TEKS SULUH


Selasa, 30 Desember 2014

2014 TAHUN CACAT SASTRA INDONESIA (catatan kilas balik sastra / Indonesia 2014)



Pada 3 Januari 2014 Pusat Dokumentasi HB Jassin memngumumkan 33 tokoh sastra paling berpengaruh di Indonesia sejak tahun 1900 hingga kini. Pekerjaan menyeleksi 33 tokoh sastra tersebut dilakukan oleh Tim 8, dan hasil selengkapnya diterbitkan dalam bentuk buku oleh Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) dengan judul " 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh" yang diumumkan oleh Aryany Isna Murti , pelaksana di Pusat Dokumentasi HB Jassin. Acara ini sekaligus peluncuran buku tersebut.
Sontak dalam hitungan jam buku itu mendapat protes keras dari pelbagai aktifis sastra Indonesia. Pasalnya buku yang ditulis oleh 'tim 8' itu dituduh tidaklah mencerminkan independensi penulis sastra dan tidak ilmiah. Hal demikian dikarenakan 33 tokoh sastra yang katanya paling berpengaruh itu terdapat nama yang asing bagi dunia sastra Indonesia yakni Denny JA .
Pada acara peluncuran dan diskusi buku 3 Januari di Jakarta ini, para penyaji dengan bangga mengatakan bahwa buku "33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh" adalah karya paling komprehensif tentang sejarah sastra Indonesia modern yang pernah dihasilkan oleh penulis-penulis Indonesia. Sebuah pernyataan yang mengingkari sejatinya seorang sastrawan. Pernyataan ini justru membuat berbagai lapisan masyarakat sastra protes keras. Bagaimana tidak membuat kesal masyarakat sastra yang merasa dilecehkan begitu saja oleh mereka tim penulis dikarenakan permasalahan 33 tokoh sastra berpengaruh itu yang tidak bisa diterima.
Buku "33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh" itu diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) yang tak lain adalah Grup Gramedia, raksasa penerbitan di Indonesia yang memiliki usaha perbukuan dari hulu ke hilir. Ini berarti jika memang benar buku ini tidak sesuai kenyataan maka telah meracuni rakyat Indonesia dalah hal pengetahuan sastra Indonesia.
Sebagai seorang penyair daerah saya sendiri (penulis) merasa heran kenapa Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin pun dilibatkan. Sesuatu yang aneh apabila lembaga sastra langsung menerima dan berperan memberi kelayakan sebuah buku tanpa sebelumnya buku itu dikaji atau setidaknya dicatat dulu sebagai buku di perpustakaan lembaga itu.
Dari dua hal ini saja dapat dilihat bagaimana proses buku itu dibuat. Pantas jika sampai berbulan-bulan buku ini menerima kecaman dari berbagai lapisan masyarakat sastra dan akademika.
Seperti angin lalu saja, padahal seluruh media nasional memuat berbagai penolakan dari banyak kalangan terhadap buku "33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh" itu, bahkan sampai didemo, tak juga merubah wacana yang sudah terlanjur dipublikasikan. Bahkan penarikan buku dari peredaran pun tgak digubrisnya. Sepertinya ada sesuatu sikap dari berbagai tokoh untuk memberi kesempatan pada publik untuk memberikan penilaiannya tentang buku itu.
Seperti diberitakan, nama Denny JA masuk sebagai salah satu dari 33 tokoh sastra Indonesia paling berpengaruh. Polemik mencuat karena latar belakang Denny yang lebih dikenal sebagai konsultan politik. Namun tentu kita berfikir sah-sah saja apa pun profesinya dapat berkarya sastra, namun justru tak dapat dipungkiri apabila terdapat 'pesan sponsor' dan ditambah-tambah peluncuran buku itu bertepatan dengan hari ulang tahun Denny JA.
Penulis sendiri sebetulnya tidak sama sekali mempermasalahkan ke 33 tokoh tersebut dinobatkan apa pun namanya, namun seperti juga insan sastra Indonesia memandang ketidakadilan terdapat pada 33 nama itu manakala terdapat satu atau beberapa nama terlewatkan . sebut saja tokoh sastra Indonesia senior yang tak diragukan lagi karya-karyanya dan sangat berpengaruh baik tulisan maupun tindak-tanduknya yakni Goenawan Muhammad. Meski Goenawan Muhamad sendiri tidak keberatan tidak tercantum namanya di buku itu bahkan dalam pernyataan di media Ia merendahkan diri dengan mengatakan ia tak layak masuk 33 tokoh itu, namun masuyarakat memandang tetap terdapat ketidakpercayaan terhadap buku itu.
Jamal D Rahman ketua tim 8 yang menulis buku itu mengatakan bahwa jika pendiri Lingkaran Survei Indonesia (LSI) itu terpilih sebagai 33 tokoh sastra Indonesia paling berpengaruh karena ia melahirkan genre baru dalam puisi Indonesia yang disebut 'puisi-esai'. Genre puisi esai ini memancing perdebatan luas di kalangan sastrawan Indonesia . Aneka perdebatan itu sudah pula dibukukan. Jamal pun beralasan bahwa terlepas dari pro kontra pencapaian estetik dari puisi esai, pengaruh puisi esai dan penggagasnya Denny JA dalam dinamika sastra mutakhir tak mungkin diabaikan siapapun. Sebuah pernyataan yang patut diuji dokumentasi sejarah sastra Indonesia apakah benar Denny JA adalah pelopor puisi -esai ? Salah satu penyanggah persoalan ini adalah sastrawan asal Yogyakarta, Saut Situmorang yang menjelaskan, puisi jenis ini sangat populer dalam kesusastraan Inggris abad 18, terutama seperti yang ditulis oleh sang maestro genre tersebut Alexander Pope.
Antologi puisi esai ‘Atas Nama Cinta’ karya Denny JA itu katanya telah mempengaruhi sastra Indonesia. Akan tetapi ditemukan justru mereka sendiri yang kemudian membukukan perdebatan, membuat lomba, dan mensponsori penerbitan puisi-esai sehingga mendukung pengakuan terhadap Denny JA. Bahkan ada disebut Denny JA sebagai 'Bapak Puisi-Esai Indonesia.'
Kini  samampailah kita pada penghujung tahun 2014, polemic panjang seakan telah berakhir. Dunia sastra Indonesia mengalami perubahan  seperti Indonesia yang berkembang. Kejadian ini adalah sebuah tantangan terhadap pelaku sastra di daerah. Peran kapitalis telah merambah dunia sastra dunia kebebasan itu dengan mudahnya dibelenggu.
Akhirnya kita tak banyak berbuat apa , hanya kepa publiklah segala persoalan sastra Indonesia ke depan  memiliki nasibnya.
Bicara kebebasan tentu kita juga harus memberikan kesempatan pada siapa pun untuk bebas berkarya.
Sangat salah besar apabila kita melarang kreatifitas seseorang.  Seperti apa yang diungkapkan oleh Sapardi Djojo damono, “Karya seni itu biasa menimbulkan polemik, biarkan saja semua ngomong, berbeda pendapat kan boleh saja. Yang tidak boleh itu orang lain harus berpendapat sama.” 
Sapardi benar,  karena karya seni itu akan besar jika banyak dibicarakan. Yang tidak boleh itu adalah memaksakan  pada orang lain harus menerima  atau menolak buku itu. Yang jelas 2014 sastra kita punya cacat yang akan menjadi  kenangan  sastra Indonesia. 

