TEKS SULUH


Minggu, 29 Agustus 2021

"Kirab" kumpulan puisi karya Mas Bambang Widi Yogyakarta

 "Kirab" kumpulan puisi karya Bambang Widi Yogyakarta. Buku sastra apik dengan puisi-puisi berbobot. Mas Bambang Widiatmoko memang penulis yang tak pernah berhenti sejak muda. Ia termasuk penyair Sastra Koran sejak tahun 80-an dan Lumbung Puisi menyimpan banyak klipping sastra koran itu. Kirab diterbitkan oleh penerbit Interlude Yogyakarta pada Agustus 2021 yg merupakan cetakan pertama, dengan ISBN 978-623-6470-02-2, terdiri dari 58 puisi terbaru karyanya menyusul beberapa antologi yang sudah diterbitkan. Kirab akan  ditampilkan di literanesia.com malam ini. Selamat buat Mas Bambang Widiatmoko.



Sabtu, 28 Agustus 2021

KESABARAN MEMBUAHKAN KEBERHASILAN oleh Rg Bagus Warsonio

 KESABARAN MEMBUAHKAN KEBERHASILAN

Menjadi Penyair mengalami liku-liku perjalanannya tersendiri pada setiap jiwa-jiwa penyair. Menjadi penyair adalah panggilan hati, tetapi tak seindah yang dibayangkan, tak mudah yang diharapkan.

Khusus di Indonesia penyair dikebiri oleh hal pembaca, meski produk banyak tetapi pembaca belum maksimal sehingga harapan memetik diri sebagai penyair amatlah sulit.

Demikian penyair dengan kesabarannya dan ketekunannya (adalah proses panjang) akan dapat memetik keberhasilan. Karya lambat laun semakin bermutu dan apik sebagai seni. Nama pun kemudian terpahat dengan ukiran yang indah. Meski dalam hal vinansial provesi ini jauh dari harapoan namun berkat ketekunan dan kesabaran akan dipetik keberhasilan sebagai sastrawan Indonesia yang tercatat dalam sejarah karena karyanya yang bermutu dan banyak dibaca masyarakat. (rg Bagus Warsono 28-8-2021)

Mempertanggungjawabkan Bahwa Seseorang Adalah Sastrawan Sabut Mengenal Puisi Modern II

 Memberi pertanggungjawaban pada publik bahwa seseorang adalah Sastrawan tidak hanya membuat daftar, memuatnya dalam antologi bersama, atau keterlibatannya dalam suatu peristiwa, tetapi yg lebih penting adalah mempertanggungjawabkannya dengan menunjukan karya bermutu dengan kritik dan telaah sebagai dasar seseorang adalah penyair.

Penyair adalah penulis sastra dengan jiwa seni yang tersendiri. Masing-masing kadang tak wajar dipandang dari kebiasaan . Ada saja penampilan beda pada dirinya dengan orang lain. Hingga terdapat penyair yang tak muncul gambarnya tetapi karyanya berserakan. Jadi pertanggungjawaban menyatakan seseorang adalah penyair bukan grafik kemunculannya tetapi atas karya bermutu. Kurator yang baik tidak melihat seseorang itu telah dikenal atau dikenal dalam wilayah lokal, regional atau nasional. Pandangan kepopulairan nama penyair besar atau kecil, tak dikenal atau telah mancanegara tak menjadi pengaruh untuk sebuah pertanggungjawaban. Sebab saatnya Indonesia menampilkan kejujuran dan tidak asal tetapi sungguh-sungguh sesuatu yang dipertanggungjawabkan

(Rg Bagus Warsono, kurator di Lumbung Puisi)

Jumat, 27 Agustus 2021

T oleh Wawan Hamzah Arfan

 T oleh Wawan Hamzah Arfan 


Thema "T' untuk sebuah Antologi Puisi yang digagas oleh RgBagus Warsono merupakan gagasan yang belum pernah ada di dunia, kecuali di Lumbung Puisi. Sungguh luar biasa, di masa pandemi ini, seorang RgBagus Warsono mampu melahirkan ide gila yang benar-benar di luar dugaan, justru disambut gila-gilaan oleh para penyair Indonesia dari yang ABG sampai lansia. Gilanya lagi, ko bisa pas dengan situasi politik di Afganistan, yang kini dikuasi oleh kelompok berinisial "T" yaitu TALIBAN.

