TEKS SULUH


Jumat, 29 September 2017

Antologi Puisi Batik di Negeri Bati karya Rg Bagus Warsono








Perkembangan motif batik Indonesia kini sangat pesat. Khas modern yang semakin diminati masyarakat. Tidak semata-mata meninggalkan khas seni tradisi yang telah turu temurun tetapi perpaduan agar tak membosankan.

Namun terkadang rindu batik motif tradisi yang ada di setiap kota. Kenali batik tradisi itu agar tak menjadi punah. Sebab diantara inovasi motif tradisi begitu banyak yang tetap melestarikan pakem batik tradisional.

Semoga mengenal batik lewat puisi ini menjadi buku yang bermanfaat bagi pembaca.





Selasa, 26 September 2017

Sarwo darmono geguritan : Senin Budaya Mung Kari Tilas

Mari kita alih-bahasakan geguritan Mas Sarwo Darmono ini yang berjudul "Seni Budaya Mung Kari Tilas" judul yang apik untuk direnungkan kita semua. Mula Sarwo membuka puisinya dengan menampilkan kenyataan akan perilaku berkesenian //kabeh jingkrak senajan hamung jaran kencak// seakan hanya 'segebragan (kontemporer) penampilan semalam (kethoprak/ludruk) dan cuma figuran.
Kemudian puisi ini menceritakan perubahan budaya yg mengagungkan budaya luar. Sarwo menguingatkan untuk keagungan budaya luhur. Katanya mumpung masih ada zaman kembali ke budaya kita yg luhur. Kemasan apik Mas Sarwo Darmono mari kita lihat.

Sarwo Darmono

                                                        Seni Budaya Mung Kari Tilas

Kabeh pada nyengkuyung sanajan hamung kentrung
Kabeh pada gemnruduk sanajan hamung ludruk
Kabeh pada guyub sanajan hamung tayub
Kabeh pada sigrak sanajan hamung kethoprak
Kabeh pada jingkrak sanajan hamung jaran kencak
Kabeh pada girang sanajan hamung wayang Lan Glipang
Kabeh seni budaya iki wus pada ilang
Sanajan ana mung kari arang-arang
Kabeh mung kari tilas
Kabeh pada ora nggagas
Jare ngunu kuwi budaya wus lawas
Budaya ora duwe kelas.
Jarene sing duwe kelas budaya manca
Apa-apa kudhu teka budaya manca
Jogete joget manca
Busanane busana cara manca
Srawungge srawung cara manca
Yen teka manca dipuja-puja
Sanajan kurang prayoga
Budaya manca sumebar ing bumi nuswantara
Kabeh pada lena, ora krasa, ora rumangsa yen budaya nusantara katindes budaya manca
Mumpung esih ana mangsa
Ayo pada rekadaya tresna marang budaya bangsa
Nguri nguri lestari budaya negeri
Seni budaya jatidiri Ibu Pertiwi
Lumajang, 5 Agustus 2017
Sarwo Darmono, penyair dan juga penyiar radio tinggal di Lumajang

Minggu, 24 September 2017

Sastrawan Indonesia per 25 September 2017



Miftahur Rohim dalam Perahu Daun Bambu

Mast Oim adalah seorang penyair asal Pati, puisinya bercerita tentang desa. Masa lalu dan masa kini yang telah banyak berubah. Puisi yang merupakan puisi-puisi ungkapan ketidakadilan dimasa sekarang ini. Alurnya sederhana namun memberi makna mendalam. Puisi Mast Oim ini menambah semarak warna antologi Kita Dijajah Lagi.

Mast Oim (Miftahur Rohim)

                                                                    Perahu Daun Bambu

Pe-ra-hu daun bambu
Hijau redup berselancar mengikuti gerak derasnya arus
Sesederhana bentuk dan bahan pembalutmu
Perahu daun bambu
Anak-anak riuh menghantar engkau
Meraih ujung kemudi kali kecil
Di perbatasan sebuah desa lereng gunung mboja
Anak-anak rindu main di kali
Bersama air jernih tanpa basa-basi
Mencerdaskan negeri
Yang dulu diincar kaum kompeni
Para ibu menggendong kayu jati
Dibarter dengan beras tanpa upeti
Pulang berbahagia
Walau tanpa mengharap kantong terisi
Ibu, aku rindu
Tanahmu yang dulu pernah damai
Setelah sekian lama dijarah
Kini kembali seperti dahulu
Hidup dibawah intimidasi
Banyak topeng berisi
Kedzaliman, keangkuhan, ketidakadilan
Hingga penindasan
Pati, 28 Agustus 2017

Mast Oim (Miftahur Rohim), seseorang yang kebetulan suka sastra yang kurang nyastra. Tinggal di Pati. Keseharian sebagai penjual kopi. Pegiat di KKEm (Komunitas Kopi Emperan).

