Membaca juga sebagai pembentukan karakteristik seseorang. Bahkan sudah melekat jika dimulai dari masa anak-anak. Andai bacaan puisi ini dikenalkan pada anak-anak bukan tidak mungkin remaja atau dewasa kelak mereka suka pada puisi. Kenyataan justru puisi malah dikenalkan setelah mereka dewasa dan menyukai kegiatan kepenyairan membaca menulis dan mencipta.
adalah majalah sastra net bagi rakyat Indonesia yang memerlukan sastra sebagai bagian kehidupan indah di Indonesia. Untuk segala umur pecinta sastra di Tanah Air. Pendiri Agus Warsono (Rg Bagus Warsono/Masagus) didirikan 2 Januari 2011, Redaksi Alamanda Merah 6 Citra Dharma Ayu Margadadi, Redaktur sastra Agus Warsono, Koresponden Rusiano Oktoral Firmansyah (Jakarta), Abdurachman M(Yogyakarya).
TEKS SULUH
Tampilkan postingan dengan label baca-baca. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label baca-baca. Tampilkan semua postingan
Senin, 19 Desember 2016
Membaca juga sebagai pembentukan karakteristik seseorang.
Membaca juga sebagai pembentukan karakteristik seseorang. Bahkan sudah melekat jika dimulai dari masa anak-anak. Andai bacaan puisi ini dikenalkan pada anak-anak bukan tidak mungkin remaja atau dewasa kelak mereka suka pada puisi. Kenyataan justru puisi malah dikenalkan setelah mereka dewasa dan menyukai kegiatan kepenyairan membaca menulis dan mencipta.
Selasa, 15 November 2016
Siapa Berhak Menjadi Penyair ? : Handrawan Nadesul
SIAPA BERHAK MENJADI PENYAIR?
Kemarin saya mengirimkan dua kumpulan puisi saya: Sajak-sajak Pergi Berjalan Jauh, dan Forget Me Not kepada sahabat RgBagus Warsono di Indramayu sekadar silaturahmi, dan tahu kalau sahabat yang satu ini menaruh perhatian besar terhadap perpuisian, dan sastra umumnya, sekaligus juga penyair.
Kemarin saya mengirimkan dua kumpulan puisi saya: Sajak-sajak Pergi Berjalan Jauh, dan Forget Me Not kepada sahabat RgBagus Warsono di Indramayu sekadar silaturahmi, dan tahu kalau sahabat yang satu ini menaruh perhatian besar terhadap perpuisian, dan sastra umumnya, sekaligus juga penyair.
Terhadap sesama penyair seperti ada kerinduan untuk menyatukan diri, ada
sikap yang sama terhadap keindahan bernama kebenaran. Punya kepekaan
yang tajam membaca situasi kondisi alam dan lingkungan. Penyair
merasakan, menemukan, mampu tersentuh lebih awal ihwal segala sesuatu
yang menggelisahkan dalam hidup dan kehidupan yang orang lain belum
menangkapnya.
Mas Bagus dalam ungkapan di postingnya mempertanyakan latar belakang penyair, dan penulis puisi kita yang beraneka, setelah membaca cover kumpulan puisi lawas saya Sajak-sajak Pergi Berjalan Jauh tertulis "Sekolahnya Dokter, Menulisnya Puisi"
Ya saya menyukai puisi sejak masih di sekolah menengah mula, dan berlanjut hingga hari ini setelah pensiunan jadi dokter, selama kurun waktu lebih 50 tahun. Tidak ada yang aneh, karena selama kita menyukai, dan hidup rasanya kurang basah tanpa sastra dan puisi, maka lanjutkanlah berpuisi, sekurangnya mengapresiasi. Kalau bisa hidup tanpa menulis puisi, tinggalkan saja menulis puisi. Namun bila terasa hidup serasa kering tanpa menulis puisi, teruslah menulis puisi. Saya merasakan yang terakhir ini. Ingin terus menulis puisi, entah seperti apa pun puisinya.
Kepada Mas Bagus, saya sudah lumayan lama melanglang dunia perpuisian bukan di papan atas, sekadar menjalani saja. Posisi, status, label tidak penting buat saya, lebih penting apakah puisi yang pernah saya tulis memberi arti, punya makna, dan membangkitkan keindahan bagi yang membacanya.
