TEKS SULUH


Kamis, 28 November 2013

Roosetindaro Baracinta

  • Percakapan dimulai hari ini




  • Setelah reformasi, korupsi merajalela. Kelaparan, kemiskinan semakin menjadi. Perebutan kekuasaan ada dimana-mana, Indonesia seakan hilang.
    NEGERI (YANG) HILANG I
    inikah wajah Indonesia muram, pucat pasi bau anyir darah di setiap penjuru inikah tubuh Indonesia begitu dekil dan kotor sumpah serapah terdengar membahana inilah rakyat Indonesia yang mati sebelum ajal Tangerang, 17 Juni 2013
    NEGERI (YANG) HILANG II
    ibuku, ibu bumi menangis tanpa isak airmatanya merah, darah luka di sekujur tubuh sayatan pedih, hijau yang hilang ibuku, ibu bumi tiada kesempatan napas lagi asap-asap menyesakan keadilan yang mati ibuku, ibu bumi tanpa daya, tercerabut nyawa oleh elit berdasi luka di atas luka negeri yang hilang Tangerang, 12 Juli 2013
    HILANG DALAM SEBUAH ATLAS
    kesombongan telah meruntuhkan sebuah kota sungai-sungai menghitam bumi penuh sampah aliran laju kendaraan tiada henti ini adalah kota yang hina bukan karena perempuan lacur yang tiap siang-malam menjajakan diri tapi, karena elit berdasi sang penguasa tak lagi peduli runtuh, mati adalah kota yang hilang tak ada lagi meskipun dalam sebuah atlas Depok, 12 September 2013
    LAPAR
    piring, sendok, garpu, gelas kosong, jatuh pyar Surabaya, Januari 2013
    SEORANG BOCAH BERTANYA TENTANG KORUPTOR
    seperti rumput liar tercerabut akarnya masih tertinggal oleh matahari tumbuh lagi telah mendarah daging hanya kematian memisah di desa maupun kota di jalanan, pasar, kantor, sekolah, rumah sakit sampai instansi pemerintah merambah hingga terdalam begitu busuk menyengat bagai onggokan sampah hanya api yang bisa memusnahkan ya......kematian dan api Tangerang, 5 Juli 2013
    MONYET BERDASI
    aku lihat monyet berdasi di lembaga kita, memperebutkan pisang mereka berjingkrak kegirangan ketika kota menjadi ladang pisang Depok, 29 Mei 2013
    Diana Roosetindaro, lahir di Kartasura, 22 November 1969. Sejak kecil suka melukis dan menulis. Pernah bergabung di Sanggar Teater Gidag Gidig Surakarta (1986) dan Surya Sine Studio Jakarta (1989-1990). Tahun 1995, melakukan atraksi melukis dengan rambut yang disiram cat serta pameran lukisan secara tunggal bertajuk Cinta di THR Surabaya. Dalam tahun yang sama mengikuti lomba drama lima kota di Cak Doerasim Surabaya. Saat ini mulai menggeluti dunia puisi setelah tiga belas tahun tak dijamah. Yang menjadi obsesinya dapat berarti dan memberi arti bagi dunia seni. Beberapa puisinya tergabung pada antologi puisi bersama; Kartini masih disitukah kau? (April 2013), Mei Wulan (Mei 2013), Pancasila Mencinta (Agustus 2013), ketiganya diterbitkan Penerbit D3M Kail-Tangerang. Puisi Menolak Korupsi 2a dan 2b penerbit Forum Sastra Surakarta.
    Saat ini tinggal di toko subur jalan jendral akhmad yani 56 kartasura no hp. 083878874769 fotonya dapat diambil di profilku, kawan