (2007), Lagu Bocah Kubu (puisi, tanpa tahun), Kunun Kuda Lumping (k.Cerpen, 2016) dan berbagai antologi bersama sastrawan Indonesia lainnya. Karyanya yang lain: Pangeran Sutan Galumat (2017), Pengedum Si Anak Rimba (2018), Mengenal Lima Sastrawan Jambi (2018), Katan dan Jubah Sang Raja Hutan (2019) Bujang Peniduk (2019) dan Ujung Tanjung Muara Masumai (2019) diterbitkan oleh Kantor Bahasa Jambi sebagai Pemenang Sayembara.. Hadir dalam Temu Sastra Indonesia I (2008), Pertemuan Penyair Nusantara VI (2012) Jambi, MUNSI II (2017) Jakarta, Pertemuan Penyair Asia Tenggara (2018) Padang Panjang,dan Borobudur Writter And Cultural Festival (BWCF) (2019)



Puisi Aloeth Pathi di gembok 2021

 Aloeth Pathi


Putri Mangkunegaran


; Gusti Raden Ayu Siti Nurul Kamaril Ngasarati Kusumawardhani


 Paras cantik tutur halus keluhuran budi pekerti

Keindahan lemah gemulai Putri Mangkunegaran

Ratu Wilhelmina terpesona kelincahan gerak tari

menjadi buah bibir kaum bangsawan


 Perempuan anggun idola di masa pergerakan

Kisah pemuda pemberontak tertambat hati

namun lelah bertepuk sebelah tangan

menjadi buah impian kaum revolusioner


 Hasrat pemuda pemberani mempersunting mimpi

Tertawan senyum manis si lesung pipit

Kelak  mendambakan ibu dari anak-anaknya

menjadi harapan semu kaum nasionalis


 Hanya satu diantara tebar bunga-bunga cinta

Ketulusan dari pengorbanan prajurit biasa

Kesetiaan tembang Gandrung "Putri Solo"

membangun rumah tangga sederhana

                                         Skj, 080317


 





Aloeth Pathi


Yoga Pagi Ini


: Ragil Swarno Pragola Pati


 Memasuki ruang meditasi

Melatih gerak raga mengatur nafas

bertumpu satu titik relaksasi

Hadirkan ketenangan hati

Mengontrol panca indra

Keseimbangan rasa


Dengarkan gemuruh debur ombak

Nikmati semilir angin berhembus

Leburkan semua sangkar

Terbanglah bebas merdeka seperti burung camar

Ringan lepaskan semua problema

Hancurkan belenggu pemasung jiwa


dan

Aku terbentur tembok-tembok kota

Kepalaku semakin sempit melelahkan

Membaca hiruk pikuk persoalan negeri

                                                  Skj, 100317









Aloeth Pathi, lahir di Pati- Jawa Tengah. Karyanya mengisi banyak antologi Bersama Nasional sejak tahun 2005  seperti   Mata Media antologi bersama, Bulan di dada Memerah (Lingkar Study Waroeng Kopie, 2005), Puisi Menolak Korupsi 2 (Forum Sastra Surakarta 2013), Dari Dam Sengon Ke Jembatan Panengel (Dewan Kesenian Kudus dan Forum Sastra Surakarta 2013), keluarga adalah Segalanya #1 (el Nisa Publisher, Jakarta, 2013), 2 Hal (Pustaka Jingga, Lamongan, 2014), Komunitas Harmonika Kehidupan ; Harmonika Desember (Sembilan Mutiara 2014), Kemilau Mutira Januari (Sembilan Mutiara 2014), Menggenggam Dunia (Mafasa 2014) Mom: The First God that I Knew (Garasi 10 Bandung 2014). Ibu dalam Memoriku # 2 (Metakata, Malang 2014), My First Romance (Metakata, Malang 2014), Rindu Rahasia #1 (Pena House, Blora 2014), Cinta Di balik hujan #2 (Pena House Blora, 2014) Kepada Tuan Presiden, (Family Camar 2014),  Epifani Serpihan Duka Bangsa (Sembilan Mutiara 2014), Puisi Gemuruh Ingatan (Korban LAPINDO Mengggugat (KLM) dan Urban Poor Consortium (UPC), 2014 ), Solo Dalam Puisi (Sastra Pawon, 2014), Lumbung Puisi Sastrawan, (Indramayu,2014), Lumbung Puisi Sastrawan jilid II, (Indramayu, 2014), Antologi Puisi "Bisikan Kata Teriakan Jiwa untuk Indonesia Tercinta" (de A Media Kreatif, 2014),  Pada Negeri Aku Berpuisi (Goresan Pena, 2014), dan lain-lain. Hingga sekarang dan terus aktif mengikuti berbagai kegiatan sastra. Penyair ini  tinggal di Pati Jawa Tengah.



Puisi Asih Minanti Rahayu di gembok 2021

 Asih Minanti Rahayu

Teh Manis di Malam Hari (1) 

Adakah yang kurang dari seruput teh manis?

