TEKS SULUH


Sabtu, 25 Desember 2021

Batu bata yang dibakar lebih bagus kwalitasnya

 Sarapan Pagi:

Ternyata batu bata yang dibakar lebih bagus kwalitasnya dengan bata kucur. Artinya produk apa saja termasuk karya sastra akan bermutu jika melalui tahap 'pembakaran (proses yang sungguh-sungguh) dan tidak asal jadi seperti bata kucur. Meski bata kucur (batu bata press) juga bermanfaat tetapi proses yang dilakukan dengan terdapat penggodogan yang matang menghasilkan sesuatu yang bermutu. Jadi sebaiknya prodak sastra tidak seperti bata kucur yang asal jadi.

(sarapan pagi 21-12-21)**

Apresiasi yang Tulus

 Seorang murid SMP mencari rumahku , Ia ingin membeli buku cerita anak2 Kopral Dali untuk lomba bercerita di sekolahnya. Bersusah payah ia mencari rumahku, Ketika sudah ketemu aku trenyuh atas apresiasi itu. Kugratiskan buku yang dikendaki bahkan aku hanya punya satu buku. Atas apresiasi anak itu aku berikan gratis buku2 lainnya. Itu apresiasi dari seorang anak kecil dan aku menerima apresiasinya yang tulus.

Profesionalitas menulis pena tinta perlu didukung tinta pena yang baik

Sarapan Pagi:

Anda tahu pulpen tinta pena? Pulpen itu bisa digunakan jika diisi cairan tinta. Biasanya tabung pulpen itu terbuat dari bahan karet yang apabila dipencet menyempitkan ruang tabung dan jika dilepas seketika dapat menarik benda seperti cairan tinta. Kemudian jika tabung itu berisi cairan tinta, pulpen itu bisa digunakan kembali.

Pulpen pena itu hanya bisa digunakan oleh yang terbiasa atau penulis yang memiliki jiwa seni. Hasilnya sangat indah, tipis tebal huruf begitu membuat sebuah surat yang ditulis menjadi menarik.

Pena tinta itu kini jarang digunakan karena memang sudah jarang yang mampu menggunakan, tinta pulpen itu akhirnya hanya untuk tinta stempel.

Ahli ahli penulis dengan penata tinta kini semakin jarang. Tetapi kebanggaan bagi yang masih menggunakannya.

Profesionalitas menulis pena tinta perlu didukung tinta pena yang baik.

Jadi jika kita hendak membedakan diri dengan orang lain, bahwa kita ini lebih hebat dari orang lain harus mampu menggunakan/profesional, memiliki/tersedia sarananya, dan memiliki bahan/barang yang siap habis seperti tinta dan miliki pengalaman.


WENGI DESEMBER, Yanti S Sastro Prayitno

 WENGI DESEMBER

Sajake angin lagi sesingidan ing waliking gegodhongan

lintang-lintang uga lagi lumuh pilih kekudhung mega

lan wengi Desember nembangake lelagon sepa

nunggu gumrojoge udan kang kelangan mangsa

Sepi kang kuwawa ngrerujit ati

rikala liyeping mripat mung ngiwi-iwi

kabuncang pangangen nrajang wektu-wektu kang wus adoh lumaku

tansaya kepingin kabuwang

tansaya rosa angadhang

Apa pancen katresnan iku mung impen

sinelip ing antaraning panguripan

amarga kanyatan kerep  nyulayani pangarep

Apa urip iku mung isi panandhang

rikala kabeh gegayuhan mung ambyar ing tawang

nalika suku napak ing lemah

sanyatane tan bisa agawe bungah

Wengi Desember kadya swaraning nala kang krodha

nyoba nduwa kabeh kang gawe kuciwa

nanging sanyatane urip mung saktitahe

ora perlu mbebujung lintang

apa ngunggahi kluwung

Cukup jumangkah kanthi sumringah

nyisihake sakabehing rasa susah

amarga wektu terus lumaku

ora bakal maelu rasaning atimu

Semarang, 2 Desember 2020



Kamis, 16 Desember 2021

Wirja Taufan : Buku berharga yang memuat 115 Sastrawan penerima Penghargaan dan Medali SETYASASTRA NAGARI 30 Tahun Kesetiaan Sastra Indonesia dari Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia IX 2021

Buku berharga yang memuat 115 Sastrawan penerima Penghargaan dan Medali SETYASASTRA NAGARI 30 Tahun Kesetiaan Sastra Indonesia dari Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia IX 2021  Salam sehat dan bahagia selalu.. Aamiin..
 

Rabu, 15 Desember 2021

Elly Azizah AIR TIK KERTO Penantian Pangeran Negeri Tasik/Prasasti Antologi Untaian Pualam Sastrawan Dalam Khazanah Daerah, Pelangi Dipa Nusantara Cahaya Katulistiwa Amanat Sastratama Pujangga Modern Republik Indonesia Leksikon Abadi 2022 Emas.

 Elly Azizah


AIR TIK KERTO

Penantian Pangeran Negeri Tasik


Hari ini begitu aneh

Hati berdebar-debar berdesir

Hari panas hujan rintik

Mengiringi langkah gadis Kerto

Ke tepian mata air tik

Bakul berisi beras dikepit

Siput dijinjing tuk dibersihkan

Si gadis remaja terkesiap

Mata nanar termangu

Bila kayu lapuk tersangkut di sini

Tak ada kayu tumbang

Tak juga angin ribut

Sambil melangkah tegak berdiri di kayu

Senandung cinta digumamkan

Bakul beras melenggang menari di air bening

Bakul siput terduduk di atas kayu  

Perlahan tapi pasti kayu begerak pergi

Menghilang di tubir mata air

Beras di tangan tumpah

Bakul siput berserak meruah

Kaki di kayu bagai terpasak

Bunda menanti gelisah mengisak

Anak gadis hilang rumah lengang bisu

Makan malam tidak jadi dihidang membeku

Selera makan menghilang layu


Canang bertalu tanda bahaya

Anak negeri berkumpul mencari dara

Bunda gundah anak tak bersua

Bunda bersimpuh mencari berturo-turo bermadah

Asap kemenyan dibakar membumbung


Kaleu nien keme tuhunan sebee tehet

Kaleu nien keme turunan sebee tikis

Dek belek mai tebo

Tulung keme…..

Keme lem duko

Hai…..

Dek tinga dak lekok geliwak

Dak imbo selembano

Ite idup dak dunio

Dakmi saling gemanggeu kemucak

(Kalau nian kami turunan nenek Tehet

Kalau nian kami turunan nenek Tikis

Yang balik ke gunung

Tolong kami…..

Kami dalam duka

Hai…..


Yang tinggal di jurang gua air

Di rimba belantara

Kita hidup di dunia

Jangan saling mengganggu)


Bunda lelah tertidur bermimpi

Wahai bunda, janganlah bersedih

Kami berdua meminang anak dara

Untuk anak kami sang Pangeran

Ia takkan kami sia-siakan

Ia sudah jadi kemantin Pangeran Tasik

Bila Ibu rindu atau sakit

Datanglah ke mata air tik

Minum dan makanlah siput

Pelerai demam dan rindu


Wahai Dinda Kerto

Kau renggut tali kasihku tali rinduku

Menghentak berkelenyar hingga ke urat nadi

Penantian ini tak dapat kutampung lagi

Di air tik kularung pertemuan kita

Kutuntun langkahmu saat gerimis luruh

Menjelang panas matahari melindap

Kubayar tunai meminangmu

Di kebeningan air tik syahdu

Negeri Tasik kita bersemayam memadu


Kita perlu kirim warta

Pada ayah bunda

Suatu saat kita berpesta raya

Mempertemukan dua keluarga berbeda

Bersama anak cucu dan bala tentara

Melalui hujan lebat

Diiringi guntur kilat menyambar 


Air sungai dan air tik apus

Binatang air semua keluar

Itu tanda kita datang

Bunda dan sanak saudara tak usah takut

Dua ekor yang besar bentuk aneh

Itulah Ananda berdua

Bila Bunda rindu sebut kami

Di air tik pintu gerbang rumah

Kami akan berkunjung


Air tik air Kerto

Tempat Kerto dilarung pinangan

Pinangan Pangeran Tasik

Air tik Kerto pelepas dahaga

Siput Tik Kerto pelerai demam

Air Tik Kerto dingin menyembuhkan

Di muara dua air belum menyatu

Jalan melingkar menikung

Menggelora di ceruk saling memadu

Cemas bunda hilang

Walau terasa hampa di dada takdir tergurat

Anak dipinang makhluk lain

Telaga bening air Tik Kerto

Nama anak abadi di sana

Pawon:

Cerita rakyat Kepahiang Bengkulu

#lumbung_ea

Bengkulu, 12122021


Selasa, 14 Desember 2021

Pertemuan Kecil 3 Penyair Rg Bagus Warsono, Wawan Hamzah Arfan dan Soekardi Wahyudi

 Siang ini 14-12-21 Lumbung Puisi kedatangan penyair terkenal Kalimantan  Timur Soekardi Wahyudi  peraih nominasi  penghargaan Sastrawan berdedikasi 2021 Kaltim dan penerima Sebutan Sastrawan Setyasastra Nagari dari Lumbung Puisi 2021. Kedatangan beliau bersama Sastrawan inti Lumbung Puisi Wawan Hamzah Arfan dari Cirebon bersama mantan pacarnya Ibu Susilawati. Dalam kesempatan ini Rg Bagus Warsono, tukang kebun, Lumbung Puisi memberikan kenang kenangan sejumlah buku untuk Sastrawan Kaltim yang dimasa purnabaktinya mengabdikan diri sebagai guru SMA di Kutai Kartanegara. Soekardi Wahyudi memulai kariernya sebagai sastrawan sejak th 80-an dengan menampilkan banyak puisi-puisinya di media massa. Beliau juga bergabung dengan Lumbung Puisi lewat beberapa antologi bersama Lumbung Puisi.



Soekardi wahyudi ke Lumbung Puisi

 Pertemuan yang tak disangka-sangka, 2000 km Kutai Kertanegara Indramayu. Mohon maaf mas Soekardi Wahyudi kami tidak bisa memberi hormat apa-apa dengan kedatangan Mas yang tak disangka sangka itu. Trims juga buat mas Wawan Hamzah Arfan yg sudi mengantarkan ke Lumbung Puisi. (Indramayu, 14 Desember 2021)



Senin, 13 Desember 2021

Klipping Puisi Naim Emel Prahana


 

Berita Sastra dari Penyair Pulo Lasman Simanjuntak


 Berita Sastra

Penyair Pulo Lasman Simanjuntak Masuk Dalam Buku Setyasastra Nagari, 30 Tahun Kesetiaan Sastra Indonesia Oleh Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia 

Pamulang, BeritaRayaOnline,-,-Puji Tuhan, hari ini (Senin, 13 Desember 2021) kembali bersukacita mendapat kiriman Buku "SetyaSastra Nagari" 30 Tahun Kesetiaan Sastra Indonesia oleh Lumbung Puisi Sastrawan  Indonesia dengan penyusun Penyair Rg.Bagus Warsono.

Pada buku pengayaan sastra untuk Sekolah Lanjutan dan Perguruan Tinggi  ini, sebagai penyair saya  juga memperoleh lencana Anugerah 30 Tahun Kesetiaan Setyasastra Nagari Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia 2021.

Sebagai penyair yang lebih dari 30 tahun berkiprah di dunia kesusasteraan Indonesia dalam buku setebal 274 halaman dengan penerbit Penebar Media Pustaka  (Bantul, Yogjakarta) dan ISBN :978-623-6875-97-1 cetakan 1, 2021 ini.

Biodata kepenyairan saya ada di halaman 195- 197.Sedangkan karya puisi saya yang telah dimuat (dipublikasi) di Surat Kabar Mingguan (Skm) Simponi (Jakarta)  tahun 1983 lalu.

Ketiga puisi tersebut  berjudul "Pukul Sembilan Malam Di Jalan Cokroaminoto", "Trauma" dan "Hotel Adhirama Kamar Nomor Genap" ada di halaman 54-55.

(Pulo Lasman Simanjuntak)

Salam Puisi Indonesia

Pamulang, Senin siang

13 Desember 2021

Editor : Jhonnie Castro


Minggu, 12 Desember 2021

Agus Mursalin: 30 tahun berpuisi ternyata tak terasa lama

 Terimakasih Bapak RgBagus Warsono kiriman buku dan penghargaan Satyasastra Nagari sudah saya terima dengan gembira.

