TEKS SULUH


Tampilkan postingan dengan label LUMBUNG PUISI SASTRAWAN INDONESIA 2014 DOKUMENTASI PUISI SASTRAWAN INDONESIA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label LUMBUNG PUISI SASTRAWAN INDONESIA 2014 DOKUMENTASI PUISI SASTRAWAN INDONESIA. Tampilkan semua postingan

Jumat, 22 Agustus 2014

Pengisi Antologi Lumbung Puisi sastrawan Indonesia Jilid II

Pengumuman
Dengan mengetengahkan pertimbangan -perimbangan:
1. Batas Deadline
2. Ketentuan Lumbung Puisi
3. Lumbung Puisi bukan merupakan lomba maka :
Tambahan pengiriman puisi yang masuk sebelum batas deadlin telah diseleksi kembali sehingga memperoleh keputusan akhir sebagai berikut :
Puisi Masuk dalam Antologi sbb:
001. Abdul Wahid (Karanganyar)
002.Ali Syamsudin Arsi (Banjarbaru)
003.Alra Ramadhan (Kulonprogo)
004.Alya Salaisha-Sinta (Cikarang Kab. Bekasi))
005. Aloeth Pathi (Pati)
006. Anita Riyani (Tanah Bumbu, Kalsel)
007.Andrian Eksa (Boyolali)
008 .Anung Ageng Prihantoko (Cilacap)
009. Aulia Nur Inayah (Tegal)
010 . Bambang Widiatmoko (Jakarta)
011. Badruz Zaman (Sumenep)
012.Budhi Setyawan (Bekasi)
O13.Devi yulianti wafiah(Paseh)
014.Dewa Putu Sahadewa (Kupang)
015. Dhito Nur Ahmad( Makasar)
016.Dhinar Nadi Dewii (Sukoharjo)
017. Diah Natalia (Jakarta)
018.Diah Budiana (Serang)
019.Dian Rusdiana (Bekasi)
020.Dianie Apnialis M (Bandung)
021.Djemi Tomuka (Manado)
O22.Devi yulianti wafiah(Paseh)
023.Dwi Rezki Hardianto Putra Rustan (Maros)
024.Elvis Regen (Palembang)
025. Ekohm Abiyasa (Karanganyar)
026. Esti Ismawati (Klaten)
027. En Kurliadi Nf (Sumenep)
028.Fatmawati Liliasari (Takalar)
029.Fasha Imani Febriyanti (Bandung)
030.Fitrah Anugerah (Bekasi)
031.Fitrah Rahim. (Maros)
032. Gampang Prawoto (Bojonegoro)
033.Ghufron Cholid (Sampang)
034.Hasan Bisri BFC (Bogor)
035. Hidayatul Hasanah (Trenggalek)
036.Imam Eka Puji Al-Ghazali (Batuputih)
037. I Putu Wahya Santosa (Bulelelng)
038.Iska Wolandari (Ogan Komering Ilir)
039.Jack Efendi (Bekasi)
040.Julia Hartini (Bandung)
041.Lucky Purwantini(Bekasi)
042.Lukni Maulana
043.M. Amin Mustika Muda (Barito Kuala,Kalsel)
044.M. Ardi Kurniawan(Jogyakarta)
045.Malisa Ladini (Semarang)
046.Ma'sum (Sumenep)
047.Muchlis darma Putra (Banyuwangi)
048.Novia Nurhayati (Bogor)
049.Nurul Hidayah (Banjarmasin)
050.Nyi Mas Rd Ade Titin Saskia Darmawan (Denpasar)
051.Niam At-Majha (Pati)
052.Novi Ageng Rizqy Amalia (Trenggalek)
053.Nur Lathifah Khoerun Nisa (Cilacap)
054.Nastain Achmad (Tuban)
055.Nila Hapsari (Bekasi)
056.Pradita nurmalia (Surakarta)
057. Roni Nugraha Syafroni (Cimahi)
058. Rachmat Juliaini (Makasar)
059.Rachmad Basuni
060. Refa Kris Dwi Samanta (Purwokerto)
061.Seruni Unie (Solo)
062.Syarif hidayatullah (Banjarmasin)
063. Sofyan RH. Zaid (Bekasi)
064.Sokanindya Pratiwi Wening (Medan)
065.Sugi Hartono (Batanghari)
066.Suyitno Ethex (Mojokerto)
067. Sindi Violinda(Medan)
068. Tuti Anggraeni (Bekasi)
069.Thomas haryanto soekiran (Purworejo)
070.Vera Mutiarasani (Karawang)
071.Wadie Maharief (Jogyakarta)
072.Wayan Jengki Sunarta
073. Wintala Achmad (Cilacap)
074.Wong agung utomo (Bekasi)
075. Wulandari ( Nawang Wulan)
076. Yusti Aprilina (Bengkulu Utara)
077.Zen AR
078.Diana Roosetindaro (Surakarta)
079.Ardi Susanti (Tulungagung)
080. Lailatul Kiptiyah
081. Munadi Oke
Demikian Ralat diperbaiki
Indramayu, 22 Agustus 2014

Pengumuman hasil seleksi tim penyeleksi antologi Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia Jilid II

Antologi
Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia Jilid II
2014

Puisi-Puisi Terseleksi untuk Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia Jilid II

01. Bambang Widiatmoko
BOULEVARD
02. Gampang Prawoto
Pelabuhan Jiwa
03 Roni Nugraha Syafroni
KEBINGUNGAN
04. En Kurliadi Nf
GUBUK KAMI
: kapung ragang
05. SRI WINTALA ACHMAD
PAYAU SUTAU MALAM
Pro: Kawan Lama
06 Refa Kris Dwi Samanta
POWER RANGERS
07 Abdul Wahid
Pesona Kilauan Mawar Putih
08. Aulia Nur Inayah
Kenangan
09. Esti Ismawati.
SELAMAT PAGI KAMPUNGKU
10. Hidayatul Hasanah
Rumah Mungil
13. Dhito Nur Ahmad
Hari Setelah Gerimis
14.Julia Hartini
Mengayuh Waktu
15. Novi Ageng Rizqy Amalia
BUKAN PERADABAN
016. Moh. Ghufron Cholid
TERKENANG KAMPUNG HALAMAN
018.Nurul Hidayah
EPISODE YANG HILANG
019. Syarif hidayatullah
Nun dan Alif kampungku
-di atas pulau terapung
20. Thomas Haryanto Soekiran 2013
JARANKEPANG DI PELATARAN BOROBUDUR
021. Wong Agung Utomo
Perempuan yang dikirimkan masalalu
022. Alra Ramadhan
Terakhir Pulang
23. Budhi Setyawan
Kodil – Bogowonto
024. Dewa Putu Sahadewa
Dua kampung
25. Nyi Mas Rd Ade Titin Saskia Darmawan
BUMI PASUNDAN
026. Dwi Rezki Hardianto Putra Rustan
Puisi Malam Singgasana Butta Salewangang
27. Fatmawati Liliasari
Syair Untukmu, hadiah untuk kotaku

28. Ekohm Abiyasa
Pesan Jogja
029. Muchlis Darma Putra
GUMITIR SUATU SENJA
030.Ridwan Ch. Madris
IBARAT DAUN SEGAR JATUH SEKETIKA
31. I Putu Wahya Santosa
Akar Kata
32.Pradita Nurmalia
33.Wulandari Nawang Wulan
Sepanjang Batanghari Rindumu Aku
34. Iska Wolandari
Desaku Malang
35.Niam At-Majha
Gumam Guman dari Sudut Desa
036. Badruz Zaman
DI PAYUDAN
037.Fitrah Rahim
Kampung Bugis
38. Diah Budiana
SAJAK SATE BANDENG
39. Fasha Imani Febriyanti
SEBUAH PERJAMUAN
40. Sofyan RH. Zaid
KAMPUNG HALAMAN KATA
41. Devi Yulianti Wafiah
Aku rindu
42. M. Ardi Kurniawan
Purwarupa
43. Jack Efendi
Majapahit, Aku Berhasrat Pulang
44. Anung Ageng Prihantoko.
Setapak yang Bercerita
45. Sokanindya Pratiwi Wening
~kampung halaman ~
46. Dianie Apnialis M
BUMI CENDRAWASIH
47. Elvis Regen
Sebuah Sungai Kerinduan
48. Diah Natalia
Banten Kulihat Kudengar
49. Andrian Eksa
KAMPUNG (TANPA) HALAMAN
50, Djemi Tomuka
ANAK-ANAK LAUT
51. Yusti Aprilina
PANTAI PANJANG
52. Sugi Hartono
BATANGHARI
53. Fitrah Anugerah
Ziarah
054. Suyitno Ethex
GEMBALA BEBEK
55. Ali Syamsudin Arsi
IA LEKAT DI PELUPUK MATA
56. Sindi Violinda
Hilangnya Kampung Halaman
57. Wadie Maharief
Kenangan tentang Emak
58. Tuti Anggraeni
KEPADAMU IBU
59. Lukni Maulana
Padasan Retak di Kotaku
60. Seruni Unie
Bengawan, Kampung Halaman
61. Lucky Purwantini
Patung Lele
62. Alya Salaisha-Sinta
Kampung Halaman
gajah.
63. Hasan Bisri BFC
KAMPUNG YANG KUSANJUNG
64. Nastain Achmad Attabani
RUMAH MASA LALU
65. Dian Rusdiana
MERANGKAI SEMESTA
66. MA’SUM
KELUHAN2 TUHAN
67. Dhinar Nadi Dewii
MEMORI KECIL
: Lumpur Lapindo
68. Nila Hapsari:
Dentum Meriam Jelang Lebaran
69. Imam Eka Puji Al- Ghazali
Keterasingan
70. Aloeth Pathi,
PULANG
71. Vera Mutiarasani
Lesap
Indramayu, 21 Agustus 2014
Ketua Tim Penyeleksi,
Wardjito Soeharso, MPd.

20 Puisi Terbaik untuk Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia Jilid II,
01. Gampang Prawoto
Pelabuhan Jiwa
02.Roni Nugraha Syafroni
KEBINGUNGAN
03. En Kurliadi Nf
GUBUK KAMI
: kapung ragang
04. Esti Ismawati.
SELAMAT PAGI KAMPUNGKU
05. Dhito Nur Ahmad
Hari Setelah Gerimis
06.Nurul Hidayah
EPISODE YANG HILANG
07. Syarif hidayatullah
Nun dan Alif kampungku
-di atas pulau terapung
08. Budhi Setyawan
Kodil – Bogowonto
09. Fatmawati Liliasari
Syair Untukmu, hadiah untuk kotaku
10. Ekohm Abiyasa
Pesan Jogja
11. I Putu Wahya Santosa
Akar Kata
12. Sofyan RH. Zaid
KAMPUNG HALAMAN KATA
13. M. Ardi Kurniawan
Purwarupa
14. Anung Ageng Prihantoko.
Setapak yang Bercerita
15. Sokanindya Pratiwi Wening
~kampung halaman ~
16. Ali Syamsudin Arsi
IA LEKAT DI PELUPUK MATA
17. Wadie Maharief
Kenangan tentang Emak
18. Lukni Maulana
Padasan Retak di Kotaku
19. Hasan Bisri BFC
KAMPUNG YANG KUSANJUNG
20. Imam Eka Puji Al- Ghazali
Keterasingan

Indramayu, 21 Agustus 2014

Ketua Tim Penyeleksi,
Wardjito Soeharso, MPd.

20 Puisi Terbaik untuk Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia Jilid II

Imam Eka Puji Al-Ghazali

Keterasingan

Kami mulai resah menghitung angka dari jarak kedatangan dan kepulangan. Secepat apa saja yang ada di benak kami itulah yang kami buru dengan gerak dan do’ado’a. Jalan yang mana lagi yang akan kami rangkaki_ mengurai segala asing dan kepenatan. Kami linglung dari mana kami datang, kenapa kami  seperti tak mengenal lagi araharah tanah kelahiran.
Sebab terdesak_sesak, oleh tanya dan huru-hara konsep hidup untuk besok, dan lusa, yang terus  membahana menyelimuti kuping, hidung, mulut, dan  usus.

Kamilah delapan orang pemuda, yang tertatih, _berupaya termuntahkan dari diri gelap dan gempita keterasingan. Bila harus madura lalu apakah kami musti berdiri tegap mengangkat arit. Tapi siapa yang harus mati, Ki Sanak.

Malam telah datang, hanya angin yang dinginnya menulang yang setia  memeluk tubuh; tubuh gerincang_cacingan,  karena terserang wabah sungkan dan lagi-lagi karena keterasingan. Ah, kami terbuang dari tempat asal, menjumpai mahluk semacam kuntil bermulut lima, giginya bertaring bersilap- silang,  yang kapan saja siap jadi pemangsa paling heroik.

Malam kedua ini, kami memilih merapatkan jemari_  menusuk dada langit dengan tembang do’a, kemudian bumi, kami banjirkan dengan air mata tulus pinta agar segalanya berubah jadi asal. Asal mula kita dilecutkan dari rahim tanah ibu yang penuh bunga, yang betapa  sangat  kami rindui.
Romben Guna, 09/06/13; 10:13 Wib 

Hasan Bisri BFC
KAMPUNG YANG KUSANJUNG

1/ kota santri
ketika orangorang bertanya dimanakah letak kota santri
dengan bangga kutepuk dada, “itulah kotaku.”
maka tak satu pun ada membantahnya
maka kaulihat, saudagarsaudagar merapat
menunggu waktu shalat
perempuanperempuan berkerudung menjadi penyejuk mata
anakanak bersarung batik dengan peci miring tak ketinggalan juga
tataplah masjidmasjid dan mushala riuh suara akanakkanak membaca Alqur’an
tapi itu dulu,
sebab para saudagar melepas lelah di cafe
perempuanperempuan berkerudung membonceng motor pacarnya
dan anakanak asik di depan layar kaca
maka, kelak anakanak kita akan mengenal kota santri dari kamus bahasa
Indonesia

2/ kota batik
ketika orangorang manca menggores tinta
resmilah kota kami menjadi kota batik adanya
kampungkampung dihias dengan gapura perkasa
pembatikpembatik sumringah
para majikan amat bungah
meski serbuan batik murah tak bisa dicegah lagi
Kota Batik, ah berapa hektare sawah menjadi sesak oleh limbah
para petani menggantung cangkul dan berlumur kecewa
ikanikan tak lagi menjadi sahabat nelayan
kampung yang senantiasa kusanjung kini siap menampung bah airmata
Pekalongan, 31 Juli 2014


Hasan Bisri BFC
KAMPUNG YANG KUSANJUNG

1/ kota santri
ketika orangorang bertanya dimanakah letak kota santri
dengan bangga kutepuk dada, “itulah kotaku.”
maka tak satu pun ada membantahnya
maka kaulihat, saudagarsaudagar merapat
menunggu waktu shalat 
perempuanperempuan berkerudung menjadi penyejuk mata
anakanak bersarung batik dengan peci miring tak ketinggalan juga
tataplah masjidmasjid dan mushala riuh suara akanakkanak membaca Alqur’an
tapi itu dulu,
sebab para saudagar melepas lelah di cafe
perempuanperempuan berkerudung membonceng motor pacarnya
dan anakanak asik di depan layar kaca
maka, kelak anakanak kita akan mengenal kota santri dari kamus bahasa
Indonesia

2/ kota batik
ketika orangorang manca menggores tinta
resmilah kota kami menjadi kota batik adanya
kampungkampung dihias dengan gapura perkasa
pembatikpembatik sumringah
para majikan amat bungah
meski serbuan batik murah tak bisa dicegah lagi
Kota Batik, ah berapa hektare sawah menjadi sesak oleh limbah
para petani menggantung cangkul dan berlumur kecewa
ikanikan tak lagi menjadi sahabat nelayan
kampung yang senantiasa kusanjung kini siap menampung bah airmata
Pekalongan, 31 Juli 2014

Lukni Maulana
Padasan Retak di Kotaku
Dimana air sumber ilmu itu
Ku temui ia meluber lalu melukai keindahan
Akan aku cengkram andai tangan ini mampu
Akan kuletakan di kotaku
Menghias wajah suram yang luka
Agar ia bangkit
Terapung diatas sana

Namun sumber ilmu tetap terpasung
Sebab kecoak memberi kabar
Bahwa air padasan telah retak di kotaku
Anak muda penuh panorama desa
Memajang rasa malu ditelinga
Keluar tanpa beban derita

Inilah kebodohan yang belum kusadari
Aku hanya bermimpi atau sekedar harapan palsu
Lalu mati
Aku hanya bertutur kepadanya
sahabat, air hujan memberi keberkahan
tapi hanya sedikit yang kita nikmati
Semarang, 31/07/2014


Operasi Kemewahan
Gedung megah bertingkat menjadikan saudarku begitu mewah
Di pabrik bergelimang buruh outsourcing
Aku ingin jadi karyawan tetap, katanya
dan kemerdekaan ingin ia miliki
akan tetapi kedaulatan tidak juga didapati

lalu untuk apa tanaman berdiri menantang
pohon pisang, kelapa, buah mangga, padi melambai
barangkali supaya gedung pabrik tetap berdiri

begitu elok embun pagi
mentari menyapa
ia tidak ada
masih ada esok hari
Semarang, 31/07/2014

 Wadie Maharief
Kenangan tentang Emak

Perempuan cekatan itu
adalah emakku
Ngurus anak sepuluh hampir tak pernah mengeluh
Serba bisa meski tak pernah sekolah
tapi menjadi guru bagi anak-anaknya
Aku belajar segala dari emak
Mulai menampi beras, menanak dan menjerang air
Bikin gulai dan menyeduh kopi
Emakku perkasa, ratu yang agung
Rumah dan berandanya selalu bersih
Gemulai ia menyapu setiap pagi
Tangannya tak pernah berhenti
Seperti penari yang penuh energi
Aku rindu emak
Yang telah mengajari aku tentang hidup
dan kehidupan ini
Aku mengerti kenapa beras mesti ditampi
Sebelum ditanak, kenapa menyapu
Harus pelan tapi bersih....?
Jangan melakukan kesia-siaan dalam hidupmu, nak….
Begitu pesannya
Yogya, 25 Mei 2014

Ali Syamsudin Arsi

Ia Lekat di Pelupuk Mata 

aku pernah kecil dan tak punya daya berlari di antara semak daun embun bahkan ranting duri - ia lekat di pelupuk mata - geriap sungai kecil aku pernah berenang bahkan hampir tenggelam pada pasir di dasarnya - ia lekat di pelupuk mata - suara-suara yang dahulu aku ingat semakin berloncatan di dahan-dahan pohon enau pohon buah karet dan daun-daun pisang sebagai kenangan – terasa sangat purba -
sebatas apa bila rinduku pada rimbun kembali melambai agar pulangku adalah bagian dari kerinduan langka nun jauh sudah jejak kaki berjarak nian dari detak akar-akar padi

ia lekat di pelupuk mata

ibuku menyatukan daun-daun pisang lantas dibawa ke tengah pasar untuk ditawarkan aku ikut di sampingnya dengan langkah kecil tatapan mata kecil dan harapan-harapan kecil – aku pernah kecil dan tak punya daya ketika berlari di jalan setapak yang berkelok-kelok menuju arus sungai berpasir dengan jamban-jamban pemandian – kecipaknya aku sangat merindukan

ia lekat di pelupuk mata

akar-akar padi dalam lumpur mengisyaratkan agar aku lekas-lekas kembali
/asa, banjarbaru, juli 2014 
Sokanindya Pratiwi Wening
~kampung halaman ~
kampung halamanku, katamu
dimana? kalau nyatanya aku lahir dan besar di
penjara

hijau hijau itu bukan dedaunan
tapi muka-muka masam bermata dalam
dentum-dentum itu bukan mercon perayaan
namun amuk senjata penuh kemarahan

bukan matahari sebagai teman
diam dan ancaman serupa menu makanan
terhidang kapan saja penguasa doyan

tuhan seperti tidur; aku ngelindur
bicara kampung halaman yang subur makmur
rakyatnya ramah tak doyan tawur
panen kapan saja tanpa nandur;
nyatanya, ayahku mati tanpa kubur

indonesia terbakar tanpa api...!
Krueng Geukueh, 09/06/2014

Anung Ageng Prihantoko

Setapak yang Bercerita

Setapak yang bercerita
Tentang pematangmu yang terlentang
Hilang dihisapi mimpi masa depan
Dadamu yang gembur meriap pucuk-pucuk padi
punah terpendam pertempuran ekskavator dengan
Danyang-danyang yang bimbang
Akar-akar tunggang besi tulangan menerobos bumi menembus perut cacing-cacing tanah
Beton dan batu bata yang tumbuh subur menjalar meraih
Gumpalan awan-awan perawan di langit
Dan rumah-rumah kotak kubus itu telah mengubur tanah rumputan
Anak-anak kami gelisah mencari tempat bermain bola dan mengejar layang-layang
Akhirnya mereka tersesat di rental play station dan sebagian ditelan televisi
Alangkah kenangan kami lindap bersama detik-detik yang ranggas
Pada jam tua yang merangkak di desing angin malam yang asing
Belasan tahun lalu sungai adalah surga tempat kami mencari ikan dan thoe
Dan kemarin sungai itu meratap mengerang
Kesepian dan hampir mayat karena terlupa
Belasan tahun lalu kami asik bergetek di telar mencari biji bunga teratai
Yang di ujung lidah terasa begitu manis dan lezat
Tapi sekarang bunga-bunga itu telah entah
Bulan merah telah rapuh
Tubuhnya mengapur penuh abu
Dulu dia teman kami
Menerangi kami berlari menyusuri ladang-ladang tempat sembunyi
Bermain jonjang umpet selepas isya bersama tawa
Berhari-hari aku mencari
Sekotak permainan masa kecil
: gundu, thihtik benthik, dos-dosan, gobag sodor, jonjang umpet dan permainan lainnya
Akan kuajarkan pada anak-anakku
Tapi tersesat dimana mereka
Aku lupa di ruang otak sebelah mana aku menyimpannya.
Cilacap, 8 Juli 2014
M. Ardi Kurniawan

Purwarupa

Yogyakarta beralih rupa
Menjadi purwarupa ibukota
Jalanan menjadi sesak
Setiap menjelang senja

Setiap vakansi tiba
Orang kota ramai-ramai bergembira
Sementara orang asli Yogya
Terus bekerja dan bekerja

Deru mesin ibukota makin terasa di Yogyakarta
Mendesak-desakkan suaranya
Menggantikan jarak dan jeda
Di antara ruang-ruang kota
[Yogyakarta, 2014]

Sofyan RH. Zaid

KAMPUNG HALAMAN KATA

kami duduk-duduk sepi # di beranda suatu pagi
cangkir kopi # beraroma hari
hari kamis # selepas gerimis
sisa air menetes dari daun # gending musim mengalun

kami berbincang perihal kabar # sebuah negeri yang terbakar
asap seketika menyebar # dada kami berdebar-getar
kami terbangkan doa # langit merah saga
air mata perlahan batu # mulut kami jadi bisu
kami duduk-duduk sepi # kemudian pergi menunda mati
2014


I Putu Wahya Santosa

Akar Kata
Dengan apa  pohon gejolak pikiran 
Berkembang biak
Selain dengan cinta akar kata
Yang merentangkan setiap batang gelisahnya

Dengan apa pohon cuaca yang gamang di katakan
Dapat dicerahkan
Selain dengan kebijaksanaan akar kata
Yang selalu memberi kesadaran
bagi jiwa yang ingin bertumbuh
Menjadi dewasa di setiap musim

Dengan apa teka teki akal
Dapat diburu kekal
Selain dengan mempelajari pertumbuhan akar kata
Yang selalu menyerap mata air kedalam nuraninya


Ekohm Abiyasa

Pesan Jogja

lengang malam senin
tulang-tulang dingin
sesekali asap motor melesap
orang-orang di angkringan bertukar cakap

ini sebuah kota yang dingin
jejak-jejak dan memori selalu mengerling

singgahlah ke gubug lama
tempat di mana kata-kata lahir
tempat di mana rindu-rindu mengalir

Jogja selalu berwarna
sudut-sudut kota
matahari pembatas
halaman yang terlepas

Jogja selalu setia
menanam damai
pada pengembaraan yang kian trengginas
Surakarta, Mei 2014

Fatmawati Liliasari

Syair Untukmu, hadiah untuk kotaku

Suatu saat orang-orang akan tahu
Tentang ceritaku, cerita kita
Meskipun aku ragu kau bisa mengenalinya
Wanita penyendiri itu telah melihatmu
Dia mencarimu, menyusuri jalan-jalan
hitam, sawah bertingkat sembari sesekali bercermin
pada dinding kaca berdebu
melihat bayangan raksasa di sebelah sana yang dengan angkuh
hendak mencakar langit.

Dia menemukanmu di sebuah gedung impian
Hamparannya luas, kata orang gedung itu
Adalah rumah para intelektual
Tetapi akhirnya aku hanya merasa gedung ini tak punya nyawa
Ia hanyalah rumah bagi dua tetangga yang selalu bersilang pendapat
Ataukah salah satu dari mereka ketakutan ?
Akhirnya ; kehadiranku di sini dilupakan
Aku berjalan di sampingmu tapi kau tak melihatku
Aku tersenyum ramah tapi engkau bermuka masam

Oh.. betapa kasihan, wangi gadis desa tersapu kelabu
Semburat jingga senyumnya di tampik dingin embun.
Bontorea, 25-27 Juni 2013

Budhi Setyawan

Kodil – Bogowonto
1/
yang memancar kecil
seperti kerlip rindu di kaki Menoreh
lalu mengumpul menyatu
tetes menjelma alir doa dan mantra
lewati rumput dan perdu duri
melalui batu batu sepi
terus melangkah-menari
matamu acap mengerdip pada iklim
susuri liku ranah berpilin
keteguhan pada cita bermukim

dan orang orang mencuci angan
dengan sari kesederhanaan dari curahmu
dan lubuk lubuk nampak berdiam
seperti pertapaan matahari
dalam kegaiban sunyi

2/
dari pinggang Sumbing, muasal lahirmu
lalu memanjang syair dan zikirmu
dengan jeram jeram yang dingin
dan kecipak derai di gulir musim
pandangmu jauh pada kampung dan sawah
dan jemarimu yang asih, menjamah
dahaga yang retakkan iman
hingga batang-batang padi berbinar segar
pepohonan pun turut senandungkan riang
tempat hinggap burung burung
yang betah merawat sarang
dan mereka yang mencari ikan
berkali menebarkan jalanya
mengembangkan harapan
sampai ke langit jernih
tempat bulan bermain
dengan tembang dolanan yang kian lirih

3/
di Tempuran, pertemuan penuh haru
berabad abad dipisah jarak
tanpa kabar dan percakapan, namun
anak dan ibu yang selalu menjaga ingatan
di tebing tebing perasaan
yang kokoh dalam gempuran cuaca
dan tafsir tafsir zaman yang menggema

di antara derap-kerjap pancaroba
tetaplah rekah bunga
tergambar deras arusmu
tekun merawat kesabaran dusun dusun
dan ketabahan penempuhan usia
yang terus mendegup hingga ke muara selatan
membawa asin kenangan ke tanjung perantauan
2014 

Syarif hidayatullah
Nun dan Alif kampungku
-di atas pulau terapung
Nun yang bercerita tentang mimpi di kaki bukit
Yang berenang bersama jentik-jentik nyamuk
Sedang katak hanya mampu berceloteh kosong
Dengan keangkuhan yang menggelikan

Nun yang bercerita tentang hujan di sela tawa dan senyuman
Sedang kerenyahan matahari di tertawakan oleh lumut yang menghijau
Karatan-karatan tanah yang menguning dengan bangkai-bangkai perusak bumi
Pohon tak lagi tumbuh
Ia melapuk dalam kebiadaban
Alif yang tegak menjulang di dasar nun yang bergenang kubangan
Pulau-pulau semakin dekat dengan nun
Sedang alif semakin sering dirobohkan
Terkoyak kenistaan

Alif yang tersenyum getir dengan nun
Menangis iba bersama hentakan kaki
Langit penghibur lara
Sedang mesin terus meneriakkan keangkuhannya
Ku punya mimpi
Alif yang tumbuh di atas nun
Hingga bersemayam hutan, kampungku
Besok aku ingin mereka bersatu di atas pulau ini
Banjarmasin, 16 desember 2013

Nurul Hidayah

EPISODE YANG HILANG

Bundaku mengibarkan selendangnya
Membawaku ke masa di mana aku menjalani masa kecilku
Di bawah pohon kelapa yang melengkung indah
Ditambah pasir putih yang bersahabat dengan gelombang di tepi pantai
Aku bermain dengan deretan semut dan beberapa siput
Lalu aku dipindahkan ke hamparan emas
Aku bernyanyi dengan burung-burung pipit yang mulai menyentuh emas kekuningan berisi
Seketika lagi aku berada dalam gemericik air di bawah dedaunan
Berlari memercikkan air ke sana kemari ditemani terik mentari pagi
Lalu menyapa matahari yang mau kembali ke peraduan
Bundaku berbisik ,”dia mau tidur, sayang”.

Kemudian bundaku kembali membalikkan selendangnya
Kini aku berada di antara bangunan-bangunan yang menjulang tinggi
Mencium bau selokan yang padat dengan sampah
Aliran air kotor mewarnai kehidupan
Ditambah dengan lagu-lagu pertiwi yang berganti isi dan makna
Di mana aku sekarang berada?
Yang kuharapkan hanya satu,”Bunda, bisikkan kembali di telingaku bahwa ini hanya mimpi belaka!”
“Bunda kembali balikkan selendangmu dan kembalikan suasana yang dulu untukku!” rintihku.
Dengan tersenyum lembut ia berkata,” Inilah tempatmu wahai anakku. Lihatlah gedung di sampingmu, sampah di selokan yang sekarang tepat di belakangmu, kebisingan oleh motor di sekitarmu, dan berbagai penyakit yang menghadang jiwa-jiwa yang lengah.”
Kini aku sadar bahwa tanahku telah berubah
Zaman telah berganti dan roda kehidupan terus berputar
Tapi kutekadkan niat dalam hati
Ini adalah tanahku, maka kutakkan tinggalkanmu
Namun, akan kutaklukkan perubahanmu
Bukan waktu yang menguasaimu tetapi aku yang akan mengendalikanmu
Aku mencintaimu wahai tempat hidupku, halaman terindah dalam jilid peristiwa jiwa
Aku rindu dikau yang dulu


Dhito Nur Ahmad

Hari Setelah Gerimis

Kenangan-kenangan, kehilangan-kehilangan, dan kesakitan-kesakitan
Adalah dingin semilir angin setelah gerimis
Pertemuan-pertemuan, janji-janji kebersamaan, dan perpisahan-perpisahan
Adalah langitnya yang berganti lembayung
Selalu ada rinai setelah gerimis
Ingatan tentang bunga kenanga yang berguguran di halaman
Rumah kampung halaman
Mengalirkan air di hadapan wajah
Dingin, dingin tak biasa
Setelah gerimis
Hari mendinginkan tulang
Kenangan menjadi hangat
tentang pohon dan rumput yang berdiam pilu
Menjalarkan kesunyian dan kenangan
Setelah gerimis
Selalu ada sisa rintikan kenangan yang berlalu di balik jendela
Kampung halaman bercerita
Tentang kerinduan dan kekalahan
Bahwa zaman telah merampok semuanya
Setelah gerimis
Langit berwarna lembayung
Lantas sepi pun menari di tepi hari
Makassar, 2014

Esti Ismawati

Selamat Pagi kampungku

semesta begitu hening
embun tersenyum menyambut terang
kelelawar tertidur dan burung sikatan beterbangan
hanyut dalam merdu keroncong Tanah Airku

seekor manyar jantan terlihat sibuk
memungut rumput helai demi helai
dirangkainya  megah istana
ia pun siap berumah tangga

seekor manyar betina memandang malu-malu
tersenyum bangga
mengangguk mesra
rumah sempurna bagi anak mereka

selamat pagi kampungku
negeri sepanjang musim
beribu pulau jalin-menjalin
menyatu dalam perahu kedamaian
menyibak riak kehidupan
mendayung beribu ombak perjuangan
melintas samudera asa, menghamba jiwa katulistiwa
menggapai hari-hari penuh mimpi, luas ladang terbentang
satu-satu tergapai menang.
Klaten, 20 Mei 2014.

En Kurliadi Nf
Gubuk Kami 
: kapung ragang

di sini, gubuk kami berdiri dan kami bangun
dengan ladang dan kicau burung terbang
bilik pintu dari bambu kuning
jendela tanpa kaca juga
atap dari rumbia kuning campuran kolare
yang di senjai kekeringan

gubuk ini kami bangun dengan keringat kuning
pagi yang merapat pada senja
ternak yang dilepas ke ladang
sedangkan bila terbangun dari tidur
sungai mengirim kecipak airnya kehilir
ke tanah seberang, tempat jagung dan padi tumbuh juga
batu yang kanvas diantara hutan belukar

bila malam larut dan beranjak :bulan mengapung
ke halaman, membuka celana
mematangkan rindu yang diperam bulan

perempuan-perempuan yang dipanggil ibu
oleh anak-anaknya, membuka rahim surganya
sejak kabar magrib membakar sepi
di lenca' kaju ia telah menggantung nasib
yang berputar merapal hidup
berpendar meruangi segala risalah waktu
yang tinggal ampas pada tubuhnya

gubuk ini kami bangun dengan kasih sayang
jauh dari kota-kota yang telanjang
udaranya yang mengapung diantara deru dedaun
musim menyusui aksara hujan
membuat cinta, menyisakan doa
yang halimun : tak pernah sirna
kami ucapkan di beranda sajadah

di sini, gubuk kami berdiri
dengan seribu doa dan cahaya
yang tak akan pernah mati
sampai kami tandas usia
gili-genting, 2013

Roni Nugraha Syafroni
KEBINGUNGAN
Liuk lengkung pemandangan hijau permadani,
membuat mata sesiapapun jua tak akan lekang.
Bening air mengalir dari sudut gunung di sisi,
melepas dahaga hati sekecil kapas teruntuk siang.
Hari-hari jemu bagai pindah ke dalam batu hitam sungai,
kokoh menunggu aliran dari hulu hingga hilir.
Pagi yang sendu tak lagi sedang merindu tampak melambai,
mendatangi diri secepat kilat dibantu angin semilir.
Tataplah mata cinta tanpa berkedip,
yakin akan tiada ‘kan berpaling.
Meski hanya sekejap kerlip,
selalu bersama nyanyian seruling.
Terkadang tetesan penyesalan merasuk,
melihat berjuta para perusak berdatangan.
Merayu pohon-pohon hutan dengan buruk,
ceria senyum mistis berubah kritis bersalaman.
Sawah mulailah berubah gelisah,
tampak menunggu untuk dikeringkan.
Canda petani-kerbau sudahlah punah,
buat perasaan padi tak akan dimakan.
Satu niscaya walau begitu,
tetap rakyat akan bangga.
Kepada sang waktu,
selamanya membela.
-Itulah kebingungan untuk kampung halaman yang rata oleh pusat perbelanjaan-
Cijerah-Cikijing, April 2014

 Gampang Prawoto

Pelabuhan  Jiwa
tengah malam
wajah  rembulan  tak  lagi  melukis
ibu  menisik  selendang

pigura  pigura  menapak  selaksa   
gerak  nadi  hati  menghias  raut
terusik  pada  tilas  langkah 
kaku kaki  lalu
imigrasi  dari  hari  kehari
mungkin   detik  dan  menit 
kehendak  tak  ditimpa  kisaran  waktu
karena  jam  hanya   sebuah  rotasi

kalender   lusuh  kuning  kecoklatan
melipat  bulan  menumpuk  tahun
setia  pada  dinding 
dinding  penanggalan  buram  
pendar  tanpa   merah, hitam  atau  hijau   
rerimbun  luput   
kelam  dipematang  hati  tanpa  hari

imigran - imigran  hari
berlayar  pada pusaran ombak
hingar   terompet, petas  kembang  api 
menutup   nanar  candikala
ketika  hati  tertusuk  kata
rasa  tertikam  oleh  waktu
hanya  tersisa  ini  hari
hari  tanpa  hati.

menepi  pada  arah  menara
menara  rasa  pelabuhan  jiwa

Bojonegoro, 27122013


Sabtu, 19 April 2014

LUMBUNG PUISI SASTRAWAN 2014 JILID II

LUMBUNG PUISI SASTRAWAN 2014 JILID II
IKUTILAH !!!
PEMBUATAN ATOLOGI BERSAMA LUMBUNG PUISI SASTRAWAN 2014 JILID II

Tema : Kampung halamanku

Ketentuan  :
1. Terbuka bagi siapa saja yang mengaku penyair/sastrawan Indonesia
2. Kirimkan 2 buah puisi terbaik Anda bertema tersebut di atas.
3. Cantumkan biodata singkat
4. Cantumkan alamat rumah Anda
5. Gratis tanpa biaya pendaftaran
6. Kirim puisi ke  gus.warsono@gmail.com
7. Pengiriman puisi dimulai dari sekarang dan ditutup pada 31 Juli 2014

Team seleksi/Juri :
1. Nurochman Soedibyo, YS (Budayawan/wartawan www.teropong.com )
2. Wardjito Soeharso (Widyaswara/Budayawan Semarang)
3. ……(menunggu persetujuan)
4……. (menunggu persetujuan)
Pengumuman :
Puisi yang masuk dala antologi Lumbung Puisi Sastrawan 2014 diumumkan pada 17 Agustus  2014

Fasilitas :
1. Peserta dengan puisi masuk dalam antologi mendapat 1 buah buku antologi
     Lumbung Puisi 2014 Jilid II
2.  Sepuluh peserta terbaik mendapat kaos cindera mata Lumbung Puisi 2014
     Jilid II
3. Peserta masuk dalam antologi dipromosikan baik puisi maupun penyairnya
     di www.ayokesekolah.com ,
         majalahsuluh.blogspot.com,  dan
      lumbungpuisi 2014.blogspot.com
4.  Puisi dan penyair masuk dalam antologi didokumentasikan di
     Perpustakaan Sastra Himpunan Masyarakat Gemar Membaca (HMGM)
 5. Peluncuran buku akan dilaksanakan serentak dari beberapa antologi kegiatan HMGM
      maupun antologi  beberapa penyair agar meriah yang waktunya akan diumukan
      kemudian.
Keterangan:
Kegiatan ini bersifat sosial dan diselenggrakan bersama komunitas sastrawan yang turut peduli terhadap perkembangan sastra.
Panitia menerima sumbangan partisipasi kegiatan asalakan tidak mengikat.
                                                                                                      Indramayu, 18 April 2014
                                                                                                                           Panitia.
                                                                                                                     RgBagus Warsono

Senin, 14 April 2014

Lumbung Puisi sastrawan Indonesia 2014

Judul : Lumbung Puisi sastrawan Indonesia 2014
Karya : Sastrawan Indonesia 2014
1.Abdul Wahid,2.Ali Syamsudin Ars, 3.Aloeth Pathi ,
4.Andrian Eka Saputra ,5.CecepNurbani ,
6.Dimas Indiana Senja,7.Dwi Klik Santosa,
8.Eddie MNS Soemanto,  9.eL Trip Umiuki,
10.Fahmi Wahid,11.Fasha Imani Febrianty,
12.Fitrah Anugerah ,13.Gampang Prawoto,
14.Iwan Kusmiadi,15.Julia Hartini, 16Mohamad Amrin. 17.Moh. Ghufron Cholid ,
18.Muhammad Hafeedz Amar Riskha,19.Nieranita,
20.Novy Noorhayati Syahfida ,21.Puji Astuti,
22.Rezqie Muhammad AlFajar Atmanegara,
23.Ridwan Ch. Madris ,24.Roni Nugraha Syafroni ,
25.Soekoso DM,26.Sokanindya Pratiwi Wening,
27.Sus S. Hardjono,28.Syarif hidayatullah,
29.Wadie Maharief, 30.Wardjito Soeharso,

Jilid                       :   1
Desain                   :   Ibro Art
Penerbit              :   HMGM
Cetakan               :  Pertama
Isi                        :  102 halaman
Tahun terbit        :   2014
Desain sapul        :   Ibro Art
Editor                  :  Abdurrachman D M
Hak cipta dilindungi undang-undang
(all right reserved)

Jumat, 11 April 2014

Kekecewaan , Penyesalan dan Keyakinan Penyair Jiwa Kebhinnekaan dari antologi Lumbung Puisi 2014

Kekecewaan , Penyesalan dan Keyakinan Penyair Jiwa Kebhinnekaan

Ali Syamsudin Arsi seorang penyair asal Barabai, Kab. Hulu Sungai Tengah, Prov. Kalimantan Selatan seakan mebuka antologi ini dengan kekhawatiran terhadap negeri dengan terlulis lewat  “Daun-daun di jendela Perpustakaan geriis”  //… -ada libasan bayang-bayang ketika orang-orang berduyun di belakang berebut saling mencengkeram denga jari-jari tajam – kami hilang catatan – negeri ini semakin menuju arah ke curam-curam ketika tebing dengan setia menelentangkan tubuhnya atas keluh dan semua macam resahnya retak-retak embun sampai pecah-pecah cuaca,..// (Daun-daun di jendela Perpustakaan geriis) bahwa perlunya dokumentasi sejarah di masa sekarang (dibuat januari 2014) dan perlunya pengokohan fundamental anak bangsa yang tidak saja menipis tetapi juga mengkhawatirkan dan bahkan mebahayakan keselamatan bangsa.

Lalu Aloeth Pathi dari Sekarjalak-Pati meberikan pembuka jalan agar sedikit optimisme melalui rasa (Tanah Tumpah Darahku II: Daun Kami)
//…bangga apa yang telah diperbuat,
Biarkan yang rontok bercerita
Bahwa kami pernah bersatu menciptakan hijau
Meski kini kering tak memberi sejuk
Tapi pernah menggores catatan
pada batangmu yang mulai rapuh
benih-benih yang aku sebarkan
mulai tumbuh menjadi tunas-tunas
siap menerjang pilar-pilar yang menghadang
biarkan akar itu menjalar
di sisi ruas-ruas jalan….// Aloet Pathi meyakinkan Ada suatu optimisme walau dalam keadaan dan bahkan rintangan, seakan kelak berjalan dengan sendirinya, seakan ia berkata nanti juga aka nada penyelesaian.
apapun itu nama dan jenisnya selalu berserakan.

 CecepNurbani penyair muda berbakat dar Garut memotret negreri dalam pandangan mudanya yang seakan kecewa,  demikian  syairnya:
//…ditrotoar..,
kaki lima mengadu nasib dengan
memasang badan takut takut petugas datang
seperti maling mengintip tuan rumah
gadis cilik bersaudara bernyanyi sambil menghirup udara segar dari kaleng Lem
pengamen jalanan bernyanyi bermuram durjana sambil melihatkan  taringnya berharap uang kertas yang diterima
suungguh konyol dan menyedihkan  negeri ini….//
(Apapun itu Nama dan Jenisnya Selalu Berserakan)
Ada suatu yang menarik untuk disimak sebagai renungan dalam mengapresiasi buku ini seperti

Melihat Tanah Air sendiri dari pandangan setiap orang Indonesia adalah warna-warni. Suka dan tak suka, puja dan cerca, senang dan bosan, sanjung dan kritik. Penyair  Dwi Klik Santosa memotret Indonesia dala kepahitannya, seperti tertuang dalam “Berita Para Pemabuk”
“Akukah tak layak hidup.
//…Di bumiku yang kaya
janji-janji seperti nyanyian iblis.
Tak benar aku hendak dibawa ke sana.
Tapi lihat aku kini.
Melulu mengais-ngais sampah
di negeri sendiri.”//
Dwi Klik Santosa ingin mengajak untuk enengok kepahitan itu. Kepahitan  hidup adalah pengalaman kegetiran seseorang agar ditempa menjadi kuat dan tak terulang.

Lalu penyair eL Trip Umiuki menuliskannya dala sebuah syair yang sangat mendalam bahwa keadaan – keadaan Indonesia dengan berbagai problema seperti
“Sumur Tanpa Dasar”, demikian syairnya penutupnya:
//…sarjono namanya
sarjana sains, ekonomi, sekaligus psikologi
sayang pengalaman kerja takpunya
bersimpan bara di kepala minta kerja ia kepada tetangganya
mandor bangunan di kota
mengaduk pasir dan semen ternyata bukan kerja sederhana
dengan dendam membara
mencangkul dia mencangkul
menggali lubang di kebunnya
takpeduli darah berlumur terus mencangkul
menggali sumur
senin selasa rabu kamis jumat sabtu
tak ada minggu dan hari libur ia
terus mencangkul terus//.
Demikian kebhinnekaan menjadi warna-wani dari sudut pandang sastrawan kita. Seperti Fahmi Wahid mencoba mengingatkan akan Indonesia sesungguhnya sebagai negeri maritime negeri bahari yang pernah Berjaya. Lewat “Tangis Keberagaman”, ia menuturkan :
//…di hunjur kuningnya ladang
pada tebaran kicau kepodang
semasa hembus sejuk angin gunung
melipur musim yang kian gamang
petuah dan petitih enggan dimengerti
dan kebersamaan kini tak punya arti
sebab semua manusia tak lagi punya nurani
menyelamatkan kearifan budaya bahari
yang hampir tak terjamah lagi….//

Penyair Gampang Prawoto juga menulis bahwa merasakan semua itu adalah rasa dan aroma setiap manusia yang kadang tak mengerti hitam dan putihnya apa yang terjadsi. Seua adalah rasa katanya seperti dituturkan dalam syair :
 “Secangkir Rasa”
//…jangan hanya manis di pantai bibir
pahit di pusara hati
lidahku belum kelu
pemanis tak biasa tersuguh di meja rasa
walau tanpa gula
aroma kopimu aku baca tanpa mengeja
panas – hangatnya warna.//.

Di puisi Moh. Ghufron Cholid memberi kekuatan utuk meyakinkan pandangan-pandangan itu bahwa Indonesia itu meiliki kekuatan yang tak akan goyah walau dalam kegetiran papa pun. Seperti tertuang dalam :
 ‘Sebab Indonesia Adalah Kita”
//…tumbuh di tiap mata
mata hari
mata jiwa
mata doa
yang tak kenal purba
Indonesia takkan musnah dalam peta
jika kita tak mengamini ramalan-ramalan asing
yang menanam benih-benih asing
dalam jiwa kerontang….//.

Senada dengan Moh. Ghufron Cholid, penyair Rezqie Muhammad AlFajar Atmanegara mengajak utuk saling menjaga keistimewaan Indonesia itu.
“Bhinneka Tunggal Ika adalah Aku”
//…di mana lagi kami tanam bulir harapan
bila seluruh kehijauan hutan bunda
telah habis digeser bangunan-bangunan
berbaju kawat, baja, semen dan beton
ke mana jua kami layarkan perahu kebersamaan
sebab semua kolam susu pertiwi
keruh sampah payau berbisa
bagaimana kami menegakkan tugu pertahanan
karena kini tiap jengkal tanah terbongkar
di keteragisan reruntuhan negeri inilah
mari, kita bergenggam dan saling gandeng bersama
mempertahankan hakikat dan keutuhan bangsa…//.


Roni Nugraha Syafroni dalam “Semboyan” di bait terakhir syairnya seakan mengambil keputusan tentang slogan kebangsaan kita agar menjadi semboyan yang tidak saja sebagai slogan tetapi dihayati, seperti dalam syair ini:
//…Semboyan ini tampak tak berguna dan usang,
tapi ada secercah keyakinan tak akan dibuang.
Terus dihayati diamalkan hingga usia petang,
agar berguna teruntuk generasi mendatang.//.

Ada sebab-sebab pemberian keputusan itu tentu dari pengalaman dan sejarah bangsa. Seakan tak terima juga jika bangsa ini mengalami keretakan dari rantai kebhinnekaan itu. Soekoso DM  menulisnya dalam syair “Sajak Trenyuh Kala Sayap Garuda Nyaris Runtuh”, demikianj bunyi cuplikannya:
//…biarkan beda adat jadi rahmat beda budaya jadi taman bunga                                                                                     sebab Tuhanlah yang telah menanam benihbenihnya
Orangorang bertegursapa                                                                                                                        saling menjabat saling cinta
(Di ruangruang kelas dan di tanah lapang anakanak bernyanyi                                                                                      lagu Satu Nusa Satu Bangsa dan Bagimu Negeri).//

Pujian pun diberikan penyair Syarif hidayatullah lewat
“Rangkaian ikatan huruf, Indonesiaku” seperti dalam cuplikan ini://…Alif yang tegak mampu jadi hutan esok hariNun tanpa titik menjadi danau yang melegenda. Baa nan mungil tempat transportasi membelah sungai negeriku. Gunung-gunung memperindah goresan Tuhan dalam ikatan satu Ika….//

Bahkan Wadie Maharief  meyakinkan akan kecintaan terhadap bangsa ini, Ia tuliskan lewat syair “Lima Ekor Merpati Menembus Mendung” demikian bunyi cuplikannya dalam bait terakhir :
//…Lima ekor merpati melesat
Lubang ozon mencairkan es di kutub
Tujuh lapis langit terluka
Lima ekor merpati kehilangan sayap
Jatuh di pulau-pulau terbakar
Api cintamu yang berkobar.//

Masih banyak puisi lain yang menarik dan enak dibaca dalam buku ini seperti karya-karya dari : Ridwan Ch. Madris, Sokanindya Pratiwi Wening, Sus S. Hardjono, Abdul Wahid, Andrian Eka Saputra, Dimas Indiana Senja, Eddie MNS Soemanto , Fasha Imani Febrianty, Iwan Kuswandi, Julia Hartini, Mohamad Amrin, Muhammad Hafeedz Amar Riskha, Nieranita, Novy Noorhayati Syahfida, Puji Astuti.

Akhirnya Wardjito Soeharso mengajak kita seua untuk merenungkan seperti judul puisinya “Ngudarasa” //Sadalan dalan
Anane mung gronjalan
Mergo akeh kedokan
Salurung lurung
Anane mung bingung
Mergo adoh gurung
Yen dalan wis kebak kedokan
Lurung wis akeh sing suwung
Gurung wis pedot sakdurunge diulur…// bahwa banyak tanda-tanda zaman ini untuk dapat tidak saja untuk direnungkan tetapi juga untuk disikapi generasi uda sekarang.
//…Tan ana asile kang mapan
Mula ta tansah elinga
Bebrayan iku tansah sangga sinangga
Abot enteng nora rinasa
Arepa awan panase sumelet
Bengine peteng ndedet lelimengan
Kabeh lumaku kanti rahayu.//.

Demikian jika sastrawan mengungkapkan apa yang dirasakan pancainderanya memberikan suguhan rasa tersendiri, semoga dapat memberikan penyejuk dan apresiasi mendalam terhadap buku ini.

                                                     Rg Bagus Warsono
Kurator sastra di HMGM














Sabtu, 05 April 2014

Pemberitahuan Pengisi Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia 2014

Pemberitahuan Pengisi Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia 2014

Panitia Seleksi Antologi Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia 2014 menyampaikan :
Terima kasih kepada para penyair nusantara yang turut mengisi kegiatan pembuatan Antologi Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia 2014.

Beberapa hal patut menjadi cacatan utuk kegiatan serupa selanjutnya :
1.Banyak karya masuk tidak memiliki relefansi dengan tema kegiatan
2.Pengiriman secara Email dengan copy paste dari blog penyair mengakibatkan rusaknya materi
   /naskah
3.Banyak naskah yang telah dipublikasikan sebelumnya di web/blog/akun public lainnya dan
    ada juga yang telah dipublikasikan lewat  media cetak.
4.Panitia tetap mengutamakan memandang isi naskah dan tidak memandang  riwayat/biodata.

I. Mengumukan nama-nama penyair yang terseleksi ke Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia 2012 sebagai berikut :

1.Abdul Wahid (Karanganyar)
2.Ali Syamsudin Arsi (Banjar Baru)
3.Aloeth Pathi (Pati)
4.Andrian Eka Saputra (Boyolali)
5.CecepNurbani (Garut)
6.Dimas Indiana Senja(Brebes)
7.Dwi Klik Santosa (Sukoharjo)
8.Eddie MNS Soemanto (Padang)
9.eL Trip Umiuki (Tangerang)
10.Fahmi Wahid (Hulu Sungai Tengah)
11.Fasha Imani Febrianty (Bandung)
12.Fitrah Anugerah (Bandung)
13.Gampang Prawoto (Bojonegoro)
14.Iwan Kusmiadi (Bandung)
15.Julia Hartini (Bandung)
16.Mohamad Amrin  (Indramayu)
17.Moh. Ghufron Cholid (Sampang)
18.Muhammad Hafeedz Amar Riskha (Indramayu)
19.Nieranita (Kuwait)
20.Novy Noorhayati Syahfida (Bandung)
21.Puji Astuti(Cianjur)
22.Rezqie Muhammad AlFajar Atmanegara (Hulu Sungai Tengah)
23.Ridwan Ch. Madris (Bandung)
24.Roni Nugraha Syafroni (Cimahi)
25.Soekoso DM (Purworejo)
26.Sokanindya Pratiwi Wening (Medan)
27.Sus S. Hardjono (Solo)
28.Syarif hidayatullah (Barito Kuala)
29.Wadie Maharief (Yogyakarta)
30.Wardjito Soeharso (Semarang)

II. Antologi kini tengah dalam proses editing dan proses cetak. Masing-masing peserta mendapatkan  1 buku Antologi yang akan dikirim ke alamat penyair tanggal 17 April 2014 stepel pos, termasuk  sebuah kaos cinderamata untuk 10 peserta dengan puisi pilihan panitia.
Bagi penyair tersebut di atas yang belum melengkapi alamat rumah dapat mengirimkan alamatnya lewat agus.warsono@ymail,com.
Nama-nama penyair yang mendapat kaos cinderamata adalah sebagai berikut : Ali Syamsudin Arsi, Aloeth Pathi, CecepNurbani, Dimas Indiana Senja, Dwi Klik Santosa, Gampang Pranoto, Moh. Ghufron Cholid, Wardjito Soeharso, Wadie Maharief, Soekoso DM
III. Buku antologi terarsip sebagai dokumentasi Sastrawan Indonesia di HMGM  dan
       nama- nama penyairnya tercatat dalam daftar penyair HMGM

IV.Puisi dan penyair  termuat dalam antologi dipublikasikan di www.ayokesekolah.com dan majalahsuluh.blogspot.com

Bagi yang menghendaki buku antologi lebih dari satu dapat mengirikmanbiaya ganti cetak dan transport  pengiriman.
Demikian pemberitahuan ini, terima kasih.

Indramayu, 6 April 2014
Panitia,
Rg Bagus Warsono

Sabtu, 15 Maret 2014

Puisi - puisi Wadie Maharief (015)

 Wadie Maharief
Lima Ekor Merpati Menembus Mendung

Lima ekor merpati menembus mendung
Langit bagai neon sepuluh watt
Cahayanya menguban rambut
di kepala nenek tua

Berjalan di tepi belukar kering
Dunia makin sempit
dan kekurangan oksigen

Lima ekor merpati melesat
Lubang ozon mencairkan es di kutub
Tujuh lapis langit terluka

Lima ekor merpati kehilangan sayap
Jatuh di pulau-pulau terbakar
Api cintamu yang berkobar

------------------ Yogya, 27 Januari 2014

Rindu Sepuntung Rokok
Sepuntung rokok membakar dadamu
di ruang tamu yang pengap
Asapnya melayang-layang mencari bayang
tentang kekasihmu yang jalang

Jarimu mengetuk-ngetuk meja
Mengikuti irama musik jazz
Membuat abu bertebaran di lantai
Lengking saxopon meluapkan birahi malam

Sepuntung rokok lengket di bibirmu
Matamu makin sipit dalam samar
Mengikuti asap terbang langlang
Tak juga tuntas kau teguk kerinduan

------------------ Yogya, 3 Februari 2014


Sayang, Menarilah
Ketika matahari merangkaki pagi
Kau pun menyusul, meluncur bagai penari
naik ke panggung
Tanganmu melenggak-lenggok
Gemulai dengan gemerincing gelang tembaga

Selendang merah melilit di pinggang
Mahkota tiara bergoyang-goyang
Wahai, menarilah engkau pujaanku
Langkahmu seirama dengan simfoni alam
Membuatku terpaku kaku

Nyanyian matahari menggema dari langit
Dibawa angin dari bukit-bukit paling sunyi
Kau ikuti dengan langkah merangkai mimpi
Sayang, terus, teruslah menari
Gemerincing gelangmu membangkitkan gairahku

-------------------- Yogya, 10 Februari 2014

Perempuan di jendela pagi

Perempuan di jendela pagi
Menatap wajah rindunya di bingkai cahaya
Baru saja dia simpan mimpinya
dalam lipatan selimut
Ketika matahari memecah embun
Bunga-bunga tersipu
Jejak-jejak di taman menari
Mimpi itu sudah pindah ke beranda
:Kau! katanya
Perempuan di jendela pagi
Tertegun, mimpinya pergi bersama hujan
Sebelum musim yang lain tiba....
------------------- Yogya, 2 Maret 2014


Tentang penulis: Wadie Maharief, lahir 13 Maret 1955 di Prabumulih, Sumsel. Menulis puisi, cerpen dan essei sejak 1975, dan banyak dimuat di suratkabar Kedaualatan Rakyat, Pelopor Yogya, Minggu Pagi, Bernas, Semangat da Koran Merapi di Yogyakarta, kemudian di Sinar Harapan, Suara Karya, Buana Minggu, Simponi dan lain-lain di Jakarta. Menjadi wartawan sejak 1976, pernah menjadi wartawan di Kedaualatan Rakyat, Yogya Pos dan beberapa tabloid lainnya. Sejumlah puisinya ikut dalam beberapa antologi bersama.

Senin, 10 Maret 2014

Cecep Nurbani (014)

Sketsa Lukisan Kotaku
Garut,14 November 2012

ingin sekali mengungkapkan tapi selalu terurungkan...
karena pasti ada menjegal dan berteriak.."Jangan bermimpi..!!?"
yakin ini..,
hanya menjadi kesakitan tak bertuan dan berujung...

lihat..!!? dengarkan...
wajah wajah membosankan bersenam manis
menawarkan diri menaikan harga
tumpang nama pada sebuah produk unggulan..,

"pahit ternyata yang kami dapat..." seorang RTM teriak tak tertahan
sambil mengikatkan endong dipunggungnya dan menuntun seorang bocah
setelah membaca sebuah spanduk iklan yang menghiasi jalan kota

disisi lain..., ada camry baru dan didalamnya aneka aneka mengiurkan terhidang
adu tawar soal persentase yang akan segera dilekaskan
SPK ataupun apa itu namanya...,sudah siap terkondisikan dalam tawarnya
hanya tinggal pena dan sedikit bubuhan Cap atas nama negri
"Soal itu gampang..!?
" persen nya itu lho yang musti jelas..!!?" jawabnya memegang telepon genggam sambil tumpang kaki biar bergaye...
Apapun itu Nama dan Jenisnya Selalu Berserakan
Grt, 12 September 2013

televisi, koran dan radio menceritakan segala tentang masa depan dan  masa iya
pembunuhan,
perampokan,
pemerkosaan,
kesurupan
korupsi
mutilasi
ibu buang bayi
suami bunuh istri
penggusuran pasar
teroris
sampai daging sapi import yang tak jelas berujung
dan peringkat  tertinggi ditangga hits khabar hari ini sebuah pertandingan silat duel kepala sekolah yang disaksikan oleh guru guru dan murid muridnya
bersorak menari menjadi team  chearleeders sebagai penyemangat
itu juga dari televisi yang bercerita..
begitu konyol negri ini

apapun itu nama dan jenisnya selalu berserakan

disisi lain, ada yang namanya fashion show
pakaian  pakaian yang melukiskan setengah syahmat orang bilang itu life style
menyuguhkan datails anatomi perempuan melenggang
saling bermunculan saling bersahutan
hingga bangga berakhir dengan aplaus meriak serentak

apapun itu nama dan jenisnya selalu berserakan

ditrotoar..,
kaki lima mengadu nasib dengan
memasang badan takut takut petugas datang
seperti maling mengintip tuan rumah
gadis cilik bersaudara bernyanyi sambil menghirup udara segar dari kaleng Lem
pengamen jalanan bernyanyi bermuram durjana sambil melihatkan  taringnya berharap uang kertas yang diterima

suungguh konyol dan menyedihkan  negeri ini









maaf bila itu tak berkenan...
17 Desember 2012
tak ada yg bisa kuberikan lagi
seperti itu kelak nanti..;mungkin..

maaf bila itu tak berkenan
atau tak menjadikannya jadi
silahkan terima atau tidak...
bagiku tetap dan tersenyum  reda...
karena suatu saat..
kau akan tetap seperti itu
dan kembali pada yang seharusnya

hari ini atau besok nanti
semua itu telah tercatat pada sebuah sejarah
dan akan selalu membayangi ditiap senja habis

maaf bila itu tak berkenan
atau tak menjadikannya jadi


Grt, 17 Des 2012

kembalilah
29 Maret 2013 pukul 19:48

"tempat pulang  adalah tempat dimana ada seseorang yang menunggu",
begitu cepat melekat pernyataan itu.

tempat itu
Dua hari kebelakang
seketika rasa rindu lepas tapi ada yang berbeda dan tak jelas...
tak ada satu pun seongok hasrat atau sensasi berarah
seperti burung pipit pergi kesawah mencari biji padi dan tak pernah kembali
aku merindukan...percakapan percakapan istimewa
canda tawa karena gesekan intelegensi
bertukar inspirasi perubahan kota kelahiran
hingga menara Mesjid sejenak menghentikan memanggil
dan kita pun berhenti menyambut raja sunyi berkunjung dalam seribu sepi...

dan hari ini
semakin kuat sensasi itu
hanya seorang ismaya dan sebongkah molen yang setia
iya..., hari sebelumnya telah kudapatkan
kabar tentang burung pipit yang tak kembali
ada yang beritual penebusan dosa dengan jarum dan selang yang melilit
berdoa agar segera menjauh
ada yang membelah waktu dengan hasratnya agar segera kembali...
ya..., kembali tak pernah kembali
hanya kembalilah yang bisa kembali


Garut (Tikcin), 29 Maret 2013





















Galaxy Tikcin disebuah negri Domba
18 November 2012

Terjebak atau hening galaxy
 Sore menunggu..
hujan menarinari
lalulang dibola kelopak mata

ah, entah siapa yang kutunggu..!!?
hanya gemericik dan teriakan orang adu tawar yang menghampiri

Lantas kemana keramaian sisa kemarin!!???
tentang mereka yang beradu pandang
bercakap kengerian darah darah menggenangi Palestina
atau...
tentang peraihan simpatisan para elite elite politk
menghitung *jumlah penduduk yang menganga

Sebuah Negri domba meretas menyeluruh aku

kemarilah,,,!? lihatlah...
disini...
orang berjubel sibuk berteduh kesana kemari
karena dapur teringat belum berasap
atau sebongkah keinginan tak tertutup

galaxy ini begitu menyedihkan
hingga tak bisa hengkang dari syahwatku


Tikcin (Garut), 18 Nov 2012

















Dia Sekarsari Asihku
11 Februari 2014 pukul 20:58

setiap detik rasa sesak semakin tak sopan
berjubel
bergelantungan
duduk sembarang tak beretika
ada yang tumpang kaki dengan senyum meledek
ada yang asyik membaca koran
secangkir kopi
meneriakan asap cerutu  bermerk Columbia

"Ohh.. siapa dia..!!?" suara bertanya
keluar dari dinding dan menara sukmaning rasa
"Sekarsari asih.. " jawabnya gemulai
semua diam tak berkutik
sesak nan berbagi
serupa kabut asap rindu mengutuk serapahku dipagi bening








Memilih diam dan menikmati
12 Desember 2013 pukul 11:40
aku lebih memilh diam dan menikmati
tersenyum
tak berkata
saat kau menusukan belati kerinduan

aku lebih memilih diam dan menikmati
menatap
berpasrah
ketika puisi berulah menggoncangkan bulanmu

aku lebih memilih diam dan menikmati
acuh tak acuh
berpikir
disaat semua orang berteriak tentang malam

aku lebih memilih diam dan menikmati
seksama
menyerap
ketika kau asyik bermain strategi dan menyerang

dan aku lebih memilih diam dan menikmati
sedikit kata
bergoyang
ketika kau sadap telepon genggamku

Kuta, 24 Nov 13








Nala..
5 Januari 2014 pukul 9:58
adalah padang rumput subur tebal menari lantaran angin lirih memanja
ditengahnya tertahan sebuah pohon
warna lembayung menghampar
dan sungai kecil mendesir bernyanyi kidung cinta

Nala..
lahir mengalir dari rumput nadi nadi
ruh ruh kecil para jemari
meremah 99 nama yang tercungkil
karena kau Nala..

Nala...
bergemuruh..
menjelang dini waktu lembut merasuk
berjelajah ditiap detak
meremas
menjamak semua tradisi karena kau Nala

Nala..
merintih;
"kini aku ditelinga kananmu..!!"
bisik meluruh dinding langit dini
sekelebat cahya bintang berekor minggat dalam mata
menembus negri ajaib
dan aku ikut menghilang
karena kau Nala

Nala...
menghentikan hujan
dan memaki resahnya alam
karena bumi telah basah
itupun karena kau Nala..

Nala..
berlabuhlah...
disini..
digalangan kecil
untuk menyangga selama entah berkeinginan
karena kau  adalah Nala
adalah demikian dan seterusnya

Kamis, 20 Februari 2014

Puisi-puisi Julia Hartini (`12)

Kepada Kita

kepada kita yang menyatu sungguh
pada udara yang kita kasihi
mengental dalam ruang

hidup yang basah mendekat
menyuburkan tanah meski berbeda
tetapi langit-langit tetap sama

manakalah di antara kita terperenyak
selalu ada yang memberi tangan
menempelkan pada jemari yang lain
begitu seterusnya

ruang semesta, Februari 2014

Punyaku juga

kita tak saling berhadapan
tapi dahagamu
punyaku juga

lambung yang pedih
menyebabkan tubuh meluruh
mengigaukan rasa sakit
di dadaku

berkali-kali kau meminum air mata
kemudian aku 
melipat cemas
di antara doa-doa 

ruang semesta, Februari 2014


Abu itu mengabarkan Tentangmu

langit menghitam, murung dan hening
tapi siang masih terik
panas yang menguliti mata hati

abu tengah mengabarkan tentangmu
di jauh kilometer sana yang mengaduh
menyimpan sakit berkawan debu
gunung yang begitu kalut

tenanglah, 
di negeri kita ini
tak ada sedih yang sendiri
sebab siapapun yang menangis
akan dibasuh dengan jemari yang manis

kita eja yang pilu 
hingga segala haru terusap waktu

ruang semesta, Februari 2014

Biodata Penulis

Julia Hartini, lahir di Bandung 19 Juli 1992, Mahasiswa  Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Tergabung dalam Unit Pers Mahasiswa UPI 2010-sekarang.  Sekarang pun aktif bersastra bersama ASAS (Arena Studi Apresiasi Sastra) UPI dan  Komunitas Penulis Perempuan Indonesia. 
Puisi-puisinya masuk dalam media massa seperti Harian Umum Pikiran Rakyat, Metro Riau, Radar Banten. Selain di media massa, puisi-puisinya juga masuk dalam antologi puisi seperti Tifa Nusantara (2013), Indonesia di Titik 13 (2013), Saksi Ibu Melihat Reformasi (2013) , Habis Gelap Terbitlah Sajak (2013), Situ Waktu (2011). 
Selain menulis puisi, penulis pun diundang dalam Pertemuan Penyair Lintas Daerah yang diadakan Dewan Kesenian Pemalang dan Pekalongan (2013), Pertemuan Penyair Nusantara yang diadakan Dewan Kesenian Tangerang (2013), dan Jambore Nasional Bahasa dan Sastra (2011) yang diadakan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.  
Sekarang penulis sedang berproses dan berjuang dalam dunia tulis-menulis agar karyanya yang lahir bisa diapresiasi pembaca. 

Jumat, 14 Februari 2014

Roni Nugraha Syafroni (11)

SEMBOYAN
Sadar akan ragam yang berada di sekitar badan,
lalui dengan ikhlas tanpa beban.
Berusaha seragam agar tiada lagi desing senapan,
itulah sebab agar negara mapan.

Pesan mengajari agar menjaga apa yang dipunya,
jangan nanti menyela tetangga sendiri.
Terang matahari muncul dalam kesenduan tiada tara,
jika tak taat menjaga indahnya mimpi.

Sering banyak teman bertanya-tanya pudarnya sinar,
membuat semua orang bergandeng bergetar.
Berbahagia bak pejuang dahulu tak gentar,
hadapi rongrongan musuh yang ingin masuk pagar.

Semboyan ini tampak tak berguna dan usang,
tapi ada secercah keyakinan tak akan dibuang.
Terus dihayati diamalkan hingga usia petang,
agar berguna teruntuk generasi mendatang.


TIADA TARA
Gugusan pulau terbentang dari barat hingga timur,
baik kecil maupun besar tiada beda jua.
Dipikir satu juga pulau-pulau membentuk garis bujur.
Tugu Khatulistiwa ciri khas identitas keluarga kita.

Terkandung berbagai macam manfaat,
bukan untuk dihabiskan dalam waktu singkat.
Terus digunakan bukan untuk sesaat,
menjaga jalan masyarakat agar tak tersesat.

Apa daya banyak raga dari ‘saudara-saudara’,
coba menjamah mengeruk terus hingga kerak terdalam.
Banyak daya yang dapat hentikan perlakuan mereka,
terkecuali memang menginginkan hal buruk kelam.

Pemandangan tiada tara,
terbentang dari Sabang-Merauke,
Dari Pulau Myangas-Pulau Rote,
kekayaan negara Indonesia.


TAK PADAM
Semangat bersama dirasa gampang pudar,
jelas bukan tujuan bersama agar tak sekarat.
Harusnya dapatlah jua semua tempat bersandar,
tidak gampang pun susah asal ada niat.

Bergembira menanti keajaiban sebuah berita,
membuat hati senang dibuatnya.
Karena kesedihan sedang menerpa,
diharap ada secercah harapan menyapa.

Gerimis jadilah hujan semalam,
timbullah lengkungan pelangi.
Itulah mimpi yang tersulam,
menjaga diri tak dihinggapi.

Bersama berusaha hilangkan beda,
mudah-mudahan Tuhan mendengar.
Tangan hati ini tak berhenti berdoa,
tak lebih hanya untuk hentikan mereka berkoar.


DERMAGA
Ombak bernyanyi dalam ingatan,
kian mendekat juga bersemi.
Menanti di tepian kebahagiaan,
tiada bersedih berduka di hati.

Biarlah mereka mendengar khusyu,
tiupan angin dedaunan berguguran.
Berputar melawan kencangnya waktu,
pasir berputar bergilir berpapasan.

Cakrawala berlabuh di dermaga indah,
ciptakan kenangan berpaut rindu.
Siapapun akan ingin kembali dengan mudah,
menuju sinar sukma yang telah lama berlalu.

Lelah ini telah pula berlabuh,
hangatnya garis pantai cemerlang.
Semilir angin menjauhkan peluh,
sedih sendu janganlah terbit sekarang.


TEGAP
Biru laut mengingatkan ihwal cinta bersemi,
siapa pun tampak ingin menghancurkan.
Tapi tidak dapat karena tidak sendiri kami,
bersatu padu walau beda menghalau kekacauan.

Melayang cemaskan suasana di sana,
tak percaya pada sesiapun jua.
Terbitlah banyak curiga,
yang dari hasil bertanya.

Selama badan ini masih tegap,
hadapi semua masalah pengap.
Memahami situasi gagap,
tanpa hilang akal merayap.

Sentuhan kasih pada keabadian,
mata terpejam rasakan kekuatan.
Hati wujudkan sebuah kepercayaan,
dalam rasa berputar keniscayaan.


Ledeng-Lembang, Februari 2014
BIODATA PENGARANG
No. KTP : 3277010304870013
Golongan Darah : A
Nama Lengkap : Roni Nugraha Syafroni
Nama Panggilan : Roni
Jenis Kelamin : Pria
Agama : Islam
Kebangsaan : Indonesia
Suku Bangsa : Sunda
Tempat dan Tanggal Lahir : Bengkulu, 3 April 1987
Status : Alumnus Program Studi
  Pendidikan Bahasa Indonesia
 Sekolah Pascasarjana
 Universitas Pendidikan Indonesia tahun 2012
Alamat Lengkap : Jl. Trowulan 2, No. L 30, Komp. Pharmindo,
 RT/RW 003/021, Kel. Melong,
  Kec. Cimahi Selatan, Kota Cimahi 40534,
  Prov. Jawa Barat, Indonesia

Sabtu, 18 Januari 2014

Novy Noorhayati Syahfida (010)



Pagi Yang Gugup

pagiku gugup
tik tak jarum jam serupa jantung
menambah debar-degup
tak sempat lagi kuhitung
berapa tetes peluh yang menghiasi
lembar demi lembar narasi
hingga khatam segala abjad
sujudku tetap tak terwujud!

Tangerang, 18 Oktober 2013

Membaca Peta Pagi

membaca peta pagi
mengeja dunia di geliat hari
mimpi-mimpi belum usai diterjemahkan
saat sang surya datang kepagian

wajah-wajah penuh asa
berbaris rapi di pendar cahaya

membaca peta pagi di keningmu
kutitip senyum pada daun waktu
melangkahlah, nak…
tinggalkan kantukmu sejenak

Tangerang, 15 November 2013

Lelaki Perapal Mantra

kata-kata serupa hujan di bibirmu
membilang alifbata dalam genang waktu
kau, lelaki seribu aksara…
menggores hati dengan mantra-mantra
dadamu tempat rindu bermuara
mengurai airmata, melerai cinta

Tangerang, 15 Desember 2013

Kota Jakarta

katanya kota pembangunan
nyatanya banyak gembel dan gelandangan
penduduknya sesak oleh pengangguran
belum lagi sampah yang berserakan
di mana tuan presiden disembunyikan?

Jakarta, 1 Januari 2014

Menghitung Rindu, Membilang Namamu

rindu masih biru
menapaki dinding-dinding waktu
ada yang menyeru namamu
dalam gerimis yang paling syahdu

beri aku bunga yang paling mawar
pengganti rindu yang mendebar
sepi kini menjelma getar-getar
merasuki jiwa yang menggelepar
membaca cahaya, mengurai pendar

rindu masih biru
singgah mengetuk pintu
begitu restu…
begitulah selalu kusebut namamu

Kedoya, 16 Januari 2013

Biodata Narasi:
Puisi-puisi Novy Noorhayati Syahfida telah dipublikasikan di beberapa media cetak, elektronik dan buku antologi bersama. Namanya juga tercantum dalam Profil Perempuan Pengarang & Penulis Indonesia (Kosa Kata Kita, 2012). Puisi-puisinya dapat dinikmati di blog pribadinya yaitu http://syahfida.blogspot.com. Dua buku kumpulan puisi tunggalnya yang berjudul Atas Nama Cinta (Shell-Jagat Tempurung, 2012) dan Kuukir Senja dari Balik Jendela (Oase Qalbu, 2013) telah terbit. Pencinta buku, penulis puisi dan penyuka senja ini dapat dihubungi melalui: Novy Noorhayati Syahfida (facebook)/@syahfida (twitter)/syahfida@yahoo.com (email).