TEKS SULUH


Tampilkan postingan dengan label Dasyatya Pena Peyair. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dasyatya Pena Peyair. Tampilkan semua postingan

Kamis, 10 Maret 2022

Ini kata-kata puistis berbau sex yang bisa dibuat puisi, teruskan untuk dijadikan inventaris pelajaran:

 belai

cumbu

diraba

digoyang

terbuai

birahi

nafsu

remas

melumat

cium

desah

mulus

peluk

dekap

gerayang

binal

ngos-ngosan

liar

telanjang

kecup

terlentang

geli

menggeliat

dengus

susur

tindih

Jilat

oohhh

gelinjang

rayu

sensual

kulum

muncrat

crot

menggigit

auhhh

Telungkup

Sintal

Jumat, 27 November 2015

Nanang Suryadi

Jauh sebelumnya 2002 Nanang Suryadi telah membuat puisi-puisi Biar yang sebuah kumpulan puisi untuk 'membiarkan keterasingan diri, Dia menuduh dan menghakimi diri, mengapa memvonis diri di kesepian. Sebuah pengembaraan Nanang Suryadi yang pernah digelutinya di dunia lain di dalam dunianya sebagai penyair.Biar tak mau menyalahkan siapa-siapa biar biarlah di kesunyian diri . Sendiri meratapi sepi hati. Ia telah mecapai puncak pencarian diri.Tetapi tak dapat menerka maksud jika tak pernah membacanya, mari kita lihat puisi-puisi Nanang Suryadi yang meggerigisi hati ini :
Biar!
tak kau ingat lampu-lampu yang menyihir kita menjadi orang yang mentertawakan dunia.
tak kau ingat keringat meleleh di langkah kaki, di punggung, kening, menantang matahari!
menunggingkan pantat ke muka-muka orang-orang yang dipuja sebagai dewa!
o, engkau telah membunuh kenangan demikian cepat. seperti kulindas kecoak dengan ujung
sepatuku. perutnya yang memburai, putih, mata yang keluar dari kepala, masih bergerakgerak.
aku menjadi pembunuh. seperti dirimu. demikian telengas. tanpa belas. kepada
kenangan.
biar. jika kau tak mau temani. biar kurasakan nyeri sendiri. di puncak sepiku sendiri!
Titik Diam
jarum jam menunjuk. waktu bergegas dengan wajah merah padam. mungkin hatinya remuk. detik berhenti pada pejam dan diam. terbanglah terbang angan mimpi dihembus napas dari lubuk dalam demikian hibuk, ninggal biduk sebrangi langit. ucapkan selamat malam. pada bintang yang nyelinap di kelam dihembus napas dari suntuk melebam


Nanang Suryadi, lahir di Pulomerak, Serang pada 8 Juli 1973. Aktif mengelola fordisastra.com. Buku-buku puisi yang menyimpan puisinya, antara lain: Sketsa (HP3N, 1993), Sajak Di Usia Dua Satu (1994), dan Orang Sendiri Membaca Diri (SIF, 1997), Silhuet Panorama dan Negeri Yang Menangis (MSI,1999) Telah Dialamatkan Padamu (Dewata Publishing, 2002), BIAR! (Indie Book Corner, 2011), Cinta, Rindu & Orang-orang yang Menyimpan Api dalam Kepalanya (UB Press, 2011) sebagai kumpulan puisi pribadi. Sedangkan antologi puisi bersama rekan-rekan penyair, antara lain: Cermin Retak (Ego, 1993), Tanda (Ego- Indikator, 1995), Kebangkitan Nusantara I (HP3N, 1994), Kebangkitan Nusantara II (HP3N, 1995), Bangkit (HP3N, 1996), Getar (HP3N, 1995 ), Batu Beramal II (HP3N, 1995), Sempalan (FPSM, 1994), Pelataran (FPSM, 1995), Interupsi (1994), Antologi Puisi Indonesia (Angkasa-KSI, 1997), Resonansi Indonesia (KSI, 2000), Graffiti Gratitude (Angkasa-YMS, 2001), Ini Sirkus Senyum (Komunitas Bumi Manusia, 2002), Hijau Kelon & Puisi 2002 (Penerbit Buku Kompas, 2002 ), Puisi Tak Pernah Pergi (Penerbit Kompas, 2003), Dian Sastro for President #2 Reloaded (AKY, 2004), Dian Sastro for President End of Trilogy (Insist, 2005), Nubuat Labirin Luka Antologi Puisi untuk Munir (Sayap Baru – AWG, 2005), Jogja 5.9 Skala Richter (Bentang Pustaka - KSI, 2006), Tanah Pilih, Bunga Rampai Puisi Temu Sastrawan Indonesia I (Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jambi, 2008), Pesta Penyair Antologi Puisi Jawa Timur (Dewan Kesenian Jawa Timur, 2009) Email: nanangsuryadi

Jumat, 09 Oktober 2015

SOP BUNTUT

Dasyatnya pena penyair
Satu puisi cukup buat Sony Farid Maulana menggetarkan Indonesia puisinya yang dimuat dalam HU Pikiran Rakyat, Sabtu 28 Juli 2007
sastra koran yang paling top tahun itu.
SOP BUNTUT
“Tuan, di buncit perutmu apa ada padang rumput?”
sepasang sapi jantan dan betina bertanya demikian kepadaku.
Hujan kembali membaca akar tumbuhan yang kering digarang kemarau.
Kota disergap demam ribuan buruh pabrik gulung tikar.
Sepasang sapi jantan dan betina membayang di kuah sop buntut di restoran hotel bintang lima yang sering dipajak para pecundang.
Dan aku terkejut.
Mana mungkin di perutku yang buncit ada padang rumput selain hijau padang golf?
Begitulah.
Maut mengirim isyarat.
Dunia menggeliat dalam kobaran api hutan bakar kepala si mislkin dipenggal begal digelap malam raungnya lenyap ditelan lembut alun musik jazz di restoran hotel bintang lima.
“Tuan apa ada menu terakhir yang ingin anda santap?”
2006

Maka kemudian 'sahabatku itu pergi tak tahu rimbanya.

Dasyatnya pena penyair bisa merontokan nafsu dan juga melemah lembut hati keras. Sebuah tulisan yang bisa menghanyutkan perasaan siapa saja pembacanya. Namun juga bisa menggelorakan semangat. Dia (pembaca) lalu menepuk dada, dan berteriak kemudian merangsak menakutkan (termasuk menakutkan penguasa) karena itulah sebabnya mungkin Wiji Tukul bisa menghasut pemuda untuk menyerang Pemerintah kala itu. Maka kemudian 'sahabatku itu pergi tak tahu rimbanya.