TEKS SULUH


Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 Juli 2016

Gadis

Yang dinanti ternyata datang jua. Hanya menunggu dia lewat disamping rumahku. Gang kecil oleh suara vespamu seperti kodok minta hujan. Meski kau tak menengok, hafal betul wajahmu lucu. Tertutup helm astronot, Tak tahu kau kerja dimana, tapi jamku tepat kau lewat pagi dan siang. Tengoklah aku , dengan horden terbuka dibalik kaca jendela. Tuhan bilakah mampir dirumaku kecil. Kan kusiapkan air putih kau haus lelah. Dung dung dung dung. Itu vespa birunya. Secepat kau melewati rumahku. Tak menoleh sedikit walau aku tersenyum. Besok aku tunggu lagi kau lewat samping rumahku.

Aku tak salah lihat, berkaos putih dengan sendal jepit. Duduk menghadap pesawat tv diantara kerumunan orang-orang di warung kopi. Jelas itu suaramu walau bercampur sepuluh orang bareng tertawa. Ingin aku pura-pura beli obat nyamuk, tapi dirumah masih ada. Atau Mie instan barang berapa bungkus tapi Ibu tak menyuruh. Kenapa kaki semakin menjauh warung. haruskah aku menengok ke warung lagi untuk melihatmu.

Jika Ibu menyuruh mengantar makanan ke tetangga-tetangga, mau aku mengantar ke tetangga gang belakang rumah. Pasti ada vespa biru. Dirumah kos-kosan tengah itu. Tentu Ibu menghitung kepala keluarga, termasuk penghuni kos-kosan itu, semua dibagi. Mudah-mudahan memilih aku bukan Bibi yang mengantarkan. Ternyata kali ini tak ada pilihan lain Ibu menyuruhku mengantarkan makanan itu. Bagaimana jika aku ketemu dia. Tidak Bu, biar Bibi saja yang mengantarkan semuanya. Kenapa? kata Ibu. Jawabku aku takut anjing.

Dia menuju rumahku untuk bersilahturahmi dengan keluargaku di hari Lebaran ini. Apa yang kurang, ya, aku sudah pas berdandan.
Seperti vespamu itu , gaun muslimahku biru. Dia semakin dekat depan rumah , kemudian pintu. Tidak ! Aku dikamar berkaca diri terdengar dia berkata basa-basi. Dan menolak duduk meski kueh banyak, katanya masih banyak yang belum disalami. Ketika ibu menyebut namaku, kukunci kamar. Aku takut Si Vespa Biru duduk menanti. Ketika ia semakin jauh, Ibu memanggilku, dandan kok lama banget ! he he he.
(Gadis , oleh Rg Bagus Warsono)