Tak ada, 

Karena ketika ku meminumnya, 

Perutku telah kenyang dengan sepiring nasi dan sayur lauk khas malam hari,

Tahu Penyet, Tempe Penyet, Ayam goreng, dan Ikan goreng, 

di sepanjang tenda jalanan kampus.

Di sela makan, 

terkadang pengamen jalanan,

Mengusik dengan keriangan, 

Berharap berbagi kebahagiaan,

Kuberi koin tanda pengertian,

Adakah yang kurang dari seruput teh manis? 

Tak ada,

Apalagi,

Teringat senyuman beliaku, 

dan mudamu,

di suatu waktu,

Penanda bahagia, 

Malu-malu rindu yang tak terungkap di balik kenangan manis, 

diamku,

Bersama teh itu...

Aku cukup mereguknya,

Mereguk perasaan terdalamku,

Dengan kehangatan cinta serupa,

kehangatan air teh,

yang kuseduh sepanjang makan malam... 

Kenangan Jogja,

Cilacap, 13 November 2020

Asih Minanti Rahayu


Teh Manis di Malam Hari (2)

Teh manis penghilang dahaga,

Pengusir sepi, 

Pembuah konsentrasi,

Ketika pikir jenuh menghampiri...

Kuhadapi meja belajarku,

Berserakan berpuluh buku,

Aku tak punya imaji apa pun, 

Kecuali lembut getarmu,

Di kala ku termenung,

Dan kuhadapi gelas-gelas yang tercenung,

Di atas lambaran meja, 

Penuh santun...

Teh manis penghilang dahaga,

Kubiarkan setiap tetes manisnya, 

Membasahi kerongkonganku,

Kusadari semangat belajarku saat itu,

Mengabaikan transfer asmaramu, 

Pilu-pilu rindumu,

Kututup dalam sopan etika muda,

Lalu, aku tulis puisi cinta,

Rahasia ...

Teh manis penghilang dahaga, 

Aku lega menutup bukuku,

Kupejam mata merebah badanku,

Meninggalkan gelas yang telah kosong,

Menanti esok malam,

Menegukmu lagi dan lagi,

Hingga tengah malam hari. 

Kenangan Jogja,

14 November 2020

Asih Minanti Rahayu adalah seorang pecinta seni, sastra dan agama alumni Sastra Inggris UGM. Aktif membuat antologi puisi. Antologi terbaru diantaranya “Bulan, Senja dan Angin” bersama guru penulis se-Indonesia dalam Komunitas Puisi Jingga, antologi “Corona Gone with the Poetry” bersama penulis 9 negara, dan “Corona:Penyair Mencatat Peristiwa Negeri” bersama Lumbung Puisi. Puisinya setiap bulan tampil di web-web komunitas, seperti Pundi, Genial dan Suara Muhammadiyah. Selain puisi aktif membuat skenario film dan bermain peran dalam film-film lokal. Akting terbarunya bersama anak Difabel. Karya film perdananya berjudul “Aku Ingin Sekolah” tampil di teve-teve lokal.”.



Puisi Abidi Al-Ba'arifi Al-Farlaqi di gembok 2021

 Abidi Al-Ba'arifi Al-Farlaqi


Beberapa Catatan yang Tersisa 


Aku menyisir lekuk-lekuk dada Jombang

mencatat tentang rindu yang tak pernah usai

diantara paragraf Balongganggang dan Peterongan;

sang wali menampar kejahilanku tentang cinta

Rumput-rumput kenangan

menjalar di Kepuh Doko sampai Bareng

dan pucuk-pucuk waktu kian menusuk bangkuku

menyisakan beberapa catatan abadi

yang berisi sajak-sajak ekstase dan kerinduan;

jalan menuju rumah Ar-Rumi, Al-Hallaj, Jenar, dan Al-Fanshuri 

Bireuen 


Abidi Al-Ba'arifi Al-Farlaqi


Dua Belas Desember


Angka dua belas di dada desember

mengecupi pipi dan menari di rambutmu

menyanyikan kidung-kidung pengembaraan dan meracik pil cinta

mereguk mata air makrifat dan mendengar desah dari Balongganggang;

kelahiranmu

Bireuen





Abidi Al-Ba'arifi Al-Farlaqi. Lahir pada 8/9/1983 di Perlak, Aceh Timur dan tinggal di Ponpes Nidaul Islam, Peusangan Selatan, Bireuen, Provinsi Aceh. Penyair yang akrab dipanggil Kang Abid atau Mas Abi ini dimasa kecilnya bernama Goelsani Razz Al-Ba'arifi adalah pendiri, pengasuh, dan pengajar Majlis Jambo Stress. Belajar menulis secara otodidak melalui buku-buku yang selalu dibelikan oleh orangtuanya setiap hari. Juga dari berbagai buku yang dibelinya sendiri dan temannya.