Dengan kata lain, kehadiran Antologi Puisi "T", sebuah gebrakan baru dalam sejarah perpuisian Indonesia, sekaligus perpuisian Dunia. Sebuah Antologi Puisi terunik dan tergila. Selamat buat sastrawan RgBagus Warsono, yang berani meluncurkan ide gilanya dan tidak takut orang menilainya apa. Salam kreatif dari Cirebon.


Puisi “T” di Ujung Pandemi oleh Rg Bagus warsono

 Puisi “T” di Ujung Pandemi


T itu juga angin Timur. Angin timur sejak doeloe adalah keberuntungan. Pada masa musim angin timur, wabah segala penyakit tersapu angin menuju samudra Hindia dan di sana akan tertelan ombak. Corona akan menjerit ketakutan manakala baru terbawa angin sampai laut Ujung Kulon. Dan akan masuk pusaran gelombang samudra Hindia yang ganas.

Corona tak mungkin bersemanyam di laut Kidul karena memang sudah diusir oleh penunggu Laut Kidul. Mereka juga tak mungkin tinggal di laut Jawa karena akan ditangkap nelayan. Corona takut kalau melihat jaring penangkap ikan.

Angin T (angin Timur) membuat cuaca malam hari dingin sejuk di daerah tropis. Bunga-bunga pepohonan pun mulai tumbuh menjadi pentil-pentil buah. Serangga penghantar serbuk sari menari setiap hari , sebuah kegembiraan alam.

Di ujung pandemi itu Corona akan membabi buta. Mengamuk sekan marah terusir. Ia akan meninggalkan bekas. Tak hanya nyawa-nyawa manusia tetapi juga sejarah yang mengenaskan.

Dan Penyair-penyair Indonesia mencatat peristiwa ini. Sebagai sebuat peristiwa sejarah alam Nusantara yang memiliki aneka dampak dari corona. Kesengsaraan rakyat, Kematian dan orang-orang yang mengambil kesempatan adanya corona.

Pada masa ini rakyat tak lagi mengindahkan adat. Orang Mati pun dikubur bagai bangkai binatang! Pada masa ini para ‘dukun (ahli kedokteran) menjadi dewa. Pada masa ini generasi muda menjadi T (tolol) karena tidak belajar , bahkan ketololan pun terlihat pada mereka yang tengah menempuh pendidikan tinggi.

Jika Pemerintah menghitung korban corona, jumlahnya akan slalu menunjukan perbedaan dengan keadaan sebenarnya. Karena hari ini ditulis jumlah korban hari ini juga ada orang menangis kehilangan orang tua, saudara dan sahabat. Saat ditulis jumlah kematian itu saat itu juga terjadi peristiwa kematian dimana-mana.

Data yang sebernya ada di tangan-tangan penyair Indonesia. Ia mencatat sejak wabah itu masuk ke negeri ini. Penyair di seluruh penjuru negeri mencatat peristiwa ini di daerahnya. Aneka peristiwa kesengsaaraan rakyat.

Namun hidup itu harus optimisme, sebab kakek kita mengajarkan bukan ‘hidup untuk makan tetapi ‘makan utuk hidup.

Dimasa pandemi tak ada nikmatnya minum kopi. Semua suasana adalah kecemasan. Bahkan makan enak pun selalu diiringi kabar duka. Sehingga lidah menjadi hampa rasa dan tetnggorokan menolak masukan, lalu lambung hanya berisi angin.

Obrolan di keluarga adalah kabar duka. Sedang manusia sehat terdapat dua golongan saat pandemi melanda. Yaitu golongan yang percaya adanya corona dan golongan yang tidak percaya adalanya corona.

Yang percaya corona hidup dengan waspada dan sebagian serba ketakutan. Sedang yang tidak percaya hidup seakan mumpung.

Beruntung kita hidup di negeri makmur, 2 tahun berjalan corona bersemayam, kita masih bertahan. Tak terdengar rakyat kelaparan justru yang semarak adalah demo dan demo aneka ragam. Sebuah T dalam masyarakat kita.

Begitu subuh tiba, betapa setiap hari terdengar pengumuman duka di setiap mushola. Seakan bersahut-sahutan antara mushola/masjid yang satu dengan mushola/masjid desa tetangga.

Akhirnya penyebab kematian corona dan bukan corona sama yaitu oleh corona. Karena memang di musim corona. Ibaratnya kecelakaan maut lalulintas saja boleh disebut corona.

