TEKS SULUH


Tampilkan postingan dengan label Saksi Ibu melihat Reformasi Puisi ibu di Hari ibu 22 desember 2013. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Saksi Ibu melihat Reformasi Puisi ibu di Hari ibu 22 desember 2013. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 Desember 2013

Wahyu Cipta: Membakar Sampah Mie Instan

Wahyu Cipta:
Membakar Sampah Mie Instan

Di tempat kami berdiri 
Ratusan pabrik dan ribuan orang Bekasi 
Menjadi ibu kost bagi buruh Indonesia
Lalu macet sore hari jelang mesin pabrik
berhenti
Di tempat kami berdiri corong pabrik berasap dan suara mesin
Yang dijaga satpam pembela majikan
Lalu kami melihat kesengsaraan buruh pabrik dengan keringat air mata
Memohon sewa kost ditunda
Karena gaji tak kunjung tiba
Dan mie instan mulai menipis
Di tempat kami berdiri
Berbondong-bondong manusia,
Teriak ribuan spanduk menutup papan nama jalan
Menuntut keadilan majikan
Di tempat kami berdiri
Corong pabrik menjulang dan asap tebal
Membakar sampah mie instan
Cikarang 2010


Wahyu Cipta, perempuan penyair asal Cikarang ini memulai menulis sejak anak-anak dan gemar membaca, menulis puisi untuk murid-muridnya yang dibacakannya di depan kelas, tinggal di Cikarang Bekasi.

Jumat, 06 Desember 2013

semua pamong pakai lencana karya hartati

Hartati

semua pamong pakai lencana 

kantor pemerintahanku
kursi tamu dan senyum satpam
panggilan meja satu
bertumpuk map menutupi daun meja kaca
perlu apa?
cepat aku tandatangani
kalau ibu cepat 
kami juga cepat
ibu menolak hanya sampai meja satu
dan kembali di ruang tunggu
kawan sesama langsung meja lima
keluar masuk dari pintu ruang tanpa panggilan 
pelayanan cepat selesai
ibu menunggu
masih ada pamong jujur di kantor ini
tapi dia cuti hari ini
Kantor pemerintahanku 
layar monitor di meja menyajikan data
hanya ada pesuruh 
maaf hari ini bapak dinas luar
besok pagi boleh ibu kembali
kantor pemerintahanku 
bendera berkibar 
paman nama berukuran besar
agar rakyat mudah menemukan
pelayanan semakin cepat
kalau ibu cepat
kantor pemerintahanku 
ada ramai dan sepi
ramai bukan banyak layanan
sepi bukan hari libur 
di kantor pemerintahan
semua pamong pakai lencana
meniru pucuk pimpinan

Rabu, 04 Desember 2013

Suatu hari di Kantor Pos Besar

Tasinah

Suatu hari di Kantor Pos Besar 

Hari ini perangko habis 
Kilat dan tercatat
Atau khusus kiriman luar negeri
Ada juga paket 
Per ons 
Senyum pagi salam satpam dipintu
Dan gaya pak pos mengetok stempel tanggal 
Kilat dan tercatat
Ribuan orang berkumpul di halaman 
Menerjang masuk kantor pos besar
Lalu melompat pagar 
Satu-satu mereka dipanggil , senyum si miskin dalam desakan
Kilat dan tercatat
Terik mulai membakar keringat
Apalagi panggilan belum kurun tiba
Haus menelan air liur belaka
Nama tak ada dalam data
Nenek-nenek itu pingsan seketika
Kilat dan tercatat
Kakek melompat pagar antrian 
Menyerbu petugas dalam kepanikan 
Per ons akan ditimbang
Untuk kiriman paket khusus reformasi kita
Lalu pak pos pun mengetok palu stempel dengan irama rock 
Memang hari ini perangko habis.

                                                                                                       Indramayu , 2008


Tasinah lahir di Indramayu 7 Oktober 1966, menulis puisi juga puisi anak , ceren anak. Sambil menjadi guru sekolah dasar di Indramayu.

