adalah majalah sastra net bagi rakyat Indonesia yang memerlukan sastra sebagai bagian kehidupan indah di Indonesia. Untuk segala umur pecinta sastra di Tanah Air. Pendiri Agus Warsono (Rg Bagus Warsono/Masagus) didirikan 2 Januari 2011, Redaksi Alamanda Merah 6 Citra Dharma Ayu Margadadi, Redaktur sastra Agus Warsono, Koresponden Rusiano Oktoral Firmansyah (Jakarta), Abdurachman M(Yogyakarya).
TEKS SULUH
Tampilkan postingan dengan label Saksi Ibu melihat Reformasi Puisi ibu di Hari ibu 22 desember 2013. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Saksi Ibu melihat Reformasi Puisi ibu di Hari ibu 22 desember 2013. Tampilkan semua postingan
Selasa, 07 Januari 2014
Selasa, 10 Desember 2013
Wahyu Cipta: Membakar Sampah Mie Instan
Wahyu Cipta:
Membakar Sampah Mie Instan
Di tempat kami berdiri
Ratusan pabrik dan ribuan orang Bekasi
Menjadi ibu kost bagi buruh Indonesia
Lalu macet sore hari jelang mesin pabrik
berhenti
Di tempat kami berdiri corong pabrik berasap dan suara mesin
Yang dijaga satpam pembela majikan
Lalu kami melihat kesengsaraan buruh pabrik dengan keringat air mata
Memohon sewa kost ditunda
Karena gaji tak kunjung tiba
Dan mie instan mulai menipis
Di tempat kami berdiri
Berbondong-bondong manusia,
Teriak ribuan spanduk menutup papan nama jalan
Menuntut keadilan majikan
Di tempat kami berdiri
Corong pabrik menjulang dan asap tebal
Membakar sampah mie instan
Cikarang 2010
Membakar Sampah Mie Instan
Di tempat kami berdiri
Ratusan pabrik dan ribuan orang Bekasi
Menjadi ibu kost bagi buruh Indonesia
Lalu macet sore hari jelang mesin pabrik
berhenti
Di tempat kami berdiri corong pabrik berasap dan suara mesin
Yang dijaga satpam pembela majikan
Lalu kami melihat kesengsaraan buruh pabrik dengan keringat air mata
Memohon sewa kost ditunda
Karena gaji tak kunjung tiba
Dan mie instan mulai menipis
Di tempat kami berdiri
Berbondong-bondong manusia,
Teriak ribuan spanduk menutup papan nama jalan
Menuntut keadilan majikan
Di tempat kami berdiri
Corong pabrik menjulang dan asap tebal
Membakar sampah mie instan
Cikarang 2010
Wahyu Cipta, perempuan penyair asal Cikarang ini memulai menulis sejak anak-anak dan
gemar membaca, menulis puisi untuk murid-muridnya yang dibacakannya di depan
kelas, tinggal di Cikarang Bekasi.
Jumat, 06 Desember 2013
semua pamong pakai lencana karya hartati
Hartati
semua pamong pakai lencana
kantor pemerintahanku
kursi tamu dan senyum satpam
panggilan meja satu
bertumpuk map menutupi daun meja kaca
perlu apa?
cepat aku tandatangani
kalau ibu cepat
kami juga cepat
ibu menolak hanya sampai meja satu
dan kembali di ruang tunggu
kawan sesama langsung meja lima
keluar masuk dari pintu ruang tanpa panggilan
pelayanan cepat selesai
ibu menunggu
masih ada pamong jujur di kantor ini
tapi dia cuti hari ini
Kantor pemerintahanku
layar monitor di meja menyajikan data
hanya ada pesuruh
maaf hari ini bapak dinas luar
besok pagi boleh ibu kembali
kantor pemerintahanku
bendera berkibar
paman nama berukuran besar
agar rakyat mudah menemukan
pelayanan semakin cepat
kalau ibu cepat
kantor pemerintahanku
ada ramai dan sepi
ramai bukan banyak layanan
sepi bukan hari libur
di kantor pemerintahan
semua pamong pakai lencana
meniru pucuk pimpinan
semua pamong pakai lencana
kantor pemerintahanku
kursi tamu dan senyum satpam
panggilan meja satu
bertumpuk map menutupi daun meja kaca
perlu apa?
cepat aku tandatangani
kalau ibu cepat
kami juga cepat
ibu menolak hanya sampai meja satu
dan kembali di ruang tunggu
kawan sesama langsung meja lima
keluar masuk dari pintu ruang tanpa panggilan
pelayanan cepat selesai
ibu menunggu
masih ada pamong jujur di kantor ini
tapi dia cuti hari ini
Kantor pemerintahanku
layar monitor di meja menyajikan data
hanya ada pesuruh
maaf hari ini bapak dinas luar
besok pagi boleh ibu kembali
kantor pemerintahanku
bendera berkibar
paman nama berukuran besar
agar rakyat mudah menemukan
pelayanan semakin cepat
kalau ibu cepat
kantor pemerintahanku
ada ramai dan sepi
ramai bukan banyak layanan
sepi bukan hari libur
di kantor pemerintahan
semua pamong pakai lencana
meniru pucuk pimpinan
Rabu, 04 Desember 2013
Suatu hari di Kantor Pos Besar
Tasinah
Suatu hari di Kantor Pos Besar
Hari ini perangko habis
Kilat dan tercatat
Atau khusus kiriman luar negeri
Ada juga paket
Per ons
Senyum pagi salam satpam dipintu
Dan gaya pak pos mengetok stempel tanggal
Kilat dan tercatat
Ribuan orang berkumpul di halaman
Menerjang masuk kantor pos besar
Lalu melompat pagar
Satu-satu mereka dipanggil , senyum si miskin dalam desakan
Kilat dan tercatat
Terik mulai membakar keringat
Apalagi panggilan belum kurun tiba
Haus menelan air liur belaka
Nama tak ada dalam data
Nenek-nenek itu pingsan seketika
Kilat dan tercatat
Kakek melompat pagar antrian
Menyerbu petugas dalam kepanikan
Per ons akan ditimbang
Untuk kiriman paket khusus reformasi kita
Lalu pak pos pun mengetok palu stempel dengan irama rock
Memang hari ini perangko habis.
Indramayu , 2008
Suatu hari di Kantor Pos Besar
Hari ini perangko habis
Kilat dan tercatat
Atau khusus kiriman luar negeri
Ada juga paket
Per ons
Senyum pagi salam satpam dipintu
Dan gaya pak pos mengetok stempel tanggal
Kilat dan tercatat
Ribuan orang berkumpul di halaman
Menerjang masuk kantor pos besar
Lalu melompat pagar
Satu-satu mereka dipanggil , senyum si miskin dalam desakan
Kilat dan tercatat
Terik mulai membakar keringat
Apalagi panggilan belum kurun tiba
Haus menelan air liur belaka
Nama tak ada dalam data
Nenek-nenek itu pingsan seketika
Kilat dan tercatat
Kakek melompat pagar antrian
Menyerbu petugas dalam kepanikan
Per ons akan ditimbang
Untuk kiriman paket khusus reformasi kita
Lalu pak pos pun mengetok palu stempel dengan irama rock
Memang hari ini perangko habis.
Indramayu , 2008
Tasinah lahir di Indramayu 7 Oktober 1966, menulis
puisi juga puisi anak , ceren anak. Sambil menjadi guru sekolah dasar di
Indramayu.
Sabtu, 30 November 2013
Nieranita
Antologi Puisi " Ibu Indonesia"
_Puisi Untuk Anak Bangsa_
Oleh : Nieranita
Ketika aku menulis puisi ini
Mungkin kau sedang bersemedi di dalam kaleng-kaleng soda,
sedang bersembahyang di kolong-kolong jembatan
Atau mungkin sedang pulas ditumpukan papan iklan
Lantas siapa yang akan membaca sajak keluh kesah negeri ini ?