30 tahun berpuisi ternyata tak terasa lama... Hehe




I Made Suantha: Sebuah apresiasi untuk tetap bersetia berpuisi.

Saya hanyalah seorang penulis puisi yang biasa saja.

Dan tidak pernah ada dalam sebuah pendakian gunung di areal puncak penciptaan puisi. Hanya berkutat di kawasan kaki perbukitan, yang terkadang terperosok dalam jurang tegalan puisi.

Saya hanya tulus dan setia saja.

Tetapi, penghargaan dari Mas RgBagus Warsono dan Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia adalah sebuah apresiasi untuk tetap bersetia berpuisi.


Jaya selalu Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia dengan pembinanya Mas RgBagus Warsono.


Rahayu

Rahayu

Rahayu.

 

Jumat, 10 Desember 2021

Aming Amidoeddin : Lemah teles, Gusti Allah sing bakale mbales.

 Aming Amidoeddin : Lemah teles, Gusti Allah sing bakale mbales.



Nanang Supriyatin: Blm sempat buka2.

 


Yus Harris: apresiasi yang luar biasa

 Terima kasih pak RgBagus Warsono  atas


apresiasi yang luar biasa

Endang Supriyadi: Saat sore mau pupus,

 Saat sore mau pupus, saya mendapat kiriman satu buah buku Setyasastra Nagari dan sebuah medali 30 Tahun Kesetiaan Sastra Indoensia dari Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia. Terima kasih saya ucapkan kepada RgBagus Warsono , yang telah memberi perhatian kepada perjalanan saya di dunia sastra. Harapan saya, semoga mas "Bagus"  tak henti berkarya untuk terus mengisi lumbung sastra yang dijaganya



Barokah nawawi : Medali indah Setya sastra nagari Bakti tak henti

 Medali indah Setya sastra nagari Bakti tak henti


Di Jum'at yang penuh berkah datang anugerah yang tak ternilai dari Bapak RgBagus Warsono, Pimpinan Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia.

Terima kasih atas perhatian dan suport Bapak terhadap perjalanan sastra saya yang sebenarnya masih belum memadai untuk menerima penghargaan ini.

Semoga Bapak dan Lumbung Puisi terus jaya dan eksis di dunia Sastra Indonesia.




Rabu, 08 Desember 2021

Dami Ndandu Toda

 Dami Ndandu Toda, (Pongkor, Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur, 20 September 1942 - Leezen, Jerman, 10 November 2006), adalah kritikus sastra Indonesia. Dami menempuh pendidikan dasarnya di SD Ruteng I, Manggarai (1954). Kemudian ia melanjutkan ke pendidikan menengah di Seminari St. Yohanes Berkhmans, Mataloko, Flores (1961), dan meneruskan ke pendidikan tinggi di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi Ledalero, Maumere, Sikka, Flores (tidak tamat), lalu ke Fakultas Sastra dan Kebudayaan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta sampai tingkat sarjana muda dan doktoral (1967), Fakultas Hukum Universitas Atma Jaya (tidak tamat), dan Fakultas Sastra Universitas Indonesia, Jakarta (1974).



Rabu, 01 Desember 2021

12 Penulis Produktif 2021 Pilihan Lumbung Puisi:

 12 Penulis Produktif 2021 Pilihan Lumbung Puisi: Kasdi Kelanis, Bambang Widi Yogyakarta, Arief Joko Wicaksono, Heru Mugiarso, Wardjito Soeharso (novel), Dyah Nkusuma, Surasono Rashar, Wandi Julhandi, Heru Patria, Rissa Churria. Wirja Taufan, Nyoman Wirata.

                                                                 Surasono Rashar
                                                                 Wardjito Soeharso


Rabu, 24 November 2021

Pangeran Selawe, Rg Bagus Warsono


 Pangeran Selawe


Sekapal duapuluh lima pangeran

Berkapal berlabuh di Karangsong

Laskar Sriwijaya mengemban tugas

Menaklukan kerajaan Dermayu,

Surat dibaca Wiralodra,

Negeri takluk atau perang

Takluk itu upeti

perang itu mati

Duapuluh lima pangeran

berdiri gagah berhadapan

ratusan prajurit Dermayu,

di Karangsong

pangeran Selawe pandai berpedang

Dermaga penuh darah prajurit Dermayu

Mudahnya mengalahkan

prajurit negeri kecil yang damai

Wiralodra Raja Dermayu,

Mencintai rakyatnya

Kibarkan bendera putih

Katakan Dermayu menjadi bahawan Sriwijaya.

Nyi Endang Dharma

petani desa

maju menghadap paduka

Ijinkan hamba menumpas pangeran Selawe

Wiralodra Tertawa

Nyi Endang Dharma melompat ke Pelabuhan Karangsong

disambutnya pedang Pangeran Selawe

Craka Udaksana Nyi Endang Dharma,

keluar dari busurnya

Dua puluh lima pangeran

Mati terkapar di pelabuhan.

Indramayu, Nofember 2021


Selasa, 23 November 2021

Sumur Warak Sumur Pendekar, Rg Bagus Warsono.

 Sumur Warak Sumur Pendekar,

Rg Bagus Warsono.



Tumenggung Warak Senopati Mataram,

laskar Bahureksa

yang kalah perang di Batavia.

Kabar akan dipenggal kepalanya

mengurungkan niat pulang ke Mataram.

terdampar di pelabuhan Dadap.

Utusan mataram mencari pasukan

hukuman mati jika kalah perang

Temenggung Warak separan-paran

mencari perlindungan

Sampailah di sebuah desa

Junti kademangan di Dermayu

Warak tergoda kecantiakan gadis Junti.

menjadi petani rajin

Raja Cirebon bersayembara

Siapa bisa sembuhkan putri kerajaan

Warak memberi air Sukaurip

putri sembuih seketika

Dari sumur Sukaurip.

Sumur Warak.



Jaka Dolog Penjaga Pantai Karangsong, Rg Bagus Warsono

 Jaka Dolog Penjaga Pantai Karangsong


Jaka Dolog bergelar Indra Jaya,

utusan Mataram di Pantura

menguasai Eretan sampai Gebang

Bermukim di Karangsong

pesisir Indramayu seribu nelayan seribu perahu

Reden Wilalodra pengusa kerajaan

Dermayu tepi sungai cimanuk

sawah kebun cocok tanam

terancam kekuasaan

Wilayah pesisir kerajaan

oleh gagahnya Indra jaya dari Mataram.

Pergilah engkau Indra Jaya atau kutenggelamkan

kapal-kapalmu

Lalu Indra Jaya tersenyum

Aku bukan raja sepertimu Wiralodra.

Wiralodra memaksa mengusir Indra Jaya,

utusan ketrajaan yang menjaga muara Dermayu

pertempuran dua pasukan

Indra Jaya tak terkalahkan

Lalu pasukan Indrajaya mengibarkan bendera

Wiralodra terpana melihat bendera

di atas perahu Indra Jaya.

berkibar Bendera Mataram

Panji yang sama di kerajaan Dermayu.

Dan Indra Jaya disebut Jaka dolog

Senopati Mataram menetap di Karangsong



Kibarkan Benderamu, Rg Bagus Warsono

 Kibarkan Benderamu, Rg Bagus Warsono


Dengan bekal beras, gas, Mie Instan, dan rokok seminggu

hidupkan mesin, dan menarik jangkar 

memegang kemudi

Kibarkan benderamu dalam 

laga yang luas 

Bebas penjuru memburu

bersaing rezeki 

Bebas pulang pergi atau singgah di pelabuhamu

Bersama teman seberangkatan kampung nelayan sama perahu 

Dan suara mesin tua beradu

dan kipas mulai berputar

mendorong nasib di tengah laut

dan kelebat bendera diatas tiang perahu

perlahan menyusuri kali menuju hamparan air laut.



Kamis, 18 November 2021

Popularitas Penokohan Sastrawan Melekat dengan Produknya

 Pengarang cerpen novel akan lebih mudah membuat puisi, sedangkan penyair yang mengarang novel menemukan hambatan pengembangan cerita. Beberapa novelis Cerpenis ditemukan juga ia mengarang puisi, sedang sedikit penyair mengarang novel. Rendra selain berkarya puisi ia mengarang banyak naskah drama, tetapi lebih populair sebagai penyair. Bagi penulis seangkatanku membuat cerpen adalah target honorarium, teman lain juga membuat cerpen seperti Herry Lamong, Naim Emel Prahana, Gunoto Saparie, Arifin Brandan, Isbedy ZS Stiawan, Wawan Hamzah Arfan, Wadie Maharief, Arief Joko Wicaksono, Nanang R Supriyatin, Endang Supriadi, Budhi Setyawan, Micky Hidayat, Jamal T. Suryanata, Bambang Widi Yogyakarta, Kurniawan Junaedhie dll. Mereka di masyarakat atau kalangan pembaca lebih dikenal sebagai penyair. Penyair lain justru lebih kokoh disebut sebagai Cerpenis yaitu Yanusa Nugroho,  Beni Setia, dll. Agaknya rutinitas seorang Cerpenis atau penyair akan menokohkan diri melekat dengan produknya.


Sebagai seorang guru aku banyak ngobrol dengan guru bahasa  di tingkat sekolah lanjutan pertama dan atas. Obrolan bahkan di beberapa guru di kota kecil yang saya kunjungi. Aku bertanya pada mereka, "Penyair siapa sajakah yang bapak ibu guru kenal setelah Angkatan '66?". Kebanyakan mereka menggeleng kepala, tahunya mereka Yang hafal adalah angkatan '66 seperti Taufiq Ismail, WS Rendra, Abdul Hadi WM, sedangkan sedikit sekali mereka bisa menyebut nama-nama sastrawan setelah angkatan' 66 atau pasca '66. Beberapa nama yang sering disebut tetap Nama-nama yang terkenal sekarang seperti Gunoto Saparie, Isbedy ZS Stiawan, Tajuddin Noor Ganie, Kusprihyanto Nanma.


Popularitas sastrawan di kalangan pendidikan juga didapat dari media massa yg mempopulairkan nama sastrawan masa kini terutama segi keunikan yang melekat dengan pribadi sastrawan itu. Beberapa tokoh sering disebut seperti Sitok Srengenge, Sosiawan Leak, Wiji Tukul, Saut Situmorang, dan menyusul Wayan Jengki Sunarta dan Tan Lioe Ie.


Kurangnya perbendaharaan nama sastrawan-sastrawan di kalangan pendidikan adalah semakin hilangnya pengajaran sastra di sekolah-sekolah. Kenyataan ini disebabkan karena guru yang diangkat jarang yang menyukai sastra. Sebagian lain dikarenakan kurikulum yang diterapkan di sekolah sedikit disisipi muatan sastra.

(rg bagus warsono)

Rabu, 03 November 2021

Catatan #PERJALANAN PUISI (1) oleh Nanang R Supriyatin

 #PERJALANAN PUISI (1)

SAHABAT saya, sastrawan Humam S. Chudori hanya bisa berdoa agar Nanang R Supriyatin, Ade Novi, Eddy Pramduane & Omni Koesnadi sukses dalam perjalanan dari Jakarta menuju Pekalongan. Humam juga menyampaikan pesan 'salam' pada pegiat literasi yang berkumpul di salah satu lokasi budaya di Pekalongan, yang memang berlangsung semarak; tepatnya pada hari sabtu, 23 Oktober 2021.

Humam S. Chudori yang asli lahir di Pekalongan, sesungguhnya sangat ingin berkunjung ke kota yang membesarkannya itu. Di lain sisi, ia juga kangen ingin bersilaturahim dengan para penulis. Kenapa beliau tidak mau gabung? Pasalnya ternyata beliau hingga saat ini belum di 'vaksin' sebagaimana anjuran Pemerintah. Menurutnya, hanya orang-orang yang sudah di vaksin yang berhak untuk masuk ke mal, bioskop, hotel, tempat rekreasi -- juga sebagai persyaratan mutlak jika ingin memanfaatkan jasa KAI. Dugaan ini sama persis dengan dugaan saya. Makanya, alasan saya mau di vaksin di samping gratis, juga sertifikat vaksin dapat dipergunakan untuk bepergian jarak jauh serta untuk kegiatan lain yang kita inginkan.