Sabtu, 30 November 2013

Nieranita

Antologi Puisi " Ibu Indonesia"
_Puisi Untuk Anak Bangsa_ Oleh : Nieranita
Ketika aku menulis puisi ini Mungkin kau sedang bersemedi di dalam kaleng-kaleng soda, sedang bersembahyang di kolong-kolong jembatan Atau mungkin sedang pulas ditumpukan papan iklan Lantas siapa yang akan membaca sajak keluh kesah negeri ini ?
Ketika aku menulis puisi ini Kau mungkin sedang ketakutan

Menyaksikan kebakaran hutan, sedangkan di warung pojok sebakul nasi hanya diasapi puntung rokok Bahan bakar hanya membakar dada demonstran
Aku menulis puisi ini Mungkin kau sedang gelisah dalam kecemasan Ketika tiang listrik lebih tinggi daripada tiang bendera Merah putih menjadi warna hitam di limbah-limbah pabrik yang lupa jalan pulang


Aku menulis puisi ini Mungkin kau sedang terheran-heran Para pembesar memperbesar kuak saku mereka Gedung-gedung raksasa dihuni rakyat-rakyat sengsara Rumah-rumah kardus mendengus Oh Nak, aku takut puisiku hangus
Kuwait 3 November 2013


























Putri Akina

TERIAKAN LIRIH

Sengit mentari memancar di atas awan
Sepasang mata menyipit
Di tenggah arus kemacetaan jalan
Memantau derasnya keegoisan
Tak ada senyum hangat menyapa
Manusia menggila dengan hidupnya
Tercabik kenyamanan hidup

Berlinag air mata sang ibu
Malu lihat kebusungan dada para buntutnya
Wajah terpasang memelas
Di belakang seringai sinis  mulai Nampak
Menghina tanpa merajuk

Suara lirih menggema
Tak terima dengan apa yang didapatkan
Meminta supaya disanjung

Tap tak tahu apa arti  sanjungan itu..
TakHenti
Waktutakberhentiberdetak

Jumat, 29 November 2013

Mariyana Hanafi

Elegi kekosongan ibu

ibu menatap kosong
terdiam di depan kain yang masih berayun
dia mencari putranya
yang dulu sempat ditimang kebersahajaan
tapi kini,entah dimana

oh ibu,tak perlu menunggu anakmu
mungkin dia berpesta di geliat waktu
merayakan titik-titik kemenangan
atau sedang larut pada euphoria reformasi
sudahlah,lebih baik lelap saja pada malam yang masih setia menemanimu

ibu menatap kosong
hatinya pilu,lumpuh
tak lagi mampu mengenali anaknya
dia lupa cara disayangi tapi mampu mengasihi
meski kini keriput menghampirinya
oh ibu,senjamu kini menanti

Banjarmasin,29 November 2013








Ibu di balik rindu

nak,duduklah di sini
kita mengeja senja lagi,seperti dulu
ketika kau merangkak dan terus menatapku
seakan kau meminta restu untuk bergerak

nak, aku rindu memangkumu
menyenandungkan romantisme burung-burung
diantara lirih detak juang yang kau dendangkan
aku rindu kamu ,nak

kini aku tak lagi mengenalimu
mana senayan yang dulu kita agungkan,sayang?
aku melihatnya hingar bingar tanpa sepakat
inikah wajah reformasi yang kau banggakan?

nak, mendekatlah
aku ingin mengecupmu dengan hangat
dengan semangat yang dulu berkibar gagah
seperti kibar sang saka di ujung langit
kemarilah nak,ibu menunggumu

Banjarmasin,29 November 2013





Kamis, 28 November 2013

Wulan Ajeng Fitriani

Rindu Ibu dan Setia Negaraku

Dan aku masih merindu
Ketika Bapak Indonesiaku mengadu
Menggeluti akal dengan krisisnya jiwamu
Berfikir untuk maju
Meski otak telah menjadi abu

Dan aku masih merindu
Ketika Presidenku dulu
Menyeberangkanku
Dari era demokrasi terpimpin
Menuju zaman orde baru

Dan aku masih merindu
Saat Bapak menyelimutiku
Menggenggam dan mendekap negaraku
Sembunyi dari mentari yang menyengatku
Sembunyi dari badai yang merapuhkanku

Dan aku masih merindu
Walaupun ku tak melihat dalam tatapan mataku
Aku tau semua yang kau tau
Dari saksi jiwa yng mengasihiku
Dari saksi mata yang membesarkanku

Oh bapak, daku masih merindumu
Rindu indonesiaku yang dulu
Meski ku tak pernah melihat dengan mata hatiku
Pun! Aku rindu ibuku
Yang menjadi saksi berkembangnya Indonesiaku
Yang menorehkan cerita masa lalu
Melalui tinta hitam di atas secarik kertas  layu
Aku merindu setiaku
Jiwa ibu dan raga Indonesiaku







Jujur Tlah Dikubur

Ibupun ternganga
Tak menyangka
Hidup seberapakah kita di alam fana?
Mengapa tikus-tikus liar itu masih berdiri tegak disana?
Bagai pembantu yang menilap uang majikannya
Nampak kacang yang lupa kulitnya
Mengendap – endap mengambil jatah rakyat
Menilap rizki umat