Salam puisi,
HANDRAWAN NADESUL
Mas Bagus dalam ungkapan di postingnya mempertanyakan latar belakang penyair, dan penulis puisi kita yang beraneka, setelah membaca cover kumpulan puisi lawas saya Sajak-sajak Pergi Berjalan Jauh tertulis "Sekolahnya Dokter, Menulisnya Puisi"
Ya saya menyukai puisi sejak masih di sekolah menengah mula, dan berlanjut hingga hari ini setelah pensiunan jadi dokter, selama kurun waktu lebih 50 tahun. Tidak ada yang aneh, karena selama kita menyukai, dan hidup rasanya kurang basah tanpa sastra dan puisi, maka lanjutkanlah berpuisi, sekurangnya mengapresiasi. Kalau bisa hidup tanpa menulis puisi, tinggalkan saja menulis puisi. Namun bila terasa hidup serasa kering tanpa menulis puisi, teruslah menulis puisi. Saya merasakan yang terakhir ini. Ingin terus menulis puisi, entah seperti apa pun puisinya.
Kepada Mas Bagus, saya sudah lumayan lama melanglang dunia perpuisian bukan di papan atas, sekadar menjalani saja. Posisi, status, label tidak penting buat saya, lebih penting apakah puisi yang pernah saya tulis memberi arti, punya makna, dan membangkitkan keindahan bagi yang membacanya.
Salam puisi,
HANDRAWAN NADESUL
Rabu, 07 Oktober 2015
Sejarah Angkatan Reformasi
Sejarah Reformasi Angkatan Seiring terjadinya pergeseran kekuasaan politik dari tangan Soeharto ke B.J. Habibie lalu K.H. Abdurahman Wahid (Gus Dur) dan Megawati Soekarno Putri, muncul wacana tentang sastrawan reformasi. Munculnya angkatan ini ditandai dengan maraknya karya¬karya sastra puisi, cerpen maupun novel, yang bertemakan sosial¬politik, khususnya seputar reformasi. Di rubrik sastra Harian Republika misalnya, selama berbulan¬bulan dibuka rubrik sajak¬sajak peduli bangsa atau sajak¬sajak reformasi. Berbagai pentas pembacaaan sajak dan penerbitan buku antologi puisi juga didominasi sajak¬sajak bertema sosial¬politik. Sastrawan reformasi merefleksikan keadaan sosial dan politik yang terjadi pada akhir 1990¬an, seiring dengan jatuhnya Orde Baru. Peristiwa reformasi 1998 banyak melatar belakangi kelahiran karya¬karya sastra seperti puisi, cerpen, dan novel. Bahkan, penyair yang semula jauh dari tema sosial¬politik, seperti Sutardji Calzoum Bachri, Acep Zamzam Noer dan Ahmadun Yosi Herfanda, juga ikut meramaikan suasana itu dengan sajak¬sajak sosial¬politik mereka.
Sabtu, 11 Oktober 2014
Buku - buku sastra lama
Potho Ragil: Antologi Anak Panah karya Bambang Widiatmoko
Potho Ragil:
Potho Ragil: Antologi Pasar Kabut
Potho Ragil: Antologi sastra Pedalaman
Antologi: Orasi Sunyi karya Yuhanto A Nugraha (Indramayu)
Antologi : Sketsa Kembara karya 8 Penyair
Antologi: Potret Reformasi karya 32 penyair Indonesia
Antologi Mencari dan Kehilangan karya Toto S Radik
Potho Ragil Percakapan ombak karya Safrofin Arba MF dkk
Potho Ragil: Antologi puisi dari negeri minyak
Potho Ragil
Potho Ragil
Potho Ragil
Potho Ragil
Potho Ragil
Senin, 03 Maret 2014
Sekilas sastrawan Perempuan tempo doeloe:
Sekilas sastrawan Perempuan tempo doeloe:
Pada periode atau angkatan Balai Pustaka hanya ada Hamidah yang menulis Kehilangan Mestika yang terbit pada 1935. Nama lain dari Fatimah Hasan Delais ini dilahirkan pada 8 Juni 1914 di Bangka (Palembang?) dan meninggal pada 8 Mei 1953 (Eneste, 1990:69). Sementara pada periode atau angakatan Pujangga Baru ada pengarang perempuan bernama Selasih, Saleguri atau Sariamin. Perempuan yang lahir di Talu (Sumatera Barat), 31 Juli 1909 ini mengenyam pendidikan guru dan pernah menjadi guru di Bengkulu dan Bukit Tinggi. Pernah juga menjadi ketua Jong Islamieten Bond Dames Afdeling Cabang Bukittinggi (1928-1930) dan anggota DPRD Riau (1947-1948). Karya-karyanya: Kalau Tak Untung (novel, 1933), Pengaruh Keadaan (novel, 1937), Rangkaian Sastra (1952), sejumlah cerita anak-anak, legenda, dan sejumlah puisi yang tersebar dalam berbagai antologi (Eneste, 1990:164).
Selain itu, juga ada pengarang wanita lain seperti Sa’adah Alim dan Nursjamsu (Sugihastuti, tt:23). Pada periode atau angkatan 45 ada beberapa penulis wanita seperti S. Rukiah, Ida Nasution, dan Siti Nuraini (Sumardjo, 1992:139-140). S. Rukiah lahir di Purwakarta, 25 April 1927. Setelah selesai menjalani pendidikannya di Sekolah Guru, dia kemudian menjadi guru di Purwakarta. Pernah pula menjadi sekretaris majalah Pujangga Baru (sesudah Perang) dan anggota Pimpinan Pusat Lekra (1959-1965). Karya-karyanya: Tandus (kumpulan sajak, 1952 memenangkan Hadiah Sastra Nasional BMKN), Kejatuhan dan hati (novel, 1950), Si Rawun dan Kawan-kawannya (cerita anak, 1955), dan lain-lain (Eneste, 1990:172). Karena keterlibatannya dengan Lekra itulah hingga kini karya-karya S. Rukiah masih belum dicabut pelarangannya (Kratz, 2000:561-574). Padahal, pengarang perempuan ini cukup produktif. Ida Nasution lahir 1924 dan meninggal 1948 (dalam perjalanan Jakarta Bogor). Pernah belajar di Fakultas Sastra UI tetapi tidak tamat. Dia pernah menjadi redaktur “Gelanggang”/Siasat dan Het Inzicht. Ida Nasution pernah menerjemahkan Le Conquerants atau “Pemenang” karya Andre Gide (Eneste, 1990:79).
Sementara itu, Siti Nuraini lahir di Padang, 6 Juli 1930. Perempuan ini pernah belajar di Fakultas Hukum UI tetapi tidak tamat. Dia juga pernah menjadi redaktur “Gelanggang”/Siasat. Karya-karyanya berupa sejumlah puisi yang tersebar dalam berbagai antologi dan terjemahan Le Petit Prince karya Antoine de Saint-ExupĂ©ry tahun 1952 (Eneste, 1990:165-166). Pada periode 1950-an (semasa generasi majalah Sastra dan Kisah) ada Widia Lusia Zulia (Sumardjo, 1992:207).
Menginjak periode 1960-an dan 1970-an kemudian muncul sejumlah nama yang makin memeriahkan dunia pengarang perempuan dalam sastra Indonesia. Bahkan banyak di antara mereka yang hingga kini masih tetap produktif. Nama-nama pengarang tersebut secara alfabetis yaitu: Agnes Sri Hartini Arswendo, Aryanti, Asnelly Luthan, Boen S. Oemaryati, Diah Hadaning, Farida Soemargono, Ida Ayu Galuhpethak, Ike Soepomo, Ima Suwandi, Iskasiah Sumarto, Isma Sawitri, La Rose, Marga T., Maria A. Sardjono, Marrianne Katoppo, Mira W., N.H. Dini, Nana Ernawati, Nina Pane, Poppy Donggo Hutagalung, Rayani Sriwidodo, Rita Oetoro, S. Mara GD, S. Tjahjaningsih, Samiati Alisjahbana, Susy A. Aziz, Suwarsih Djajapuspito, Th. Sri Rahayu Prihatmi, Titie Said, Titis Basino, Toety Herati Noerhadi, V. Lestari, Waluyati. Pada periode tersebut memang muncul pengarang-pengarang perempuan yang jumlahnya lumayan banyak bila dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Dalam bidang puisi paling tidak ada sederet nama seperti: Toeti Heraty, N. Susy Aminah Aziz, Diah Hadaning, Isma Sawitri, M. Poppy Donggo Hutagalung, Rayani Sriwidodo, Upita Agustin, Agnes Sri Hartini Arswendo, Asnelly Luthan, dan Tuti Kuswardani (Rampan, 1984:38-112). Sementara dalam bidang fiksi muncul nama-nama semaN.H. Dini, Mariane Katoppo, Iskasiah Sunarto, Maria A. Sardjono, Marga T, Th. Sri Rahayu Prihatmi, Titis Basino P.I.,Totilawati Tjitrawasita, Aryanti (nama lain Haryati Soebadio), dan lain-lain (Rampan, 1991:9–191).
Pada periode atau angkatan Balai Pustaka hanya ada Hamidah yang menulis Kehilangan Mestika yang terbit pada 1935. Nama lain dari Fatimah Hasan Delais ini dilahirkan pada 8 Juni 1914 di Bangka (Palembang?) dan meninggal pada 8 Mei 1953 (Eneste, 1990:69). Sementara pada periode atau angakatan Pujangga Baru ada pengarang perempuan bernama Selasih, Saleguri atau Sariamin. Perempuan yang lahir di Talu (Sumatera Barat), 31 Juli 1909 ini mengenyam pendidikan guru dan pernah menjadi guru di Bengkulu dan Bukit Tinggi. Pernah juga menjadi ketua Jong Islamieten Bond Dames Afdeling Cabang Bukittinggi (1928-1930) dan anggota DPRD Riau (1947-1948). Karya-karyanya: Kalau Tak Untung (novel, 1933), Pengaruh Keadaan (novel, 1937), Rangkaian Sastra (1952), sejumlah cerita anak-anak, legenda, dan sejumlah puisi yang tersebar dalam berbagai antologi (Eneste, 1990:164).
Selain itu, juga ada pengarang wanita lain seperti Sa’adah Alim dan Nursjamsu (Sugihastuti, tt:23). Pada periode atau angkatan 45 ada beberapa penulis wanita seperti S. Rukiah, Ida Nasution, dan Siti Nuraini (Sumardjo, 1992:139-140). S. Rukiah lahir di Purwakarta, 25 April 1927. Setelah selesai menjalani pendidikannya di Sekolah Guru, dia kemudian menjadi guru di Purwakarta. Pernah pula menjadi sekretaris majalah Pujangga Baru (sesudah Perang) dan anggota Pimpinan Pusat Lekra (1959-1965). Karya-karyanya: Tandus (kumpulan sajak, 1952 memenangkan Hadiah Sastra Nasional BMKN), Kejatuhan dan hati (novel, 1950), Si Rawun dan Kawan-kawannya (cerita anak, 1955), dan lain-lain (Eneste, 1990:172). Karena keterlibatannya dengan Lekra itulah hingga kini karya-karya S. Rukiah masih belum dicabut pelarangannya (Kratz, 2000:561-574). Padahal, pengarang perempuan ini cukup produktif. Ida Nasution lahir 1924 dan meninggal 1948 (dalam perjalanan Jakarta Bogor). Pernah belajar di Fakultas Sastra UI tetapi tidak tamat. Dia pernah menjadi redaktur “Gelanggang”/Siasat dan Het Inzicht. Ida Nasution pernah menerjemahkan Le Conquerants atau “Pemenang” karya Andre Gide (Eneste, 1990:79).
Sementara itu, Siti Nuraini lahir di Padang, 6 Juli 1930. Perempuan ini pernah belajar di Fakultas Hukum UI tetapi tidak tamat. Dia juga pernah menjadi redaktur “Gelanggang”/Siasat. Karya-karyanya berupa sejumlah puisi yang tersebar dalam berbagai antologi dan terjemahan Le Petit Prince karya Antoine de Saint-ExupĂ©ry tahun 1952 (Eneste, 1990:165-166). Pada periode 1950-an (semasa generasi majalah Sastra dan Kisah) ada Widia Lusia Zulia (Sumardjo, 1992:207).