Sejak bulan agustus, saya sudah di vaksin sinovac 2x. Artinya saya telah memegang 2 surat + hasil vaksin yang kemudian saya 'laminating' seperti KTP. Alhamdulillah, saya telah memiliki identitas lengkap sebagai warga negara.

Pada hari sabtu, 23 Oktober 2021, pukul 08.30 wib, kami (Nanang, Ade, Eddy, Omni) sudah tiba di stasiun SENEN. Saya sempat mengamati lokasi tunggu, pintu masuk stasiun hingga ke sebuah tempat kira-kira bertuliskan 'Lokasi Tes Antigen'. Setelah bayar jasa tes antigen sebesar 45.000/ orang, di tempat terpisah,  lobang hidung kami pun sedikit dimasuki alat. Dan, sekitar 10 menit hasilnya sudah keluar melalui panggilan mikrofon petugas. 

Yang jadi pertanyaan, kami kan sudah membayar tiket kereta api jauh-jauh hari sebesar 105.000, berarti kami hanya menyiapkan keberangkatan kereta pukul 10.20 wib. Ohh, sempat terbayang wajah Humam S. Chudori. Ternyata, o ternyata sertifikat vaksin sama sekali tak berguna. Jangankan di cek petugas KAI, di intip saja tidak. Karena untuk bisa naik kereta cuma ada syarat bayar tiket dan bayar tes antigen. Ohoi...

Sepanjang perjalanan stasiun Senen-Pekalongan, dalam kereta, kami hanya bisa tersenyum dan tertawa. Idealisme kami terhadap keindahan puisi membuat sesuatu yang kami anggap janggal, hanya sebatas 'Puisi yang berjalan di ruang-ruang sunyi'.


Catatan #PERJALANAN PUISI (2) oleh Nanang R Supriyatin

 #PERJALANAN PUISI (2)

Sekitar pukul 16.10, kereta api tiba di stasiun Pekalongan. Stasiun yang cukup lengang dan tenang. Masih dalam lokasi, tampak deretan beberapa cafe/ rumah makan, musholla serta tempat parkir yang dilindungi pohon-pohon hijau. Di seberang jalan beberapa gedung penginapan. Inikah kota bernama Perkalongan? 

Grab mobil mengantarkan kami hingga di pelataran Gelanggang Olah Raga (GOR) Jatayu, kota Pekalongan. Di ujung jalan buntu terdapat 'Rumah Seni Pekalongan, dimana kumpul para seniman. Termasuk sang penggagas acara 'Puisi Dalam Kotak Suara', Hadi Lempe beserta panitia lainnya.

Setelah hampir dua tahun dibayang-bayangi covid-19, kini kami terasa bebas bertemu, bercengkerama, bereuforia. Layaknya seperti partai yang akan berkongres, siapapun tamu yang datang disambut, disalami hingga diajak foto selfi.

Tiga 'diva' yang hadir sejak sore hingga malam membuat suasana makin hangat. Awalnya hanya senyum-senyum, selanjutnya tertawa-tawa. Sesuatu yang manusiawi. Oya, yang saya maksud tiga 'diva' ialah Ade Novi (pembaca puisi), Denting Kemuning (pembaca puisi) & Indri Yuswandari (pembawa acara). Mereka sangat familiar. Bahkan ketika RgBagus Warsono mendaulatnya untuk berselfi di jok motor Vespa warna kuning -- mereka begitu enjoj.

Foto di jok motor Vespa sebenarnya hanya 'trik' Agus Warsono. Biar suasana perbincangan kesenian, khususnya puisi menjadi hidup. Terbukti memang. Hampir semua peserta yang hadir berfoto di atas motor, bergantian. Eddy Pramduane, Kasdi Kelanis, Omni Koesnadi, Wawan Hamzah Arfan + istri, dan sebagainya ikut ambil bagian. Dan, yang bikin fress saya ketika Agus Warsono dan Wawan Hamzah menyodorkan buku "T" & "Perjalanan Berkarat", masing-masing antologi puisi bersama dan antologi puisi tunggal.

Pementasan bertajuk "Puisi Dalam Kotak Suara" diisi dengan pembacaan puisi dan pertunjukkan drama. Dihadiri sekitar 90-an tamu undangan. Rg. Agus Warsono atas nama Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia memberikan penghargaan kepada 115 sastrawan yang berdedikasi di atas 30 tahun menulis sastra. Dan, malam itu penyematan Setya Lencana Sastra Nagari diberikan secara simbolis kepada 10 sastrawan yang hadir, diantaranya Dharmadi Penyair (72 tahun). Sebelumnya, Agus di atas panggung memberikan sambutan dan alasan pemberian penghargaan dimaksud.


Catatan #PERJALANAN PUISI (3) oleh Nanang R Supriyatin

 #PERJALANAN PUISI (3)

Tak pantas juga jika virus covid-19 yang nyaris membuat kehidupan menjadi stagnan selalu dijadikan alasan, dengan kata lain sebagai kambing hitam. Bagi sebagian orang, mungkin mempercayai bahwa pertemuan adalah sesuatu yang indah sekaligus emosional dalam arti positif.

Sempat menggeliat di kepala saya; seandainya malam 'Puisi Dalam Kotak Suara' ditambah dengan Launching Buku Puisi 'T', 'Perjalanan Berkarat' serta buku-buku lain, umpamanya karya Kasdi Kelanis. Sempat juga menunggu inspirasi panitia penyelenggara melalui pembawa acara untuk memberi kesempatan pada tamu yang dianggap senior, seperti Dharmadi Penyair maupun Wardjito Soeharso (apalagi pada siang hari sempat ada bincang antara Pengarang dan Para Guru, di lokasi yang sama) -- untuk sekadar memberi testimoni terhadap kegiatan sastra pasca level 2 pandemi covid-19. Ya, sempat juga saya berbisik pada beberapa teman mengenai lokasi kuliner khas Pekalongan maupun destinasi yang asik yang ada di kota batik ini. Meskipun tidak ujug-ujug mencari lokasi dimaksud, setidaknya sudah ada rekomendasi tersirat. Mengingat yang diundang adalah para Penulis/ Penyair Nusantara.

Bagi saya memang sempat agak lelah, agak ngantuk dan sejenisnya saat berada di tengah acara yang meriah tersebut. Namun, sempat melek mata dan membuka telinga lebar-lebar saat Ade Novi membaca puisi berjudul "Amarah".

pergi sayang

pergi jauh dariku

biarkan kabut itu

biarkan hujan itu

jika kau pergi

tinggalkan malam

sisakan pedih

aku tak ingin rindumu

aku tak ingin tangismu

biarkan hari-hari sepi

dan aku terjaga

di kota yang riuh

cukup sudah

kata-kata tak bermakna

menggumpal dalam kamar

bagai lukisan abstrak

bagai tubuh tanpa nyawa

jangan kau katakan makna dari ciuman

ungkapkan saja mimpi burukmu

jadilah kau dirimu

hidup dalam mimpi

dalam bayang liar

seperti ular hidup di hutan

mati di lautan

bunuh cintamu

bunuh kau punya rindu

jika kau pergi akan kugali tanah

ku kubur jiwa yang mati

pergilah nyanyian

hidup terlanjur asing

kau sayangku

dustai saja aku!

28/10/2017

Tawa dan senyum di pelataran mengiringi teh panas dan rebusan yang tersedia. Ahai!

PERJALANAN PUISI (4, Tamat) oleh Nanang R Supriyatin

 PERJALANAN PUISI (4, Tamat)

Seperti juga Rg. Bagus Warsono, penyair wanita Indri Yuswandari juga tak mau berlelah-lelah berjalan kaki hanya sekadar menemukan kuliner khas Pekalongan. Pagi (minggu, 24/10-2021), sebelum berangkat ke Jakarta; Ade Novi, Eddy Pramduane, Omni S. Koesnadi dan saya jalan-jalan ke sebuah lokasi kuliner. Kami seperti berada di MH Tamrin, Cijantung, Kampung Melayu (Jakarta), dimana setiap hari minggu kami temukan Car Free Day. Sempat juga mata melirik penjual tanaman hias, bubur spesial khas Pekalongan. Meskipun kaki kami lebih mendekati pedagang susu sapi murni. Terakhir kami mampir juga untuk sarapan, dimana tersedia ‘Nasi Megono’, ‘Tauto’, ‘Garang Asam’ dan ‘Lontong Sayur’, termasuk juga sayur sup dan tempe orek. Terasa nikmatnya pagi dengan cuaca yang agak mendung.

Pukul 09.00 wib, kaki-kaki kami melangkah, setelah turun dari grab mobil, menuju terminal Pekalongan. Petugas (mungkin juga calo, karena pakaian tak berseragam) memberi kepastian, bus menuju Jakarta baru bisa berangkat sekitar pukul 14.00 wib atau ada juga pukul 17,00 wib. Wah!

Setelah tanya sana tanya sini, akhirnya kami dapat kepastian bus Nusantara siap berangkat pukul 10.20 menit dengan bus transit ke Terminal Tegal dan berakhir di Terminal Cirebon, padahal tujuan kami ke Terminal Kampung Rambutan. Tak apa.

Dalam bus ternyata sudah penuh penumpang. Sisa kursi 1 khusus untuk salah satu teman kami. Sisanya 3 orang cukup lesehan dan berdiri, sambil menunggu penumpang lain turun di jalan. Dalam percakapan saya dan supir. Supir memperingatkan untuk hati-hati dalam perjalanan, karena calo terminal akan selalu menguntit. Akhirnya sang supir memberi rekomendasi pada kami sebelum kami menaiki bus Cirebon-Jakarta. Beliau menelpon salah seorang temannya yang sudah menunggu di terminal Cirebon.

Sesampaikan di Cirebon, kami diturunkan di seberang jalan terminal. Tak berapa lama seorang lelaki melambaikan tangan kepada kami. O, mungkin rekomendasi ke beliau, ucap saya dalam hati. Ternyata benar. Setelah kami berempat turun dari bus. Menyeberang jalan. Yang diberi rekomendasi dan para calo terminal mendekati kami, menjual jasa. Orang yang dapat rekomendasi segera menyilahkan kami masuk bus jurusan Cirebon-Bekasi. Alamak! Lagi-lagi kami terkecoh. Terik matahari+hati yang tak keruan, membuat kami berempat kian panik, benci dan marah. Entah, ditujukan pada siapa. Hingga Ade Novi mencolek saya sambil berkata, “Bang, kok lenggang? Tas Abang mana?” Ohh… ya, ya, ya saya gelisah, juga Eddy Pram dan Omni. 

Akhirnya orang yang diberi rekomendasi sang supir, melalui hp yang di loud speaker, mengontak sang supir bus Nusantara. Terdengar jawaban dari sang supir. “Ya ada, ada tas warna biru kan?” Alhamdulillah. Hati saya agak tenang. Dan lebih tenang lagi hp, uang serta identitas lain ada di tas pinggang. Yang namanya kehilangan sesuatu, tentulah panik meskipun yang hilang hanya kaca mata, celana, pakaian, charger, masker. Yang berharga adalah buku “T” dan “Perjalanan Berkarat”. 

Singkat cerita, atas bantuan kawan Wawan Hamzah Arfan yang asli Cirebon, benda yang hilang sudah bisa dikondisikan. Ini juga karena jasa mantunya yang bekerja sebagai Reskrim di Polres Cirebon. “Tunggu saja di Jakarta, tas besok segera sampai ke agen bus Nusantara yang ada di Cikini!” Ahai, informasi yang sedap. Cikini memang dekat rumah.

Tapi, apakah permasalahan selesai sampai di situ? Tidak juga. Bus tumpangan kami terakhir, Cirebon-Kampung Rambutan ternyata tidak ber-AC. Nego dengan kondektur bus dan calo cukup alot. Dari harga 600K untuk berempat, turun menjadi 250K. dalam bus tanpa ac tersebut, terasa perut mual lantaran sang supir cukup kencang mengendarai mobil. Dari penumpang sekitar 6 orang, terus bertambah. Bus selalu berhenti di pinggir tol dimana ada calon penumpang melambai.

