TEKS SULUH


Tampilkan postingan dengan label Antologi Corona. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Antologi Corona. Tampilkan semua postingan

Senin, 11 Mei 2020

Selamat dan Sukses untuk 111 Penyair Indonesia atas terbitnya Antologi Corona

Penyair :

1.A.Zainuddin Kr, (Pekalongan)
2.Abidi Al-Ba'arifi Al-Farlaqi (Aceh)
3.Ade Sri Hayati, (Indramayu)
4.Aditya Mahdi F, (Depok)
5.Agus Mursalin, (Kebumen)
6.Agus Pramono, (Mojokerto)
7.Agus Sighro Budiono, (Bojonegoro)
8.Agustav Triono, (Purbalingga)
9.Andi Jamaluddin, AR. AK., (Tanah Bumbu)
10.Anisah, (Magelang)
11.Anisah Effendi, (Indramayu)
12.Arif Abdil Bar, (Probolinggo)
13.Arya Setra, (Jakarta)
14.Asep Muhlis , (Serang)
15.Asih Minanti Rahayu, (Jakarta)
16. Asril Arifin(Indramayu)
17.Asro al Murthawy, (Marangin)
18.Azti Kintamani K , (Bandung)
19.Azizah Rifada Muhallima, (Kudus)
20.Bambang Eka Prasetya (Magelang)
21.Beti Novianti, (Bengkulu)
22.Buana KS, (Bungo)
23.Brigita Neny Anggraeni, (Blora)
24.Caridah Hartati, (NN)
25.Dhea Lingkar , (Surabaya)
26.Diah Natalia, (Jakarta)
27.Dian Rusdi, (Bandung)
28.Dwi Wahyu Candra Dewi, (Blora)
29.Dyah Setyawati, (Tegal)
30.Eksan Su, (Malang)
31.Eli Laraswati, (Jakarta)
32.Emby Bharezhy Boleng Metha, (Flores Timur)
33.Eri Syofratmin, (Bungo)
34.Evita Erasari, (Semarang)
35.Firman Wally, (Ambon)
36.Gampang Prawoto, (Bojonegoro)
37.Gilang Teguh Pambudi. (Jakarta)
38.Giyanto Subagio, (Jakarta)
39.Hermawan , (Padang)
40.Hasani Hamzah (Sumenep)
41.Herisanto Boaz, (Bandung)
42.Heru Patria, Pageblug, (Blitar)
43.Heru Mugiarso, (Semarang)
44.Harkoni Madura (Banyuates)
45.I Made Suantha, (Denpasar)
46.Iie Alie (Yusriani), (Jogyakarta)
47.Indri Yuswandari, (Kendal)
48.Irna Ernawati, (Bogor(
49.Is Mugiyarti, (Sragen)
50.Junaidi, (Pati)
51.Kurliyadi, (Cirebon)
52.Kurnia Kaha, (Jakarta)
53M. Johansyah (Tanah Bambu)
54.M.Muchdlorul Faroh, (Pati)
55.Marlin Dinamikanto , (Depok)
56.Meinar Safari Yani, (Klaten)
57.Mohammad Mukarom, (Wonosobo)
58.Mim A Mursyid, (Madura)
59.Muhammad Jayadi , (Balangan)
60.Muhammad Lefand , (Jember)
61.Muhammad Tauhed Supratman, (Pamekasan)
62.Maya Ofifa Kristianti , (Semarang)
63.Nanang R Supriyatin, (Jakarta)
64.Naning Scheid , (Brussel)
65.Nok Ir, (Jakarta)
66.Nuraedah, (Indramayu)
67.Nurinawati Kurnianingsih(Cilacap)
68.Omni Koesnadi (Jakarta)
69.Profijesarino Ubud DH. (Bandung)
70.Pensil Kajoe , (Banyumas)
71.Rg Bagus Warsono, (Indramayu)
72.Rosmita, (Muaro Jambi)
73.Rayako Dekar King, SY, (Aceh)
74.Ryan Aria Arizona, (Pekalongan)
75.Roymon Lemosol, (Ambon)
76.Rut Retno Astuti, (Bandung)
77.Raden Rita Maimunah, (Padang)
78.Sahaya Santayana, (Tasikmalaya)
79.Salimi Ahmad, (Jakarta)
80.Salman Yoga S, (Aceh)
81.Sami’an Adib, (Jember)
82.Sanur Keziandari, (Bandung)
83.Sarwo Darmono, (Lumajang)
84.Silivester Kiik, (Atambua)
85.Siswo Nurwahyudi , (Bojonegoro)
86.Soei Rusli, (Padang)
87.Supianoor , (Kusan Hulu)
88.Sutarso, (Sorong)
89.Sutarno Sk, (Jakarta)
90.Sukma Putra Permana, (Bantul)
91.Sulistyo , (Jakarta)
92.Sugeng Joko Utomo ,  (Tasikmalaya)
93.Sujudi Akbar Pamungkas, (Tuban)
94.Sudarmono , (Bekasi)
95. Sumrohadi , (Jakarta)
96.Supriyadi Bro (Surabaya)
97.Suyitno Ethexs, (Mojokerto)
98.Syafaruddin Marpaung, (Tanjungbalai)
99.Syahriannur Khaidir, (Sampang)
100.Syamsul Bahri, (Subang)
101.Teguh Ari Prianto, (Bandung)
102.Tjaha Kum, (Hoelea)
103.Uswatun Khasanah, (Gresik)
104.Wadie Maharief, (Jogjakarta)
105.Wanto Tirta, (Banyumas)
106.Wastirah, (Indramayu)
107.Wardjito Soeharso, (Semarang)
108.Wyaz Ibn Sinentang, (Pontianak)
109.Yoe Irawan, (Sukabumi)
110.Yublina Fay ,(NN)
111.Zaeni Boli, (Flores)



