TEKS SULUH


Rabu, 24 Desember 2014

Penyair Indonesia dari Kalimantan Selatan dalam buku kumpulan puisi :




“Memo Untuk Presiden”



Oleh : Ali Syamsudin Arsi



“Puisi sebagai anak kandung kebudayaan pada dasarnya dapat berperan sebagai pengingat dan penggugah jiwa kehidupan berdasarkan fakta kebenaran serta nurani kejujuran. Sebab, penyair sebagai individu yang berdaya di dalam jaman – baik sebagai sasksi maupun agen perubahan – terbukti mampu melahirkan gagasan secara jernih untuk menangkap suara rakyat, suara jaman, dan suara kebenaran. Dengan mempresentasikan gagasan tersebut lewat penerbitan, mendistribusikan dan menyosialisasikan secara luas, puisi bisa berfungsi sebagai penjaga moral bagi semua yang terlibat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.”

Nukilan pengantar dalam buku “Memo untuk Presiden” tersebut di atas memberi kesempatan luas kepada “puisi” untuk bergerak-menyeruak-menukik-mengepung-menghujam jauh ke lunas-lunas terdalam dan sangat jauh menjelajah-merambah-memeluk-membelai-menghentak-membongkar nuansa-nuansa waktu maupun wilayah tanpa batas atau pun sesuatu yang berbatas, sampai ke batas-batas laku dan gerak bernama sifat, karakter bahkan tabiat. Sifat, karakter dan tabiat ternyata adalah sebuah produk kebudayaan dari manusia individu selanjutnya berkumpul menjadi kumpulan individu – konvensi, kemufakatan yang mengarah terhadap adat sebagai cikal-bakal terbentuknya kebudayaan, tentu dengan kelengkapan seperangkat syarat lainnya , adalah daya, adalah kekuatan, adalah energi ; demi keutuhan kesatuan dalam balutan persaudaraan – hal mendasar ini perlu penguatan agar kondisi ‘cerai-berai’ yang nyata-nyata sudah terpampang di depan mata dan keretakan demi keretakan karena geografi, maka cara pandang dengan wawasan luas kuat berakar sangatlah perlu dan prioritas utama.

Kepada satu nama tetapi sebenarnya kepada banyak nama. Telunjuk mengarah kepada satu wajah – dengan seperangkat sifat, karakter dan tabiatnya – padahal sebenarnya kepada banyak wajah, banyak sifat, banyak karakter, banyak tabiat. Kita sebagai “indonesia” adalah kekuatan sekaligus sesuatu yang sangat mudah rapuh bila tatanan mendasar selalu memberi peluang jalan ke arah cerai-berai.
Puisi yang telah memiliki kekuatan mandat sebagai perekat walau sampai ke tingkat paling getir dari segala yang dirasakan merupakan lingkar-jerat kuat dari sudut batinnya.

Puisi bicara dari sudut semangat, semangat dalam kata-kata, karena setiap kata memiliki makna.

Presiden telah mendapat mandat dari sejumlah individu melalui suara pilihannya, sama halnya ketika puisi mendapat keluasan merambah ke segala celah. Ini menguatkan isyarat bahwa presiden dan puisi menjadi satu lembaga dengan landasan semangat kuat dan berdaya guna.

Di negeri indonesia ini presiden dengan kekuatan puisi pada pikiran-pikiran yang tertuang dalam kebijakan demi kebijakan tentu saja akan membuka wahana luas, menukik dan sangat merasa. Indonesia yang kaya melimpah ruah adalah kenyataan karena itu berupa potensi, tetapi ketika tata kelola yang tidak sebagaimana dirasakan oleh rakyatnya maka puisi selayaknya tampil untuk membuka jalan dan menghantam ketidakwajaran yang dilakukan.

Sistem adalah bagian penting dari kemufakatan tersebut di atas, dan seorang presiden punya kekuatan untuk meluruskan penyimpangan demi penyimpangan yang cara kerjanya dilandasi pemahaman demi pemahaman puitis, jalan-jalan keindahan dari nurani terdalam yang berlaku secara damai; penyelesaian akar masalah tanpa harus mengalirkan darah demi darah. Sebab, darah biasanya akan berbalas darah.
Presiden, tanpa jalan puitis yang lain, perangkat lengkap di bawahnya, maka boleh jadi menjadi lalai dalam satu-kesatuan sistemnya.

Benar bila, puisi seperangkat kata-kata. Benar pula bila presiden, dalam ruang geraknya adalah seperangkat kata-kata. Sinergi di jalan puisi adalah bicara dengan hati nurani. Berani tentu seorang presiden membaca banyak puisi dengan seperangkat pemahaman di dalam ruang geraknya. Semua karena semangatnya.

Presiden dan puisi adalah semangat kata-kata, semangat kata-kata sebagai landasan kuat berdaya guna pada ruang gerak kerja, kerja dan kerja.

Memo untuk Presiden melalui jalan puisi adalah sebuah upaya secara batin bahwa daya ingat seorang individu manusia, tak terkecuali kepada sosok seorang presiden dengan perangkat lengkap di bawahnya, diperlukan adanya semacam ‘penghalau daya ingat’ bahwa kepentingan kita adalah kepentingan sebuah makna besar bernama negara. Tak lain dan tak bukan Negara Indonesia.

Sejumlah karya dari sejumlah nama penulisnya telah diupayakan dengan sungguh-sungguh dikumandangkan dan dikumpulkan dalam sebuah buku kumpulan, maka di dalamnya pun beriak-bergelombang-bergejolak-mengalun-bahkan menghentak-hentak. Memo adalah catatan pendek dan penting bahkan mengarah kepada genting, segera dicermati ditindaklanjuti, segera, sesegeranya.
Hanya langkah tepat dan cerdas seorang presiden yang mampu mengatasi karena Indonesia bukanlah sebuah Negara Kecil, Indonesia adalah sebuah Negara Besar dengan tata kelola penyelesaian bersifat besar tetapi tidak boleh lalai dalam hal-hal yang kecil, sekecil apa pun itu tetaplah dan seterusnya dalam tanggungjawab negara. Gemericik air jernih dan sehat sudahkah sampai ke ujung terjauh dalam celah tubuh manusia, manusia indonesia. Bening udara bebas beban virus sudahkah dihirup secara benar oleh paru-paru manusia, manusia indonesia. Jerit dan teriak pilu sudahkah mendapat sinyal yang selayaknya oleh tangan-tangan manusia, manusia indonesia.

Peluncuran buku Memori untuk Presiden (selanjutnya MuP) dilakukan pertama kali di kota Blitar, tepatnya di Istana Gebang (rumah kediaman keluarga Bung Karno, Sabtu 1 November 2014.

Hal yang menarik bagi warga sastra di tanah banua, tanah Kalimantan Selatan, tepatnya pada tanggal 9 – 10 Januari nanti di Kotabaru dilaksanakan agenda peluncuran kedua buku MuP, tepatnya dikaitkan dengan acara HUT ke-8 Sanggar Sastra Siswa Indonesia (SSSI) SMKN 1 Kotabaru. Semoga lancar dan sukses agenda sesuai rencana. Amin.

Adapun beberapa nama penulis puisi dari (saat ini berdomisili di) Kalimantan Selatan terdapat di dalam buku MuP tersebut adalah Sybram Mulsi (Rantau), Syarif Hidayatullah (Banjarmasin), Sumasno Hadi (Banjarmasin),  Maria Roeslie (Banjarmasin), M. Amin Mustika Muda (Marabahan), Jhon F.S. Pane (Kotabaru), Iberahim (Barabai), Helwatin Najwa (Kotabaru), Fahrurraji Asmuni (Amuntai), Awan Hadi Wismoko (Banjarbaru), Arsyad Indradi (Banjarbaru), Anna Mariyana (Marabahan), Andi Jamaluddin AR.AK. (Pagatan), Ali Syamsudin Arsi (Banjarbaru), dan Abdurrahman El Husaini (Martapura). 15 penulis puisi dari 196 nama secara keseluruhan yang tersatuka oleh tema bahwa ada harapan besar agar puisi-puisi tersebut mampu memberikan perhatian dan dorongan atas kerja seorang presiden di negara tercinta ini. Pihak kurator sendiri, seorang bernama Sosiawan Leak, sangat menjaga kemandirian selama proses penyertaan dan tahap seleksi seluruh karya puisi yang masuk untuk tidak bercondong ke pihak tertentu agar “ puisi yang terangkum di dalamnya senantiasa merdeka dari pemikiran yang bersifat partisan, serta bebas dari ‘pesan sponsor’ pihak-pihak yang punya kepentingan menyimpang,” tulisnya pada kelanjutan pengantar. Itu sangatlah dimaklumkan karena gesekan politik sebelum menjadi orang pilihan, telah bukan rahasia lagi bila banyak berteburan saling tendang saling rubuh saling hujat bahkan saling bungkam. Lantas, apakah seorang presiden mampu meletakan semua semangat kata-kata dalam buku yang tebalnya 476 itu tertuangkan di semua ruang gerak kebijakan demi kebijakannya.

Nah, semangat dalam kata-kata itu, diterjemahkan oleh seorang bernama Helwatin Najwa sebagai bagian penting untuk menyatakan bahwa kerja, kerja dan kerja itu memerlukan semangat penggerak secara nyata.

Sekedar mengingatkan bahwa “Kerja belum selesai, belum apa-apa,” (Chairil Anwar) atau ketika, “Perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata,” (WS Rendra).
Maka, masuklah wahai presiden terpilih, masuklah melalui jalan pilihan, jalan itu bernama puisi. Karena,  puisi dapat menyerap dan menyuarakan semua suara, suara kebijaksanaan berlandaskan hati nurani kebenaran.

Tentu saja makna demi makna dalam buku itu, dalam seluruh puisi itu,  bukan hanya untuk saat ini tetapi ia akan berlaku pula di rentang waktu jauh ke depan.

Salam gumam asa, Banjarbaru, 22 Desember 2014.
(sesaat dalam renungan terdalam untuk mama di mana pun berada, di seluruh tanah indonesia)