TEKS SULUH


Tampilkan postingan dengan label ulasan puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ulasan puisi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 02 November 2021

Ulasan Puisi: "Pertemuan dengan Widji Thukul" karya Rg Bagus Warsono

 Komentar Ulasan Puisi 

Rg Bagus Warsono


"Pertemuan dengan Widji Thukul"


Dalam keremangan malam

Bulan redup sesekali tertutup mendung

Dalam teras pecinan

dengan pintu-pintu tergembok

Hai penyair katanya padaku

Dia menutup muka dengan jaketnya kumal dingin

Kretek dan kopi dingin

Menatap aku pada si kerempeng itu

akankah kopi belum terbayar

Lalu aku berjabat tangan

merdeka katanya lirih

ya aku dialam merdeka sekarang

aku juga bebas membuat puisi

lalu dia menunjuk tukang kopi

dan kami minum di kedinginan

Sajakku mahal katanya lirih

ah aku sangat murah bahkan tak laku dijual

kau salah katanya

juga yang lain bodoh

kenapa?

banyak penyair setengah penyair

Hah?

Tapi kau tidak , sambil menepuk pundak

lalu ia menutup wajahnya dengan jaketnya lagi dan kopi malam sisa ampasnya.

Jogyakarta, 5 Januari 2019.

1. Mawar Merah : Di mana keberadaan Widji Thukul dan bagaimana kelanjutan kasusnya masih merupakan misteri yang belum terpecahkan. Terasa masih ada kekuatan besar yang menghalangi pengungkapan raibnya raga sang penyair. Meski jiwanya telah ditukar dengan sebuah kebebasan, dua puluh tahun lebih merupakan waktu yang panjang untuk menyia-nyiakan kesempatan, termasuk dalam mengungkap misteri sang raga. Bangkitlah wahai kawan-kawan penyair, jangan bodoh, tunjukkan jiwa kepenyairanmu. Jangan jadi penyair yang tanggung, bangkit dan gaungkan terus semangat juangmu untuk menegakkan keadilan dan kebenaran, sebelum sang waktu benar-benar berlalu.

2.Muhammad Jayadi : Penyair sejati, tentunya yang tak bisa dikekang, menulis dengan nafas jati dirinya. Menuliskan hal yang terkandung dalam nuraninya, dan merdeka jiwanya dari segala perbudakan dan tekanan. Dan rela berkorban demi apa yang ia cita-citakan. Ia adalah gelombang yang besar, ia adalah api yang membakar, ia adalah nadi hidup yang berdegup.

3.Nurhayati : Dalam raga utuh rapuh, Tuhan tiupkan ruh, padanya dimampukan dua pilihanBak saudara kembar saling berkelakar bertengkarDarinya karya kan terciptaBebas merdeka, sah-sah sajaBukankah Tuhan sendiri yang telah menitipkan kepercayaanEntah nanti kan sampai pada rasa atau mandek menjadi segumpal sampah, semesta tetap merekamnya

4. Elly Azizah : Semua orang merasa penyair, cuma bunda yang menulis sesuai selera, senang mendayu menghibur diri lagi terpuruk, Alhamdulillah ada yg suka baca. Dulu bunda suka nulis sembarang tempat, kadang-kadang hanya di kepala saja, kalau sdh begitu bapak ambilkan buku dan tak pernah mau berkomentar buatlah sesuai dg hati nurani ibu, jangan dirobah menurut bapak itu kata bapak tidak asli ibu lagi.

5.Arya Arizona : ingat kopi...aku ingat sebuah malam di jogja bersama seorang seniman di sebuah angkringan di dekat jl janti jogja....sebuah malam yang dingin ngobrol,nyanyi bareng tanpa gitar....ah..sekarang engkau dimana....akupun dimana...jauh tak bersua

6.Sardan Sarjito : Saya setuju dengan pesan sublimnya. Memang uang dan harta tak bisa menginspirasi manusia. Syair bisa. Dan inspirasi dapat merubah dunia, termasuk harta.Duit tak bisa menghasilkan karya. Tapi karya mampu menghasilkan bukan saja harta, tapi juga peradaban.Revolusi adalah mencipta!..Dalam kamar sederhanaAku memetik gitarKupikir laguku merduDia duduk di hadapankuMeminjam gitar dan memainkannya dengan caranyaAku baru tahu jika punggung gitar bisa lebih mengusikku ketimbang getar dawaiDengan lidahnya yang kelu dia bernyanyi tentang tikar plastik dan tikar pandanYa Tuhan, ini zikir tentang penindasan.Syair laguku berontokan bagai sampah di hadapannya.Syair mahal itu setara dengan keamanan negara...