Kamis, 02 April 2020

Puisi-puisi corona, RUT RETNO ASTUTI DOA KAMI DARI KLINIK INI

 RUT RETNO ASTUTI



DOA KAMI DARI KLINIK INI



Ya Tuhan, dari ruang periksa, kami berdoa

Jauhkan kiranya kami dari keganasan Corona

Dari sergap maut dan ketiadaan tersia-sia

Agar banyak orang yang tertolong kesehatannya



Meski telah banyak tokoh baik, menjadi korbannya

Kondisi klinik dan pasien panik, merubah suasana

Alat pelindung diri dan pencegahan, apa adanya

Kami tetap melayani dalam doa sepenuh jiwa



Anugerahi kami keberanian dan iklas tak terbatas

Agar kami tangguh dan bungkam nyinyir tak jelas

Kami amini, badai ini cepat berlalu, tak berbias

Agar kami pulih, hidup tulus tanpa luka berbekas



*)Sanggar Griya Prima,  Sumedang,  30 Maret 2020
BIODATA PENULIS :



RUT RETNO ASTUTI, lahir di Kota Tegal, tanggal 22 Pebruari. Dokter lulusan FK UNDIP Semarang ini, menulis dengan konsep Puisi Terapistiknya yang terangkum dalam antologi,antara lain : Dawai Jantung Hati, Ritme Wanita Kita, Tapak Ibu Pemberdaya. Pegiat literasi yang tergabung dalam AWWA (Asean Women Writers Association) ini karyanya termuat dalam Selendang Mayang (2017) Sketsa Wajah Ibu (2017). Antologi bersama lainya : PMK - 6 / Puisi Menolak Korupsi (2017), Indonesia Masih Ada Matahari (2017). Antologi “Semangkuk Sup di Malam Kudus” (2017), Haiku Melawan Korupsi & Pameran Haiga HAKI (2017), “Pesona Ranah Bundo” - HPN (2018), KDNP Negeri Bahari (2018), Hati Rembulan (2018), Wanita Guru Bangsa (2019), RHERAJIN (2019). Selain sebagai redaktur kesehatan dan budaya, GBJC Ministry, juga aktif membina Kastaf THB Sanggar Griya prima & Studio Alam Asri Sumedang. (RRA) ***










Puisi-puisi Corona , Dyah Setyawati

UNTUKMU RINDU

untukmu rindu;kucari sampai sudut ulu
belum juga kutemu
padahal telah lama kuseru
diantara muram langit
tangis tetangga
kehilangan anaknya yang mati tiba tiba
aku mencarimu
didiri,dirumah,dihati
ketika musholla sepi

oooh kekasih
akankah kita gali kubur sendiri
sementara pelayat cuma bisa dihitung jari
masih kugamit cemas dan kulangitkan
doa bertubi
kalaupun ini sebuah peringatan
segeralah usai
ampunkan hambamu
alam telah lelah istirah
pagi yang rona hilang pesona

aku takdimi ranggas siang
murung langit
nyanyian kedasih
kota sunyi
hati tak mati

(Asahmanah 28/03 /2020

Puisi-puisi Corona , Heru Patria : Corona



Heru Patria






Corona


diksi kehidupan bungkam

baitnya diberangus kecemasan

sajak hindari kerumunan

puisi jadikan pembelajaran

ingin syair napas terus berlanjut

hiduplah secara patut

hindari berjabatan

selalu cuci tangan

jauhi keramaian

  menjaga jarak

kenakan masker layak

tinggal di rumah saja

agar penyebaran corona

terhenti segera







Blitar, 31 Maret 2020





















CORONA ADALAH TAMPARAN TUHAN

Oleh : Heru Patria





Corona yang menjalar liar

Kepanjangan tangan Tuhan tuk menampar

Pada kita yang sering berbuat ingkar

Bertindak di jalan tak benar



Corona yang telah mewabah

Bisa jadi merupakan teguran Allah

Untuk kita yang bangga berlaku pongah

Tak peduli saudara susah



Corona yang telah menjangkit

Mewakili jemari Tuhan untuk mencubit

Sebab kita sering berbuat pelit

Saat saudara sedang sakit



Corona membatasi silaturahmi

Agar kita lekas berkaca diri

Atas pergaulan bebas yang disanjungi

Tuhan kirim peringatan lewat virus ini



Dalam cengkeraman pandemic

Meri kita berbenah diri

Sadari tamparan Illahi





Blitar, 1 April 2020









ATAS DASAR APA?

Oleh : Heru Patria







Atas dasar apa

Tuan anjurkan kami di rumah saja

Sedang kami hanyalah penjual tenaga

Jika tak keluar dapur tak menyala

Untuk apa Tuan bebaskan bea listrik

Bagi daerah zona merah nan pelik

Yang kami butuhkan hanyalah bahan pangan

Selama kami dilarang bepergian

Buat apa Tuan tangguhkan cicilan kendaraan

Sedang mengkredit saja kami tak punya kesempatan

Upah kami hanya cukup untuk tambal kebutuhan

Atas dasar apa kebijakan itu Tuan keluarkan

Tidakkah Tuan sadari realita

Perjuangan hidup kami lebih ganas dari Corona

Maka jika kami harus tinggal di rumah saja

Siapa sudi memberi jatah makan keluarga

Kami tak pernah berpelancong ke luar negeri

Seperti yang Tuan lakukan selama ini

Waktu kami habis untuk kejar kebutuhan

Saat Tuan sibuk berbagi kekuasaan

Atas dasar apa Corona menjamah kami

Silaturahmi kami terbatas persoalan ekonomi

Sering cuci tangan hanyalah falsafah

Agar Tuan tak cuci tangan dari masalah





Blitar, 2 April 2020





PAGEBLUG

Oleh : Heru Patria







Jika kita mau jujur pada diri sendiri

Tentang hokum sebab akibat di muka bumi

Virus Covid 19 tidak akan pernah bereaksi

Bila manusia tak semaunya pamer aksi

Kini bumi berselimut duka

Terkungkung pandemi korbankan banyak nyawa

Ekonomi lumpuh silaturahmi dari jarak jauh

Berdiam diri dalam rumah tentu akan jenuh

Jika saja kita bisa bersikap mawas

Tak akan ada ancaman dari virus ganas

Tapi karena keserakahan kita tak terbatas

Kini harus dibayar mahal dengan was-was

Andai saja kita bisa bersikap dewasa

Bisa menjaga jarak untuk sementara

Tapi dengan alasan harus tetap kerja

Kalian korbankan keselamatan keluarga

Bila kita bisa telaah kitab suci

Tauhan sudah tulis peringatan sejak dini

Bahwa Tuhan akan turunkan cobaan

Berupa sakit dan rasa ketakutan

Berserah dirilah pada pangkuan Illahi

Agar pageblug cepat diakhiri

Sirna dari bumi Pertiwi

Amin amin amin

Ya robbal alamin.





Blitar, 3 April 2020









PROFIL  PENULIS




HERU PATRIA. Adalah seorang guru Sekolah Dasar di Kecamatan Wlingi yang telah menerbitkan 21 novel, 15 kumpulan cerpen, 1 kumpulan puisi. Novel terbarunya berjudul Jangan Mimpi Jadi Jokowi. Penulis yang beralamat di Bogangin RT.01 RW,06 Kel. Bajang Kec. Talun ini juga sebagai editor di IA Publisher. Untuk komunikasi silakan kontak di nomor 0857 8414 5106



Puisi-puisi Corona , HERISANTO BOAZ ELEGI MEMBACA PANDEMIK

Puisi-1 Karya : HERISANTO BOAZ



LUSASTRA MELAWAN CORONA



peperangan ini telah dibentangkan

tanpa senjata, tanpa musuh kelihatan

tapi mencekam, para korban bergelimpangan

tanpa pandang muka, semua bisa diserang

dikepung kematian, keyakinan dipertaruhkan



ini bukan perang antar negara di bumi

juga bukan serangan planet antar galaksi

ini ciptaan terhebat lawan yang nano mini

tapi bisa menyusup, dan tak mudah diketahui

menyergap nafas, dan paru-paru pun terinfeksi

ini perang senyap, tapi bisa terekam dalam puisi



markas perang ini di rumah sakit bertanda siaga

hidup dan maut berkecamuk, dalam takut fana

semua wajib taat dan patuh pada protokol negara

anggaran besar digelontorkan, tangani bencana

di sudut rumahnya, Lusastra doa melawan Corona



@Teater Holistik,  Bandung, 27 Maret 2020


















 HERISANTO BOAZ



ELEGI MEMBACA PANDEMIK



dengan huruf kecil melambangkan nurani

kutulis kembali, elegiku membaca pandemik

catatan tragedi banyak bangsa di muka bumi



di Wuhan, China, wabah itu berasal, kota dikunci

meski tak religi, rakyatnya tertib mengatur diri

pemulihan dan kesembuhan masal cepat terjadi



di Iran, Inggris, India, Belanda, USA, Arab dan Itali

dan banyak negara lainnya, korban tiada henti

meski katanya religi atau modern dan teruji



di Indonesia, religi berwarna, komen merajalela

mulai si mulut zonk, yang banci dungu jika bicara

hingga stasiun tv serak, debat berak sok kuasa

semuanya dan pengikutnya, hanya nyinyir berbusa

mereka akan ditagih nyawa oleh korban kelak di sana



di bait seni ini, di sudut kota tak punya tradisi puisi ini

sajakku mencatat, rakyat banyak, dan pemimpin, sehati

menghadang pandemik, dengan kerja, doa, dan nurani



@Bait Seni Hereditas,  Bandung,  28 Maret 2020



Puisi-puisi Corona , Agus Mursalin : Lockdown

Agus Mursalin


Lockdown


Tuhan tak ada dalam masjid
Tuhan tak ada di Ka'bah
Pahala bisa dicari tanpa melibatkan Tuhan di tempat suci

Murtirejo 22 Maret 2020





Lockdown #2

sayang, tidurlah sendiri. Sprei  bantal kasur selimut handuk sabun mandi gelas minum mangkuk sayur punyamu pisahkanlah. jangan kau pakai milikku lagi

batal sumpah pernikahan kita untuk sehidup semati
mati bersama itu tragedi, jadi pilihlah aku atau kamu mati lebih dulu
Sisanya lanjutkan menjaga anak cucu dan peradaban bertahan dari semua kemungkinan pemusnahan

atau pilihan kedua
kita lawan memakai kekebalan
bikin sendiri dalam sunyi

Kedungwinangun, 1 April 2020
#Agus Mursalin

Rabu, 01 April 2020

Puisi Corona , Supriyadi Bro INDAHNYA CINTA ALLAH

INDAHNYA CINTA ALLAH
Karya : Supriyadi Bro

C orona virus ciptaan Allah, hadir
    bagai misteri
O leh sang pencipta dikirim menegur
    hamba sahayanya
R ona kehidupan yang kian
   menghitam, dunia kian terajam
O lah pikir dan perilaku manusia yang
    kian salah
N aluri menghamba hilang tergerus
    ego diri
A nak lahir kian banyak tanpa
    kesaksian bapaknya
S audara makan saudara, jadi biasa
A lam merana kehilangan keseimbangan
D aratan menangis digali dan
    dirampok kemakmurannya
A ir tak lagi jernih oleh polutan,
    dieksplotisasi tak terkendali
R uang hijau terlindas gedung
    pencakar langit
K emaksiatan merajalela di semua
    ruang dan waktu
A ntek-antek syaitan naik singgasana
    memainkan ayat -ayat Allah
N eraka dan surga kian disamarkan
    bagai imajinasi
K ini ketahuilah, sadarlah saudaraku
I  ndahnya cinta Allah sepanjang masa
T eguran Allah menyadarkan kita
A lhasil Allah kirim makhluknya,
   menjadikan kita rindu rumah Allah,
    rindu keluarga, rindu persaudaraan,
    rindu kebersamaan, rindu kesucian,
     rindu dekat dengan Allah,
     ketika datang waktu keterbatasan.

Mojokerto, 30/3/2020

Puisi Corona A. Zainuddin Kr HUJAN DI AHIR MARET

A. Zainuddin Kr

HUJAN DI AHIR MARET

seekor awan pecah di maret ahir
sore kemarin lebat hujan ditebas petir
pohon dan jalanan menggigil
rumah-rumah terkunci
kampung-kampung beranjak tidur
sedang pasar dan toko-toko sejak sesiangan telah mendengkur

seekor awan pecah menjelma seribu ledakan
corona terjengkang
virus-virus lari berhamburan
dan terkapar
ditikam serpihan hujan
lalu terbakar
oleh petir dan halilintar
di maret ahir sore kemarin
menjadi debu melumpur menuju kanal-kanal
arah laut dan muaranya

maka bulan pun tersenyum di pucuk bambu
malam tadi

***

Pekalongan, 01 April 2020.

Puisi-puisi Corona , Sami’an Adib, Narasi Kebahagiaan

60.Sami’an Adib,

Narasi Kebahagiaan

Bayangan hari kiamat serasa telah tiba

lenyap segala hiruk-pikuk kesibukan kota

sementara di desa-desa kepanikan melanda

jalan-jalan sepi tanpa lalu-lalang pengembara

bahkan jejak-jejak para tetua nyaris tak terbaca



tinggal senandung duka

tembang paling nestapa

berirama derai air mata:

balada orang-orang terluka



bayangan hari kiamat terasa demikian nyata

kecanggihan rekayasa manusia seakan sia-sia

terjebak dalam rantai siklus wabah yang mendunia

masing-masing para jenius menawarkan formula:

rahasia agar terbebas dari belenggu malapetaka



kembali ke keagungan cita

berlomba menelurkan karya

demi hidup lebih bermakna

bekal meraih piala bahagia



di bawah bayang-bayang kehancuran semesta

tersebab amukan makhluk kecil virus korona

orang-orang kehilangan pesona rasa dan peka

sendiri terkurung di balik tembok-tembok hampa

tanpa kawan yang biasanya kerap bertegur sapa



tapi gairah mesti terpelihara

menyiangi gulma prasangka

agar subur benih-benih bahagia

dalam rinai doa dan limburan kasih-Nya



Jember, 2020

Karena Korona Karina Terkarantina

ia perempuan tangguh

energik, tak kenal lelah

stamina selalu terjaga

peduli pada sesama



entah apa sebab

tiba-tiba matanya sembab

membaca hasil laboratorium

di ruang pavilium rumah sakit umum



vonis dokter harus ia terima

masuk ruang spesial: karantina

sebab virus telah menjarah tubuhnya

: korona, selebritas yang mengguncang dunia



tetapi ia tetap perempuan tangguh

karena ia selalu berpegang teguh

bahwa hidup adalah fana

sebatas ujung kelana



ketika belum ada obat mujarab

ia peram tabah dan harap

di balik sekulum senyum

dari bibirnya yang ranum



seakan tak ada derita di raut wajahnya

walau sepi dan kesendirian mendera

dalam karantina tanpa sanak tetangga

 ia lantang menolak seruan putus asa



ia kemas semua cemas yang menyesaki dadanya

menggantinya dengan sebuncah harapan dan doa

demi bisa kembali berbagi bahagia pada sesama

mengarungi samudera keanggunan Yang Kuasa

Jember, 2020


Sami’an Adib, lahir di Bangkalan tanggal 15 Agustus 1971. Lulus Strata I pada jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Negeri Jember (Unej).  Puisi-puisinya terpublikasikan di beberapa media cetak dan on line. Antologi puisi bersama antara lain: Menuju Jalan Cahaya (Javakarsa Media, Jogjakarta, 2013),  Kata Cookies pada Musim (Rumah Budaya Kalimasada Blitar, 2015), Lumbung Puisi V: Rasa Sejati (2017), PMK 6 (2017), Negeri Bahari (DNP 8, 2018), Gus Punk (Pelataran Sastra Kaliwungu, 2019), Negeri Pesisiran (DNP 8, 2019), Risalah Api (Ziarah Kesenian, Jakarta, 2019), When The Days Were Raining (Tahura Media, Banjarmasin, 2019), Risalah Tubuh di Ladang Kemarau (Forum Sastra Timur Jawa, Jember, 2019), Perjalanan Merdeka (Penebar Media Pustaka, 2020), Setangkai Bunga Padi (FAM Bublishing , 2020), Wong Kenthir (Penebar Media Pustaka, 2020), dan lain-lain. Aktivitas sekarang selain sebagai tenaga pendidik di sebuah Madrasah di Jember, bergiat juga di Forum Sastra Pendalungan.


Puisi-puisi Corona , Aditya Majong Rindu Dendam Dikala Pandemi

Aditya Majong

Rindu Dendam Dikala Pandemi



Rindu ini sudah seperti dendam

Menghujam

Pilu, Termakan realita yang kejam

Dan lebih gelap dari langit malam



Menumpuk, bagai bibit

Menusuk, bagai arit

Memburuk, bagai parasit

Terpuruk, terkutuk bagai dedemit



Kita merasakan rasa yang sama

Kau menahan rasa jauh disana

Aku menahan rindu

Tentang segala sesuatu tentang-mu



Sayang, segera setelah pandemi ini berakhir kita pasti meluapkan rasa

Yang telah kita tumpuk sedari awal hingga akhir.



Ketika status merah dicabut, aku berjanji akan memelukmu erat.

Akan kuceritakan segala baik buruk hal yang aku lewati dalam waktu dekat.

Tentu setelah aku melepas rindu denganmu tepat pada pukul empat.

Sampai saat itu tiba, mari kita sama-sama sabar untuk sesaat.

Depok, 1 April 2020.





Selasa, 31 Maret 2020

Geguritan Corona; Sarwo Darmono GAWE MIRIS MANUNGSA ( Puisi Bahasa Jawa )

58.Sarwo Darmono

GAWE MIRIS MANUNGSA
( Puisi Bahasa Jawa )

Wujudmu cilik
Ora katon nyata
Ora bisa di delok netra blaka
Mlakumu ginawa tirta
Tirta kang metu saka grana
Metumu wujud mala
Mala tumpraping manungsa
Mala kang nggegirisi wong sak Bawana
Sapa kena bisa seda
Sak wetara manungsa pada endha
Sumingkir saja kempaling para kanca
Meneng jroning wisma
Murih ora kena mala
Tan kendat tansah dedonga
Nyuwun marang Kang Maha Kawasa
Duh.. Gusti kang murbeng jagat
Sedaya kang gumelar ing Jagat punika
Sampun dados kodratipun Panjenengan
Kados dene sumebaring Mala Corona
Ingkang ndadosaken Miris para Manungsa
Pramila punika kawula tansah hanyenyuwun
Dateng ngarsa Paduka
Mala Corona enggal Panjenengan Jabel sakit Jagat padang punika
Mliginipun ing Bumi Nuswantara
Mala Corona ilang musna tanpa tilas
Saking kersaning Gusti Kang Maha Kuwasa.
Amin
Lumajang , Sabtu Pon 28 Maret 2020


Puisi-puisi Corona : Brigita Neny Anggraeni CORONA

57.Brigita Neny Anggraeni

CORONA

Ujian hidup dari corona
panik,menggila
tak berdaya,
meski takdir telah ditulisNya
sisanya kita merubah

Saat masker menghilang
antiseptik pun jarang
susul sembako yang berkurang
setan pedangang mengambil untung
di pusaran panik tak terbendung
berita hoax ikut nimbung

Oh manusia dengar pesan semesta
nasehat elemen udara
yang dibawa corona

Penyelamatan diri sendiri
menumpuk kebutuhan diri
lupa sekitar juga mencari
menekan yang tak berdaya ,tak berarti
sungguh tinggi ego diri!!

Mari intropeksi diri
dari ketakutan diri sendiri
akhlakmu dipertanyakan
keimananmu dipertaruhkan
masihkah peduli yang membutuhkan

Dunia sedang membersihkan
dari jiwa-jiwa kerakusan
ketamakan
berani katakan kebenaran
lepaskan kebimbangan, keresahan
bukan cari pembenaran

Brigita Neny Anggraeni, Tgl lahir: Semarang, 02 Februari 1979, Pendidikan terakhir: S1 Psikologi, Universitas Diponegoro Semarang


Puisi-puisi Corona : Abidi Al-Ba'arifi Al-Farlaqi : WABAH CORONA

56.Abidi Al-Ba'arifi Al-Farlaqi

WABAH CORONA

Wabah corona
mengembara di bawah qudrah dan iradah-Nya
menertawakan dosa-dosa manusia

Kuku Izrail mencengkeram di semesta sudut
mencekik leher waktu
menggali liang istirah

Mati
mati
mati
BIREUEN, 28 Maret 2020

PARA TAMU DAN ISI CAWAN TAKDIR

Izrail melayani para tamunya di wisma waktu
menyuguhkan beberapa cawan takdir
yang berisi wabah corona

Perlahan para tamu mengangkat cawan takdir itu
menyeruput isinya dan sambil bercerita tentang masa depan
namun tiba-tiba dadanya sesak
matanya nanar
nadinya membeku
usianya berhenti
mati

Akhirnya
debu memeluk para tamu
BIREUEN, 31 Maret 2020

AL-KHALIQ MENEGUR KITA


Al-Khaliq menegur kita
karena kita mencintai dunia sampai ke tulang sumsum
menggandakan cinta-Nya

Al-Khaliq menegur kita
karena kita begitu angkuh memanen dosa
mengkhianati cinta-Nya

Al-Khaliq murka
karena kita menggandakan dan mengkhianati cinta-Nya
lalu menegur kita melalui ayat-Nya yang bernama wabah corona

Fafirru ilallah
BIREUEN, 31 Maret 2020



Senin, 30 Maret 2020

Puisi-puisi Corona , Tjaha Kum DUNIA BISU

Tjaha Kum

DUNIA BISU


Dunia tak punya Ibu, tempat mengadu
Melampiaskan hawa nafsu, serakah menguasai tubuh
Manusia yang rapuh tata buku pengetahuan


Dunia tak punya Ayah, tempat melepas keluh
Ketika sesuatu menguasai alam dan akal budi
Keringat dan air mata dijadikan santapan
Singa yang berkeliaran pagi-pagi buta
Hingga malam menjelang
Terlelaplah tanpa kata-kata
Ayah tolong aku....

Yatim piatu dunia ini
Ketika Corona menghampiri
Gelap segalanya
Tak bernilai
Apakah dunia durhaka?


Hoelea, 28 Maret 2020



CORONA


Langit suram
Mata manusia tak melihat
Rupa-rupa gaya dan rasa
Penuhi kenikmatan alam
Tubuh dan segalanya


Kadang akal tak berdaya
Pelaku
Di antara yang berkecimpung
Di dalamnya
Tapi, hanya sedikit air yang basah di pagi buta
Menyirami setiap jejak
Yang hampir tertinggal


Of nafsu
Abu-abu aku memandangnya
Dari bilik orang buta
Pengetahuan

Adalah aku
Tak punya mata
Tak punya apa-apa


Hoelea, 28 Maret 2020



Ambigu


Wuhan Kota kecil negeri
Tirai bambu melerai
Lepas wabah terperangkap anak-anak
Orang tua, orang buta, orang miskin, orang terpinggirkan tanpa kemanusiaan
Tanpa kemurahan

Orang kaya, orang sombong, orang binasa harta dan jabatan menggoda lampiaskan naluri kepemimpinan
Demi kemajuan dan cara pandang
Lupa keselamatan teguran Maha Rahmah

Reproduksi manusia menggoda jiwa
Tumbuhkan setitik detik kuasa
Denyut nadi berlapis habis terkikis ambisi
Krisis moralitas
Istri-istri menjerit terbirit-birit ke kiri hingga pelipis tertindis arloji angkuh


Ideologi merah putih, hitam putih, putih biru warna beraneka
Bebas berkuasa antar benua
Siapa yang berdiri di atas singgasana

Agama dipertaruhkan akal gelagat, gerak pikiran
Condong kebiadaban
Murka-nya segera datang
Ketika sajadah enggan digunakan


Ekonomi marah
Masker melonjak
Penangkal dibungkam
Diam membatu
Seribu


Kapankah berakhir?


Hoelea, 29 Maret 2020



Nama : Tjaha Kum adalah seorang tabib yang menginspirasi, kemudian dijadikan  nama penanya. Nama aslinya adalah Ramadhan Abdullah. Dilahirkan di Hoelea, pada tanggal 10 bulan Februari.

Buku kumpulan puisi duetnya telah terbit pada tahun 2019 di Guepedia berjudul pecinta barisan kata. Kini ia hendak belajar berPusai (Puisi Bonsai). Sekarang ia berencana menerbitkan kumpulan puisi tunggalnya pada tahun 2020 ini

Puisi-puisi Corona : Teguh Ari Prianto: Poros Keberbalikan

55.Teguh Ari Prianto:

Poros Keberbalikan


Ketika dunia dalam pertentangan nilai karena paradok,
Virus Corona menunjukan keberbalikan

Bersatu ternyata hanya memupuk keburukan, tak lagi menyeru teguh karena memicu virus  semakin pandemi

Pulang mudik tak lagi membawa nikmat
Selebihnya hanya membawa wabah sampai ke kampung halaman

Apakah Virus Corona bak setan penolong atau malaikat pembawa bencana?

Corona memperdaya keyakinan-keyakinan absurd
yang menopang narasi-narasi dominan

Pertentangan telah menjadi masalah berkepanjangan
yang kau anggap baik pun maknanya kini  terpatahkan
karena corona

Tanda-tanda realitas semesta kembali kepada keselarasannya.
mengusung kebenaran entitas

Tuhan menyelaraskannya
bersama lahirnya pemuja-pemuja baru
Membunuh dikotomi
Bandung, 30 Maret 2020



Pusi-puisi Corona : Asro al Murthawy KOTAKU DALAM BINGKAI HANTU

53.Asro al Murthawy

KOTAKU  DALAM  BINGKAI  HANTU

biru lebam kotaku
maut mengintai dari atap-atap seng
dan udara yang berjerebu
menghitung nyawa sesiapa yang akan dijemput waktu
persimpangan, jalan dan trotoar mengelabu
orang-orang bergegas seperti ada yang memburu
susah payah memungut nafas
satu – satu
dalam seminggu kotaku menjelma lorong sunyi
pasar, mall dan toko-toko rata dalam pandang
datar gelap berbalut kabut
aku tak mengenali sesiapa
dileher tangan-tangan gaib mencekik-cekik
dari dalam dan luar raga
dari dalam dan luar jiwa
aku serasa dituba

Corona!  Corona!
entah siapa berteriak entah siapa yang merutuk
Nyanyikan lagu Tuhan!  Nyanyikan lagu Tuhan!...”
suara siapa pula memekik di lengang jalan
seperti biasa kita lantas sibuk mencari-cari
ayat-ayat pertobatan dan pintu ampunan
tapi, bukankah kita telah lama lupa cara mendoa?

Imaji 1441 H






Asro al Murthawy.  Lahir Temanggung, pada tanggal 6 November. Adalah Ketua Umum Dewan Kesenian Merangin dan Anggota Komite Sastra Dewan Kesenian Jambi. Karya-karyanya terhimpun dalam Syahadat Senggama (k.puisi, 2017) Equabilibrium Retak (2007), Lagu Bocah Kubu (puisi, tanpa tahun),  Kunun Kuda Lumping (k.Cerpen, 2016)  dan berbagai antologi bersama sastrawan Indonesia lainnya. Karyanya yang lain: Pangeran Sutan Galumat (2017), Pengedum Si Anak Rimba (2018), Mengenal Lima Sastrawan Jambi (2018), Katan dan Jubah Sang Raja Hutan (2019) Bujang Peniduk (2019) dan Ujung Tanjung Muara Masumai (2019) diterbitkan oleh Kantor Bahasa Jambi sebagai Pemenang Sayembara.. Hadir dalam Temu Sastra Indonesia I (2008), Pertemuan Penyair Nusantara VI (2012) Jambi,  MUNSI II (2017) Jakarta,  Pertemuan Penyair Asia Tenggara (2018) Padang Panjang,dan Borobudur Writter And Cultural Festival (BWCF) (2019)
Nomor HP/WA  081274837162   Email: almurthawy@gmail.com


Puisi-puisi Corona Nurinawati Kurnianingsih JUM’AT BERPUISI

54.Nurinawati Kurnianingsih

JUM’AT BERPUISI

Hari ini-bagi kami memujaNya dengan Puisi
Membawa do’a bersemayam dalam hati
Suaranya meminta kami datang memantaskan diri
Berseragam putih bersarung dan berpeci
Memulai wudhu untuk bersuci
Dan kami memulai percakapan dengan Ilahi
Terimalah sujud permohonan kami jum’at ini
Cilacap, 8 Maret 2020

MENJAGA RINDU

Dik, masihkah engkau menjaga rindu ini
Lama sekali waktu terus meminta begini
Aku juga ingin bertemu pagi dan berkisah malam hari
Ditempat bersama mencintai

Dik, namamu bahkan ku jadikan sebutan untuk memintaNya
Merindukan pertemuan ditempat abadi
Lalu ku bacakan sajak yang pernah kau berikan aku janji
Untuk tak pernah pergi
Dan kau tetap bersama rindu yang harus ku temui
Cilacap, 8 Maret 2020


BONSAI
Gelora silaturahim jabatan tangan di bangsa ini
Menumbuhkan daun-daun berbentuk pancasila sejati
Dipuja sila pertama kami berakhir sila terakhir
Hidup diantara keadilan duniawi
Kebumen, 9 Maret 2020

SURAT TUHAN

Langkah-langkahku seakan berdansa ditempat berduri
Lalu diberi garis lengkung oleh Tuhan
Dan aku masih menikmati kesunyian duka surat kemarin
Bahwa tuhan telah membawa kekasihku di azali
Aku masih belum tahu mengapa Tuhan melakukanya
Belum cukup setahun rumah kita berdiri
Bersama ketawa bayi kecil ini
Menangis memintamu kembali
Tuhan bawa kami menemuinya
Selepas ini aku hanya ingin keabadian
Dari kekalahan hati untuk mencoba bertahan diri
Supaya nafasku dan bayi ini tak menangis malam hari
Tuhan engkau masih membawaku pada hati yang sendiri
Cilacap, 10 Maret 2020

KAMU TAK BERSAMAKU LAGI

Aku bisa tidur menikmati dekapan airmata
Yang aku tak bisa ketika menahan rindu kita telah tiada
Kemarin aku menemui senja
Bahwa, aku hanya tahu kau bukan miliku lagi
Tetapi kita pernah merajut waktu seindah ini

Membicarakan mimpi yang gagal
Dan janji yang telah diingkari
Kini kamu tak bersamaku lagi
Cilacap, 10 Maret 2020







JIWA BERGANTI

Menatap pada tatap dan menetap
Di tempat jiwa itu berganti atap
Kepada lelaki pengkhianat
Pergilah hati ini bukan sekat
Kepergianmu merajut bahagianya derajat
Cilacap, 11 Maret 2020

Minggu, 29 Maret 2020

Puisi-puisi Corona : .Agustav Triono : Dalam Cekam

37.Agustav Triono

Dalam Cekam

Dalam cekam
Derita mengancam
Lewat jendela
Kuintip masa
Berulang kejadian
Wabah duka
Ketakutan
Kecemasan
Kepanikan
Derita silih ganti
Bertubi-tubi
Orang-orang bingung
Orang-orang linglung
Orang-orang terkungkung
Dalam rumah sepi
Dalam cakap sunyi
Dalam dilema hari-hari
Virus tak terlihat
Menyebar senyap
Teror dunia
Sadarkan manusia
Dalam hening
Paling bening

Dalam cekam
Seluruh berserah
Pada Yang Maha
Wabah segeralah sirna.

Purbalingga, Maret 2020

Agustav Triono, lahir di Banyumas, 26 Agustus 1980, tinggal di Perum Puri Boja blok E 31 Bojanegara, kec. Padamara Purbalingga. Karya sastranya termuat di beberapa media massa dan buku antologi bersama.

Puisi-puisi Corona, Emby Bharezhy Boleng Metha : Apa Kabar Indonesia

38.Emby Bharezhy Boleng Metha

Apa Kabar Indonesia

ketika semua sistem dihentikan
sekolah diliburkan
pekerja dirumahkan
ibadah pun

lalu aku bertanya
kepada Ibu Pertiwi
apa kabar Indonesia
saat ini

sebab,
di media maya
di koran
di TV
dan radio
hanya ada berita Covid-19
yang menjadi momok menakutkan
bagi manusia-manusia

oh.... ternyata
Indonesia-ku sedang tidak baik-baik saja

sejatinya kita
lengah dalam mencegah
sehingga di antara kita
ada yang terkapar oleh wabah






O, Tuhan
sudahi saja penderitaan ini
sudahi saja kesedihan ini
terlalu banyak air mata yang jatuh

bukankah Engkau Maha Segalanya ?

@MataKata.MB







Puisi-puisi Corona, Beti Novianti : Tamu Tak Diundang

39.Beti Novianti

Tamu Tak Diundang

kau datang tiba-tiba
tanpa permisi
aku tak tau apa maksudmu
aku tak tau rupamu
tapi yang pasti kita sama-sama makhluk tuhan
di segala arah semesta menceritakan tentang mu
tentang duka lara
di timur,di barat, di utara, dan di selatan belahan dunia menyebutmu.
katanya namamu korona

semesta bertanya-tanya dari manakah kau wahai korona,
apakah asalmu memang dari Wuhan ataukah Tuhan?
apakah kesukaanmu tentang keresahan atau keangkuhan?
mungkin di jiwa kami tersimpan keangkuhan yang mengalir deras seperti hujan
sampai saat ini  aku tak tau apa yang kau inginkan,dan kau belum juga pulang

Mukomuko,17 Maret 2020