Ketika aku menulis puisi ini
Kau mungkin sedang ketakutan
Menyaksikan kebakaran hutan,
sedangkan di warung pojok sebakul nasi hanya diasapi puntung rokok
Bahan bakar hanya membakar dada demonstran
Aku menulis puisi ini
Mungkin kau sedang gelisah dalam kecemasan
Ketika tiang listrik lebih tinggi daripada tiang bendera
Merah putih menjadi warna hitam di limbah-limbah pabrik yang lupa jalan pulang
Aku menulis puisi ini
Mungkin kau sedang terheran-heran
Para pembesar memperbesar kuak saku mereka
Gedung-gedung raksasa dihuni rakyat-rakyat sengsara
Rumah-rumah kardus mendengus
Oh Nak, aku takut puisiku hangus
Kuwait 3 November 2013
Putri Akina
TERIAKAN
LIRIH
Sengit mentari
memancar di atas awan
Sepasang mata
menyipit
Di tenggah
arus kemacetaan jalan
Memantau
derasnya keegoisan
Tak ada senyum
hangat menyapa
Manusia
menggila dengan hidupnya
Tercabik
kenyamanan hidup
Berlinag air
mata sang ibu
Malu lihat
kebusungan dada para buntutnya
Wajah
terpasang memelas
Di belakang
seringai sinis mulai Nampak
Menghina tanpa
merajuk
Suara lirih
menggema
Tak terima
dengan apa yang didapatkan
Meminta supaya
disanjung
TakHenti
Waktutakberhentiberdetak
Jumat, 29 November 2013
Mariyana Hanafi
Elegi
kekosongan ibu
ibu
menatap kosong
terdiam
di depan kain yang masih berayun
dia
mencari putranya
yang
dulu sempat ditimang kebersahajaan
tapi
kini,entah dimana
oh
ibu,tak perlu menunggu anakmu
mungkin
dia berpesta di geliat waktu
merayakan
titik-titik kemenangan
atau
sedang larut pada euphoria reformasi
sudahlah,lebih
baik lelap saja pada malam yang masih setia menemanimu
ibu
menatap kosong
hatinya
pilu,lumpuh
tak
lagi mampu mengenali anaknya
dia
lupa cara disayangi tapi mampu mengasihi
meski
kini keriput menghampirinya
oh
ibu,senjamu kini menanti
Banjarmasin,29
November 2013
Ibu
di balik rindu
nak,duduklah
di sini
kita
mengeja senja lagi,seperti dulu
ketika
kau merangkak dan terus menatapku
seakan
kau meminta restu untuk bergerak
nak,
aku rindu memangkumu
menyenandungkan
romantisme burung-burung
diantara
lirih detak juang yang kau dendangkan
aku
rindu kamu ,nak
kini
aku tak lagi mengenalimu
mana
senayan yang dulu kita agungkan,sayang?
aku
melihatnya hingar bingar tanpa sepakat
inikah
wajah reformasi yang kau banggakan?
nak,
mendekatlah
aku
ingin mengecupmu dengan hangat
dengan
semangat yang dulu berkibar gagah
seperti
kibar sang saka di ujung langit
kemarilah
nak,ibu menunggumu
Banjarmasin,29
November 2013
Kamis, 28 November 2013
Wulan Ajeng Fitriani
Rindu Ibu dan Setia Negaraku
Dan aku masih merindu
Ketika Bapak Indonesiaku mengadu
Menggeluti akal dengan krisisnya jiwamu
Berfikir untuk maju
Meski otak telah menjadi abu
Dan aku masih merindu
Ketika Presidenku dulu
Menyeberangkanku
Dari era demokrasi terpimpin
Menuju zaman orde baru
Dan aku masih merindu
Saat Bapak menyelimutiku
Menggenggam dan mendekap negaraku
Sembunyi dari mentari yang menyengatku
Sembunyi dari badai yang merapuhkanku
Dan aku masih merindu
Walaupun ku tak melihat dalam tatapan mataku
Aku tau semua yang kau tau
Dari saksi jiwa yng mengasihiku
Dari saksi mata yang membesarkanku
Oh bapak, daku masih merindumu
Rindu indonesiaku yang dulu
Meski ku tak pernah melihat dengan mata hatiku
Pun! Aku rindu ibuku
Yang menjadi saksi berkembangnya Indonesiaku
Yang menorehkan cerita masa lalu
Melalui tinta hitam di atas secarik kertas layu
Aku merindu setiaku
Jiwa ibu dan raga Indonesiaku
Jujur Tlah Dikubur
Ibupun ternganga
Tak menyangka
Hidup seberapakah kita di alam fana?