7Erndra Achaer:.Banyak penyair setengah penyair.Aah ... aku bahkan belum penyair. Tapi merasa merdeka menulis puisi, berangkat dari bisikan hati, yang entah apa juga sudah puisi. Meski racikanku tak senikmat kopi, berharap semoga tidaklah menyakiti.

8. Dyah Nkusumah : Apa hendak dikata? Keremangan malam, bulan enggan memberi penghiburan, benteng-benteng semakin tinggi, puisiku cuma pelega rasa, coretan tiada hadirkan berlian, ahhh halu kali, bayar kopi pun entahlah. Ceceran tinta yang terbeli dengan rupiah, adakah berharap bisa mendatangkan hepeng?Biarlah, sepanjang apa bila direntang berharga atau tidak, nyatanya banyak yang tetap berjalan dalam pilihan gila ini. Tengok, dari nama-nama besar, setengah jadi, hingga bayi-bayi penyair, hari-hari menghiasi layar biru? Lupa mandi, cukup ngopi, bangga jadi penyair setengah jadi, atau bahkan seperdelapan jadi.Daripada limbung turut zaman tiada juntrung, ahhh penyair setengah jadi, tak masalah, kucel kini, hampa arti jauh dari materi, siapa tahu, pilihan diri, kucel-kucel tapi dikangeni, karya yang setengah jadi, magel-magel bikin kemekel, kopi menyambangi, walau dalam mimpi.

9.Vika O : 'Aku juga bebas membuat puisi'Selain bebas membuat puisi, tapi dengan berpuisi juga aku dapat bebas. Mengekspresikan diri dengan jiwa-jiwa penuh kobaran api. Ah, entahlah, puisi benar-benar memabukkan.'Ah aku sangat murah bahkan tak laku dijual'Kalau aku akan terlebih dahulu menjual pada diriku sendiri, sebab aku lah orang yang akan terlebih dahulu mencicipi.'Kau salah katanyajuga yang lain bodoh'Betul, jangan selalu menghakimi diri sendiri, berpikir positif dan memiliki pandangan ke depan. Kita selalu memiliki sisi kelebihan dan kekurangan.Maafkan, Kak, kalau ada salah kata, saya bukan apa-apa.

10.Uyan Andud: Banyak penyair setengah penyair ' pengambaran seorang penyair tidak berani mengungkapkan kebenaran secara utuh sebagaimana masa Widji Thukul. Dampaknya tergambar dalam kopi yang terasa dingin kurang mantap '

11.Tarni Kasanprawiro : "Sajakku mahal" ya tentu karena sajakmu dibayar dengan nyawa sedangkan puisiku tak bernyawa  tak ada apa-apanya.

Selasa, 20 Februari 2018

Berbuat jujur itu sulit

Berbuat jujur itu sulit

Sebagai seorang penyair sekaligus kurator di HMGM, aku berbuat jujur atas karya-karya Denny JA. Ia memang seorang penyair. Aku tak membencinya bahkan memuji puisi-puisinya . Tetapi bukan genre puisi esai yang diributkan, Buktinya salah satu puisinya sangat bagus. Ia menulis puisi mementum seorang tokoh dan menulisnya pada hari itu juga . Maka aku tak segan menulisnya ia memang seorang penyair. Ini puisinya:
Kepada Buyung Nasution
Karya Denny JA

Bung, bukan kepergianmu benar yang membuat kami sedih, karena semangat juangmu tetap hidup bersama kami
Bukan kepergianmu benar yang membuat kami terpaku, karena gagasanmu dan gagasan kami sudah menyatu
Kami sedih karena negeri yang kau tinggalkan belum sepenuhnya tercerahkan
Kami sedih karena korupsi masih meraja lela, diskriminasi masih kentara, kemiskinan masih banyak di desa dan di kota
Sementara banyak lembaga negara masih tak amanah mengelola kuasa
Demikianlah para aktivis berpidato mengenang si Abang yang hero, sementara Nina duduk termangu, baginya di Abang bukan semua itu
Baginya, si Abang adalah guru yang membimbingnya selalu sejak ia masih lugu hingga kini ia tumbuh sebagai suhu
Dari si Abang ia belajar berani bersuara, dari si Abang ia belajar berpihak
Nina terus memandang wajah si Abang yang sudah kaku terdiam sambil dibisikkannya salam "Selamat jalan Bang Buyung, kami teruskan perjuanganmu yang belum selesai".