Di sudut lain di rumah-rumah kecil terdengar doa. Rumah-rumah yang berdoa itu begitu banyak sehingga hapir seluruh Indonesia berdoa agar corona cepat pergi dari negeri ini. Allah maha mendengar, dan punya rencana. Maha pengasih dan punya kehendak. (03-07-21 Rg Bagus Warsono)


Rabu, 04 Agustus 2021

Ulasan Tentang Menulis Satu Puisi Ditulis Bersama/Bareng-bareng: Oleh : Wardjito Soeharso

 Ulasan Tentang Menulis Satu Puisi Ditulis Bersama/Bareng-bareng:

Oleh : Wardjito Soeharso


Menulis Satu Puisi Ditulis Bersama, Ide yang menarik. Tetapi melihat hasilnya, aku pikir kurang efektif. Puisi itu harus padat. Diksinya tajam. Mengundang multi interpretasi. Dari awal hingga akhir kata-katanya mengalir membangun image yang kuat makna tematik yang disampaikan penyairnya.

Dari praktik yang sudah dilakukan ini, setiap penyair menulis satu baris. Setiap penyair mencoba menyambung atau meneruskan bangunan imaginasi ke arah mana makna tematik yang diharapkan oleh penyair sejak baris pertama. Tentu ini pekerjaan yang tidak mudah, untuk mengatakan mungkin malah terlalu sulit. Dari sisi makna ternyata bisa nyambung. Tetapi dari sisi kepadatan puisi, aku melihat tidak berhasil. Banyak diksi yang sejenis terus diulang-ulang. Akhirnya, kesan yang muncul sejak baris pertama sampai terakhir makna tematik itu tidak makin meruncing menajam, tetapi terus saja sejajar seperti rel kereta yang tidak pernah bertemu sampai ke ujung batasnya. Bahkan, terbukti, puisi hasil kolaborasi ini sama sekali tidak bersentuhan dengan judul. Bersentuhan saja tidak. Apalagi nyambung.

Mungkin, membaca satu baris dan meneruskannya ke baris berikutnya memang belum cukup memberikan gambaran pada penyair berikutnya ke arah mana puisi ini sebaiknya menuju dan berakhir. Akibatnya, tak ada bait di sana. Penyair berikutnya tidak tahu, satu ide atau gagasan seperti apa yang harus dimunculkan dalam bentuk satu bait dari puisi itu.

Jadi, menurutku, eksperimen pertama ini boleh disebut gagal. Hehehe...

Maka, boleh dicoba eksperimen berikutnya. Setiap penyair tidak menulis satu baris, tetapi menulis satu bait. Kayaknya dengan menulis satu bait, penyair berikutnya sudah punya gambaran cukup jelas makna tematik yang ditawarkan penyair sebelumnya.

berikut hasil uji coba pada 4 Agustus 2021:



Kisah Rafael Calon Bintara

//......../

23). Secepat kering tetesan air mata di Merah-putihmu.

24). Tak henti menangis dia meraup kain.

25). Dan Dwi-warna itu basah bercampur peluh.

26) peluh yang membersih tekad melarung semangat

27) semuanya kering di badan

28). Lalu di ciumnya sang merah putih dengan tetesan gerimis di gunung pipinya yang basah

29). Sang bunda menangis bahagia melihat sinar kehidupan di mata anaknya

30)ketika merah putih berkibar mengabarkan kemerdekaan ini

31) Langit pun gegap-gempita menyambut kibarannya

31) pada setiap perjalanan ada bianglala yang akan menjadikanmu pribadi yang tangguh

32) Ku lepas anak panah harapan, untuk negeri tercinta ini tetap terjaga.




Pendapat Mas Wardjito Soeharso ini harus dipertimbangkan beberapa permasalahan sbb:

1.Permasalahannya pesertanya bisa mencapai 100 penyair, yang menyatakan siap hampir 100 penyair, apakah tidak kepanjangan jika tiap penyair 1 bait atau baitnya dibatasi 2 baris?

2.Jika setiap penyair satu bait bisa saja tetapi harus ada bait-bait yang menjadi kepala bait untuk ditaruh di atas agar yang memberi masukan bait dalam komentar dapat lebih memahami kesatuan puisi.

3.Satu lagi permasalahan akan muncul yaitu pada penggalian ide dan tingkat berfikir penyair yg tidak sama yang kadang datang dari inspirasi. Tetapi bantuan Judul sebetulnya sudah dapat dipahami jika penyair itu telah profesional.

Silahkan yang lain berpendapat.