Puisi-puisinya termuat dalam beberapa antologi bersama melalui Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia dibawah asuhan penulis dan sastrawan ternama Indonesia Rg Bagus Warsono. Rg Bagus Warsono merupakan salah satu tokoh kunci yang selalu memberi berbagai tips dan motivasi padanya dalam dunia sastra.



Puisi Alfiah S Putra di gembok 2021

 Alfiah S Putra 


Aku ingin berpaling enyahkan semua dimasa itu

bila dapat kuhapus cerita tentang kita

agar tak ada lagi jejak membekas dihati yang kapan saja bisa muncul dan menikam bak sembilu

Aku ingin berlari sejauh jarak yang bisa kurenggangkan bersama sang waktu 

agar tak pernah ada persinggahan hati

yang kapan saja dapat tergambar dan menyayat bak selumbar

Aku ingin menggali ruang

dikedalaman sanubari

hingga kedasar tak terjamah untuk mengubur  kisah kita

agar tak pernah lagi bangkit menghantui dan mengoyak laksana suban

Tapi tak mungkin

takkan mewujud 

karena kutau itu hanyalah bongkahan ilusi dewa 

mungkin aku hanya perlu berjuang lagi meraih keikhlasan diri

barangkali aku harus belajar lagi tuk mendamaikan hati

biarlah semua berlalu laksana air mengalir 

karena menyumbatnya adalah kenaifan

biarlah seperti adanya bagai udara berhembus

karena menghalaunya adalah ke mustahilan

Bekasi 021120


Alfiah S Putra, Namanya tercatat di Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia.




Puisi Aloysius Slamet Widodo di gembok 2021

 Aloysius Slamet Widodo


(Puisi Irit Kata) 


Puisi Politik Irit Kata 


PUISI SOEKARNO 1

“ politik adalah panglima”

PUISI SOEKARNO 2

"Pancasila "

PUISI SOEKARNO 3

" oh ..... wanita "

PUISI SUHARTO 1

" stabilitas adalah panglima "

PUISI SUHARTO 2

" petrus ."

PUISI SUHARTO 3

" enak zamanku to?"

PUISI HABIBIE 1

" teknologi adalah panglima "

PUISI HABIBIE 2

" tetuko ......,

sing tuku ra teko teko

sing teko ra tuku tuku "

PUISI GUSDUR 1

“Demokrasi adalah panglima”

PUISI GUSDUR 2

" DPR ini seperti Taman kanak2 "

PUISI GUSDUR 3

" gitu aja kok repot"

PUISI IBU MEGA 1

" diam itu emas "

PUISI IBU MEGA 2

" dia itu petugas partai "

PUISI SBY 1

" citra ...citra ...citra "

PUISI SBY 2

" Walau auto pilot

pertumbuhan  paling tinggi "

PUISI SBY 3

"lebaran Kuda"

PUISI JOKOWI 1

"kerja... kerja ....kerja 

PUISI JOKOWI 2

" Nawa cita "

PUISI JOKOWI  3

" rapopo"

PUISI WAKIL RAKYAT 1

"interupsi !"

PUISI WAKIL RAKYAT 2

 " tak ada lawan tak kawan sejati 

Yang ada kepentingan yang abadi”

PUISI PARTAI DEMOKRAT

"gelengkan kepala dan katakan tidak !"

  Tapi banyak kader masuk penjara

PUISI PDIP

" menangpun.....  tetap oposisi"

PUISI PARTAI GOLKAR

"  aku tak sanggup jadi oposisi "

PUISI PARTAI GERINDRA

" wah koalisi mreteli"

PUISI PKS

" sapi  oh sapi....!"

PUISI SEORANG POLITISI 

 "janjinya seperti susu tetangga

  gede dan empuk tapi tak bisa dipegang "

PUISI PRABOWO 1

" dia itu presiden boneka"

PUISI PRABOWO 2

“ bocor... bocor” 

PUISI PRABOWO

“Indonesia bubar “

PUISI SETYO NOVANTO 1

Dulu "tak tersentuh"l

PUISI SETYO NAVANTO 2

Sekarang " mengaduh"

PUISI ANIS 1

 "rumah tanpa DP"

PUISI ANIS 2

“ naturalisasi”

PUISI AHOK 1

    "babi ...anjing ....tai ...!"

PUISI  AHOK 2

" surga bukan dibawah telapak kaki ibu

   tapi  surga ada dilantai ketujuh..Aleksis"

 PUISI A SLAMET WIDODO

 " Asuuu"

A Slamet Widodo

Jakarta,17 Juli 2017


Aloysius Slamet Widodo, lahir di Solo, 29 Februari 1952, Penyair ini dikenal karena puisi – puisi mbeling-nya yang membuat orang tertarik untuk membaca. Karya antara lain  Potret Wajah Kita (Jakarta, 2004),Bernapas Dalam Resesi (Jakarta, 2005),Kentut (Jakarta, 2006),Selingkuh (Precil Production, Jakarta, 2007), Namaku Indonesia (Pena Kencana, Jakarta 2012). Penyair ini tinggal di Jakarta