Minggu, 24 November 2013

Cerpen Ali Ibnu Anwar

Cerpen Ali Ibnu Anwar
Perempuan yang tadinya berdiri tegak di depanku, kini duduk di samapingku selepas salah seorang penumpang yang tadinya duduk di sampingku mengeluarkan uang logam dan melentingkannya ke besi korden yang tergantung di sisi kanan kiri bis kota. Bis berhenti. Orang itu turun di pertigaan. Seorang kenek dari tadi mondar-mandir dari pintu depan ke belakang. Di tangannya terbeber beberapa lembar uang kertas. Dan yang satunya lagi menggerincinkan uang logam sambil berkata ”Karcis baru! Karcis baru!” kapada segenap penumpang.
Tadinya, ketika perempuan itu gelisah setelah naik ke dalam bis karena tidak kebagian tempat duduk, mau aku tawarkan dia untuk menggantikan tempat dudukku. Tapi urung aku lakukan. Aku saja baru mendapat tempat duduk dan bisa bernafas lega ketika penumpang yang tadinya duduk di tempat yang saat ini aku duduki melangkah ke depan beranjak turun. Segera aku gantikan posisinya. Tidak jauh kemudian, setelah bis yang aku tumpangi menurunkannya, bis itu berhenti lagi, setelah sopir melihat seorang calon penumpang melambaikan tangannya di kejauhan. Ya. Seorang perempuan. Masuklah perempuan itu. Dia mengarahkan pandangannya ke semua arah. Dan saat itulah kegelisahannya mulai muncul. Di benakku rasa kasihan dan pertimbangan jauhnya tempat yang aku tuju bertarung. Dan hasilnya aku memutuskan untuk diam saja membiarkan perempuan itu berdiri.
Sepanjang perjalanan belum ada satu penumpangpun yang beranjak dari tempat duduknya. Dan perempuan itu masih tetap berdiri tidak jauh di depanku. Keringat basah mengalir di wajahnya. Sesekali dia mengeluarkan tisue mengelapnya sambil menggerai-geraikan rambutnya yang kecokelat-cokelatan. Di bahunya, sebuah tas tersanggul. Aku pikir isinya pasti benda-benda komestik yang dia pakai. Biasalah perempuan zaman sekarang selalu marasa harus menjaga penampilan. Terutama di bagian-bagian sensitifnya. Wajahnya.
Malam hari.
Kegelapan kota tidak terlalu nampak.
Dua pengamen baru saja turun. Senang sekali aku mendengar liriknya, walau menurutku dan mungkin juga penumpang lain yang saat itu turut mendengarkan, kurang begitu mengenakkan telinga. Karena terkadang grip yang digunakan kurang begitu sesuai dengan lagunya. Tapi tidak ada alasan bagiku untuk tidak menghargainya. Aku salut kepada mereka. Semangatnya masuk ke dalam diriku. Menjegal segala perasaan tak enak untuk memberikan julukan peminta-minta bagi mereka. Keluarlah dari kantongku uang seribuan sebagai bentuk penghargaan bagi semangatnya yang telah mengguruiku. Sekaligus imbalan yang, selalu diharapkan datang dari setiap penumpang yang ada.
Bis melaju cepat. Kadang juga pelan ketika beradu dengan kendaraan lain. Saat itulah aku tidak merasa berada di atas bis. Seperti menunggangi seekor keledai. Apalagi ketika terjebak macet. Polusi merebak ke mana-mana. Udara kota menjadi tak sedap. Sebagian udara yang dihirup bercampur asap knalpot. Tapi semua tak terlalu nampak bila malam hari. Karena dikalahkan oleh lampu-lampu gedung-gedung raksasa yang memancar kuat ke semua penjuru kota.
Di saat-saat itulah perempuan itu datang kembali. Membebaskan semua pemandangan kota yang mengikutiku. Di lehernya keringat kuyup mengalir. Dia kelihatan lelah berdiri. Wajahnya berminyak. Sehingga pantulan lampu bis yang menerangi para penumpang, masuk ke dalamnya. Ingin sekali aku menawarkannya untuk menggantikanku. Tapi aku juga sangat lelah setelah seharian mengurusi persiapan training untuk besok. Belum lagi rasa gerah yang menelanjangiku. Sedangkan bis terlalu sesak. Aku sangat malas berdiri dalam keadaan berdesakan. Apalagi kalau ada penjaja jajanan yang berjalan menyesaki penumpang. Dompetku juga pernah hilang dalam situasi seperti itu. Orang-orang kota sulit dipercaya. Ah, sudahlah! Memang dia itu siapa? Saudara bukan. Teman bukan.
Hidup di kota, seolah membebaskanku untuk bertoleransi kepada siapapun. Karena orang-orang di dalamnya yang mengajarkan demikian. Dulu pertama kali aku diam di kontrakan yang sampai sekarang aku tempati, aku selalu permisi ketika lewat di depan orang. Tapi mereka tak pernah kenghiraukan keberadaanku. Sampai di banyak kesempatanpun demikian. Akhirnya tidak lagi aku membudayakan adat yang aku bawa dari kampung itu. Terlalu mahal untuk orang-orang kota. Sungguh terlalu!
Seorang penumpang yang duduk bersampingan denganku berdiri. Seperti menerka tempat yang ditujunya tidak lagi jauh. Penumpang itu semakin meyakinkanku seletah ia mengetuk atap bis kota. Bispun berhenti. Penumpang itu turun dengan segera. Jarak perempuan itu tidak jauh dariku. Dia berdiri di samping depan penumpang yang duduk bersampingan denganku yang baru saja turun. Sehingga memudahkan dia duduk menggantikan posisinya dari para penumpang lainnya yang berdiri. Dan kini perempuan itu duduk bersampingan denganku. Akupun lega. Mungkin juga dia.
Di seberang jalan, mobil-mobil mewah berjalan tampak seperti tak berkemudi. Namun bunyi klakson yang mirip ritmis di tengah kota semakin meyakinkanku bahwa orang-orang yang ada di dalamnya tampak gelisah menghadapi kemacetan. Suasana seperti itu kadang juga membuatku tercekik. Apalagi para pengemudi itu! Mereka pasrti ingin segera terbebas dan samapai di tempat yang dituju; dimana rekan kerja mereka sudah menunggu untuk meresmikan proyek, atau keluarga mereka menunggu kehadirannya untuk dinner bersama, atau barang-barang yang dibawa oleh para sopir kontainer dengan ukuran berat harus sampai ke tempat-tempat industri tepat waktu, dan atau-atau yang lain, termasuk juga alasanku takut sampai di rumah terlalu larut dan istriku kembali mengomeliku dengan semua isi kebun binatang yang keluar dari mulutnya. Dan saat itulah sekelumit permasalahan akan menambah beban hidup.
Lampu-lampu jalanan merangsang mataku untuk mengikutinya. Kualirkan pandanganku kemana-mana. Ke arah jendela yang mirip bingkai lukisan. Di dalamnya para pengamen dan pengemis berdansa sambil menyanyikan lagu kehidupannya di atas trotoar. Tanpa kesadaran, aku alihkan pandanganku ke lain arah. Aku marasa ada yang sedang memandangiku sedari lama. Bukan tanpa alasan aku berkesimpulan. Karena, ketika aku mencoba mengikuti arah datangnya pandangan itu, orang itu ikut-kutan memalingkan pandangannya ke arah lain yang berlawanan. Orang itu. Perempuan itu.
Perempuan itu seolah salah tingkah. Disadarinya mungkin kalau perbuatannya diketahui olehku. Melihat wajahnya yang bingung, aku tertawa dalam hati. Geli sekali.
”Maaf!” tuturnya agak sedikit ragu. Lalu dalam keraguannya, dia teruskan ucapannya ”Bisa pinjami saya korek!”
Aku memang bukan seorang perokok. Tapi aku ingat kalau tadi sebelum pulang dari kantor aku menemukan sebuah korek yang tertinggal di toilet. Mungkin milik teman sekantorku yang tertinggal. Karyawan di kantorku hanya bisa merokok bila dilakukan di toilet. Kalau sampai ketahuan merokok di ruang kerja, maka siap-siaplah ia berhadapan dengan bapak Arifin, atasan kami. Bahkan dulu ada karyawan yang dinon-aktifkan gara-gara melanggar disiplin kantor tersebut.
Akhirnya tanpa panjang lebar, aku merogoh ke dalam sakuku. Ternyata memang masih ada. Segera aku berikan kepadanya.
Tangannya menyambut. Sedang yang satunya mengeluarkan sebatang rokok dari kotaknya dan mengarahkan ke bibirnya. Dia nyalakan. Dihirupnya asap rokok itu lalu dikeluarkan kembali sambil melihat api di ujung rokoknya kalau-kalau masih kurang menyala. Ternyata benar. ditariknya kembali pegas korek itu. Setelah api menyala cukup merah, dia mengembalikan korek itu. ”Terimakasih!” Balasnya.
Asap mengepul ke mana-mana. Mirip awan dengan segala macamnya. Ada juga yang berbentuk lingkaran.
”Rokok!” Tawarnya sambil mengangkat sebatang dari kotak rokok berwarna putih di tangannya.
”Terimakasih. Maaf, saya tidak merokok”. Tolakku halus tanpa menyinggung perasaannya.
”Oh ya, apa saya mengganggu?”
”Tidak! Silahkan kamu teruskan saja”.
