TEKS SULUH


Jumat, 31 Januari 2020

Mengenal sastrawan Eddy D Iskandar

Eddy D Iskandar,

Cowok Komersil (1977)

Cowok Komersil adalah buku karya sastra merupakan novel yang terbit dan populer di kalangan para remaja tahun 1977. Novel karya Eddy D. Iskandaritu telah dicetak ulang hingga 3 kali, yakni bulan Mei, Juli, dan Agustus tahun 1977. Novel setebal 197 halaman itu diterbitkan oleh Cypress, Jakarta .

Mengenal sastrawan Sri Rahayu Prihatmi,

Sri Rahayu Prihatmi,

Di Atas Puing-Puing (1976) Di Atas Puing-Puing adalah buku karya sastra merupakan novel karya Th. Sri Rahayu Prihatmi yang mendapat rekomendasi dari Dewan Juri Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta tahun 1976 sebagai karangan yang layak diterbitkan. Novel itu pertama kali diterbitkan oleh Pustaka Jaya pada tahun 1978. Novel itu mengisahkan kehidupan rumah.

Mengenal sastrawan SM Ardan

SM Ardan,

Terang Bulan Terang di Kali (1955)

Terang Bulan Terang Di Kali adalah buku karya sastra merupakan kumpulan cerpen karya S.M.Ardan. Kumpulan cerpen itu terbit pertama kali pada tahun 1955 oleh Gunung Agung, Jakarta, setelah direkomendasikan oleh H.B. Jassin. Tahun 1974 Terang Bulan Terang di Kali dicetak ulang oleh Pustaka Jaya, Jakarta, dengan ilustrasi.

Mengenal sastrawan Sori Siregar,

Sori Siregar,

Awal Musim Gugur (1981)

Awal Musim Gugur adalah buku karya sastra merupakan salah satu novel karya Sori Siregar yang diterbitkan oleh penerbit Nusa Indah, Ende Flores, pada tahun 1981. Novel itu menceritakan salah satu pengalaman yang didapat Sori ketika ia bertugas di Radio BBC London. Dalam novelnya itu, Sori Siregar mengemukakan persoalan "demam".

Mengenal sastrawan ; Habiburrahman El Shirazy,

Habiburrahman El Shirazy,

Ayat-Ayat Cinta (2004)

Ayat-Ayat Cinta adalah buku karya sastra merupakan karya novel Habiburrahman El Shirazy. Novel ini pertama kali terbit sebagai cerita bersambung dalam harian Republika. Setelah diterbitkan secara bersama oleh dua penerbit, yaitu Penerbit Republika dan Pesantren Basmala Indonesia, sebagai satu novel utuh pada Desember 2004, karya ini menjadi judil film yang populair secara nasional

Mengengenal sastrawan : Rg Bagus warsono

 Si Bung adalah karya terbesar Rg Bagus Warsono, sastrawan kelahiran Tegal , bercerita tentang sosok Bung Karno dalam puisi-puisi imajener yang diterbitkan oleh Leutikaprio  Jogyakarta tahun 2014.

Mengenal Sastrawan Darman Munir,

Darman Munir,

Bako (1983)

Bako adalah buku karya sastra merupakan novel karya Darman Moenir, diterbitkan Balai Pustaka tahun 1983 dengan tebal 102 halaman. Cetakan ke-2 diterbitkan tahun 1984 dan cetakan ke-3 tahun 1988. Novel ini berhasil menjadi pemenang pertama Sayembara Penulisan Roman Dewan Kesenian Jakarta tahun 1980.

Mengenal Sastrawan Ahmad Tohari,

Ahmad Tohari,

Bekisar Merah (1993)

Bekisar Merah adalah buku karya sastra merupakan judul sebuah novel karya Ahmad Tohari yang pertama kali terbit sebagai cerita bersambung dalam surat kabar Kompas pada bulan Februari sampai dengan Mei 1993. Cerita bersambung itu kemudian diterbitkan Gramedia Pustaka Utama dalam bentuk buku pada tahun yang sama.

Mengenal sastrawan : Gerson Poyk,

Gerson Poyk,

Cumbuan Sabana (1979)

Cumbuan Sabana adalah buku karya sastra merupakan novel yang ditulis oleh Gerson Poyk dan diterbitkan pertama kali oleh Penerbit Nusa Indah, Ende, Flores tahun 1979. Novel itu bercerita tentang percintaan antara seorang pemuda Timor bernama Niko Benfinit dan seorang gadis, anak raja, yang bernama Irma Sonbait.

Mengenal Sastrawan Titis Basino PI

Titis Basino PI,

Dari Lembah ke Coolibah (1997)

Dari Lembah ke Coolibah adalah buku karya sastra merupakan novel karya Titis Basino P.I. Novel ini diterbitkan pertama kali oleh PT Grasindo, tahun 1997. Ilustrasi sampul dibuat oleh Ipe Ma'ruf dan desain sampul oleh Roland M. Sutrisno, dan dicetak oleh percetakan PT Gramedia, Jakarta.

Mengenal Sastrawan : Ras Siregar,

Ras Siregar,

Di Simpang Jalan (1988)

Di Simpang Jalan adalah buku karya sastra merupakan novel karya Ras Siregar. Di terbitkan oleh PT Pustaka Karya Grafika Utama, Jakarta pada tahun 1988 dengan ketebalan 161 halaman. Semula novel itu merupakan cerita bersambung yang dimuat harian Kompas edisi 4—29 September 1980. Setelah mengalami revisi seperlunya, novel.

Mengenal sastrawan : Muhammad Fudoli Zaini,

Muhammad Fudoli Zaini,

Lagu dari Jalanan (1982) adalah buku karya sastra

merupakan kumpulan cerita pendek karya Muhammad Fudoli Zaini yang diterbitkan tahun 1982 (cetakan pertama) oleh Balai Pustaka, Jakarta. Kumpulan cerita pendek tersebut memuat sepuluh cerita pendek, yaitu "Si Kakek dan Burung Dara", "Tanah Perjuangan", "Paman Saki", "Kuda Kepang", "Lagu dari Jalanan",

Mengenal sastrawan : Ahmad Tohari,

Ahmad Tohari,

Lintang Kemukus Dini Hari (1982)

Lintang Kemukus Dini Hari adalah buku karya sastra merupakan novel karya Ahmad Tohari yang diterbitkan oleh Penerbit Gramedia, Jakarta, pada tahun 1985 dengan tebal 211 halaman. Sebelum diterbitkan sebagai buku, Lintang Kemukus Dini Hari pernah dimuat dalam harian Kompas edisi 23 September sampai dengan 27 Oktober

Mengenal sastrawan : Suparto Brata,

Suparto Brata,

Mata-Mata (1979)

Mata-Mata adalah buku karya sastra merupakan sebuah novel detektif karya Suparto Brata yang diterbitkan oleh Pustaka Jaya, tahun 1979, karena memperoleh rekomendasi dari Dewan Juri Sayembara Penulisan Roman DKJ tahun 1976 sehingga layak terbit. Mata-Mata terdiri atas sembilan bagian. Setiap bagian ditandai dengan huruf Latin. Mata-Mata mengisahkan.

Mengenal sastrawan :Corie Layun Rampan,

Corie Layun Rampan,

Upacara (1976)

Upacara adalah buku karya sastra merupakan novel Korrie Layun Rampan ini memperoleh Hadiah Sayembara Mengarang Roman yang diselenggarakan Dewan Kesenian Jakarta tahun 1976. Novel itu—yang terdiri atas lima belahan—kemudian diterbitkan Pustaka Jaya, Jakarta, tahun 1978 dengan tebal 128 halaman (5 halaman di antaranya berupa keterangan istilah).

Mengenal sastrawan : Beni R Budiman

Di Pelabuhan Cirebon

“Mon beau navire O ma memoire

Avons-nous assez navigue”(Guillame Apollinaire)

Di pelabuhan Cirebon, laut dan hatiku beradu

Gemuruh, Kapal-kapal berlayar dan berlabuh

Dan aku diam berjaga menanti senja yang entah:

O hidup, pelayaran sebentar, sebentar saja sampai!

Dalam penantian, aku jadi teringat dirimu, adikku

Kapal-kapal yang berlayar dan berlabuh, menjadi milik kita

Terbuat dari sobekan kertas buku-buku pelajaran sepulang

Sekolah. Dan kitapun melaju di parit dan selokan

Dengan senyuman. Dan kita selalu lupa pada ibu

Yang suka marah, bila memeriksa buku yang kita punyai

Di pelabuhan Cirebon, adikku sayang

Aku mengenangmu sambil menanti senja

Senja kematian yang menawan dan menyenangkan

1993

pada Kumpulan Sajak “Penunggu Makam” Beni R. Budiman.

KASMARAN

bersama Diwana Fikri Aghniya

Tiba-tiba saja kita seperti orang yang sedang

Belajar menjadi anak dan ayah. Di mesjid itu

Keharuan seperti sungai gunung mencari lembah

Dan kita hanyutkan harapan sampai ke ujung sepi

Muara bagi setiap doa dan ikan membuat janji

Kita pun menjelma puisi yang hidup di antara dua

Keabadian surga dan neraka. Kita berkhayal sebagai

Keluarga Lukman yang kekal sepanjang zaman. Tenang

Bersama wajah-wajah malaikat yang putih. Dan Tuhan

Kita terus kasmaran sepanjang kumandang azan. Dan

Lupa pada bumi yang selalu menyanyikan lagu pilu

Juga pada rumah yang penuh desah dan tumpukan

sampah

Kita terus berpelukan dalam irama Tuhan. Berlayar

Di antara pulau-pulau yang kemilau, mencari Lukman …

1996

pada Dua Kumpulan Sajak”Penunggu Makam” Beni R. Budiman.

MELANKOLIA

Seperti barisan mahoni di tepi jalan

Tubuhku tegak sepanjang ceruk subuh

Dan bayang hitamku terkapar di aspal

Menekuri arah kendaraan dan merkuri

Azan berkumandang mengajakku pulang

Tapi gema membuat banyak makna suara

Menggambar persimpangan bagi langkah

Dan cuaca menawarkan mimpi indah juga

Derita. Aku bimbang di antara bintang

Sisa. Dan sebuah tabrakan keras sulit

Terhindarkan. Aku berantakan dan luka

Hati belah dua dalam langit melankolia

1996

pada Dua Kumpulan Sajak”Penunggu Makam” Beni R. Budiman

KARNAVAL

Dengan pakaian berwarna kita bergaya.

Beriring Dalam barisan bebek. Kita kembali sebagai anak

Pada karnaval hari-hari besar. Wajah bercahaya

Mulut penuh gula-gula. Hari-hari tinggal canda

Siapa punya air mata ? Di sini tak ada kata bernama

Duka. Mimpi dan imaji mengalahkan luka

Derita ibarat bahasa karangan bunga. Kepedihan

Hanya milik pejuang di medan perang. Kesedihan

Melayang. Dunia dihiasi lampu dan umbul-umbul

Pesta terus dirayakan. Karnaval masih berjalan

Parade bergerak lamban. Penyair memilih diam:

Siapa punya air mata? Siapa lebih suka tangisan?

1995

pada Dua Kumpulan Sajak”Penunggu Makam” Beni R. Budiman.