Indramayu, 30-12-2014
Rg Bagus Warsono, penyair di sanggar sastra Meronte Jaring Indramayu

Jumat, 26 Desember 2014

Dan ini salah satu puisiku di buku 'Jangan Jadi sastrawan " yang diterbitkan Indie publishing Jakarta berjudul Aku Batu tak Bersinar: 8.Aku batu tak bersinar

Sebab pilihan berbeda
Membentuk rangkai kata
Menggoreskan lembar penuh warna
teka teki baca
menyembunyikan goresan penyair


(rg. Bagus Warsono 2004, Jangan Jadi Sastrawan)
2.Ukulele

musik cepat lagu lambat
keroncong penyair
memainkan jemari tak henti
namun tida hafal
pengalaman
mengulang dan mengulang
waktu percuma
namun uku lele
berhenti nyaring menamatkan syair
(rg. Bagus Warsono 2004, Jangan Jadi Sastrawan)
3.Lilin Penyair




Diam tak ada tiupan angin
Sedikit angin, api bergerak
Besar angin aku padam
Menari aku di angin pelan
airmata diam dalam nyala mahkotaku api
meleleh melumuri tubuh
bahwa membekas pengalaman
Semakin kecil aku menerang
untuk semua dalam jangkauanku

(rg. Bagus Warsono 2004, Jangan Jadi Sastrawan)
4.Pena Penyair


Menerjang lebaran hampa

menelusuri angan mencari idealisme
menari kesombongan
penuh kepalsuan diri
pena penyair memberi keteduhan
hati mengering menahan pergolakan
aku sampah atau emas
atau hanya menyiram di pasir gurun

(rg. Bagus Warsono 2004, Jangan Jadi Sastrawan)
5.Diantara acliric




Dapatkah tuan tak memohon
paduan acliric di kanvas
meski berani ganti
berikan kami kebebasan
diantara acliric
untuk tuan berani ganti
agar aku tetap diantara aclirics
(rg. Bagus Warsono 2004, Jangan Jadi Sastrawan)
6.Lentera Kecil

lentera kecil berjuta
tak dapat menerang jalan
percuma
lentera kecil adalah makna
bagi nenek tua di hutan gelap
lentera berjuta dijajar
tak akan menerang mata
percuma
(rg. Bagus Warsono 2004, Jangan Jadi Sastrawan)
7.Bisakah indah berlari seperti kuda



Bisakah indah berlari seperti kuda
mengharap cita
dengan pesona
bisakah berlari mengejar mereka
dengan ringkik dan derap
diri cita penyair
(rg. Bagus Warsono 2004, Jangan Jadi Sastrawan
8.Aku batu tak bersinar


aku batu tak bersinar
diantara gunduk manikam
akik kecil tak bertuan
menunggu pandai batu
mengangling aku
namun akik lain , firus, safir, pualam
menjadi cincin pujaan
aku masih menunggu
pak tua mengikir
sampai kapan?

(rg. Bagus Warsono 2004, Jangan Jadi Sastrawan)
9.Sebatang Rokok
Sebatang rokok terakhir
Dari sebungkus rokok
Dalam satu puisi adalah kalimat pamungkas
Penutup sebelum berakhir
Membunuh nafsu
Megulung kertas
Sebatang rokok semakin pendek menjadi abu
Dan akhirnya menyentuh batas harapan.
Puntung yang tersisa

(rg. Bagus Warsono 2004, Jangan Jadi Sastrawan)
10.Istri
Tak ada kegembiraan istri
Walau puisi terindah
Karena puisi baginya adalah hati perempuan
Keinginan dari otak ringan
Yang tak mau pusing kemudian
Namun  menyimpan
Puisi indah dari suaminya penyair.

Rabu, 24 Desember 2014

Aku memang seperti ikan,

RgBagus Warsono  
Aku memang seperti ikan, di tahun 2014 ,
 bernafas dalam air , minum air banyak tapi tak kembung, 
diair jernih terlihat buruk rupaku, diair kotor apalagi,
 berjalan disangka melayang, disangka berlari padahal menerjang deras air. 
Jika aku ikan aku hanya ingin di air yang tenang.

Penyair Indonesia dari Kalimantan Selatan dalam buku kumpulan puisi :




“Memo Untuk Presiden”



Oleh : Ali Syamsudin Arsi



“Puisi sebagai anak kandung kebudayaan pada dasarnya dapat berperan sebagai pengingat dan penggugah jiwa kehidupan berdasarkan fakta kebenaran serta nurani kejujuran. Sebab, penyair sebagai individu yang berdaya di dalam jaman – baik sebagai sasksi maupun agen perubahan – terbukti mampu melahirkan gagasan secara jernih untuk menangkap suara rakyat, suara jaman, dan suara kebenaran. Dengan mempresentasikan gagasan tersebut lewat penerbitan, mendistribusikan dan menyosialisasikan secara luas, puisi bisa berfungsi sebagai penjaga moral bagi semua yang terlibat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.”

Nukilan pengantar dalam buku “Memo untuk Presiden” tersebut di atas memberi kesempatan luas kepada “puisi” untuk bergerak-menyeruak-menukik-mengepung-menghujam jauh ke lunas-lunas terdalam dan sangat jauh menjelajah-merambah-memeluk-membelai-menghentak-membongkar nuansa-nuansa waktu maupun wilayah tanpa batas atau pun sesuatu yang berbatas, sampai ke batas-batas laku dan gerak bernama sifat, karakter bahkan tabiat. Sifat, karakter dan tabiat ternyata adalah sebuah produk kebudayaan dari manusia individu selanjutnya berkumpul menjadi kumpulan individu – konvensi, kemufakatan yang mengarah terhadap adat sebagai cikal-bakal terbentuknya kebudayaan, tentu dengan kelengkapan seperangkat syarat lainnya , adalah daya, adalah kekuatan, adalah energi ; demi keutuhan kesatuan dalam balutan persaudaraan – hal mendasar ini perlu penguatan agar kondisi ‘cerai-berai’ yang nyata-nyata sudah terpampang di depan mata dan keretakan demi keretakan karena geografi, maka cara pandang dengan wawasan luas kuat berakar sangatlah perlu dan prioritas utama.

Kepada satu nama tetapi sebenarnya kepada banyak nama. Telunjuk mengarah kepada satu wajah – dengan seperangkat sifat, karakter dan tabiatnya – padahal sebenarnya kepada banyak wajah, banyak sifat, banyak karakter, banyak tabiat. Kita sebagai “indonesia” adalah kekuatan sekaligus sesuatu yang sangat mudah rapuh bila tatanan mendasar selalu memberi peluang jalan ke arah cerai-berai.
Puisi yang telah memiliki kekuatan mandat sebagai perekat walau sampai ke tingkat paling getir dari segala yang dirasakan merupakan lingkar-jerat kuat dari sudut batinnya.

Puisi bicara dari sudut semangat, semangat dalam kata-kata, karena setiap kata memiliki makna.

Presiden telah mendapat mandat dari sejumlah individu melalui suara pilihannya, sama halnya ketika puisi mendapat keluasan merambah ke segala celah. Ini menguatkan isyarat bahwa presiden dan puisi menjadi satu lembaga dengan landasan semangat kuat dan berdaya guna.

Di negeri indonesia ini presiden dengan kekuatan puisi pada pikiran-pikiran yang tertuang dalam kebijakan demi kebijakan tentu saja akan membuka wahana luas, menukik dan sangat merasa. Indonesia yang kaya melimpah ruah adalah kenyataan karena itu berupa potensi, tetapi ketika tata kelola yang tidak sebagaimana dirasakan oleh rakyatnya maka puisi selayaknya tampil untuk membuka jalan dan menghantam ketidakwajaran yang dilakukan.

Sistem adalah bagian penting dari kemufakatan tersebut di atas, dan seorang presiden punya kekuatan untuk meluruskan penyimpangan demi penyimpangan yang cara kerjanya dilandasi pemahaman demi pemahaman puitis, jalan-jalan keindahan dari nurani terdalam yang berlaku secara damai; penyelesaian akar masalah tanpa harus mengalirkan darah demi darah. Sebab, darah biasanya akan berbalas darah.
Presiden, tanpa jalan puitis yang lain, perangkat lengkap di bawahnya, maka boleh jadi menjadi lalai dalam satu-kesatuan sistemnya.

Benar bila, puisi seperangkat kata-kata. Benar pula bila presiden, dalam ruang geraknya adalah seperangkat kata-kata. Sinergi di jalan puisi adalah bicara dengan hati nurani. Berani tentu seorang presiden membaca banyak puisi dengan seperangkat pemahaman di dalam ruang geraknya. Semua karena semangatnya.

Presiden dan puisi adalah semangat kata-kata, semangat kata-kata sebagai landasan kuat berdaya guna pada ruang gerak kerja, kerja dan kerja.

Memo untuk Presiden melalui jalan puisi adalah sebuah upaya secara batin bahwa daya ingat seorang individu manusia, tak terkecuali kepada sosok seorang presiden dengan perangkat lengkap di bawahnya, diperlukan adanya semacam ‘penghalau daya ingat’ bahwa kepentingan kita adalah kepentingan sebuah makna besar bernama negara. Tak lain dan tak bukan Negara Indonesia.

Sejumlah karya dari sejumlah nama penulisnya telah diupayakan dengan sungguh-sungguh dikumandangkan dan dikumpulkan dalam sebuah buku kumpulan, maka di dalamnya pun beriak-bergelombang-bergejolak-mengalun-bahkan menghentak-hentak. Memo adalah catatan pendek dan penting bahkan mengarah kepada genting, segera dicermati ditindaklanjuti, segera, sesegeranya.
Hanya langkah tepat dan cerdas seorang presiden yang mampu mengatasi karena Indonesia bukanlah sebuah Negara Kecil, Indonesia adalah sebuah Negara Besar dengan tata kelola penyelesaian bersifat besar tetapi tidak boleh lalai dalam hal-hal yang kecil, sekecil apa pun itu tetaplah dan seterusnya dalam tanggungjawab negara. Gemericik air jernih dan sehat sudahkah sampai ke ujung terjauh dalam celah tubuh manusia, manusia indonesia. Bening udara bebas beban virus sudahkah dihirup secara benar oleh paru-paru manusia, manusia indonesia. Jerit dan teriak pilu sudahkah mendapat sinyal yang selayaknya oleh tangan-tangan manusia, manusia indonesia.

Peluncuran buku Memori untuk Presiden (selanjutnya MuP) dilakukan pertama kali di kota Blitar, tepatnya di Istana Gebang (rumah kediaman keluarga Bung Karno, Sabtu 1 November 2014.

Hal yang menarik bagi warga sastra di tanah banua, tanah Kalimantan Selatan, tepatnya pada tanggal 9 – 10 Januari nanti di Kotabaru dilaksanakan agenda peluncuran kedua buku MuP, tepatnya dikaitkan dengan acara HUT ke-8 Sanggar Sastra Siswa Indonesia (SSSI) SMKN 1 Kotabaru. Semoga lancar dan sukses agenda sesuai rencana. Amin.

Adapun beberapa nama penulis puisi dari (saat ini berdomisili di) Kalimantan Selatan terdapat di dalam buku MuP tersebut adalah Sybram Mulsi (Rantau), Syarif Hidayatullah (Banjarmasin), Sumasno Hadi (Banjarmasin),  Maria Roeslie (Banjarmasin), M. Amin Mustika Muda (Marabahan), Jhon F.S. Pane (Kotabaru), Iberahim (Barabai), Helwatin Najwa (Kotabaru), Fahrurraji Asmuni (Amuntai), Awan Hadi Wismoko (Banjarbaru), Arsyad Indradi (Banjarbaru), Anna Mariyana (Marabahan), Andi Jamaluddin AR.AK. (Pagatan), Ali Syamsudin Arsi (Banjarbaru), dan Abdurrahman El Husaini (Martapura). 15 penulis puisi dari 196 nama secara keseluruhan yang tersatuka oleh tema bahwa ada harapan besar agar puisi-puisi tersebut mampu memberikan perhatian dan dorongan atas kerja seorang presiden di negara tercinta ini. Pihak kurator sendiri, seorang bernama Sosiawan Leak, sangat menjaga kemandirian selama proses penyertaan dan tahap seleksi seluruh karya puisi yang masuk untuk tidak bercondong ke pihak tertentu agar “ puisi yang terangkum di dalamnya senantiasa merdeka dari pemikiran yang bersifat partisan, serta bebas dari ‘pesan sponsor’ pihak-pihak yang punya kepentingan menyimpang,” tulisnya pada kelanjutan pengantar. Itu sangatlah dimaklumkan karena gesekan politik sebelum menjadi orang pilihan, telah bukan rahasia lagi bila banyak berteburan saling tendang saling rubuh saling hujat bahkan saling bungkam. Lantas, apakah seorang presiden mampu meletakan semua semangat kata-kata dalam buku yang tebalnya 476 itu tertuangkan di semua ruang gerak kebijakan demi kebijakannya.

Nah, semangat dalam kata-kata itu, diterjemahkan oleh seorang bernama Helwatin Najwa sebagai bagian penting untuk menyatakan bahwa kerja, kerja dan kerja itu memerlukan semangat penggerak secara nyata.

Sekedar mengingatkan bahwa “Kerja belum selesai, belum apa-apa,” (Chairil Anwar) atau ketika, “Perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata,” (WS Rendra).
Maka, masuklah wahai presiden terpilih, masuklah melalui jalan pilihan, jalan itu bernama puisi. Karena,  puisi dapat menyerap dan menyuarakan semua suara, suara kebijaksanaan berlandaskan hati nurani kebenaran.

Tentu saja makna demi makna dalam buku itu, dalam seluruh puisi itu,  bukan hanya untuk saat ini tetapi ia akan berlaku pula di rentang waktu jauh ke depan.

Salam gumam asa, Banjarbaru, 22 Desember 2014.
(sesaat dalam renungan terdalam untuk mama di mana pun berada, di seluruh tanah indonesia)

Sabtu, 20 Desember 2014

Kesaksian Pembaca Sebuah Karya Sastra

Kesaksian Pembaca Sebuah Karya Sastra
Bagaimana pembaca bersaksi bahwa Anda adalah seorang pengarang dengan karya yang besar. Padahal pembaca tak memiliki legetimasi sebagai pemegang kesaksian karya itu. Bukan tidak mungkin akhirnya merupkan pengakuan sementara dari seseorang, kelompok /beberapa orang yang kemudian pernyataan kesaksian itu ditelan waktu dan lupa.
Baiklah kita gali lebih jauh bagaimana peran pembaca terhadap sebuah karya sastra menjadi berperan sebagai saksi bagi sebuah karya sastra yang dibuat pengarangnya.
Apresiasi Pembaca
Sejauhmana karya Anda mendapat kesaksian pembaca, adalah sejauhmana apresiasi didapatkan dari membaca karya sastra. Apresiasi pembaca diwujudkan dalam kehidupan dan kegiatannya mengisi hidup dan apresiasi lain adalah diwujudkan dalam bahasa tulis.
Hidup dan kegiatnnya ditampilkan dalam kegiatan mengisi dunia merteka melakukannya wujud kesaksian itu dengan berbagai kegiatan relevan dengan sastra seperti lomba membaca karya sastra (puisi/cerpen), penampilan drama , film, diskusi, bedah buku dan sebagainya. Kesaksian pembaca yang demikian biasanya mengundang orang untuk membuat kesaksian dengan bahasa tulis seperi pemberitaan melalui media massa, atau wujud apresiasi ragam tulisan lain.
Kesaksian dalam bahasa tulis ini menjadi kesaksian yang berkualitas karena memiliki ujud kebendaan yang memang bersumber dari seseorang yang menuliskan tentang karya Anda itu. Semakin banyak orang memberi kesaksian dalam bahasa rtulis maka semakin kuat karya sastra dan pengarangnya diakui seluas sebuah kesaksian itu.
bersambung............
RgBagus Warsono 21-12-14

Kamis, 18 Desember 2014

Ibu Takan Kecewa

Ibu Takan Kecewa
melihat nilai raportku " A "
sehingga ibu tak menghitung piring nasi sarapan pagi
dan membelikan baju seragam dari telor mata sapi setiap hari
ia tak makan enak hanya untuk anak
dan yang dicucinya setiap hari
piring kotor dan kaos kaki.
Ibu takan kecewa
dengan nilai ijazahku "A"
membelikan toga yang sekali pakai
dan tak menghitung lagi transver bulanan
atau ketika aku mengarang kebutuhan
serta fotocopy ribuan lembar
Ibu takan kecewa
walau aku belum dapat kerja
itu bukan nilai raportmu
Ibu tahu aku mendapat "A" di setiap seleksi penerimaan kerja
Ibu tak kecewa

Jumat,19-12-2014

Kamis, 27 November 2014

Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia Jilid III Dokumentasi Puisi Sastrawan Indonesia 2015



Ikutilah Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia Jilid III

(Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia Jilid III)

Syarat:

Tema : Perempuan Desa

1. Peserta :
Warganegara Indonesia

2. Pendaftaran :
Gratis Biaya Pendaftaran

3.Berpartisipasi untuk Transport Pengiriman Buku
sesuaikan dengan biaya pos , TIKI atau JNE

4. Kirim Naskah
a. kirimkan 2 naskah naskah puisi terbaik Anda dengan tema di atas melalui email ke
gus.warsono@gmail.com
naskah yang tidak sesuai dengan tema tidak akan diseleksi panitia
b. Buktikan dengan partisipasi biaya transport pengiriman buku yang disesuaikan dengan tujuan ke alamat
peserta (dari panitia ke alamat peserta)
c. Puisi yang dimuat namun tidak mengirimkan biaya transport tidak dikirim buku.

 5. Deadline kegiatan ini berakhir pada 31 Maret 2015

6. Peluncuran buku dilaksanakan secara sederhana tanpa mengundang penulis namun demikian penulis
dapat mengadakan peluncuran buku dimanapun tempat.

7. Pengiriman buku diharapkan tepat tanggal 21 April 2015 sudah sampai rumah peserta

8. Seleksi kegiatan ini dilakukan oleh panitia yang terdiri dari sastrawan yang dipilih oleh panitia dan
dipandang independen.

9. Puisi yang lolos seleksi akan diumumkan 10 April 2015 dan sekaligus diharapkan bersedia
mengirimkan biaya transport pengiriman buku.

10. Peserta yang puisinya dimuat masing-masing mendapat 2 buah buku antologi Lumbung Puisi Sastrawan
Indonesia Jilid III

11. Panitia tidak memperjualbelikan buku antologi

12. Alamat panitia: Sanggar sastra dan Lukis Meronte Jaring
Jl. Tulip Merah no. 6 Perumahan Cidhayu Indramayu-45211 Jawa barat

Indramayu, 26 Nofember 2014

Rabu, 19 November 2014

Resensi Memo yang menghentak, merontak, memuja, menyanjung, lalu menghujat dan marah!

Resensi
Memo yang menghentak, merontak, memuja, menyanjung, lalu menghujat dan marah!
Barangkali Anda ingin tahu perkembangan sastra dewasa ini Antologi Memo untuk Presiden adalah jawabannya. Kita bisa melihat corak puisi nuntakhir dari buku setebal 476 Halaman ini. Tentu saja beraneka pola. Namun demikian warna gaya penyair kita telah berubah sejak sebelum reformasi negeri ini. Mungkin pula gambaran reformasi gaya penyair Indonesia. Kalian bisa menilai puisi-puisi dari 196 penyair indonesia. Dari yang sudah ubanan hingga yang bau kencur namun telah menjadi resep sambal dari rasa penyair-penyair Indonesia. Memo bukanlah memo biasa namun suguhan yang enak dibaca bolak-balik. Terserah mana karya dan pujangga yang Anda pilih , 196 Penyair negeri. Jika memo ini sampai Istana kenapa kita tidak turut serta membaca. Agaknya Sosiawan Leak dan Rini Tri Puspohardini sang editor buku ini tidak membuat alur isi dari masing-masing karya penyair yang begitu banyak ini, sengaja susunannya dengan menggunakan abjad depan nama penyairnya. Jadilah lembar lembar itu kadang menghentak, merontak, memuja, menyanjung, lalu menghujat dan marah!. Wah Anda pasti ketinggalan jika tak baca buku ini.
Judul : Memo untuk Presiden (Antologi Puisi)
Penulis: 196 Penyair Indonesia
Kurator : Leak Sosiawan
Penerbit : Forum sastra Surakarta
Cetakan 1 : Oktober 2014
ISBN : 978-602-777-802-3

( RgBagus Warsono 18-11-2014)