”Tapi…, maaf, mengapa saudara bisa menyimpan korek api kalau tidak merokok?”
”Saya menemukannya di toilet kantor sebelum saya pulang tadi sore. Tadinya mau saya simpan di meja. Tapi malah terbawa”
”Jadi saudara kerja di kantor. Di mana?” Perempuan itu semakin jauh bertanya tentangku.
”Di perusahaan IT. Dekat pasar rumput. Kamu?”
Perempuan itu seperti menyembunyikan sesuatu. Tampak dari raut wajahnya. Seperti sedang berpikir panjang untuk menjawab pertanyaanku. Tak ingin diketahuinya mungkin apa pekerjaannya. Mungkin saja dia sales suatu produk perusahaan. Sales kok merokok. Ah sudahlah. Segera kualihkan arah pembicaraanku.
”Sudah lama di Jakarta?”
”Lumayan. Ada sekitar tiga tahun.”
”Kos, atau tinggal dengan… ” aku tidak meneruskan perkataanku. Karena lwana bicaraku seperti memeriksa sesuatu di dalam tasnya. Setelah diketahuinya kalau barang itu ada, perempuan itu segera balik tanya kepadaku.
”Oh ya, maaf tadi saudara mau bilang apa?”
Ternyata benar. Perempuan itu tadi tidak memperhatikan ucapanku barang sehurufpun. Terpaksa aku mengulangi pertanyaanku tadi. Kemudian dia menjawab.
”Aku tinggal di kos bersama teman-teman. Kalo ada waktu mapirlah. Dekat kok di jalan Pemuda dekat terminal. Tuh, sudah kelihatan. Oh, ya saya Lusi. Kalo memang mau mampir nanti telpon saja. Biar nanti gak kesasar. Nomor handphoneku ada di kartu nama ini. Terima kasih ya, koreknya.” Kemudian perempuan itu turun sambil menghisap rokoknya dalam sekali. Setelah itu membuang rokok yang masih baru terbakar sebagian itu. Dia tampak ragu-ragu memilih arah yang mau dilaluinya. Namun kemudian melangkah juga kakinya ke suatu arah. Aku juga tidak tahu ke arah mana. Karena memang di daerah itu aku masih bingung memahami arah mata angin.
Malam masih malam yang sama. Hanya saja jarum jam arlojiku sudah berubah letaknya. Yang bisa aku banyangkan saat ini adalah istriku yang sedang menungguku sambil membaca majalah. Atau kalau tidak menyaksikan tayangan televisi. Dia memang sangat perhatian kepadaku. Kalaupun dia marah, aku yakin bukan karena ia benci kepadaku. Ia takut aku ke mana-mana. Tak mau kejadian yang dialami Sukri, tetangga depan rumah kami terjadi padaku. Sampai istrinya minta untuk diceraikan. Hanya satu gara-garanya. Sukri selalu pulang malam. Bukan cuma sekali. Bahkan hampir setiap hari. Lama istrinya berdiam diri. Tak tahan juga akhirnya. Diikutinya Sukri ketika berangkat. Sampai kemudian turun dari angkot. Masuk di sebuah gang. Menuju rumah di seberang jalan. Kemudian memilih kamar rumah paling ujung. Saat itulah istrinya tahu apa yang selama ini Sukri perbuat.
Bis merambat cukup cepat, membuat pohon-pohon pinggir jalan berlari ke belakang berlawanan arus denganku. Namun hanya sebentar. Jakarta tetap saja kota sesak kendaraan. Walaupun malam hari.
Bis kemudian berhenti. Diikuti kendaraan yang lain. Sudah sampai lampu merah yang sudah tidak asing bagiku. Berarti tidak lama lagi aku akan sampai di rumah. Kurang lebih dua menit lagi. Itupun kalau tidak ada hambatan apa-apa.
Kenek yang biasanya berteriak, bertanya tentang penumpang baru, hanya lewat tanpa suara. Mungkin karena ia tahu kalau penumpang yang baru saja naik duduk di belakang. Dan memang hanya satu orang. Jadi kenek itu tidak bingung lagi.
Kemudian kenek itu menyebut-nyebut nama suatu tempat. Akupun tahu apa yang harus aku lakukan. Kenek itu melentingkan uang logam ke besi korden. Bis yang tadinya laju semakin pelan. Lalu berhenti. Akupun turun.
Aku melangkah masuk ke sebuah gang. Tentu istriku sedang menungguku. Aku belikan dia terang bulan berniat membuatnya gembira. Sambil juga mengingat-ingat masa lalu ketika kami masih pacaran. Dia suka sekali kalo habis nonton mampir ke warung dorong penjual terang bulan. Bahkan pernah suatu ketika aku hanya disisakan sepotong saja. Aku hanya tertawa sambil meledeknya. Sungguh memori yang mengesankan.
Penjual terang bulan segera membungkus terang bulan yang aku pesan. Setelah membayar mau aku masukkan terang bulan itu ke dalam tas. Ternyata tidak muat. Terpaksa aku tenteng bungkusan terang bulan itu sambil terus melanjutkan langkah.
Sampai di depan rumah, lampu masih dihidupkan. Berarti istriku belum tidur. Aku mencoba menekan daun jendela, ternyata memang masih tidak terkunci. Suara televisi yang menyala itu semakin membuatku yakin tahu apa yang sedang dilakukan istriku. Aku melangkah ke ruang tengah. Dia memang masih di situ.
”Terang bulan ya! Terima kasih ya mas.” Katanya ramah. Lalu membawakan tas dan membukakan sepatuku. Diletakkan semuanya di tempat biasa.
Dia kebelang. Segera dibuatkannya aku teh hangat. Akupun menikmatinya. Juga menikmati terang bulan yang aku beli sebagai cuci mulut setelah kami selesai makan malam.
Malam tambah garang. Apalagi setelah kumatikan lampu di seluruh ruangan.
***
Pagi-pagi sekali, aku mendengar percakapan dua orang di rumahku. Yang satu aku yakin benar mengenalnya. Itu suara istriku sendiri. Tapi yang satunya? Karena penasaran, aku segera keluar kamar. Ternyata itu adalah istri si Sukri yang sedang membantu istriku membuat kue untuk selamatan. Mereka berdua senang sekali ngerumpi. Apalagi Istri Sukri. Dia selalu menjelek-jelekkan suaminya yang telah berbuat serong. Dia ceritakan semua kepada istriku dari awal hingga akhir. Padahal, sudah beberapa kali istriku mendengar ceritanya. Sampai kemudian istriku menceritakan kejadian itu kepadaku. Dia juga bilang males kalo mendengar istri Sukri membicarakan suaminya. Karena memang ceritanya itu-itu saja. Tidak berubah. Mungkin karena sangat benci dia kepada suaminya. Akupun menyarankan kepada istriku untuk pura-pura mendengarkan saja. Untuk menghargai pembicaraannya lah. Jadi aku kira istriku saat itu tidak benar-benar menyimak cerita yang dilontarkan oleh istri Sukri.
”Bener che, saya melihatnya sendiri. Dia masuk kamar. Seorang wanita menunggu di dalam. Terus saya tidak berani lagi mengikutinya sampai ke kamar. Tapi saya kenal sekali wajahnya. Saya juga sering melihat dia di terminal kalo mau pergi ke pasar. Saya do’ain kualat suami saya itu.” Istri Sukri berkata dengan gaya gerak tubuhnya yang khas. Yang diajak bicara hanya mengangguk saja sambil mengaduk adonan. Aku hanya bisa tertawa melihatnya. Istriku juga ketika melirik ke arahku pura-pura menyaksikan tayangan televisi yang baru aku nyalakan.
Setelah berita tentang terbakarnya pasar Turi di Surabaya, kemudian Berita Pagi berpindah ke lain kejadian. Wanita pembaca berita itu menyebutkan; ”Dalam operasi malam, kali ini polisi berhasil menangkap salah seorang pengedar sabu-sabu. Pelakunya adalah seorang wanita. Polisi berhasil menemukan 50 gram sabu-sabu di dalam tasnya ketika dia mau menemui salah seorang pelanggannya. Wanita ini memang sudah lama menjadi incaran polisi. Sebulan yang lalu, dia juga pernah ditangkap karena diduga bersekongkol dengan Edu. Karena tidak ada bukti, polisi terpaksa melepaskannya…”
Pembaca berita itu belum selesai membaca beritanya. Tapi semua mata sudah tertuju ke arah kotak bergambar itu. Setelah selesai, muncullah gambar seorang wanita yang sedang diinterogasi oleh pihak kepolisian. Mula-mula istri Sukri menatap wanita dalam televisi itu dalam-dalam. Seperti ingin tahu dengan jelas mukanya. Setelah itu,
”Itu dia che’ wanita yang seringkali saya ceritakan. Rasain lo. Benar, dia yang saya lihat menunggu suami saya di kamar itu. Semoga dia dihukum mati sekalian. Biar saya saja yang menjadi korban, che. Asal jangan istri-istri yang lain.” Suara istri Sukri seperti kereta. Istriku seperti juga setuju dengan kutukan-kutukan yang dilontarkan.
”Ya, Tuhan telah membalas semuanya.”
”Benar, che!”
Aku juga menyaksikan wajah itu dengan seksama. Ingin tahu seperti apa wanita yang telah merusak rumah tangga Sukri. Semakin aku tatap, wajah itu semakin aku kenal. Tapi aku lupa. Kapan? Di mana?
Aku tertawa ringan.
Wanita itu. Rambut itu. Tas itu. Keringat itu.
Jakarta, 01 september 2007