Beni R Budiman, lahir di desa Dawuan, Kadipaten, Majalengka, 10 September 1965. Pendidikan formal terakhirnya ditempuh di jurusan Bahasa Asing, Program Bahasa dan Sastra Prancis, Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni IKIP (Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan) Bandung, hingga khatam. la menulis sejak masih duduk di bangku sekolah menengah. Semasa masih kuliah, ia aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler di bidang sastera, teater dan pers. Sajak-sajaknya hinggap di halaman “Pertemuan Kecil” Pikiran Rakyat. la pun mengumumkan sajak-sajaknya melalui surat kabar Bandung Pos, Surabaya Pos, Jawa Pos, Pelita, Suara Pembaruan, Media Indonesia, majalah sastera Horison, dan radio Deutsche Welle. Beberapa sajaknya turut dimuat dalam antologi Dua Wajah (1992), Mimbar PenyairAbad 21 (1996), Mafam Seribu Bulan, Cermin Alam, Tangan Besi, dan Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia (2000). Pada tahun 1996 ia turut diundang oleh Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) untuk membacakan sajak-sajaknya dan berbicara mengenai sajak-sajaknya di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. la pun banyak menulis esai mengenai sastera dan kebudayaan. la wafat di Malangbong, Garut, 3 Desember 2002, setelah menderita penyakit jantung, paru-paru dan ginjal. Penunggu Makam adalah kumpulan sajak tunggal Beni R. Budiman yang pertama dan terakhir.(rg bagus warsono)

Selasa, 28 Januari 2020

Data Antologi masuk awal januari 2020

1.Dwi Wahyu Candra Dewi Antologi puisi Kado Istimewa.
2.Dedari Rsia 69 Puisi di Rumah Dedari Penulis Mantra.
3.Heru Patria Berita dari Kolong Tol (2017)
4.Al Ndra Dy Kesaksian Bukit Keramat, alhendra dy
5.Ethex, Gapura, Kupu-Kupu Lucun, Jogyakarta, (2019)
6. Ethex, Pemulung Diksi , Tonggak Pustaka.Mojokerto (2018)
7.Asro Al Murthawy Dkm Lagu Bocah Kubu. puisi, (Imaji. tanpa tahun)
8.Asro Al Murthawy Dkm Equalibrium Retak ,puisi,  (Imaji, 2007)
9.Asro Al Murthawy Dkm Kunun Kuda Lumping kumcer,  (Rumah Kteatif Merangin,2016)
10.Asro Al Murthawy Dkm Syahadat Senggama, puisi, (Imaji 2017)
11.Anisah, Tari Soreng, 2019
12. Tri Tri Tri Astoto Kodarie: Nyanyian Ibunda (Artist, 1992)
13.Tri Tri Tri Astoto Kodarie Sukma Yang Berlayar (KSA, 1995),
14.Tri Tri Tri Astoto Kodarie Hujan Meminang Badai (Akar Indonesia Yogyakarta, 2007),
15.Tri Tri Tri Astoto Kodarie Merajut Waktu Menuai Harapan (Frame Publishing Yogyakarta, 2008),
16.Tri Tri Tri Astoto Kodarie Sekumpulan Pantun,: Aku, Kau dan Rembulan
      (De La Macca, Makassar 2015),
17.Tri Tri Tri Astoto Kodarie Merangkai Kata Menjadi Api (Akar Indonesia Yogyakarta, 2017),
18.Tri Tri Tri Astoto Kodarie Kitab Laut (YBUM Publisher Parepare,2018).
19.Tjahjono Widarmanto Percakapan Tan dan Riwayat Kuldi Para Pemuja Sajak, (2016,satukata),
20.Tjahjono Widarmanto Perbincangan Terakhir dengan Tuan Guru, (Basabasi, 2018),
21.Tjahjono Widarmanto Kitab Ibu dan Kisah Hujan, (Tankali, 2019),
22.Tjahjono Widarmanto Mata Air di Karang Rindu, (satukata, 2013),
23.Tjahjono Widarmanto umayi, (sayukata. 2014),
24.Tjahjono Widarmanto Sejarah yg Merambat di Tembok-Tembok Sekolah. (2015,satukata)
25.Tjahjono Widarmanto Mata Ibu, (satukata, 2010),
26.Tjahjono Widarmanto Kubur Penyair, (diva, 2002),
27.Tjahjono Widarmanto Kitab Kelahiran, (dewan kesenian jatim, 2003)
28.Buanergis Muryono :Grafity Gratitute - Cybersastra
29.Utari Anjani : Ingin
30.Buanergis Muryono: Indonesia Adalah Kita
31.Buanergis Muryono: Napa Lan Pana - Buanergis Muryono
32.Buanergis Muryono :Pencakar Langit - Buanergis Muryono
33.Buanergis Muryono: Pembelah Bumi –
34.Buanergis Muryono: Bunda RAM di mata Mbahkung –
35.Buanergis Muryono : How to Happyness Prof. WD. Astana –
36.Buanergis Muryono: Puisi Ibu - Julianti
37.Buanergis Muryono dan Sintya Arafat Antologi : Kekasih
38.Buanergis Muryono dan Ika Anggistiningrum: Sekolahku
39.Buanergis Muryono : Renungan Zaman - Buanergis Muryono
40.Sugeng Joko Utomo Lelaki Menjemput Secercah Harapan, Suju, 2019
41.Sugeng Joko Utomo Langgam Kidung Cemara, Suju, 2019
42.Antologi – Bersama :Mblekethek - Lumbung Puisi
43.Antologi –Bersama : Satria Piningit - Lumbung Puisi
44.Antologi – Bersama :Indonesia Lucu - Lumbung Puisi
45.Muhammad Lefand Satu Kaca Dua Musim (Pena House, 2014)
46.Muhammad Lefand Jangan Panggil Aku Penyair (Ganding Pustaka, 2015)
47. Muhammad Lefand Khotbah Renungan Tak Utuh Jarak dan Jagung (Pena House, 2016)
48. Muhammad Lefand Revolusi Mental dan Estetika (CV. Erzatama, 2015)
49. Muhammad Lefand Kronologi Imaji (FAM Publishing, 2017)
50. Muhammad Lefand Sakmasek dari Madura dari Indonesia Persembahan untuk Dunia (Sukarno Pressindo, 2018)
51. Muhammad Lefand Penyair dan Orang-orang Kecil (FAM Publishing, 2019)
52.Barokah Nawawi :Bunga Bunga Semak, Pustaka Haikuku 2017
53.Barokah Nawawi :Serampai haiku Pancaran Hati, Pustaka Haikuku 2019
54.Poet Yudisque: Balada Hidup (sebuah antologi), Terbitan; Ahsyara Media Indonesia(AMI), Kendal
55.Al Ndra Dy Pendaras Risau , antologi bersama, THN 2016
56.Indri Yuswandari Lukisan Perempuan (2017)
57.Indri Yuswandari Ini Hampir Pukul Tiga (2018)
58.Indri Yuswandari TekaTeki Catatan Kaki (2019)
59.Gilang Teguh Pambudi, Syair Wangi (Cannadrama),
60.Gilang Teguh Pambudi Geliat Tanah (Cannadrama),
61.Gilang Teguh Pambudi Jakarta Dalam Karung (J-Maestro),
62.Gilang Teguh Pambudi Tarian Gapura (J-Maestro),
63.Gilang Teguh Pambudi Mendaki Langit - 100 Aksi Puisi Pramuka (J-Maestro),
64.Gilang Teguh Pambudi Zira (J-Maestro).

Senin, 20 Januari 2020

Daftar Antologi

http://daftarantologi.blogspot.com/2015/05/
Meseum Penghancur Dokumen, Arizal Malna
Republik Warung Kopi , antologi bersama 8 penyair...
Teh Poci dan Kamar Kecil, 6 Penyair Jawa Barat
Antologi Tonggak , antologi puisi Indonesia modern...
Pulang Melawan Luka, antologi Zubaidah Djohar
Negeri Sembilan Matahari, 50 Penyair Indonesia di ...
Akulah Musi, Pertemuan Penyair Nusantara V Palemba...
Jangan Jadi Sastrawan, Rg Bagus Warsono
Gendang Pengembara , Leon Agusta
Jogya 5.9 Skala Richter
Tanah Ilalang di Kaki Langit, Rini Intama
Narasi 34 Jam , KSI Award
Antologi Pahlawan dan Tikus KHA Mustofa Bisri
Antologi Ballada Orang-orang Tercinta , Rendra
Nuansa dari Pantai Barat, Antologi Bersama
Indonesia Setengah Tiang , Toto ST Radik
87 Puisi Indonesia , antologi bersama
Antologi besama Syair Tsunami
Antologi Bersama Duka Aceh Luka Kita
Air Mata Kopi , Gol A Gong
Antologi Puisi Percakapan Lingua Franca, Temu Sast...
Cahaya Maha Cahaya, Antologi Emha Ainun Najib
Antologi Terkenang Topeng Cirebon, Ajip Rosidi
Tanah Perjanjian , Ajamuddin Tifani
Antologi Bersama Teluk Bahasa
Antologi Buruh Gugat, Wowok Hesti Prabowo
Antologi Tanah Airku Melayu , Fakhrunnas MA Jabbar...
Tuhan Kita Begitu dekat, antologi Abdul Hadi WM
Antogi Bersama : Ensiklopedia Koruptor, (PMK 4)
Antologi Jakarta Senja Hari, Medi Loekito
Antologi : Hujan Setelah Bara, D Kemalawati
Antologi Puisi Hari dan Hara
Antologi Bumi Gugat, 11 Penyair
Antologi Sajak Ladang Jagung, Taufiq Ismail
Antologi Puisi 100 Penyair Perempuan
Antologi : Hujan Bulan Juni, Sapardi Djoko Damono
Antologi, Jaket Kuning Sukirnanto
Antologi, Tadarus , A Mustofa Bisri
Antologi Bersama : Metamorfosis, Grup Dapur Sastr...
Antologi Bersama : Kartini 2012,Perempuan Penyair ...
Antologi : Bunyikan Aksara Hatimu, Rg Bagus Warson...
Antologi Puisi, Inilah Saatnya. Eko Budihardjo
Antologi Sukma Silam , Budhi Setyawan
Antologi : Surat Menjelang Lepas Lajang , Ratna Ay...
Antologi Puisi : Kutunggu Kamu Di Cisadane, Ahmad ...
Antologi Pusi : Berjalan Ke Utara
Antologi Puisi Nobel
Antologi Puisi : Air Mata Tuhan , Medy Loekito
Antologi Puisi Penyair Aceh
Antologi Dukamu Abadi, Sapardi Djoko Damono
Antologi Kadaulatan Pangan , Yonathan Rahardjo
Antologi Abacadabra Kita Ngumpet, Emha Ainun Nadji...
Antologi Namaku Sita, sapardi Djoko Damono
Antologi Bungkam Mata Gergaji kumpulan gumam Ali ...
Antologi Perahu Kertas KUMPULAN PUISI SAPARDI DJOK...
Antologi Dari Daerah Kehadiran Lapar dan Kasih, HR...
Antologi Simfoni Dua, Subagio Sastrowardoyo
Antologi Sayap-sayap . Kahlil Gibran
Antologi Indonesia dalam Titik 13, Penyair Lintas ...
Antologi Arloji , Sapardi Djoko Damono
Antologi Kolam, Supardi Djoko Damono
Antologi Menulis Puisi Lagi, Majelis Sastra Bandun...
Antologi Dunia Bagam Bola, Sosiawan Leak
Antologi Sirami Jakarta Dengan Cinta Gemi Mohawk
Antologi Pantun Anak Ayam, Ajip Rosidi
Antologi Sajak Sikat Gigi , Yudhistira ANM Massard...
Antologi Nyanyi Sunyi, Amir Hamzah
Antologi Rumah Panggung, Linus Suryadi AG
Antologi , Seribu Masjid Satu Jumlahnya, Emha Ainu...
Antologi Tripitakata, Sitok Srengenge
Antologi Pusi Lama, Sutan Takdir Alisyahbana
Antologi Catatan Suasana, Slamet Sukirnanto
Antologi Saksi Ibu Melihat Reformasi, perempuan pe...
Antologi, Aku Ingin Jadi Peluru, Wiji Tukul
Antologi Mimpi Gugur Daun Zaitun, Dorothea Rosa He...
Antologi Tirani dan Benteng, Taufiq Ismail
Antologi , Puisi untuk Sepasang Kekasih, Kahlil Gi...
Antologi Air Mata Kopi , Gol A Gong
Antologi Lalu Batu, Radhar Panca Dahana
Antologi Simfoni Dua, Subagio Sastrowardoyo
ANTOLOGI PUISI MATA MBELING JEIHAN, Sonny Farid Ma...
Antologi Ciuman yang Menyelamatkan dari Kesedihan ...
Antologi Ziarah Malam, Iwan Simatupang
Antologo O Amuk Kapak, Sutardji Calzoem Bachri
Antologi Pahlawan dan Tikus, Mustofa Bisri
Antologi epublik Warung Kopi, antologi 8 penyair
Antologi: Asmarandana, Goenawan Muhammad
Antologi, Cari Muatan empat Kumpulan Sajak, Ajip R...
Antologi Ballada Orang=orang Tercinta , WS Rendra
Antologi 20 Penyair,
Antologi Keroncong Motinggo, Subagio Sastrowardjoy...
Antologi, Kepada Apakah, Afrizal Malna
Antologi Daerah Perbatasan, Subadio Sastrowardjoyo...
Antologi : Orang-orang Rangkas Bitung , Rendra
Antologi Hujan Bulan Juni, Sapardi Djoko Damono
Antologi , Pulang Melawan Lupa, Zubaidah Djohar
Antologi bersama : Akulah Musi
Antologi, Surat dari Matahari, Syarifuddin Gani
Antologi, Kolam, Sapardi Djoko Damono
Antologi Angkatan 2000 , Korry Layun Rampan
Antologi sastra Pra - Indonesia
Antologi Cinta Bahalap
Antologi Bersama Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia...
Antologi Apresiasi Sastra Indonesia Modern, Korry ...
▼ Mei (49)
Meseum Penghancur Dokumen, Arizal Malna
Republik Warung Kopi , antologi bersama 8 penyair...
Teh Poci dan Kamar Kecil, 6 Penyair Jawa Barat
Antologi Tonggak , antologi puisi Indonesia modern...
Pulang Melawan Luka, antologi Zubaidah Djohar
Negeri Sembilan Matahari, 50 Penyair Indonesia di ...
Akulah Musi, Pertemuan Penyair Nusantara V Palemba...
Jangan Jadi Sastrawan, Rg Bagus Warsono
Gendang Pengembara , Leon Agusta
Jogya 5.9 Skala Richter
Tanah Ilalang di Kaki Langit, Rini Intama
Narasi 34 Jam , KSI Award
Antologi Pahlawan dan Tikus KHA Mustofa Bisri
Antologi Ballada Orang-orang Tercinta , Rendra
Nuansa dari Pantai Barat, Antologi Bersama
Indonesia Setengah Tiang , Toto ST Radik
87 Puisi Indonesia , antologi bersama
Antologi besama Syair Tsunami
Antologi Bersama Duka Aceh Luka Kita
Air Mata Kopi , Gol A Gong
Antologi Puisi Percakapan Lingua Franca, Temu Sast...
Cahaya Maha Cahaya, Antologi Emha Ainun Najib
Antologi Terkenang Topeng Cirebon, Ajip Rosidi
Tanah Perjanjian , Ajamuddin Tifani
Antologi Bersama Teluk Bahasa
Antologi Buruh Gugat, Wowok Hesti Prabowo
Antologi Tanah Airku Melayu , Fakhrunnas MA Jabbar...
Tuhan Kita Begitu dekat, antologi Abdul Hadi WM
Antogi Bersama : Ensiklopedia Koruptor, (PMK 4)
Antologi Jakarta Senja Hari, Medi Loekito
Antologi : Hujan Setelah Bara, D Kemalawati
Antologi Puisi Hari dan Hara
Antologi Bumi Gugat, 11 Penyair
Antologi Sajak Ladang Jagung, Taufiq Ismail
Antologi Puisi 100 Penyair Perempuan
Antologi : Hujan Bulan Juni, Sapardi Djoko Damono
Antologi, Jaket Kuning Sukirnanto
Antologi, Tadarus , A Mustofa Bisri
Antologi Bersama : Metamorfosis, Grup Dapur Sastr...
Antologi Bersama : Kartini 2012,Perempuan Penyair ...
Antologi : Bunyikan Aksara Hatimu, Rg Bagus Warson...
Antologi Puisi, Inilah Saatnya. Eko Budihardjo
Antologi Sukma Silam , Budhi Setyawan
Antologi : Surat Menjelang Lepas Lajang , Ratna Ay...
Antologi Puisi : Kutunggu Kamu Di Cisadane, Ahmad ...
Antologi Pusi : Berjalan Ke Utara
Antologi Puisi Nobel
Antologi Puisi : Air Mata Tuhan , Medy Loekito
Antologi Puisi Penyair Aceh