Mengapa tikus-tikus liar itu masih berdiri tegak disana?
Bagai pembantu yang menilap uang majikannya
Nampak kacang yang lupa kulitnya
Mengendap – endap mengambil jatah rakyat
Menilap rizki umat
Dan ibu masih termangu
Patahnya:
Dulu di era Rezim Soeharto
Kita tentram makmur, sejahtera selalu
Serasa angin di udara yang mengalun merdu
Berseok-seok bersama mentari yang mungil
Di bawah purnama yang rindang
Jauh dari masa ini
Tekanan dari pemerintah yang otoriter
Dan kondisi ekonomi yang krisis
Membuat tikus-tikus berkeliaran dimana-mana
Hukum tak membuat mereka jera
Bahkan tikus semakin merajalelara
Kebohongan dipelihara dan dibangga
Kejujuran sia-sia dikubur masa
Sungguh, ibu turut berduka
Indonesia tak lagi mengenal kita
Indonesiaku yang dulu, dimana?
Biodata
Nama : Wulan Ajeng Fitriani
Usia : 14 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Sekolah : MA NU Miftahul Falah Cendono Dawe Kudus
Alamat : Lau Dawe Kudus
Tempat/Tanggal Lahir :Kudus/18 Januari 1999
Roosetindaro Baracinta
- Percakapan dimulai hari ini
Setelah reformasi, korupsi merajalela. Kelaparan, kemiskinan semakin menjadi. Perebutan kekuasaan ada dimana-mana, Indonesia seakan hilang.NEGERI (YANG) HILANG Iinikah wajah Indonesia muram, pucat pasi bau anyir darah di setiap penjuru inikah tubuh Indonesia begitu dekil dan kotor sumpah serapah terdengar membahana inilah rakyat Indonesia yang mati sebelum ajal Tangerang, 17 Juni 2013NEGERI (YANG) HILANG IIibuku, ibu bumi menangis tanpa isak airmatanya merah, darah luka di sekujur tubuh sayatan pedih, hijau yang hilang ibuku, ibu bumi tiada kesempatan napas lagi asap-asap menyesakan keadilan yang mati ibuku, ibu bumi tanpa daya, tercerabut nyawa oleh elit berdasi luka di atas luka negeri yang hilang Tangerang, 12 Juli 2013HILANG DALAM SEBUAH ATLASkesombongan telah meruntuhkan sebuah kota sungai-sungai menghitam bumi penuh sampah aliran laju kendaraan tiada henti ini adalah kota yang hina bukan karena perempuan lacur yang tiap siang-malam menjajakan diri tapi, karena elit berdasi sang penguasa tak lagi peduli runtuh, mati adalah kota yang hilang tak ada lagi meskipun dalam sebuah atlas Depok, 12 September 2013LAPARpiring, sendok, garpu, gelas kosong, jatuh pyar Surabaya, Januari 2013SEORANG BOCAH BERTANYA TENTANG KORUPTORseperti rumput liar tercerabut akarnya masih tertinggal oleh matahari tumbuh lagi telah mendarah daging hanya kematian memisah di desa maupun kota di jalanan, pasar, kantor, sekolah, rumah sakit sampai instansi pemerintah merambah hingga terdalam begitu busuk menyengat bagai onggokan sampah hanya api yang bisa memusnahkan ya......kematian dan api Tangerang, 5 Juli 2013MONYET BERDASIaku lihat monyet berdasi di lembaga kita, memperebutkan pisang mereka berjingkrak kegirangan ketika kota menjadi ladang pisang Depok, 29 Mei 2013Diana Roosetindaro, lahir di Kartasura, 22 November 1969. Sejak kecil suka melukis dan menulis. Pernah bergabung di Sanggar Teater Gidag Gidig Surakarta (1986) dan Surya Sine Studio Jakarta (1989-1990). Tahun 1995, melakukan atraksi melukis dengan rambut yang disiram cat serta pameran lukisan secara tunggal bertajuk Cinta di THR Surabaya. Dalam tahun yang sama mengikuti lomba drama lima kota di Cak Doerasim Surabaya. Saat ini mulai menggeluti dunia puisi setelah tiga belas tahun tak dijamah. Yang menjadi obsesinya dapat berarti dan memberi arti bagi dunia seni. Beberapa puisinya tergabung pada antologi puisi bersama; Kartini masih disitukah kau? (April 2013), Mei Wulan (Mei 2013), Pancasila Mencinta (Agustus 2013), ketiganya diterbitkan Penerbit D3M Kail-Tangerang. Puisi Menolak Korupsi 2a dan 2b penerbit Forum Sastra Surakarta.Saat ini tinggal di toko subur jalan jendral akhmad yani 56 kartasura no hp. 083878874769 fotonya dapat diambil di profilku, kawan