Kami terasa asing di negeri sendiri, seperti juga puisi terasa asing bergerak di tengah hiruk-pikuk kehidupan. Saya hanya mengambil hikmahnya saja atas kejadian itu. Persisnya, keesokkan harinya tas sudah bisa saya ambil di agen bus Nusantara Cikini. Ucapan terima kasih pada Panitia acara di Pekalongan yang telah mengakomodir kami. Terima kasih juga pada teman-teman pegiat literasi yang membawa kami pada kebahagiaan saat silaturahim. Terima kasih juga pada Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia, pada penyair Wawan Hamzah Arfan. Terima kasih yang tak berkesudahan pada ‘Bang Ghanes’, mantunya WHA yang selalu meluangkan waktu untuk bicara via Hand Phone. Terima kasih khusus pada teman-teman seperjalanan. Susah senang kita berbagi. Salam. (NRS).

Selasa, 02 November 2021

Ulasan Puisi: "Pertemuan dengan Widji Thukul" karya Rg Bagus Warsono

 Komentar Ulasan Puisi 

Rg Bagus Warsono


"Pertemuan dengan Widji Thukul"


Dalam keremangan malam

Bulan redup sesekali tertutup mendung

Dalam teras pecinan

dengan pintu-pintu tergembok

Hai penyair katanya padaku

Dia menutup muka dengan jaketnya kumal dingin

Kretek dan kopi dingin

Menatap aku pada si kerempeng itu

akankah kopi belum terbayar

Lalu aku berjabat tangan

merdeka katanya lirih

ya aku dialam merdeka sekarang

aku juga bebas membuat puisi

lalu dia menunjuk tukang kopi

dan kami minum di kedinginan

Sajakku mahal katanya lirih

ah aku sangat murah bahkan tak laku dijual

kau salah katanya

juga yang lain bodoh

kenapa?

banyak penyair setengah penyair

Hah?

Tapi kau tidak , sambil menepuk pundak

lalu ia menutup wajahnya dengan jaketnya lagi dan kopi malam sisa ampasnya.

Jogyakarta, 5 Januari 2019.

1. Mawar Merah : Di mana keberadaan Widji Thukul dan bagaimana kelanjutan kasusnya masih merupakan misteri yang belum terpecahkan. Terasa masih ada kekuatan besar yang menghalangi pengungkapan raibnya raga sang penyair. Meski jiwanya telah ditukar dengan sebuah kebebasan, dua puluh tahun lebih merupakan waktu yang panjang untuk menyia-nyiakan kesempatan, termasuk dalam mengungkap misteri sang raga. Bangkitlah wahai kawan-kawan penyair, jangan bodoh, tunjukkan jiwa kepenyairanmu. Jangan jadi penyair yang tanggung, bangkit dan gaungkan terus semangat juangmu untuk menegakkan keadilan dan kebenaran, sebelum sang waktu benar-benar berlalu.

2.Muhammad Jayadi : Penyair sejati, tentunya yang tak bisa dikekang, menulis dengan nafas jati dirinya. Menuliskan hal yang terkandung dalam nuraninya, dan merdeka jiwanya dari segala perbudakan dan tekanan. Dan rela berkorban demi apa yang ia cita-citakan. Ia adalah gelombang yang besar, ia adalah api yang membakar, ia adalah nadi hidup yang berdegup.

3.Nurhayati : Dalam raga utuh rapuh, Tuhan tiupkan ruh, padanya dimampukan dua pilihanBak saudara kembar saling berkelakar bertengkarDarinya karya kan terciptaBebas merdeka, sah-sah sajaBukankah Tuhan sendiri yang telah menitipkan kepercayaanEntah nanti kan sampai pada rasa atau mandek menjadi segumpal sampah, semesta tetap merekamnya

4. Elly Azizah : Semua orang merasa penyair, cuma bunda yang menulis sesuai selera, senang mendayu menghibur diri lagi terpuruk, Alhamdulillah ada yg suka baca. Dulu bunda suka nulis sembarang tempat, kadang-kadang hanya di kepala saja, kalau sdh begitu bapak ambilkan buku dan tak pernah mau berkomentar buatlah sesuai dg hati nurani ibu, jangan dirobah menurut bapak itu kata bapak tidak asli ibu lagi.

5.Arya Arizona : ingat kopi...aku ingat sebuah malam di jogja bersama seorang seniman di sebuah angkringan di dekat jl janti jogja....sebuah malam yang dingin ngobrol,nyanyi bareng tanpa gitar....ah..sekarang engkau dimana....akupun dimana...jauh tak bersua

6.Sardan Sarjito : Saya setuju dengan pesan sublimnya. Memang uang dan harta tak bisa menginspirasi manusia. Syair bisa. Dan inspirasi dapat merubah dunia, termasuk harta.Duit tak bisa menghasilkan karya. Tapi karya mampu menghasilkan bukan saja harta, tapi juga peradaban.Revolusi adalah mencipta!..Dalam kamar sederhanaAku memetik gitarKupikir laguku merduDia duduk di hadapankuMeminjam gitar dan memainkannya dengan caranyaAku baru tahu jika punggung gitar bisa lebih mengusikku ketimbang getar dawaiDengan lidahnya yang kelu dia bernyanyi tentang tikar plastik dan tikar pandanYa Tuhan, ini zikir tentang penindasan.Syair laguku berontokan bagai sampah di hadapannya.Syair mahal itu setara dengan keamanan negara...

7Erndra Achaer:.Banyak penyair setengah penyair.Aah ... aku bahkan belum penyair. Tapi merasa merdeka menulis puisi, berangkat dari bisikan hati, yang entah apa juga sudah puisi. Meski racikanku tak senikmat kopi, berharap semoga tidaklah menyakiti.

8. Dyah Nkusumah : Apa hendak dikata? Keremangan malam, bulan enggan memberi penghiburan, benteng-benteng semakin tinggi, puisiku cuma pelega rasa, coretan tiada hadirkan berlian, ahhh halu kali, bayar kopi pun entahlah. Ceceran tinta yang terbeli dengan rupiah, adakah berharap bisa mendatangkan hepeng?Biarlah, sepanjang apa bila direntang berharga atau tidak, nyatanya banyak yang tetap berjalan dalam pilihan gila ini. Tengok, dari nama-nama besar, setengah jadi, hingga bayi-bayi penyair, hari-hari menghiasi layar biru? Lupa mandi, cukup ngopi, bangga jadi penyair setengah jadi, atau bahkan seperdelapan jadi.Daripada limbung turut zaman tiada juntrung, ahhh penyair setengah jadi, tak masalah, kucel kini, hampa arti jauh dari materi, siapa tahu, pilihan diri, kucel-kucel tapi dikangeni, karya yang setengah jadi, magel-magel bikin kemekel, kopi menyambangi, walau dalam mimpi.

9.Vika O : 'Aku juga bebas membuat puisi'Selain bebas membuat puisi, tapi dengan berpuisi juga aku dapat bebas. Mengekspresikan diri dengan jiwa-jiwa penuh kobaran api. Ah, entahlah, puisi benar-benar memabukkan.'Ah aku sangat murah bahkan tak laku dijual'Kalau aku akan terlebih dahulu menjual pada diriku sendiri, sebab aku lah orang yang akan terlebih dahulu mencicipi.'Kau salah katanyajuga yang lain bodoh'Betul, jangan selalu menghakimi diri sendiri, berpikir positif dan memiliki pandangan ke depan. Kita selalu memiliki sisi kelebihan dan kekurangan.Maafkan, Kak, kalau ada salah kata, saya bukan apa-apa.

10.Uyan Andud: Banyak penyair setengah penyair ' pengambaran seorang penyair tidak berani mengungkapkan kebenaran secara utuh sebagaimana masa Widji Thukul. Dampaknya tergambar dalam kopi yang terasa dingin kurang mantap '

11.Tarni Kasanprawiro : "Sajakku mahal" ya tentu karena sajakmu dibayar dengan nyawa sedangkan puisiku tak bernyawa  tak ada apa-apanya.

Tidak Sekedar Hoby Menulis Puisi

 Tidak Sekedar Hoby Menulis Puisi

Adalah Arya Setra, pelukis kopi terkenal Indonesia, mapan dan namanya kian tenar di luar negeri. Pelukis ganteng yang menjadi pujaan mahasiswi mahasiswi ini, memang masih single alias jomblo, ia di sela sela kegiatan event-event pameran dan seni serta budaya ini sempat sempatnya menulis puisi. Arya Setra kerap mengikuti antologi bersama yang diselenggarakan Lumbung Puisi. Puisi-puisinya tak kalah dengan penyair tenar lain. Mengapa ia slalu menulis puisi? Jawabnya adalah arti puisi itu sendiri. Ternyata melukis dan menyair/mencipta puisi sama saja dalam menuangkan imajinasi. Bedanya hanya kata dan goresan cat di canvas.

Hubungan lukisan dan puisi diterjemahkan nya dalam puisi dan lukisan satu sama lain. Lukisan diterjemahkan dalam puisi puisi Arya Setra, dan puisi dapat menjadi lukisan oleh Srya Setra. (rg bagus warsono)

Puisi Yang Mana Yang Dibaca Keras Lantang dan Teriak

 Puisi Yang Mana Yang Dibaca Keras Lantang dan Teriak (1)

Rg Bagus Warsono

Mari kita membaca puisi dengan baik agar pemirsa menyimak sampai akhir puisi. Meski membaca adalah apresiasi si pembaca dalam arti terserah imajenasi pembaca namun banyak kesalahan tafsir puisi yang pahami si pembaca , apalagi membaca puisi itu baru sekilas , langsung maju ke panggung.

Rendra adalah pembaca puisi yang belum ada tandingan, sedang Taufiq Ismail pembaca puisi karya sendiri yang berhasil memikat pemirsa. Tetapi Gus Mus (Mustofa Bisri) kita tak perlu melihat wajah Gus Mus Membaca, mendengarnya saja seakan membayang wajah Gus Mus.

Agaknya banyak pembaca puisi setelah berada di panggung mengambil inisiatif untuk mencuri perhatian penonton dengan mengeraskan suara ketika membaca puisi, keras yang ,mengagetkan sehingga penonton langsung tertuju panggung dan si pembaca. Namun setelah baris dan bait puisi itu dibaca jarang pemirsa yang mengikutinya hingga akhir puisi . 

Pemirsa yang kaget kemudian menyimak itu kemudian tak menghiraukannya si pembaca puisi yang gagah di panggung itu. Pasalnya yang dibaca dan suara yang keluar dari mulut tak sesuai dengan pesan puisi yang dibaca. pemirsa yang menjadi tanda tanya ini semakin bingung ketika baris dalam bait yang dibaca yang merupakan satu kesatuan arti dalam bait puisi itu terpotong oleh kerasnya suara si pembaca puisi. Akhirnya si pembaca asyik membaca puisi di Panggung dan penonton asyik ngobrol dengan tetangga kursi.

Kekeliruan persepsi pesan puisi ditimbulkan dari kurangnya apresiasi pada puisi yang dibaca. Dan penulis juga maklum ketika dijumpainya puisi yang dibaca itu adalah puisi hasil karyanya sendiri. Jika demikian maka tidak semua penyair memahami isi puisi padahal puisi yang dibacanya itu puisi yang telah akrab dengan dirinya.

Jadi, puisi yang mana yang dibaca keras lantang atau berteriak harus memahami puisi itu sebelum dibaca. Nada baca puisi hendaklah sesuai dengan isi puisi. Sebagai contoh kita tampilkan sebuah puisi karya Taufiq Ismail, berikut puisinya :

“Malu Aku Jadi Orang Indonesia”. Berikut puisi tersebut ;

Di negeriku yang didirikan pejuang religius

Kini dikuasai pejabat rakus

Kejahatan bukan kelas maling sawit melainkan permainan lahan duit

Di Negeriku yang dulu agamis

Sekarang bercampur liberalis sedikit komunis

Ulama ulama diancam karena tak punya pistol

Yang mengancam tinggal dor

Hukum hukum keadilan tergadai kepentingan politis

Akidah akidah tergadai materialistis

Aku hidup di negara mayoritas beragama Islam

Tapi kami tersudut dan terancam

Telah habis sabarku

Telah habis sabar kami

Pada presiden yang tak solutif Pada dewan dan majelis yang tak bermufakat

Pada semua bullshit yang menggema saat pemilu

Pada nafsu yang didukung asing dan aseng

Rakyat kelas teri tak berdosa pun digoreng

Kusaksikan keindahan negara yang menegakkan “khilafah”

Diceritakan hidup mereka sejahtera

Lalu ditanyai dari mana asalku.