Minggu, 12 Januari 2020

Penyair : Antologi Puisi Gila Penyair Indonesia Lumbung Puisi sastrawan Indonesia 2020





Penyair :



Antologi Puisi Gila Penyair Indonesia

Lumbung Puisi sastrawan Indonesia

2020



Editor : Rg Bagus Warsono



1.Agustav Triono (Purbalingga)

2. Ali Syamsudin Arsi (Banjarbaru)

3.Aloeth Pathi (pati)

4.Anisah (Magelang)

5.Asep Muhlis (Banjar, Ciamis)

6. Asep Syahril Fajri (Cilegon)

7.Asro al Murthawy (Merangin Jambi)

8.Bunga Awanglong (Jogyakarta)

9.Diah Setyawati (Tegal)

10.Dwi Wahyu Candra Dewi (Semarang)

11.Emby B. Metha (Flores Timur)

12.Elliyas Zulkifli (Merangin Jambi)

13.Eri Syofratmin (Muara Bungo, Jambi)

14.Evita Erasari (Lampung)

15.Fensiadi Giliyang

16.Gilang Teguh Pambudi (Jakarta)

17.Harkoni Madura (Surabaya)

18.Hadi Lempe (Pekalongan)

19.Heru Patria (Blitar)

20.Indri Yuswandari (Kendal)

21.Irna Ernawati (Indramayu)

22.Junaidi (Pati)

23.Marlin Dinamikanto (Jakarta)

24.Muhammad (Karawang)

25.Muhammad Lefand (Jember)

26.Munadi Oke

27.Naning Scheid (Brusel)

28.Osratus/Sutarso (Sorong)

29.Raden Rita Maimunah (Padang)

30.Ramadhan Abdullah (Candu)

31.Rg Bagus warsono (Indramayu)

32.Riswo Mulyadi (Banyumas)

33..Ryan /Arya Arizona

34.Samian Adib (Jember)

35.Sarwo Darmono (Lumajang)

36.Siti Khodijah Nasution (Jakarta)

37.Sudarmono

38.Sugeng Joko Utomo

39.Sukma Putra Permana (Bantul)

40.Wadie Maharief (Jogyakarta)

41.Wardjito Soeharso (Semarang)

42.Zaeni Boli, (Flores)


Puisi Gila Hadi Lempe : Rindu Gila


Hadi Lempe

                                             RINDU GILA

Kamu terlalu jujur untuk di rindukan
Dan benar saja
Karena setiap kali ada rindu padamu
Tak terkira pula apa yang harus di suguhkan
Pertanyaan itu selalu terlontar
Ini gila-gilaan
Atau permainan gila
Aku selalu saja kau ajak gila
Ach.....
Rindu itu,
Rindu yang bikin gila

Pkl.08/01/020


Sabtu, 11 Januari 2020

Puisi Gila : Muhammad Lefand Bait-bait Kegilaan

Muhammad Lefand

Bait-bait Kegilaan
Atas nama apa kegilaan harus dijunjung
Bertanyalah kepada bait yang ditulis jagung
Mata menatap mata menjadi rindu dan rasa
Hujan turun di celah kata menjelma air mata
Bacalah bait kagilaan ini dengan tertawa
Agar mengerti hikmah patah hati dalam bercinta
Penyair bukan raja yang harus dijunjung tinggi
Tapi hati harus tabah menjalani kegilaan sepi
Tak ada kata yang harus ditanam seperti padi
Karena hidup hanya memerlukan cara untuk berdiri
Penyair mencipta puisi setiap hari tanpa bumbu
Kita membaca serius dengan segenap rindu
Tertawalah sebelum nasi kucing dimakan
Karena rasa sakit di hati bukan kenangan
Penyair begitu sumbringah di atas panggung
Kita cukup minum kopi sambil makan jagung
Jember, 2020

Jumat, 10 Januari 2020

Puisi Gila Ramadhan Abdullah Fitnah dunia

Puisi Gila

Ramadhan Abdullah
Fitnah dunia seksi, seks alkohol perampokan puisi kata-kata

Musnah rima amoral kecanduan

Pemerintah melahap harta jabatan politik, rakyat sengsara. Martir judi balapan lubang vagina penis

panjang berjatuhan karena ambisi

Tumbuh berkembang anak cucu

Air putih mengalir di urat nadi

Gunung-gunung pun hancur berkeping

Mengeluarkan lahar darah, di puncaknya

Ah, ah, ah, aku mimisan.

Celana bajuku sobek pengangguran

Kantongku ijazah tak berguna

Kolong jembatan aku berteduh

Meminta belas kasih para pelacur

Membuka lubangnya yang merah berbulu

Hijau tanaman padi petani yang gersang ladang kemarau

Tanpa kesejahteraan

Istana raja-raja menjulang megah

Birahi perawan tua tanpa kepedulian

Sesuap nasi ditiadakan cinta permata

Pergelangan tangan jahil

Pacuan kuda malam-malam

Terasa bumi adalah manusia

Surga dibelahan dada yang tersisa

Dua ribu rupiah untuk sabun pencuci

Noltalgia taman indah, remang rembulan

Menembum pori-pori dahaga

Kaum remaja hobinya gila dewasa

Besar kuat hitam legam

Tapi hayalan belaka tak terbalas

Aku

Kau

Kita

Mereka

Pemerintah

Berdagang

Menghitung jajan

Jadi tulang

Tanpa ke belakang

Candu, 29 Desember 2019

Page 2

Aku si gila dari negeri mantan jajahan.

Entah apa?. Mungkin belum punya senjata untuk membasmi musuh kemarin dahulu. Aku si gila



yang suka marah, kadangkala cintaku menembus cakrawala




Puisi Gila , Bunga Awanglong : Tragedi Oktober 2010

Mungkin seperti ini rasa nya
Hidup dalam kurungan

Bisa melihat tapi ta bisa berbuat
Walopun jiwa mampu bergerak ,, begitu hebat
Semua serba tersekat dengan batas yang di buat
Pada akhirnya semua hanya tinggal mimpi dan kenangan ,
Harus di lepas dengan begitu berat ..

Saat melihat mata ,, harus nya ku tau ..
Itu semua sangatlah sulit
Tapi .. kU tak perduli
Asalkan bisa ,, harap kU terpenuhi

Hari demi hari berlalu
Berjalan dengan kepedihan hati
Di temani dinding sepi

Ketika hari kU terhenti
Semua sudah terlambat
Apapun yang di lakukan
Tak kan mungkin bisa kembali
Tinggallah sesal di hati
Yang akan teringat sampai mati
( tragedi Okt 2010 )

Puisi Gila Osratus (Sutarso) : PROTES KETIKA GILAKU TERPASUNG

PROTES KETIKA GILAKU TERPASUNG


"dengar dulu:
 dari dunia nyata,
 aku pindah lokasi.
 bersama perahu imaji,
 menyeberang
 ke kampung khayali.
 lalu, sampai aku
 di tepi kali puisi.
 berkendara diksi,
 aku menuju bandara hati.
 dengan pesawat jiwa,
 aku kembali ke dunia nyata.
 dari ranah fiksi banyak manfaat yang bisa kita petik, diriku.
 gejolak nyali baikku
 yang  kau anggap gila itu,
 yang terpasung letupletup 
 egomu itu, telah bangkit
untuk mengubur rasa benci dan dendam
untuk memaafkanmu
sebenarbenar memaafkanmu."

Sausapor, 09-01-2020




Puisi Gila Diah Setyawati : KETIKA TEMBOK BICARA

KETIKA TEMBOK BICARA

melepas mata batin pada kekarmu
bertahun menjadi saksi bisu
tiba tiba kau angkat bicara
akh.bermunculah larik larik kata disana
sedang aku meraupnya
mencoba merangkainya
menjadi puisi yang tak henti
jangan katakan gila

ketika menghitung angka angka tagihan
ketika gosong bawang goreng
karena keasyikan
berkerut jidat,nahan malu
bagai bola pingpong menyerang bertubi
menghakimi
sembari berkata gilaaa

kutatap tembok untuk kesekian kali
sebelum kedip mata
saat bercinta
dibalut cemburu terus memburuku
sesungguhnya engkaulah ladang kata
dimalam gulita
sumur imaji yang tak pernah habis
meski lagi kempas kempis
kudapati wajahmu tak lagi manis
penuh retak
minta dipermak
Ketika tembok bicara
puisi tetap ada
setengah gila memilihmu
tak ada selingkuh
tetap kukuh
barangkali lantaran rasdan  ( waras edan)


Tegal' 10 Januari 2020.
jam 23.21.


Puisi Gila , Harkoni Madura, DAGELAN GILA NEGERI ANTAH BERANTAH

DAGELAN GILA NEGERI ANTAH BERANTAH



di negeri antah berantah kandidat wakil rakyat meraung-raung

berteriak serupa orang gila di panggung

mengatasnamakan rakyat tanpa ingin menangguk untung

panji warna-warni erat digenggam tangan

dikipas angin yang disunggi goyang daunan



tembok-tembok rumah serta pohonan disesaki banner dan stiker

berparam kalimat-kalimat bombas tanpa ruh

jadi konsumsi berita televisi juga headline koran- koran

membikin perut mules ingin muntah sebab tak tahan



program-program dan janji-janji diapungkan

begitu menang dan memangku amanah jabatan

acuh pada pendukung serta simpatisan

yang dulu menggila mengagung-agungkan



orang-orang bersorak-sorai berjingkrak kegirangan

begitu dia digiring ke hotel prodeo lantaran tertangkap tangan

sebab uang negara seenaknya dijadikan bancakan serta menumpuk kekayaan



di penjara dia depresi senyum-senyum sendiri

tanpa ditemani anak istri seraya berteriak mengangkasa:

“aku gila...aku gilaa....aku gilaaa...aku gilaaaa....aku gilaaaaa....”



Madura, 4 Januari 2020.





Harkoni Madura. Lahir di Sampang, 3 Desember 1969. Puisinya dimuat di Jawa Pos, Radar

Madura,  Media,  Tera,  Lensa Madura,  dan  Aschal.  Puisinya  juga  dimuat  dalam  antologi

bersama antara lain: Dzikir Pengantin Taman Sare (2010), Tikar  Pandan di  Stingghil (2011),

Memo  Untuk  Wakil Rakyat (2015),  Mengunyah  Geram (2017) dan lain-lain.

Beralamat di   SDN    Banyuates 4,   Kec.   Banyuates,    Kab.  Sampang,   Madura   69263.

E-mail: harkoni..madura @gmail.com .Hp.081334213028.








Puisi Gila : Evita Erasari : Dunia Gila

Dunia Gila


Setiap orang berkata kata
Seperti denting gelas kaca
Nyaris pecah bergesekan
Entah apa yang diperebutkan
Dengan banyak kalimat itu

Aku
Kau
Ini
Itu
Ahh

Ini dunia hampir gila
Juga akan disebut gila
Jika kau tak ikut gila


Semarang ,
9 Jan 2020

Evita Erasari 

Puisi Gila, Asep Syahril Fajri Cinta

Puisi Asep Syahril Fajri



Cinta

 Jelangkung-jelangkung
Datang tak dijemput
Pulang tak diantar

Agar-agar dikunyah
Manis dan lembut terasa

Dalam kampanye
Aku butuh dukunganmu
Engkau butuh belas kasihku

Tertawa menang lotere
Jadi durja kemalingan





Asep Syahril Fajri, Lahir pada 22 Oktober 1985 dari kesucian rahim sang fajar,dibesarkan oleh belaian tangan kekar ketegaran.Tinggal di Serang – Banten, sehari-harinya ialah sebagai buruh di salah satu pabrik di Cilegon – Banten. Pemilik usaha Sirup Wedang JaMer MADE IN ASSYAFA ini sedang mempersiapkan kumpulan puisi tunggalnya ; Indonesia, kami kenang elok tubuhmu.

Puisi Gila , Sukma Putra Permana GUNA-GUNA BIBIR MERAH MEREKAH TIPU DAYA SI TUA BANGKA

Sukma Putra Permana

GUNA-GUNA BIBIR MERAH MEREKAH

TIPU DAYA SI TUA BANGKA



Kadang kau tersadar dan menyesali keputusanmu di masa lampau. Tapi manakala bibir bergincu merah tebal merona menyala itu mengecup pipimu, maka muncul lagi harapan-harapan yang membuatmu selalu terpana dan terpesona penuh asa. Walau usia si penggoda itu tak lagi dapat dibilang muda, tapi gairah menggelora yang dihembuskannya membangkitkan nafsu cinta purba. Harta benda, kendaraan, rumah, kesehatan, sekolah, bahkan melayang jiwamu pun tak perlu susah. Serahkan semua dalam tanggungannya pasrah. Panas, hujan, gempa, longsor, api membakar, ataupun air bah melanda, tak usah resah. Semua petaka dalam sekejap sirna musnah dengan rayuan menggoda bibir merah segar merekah.

Kadang jika tersadar, kau tak habis pikir, apa yang menyebabkan kau jatuh cinta pada si Tua Bangka. Tidaklah cantik wajahnya, tidak pula indah istimewa bentuk tubuhnya. Bertahun-tahun pelayanannya pun sering mengecewakan bahkan kadang menyakitkan hati mengacaukan perasaan. Tapi, sekali lagi, semua pikiran-pikiran itu lenyap dengan segera setelah kau lihat bibir merah bergairah itu di hadapanmu. Nikmatilah, hidup yang tampak indah penuh amora, serasa berbulan madu selamanya. Hembusan udara sejuk asmara menghela hasrat-hasrat tak tertahankan.

Tapi, berhati-hatilah! Akan ada masa, ketika si Tua Bangka mulai ingkar pada janji-janji indah yang pernah diucapkannya. Ia akan menghindar, berdalih dengan alasan-alasan yang tak masuk akal. Karena sesungguhnya, telah habis musnah semua yang pernah kau percayakan kepadanya. Ia telah GAGAL BAYAR TRILYUNAN RUPIAH. Ketika kau menuntut dan menumpahkan segala rasa kekecewaan, si Tua Bangka itu dengan santainya akan berkata:

Kau salah jika kecewa, berkeluh-kesah, atau menuntutku seperti itu. Dulu di awal, sebelum kau putuskan untuk hidup bersamaku, tentu tak kau baca dengan teliti dalam buku proposalku, semua SYARAT DAN KETENTUAN BERLAKU!!!

Dan kau hanya dapat terhenyak terdiam lemas tanpa gairah…



Januari 2020

 


SUKMA PUTRA PERMANA lahir di Jakarta,     3 Februari 1971. Beberapa buku yang pernah memuat puisi-puisinya, antara lain: Yogya Dalam Nafasku (2016), Negeri Awan (2017), Negeri Bahari (2018), Satrio Piningit (2018), Anak Cucu Pujangga (2019), dan Segara Sakti Rantau Bertuah (2019). Buku puisi tunggalnya: Sebuah Pertanyaan Tentang Jiwa Yang Terluka (2015). Sekarang beralamat di: Ring Road Timur Mutihan No.362 RT.5, Wirokerten, Banguntapan/Kotagede, Bantul, D.I. Yogyakarta 55194.

Puisi Gila, Sarwo Darmono : Edan

EDAN

Melu edan
Edan dewekan
Kepingin dadi juragan
Melu edan
Edan mbelani juragan
Sing dibelai edan pisan
Melu edan ben keduman
Keduman jabatan
Keduman panganan
Keduman pakormatan
Keduman kesenengan

Supaya keturutan
Ngoceh sak papan papan
Ngoceh sak dhalan dhalan
Ngoceh neng koran koran
Ora lali njaluk bantuan para setan
Ocehane ora karuan
Ora perduli gawe gelane liyan
Ora perduli ragat duwit jutaan
Ora perduli direwangi gelutan
Sing penting melu edan


Karepe Kabeh keturutan
Kasunyatan dadi juragan
Dadi juragan tambah edan
Digawe kesempatan
Mumpung duwe kekuasaan
Ora wedhi Karo siksaan
Rumangsane nek edan
Ora ana hukuman
Dasar pancen edan
Ya... Tetep ae edan

Kanggo sing maca tulisan Iki
Aja katut edan
Sing penting sehat badan lan iso mangan
Sanajan Sega sak kepalan
Tansah antuk barokahe Tuhan
Slamet donya lan Akherat Kersane kang Maha Wikan           

Lumajang ,Rebo Pon 08012020
Pangripta Sarwo Darmono, 

Kamis, 09 Januari 2020

Empat Titik Kosong

4.0 adalah nama tren otomasi dan pertukaran data terkini dalam teknologi pabrik. Istilah ini mencakup sistem siber-fisik, internet untuk segala, komputasi awan, ini dibutuhkan kesiapan sumber daya dan infrastrukturnya agar menuju zaman ini Indonesia tidak jauh tertinggal.

Pada sisi penyair tentu harus dapat mengikuti era semacam ini dengan penguatan karakter yang dapat menghadilkan mutu yang diharapkan.

Bukti melekatnya karya seni dan personal seniman itu telah ditunjukan seniman-seniman yang telah populair dan publik pun langsung mengatakan dalam hatinya ketika melihat wajah atau gambar seniman tersebut. Ketika gambar itu menampilkan wajah seseorang langsung pembaca atau yang melihat gambar itu menyebut dalam hatinya akan jenis seni yang digelutinya. Ketika ditampilkan Wajah Rio Febrian maka orang langsung yakin ia adalah seorang penyanyi. Ketika di rampilkan wajag Gesang orang langsung menyebut dalam hatinya ia adalah komponis lagu keroncong bahkan pada nama lagunya Bengawan Solo. Ketika ditampilan Wajah Chairil Anwar orang akan menyebut dalam hatinya dialah sastrawan Angkatan '45 dan pengarang puisi Kerawang Bekasi. Demikian melekatnya kegilaan itu pada personal seniman.

4.0 menghasilkan "pabrik cerdas". Di dalam pabrik cerdas berstruktur moduler, sistem siber-fisik mengawasi proses fisik, menciptakan salinan dunia fisik secara virtual, dan membuat keputusan yang tidak terpusat. Lewat Internet untuk segala (IoT), sistem siber-fisik berkomunikasi dan bekerja sama dengan satu sama lain dan manusia secara bersamaan. Lewat komputasi awan, layanan internal dan lintas organisasi disediakan dan dimanfaatkan oleh berbagai pihak di dalam rantai nilai.(wiki)

Dari pengertian ini Empat Titk Kosong adalah bagaimana seseorang dapat menangkap perubahan zaman modern ke melenial dimana layanan harus secepat mungkin dan dibutuhkan kepiawaian untuk mengoperasikannya.
Pentingnya pemahaman karakter penyair agar Anda tdk dikelabui pemikiran, dan cepat silau pd seseorang, pdhal cuma setara dng kita.Penyair perlu memahami  ttg penguatan karakter penyair apakah Anda masih posisi Dua titik kosong saja? atau sudah tanggap 2020.Jadi dng melihat karakter penyair Anda akan dpt mengukur seseorang, apakah dia berada di empat titik kosong atau bukan.
Satu titik kosong sampai Empat titik kosong Pembentukan Karakter Penyair hanya sebagai pemahaman saja, agar semua semakin maju.

Sekarang Evaluasi Anda masih berada di satu titik kosong saja?! tp ngaku penyair.Penguatan karakter Penyair: "2.0" : Bisa mengakses intermet, fb, masuk komunitas dsb.

Lalu seseorang diberitakan media besar nasional, kita tinggal mesem saja, zaman ini mana ada media asli independent !Jika ada yg membanggakan penerbit mayor tinggal tertawa saja, zaman ini bukan zaman monopoli spt angkatan Balai Pustaka!

Penguatan Karakter Penyair "4.0": menerbitkan antologi, mengunggah karya di web, dimuat di media, baca puisi di publik dsb. Empat Titik Kosong contoh lain  misalnya bukunya telah mancanegara, misalnya dibaca di negara tetangga. Upaya menuju ke arah itu dilakukan gagasan Puisi Internasional oleh lumbu g Puisi yang merupakan salah satu upaya pembentukan karakter Empat Titik Kosong. Contoh lain Empat Titik kosong adalah evaluasi diri dengan melihat pada diri kita  ada Empat Titik Kosong : inovator, motivator, ahli, narasumber, intrepreneur, talent, penguasaan bhs asing dan portovolio. Termasuk bila puisimu telah dialihbahasakan dalam lebih dari dua bahasa sudah merupakan Empat Titik Kosong.

Puisi Gila, Rg Bagus Warsono : Hujan

Hujan,

Tik-tik bunyi hujan itu Ibu Sud

Tetes Hujan di Bulan April itu Mus Mulyadi,

Hujan di Bulan Juni itu Sapardi Djoko damono

Hujan itu Tere Liye,

Hujan itu anugerah Allah,

(diam)

Banjir itu "GARA-GARA RAIMU !"

Puisi Gila : Indra Yuswandari : RAJA

RAJA

Kau meminta kutulis puisi tentang raja
Aku bingung
Raja yang mana?
Raja minyak?
Raja kapal?
Raja dangdut?
Raja hutan?
Atau rajasinga?
Aku tidak mengenal semuanya

Tapi ini ada yang lagi viral
Raja bual
Ya, raja bual
Tiap hari omongannya mbual melulu
Gak nyadar kalau sebagian rakyat udah eneg nglihatnya
Pingin juga sih ikut demo nurunin dia
Atau ikut menandatangani semacam pakta menuntutnya mundur
Tapi kata pendukungnya yang seiman,rakyat wilayah lain tidak boleh ikut campur,tidak boleh ikutan demo

Udah tahu kerajaannya kelelep, eh kesana kesini cuma retorika aja,ya  enggak salah dong kalau mahadirajanya turun tangan langsung
Payah, raja cuma pandai berakrobat
naik sepeda lepas tangan, ada  persoalan enggak bisa menyelesaikan

Eh, ini raja beneran atau dolanan ya?
Jangan- jangan dia raja dolanan...

09.01.2020
Indri Yuswandari

Puisi Gila : Eri Syofratmin : GILA KURSI KURSI GILA

PUISI-PUISI  ERI  SYOFRATMIN

GILA  KURSI KURSI GILA



Pada,

: Sandaran empuk,

  Sebelum duduk.

Kau,

: Pancangkan baliho wajah

  Ditiap-tiap simpang;

  Ditiap-tiap lorong,

  Ditiap-tiap kampung,

  Ditiap-tiap bukit,

  Ditiap-tiap lurah,

  Ditiap-tiap tiang,

  Ditiap-tiap batang,

  Ditiap-tiap sudut kota,

  Menghambur kata,

  Menabur senyum manis

  Penuh harap dan kecemasan.



Pada,

: Sandaran empuk,

  Sebelum duduk.

Kau,

: Ikrarkan janji,

  Pada setiap orang;

  Pada tiap tiang,

  Pada tiap batang,

  Pada tiap perorangan;

  Dengan uang sogokkan,

  Dengan bisikkan, "cucuk aku sayang".



Pada,

: Sandaran empuk,

  Sebelum duduk.



Kau,

Memasang umpan,

Memasang iklan,

Memasang harapan.



Dan,

: Setelah kau duduk.

  Tak kau hiraukan lagi,

  Janji-janji manismu.

  Rakyat masih saja,

  Mengais derita.



Oooo...Jing gonjang-gonjing, gonjang-ganjing,

Oooo...Ning pening-pening-pening-pening ning,

Oooo...Di obok-obok,

Dinina bobok, digadai kapok,

Sudah pada begok-begok.

Pada sok tau,

Pada belagu,

Pada Asu,

Joget-joget sama pembantu.



Sudah semakin sesat,

Sudah semakin melarat,

Sudah semakin sekarat,

Sudah banyak di sunat.

Banyak yang gila pangkat,

Banyak yang patpatgulipat,

Biaya kehidupan semakin meningkat.

Tanah di gadaikan,

Hutang-piutang selilit pinggang,

Gawat !!!



Sarjana,

: Setengah gila,

  Menyandang ijazahnya,

  Komat kamit menyalahkan penguasa.





Muara Bungo, 2 Januari 2020.

















BIOGRAFI ERI SYOFRATMIN



ERI SYOFRATMIN lahir di Muara Bungo 07 September 1970. Mulai bergiat di dunia seni dan sastra ketika menempuh pendidikan di ASKI Padangpanjang pada tahun 1989 sampai tahun 1994 dan melanjutkan studi S1 di IKIP Padang jurusan Sendratasik selesai pada tahun 1998. Puisi puisinya banyak dimuat diterbitan Ganto, Harian Singgalang dll. Semasa kuliah banyak berkecimpung di Taman Budaya Padang bersama penyair-penyair dan seniman sumatera barat. Pendiri Forum Komunikasi dan Kreasi Pemuda di Kabupaten Bungo. Pernah aktif di Sanggar Pemda Kabupaten Bungo yang bergerak dibidang seni tari dan musik tradisi. Puisi-puisinya juga tergabung dalam antologi bersama seperti PRASASTI (1999) dan LACAK KENDURI (Dewan Kesenian Merangin, 2015) KITAB KARMINA INDONESIA (KKK, 2015). Aktif berkegiatan seni di Komunitas Seniman Bungo dan Sanggar Pisang Kayak. Saat ini menjadi tenaga pengajar Seni Budaya di SMPN 1 Muko Muko Bathin VII dan SMPN 1 Muara Bungo.

Rabu, 08 Januari 2020

Wong Kenthir dan Kegilaan yg Wajar , Rg Bagus Warsono

Menjadi seniman panggilan jiwa yang tak terkendalikan bahkan oleh dirinya. Seniman dengan personalnya yang melekat memiliki ciri-ciri pribadinya tersendiri bahkan tak dimiliki oleh orang lain. Inilah yang menjadi dasar di dalam berkesenian termasuk sastra di dalamnya juga sama dengan di berbagai jenis kesenian lain.

Seniman yang telah memiliki kelekatan dengan dirinya tak dapat dipisahkan bahkan merupakan figur yang menjadi pamor karya seninya.

Bukti melekatnya karya seni dan personal seniman itu telah ditunjukan seniman-seniman yang telah populair dan publik pun langsung mengatakan dalam hatinya ketika melihat wajah atau gambar seniman tersebut. Ketika gambar itu menampilkan wajah seseorang langsung pembaca atau yang melihat gambar itu menyebut dalam hatinya akan jenis seni yang digelutinya. Ketika ditampilkan Wajah Rio Febrian maka orang langsung yakin ia adalah seorang penyanyi. Ketika di rampilkan wajag Gesang orang langsung menyebut dalam hatinya ia adalah komponis lagu keroncong bahkan pada nama lagunya Bengawan Solo. Ketika ditampilan Wajah Chairil Anwar orang akan menyebut dalam hatinya dialah sastrawan Angkatan '45 dan pengarang puisi Kerawang Bekasi. Demikian melekatnya kegilaan itu pada personal seniman.

Jadi sangat beralasan jika antologi Gila ditampilkan untuk melihat sejauh mana kegilaan yang wajar yang dilakukan seniman sastra (penyair) pada tataran tertentu. Boleh jadi kelak suatu saat buku ini dicari banyak orang untuk memperkuan historia data seseorang (penyair). Bahwa yang bersangkutan betul memiliki kelekatan dengan jenis seninya yaitu puisi sang dibuktikannya dengan buku antologi Wong Kenthir. (8-1-20 bersambung) 

Senin, 06 Januari 2020

Puisi Gilanya Munadi Oke : Rintihan Kepala yang Terapung

Rintihan Kepala yang Terapung

Seonggok kepala terapung
Keruh air membawanya berkelana
"Tolong aku!! ",
Katanya kepada setiap mata...

"Sebentar, biar kuambil dulu bagianku, baru ku kasih kamu", kata cukong bejad sambil menghitung uang donasi.
" Pertahankan kepalamu di atas air, biar ku rekam untuk kujadikan berita utama" kata seorang reporter sambil membetulkan arah sorotan kameranya.

Sementara...
Di sudut lain...
Seseorang asyik menulis status di handphonenya, " Gubernur ga becus kerja, buktinya...masih banjir juga ", sambil kemudian mengambil gambar kepala yang terapung.

Lalu sepotong kayu menghantam kepala itu dan mendorongnya ke tepi liang kubur.
Masih ku dengar rintihannya, " Tuhan, tolong hancurkan juga manusia manusia tak beradab itu "
Hingga akhirnya aku tak mampu lagi menahan luapan air mata.

SH
Jakarta 02012020

Puisi Gila : Ali Syamsudin Arsi ORANG-ORANGAN DI TENGAH PASAR

 Ali Syamsudin Arsi

ORANG-ORANGAN DI TENGAH PASAR

SEDANG PASAR TAK PERNAH MAU TAHU
BAHWA ADA ORANG-ORANG DI TENGAH PASAR
KETIKA SEMUA SIBUK MEMAMAH BIAK
DENGAN BUIH SEMAKIN MEMBUNCAH,
TERDENGAR SUARA DARI LOS DAGING
DENGAN AROMA SAKRAL UPACARA PENGUBURAN IKAN YANG MULAI MEMBUSUK SEBAGAI DAMPAK DARI SEMPROTAN PEMBASMI HAMA TANAMAN,"

Adakah yang lebih parah dari sekedar merampas hak anak-anak bangsa  pelanjut estafet generasi yang tak lagi kenal warna bendera, teks Sumpah Pemuda juga susunan kata Proklamasi RI Tahun 1945 bahkan sangat tidak mengerti jenis apa wujud UUD 45 di mata mereka, semakin jauh semakin dijauhkan dari dari semua persoalan hidup dan kehidupan, sayap-sayap lepas dari kepak," sejarah peradaban orang teriak lantang.

Ali Syamsudin Arsi, lahir di kampung Tubau, Pantai Hambawang, Hulu Sungai Tengah, Prov.Kalsel. Memang suka menulis dan tampil baca puisi.

Puisi Gila : Marlin Dinamikanto : Tuna Asmara

#PuisiMarlin
TUNA ASMARA

Berjalan di antara hamparan rindu yang bergerak. Mengendap gagap. Seperti ranting kering belajar menumbuhkan daun di musim penghujan yang telat.

"Ini pertengahan Desember," katanya kepada rimba Kurusetra yang gelap.

Pertarungan el clasico Karna vs Arjuna gagal dimainkan. Sebab Ki Dalang bermuram durja. Digerogoti rindu yang bertunas di pikirannya

Mungkin saja Dewi Amba berpeluk malam di sana. Menanti Resi Bhisma yang tumben telat berlaga di Kurusetra.

Sedangkan hatinya gelisah ketika jiwa sudah di ujung anak panah Sri Kandi. Ingin terbang menancap ke dada kirinya tapi Bhisma sudah tidak ada.

Rindu semakin berserak seperti kawanan semut berjejal di lodhong gula yang lupa ditutup. Dewi Amba terkapar membawa hasrat yang perih dalam tidurnya.

Rindu yang suaranya parau beranak di pikirannya. Mungkin saja dia Karna yang lahir dari telinga Dewi Kunti. Dipaksa bertanding melawan Arjuna yang samasama piawai melesatkan anak panah.

Atau Dewi Amba yang menunggu kematian Bhisma di pintunya alam kelanggengan.

Tapi dalang bahlul merusak segala cerita tatkala Rindu tidak segera menemukan cinta.

di rumah hatinya yang tuna asmara

Bogor, 18 Desember 2019

Minggu, 05 Januari 2020

Puisi Gila Heru Patria : Jancuk

JANCUK!

Oleh : Heru Patria





Saat pejabat menjelma jadi kapal keruk

Segenap kekayaan negara disikat secara maruk

Hingga dalam waktu singkat kekayaan menumpuk

Rakyat yang melarat hanya bisa mengumpat, Jancuk!



Proyek besar disulap jadi ladang empuk

Tanda tangan dikomersilkan selaris kerupuk

Tak peduli kehidupan rakyat makin terpuruk

Sambil batuk-batuk rakyat misuh, Jancuk!



Saat pejabat bersikap layaknya beruk

Bersikap acuh meski langit hendak ambruk

Orang orang kecil tak pernah tahu nikmatnya lauk

Makan nasi campur garam melontar geram, Jancuk!



Jika kau nanti sudah tak lagi duduk

Tiada seorang jua yang mau tunduk

Saat itulah sikap pongahmu mulai takhluk

Kau terdiam terima umpatan, Jancuk!



Cepat tinggalkan kursi empuk

Atau kau tunggu kami main timpuk

Kami terlalu bosan dengan segala akal busuk

Biarkan kami berteriak, Jancuuuk!





Blitar, 4 Januari 2020

BIODATA :

Heru Patria adalah penulis dari kota Blitar. Sampai saat ini telah menerbitkan 21 novel, 11 kumpulan cerpen, dan 1 kumpulan puisi. Novel terbarunya berjudul Jangan Mimpi Jadi Jokowi. Penulis dapat dihubungi di 0857 8414 5106

Bersama Zosua Igho

    Zosua Igho dan Rg Bagus Warsono 

Puisi Gila : Asep Muhlis :KAMBINGKAH AKU

KAMBINGKAH AKU

Asep Muhlis



Seasyik kambing menjumput ruput

aku begitu fokus mengulum bening pipimu



Serenyah kambing mengunyah rumput

aku begitu gereget memandang ranum bibirmu

Serupa kambing yang kerap datang ke ladang yang sama

aku selalu berulang menghadirkanmu  pada ladang ingatan



Segirang kambing berlarian di padang

kala aku dapat sapaan di hamparan hatimu yang lapang



Tak peduli aku telah jadi gembala cintamu

yang penting  bisa berlarilari dan mengembik

memamahbiak tanpa mengikuti musim dan cuaca



Serang, 28 Januari 2019






Asep Muhlis

Lahir di Ciamis, 21 Januari 1963

Pernah belajar di SMAN Banjar - Ciamis

Pernah belajar di IKIP Bandung

Bekerja di Pemda Provinsi Banten

Tinggal di Kota Serang - Banten

Puisinya dimuat dalam ;

Antologi puisi bersama MENYERUAK ,penerbit D3M Kail, Jakarta, 2018
Antologi puisi bersama DARI NEGERI BAHARI, penerbit Kosa Kata Kita (KKK), Jakarta, 2018
Antologi puisi bersama CINTAMU KUJAGA, penerbit D3M Kail, Jakarta, 2018
Antologi puisi bersama REMAH RINDU,  penerbit D3M Kail, Jakarta, 2019
Antologi pentigraf bersama  WANITA GURU BANGSA , penerbit D3M Kail, Jakarta, 2019
Antologi puisi bersama KOMANDAN, penerbit D3M Kail, Jakarta, 2019
Antologi puisi bersama NEGERI PENYAIR, Forum Silaturahmi Penyaiur Lintas Daerah Nusantara, 2019


Puisi Gila: Wadie Maharief : Aku Ingin...



Aku Ingin...

aku ingin jadi pejabat
duduk di kursi empuk
dikelilingi anak buah tinggal perintah
yang berani bantah kupecat
yang pandai menjilat kuberi duit

pilih aku
aku ingin jadi pejabat kuat
bukan cuma berkuasa tapi juga kaya
biar pun mencuri uang negara
kuatur semua suka-suka

aku pejabat sahabat konglomerat
aku beri peluang menangguk uang
harga sembako dan bbm naik
rakyat terjepit ekonomi sulit
proteslah, akan kubiarkan saja
biarkan saja...

aku ingin jadi pejabat punya derajat
lidaku pandai bersilat, jidat berkilat
perempuan-perempuan terpikat
selalu mendekat biar cuma jadi simpanan syahwat

laknat...!

Yogya 04012020

Tentang penulis:
Wadie Maharief, lahir di Prabumulih, Sumsel 13 Mart 1955. Kini tinggal di Yogya, puluhan tahun sejak 1980-an menjadi penulis lepas dan wartawan pada beberapa media cetak, suratkabar.
Banyak menulis puisi, cerpen dan esai, namun belum sempat membukukan puisi-puisinya.

Puisi Gila Elliyas Zulkifli, SUMPAH PENYAIR GILA

Puisi Elliyas Zulkifli

SUMPAH PENYAIR  GILA



Ini bukan sebatas corat-coret kertas semata

mimpi di atas mimpi

buah pinanganku terhadap waktu

klimaks dari persetubuhan dengan takdirku

Bila kau hendak congkak mendongak

Sombonglah pada jenismu

jangan padaku



Aku cuma  penyair gila

bagiku semua rata kecil semata

Jangan minta paksa aku melontarkan amarah

seperti lahar kata-kata menyerapah ke segala arah

para ulama, gerombolan pemimpin atau kumpulan binatang

semua sama dusta semua akan binasa



Bila telah kuangkat sumpah

kalian akan bungkam membatu

mematung pasi

lalu mati



Sidolego 2016





Biodata

Elliyas Zulkifli, lahir di Sidolego, Merangin Jambi, 18 Januari. Menjadi penyair adalah cita-cita gila. Puisi-puisinya terhimpun dalam 49 Sajak  (Imaji-Rumah Kreatif Merangin, 2018), Karyanya yang lain termuat di harian lokal Jambi dan antologi bersama Lacak Kenduri (DKM,  2014) dan Pendaras Risau (IMAJI-Rumah Kreatif Merangin 2015) Tinggal di Sidolego, Merangin Jambi.

Puisi Gila ! Asro al Murthawy, Gila, Terkadang Kitapun

Gila, Terkadang Kitapun

Perlu Menjelma Narcissus Perlu Menjelma Sisipus



Gila, terkadang kitapun perlu menjelma Narcissus

merekontruksi jejak setapak yang pernah dilintasi

membumbunnya jadi pilar-pilar kepercayaan diri

Tersebab serupa elang

alangkah sulit mengukur lebar kepak sayap sendiri

perjalanan tak melulu dihitung dengan bentang jarak waktu

tapi juga oleh banyaknya prasasti gila kita



Gila, terkadang kitapun perlu menjelma Sisipus

mengulang setiap dakian puncak keluasan semesta.

jatuh bangun adalah irama kasidah memetiki bintang-bintang.

Tersebab serupa kunang-kunang

alangkah sulitnya merangkum cahaya

dalam gelap pekat malam, lalu menghimpun

kerlipnya jadikan suar : Kita pernah gila !

Imaji -1412 -1441H













Biodata  Penyair:

Asro al Murthawy.  Lahir Temanggung, pada tanggal 6 November. Adalah Ketua Umum Dewan Kesenian Merangin dan Anggota Komite Sastra Dewan Kesenian Jambi. Karya-karyanya terhimpun dalam Syahadat Senggama (k.puisi, 2017) Equabilibrium Retak (2007), Lagu Bocah Kubu (puisi, tanpa tahun),  Kunun Kuda Lumping (k.Cerpen, 2016)  dan berbagai antologi bersama sastrawan Indonesia lainnya. Karyanya yang lain: Pangeran Sutan Galumat (2017), Pengedum Si Anak Rimba (2018), Mengenal Lima Sastrawan Jambi (2018), Katan dan Jubah Sang Raja Hutan (2019) Bujang Peniduk (2019) dan Ujung Tanjung Muara Masumai (2019) diterbitkan oleh Kantor Bahasa Jambi sebagai Pemenang Sayembara.. Hadir dalam Temu Sastra Indonesia I (2008), Pertemuan Penyair Nusantara VI (2012) Jambi,  MUNSI II (2017) Jakarta,  Pertemuan Penyair Asia Tenggara (2018) Padang Panjang,dan Borobudur Writter And Cultural Festival (BWCF) (2019)

Nomor HP/WA  081274837162   Email: almurthawy@gmail.com

Sabtu, 04 Januari 2020

Puisi Gila Muhammad LARANGAN BERDANGDUT DI JALAN TOL

LARANGAN BERDANGDUT DI JALAN TOL

Dung               
          Dat
Dang
          Dut
Dung
          Dat
Dang
          Dut

tak ada dendang dan hentakan jempol lagi
kala ini

polantas lantas menyeru dengan suara bisik,
"tak boleh berdangdut di jalan tol."

biduan-biduan pun tak berani memprotes
sebab beruang satu-satunya yang pantas

sedang panggung dangdut sudah lusuh
dan bersuara serak basah

sebab
jalan tol hanya untuk roda empat
yang hening dengan cakap yang besar

hanya satu yang bisa diambil
dari pergolakan antara pohon,
gubuk, dan jalan tol:

beruang senang lebih dulu
dangdut menyepi dengan benalu


------

Muhammad Fakhruzzahid, lahir di Karawang pada 30 Oktober 1998. Mahasiswa Program Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UNSIKA. Bergiat di Komunitas Menulis “Familier” dan “Gubuk Benih Pena”, juga berminat dengan bidang Sastra dan Jurnalistik Sepak Bola. Dapat dihubungi melalui email fakhruzzahidm@gmail.com, atau akun twitter dan instagram @fkhrzzhd, lalu Fakhruzzahid Tamuramaro Arakida di facebook.

Puisi Gila Fensiadi Giliyang

DI NEGERI SENDIRI

Mereka jadi raja di Negeri lain
Tapi menjadi gelandangan di negeri sendiri

Mereka jadi orang terpandang di negeri lain
Tapi menjadi pengemis di negeri sendiri

Mereka jadi orang terhormat di negeri lain
Tapi menjadi budak di negeri sendiri

Mereka jadi orang mulai di negeri lain
Tapi menjadi begal birokrasi di negeri sendiri
Karena pemimpin kami saat ini
Terlalu sibuk menguliti kesalahan orang lain daripada memperbaiki diri sendiri.

Catatan, TKI
Bancamara, 4 Januari 2020

Puisi Gila Ryan (ARYA ARIZONA) Bidadari di pangkuanku

Bidadari di pangkuanku

        Sebagaimana jiwaku telah direnggut gemerlap malam

        Pada sebuah tempat karaoke di antara kota lama

        Dalam gemuruh lagu dan bidadari di pangkuanku

        Kini aku dan dia siapa “cinta satu malam”

        1 tahun kemudian aku sakit parah bukan raga tapi otakku

        Seorang wanita mengabaikan dan membuang cintakku

       Aku terdiam dalam kerusakan dan kegilaan

       Bertahun – tahun menonton dorama japan

       Mendengar lagu – lagu dari idol group japan

       Bahkan video JAV pun aku menggilainya

       Hidupku kelam demi hidup demi bangkit

       Tahukah KAU,wanita yang pernah menolakku!

       Aku sudah tidak butuh dirimu lagi

      Bahkan tidak pula menginginkan bibirmu mencium bibirku

      Aku ingin ke japan

      Hanya ingin ke japan

      Menemui bidadari yang jauh lebih menarik dari dirimu

     Bidadari secantik MAHIRO AINE

                                                                    Karya bakti,4 januari 2020

      Biodata pengarang

Ryan aria arizona atau yang biasa dipanggil ARYA,hobinya adalah main gitar dan     nyiptain lagu,sebenarnya punya band dan sempet ngeluarin album di tahun 2013 sayang karena kurang promosi jadi artis gagal.cita – citanya sekarang pengen ke japan,syukur – syukur bisa ketemu artis idolanya MAHIRO AINE,seorang JAV IDOL yang menurutnya kalem dan sangat cantik.buat yang pengen dengerin lagu dari bandnya bisa cek di youtube.com/WILHELMINA – MENGHARAPKANMU

FACEBOOK :ARYA ARIZONA

NO.HP:082314815310

Puisi Gila Aloeth Pathi, Ketika Cebong Terbang dan Kampret Berenang

Ketika Cebong Terbang dan Kampret Berenang

( maaf ini bukan SARA, tapi Sarapan Rohani yang sederhana)



Kemarin kau meminta sampai kering matamu

bila ragu berilah aku seteguk air

biar ladangmu kusirami setangkup harapan

lalu rengekmu menebar percikan rasa iba

pada hasrat yang menggantung di langit

segeralah turun

aku rindu padamu

kini ritual yang kau langitkan

segera diijabahii

beribu kiibik kerinduan turun dari kayangan

menari di petak lapang bukti cinta kasih



Belum genap sebulan kau mengeluh lagi

kali ini permintaanmu rintihan yang menyayat

seperti sirine menyalak di tengah malam

aku hanya tersenyum melihat kedua tanganmu

kembali mengadah ke atas

seiring do'a-do'a yang kau lambungkan ke langit.

aku bersaksi

diatas genteng ini

diantara air yang mengenangi rumahmu

aku membuka mulutku lebar-lebar

menelan hujan agar tak banjir

                                                    Sekarjalak, 2 Januari 2020



Biodata ;

Aloeth Pathi, lahir di Pati Jawa Tengah,

Gila sejak dari kandungan, gila mensyukuri rasa, gila akan usaha serta bekerja rajin , gila akan tawakal dan kesabaran. gila akan perolehan hasil, ya aku tergila-gila Pada Mu

Puisi Gila Anisah: Oh Bagus Jangan Kenthir

Oh Bagus Jangan Kenthir

Karya: Anisah

Kau Arjunaku
Kuikuti kata_katamu dari pagi sampai petang
kau memberi semangat pada semua kawan_kawanmu
sehingga mereka mau datang ke rumahku
di lereng Merapi tidur berselimut malam< di tengah_tengah kebun salak

mereka bergembira ria walau hanya dengan suguhan ala kadarnya
karena mereka berjumpa dengan kawan_kawan yang aduhai cantiknya dan gantengnya

maafkan saya karena tidak menyediakan gurami bakar< goreng<rendang
padahal sebenarnya kuingin memasaknya

lalu
ketika kau mengajak membuat puisi gila
aku sungguh tidak setuju
takutnya setelah membaca puisi itu
pembaca menjadi gila

sungguh takut

lalu kutulis ini
tuk mengingatkanmu
jangan mengajak menjadi gila
aku tak tahu isi puisi mereka

BOROBUDUR duaribi duapuluh ikut nulis juga semoga diterima

Jumat, 03 Januari 2020

Zaeni Boli

                                                              Zaeni Boli

Puisi Gila Wardjito Soeharso, Katamu

Wardjito Soeharso

Katamu

AkuKatamu aku edan
Merangkai kata tak punya arti
Ya biarin edan dalam kata-kata
Tanda punya diksi kelas tinggi
Katamu aku kethirMengeja kata bergaya teatrikal
Ya biarin kenthir dalam wacana
Tanda sadar posisi sebagai bintang
Katamu aku gemblung
Berbaju cokelat bercelana biru
Ya biarin gemblung dalam busana
Tanda selera pemikir filsuf linglung
Katamu aku sinthingBadan dekil bau tak terurus
Ya biarin sinthing berpenampilanTanda jatidiri penyair jarang mandi
Katamu aku tak waras
Bekerja tidak hobi lontang lantung
Ya biarin tak waras tak berpenghasilan
Tanda masih boleh minta rokok ke teman
Katamu aku gila
Page 2
Tak peduli kutang pedhot cawat bodhol
Tak tahu simpati tak kenal empati
Ya biarin justru itu tanda aku gila beneran

Puisi Gila Gilang Teguh Pambudi, Emang Kenthir

EMANG KENTIR

aku emang kentir atau kita emang kentir
bangga sama tentara
sejak kecil mainnya perang-perangan
Agustusan arak-arakan para pejuang
setelah dewasa cuma bisa teriak,
bela negara cukup jadi apa saja

aku emang kentir atau kita emang kentir
senang dan hormat sama guru
lagunya "pahlawan tanpa tanda jasa"
sejak kecil main sekolah-sekolahan
setelah dewasa di taman Kota
cuma dianggap gelandangan
ngasuh komunitas sastra

aku emang kentir atau kita emang kentir
ngajinya siang malam
dari peci baru sampai peci jebol
kitab suci dihatamkan
tapi gak pernah disebut Kyai
apalagi biasa pake jeans dan dangdutan
mau pergi haji masih jauh dari mampu

aku emang kentir atau kita emang kentir
sejak kecil polos petentengan berkacamata apa saja
beranjak usia selektif pakai kacamata dewasa
setelah tua joget-joget pakai kacamata baca
bahkan kacamata bolong
yang modelnya disukai para remaja
ha ha ha ha

Kemayoran, Januari, 2020
-----

TENTANG PENULIS

Gilang Teguh Pambudi. Dikenal sebagai Seniman Radio, penyair, dan Pembina Komunitas Seni. Setelah meninggalkan bangku mengajar, berbekal bakat seni dan sertifikat peserta terbaik nasional pendidikan jurnalistik FP2M Jakarta (1991), memilih fokus aktif di radio sebagai jurnalis, penyiar, Programmer dan Kepala Studio. Penyair yang pernah aktif sebagai jurnalis radio di LPS PRSSNI Jawa Barat dan beberapa radio ini, juga dikenal sebagai narasumber acara Apresiasi Seni dan Apresiasi Sastra di radio-radio, terutama karena aktivitasnya sebagai ketua yayasan seni Cannadrama. Menulis di koran sejak kelas 1 SMA/SPGN. Puisi-puisinya telah terbit dalam berbagai buku, baik dalam antologi bersama maupun antologi sendiri. Data diri kepenyairannya bisa dibaca dalam buku Apa Dan Siapa Penyair Indonesia yang diterbitkan oleh Yayasan Hari Puisi Indonesia. Empat buku antologi puisi terbarunya yang telah diterbitkan oleh penerbit J-Maaestro adalah JALAK (Jakarta Dalam Karung),TAGAR (Tarian Gapura), Mendaki Langit, 100 Aksi Puisi Pramuka, dan ZIRA (Planetarium Cinta). Satu buku serba-serbi dunia puisi yang telah terbit, Dinding Puisi Indonesia.
Cannadrama@gmail.com
Cannadrama.blogspot.com

Bunga Awanglong

                                                                 Bunga Awanglong

Puisi Gila, Dwi Wahyu Candra Dewi :Berendam Denganmu

Berendam Denganmu
Karya Dwi Wahyu Candra Dewi

Kejutan itu benar-benar datang, kukira terhambat karena libur.
Aku, kamu, dia, dan mereka terkejut!
Panik...tentu saja tapi mau dikata apa, sudah terlanjur datang.
Menangis kan menambah debit pun tak menguranginya.
Bebereslah, angkat ransel yang berisi surat-surat berharga!
Jangan sampai jatuh harga dirimu hanyut terbawa olehnya!
Angkat tinggi-tinggi yang masih dapat diangkat!
Ah, tak apa jika kali ini harus berendam denganmu.
Menyalahkan dan menanyakan siapa yang harus bertanggung jawab, tak ada gunanya.
Pelajaran berharga bagi kita ini:
Berendam denganmu kurasakan dingin yang sama
Berendam denganmu kurasakan uluran yang sama
Berendam denganmu kurasakan kegilaan yang sama
Ya...ya...memang seperti itu seharusnya! Kita perlu bersama-sama untuk menjaga dunia.

Kalisegoro, 3 Januari 2020

Dwi Wahyu Candra Dewi, kelahiran Blora 8 Mei 1983. Sementara tinggal di Semarang karena tugas belajar belum selesai. Sebagai tenaga pendidik di Univ. Lambung Mangkurat Banjarmasin pada bidang Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia menuntutnya untuk turut giat menulis karya sastra. Sebagai penikmat sastra, tak ayal membuatnya tertarik untuk mencipta. Karyanya ada dibeberapa buku antologi puisi bersama rekan-rekan di Lumbung Puisi. Salam Sastra. Fb Dwi Wahyu Candra Dewi


Puisi Gila Zaeni Boli : Imajenasi Pagi

Imajinasi pagi

Karya: Zaeni Boli



Cinta bertebaran jadi musim bunga

Pada gelas kopi kita harapkan imajinasi lahir

Dari perut pemikiran

Penyair menyalakan korek api

Pada sigaret yang terbakar kata kata bersama asap

terbang satu satu hurufnya

Berserakan di langit

Dipungut dijadikan puisi



Selesai minum kopi

Puisi sudah jadi

Lantas ditukarkan pada penjaga warung

Pemilik warung berkata disini puisi tak laku dijual

Untuk hari ini kubiarkan kau berhutang saja



Yuk ikut Antologi Bersama Gila : "Wong Kenthir"



Tahun demi tahun penyair Indonesia telah menyuarakan pesan lewat puisi demikian banyaknya yang disampaikannya bahkan dengan dibacakannya puisi itu. Pembacaan puisi tidak saja di depan Wakil Rakyat, pejabat atau generasi muda tetapi juga pada alam ini. Bagi seorang penyair karya yang ditulisnya dibaca atau didengar apa tidak bukan menjadi masalah yang penting penyaluran hasrat seni ini tetap tersalurkan.

Isi puisi atau pesan kadang menjemukan bahkan kadang monoton, tetapi dalam puisi gila ini mereka memberikan yang terbaik yang enak dibaca dan yang memiliki nilai 'greget dalam puisi. Yang tentu saja memenuhi selera pembaca pada saat ini (2020).

Wong Kenthir (:Kendi) = gila bukan Kentir (:Ken Dedes ) = hanyut antologi yang memuncak penyair Indonesia modern dalam pencarian pembelaan jati dirinya yang menyuarakan pesan-pesan lewat puisi sebelumnya yang belum menemukan titik sampai pada apa yang dikehendaki penyairnya. Sebuah pesan bahwa penyair memiliki caranya tersendiri dalam menyuarakan pesan untuk negerinya hanya lewat puisi. Kebebasan berkreativitas yang dimiliki sebagai hak mutlak seorang seniman agaknya digunakan sebagai cara yang paling sah dan paling terhormat bagi seorang penyair. Kemerdekaannya berpendapat hanya dapat disampaikannya dalam seni dalam puisi puisi yang kita sebut sebagai puisi gila dalam kegilaan penyair Indonesia dalam berkarya nyata.

Makna gila itu sendiri kini semakin absur, semakin kurang jelas. Dalam keseharian orang lebih baik disebut gila ketimbang disebut stres, Bahkan pujian pada seseorang kadang dilontarkan dengan menyenut kata gila!

Juga kini marak istilah gila yang positif seperti "gila kerja", "gila membaca", " gila meneliti", "gila seni" dan gila-gila yang lain yang menyatakan positif dalam kehidupan ini.

Perubahan pengertian gila ini tentu tidak akan merubah penyertian harfiah dalam KBBI sebab nanti membuat bahasa semakin kacau.

Sebutan "penyair gila" agaknya kini justru disukai oleh para penyair yang katanya memiliki arti kegilaan pada apa yang dikerjakan seorang penyair. Belum gila kalau belum memiliki antologi yang menandakan bahwa ia telah sungguh-sungguh menjadi seorang penyair yang memiliki karya.

Namun tentu kita berharap bahwa kegilaan dalam antologi ini adalah gila dalam arti dasyat ! Ya puisi yang dasyat. Apakah memang demikian puisi-puisi dalam antologi gila ini dasyat, mari kita simak puisi-puisi dalam antologi ini satu per-satu.



Puisi Gila Siti Khodijah Nasution : Puisi Kota

Puisi Kota

Oleh: Siti Khodijah Nasution



Lewat air bercerita

Cerita nestapa

Jejak saudara

Dikurung

Lumpur



Lewat serapah bercerita

Saling hujat

Bangsat

Babi

Anjing

Berserakan



Lewat sampah bercerita

Dari rumah-rumah

Dari hotel-hotel

Dari kantor-kantor

Dari mall-mall

Dari sekolah?



Lewat macet bercerita

Motor gede punya jalan

Mobil mewah lalu lalang

Motor-motor kredit murah

Avanza hutangan

Jalan raya geming mendekap debu

Lewat tikus bercerita

Plesir ke eropah

Tas channel di ketiak bini

Berkipas duit

Pelepas gerah

Bini satu bini dua bini tiga bini-bini imaji

Semua minta jatah

Tikus melahap lemari

Tikus memakan brangkas

Tikus meraup sekolah



Lewat puisi, kota memerih

Dosa serupa kue gemblong

Catutan



Jakarta-2020

Puisi Gila Raden Rita Maimunah : Mari Kita Angkat Rok

MARI KITA ANGKAT ROK

Raden Rita Maimunah



Pasar semakin ramai

Perempuan berteriak mengangkat roknya

Barang barang semua naik, teriak mereka

BPJS naik makanya jangan sakit

Agama di atur manusia

Ya harus kata mereka

Dan yang mengerti

Akan tetap berpegang pada Alquran dan Sunnah

Hhhhh masyarakat semua susah

Jadi  ngk apa kalau bingung angkat rok

Apa lagi perempuan sekarang

Ngk boleh pake cadar

Semua di atur

Untuk makan aja susah

Makan, makan mana uang beli makan

Edan... edan

Siapa sih yang edan

Kita- kita rakyat jelata

Atau...



Padang, 3 Januari 2020





























BIOGRAFI




NAMA : Raden Rita Maimunah, dengan no HP:082172619207, WA 081266135861, Alamat surat menyurat, Komplek Pemda Blok F2, Sungai lareh kelurahan Lubuk Minturun, Kecamatan Koto Tangah Padang Sumatera Barat . Email maimunahraden@yahoo.co.id, masuk dalam berbagai  antologi Puisi dan antologi cerpen,  menerbitkan 2 buku antalogi Puisi tunggal  dengan nama pena yang juga sering menggunakan  nama  Raden Rita Yusri

Puisi Gila Sugeng Joko Utomo : Seandainya

SEANDAINYA

Tuhan
Biarlah sebentar saja
Aku ingin menjadi kuda
Agar kencang berlari
Mengejar berjuta mimpi

Atau
Biarkan aku menjadi angin
Datangi kemana tempat kuingin
Menyingkap segala rahasia
Membaca yang tak pernah dibuka

Sungguh
Terasa lelah menjadi manusia
Sibuk bersolek menutupi luka
Didera nasib kian merenta
Tersuruk di ketiak duka lara

Tetapi
Aku tiada mampu
Untuk melawan takdir-Mu
Jangankan rapat bersembunyi
Untuk beringsut pun tak kuasa lagi

Seandainya
Ya seandainya
Engkau berkenan saja
Ijinkan aku menjadi malaikat
Agar terlepas dari beban dosa dan khilaf
Leluasa mencium harum surga
Merdeka sepenuhnya

Maaf Tuhan
Mungkin aku sudah edan

Gombong, 3 Januari 2020
Sugeng Joko Utomo

Puisi Gila Naning Scheid : Setan-setan Nusantara

SETAN-SETAN NUSANTARA

: Naning Scheid



Di pesta kehidupan, setan-setan gentayangan

Mencari kepuasan, menimbun lemak kekuasaan

Kostum partai dikenakan

: hijau merah kuning biru

Rompi orange? Ih, amit-amit lah yau!



O! Lihat Tuyul beraksi

mengganda simulator SIM Korlantas Polri

Oi! Sundel Bolong mengemis gratifikasi

Ha! Kuntilanak cantik mengutak utik

– uang E-KTP penduduk negeri

Ho! Si Genderuwo bikin Surat Lunas BLBI

Hop là! Jalangkung datang tak diundang

– pulang minta saham untuk uang jajan

Oh là là! Tengkorak ahli buat mangkrak

– mark-up anggaran wisma Hambalang

Toeng toeng! Pocong meloncat-loncat

– uang Bapindo disikat

Suster Ngesot ngotot membuat proyek fiktif

Heh heh heh! Mak Lampir terkekeh terima Dana Hibah



Ah, dasar setan! Tamaknya ugal-ugalan

Tak mempan Mantra Avalokiteshvara

Ayat Kursi, Ayat Alkitab, Mantra Mrtyunjaya

Penjara juga tak membuat jera



Ah, setan-setan nusantara

Santun ramah suka foya-foya

Doyan uang negara dan gula-gula



Brussel, 2 Januari 2020













Naning Scheid, lahir di Semarang, 5 Juni. Penulis dan Pemain Teater. Penyuka kerupuk gendar dan wisata budaya. Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris UPGRIS dan Sarjana Manajemen SDM CEFORA, Belgia. Berkebangsaan Indonesia. Tinggal di Brussel, Belgia.

Puisi Gila Agustav Triono, Waraskah Aku

WARASKAH AKU?



 Ketika anak istri main HP atau nonton televisi

Kubaca puisipuisiku di sudut kamar

Menyelam bersama majas dan diksi

Kadang kernyitkan dahi karena baca puisi yang samar

Maksud yang gelap atau kadang puisi sok puitis

Tersenyum aku sebab kadang bingung sebenarnya apa yang kutulis?



Saat berkumpul bersama kawan

Mereka terbahak tertawakan zaman

Nasib, suka, dan duka bersatu bersama asap perbincangan

Sedang aku sibuk menulis di ponselku

Menyimpan catatancatatan yang keluar dari mulut kawankawanku

Yang menarik saja

Yang unik saja

Yang aneh saja

Yang aneh...malah aku, kata kawanku !



Aku diam menyingkir

Dari hingar perbincangan

Keasyikan sendirisendiri

Bertanya pada diri sendiri

Waraskah aku?

Waras

Kah

Aku

?



02-01-2020



Biodata:

Agustav Triono, lahir di Banyumas, 26 Agustus 1980. Tinggal di desa Bojanegara, kecamatan Padamara, kab.Purbalingga. Seorang guru honorer yang gila kesenian. Sejak sekolah aktif berteater dan bersastra. Komunitas yang diikutinya yaitu Teater TUBUH Purwokerto, Komunitas HTKP Purwokerto, Komunitas PENA MAS Banyumas, Komunitas Teater dan Sastra Perwira (KATASAPA) Purbalingga. Menulis puisi, cerpen, dan naskah drama. Karyanya termuat di beberapa antologi bersama dan media massa.

Puisi Gila : Irna Ernawati : Merabat sarafku


Puisi Gila Sudarmono : Cermin Hujan

CERMIN HUJAN

Hujan yang mengguyur awal tahun
pertanda baik bahkan buruk
semua warga akan mengenyam
adil makmur tragis atau hancur
Refleksi sisa perang tanding
kecebong kampret di ranah politik
terkubur atau timbul terbawa air
ayem tenteram negara tak hadir
Allah berseru, sabda semesta
wahai umatku jangan sombong kamu
carilah ilmu ikhlas disekitarmu
di sisa hidup percayalah
usiamu semakin bermanfaat

Muntilan, 1 Januari 2020
Sudarmono

Puisi Gila Junaidi : Catatan Kecil

catatan kecil



pada telepon genggam pintar

aku selalu mencatat. atau Ia yang amat rajin

mencatat.

suka-duka dan diantaranya.

foto-foto bersuara, ke sana-sini

kasak-kusuk menangisi atau tertawai diri.



dan catatan kecil ini. batas-batas asing hidup

pergantian dijit tahun. yang masih sama.

asing dan sepi.





Pati, 2020





















biodata penulis

nama Junaidi, lahir di Pati 7 Mei 1996. aktif di kelas menulis Jagong Sastra Kudus bersama Jumari HS.

Puisi Gila Riswo Mulyadi : Pertanyaan Sebongkah Batu

PERTANYAAN SEBONGKAH BATU

sejauh mana kaukenali diri
saat menapaki jejak waktu
yang terus berputar
sampai pada titik diam
di mana pikiran tak lagi mampu menjajah diri
lalu muncul ruang hampa di dada
di mana kejujuran mampu bicara
tanpa kata-kata
tanpa propaganda keinginan
tanpa ancaman kegagalan
tanpa iming-iming ketercapaian
tanpa rasa takut
tanpa kegembiraan

sejauh mana kaujejaki
ruang kosong tanpa diri
tanpa kemelekatan identitas
pembatas

seberapa lama kaududuki kursi kosong tak berkaki
di mana tak ada kau dan siapa-siapa

ia terus bertanya tanpa jeda
bersaing dengan suara petasan di ruang pesta

aku hanya diam, karena tak punya jawaban

Karanganjog, 01 Januari 2020, 00:00 

Puisi Gila Emby B. Metha : Suara Hati Seorang Pengecut

Suara Hati Seorang Pengecut

di era globalisasi
para elit politik senang berdiskusi
bersama sekawanan berdasi
dengan secangkir kopi
mungkin, sedang mencari inspirasi

di era globalisasi
kritik berakhir dalam jeruji
saran di beri menjadi bahan opini
solusi bagaikan nasi yang basi
koalisi seperti bahan konsumsi
untuk di asumsi sehari-hari

revolusi
orde lama
orde baru
reformasi
entah, apalagi 

air mata jatuh
darah tumpah ruah
apakah kau pernah bertanya ?
ataukah kau pernah menyapa ?

tidak !!!!

dari kursi empukmu,
kau cuma lontarkan kata-kata haru
sekedar berbela sungkawa
untuk rakyat-rakyat yang ditimpa bencana

kemiskinan
kemelaratan
kau dengar
kau simak
namun, kau hanya duduk
 dan menunduk

merdeka kah kita, kini
makmur kah anak-anak Ibu pertiwi, saat ini
sejatinya (kita) Indonesia sudah lama merdeka
tetapi mengapa, semua harus berakhir dengan tragedi

O, tuan
sumpah yang ucap ,
hanyalah sampah dari janji
impian yang kau tanamkan pada diri yang jelata
hanyalah dusta dari mimpi semata

duh, tuan
ini bukan puisi
melainkan suara hati
dari seorang pengecut
yang tengah terduduk di bumi sudut

~ Mata kata
Kupang, 2019

Biodata singkat  :

Nama : Emby B. Metha
Tempat dan tanggal lahir  : Lamahala, 29 Oktober 1995
Asal    : Lamahala, Kec. Adonara Timur Kab. Flores Timur

Pernah menulis dalam Antologi Puisi Anak Cucu Pujangga dengan judul " Tuhanku Dimana" dan Antologi Internasional Jejak Merdeka dengan judul " Tapak Jejak Sang Proklamator"