Sabtu, 16 November 2013
Kerjamu sia-sia karya haryatiningsih
Haryatiningsih
Tadinya ibu senang
kalian bertambah dewasa
mau mengerti sesama
memahami alam
memperbaiki sejarah dusta
menangkap maling
memberi fakir
Namun setelah 10 tahun gonjang-ganjing
pepesan kosong karena dimakan kucing garong
tadinga ibu suka
kalian bekerja
akal sehatmu dipercaya
bajumu kotor bekas lembur
rambutmu rapih disisir jambul, memimpin rapat minggon
kalian memang bohong
kerjamu sia-sia
Cirebon 2010
Tadinya ibu senang
kalian bertambah dewasa
mau mengerti sesama
memahami alam
memperbaiki sejarah dusta
menangkap maling
memberi fakir
Namun setelah 10 tahun gonjang-ganjing
pepesan kosong karena dimakan kucing garong
tadinga ibu suka
kalian bekerja
akal sehatmu dipercaya
bajumu kotor bekas lembur
rambutmu rapih disisir jambul, memimpin rapat minggon
kalian memang bohong
kerjamu sia-sia
Cirebon 2010
Mereka Lupa Dikasih Uang Ibu karya Rofiah Ross
Rofiah Ross
Sejak anak-anak berteriak menuntut keadilan
berlarian di jalan
merusak lambang-lambang ketimpangan
menghancurkan gedung-gedung
membubarkan kelompok kapital
merubah aturan undang-undang kepentingan
Ternyata Indonesia dulu dan sekarang sama
tak ada merubah warna
tak ada merubah cuaca
tak ada tawa
lelucon belaka
guyon nasional
humor basi tadi malam
oleh pelawak-pelawak kawakan
Sejak anak-anak menikmati roti reformasi
mereka lupa ubi
sejak anak anak duduk manis di bangku kasir
mereka lupa dikasih uang ibu
jakarta 2013
Sejak anak-anak berteriak menuntut keadilan
berlarian di jalan
merusak lambang-lambang ketimpangan
menghancurkan gedung-gedung
membubarkan kelompok kapital
merubah aturan undang-undang kepentingan
Ternyata Indonesia dulu dan sekarang sama
tak ada merubah warna
tak ada merubah cuaca
tak ada tawa
lelucon belaka
guyon nasional
humor basi tadi malam
oleh pelawak-pelawak kawakan
Sejak anak-anak menikmati roti reformasi
mereka lupa ubi
sejak anak anak duduk manis di bangku kasir
mereka lupa dikasih uang ibu
jakarta 2013
Kalian Memang Sudah Mengalami Sengsara karya Ade Suryani
Ade Suryani
Ibu lupa nak
ibu sudah tua
dari dulu ibu sengsara
satu ibu yang suka
ibu terima dana kaum miskin dikala ibu tak memasak
namun kini tiada lagi
ia menyangka ibu sudah kaya
karena akan-anak pandai mencari harta
tak dapat ibu mengawasi mereka
harta apa si bungsu didapat
lalu si sulung membelikan ibu rumah di jalan berisik ramai
tambah penat ibu tinggal di sana
si penengah menjemput ibu dengan mobil baru
melihat sebuah bukit
hutan tanaman dibeli bulan kemarin
katanya akan dibangun rumah pesinggahan
ibu sudah lupa lagi
waktu anak-anak kecil
mencari kayu bakar
memanen padi milik orang
berjalan bertabur tangis
ibu lupa
kalian memang sudah mengalami sengsara
Karawang 2013
Ibu lupa nak
ibu sudah tua
dari dulu ibu sengsara
satu ibu yang suka
ibu terima dana kaum miskin dikala ibu tak memasak
namun kini tiada lagi
ia menyangka ibu sudah kaya
karena akan-anak pandai mencari harta
tak dapat ibu mengawasi mereka
harta apa si bungsu didapat
lalu si sulung membelikan ibu rumah di jalan berisik ramai
tambah penat ibu tinggal di sana