Kusembunyikan muka

Tak kujawab aku dari Indonesia

Negara yang kini tumbuh benih Islamophobia.

(bersambung)

Minggu, 24 Oktober 2021

Membaca itu kebutuhan utama bagi pedamba ilmu pengetahuan.

 

(iklan membaca dibintangi mbak Denting Kemuning)

Mengawali Penganugerahan Setyasastra Nagari

 Mengawali Penganugerahan Setyasastra Nagari (30 th Kesetiaan Sastra Indonesia Lumbung Puisi) sengaja diberikan di Pekalongan untuk menyatakan bahwa buku Setyasastra Nagari itu betul-betul diterbitkan. Sebanyak lebih dari 115 Sastrawan Indonesia menerima Sebutan Anugerah ini, dan 10 sastrawan tersebut sengaja di berikan karena moment yg tepat dalam Malam Apresiasi Puisi Dalam Kotak Suara sebuah acara yang dinahkodai Penyair Hadi Lempe. Kesepuluh awal penerima Setyasastra Nagari dari lebih dari 115 penerima itu, pada 23 Oktober 2021 itu adalah :

27. Dharmadi,

37.Enthieh Mudakir,

79.Nurochman Dudibyo,

42.Hadi Lempe,

82.Omni Kusnandi,

78.Nanang R Supriyatin,

110.Wawan Hamzah Arfan,

65.Kasdi Kenali,

64.Jaenudin (Kang Zay), dan

108.Wardjito Soeharso.



(rg bagus warsono 24/10/21.)

Jumat, 22 Oktober 2021

Nyemplung Kali Banger

 oleh Rg Bagus Warsono


Nyemplung kali Banger


Musim ketiga kali asat isine endut

Iwak akeh kurang banyu ora dipangan

Kali Banger ora mili

Pancing pedot

Kecangkol baro

Lundu cilik arane keting

Sembilang gigire abang

Kali Banger nunggu udan

Jembatan tugel

Iwak blanak golong-golong

Kali banger marani laut

Rabu, 13 Oktober 2021

Rg Bagus Warsono : Gugurnya Patih Celeng

 Gugurnya Patih Celeng




Tersebutlah kerajaan Manikmantaka,

Kerajaann bangsa rotadenawa bangsa butho.

Raja Manikmantaka bernama Prabu Niwatakawaca ingin mempersunting Dewi Supraba.

Dewi Supraba tak kuasa menolak asal mendapat ijin ayahnya, Begawan Ciptaning, yang tengah bertapa di gua Mintaraga dalam hutan Kaliangsa yang maha buas di pegunungan Indrakila.

Sang Prabu Niwatakawaca sudah kasmaran ingin segera Dewi Supraba bersanding di kerajaan.

Diutuslah Mamangmurka, patih terbaik Niwatakawaca

Patih sakti putra Patih Sakipu keturunan Giliwangsa

yang sakti mandraguna.

Mamangmurka bertus meminta restu Begawan Ciptaning, pertapa di gua Mintaraga.

Begawan Ciptaning tak mau menemui Mamangmurka

hutan Kaliangsa menjadi gelap gulita pegunungan Indrakila membentang tak berujung.

Gua Mintaraga tak akan ditemukannya.

Mamangmurka mengamuk dihutan gelap

pohon dan batu diobrak abrik

hutan rusak hewan berpencaran mencari selamat

Begawan Ciptaning yang tengah bertapa menjadi marah

dikutuknya Mamangmurka menjadi butho celeng

Melihat tubuhnya berganti celeng

Mamang murka semakin mengamuk merusak hutan

Akhirnya Begawan Ciptaning menghentikan amuk Mamangmurka dengan panah kalitawarna

Menancab di tubuh Mamangmurka.

(Rg Bagus Warsono)

Minggu, 10 Oktober 2021

Auf widersehen puisi indah Kurniawan Junaedhie

 Karya puisi indah Kurniawan Junaedi adalah Auf widersehen , sebuah judul Berbahasa Jerman yang artinya Selamat Tinggal. Auf widersehen pada tahun 1994 adalah sebuah drama seri radio BBC London terkenal yang terkenal juga di Indonesia. Mungkin puisi ini diilhami drama itu atau memang Auf wisersehen ini sebuah puisi dari imajenasinya Kurniawan Junaedi  sendiri.

Berikut puisi Auf widersehen karya Kurniawan Junaedhie itu:

Auf widersehen

Itukah engkau yang 

berdiri di seberang jalan

dengan tas di pangkuan 

yang melambaikan tangan?

Betapa pedih jiwa di badan

Rasanya ingin pergi saja aku 

Ke lain benua 

Jadi itukah engkau?

Jadi itukah engkau yang 

melambaikan tangan 

Sementara aku sendiri di dunia 

Berdiri sepi seperti tiang lampu 

Dimalam hari Sunyi

Digoyang angin yang dingin?

Pernahkah kau rasakan 

Apa artinya orang kehilangan makna?

Rasanya ingin pergi saja aku 

Ke sebuah dunia yang tak seorang pun

Bertanya tentang kabut

Atau anna matovani

Karena memikirkan tentang umur 

Dan hari depan mungkin tersa lebih bermartabat.

Juni 1994

Selasa, 21 September 2021

2 buku puisi K Kasdi WA

 




2 buku puisi bagus : Mata Sepi Mata Duri dan Luka Pandemi Luka Abadi untuk  literanesia.com  . Keduanya karya Kasdi Kelanis (K Kasdi WA). Mata Sepi Mata Duri, kumpulan Puisi K Kasdi WA, fiksi, sastra: puisi, diterbitkan oleh Teras Budaya Jakarta, Jakarta, 2021 cetakan pertama, ISBN 9786236244173 dan Luka Pandemi Luka Abadi, fiksi, sastra:puisi, diterbitkan oleh Yayasan Hari Puisi, Jakarta, cetakan pertama 2021, ISBN 9786025050282

Senin, 20 September 2021

Informasi Sastra: Setiasastranagari 30 Th Kesetiaan

 Informasi Sastra:

Data Penyair/Sastrawan yang bukti-bukti portofolio cukup yaitu: berupa portofolio klipping koran karyanya dan datanya berupa asli atau file /foto kegiatan dari tahun 1966 hingga tahun 31 Desember 2000 adalah Penyair/Sastrawan yang dipandang memiliki kesetiaan pada dunia sastra dan memiliki Dharma Bakti minimal 30 tahun terhadap Sastra Indonesia disebut sebagai Sastrawan dengan Setiasastranagari 30 Tahun Kesetiaan.

Data Sastrawan dengan Setiasastra 30 Tahun bukan merupakan seleksi atau penilaian tim atau juri atau lomba atau usulan komunitas tertentu tetapi atas dasar temuan pribadi kurator Lumbung Puisi (Rg Bagus Warsono) yang didapat dari membaca, klipping puisi atau kiriman pembuktian yang dapat dipertanggungjawabkan.

Data Sastrawan dengan Setiasastra 30 Tahun adalah kesetian seseorang dalam pengabdiannya dalam dunia sastra yang diwujudkan dengan karya sastra baik perorangan maupun bersama-sama. Dan daftar dari data Setia sastra ini berkembang setiap tahunnya sesuai dengan apa yang ditemukan dan telah dilampaui oleh generasi setelah itu (generasi berikutnya).

Usulan penambahan nama penyair, setelah diumumkan dalam buku, untuk sebutan Penyair dengan Kesetiaan Sastra 30th, yang ditemukan setelah diumumkan dan di pertanggungjawabkan , setelah data diumumkan akan diberikan pada tahun berikutnya.

Sebutan Penyair Setiasastra Nagari kemudian disebutkan pada buku Setiasastranagari 30 Th Kesetiaan yang akan terbit Desember 2021. Pengumuman Setiasastra nagari I akan diumumkan setelah buku terbit.

Bahwa kegiatan pendataan Setiasastranagari 30 Tahun Kesetiaan bersifat Dokumentasi Sastra.

Demikian Info disampaikan , terus menulis sastra dan tetap bersahabat.

Lumbung Puisi 20 September 2021

Salam Sastra,

Kurator Lumbung Puisi : Rg Bagus Warsono,

Dokumentasi Klipping/foto : Wawan Hamzah Arfan

Minggu, 29 Agustus 2021

"Kirab" kumpulan puisi karya Mas Bambang Widi Yogyakarta

 "Kirab" kumpulan puisi karya Bambang Widi Yogyakarta. Buku sastra apik dengan puisi-puisi berbobot. Mas Bambang Widiatmoko memang penulis yang tak pernah berhenti sejak muda. Ia termasuk penyair Sastra Koran sejak tahun 80-an dan Lumbung Puisi menyimpan banyak klipping sastra koran itu. Kirab diterbitkan oleh penerbit Interlude Yogyakarta pada Agustus 2021 yg merupakan cetakan pertama, dengan ISBN 978-623-6470-02-2, terdiri dari 58 puisi terbaru karyanya menyusul beberapa antologi yang sudah diterbitkan. Kirab akan  ditampilkan di literanesia.com malam ini. Selamat buat Mas Bambang Widiatmoko.



Sabtu, 28 Agustus 2021

KESABARAN MEMBUAHKAN KEBERHASILAN oleh Rg Bagus Warsonio

 KESABARAN MEMBUAHKAN KEBERHASILAN

Menjadi Penyair mengalami liku-liku perjalanannya tersendiri pada setiap jiwa-jiwa penyair. Menjadi penyair adalah panggilan hati, tetapi tak seindah yang dibayangkan, tak mudah yang diharapkan.

Khusus di Indonesia penyair dikebiri oleh hal pembaca, meski produk banyak tetapi pembaca belum maksimal sehingga harapan memetik diri sebagai penyair amatlah sulit.

Demikian penyair dengan kesabarannya dan ketekunannya (adalah proses panjang) akan dapat memetik keberhasilan. Karya lambat laun semakin bermutu dan apik sebagai seni. Nama pun kemudian terpahat dengan ukiran yang indah. Meski dalam hal vinansial provesi ini jauh dari harapoan namun berkat ketekunan dan kesabaran akan dipetik keberhasilan sebagai sastrawan Indonesia yang tercatat dalam sejarah karena karyanya yang bermutu dan banyak dibaca masyarakat. (rg Bagus Warsono 28-8-2021)

Mempertanggungjawabkan Bahwa Seseorang Adalah Sastrawan Sabut Mengenal Puisi Modern II

 Memberi pertanggungjawaban pada publik bahwa seseorang adalah Sastrawan tidak hanya membuat daftar, memuatnya dalam antologi bersama, atau keterlibatannya dalam suatu peristiwa, tetapi yg lebih penting adalah mempertanggungjawabkannya dengan menunjukan karya bermutu dengan kritik dan telaah sebagai dasar seseorang adalah penyair.

Penyair adalah penulis sastra dengan jiwa seni yang tersendiri. Masing-masing kadang tak wajar dipandang dari kebiasaan . Ada saja penampilan beda pada dirinya dengan orang lain. Hingga terdapat penyair yang tak muncul gambarnya tetapi karyanya berserakan. Jadi pertanggungjawaban menyatakan seseorang adalah penyair bukan grafik kemunculannya tetapi atas karya bermutu. Kurator yang baik tidak melihat seseorang itu telah dikenal atau dikenal dalam wilayah lokal, regional atau nasional. Pandangan kepopulairan nama penyair besar atau kecil, tak dikenal atau telah mancanegara tak menjadi pengaruh untuk sebuah pertanggungjawaban. Sebab saatnya Indonesia menampilkan kejujuran dan tidak asal tetapi sungguh-sungguh sesuatu yang dipertanggungjawabkan

(Rg Bagus Warsono, kurator di Lumbung Puisi)

Jumat, 27 Agustus 2021

T oleh Wawan Hamzah Arfan

 T oleh Wawan Hamzah Arfan 


Thema "T' untuk sebuah Antologi Puisi yang digagas oleh RgBagus Warsono merupakan gagasan yang belum pernah ada di dunia, kecuali di Lumbung Puisi. Sungguh luar biasa, di masa pandemi ini, seorang RgBagus Warsono mampu melahirkan ide gila yang benar-benar di luar dugaan, justru disambut gila-gilaan oleh para penyair Indonesia dari yang ABG sampai lansia. Gilanya lagi, ko bisa pas dengan situasi politik di Afganistan, yang kini dikuasi oleh kelompok berinisial "T" yaitu TALIBAN.