Menginjak periode 1960-an dan 1970-an kemudian muncul sejumlah nama yang makin memeriahkan dunia pengarang perempuan dalam sastra Indonesia. Bahkan banyak di antara mereka yang hingga kini masih tetap produktif. Nama-nama pengarang tersebut secara alfabetis yaitu: Agnes Sri Hartini Arswendo, Aryanti, Asnelly Luthan, Boen S. Oemaryati, Diah Hadaning, Farida Soemargono, Ida Ayu Galuhpethak, Ike Soepomo, Ima Suwandi, Iskasiah Sumarto, Isma Sawitri, La Rose, Marga T., Maria A. Sardjono, Marrianne Katoppo, Mira W., N.H. Dini, Nana Ernawati, Nina Pane, Poppy Donggo Hutagalung, Rayani Sriwidodo, Rita Oetoro, S. Mara GD, S. Tjahjaningsih, Samiati Alisjahbana, Susy A. Aziz, Suwarsih Djajapuspito, Th. Sri Rahayu Prihatmi, Titie Said, Titis Basino, Toety Herati Noerhadi, V. Lestari, Waluyati. Pada periode tersebut memang muncul pengarang-pengarang perempuan yang jumlahnya lumayan banyak bila dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Dalam bidang puisi paling tidak ada sederet nama seperti: Toeti Heraty, N. Susy Aminah Aziz, Diah Hadaning, Isma Sawitri, M. Poppy Donggo Hutagalung, Rayani Sriwidodo, Upita Agustin, Agnes Sri Hartini Arswendo, Asnelly Luthan, dan Tuti Kuswardani (Rampan, 1984:38-112). Sementara dalam bidang fiksi muncul nama-nama semaN.H. Dini, Mariane Katoppo, Iskasiah Sunarto, Maria A. Sardjono, Marga T, Th. Sri Rahayu Prihatmi, Titis Basino P.I.,Totilawati Tjitrawasita, Aryanti (nama lain Haryati Soebadio), dan lain-lain (Rampan, 1991:9–191).
Jumat, 28 Februari 2014
Harganya pasti lebih murah
Toko buku besar seperti Gramedia, Gunung Agung, dan Salemba hanya terdapat di supermarket/mall. Pembelinya kalangan tertentu seperti mahasiswa, pelajar, guru, dosen, intelektual lainnya. Mereka yang datang ke tempat itu harus memiliki uang lebih dari harga buku yang di bandrol termasuk di dalamnya pajak, sewa tempat, upah pelayan, sehingga harga lumayan mahal. Belum lagi banyak godaan di tempat seperti itu akan penawaran di etalase berbagai produk yang tentu banyak pilihan. Keadaan demikian adalah kelemahan toko buku besar.
Kelemahan ini harus kita manfaatkan dengan membuat kios-kios kecil di pasar atau di tepi jalan. Harganya pasti lebih murah, kemudian mereka yang belanja sesuai dengan maksud dari rumah. Anak-anak desa dan bapa ibu guru tak perlu lagi datang di supermarket/mall. Seandainya para penulis, sastrawan, penyair atau apa saja namanya pegiat sastra mau memanfaatkan ini. Itu bagus.
Kelemahan ini harus kita manfaatkan dengan membuat kios-kios kecil di pasar atau di tepi jalan. Harganya pasti lebih murah, kemudian mereka yang belanja sesuai dengan maksud dari rumah. Anak-anak desa dan bapa ibu guru tak perlu lagi datang di supermarket/mall. Seandainya para penulis, sastrawan, penyair atau apa saja namanya pegiat sastra mau memanfaatkan ini. Itu bagus.
Selasa, 24 Desember 2013
DISKUSI NASIB SASTRAWAN 2014
foto Dwi Klik Santosa
Diskusi Sastrawan Indonesia tidak hanya tentang tulis menulis, namun juga memcahkan masalah nasib sastrawan Indonesia. Seperti yang diketengahkan sastrawan asal Indramayu , Rg Bagus Warsono, dalam Temu Karya Sastrawan Nusantara 21-23 Desember lalu di Tangerang. Nasib sastrawan sangat kurang diperhatikan pemerintah, padahal sastra merupakan sesuatu yang sangat penting dalam sebuah negara. Ia bukan hanya memberikan bacaan wacana semata namun sastra juga memberikan ruh jiwa bangsa ini sebab satra tidak pernah mengajarkan pada bangsa sesuatu yang kotor, justru sastra selalu memberikan suara kepribadian bangsa yang luhur, budaya luhur dan cinta Tanah Air.
Dalam diskusi itu, nasib sastrawan diperlukan keberanian untuk dapat memperoleh jobnya yang khusus yakni menulis buku-buku sastra. Kesadaran ini diperlukan berkenaan dengan Kementrian Pendidikan Nasional telah menyediakan prosentasenya anggaran pembelian buku dari anggran pendidikan yang telah ditetapkan. Namun ada yang perlu diperjelas tentang anggran pembelian buku ini kepada masyarakat termasuk para sastrawan. Berapa prosen pada tiap jenis dan jenjangnya serta siapa pelaksana penguna anggran itu, apakah APBD kabupaten/kota, APBD propinsi, atau APBD Pusat. Dan mengharapkan pemerintah memberikan keterangan jelas berapa buku fiksi yang diperlukan sehingga sastrawan Indonesia bisa hidup.
(rg.bagus warsono 24-12-2013)
Diskusi Sastrawan Indonesia tidak hanya tentang tulis menulis, namun juga memcahkan masalah nasib sastrawan Indonesia. Seperti yang diketengahkan sastrawan asal Indramayu , Rg Bagus Warsono, dalam Temu Karya Sastrawan Nusantara 21-23 Desember lalu di Tangerang. Nasib sastrawan sangat kurang diperhatikan pemerintah, padahal sastra merupakan sesuatu yang sangat penting dalam sebuah negara. Ia bukan hanya memberikan bacaan wacana semata namun sastra juga memberikan ruh jiwa bangsa ini sebab satra tidak pernah mengajarkan pada bangsa sesuatu yang kotor, justru sastra selalu memberikan suara kepribadian bangsa yang luhur, budaya luhur dan cinta Tanah Air.
Dalam diskusi itu, nasib sastrawan diperlukan keberanian untuk dapat memperoleh jobnya yang khusus yakni menulis buku-buku sastra. Kesadaran ini diperlukan berkenaan dengan Kementrian Pendidikan Nasional telah menyediakan prosentasenya anggaran pembelian buku dari anggran pendidikan yang telah ditetapkan. Namun ada yang perlu diperjelas tentang anggran pembelian buku ini kepada masyarakat termasuk para sastrawan. Berapa prosen pada tiap jenis dan jenjangnya serta siapa pelaksana penguna anggran itu, apakah APBD kabupaten/kota, APBD propinsi, atau APBD Pusat. Dan mengharapkan pemerintah memberikan keterangan jelas berapa buku fiksi yang diperlukan sehingga sastrawan Indonesia bisa hidup.
(rg.bagus warsono 24-12-2013)
Kamis, 12 September 2013
Penyair Indonesia menolak korupsi melalui karya puisi yang diterbitkan dalam antologi Puisi Menolak Korupsi
Bandarlampung (ANTARA News) - Sebanyak 85 penyair di seluruh Indonesia, termasuk Lampung, bersepakat untuk menolak korupsi dengan menerbitkan antologi puisi yang telah diluncurkan di makam Bung Karno, Blitar, Jawa Timur, pada April 2013 lalu.
Menurut Isbedy Stiawan ZS, penyair asal Lampung di Bandarlampung, Rabu, Antologi Puisi Menolak Korupsi yang digagas penyair Sosiawan Leak (Solo) akan terus disosialasikan melalui "roadshow" ke sejumlah kota atau provinsi.
"Pada 1 dan 2 Juni ini akan digelar di Tegal, Jawa Tengah," kata Isbedy, meneruskan informasi rencana "roadshow" antologi puisi antikorupsi itu dari Sosiawan Leak, penyair yang selalu memukau jika berada di atas panggung membacakan puisi.
Isbedy Stiawan ZS yang turut dalam Antologi Puisi Menolak Korupsi itu menjelaskan, penerbitam buku ini dipikul bersama, tidak ada lembaga yang dilibatkan.
Dia menegaskan bahwa kegiatan ini memang murni kesadaran para penyair yang peduli pada pemberantasan korupsi, penolakan pada setiap praktik korupsi, ujar Isbedy yang dijuluki penyair maestro dari Lampung oleh Sutardji Calzoum Bachri itu pula.
"Untuk roadshow ini setiap penyair siap membiayai diri sendiri atau mencari donatur untuk keberangkatannya," kata Isbedy yang siap pula untuk berangkat ke Tegal.
Dia berharap, baik perseorangan atau lembaga yang peduli pada pemberantasan korupsi bisa ikut terlibat, seperti membantu penyair di kotanya masing-masing.
Seperti dikatakan Sosiawan Leak dalam rilisnya, kegiatan puisi menolak korupsi ini mendapat dukungan banyak pihak.
Mereka membantu dana untuk penerbitan, dan di antaranya tidak meminta balasan atau imbal balik apapun.
Buku itu dikirim ke lembaga pemerintah, NGO, dan pelajar.
Menurut Isbedy Stiawan ZS, penyair asal Lampung di Bandarlampung, Rabu, Antologi Puisi Menolak Korupsi yang digagas penyair Sosiawan Leak (Solo) akan terus disosialasikan melalui "roadshow" ke sejumlah kota atau provinsi.
"Pada 1 dan 2 Juni ini akan digelar di Tegal, Jawa Tengah," kata Isbedy, meneruskan informasi rencana "roadshow" antologi puisi antikorupsi itu dari Sosiawan Leak, penyair yang selalu memukau jika berada di atas panggung membacakan puisi.
Isbedy Stiawan ZS yang turut dalam Antologi Puisi Menolak Korupsi itu menjelaskan, penerbitam buku ini dipikul bersama, tidak ada lembaga yang dilibatkan.
Dia menegaskan bahwa kegiatan ini memang murni kesadaran para penyair yang peduli pada pemberantasan korupsi, penolakan pada setiap praktik korupsi, ujar Isbedy yang dijuluki penyair maestro dari Lampung oleh Sutardji Calzoum Bachri itu pula.
"Untuk roadshow ini setiap penyair siap membiayai diri sendiri atau mencari donatur untuk keberangkatannya," kata Isbedy yang siap pula untuk berangkat ke Tegal.
Dia berharap, baik perseorangan atau lembaga yang peduli pada pemberantasan korupsi bisa ikut terlibat, seperti membantu penyair di kotanya masing-masing.
Seperti dikatakan Sosiawan Leak dalam rilisnya, kegiatan puisi menolak korupsi ini mendapat dukungan banyak pihak.
Mereka membantu dana untuk penerbitan, dan di antaranya tidak meminta balasan atau imbal balik apapun.
Buku itu dikirim ke lembaga pemerintah, NGO, dan pelajar.
Senin, 09 September 2013
Sabtu, 06 Juli 2013
BUKU KESUSASTRAAN LAMA BANYAK DICARI ORANG
Buku-buku sastra / kesusastraan lama kini makin sedikit jumlahnya karena itu banyak para kolektor sekaligus intelektual mencari buku-buku lama. Banyak hal dengan buku lama, mereka menilai buku lama lebih asli apalagi dengan ejaan bahasa Indonesia sebelumnya. Kemudian ada sedikit kebanggan memilikinya. Bahkan perpustakaan-perpustakaan baik pribadi maupun lembaga akan dengan bangga jika memiliki bubu-buku koleksi sastra cetakan lama yang orisinil. Sebaliknya buku cetakan baru memang memudahkan pembaca karena menggunakan ejaan yang digunakan sekarang, berkertas dan tulisan yang baik dan jelas. Namun tetap saja buku-buku sastra/kesusastraan lama membuat bangga pemiliknya.
Langganan:
Postingan (Atom)



















.jpg)

.jpg)
.jpg)
.jpg)