si penengah menjemput ibu dengan mobil baru
melihat sebuah bukit
hutan tanaman dibeli bulan kemarin
katanya akan dibangun rumah pesinggahan
ibu sudah lupa lagi
waktu anak-anak kecil
mencari kayu bakar
memanen padi milik orang
berjalan bertabur tangis
ibu lupa
kalian memang sudah mengalami sengsara
Karawang 2013
Minggu, 10 November 2013
DI BAWAH LANGIT REFORMASI karya Sus S Hardjono
Sus S Hardjono
PUISI REFORMASI
SAKSI BISU JEMBATRAN SEMANGGI
mereka yang tertembak mati
masih ingatkan tentang trisakti
Di bawah kepak Elang
Menyinggung langit ibumu
Airmatanya saksi bisu sebutir peluru
Bersarang di kepelamu
Demi kebebasan ataupun merdeka
Mimpi mimpi reformasi
Di bawah jembatan trisaksi
Mereka bersaksi atas nama bendera
Kini mengapa sibuk sendiri
Dalam tato tubuhmu penuh partai
Bulan dan bintang , matahari dan bumi
Sementara mereka pun tak peduli
Tetap menuliskan nurani di batas jiwa
Yang tak ingin kau kuasai
Dijajah bangsa sendiri
Cukong cukong dan kapitalisasi
Demi kursi dan kuasa itu
Kau pertaruhkan dalam kuburan sunyi
Mereka pahlawan tanpa nama
Prajurit yang tak bernama
Memanggul api reformasi
Sragen 2013-10-30
DI BAWAH LANGIT REFORMASI
Mereka merobek robek warna
Kulit dan kursi
Bicara untuk dealer dealer dan simpanan hari tua
Lupa pada kata pertama bagaimana mereka merebutnya
Kemerdekaan yang kau hirup kini
Pada warna benderamu
Di atas jembatan semanggi
Darah bersimbah
Tegar kokoh menaiki tiang
Dari jauh terdengar suara koor
Halo halo Bandung
Tetapi di sini telah bebas negeri kita
“mari bung rebut kembali !”
Jembatan Semanggi
Saksi bisu tumpah darah demi warna merah
Dan putih tulangmu
Masih ingatkah kau ?
Mengapa benderamu hanya untuk kaum dan golonganmu
Kursimu yang kau pertaruhkan ribuan nyawa itu
Ibumu bersaksi
Kau anak-anak yang tak ingkar janji
Inikah mimpi mimpi
Pahlawan tanpa nama dulu
Inikah kau yang mengangkat bedil dan mesiu
Dan mereka yang terkubur pelor di tanah bangsa sendiri
Serdadu telah pergi , penjajah reformasi beraksi
telah kembali
Tetapi mengapa masih dijajah kroni kroni
Kolusi , korupsi dan mengusir anak anak di bawah jembatan semanggi kini
Jangan sembunyi di apartemen mewah dan gedung tinggi
Kautimbun gading dagingkualitas tinggi
Lihatlah Bunda bersaksi
Otonomi mengatur hidup sendiri
Kutagih janjimu
desentralisasi yang dulukau sumpahi
Sragen , 2013-10-30
PUISI REFORMASI
SAKSI BISU JEMBATRAN SEMANGGI
mereka yang tertembak mati
masih ingatkan tentang trisakti
Di bawah kepak Elang
Menyinggung langit ibumu
Airmatanya saksi bisu sebutir peluru
Bersarang di kepelamu
Demi kebebasan ataupun merdeka
Mimpi mimpi reformasi
Di bawah jembatan trisaksi
Mereka bersaksi atas nama bendera
Kini mengapa sibuk sendiri
Dalam tato tubuhmu penuh partai
Bulan dan bintang , matahari dan bumi
Sementara mereka pun tak peduli
Tetap menuliskan nurani di batas jiwa
Yang tak ingin kau kuasai
Dijajah bangsa sendiri
Cukong cukong dan kapitalisasi
Demi kursi dan kuasa itu
Kau pertaruhkan dalam kuburan sunyi
Mereka pahlawan tanpa nama
Prajurit yang tak bernama
Memanggul api reformasi
Sragen 2013-10-30
DI BAWAH LANGIT REFORMASI
Mereka merobek robek warna
Kulit dan kursi
Bicara untuk dealer dealer dan simpanan hari tua
Lupa pada kata pertama bagaimana mereka merebutnya
Kemerdekaan yang kau hirup kini
Pada warna benderamu
Di atas jembatan semanggi
Darah bersimbah
Tegar kokoh menaiki tiang
Dari jauh terdengar suara koor
Halo halo Bandung
Tetapi di sini telah bebas negeri kita
“mari bung rebut kembali !”