Cerpen Ali Ibnu Anwar

Cerpen Ali Ibnu Anwar
Perempuan yang tadinya berdiri tegak di depanku, kini duduk di samapingku selepas salah seorang penumpang yang tadinya duduk di sampingku mengeluarkan uang logam dan melentingkannya ke besi korden yang tergantung di sisi kanan kiri bis kota. Bis berhenti. Orang itu turun di pertigaan. Seorang kenek dari tadi mondar-mandir dari pintu depan ke belakang. Di tangannya terbeber beberapa lembar uang kertas. Dan yang satunya lagi menggerincinkan uang logam sambil berkata ”Karcis baru! Karcis baru!” kapada segenap penumpang.
Tadinya, ketika perempuan itu gelisah setelah naik ke dalam bis karena tidak kebagian tempat duduk, mau aku tawarkan dia untuk menggantikan tempat dudukku. Tapi urung aku lakukan. Aku saja baru mendapat tempat duduk dan bisa bernafas lega ketika penumpang yang tadinya duduk di tempat yang saat ini aku duduki melangkah ke depan beranjak turun. Segera aku gantikan posisinya. Tidak jauh kemudian, setelah bis yang aku tumpangi menurunkannya, bis itu berhenti lagi, setelah sopir melihat seorang calon penumpang melambaikan tangannya di kejauhan. Ya. Seorang perempuan. Masuklah perempuan itu. Dia mengarahkan pandangannya ke semua arah. Dan saat itulah kegelisahannya mulai muncul. Di benakku rasa kasihan dan pertimbangan jauhnya tempat yang aku tuju bertarung. Dan hasilnya aku memutuskan untuk diam saja membiarkan perempuan itu berdiri.
Sepanjang perjalanan belum ada satu penumpangpun yang beranjak dari tempat duduknya. Dan perempuan itu masih tetap berdiri tidak jauh di depanku. Keringat basah mengalir di wajahnya. Sesekali dia mengeluarkan tisue mengelapnya sambil menggerai-geraikan rambutnya yang kecokelat-cokelatan. Di bahunya, sebuah tas tersanggul. Aku pikir isinya pasti benda-benda komestik yang dia pakai. Biasalah perempuan zaman sekarang selalu marasa harus menjaga penampilan. Terutama di bagian-bagian sensitifnya. Wajahnya.
Malam hari.
Kegelapan kota tidak terlalu nampak.
Dua pengamen baru saja turun. Senang sekali aku mendengar liriknya, walau menurutku dan mungkin juga penumpang lain yang saat itu turut mendengarkan, kurang begitu mengenakkan telinga. Karena terkadang grip yang digunakan kurang begitu sesuai dengan lagunya. Tapi tidak ada alasan bagiku untuk tidak menghargainya. Aku salut kepada mereka. Semangatnya masuk ke dalam diriku. Menjegal segala perasaan tak enak untuk memberikan julukan peminta-minta bagi mereka. Keluarlah dari kantongku uang seribuan sebagai bentuk penghargaan bagi semangatnya yang telah mengguruiku. Sekaligus imbalan yang, selalu diharapkan datang dari setiap penumpang yang ada.
Bis melaju cepat. Kadang juga pelan ketika beradu dengan kendaraan lain. Saat itulah aku tidak merasa berada di atas bis. Seperti menunggangi seekor keledai. Apalagi ketika terjebak macet. Polusi merebak ke mana-mana. Udara kota menjadi tak sedap. Sebagian udara yang dihirup bercampur asap knalpot. Tapi semua tak terlalu nampak bila malam hari. Karena dikalahkan oleh lampu-lampu gedung-gedung raksasa yang memancar kuat ke semua penjuru kota.
Di saat-saat itulah perempuan itu datang kembali. Membebaskan semua pemandangan kota yang mengikutiku. Di lehernya keringat kuyup mengalir. Dia kelihatan lelah berdiri. Wajahnya berminyak. Sehingga pantulan lampu bis yang menerangi para penumpang, masuk ke dalamnya. Ingin sekali aku menawarkannya untuk menggantikanku. Tapi aku juga sangat lelah setelah seharian mengurusi persiapan training untuk besok. Belum lagi rasa gerah yang menelanjangiku. Sedangkan bis terlalu sesak. Aku sangat malas berdiri dalam keadaan berdesakan. Apalagi kalau ada penjaja jajanan yang berjalan menyesaki penumpang. Dompetku juga pernah hilang dalam situasi seperti itu. Orang-orang kota sulit dipercaya. Ah, sudahlah! Memang dia itu siapa? Saudara bukan. Teman bukan.
Hidup di kota, seolah membebaskanku untuk bertoleransi kepada siapapun. Karena orang-orang di dalamnya yang mengajarkan demikian. Dulu pertama kali aku diam di kontrakan yang sampai sekarang aku tempati, aku selalu permisi ketika lewat di depan orang. Tapi mereka tak pernah kenghiraukan keberadaanku. Sampai di banyak kesempatanpun demikian. Akhirnya tidak lagi aku membudayakan adat yang aku bawa dari kampung itu. Terlalu mahal untuk orang-orang kota. Sungguh terlalu!
Seorang penumpang yang duduk bersampingan denganku berdiri. Seperti menerka tempat yang ditujunya tidak lagi jauh. Penumpang itu semakin meyakinkanku seletah ia mengetuk atap bis kota. Bispun berhenti. Penumpang itu turun dengan segera. Jarak perempuan itu tidak jauh dariku. Dia berdiri di samping depan penumpang yang duduk bersampingan denganku yang baru saja turun. Sehingga memudahkan dia duduk menggantikan posisinya dari para penumpang lainnya yang berdiri. Dan kini perempuan itu duduk bersampingan denganku. Akupun lega. Mungkin juga dia.
Di seberang jalan, mobil-mobil mewah berjalan tampak seperti tak berkemudi. Namun bunyi klakson yang mirip ritmis di tengah kota semakin meyakinkanku bahwa orang-orang yang ada di dalamnya tampak gelisah menghadapi kemacetan. Suasana seperti itu kadang juga membuatku tercekik. Apalagi para pengemudi itu! Mereka pasrti ingin segera terbebas dan samapai di tempat yang dituju; dimana rekan kerja mereka sudah menunggu untuk meresmikan proyek, atau keluarga mereka menunggu kehadirannya untuk dinner bersama, atau barang-barang yang dibawa oleh para sopir kontainer dengan ukuran berat harus sampai ke tempat-tempat industri tepat waktu, dan atau-atau yang lain, termasuk juga alasanku takut sampai di rumah terlalu larut dan istriku kembali mengomeliku dengan semua isi kebun binatang yang keluar dari mulutnya. Dan saat itulah sekelumit permasalahan akan menambah beban hidup.
Lampu-lampu jalanan merangsang mataku untuk mengikutinya. Kualirkan pandanganku kemana-mana. Ke arah jendela yang mirip bingkai lukisan. Di dalamnya para pengamen dan pengemis berdansa sambil menyanyikan lagu kehidupannya di atas trotoar. Tanpa kesadaran, aku alihkan pandanganku ke lain arah. Aku marasa ada yang sedang memandangiku sedari lama. Bukan tanpa alasan aku berkesimpulan. Karena, ketika aku mencoba mengikuti arah datangnya pandangan itu, orang itu ikut-kutan memalingkan pandangannya ke arah lain yang berlawanan. Orang itu. Perempuan itu.
Perempuan itu seolah salah tingkah. Disadarinya mungkin kalau perbuatannya diketahui olehku. Melihat wajahnya yang bingung, aku tertawa dalam hati. Geli sekali.
”Maaf!” tuturnya agak sedikit ragu. Lalu dalam keraguannya, dia teruskan ucapannya ”Bisa pinjami saya korek!”
Aku memang bukan seorang perokok. Tapi aku ingat kalau tadi sebelum pulang dari kantor aku menemukan sebuah korek yang tertinggal di toilet. Mungkin milik teman sekantorku yang tertinggal. Karyawan di kantorku hanya bisa merokok bila dilakukan di toilet. Kalau sampai ketahuan merokok di ruang kerja, maka siap-siaplah ia berhadapan dengan bapak Arifin, atasan kami. Bahkan dulu ada karyawan yang dinon-aktifkan gara-gara melanggar disiplin kantor tersebut.
Akhirnya tanpa panjang lebar, aku merogoh ke dalam sakuku. Ternyata memang masih ada. Segera aku berikan kepadanya.
Tangannya menyambut. Sedang yang satunya mengeluarkan sebatang rokok dari kotaknya dan mengarahkan ke bibirnya. Dia nyalakan. Dihirupnya asap rokok itu lalu dikeluarkan kembali sambil melihat api di ujung rokoknya kalau-kalau masih kurang menyala. Ternyata benar. ditariknya kembali pegas korek itu. Setelah api menyala cukup merah, dia mengembalikan korek itu. ”Terimakasih!” Balasnya.
Asap mengepul ke mana-mana. Mirip awan dengan segala macamnya. Ada juga yang berbentuk lingkaran.
”Rokok!” Tawarnya sambil mengangkat sebatang dari kotak rokok berwarna putih di tangannya.
”Terimakasih. Maaf, saya tidak merokok”. Tolakku halus tanpa menyinggung perasaannya.
”Oh ya, apa saya mengganggu?”
”Tidak! Silahkan kamu teruskan saja”.
”Tapi…, maaf, mengapa saudara bisa menyimpan korek api kalau tidak merokok?”
”Saya menemukannya di toilet kantor sebelum saya pulang tadi sore. Tadinya mau saya simpan di meja. Tapi malah terbawa”
”Jadi saudara kerja di kantor. Di mana?” Perempuan itu semakin jauh bertanya tentangku.
”Di perusahaan IT. Dekat pasar rumput. Kamu?”
Perempuan itu seperti menyembunyikan sesuatu. Tampak dari raut wajahnya. Seperti sedang berpikir panjang untuk menjawab pertanyaanku. Tak ingin diketahuinya mungkin apa pekerjaannya. Mungkin saja dia sales suatu produk perusahaan. Sales kok merokok. Ah sudahlah. Segera kualihkan arah pembicaraanku.
”Sudah lama di Jakarta?”
”Lumayan. Ada sekitar tiga tahun.”
”Kos, atau tinggal dengan… ” aku tidak meneruskan perkataanku. Karena lwana bicaraku seperti memeriksa sesuatu di dalam tasnya. Setelah diketahuinya kalau barang itu ada, perempuan itu segera balik tanya kepadaku.
”Oh ya, maaf tadi saudara mau bilang apa?”
Ternyata benar. Perempuan itu tadi tidak memperhatikan ucapanku barang sehurufpun. Terpaksa aku mengulangi pertanyaanku tadi. Kemudian dia menjawab.
”Aku tinggal di kos bersama teman-teman. Kalo ada waktu mapirlah. Dekat kok di jalan Pemuda dekat terminal. Tuh, sudah kelihatan. Oh, ya saya Lusi. Kalo memang mau mampir nanti telpon saja. Biar nanti gak kesasar. Nomor handphoneku ada di kartu nama ini. Terima kasih ya, koreknya.” Kemudian perempuan itu turun sambil menghisap rokoknya dalam sekali. Setelah itu membuang rokok yang masih baru terbakar sebagian itu. Dia tampak ragu-ragu memilih arah yang mau dilaluinya. Namun kemudian melangkah juga kakinya ke suatu arah. Aku juga tidak tahu ke arah mana. Karena memang di daerah itu aku masih bingung memahami arah mata angin.
Malam masih malam yang sama. Hanya saja jarum jam arlojiku sudah berubah letaknya. Yang bisa aku banyangkan saat ini adalah istriku yang sedang menungguku sambil membaca majalah. Atau kalau tidak menyaksikan tayangan televisi. Dia memang sangat perhatian kepadaku. Kalaupun dia marah, aku yakin bukan karena ia benci kepadaku. Ia takut aku ke mana-mana. Tak mau kejadian yang dialami Sukri, tetangga depan rumah kami terjadi padaku. Sampai istrinya minta untuk diceraikan. Hanya satu gara-garanya. Sukri selalu pulang malam. Bukan cuma sekali. Bahkan hampir setiap hari. Lama istrinya berdiam diri. Tak tahan juga akhirnya. Diikutinya Sukri ketika berangkat. Sampai kemudian turun dari angkot. Masuk di sebuah gang. Menuju rumah di seberang jalan. Kemudian memilih kamar rumah paling ujung. Saat itulah istrinya tahu apa yang selama ini Sukri perbuat.
Bis merambat cukup cepat, membuat pohon-pohon pinggir jalan berlari ke belakang berlawanan arus denganku. Namun hanya sebentar. Jakarta tetap saja kota sesak kendaraan. Walaupun malam hari.
Bis kemudian berhenti. Diikuti kendaraan yang lain. Sudah sampai lampu merah yang sudah tidak asing bagiku. Berarti tidak lama lagi aku akan sampai di rumah. Kurang lebih dua menit lagi. Itupun kalau tidak ada hambatan apa-apa.
Kenek yang biasanya berteriak, bertanya tentang penumpang baru, hanya lewat tanpa suara. Mungkin karena ia tahu kalau penumpang yang baru saja naik duduk di belakang. Dan memang hanya satu orang. Jadi kenek itu tidak bingung lagi.
Kemudian kenek itu menyebut-nyebut nama suatu tempat. Akupun tahu apa yang harus aku lakukan. Kenek itu melentingkan uang logam ke besi korden. Bis yang tadinya laju semakin pelan. Lalu berhenti. Akupun turun.
Aku melangkah masuk ke sebuah gang. Tentu istriku sedang menungguku. Aku belikan dia terang bulan berniat membuatnya gembira. Sambil juga mengingat-ingat masa lalu ketika kami masih pacaran. Dia suka sekali kalo habis nonton mampir ke warung dorong penjual terang bulan. Bahkan pernah suatu ketika aku hanya disisakan sepotong saja. Aku hanya tertawa sambil meledeknya. Sungguh memori yang mengesankan.
Penjual terang bulan segera membungkus terang bulan yang aku pesan. Setelah membayar mau aku masukkan terang bulan itu ke dalam tas. Ternyata tidak muat. Terpaksa aku tenteng bungkusan terang bulan itu sambil terus melanjutkan langkah.
Sampai di depan rumah, lampu masih dihidupkan. Berarti istriku belum tidur. Aku mencoba menekan daun jendela, ternyata memang masih tidak terkunci. Suara televisi yang menyala itu semakin membuatku yakin tahu apa yang sedang dilakukan istriku. Aku melangkah ke ruang tengah. Dia memang masih di situ.
”Terang bulan ya! Terima kasih ya mas.” Katanya ramah. Lalu membawakan tas dan membukakan sepatuku. Diletakkan semuanya di tempat biasa.
Dia kebelang. Segera dibuatkannya aku teh hangat. Akupun menikmatinya. Juga menikmati terang bulan yang aku beli sebagai cuci mulut setelah kami selesai makan malam.
Malam tambah garang. Apalagi setelah kumatikan lampu di seluruh ruangan.
***
Pagi-pagi sekali, aku mendengar percakapan dua orang di rumahku. Yang satu aku yakin benar mengenalnya. Itu suara istriku sendiri. Tapi yang satunya? Karena penasaran, aku segera keluar kamar. Ternyata itu adalah istri si Sukri yang sedang membantu istriku membuat kue untuk selamatan. Mereka berdua senang sekali ngerumpi. Apalagi Istri Sukri. Dia selalu menjelek-jelekkan suaminya yang telah berbuat serong. Dia ceritakan semua kepada istriku dari awal hingga akhir. Padahal, sudah beberapa kali istriku mendengar ceritanya. Sampai kemudian istriku menceritakan kejadian itu kepadaku. Dia juga bilang males kalo mendengar istri Sukri membicarakan suaminya. Karena memang ceritanya itu-itu saja. Tidak berubah. Mungkin karena sangat benci dia kepada suaminya. Akupun menyarankan kepada istriku untuk pura-pura mendengarkan saja. Untuk menghargai pembicaraannya lah. Jadi aku kira istriku saat itu tidak benar-benar menyimak cerita yang dilontarkan oleh istri Sukri.
”Bener che, saya melihatnya sendiri. Dia masuk kamar. Seorang wanita menunggu di dalam. Terus saya tidak berani lagi mengikutinya sampai ke kamar. Tapi saya kenal sekali wajahnya. Saya juga sering melihat dia di terminal kalo mau pergi ke pasar. Saya do’ain kualat suami saya itu.” Istri Sukri berkata dengan gaya gerak tubuhnya yang khas. Yang diajak bicara hanya mengangguk saja sambil mengaduk adonan. Aku hanya bisa tertawa melihatnya. Istriku juga ketika melirik ke arahku pura-pura menyaksikan tayangan televisi yang baru aku nyalakan.
Setelah berita tentang terbakarnya pasar Turi di Surabaya, kemudian Berita Pagi berpindah ke lain kejadian. Wanita pembaca berita itu menyebutkan; ”Dalam operasi malam, kali ini polisi berhasil menangkap salah seorang pengedar sabu-sabu. Pelakunya adalah seorang wanita. Polisi berhasil menemukan 50 gram sabu-sabu di dalam tasnya ketika dia mau menemui salah seorang pelanggannya. Wanita ini memang sudah lama menjadi incaran polisi. Sebulan yang lalu, dia juga pernah ditangkap karena diduga bersekongkol dengan Edu. Karena tidak ada bukti, polisi terpaksa melepaskannya…”
Pembaca berita itu belum selesai membaca beritanya. Tapi semua mata sudah tertuju ke arah kotak bergambar itu. Setelah selesai, muncullah gambar seorang wanita yang sedang diinterogasi oleh pihak kepolisian. Mula-mula istri Sukri menatap wanita dalam televisi itu dalam-dalam. Seperti ingin tahu dengan jelas mukanya. Setelah itu,
”Itu dia che’ wanita yang seringkali saya ceritakan. Rasain lo. Benar, dia yang saya lihat menunggu suami saya di kamar itu. Semoga dia dihukum mati sekalian. Biar saya saja yang menjadi korban, che. Asal jangan istri-istri yang lain.” Suara istri Sukri seperti kereta. Istriku seperti juga setuju dengan kutukan-kutukan yang dilontarkan.
”Ya, Tuhan telah membalas semuanya.”
”Benar, che!”
Aku juga menyaksikan wajah itu dengan seksama. Ingin tahu seperti apa wanita yang telah merusak rumah tangga Sukri. Semakin aku tatap, wajah itu semakin aku kenal. Tapi aku lupa. Kapan? Di mana?
Aku tertawa ringan.
Wanita itu. Rambut itu. Tas itu. Keringat itu.
Jakarta, 01 september 2007

Cerpen Ali Ibnu Anwar

Cerpen Ali Ibnu Anwar
Perempuan yang tadinya berdiri tegak di depanku, kini duduk di samapingku selepas salah seorang penumpang yang tadinya duduk di sampingku mengeluarkan uang logam dan melentingkannya ke besi korden yang tergantung di sisi kanan kiri bis kota. Bis berhenti. Orang itu turun di pertigaan. Seorang kenek dari tadi mondar-mandir dari pintu depan ke belakang. Di tangannya terbeber beberapa lembar uang kertas. Dan yang satunya lagi menggerincinkan uang logam sambil berkata ”Karcis baru! Karcis baru!” kapada segenap penumpang.
Tadinya, ketika perempuan itu gelisah setelah naik ke dalam bis karena tidak kebagian tempat duduk, mau aku tawarkan dia untuk menggantikan tempat dudukku. Tapi urung aku lakukan. Aku saja baru mendapat tempat duduk dan bisa bernafas lega ketika penumpang yang tadinya duduk di tempat yang saat ini aku duduki melangkah ke depan beranjak turun. Segera aku gantikan posisinya. Tidak jauh kemudian, setelah bis yang aku tumpangi menurunkannya, bis itu berhenti lagi, setelah sopir melihat seorang calon penumpang melambaikan tangannya di kejauhan. Ya. Seorang perempuan. Masuklah perempuan itu. Dia mengarahkan pandangannya ke semua arah. Dan saat itulah kegelisahannya mulai muncul. Di benakku rasa kasihan dan pertimbangan jauhnya tempat yang aku tuju bertarung. Dan hasilnya aku memutuskan untuk diam saja membiarkan perempuan itu berdiri.
Sepanjang perjalanan belum ada satu penumpangpun yang beranjak dari tempat duduknya. Dan perempuan itu masih tetap berdiri tidak jauh di depanku. Keringat basah mengalir di wajahnya. Sesekali dia mengeluarkan tisue mengelapnya sambil menggerai-geraikan rambutnya yang kecokelat-cokelatan. Di bahunya, sebuah tas tersanggul. Aku pikir isinya pasti benda-benda komestik yang dia pakai. Biasalah perempuan zaman sekarang selalu marasa harus menjaga penampilan. Terutama di bagian-bagian sensitifnya. Wajahnya.
Malam hari.
Kegelapan kota tidak terlalu nampak.
Dua pengamen baru saja turun. Senang sekali aku mendengar liriknya, walau menurutku dan mungkin juga penumpang lain yang saat itu turut mendengarkan, kurang begitu mengenakkan telinga. Karena terkadang grip yang digunakan kurang begitu sesuai dengan lagunya. Tapi tidak ada alasan bagiku untuk tidak menghargainya. Aku salut kepada mereka. Semangatnya masuk ke dalam diriku. Menjegal segala perasaan tak enak untuk memberikan julukan peminta-minta bagi mereka. Keluarlah dari kantongku uang seribuan sebagai bentuk penghargaan bagi semangatnya yang telah mengguruiku. Sekaligus imbalan yang, selalu diharapkan datang dari setiap penumpang yang ada.
Bis melaju cepat. Kadang juga pelan ketika beradu dengan kendaraan lain. Saat itulah aku tidak merasa berada di atas bis. Seperti menunggangi seekor keledai. Apalagi ketika terjebak macet. Polusi merebak ke mana-mana. Udara kota menjadi tak sedap. Sebagian udara yang dihirup bercampur asap knalpot. Tapi semua tak terlalu nampak bila malam hari. Karena dikalahkan oleh lampu-lampu gedung-gedung raksasa yang memancar kuat ke semua penjuru kota.
Di saat-saat itulah perempuan itu datang kembali. Membebaskan semua pemandangan kota yang mengikutiku. Di lehernya keringat kuyup mengalir. Dia kelihatan lelah berdiri. Wajahnya berminyak. Sehingga pantulan lampu bis yang menerangi para penumpang, masuk ke dalamnya. Ingin sekali aku menawarkannya untuk menggantikanku. Tapi aku juga sangat lelah setelah seharian mengurusi persiapan training untuk besok. Belum lagi rasa gerah yang menelanjangiku. Sedangkan bis terlalu sesak. Aku sangat malas berdiri dalam keadaan berdesakan. Apalagi kalau ada penjaja jajanan yang berjalan menyesaki penumpang. Dompetku juga pernah hilang dalam situasi seperti itu. Orang-orang kota sulit dipercaya. Ah, sudahlah! Memang dia itu siapa? Saudara bukan. Teman bukan.
Hidup di kota, seolah membebaskanku untuk bertoleransi kepada siapapun. Karena orang-orang di dalamnya yang mengajarkan demikian. Dulu pertama kali aku diam di kontrakan yang sampai sekarang aku tempati, aku selalu permisi ketika lewat di depan orang. Tapi mereka tak pernah kenghiraukan keberadaanku. Sampai di banyak kesempatanpun demikian. Akhirnya tidak lagi aku membudayakan adat yang aku bawa dari kampung itu. Terlalu mahal untuk orang-orang kota. Sungguh terlalu!
Seorang penumpang yang duduk bersampingan denganku berdiri. Seperti menerka tempat yang ditujunya tidak lagi jauh. Penumpang itu semakin meyakinkanku seletah ia mengetuk atap bis kota. Bispun berhenti. Penumpang itu turun dengan segera. Jarak perempuan itu tidak jauh dariku. Dia berdiri di samping depan penumpang yang duduk bersampingan denganku yang baru saja turun. Sehingga memudahkan dia duduk menggantikan posisinya dari para penumpang lainnya yang berdiri. Dan kini perempuan itu duduk bersampingan denganku. Akupun lega. Mungkin juga dia.
Di seberang jalan, mobil-mobil mewah berjalan tampak seperti tak berkemudi. Namun bunyi klakson yang mirip ritmis di tengah kota semakin meyakinkanku bahwa orang-orang yang ada di dalamnya tampak gelisah menghadapi kemacetan. Suasana seperti itu kadang juga membuatku tercekik. Apalagi para pengemudi itu! Mereka pasrti ingin segera terbebas dan samapai di tempat yang dituju; dimana rekan kerja mereka sudah menunggu untuk meresmikan proyek, atau keluarga mereka menunggu kehadirannya untuk dinner bersama, atau barang-barang yang dibawa oleh para sopir kontainer dengan ukuran berat harus sampai ke tempat-tempat industri tepat waktu, dan atau-atau yang lain, termasuk juga alasanku takut sampai di rumah terlalu larut dan istriku kembali mengomeliku dengan semua isi kebun binatang yang keluar dari mulutnya. Dan saat itulah sekelumit permasalahan akan menambah beban hidup.
Lampu-lampu jalanan merangsang mataku untuk mengikutinya. Kualirkan pandanganku kemana-mana. Ke arah jendela yang mirip bingkai lukisan. Di dalamnya para pengamen dan pengemis berdansa sambil menyanyikan lagu kehidupannya di atas trotoar. Tanpa kesadaran, aku alihkan pandanganku ke lain arah. Aku marasa ada yang sedang memandangiku sedari lama. Bukan tanpa alasan aku berkesimpulan. Karena, ketika aku mencoba mengikuti arah datangnya pandangan itu, orang itu ikut-kutan memalingkan pandangannya ke arah lain yang berlawanan. Orang itu. Perempuan itu.
Perempuan itu seolah salah tingkah. Disadarinya mungkin kalau perbuatannya diketahui olehku. Melihat wajahnya yang bingung, aku tertawa dalam hati. Geli sekali.
”Maaf!” tuturnya agak sedikit ragu. Lalu dalam keraguannya, dia teruskan ucapannya ”Bisa pinjami saya korek!”
Aku memang bukan seorang perokok. Tapi aku ingat kalau tadi sebelum pulang dari kantor aku menemukan sebuah korek yang tertinggal di toilet. Mungkin milik teman sekantorku yang tertinggal. Karyawan di kantorku hanya bisa merokok bila dilakukan di toilet. Kalau sampai ketahuan merokok di ruang kerja, maka siap-siaplah ia berhadapan dengan bapak Arifin, atasan kami. Bahkan dulu ada karyawan yang dinon-aktifkan gara-gara melanggar disiplin kantor tersebut.
Akhirnya tanpa panjang lebar, aku merogoh ke dalam sakuku. Ternyata memang masih ada. Segera aku berikan kepadanya.
Tangannya menyambut. Sedang yang satunya mengeluarkan sebatang rokok dari kotaknya dan mengarahkan ke bibirnya. Dia nyalakan. Dihirupnya asap rokok itu lalu dikeluarkan kembali sambil melihat api di ujung rokoknya kalau-kalau masih kurang menyala. Ternyata benar. ditariknya kembali pegas korek itu. Setelah api menyala cukup merah, dia mengembalikan korek itu. ”Terimakasih!” Balasnya.
Asap mengepul ke mana-mana. Mirip awan dengan segala macamnya. Ada juga yang berbentuk lingkaran.
”Rokok!” Tawarnya sambil mengangkat sebatang dari kotak rokok berwarna putih di tangannya.
”Terimakasih. Maaf, saya tidak merokok”. Tolakku halus tanpa menyinggung perasaannya.
”Oh ya, apa saya mengganggu?”
”Tidak! Silahkan kamu teruskan saja”.
”Tapi…, maaf, mengapa saudara bisa menyimpan korek api kalau tidak merokok?”
”Saya menemukannya di toilet kantor sebelum saya pulang tadi sore. Tadinya mau saya simpan di meja. Tapi malah terbawa”
”Jadi saudara kerja di kantor. Di mana?” Perempuan itu semakin jauh bertanya tentangku.
”Di perusahaan IT. Dekat pasar rumput. Kamu?”
Perempuan itu seperti menyembunyikan sesuatu. Tampak dari raut wajahnya. Seperti sedang berpikir panjang untuk menjawab pertanyaanku. Tak ingin diketahuinya mungkin apa pekerjaannya. Mungkin saja dia sales suatu produk perusahaan. Sales kok merokok. Ah sudahlah. Segera kualihkan arah pembicaraanku.
”Sudah lama di Jakarta?”
”Lumayan. Ada sekitar tiga tahun.”
”Kos, atau tinggal dengan… ” aku tidak meneruskan perkataanku. Karena lwana bicaraku seperti memeriksa sesuatu di dalam tasnya. Setelah diketahuinya kalau barang itu ada, perempuan itu segera balik tanya kepadaku.
”Oh ya, maaf tadi saudara mau bilang apa?”
Ternyata benar. Perempuan itu tadi tidak memperhatikan ucapanku barang sehurufpun. Terpaksa aku mengulangi pertanyaanku tadi. Kemudian dia menjawab.
”Aku tinggal di kos bersama teman-teman. Kalo ada waktu mapirlah. Dekat kok di jalan Pemuda dekat terminal. Tuh, sudah kelihatan. Oh, ya saya Lusi. Kalo memang mau mampir nanti telpon saja. Biar nanti gak kesasar. Nomor handphoneku ada di kartu nama ini. Terima kasih ya, koreknya.” Kemudian perempuan itu turun sambil menghisap rokoknya dalam sekali. Setelah itu membuang rokok yang masih baru terbakar sebagian itu. Dia tampak ragu-ragu memilih arah yang mau dilaluinya. Namun kemudian melangkah juga kakinya ke suatu arah. Aku juga tidak tahu ke arah mana. Karena memang di daerah itu aku masih bingung memahami arah mata angin.
Malam masih malam yang sama. Hanya saja jarum jam arlojiku sudah berubah letaknya. Yang bisa aku banyangkan saat ini adalah istriku yang sedang menungguku sambil membaca majalah. Atau kalau tidak menyaksikan tayangan televisi. Dia memang sangat perhatian kepadaku. Kalaupun dia marah, aku yakin bukan karena ia benci kepadaku. Ia takut aku ke mana-mana. Tak mau kejadian yang dialami Sukri, tetangga depan rumah kami terjadi padaku. Sampai istrinya minta untuk diceraikan. Hanya satu gara-garanya. Sukri selalu pulang malam. Bukan cuma sekali. Bahkan hampir setiap hari. Lama istrinya berdiam diri. Tak tahan juga akhirnya. Diikutinya Sukri ketika berangkat. Sampai kemudian turun dari angkot. Masuk di sebuah gang. Menuju rumah di seberang jalan. Kemudian memilih kamar rumah paling ujung. Saat itulah istrinya tahu apa yang selama ini Sukri perbuat.
Bis merambat cukup cepat, membuat pohon-pohon pinggir jalan berlari ke belakang berlawanan arus denganku. Namun hanya sebentar. Jakarta tetap saja kota sesak kendaraan. Walaupun malam hari.
Bis kemudian berhenti. Diikuti kendaraan yang lain. Sudah sampai lampu merah yang sudah tidak asing bagiku. Berarti tidak lama lagi aku akan sampai di rumah. Kurang lebih dua menit lagi. Itupun kalau tidak ada hambatan apa-apa.
Kenek yang biasanya berteriak, bertanya tentang penumpang baru, hanya lewat tanpa suara. Mungkin karena ia tahu kalau penumpang yang baru saja naik duduk di belakang. Dan memang hanya satu orang. Jadi kenek itu tidak bingung lagi.
Kemudian kenek itu menyebut-nyebut nama suatu tempat. Akupun tahu apa yang harus aku lakukan. Kenek itu melentingkan uang logam ke besi korden. Bis yang tadinya laju semakin pelan. Lalu berhenti. Akupun turun.
Aku melangkah masuk ke sebuah gang. Tentu istriku sedang menungguku. Aku belikan dia terang bulan berniat membuatnya gembira. Sambil juga mengingat-ingat masa lalu ketika kami masih pacaran. Dia suka sekali kalo habis nonton mampir ke warung dorong penjual terang bulan. Bahkan pernah suatu ketika aku hanya disisakan sepotong saja. Aku hanya tertawa sambil meledeknya. Sungguh memori yang mengesankan.
Penjual terang bulan segera membungkus terang bulan yang aku pesan. Setelah membayar mau aku masukkan terang bulan itu ke dalam tas. Ternyata tidak muat. Terpaksa aku tenteng bungkusan terang bulan itu sambil terus melanjutkan langkah.
Sampai di depan rumah, lampu masih dihidupkan. Berarti istriku belum tidur. Aku mencoba menekan daun jendela, ternyata memang masih tidak terkunci. Suara televisi yang menyala itu semakin membuatku yakin tahu apa yang sedang dilakukan istriku. Aku melangkah ke ruang tengah. Dia memang masih di situ.
”Terang bulan ya! Terima kasih ya mas.” Katanya ramah. Lalu membawakan tas dan membukakan sepatuku. Diletakkan semuanya di tempat biasa.
Dia kebelang. Segera dibuatkannya aku teh hangat. Akupun menikmatinya. Juga menikmati terang bulan yang aku beli sebagai cuci mulut setelah kami selesai makan malam.
Malam tambah garang. Apalagi setelah kumatikan lampu di seluruh ruangan.
***
Pagi-pagi sekali, aku mendengar percakapan dua orang di rumahku. Yang satu aku yakin benar mengenalnya. Itu suara istriku sendiri. Tapi yang satunya? Karena penasaran, aku segera keluar kamar. Ternyata itu adalah istri si Sukri yang sedang membantu istriku membuat kue untuk selamatan. Mereka berdua senang sekali ngerumpi. Apalagi Istri Sukri. Dia selalu menjelek-jelekkan suaminya yang telah berbuat serong. Dia ceritakan semua kepada istriku dari awal hingga akhir. Padahal, sudah beberapa kali istriku mendengar ceritanya. Sampai kemudian istriku menceritakan kejadian itu kepadaku. Dia juga bilang males kalo mendengar istri Sukri membicarakan suaminya. Karena memang ceritanya itu-itu saja. Tidak berubah. Mungkin karena sangat benci dia kepada suaminya. Akupun menyarankan kepada istriku untuk pura-pura mendengarkan saja. Untuk menghargai pembicaraannya lah. Jadi aku kira istriku saat itu tidak benar-benar menyimak cerita yang dilontarkan oleh istri Sukri.
”Bener che, saya melihatnya sendiri. Dia masuk kamar. Seorang wanita menunggu di dalam. Terus saya tidak berani lagi mengikutinya sampai ke kamar. Tapi saya kenal sekali wajahnya. Saya juga sering melihat dia di terminal kalo mau pergi ke pasar. Saya do’ain kualat suami saya itu.” Istri Sukri berkata dengan gaya gerak tubuhnya yang khas. Yang diajak bicara hanya mengangguk saja sambil mengaduk adonan. Aku hanya bisa tertawa melihatnya. Istriku juga ketika melirik ke arahku pura-pura menyaksikan tayangan televisi yang baru aku nyalakan.
Setelah berita tentang terbakarnya pasar Turi di Surabaya, kemudian Berita Pagi berpindah ke lain kejadian. Wanita pembaca berita itu menyebutkan; ”Dalam operasi malam, kali ini polisi berhasil menangkap salah seorang pengedar sabu-sabu. Pelakunya adalah seorang wanita. Polisi berhasil menemukan 50 gram sabu-sabu di dalam tasnya ketika dia mau menemui salah seorang pelanggannya. Wanita ini memang sudah lama menjadi incaran polisi. Sebulan yang lalu, dia juga pernah ditangkap karena diduga bersekongkol dengan Edu. Karena tidak ada bukti, polisi terpaksa melepaskannya…”
Pembaca berita itu belum selesai membaca beritanya. Tapi semua mata sudah tertuju ke arah kotak bergambar itu. Setelah selesai, muncullah gambar seorang wanita yang sedang diinterogasi oleh pihak kepolisian. Mula-mula istri Sukri menatap wanita dalam televisi itu dalam-dalam. Seperti ingin tahu dengan jelas mukanya. Setelah itu,
”Itu dia che’ wanita yang seringkali saya ceritakan. Rasain lo. Benar, dia yang saya lihat menunggu suami saya di kamar itu. Semoga dia dihukum mati sekalian. Biar saya saja yang menjadi korban, che. Asal jangan istri-istri yang lain.” Suara istri Sukri seperti kereta. Istriku seperti juga setuju dengan kutukan-kutukan yang dilontarkan.
”Ya, Tuhan telah membalas semuanya.”
”Benar, che!”
Aku juga menyaksikan wajah itu dengan seksama. Ingin tahu seperti apa wanita yang telah merusak rumah tangga Sukri. Semakin aku tatap, wajah itu semakin aku kenal. Tapi aku lupa. Kapan? Di mana?
Aku tertawa ringan.
Wanita itu. Rambut itu. Tas itu. Keringat itu.
Jakarta, 01 september 2007

Minggu, 27 Oktober 2013

KOPRAL DALI TAK MAU NAIK PANGKAT cerpen karya Rg Bagus Warsono

SAMBUT HARI PAHLAWAN 10 NOFEMBER 2013

KOPRAL DALI TAK MAU NAIK PANGKAT
Kopral Dali adalah seorang prajurit TNI yang gugur di Indramayu.
Kopral Dali kini merupakan nama sebuh jalan di Indramayu.
Kopral Dali gugur di usia masih sangat muda, karena itu pangkat pun masih rendah.

Berkikut cuplikan cerpen karya RgBagus Warsono

//Begitu kopral itu melewati kerumunan prajurit yang berkumpul di gardu jaga, semua pembicaraan diam seketika, mata ketua kelompok prajurit itu terbelalak melihat penampilan Kopral Dali. Bukan hanya tampan (bak Koes Hendratmo) , namun juga gagah (bak Wiranto Muda), apalagi Dali diiringi dua temannya yang mungkin anak buahnya. Tapi bukan karena itu sebetulnya. Ketua kelompok itu memperhatikan Dali karena sandangan Dali menggunakan sebuah pistol. Ya pistol yang kala itu merupakan sebuah idaman bagi setiap prajurit.
"Bagaimana kalau kita lapor saja pada Sentot bahwa Dali Punya pistol", kata teman pemimpin kelompok itu. Pemimpin kelompok itu diam sambil mengelus-elus keris di pinggangnya. "Kan Sentot , hanya pistol Belanda yang besar?" kata orang itu meyakinkan. "Benar Juga katamu, Tok, biar aku naik pangkat Sersan kata pemimpin kelompok yang diketahui bernama Darja itu.//...............
//Komandan memanggil saya? kata Dali gugup. "Ya" Sentot mempersilahkan dali duduk. "Siap"// ............... //'Berikan pistol itu padaku, dan abil pistol di kastok itu untukmu!" perintah Sentot sambil menunjuk pistol dengan sarungnya yang digantung di kasok. Kemudian kamu sekarang Letnan!!
"Tidak!" kata KOPRAL Dali sambil memberi hormat dan keluar ruangan komandannya.//

KEKERASAN , CERPEN PUTU WIJAYA

KEKERASAN                                                          putu wijaya
Warga menyerbu rumah Afandi. Ada kabar burung pelukis itu adalah bandar pornographi. Ketika massa menemukan lima buah lukisan bugil, kontan diseret ke lapangan. Lalu sambil berteriak-teriak lukisan dibakar beramai-ramai.
Afandi mencoba untuk mempertahankan haknya. Tetapi ia langsung digebuk babak belur. Rumahnya nyaris dibakar. Untung saja istrinya kemudian menyembah dan meminta ampun pada pimpinan massa.
“Tetapi dalam waktu 3 kali 24 jam, kamu harus minggat dari sini. Kalau kamu nekat masih berkeliaran berarti menantang! Akan kami sikat habis, sebab kami tidak mau hidup berdampingan dengan manusia bejat yang otaknya dikendalikan oleh setan!”
Istri Agandi menangis tersedu-sedu. Itu dianggap sebagai persetujuan.
Afandi sendiri tak mengatakan apa-apa. . Tetapi air matanya tetes karena lukisan yang merupakan pantulan hati nuraninya hangus. Ia merasa dirinya ikut terbakar mati. Seluruh kegairahan hidupnya lenyap. Ketika istrinya membereskan barang-barang karena takut digempur lagi, Afandi tetap saja diam.
Pelukis itu kemudian pindah ke kota. Tetapi hidupnya sudah ditakdirkan tidak tenang. Setiap hari ia didatangi oleh para wartawan yang haus berita. Semuanya mengorek-orek apa sebenarnya yang sudah terjadi. Seakan-akan bukan mencari fakta tapi ingin mencari apa yang mereka harapkan terjadi.
Afandi yang sudah lemas jiwa-raganya, selalu menghindar. Dia bukan jenis pahlawan atau pemberontak. Ia cenderung lari dari kepungan mata kuli tinta itu. Publikasi berbahaya. Karena itu akan mengundang malapetaka. Ia ingin banting stir, berhenti menjadi seniman. Lebih baik hidup tertindas daripada mati konyol, karena anak-anaknya masih kecil.
Tetapi istri Afandi yang merasa disakiti secara tidak adil, sebaliknya. Ia menuturkan kekerasan yang dideritanya secara panjang lebar sampai ke ketiak-ketiak peristiwa dengan sangat rinci. Ia seperti bisa menghitung jumlah air matanya yang tumpah dan berapa memar yang diderita oleh suaminya karena tamparan, tendangan dan pukulan. Ia juga hapal semua kata-kata yang diucapkan oleh massa yang menggerebeknya.
“Lima buah lukisan yang yang harganya satu milyar sebuah dibakar seperti barang-barang maksiat. Kami diusir dan diancam akan dibunuh kalau masih tinggal di rumah yang kami beli dengan menjual semua harta warisan kami di kampung. Anak-anak putus sekolahnya dan sampai sekarang belum dapat sekolah lagi. Suami saya juga sudah berhenti melukis.”
“Kenapa?”
“Sebab dia tidak bisa melukis yang lain.”
“Tidak bisa atau tidak mau?”
“Tidak bisa dan tidak mau.”
“Kenapa?”
“Dia hanya mau dan hanya bisa melukis orang telanjang.”
“O jadi suami ibu betul-betul pelaku pornographi?”
Istri Afandi terkejut. Wartawan cepat-cepat menjelaskan.
“Pornographi adalah semua usaha untuk memperlihatkan gambar telanjang yang berarti kecabulan. Apa betul suami ibu bandar kecabulan?” tanya wartawan memancing.
Istri Afandi masih belum selesai terkejut.
“Gambar telanjang apa saja yang sudah dibakar itu?”
“Gambar anak-anak saya.”
“Hanya itu?”
“Gambar suami saya sendiri.”
“Yang tiga lagi?”
“Gambar saya.”
“Yang lain?”
“Gambar orang tua.”
“Siapa dia? Pemimpin kita?”
“Kata suami saya itu Bisma yang dalam pewayangan berkorban untuk bangsa dan negara.”
“Terus yang lain?”
“Yang kelima?”
“Saya tidak tahu.”
“Laki atau perempuan?”
“Seperti laki-laki seperti perempuan.”
“Banci?”
“Bukan.”
“Mirip siapa?”
“Tidak tahu. Kata suami saya sih, itu hati nurani.”
Wartawan terkejut.
“Tuhan?”
Istri Afandi bengong dan langsung menutup mukanya ketika ada kilat cahaya lampu pijar dari para wartawan bertubi menghajar wajahnya. Esoknya sebuah berita muncul mengegerkan.
“Tuhan dibakar!”
Rumah Afandi yang sudah berhenti melukis kembali diserbu. Para pembaca koran marah. Yang mendengar berita itu lewat mulut orang lain juga marah. Massa yang dulu menyerbu rumah Afandi juga mendidih darahnya.
“Gila dasar budak setan! Belum kapok juga dia. Habisi saja!”
Mereka lalu berangkat ke kota dengan tekad bulat untuk membuat Afandi benar-benar bertobat. Tetapi begitu samnpai di pemukiman Afandi yang baru, mereka hanya menemukan puing-puing. Rumah kontrakan itu sudah tersikat habis oleh api berikut seratus rumah lain di sekitarnya. Konon karena ada yang sembarangan membuang puntung rokok.
“Pemburuan terhadap pelukis telanjang melalap 100 rumah warga yang tidak berdosa!” kata seorang penyiar.
Para petugas keamanan berkeliaran di antara puing-puing dan kerumunan orang yang menonton sisa musibah itu. Ketika mereka menemukan sejumlah orang asing dari luar kota – di antaranya ada yang membawa senjata tajam, langsung diamankan. Kelompok orang itu tak sudi ditangkap. Mereka menolak dan melawan. Akhirnya terjadi bentrokan yang memakan korban jiwa.
“Ini pembelajaran demokrasi!” kata seorang pengamat.

Kamis, 24 Oktober 2013

BIBIR BIRU

Oleh Naning Pranoto
BIBIR BIRU

Kulihat ratusan ribu bibir biru di layar kaca saat gelar konser World Cup 2010 Opening Ceremony di Orlando Stadium di Soweto Johannesburg Afsel 11 Juni lalu. Bibir-bibir biru itu mengingatkanku pada gadis bernama Robben. Aku memanggilnya: Bi-Bi. Nama lengkapnya, Robben Rolihlahla Mvezo Umtata.

“Namamu panjang sekali. Sulit kuingat!” komentarku spontan, ketika Bi-Bi, bola matanya yang hitam berkilau membelalak. “Padahal, itu nama bertuah.”

“Oya? Coba jelaskan,” pintaku serius. Aku ingin mengenalnya lebih jauh.

“Okey!” bibirnya yang biru menguak lebar, deretan gigi putih tampak berkilau – kontras dengan kulitnya yang sehitam arang.

“Sure. Agar kita akrab, jadi sahabat.”

Sahutku sepenuh hati. Aku memang ingin punya sahabat gadis dari Benua Hitam, tepatnya dari Afrika Selatan.

“O… great! Aku juga. Persahabatan itu itu kado istimewa dari Tuhan.” Ia memelukku erat. Tubuhnya beraroma lavender. Siang itu kami duduk di bawah pohon gums, dibalut musim semi. Bi-Bi mengurai namanya sambil sesekali mengunyah kentang bakar, makan siangnya.

“Kakekku yang menamaiku. Ayahku meninggal terserang malaria ketika aku dalam kandungan.

Ibuku gone saat melahirkanku. Kakek pengikut setia Inkosi tktktk ya Tuan Nelson Mandela. Maka, aku dinamai Robben Rolihlahla Mvezo Umtata.”

Uraiannya panjang, kuringkas demikianT: Robben – nama pulau yang pernah untuk memenjarakan Mandela 18 tahun. Rolihlahla, nama asli Mandela yang artinya ‘berani melawan karena benar’. Sedangkan Mvezo Umtata itu kampung halaman Mandela, yang juga kampung halaman kakek Bi-Bi.

“Kakek Mandela itu Enkhulu Inkosi, raja di Umtata. Keluarga kakekku menghamba mereka puluhan tahun. Aku lahir dan besar di Mvezo, high-school-ku di Jo-bo…” Bi-Bi menyebut Johannesburg ‘Jo-bo’. “Di Jo-bo, aku tinggal di asrama putri Anglican, untuk siswi miskin seperti aku.” Sambungnya lugas. “Miskin secara ekonomi, tapi jiwanya tidak, seperti jiwa Inkosi Mandela. Why? Kata Inkosi, penderitaan itu justru membuat penderitanya powerful and has thousands of wings!” tegas Bi-Bi, tangan kanannya mengepal dan diangkatnya tinggi-tinggi. Hebat!” seruku. Gadis berusia 19 tahun ini ternyata matang dan kukuh.

Sejak itu aku bersahabat dengannya. Kucatat di diary-ku, 4 September 1995. Taman kampusku yang bertengger di pantai Queensland menjadi saksi, dikukuhkan langit biru, tarian ombak putih dan ratusan kepak sayap camar putih. Bi-Bi tinggal sekamar denganku di Tower A, yang dihuni oleh mahasiswa dari berbagai negara.

* * *

B-L (baca: Bi-El), itulah nama beken Bi-Bi di kampus. Maksudnya, Blue-Lips, alias Bibir Biru. Aku memanggilnya B-B (baca: Bi-Bi), Bibir-Biru. Sebetulnya, banyak bibir biru di kampus kami, tapi, gadis yang berbibir biru indah, sexy dan menawan hanyalah Bi-Bi. Bibir Bi-Bi begitu tebal, segar, ranum dan terkesan legit karena selalu dihiasi senyuman manis. Keistimewaan lainnya bibir Bi-Bi mampu meluncurkan orasi-orasi pelestarian bumi, pidato-pidato pembakar semangat cinta negeri, menyanyikan lagu-lagu perdamaian dan membaca puisi menyuarakan democrazy dan humanity. Ini yang membuatnya dijuluki pula The Golden Bi-El.

Bi-Bi studi prodi Information Technology (IT) strata S-1. Aku ambil fak International Relations (IR) strata S-2. Saat aku berteman dengan Bi-Bi usiaku di ambang 40 tahun. Perbedaan usia yang relatif jauh sama sekali tidak menimbulkan gap di antara kami. Ini sudah kuperkirakan sejak awal aku mengenalnya di Loket International Student Service. Ia begitu tampak dewasa, cerdas dan mandiri. Pikirku, ia calon mahasiswa pasca sarjana. Aku pun berkenalan dengannya.

Aku terkejut ketika ia mengatakan baru saja lulus SMA. Tubuhnya yang bongsor, gurat-gurat wajahnya yang tegas dan sorot matanya yang tajam, membuatnya tampak seperti perempuan dewasa, berusia 30-an. “Banyak orang bilang, aku ini bermutu, alias bermuka tua.” kata Bi-Bi santai. “Kau tidak bermuka tua, tapi sangat dewasa!” tanggapku, sejujurnya. “Perhaps, situasi yang membuatku begini,” kedua tangannya membentang.

* * *

Suatu siang, ketika aku membersihkan kamar, menemukan album foto di kolong ranjang Bi-Bi. Album itu berisi foto aneka pose manis dan sexy. Gadis itu Bi-Bi. Tak satu pun ia berpose syur. Lembar-lembar awal album itu menyajikan foto Bi-Bi dinobatkan cover-girl majalah Teens. Lainnya, memperagakan kain tradisional sukunya dan jadi ikon sebuah obyek pariwisata.

“Hem,ternyata, sahabatku ini tidak hanya The Golden Bi-El, tapi juga The Golden Body,” godaku pada Bi-Bi ketika kami menjelang tidur.

“Haaahhh? Jangan ngigau. Siapa bilang?” teriak Bi-Bi, tersipu-sipu. “Album yang kutemukan di kolong ranjangmu mengatakan itu.” Sahutku santai.

“Haaaaa,badut!” tawa Bi-Bi meledak. Ia ambil album yang kusebutkan.

“Kau hebat. YBS!” komentarku jujur. “What do you mean Y-B-S?” desak Bi-Bi tegas, tapi bernada manis.

“Young, Beauty and Sexy.” Kueja tiga huruf Y-B-S. Timpal Bi-Bi cepat, “Bagiku, Y-B-S itu singkatan Yuk, Bad and Suffer!”

“Kau sama sekali tidak Yuk, menjijikkan, Bad, jelek dan Suffer, menderita. Kau tulen Young, Beauty and Sexy!” tegasku padanya.

Tiba-tiba ia murung. “Ketika terpilih cover-girl tiga tahun silam, aku berpendapat begitu. Bisa kujual YBS-ku.”

“Cepat kaya, jadi Top Model kelas dunia.” Selaku.

“Not at all. Jika aku punya uang, itu untuk studi dan mendirikan sekolah untuk anak-anak di desaku. Itu tanda hormatku pada kakekku, mahaguru hidupku dan Inkosi Mandela, bapak agung kebangsaanku. Tapi, kandas,” mata Bi-Bi membasah.

“Kenapa Bi-Bi?” tanyaku penuh empati. “Ternyata untuk punya uang banyak harus berani pose syur. Alasannya untuk seni fotografi. Puihh, itu eksploitasi dan pelecehan perempuan. Kata kakekku, menyerap ajaran Inkosi Mandela: jika perempuan mau dieksploitasi dan dilecehkan itu berarti jadi perempuan terjajah tanpa martabat. Aku ingin jadi perempuan merdeka, sampai akhir hayatku. Maka, kuciptakan citra berbeda bagi seorang model , tidak usah berpose syur. Aku malah jadi ejekan dan dicepat dari Himpunan Model Afrika Selatan, kata mereka aku ini sakit jiwa, jelek dan menjijikan. Benar, sekarang ini Zaman Edan seperti kata pujangga negerimu, Ronggo Warsito yang pernah kau ceritakan padaku. Di Zaman Edan ini, justru orang-orang yang eling dan waspodo dicap edan. Puihhh, aku bersumpah tak mau jadi model, tak mau jual tubuh demi uang. Makanya, singkatan YBS kuartikan Yuk-Bad-Suffer!” tegas Bi-Bi.

“Lalu, siapa yang membiayai sekolah dan biaya hidupmu?” tanyaku hati-hati.

“Uang tabunganku dan ada bantuan dari Sister Juliana Barker.” “Siapa Sister Juliana Barker itu?” aku penasaran.

“Dia biarawati dan pianis kondang. Sebagian honornya bermain piano untuk membiayai kuliahku tahun pertama. Selanjutnya, Sister Jul advised agar aku cari partime job. Sebagai student kita dapat izin kerja dua puluh jam seminggu kan? Apa kau juga?” tanya Bi-Bi padaku.

“Tidak. Aku memilih belajar keras agar dapat diskon uang kuliah lima puluh persen,” jelasku. “Upah cuci piring dan clean up kebun terlalu rendah.”

“Benar.” Ucap Bi-Bi, “Aku dapat kerjaan berupah tigapuluh lima dolar per jam. Sabtu dan Minggu aku bisa kerja full dua puluh jam. Upah itu okey sekali buat bayar kuliah tahun depan plus makan.” Mata Bi-Bi yang basah kembali berbinar.

“Itu upah selangit. Kau kerja apa, B-Bi?” aku penasaran.

“Yang jelas bukan jadi foto model yang pamer lekuk-liku tubuh itu. Aku bekerja mengandalkan kemampuanku panjat tebing.” Tutur Bi-Bi dengan mata berbinar.

“Kau jadi instruktur panjang tebing?” aku penasaran.

“Not at all.” Bi-Bi menggeleng. Kemudian ia mengucapkan ‘good nite’ padaku. Kumatikan lampu kamar. Waktu memasuki tengah malam.

* * *

Asramaku berjarak sekitar 70 kilometer dari pusat kota yang lazim disebut City. Jadi aku jarang ke City. Selain kuanggap jauh, itu berarti pengeluaran besar. Selain untuk transportasi, aku perlu makan-minum, menghabiskan sekitar 30 dolar. Maka, kujadualkan ke City cukup sebulan sekali, Sabtu atau Minggu.

Ingin sekali aku ke City bersama Bi-Bi yang kuanggap adikku. Jika aku ke City bersamanya, ia akan kutraktir nasi goreng di Restoran Lezat di sudut City. Bi-Bi tertarik sekali. Ia mengaku, belum pernah sekalipun makan nasi goreng tapi ia pernah dengar tentang itu dari Suzy, berdarah Belanda, temannya di SMA.

“Bi-Bi, yuk ke City, kutraktir nasi goreng. Minggu lalu kau menang lomba panjat tebing. Nah, nasi goreng itu hadiah special dariku. Okey?” bujukku.

Bi-Bi meminta maaf padaku, ia tidak bisa ke City bersamaku. Alasannya, ia harus bekerja. Ia memang bekerja Sabtu-Minggu, berangkat kerja naik kereta api pertama, pukul 05.00, pulangnya pukul 19.00. Ia selalu tampak letih dan langsung tidur sepulang kerja. Aku tak berani menganggunya.

* * *

Sabtu pagi cerah, aku ke City naik kereta api dari Stasiun White Dove. Pukul 10.30 aku sampai di City, langsung ke toko buku favoritku di Elizabeth Street. Kulewati beberapa gedung bertingkat yang menjadi landmark pusat bisnis di City. Salah satu gedung itu bertingkat 42 dan lobby-nya dihiasi air mancur unik. Setiap jam, air mancur itu beratraksi, menyerupai seekor naga bersisik warna-warni kemilau – diiringi musik hip-hop dan dibanjiri pengunjung. Aku ingin menyaksikannya.

Kubeli seporsi fish and chips regular dan sebotol kecil mineral water untuk kunikmati sambil nonton si Naga berhip-hop. Kubayangkan, alangkah asyiknya jika aku bersama Bi-Bi menyaksikan atraksi unik itu. Kupastikan Bi-Bi membandingkan si Naga berhip-hop dengan tontonan menarik di Mvezo kampungnya. Dia memang selalu begitu dan itu membuatku jadi tahu banyak tentang seni dan budaya Afsel. Aku juga sering bercerita berbagai seni-budaya yang ada di Indonesia. Bi-Bi sangat menikmatinya, ia catat yang dianggapnya penting. Katanya, itu akan bahan novel yang akan ditulisnya, novel bernafaskan kebudayaan global.

“Kecelakaan! Kecelakaan!” kudengar teriakan di depan gedung tempat bermukimnya Si Naga Hip-Hop. Teriakan itu disusul raungan sirene ambulans, lampunya menyilaukan mata.

“Siapa yang kecelakaan Miss?” tanyaku pada perempuan muda di dekatku.

“Gadis pembersih kaca. Ia jatuh dari lantai tiga puluh, tali lift kereta pembersih yang dinaikinya putus.” Sahutnya singkat. Ia berlari menuju kerumunan orang. Aku mengikutinya. Kerumunan orang itu melihat si Korban.

“Di saku jeans si Korban ada foto seorang kakek dan Mandela.” Kata polisi. Tubuhku gemetar mendengarnya. Aku menyeruak orang-orang yang mengerumuni si Korban. Jantungku seperti digodam begitu melihat bibir biru berkerut-kisut kesakitan. “Bi-Bi! She is my roomate, teman sekamarku!” aku histeris.

Kulihat sekilas, tubuh Bi-Bi yang bersimbah darah berkepala pecah dibawa lari ambulans. Sejak itu aku tak pernah lagi bisa bicara dengannya: Bi-Bi, Bibir Biru yang indah, menawan dan penuh pesona. Bibir Biru itu mahkota gadis perkasa, cerdas dan bermartabat karena dialiri spirit Inkosi Nelson Mandela, Bapak Anak Bangsa Bumi Afrika Selatan.***