Kamis, 08 Februari 2018

pandai memilih kata bagus

Mari kita apresiasi puisi karya MI Firdaus, Bahasa puisi memang sebebas-bebasnya, sepintas maksud puisi adalah penyampaian pesan dari penciptanya. Nyata puisi dapat sebagai ungkapan hati dengan segala perasaannya (kerinduan, unek-unek, curahan hati, angan-anangan, cita, cita-cinta, cinta, nasehat dan lain sebagainya). Dalam puisi ini MI Firdaus lebih menandai ungkapan hati untuk dipesankan pada pembaca (bila mungkin terdapat kesamaan) Detik Waktu adalah detak Jantungku, bila mungkin pembaca menyadari isi dalam apresiasinya maka tercapailah apa maksud MI Firdaus. Di sisi pilihan kata penyair Indonesia tanpa 'pemberontakan bahasa pengunaannya adalah wajar dengan pilihan bahasa yang lazim digunakan. Diawal puisi sebetulnya MI Firdaus telah apik berbahasa seperti "Masih berbunyi meski mulai ragu tik tok tik tok . M I Firdaus sebetulnya telah pandai memilih kata bagus untuk memulai puisi ini,namun selanjutnya tampak datar iramanya, Sungguhpun demikian tak ada kritikus seberani aku ini menganalisa tetapi sesungguhnya MI Firdaus telah berhasil mengungkap isi hatinya tetang waktu bagi dirinya. Mari kita simak puisi itu : DETIK WAKTU ADALAH DETAK JANTUNGKU karya : M I Firdaus Detik waktu adalah detak jantungku. Masih berbunyi meski mulai ragu "Tik tok tik tok". Aku susuri jalan kelabu, bunyi itu temaniku. Langkah demi langkahku mulai tersedu ini kalbu. Mataku kaku, badan terpaku. Lihat jalan melika-liku di sisi jalan layu semua mawarku tinggal berjejer belukar dari bibit lakuku. Dan jalanku melahirkan banyak lubang-lubang baru. Detik waktu adalah detak jantungku Ia berbisik padaku: Tiada kau tanpa aku, mandirilah, perbaiki jalan ini, maka akan mudah kita lewat dan berlalu. Di ujung jalan adalah keabadian tanpa sendu, jangan sampai aku berhenti, dan jalan ini jadi buntu. Detik waktu adalah detak jantungku. Bogor, 07 Februari 2018

Puisi panjang tapi penek puisi pendek tapi panjang.

Puisi panjang tapi penek puisi pendek tapi panjang. Adalah Fitalis Koten penyair muda berbakat yang kali ini mengimbox puisinya untuk dicermati. Ada sesuatu yang menggelitik untuk disimak bahwa mencipta puisi itu gampang-gampang susah. Adalah bagaimana memulai menuliskan baris pertama. Agaknya keberanian perlu dipuji bahwa untuk menulis mulailah dari kata apa saja. Vitalis Koten termasuk kedalam apa yang disebutkan itu. Ia tampa ragu memulainya sekehendah apa ungkapan hati, pikir, dan jari-jarinya. Jiwa ini agaknya telah mengantarkan pikir menjadi bait-bait puisi. Sebetulnya dalam puisi Syukur Terbatas karya Vitalis Koten ini cukup bernas. Dan dalam tolok ukur bobot puisi tentu padat. Namun sedikit perlu pembenahan untuk materi kata yang tak perlu diungkap seperti pada baris pertama "Aku tidak tahu caranya mentari membakar langit hingga kemerahan" sebuah baris yang cukup panjang. Bagaimana jika kata 'çaranya,'yang, dan hingga tak perlu ditulis dalam baris pertama? Sehingga barisnya lebih puitis. Namun menulis adalah hak penulisnya, tetapi kritik kadang perlu untuk mengukur perasaan agar semakin teruji. Juga pada baris-baris lain. Namun juga Vitalis Koten perlu mendapat apresiasi tinggi , idenya terasa cemerlang, memuji dan bersyukur pada Tuhan dalam goresan puisi yang hebat. Selamat. Berikut Puisinya: SYUKURKU TERBATAS. . Aku tidak tahu caranya menghargai mentari yang membakar langit hingga kemerahan Aku tidak tahu caranya mencium wangi hujan yang membasahi bumi Aku lupa bahwa bintang pun bernyawa, hutan pun bernapas, dan kita diciptakan untuk melakukan hal-hal yang lebih besar dari sekadar rutinitas harian Aku tidak paham dimana indahnya kalimat yang termaktub dalam larik-larik puisi Bukankah itu repetisi membosankan? Aku juga lupa caranya menjadi manusia Mengapa Engkau ciptakan aku hampir setara dengan-Mu? Siapakah aku sehingga Engkau perhatikan? Memang syukurku terbatas Namun, kemudian Engkau datang Dengan cara termanis, Engkau memintaku untuk merasakan dan mensyukuri segala hal yang cepat atau lambat akan berakhir Engkau juga mengingatkanku bahwa senja pernah menjadi bait puisi dan hujan mengantarkan kerinduan Tuhan. . . Mungkin syukurku akan kukuak dalam jalur hayatku Puncak Scalabrini, 15 Oktober 2017.