Jembatan Semanggi
Saksi bisu tumpah darah demi warna merah
Dan putih tulangmu
Masih ingatkah kau ?
Mengapa benderamu hanya untuk kaum dan golonganmu
Kursimu yang kau pertaruhkan ribuan nyawa itu
Ibumu bersaksi
Kau anak-anak yang tak ingkar janji
Inikah mimpi mimpi
Pahlawan tanpa nama dulu
Inikah kau yang mengangkat bedil dan mesiu
Dan mereka yang terkubur pelor di tanah bangsa sendiri
Serdadu telah pergi , penjajah reformasi beraksi
telah kembali
Tetapi mengapa masih dijajah kroni kroni
Kolusi , korupsi dan mengusir anak anak di bawah jembatan semanggi kini
Jangan sembunyi di apartemen mewah dan gedung tinggi
Kautimbun gading dagingkualitas tinggi
Lihatlah Bunda bersaksi
Otonomi mengatur hidup sendiri
Kutagih janjimu
desentralisasi yang dulukau sumpahi
Sragen , 2013-10-30
BICARALAH NAK karya Ardi Susanti
Ardi Susanti
BICARALAH NAK
Bicaralah nak
Ketika hak-hak telah dikebiri
Ketidakadilan telah demikian meraja
Keangkaramurkaan telah menjadi alibi
Bicaralah nak
Ketika para penguasa sudah
semena-mena
Melukis nista didada
Mengukir bara di jiwa
Bicaralah nak
Ketika ketimpangan melanda langitmu
Menyesak melukai hati
Menggoreskan lara berkepanjangan
Bicaralah nak
Jangan biarkan mereka mengotori ruang kita
Dengan ambisi murahan yang meraja
Demi menggemukkan hasrat semata
Bicaralah nak
Lemparkan seluruh idealismu
Keluarkan semua orasimu
Teriakkan segala kegelisahanmu
Bicaralah nak
Biar mereka muntahkan apa yang telah tercuri
Dari pembohongan manis setiap hari
Dengan dalih mencerdaskan anak
negeri
Dengan alasan meningkatkan
kepandaian bermimpi
Bicaralah nak
Karena hati nurani telah terkikis
Oleh iming-iming kemewahan
Mereka berlomba meraup rupiah
Dari status sekolah elit gedongan
Dari bulir keringat kalian
Bicaralah nak
Karena janji sudah terlupakan
Kode etik bahkan terselip dilaci usang
Terlupakan oleh cicilan mobil kreditan
Tulungagung, 2011
AKU BERSENANDUNG
Aku bersenandung
Tentang gemulai bintang
Yang bersandar manja pada rembulan
Aku bersenandung
Tentang kerling genit kelelawar
Yang mencicipi keperawanan buah jambu
Aku bersenandung
Tentang hembus binal sang bayu
Yang menyetubuhi ranumnya dedaunan
Aku bersenandung
Tentang sebatang sepi
yang bermain dirumah hati
Tulungagung 2013
BICARALAH NAK
Bicaralah nak
Ketika hak-hak telah dikebiri
Ketidakadilan telah demikian meraja
Keangkaramurkaan telah menjadi alibi
Bicaralah nak
Ketika para penguasa sudah
semena-mena
Melukis nista didada
Mengukir bara di jiwa
Bicaralah nak
Ketika ketimpangan melanda langitmu
Menyesak melukai hati
Menggoreskan lara berkepanjangan
Bicaralah nak
Jangan biarkan mereka mengotori ruang kita
Dengan ambisi murahan yang meraja
Demi menggemukkan hasrat semata
Bicaralah nak
Lemparkan seluruh idealismu
Keluarkan semua orasimu
Teriakkan segala kegelisahanmu
Bicaralah nak
Biar mereka muntahkan apa yang telah tercuri
Dari pembohongan manis setiap hari
Dengan dalih mencerdaskan anak
negeri
Dengan alasan meningkatkan
kepandaian bermimpi
Bicaralah nak
Karena hati nurani telah terkikis
Oleh iming-iming kemewahan
Mereka berlomba meraup rupiah
Dari status sekolah elit gedongan
Dari bulir keringat kalian
Bicaralah nak
Karena janji sudah terlupakan
Kode etik bahkan terselip dilaci usang
Terlupakan oleh cicilan mobil kreditan
Tulungagung, 2011
AKU BERSENANDUNG
Aku bersenandung
Tentang gemulai bintang
Yang bersandar manja pada rembulan
Aku bersenandung
Tentang kerling genit kelelawar
Yang mencicipi keperawanan buah jambu
Aku bersenandung
Tentang hembus binal sang bayu
Yang menyetubuhi ranumnya dedaunan
Aku bersenandung
Tentang sebatang sepi
yang bermain dirumah hati
Tulungagung 2013
Kerjamu sia-sia karya Haryatiningsih
Haryatiningsih
Tadinya ibu senang
kalian bertambah dewasa
mau mengerti sesama
memahami alam
memperbaiki sejarah dusta
menangkap maling
memberi fakir
Namun setelah 10 tahun gonjang-ganjing
pepesan kosong karena dimakan kucing garong
tadinga ibu suka
kalian bekerja
akal sehatmu dipercaya
bajumu kotor bekas lembur
rambutmu rapih disisir jambul, memimpin rapat minggon
kalian memang bohong
kerjamu sis-sia
Cirebon 2010
Tadinya ibu senang
kalian bertambah dewasa
mau mengerti sesama
memahami alam
memperbaiki sejarah dusta
menangkap maling
memberi fakir
Namun setelah 10 tahun gonjang-ganjing
pepesan kosong karena dimakan kucing garong
tadinga ibu suka
kalian bekerja
akal sehatmu dipercaya
bajumu kotor bekas lembur
rambutmu rapih disisir jambul, memimpin rapat minggon
kalian memang bohong
kerjamu sis-sia
Cirebon 2010
Rabu, 06 November 2013
JAKARTA GELANGANG DEMONSTRASI
Berikut karya puisinya:
JAKARTA GELANGANG DEMONSTRASI
Karya : Sri Sunarti Jakarta, 2012
Jakarta Gelanggang Demonstrasi
Ibu kota wajah Indonesia
Demo wajah Jakarta
Ingat Jakarta ingat demonstrasi
Karena Jakarta Ibukota Wajah Indonesia
Hari ini gelanggang sepi tapi
besok Demontran ke gelanggang Jakarta
Hari ini polisi bisa minum kopi dan sarapan pagi
besok tak mungkin sikat gigi
karena langsung kegelanggang
Jakarta menjadi sarapan pagi
Jakarta wajah seribu wajah
Hari ini mungkin menonton tv bersama
besok tak ada tv
Jakarta menjadi tv siaran langsung
Gelanggang demonstran Indonesia
Jakarta kita milik demonstran.
Sri Sunarti, penyair/cerpenis Indonesia lahir di Bogor 4 Juni 1966. Menulis Puisi, Cerpen dan Novel. Puisi cerpen dipublikasikan di media massa nasional. Mendirikan sanggar sastra Kembang Kantil di Bogor.
Berikut karya puisinya:
Langganan:
Postingan (Atom)