Dengan kata lain, kehadiran Antologi Puisi "T", sebuah gebrakan baru dalam sejarah perpuisian Indonesia, sekaligus perpuisian Dunia. Sebuah Antologi Puisi terunik dan tergila. Selamat buat sastrawan RgBagus Warsono, yang berani meluncurkan ide gilanya dan tidak takut orang menilainya apa. Salam kreatif dari Cirebon.


Puisi “T” di Ujung Pandemi oleh Rg Bagus warsono

 Puisi “T” di Ujung Pandemi


T itu juga angin Timur. Angin timur sejak doeloe adalah keberuntungan. Pada masa musim angin timur, wabah segala penyakit tersapu angin menuju samudra Hindia dan di sana akan tertelan ombak. Corona akan menjerit ketakutan manakala baru terbawa angin sampai laut Ujung Kulon. Dan akan masuk pusaran gelombang samudra Hindia yang ganas.

Corona tak mungkin bersemanyam di laut Kidul karena memang sudah diusir oleh penunggu Laut Kidul. Mereka juga tak mungkin tinggal di laut Jawa karena akan ditangkap nelayan. Corona takut kalau melihat jaring penangkap ikan.

Angin T (angin Timur) membuat cuaca malam hari dingin sejuk di daerah tropis. Bunga-bunga pepohonan pun mulai tumbuh menjadi pentil-pentil buah. Serangga penghantar serbuk sari menari setiap hari , sebuah kegembiraan alam.

Di ujung pandemi itu Corona akan membabi buta. Mengamuk sekan marah terusir. Ia akan meninggalkan bekas. Tak hanya nyawa-nyawa manusia tetapi juga sejarah yang mengenaskan.

Dan Penyair-penyair Indonesia mencatat peristiwa ini. Sebagai sebuat peristiwa sejarah alam Nusantara yang memiliki aneka dampak dari corona. Kesengsaraan rakyat, Kematian dan orang-orang yang mengambil kesempatan adanya corona.

Pada masa ini rakyat tak lagi mengindahkan adat. Orang Mati pun dikubur bagai bangkai binatang! Pada masa ini para ‘dukun (ahli kedokteran) menjadi dewa. Pada masa ini generasi muda menjadi T (tolol) karena tidak belajar , bahkan ketololan pun terlihat pada mereka yang tengah menempuh pendidikan tinggi.

Jika Pemerintah menghitung korban corona, jumlahnya akan slalu menunjukan perbedaan dengan keadaan sebenarnya. Karena hari ini ditulis jumlah korban hari ini juga ada orang menangis kehilangan orang tua, saudara dan sahabat. Saat ditulis jumlah kematian itu saat itu juga terjadi peristiwa kematian dimana-mana.

Data yang sebernya ada di tangan-tangan penyair Indonesia. Ia mencatat sejak wabah itu masuk ke negeri ini. Penyair di seluruh penjuru negeri mencatat peristiwa ini di daerahnya. Aneka peristiwa kesengsaaraan rakyat.

Namun hidup itu harus optimisme, sebab kakek kita mengajarkan bukan ‘hidup untuk makan tetapi ‘makan utuk hidup.

Dimasa pandemi tak ada nikmatnya minum kopi. Semua suasana adalah kecemasan. Bahkan makan enak pun selalu diiringi kabar duka. Sehingga lidah menjadi hampa rasa dan tetnggorokan menolak masukan, lalu lambung hanya berisi angin.

Obrolan di keluarga adalah kabar duka. Sedang manusia sehat terdapat dua golongan saat pandemi melanda. Yaitu golongan yang percaya adanya corona dan golongan yang tidak percaya adalanya corona.

Yang percaya corona hidup dengan waspada dan sebagian serba ketakutan. Sedang yang tidak percaya hidup seakan mumpung.

Beruntung kita hidup di negeri makmur, 2 tahun berjalan corona bersemayam, kita masih bertahan. Tak terdengar rakyat kelaparan justru yang semarak adalah demo dan demo aneka ragam. Sebuah T dalam masyarakat kita.

Begitu subuh tiba, betapa setiap hari terdengar pengumuman duka di setiap mushola. Seakan bersahut-sahutan antara mushola/masjid yang satu dengan mushola/masjid desa tetangga.

Akhirnya penyebab kematian corona dan bukan corona sama yaitu oleh corona. Karena memang di musim corona. Ibaratnya kecelakaan maut lalulintas saja boleh disebut corona.

Di sudut lain di rumah-rumah kecil terdengar doa. Rumah-rumah yang berdoa itu begitu banyak sehingga hapir seluruh Indonesia berdoa agar corona cepat pergi dari negeri ini. Allah maha mendengar, dan punya rencana. Maha pengasih dan punya kehendak. (03-07-21 Rg Bagus Warsono)


Rabu, 04 Agustus 2021

Ulasan Tentang Menulis Satu Puisi Ditulis Bersama/Bareng-bareng: Oleh : Wardjito Soeharso

 Ulasan Tentang Menulis Satu Puisi Ditulis Bersama/Bareng-bareng:

Oleh : Wardjito Soeharso


Menulis Satu Puisi Ditulis Bersama, Ide yang menarik. Tetapi melihat hasilnya, aku pikir kurang efektif. Puisi itu harus padat. Diksinya tajam. Mengundang multi interpretasi. Dari awal hingga akhir kata-katanya mengalir membangun image yang kuat makna tematik yang disampaikan penyairnya.

Dari praktik yang sudah dilakukan ini, setiap penyair menulis satu baris. Setiap penyair mencoba menyambung atau meneruskan bangunan imaginasi ke arah mana makna tematik yang diharapkan oleh penyair sejak baris pertama. Tentu ini pekerjaan yang tidak mudah, untuk mengatakan mungkin malah terlalu sulit. Dari sisi makna ternyata bisa nyambung. Tetapi dari sisi kepadatan puisi, aku melihat tidak berhasil. Banyak diksi yang sejenis terus diulang-ulang. Akhirnya, kesan yang muncul sejak baris pertama sampai terakhir makna tematik itu tidak makin meruncing menajam, tetapi terus saja sejajar seperti rel kereta yang tidak pernah bertemu sampai ke ujung batasnya. Bahkan, terbukti, puisi hasil kolaborasi ini sama sekali tidak bersentuhan dengan judul. Bersentuhan saja tidak. Apalagi nyambung.

Mungkin, membaca satu baris dan meneruskannya ke baris berikutnya memang belum cukup memberikan gambaran pada penyair berikutnya ke arah mana puisi ini sebaiknya menuju dan berakhir. Akibatnya, tak ada bait di sana. Penyair berikutnya tidak tahu, satu ide atau gagasan seperti apa yang harus dimunculkan dalam bentuk satu bait dari puisi itu.

Jadi, menurutku, eksperimen pertama ini boleh disebut gagal. Hehehe...

Maka, boleh dicoba eksperimen berikutnya. Setiap penyair tidak menulis satu baris, tetapi menulis satu bait. Kayaknya dengan menulis satu bait, penyair berikutnya sudah punya gambaran cukup jelas makna tematik yang ditawarkan penyair sebelumnya.

berikut hasil uji coba pada 4 Agustus 2021:



Kisah Rafael Calon Bintara

//......../

23). Secepat kering tetesan air mata di Merah-putihmu.

24). Tak henti menangis dia meraup kain.

25). Dan Dwi-warna itu basah bercampur peluh.

26) peluh yang membersih tekad melarung semangat

27) semuanya kering di badan

28). Lalu di ciumnya sang merah putih dengan tetesan gerimis di gunung pipinya yang basah

29). Sang bunda menangis bahagia melihat sinar kehidupan di mata anaknya

30)ketika merah putih berkibar mengabarkan kemerdekaan ini

31) Langit pun gegap-gempita menyambut kibarannya

31) pada setiap perjalanan ada bianglala yang akan menjadikanmu pribadi yang tangguh

32) Ku lepas anak panah harapan, untuk negeri tercinta ini tetap terjaga.




Pendapat Mas Wardjito Soeharso ini harus dipertimbangkan beberapa permasalahan sbb:

1.Permasalahannya pesertanya bisa mencapai 100 penyair, yang menyatakan siap hampir 100 penyair, apakah tidak kepanjangan jika tiap penyair 1 bait atau baitnya dibatasi 2 baris?

2.Jika setiap penyair satu bait bisa saja tetapi harus ada bait-bait yang menjadi kepala bait untuk ditaruh di atas agar yang memberi masukan bait dalam komentar dapat lebih memahami kesatuan puisi.

3.Satu lagi permasalahan akan muncul yaitu pada penggalian ide dan tingkat berfikir penyair yg tidak sama yang kadang datang dari inspirasi. Tetapi bantuan Judul sebetulnya sudah dapat dipahami jika penyair itu telah profesional.

Silahkan yang lain berpendapat.


Kamis, 22 Juli 2021

Wandi Julhandi Terima kasih untuk semuanya; Wawan Hamzah Arfan TANPA BATAS LOGIKA : buat RgBagus Warsono; Wardjito Soeharso T

 W

Wandi Julhandi


Terima kasih untuk semuanya


Yang engakau berikan kepadaku

Terima kasih atas segala-galanya

hingga diriku ini menjadi seperti sekaran

Terima kasih banyak wahai engkau yang berbaik hati

Terima kasih sekali lagi wahai engkau yang berhati malaikat

Terima kasih dan terima kasih pada kita akan bisa mempercayai diri yang gelap ini

Terima kasih wahai engkau yang mendatangkan kepadaku sinar cahaya itu Hingga diri ini bisa menjadi bersinar dari tempat yang gelap menjadi cahaya

Yang terang dari tempat kegelapan itu 

Makassar, 26062021














Wandi Julhandi


TAK KUDUGA


Tak kuduga ada dia, dalam diam aku bertanya kepadanya

Tidakka kau lihat disini aku lagi sibuk bekerja 

Tak bisakah engkau bersabar dirumah kita

Tiada kata yang harus disampaikan dan sampaikanlah kepadaku sekarang juga


Tetesan keringat yang keluar dariku adalah bukti baktiku untuk kita semua

Tiada rasakah dirimu disana

Terdiam aku terdiam semoga perjuanganku membawa berkah dan rahmad ilahi rabb

Tampa kendek-Nyalah semua bisa menjadi nyata

Makassar, 25062021



















Wardjito Soeharso


T

Tik tik tik rintik gerimis di tengah malam sepi gelap mata nyalang menunggu cahaya mesti cuma sekerjap kilat agar aku tahu bentuk dan rupa wajahmu sekian lama sembunyi dari teka teki tak pernah mampu kujawab memaknai konfigurasi bayangan di balik lembab kaca jendela terlimpas embun. 

Tok tok tok halus ketukan dari balik pintu terkunci rapat bagaimana aku membuka sementara kunci tergantung jadi bandul kalung tak pernah lepas dari lehermu begitu jenjang dan serasi dengan belah dada menggairahkan remaja lelaki baru kenal birahi sedang aku hanya lelaki tua rambut beruban punggung bungkuk tak berdaya penuhi segala ingin dan angan?

Tuk tuk tuk ketak ketuk harmoni irama entah maju mundur entah naik turun siapa peduli sedang merangkak naik ke puncak bukit mencari telaga pelepas dahaga menyelam ke dasar sentuh naluri purba janjikan lena di penghujung malam tinggal sepengunyah buah larangan sedang kaki berpijak batu-batu rompal berguguran memaksa harap menunda hasrat sejenak menjejak terbang melayang.

Tek tek tek jangan bangunkan ular tidur karena kenyang setelah melepas bisa merasuki nadi-nadi darah bekukan jantung merobek paru membunuh peselingkuh merayu anak tirinya sendiri sedang bapaknya di luar sana bermain api membakar hasrat wanita malam berkeliaran tanpa pakaian dalam ada ular melingkar pinggang ramping di balik gaunnya.

Tak tak tak hidup tak pernah mudah jalanan begitu terjal kerikil tajam menghadang kaki memberi luka nyeri menyengat dada membuta mata menuli telinga membebal rasa setiap langkah tinggalkan hanya aroma bunga kamboja jatuh tergolek tak berdaya di tanah basah. 