Dan ibu masih termangu
Patahnya:
Dulu di era Rezim Soeharto
Kita tentram makmur, sejahtera selalu
Serasa angin di udara yang mengalun merdu
Berseok-seok bersama mentari yang mungil
Di bawah purnama yang rindang

Jauh dari masa ini
Tekanan dari pemerintah yang otoriter
Dan kondisi ekonomi yang krisis
Membuat tikus-tikus berkeliaran dimana-mana
Hukum tak membuat mereka jera
Bahkan tikus semakin merajalelara
Kebohongan dipelihara dan dibangga
Kejujuran sia-sia dikubur masa
Sungguh, ibu turut berduka
Indonesia tak lagi mengenal kita
Indonesiaku yang dulu, dimana?


Biodata
Nama                       : Wulan Ajeng Fitriani
Usia                         : 14 tahun
Jenis Kelamin           : Perempuan
Sekolah                    : MA NU Miftahul Falah Cendono Dawe Kudus
Alamat                     : Lau Dawe Kudus
Tempat/Tanggal Lahir :Kudus/18 Januari 1999

Roosetindaro Baracinta

  • Percakapan dimulai hari ini




  • Setelah reformasi, korupsi merajalela. Kelaparan, kemiskinan semakin menjadi. Perebutan kekuasaan ada dimana-mana, Indonesia seakan hilang.
    NEGERI (YANG) HILANG I
    inikah wajah Indonesia muram, pucat pasi bau anyir darah di setiap penjuru inikah tubuh Indonesia begitu dekil dan kotor sumpah serapah terdengar membahana inilah rakyat Indonesia yang mati sebelum ajal Tangerang, 17 Juni 2013
    NEGERI (YANG) HILANG II
    ibuku, ibu bumi menangis tanpa isak airmatanya merah, darah luka di sekujur tubuh sayatan pedih, hijau yang hilang ibuku, ibu bumi tiada kesempatan napas lagi asap-asap menyesakan keadilan yang mati ibuku, ibu bumi tanpa daya, tercerabut nyawa oleh elit berdasi luka di atas luka negeri yang hilang Tangerang, 12 Juli 2013
    HILANG DALAM SEBUAH ATLAS
    kesombongan telah meruntuhkan sebuah kota sungai-sungai menghitam bumi penuh sampah aliran laju kendaraan tiada henti ini adalah kota yang hina bukan karena perempuan lacur yang tiap siang-malam menjajakan diri tapi, karena elit berdasi sang penguasa tak lagi peduli runtuh, mati adalah kota yang hilang tak ada lagi meskipun dalam sebuah atlas Depok, 12 September 2013
    LAPAR
    piring, sendok, garpu, gelas kosong, jatuh pyar Surabaya, Januari 2013
    SEORANG BOCAH BERTANYA TENTANG KORUPTOR
    seperti rumput liar tercerabut akarnya masih tertinggal oleh matahari tumbuh lagi telah mendarah daging hanya kematian memisah di desa maupun kota di jalanan, pasar, kantor, sekolah, rumah sakit sampai instansi pemerintah merambah hingga terdalam begitu busuk menyengat bagai onggokan sampah hanya api yang bisa memusnahkan ya......kematian dan api Tangerang, 5 Juli 2013
    MONYET BERDASI
    aku lihat monyet berdasi di lembaga kita, memperebutkan pisang mereka berjingkrak kegirangan ketika kota menjadi ladang pisang Depok, 29 Mei 2013
    Diana Roosetindaro, lahir di Kartasura, 22 November 1969. Sejak kecil suka melukis dan menulis. Pernah bergabung di Sanggar Teater Gidag Gidig Surakarta (1986) dan Surya Sine Studio Jakarta (1989-1990). Tahun 1995, melakukan atraksi melukis dengan rambut yang disiram cat serta pameran lukisan secara tunggal bertajuk Cinta di THR Surabaya. Dalam tahun yang sama mengikuti lomba drama lima kota di Cak Doerasim Surabaya. Saat ini mulai menggeluti dunia puisi setelah tiga belas tahun tak dijamah. Yang menjadi obsesinya dapat berarti dan memberi arti bagi dunia seni. Beberapa puisinya tergabung pada antologi puisi bersama; Kartini masih disitukah kau? (April 2013), Mei Wulan (Mei 2013), Pancasila Mencinta (Agustus 2013), ketiganya diterbitkan Penerbit D3M Kail-Tangerang. Puisi Menolak Korupsi 2a dan 2b penerbit Forum Sastra Surakarta.
    Saat ini tinggal di toko subur jalan jendral akhmad yani 56 kartasura no hp. 083878874769 fotonya dapat diambil di profilku, kawan

Sabtu, 16 November 2013

Kerjamu sia-sia karya haryatiningsih

Haryatiningsih

Tadinya ibu senang
kalian bertambah dewasa
mau mengerti sesama
memahami alam
memperbaiki sejarah dusta
menangkap maling
memberi fakir
Namun setelah 10 tahun gonjang-ganjing
pepesan kosong karena dimakan kucing garong
tadinga ibu suka
kalian bekerja
akal sehatmu dipercaya
bajumu kotor bekas lembur
rambutmu rapih disisir jambul, memimpin rapat minggon
kalian memang bohong
kerjamu sia-sia
Cirebon 2010

Mereka Lupa Dikasih Uang Ibu karya Rofiah Ross

Rofiah Ross

Sejak anak-anak berteriak menuntut keadilan
berlarian di jalan
merusak lambang-lambang ketimpangan
menghancurkan gedung-gedung
membubarkan kelompok kapital
merubah aturan undang-undang kepentingan
Ternyata Indonesia dulu dan sekarang sama
tak ada merubah warna
tak ada merubah cuaca
tak ada tawa
lelucon belaka
guyon nasional
humor basi tadi malam
oleh pelawak-pelawak kawakan
Sejak anak-anak menikmati roti reformasi
mereka lupa ubi
sejak anak anak duduk manis di bangku kasir
mereka lupa dikasih uang ibu
jakarta 2013

Kalian Memang Sudah Mengalami Sengsara karya Ade Suryani

Ade Suryani 

Ibu lupa nak
ibu sudah tua
dari dulu ibu sengsara
satu ibu yang suka
ibu terima dana kaum miskin dikala ibu tak memasak
namun kini tiada lagi
ia menyangka ibu sudah kaya
karena akan-anak pandai mencari harta
tak dapat ibu mengawasi mereka
harta apa si bungsu didapat
lalu si sulung membelikan ibu rumah di jalan berisik ramai
tambah penat ibu tinggal di sana
si penengah menjemput ibu dengan mobil baru
melihat sebuah bukit
hutan tanaman dibeli bulan kemarin
katanya akan dibangun rumah pesinggahan
ibu sudah lupa lagi
waktu anak-anak kecil
mencari kayu bakar
memanen padi milik orang
berjalan bertabur tangis
ibu lupa
kalian memang sudah mengalami sengsara

Karawang 2013

Minggu, 10 November 2013

DI BAWAH LANGIT REFORMASI karya Sus S Hardjono

Sus S Hardjono

PUISI REFORMASI

SAKSI BISU JEMBATRAN SEMANGGI

mereka yang tertembak mati
masih ingatkan tentang trisakti

Di bawah kepak Elang 
Menyinggung langit ibumu
Airmatanya saksi bisu sebutir peluru
Bersarang di kepelamu

Demi kebebasan ataupun merdeka
Mimpi mimpi reformasi
Di bawah jembatan trisaksi
Mereka bersaksi atas nama bendera 

Kini mengapa sibuk sendiri
Dalam tato tubuhmu penuh partai 
Bulan dan bintang , matahari dan bumi
Sementara mereka pun tak peduli

Tetap menuliskan nurani di batas jiwa
Yang tak ingin kau kuasai 
Dijajah bangsa sendiri
Cukong cukong dan kapitalisasi

Demi kursi dan kuasa itu
Kau pertaruhkan dalam kuburan sunyi
Mereka pahlawan tanpa nama
Prajurit yang tak bernama
Memanggul api reformasi

Sragen 2013-10-30

DI BAWAH LANGIT REFORMASI 

Mereka merobek robek warna 
Kulit dan kursi
Bicara untuk dealer dealer dan simpanan hari tua

Lupa pada kata pertama bagaimana mereka merebutnya
Kemerdekaan yang kau hirup kini

Pada warna benderamu
Di atas jembatan semanggi
Darah bersimbah

Tegar kokoh menaiki tiang
Dari jauh terdengar suara koor 
Halo halo Bandung 
Tetapi di sini telah bebas negeri kita 
“mari bung rebut kembali !”

Jembatan Semanggi
Saksi bisu tumpah darah demi warna merah
Dan putih tulangmu
Masih ingatkah kau ?

Mengapa benderamu hanya untuk kaum dan golonganmu
Kursimu yang kau pertaruhkan ribuan nyawa itu

Ibumu bersaksi 
Kau anak-anak yang tak ingkar janji 

Inikah mimpi mimpi 
Pahlawan tanpa nama dulu
Inikah kau yang mengangkat bedil dan mesiu
Dan mereka yang terkubur pelor di tanah bangsa sendiri

Serdadu telah pergi , penjajah reformasi beraksi 
telah kembali
Tetapi mengapa masih dijajah kroni kroni
Kolusi , korupsi dan mengusir anak anak di bawah jembatan semanggi kini
Jangan sembunyi di apartemen mewah dan gedung tinggi
Kautimbun gading dagingkualitas tinggi
Lihatlah Bunda bersaksi
Otonomi mengatur hidup sendiri
Kutagih janjimu 
desentralisasi yang dulukau sumpahi 

Sragen , 2013-10-30

BICARALAH NAK karya Ardi Susanti

Ardi Susanti

BICARALAH NAK

Bicaralah nak
Ketika hak-hak telah dikebiri
Ketidakadilan telah demikian meraja
Keangkaramurkaan telah menjadi alibi

Bicaralah nak
Ketika para penguasa sudah
semena-mena
Melukis nista didada 
Mengukir bara di jiwa 

Bicaralah nak
Ketika ketimpangan melanda langitmu
Menyesak melukai hati 
Menggoreskan lara berkepanjangan

Bicaralah nak
Jangan biarkan mereka mengotori ruang kita
Dengan ambisi murahan yang meraja
Demi menggemukkan hasrat semata

Bicaralah nak
Lemparkan seluruh idealismu
Keluarkan semua orasimu
Teriakkan segala kegelisahanmu

Bicaralah nak
Biar mereka muntahkan apa yang telah tercuri
Dari pembohongan manis setiap hari
Dengan dalih mencerdaskan anak 
negeri
Dengan alasan meningkatkan
kepandaian bermimpi

Bicaralah nak
Karena hati nurani telah terkikis
Oleh iming-iming kemewahan
Mereka berlomba meraup rupiah
Dari status sekolah elit gedongan
Dari bulir keringat kalian

Bicaralah nak
Karena janji sudah terlupakan
Kode etik bahkan terselip dilaci usang
Terlupakan oleh cicilan mobil kreditan

Tulungagung, 2011 
AKU BERSENANDUNG

Aku bersenandung
Tentang gemulai bintang
Yang bersandar manja pada rembulan

Aku bersenandung
Tentang kerling genit kelelawar
Yang mencicipi keperawanan buah jambu

Aku bersenandung
Tentang hembus binal sang bayu
Yang menyetubuhi ranumnya dedaunan

Aku bersenandung
Tentang sebatang sepi 
yang bermain dirumah hati

Tulungagung 2013

Kerjamu sia-sia karya Haryatiningsih

Haryatiningsih

Tadinya ibu senang
kalian bertambah dewasa
mau mengerti sesama
memahami alam 
memperbaiki sejarah dusta
menangkap maling
memberi fakir
Namun setelah 10 tahun gonjang-ganjing
pepesan kosong karena dimakan kucing garong
tadinga ibu suka 
kalian bekerja
akal sehatmu dipercaya
bajumu kotor bekas lembur
rambutmu rapih disisir jambul, memimpin rapat minggon
kalian memang bohong
kerjamu sis-sia

Cirebon 2010

Rabu, 06 November 2013

JAKARTA GELANGANG DEMONSTRASI


Sri Sunarti, penyair/cerpenis Indonesia lahir di Bogor 4 Juni 1966. Menulis Puisi, Cerpen dan Novel. Puisi cerpen dipublikasikan di media massa nasional. Mendirikan sanggar sastra Kembang Kantil di Bogor.
Berikut karya puisinya:





JAKARTA GELANGANG DEMONSTRASI

Karya : Sri Sunarti Jakarta, 2012

Jakarta Gelanggang Demonstrasi

Ibu kota wajah Indonesia
Demo wajah Jakarta
Ingat Jakarta ingat demonstrasi
Karena Jakarta Ibukota Wajah Indonesia
Hari ini gelanggang sepi tapi
besok Demontran ke gelanggang Jakarta
Hari ini polisi bisa minum kopi dan sarapan pagi
besok tak mungkin sikat gigi
karena langsung kegelanggang
Jakarta menjadi sarapan pagi
Jakarta wajah seribu wajah
Hari ini mungkin menonton tv bersama
besok tak ada tv
Jakarta menjadi tv siaran langsung
Gelanggang demonstran Indonesia
Jakarta kita milik demonstran.


Sri Sunarti, penyair/cerpenis Indonesia lahir di Bogor 4 Juni 1966. Menulis Puisi, Cerpen dan Novel. Puisi cerpen dipublikasikan di media massa nasional. Mendirikan sanggar sastra Kembang Kantil di Bogor.

Berikut karya puisinya: