TEKS SULUH


Jumat, 14 Februari 2014

Roni Nugraha Syafroni (11)

SEMBOYAN
Sadar akan ragam yang berada di sekitar badan,
lalui dengan ikhlas tanpa beban.
Berusaha seragam agar tiada lagi desing senapan,
itulah sebab agar negara mapan.

Pesan mengajari agar menjaga apa yang dipunya,
jangan nanti menyela tetangga sendiri.
Terang matahari muncul dalam kesenduan tiada tara,
jika tak taat menjaga indahnya mimpi.

Sering banyak teman bertanya-tanya pudarnya sinar,
membuat semua orang bergandeng bergetar.
Berbahagia bak pejuang dahulu tak gentar,
hadapi rongrongan musuh yang ingin masuk pagar.

Semboyan ini tampak tak berguna dan usang,
tapi ada secercah keyakinan tak akan dibuang.
Terus dihayati diamalkan hingga usia petang,
agar berguna teruntuk generasi mendatang.


TIADA TARA
Gugusan pulau terbentang dari barat hingga timur,
baik kecil maupun besar tiada beda jua.
Dipikir satu juga pulau-pulau membentuk garis bujur.
Tugu Khatulistiwa ciri khas identitas keluarga kita.

Terkandung berbagai macam manfaat,
bukan untuk dihabiskan dalam waktu singkat.
Terus digunakan bukan untuk sesaat,
menjaga jalan masyarakat agar tak tersesat.

Apa daya banyak raga dari ‘saudara-saudara’,
coba menjamah mengeruk terus hingga kerak terdalam.
Banyak daya yang dapat hentikan perlakuan mereka,
terkecuali memang menginginkan hal buruk kelam.

Pemandangan tiada tara,
terbentang dari Sabang-Merauke,
Dari Pulau Myangas-Pulau Rote,
kekayaan negara Indonesia.


TAK PADAM
Semangat bersama dirasa gampang pudar,
jelas bukan tujuan bersama agar tak sekarat.
Harusnya dapatlah jua semua tempat bersandar,
tidak gampang pun susah asal ada niat.

Bergembira menanti keajaiban sebuah berita,
membuat hati senang dibuatnya.
Karena kesedihan sedang menerpa,
diharap ada secercah harapan menyapa.

Gerimis jadilah hujan semalam,
timbullah lengkungan pelangi.
Itulah mimpi yang tersulam,
menjaga diri tak dihinggapi.

Bersama berusaha hilangkan beda,
mudah-mudahan Tuhan mendengar.
Tangan hati ini tak berhenti berdoa,
tak lebih hanya untuk hentikan mereka berkoar.


DERMAGA
Ombak bernyanyi dalam ingatan,
kian mendekat juga bersemi.
Menanti di tepian kebahagiaan,
tiada bersedih berduka di hati.

Biarlah mereka mendengar khusyu,
tiupan angin dedaunan berguguran.
Berputar melawan kencangnya waktu,
pasir berputar bergilir berpapasan.

Cakrawala berlabuh di dermaga indah,
ciptakan kenangan berpaut rindu.
Siapapun akan ingin kembali dengan mudah,
menuju sinar sukma yang telah lama berlalu.

Lelah ini telah pula berlabuh,
hangatnya garis pantai cemerlang.
Semilir angin menjauhkan peluh,
sedih sendu janganlah terbit sekarang.


TEGAP
Biru laut mengingatkan ihwal cinta bersemi,
siapa pun tampak ingin menghancurkan.
Tapi tidak dapat karena tidak sendiri kami,
bersatu padu walau beda menghalau kekacauan.

Melayang cemaskan suasana di sana,
tak percaya pada sesiapun jua.
Terbitlah banyak curiga,
yang dari hasil bertanya.

Selama badan ini masih tegap,
hadapi semua masalah pengap.
Memahami situasi gagap,
tanpa hilang akal merayap.

Sentuhan kasih pada keabadian,
mata terpejam rasakan kekuatan.
Hati wujudkan sebuah kepercayaan,
dalam rasa berputar keniscayaan.


Ledeng-Lembang, Februari 2014
BIODATA PENGARANG
No. KTP : 3277010304870013
Golongan Darah : A
Nama Lengkap : Roni Nugraha Syafroni
Nama Panggilan : Roni
Jenis Kelamin : Pria
Agama : Islam
Kebangsaan : Indonesia
Suku Bangsa : Sunda
Tempat dan Tanggal Lahir : Bengkulu, 3 April 1987
Status : Alumnus Program Studi
  Pendidikan Bahasa Indonesia
 Sekolah Pascasarjana
 Universitas Pendidikan Indonesia tahun 2012
Alamat Lengkap : Jl. Trowulan 2, No. L 30, Komp. Pharmindo,
 RT/RW 003/021, Kel. Melong,
  Kec. Cimahi Selatan, Kota Cimahi 40534,
  Prov. Jawa Barat, Indonesia