T...tutup mulutmu!

27.06.2021

Tatitutetot

Tat

Tatat

Tat tatat tat 

Tit

Titit

Tit titit tit

Tut

Tutut

Tut tutut tut

Tet

Tetet

Tet tetet tet

Tot

Totot

Tot totot tot

Tat tatat tat tak usah dicari maknanya

Tit titit tit tak mesti diintip isinya

Tut tutut tut tak perlu diburu maksudnya

Tet tetet tet tak remeh diseret arahnya

Tot totot tot tak elok disebut rasanya

Tatitutetot

Memang hanya harmoni bunyi!

27.06.2021





Wawan Hamzah Arfan


TANPA BATAS LOGIKA

: buat RgBagus Warsono


Tak tahu dari mana harus kumulai

Tentang tema yang kau tawarkan Tampak begitu mistis

Terlalu jauh dari jangkauan mimpi

Terlebih dalam menggali inspirasi

Tenggelam di kedalaman imaji


Tapi, kuakui sensasi gilamu

Telah menjadi kekhasan

Terunik dan nyeleneh

Terpatri dalam jiwamu

Tanpa batas logika

Tumpah dalam gairah kata-kata.

Cirebon, Juli 2021


















TANDA MATA SEBUAH KEMERDEKAAN DI MASA PANDEMI


Tujuh puluh enam tahun sudah

Tanah air merdeka

Tetap saja begini

Terjajah

Terbelenggu

Terpuruk

Tertimbun sampah

Tumpukan sisa bahan bekas hutang


Tapi gilanya


Tanah yang aku pijak ini

Tak ada beban

Tenang saja melangkahi derita

Terus tancap gas

Tangguh walau tak bisa bayar cicilan

Tumbuh kembang pengangguran

Terlalu asyik gali lubang

Tanpa pernah tutup lubang.

Cirebon, Juli 2021














TAK TAHU AKU


Tak tahu aku harus bagaimana

Tak ada yang bisa aku tawarkan

Tak ada yang bisa aku banggakan

Tak ada kata yang bisa aku rangkai

Tentang kerinduan yang tak bertepi

Tentang ketulusan yang tak berarti

Tentang mimpi yang tak kembali


Tapi aku masih punya nyali

Tenang dan penuh keyakinan

Tanpa ada goresan luka kata-kata

Tanpa ada nada sinis yang mengiris

Tak akan kubiarkan inspirasi

Tumbang diambang kebimbangan

Tak peduli suasana pandemi

Telah meluluhlantakkan nurani.

Cirebon, Juli 2021


Tarni Kasanpawiro T

 T

 Tarni Kasanpawiro


T

Telur tanpa tetas

Terinjak terompah 

Tak tercegah tersia

Terlupa tanpa tanda


Tangis tersedu 

Terpisah tiada temu

Tubuh terpanggang tungku

Tanpa tirai tanpa tandu


Terlanjur tunduk patuh

Tak tahu telah tertipu

Tergoda tatapan teduh

Ternyata tukang teluh


Tetaplah teguh 

Tolak tangkis tinju

Tangguhlah tangguh

Tunaikan tugasmu


Tertera tanda

Telapak tangan terbaca

Tabir telah terbuka 

Teruslah tabah

Tunggu T tiba

Cibitung, 22 Juni 2021




Tarni Kasanpawiro


BERMAIN KATA


ada yang asyik bermain kata

tak peduli hasrat terus meminta

ditepisnya segala rasa dengan tawa

hingga lupa hari semakin senja

isyarat tak mampu menyapa


ada yang asyik bermain kata

bocah-bocah setengah manula

turut memainkan semua aksara

menjadi imaji liar tanpa cegah

berlompatan dengan indahnya


ada yang asyik bermain kata

sampai tak melihat ada kecoa

habiskan sisa nasi di piringnya

sambil mencibir dasar manusia

suka mentertawakan dirinya


ada yang asyik bermain kata

sambil menggoyangkan kakinya

tak pusingkan dompet terbuka

dan angka-angka entah di mana

bodo amatlah katanya


ada yang asyik bermain kata

hingga tak mendengar suara

memanggil-manggil namanya

dari dalam perut anak-anaknya

cacing-cacing meminta jatah


ada yang asyik bermain kata

meski sadar yang dilakukannya

tak bisa membuatnya jadi kaya

ha ha hi hi yang penting bahagia

tak kesepian banyak temannya


ada yang asyik bermain kata

sambil menghisap angannya

agar tak terbang mengangkasa

karena hanya itu yang dia punya

teman yang paling setia


ada yang asyik bermain kata

sambil sesekali garuk kepala

sepertinya ada yang dia lupa

tungku di dapur tak lagi menyala

api pergi meninggalkannya


ada yang asyik bermain kata

dikumpulkannya semua aksara

berharap pasar mau menerima

bersaing dengan sembako murah

bawang cabe dan juga rempah


dari kamar sebelah ada suara

bukan tangisan ataupun tawa

sepertinya dia mengenalnya

tapi kini dia benar-benar lupa

mungkinkah itu anak-anaknya


tiba-tiba semuanya gelap gulita

malam telah tiba tapi dia terlupa

listrik di rumah kehabisan daya

aksara seakan menampar dirinya

banyak cinta yang mestinya dia jaga

Cibitung, 26 Juni 2021



Tarni Kasanpawiro




TITIK SETELAH KOMA


tiba-tiba semua berubah

yang dekat harus berjauhan

yang pergi tak lagi bisa pulang

hanya bisa lambaikan tangan

dengan airmata berlinangan


peraturan bukan lagi pedoman

yang dilarang malah dibolehkan

yang tadinya boleh jadi dilarang

banyak yang melanggar kewajiban

semata demi keselamatan

lalu hilanglah kebiasaan


ada yang patuh pada anjuran

ada yang bodo amat tak mendengar

dianggapnya sebuah kebohongan

sampai akhirnya datang teguran

dan menyesallah kemudian


datanglah kabar kepulangan

sebagaimana awan menjelma hujan

tak tercegah menderas berjatuhan

tanpa payung di genggaman

tangan kehilangan pegangan

menggigil gemetaran


menjebol dinding keangkuhan

melihat orang lain terbaring lemah

tak berdaya saat titik mulai berubah

menjadi garis panjang setelah koma

tanpa pendamping di sisinya

seakan tak memiliki cinta


semua menjauh palingkan muka

dalam hatinya merasakan derita

tak bisa ucapkan sepatah kata

selain tundukkan kepala pasrah

dalam keterbatasan dia berdo'a

segeralah membaik oh semesta


Cibitung, 05 Juli 2021

Tarni Kasanpawiro


Tarni Kasanpawiro

Lahir di Kebumen 01 Desember 1971

Beberapa puisinya tergabung dalam antologi bersama "Pinangan(Dapur Sastra Jakarta) , Mendekap Langit(Gempita Biostory) dan Puisi Menolak Korupsi jilid 2 dan jilid 8. Saat ini aktif di group Lumbung Puisi asuhan RgBagus Warsono dan beberapa kali ikut antologi bersama". Tinggal di Sebelah kanan SMPIT Daarussalam. Perumahan Cluster Permata Taman Wanasari Indah Blok B No 09 Rt 02 Rw 08 Kel. Wanasari Kec. Cibitung Bekasi Jawa Barat Kode Pos 17520




Setyo Widodo SURUT BERSAMA REDUP LENTERA; Sulistyo Sore Ini Masih Hujan

 S

Setyo Widodo


SURUT BERSAMA REDUP LENTERA

: DON

Aroma bubur kacang ijo di sudut Mahatani

kembali menyengat. Rasa yang manis menjadi hambar pada tegukan terakhir. Di punggung kimia

organik kita berbagi roti tawar

tidak setangkup tapi selembar,

pengganjal ketegangan yang akan menemani

praktikum titrasi

Don, setiap bercengkerama engkau

selalu menyanggah

aku marah

engkau mengalah

begitu yang berlaku. Katamu, sebaik itu

toh karmaku tak aku tahu.

Don, kereta pasti berhenti terparkir di ujung jalan masing-masing, tanpa kusir

tak ada yang sanggup mengusir

namun yang kini terjadi, kereta itu

berlompatan dan zigzag menjemput yang tak terkira

Kau sering menjadi lentera. Sering tetiba menyala, lalu tak kaujaga

membiarkan yang ada membaca bait-baitNya

Seperti yang kali ini

aroma kacang ijo menari-nari di lorong

kimia. Lalu surut bersama redup lentera

dengan lenggang ringan kau menapaki

lorongnya menuju kereta

Bogor 05 Juli 2021/07.59AM


Sulistyo 


Ada Cerita Apa Pagi Ini?


ada cerita apa pagi ini?

hujan belum berhenti 

dan kau menungguku 

melanjutkan cerita yang terpenggal dini hari tadi 

kekasihmu pergi menitipkan satu sloki air mata untuk kau nikmati saat rindumu tak terbendung esok nanti 


tak ada cerita pagi ini

tak usah kuceritakan tentang puisiku yang lama hilang tersesat labirin pagi 

ia pergi dan tak ada kenangan yang perlu disesali 

biarkan ia menyudahi episode hari-hari tanpa harus berkemas menyiapkan alas kaki 


ya, cukup sampai di sini 

tak ada cerita pagi ini 

(19.06.2021)














Sulistyo 


Sore Ini Masih Hujan


aku tak bisa mengunjungimu, sayang 

sore ini hujan deras dan angin kencang 

tunggu sampai tengah malam 

mungkin tak ada lagi hujan 

aku akan datang diam-diam menyusup jendela kamar 

tunggu aku jangan pejamkan matamu dulu 

akan kuajak kau bertamasya mengelilingi bulan bundar dan bercilukba di kerlip bintang-bintang


(23.06.2021)




Sulistyo , Lahir dan besar di Kudus. Menyukai apapun tentang seni dan sastra. Puisi-puisinya tergabung di beberapa antologi bersama dan beberapa antologi tunggal.








Suyanik


T

 

Tanpamu

Tampan itu rupamu

Terhanyut aku dalam melodi cintamu

Terkekang dalam jaringan nadimu

Terkenang bagaimana kau

Tampakkak cakar-cakarmu menguasai

Terbabat habis menggelanggang jatuh

Tidakkah kau ingat

Tatkala kau lumatkan dinding-dinding pembatas dengan rayu dan cumbumu atas nama cinta

Terjatuh dalam pelukan asmara yang kau terabas pembatas tanpa mengenal pantas

Terasa hanya kau dan aku tiada lainnya

Tersadar apa yang kau lakukan?

Teriak!

Tidak!

Terbungkam rapi karena nama baik

Tidakkah kau ingat lagi itu, bagaimana perjuanganmu untuk.mendapatkanku hingga akhirnya aku ....

Terjatuh begitu dalam

Terperosok pada ikatan cinta terlarang

Tanpamu lagi

Gresik, 26 Juni 2021



Nanik Utarini TUHAN, TERIMALAH TAUBATKU

 N

Nanik Utarini


TUHAN, TERIMALAH TAUBATKU


Tuhan, Rabb penguasa nabastala raya

Takdir yang telah Engkau gariskan pada setiap makhlukMu adalah kebaikan bagi semua

Tetapi seringkali kami mengingkari atau bahkan menggugatnya

Terbentang luas bukti kasih dan sayangMu, tetap saja kami sering tak menyadarinya


Tuhan, Rabb penentu luas dan dalamnya samudera

Tergelincirnya matahari yang berganti malam, dengan hiasan gemintang dan rembulan adalah wujud nyata KuasaMu

Tetapi kami sering tenggelam dalam pekatnya noda, hingga lupa menyadiri beribu tanda keAgunganMu

Terjalnya harapan membuat kami sering terjerembab dalam kufur nikmat


Tuhan, Rabb semesta alam

Terimakasih atas segala nikmat dan karunia yang telah Engkau berikan pada kami

Taqwa kami tak seberapa, namun Engkau tetap melimpahkan segalanya bagi kami

Terimalah taubatku dan ampunilah dosaku yang menghitam





Nanik Utarini

Makna T


T adalah Tuhan penentu segalanya

Terbit dan tenggelanya matahari adalah bukti atas segala KuasaNya

Terlahir atau kematian manusia adalah bukti nyata keberadaanNya

Tercipta dan musnahnya Dunia ada dalam genggamanNya


T adalah Teman, yaitu seseorang yang selalu mengingatkan dan menguatkan bagaimanapun keadaan kita

Teman terbaik bukanlah teman yang selalu mendukung kita, tetapi ia juga harus mengkritik saat kita berlaku salah 

Tetap ada saat  kita tertawa bahagia atau saat kita menangis sedih

Tetaplah jadi teman terbaik dalam hidup kita


T adalah Tabah, berusah tabah dalam setiap ujian dan hambatan

Tantangan yang seringkali menghadang, hendaknya kita sikapi dengan lapang dada

Terus berusaha sekuat tenaga seolah-olah engkau hidup selamanya

Tak boleh menyerah dan pasrah pada keadaan, hingga kita raih kesuksesan


T adalah Tulus, berusaha bersikap tulus pada semua 

Tidak pernah tebang pilih dalam menolong dan peduli pada sesama

Terus mengasah kepekaan terhadap semua manusia

Terwujudnya masyarakat yang damai aman dan sejahtera


T adalah Terserah, Terserah mau diartikan apa?

Terserah mau dimaknai apa?

Terserah mau dirangkai menjadi apa?

Terserah alias karepmu dewe ya!

Jambi, 28 Juni 2021





Marshelina TERTUSUK SERIBU PEDANG; Muhajir Syam TANPAMU; Muhammad Abdul Latif Tulus; Muhamad Salam T. Bermakna; Muhammad Jayadi TENTANG KEHIDUPAN INI

 M


Marshelina


TERTUSUK SERIBU PEDANG


Kumbang merana di taman

Pohon bunga paling indah

Yang disayang di tebang


Inilah akhir kisah cinta kita

Ibumu pembunuh semua harapan

Aku tak akan lagi memperjuangkan


Tiada kata maaf dan kembali

Karena kata-kata ibumu 

Hatiku bagai tertusuk seribu pedang

Sakit dan sakit tiada tara


Kau menderita di akhir cerita

Itu bukan salahku tapi ibumu

Walau kau tak sanggup melepaskan aku

Tetap aku pergi dari hidupmu

Sampit, 21 Juli 2021










Marshelina


TERTUSUK DAN TERLUKA


Kuukir semua cerita dalam karya

Saat aku bahagia mimpi menjadi nyata

Semua yang kulakukan kau anggap salah

Aku bagai sampah di matamu tanpa arti


Kucoba bertahan tetap kau selalu menyakiti

Bersamamu bagai berjalan di atas duri

Tertusuk dan terluka

Sampit, 22 Juli 2021


Marshelina, nama asli Mursinah Rahma Lina

Kelahiran Sampit, 23 Desember 1987.

Walau terlahir autis mampu bersekolah di sekolah umum.

Alumni SMK Kesatuan 2 Samarinda.

Aktif mengikuti antologi puisi dan cerpen bersama sejak Juli 2020

16 macam antologi bersama

1 macam antologi puisi solo berjudul "Autis & Puitis"

Ada pun prestasi yang telah diraih diantaranya:

Peringkat 1 selama SD dan duduk di bangku SD hanya 5 tahun.

Dapat menyelesaikan 1 judul syair lagu dalam waktu 2 jam tema ditentukan guru cipta lagu saat ujian menulis syair lagu.

Juara 1 penulis buku Air Kaca Cinta.

Dan lain-lain

Jejaknya bisa ditemui di

WA: 085246934887

IG: marshelina.23 dan marshelina.mr

FB: Marshelina Mursinah Rahmalina

Muhajir Syam


TANPAMU


Tanpamu Aku entah dimana

Tanah luas di belahan dunia

Terbentang sabana katulistiwa

Terlilit pita Bhinneka Tunggal Ika

Tertimbun nafsu angkara

 

Tanpamu Aku tak berarti

Tawa Ibu Pertiwi terdengar lirih

Tertutup duka nisan pejuang sejati

Tampak gurat wajah sedih belahan negeri

Tangisi ulah bejat politisi

 

Tanpamu Aku bukan siapa-siapa

Terseok raga tak bermakna

Terkapar arus kebijakan pemuja berhala

Terkubur sebelum waktunya

 

Tanpamu Pahlawan sejati

Tujuh belas agustus bukanlah hari jadi

Tapi slogan basi tak lagi suci

Tutuplah matamu saksikan adegan anak negeri

Tetap sabar  jangan berkecil hati

Teruslah berdo’a semoga Indonesia subur makmur lohjinawi

Ganding, 16 Juli 2021

 

 






Muhajir Syam


TERKULAI


Terkapar raga lunglai kemanusiaan

Tongkat estafet mencabik jiwa kerdil keserakahan

Torehkan luka tak berkesudahan

Tali perekat kebhinnekaan

Terputus rapuh sejuta kepentingan

Tatapanku semakin buram

Tertutup bayang kelam kekuasaan

Tapi Aku bungkam

Terkulai

Tersandera sejuta aturan

Teruskah aku jadi bayang-bayang nan mengerikan

Tangisi angkara dalam tetesan darah pejuang

Tertulis puisi datar tak beraraturan

Teruntuk para pemangku amanat “T”

Teruskan jadi penghianat Bangsa”T”

Tetap berdo’a agar selamat sebelum akibat maha dahsya”T”

Ganding, 22 Juli 2021

Muhajir,  lahir di Dusun Sumber Lanas Desa Teluk Jati Dawang Kecamatan Tambak Bawean Gresik. Tiga tahun berkiprah di dunia literasi sekaligus menjadi penghuni setia Komonitas Kata Bintang, Pria dengan nama pena Muhajir Syam sudah menghasilkan karya sekitar 36 buku. 8 Buku Solo dan 28 Buku Antologi. “Kumpulan Puisi Penyair Pinggiran dan Sanjung Madah Untuk Baginda” adalah dua buku solo yang berisi puisi. Saat ini aktif mengajar di SDN Ketawang Karay I Kec. Ganding Kab. Sumenep dan menetap di Dusun Raas RT/RW 001/002 Ketawang Larangan Ganding 69462 Sumenep. email: syammuhajir980@gmail.com. Wa.083122922202.

Muhammad Abdul Latif 


Tulus


Titik balik dari diri kita sebenarnya ada pada kerendahan hati kita saat kita memohon

Telah angkuh kita pada masa sebelumnya

Tiada melihat tanda-tanda untuk kita segera berangkat

Terencah diri dari titian terbawah

Titisan debu mendzahir jadi cahaya

Tayamum diri pada debu cahaya menjadi cinta

Terbersitlah menifestasi cahaya menjadi zahir

Tumus dalam qalbu terdalam

Terbelenggukah kita akan suatu kesalahan

terasing dalam kungkungan kebencianNya

Tarikan nafas panjang kita di dunia ini

tak lain hanya satu kali nafas di samping  kehidupan di syurga

tiadalah nilai yang hilang dalam diriku selain dari

tangisan penyesalan karena pelanggaran di masa lalu

tiadakah engkau hanya terkagum pada orang  lain sedang diri kita lemah

tiap waktu hanya tersi hampa tanpa cinta padaNya

teramat kosong diri dan jiwa pada perjalanan yang tinggal menyisakan beberapa desahan nafas

tapi kita masih enggan untuk bertaubat dan mendekat

tanpa batas rahmat kasih sayangNya  kita hanya menyiakan

Tanda apa yang lantas engkau nanti

tiadalah apa-apa di dunia ini hanyalah cobaan

tulus ihlas mencintaiNya tanpa mengharapkan  imbalan hajat dunia

Kendal, 30 Juni 2021

 Muhammad Abdul Latif 


Teguran


Telah tiba masa dimana manusia berada pada kegembiraan pada akhirnya

Tanda Tanya atau tertekan dalam pekat perbuatan

Tertanam ketakutan akan sebuah pelanggaran yang menghantui

Tak terkira seperti menanam sesuatu yang menyenangkan tapi perih

Terjagakah hati kita dari setan yang menyelinap membisikkan

Tontonan belum tentu jadi tuntunan yang bisa saja bahkan menjerumuskanmu ke dalam dosa

Terjebak di bumi ini hanyalah istidraj yang nyata

Tinggalkanlah berasyik masyuq dalam kefanaan dunia

Tinggalkanlah barang-barang berharga dari air, tanah dan api

Tinggalkan pula rasa ketakjubanmu pada kecantikan dunaiwi

Tingkatan kecantikannya hanya sebatas pemahaman dan firasat batin

Takutlah senjata peredam nafsumu;”Dan bagi orang yang takut  akan saat menghadap Tuhannya ada dua syurga.”(Ar Rahman; 46)

Taatlah kepadanya dan rasulnya agar kita tidak terjerembab oleh dosa demi dosa

Tipu daya syetan telah merusak batinnya dengan bubuk kemanisan dunia

Tirai halusinasi memberikan sekat keterasingan akan sesuatu yang diluar fana

Tiada terelakkan bila Rabb memberikan peringatan

Tobatlah segera sebelum semuanya menjadi terlambat

Terkutuklah orang-orang yang aniaya dan melampaui batas

Tersesat di jalan kegelapan yang nyata tanpa bimbingan dan petunjuk

Telah tiba masa bila siksa itu adalah sebuah realita bukan rekayasa

Timbangan amal perbuatan akan menentukan dimana kita akan dimasukkan

terbang semua buku catatan amal menuju timbangan amal kanan dan kiri

Takut hati setengah mati pabila berat sebelah kiri

tiada kan ada harapan tuk marasakan kenikmatan berada di basundari


Kendal, 29 Juni 2021


 


 


 











Muhamad Salam 


T.  Bermakna


Tertumpah sudah mendung menggelantung di awan

Titik -titik air basahi bumi

Tarian burung tak lagi nampak

Terasa dingin pulang ke sarangnya

Memadu kasih di suasana turun hujan.


Tiupan angin mendesir

Turunkan air semakin deras

Tanah kering kini basah 

Tergenang air suci dari langit


Tepat pukul Lima belas 

Terguyur hujan bumiku yang lama tak terjamah hujan.

Tanah  tempat kita berpijak

Tempat kita melanglang buana.

Tersenyum  dan bahagia


Terikmu kini tenggelam  sebelum waktunya

Terhalang mendung yang kian menebal

Terasa dingin sore ini

Tempat memadu kasih , bercengkrama 

Tak terasa semakin tenggelam dalam lautan kasih.

Ambunten,24 Juni 2021








Muhamad Salam 


T  ( Dalam Rindu)


Tuangkan perasaanmu

Lewat tetes tinta 

Tuliskan syair dalam bait- bait cinta.

Tetes tinta penuh makna

Tersirat dalam kalbu,  kau tuangkan secawan janji


Tergores di dinding kalbu

Terukir rindu ,tiap sudut waktu

Tanpamu hampa kebahagiaan

Termangu sendiri mengisi hari-hariku

Tuhan....pertemukan aku walau lewat mimpi.


Tepian hati semakin luluh

Taman bunga kini layu

Tak ada senyum ,dan tawa

Terasa sudah saat kau tiada

Tempat  memadu kasih tinggal kenangan.

Ambunten,26 Juni 2021















Muhammad Jayadi


TENTANG KEHIDUPAN INI


Tetapi, apa yang telah berlaku ini

Tentu jadi pertimbangan dalam diri

Menjadi lebih indah lagi

Taman-taman hati yang seringkali berkabut


Mari hari-hari ini, kita sirami kata-kata

Menjernihkan mata jiwa

Menangkap hawa senja yang mulai menyapa


Banyak perenungan datang tiba-tiba

Terkadang, di saat tak terduga

Di gelap malam, kita sendiri

Membuka seluas-luas ruang hati


Pelajaran yang datang dari Tuhan

Melalui pengalaman indah kehidupan

Indah sekali, kawan

Balangan, 14 Juli 2021


 


 











Muhammad Jayadi


KUTULISKAN SAJAKKU


Tenggelam di lautan kata

Meneguk makna-makna yang ada

Memuaskan dahaganya jiwa


Matahari bersinar di malam hari

Dalam diri ini

Menyinari mimpi-mimpi


Dengan jemari kaku

Kutuliskan sajak-sajakku

Yang datang dari negeri biru


Balangan 2021


 


Muhammad Jayadi lahir di Balangan. Pecinta seni dan  sastra. Mengikuti beberapa antologi bersama khususnya di Lumbung Puisi. Email muhammadjayadi929@gmail.com