adalah majalah sastra net bagi rakyat Indonesia yang memerlukan sastra sebagai bagian kehidupan indah di Indonesia. Untuk segala umur pecinta sastra di Tanah Air. Pendiri Agus Warsono (Rg Bagus Warsono/Masagus) didirikan 2 Januari 2011, Redaksi Alamanda Merah 6 Citra Dharma Ayu Margadadi, Redaktur sastra Agus Warsono, Koresponden Rusiano Oktoral Firmansyah (Jakarta), Abdurachman M(Yogyakarya).
TEKS SULUH
Tampilkan postingan dengan label profile penulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label profile penulis. Tampilkan semua postingan
Jumat, 28 April 2017
Sami’an Adib
Sami’an Adib, lahir di Bangkalan tanggal 15 Agustus 1971. Antologi puisi bersama antara
lain:
Requiem Buat
Gaza (Gempita Biostory, Medan, 2013), Menuju Jalan Cahaya (Javakarsa
Media,
Jogjakarta, 2013), Ziarah Batin (Javakarsa Media, Jogjakarta, 2013), Cinta
Rindu dan Kematian (Coretan Dinding Kita, Jakarta, 2013), Ensiklopegila
Koruptor, Puisi Menolak Korupsi 4 (Forum Sastra Surakarta, 2015), Memo untuk
Wakil Rakyat (Forum Sastra Surakarta,
2015), Kata
Cookies pada Musim (Rumah Budaya Kalimasada Blitar, 2015), Merupa Tanah di Ujung Timur Jawa (Universitas Jember, Jember,
2015), Kalimantan Rinduku yang Abadi (Disbudparpora
Kota Banjarbaru-Dewan Kesenian Kota Banjarbaru, 2015), Memo Anti
Terorisme
(Forum Sastra Surakarta, 2016), Arus Puisi Sungai (Tuas Media, 2016), Puisi
Peduli Hutan (Tuas Media, 2016), Lumbung Puisi IV: Margasatwa Indonesia (2016),
Memo Anti Kekerasan terhadap Anak (Forum
Sastra Surakarta, 2016), Ije Jela Tifa Nusantara 3 (2016), Negeri Awan (DNP 7, 2017), dan lain-lain.
Aktivitas sekarang selain sebagai tenaga pendidik
Salimi Ahmad
Salimi Ahmad, lahir di
jakarta, 22 mei 1956, adalah seorang penyair yang namanya tak asing lagi di
dunia seni lukis Indonesia . Pelukis ini adalah juga seorang penyair yang
diperhitungkan secara nasional. Baginya menulis puisi adalah keseimbangan
profesinya, namun ia dapat memetik sekaligus predikat pelukis dan penyair yang
berhasil. Menurutnya ia tak pernah
benar-benar bisa melepaskan diri dari menulis puisi, sebab karena menurutnya
dengan menulis puisi ia dapat menyeimbangkan rasa gelisah dalam hati dan
pikirannya. Demikian ketika berbincang dengan ayokesekolah.com di acara Tifa
Nusantara 27-29 Agustus 2015 di Cikupa Tangerang. Salimi Ahmad meniti pendidikan mulai SD dan SMP diselesaikan di Jakarta. Dia
pernah masuk sekolah seni rupa indonesia (SSRI) di Yogya pada tahun 1973. hanya
kurang dari 1 tahun dia pindah kejakarta lagi untuk melanjutkan pendidikannya.
ia menyelesaikan SMA pada tahun 1976. Latar sebagai pelukis dan sekaligus
penyair didapat dari ketika tinggal di
Yogyakarta, Bergabung di persada studi klub (PSK) dibawah asuhan Umbu
Landu Paranggi, teater asuhan Niki Kosasih. Kemudian di Jakarta, ia mendirikan Bengkel pelukis
Jakarta bersama Mas Sulebar Sukarman,
dan kerap mengikuti berbagai kegiatan pameran lukisan bersama.
Langganan:
Postingan (Atom)


