TEKS SULUH


Tampilkan postingan dengan label KRITIK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KRITIK. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 Juni 2014

Segera berikan porsinya penerbitan buku-buku sastra pada pemerintah daerah yang ditulis oleh sastrawan setempat

Saudaraku para penyair teruslah berkarya, Jangan takut karena kultus individu tokoh sastra, Jangan takut tidak ada pengakuan karena kelompok dan golongan tokoh sastra tertentu, Anda bisa menjadi besar ! bahkan lebih hebat dari tokoh sastra sebelumnya yang tenar karena karbitan. Banyak tokoh pengamat yang tetap independen menilai karya sastra. Publik pembaca-lah yang akan mengadili semuanya. Publik akan tetap menghargai karya Anda yang menarik dibaca. Jangan takut karena monopoli penerbitan, monopoli penayangan/penampilan media. Jangan silau karena nama. Ini negara dengan 250 juta jiwa. Sastrawan daerah perlu diakses kehadirannya. Lawan terus kebijakan pencetakan buku sastra untuk sekolah di pusat oleh kemendikbud dan segera berikan porsinya penerbitan buku-buku sastra pada pemerintah daerah yang ditulis oleh sastrawan setempat . !
Rg Bagus Warsono 10 Juni 2014

Minggu, 08 Juni 2014

AKU INGIN PRESIDEN YANG PEDULI SASTRA

AKU INGIN PRSIDEN YANG PEDULI SASTRA

'Lalu kami dikirimi buku-buku perpustakaan, droping buku untuk sekolah, dua ribu judul sungguh luar biasa, tetapi setelah kardus dibuka, isinya bacaan yang membuat kita makin bodoh. Isinya tetang masak-memasak, merawat kesehatan, tanam-menanam bunga dan palawija, ternak-berternak ayam, rajin menabung, membuat kandang ayam!'

Demikian seklumit buku bacaan sekolah sampai dengan tahun 2000an . Sastrawan begitu banyak, namun tak dipedulikan pemrintah. Buku-buku bacaan sastra jarang disentuh. Pantas banyak sastrawan hidupnya pas-pasan . Aku ingin presiden yang peduli sastra agar aku dapatkan jobnya.

Jumat, 13 September 2013

Rg Bagus Warsono : sastrawan perlu generasi baru dan regenerasi

Sastra, demikian menjadi sesuatu yang sangat penting untuk kehidupan bernegara. Ia menjadi penjaga budi pekerti luhur bangsa. Masa lampau membuktikan, tertuang dalam sejarah bangsa, Keagungan kerajaan-kerajaan besar yang berjaya slalu ditopang dengan hidupnya sastra kala itu. Bodoh benar Indonesia sekarang. Sastra diabaikan.Orang tak lagi memiliki budi halus. Budaya luhur dikotori sendiri, korupsi, pelanggran HAM, dan lain-lain yang tiada "bersastra" lagi. Mari sastrawan Indonesia membuat generasi dan regenerasi sastrawan Indonesia tumbuh berkembang mengiringi kehidupan zaman. 

Rg Bagus Warsono menolak tentang batasan-batasan sastrawan

sebetulnya yang membuat batasan-batasan sastrawan dan berikut angkatannya itu adalah mereka yang merasa diri "paling" top, Begawan atau paus atau presiden penyair yang konyol. Di sini dengan bersastra akan kita temukan sastrawan dengan penilaian publik. Dan penilaian publik adalah karya dan berkarya. Dan ANDA sastrawan menurut penilaian dari karyanya.

Jumat, 22 Maret 2013

PENGAKUAN SASTRAWAN BUKAN MENCETAK ANTOLOGI PUISI


catatan kecil : Agus Warsono
DOELOE bukan main senangnya ketika karya sastraku dimuat di salah satu media cetak  regional , kala itu di Indramayu tak ada media cetak yang ada di Cirebon dan Bandung. Kira-kira tahun 80-an. Seakan kebanggaan  besar, bagi pemula seperti saya kala itu yang masih duduk di bangku sekolah guru. Kebanggaan pengakuan dari seorang pengasuh kolom sastra sebuah media kepada seorang sastrawan pemula. Apalagi disekolahku dulu koran mingguan regional itu (PR Edis Cirebon/redaktur budayanya Nurdin M Noor kalau tidak salah ) itu dipasang di majalah dinding sekolah.
   Kejadian semacam itu mungkin dialami oleh sastrawan lain meski bobot dan publikasinya lebih luas. Hal demikian biasa media cetak tersebut  membedakan karya dengan jumlah honorarium yang diberikan. Terlepas dari itu semua pendek kata untuk bisa dimuat di media massa memerlukan karya yang baik disamping seleksi ketat redaktur mengingat banyaknya karya yang datang di meja redaktur budaya.
   Lain doeloe lain sekarang kini tak ada lagi penilaian atau pengantar/catatan redaksi/komentar/esai pendek seorang redaktur budaya mengantarkan karya puisi/cerpen penyair/sastrawan bila pun ada hanya dimedia cetak nasional yang bersar seperti PR, Republika, Kompas, saja. Bila penulis pemula mengirimkan karya ke media ini dijamin berkemungkinan seribu satu.
  Demikian sastrawan dibentuk dari kesungguhan cita rasa terhadap satra dengan talenta tersendiri. Lambat laun datang juga pengakuan orang lain atas karya itu secara bertahan dan mungkin perlahan. Talenta yang diasah akan menghasilkan karya yang bagus. Pada gilirannya pengakuan menimbulkan minat orang lain untuk mempublikasikan atau mendokumentasikan seperti memuat dalam koran majalah atau menerbitkannya dalam  buku dan alat dokumentasi lainnya.
   Perkembangan sastra menunjukan kegembiraan dengan semakin banyaknya karya sastra muncul baik media cetak maupun elektronik. Karya sastra demikian banyak sehingga bukan tidak mungkin akan tumbuh persaingan yang tidak sehat dalam mempublikasikannya.
   Kepiawaian mempublikasikan karya sastra menjadikan sastrawan cepat populair, sebaliknya karya bagus tak pandai mempublikasikan menjadikan teman arsip lapuk yang disimpan di rak butut pula. Namun yang lapuk itu kelak menjadi barang langka yang akan dicari kemudian.
   Sastrawan instan akhirnya muncul bak jamur dimusim hujan, hanya dengan uang kurang dari 2 jt anda akan memeperoleh buku karya anda itu dicetak penerbit lengkap dengan ISBN dan Hak Cipta. Apakah sastrawan ini termasuk sastrawan, jawabnya bisa mungkin. Namun ia akan diadili publik apakah karyanya itu layak atau tidak dinikmati sebagai karya sastra. Meski peluncuran buku sastrawan instan ini dibuat meriah, dengan kata pengantar penyair kondang yang tentu saja dibayar mahal belum menjamin karya itu diakui sebagai karya yang bagus, juga penyairnya belum tentu cepat dinobatkan sebagai penyair, sebab sebab penyair atau sastrawan bukan pengakuan diri tetapi orang lainlah yang memberinya. Jadi tidak asal cetak antologi kemudian disebut sastrawan. (masagus/agus warsono/rg bagus warsono)


 

 

Kamis, 08 November 2012

PAHLAWAN APA? KOK SEBUT PAHLAWAN?



Boleh jadi penghuni taman makam pahlawan kita bakal dihuni orang-orang yang bukan haknya sebagai pahlawan. Mengapa? Kategori siapa saja yang berhak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan tidak tertuang gdalam peraturan yang jelas dan memasyarakat. Tempat itu mungkin akan dihuni jasad orang-orang munafik, koruptor, bahkan penghianat negara.
   Meski di alam akherat Allah akan memilah mereka sesuai amal perbuatannya, namun salah memberikan gelar pahlawan nasional  menyesatkan sejarah anak  bangsa ini.
   Bagaimana  penetapan sebagai Pahlawan pada seseorang di era setelah kemerdekaan, atau era setelah proklamasi didengungkan, dan setelah Indonesia 50 tahun merdeka patut ditanyakan? sejauh mana kreteria penetapannya dan disebut pahlawan.
   Kemudian apa tataran apabila disebut pahlawan nasional. Maka apabila pemilihan pahlawan nasional atas dasar kepentingan berbagai macam, misalnya politis, keluarga penguasa, atau sekedar menghormati leluhur yang populair, maka bisa jadi akan meracuni masuarakat dan generasi mendatang. 

Selasa, 08 Mei 2012

TAK ADA YANG MENJADI HAKIM PENENTU SASTRAWAN ANGKATAN 80-AN, ANGKATAN REFORMASI, ATAU ANGKATAN 2000-AN




TAK ADA YANG MENJADI HAKIM PENENTU SASTRAWAN ANGKATAN 80-AN, ANGKATAN  REFORMASI, ATAU ANGKATAN 2000-AN
Oleh : Agus Warsono
    Beberapa penyair yang beruntung kondang, karena memang telah banyak karyanya diterbitkan, kemudian ia kerap diundang untuk beberapa kegiatan berkenaan dengan sastra, dan juga secara kebetulan ia menjadi pengasuh majalah atau rubrik  sastra di sebuah media, atau munkin juga karena memiliki latar pendidikan yang baik sehingga menjadi dosen sastra  di perguruan tinggi, dan atau juga karena telah memiliki semuanya sehingga mendirikan dan mengetuai perkumpulan sastra, ia mengutak-atik tentang angkatan dan lebih celaka lagi mendaftar nama-nama sastrawannya.Apa ini sah? Jawabnya gampang, sah-sah aja lah sejauh referensinya dipertanggiung-jawabkan. Bukankah kita juga bisa membuatnya juga?
…dst………………………

ANGKATAN 80-AN, ANGKATAN REFORMASI, ATAU ANGKATAN 2000-AN, SAH SAH AJA LAH……



PENYAIR DAERAH BOLEH NYATAKAN DIRINYA KEDALAM SASTRAWAN ANGKATAN 80-AN, ANGKATAN  REFORMASI, ATAU ANGKATAN 2000-AN, SAH SAH AJA LAH……
Oleh : Agus Warsono
     Agaknya kita terpaku oleh Paus Sastra Indonesia, HB Yasin, Majalah Sastra Horizon, dan omongan para penyair yang beruntung populair saja, padahal tak sedikit penyair yang berada di seluruh pelosok Tanah Air memiliki karya yang sangat baik di kurun 80-an hingga 2000-an.
(Dasawarsa 80-an).Oleh karena itu menjadi tugas penyair di angkatan ini (untuk menyebut angkatan 80-an, angkatan reformasi dan angkatan 2000-an)untuk berbuat mengokohkan pribadinya atas pilihan kemana ia tergolong status angkatan kepenyairannya.
dst…………….