Jumat, 22 September 2017

Djemi Tumoka dalam Perempuan Tua

Perempuan Tua sebuah judul misteri oleh Djemi Tomuka, entah siapa yg dimaksud perempuan tua itu. Djemi Tomuka menggambarkan sosok perempuan tua yg slalu teguh dalam pendiriannya. Baitnya tertuju pada siapa ditokohkan. Mungkin Ibu, mungkin tokoh nasional, mungkin tokohpejuang atau mungkin tokoh yang tak henti berjuang.
Begitu hingga Djemi Tomuka menggambarkan hingga tokoh itu renta, namun slalu terus berjuang dan teguh pendirian. Warna abu-abu langit seolah ketidakpercayaan atau ketidak-niscayaan karena memandang warna semua abu-abu.
Puisi ini bagus untuk ditelaah. Puisi yg merupakan unggulan puisi yg menjadi daya tarik antologi Kita Dijajah Lagi. Selamat Mas Djemi Tomuka

Djemi Tomuka

                                                                                 Perempuan Tua

di mata tua perempuan itu
langit tak pernah berubah
kecuali pundak kini lekuk
setiap kali dia menyeret uban
yang mengelupas di kakinya
disebutnya rumah,
gubuk tempat menaruh senyum
di sampingnya, gundukan tanah selalu basah
oleh kenang dan airmata
adalah tugu kecil dengan relief bambu runcing
bertuliskan kekasih
ditimangnya hari-hari di ujung
bersama nama kekasih
yang terbungkus merah putih
telah lusuh hilang warna
di mata tua perempuan itu
langit tak pernah berubah
kecuali juang terus saja memanjang
menggelung ke langit
tanpa sesiapa
menanti merdeka
(DJT. mdo, 10 November 2015; 17:59)

Kamis, 21 September 2017

Wanto Tirta dalam Langit Kayu Abu-abu

Mari kita simak puisi karya Wanto Tirta . Penyair ini menyoroti fenomena hutan dan hasil kayu petani kita. Ada cerita di sini yang oleh penyairnya diungkapkan sebagai suatu 'keprihatinan negeri. Wanto Tirta sedikit gamblang memang, namun pilihan diksi tang baik menjadikan puisi ini apik. Seperti baris " Karena langit biru berubah abu-abu".//Tarzan mengaum di tengah kota
Gigi menyeringai siap menerkam // Petani meringis gigit jari". Perpaduan itu dikemas sehingga puisi ini menjadi hidup. Demikian Wanto Tirta menuturkan lewat puisi berikut ini :

Wanto Tirta

                                                                        Langit Kayu Abu-abu

Memandang langit putih pucat
Hari gemetar esok lusa apa kabar
Genggaman tangan acung merdeka
Mungkinkah masih kuat meninju ke atas
Karena langit biru berubah abu-abu
Burung terbang tak bebas lagi mengintari cakrawala desaku
Raung diesel menebang kayu
Rampung digarap dibawa karo
Cukong berduit menginjak bumi
Aku melirik uang ditarik
Kayu-kayu dikubik kirim ke luar negeri
Beratus tahun hutan divisi hijau
Seketika habis oleh tangan dengan kendali petani berdasi suruhan bangsa lain
Tolong
Tarzan mengaum di tengah kota
Gigi menyeringai siap menerkam
Siapa saja yang menentang penebangan hutan
Kayu gelondongan ludes habis
Ditukar dolar Kembali ke sini harus dibeli
Sekehendak hati harus menuruti
Tolong
Petani meringis gigit jari
Jualan kayu dengan harga semaumu
Aku terpaku di bawah langit abu-abu
Memandang sunyi dengan hati kelu
Kata merdeka masihkah milikku
30082017

Rabu, 20 September 2017

Marsetio Hariadi dalam Pertemuan Malam Tadi

Mari kita simak puisi Mas Marsetio Hariadi penyair yang makin mantap asal Surabaya ini. Betapa Marsetio Hariadi pandai mengurai kata. Untuk menyampaikan pesan penyair ini memulainya dengan latar tersendiri kemudian pada bait selanjutnya pembaca diajak mengarah dalam tema yang kita usung (Kita Dijajah Lagi). Kepiawaian penyair muda ini semakin terlihat pada penggunaan diksi yang dipilih. Agak berputar-putar namun tetap dalam tujuan pesan yg disampaikan
. ...//bocah-bocah menangis takut
menyelamatkan karung beras dan kardus mi instan adalah kewajiban
membaca kitab, menambal atap yang bocor, menanak nasi, menidurkan bayi, lalu merencanakan bunuh diri
kerbau dan caping melenguh dan mengeluh
besok hijau padi digantikan abu-abu pagar
tiap batang rokok yang disulut adalah akhir kerja di bawah terik matahari
lampu karaoke, botol bir, dan keringat perempuan menderita menghiasi penat penghitungan angka-angka
putra-putrinya menginjak tanah negeri dan hormat pada bendera Merah Putih
Melantunkan Indonesia Raya di senin pagi // ...
Ada beberapa pilihan diksi yg patut diacungi jempol dan jarang dimanfaatkan penyair lain. Marsetio Hariadi mampu mengolahnya dengan baik mesti tak teratur maksud. Namun demikian puisi ini layak menjadi unggulan dalam antologi yg sebentar lagi terbit. Selamat untuk Mas Marsetio Hariadi.

Marsetio Hariadi,

                                            Pertemuan Malam tadi


dalam mimpiku malam lalu
kau yang kusayang
memeluk dan membelai-belai rambut ini
aku sedang lelah
termenung di pintu kaca
mari mendeskripsikan kita dan keadaan
teriakan yang terdengar sendu dan ikhlas di tiap-tiap kamar bersalin
generasi baru dan suci dilahirkan
bapak dan keberanian
jiwa-jiwa jujur dimatikan mendahului kuasa Tuhan
menanti, mendoakan, dan memandang lama-lama pigora foto keluarga
memejamkan mata, menyanyikan lagu perjuangan dengan khusyuk dan bersedih hatinya
Jumat dan Minggu manggut-manggut setuju untuk tidak mencuri, merampok, memfitnah, iri dengki, memerkosa, dan minum alkohol
menyebut nama Tuhan
dalam sunyi yang bergemuruh
dalam gemuruh yang kosong
berdiri menunggu di pinggir jalan bertahun lamanya
menuntut keadilan dan pengakuan negara atas kejahatan yang sempurna
induk kucing memperhatikan lama-lama anaknya yang dilindas mobil
roda-roda saling menyentak meminta jalan
knalpot meraung-raung sampai dini hari
tertawa-tawa menghina diri sendiri
tenggelam dalam maya, tidur kehabisan tenaga dalam nyata
menghafalkan buku sejarah, lagu cinta dan bangun kesiangan
mencari jati diri
genteng gerabah pontang-panting oleh puting beliung atau alat berat
oleh tanah longsor, banjir, atau sepatu lars
memekakkan telinga
bocah-bocah menangis takut
menyelamatkan karung beras dan kardus mi instan adalah kewajiban
membaca kitab, menambal atap yang bocor, menanak nasi, menidurkan bayi, lalu merencanakan bunuh diri
kerbau dan caping melenguh dan mengeluh
besok hijau padi digantikan abu-abu pagar
tiap batang rokok yang disulut adalah akhir kerja di bawah terik matahari
lampu karaoke, botol bir, dan keringat perempuan menderita menghiasi penat penghitungan angka-angka
putra-putrinya menginjak tanah negeri dan hormat pada bendera Merah Putih
Melantunkan Indonesia Raya di senin pagi
air mata adalah fitrah manusia
kita tidak pernah merencanakan tangisan
kapan kita terakhir kali
menangis duka untuk orang lain?
kau lontarkan senyum padaku malam tadi
mencita-citakan harapan
dan masa depan kemanusiaan
Malam 26 April 2017
Untuk Adik-adikku Teater Rumpun Padi
Marsetio Hariadi, 23 tahun, berdomisili di Surabaya, minat belajar menulis dan membacakan puisi sejak tahun 2015.
-Antologi Puisi Sakkarepmu: Penyair Mbeling Indonesia, 2015, Sibuku, Jogjakarta
-Juara III Penulisan Puisi kategori Umum, Festival Sastra UGM 2017

Selasa, 19 September 2017

Wirol Haurissa dalam Remi

Wirol Haurissa ia bermain perumpamaan dalam tema Indonesia yg katanya masih dijajah lagi itu. Pada tahun-tahun pertama dan ketika menyenangkan úntuk mendengarnya, namun kemudian apa yg dirasakan hanyalah Merdeka slogan ferbalis . Ia menulisnya dalam Remi , sebuah puisi pendek yang manis semanis Ambon manise.

Wirol O. Haurissa

1.

Remi

untuk tahun-tahun umurmu
pertama-pertama langit merah
tak jua memutihkn tangismu
tadinya menyenangkan berkata merdeka
tapi di ujungnya rasanya
tetap di bawah tiang bendeara

2.

hormat grak


tidak tegap-tegap
dari beribu-ribu tahun lalu
semenjak nelayan mendayung perahu
membentuk indonesia
dan berciri seperti film inda
hidup lama
masuk istana dan bertarung
dengan nyawa-nyawa
layu uyu-uyu
dari situ, dunia ini memang lebih gila dari pikiran
lebih-lebih berisi banyak isyarat
di ruang besi yang menggunakan sandi
bersembunyi rezim pemburu
dengan keinginan kaya ditutup jendela emas
dan bunga-bunga mawar besar
aku sebenarnya bingung
antara mencintai dan berkelahi

Alfianus Nggoa dalam Merdeka di Pasung Dusta

Membaca Puisi Fian N katanya merdekaitu hanya 'dusta. Judulnya sudah mengena "Merdeka dipasung dusta. Dipasung itu dibelenggu dikunci oleh dusta dan mungkin dusta-dusta. Fian mencoba mengutarakan ini lewat puisi. Merdeka pun menjadi penuh arti, karena dipasungnya itu. Dusta dan dusta dari mereka atas mereka. Kita simak puisinya. :

Alfianus Nggoa

Merdeka dipasung dusta

Merdeka....merdeka...merdeka
Teriakan sarat makna
Kala itu
Setelah penjarah terpaksa pergi
Tinggalkan merdeka
Tinggalah kata merdeka
Seperti lalu lagi tiada
Merdeka ?
Pertiwi dijarah
Rahimnya dicabik
“mengapa aku harus melahirkan merdeka?”
Pertiwi keluh
Putra-puteriku ?
Dusta merdeka atas mereka
Flores, 31 Agustus 2017
Fian N adalah nama pena dari Alfianus Nggoa,penyair ini berasal dari Flores

Minggu, 17 September 2017

Anung Ageng Prihantoko dalam "Jalan"


Lain penyair lain cerita, lain mata lain yang dilihat. Kacamata boleh minus sama, tetapi apa yg dilihat penyair Anung Ageng A.a. Prihantoko sungguh berbeda kacamata. Pedih dan miris membaca puisi berjudul "Jalan "ini. Sebuah kenyataan yang dihadapi generasi ini. Bilakah ada sinar terang untuk generasi muda agar bisa meraih cita hidupnya atau kita mewarisi beban berat anak-anak kita. sebuah puisi yang pantas menjadi renungan kita semua. "Jalan" karya A.a. Prihantoko :


Anung Ageng Prihantoko

Jalan

Anak-anak bimbang menapak jalan-jalan runtuh
Mungkinkah tanda petang yang gamang mulai turun berlabuh
Nilai-nilai luhur sebagai marka terlihat semakin kabur
Toleransi terkerat mati suri, kebijaksanaan sayapnya terbakar tubuh sendiri

Ibu yang menggigil, ibu yang melafalkan nama anak-anak yang selalu dipanggil
Sebab pintu-pintu dunia telah dibuka
Sebab hempasan badai semakin terasa di dada
Dan liar ombak yang berdebur semakin melemahkan bahagia suara kesiur nyiur di telinga
Sebab terik matahari semakin ganas untuk menghanguskan cita-cita di kepala

Anak-anak bermain di museum
: Mengenang coklat hutan yang dahulu hijau
Mengenang keramahtamahan yang disayat karat hujat
Mengenang gotong-royong yang semakin punah terongrong
Pulanglah anak-anak ibu, yang berbeda-beda namun tetap satu
Cilacap, 25 agustus 2017

Sabtu, 16 September 2017

Marthen Luther Reasoa dalam Doa dan Ketukan Pintu

Penyair yang kian namanya menanjak menasional Marthen Reasoa asal Maluku bicara tentang Kita Dijajah Lagi, dalam gaya Maluku yang khas. 'ketuk pintu , buku pintu atau palang pintu menjadi bahasa ironi yg sering didengar dalam perbincangan sehari-hari. Tapi kali ini Marthen Reasoa memberi nafas sebagai Doa dan Ketukan Pintu, sebuah puisi yg bercerta banyak tentang negeri tercinta ini. Rasa-rasanya Reasoa membuka semua kenyataan kehidupan. Tak ada cara lain selain berharap dan Doa dan Ketukan Pintu.

                                                     Doa dan Ketukan Pintu

Marthen Luther Reasoa

Aku hidup di depan banyak pintu, dengan satu tangan untuk mengetuk
aku mengetuk dan mengetuk, namun pintu tetap tertutup
di dalamnya, ribuan pejabat pemerintahan terlalu sibuk mencatat dan lupa membuka pintu
hingga bau korupsi juga nepotisme menjalar di disepanjang dinding dan lantai mereka
kantor ibarat rumah tangga, seperti keluarga cendana
bapak dan ibu tidur di satu kamar dengan nyenyak
dan lupa pada anak-anak yang gelisah sepanjang malam,
menanti kasih sayang itu terbuka dari pintu kamar
Pejabat-pejabat terlihat megah, jas dan dasi mengkilap hiasi tubuh mereka
namun rakyat penuh derita
Rakyat itu berteriak di depan pintu, dengan air mata di mangkuk tanpa nasi
sedang bapak dan ibu negara hanya sibuk bercerita
di antara suara-suara kelaparan dan kesusahan yang merembes melalui dinding
Pada tembok-tembok kota, ibu kami terus mendoakan pemerintah
kepada Tuhan yang ada di balik pintu, doa terantuk pada gagang pintu
sedang pada jalan di pingir-pinggir kota, mulut-mulut asyik tertawa
mereka menganggap lucu suara ketukan di depan pintu
seperti suara kucing kelaparan orang-orang saling merobek tulang
sementara para pejabat melahap daging hingga keluar bau badan
meski disemprot deodorant, bau mereka tetap saja menyengat
Ibarat bau kambing yang menempel pada tubuh laki-laki pencuri
busuk dan menjalar ke mana-mana diterbangkan angin
hingga mengendap diselangkangan
menjadi daki
Kasihan kami yang tak punya kunci
tak punya apapun selain doa dan ketukan di depan pintu
Marthen Luther Reasoa, lahir di Saparua, 31 Oktober 1988 memasuki Pendidikan : S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Penyair ini tinggal di JalanDiponegoro RT 003 RW 004 Kecamatan Sirimau
Kota Ambon . Komunitas : Bengkel Sastra Maluku

M Sapto Yuwono dalam Bukan Menagih Janji

Puisi pendek paling digemari pembaca karena singkat dan padat. Kecil apalagi indah menjadi rebutan. Kecil menjadi sorotan karena kecil tetapi membesar. Adalah M Sapto Yuwono menoreh pena-nya untuk kita semua sesingkat ia menulis. Baginya menulis puisi adalah pesan. Segores pesan kadang mengingatkan kita. Seperti dalam "Bukan Menagih Janji", menyimpan pesan yg dalam bagi penduduk negeri sekarang ini. Kepuasan kadang membuat untuk lebih merasa puas, kegetiran kadang menjadi ungkapan. Slalu kita mengharap dan mengharap. Negeri Kita memang Dijajah Lagi.

M.Sapto Yuwono

                              Bukan Menagih Janji

(Mengapa mereka berjualan di trotoar)
Hanya ada itu tempatnya
Tanah luas gedung tinggi
Tak cukup baginya memiliki
Negriku luas
Tak cukup bagi kami
Cuma etalase 1 x 1 m
Mereka tak butuh kami
Hati ini telah di jajah
Negeri kami luntur
Sosok kami butuh sesuap nasi
Bukan menagih janji
Muara Bungo 30 Agustus 2017
M.Sapto Yuwono, Lahir 47 th yang lalu di Muara Bungo-Jambi. Aktif di Komunitas Seniman.Bungo, Bekerja sebagai petani biasa.

Membaca Ulang Puisimu oleh Samián Adib

Adalah Sami'an Adib, penyair asal Bangkalan berbicara tentang negeri ini ibarat Membaca Ulang Puisimu puisi Indonesia ini. Kebosanan dan kelakuan negeri yg terus menjadi perbincangan sinis seakan tak pernah henti. bahkan kadang kemunafikan. Sebuah puisi yang enak dibaca bagi penikmat sastra Indonesia sebagai pengobat rasa ;kekecewaan terhadap tingkah polah negeri ini. Sami'an Adib membawakannya dengan perkasa. Nantikan di antologimu Kita Dijajah Lagi.

Sami’an Adib

Membaca Ulang Puisimu

Entah mengapa aku selalu merinding setiap membaca ulang puisimu
tentang kanibal di sekitar kita
:negeri ini dipenuhi lelaki kanibal
rakus memangsa anak gadisnya
padahal aku tak pernah yakin hal itu ada
Entah mengapa hatiku selalu teriris setiap membaca ulang puisimu
tentang robohnya nurani para kesatria pemangku negeri
:dengan dalih kemakmuran bersama
jutaan kubik pasir terus-menerus digerus
dikirim untuk reklamasi pantai negara tetangga
meski belum habis bumi ini terkikis
tapi perlahan teritorial hidup kita terpangkas
padahal tak pernah terkalkulasi dalam ritus niagaku
Entah mengapa hatiku selalu tersayat setiap membaca ulang puisimu
tentang sebentang negeri yang tergadai
:para cukong berlidah lihai
menjajakan pesona alam
beserta jengkal-jengkal tanahnya
kaum pribumi terusir dari pukau pulau rintisan leluhurnya
menjadi manusia perahu
hidup terempas di rentang pasang gelombang
padahal tak pernah terbenak dalam tafakur sosialku
Entah mengapa bopeng wajah negeriku tak hilang-hilang
meski telah mencoba bersolek berulang-ulang
barangkali sudah terlalu kronis
atau memang sengaja tak digubris
Jember, 2015-2017
Sami’an Adib, lahir di Bangkalan tanggal 15 Agustus 1971. Antologi puisi bersama antara lain: Requiem Buat Gaza (Gempita Biostory, Medan, 2013), Mendekap Langit (Gempita Biostory, Medan, 2013) Menuju Jalan Cahaya (Javakarsa Media, Jogjakarta, 2013), Ziarah Batin (Javakarsa Media, Jogjakarta, 2013), Cinta Rindu dan Kematian (Coretan Dinding Kita, Jakarta, 2013), Ensiklopegila Koruptor, Puisi Menolak Korupsi 4 (Forum Sastra Surakarta, 2015), Memo untuk Wakil Rakyat (Forum Sastra Surakarta, 2015) tinggal di Jember.

Negeri Pisang Goreng oleh Zaeni Boli

Judul yang menawan, adalah sesuatu judul yg baru ada. Sebuah puisi yg mengundang minat baca. Sesuatu yg langka itu menjadi unik dan menarik. Adalah Zaeni Boli seorang penyair dan pembaca puisi terkenal asal Flores. Ia mencoba sebuah perumpamaan dalam sebuah sorotan negeri ini. Zaeni Boli menyesuaikan dengan temanya antologi, perumpamaan jajanan menjadi bacaan ini menarik karena syarat pesan. Sayang Zaeni Boli tak dapat mengakhiri puisinya dengan 'damai. Tetapi mungkin ia menghentak untuk meyakinkan pembaca akan pesannya itu. Sebuah ciri Zaeni Boli dalam berpuisi. Kita simak puisinya dalam Negeri Pisang Goreng.

Zaeni Boli

Negeri Pisang Goreng

aku membayangkan pergi ke negeri pisang goreng
lantas cireng di abaikan
dimana anak emasnya adalah batagor
lalu para singkong selalu berkelahi dengan kentang
dan pemenangnya adalah spagetti
donat-donat kasmaran dengan chiken wing
kemudian membeli apartemen yang harganya selangit
tak lama setelah mereka melahirkan cacing keremi
pisang ijo kalah pamor lantas mengadu pada presiden negeri pisang goreng ,karena presiden negeri pisang goreng sedang selingkuh dengan
big burger
maka pisang ijo pun diabaikan
selang seratus tahun kemudian
para tikus tanah yang gaptek mati kelaparan di negeri sendiri
eh tak sampai seratus tahun, ketang
mungkin tak lama setelah tulisan ini
terbit ke muka Anda
2014
Aquarium
malam itu di sebuah aquarium
bernama comuter line
ikan -ikan tak saling bertegur sapa
mungkin lelah atau sibuk dengan ponselnya
sementara seorang ibu dan sahabatnya seorang bapak
berdiskusi kecil tentang sisa-sisa kerja dan sedikit gosip
di kereta terakhir bangku-bangku begitu dingin begitu pula para penumpangnya
mataku yang lelah masih juga di sesaki oleh iklan-iklan yang menempel di setiap sudutnya
air conditioner dan kipas yang berputar mengantar dingin yang asing ke kulit
dan kata-kata seakan membeku membiru
perasaan begitu asing di negeri sendiri
2015
Zaeni Boli, Penyair kelahiran flores, dikenal juga sebagai pembaca puisi, karyanya tersebar di berbagai antologi nasional. Tinggal di Flores.

Jumat, 15 September 2017

Sorotan Puisi Iwan Dartha

Seorang kurator harus dapat menangkap makna terkandung dalam puisi. bahasa puisi yang bernyawa membuat puisi itu menari-nari dengan tafsir pembaca yang berbeda. Dia bermain kata, dengan alur dan ironi bahasa, sebuah suguhabn bagi dewasa tentunya. Pahit, manis adalah kata-kata padat bagi apresiasi, tetapi Iwan Dartha menyuguhkannya dengan ringan sehingga enak dibaca. sebuah puisi hebat yang mewarnai antologi Kita Dijajah lagi.

Iwan Dartha
                                                         KopiPahit

Lebih besar harapan daripada bukti-bukti
dua teguk pertama cukup sadari rasa kopi
ada bayangan merdeka dalam kepul nyali
Tebarkan gula-gula seusai kau tumbuk palu
rumput hijau kau arit dengan retorika palsu
sampah busuk kau pungut tanpa rasa malu
Kopi pahitku lebih manis daripada gulamu
saat pesta meriah sublimasi ambiguitasmu
Menarik arakan awan kelabu menghangati
setiap rasa merasuki kepercayaan dirimu
Warna tertepis mengabaikan asa sendimu
Kopi pahitku selalu memaniskan sukmaku
Dunia telah mencintai madu seperti aku juga
Tapi secangkir kopi pahitku dibanding madu
lebih manis daripada madu bunga-bunga liar
Engkau tersenyum puas ketika kini menikmati
kopiku pahit kau minum tak sadar rasa pahit
dan sampai kini kau mengingat kopi pahitku
Kuberhenti bertanya sambil hirup kopi pahitku
senyum bukan untuk madu bunga-bunga liar
Tarian kupu-kupu memanjakan kumbang saru
kopi pahitku lebih manis daripada gulamu itu
secangkir kau habiskan tak sadari rasa pahit
Jakarta 15 Agustus 2017

(Rg Bagus W)

Sorotan Puisi Gilang Teguh Pambudi

Lain penyair lain sorotan yg diketengahkan, lain ide lain dari yg lain, seperti puisi berikut ini. Dalam tema yg dipersempit [un penyair dapat mngembangkannya dengan segala apa yang dilihatnya. Rekam jejak penyair adalah catatan yg slalu dibawa. Puisi ini bukan berarti jenuh atau frustasi akan situasi Indonesia ini namun penyair ingin agar tidak demikian terjadi. Seperti ditengahkan Gilang Teguh Pambudi dalam kejenuhan itu hingga ia mau " Menulis Apa Kita " katanya dalam puisi. Semoga menjadi renungan dalan Kita Dijajah Lagi. Nantikan bukunya .

                                                       Menulis Apa Kita

Muhammad Toha
ditulis anakku
Depan rumah makan Sunda
Sebagai perlawanan yang siap meledak
Dengan bom di tangan
Menjadi kesejahteraan
Aku menulis apa dalam kesaksian yang tua?
Pintui ruang dalam
Kesejahteraan adalah tempat tidur
Bagi segelintir keras kepala dan hati api
Yang menimang serba keuntungan sendiri
Dan sebagian pesta korupsi
Muntah daging ditulis anakku
Karena t-pintu kesejahteraan itu ditutup kembali
Lalu d ragedi anak negri yang tidak bisa menelan tubuhnya sendiri
Dengan ziarah kesalehan
Karena selalu berdarah kecelakaan sosial yang parah
Tetapi engkau malah tokoh pribumi yang menjual narkoba kepada anak kandung sendiri
Aku harus menulis apa
Melawan bangsa sendiri?

Selasa, 05 September 2017

Belajar Sepanjang Hayat

Cita-cita. Gantungkan cita-citamu setinggi bintang di langit.Bagaimana dengan seseorang yang berusia 50 th?
Adalah seorang ibu Subini (54h) ketika itu memulai kuliah S1 , staf guruku ketika aku memimpin sekolah dasar, Jika 2 th kuliah tepat waktu, karena sudah D2, maka akan selesai pada usia 56 th. Namun keterbatasan pikir karena ibu yang sudah sepuh itu perjalanan kuliah pun tak tepat waktu dan baru setelah 4 th lulus S1. diusia 58 tahun menjelang pensiun. Aku bertanya apa motifasi ibu kuliah? Katanya bukan utuk apa-apa, tetapi ia sebagai ibu dan nenek bagi cucu-cucunya memberikan contoh agar anak-cucunya mau menuruti jejaknya. Hebat bukan main ibu ini. Cita-cita itu ternyata bukan untuk diri tetapi untuk generasi selanjutnya.
Demikian belajar sepanjang hayat. Malu kita sama Ibu Subini, usia 54 th mulai kuliah S1, lulus 58 th sudah mendekati pengsiun sebagai guru sekolah dasar. Kita terkadang puas dengan apa yang diperoleh, tetapi kebanggaan itu tidak dibarengi dengan kemauan unt terus belajar sehingga banyak tertinggal dengan orang lain. Padahal belajar sepanjang hayat itu dapat diperoleh dari mana saja termasuk pengalaman diri seseorang.
(Rg Bagus Warsono, 6-9-17)

Belajar Sepanjang Hayat

Demikian belajar sepanjang hayat. Malu kita sama Ibu Subini, usia 54 th mulai kuliah S1, lulus 58 th sudah mendekati pengsiun sebagai guru sekolah dasar. Kita terkadang puas dengan apa yang diperoleh, tetapi kebanggaan itu tidak dibarengi dengan kemauan unt terus belajar sehingga banyak tertinggal dengan orang lain. Padahal belajar sepanjang hayat itu dapat diperoleh dari mana saja termasuk pengalaman diri seseorang.
Aku justru salut kepada penyair penyair besar  ketika aku buka sekolah Penyair Gratis ia mendaftar sebagai mahasiswa. Sebuah kecerdasan tersendiri sebagai orang yang benar2 intelek. Bagiku yang faham betul bahasa (dalam tanda kutip) ada kerendahan hati dibalik keilmuan seseorang. Oleh karena itu aku justru berbalik ingin berguru pada mereka.
Itulah sebabnya sering aku katakan bahwa popularitas sastrawan dengan puja2 dan berbagai sebutan serta pengakuan dan penghargaan tanpa karya bermutu adalah hanya faktor keberuntungan. Jauh di berbagai pelosok Tanah Air masih banyak sastrawan linuih yang memiliki karya bermutu sastra tinggi dan ketajaman intelektual nyaris tak disebut sebagai sastrawan. Kita terkadang keliru memandang, sebetulnya sama kedudukannya sastrawan/ penyair dimanapun berada.
Terkadang orang silau terhadap gemerlapnya lampu-lampu mercuri dan gedung2 bertingkat, pencakar langit yang menjulang. Sebetulnya hanya generator kecil yang digerakkan batu bara. Ketika batu bara itu habis, matilah terang benderang sepanjang jalan. Di desa terpencil orang2 duduk melingkari perapian bertukar ilmu dan saling menghormat siapa bicara. Sungguh sebuah perbedaan yang sebetulnya pandangan kemulian untuk mereka dari kita yang memahami hidup.
Rg Bagus warsono

Sabtu, 02 September 2017

Impor lagi Impor

Sarapan Pagi;
Baru-baru ini pemerintah menetapkan acuan pembelian harga sembako rakyat. Sepert biasa sembilan bahan pokok itu seperti beras, jagung, kedelai, gula, minyak goreng, bawang merah, daging beku daging segar, daging ayam ras, dan telur ayam ras. Harga-harganya cukup pantas bagi rakyat, andai ini benar. Persoalannya banyak sembako lain yang tidak terkontrol pemerintah, seperti cabai merah, cabai rawit, ikan air tawar, ikan laut, jengkol, pete dan lain-lain. Bodoh benar mentri perdagangan membuat patokan harga, emangnya mau diturut rakyat, lalu pemerintah slalu mengandalkan impor impor impor !

Eksperimen Penyair

Sarapan Pagi
Eksperimen-eksperimen yang dilakukan Mas Marlin Dinamikanto dan mempublikasikannya dalam media sosial, juga penyair-penyair lain seperti Mas Ali Arsy dengan kegiatannya di desanya di Banjar Baru, Mas Sutarso di Sorong dengan protes-protes kerasnya, Mas Thomas Haryanto Soekiran melalui monolog puisi panggung adalah sebuah pencaharian yang pada ujungnya menemukan jatidiri yang mantap sebagai penyair Indonesia yang dibanggakan. Proses yang penuh inovasi dan perubahan serta 'pemberontakannya terhadap puisi yang bertahan 'tenang memberi aroma yang dasyat bagi perkembangan puisi Indonesia. Tentu masih banyak aktifitas lain yang terjadi dilakukan oleh banyak penyair, namun banyak yang bersifat wajar proses perubahan itu yang kerap menjadi sorotan publik. (rg bagus warsono)

Sastrawan dan Hari Aksara

Sarapan Pagi:
Hari Aksara 8 September diperingati oleh dunia internasional sebagai pengakuan makhluk bumi terhadap aksara sebagai alat perkembangan budaya makhluk bumi yang berkembang. jasa yang sangat besar bagi pencipta dan pengembang aksara hingga manusia bumi seperti sekarang ini. Hari Aksara milik semua manusia dan wajar diperingati bahkan oleh dunia Internasional dimanapun negara. Hubungannya aksara tidak hanya pemberantasan buta aksara tetapi juga pengembangan dan gerakan gemar membaca. Hubungannya dengan gemar membaca ini tempatnya penyair/penulis/ sastrawan ambil bagian dalam hal keaksaraan ini. Namun sayang pemerintah tidak menaruh simpati terhadap peran sastrawan / penulis padahal dari merekalah bacaan pengetahuan di peroleh. Kini aksara telah memasyaraakat pada penderita tuna netra, tuna rungu, dan tuna wicara. Mereka pemilik tuna netra, tuna wicara, dan tuna rungu juga membutuhkan bacaan segar dari para sastrawan. Bukan tidak mungkin karya sastra kelak akan diterjemahkan dalam tulisan braille dan sebagainya agar dapat memperluas medan baca masyarakat. Semoga harapannya sastrawan mampu berbuat dan pemerintah yang dalam hal ini bertanggung jawab terhadap kemajuan sumber daya manusia memperhatikan peran penulis dan sastrawan Indonesia. Semoga. (rg bagus warsono 3-9-17)