Selasa, 09 Februari 2016

Nunung Noor El Niel berkisah lewat puisi PIE SUSU

RgBagus Warsono : Ada banyak penyair Bali, namun mereka tak melirik tema Bali itu sendiri malah justru mereka merekam peristiwa di luar Bali. Padahal banyak hal dari Bali yang telah populair ke manca dan perlu diangkat ke permukaan agar lebih merasa memiliki. Seperti Pie Susu -nya Mbak Nunung Noor El Niel berkisah. Bagaimana tradisi Bali kini mulai digerigiti budaya modern. Seperti Pie Susu itu.

PIE SUSU  karya Nunung Noor El Niel

perempuan yang menjunjung batu di atas kepala
lelaki yang menyelipkan bunga di telinga
menyajikan sebuah upacara di antara kepulan dupa
mengalirkan arak di sepanjang jalan tradisi
gamelan yang ditabuh di seluruh banjar
seperti ombak pantai selatan memanggil seluruh ruh
untuk meriapkan seluruh gairah purba
hanya membuatku terdampar di sepanjang pantai kuta
mengangkangi matahari seperti turis dengan tubuh telanjang
di seluruh cafe aku hanya mendengar orang-orang
berkisah dari negeri-negeri yang jauh
mencari dewa-dewa yang hilang dari peradaban
tapi hanya dapat mengunyah pei susu
untuk disajikan dalam sebuah kenangan dari ingatan
seperti para perempuan pemanggul sajen di atas kepala
dan para lelaki yang menabuh-nabuh tubuh di dada terbuka
aku meniti jalan yang sama tanpa pernah tahu
apakah aku telah menjelma dewi seluruh impian
atau mungkin leak di ujung gaun yang terbuka
selebihnya, aku hanya dapat menyajikan sebuah pei susu
di antara dupa asap rokok yang mengepul
dengan secangkir kopi
meskipun hanya untuk menjadi turis bagi diriku sendiri
untuk melunasi semua impian yang tertunda

Denpasar 09 02 2016 -

ilustrasi from google
Note:
Pie Susu : makanan kecil oleh-oleh khas Bali




Sabtu, 22 Agustus 2015

Taufik Ismail pandai menjual puisi.

Taufik Ismail pandai menjual puisi. Mari kita perhatikan puisi karya Taufik ini yang berjudul Kita Adalah Pemilik Sah Republik Ini. Judul yang tampak gagah dengan penggunaan kata-kata yang tegas 'Adalah, 'Pemilik, 'Sah dan juga penggunaan kata 'Republik pada saat 1966 itu memang lagi ngetrend.
Judul ini seakan membuat kita pernah diberi pertayaan, setidaklnya : masihkah kita diaku sebagai pemilik republik ini, atau : apakah yang punya republik ini orang-orang tertentu saja? , (rg bagus warsono 23-8-2015) yuk kita simak puisinya :
Kita Adalah Pemilik Sah Republik Ini
Karya Taufik Ismail.
Tidak ada pilihan lain
Kita harus
Berjalan terus
Karena berhenti atau mundur
Berarti hancur
Apakah akan kita jual keyakinan kita
Dalam pengabdian tanpa harga
Akan maukah kita duduk satu meja
Dengan para pembunuh tahun yang lalu
Dalam setiap kalimat yang berakhiran
“Duli Tuanku ?”
Tidak ada lagi pilihan lain
Kita harus
Berjalan terus
Kita adalah manusia bermata sayu, yang di tepi jalan
Mengacungkan tangan untuk oplet dan bus yang penuh
Kita adalah berpuluh juta yang bertahun hidup sengsara
Dipukul banjir, gunung api, kutuk dan hama
Dan bertanya-tanya inikah yang namanya merdeka
Kita yang tidak punya kepentingan dengan seribu slogan
Dan seribu pengeras suara yang hampa suara
Tidak ada lagi pilihan lain
Kita harus
Berjalan terus.
1966

Kepiawaian Chairil dalam Mencipta

Demikian Chairil menjadi Prajurit Jaga Malam, Chairil tak bicara rokok atau kopi penahan kantuk, tak bicara nyamuk , kelelawar ddan embun dini hari. Chairil pandai menjadi puisi, menjadi dirinya seorang prajurit jaga malam, menusuk pikiran si penjaga malam, dan bersembunyi di hati dalam dada prajurit jaga malam. Chairil memang jempolan. (rg bagus warsono 23-8-15)
berikut puisinya:

PRAJURIT JAGA MALAM
karya Chairil Anwar
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu ?
Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras,
bermata tajam
Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya
kepastian ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini
Aku suka pada mereka yang berani hidup
Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam
Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu!