TEKS SULUH


Minggu, 24 Oktober 2021

Membaca itu kebutuhan utama bagi pedamba ilmu pengetahuan.

 

(iklan membaca dibintangi mbak Denting Kemuning)

Mengawali Penganugerahan Setyasastra Nagari

 Mengawali Penganugerahan Setyasastra Nagari (30 th Kesetiaan Sastra Indonesia Lumbung Puisi) sengaja diberikan di Pekalongan untuk menyatakan bahwa buku Setyasastra Nagari itu betul-betul diterbitkan. Sebanyak lebih dari 115 Sastrawan Indonesia menerima Sebutan Anugerah ini, dan 10 sastrawan tersebut sengaja di berikan karena moment yg tepat dalam Malam Apresiasi Puisi Dalam Kotak Suara sebuah acara yang dinahkodai Penyair Hadi Lempe. Kesepuluh awal penerima Setyasastra Nagari dari lebih dari 115 penerima itu, pada 23 Oktober 2021 itu adalah :

27. Dharmadi,

37.Enthieh Mudakir,

79.Nurochman Dudibyo,

42.Hadi Lempe,

82.Omni Kusnandi,

78.Nanang R Supriyatin,

110.Wawan Hamzah Arfan,

65.Kasdi Kenali,

64.Jaenudin (Kang Zay), dan

108.Wardjito Soeharso.



(rg bagus warsono 24/10/21.)

Jumat, 22 Oktober 2021

Nyemplung Kali Banger

 oleh Rg Bagus Warsono


Nyemplung kali Banger


Musim ketiga kali asat isine endut

Iwak akeh kurang banyu ora dipangan

Kali Banger ora mili

Pancing pedot

Kecangkol baro

Lundu cilik arane keting

Sembilang gigire abang

Kali Banger nunggu udan

Jembatan tugel

Iwak blanak golong-golong

Kali banger marani laut

Rabu, 13 Oktober 2021

Rg Bagus Warsono : Gugurnya Patih Celeng

 Gugurnya Patih Celeng




Tersebutlah kerajaan Manikmantaka,

Kerajaann bangsa rotadenawa bangsa butho.

Raja Manikmantaka bernama Prabu Niwatakawaca ingin mempersunting Dewi Supraba.

Dewi Supraba tak kuasa menolak asal mendapat ijin ayahnya, Begawan Ciptaning, yang tengah bertapa di gua Mintaraga dalam hutan Kaliangsa yang maha buas di pegunungan Indrakila.

Sang Prabu Niwatakawaca sudah kasmaran ingin segera Dewi Supraba bersanding di kerajaan.

Diutuslah Mamangmurka, patih terbaik Niwatakawaca

Patih sakti putra Patih Sakipu keturunan Giliwangsa

yang sakti mandraguna.

Mamangmurka bertus meminta restu Begawan Ciptaning, pertapa di gua Mintaraga.

Begawan Ciptaning tak mau menemui Mamangmurka

hutan Kaliangsa menjadi gelap gulita pegunungan Indrakila membentang tak berujung.

Gua Mintaraga tak akan ditemukannya.

Mamangmurka mengamuk dihutan gelap

pohon dan batu diobrak abrik

hutan rusak hewan berpencaran mencari selamat

Begawan Ciptaning yang tengah bertapa menjadi marah

dikutuknya Mamangmurka menjadi butho celeng

Melihat tubuhnya berganti celeng

Mamang murka semakin mengamuk merusak hutan

Akhirnya Begawan Ciptaning menghentikan amuk Mamangmurka dengan panah kalitawarna

Menancab di tubuh Mamangmurka.

(Rg Bagus Warsono)

Minggu, 10 Oktober 2021

Auf widersehen puisi indah Kurniawan Junaedhie

 Karya puisi indah Kurniawan Junaedi adalah Auf widersehen , sebuah judul Berbahasa Jerman yang artinya Selamat Tinggal. Auf widersehen pada tahun 1994 adalah sebuah drama seri radio BBC London terkenal yang terkenal juga di Indonesia. Mungkin puisi ini diilhami drama itu atau memang Auf wisersehen ini sebuah puisi dari imajenasinya Kurniawan Junaedi  sendiri.

Berikut puisi Auf widersehen karya Kurniawan Junaedhie itu:

Auf widersehen

Itukah engkau yang 

berdiri di seberang jalan

dengan tas di pangkuan 

yang melambaikan tangan?

Betapa pedih jiwa di badan

Rasanya ingin pergi saja aku 

Ke lain benua 

Jadi itukah engkau?

Jadi itukah engkau yang 

melambaikan tangan 

Sementara aku sendiri di dunia 

Berdiri sepi seperti tiang lampu 

Dimalam hari Sunyi

Digoyang angin yang dingin?

Pernahkah kau rasakan 

Apa artinya orang kehilangan makna?

Rasanya ingin pergi saja aku 

Ke sebuah dunia yang tak seorang pun

Bertanya tentang kabut

Atau anna matovani

Karena memikirkan tentang umur 

Dan hari depan mungkin tersa lebih bermartabat.

Juni 1994