Minggu, 16 November 2014

PANTUN MEMBANGUN BANUA karya Ali Syamsudin Arsi


Bulan sepenggal di malam hari
Batang randu daunnya layu
Jangan ditinggal si jantung hati
Datang merindu ke ayah ibu
Batang randu daunnya layu
Beralas kata nan membayang
Datang merindu ke ayah ibu
Berbalas cinta dan kasih sayang
Beralas kata nan membayang
Angkat sauh dalam perahu
Berbalas cinta dan kasih sayang
Berangkat jauh menimba ilmu
Angkat sauh dalam perahu
Pasang tali di tiang papan
Berangkat jauh menimba ilmu
Pulang kembali dengan harapan
Pasang tali di tiang papan
Guntur mengepung di tepi pantai
Pulang kembali dengan harapan
Makmurkan kampung aman dan damai
Guntur mengepung di tepi pantai
Menggema ombak di kejauhan
Makmurkan kampung aman dan damai
Tanpa merusak alam lingkungan
Menggema ombak di kejauhan
Ke sisi tebing bunyi di ngarai
Tanpa merusak alam lingkungan
Seperti bening air di sungai
Ke sisi tebing bunyi di ngarai
Bisik lautan di ombak besar
Seperti bening air di sungai
Sisik ikan pun nampak di dasar
Bisik lautan di ombak besar
Melantun hujan di lengkung batang
Sisik ikan pun nampak di dasar
Daun di hutan memayung rindang
Melantun hujan di lengkung batang
Merunduk padi tanda berisi
Daun di hutan memayung rindang
Penyejuk hati cahya nurani
Merunduk padi tanda berisi
Sepandang ladang hamparan panjang
Penyejuk hati cahya nurani
Lapangkan jalan terang benderang
Sepandang ladang hamparan panjang
Pagar merapat tinggi sekaki
Lapangkan jalan terang benderang
Agar mendapat ridho illahi
Pagar merapat tinggi sekaki
Bulan pun redup di tamat malam
Agar mendapat ridho illahi
Tujuan hidup di ummat islam
Banjarbaru, Agustus 2006
Pantun berkait Ali Syamsudin Arsi
1. Kelahiran
Ada tangis memecah sunyi
Sunyi waktu membuka kelam
Ada tangis si tangis bayi
Bayi lahir kita mengucap salam
Sunyi waktu membuka kelam
Kelam tersibak tadah telapak
Bayi lahir kita mengucap salam
Salam teruntuk ibu dan bapak
Kelam tersibak tadah telapak
Senyum ceria bayi di tangan
Salam teruntuk ibu dan bapak
Tak akan lupa lantunkan azan
Senyum ceria bayi di tangan
Kelahiran engkau sangat ditunggu
Tak akan lupa lantunkan azan
Azan menggema berseru merdu
Kelahiran engkau sangat ditunggu
Ditunggu oleh handai tolan
Azan menggema berseru merdu
Jauhkan sedih enyahkan setan
Ditunggu oleh handai tolan
Panggil tetangga tadahkan doa
Jauhkan sedih enyahkan setan
Menapak jalan tujuan sorga
Panggil tetangga tadahkan doa
Ambil fuah si Tuan Guru
Menapak jalan tujuan sorga
Sambil sedekah ke anak cucu
Ambil fuah si Tuan Guru
Tangan tengadah berharap berkah
Sambil sedekah ke anak cucu
Jangan salah tujuan arah
Tangan tengadah berharap berkah
Derap pasti di langkah kaki
Jangan salah tujuan arah
Tegap diri sesuai janji
Derap pasti di langkah kaki
Ambil buku baca berulang
Tegap diri sesuai janji
Sambil menuju panggilan pulang
Ambil buku baca berulang
Ucapkan kata dirangkai kata
Sambil menuju panggilan pulang
Ampunkan salah balutan dosa
Ucapkan kata dirangkai kata
Kata bersusun selembut embun
Ampunkan salah balutan dosa
Dosa diampun menyebut santun
Kata bersusun selembut embun
Matahari tiba embun pun lenyap
Dosa diampun menyebut santun
Diri berhiba simpun menghadap
Matahari tiba embun pun lenyap
Menutup mata ucap kalimat
Diri berhiba simpun menghadap
Sayup kata akhir syahadat
Menutup mata ucap kalimat
Dituang gelas ibarat minuman
Sayup kata akhir syahadat
Di ruang luas dan nyaman
Dituang gelas ibarat minuman
Kasur jati alasnya kapuk
Di ruang luas dan nyaman
Tidur sendiri terasa empuk
Pantun Bakait Ali Syamsudin Arsi
“BAHIMAT BALAJAR SUPAYA PINTAR”
Assalammualaikum uma wan abah
Uma wan abah duduk di bangku
Asa himung ulun sakulah
Sakulah ulun nyaman dituju
Uma wan abah duduk di bangku
Ulun handak manjadi urang
Sakulah ulun nyaman dituju
Jalanan lancar kada balubang
Ulun handak manjadi urang
Urang bauntung wan bamanfaat
Jalanan lancar kada balubang
Tarang bagantung nyaman disambat
Urang bauntung wan bamanfaat
Baniat hati awan bismillah
Tarang bagantung nyaman disambat
Malihat diri ka uma-abah
Baniat hati awan bismillah
Balajar mambaca suara nyaring
Malihat diri ka uma-abah
Agar tabawa sampai ka guring
Balajar mambaca suara nyaring
Baulang-ulang kada pambusan
Agar tabawa sampai ka guring
Ka tulang-tulang karasa-an
Baulang-ulang kada pambusan
Supaya lancar paham isinya
Ka tulang-tulang karasa-an
Supaya pintar batanam rasa
Supaya lancar paham isinya
Ujar pang habar di kurikulum
Supaya pintar batanam rasa
Guru nang sabar wan murah sanyum
Ujar pang habar di kurikulum
Langkah samua sampai kalima
Guru nang sabar wan murah sanyum
Langkah partama mambaca-baca
Langkah samua sampai kalima
Kita bagamat malajarakan
Langkah partama mambaca-baca
Kata “bahimat” diutama-akan
Kita bagamat malajarakan
Balajar di alam tabuka
Kata “bahimat” diutama-akan
Kada malanggar awan pahala
Balajar di alam tabuka
Kambang babunga nyaman dilihat
Kada malanggar awan pahala
Sadang mambuka sulam kalimat
Kambang babunga nyaman dilihat
Gulung piluntang banang dipulun
Sadang mambuka sulam kalimat
Tuntung sagantang sanang bapantun
/asa, banjarbaru, november 2014

Minggu, 02 November 2014

SELAMAT & SUKSES ATAS PELUNCURAN PERDANA BUKU KUMPULAN PUISI (ANTOLOGI) MEMO UNTUK PRESIDEN. 1 NOFEMBER 2014

 Sebuah tonggak kesusastraan Indonesia Terkini yang patut dibaca oleh seluruh masyarakat . Sajian syair bagi negeri yang penuh dinamika perjalanan.
Penyair hanya menunjukan jalan 'lurus agar tak tersesat
Penyair hanya memberi sedekah buah pena tanpa meminta sedekah materi apa pun.
Penyair hanya berkiprah pada jalurnya tanpa meminta imbalan
Adalah kewajiban para penyair untuk mengisi Indonesia
Sebagaimana cita-cita pendahulu kita.
Dan wajar bila bila penyair berkata dalam : MEMO UNTUK PRESIDEN.
SELAMAT DAN SUKSES SLALU PENYAIR INDONESIA
(fotho Saat Penyair Nyekar di Makam Bung Karno oleh sastra Riau)
Rg Bagus Warsono (Indramayu)


Sabtu, 18 Oktober 2014

Yudhistira Ardi Nugraha

Nama Lengkap: Yudhistira Ardi Nugraha Moelyana Massardi
Nama: Yudhistira Ardi Nugraha
Tanggal Lahir: 28 Februari 1954
Tempat Lahir: Subang, Jawa Barat, Indonesia


Penyair ini lebih dikenal sebagai novelis. Novel yang membuat dirinya terkenal adalah Arjuna Mencari Cinta. Karya-karya puisinya juga memberi warna baru dalam dunia perpuisian Indonesia, yakni puisi surat kabar karena ditulis berdasarkan berita-berita koran. Sajak-sajaknya dalam Rudi Jalik Gugat banyak dijadikan lirik lagu oleh Franky, seorang penyanyi country asal Surabaya.


Yudhistira Ardi Nugraha lahir pada tanggal 28 Februari 1954, di Subang Jawa Barat. Pernah menjadi redaktur majalah Le Laki dan majalah Tempo. Drama-dramanya "Wot Atawa Jembatan" dan "Ke" memperoleh hadiah harapan dan hadiah ketiga penulisan naskah sandiwara  DKJ tahun 1977 dan 1978.


Novel yang berjudul mencoba tidak menyerah (1979), mendapat hadiah penghargaan Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta Tahun 1977. Karya-karya nya yang lain: Arjuna Mencari Cinta(1977), yang dinyatakan sebagai fiksi terbaik 1977 oleh Yayasan Buku Utama, Ding Dong (novel, 1978), Omong Kosong (kumpulan sajak, 1978), Sajak Sikat Gigi (kumpulan sajak 1978), Arjuna Mencari Cinta II ( NOVEL, 1980), Yudhistira Duda, dan Rudi Jalak Gugat (kumpulan sajak 1982).


Riwayat Pendidikan:
SD di Subang,
SMP,
SMA Taman Siswa di Yogyakarta (1972),
Akademi Sinematografi LPKJ selama satu semester (19760)


Karier :
Penjual Koran,
Pengarang Novel,
Wakil Pemimpin Redaksi majalah Le Laki (1976-1978),
Wartawan majalah Tempo (1979)

Karya-karya Yudhistira Ardi Nugraha:

Sajak Sikat Gigi, Kumpulan Puisi (1976),
Arjuna Mencari Cinta (1977),
Wot (1977),
Ke (1978),
Dingdong,
Obladi Oblada,
Puber,
Arjuna Mencari Cinta II (1980),
Perjalanan Kehilangan,
Terbit Bulan Tenggelam Bulan,
Tinton,
Kuda-Kuda,
Mencari Taman Bagi Kasih,
- See more at: http://gudang-biografi.blogspot.com/2010/05/biografi-yudhistira-ardi-nugraha.html#sthash.e69dmA8v.dpuf

Andrea Hirata

Andrea Hirata Seman Said Harun
Jenis Kelamin: Laki-Laki
Agama: Islam
Tanggal Lahir: Belitong, 24 Oktober

Nama Andrea Hirata Seman Said Harun melejit seiring kesuksesan novel pertamanya, LASKAR PELANGI. Pria yang berulang tahun setiap 24 Oktober ini semakin terkenal kala novel pertamanya yang jadi best seller diangkat ke layar lebar oleh duo sineas Riri Riza dan Mira Lesmana.

Selain LASKAR PELANGI, lulusan S1 Ekonomi Universitas Indonesia ini juga menulis SANG PEMIMPI dan EDENSOR, serta MARYAMAH KARPOV. Keempat novel tersebut tergabung dalam tetralogi.

Setelah menyelesaikan studi S1 di UI, pria yang kini masih bekerja di kantor pusat PT Telkom ini mendapat beasiswa Uni Eropa untuk studi Master of Science di Université de Paris, Sorbonne, Perancis dan Sheffield Hallam University, United Kingdom.

Tesis Andrea di bidang ekonomi telekomunikasi mendapat penghargaan dari kedua universitas tersebut dan ia lulus cum laude. Tesis itu telah diadaptasi ke dalam Bahasa Indonesia dan merupakan buku teori ekonomi telekomunikasi pertama yang ditulis oleh orang Indonesia. Buku itu telah beredar sebagai referensi Ilmiah.

Penulis Indonesia yang berasal dari Pulau Belitong, Provinsi Bangka Belitung ini masih hidup melajang hingga sekarang.Status lajang yang disandang oleh Andrea sempat memicu kabar tak sedap. Karena pada bulan November 2008, muncul pengakuan dari seorang perempuan, Roxana yang mengaku sebagai mantan istrinya.

Akhirnya terungkap bahwa Andrea memang pernah menikah dengan Roxana pada 5 Juli 1998, namun telah dibatalkan pada tahun 2000. Alasan Andrea melakukan pembatalan ini karena Roxana menikah saat dirinya masih berstatus istri orang lain.

Sukses dengan novel tetralogi, Andrea merambah dunia film. Novelnya yang pertama, telah diangkat ke layar lebar, dengan judul sama, LASKAR PELANGI pada 2008. Dengan menggandeng Riri Riza sebagai sutradara dan Mira Lesmana pada produser, film ini menjadi film yang paling fenomenal di 2008. Dan jelang akhir tahun 2009, Andrea bersama Miles Films dan Mizan Production kembali merilis sekuelnya, SANG PEMIMPI.


Biografi Chairil Anwar

Biografi Chairil Anwar

Chairil Anwar yang lahir pada tanggal 6 Juli 1922 di Medan. dikenal sebagai "Si Binatang Jalang" (dalam karyanya berjudul Aku) adalah penyair terkemuka Indonesia. Bersama Asrul Sani dan Rivai Apin, ia dinobatkan oleh H.B. Jassin sebagai pelopor Angkatan '45 dan puisi modern Indonesia.

Chairil masuk Hollands Inlandsche School (HIS), sekolah dasar untuk orang-orang pribumi waktu penjajah Belanda. Dia kemudian meneruskan pendidikannya di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs, sekolah memengah pertama belanda, tetapi dia keluar sebelum lulus.Tidak ada banyak diketahui mengenai orang-tuanya. Dia mulai untuk menulis sebagai seorang remaja tetapi tak satupun puisi awalnya yang ditemukan.

Pada usia sembilan belas tahun, setelah perceraian orang-tuanya, Chairil pindah dengan ibunya ke Jakarta di mana dia berkenalan dengan dunia sastera. Meskipun pendidikannya tak selesai, Chairil menguasai bahasa Inggris, bahasa Belanda dan bahasa Jerman, dan dia mengisi jam-jamnya dengan membaca pengarang internasional ternama, seperti: Rainer M. Rilke, W.H. Auden, Archibald MacLeish, H. Marsman, J. Slaurhoff dan Edgar du Perron. Penulis-penulis ini sangat mempengaruhi tulisannya dan secara tidak langsung mempengaruhi puisi tatanan kesusasteraan Indonesia.

Nama Chairil mulai terkenal dalam dunia sastera setelah pemuatan tulisannya di "Majalah Nisan" pada tahun 1942, pada saat itu dia baru berusia dua puluh tahun. Hampir semua puisi-puisi yang dia tulis merujuk pada kematian. Chairil ketika menjadi penyiar radio Jepang di Jakarta jatuh cinta pada Sri Ayati tetapi hingga akhir hayatnya Chairil tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkannya.

Semua tulisannya yang asli, modifikasi, atau yang diduga diciplak dikompilasi dalam tiga buku : Deru Campur Debu (1949); Kerikil Tajam Yang Terampas dan Yang Putus (1949); dan Tiga Menguak Takdir (1950, kumpulan puisi dengan Asrul Sani dan Rivai Apin). Vitalitas puitis Chairil tidak pernah diimbangikondisi fisiknya, yang bertambah lemah akibat gaya hidupnya yang semrawut. Sebelum dia bisa menginjak usia dua puluh tujuh tahun, dia sudah kena sejumlah sakit. Chairil Anwar meninggal dalam usia muda karena penyakit TBC Dia dikuburkan di Taman Pemakaman Umum Karet Bivak, Jakarta. Makamnya diziarahi oleh ribuan pengagumnya dari zaman ke zaman. Hari meninggalnya juga selalu diperingati sebagai Hari Chairil Anwar.

KARYA CHAIRIL ANWAR
1. Deru Campur Debu (1949)
2. Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus (1949)
3. Tiga Menguak Takdir (1950) (dengan Asrul Sani dan Rivai Apin)
4. "Aku Ini Binatang Jalang: koleksi sajak 1942-1949", diedit oleh Pamusuk
5. Eneste, kata penutup oleh Sapardi Djoko Damono (1986)
6. Derai-derai Cemara (1998)
7. Pulanglah Dia Si Anak Hilang (1948), terjemahan karya Andre Gide
8. Kena Gempur (1951), terjemahan karya John Steinbeck

KARYA CHAIRIL ANWAR YANG DITERJEMAHAN KE DALAM BAHASA ASING
Karya-karya Chairil juga banyak diterjemahkan ke dalam bahasa asing, antara lain bahasa Inggris, Jerman dan Spanyol. Terjemahan karya-karyanya di antaranya adalah:

1. "Sharp gravel, Indonesian poems", oleh Donna M. Dickinson (Berkeley? California, 1960)
2. "Cuatro poemas indonesios [por] Amir Hamzah, Chairil Anwar, Walujati" (Madrid: Palma de Mallorca, 1962)
3. Chairil Anwar: Selected Poems oleh Burton Raffel dan Nurdin Salam (New York, New Directions, 1963)
4. "Only Dust: Three Modern Indonesian Poets", oleh Ulli Beier (Port Moresby [New Guinea]: Papua Pocket Poets, 1969)
5. The Complete Poetry and Prose of Chairil Anwar, disunting dan diterjemahkan oleh Burton Raffel (Albany, State University of New York Press, 1970)
6. The Complete Poems of Chairil Anwar, disunting dan diterjemahkan oleh Liaw Yock Fang, dengan bantuan H. B. Jassin (Singapore: University Education Press, 1974)
7. Feuer und Asche: sämtliche Gedichte, Indonesisch/Deutsch oleh Walter Karwath (Wina: Octopus Verlag, 1978)
8. The Voice of the Night: Complete Poetry and Prose of Chairil Anwar, oleh Burton Raffel (Athens, Ohio: Ohio University, Center for International Studies, 1993)
- See more at: http://gudang-biografi.blogspot.com/2009/11/biografi-chairil-anwar-biografi.html#sthash.sORg2Mzx.dpuf

Ajip Rosidi

Biografi Ajip Rosidi Sosok Ajip Rosidi di mata rekan-rekannya sesama pencinta sastra dan kebudayaan merupakan sosok yang lengkap, paripurna. Selain dikenal sebagai sastrawan Sunda, Ajip juga dikenal sebagai sosok yang memperkaya sastra Indonesia dan memperkenalkan kebudayaan Sunda di dunia internasional. Ketua Yayasan Kebudayaan Rancage itu juga dinilai sebagai sosok yang bisa melepaskan diri dari kecenderungan polarisasi dalam banyak hal. Salah satunya, polarisasi antara kebudayaan modern dan kebudayaan tradisional. Pulang dari Jepang, setelah tinggal di sana selama 22 tahun, Ajip Rosidi merasa gamang. Kegamangan itu dipicu oleh kekhawatiran adanya "pengultusan" terhadap dirinya. Juga kegamangan akan nasib budaya tradisional yang terus terlindas oleh budaya global. "Saya merasa ngeri karena saya mendapat kesan bahwa saya hendak dikultuskan sehingga timbul pikiran menciptakan Ajip-Ajip baru. Saya ngeri karena saya khawatir hal itu menimbulkan rasa takabur," katanya. Suara batin itu diungkapkan Ajip Rosidi di hadapan para pencinta sastra, termasuk para pengagumnya, pada seminar di Universitas Padjadjaran, Bandung, yang khusus membedah kiprahnya di dunia sastra, Rabu (28/5/03). Hampir semua yang hadir memuji semangat dan dedikasi sastrawan kelahiran Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat, 31 Januari 1938, itu. Pengamat sastra Dr Faruk HT, misalnya, secara implisit memosisikan Ajip sebagai "orang langka" dengan kelebihan yang tidak dimiliki HB Jassin, Goenawan Mohamad, dan Soebagio Sastrowardoyo. Ajip dinilai sebagai sosok yang bisa melepaskan diri dari kecenderungan polarisasi dalam banyak hal. Salah satunya, polarisasi antara kebudayaan modern dan kebudayaan tradisional. Ketika kebudayaan modern dianggap sebagai pilihan yang niscaya, kata Faruk, Ajip malah getol berbicara tentang kebudayaan tradisional. Redaktur PN Balai Pustaka (1955-1956) itu dikenal sangat taat asas (konsisten) mengembangkan kebudayaan daerah. Terbukti, Hadiah Sastra Rancage-penghargaan untuk karya sastra Sunda, Jawa, dan Bali-masih rutin dikeluarkan setiap tahun sejak pertama kali diluncurkan tahun 1988. Ajip juga dikenal sebagai "juru bicara" yang fasih menyampaikan tentang Indonesia kepada dunia luar. Hal ini ia buktikan ketika bulan April 1981 ia dipercaya mengajar di Osaka Gaikokugo Daigaku (Osaka Gaidai), Osaka, Jepang, serta memberikan kuliah pada Kyoto Sangyo Daigaku di Kyoto (1982-1996), Tenri Daigaku di Nara (1982-1995), dan di Asahi Cultural Center. Di Negeri Matahari Terbit itu, seminggu Ajip mengajar selama 18 jam dalam dua hari. Lima hari sisanya ia habiskan untuk membaca dan menulis. Ia mengaku, Jepang memberinya waktu menulis yang lebih banyak ketimbang Jakarta. Maklum, ia tidak disibukkan mengurus kegiatan-kegiatan lain yang cukup menyita waktu, sebagai Ketua Dewan Kesenian Jakarta (1972-1981), Ketua Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi), Direktur Penerbit Dunia Pustaka Jaya, maupun Pemimpin Redaksi Majalah Kebudayaan Budaya Jaya (1968-1979). Hasilnya, lebih dari 50 judul buku dalam bahasa Indonesia dan Sunda ditulisnya selama di Jepang. Satu hal yang mengesankan Ajip tentang masyarakat Jepang adalah kesadaran mereka akan pentingnya sastra dalam hidup mereka. Menurut Ajip, sastra tidak hanya menjadi bahan konsumsi para sastrawan atau budayawan, tetapi juga telah menjadi bahan bacaan para dokter atau arsitektur. Kondisi itu tercipta akibat dukungan kebijakan pemerintah dan budaya yang ada. Ajip mengatakan, masyarakat Jepang sejak usia dini telah diperkenalkan dengan buku. "Anak kecil sejak umur dua hingga tiga tahun sudah diperkenalkan dengan buku." Kondisi perbukuan di Jepang juga mendukung terciptanya suasana itu. Harga buku di sana ditetapkan sama di semua wilayah. " Harga majalah juga sama," katanya. Pendidikan juga lebih tertata rapi, tinggal melanjutkan tradisi yang sudah berkembang. Tradisi itu mulai tertancap sejak reformasi Meiji. Reformasi yang ditandai dengan pengiriman orang-orang Jepang ke negara-negara maju untuk belajar banyak hal. Selain itu, juga dilakukan penerjemahan besar-besaran berbagai macam ilmu, karya budaya, dan karya sastra ke dalam bahasa Jepang. "Jadi, orang Jepang, walaupun tidak bisa bahasa asing, misalnya, mereka mengetahui (dan) menguasai ilmu-ilmu di negara-negara asing," kata Ajip. Semua itu dilakukan bangsa Jepang dengan penuh semangat dan keseriusan. Seorang profesor asal Amerika Serikat yang mengajar bahasa Inggris di Jepang bercerita kepada Ajip, ada seorang mahasiswanya belajar dengan menghafal kamus bahasa Inggris. Orang Jepang memang dikenal sebagai bangsa yang amat bangga dengan bahasanya sendiri, tetapi hal itu tidak membuat mereka antibahasa asing. Minat orang Jepang terhadap studi-studi Indonesia juga cukup kuat. Jurusan Bahasa Indonesia (Indoneshia-go Gakuka) sudah ada di Tokyo Gaikokugo Daigaku sejak tahun 1949. Selama mengajar di Jepang, Ajip tidak pernah kekurangan mahasiswa. Di Osaka Gaidai, ia mengajar rata-rata 30 mahasiswa setiap tahun, 40 mahasiswa di Kyoto Sangyo Daigaku, dan 60 mahasiswa di Tenri Daigaku. "Saya mengajar bahasa Indonesia, sastra Indonesia, budaya Indonesia, dan Islam di Indonesia," kata Ajip. Beberapa muridnya kini sudah menjadi presiden direktur dan manajer pada perusahaan-perusahaan Jepang di Indonesia. Namun, Ajip mencatat, tingginya gairah dan minat mereka terhadap bahasa asing bergantung pada kepentingan terhadap negara yang dipelajari itu. Ketika perekonomian Indonesia berkembang, perhatian orang Jepang terhadap bahasa Indonesia meningkat. "Sekarang Indonesia ambruk, perhatian juga berkurang. Ada beberapa universitas yang tadinya punya jurusan bahasa Indonesia, sekarang dan diganti dengan Cina," katanya Ajip. Kendati telah menghabiskan sebagian hidupnya di negeri orang, Ajip tidak kehilangan pijakan pada kebudayaan daerah Indonesia. Hadiah Sastra Rancage yang lahir sejak tahun 1988 terus berjalan rutin setiap tahun. "Saya mulai dengan serius, dan saya usahakan dengan serius. Ternyata banyak yang membantu. Orang mau membantu kalau (kegiatan yang dibantunya) dilaksanakan secara profesional," tuturnya mengenai ketaat-asasan Hadiah Sastra Rancage. Namun, di tengah derasnya arus globalisasi, Ajip menyimpan sebersit kekhawatiran mengenai nasib kebudayaan-kebudayaan daerah. Bagi dia, globalisasi lebih banyak mengorbankan budaya-budaya daerah. Hal ini terjadi karena serbuan budaya global sulit diimbangi kebudayaan daerah. Budaya global didukung oleh modal kuat serta teknologi tinggi, sedangkan kebudayaan daerah hanya bisa bertahan secara tradisional karena tidak ada yang menyediakan modal. Menurut Ajip, hal itu merupakan suatu pertarungan yang tidak adil. "Saya kira kita tidak mengharapkan bahwa (pemeliharaan kebudayaan daerah) itu harus dilakukan pemerintah. Pengalaman saya membuktikan bahwa tidak bisa mengharapkan pemerintah," ujar budayawan yang sudah menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Suluh Pelajar (1953-1955) pada usia 15 tahun. Oleh karena itu, banyak sastrawan dan budayawan Indonesia menyambut dengan sukacita kedatangan Ajip ke Tanah Air. Ia pun telah merancang dengan sejumlah agenda menghidupkan kembali kebudayaan daerah agar tidak hanya mampu bertahan, melainkan juga bisa berkembang. Wujud konkretnya, antara lain dengan mendirikan Pusat Studi Sunda bersama para sastrawan dan budayawan Sunda pada hari Sabtu ini. Pusat Studi Sunda ini, salah satu programnya, akan menerbitkan jurnal ilmiah Sundalana. Selain itu, Ajip masih tetap akan berkutat dengan kegiatan membaca dan menulis. Untuk itu, suami Hj Patimah ini pun berencana tinggal di Magelang, Jawa Tengah. "Saya berlindung kepada Allah, mudah-mudahan dijauhkan dari rasa takabur. Mudah-mudahan saya selalu diberi kesadaran bahwa apa yang saya lakukan hanyalah sebiji sawi." Paripurna Sosok Ajip Rosidi di mata rekan-rekannya sesama pencinta sastra dan kebudayaan merupakan sosok yang lengkap. Selain dikenal sebagai sastrawan Sunda, Ajip juga dikenal sebagai sosok yang memperkaya sastra Indonesia dan memperkenalkan kebudayaan Sunda di dunia internasional. Pandangan para sastrawan tentang Ajip Rosidi ini terangkum dalam dialog yang bertema Meninjau Sosok dan Pemikiran Ajip Rosidi, yang digelar Rabu (28/5/03), di Graha Sanusi Hardjadinata, Universitas Padjadjaran Bandung. Dalam dialog yang berlangsung sekitar enam jam itu, tampil sebagai pembicara Abdullah Mustappa, Teddy AN Muhtadin, Ganjar Kurnia, Ignas Kleden, Faruk HT, serta Yus Rusyana. Selain itu, hadir pula beberapa sastrawan seperti Ramadhan KH, Sitor Situmorang, tokoh politik Deliar Noer serta puluhan mahasiswa dan pencinta sastra. "Sunda menjadi menarik di tangan Pak Ajip karena bukan sesuatu yang baku," ujar pengamat sastra dari Universitas Gadjah Mada, Dr Faruk HT. Menurut dia, Ajip Rosidi mengalami polarisasi politik dan kultural sepanjang hidupnya. Faruk menganggap polarisasi politik dan kultural tersebut membuat karya-karya Ajip Rosidi terasa kaya makna, kritis, serta tidak terjebak hanya pada satu budaya dan ideologi. Dia mencontohkan, ketika Ajip dielu-elukan sebagai orang yang berjasa dan terhormat dalam kehidupan sastra Sunda, Ajip justru menengok sastra Jawa dan sastra daerah lain. "Sulit mencari orang seperti Ajip dalam dunia sastra Indonesia," kata Faruk. Sementara itu, menurut Direktur Pusat Pengkajian Indonesia Timur (PPIT) atau Center for East Indonesian Affairs (CEIA) Dr Ignas Kleden, Ajip merupakan tokoh penting dalam sastra Indonesia. Ajip, kata Kleden, tidak hanya memainkan peranan luas dalam kesusastraan saja, namun juga meninggalkan banyak jejak langkah dalam perkembangan kebudayaan daerah dan kebudayaan Indonesia. "Sumbangan sastra dan kebudayaan Sunda kepada sastra dan kebudayaan Indonesia diwujudkan melalui penulisan kembali dalam bahasa Indonesia cerita-cerita sastra daerah," kata Kleden. Sedangkan peneliti dari Pusat Dinamika Pembangunan Unpad, Dr Ganjar Kurnia, memandang sosok Ajip sebagai orang Sunda modern. Hal itu dapat dilihat dari perhatiannya terhadap sastra Sunda. Ganjar menilai Ajip memiliki perhatian sepenuhnya untuk melestarikan budaya Sunda, namun dia juga tidak melepaskan keindonesiaannya. "Ajip Rosidi bukan orang yang etnocentris, provinsialis, atau sukuisme dalam arti sempit," kata Ganjar. Dia menambahkan, Ajip juga telah membawa budaya bangsa sampai kepada tingkat internasional. Selain itu, Ajip juga dinilai sebagai orang yang memiliki pengetahuan yang luas mengenai masalah kesundaan sehingga dapat dianggap sebagai "arsip hidup" paling lengkap. "Dapatkah kita memiliki Ajip-Ajip yang lain di masa mendatang?" kata Faruk, di akhir ceramahnya. Perkataan Faruk tersebut ternyata ditanggapi dengan kekhawatiran oleh Ajip Rosidi. Menurut Ajip, dia khawatir masyarakat akan mengultuskan dirinya. Padahal, kata Ajip, dia sangat tidak suka dipuji, apalagi dikultuskan. "Saya lebih suka dikritik daripada dipuji," kata Ajip. Sastra "Rancage" dan Sastra Daerah Hadiah Sastra "Rancage" sudah berlangsung sejak 1989. Semula Hadiah Sastra tahunan ini khusus untuk pengarang dalam sastra Sunda, namun mulai tahun 1994 diberikan juga kepada pengarang sastra Jawa. Empat tahun kemudian, 1998, Hadiah Sastra "Rancage" juga diperuntukkan bagi pengarang sastra Bali. Sejak itu, setiap tahun Yayasan Kebudayaan "Rancage" yang diketuai Ajip Rosidi selaku pemberi Hadiah Sastra "Rancage" menyediakan dua hadiah untuk setiap daerah tersebut, yakni satu untuk "karya sastra" dan satu lagi untuk kategori mereka yang ber-"jasa". Seluruh suku bangsa di Indonesia saat ini merasa bahwa hidup matinya sastra daerah menjadi tanggung jawab masing-masing daerah. Padahal sesungguhnya perkembangan sastra daerah menjadi tanggung jawab nasional yang harus dihadapi secara nasional pula. "Pengembangan sastra dan bahasa daerah seakan-akan diserahkan kepada suku bangsa pemiliknya begitu saja, pemerintah seperti tak mau tahu," ujar sastrawan Ajip Rosidi, di Denpasar. Ketua Yayasan Kebudayaan Rancage itu berada di Bali dalam rangka menyerahkan Hadiah Sastra Rancage 1999 kepada para sastrawan Sunda, Jawa, dan Bali. Ajip Rosidi merasa prihatin atas keberadaan sastra dan bahasa daerah di Indonesia sekarang ini. Pemerintah nyaris tak memberi perhatian yang mamadai terhadap kehidupan sastra-sastra daerah tersebut. Padahal menurut konstitusi, hal itu termasuk tanggung jawab pemerintah. "Masalah yang dihadapi daerah di mana-mana sama, masalah pendidikan dan penerbitan buku-buku," ujar Ajip Rosidi. Pada tahun 1998 lalu, terbit enam judul buku berbahasa Sunda, dua bahasa Jawa, dan tiga bahasa Bali. Nama: Ajip Rosidi Lahir: Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat, 31 Januari 1938 Isteri: Hj Patimah Profesi: Sastrawan-Budayawan Pekerjaan/Kegiatan: Pendiri Pusat Studi Sunda (2003) Selama 22 tahun (sejak April 1981) pengajar bahasa Indonesia di Osaka Gaikokugo Daigaku (Osaka Gaidai), Osaka, Kyoto Sangyo Daigaku di Kyoto (1982-1996), Tenri Daigaku di Nara (1982-1995), dan di Asahi Cultural Center, Jepang. Ketua Yayasan Kebudayaan Rancage Ketua Dewan Kesenian Jakarta (1972-1981) Ketua Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) Direktur Penerbit Dunia Pustaka Jaya Pemimpin Redaksi Majalah Kebudayaan Budaya Jaya (1968-1979) Redaktur PN Balai Pustaka (1955-1956) Pemimpin Redaksi Majalah Suluh Pelajar (1953-1955) pada usia 15 tahun Buku: Menulis lebih dari 50 judul buku dalam bahasa Indonesia dan Sunda. Referensi: tokohindonesia.com - See more at: http://gudang-biografi.blogspot.com/2010/01/biografi-ajip-rosidi.html#sthash.vMgFI5Sz.dpuf